Anda di halaman 1dari 12

TUGAS HUKUM WARIS ADAT

LEGAL OPINION

Oleh :
ALIF RIDWAN PRAMANA PUTRA

E2B018018

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

PURWOKERTO

2019
Pendahuluan

Hukum Waris Perdata dimuat dalam buku II (BAB XII-XVIII) KUHPerdata


yakni tentang Benda, karena hak mewaris dan ahli waris dimasukan sebagai suatu
hak kebendaan. Unsur waris itu meliputi :
1. Orang meninggal dunia (Pewaris)
2. Kekayaan (warisan)
3. Orang-orang yang berhak (ahli waris)
Seandainya pewaris itu meninggal dunia kemudian tidak memberikan
wasiat, maka warisannya akan diberikan menurut Undang-Undang, intinya
yang membedakan pewarisan Undang-Undang dengan pewarisan wasiat adalah
“kehendak” dari pewarisnya. Prinsip dasar Pasal 874 : Harta pewarisan adalah
kepunyaan pewarisnya menurut Undang-Undang. Sedangkan yang ditentukan
dalam pewarisan menurut undang-undang adalah :
a. Siapa ahli waris yang menerima
b. Berapa hak bagiannya
Syarat umum pewarisan, artinya syarat-syarat umum untuk terjadinya
pewarisan antara lain :
1) Pewarisan hanya berlangsung karena kematian (Pasal 830)
2) Ahli waris (telah lahir dan masih hidup) (Pasal 936, kecuali Pasal 2 KUH
Perdata)
Warisan merupakan suatu bentuk hak maupun kewajiban yang ditinggalkan
oleh pewaris kepada ahli waris. Tentang kapan terjadinya pewarisan (warisan
terbuka) dapat kita lihat dari Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(selanjutnya disebut KUH Perdata) yang menyatakan bahwa pewarisan hanya
terjadi karena kematian. Bilamana seorang ahli waris terbukti menyembunyikan
atau menghilangkan harta warisan, maka ia kehilangan wewenangnya untuk
menolak warisan dan tetap berkedudukan sebagai ahli waris murni, serta tidak
dapat menuntut suatu bagian pun dari barang yang dihilangkan atau
disembunyikan (Pasal 1064 KUH Perdata).
Mengenai status ahli waris yang telah ditolak, tiada seorang pun yang
dapat seluruhnya dipulihkan kembali dari penolakan suatu warisan. Kecuali
penolakan itu merupakan akibat dari penipuan atau karena paksaan (Pasal 1065
KUH Perdata).

B.KASUS

BAGAIMANA MENOLAK WARISAN ? APAKAH MENOLAK WARISAN


BOLEH ? ATAU TIDAK BOLEH ?
PENOLAKAN WARISAN :
Ahli waris yang menolak harta warisan dianggap tidak pernah menjadi ahli
waris. Jika dia lebih dahulu meninggal dari pewaris ia tidak dapat digantikan
kedudukannya oleh anak-anaknya yang masih hidup. Menolak harta warisan harus
dilakukan dengan surat pernyataan kepada Panitera Pengadilan Negeri Wilayah
hukum tempat Harta Warisan itu terbuka. Penolakan harta warisan dihitung dan
berlaku surut yaitu sejak saat meninggalnya pewaris. Lain lagi halnya seseorang
ahli waris yang menyatakan menerima dengan mengadakan inventarisasi harta
peninggalan, mempunyai beberapa kewajiban sebagai berikut :
(1)Wajib melakukan pencatat atas jumlah harta peninggalan dalam waktu 4
(empat) bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada Panitera Pengadilan
Negeri.
(2)Wajib mengurus harta peninggalan dengan sebaik-baiknya.
(3)Wajib membereskan urusan harta warisan dengan segera.
(4)Wajib memberikan jaminan kepada kreditor pewaris, maupun kepada orang
yang menerima pemberian secara legaat.
(5)Wajib memanggil para kreditor pewaris yang tidak dikenal melalui surat kabar
resmi.
Dalam hal seseorang menolak warisan yang jatuh kepadanya, orang
tersebut harus menolaknya secara tegas, dengan suatu pernyataan yang dibuat di
kepaniteraan Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya warisan itu
terbuka (Pasal 1057 KUHPer).
Menurut undang-undang, pada dasarnya setiap orang adalah cakap untuk mewaris
baik karena undang-undang maupun atas kekuatan sebuah surat wasiat. Hal ini
berarti tidak ada seorangpun yang sama sekali tidak dapat mewaris. Kesempatan
mewaris ini pada umumnya diterima oleh para ahli warisnya baik dengan tegas
maupun diam-diam tanpa terlintas di benaknya pikiran-pikiran yang menuju ke
arah negatif mengenai harta pewarisan. Namun di dalam kenyataannya sebagian
ahli waris yang seharusnya mempunyai dan mendapatkan hak mewaris, tapi tidak
mau menerima hak warisnya dapat disebut dengan menolak warisan, karena suatu
hal tertentu yang menyebabkan mereka harus berfikir dan menganggap perlu
meneliti keadaan harta peninggalan sebelum mengambil keputusan untuk
menerimanya. Masalah penolakan ini telah diatur dalam undang-undang, yang
menjelaskan mengenai penolakan warisan, semua itu perlu dikaji untuk
memahami lebih dalam hukum waris perdata. Penulis akan membahas tentang
penolakan warisan dengan fokus tentang pembagian warisan apabila terjadi
penolakan warisan.

