Anda di halaman 1dari 37

DATA TEKNIS B.

2
DATA TEKNIS URAIAN PENDEKATAN,
METODOLOGI, DAN PROGRAM KERJA

2.1. URAIAN PENDEKATAN


2.1.1. Pendekatan Pekerjaan
A. Pendekatan Perundangan
Dasar Hukum pelaksanaan kegiatan ini adalah :
a. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan
Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah daerah-daerah tingkat I
Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembar
Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
b. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tetang penataan ruang
(Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2007 nomor 68,
Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
c. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5679);
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran
air.

USULAN TEKNIS
e. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5103);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5248);
g. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun
2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
Wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;
h. Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 23 Tahun 2013
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
i. Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Badung Tahun 2013-2033;
j. Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 20 Tahun 2016
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
( Lembaran Daerah Kabupeten Badung Tahun 2016 Nomor 20,
tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Badung Lembar 20)
k. Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 22 Tahun 2016
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun
Anggaran 2017;
l. Peraturan Bupati Badung Nomor 31 Tahun 2011 tentang Izin
Pembuangan Air Limbah ke Sumber Air dan/atau Izin
Pemanfaatan Air Limbah ke Tanah;
m. Peraturan Bupati Badung Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Standar Pengelolaan Limbah Cair Usaha dan/atau Kegiatan di
Kabupaten Badung;
B. Pendekatan Operasional

USULAN TEKNIS
Konsultan akan memberikan jasa-jasa teknis secara efesien dan
efektif dalam pelaksanaan pekerjaan ini, dan beberapa langkah yang
dilakukan meliputi :
 Organisasi dan Staffing yaitu konsultan wajib mengajukan tim yang
merupakan tenaga ahli yang berkualitas sesuai spesialisasi yang
diperlukan.
 Modulus Kerja yaitu semua pekerjaan akan ditangani oleh
konsultan dan secara proaktif melakukan konsultasi dan
koordinasi dengan direksi pekerjaan dan instansi terkait untuk
memberikan hasil yang maksimal.
 Sistem Komunikasi yaitu Team Leader bertanggung jawab
terhadap aktivitas dan hasil pekerjaan secara keseluruhan
serta dalam melaksanakan tugas tetap mengacu pada standar
kerja jasa konsultasi.

2.2. METODOLOGI
2.2.2. Tahapan Penyelenggaraan KLHS
A. Penapisan
Tahapan penyelenggaraan KLHS diawali dengan mengidentifikasi
terlebih dahulu apakah perlu diselenggarakan KLHS terhadap suatu
kebijakan, rencana dan/atau program. Kebijakan, rencana dan/atau
program yang wajib KLHS tanpa proses penapisan, yaitu RTRW dan
rencana rincinya, serta RPJP dan RPJM nasional, provinsi dan
kabupaten/kota.
Untuk menentukan kebijakan, rencana dan/atau program lain yang
berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup
dilakukan melalui proses penapisan. Proses penapisan ini dilakukan
oleh pembuat kebijakan, rencana dan/atau program dengan didukung
pendapat ahli (professional judgement), berdasarkan hasil telaahan
sesuai dengan latar belakang keilmuan serta dapat melakukan

