Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Maternal Perinatal dan SOP”


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Maternal dan Neonatal
Dosen Pengampu: Rus Andraini,A.Kp.,M.PH

Disusun Oleh:

Eva Meylinda

Novia Kartika Sari

Novia Puspita Sari

PRODI D-III KEPERAWATAN KELAS BALIKPAPAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN AJARAN
2018/2019
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan. Dalam
penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan
oleh kurangnya pengetahuan yang menunjang. Kami menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Makalah ini berasal dari berbagai
sumber. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan teman-teman. Amin..

Balikpapan, 6 Februari 2019

Kelompok 8

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1


DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................. 3
B. Tujuan ......................................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 6
A. Definisi Bencana .............................................................................................. 6
B. Jenis-Jenis Bencana ......................................................................................... 6
C. Kategori Bencana Dan Korbannya .................................................................. 6
D. Fase-Fase Dari Bencana ................................................................................... 6
E. Dampak Bencana Alam ................................................................................... 6
F. Prinsip-Prinsip Dalam Penatalaksanaan Bencana ............................................ 6
G. Pencegahan ...................................................................................................... 6
H. Komponen Yang Disiapkan Dalam Menghadapi Bencana ............................. 7
I. Pembagian Daerah Kejadian ............................................................................ 8
J. Definisi Kejadian Luar Biasa (Klb) ................................................................. 8
K. Kriteria Kejadian Luar Biasa (Klb) ................................................................ 10
L. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (Klb) ............ 10
M. Penanggulangan Klb ...................................................................................... 11
N. Prosedur Penanggulangan Klb ....................................................................... 12
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 14
A. Kesimpulan .................................................................................................... 14
B. Saran .............................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 15

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat akan akses pelayanan
kesehatan, sediaan farmasi, dan alat kesehatan secara nasional memang telah
mengalami peningkatan, namun di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan,
pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih belum cukup terpenuhi.
Kebutuhan akan Sumber DayaManusia (SDM) Kesehatan pun belum cukup
memadai, baik jumlah, jenis, kualitastenaga kesehatan yang dibutuhkan, serta
distribusinya yang belum merata. Jumlahdokter di Indonesia masih tergolong
rendah bila dibandingkan dengan negara lain diASEAN, yaitu 19 orang dokter
per 100.000 orang penduduk.
Sesuai dengan dasar Sistem Kesehatan Nasional tahun 2009, upaya
penyelenggaraan kesehatan perlu mengacu pada dasar-dasar :
1. Hak asasi manusia.
2. 2.Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis.
3. 3.Komitmen dan Tata Kepemerintahan yang Baik.
4. 4.Dukungan Regulasi.
5. 5.Antisipatif dan Pro Aktif.
6. 6.Responsif Gender.
7. 7.Kearifan Lokal.
Akan tetapi pembangunan kesehatan yang belum merata terutama dalam
hal pemerataan prasarana dan fasilitas penunjang bagi stakeholder kesehatan
yang ada di daerah maka diperlukan tindakan rujukan dari stake holder
kesehatan yang memiliki fasilitas kurang ke stakeholder yang memiliki sarana
lebih maju.

3
Rujukan adalah sarana dan prasarana yang digunakan sebagai alat untuk
memberikan informasi, untuk menyokong atau memperkuat pernyataan
dengan tegas. Rujukan dapat berwujud alat bukti, nilai-nilai, dan/atau
kredibilitas. Sumber materi rujukan adalah tempat materi tersebut ditemukan.
Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang
melaksanakan pelimpahan wewenang atau tanggung jawab secara timbal balik
terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan. Sistem rujukan dapat
berjalan secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal dalam arti rujukan
dari unit yang terkecil atau berkemampuan kurang kepada unit yang lebih
mampu. Secara horizontal dalam arti rujukan antar unit-unit yang setingkat
kemampuannya.
Untuk dapat mewujudkannya dan demi terselenggaranya Pembangunan
kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun
pemerintah secara sinergis, maka diperlukan suatu sistem rujukan yang tepat
sehingga dapat terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

B. Rumusan Masalah
1. Mengetahui Sistem Rujukan dalam Sistem Pelayanan Kesehatan Maternal
Perinatal
2. Mengetahui Tata Cara Pelaksanaan Sistem Rujukan
3. Mengetahui Prosedur standar merujuk pasien
4. Mengetahui Prosedur standar menerima rujukan Pasien
5. Mengetahui Prosedur standar membalas rujukan pasien
6. Mengetahui Persiapan rujukan
7. Mengetahui Mekanisme rujukan

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Definisi Bencana
2. Untuk Mengetahui Jenis-Jenis Bencana
3. Untuk Mengetahui Kategori Bencana dan Korbannya
4. Untuk Mengetahui Fase-Fase Dari Bencana

4
5. Untuk Mengetahui Dampak Bencana Alam
6. Untuk Mengetahui Prinsip-Prinsip Dalam Penatalaksanaan Bencana
7. Untuk Mengetahui Pencegahannya
8. Untuk Mengetahui Komponen Yang Disiapkan Dalam Menghadapi
Bencana
9. Untuk Mengetahui Pembagian Daerah Kejadian
10. Untuk Mengetahui Definisi Kejadian Luar Biasa
11. Untuk Mengetahui Kriteria Kejadian Luar Biasa
12. Untuk Mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya KLB
13. Untuk Mengetahui Penanggulangan KLB
14. Untuk Mengetahui Prosedur Penanggulangan KLB

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Bencana
Bencana bencana.