Pengertian Penolakan Menolak adalah salah satu sikap ahli waris terhadap
harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris).penolakan
dalam hal waris ialah seorang ahli waris yang menolak harta peninggalan dari ahli
waris yang seharusnya menjadi haknya, hal tersebut disebabkan beberapa hal atau
masalah yang berkenaan dengan ahli waris dan si pewaris. Seorang ahli waris
dapat menolak warisan yang terbuka baginya. Apabila terjadi penolakan, maka
saat itu mulai berlakunya penolakan dianggap terjadi sejak hari meninggalnya si
pewaris jadi berlaku surut (Pasal 1047). Ahli waris yang menolak warisan berarti
melepaskan pertanggungjawabannya sebagai ahli waris dan menyatakan tidak
menerima pembagian harta peninggalan.

Di dalam Pasal 1057 menyatakan sebagai berikut : menolak suatu warisan harus
terjadi dengan tegas, dan harus dilakukan dengan suatu penyataan yang dibuat di
kepaniteraan Pengadilan Negeri, yang dalam daerah hukumnya telah terbuka
warisan itu. Makna pasal di atas adalah ketika seorang ahli waris menolak untuk
menerima suatu warisan, maka si pewaris yang menolak tersebut harus
memberikan suatu pernyataan dengan tegas, bahwa warisan itu ditolaknya dan itu
harus dilakukan di pengadilan negeri. Namun apabila si penolak warisan tidak
dapat datang sendiri, maka dapat dikuasakan kepada orang lain. Akan tetapi surat
kuasa tersebut haruslah notariil. Hak untuk menolak baru timbul setelah warisan
terbuka dan tidak dapat gugur karena daluwarsa (pasal 1062).

Pasal 1063 Menyatakan sebagai berikut: Sekalipun dalam suatu


perjanjiann kawin, tak dapatlah seseorang melepaskan haknya atas warisan
seseorang yang masih hidup, begitupun tak dapatlah ia menjual hak-hak yang di
kemudian hari akan diperolehnya atas warisan yang seperti itu. Jika terdapat
beberapa ahli waris, maka yang satu boleh menolak sedangkan yang lain
menerima warisan (Pasal 1050). Bentuk penolakan sebagaimana halnya dengan
berfikir dan menerima secara benefisier, menolakpun harus dilakukan secara
tegas. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan surat keterangan di kepaniteraan
pengadilan negeri. Surat tidak diperlukan, pegawai di kepaniteraan, di hadapan
siapa keterangan itu diberikan, akan membuat suatu akta. Dalam pasal 1070 dan
1075 diatur tentang pembukuan akta ini dalam suatu register yang disediakan
untuk itu syarat ini di sini ditiadakan.

Penolakan warisan ini tidak ada daluarsanya (Pasal 1062 KUHPer). Akan
tetapi, dengan adanya daluarsa menerima warisan yang lewat dengan lampaunya
30 (tiga puluh) tahun, maka secara otomatis, setelah 30 (tiga puluh) tahun berlalu,
orang tersebut sama kedudukannya dengan orang yang menolak warisan. Dengan
kata lain, setelah 30 (tiga puluh) tahun, orang tidak perlu lagi melakukan
penolakan warisan apabila tidak mau menjadi ahi waris.

