Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hubungan antara keadilan dan hukum positif baru mulai abad 8 yang di

latarbelakangi oleh adanya kekacauan dalam masyarakat, tidak puasnya rakyat

dengan pemerintahan aristokrasi dan penyalahgunaan dari kekuasaan. Sejak waktu itu

maka masalah hubungan antara keadilan dan hukum positif menguasai alam pikiran

bangsa Yunani, dan pada hakekatnya semua pikiran-pikiran tentang hukum. Dalam

hubungannya dengan filsafat ilmu hukum, keadilan diwujudkan melalui hukum

sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum yang mewujudkan keadilan itu mutlak

perlu dalam kehidupan bersama manusia. Tanpa hukum kehidupan manusia menjadi

kacau dan akan kehilangan kemungkinan untuk berkembang secara manusiawi.1

Keadilan telah menjadi perdebatan dan bahkan bila ditelusuri lebih jauh ke

belakang, kita akan menjumpai bahwa tema ini telah lama menjadi pemikiran para

filsuf Yunai Kuno seperti Artistotes dan Plato. Hal ini menunjukan bahwa keadilan

merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dan bahkan

menjadi dasar bagi lahirnya berbagai insitusi social yang ada dalam masyarakat,

termasuk dalam hal ini adalah insitusi hukum.2

1 Sewu, P. Lindawaty S, “Kegunaan Filsafat Hukum Dalam Mengupas Tuntas Permasalahan


Hukum Kontekstual”, Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas
Langlangbuana, Vol. 5 (1), 2006, Hlm 25
2 Todung Mulya Lubis, “Menegakan Hak Asasi Manusia, Menggugat Diskriminasi”. Jurnal Hukum
Dan Pembangunan Vol. 39 (1) Januari-Maret 2009. FH UI Jakarta, 2009, Hlm 15

1
Ukuran keadilan sebagaimana di singgung di atas sebenarnya menjangkau

wilayah yang ideal atau berada dalam wilayah cita, dikarenakan berbicara masalah

keadilan, berarti sudah dalam wilayah makna yang masuk dalam tataran filosofis

yang perlu perenungan secara mendalam sampai hakikat yang paling dalam, bahkan

Kelsen menekankan pada filsafat hukum Plato, bahwa keadilan didasarkan pada

pengetahuan perihal sesuatu yang baik. Pengetahuan akan hal yang baik secara

fundamental merupakan persoalan di luar dunia. Hal tersebut dapat diperoleh dengan

kebijaksanaan.3

Keadilan dan kepastian hukum merupakan dua terminologi yang saling

berhubungan satu dengan yang lainnya. Secara terminolgis keadilan dipahami sebagai

memberi kepada setiap orang apa yang menjadi haknya di satu sisi dan pada sisi yang

lain hukum memastikan apa yang menjadi hak setiap orang.4

Bahkan Susanto membahas sesuatu yang tidak biasa dalam memaknai

keadilan, yang terkait dengan substansi yang ada di dalamnya. Keadilan akan

dibenturkan dengan keraguan dan ketidakadilan, bahwa sesungguhnya keadilan tidak

akan berdaya tanpa ketidakadilan dan keraguan.5 Membahas konsep keadilan,

menurutnya, yang kemudian akan dibenturkan dengan ketidakadilan dan keraguan,

akan memasuki medan wilayah non sistematik, atau anti sistematik, bahkan hampir

3 Maryanto, “Refleksi dan Relevansi Pemikiran Filsafat Hukum Bagi Pengembangan Ilmu Hukum”,
Jurnal Hukum, Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Vol. 13 (1) tahun 2003,
Hlm 52
4 Sudirman, Hati Nurani Hakim Dan Putusannya, Suatu Pendekatan Dari Perspektif Ilmu Hukum
Perilaku (Behavioral Jurisprudence), Bandung, Citra Aditya Bakti, 2010, Hlm 33
5 Anthon F. Susanto, “Keraguan dan Ketidakadilan Hukum (Sebuah Pembacaan Dekonstruktif)”,
Jurnal Keadilan Sosial, Edisi 1 tahun 2010, Hlm 23

2
bersifat aphoristic, karena membicarakan keadilan, ketidakadilan, keraguan kita

berdiri pada wilayah yang labil, goyah atau cair (melee). Oleh karena itulah, keadilan

