Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Kualitas Produk

Kualitas merupakan totalitas fitur dan karakteristik yang yang

mampu memuaskan kebutuhan, yang dinyatakan maupun tidak

dinyatakan, kualitas mencakup pula daya tahan produk, kehandalan,

ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut-atribut nilai

lainnya. Beberapa atribut itu dapat diukur secara obyektif. Dari sudut

pandangan pemasaran, kualitas harus diukur sehubungan dengan

persepsi kualitas para pembeli (Kotler: 2003)

Menurut Juran Hunt (1993 dalam Nasution M.N 2005 seperti

dikutip oleh Puji Isyanto, dkk, 2012) bahwa, kualitas produk adalah

kecocokan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.

Dimensi kualitas menurut Garvin (dalam Nasution M.N 2005 seperti

dikutip oleh Puji Isyanto, dkk, 2012) bahwa, “mengidentifikasi

delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis

karakteristik kualitas barang yaitu sebagai berikut :

a. Performa/kinerja (performance) berkaitan dengan aspek fungsional

dari produk dan merupakan karakteristik utama yang

dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk.

12
b. Keistimewaan (feature), merupakan aspek kedua dari performasi

yang menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan dan

pengembangannya.

c. Keandalan (reliability), berkaitan dengan kemungkinan suatu

produk berfungsi secara berhasil dalam priode waktu tertentu

dibawah kondisi tertentu.

d. Kesesuaian (conformance), berkaitan dengan tingkat kesesuaian

produk terhadap spesifikasi yang telah di tetapkan sebelumnya

berdasarkan keinginan pelanggan. Konformasi merefleksikan

derajat dimana karakteristik desain produk dan karakteeristik

operasi memenuhi standar yang telah di tetapkan, serta seiring di

definisikan sebagai konformansi terhadap kebutuhan.

e. Daya tahan/ketahanan (durability), merupakan ukuran masa pakai

produk. Karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan dari produk

itu.

f. Kemampuan pelayanan (service ability), merupakan karakteristik

yang berkaitan dengan kecepatan/kesopanan, kompetensi,

kemudahaan, serta akurasi, dalam perbaikan.

g. Estetika (aesthetics), merupakan karakteristik mengenai

keindahaan yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan

pertimbangan pribadi dan refleksi atau pilihan individual.

13
h. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), bersifat subjektif,

berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkonsumsikan

produk, seperti meningkatkan harga diri.

2. Teori Citra Merek

Citra merek yang kuat memberikan keuntungan dan

keunggulan yang akan dirasakan oleh perusahaan. Merek yang baik

berdampak pada pencitraan yang dilakukan oleh produsen terhadap

para konsumen. Pengaruh dari citra merek baik terhadap produsen atau

perusahaan itu sendiri dan terhadap konsumen amatlah besar dalam

pengaruhnya peningkatan penjualan. Citra merek dapat dianggap

sebagai jenis asosiasi yang muncul dalam benak konsumen ketika

mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi tersebut secara sederhana

dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang

dikaitkan dengan suatu merek, sama halnya ketika kita berpikir

tentang orang lain. Asosiasi ini dapat dikonseptualisasi berdasarkan

jenis, dukungan, kekuatan dan keunikan.

Menurut Qomaruzzaman (2008 dalam Aprilia, 2013) Merek

dibuat agar konsumen dapat membedakan manakah produk yang

dihasilkan oleh perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain.

Menurut Keller (2003) citra merek adalah persepsi tentang merek yang

14
merupakan refleksi memori konsumen akan asosiasinya pada merek

tersebut. Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap

jati diri perusahaan. Persepsi ini didasarkan pada apa yang masyarakat

ketahui atau kira tentang perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena

itulah perusahaan yang sama belum tentu memiliki citra yang sama

pula dihadapan orang. Menurut Aprilia (2013) peran merek di bagi

menjadi 2 yaitu, yang pertama bagi konsumen (dapat mengidentifikasi

asal produk, mengurangi resiko, sebagai simbol, dan sebagai tanda

kualitas), peran yang kedua bagi perusahaan (sebagai simbol kualitas,

sebagai sumber keuangan, memberikan produk kepada konsumen

dengan asosiasi unik, sebagai alat identifikasi yang memudahkan

untuk penaganan dan pelacakan, melindungi fitur unik secara legal,

dan sebagai sumber keunggulan kompetitif).