Penolakan warisan tidak dapat dilakukan hanya untuk sebagian harta


warisan, ini karena penolakan warisan tersebut mengakibatkan orang tersebut
dianggap tidak pernah menjadi ahli waris (Pasal 1058 KUHPer). Dengan
dianggap tidak pernah menjadi ahli waris, maka orang tersebut tidak berhak atas
harta warisan.

MENERIMA HARTA WARISAN SECARA PENUH :


Ahli waris yang menerima harta warisan secara penuh, baik secara diam-
diam maupun secara tegas bertanggungjawab sepenuhnya atas segala kewajiban
yang melekat pada harta warisan. Artinya ahli waris harta warisan harus
menanggung segala macam utang-utang pewaris. Penerimaan harta warisan secara
penuh yang dilakukan dengan tegas yaitu melalui akad autentik atau akta dibawah
tangan sedangkan penerimaan secara penuh dilakukan dengan diam-diam,
biasanya dengan cara melakukan tindakan tertentu yang menggambarkan adanya
penerimaan secara penuh.

MENERIMA WARISAN BERSYARAT :


Menerima warisan bersyarat adalah menerima harta warisan dengan
ketentuan bahwa dia tidak akan diwajibkan membayar utang-utang pewaris yang
melebihi bagiannya dalam warisan itu atau disebut dengan istilah menerima
warisan secara beneficiair. Akibat menerima warisan secara beneficiair adalah
sebagai berikut : seluruh harta warisan terpisah dari harta kekayaan pribadi ahli
waris. Ahli waris tidak perlu menanggung pembayaran utang-utang pewaris hanya
dilakukan menurut kekuatan harta warisan yang ada. Tidak terjadi pencampuran
harta kekayaan antara harta kekayaan ahli waris dengan harta warisan yang
diterimanya. Apabila utang-utang pewaris telah dilunasi semuanya dan masih ada
sisa harta peninggalannya maka sisa itulah yang merupakan bagian ahli waris.

PEMULIHAN PENOLAKAN WARISAN :


Pada prinsipnya seorang ahli waris yang telah menolak harta warisan
secara sah dianggap tidak pernah berkedudukan sebagai ahli waris dan tidak dapat
dipulihkan kembali kedudukannya sebagai ahli waris, kecuali penolakan itu
dilakukan karena ditipu atau dipaksa pihak lain. Seperti yang tertulis pada pasal
1065 KUHPdt yaitu : “Tiada seorang pun dapat seluruhnya dipulihkan kembali
dari penolakan suatu warisan, kecuali bila penolakan itu terjadi karena penipuan
atau paksaan”.

Namun dalam KUH Perdata ada kemungkinan yuridis kepada ahli waris
yang telah menolak secara resmi untuk memulihkan kembali kedudukannya
sebagai ahli waris. Hal ini tertulis dalam pasal 1056 KUHPdt yaitu : “Para ahli
waris yang telah menolak warisan itu, masih dapat menyatakan bersedia
menerima, selama warisan itu belum diterima oleh orang yang mendapat hak
untuk itu dari undang-undang atau dari surat wasiat, tanpa mengurangi hak-hak
pihak ketiga, seperti yang ditentukan pasal yang lalu”.

Pemulihan penolakan warisan yang dimaksud dalam pasal 1056 tersebut


hanya sah apabila penolakan itu memang dilakukan atas kesadaran dan kemauan
yang ikhlas dari ahli waris dan jika berkeinginan untuk membatalkan surat
penetapan penolakan harus didasarkan pada ketulusan hati atau keikhlasan dari
ahli waris yang telah menolak itu.Sedangkn Menurut pasal 1065, penolakan yang
dilakukan oleh ahli waris karena ditipu atau dipaksa yang dapat dipulihkan,
sedangkan penolakan secara sukarela tidak bisa dipulihkan.Karena pasal 1056
terletak sebelum pasal 1065, maka besar kemungkinan maksud yang terkandung
dalam pasal 1065 adalah: pertama, pemulihan penolakan tidak berguna lagi
apabila diajukan setelah harta warisan dibagi kepada ahli waris yang berhak.
Kedua, meskipun harta warisan telah dibagi seluruhnya kepada ahli waris lain,
namun pernyataan pemulihan penolakan itu terjadi karena ada unsur penipuan dan
paksaan.