(hukum) dianggap plural dan plastik.6

Gustav Radbruch mengemukakan bahwa ada tiga nilai dasar yang harus

terdapat dalam hukum yakni keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Hampir

sama dengan Radbruch, Antonius Sujata juga mengemukakan bahwa penegakan

hukum dimanapun dan saat kapanpun memiliki cita-cita luhur yakni keadilan,

kepastian, ketertiban serta manfaat. Soenarjati Hatono juga mengemukakan hal yang

sama bahwa tujuan hukum yang terpenting adalah untuk mencapai keadilan di dalam

masyarakat. Ini berarti bahwa di satu sisi kaidah-kaidah hukum tidak hanya valid saja

tetapi juga harus merupakan kaidah-kaidah yang adil dan pada sisi yang lain

penegakan hukum dan pelaksanaan hukum itu tidak boleh dilakukan sedemikian rupa

sehingga sama sekali menghilangkan nilai-nilai etika pada umumnya dan

menghilangkan matabat kemanusiaan sebagai manusia khususnya.7

Uraian filsafat mengenai keterkaitan antara keadilan dan hukum juga dapat

kita temukan dalam pandangan Jhon Rawls. Rawls mengemukakan bahwa kedaulatan

hukum jelas-jelas berkaitan erat dengan keadilan. Menurut Rawls sebuah sistem

hukum adalah sebuah urutan aturan publik yang memaksa yang ditujukan pada orang-

orang rasional dengan tujuan mengatur prilaku mereka dan memberikan kerangka

kerja bagi kerja sama social. Ketika aturan-aturan ini adil, mereka menegakkan
6 Erlyn Indarti, “Demokrasi dan Kekerasan: Sebuah Tinjauan Filsafat Hukum”, Aequitas Juris,
Jurnal Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Fakultas Hukum Universitas
Katolik Widya Mandira, Vol. 2 (1), 2008, Hlm 33
7 Ibid., Hlm 36

3
sebuah dasar bagi harapan-harapan yang sah. Mereka merupakan landasan tempat

orang satu sama lain bersandar dan berhak keberatan ketika harapan-harapan mereka

tidak terpenuhi. Dalam kaitan dengan hukum ini, Rawls mendefenisikan keadilan

sebagai keteraturan, justice as regulatory.8

Menurut Huijber dalam sistem hukum yang disebut continental hukum

ditanggapi sebagai terjalin dengan prinsip-prinsip keadilan: hukum adalah undang-

undang yang adil. Huijbers menunjukan bahwa pengertian tersebut sangat sesuai

dengan ajaran filsafat tradisional dimana hukum dipahami sebagai ius atau recht.9

Hukum dalam konsep ini secara hakiki berkaitan dengan arti hukum sebagai

keadilan. Ini berarti bahwa bila suatu hukum yang konkret, yakni undang-undang

bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan, maka hukum itu tidak bersifat normatif

lagi, dan sebenarnya tidak dapat disebut hukum lagi. Undang-undang hanya hukum

bila adil.10

Dari uraian singkat diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian, maka

untuk itu penulis mengadakan penelitian dengan judul makalah : “Kasus Hoax Ratna

Sarumpaet Dalam Filsafat Hukum”.

B. Masalah Pokok

8 Rawls, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial
Dalam Negara, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010, Hlm 48
9 Huijbers, Filsafat Hukum, Yogyakarta, Kanisius, 2009, Hlm 15
10 Ibid., Hlm 18

4
Berdasarkan uraian latar belakang diatas ada beberapa masalah pokok yang

harus diteliti sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan keadilan (theory of justice) menurut Jhon

Rawls ?
2. Bagaimana contoh kasus hoax ratna sarumpaet dalam filsafat hukum ?

BAB II

PEMBAHASAN

5
1. Pengertian Keadilan (Theory Of Justice) Menurut Jhon Rawls

Wacana mengenai keadilan baik secara teoretis maupun dalam penerapannya

memiliki multitafsir. Sambil menyadari kenyataan tersebut untuk paper ini, penulis

memulainya dengan konsep keadilan yang dikemukakan oleh Jhon Rawls. Rawls

memahami keadilan sebagai fairness. Menurut Swift yang dimaksudkan dengan

fairness oleh Rawls adalah the original position dan the veil of ignorance.11

Berkaitan dengan kedua aspek keadilan tesebut Rawls mengemukakan bahwa

dalam kondisi asali dan ketidak berpengetahuan tidak seorangpun tahu tempatnya,

posisi atau status sosialnya dalam masyarakat, tidak ada pula yang tahu kekayaannya,

kecerdasasannya, kekuatannya, tidak seorangpun diuntungkan atau dirugikan.12 Setiap

orang dalam kondisi seperti itu memiliki peluang yang sama.

Dengan adanya situasi asali ini, relasi semua orang bersifat simetri dan oleh

karena itu situasi awal ini adalah fair antara individu sebagai person moral, yakni

sebagai mahluk rasional dengan tujuan dan kemampuan mereka mengenali rasa

keadilan. Posisi asli ini dapat dikatakan merupakan status quo awal yang pas,

sehingga persetujuan fundamental yang dicapai di dalammnya adalah fair.

Dalam posisi asli demikian menurut Rawls berbagai pihak adalah setara.