Menurut Fandy Tjiptono (2005 dalam Mohamad Rizan dan

Yuli Nopiska, 2011), Brand Image atau Brand description yakni,

tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu,

Sementara itu, kotler dan keller (2007 dalam Mohamad Rizan dan

Yuli Nopiska, 2011) menjelaskan bahwa citra merek adalah

penglihatan dan kepercayaan yang terpendam konsumen, sebagai

cerminan asosiasi yang tertahan di ingatan konsumen. Brand Image

dijelaskan dengan adanya.

15
Menurut Wijaya (2008 dalam Apriliani, 2013) komponen-

komponen citra merek terdiri dari atas 3 bagian, yaitu :

a. Citra pembuat adalah sekumpulan asosiasi yang di persepsikan

konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau

jasa.

b. Citra pemakai adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan

konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau

jasa.

c. Citra produk adalah sekumpulan asosiasi yang di persepsikan

konsumen terhadap suatu produk.

Dalam citra merek harus memiliki karakteristik-karakteristik yang

mampu menarik perhatian agar konsumen memiliki presepsi yang

berebeda dengan merek yang lain. Menurut Stanton (2001)

karakteristik merek yang baik yaitu, mengingatkan sesuatu tentag

karakteristik produk sesuai kegunaannya, mudah untuk dieja,

dibaca, dan diingat, mempunyai ciri khas tersendiri, bisa diadaptasi

oleh produk-produk baru yang mungkin ditambahkan di lini

produk, dan bisa didaftarkan dan dilindungi hak paten.

16
3. Teori Keputusan Pembelian

Perilaku pembelian dapat didefinisikan sebagai kegiatan

individu yang melibatkan secara langsung proses pengambilan

keputusan pada persiapan atau penentuan saat akan melakukan

pembelian. Keputusan pembelian konsumen merupakan sebuah

tindakan yang dilakukan konsumen untuk membeli suatu produk.

Menurut Swastha dan Handoko (2008) dalam pengambilan keputusan

ada dua elemen penting dari perilaku konsumen yaitu, proses

pengambilan keputusan dan kegiatan fisik, yang semua ini melibatkan

individu dalam menilai, mendapatkan, dan mempergunakan barang-

barang dan jasa secara ekonomis. Dalam setiap produsen pasti

menjalankan berbagai strategi agar konsumen memutuskan untuk

membeli produknya.

Menurut Kotler (2003) keputusan pembelian adalah tindakan

dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Peter

dan Olson (2013) menyatakan bahwa “pengambilan keputusan

konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk

mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih

perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya”. Hasil proses

integrasi adalah suatu pilihan secara kognitif menunjukkan intensi

perilaku. Pengambilan keputusan sebagai penyelesaian masalah yang

17
berfokus pada tujuan konsumen yang ingin di raih atau di penuhi oleh

mereka. Pengambilan keputusan konsumen harus dapat

menerjemahkan informasi yang relevan di lingkungan sekitar,

konsumen juga harus dapat mengkombinasikan pengetahuan sebelum

mengevaluasi produk karena terkait dengan produk yang akan dibeli.

Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan

pembelian suatu produk, biasanya konsumen selalu

mempertimbangkan kualitas, harga dan produk yang sudah dikenal

oleh masyarakat.

Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, Menurut

Peter dan Olson (2013) konsumen biasanya melalui beberapa tahapans

proses pembelian, yaitu pengenalan masalah (persepsi mengenai

perbedaan kondisi ideal dan aktual), pencarian berbagai alternatif

solusi (mencari informasi mengenai berbagai solusi yang berpotensi

menyelesaikan masalah lingkungan eksterna atau mengaktifkan

pengetahuan dari memori), evaluasi berbagai alternatif solusi

(mengevaluasi dan menilai berbagai alternative dalam arti

kepercayaan menonjol mengenai berbagai konsekuensi relevan dan

menggabungkan pengetahuan tersebut untuk membuat pilihan),

pembelian (membeli alternatif yang dipilih), penggunaan

pascapembelian dan evaluasi ulang alternatif yang dipilih

18
(menggunakan alternatif yang dipilih dan mengevaluasinya lagi untuk

mengetahui hasil kerjanya, seperti pada gambar 2.1 berikut ini:

penggunaan
Pencarian Evaluasi
pascapembelian dan
Pengenalan berbagai berbagai
Pembelian evaluasi ulang
Masalah alternatif alternatif
alternatif yang dipilih
solusi solusi

Sumber : Peter dan Olson, 2013

GAMBAR 2.1.
Proses Pembelian Konsumen

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa

keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk

melakukan pembelian sebuah produk. Oleh karena itu, pengambilan

keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan

salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak

lanjut yang nyata. Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi

pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil

selanjutnya. Titik awalnya adalah model perilaku pembelian yang

berupa rangsangan-rangsangan (stimulus-response model) seperti yang

ditujukkan pada gambar 2.2. di bawah ini:

19
Psikologi
Konsumen
Motivasi
Rangsangan Rangsanga Persepsi Proses Keputusan Keputusan
Pemasaran Lain Pembelajaran
Pembelian Pembelian
Produk dan Ekonomi Memori
Pengenalan masalah Pilihan produk
jasa Teknologi
Pencarian informasi Pilihan merek
Harga Politik Karakteristik
Komunikasi Budaya Evaluasi alternatife Pilihan penyalur
Konsumen
Keputusan pembelian Jumlah pembelian
Budaya Perilaku Waktu pembelian
Sosial pascapembelian Metode
Pribadi pembayaran

Sumber : Kotler, 2012

GAMBAR 2.2.
Model Perilaku Konsumen

Peranan konsumen dalam keputusan pembelian menurut Swastha

dan Handoko (2008) berpendapat bahwa lima peran individu dalam

sebuah perilaku konsumen untuk mengahadapi keputusan pembelian,

yaitu:

a. Pengambilan inisiatif (initiator): individu yang mempunyai

inisiatif pembelian barang tertentu, atau yang mempunyai

kebutuhan/keinginan tetapi tidak mempunyai wewenang untuk

melakukan sendiri.

b. Orang yang mempengaruhi (influencer): individu yang

mempengaruhi keputusan untuk membeli baik secara sengaja atau

tidak sengaja.

20
c. Pembuat keputusan (decider): individu yang memutuskan apakah

akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana

membelinya, kapan dan dimana membelinya.

d. Pembeli (buyer): individu yang melakukan transaksi pembelian

sesungguhnya.

e. Pemakai (user): individu yang mempergunakan produk atau jasa

yang dibeli.

Dalam perusahaan sangatlah perlu mengetahui peranan tersebut

karena semua peranan mengandung implikasi guna merancang

produk dan mengalokasikan biaya anggaran promosi serta membuat

program pemasaran yang sesuai dengan pembeli. Faktor-faktor

eksteren juga mempengaruhi perilaku pembelian konsumen. Menurut

Kotler (2012) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat

faktor, diantaranya sebagai berikut:

1) Faktor budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi

perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan

perilaku paling dasar. Masing-masing subbudaya terdiri dari

sejumlah sub-budaya yang lebih menampakkan identifikasi dan

sosialisasi khusus bagi para anggotanya seperti kebangsaan,

agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis. Pada dasaranya

dalam sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat terdapat

21
sebuah tingkatan (strata) sosial. Kelas sosial tidak hanya

mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti

pekerjaan, pendidikan, perilaku dalam berbusana, cara bicara,

rekreasi dan lain-lainya.

2) Selain faktor budaya, faktor sosial seperti kelompok refrensi,

keluarga, serta peran sosial dan status dapat mempengaruhi

perilaku pembelian.

a) Kelompok refrensi atau Kelompok acuan dalam perilaku

pembelian konsumen dapat diartikan sebagai kelompok yang

dapat memberikan pengaruh secara langsung atau tidak

langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut.