B. Jenis-jenis Bencana
Bencana

C. Kategori Bencana dan Korbannya


Keadaan

D. Fase-fase dari Bencana

E. Dampak Bencana Alam


Bencana

F. Prinsip-prinsip dalam Penatalaksanaan Bencana


Ada 8 prinsip penatalaksanaan bencana, yaitu:
1. Mencegah berulangnya kejadian
2. Meminimalkan jumlah korban
3. Mencegah korban selanjutnya
4. Menyelamatkan korban yang cedera
5. Memberikan pertolongan pertama
6. Mengevakuasi korban yang cidera
7. Memberikan perawatan definitive
8. Memperlancar rekonstruksi atau pemulihan.

G. Pencegahan
Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal, terarah dan
terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada dalam keadaan gawat

6
darurat. Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada
dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan
sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau cacat yang
mungkin terjadi. Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan
meliputi:
1. Penanggulangan penderita ditempat kejadian
2. Transpotasi penderita gawat darurat dan tempat kejadian kesarana
kesehatan yang lebih memadai
3. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan
penanggulangan penderita gawat darurat
4. Upaya rujukan ilmu pengetahuan, pasien dan tenaga ahli
5. Upaya penanggulangan pendereita gawat darurat ditempat rujukan (Unit
Gawat Darurat dan ICU)
6. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat.

H. Komponen yang Disiapkan dalam Menghadapi Bencana


Persiapan masyarakat, triage lapangan, persiapan Rumah Sakit, dan
persiapan UGD.
1. Perencanaan menghadapi bencana akan mencakup banyak sumber daya:
a) Pejabat polisi, pemadam kebakaran, pertahanan sipil, pamong praja
terutama yang terlibat dalam penanganan bencana dan bahan berbahaya.
b) Harus sering dilatih dan di evaluasi.
c) Memperhitungkan gangguan komunikasi, misalnya karena jaringan
telepon rusak atau sibuk.
d) Mempunyai pusat penyimpanan perbekalan, tergantung dari jenis
bencana yang di duga dapat terjadi.
e) Mencakup semua aspek pelayanan kesehatan dari pertolongan pertama
sampai terapi definitip.
f) Mempersiapkan transportasi penderita apabila kemampuan local
terbatas.

7
g) Memperhitungkan penderita yang sudah di rawat untuk kemudian di
rujuk karena masalah lain.
2. Perencanaan Pada Tingkat Rumah Sakit
Perencanaan bencana rumah sakit harus mulai dilaksanakan meliputi:
a) Pemberitahuan kepada semua petugas.
b) Kesiapan daerah triase dan terapi.
c) Klasifikasi penderita yang sudah di rawat, untuk penentuan sumber daya.
d) Pemeriksaan perbekalan (darah, cairan IV, medikasi) dan bahan lain
(makanan, air, listrik, komunikasi) yang mutlak di perlukan rumah sakit.
e) Persiapan dekontaminasi (bila diperlukan).
f) Persiapan masalah keamanan.
g) Persiapan pembentukan pusat hubungan masyarakat.

I. Pembagian Daerah Kejadian


Di tempat kejadian atau musibah masal, selalu terbagi atas:
1. Area 1: Daerah kejadian (Hot zone)
Daerah terlarang kecuali untuk tugas penyelamat (rescue) yang sudah
memakai alat proteksi yang sudah benar dan sudah mendapat ijin masuk
dari komandan di area ini.
2. Area 2: Daerah terbatas (Warm zone)
Di luar area 1, hanya boleh di masuki petugas khusus, seperti tim kesehatan,
dekotanminasi, petugas atau pun pasien. Pos komando utama dan sektor
kesehatan harus ada pada area ini.
3. Area 3: Daerah bebas (Cold zone)
Di luar area 2, tamu, wartawan, masyarakat umum dapat berada di zone ini
karena jaraknya sudah aman. Pengambilan keputusan untuk pembagian area
itu adakah komando utama.

J. Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB)


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1501/MENKES/PER/X/2010, Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau

8
meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara
epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan
keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Selain itu, Mentri Kesehatan RI (2010) membatasi pengertian wabah
sebagai berikut: “Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi
daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka”.
Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan, yaitu peningkatan kasus
yang melebihi situasi yang lazim atau normal, namun wabah memiliki konotasi
keadaan yang sudah kritis, gawat atau berbahaya, melibatkan populasi yang
banyak pada wilayah yang lebih luas.

Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis
ataupun penyakit non infeksi.
2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan
jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena
jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga
karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal,
pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan
pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai
untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau
meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari
cara penularan penyakit tersebut.
4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat
terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan
maupun tahun.