Semua orang memiliki hak yang sama dalam prosedur memilih prinsip, setiap orang

bisa mengajukan usul, menyampaikan penalaran atas penerimaan mereka. Dasar dari

11 Swift, Political philosophy: A beginners’ guide for students and political, Cambridge, Polity Press,
2011, Hlm 37
12 Rawls, Op., cit, Hlm 51

6
kesetaraan adalah bahwa setiap orang memiliki konsepsi mengenai kebajikan dan

memiliki rasa keadilan. Oleh karena itu maka masing-masing orang dianggap

memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memahami dan bertindak diatas prinsip

apapun yang digunakan. Salah satu bentuk keadilan sebagai farirness adalah

memandang berbagai pihak dalam situasi awal sebagai rasional dan sama-sama

netral.13

Untuk memahami penjelasan Rawls mengenai keadilan sebagai fairness,

Swift mengilustrasikan bahwa “jika saya tidak mengetahui potongan mana dari kue

yang saya akan dapat, maka saya lebih suka untuk memotongnya secara fair”. Atau

sebaliknya kita dapat merumuskan bahwa kalau saya sudah mengetahui potongan

mana dari kue itu yang saya akan dapat, maka saya akan memotongnya dengan cara

yang menguntungkan saya.

Pengetahuan mengenai apa yang menguntungkan saya dalam hal ini membuat

pilihan saya menjadi bias dan didasarkan pada kepentingan dan itu berarti pilihan

saya menjadi tidak fair bagi orang lain Swift selanjutnya menjelaskan bahwa ada dua

hal yang tidak diketahui oleh setiap orang yang terlibat dalam sebuah kontrak atau

persetujuan. Kedua hal itu adalah : pertama, mereka tidak mengetahui talenta mereka

bakat-bakat alamiah mereka dan posisi sosial mereka. Mereka tidak mengetahui

cerdas atau bodoh, atau lahir dalam keluarga yang kaya atau miskin. Kedua, mereka

tidak mengetahui konsepsi mereka mengenai apa yang baik. Mereka tidak

13 Swift, Op., cit, Hlm 39

7
mengetahui apakah mereka percaya pada apa yang membuat hidup bernilai atau apa

yang berguna.14

Penjelasan Rawls atau mengenai keadilan, meskipun lebih menunjukan suatu

kondisi yang bersifat hipotetik, imperatif etis yang dapat dipetik dalam kaitannya

dengan penegakan hukum yang adil, adalah bahwa setiap orang harus diasumsikan

sama didepan hukum. Kesamaan di depan hukum harus berangkat dari asumsi

hipotetik tersebut. Ini berarti bahwa demi keadilan determinasi faktor-faktor yang

bersifat komplementer seperti ekonomi, sosial, ras, etnis, jender, politik, dan lain

sebagainya harus disangkal. Ketika faktor-faktor determinan tersebut disangkal maka

akan Nampak bahwa semua manusia sama, sederajat, dan setara.

Menurut Hart, prinsip umum keadilan dalam kaitannya dengan hukum

menuntut bahwa para individu di hadapan yang lainnya berhak atas kedudukan relatif

berupa kesetaraan atau ketidak setaraan tertentu. Kaidah pokok yang berkaitan

dengan prinsip tersebut di atas adalah ‘perlakukan hal-hal serupa dengan cara yang

serupa’; kendatipun kita perlu menambahkan padanya ‘dan perlakukanlah hal-hal

yang berbeda dengan cara yang berbeda’.15

Namun, menurut Hart kaidah tersebut di atas tidak dengan sendirinya jelas.

Sebab situasi manusia manapun akan mirip satu dengan yang lainnya dalam segi

tertentu dan berbeda dari yang lainnya dalam segi yang lain. 16 Dalam kondisi itu

maka pertanyaannya adalah kemiripan dan perbedaan apa yang dianggap relevan?

14 Ibid., Hlm 41
15 Hart, Konsep hukum. Bandung, Nusamedia, 2010, Hlm 12
16 Ibid., Hlm 15

8
Untuk mengisi kekosongan ini, Hart menegaskan bahwa kemiripan dan perbedaan

yang relevan diantara individu, yang harus dirujuk oleh orang yang melaksanakan

hukum, ditentukan oleh hukum itu sendiri. Hart mencontohkan, “mengatakan bahwa

hukum larangan pembunuhan ditetapkan secara adil berarti mengatakan bahwa

hukum itu secara tidak berpihak berlaku bagi semua orang dan hanya bagi orang yang

serupa dari segi bahwa mereka telah melakukan apa yang dilarang oleh hukum; tidak

ada prasangka atau kepentingan yang mempengaruhi sang pelaksana dalam

memperlakukan mereka secara setara”. Kalaupun ada diskriminasi, diskriminasi itu

harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang relevan yakni kapasitas seseorang,

seperti kapasitas kejiwaan dan akal.17

Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Hart di atas bahwa kesetaraan dan

perbedaan harus berdasarkan hukum, Kelsen menegaskan bahwa keadilan dalam

konteks hukum memiliki makna legalitas. Menurut Kelsen suatu peraturan umum

adalah adil jika ia benar-benar diterapkan kepada semua kasus yang, menurut isinya,

peraturan ini harus diterapkan. Suatu peraturan umum adalah “tidak adil jika

ditererapakan pada suatu kasus dan tidak diterapkan pada kasus lain yang serupa.18