AKIBAT PENOLAKAN WARISAN :


a. Kedudukan sebagai ahli waris dianggap tidak pernah ada, sesuai dengan pasal
1058 KUH Perdata : “Ahli waris yang menolak warisan dianggap tidak pernah
menjadi ahli waris”.
b. Keturunan dari ahli waris yang menolak tidak bisa mewaris Karena pergantian
tempat sesuai dengan pasal 1060 KUH Perdata : “Orang yang telah menolak
warisan sekali-kali tidak dapat diwakili dengan penggantian ahli waris bila ia
itu satu-satunya ahli waris dalam derajatnya, atau bila semua ahli waris
menolak warisannya, maka anak-anak mereka menjadi ahli waris karena diri
mereka sendiri dan mewarisi bagian yang sama”.
c. Jika ada testamen dari pewaris yang ditujukan untuk orang yang menolak
warisan, maka testamen tersebut tidak bisa dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan
pasal 1001 KUH Perdata : “Suatu penetapan yang dibuat dengan wasiat, gugur
bila ahli waris atau penerima hibah yang ditetapkan itu menolak warisan atau
hibah wasiat itu, atau ternyata tidak cakap untuk memanfaatkan hal itu”.
d. Jika orang yang menolak pernah menerima hibah dari pewaris, maka hibah
tersebut tidak wajib dimasukkan kembali (inbreng) ke dalam harta warisan
pewaris (pemberi hibah), kecuali hibah tersebut menyinggung atau melanggar
hak mutlak ahli waris yang mempunyai hak itu.
e. Yang ditolak hanya menyangkut harta warisan atau harta peninggalan pewaris
saja dan penolakan itu harus ikhlas serta tidak disertai dengan syarat-syarat
lain.

DALAM HAL AHLI WARIS DILARANG MENERIMA HARTA


WARISAN :
Kategori seseorang sebagai ahli waris dilarang mewaris karena kematian adalah
sebagai berikut :
1. Seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena
dipersalahkan membunuh atau setidak-tidaknya mencoba membunuh pewaris.
2. Seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena
dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewaris bahwa pewaris difitnah
melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara empat tahun atau lebih.
3. Ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata menghalangi atau
mencegah pewaris untuk membuat atau menarik kembali surat wasiat.
4. Seorang ahli waris yang telah menggelapkan, memusnahkan dan memalsukan
surat wasiat.

Manakala ahli waris yang tidak patut itu terbukti menguasai sebagian atau
seluruh harta peninggalan dan ia berpura-pura sebagai ahli waris, ia wajib
mengembalikan semua yang dikuasainya termasuk hasil-hasil yang telah
dinikmatinya.

Tidak berhak mewaris terdapat juga pada ahli waris yang menolak warisan
dalam Pasal 1058 KUHPdt ditentukan bahwa seorang ahli waris yang menolak
warisan dianggap tidak pernah menjadi Ahli Waris. Penolakan itu berlaku surut
sampai waktu meninggalnya pewaris. Menurut Pasal 1059 KUHPdt bagian dari
Ahli Waris yang menolak itu jatuh pada ahli waris lainnya, seolah-olah ahli waris
yang menolak itu tidak pernah ada. Menurut Pasal 1057 KUHPdt penolakan
warisan harus dinyatakan dengan tegas dikepaniteraan Pengadilan Negeri.
Menurut Pasal 1062 KUHPdt dinyatakan pula bahwa hak untuk menolak warisan
tidak dapat gugur karena Daluarsa. Penolakan warisan itu harus dengan suka rela
atas kemauan sendiri, apabila penolakan itu terjadi karena paksaan atau penipuan,
maka menurut Pasal 1065 KUHPdt penolakan itu dapat dibatalkan (ditiadakan).
Tetapi kesukarelaan penolakan itu tidak boleh dilakukan dengan alasan tidak mau
membayar hutang.

