Anda di halaman 1dari 10

Dari segi geografis dan Sosial Budaya, Indonesia merupakan negara bangsa dengan wilayah dan

posisi yang unik. Negara indonesia terletak pada posisi silang, yaitu kewilayahan dan sosial.
Berikut ini adalah penjelasan posisi silang negara indonesia baik dari aspek kewilayahan maupun
aspek kehidupan sosial:

Posisi Silang Negara Indonesia Dari Aspek Kewilayahan


Posisi indonesia dari aspek kewilayahan yaitu Negara Indonesia yang berada di tengah-tengah
dunia dilewati garis khatulistiwa, diapit oleh dua benua yaitu Asia dan Australia, serta berada
diantara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
wilayah Indonesia berada pada posisi silang sangat sangat strategis.

Posisi Silang Negara Indonesia Dari Aspek Sosial


Bahwa posisi silang negara Indonesia tidak hanya meliputi aspek kewilayahan saja, melainkan
meliputi pula aspek-apek kehidupan sosial, antara lain:

1. Penduduk Indonesia berada diantara daerah berpenduduk padat di utara dan daerah
berpenduduk jarang di selatan.
2. Ideologi Indonesia terletak antara komunisme di utara dan liberalisme di selatan.
3. Demokrasi Pancasila berada diantara demokrasi rakyat di utara (Asia daratan bagian
utara) dan demokrasi liberal di selatan.
4. Ekonomi Indonesia berada diantara sistem ekonomi sosialis di utara dan sistem ekonomi
kapitalis di selatan.
5. Masyarakat Indonesia berada diantara masyarakat sosialis di utara dan masyarakat
individualis di selatan.
6. Kebudayaan Indonesia diantara kebuadayaan timur di utara dan kebudayaan barat di
selatan.
7. Sistem pertahanan dan keamanan Indonesia berada diantara sistem pertahanan
continental di utara dan sistem pertahanan maritim di barat, selatan dan timur.

1
1. Jalur Sutra

2. Jalur Nusantara

a. Jalur Perdagangan di Sulawesi Tenggara

2
b. Jalur Perdagangan Sebelum Jatuhnya Malaka

c. Jalur Perdagangan Setelah Jatuhnya Malaka

3
Peta Kuno Sunda sebagai Jakarta di Zaman dulu | Sesaat
Setelah Pajajaran Runtuh

4
Peta Indiae Orientalis, karya: Abraham Ortelius tahun 1584
Peta di atas adalah Atlas Ortelius. Pengaruh peta Ortelius ini dan lainnya berasal dari popularitas
dan dominasi atlasnya di pasar Eropa. Pada 1570, Ortelius menerbitkan atlas modern pertama;
yaitu, satu set peta seragam dengan teks pendukung yang dikumpulkan dalam bentuk buku.
Sebelumnya, ada koleksi peta terikat lainnya, khususnya Lafreri di Italia, tetapi ini adalah set
petayang dipilih dan terikat bersamaan pada permintaan.

Jakarta masih ditulis "Sunda" pada peta tahun 1584


Karya Abraham Ortelius

Theatrum Orbis Terrarum, atlas Ortelius, mengalahkan atlas yang bersaing dari tokoh-tokoh
kartografi lainnya seperti keluarga Mercator. Antara 1570 dan 1612, 31 edisi atlas diterbitkan
dalam tujuh bahasa.
Terlihat posisi Jakarta pada tahun 1584 bernama "Sunda". Artinya hanya berselang 5 tahun
setelah runtuhnya Pajajaran pada tahun 1579 Masehi. Dalam sejarah, Sunda Kelapa adalah cikal-
bakal kota Jakarta yang ditaklukan pasukan Gabungan Cirebon-Demak yang kini ditetapkan
sebagai hari jadi kota Jakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Artinya peta dibuat setelah Sunda
Kalapa dinyatakan berubah nama menjadi :"Jayakarta", tetapi peta tahun 1584 (terpaut waktu 57
tahun) masih dituliskan sebagai "Sunda". Bahkan pada peta yang diterbitkan tahun 1570 pun
masih menggunakan Nama Sunda.

5
Peta Hondius Atlas karya Jodocus Hondius tahun 1610
Terbit di Amsterdam, Belanda
Peta yang dinamai "The Mercator-Hondius Atlas" karya Jodocus Hondius tebit pada tahun 1610.
Dan sekali lagi, dalam peta masih dituliskan "Cumda Calapa" untuk Jakarta/Jayakarta.

Cumda Calapa (Sunda Kalapa) dalam peta Hondius, 1610

Jodocus Hondius the Elder (1563-1612), atau Joost de Hondt, adalah salah seorang ahli geografi
dan pengukir terkemuka pada masanya. Karyanya melakukan banyak untuk mendirikan
Amsterdam sebagai pusat penerbitan kartografi pada abad ketujuh belas. Lahir di Wakken tetapi
dibesarkan di Ghent, Jodocus muda bekerja sebagai pengukir, pembuat instrumen, dan pembuat
bola dunia.

Pada 1593 Hondius kembali ke Amsterdam, di mana dia tinggal selama sisa hidupnya. Hondius
6
bekerja dalam kemitraan dengan Cornelis Claesz, seorang penerbit, dan mempertahankan
hubungannya dengan kontak di Eropa dan Inggris. Misalnya, dari 1605 hingga 1610, Hondius
mengukir lempengan-lempengan untuk Teater John Speed di Kekaisaran Inggris-Raya.

Demikian pula pada peta "IAVA MAJOR" karya Barent Langenes tahun 1612 yang masih
menamainya "Cunda Calapa"

Peta karya Barent Langenes tahun 1612

Indiae Orientalis Nova

Pada tahun 1630 muncul nama "Batavia dalam peta berjudul Indiae Orientalis Nova karya Jan
Jansson.

Sunda calapa menjadi Batavia. Peta karya Jan Janson tahun 1630.
Nama "Sunda Kelapa" telah lama disandang kota ini (397–1527). Kemudian Jayakarta (1527–
1619) dan Batavia (1619–1942). Bentuk lain ejaan nama kota ini telah sejak lama digunakan.
Sejarawan Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) menyebutkan keberadaan

7
"Xacatara dengan nama lain Caravam (Karawang)". Sebuah dokumen (piagam) dari Banten (k.
1600) yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah wong Jaketra,[13]
demikian pula nama Jaketra juga disebutkan dalam surat-surat Sultan Banten[14] dan Sajarah
Banten (pupuh 45 dan 47)[15] sebagaimana diteliti Hoessein Djajadiningrat. Laporan Cornelis de
Houtman tahun 1596 menyebut Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta).

Peta jaringan masa sriwijaya

8
Peta saringan masa majapahit

Peta penggembangan tol laut diindonesia

9
10