USULAN TEKNIS
konsultasi dengan instansi lingkungan hidup dan/atau instansi terkait
lainnya.
Apabila proses penapisan ini menyimpulkan bahwa tidak ada potensi
dampak dan/atau risiko lingkungan hidup, maka pembuat kebijakan,
rencana dan/atau program tidak perlu menyelenggarakan KLHS.
Secara teknis, proses penapisan untuk kebijakan, rencana dan/atau
program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko
lingkungan hidup sebagai bagian integral dari risiko pembangunan
berkelanjutan, dapat dilakukan dengan mempertimbangkan isu-isu
pokok yang ditetapkan dalam UU PPLH (Penjelasan Pasal 15 ayat 2),
sebagai berikut:
1. Perubahan iklim.
2. Kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman
hayati.
3. Peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir,
longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan.
4. Penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam.
5. Peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan.
6. Peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya
keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat.
7. Peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.
Apabila hasil penapisan menyatakan bahwa KLHS tidak perlu
diselenggarakan dalam suatu kebijakan, rencana dan/ atau program,
maka hal tersebut harus dituangkan dalam berita acara yang
ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Berita acara ini
menjadi dokumen yang dapat diakses oleh publik. Sedangkan apabila
hasil penapisan menyatakan bahwa KLHS perlu diselenggarakan dalam
suatu kebijakan, rencana dan/atau program, maka hal ini menjadi
bagian yang terintegrasi dalam dokumen hasil pelaksanaan KLHS.
Penapisan dapat dilakukan dengan menggunakan metodologi yang

USULAN TEKNIS
sahih seperti metode daftar uji {checklist), penilaian pakar
{professional judgement) atau kajian ilmiah.

B. Pelaksanaan KLHS
Sebagaimana ditetapkan dalam UU PPLH Pasal 15 Ayat 3, KLHS
dilaksanakan dengan mekanisme seperti tertuang pada Gambar 2.1.

Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program terhadap kondisi


lingkungan hidup di suatu wilayah

Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program

Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana


dan/atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan

Gambar 2.1 Mekanisme Pelaksanaan KLHS

Dalam prakteknya, karena penyelenggaraan dan fokus KLHS akan


berbeda untuk setiap jenis kebijakan, rencana dan/atau program,
perlu dilakukan telaah konteks, posisi dan lingkup KLHS. Sesuai
dengan tujuan KLHS untuk memastikan dipertimbangkannya prinsip-
prinsip pembangunan berkelanjutan dalam penyusunan dan evaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program, maka penyelenggaraannya
membutuhkan proses identifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan
termasuk lingkungan hidup di wilayah perencanaan secara
kontekstual. Selain itu dalam penyelenggaraan KLHS dituntut
partisipatif, maka proses KLHS harus melibatkan masyarakat dan
pemangku kepentingan lainnya, sesuai dengan dinamika proses
penyusunan dan evaluasi tiap-tiap kebijakan, rencana dan/atau
program.

USULAN TEKNIS
C. Pengkajian Pengaruh Kebijakan, Rencana dan/atau Program
terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Wilayah
Perencanaan
Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program terhadap
kondisi lingkungan hidup di wilayah perencanaan, dilaksanakan melalui
tahapan sebagaimana tertuang pada Gambar 2.2.

Indentifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya

Identifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan yang relevan dan signifikan di


wilayah perencanaan

Identifikasi muatan kebijakan, rencana dan/atau program yang berpotensi


menimbulkan pengaruh terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan di wilayah
perencanaan

Telaah pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan


hidup di suatu wilayah

Gambar 2.2. Pengkajian Pengaruh Kebijakan, Rencana dan/atau


Program

2.2.3. Identifikasi Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya


Tujuan identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya
adalah:
1. Untuk menjamin diterapkannya azas partisipasi yang diamanatkan
UU PPLH.
2. Untuk menjamin bahwa hasil perencanaan dan evaluasi kebijakan,
rencana dan/atau program memperoleh legitimasi atau

USULAN TEKNIS
penerimaan-oleh publik.
3. Agar masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya
mendapatkan akses untuk menyampaikan informasi, saran,
pendapat dan pertimbangan tentang pembangunan berkelanjutan
melalui proses penyelenggaraan KLHS.
Identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dapat
dilakukan sesuai proses dan prosedur penyusunan dan evaluasi
masing-masing kebijakan, rencana dan/atau program. Misalnya, untuk
penyusunan rencana tata ruang, dapat mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat dalam Penataan Ruang