Kelsen memaknai keadilan dalam pengertian legalitas sebagai suatu kualitas

yang berhubungan bukan dengan isi dari suatu tatanan hukum positif, melainkan

dengan penerapannya. Kelsen dalam hal ini tidak membedakan apakah hukum itu

bersifat kapitalistik, komunistik, demokratik, atau otokratik. Dalam konteks

17 Ibid., Hlm 21
18 Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum Dan Negara, Bandung, Nusamedia, 2009, Hlm 19

9
penjelasan Kelsen ini, maka tidak ada masalah keadilan dengan otoritariansime Orde

Baru yang membatasi kebebasan untuk berkumpul, berpendapat, dan seterusnya kalau

pembatasan itu memang ditentukan oleh hukum itu sendiri.19 Hal yang terpenting bagi

Kelsen adalah bahwa penerapan hukum itu berlaku bagi semua orang. Pernyataan

bahwa perbuatan seseorang adalah adil atau tidak adil dalam arti berdasarkan hukum

atau tidak berdasarkan hukum, berarti bahwa perbuatan tersebut sesuai atau tidak

sesuai dengan suatu norma hukum yang dianggap absah oleh subjek yang menilainya

karena norma ini termasuk dalam tatanan hukum posistif.

Dengan memahami keadilan dalam konteks legal, Kelsen menegaskan bahwa

basis dari keadilan hukum bukan pada individu melainkan pada norma-norma hukum

itu sendiri. Kelsen beralasan bahwa standar keadilan pada setiap individu pada

kenyataanya berbeda antara satu individu dengan individu yang lainnya, dan

perbedaan ini sering tidak dapat didamaikan satu sama lainnya. Sesuatu adalah adil

atau tidak adil hanya bagi seorang individu yang mengakui adanya norma keadilan

yang sesuai, dan norma ini hanya bagi mereka yang menghendaki apa yang

diharuskan oleh norma tersebut. Tidak mungkin untuk menentukan norma keadilan

menurut suatu cara yang khas. Pada akhirnya ini adalah suatu pernyataan kepentingan

individu yang menyatakan adil atau tidak adilnya suatu institusi sosial.20

Suatu pendapat yang berbeda dari Kelsen tersebut dapat kita jumpai dalam

pandangan para ahli filsafat yang turut mendiskusikan masalah hukum dalam
19 Julia, Syamsiar. “Pelanggaran HAM Dan Peranan Polri Dalam Penegakan Hukum di Indonesia”.
Jurnal Equality Vol. 11 No. 2 Agustus 2006. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2006,
Hlm 11
20 Ibid., Hlm 22

10
masyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Huijbers hukum harus dipahami

sebagai ius. Berangkat dari system kontinental, hukum ditanggapi terjalin dengan

prinsip-prinsip keadilan: hukum adalah undang-undang yang adil. Pengertian ini

serasi dengan ajaran filsafat tradisional, dimana pengertian hukum yang hakiki

berkaitan dengan arti hukum sebagai keadilan.21 Hukum ialah ius atau recht. Bila

suatu hukum yang konkret, yakni undang-undang, bertentangan dengan prinsip-

prinsip keadilan, maka hukum itu tidak bersifat normatif lagi, dan sebenarnya tidak

dapat disebut hukum lagi. Undang-undang hanya hukum bila adil. Dengan kalimat

lain, adil merupakan unsur konstitutif segala pengertian tentang hukum. Alasan yang

dikemukakan oleh Huijbers adalah hukum dipandang sebagai bagian tugas etis

manusia di dunia ini. Artinya, manusia wajib membentuk suatu hidup bersama yang

baik dengan mengaturnya secara adil. Hukum dalam konteks ini merupakan

pernyataan keadilan atau justice as regulatory. Hukum yang tidak adil bukanlah

hukum.

Secara diktomis, kedua deskripsi di atas bertentangan satu dengan yang

lainnya. Di satu pihak Kelsen memahami keadilan sebagai konteks hukum dalam

prakteknya, sedangkan Huijbers menekankan hukum pertama-tama dari segi isinya.