9
K. Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1501/MENKES/PER/X/2010, suatu derah dapat ditetapkan dalam keadaan
KLB apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut
jenis penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah
per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan perbulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

L. Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)


Menurut Notoatmojo (2003), faktor yang mempengaruhi timbulnya
Kejadian Luar Biasa adalah :
1. Herd Immunity yang rendah
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/ wabah
adalah herd immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity

10
ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat
menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkat
kekebalan individu. Makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit
terkena penyakit tersebut.
2. Patogenesitas
Patogenesitas merupakan kemampuan bibit penyakit untuk
menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.
3. Lingkungan Yang Buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme, tetapi
mempengaruhi kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.

M. Penanggulangan KLB
Penanggulangan dilakukan melalui kegiatan yang secara terpadu oleh
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, meliputi:
1. Penyelidikan epidemilogis
Penyelidikan epidemiologi pada Kejadian Luar Biasa adalah untuk
mengetahui keadaan penyebab KLB dengan mengidentifikasi faktor-faktor
yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut, termasuk aspek sosial dan
perilaku sehingga dapat diketahui cara penanggulangan dan pengendaian
yang efektif dan efisien (Anonim, 2004 dalam Wuryanto, 2009).
2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk
tindakan karantina.
Tujuannya adalah:
a) Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh dan
mencegah agar mereka tidak menjadi sumber penularan.
b) Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi
mengandung penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat
menularkan penyakit (carrier).
3. Pencegahan dan pengendalian

11
Merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberi perlindungan
kepada orang-orang yang belum sakit, tetapi mempunyai resiko terkena
penyakit agar jangan sampai terjangkit penyakit.
4. Pemusnahan penyebab penyakit
Pemusnahan penyebab penyakit terutama pemusnahan terhadap bibit
penyakit/kuman dan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang
mengandung bibit penyakit.
5. Penanganan jenazah akibat wabah
Terhadap jenazah akibat penyebab wabah perlu penanganan secara
khusus menurut jenis penyakitnya untuk menghindarkan penularan penyakit
pada orang lain.
6. Penyuluhan kepada masyarakat
Penyuluhan kepada masyarakat, yaitu kegiatan komunikasi yang
bersifat persuasif edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan wabah
agar mereka mengerti sifat-sifat penyakit, sehingga dapat melindungi diri
dari penyakit tersebut dan apabila terkena, tidak menularkannya kepada
orang lain. Penyuluhan juga dilakukan agar masyarakat dapat berperan serta
aktif dalam menanggulangi wabah.
7. Upaya penanggulangan lainnya
Upaya penanggulangan lainya adalah tindakan-tindakan khusus
masing-masing penyakit yang dilakukan dalam rangka penanggulangan
wabah. (Menteri Kesehatan RI, 2010).

N. Prosedur Penanggulangan KLB


1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan
melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu
melakukakukan langkah-langkah lainnya:
a) Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan
logistic
b) Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas

12
c) Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
d) Memperbaiki kerja laboratorium
e) Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain
2. Pengendalian KLB
Tindakan pengendalian KLB meliputi pencegahan terjadinya KLB
pada populasi, tempat dan waktu yang berisiko (Bres, 1986). Dengan
demikian untuk pengendalian KLB selain diketahuinya etiologi, sumber dan
cara penularan penyakit masih diperlukan informasi lain. Informasi tersebut
meliputi:
a) Keadaan penyebab KLB
b) Kecenderungan jangka panjang penyakit
c) Daerah yang berisiko untuk terjadi KLB (tempat)
d) Populasi yang berisiko (orang, keadaan imunitas)

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bencana adalah suatu kejadian, yang disebabkan oleh alam atau karena
ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga
menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan lingkungan,
kejadian ini terjadi diluar kemampuan masyarakat dengan segala
sumberdayanya.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di
Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah
penyakit.
Penanggulangan KLB dikenal dengan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-
KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan
penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk
mengantisipasi KLB.

B. Saran
Penyusun mengetahui bahwa makalah ini sangat jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan agar makalah ini bisa
lebih baik lagi dan bisa menjadi pembelajaran untuk kami di kemudian hari.

14
DAFTAR PUSTAKA

Adam. 2013. Konsep Dasar Bencana.


(http://adamorangbaik.blogspot.com/2013/04/konsep-dasar-bencana.html
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 12.00 WITA
C. Long Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Padjajaran Bandung.
Hidayat. 2014. Kejadian Luar Biasa.
(https://aepnurulhidayat.wordpress.com/2014/06/20/kejadian-luar-biasa-
klb/)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 14.10 WITA
Kusuma. 2014. Makalah Kejadian Luar Biasa.
(http://tyaarumkusuma.blogspot.com/2014/11/makalah-kejadian-luar-
biasa-klb-dan.html)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 12.17 WITA
Nurjannah, dkk. 2013. Manajemen Bencana. Penerbit Alfa Beta, Bandung.
Prameswari. 2016. Makalah Keperawatan Gadar dan Manajemen Bencana
Bencana Alam dan Penanganan KLB.
(http://www.academia.edu/29341820/MAKALAH_KEPERAWATAN_
GADAR_DAN_MANAJEMEN_BENCANA_BENCANA_ALAM_DA
N_PENANGANAN_KLB)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 14.45 WITA

15