2.2.4. Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan


Tujuan identifikasi isu pembangunan berkelanjutan adalah:
1. Menetapkan isu-isu pembangunan berkelanjutan yang meliputi
aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek lingkungan hidup atau
keterkaitan antar ketiga aspek tersebut, berdasarkan potensi
dampak dan/atau risiko lingkungan hidup dan yang menjadi
perhatian di wilayah tersebut, untuk menjadi bahan kajian
pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program.
2. Membahas isu secara terfokus dan signifikan.
3. Membantu menentukan capaian tujuan pembangunan
berkelanjutan sebagai acuan bagi penentuan dan/atau penilaian
substansi kebijakan, rencana dan/atau program.
Formulasi atau perumusan isu-isu pembangunan berkelanjutan dapat
dilakukan melalui 5 (lima) tahap sebagai berikut:
1. Identifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan berdasarkan
masukan dan kesepakatan pemangku kepentingan.
2. Pengelompokan isu-isu pembangunan berkelanjutan dalam kluster-
kluster isu.
3. Konfirmasi isu-isu pembangunan berkelanjutan dengan

USULAN TEKNIS
memanfaatkan data dan informasi yang dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah yang tersedia.
4. Jika diperlukan dan disepakati, dilakukan kajian khusus untuk isu-
isu tertentu yang dianggap penting atau masih diperdebatkan.
5. Penetapan isu-isu pembangunan berkelanjutan yang akan dijadikan
dasar bagi kajian pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program.
Isu-isu pembangunan berkelanjutan yang diidentifikasi difokuskan
pada isu-isu yang relevan dan signifikan sehingga kajian pengaruh
kebijakan, rencana dan/atau program dapat dilakukan lebih tajam.
Identifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan dilakukan berdasarkan
masukan pakar atau data dan informasi yang tersedia, termasuk yang
dihimpun bagi keperluan penyusunan dan/atau evaluasi kebijakan,
rencana, dan/atau program.
Pemangku kepentingan yang dilibatkan memberikan informasi dan
konfirmasi atas isu-isu pembangunan berkelanjutan yang menjadi
perhatian utama. Identifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan ini
merupakan proses awal pelingkupan dan menjadi dasar pelaksanaan
KLHS selanjutnya

2.2.5. Identifikasi Kebijakan, Rencana dan/atau Program


Identifikasi kebijakan, rencana, dan/atau program dilakukan baik
untuk kebijakan, rencana, dan/atau program yang akan disusun
maupun kebijakan, rencana, dan/atau program yang telah disusun
dan akan dievaluasi. Tujuan identifikasi kebijakan, rencana, dan/atau
program pada saat kebijakan, rencana, dan/atau program tersebut
baru akan disusun adalah mengetahui dan menentukan muatan dan
substansi rancangan kebijakan, rencana, dan/atau program yang
perlu ditelaah pengaruhnya terhadap lingkungan hidup dan diberi
muatan pertimbangan aspek pembangunan berkelanjutan. Sedangkan
tujuan identifikasi kebijakan, rencana, dan/atau program pada saat
evaluasi adalah mengevaluasi muatan dan substansi kebijakan,

USULAN TEKNIS
rencana, dan/atau program yang telah diimplementasikan yang
memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup.
Suatu kebijakan, rencana dan/atau program yang akan dilakukan
KLHS terhadapnya memiliki unsur korelasi antara kebijakan, rencana
dan/atau program. Untuk itu perlu dikenali pada tingkatan apa suatu
kebijakan, rencana dan/atau program dapat berpengaruh dari
masukan isu pembangunan berkelanjutan. Misalnya dalam materi
substantif RTRW, terdapat unsur kebijakan, rencana (pola, struktur
dan kawasan strategis) serta program. Untuk itu penting pula bagi
pemangku kepentingan mengenali karakteristik kebijakan, rencana
dan/atau program dalam suatu dokumen perencanaan pembangunan.