Melihat perkembangan di bidang penghormatan terhadap hak asasi manusia dewasa

ini, kita harus menegaskan bahwa keadilan tidak hanya menyangkut pelaksanaan

hukum, tetapi juga isi hukum itu sendiri harus mencerminkan nilai-nilai keadilan

21 Huijbers, Op., cit, Hlm 11

11
yang dibangun di atas basis penghormatan terhadap hak asasi manusia. 22 Hukum itu

adil bukan semata-mata karena berlaku untuk semua orang, tetapi juga isi hukum itu

mencerminkan keadilan bagi semua orang. Kita harus mengandaikan bahwa

pengakuan hak asasi setiap manusia harus menjadi isi dari sebuah hukum. Berangkat

dari prinsip ini, penerapan hukum harus ditegakan. Hakim dalam konteks ini tidak

hanya menafsirkan sebuah perkara secara legal, tetapi juga apa yang baik bagi

kemanusiaan.23

2. Contoh Kasus Hoax Ratna Sarumpaet

Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap terhadap aktivis Ratna

Sarumpaetpada Kamis malam, 4 Oktober 2018 di Bandara Internasional Soekarno

Hatta. Ratna ditangkap sebelum terbang ke Santiago, Cile.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo

Argo Yuwono mengatakan penangkapan terhadap Ratna dilakukan karena kepolisian

telah menetapkan dia sebagai tersangka dalam kasus penyebaran hoax atau berita

bohong. Kepolisian bakal menjerat Ratna dengan Pasal 14 dan 15 Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana serta pasal 28 juncto pasal 45

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). "Ancaman

hukumanya maksimal 10 tahun penjara”.

Sebelum ditangkap pihak kepolisian, hoax mengenai penganiayaan Ratna

telah menjadi perhatian publik. Sejumlah tokoh politik pun sempat melontarkan
22 M. Husni, “Moral dan Keadilan sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Jurnal
Equality Vol. 11 No. 1 Februari 2006. Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2006, Hlm 21
23 Komisi Hukum Nasional, Problematika Penegakan Hukum: Kajian Reformasi Lembaga Penegak
Hukum. Jakarta, Komisi Hukum Nasional RI, 2010

12
pernyataan mengenai hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Namun belakangan Ratna

mengakui bahwa dirinya telah berbohong mengenenai kabar itu.

Berikut kronologi singkat kasus hoax Ratna hingga ditangkap polisi yaitu :

1. Diunggah pertama kali lewat di media sosial


Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tempo, kabar Ratna Sarumpaet

dianiaya pertama kali beredar melalui Facebook. Akun yang mengunggah

informasi tersebut adalah Swary Utami Dewi. Unggahan ini disertai sebuah

tangkapan layar yang berisi dari aplikasi pesan WhatsApp pada 2 Oktober 2018

serta foto Ratna. Namun unggahan tersebut kini telah dihapus. Kabar tersebut

kemudian menyebar lewat Twitter melalui akun sejumlah tokoh. Salah satunya

adalah Rachel Maryam.


2. Dikonfirmasi oleh politikus
Penganiayaan yang diterima oleh Ratna Sarumpaet kemudian mendapat

respon. Salah satunya dari politikus Partai Gerindra, Rachel Maryam melalui

akun twitternya di @cumarachel. Dalam cuitannya, ia membenarkan kabar

penganiayaan yang diterima oleh aktivis dan seniman teater itu. "Berita tidak

keluar karena permintaan bunda @Ratnaspaet pribadi, beliau ketakutan dan

trauma. Mohon doa," tulis Rachel pada 2 Oktober 2018.


Tak hanya Rachel, kabar penganiayaan tersebut juga dibenarkan oleh Juru

Bicara Tim Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak. Dalam pernyataannya,

Dahnil mengatakan Ratna dikeroyok oleh orang tak dikenal dan dimasukkan ke

dalam mobil. Pengacara Ratna, Samuel Lengkey juga mengatakan hal senada.

Lengkey mengatakan bahwa kabar penganiayaan itu benar tapi ia menolak

memberitahukan informasi lengkapnya. "Iya benar, itu confirmed dia," ucapnya.

13
Konfirmasi berikutnya juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai

Gerindra Fadli Zon. Melalui cuitan di akunnya yakni @fadlizon, Fadli

menegaskan Ratna Sarumpaet mengalami penganiayaan dan dikeroyok dua

sampai tiga orang. "Jahat dan biadab sekali," kata dia melalui cuitanya. Fadli

juga mengaku telah bertemu dengan Ratna dua kali setelah mengalami

penganiayaan.
Tak berhenti di situ, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus calon

presiden 2019 Prabowo Subianto turut memberikan pernyataan mengenai kabar

dikeroyoknya Ratna Sarumpaet pada Rabu malam, 3 Oktober 2018. Saat itu,

Prabowo sempat mengatakan bahwa tindakan terhadap Ratna adalah tindakan

represif dan melanggar hak asai manusia. Prabowo bahkan ingin bertemu dengan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk membicarakan mengenai dugaan

penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet di Bandung, Jawa Barat itu.


3. Disanggah pihak kepolisian
Setelah ramai pemberitaan tersebut, hoax tersebut kemudian ditanggapi

oleh pihak kepolisian. Kepolisian melakukan penyelidikan setelah mendapatkan

tiga laporan mengenai dugaan hoax itu.


Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, Ratna diketahui tidak dirawat di 23

rumah sakit dan tidak melapor ke 28 Polsek di Bandung dalam kurun waktu 28

September sampai 2 Oktober 2018. Saat kejadian yang disebutkan pada 21

September, Ratna diketahui memang tak sedang di Bandung. Hasil penyelidikan

menemukan bahwa Ratna datang ke Rumah Sakit Bina Estetika di Menteng,

Jakarta Pusat, pada 21 September 2018 sekitar pukul 17.00.

14
Direktur Tindak Pidana Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta

mengatakan Ratna telah melakukan pemesanan pada 20 September 2018 dan

tinggal hingga 24 September. Polisi juga menemukan sejumlah bukti berupa

transaksi dari rekening Ratna ke klinik tersebut.

4. Ratna Sarumpaet mengaku berbohong

Setelah kepolisian mengelar konferensi pers menjelaskan persoalan itu,

beberapa jam kemudian Ratna Sarumpaet juga ikut mengelar konferensi pers. Di

sana Ratna mengaku bahwa kabar itu tak benar.

Menurut Ratna, awal dari kabar pemukulan itu sebetulnya hanya untuk

berbohong kepada anaknya. Ratna yang pada 21 September 2018 mendatangi

rumah sakit bedah untuk menjalani operasi sedot lemak di pipi, pulang dalam

kondisi wajah yang lebam.

Narasi pengeroyokan itu mulanya Ratna sampaikan hanya kepada

anakanaknya yang bertanya penyebab wajahnya lebam. Namun setelah lebamnya

sembuh, Ratna kembali menceritakan pemukulan itu kepada Fadli Zon saat

berkunjung beberapa hari lalu. Saat anaknya Iqbal datang ke rumah, cerita

pemukulan itu juga yang ia sampaikan. "Hari Selasa, foto saya tersebar di media

sosial, saya nggak sanggup baca itu," kata Ratna. Jadi Ratna menyatakan tak ada

penganiayaan yang dialaminya. "Itu cerita khayalan, entah diberikan oleh setan

mana kepada saya," kata dia.

15
Setelah pengakuan ini, sejumlah pihak juga melaporkan Ratna ke polisi

atas dugaan penyebaran hoax. Diantaranya adalah Farhat Abbas dan Muannas

Alaidid.

5. Prabowo minta maaf dan meminta Ratna mundur

Setelah pengakuan Ratna dalam jumpa pers kepada awak media, Prabowo

Subianto kembali menggelar jumpa pers. Dalam kegiatan itu, mantan Komandan

Jenderal Koppasus ini meminta maaf karena ikut menyebarkan berita bohong

mengenai penganiayaan Ratna Sarumpaet.

"Saya atas nama pribadi dan pimpinan tim kami, saya minta maaf kepada

publik bahwa saya telah ikut meyuarakan sesuatu yang belum diyakini

kebenarannya," kata Prabowo yang didampingi calon Wakil Presiden Sandiaga

Uno di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Rabu malam, 3 Oktober 2018.

Prabowo juga meminta Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan

Pemenangan Prabowo - Sandiaga Uno di pemilu 2019. “Saya telah meminta Ibu

Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan Pemenangan. Beliau sudah

lakukan itu. Sudah ada suratnya,” kata Prabowo.

6. Ratna dicekal lalu ditangkap Kepolisian

Sehari setelah itu, tepatnya pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 sekitar

pukul 20.00 WIB, kepolisian melakukan penangkapan kepada Ratna Sarumpaet.

Ia ditangkap di Bandara Internasional Soekarno Hatta saat akan bertolak ke

Santiago, Cile. Ratna diketahui akan bertolak ke Cile untuk menghadiri acara

Konferensi The 11th Women Playwrights International Conference 2018.

16
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo

Yuwono mengatakan penangkapan tersebut terkait dengan statusnya sebagai

tersangka dalam kasus penyebaran hoax atau berita bohong. Adapun sebelum

ditangkap, polisi telah mengirimkan surat pencegahan kepada pihak Imigrasi.

Kepolisian bakal menjerat Ratna dengan pasal 14 dan 15 Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Selain itu, Ratna juga

bakal dikenai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)

pasal 28 juncto pasal 45. "Ancaman hukumanya maksimal 10 tahun penjara,"

Kata Argo.

Setelah melakukan penangkapan Ratna kemudian digelandang ke Markas

Polda Metro Jaya. Ia kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan dan

kemudian penggeledahan di kediamanan di Kawasan Kampung Melayu Kecil,

Jakarta Selatan pada Jumat dini hari, 5 Oktober 2018.

Filsafat Sebagai Pola Pikir “Bijaksana’’

Orang yang belajar filsafat adalah dia yang belajar segala sesuatu mengenai

kebijaksanaan. Termonologi ‘’kebijaksanaan’’ memaksudkan pula pengertian, dan

penguasaan persoalan samapi ke akar-akarnya.