Kelompok ini biasanya disebut dengan kelompok keanggotaan,

yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh

secara langsung terhadap seseorang. Adapun anggota

kelompok ini biasanya merupakan anggota dari kelompok

primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan kerja yang

berinteraksi dengan secara langsung dan terus menerus dalam

keadaan yang informal. Tidak hanya kelompok primer,

kelompok sekunder yang biasanya terdiri dari kelompok

keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan juga dapat

disebut sebagai kelompok keanggotaan.

22
b) Keluarga Dalam sebuah organisasi pembelian konsumen,

keluarga dibedakan menjadi dua bagian. Pertama keluarga

yang dikenal dengan istilah keluarg orientas. Keluarga jenis ini

terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang yang

dapat memberikan orientasi agam, politik dan ekonomi serta

ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Kedua, keluarga yang

terdiri dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang.

Keluarga jenis ini biasa dikenal dengan keluarga prokreasi.

c) Peran sosial dan status dapat menjadi faktor sosial yang dapat

mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan

status mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran

seseorang didalam sebuah organisasi maka akan semakin

tinggi pula status mereka dalam organisasi tersebut dan secara

langsung dapat berdampak pada perilaku pembeliannya

3) Faktor pribadi salah satu faktor keputusan pembelian yang

dipengaruhi oleh karakterisitik pribadi diantaranya usia dan tahap

siklus hidup, pekerjaan dan keadaan ekonomi, gaya hidup dan

nilai, serta kepribadian dan konsep diri.

a) Usia dan tahap siklus hidup keluarga Orang membeli barang

dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya yang dimana

23
setiap kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh siklus hidup

keluarga.

b) Pekerjaan dan keadaan ekonomi seseorang dapat

mempengaruhi pola konsumsinya. Selain itu, biasanya

pemilihan produk juga dilakukan berdasarkan oleh keadaan

ekonomi seseorang seperti besaran penghasilan yang dimiliki,

jumlah tabungan, utang dan sikap terhadap belanja atau

menabung.

c) Gaya hidup dan nilai dapat di artikan sebagai sebuah pola

hidup seseorang yang terungkap dalam aktivitas, minat dan

opininya yang terbentuk melalui sebuah kelas sosial, dan

pekerjaan. Tetapi, kelas sosial dan pekerjaan yang sama tidak

menjamin munculnya sebuah gaya hidup yang sama. Melihat

hal ini sebagai sebuah peluang dalam kegiatan pemasaran,

banyak pemasar yang mengarahkan merek mereka kepada

gaya hidup seseorang.

d) Kepribadian dan konsep diri setiap orang memiliki berbagai

macam karateristik kepribadian yang bebeda-beda yang dapat

mempengaruhi aktivitas kegiatan pembeliannya. Kepribadian

merupakan ciri bawaan psikologis manusia yang berbeda yang

menghasilkan sebuah tanggapan relatif konsisten dan bertahan

24
lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian dapat

menjadi variabel yang sangat berguna dalam menganalisis

pilihan merek konsumen. Hal ini disebakan karena beberapa

kalangan konsumen akan memilih merek yang cocok dengan

kepribadiannya.

4) Proses psikologis, faktor yang dapat mempengaruhi keputusan

pembelian konsumen. Faktor ini dipengaruhi oleh empat faktor

utama diantaranya sebagai berikut:

a) Motivasi Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu-

waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang

muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa

ketidaknyamanan. Sedangkan beberapa kebutuhan yang

lainnya dapat bersifat psikogenesis; yaitu kebutuhan yang

berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan

pengakuan, penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok.

Ketika seseorang mengamati sebuah merek, ia akan bereaksi

tidak hanya pada kemampuan nyata yang terlihat pada merek

tersebut, melainkan juga melihat petunjuk lain yang samar

seperti wujud, ukuran, berat, bahan, warna dan nama merek

tersebut yang memacu arah pemikiran dan emosi tertentu.