2.2.5.1. Telaahan Pengaruh Kebijakan, Rencana dan/atau Program


terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Suatu Wilayah
Tujuan telaahan pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program
terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah adalah
mengetahui kemungkinan dampak kebijakan, rencana dan/atau
program terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan di satu
wilayah. Pada tahap ini, dilakukan telaahan pengaruh kebijakan,
rencana dan/atau program terhadap isu pembangunan berkelanjutan
dan atau kondisi lingkungan di suatu wilayah yang sudah
diidentifikasikan pada tahap sebelumnya. Telaahan pengaruh ini
diawali dengan mengidentifikasikan dan memahami apa saja
komponen dalam kebijakan, rencana dan/atau program yang
potensial berpengaruh terhadap isu pembangunan berkelanjutan.

2.2.6. Perumusan Alternatif Penyempurnaa Kebijakan, Rencana


dan/atau Program
Tujuan perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana
dan/atau program adalah untuk mengembangkan berbagai alternatif
perbaikan muatan kebijakan, rencana dan/atau program dan

USULAN TEKNIS
menjamin pembangunan berkelanjutan. Setelah dilakukan kajian
pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program terhadap isu-isu
pembangunan berkelanjutan di suatu wilayah, dan disepakati bahwa
kebijakan, rencana dan/atau program yang dikaji potensial
memberikan dampak negatif pada pembangunan berkelanjutan, maka
dilakukan pengembangan beberapa alternatif untuk menyempurnakan
rancangan atau merubah kebijakan, rencana dan/atau program yang
ada.
Beberapa altematif untuk menyempumakan dan atau mengubah
rancangan kebijakan, rencana dan/atau program ini dikembangkan
dengan mempertimbangkan antara lain:
1. Memberikan arahan atau rambu-rambu mitigasi terkait dengan
kebijakan, rencana dan/atau program yang diprakirakan akan
menimbulkan dampak lingkungan hidup atau bertentangan dengan
kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan.
2. Menyesuaikan ukuran, skala dan lokasi usulan kebijakan, rencana,
dan/atau program.
3. Menunda, memperbaiki urutan atau waktu, atau mengubah
prioritas pelaksanaan kebijakan, rencana, dan/atau program.
4. Mengubah kebijakan, rencana, dan/atau program.
Bentuk altematif penyempurnaan tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Kebutuhan pembangunan: mengecek kembali atau membuat skenario
kebutuhan pembangunan yang baru (misalnya target-target dalam
pengentasan kemiskinan atau peningkatan pendapatan penduduk.
2. Lokasi: mengusulkan lokasi baru yang dianggap lebih aman, atau
mengusulkan pengurangan luas wilayah kebijakan, rencana dan/atau
program.
3. Proses, metode dan teknologi: mengusulkan altematif proses dan/atau
metode dan/atau teknologi pembangunan yang lebih baik, seperti
misalnya peningkatan pendapatan rakyat melalui pengembangan
ekonomi kreatif, bukan pembangunan ekonomi konvensional yang

USULAN TEKNIS
menguras sumber daya alam, seperti misalnya pembuatan jembatan
untuk melintasi kawasan lindung.
4. Jangka waktu dan tahapan pembangunan: mengusulkan perubahan
jangka waktu pembangunan, baik awal kegiatan pembangunan, urutan,
maupun kemungkinan penundaan satu program pembangunan.
Berbagai kemungkinan pengembangan altematif sebagaimana
disebutkan di atas, secara cepat dan sederhana dapat dilakukan
melalui metode diskusi kelompok dan atau memanfaatkan pandangan
para ahli.
Kiat-kiat perumusan altematif penyempumaan kebijakan, rencana
dan/atau program adalah:
1. Memahami alasan dan konteks kebijakan, rencana dan/atau
program yang menjadi kajian.
2. Berfikir kritis, tapi positif dan tidak terpaku pada tata
cara/metode/pendekatan yang selama ini berjalan (berfikir "out of
the box") serta meyakini adanya altematif yang lebih baik.
3. Mengembangkan komunikasi dan dialog yang efektif dengan
penyusun kebijakan, rencana dan/atau program dan pengambil
keputusan.
4. Mencoba mengambil pelajaran dari pengalaman di wilayah lain.
5. Memanfaatkan kreatifitas yang muncul dari pemangku
kepentingan.