Orang bijak mengandalkan pemilikan knowledge of the why (pengetahuan

tentang ‘’mengapa’’). Aneka pengalman yang lahir dari indera tidak berkaitan dengan

wisdom, karena hanya menyentuh hal-hal khusus belaka. Pengalaman semacam itu

tidak mampu mengatakan ‘’why’’ dari apa yang dialami. Misalnya : pengalaman akan

17
api yang dirasakan oleh indera kulit jelas hanya menegaskan kesimpulan bahwa api

itu panas, tetapi tidak bisa menjelaskan ‘’mengapa’’ api itu panas.

Parmenides adalah filosof pertama yang menegaskan bahwa prinsip dari

segala apa yang ada bukanlah materi, melainkan SATU. Bukan ‘’satu’’ dalam artian

bilangan kuantitaf atau kualitatif. Satu di maksudkan kepenggalan, keutuhan dan

ketidakterbagian. Apa maksudnya? Parmenideslah yang pertama menyimak segala

sesuatu tidak dari sudut penglihatan indra, melainkan dari prinsip akal budi.

Maksudnya, dalam Bahasa metafisis bias dikatakan bahwa segala apa yang ada

adalah ADA, apa yang tidak ada adalah TIADA.

Filsafat dengan demikian adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan

dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat

tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan pencobaan-pencobaan,

tetapi mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberi

argument dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu

dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektikal. Untuk studi falsafi, mutlak

diperlukan logika berfikir dan logika bahasa. Filsafat memiliki peran yang sangat fital

bagi perkembangan ilmuilmu. Filsafatlah yang telah melahirkan semua ilmu,

sehingga filsafat dikatakan sebagai induk ilmu (mother of sciences).

Manusia adalah mahluk yang senantiasa berfikir dengan kemampuan berfikir

inilah pada awalnya manusia merasa heran, dengan segala sesuatu yang ada dan

terjadi di alam. Hingga akhirnya dengan kemampuan berfikir inilah yang

mengantarkan manusia untuk memperoleh suatu jawaban yang bersifat logis. Proses

18
berfilsafat adalah proses berfikir, tetapi tidak semua proses berfikir adalah proses

berfilsafat.

Berfikir yang bagaimana dapat dikatakan berfilsafat? Berfilsafat adalah

berfikir yang radikal, logis, universal, konseptual, koheren, konsisten, sistematik,

komprehensif, kritis, bebas dan bijaksana. Filsafat ditunjukkan untuk mendapatkan

kebenaran mutlak (absolut) yaitu benar dilihat dari berbagai sudut pandang dan benar

pula untuk sepanjang masa. Artinya filsafat memandang sesuatu secara komprehensif.

Filsafat membantu manusia mencari kebenaran dari segala fenomena yang

ada, memberi pengertian cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia,

memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan

memahami diri sendiri dan dunia, mengembangka kemampuan dalam menalar dan

memberikan bekal untuk memperhatikan diri sendiri dan orang lain dengan kritis.

Lebih jauh dari itu filsafat memberikan padangan yang luas sehingga manusia dapat

membendung egoismen dan egosestrisme, membebaskan manusia dari belenggu cara

berfikir yang sempit, memberikan landasan histois-filsuf bagi setiap kajian displin

ilmu yang ditekuni memberikan nilai dan orentasi yang jelas bagi setia disiplin ilmu.

Saat ini saya lapar, maka saya berfikir untuk makan. Hal demikian sudah

terjadi dengan sendirinya, dan tidak termasuk kedalam kegiatan berfilsafat.

Berfilsafat memerlukan kedalam, pencarian tak kunjung henti dalam terang

rasionalitas, yang dilakukan dengan kaidah-kaidah yang bias dipertanggung

jawabkan. Jika dilakukan suatu kontemplasi lebih lanjut, maka manfaat radikal adalah

menjadikan seseorang bijaksana dalam menyikapi masalah hidup dan kehidupan

19
karena telah berteman dengan kebijaksanaan, serta mengetahui dengan benar apa

tujuan mereka berbuat sehingga filsafat di berbagai tempat berperan sebagai

pandangan hidup, bahkan sebagai pedoman hidup.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan tersebut penulis merumuskan kesimpulan

sebagai berikut :

1. Rawls memahami keadilan sebagai fairness. Rawls mengemukakan

bahwa dalam kondisi asali dan ketidak berpengetahuan tidak seorangpun

20
tahu tempatnya, posisi atau status sosialnya dalam masyarakat, tidak ada

pula yang tahu kekayaannya, kecerdasasannya, kekuatannya, tidak

seorangpun diuntungkan atau dirugikan. Setiap orang dalam kondisi

seperti itu memiliki peluang yang sama.