25
b) Persepsi Seseorang yang termotivasi siap untuk segera

melakukan tindakan. Bagaimana tindakan seseorang yang

termotivasi akan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi

tertentu. Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang

digunkan individu untuk memilih, mengorganisasi, dan

menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan sebuah

gambaran (Bernard Barelson, dalam Kotler 2003). Setiap

persepsi konsumen terhadap sebuah produk atau merek yang

sama dalam benak setiap konsumen berbeda-beda karena

adanya tiga proses persepsi yaitu:

(1) Atensi selektif atau perhatian selektif adalah sebagai proses

penyaringan atas berbagai informasi yang didapat oleh

konsumen.

(2) Distorsi selektif merupakan proses pembentukan persepsi

yang dimana pemasar tidak dapat berbuat banyak terhadap

distorsi tersebut.

(3) Retensi selektif sebagian besar dari kita tidak mengingat

kebanyakan informasi yang dipaparkan kepada kita, tetapi

kita mepertahankan informasi yang mendukung sikap dan

keyakinan kita, karena retensi selektif akan mengingat poin

26
bagus tentang sebuah produk yang kita sukai dan

melupakan poin bagus tentang produk pesaing.

(4) Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang

timbul dari pengalaman. pembelajaran dihasilkan melalui

perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat

bertindak, tanggapan dan penguatan. Teori pembelajaran

mengajarkan kepada para pemasar bahwa mereka dapat

membangung permintaan atas suatu produk dengan

mengaitkan pada pendorongnya yang kuat, menggunakan

isyarat yang memberikan motivasi, dan memberikan

penguatan positif karena pada dasarnya konsumen akan

melakukan generalisasi terhadap suatu merek.

4. Teori Loyalitas Merek

Assael (dalam Setyawan 2007, Seperti dikutip oleh Mohamad

Rizan dan Yuli Nopiska, 2011) berpendapat bahwa loyalitas rerhadap

merek adalah perilaku mengutamakan sebuah merek dengan

melakukan pembelian berulang. Aaker (dalam Tjipton 2005, seperti

dikutip oleh Mohamad Rizan dan Yuli Nopiska, 2011) menjelaskan

pengertian loyalitas merek, yaitu “the attachment that a custumeer

has to a brand”. Menurut Aaker (dalam Rangkuti 2004, seperti

27
dikutip oleh Mohamad Rizan dan Yuli Nopiska, 2011) loyalitas

merek dapat diukur melalui :

a. Pengukuran perilaku. Cara langsung untuk menentukan loyalitas,

khusus perilaku yang sudah menjadi kebiasaan adalah dengan

mengetahui pola pembelian yang dilakukan oleh konsumen.

Pengukuran yang dapat digunakan adalah tingkat pembelian,

presentase pembelian, dan jumlah merek yang dibeli.

b. Mengukur biaya atau mengorbankan untuk beralih merek

(Switching cost). Mengtahui biaya pengorbanan untuk beralih

merek dapat memberikan wawasan yang lebih luas karena

pengorbanan tersebut merupakan suatu dasar terciptanya loyalitas

merek.

c. Mengukur kepuasan. Pengukuran terhadap kepuasan maupun

ketidak puasan pelanggan suatu merek merupakan indikator

penting dari brand loyalty. Bila ketidak puasan pelanggan terhadap

suatu merek rendah, maka pada umumnya tidak cuku alas an bagi

pelanggan untuk beralih konsumsi merek lain.

d. Merek kesukaan. Kesukaan yang menyeluruh dan umum dapat

diukur melalui sebuah cara yang bervariasi, misalnya perhatian,

rasa persahabatan, dan kepercayaan. Ukuran lain dari kesukaan

28
tercermin pada para pelanggan untuk memperoleh kesukaannya,

meskipun harganya lebih tinggi di banding merek lainnya.

e. Komitmen. Merek-merek yang sangat kuat akan memiliki

sejumlah besar pelanggan yang memiliki komitmen. Misalnya

konsumen suka membicarakan merek tersebut dengan rekannya,

bahkan berekomendasi untuk membeli merek tersebut.

B. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Skripsi ini merupakan replikasi dari skripsi Endang Tjahjaningsih.

Menurut Endang Tjahjaningsih dengan judul penelitian “Analisis

kualitas produk dan citra merek dalam mempengaruhi keputusan

pembelian dan dampaknya terhadap loyalitas merek hp Nokia”. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk yang baik dan citra

merek mempunyai pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian.

Hal ini menunjukkan bahwa Kualitas Produk yang baik akan semakin

meningkatkan Loyalitas Konsumen terhadap produk HP merek Nokia

maka konsumen semakin loyal terhadap produk HP merek Nokia.

Konsumen yang loyal terhadap suatu merek akan enggan untuk

berpindah merek, atau bahkan melakukan pembelian ulang atas merek

yang sama.

29
2. Penelitian yang dilaksanakan oleh Puji Isyanto, Ema, dan Herligiani

dengan judul “Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan

Pembelian Handphone Blacberry Pada Mahasiswa Ekonomi

Universitas Singaperbangsa Karawang” memiliki hasil penelitian

menunjukkan dengan nilai korelasi t = 0,774 bahwa sumbangan

variabel kualitas produk terhadap variabel keputusan pembelian

sebesar 59,9%.Dengan kata lain bahwa sumbangan kualitas produk

memiliki perngaruh terhadap keputusan pembelian Handphone merek

Blacberry.

3. Menurut penelitian yang dilaksanakan oleh Mohamad Rizan dan Yuli

Nopiska dengan judul “Pengaruh Citra dan Kepercayaan merek

Terhadap Loyalitas Merek pada Survei Pelanggan Lux Cair Di

Carrefour MT.Haryono” dengan hasil penelitian bahwa citra merek

yang dimiliki oleh sabun Lux berpengaruh signifikan terhadap

loyalitas merek. Citra merek dan kepercayaan merek secara bersama-

sama berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek pada sabun cair

merek Lux.

4. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Praba Sulistia

Wati dengan judul “Analisis Pengaruh Citra Merek Dan Kualitas

Produk Terhadap Keputusan Pembelian Laptop Merek Acer Di Kota

Semarang” menyatakan bahwa citra merek memilikim pengaruh

30
positif terhadap keputusan pembelian dan variabel kualitas produk

mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian.

C. Hipotesis

1. Uji hipotesis

a. Hipotesis 1 :

Penelitian Ferrinadewi (2005 dalam Endang Tjahjaningsih

dan Maurine Yuliani, 2009) memberikan hasil bahwa dari 3 atribut

yang dipertimbangkan konsumen dalam pengambilan keputusan

pembelian kosmetik yaitu faktor kualitas, faktor resiko dan faktor

merek, bahwa faktor kualitas dan faktor merek yang member

pengaruh positif dan signifikan lebih besar dibandingkan faktor

resiko terhadap kepuasan konsumen. Sehingga dalam studi ini

dapat di hipotesiskan bahwa Kualitas Produk berpengaruh

signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Berdasarkan uraian di

atas dapat di munculkan hipotesis pertama (H1) sebagai

berikut:

H1 = semakin baik kualitas produk semakin tinggi keputusan

pembelian

b. Hipotesis 2 :

Penelitian Syafei (2005 dalam Endang Tjahjaningsih dan

Maurine Yuliani, 2009) menunjukkan bahwa sebagian besar

31
pelanggan beranggapan popularitas nama bengkel menjadikan

manfaat jasa bengkel resmi yang sangat besar dan merupakan

bagian yang paling penting dalam pemilihan suatu jasa bengkel

sehingga memberikan keyakinan akan jasa bengkel yang handal

dan berkualitas. Sehingga dalam studi ini dapat di hipotesiskan

bahwa Citra Merek berpengaruh signifikan terhadap Keputusan

Pembelian. Berdasarkan uraian di atas dapat di munculkan

hipotesis kedua (H2) sebagai berikut:

H2 = semakin baik citra merek semakin tinggi keputusan

pembelian

c. Hipotesis 3 :