2.2.7. Rekomendasi Perbaikan Kebijakan, Rencana dan/atau


Program dan Pengintegrasian Hasil KLHS
Tujuan rekomendasi adalah mengusulkan perbaikan muatan
kebijakan, rencana dan/atau program berdasarkan hasil perumusan
alternatif penyempumaan kebijakan, rencana dan/atau program.
Sesuai ketetapan dalam UUPPLH, rekomendasi perbaikan rancangan
kebijakan, rencana dan/atau program ini dapat berupa:
1. Perbaikan rumusan kebijakan.

USULAN TEKNIS
2. Perbaikan muatan rencana.
3. Perbaikan materi program.

2.2.8. Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penataan Ruang


2.2.8.1. Kaidah-kaidah KLHS dalam Penataan Ruang
Kaidah terpenting KLHS dalam perencanaan tata ruang adalah
pelaksanaan yang bersifat partisipatif, dan sedapat mungkin
didasarkan pada keinginan sendiri untuk memperbaiki mutu KRP tata
ruang (self-assessment) agar keseluruhan proses bersifat lebih efisien
dan efektif.
Asas-asas hasil penjabaran prinsip keberlanjutan yang mendasari
KLHS bagi penataan ruang adalah :
• Keterkaitan (interdependency)
• Keseimbangan (equilibrium)
• Keadilan (justice)
a. Keterkaitan [interdependency) menekankan pertimbangan
keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lain, antara
satu unsur dengan unsur lain, atau antara satu variabel biofisik
dengan variabel biologi, atau keterkaitan antara lokal dan global,
keterkaitan antar sektor, antar daerah, dan seterusnya.
b. Keseimbangan [equilibrium) menekankan aplikasi
keseimbangan antar aspek, kepentingan, maupun interaksi antara
makhluk hidup dan ruang hidupnya, seperti diantaranya adalah
keseimbangan laju pembangunan dengan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup, keseimbangan pemanfaatan dengan
perlindungan dan pemulihan cadangan sumber daya alam,
keseimbangan antara pemanfaatan ruang dengan pengelolaan
dampaknya, dan lain sebagainya
c. Keadilan [justice) untuk menekankan agardapat dihasilkan
kebijakan, rencana dan program yang tidak mengakibatkan
pembatasan akses dan kontrol terhadap sumber-sumber alam,

USULAN TEKNIS
modal dan infrastruktur, atau pengetahuan dan informasi kepada
sekelompok orang tertentu.
Atas dasar kaidah-kaidah diatas, maka penerapan KLHS dalam
penataan ruang bertujuan untuk mendorong pembuat dan pengambil
keputusan atas KRP (Kebijakan, Rencana, Program) tata ruang
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
• Apa manfaat langsung atau tidak langsung dari usulan sebuah
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) atau KRP Tata Ruang?
• Bagaimana dan sejauh mana timbul interaksi antara manfaat
RTRW atau KRP Tata Ruang dengan lingkungan hidup dan
keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam?
• Apa lingkup interaksi tersebut? Apakah interaksi tersebut akan
menimbulkan kerugian atau meningkatkan kualitas lingkungan
hidup? Apakah interaksi tersebut akan mengancam keberlanjutan
dan kehidupan masyarakat?
• Dapatkah efek-efek yang bersifat negatif diatasi, dan efek-efek
positifnya dikembangkan?
• Apabila RTRW atau KRP Tata Ruang mengintegrasikan seluruh
upaya pengendalian atau mitigasi atas efek-efek tersebut dalam
muatannya, apakah masih timbul pengaruh negatif dari RTRW atau
KRP Tata Ruang tersebut terhadap lingkungan hidup dan
keberlanjutan secara umum?