2. Dari kasus ini dapat dilihat bahwa pelaku dengan mudahnya membuat

dan menyebarkan berita bohong atau hoax, tanpa memperdulikan pihak

tertentu yang merasa dirugikan malahan terlihat terkesan mengadu domba

antara golongan tertentu. Prilaku itu sangat tidak mencerminkan orang

yang berfilsafat dan melanggar dasar negara kita yaitu PANCASILA

Dalam hal ini telah melanggar beberapa sila PANCASILA yaitu sila

pertama ‘’Ketuhanan Yang Maha Esa’’. Dia mengaku berbuat seperti itu

karena atas bisikan setan, padahal kita sebagai manusia telah dianugrahi

pola pikir dan dapat menentukan apa saja yang harus kita perbuat.

Dengan menyatakan pernyataan yang seperti itu, bisa dianggap secara

tidak langsung dia tidak mengakui kuasa TUHAN. Yaitu kuasa

penganugrahan pola pikir terhadap umatnya atau manusia. Sila ketiga

‘’Persatuan Indonesia’’. Sebagai warga Indonesia yang baik dan

berlandaskan PANCASILA, tidak seharusnya kita mengusik persatuan

Indonesia dengan cara mengadu domba golongan tertentu melalui berita

bohong atau hoax. Dari kasus di atas yang sudah saya analisis, dapat

diambil hikmah dan pembelajaran secara bersama-sama bagi kita semua

sebagai warga negara Indonesia. Hendaknya kita sebagai warga negara

21
Indonesia menjujung tinggi nilai-nilai PANCASILA, dengan cara

menerapkannya pada kehidupan sehari-hari yang kita jalani. sebab

Pancasila adalah pedoman kehidupan Bangsa Indonesia. Agar terciptanya

kedamaian, kedilan, kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia.

B. Saran

Sesuai dengan harapan penulis agar pikiran-pikiran dalam makalah ini dapat

bermanfaat bagi berbagai pihak, kiranya penulis menyampaikan beberapa saran

sebagai berikut :

Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, kami menyadari bahwa

makalah kami masih banyak kekeliruan, untuk itu kami membutuhkan kritik dan

saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

Hart, Konsep Hukum. Bandung, Nusamedia, 2010

Huijbers, Filsafat Hukum, Yogyakarta, Kanisius, 2009

Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum Dan Negara, Bandung, Nusamedia, 2009

Komisi Hukum Nasional, Kebijakan reformasi hukum : Suatu rekomendasi 1 & 2.

Jakarta, Komisi Hukum Nasional RI, 2010

22
Komisi Hukum Nasional, Problematika Penegakan Hukum: Kajian Reformasi

Lembaga Penegak Hukum. Jakarta, Komisi Hukum Nasional RI, 2010

Moeljatno, KUHP. Jakarta, Bumi Aksara, 2009

Rawls, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan

Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010

Remmelink, Hukum Pidana, Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanannya Dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Jakarta, Gramedia Pustaka

Utama, 2009

Sudirman, Hati Nurani Hakim Dan Putusannya, Suatu Pendekatan Dari Perspektif

Ilmu Hukum Perilaku (Behavioral Jurisprudence), Bandung, Citra Aditya

Bakti, 2010

Swift, Political philosophy : A beginners’ guide for students and political,

Cambridge, Polity Press, 2011

B. JURNAL

Anthon F. Susanto, “Keraguan dan Ketidakadilan Hukum (Sebuah Pembacaan

Dekonstruktif)”, Jurnal Keadilan Sosial, Edisi 1 tahun 2010

Erlyn Indarti, “Demokrasi dan Kekerasan: Sebuah Tinjauan Filsafat Hukum”,

Aequitas Juris, Jurnal Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira

Kupang, Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira, Vol. 2 (1),

2008

23
Julia, Syamsiar. “Pelanggaran HAM Dan Peranan Polri Dalam Penegakan Hukum

di Indonesia”. Jurnal Equality Vol. 11 No. 2 Agustus 2006. Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara, 2006

M. Husni, “Moral dan Keadilan sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang

Responsif”. Jurnal Equality Vol. 11 No. 1 Februari 2006. Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara, 2006

Maryanto, “Refleksi dan Relevansi Pemikiran Filsafat Hukum Bagi Pengembangan

Ilmu Hukum”, Jurnal Hukum, Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan

Agung Semarang, Vol. 13 (1) tahun 2003

Sewu, P. Lindawaty S, “Kegunaan Filsafat Hukum Dalam Mengupas Tuntas

Permasalahan Hukum Kontekstual”, Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu

Hukum, Fakultas Hukum Universitas Langlangbuana, Vol. 5 (1), 2006

Todung Mulya Lubis, “Menegakan Hak Asasi Manusia, Menggugat Diskriminasi”.

Jurnal Hukum Dan Pembangunan Vol. 39 (1) Januari-Maret 2009. FH UI

Jakarta, 2009

24