Penelitian Ariastuti dan Antara (2005 dalam Endang

Tjahjaningsih dan Maurine Yuliani, 2009) menunjukkan hasil

bahwa faktor – faktor yang menentukan loyalitas pelanggan ada 7

faktor yaitu faktor kinerja, faktor ciri–ciri tambahan, faktor

kesesuaian dengan spesifikasi, faktor keandalan, faktor pelayanan,

faktor kualitas yang dipersepsikan dan faktor keindahan. Sehingga

dalam studi ini dapat di hipotesiskan bahwa Kualitas Produk

berpengaruh signifikan terhadap Loyalitas Merek. Berdasarkan

uraian di atas dapat di munculkan hipotesis ketiga (H3)

sebagai berikut:

32
H3 = semakin baik kualitas produk semakin tinggi loyalitas

akan suatu merek.

d. Hipotesis 4 :

Penelitian Rahman (2008 dalam Endang Tjahjaningsih dan

Maurine Yuliani, 2009) menunjukkan Citra Merek terhadap

Loyalitas Merek tidak mampu membuat para konsumen merasa

puas. Konsekuensinya pihak manajemen harus tetap

memperhatikan citra merek terhadap loyalitas merek. Sehingga

dalam studi ini dapat di hipotesiskan bahwa Citra Merek

berpengaruh signifikan terhadap Loyalitas Merek. Berdasarkan

uraian di atas dapat di munculkan hipotesis keempat (H4)

sebagai berikut:

H4 = semakin baik citra merek yang dipersepsikan pelanggan

maka akan semakin tinggi loyalitas merek.

e. Hipotesis 5 :

Penelitian yang dilakukan oleh Aaker dalam Riana (2008

yang dikutip dalam Endang Tjahjaningsih dan Maurine Yuliani,

2009) loyalitas merek menunjukkan adanya suatu ikatan antara

pelanggan dengan merek tertentu dan ini sering kali ditandai

dengan adanya pembelian ulang dari pelanggan. Mowen (dalam

Endang Tjahjaningsih dan Maurine Yuliani, 2009) mengemukakan

33
bahwa loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian. Jadi ini

menunjukkan Keputusan Pembelian berpengaruh signifikan

terhadap Loyalitas Merek. Berdasarkan uraian di atas dapat di

munculkan hipotesis kelima (H5) sebagai berikut:

H5 = Semakin baik Keputusan Pembelian maka semakin

tinggi Loyalitas Merek.

2. Uji efek mediasi

a. Hipotesis 6 :

Penelitian yang dilakukan oleh Endang dan Maurine (2009)

hasil uji efek mediasi menunjukkan kualitas produk mempunyai

pengaruh yang tidak langsung terhadap loyalitas merek melalui

variabel mediasi keputusan pembelian, dengan kata lain keputusan

pembelian berfungsi sebagai variabel mediasi antara variabel

kualitas produk terhadap loyalitas merek. Berdasarkan uraian di

atas dapat di munculkan hipotesis pertama (H6) sebagai

berikut:

H6 = Kualitas produk mempunyai pengaruh yang tidak

langsung terhadap loyalitas merek melalui variabel mediasi

keputusan pembelian.

b. Hipotesis 7 :

34
Penelitian yang dilakukan oleh Endang dan Maurine (2009)

hasil uji efek mediasi menunjukkan citra merek mempunyai

pengaruh yang tidak langsung terhadap loyalitas merek melalui

variabel mediasi keputusan pembelian, dengan kata lain keputusan

pembelian berfungsi sebagai variabel mediasi antara variabel citra

merek terhadap loyalitas merek. Berdasarkan uraian di atas

dapat di munculkan hipotesis pertama (H7) sebagai berikut:

H7 = Citra merek mempunyai pengaruh yang tidak langsung

terhadap loyalitas merek melalui variabel mediasi keputusan

pembelian.

D. Metode Penelitian

H6
Kualitas Produk
H1 H3

Keputusan Loyalitas
H5
Pembelian Merek
H2 H4

Citra Merek
H7

GAMBAR 2.3.S
Konsep Penelitian

35