KUHPdt membedakan antara ahli waris “uit eigen hoofed” dan ahli waris “bij
plaasvervulling”. Ahli Waris “uit eigen hoofed” adalah ahli waris yang
memperoleh warisan berdasarkan kedudukannya sendiri terhadap pewaris,
misalnya anak pewaris, istri/ suami pewaris. Ahli waris “bij plaasvervulling”
adalah ahli waris pengganti berhubung orang yang berhak mewaris telah
meninggal dunia lebih dahulu daripada pewaris. Misalnya seorang ayah meniggal
lebih dahulu daripada kakek, maka anak-anak ayah yang meninggal itu
menggantikan kedudukan ayahnya sebagai ahli waris dari kakek.
Penggantian ini terjadi dalam garis kebawah dan terjadi tanpa batas. Tiap ahli
waris yang meninggal lebih dahulu digantikan oleh anak-anaknya. Jika lebih dari
satu anak sebagai penggantinya, maka penggantian itu dihitung sebagai satu
cabang, artinya semua anak yang menggantikan itu mendapatkan bagian yang
sama. Penggantian dapat juga terjadi pada keluarga dalam garis samping. Tiap
saudara pewaris baik saudara kandung maupun saudara tiri, jika meninggal lebih
dahulu, digantikan oleh anaknya. Penggantian ini juga dapat tanpa batas. Tiap
penggantian dihitung sebagai satu cabang (bij staken).
Menurut ketentuan pasal 841 KUHPdt penggantian adalah hak yang
memberikan kepada seseorang untuk menggantikan seorang Ahli Waris yang
telah meninggal labih dahulu dari pada pewarisnya untuk bertindak sebagai
pengganti dalam derajat dan dalam hak orang yang digantikannya. Penggantian
ini menurut pasal 842 KUHPdt hanya terjadi dalam garis lurus ke bawah tanpa
batas, sedangkan pasal 843 KUHPdt manyatakan dalam garis lurus ke atas tidak
terdapat penggatian. Dalam hal ada penggantian, maka menurut pasal 846
KUHPdt pembagian dilakukan pancang demi pancang .

Penerimaan warisan diperoleh berdasarkan :


1. Melalui Testamen atau Surat Wasiat, testamen ini merupakan yang paling
utama atau yang harus didahulukan terlebih dahulu. Artinya jika ada seseorang
yang meninggal (Pewaris), harus dilihat telebih dahulu apakah Pewaris tersebut
meninggalkan Testamen/ Surat Wasiat. Jika meninggalkan Testamen, maka
harus dijalankan terlebih dahulu Isi Testamen tersebut, selama isi Testamen
tersebut tidak menyalahi aturan-aturan dalam KUHPdt.
Pada KUHPdt, terdapat bagian-bagian Ahli Waris tertentu yang dilindungi
bagiannya atau yang disebut dengan Legitime Portie (Bagian Mutlak), yaitu
bagian-bagian yang dimiliki oleh garis lurus keatas, yaitu orangtua dan garis
lurus kebawah, yaitu anak beserta keturunannya, dimana semuanya itu disebut
dengan Legitimaris.
2. Penerima Waris Menuurut Undang-Undang, jika pewaris tidak meninggalkan
testamen, maka dengan sendirinya Sistem Kewarisan menurut KUHPdt akan
berlaku.

BOEDEL SCEDING TERBUKA :


Apabila bodelsceding sudah terbuka, maka warisan ahli waris mempunyai hak
atau diberi hak untuk menentukan sikapnya antara lain, menerima warisan secara
penuh, menerima dengan hak untuk mengadakan pendaftaran harta peninggalan
atau menerima dengan bersyarat dan hak untuk menolak warisan. Lahirnya
kewajiban dari seorang ahli waris antara lain, memelihara keutuhan harta
peninggalan sebelum harta peninggalan itu dibagi, mencari cara pembagian sesuai
ketentuan, melunasi hutang-hutang pewaris jika pewaris meninggalkan hutang
dan melaksanakan wasiat jika pewaris meninggalkan wasiat.

NORMA LEGITIME PORTIE :


Norma Legitime Portie dapat dketemukan dalam pasal 913 KUHPdt. Legitime
Portie adalah bagian mutlak yang harus diterima oleh Ahli Waris tertentu, yaitu
garis lurus kebawah (anak-anak dan keturunannya) dan keatas (otangtua).
Legitimaris merupakan bentuk perlindungan terhadap para legitimaris jika
ternyata pewaris memberikan wasiat kepada seorang dengan meniadakan bagian
para legitimaris atau menyisakan bagian yang kurang atau tidak sesuai dengan
porsi yang harus diterima oleh legitimaris.