2.2.9. KLHS untuk Mendorong Terbentuknya KRP (Kebijakan,


Rencana, Program) Tata Ruang
Pada kondisi tertentu, KLHS dapat disusun untuk mendorong
terbentuknya KRP tertentu. Kodisi tersebut diantaranya adalah:
• Digagas oleh badan hukum atau kelompok masyarakat sebagai
masukan kepada pemerintah atau
• Digagas oleh satu atau beberapa instansi pemerintah tertentu,
karena:

USULAN TEKNIS
• Temuan-temuan persoalan di lapangan
• Kebutuhan pemenuhan jenis informasi tertentu atau
• Kebutuhan antisipasi tertentu di masa mendatang

Gambar 2.3 Pola Penyelenggaraan KLHS Inisiatif Sendiri atau Swadaya


Masyarakat

2.2.10. KLHS untuk Mengembangkan Wawasan dan


Pengetahuan Atas Keadaan
Kajian ditujukan untuk mendorong para pihak yang berkepentingan
memperoleh informasi, wawasan, dan pengetahuan yang mendalam
mengenai keadaan wilayahnya. Umumnya kajian seperti ini muncul
pada wilayah-wilayah yang diduga kritis atau mengalami persoalan
lingkungan yang pihak- pihak berkepentingan didalamnya memiliki
kesenjangan pemahaman persoalan yang besar.
Pola penyelenggaraan kajian seperti ini dapat dititikberatkan pada
pengumpulan informasi, sistematisasi informasi dan data, serta
memperoleh definisi dan lingkup permasalahan melalui proses
pemahaman informasi bersama antara seluruh pihak yang
berkepentingan secara intensif. Intinya, KLHS bermanfaat sebagai
alat informasi maupun alat analisis.

USULAN TEKNIS
2.2.11. KLHS untuk Mengembangkan Agenda Tindak Lanjut
dan Menjadi Instrumen Partisipasi Masyarakat
Kajian ditujukan untuk mendorong para pihak yang berkepentingan
menggunakan informasi, wawasan, dan pengetahuan mengenai
keadaan dan permasalahan wilayahnya untuk merumuskan agenda
tindak lanjut yang diperlukan. Kajian seperti ini umumnya muncul
pada wilayah- wilayah yang membutuhkan terobosan tindak lanjut
yang mendesak, bisa karena kompleksnya masalah, atau antisipasi
persoalan di masa mendatang.
Pola penyelenggaraan kajian seperti ini sangat menekankan pada
proses-proses partisipatif, negosiasi dan kolaborasi antar pihak yang
berkepentingan dengan indikator keberhasilan berupa terbangunnya
jaringan kerjasama yang didasari kepercayaan satu sama lain.
Intinya, KLHS berperan sebagai alat pembangun dialog.

2.2.12. KLHS untuk Merumuskan Substansi KRP (Kebijakan,


Rencana, Program)
Kajian ditujukan untuk mendorong pemerintah merumuskan
kebijakan, rencana, atau program tertentu. Kajian seperti ini muncul
pada kondisi-kondisi dimana KRP yang ada tidak memadai untuk
menyelesaikan suatu persoalan tertentu atau mengantisipasi
persoalan di masa mendatang.
Pola penyelenggaraan kajian seperti ini akan lebih efektif bila diikuti
pengaturan kelembagaan dan pengorganisasian yang jelas, yang
antara lain mencakup:
• Adanya mekanisme untuk memverifikasi hasil-hasil KLHS inisiatif
tersebut
• Adanya mekanisme untuk menyalurkan usulan-usulan dari
hasil KLHS kepada instansi/lembaga yang tepat
• Adanya mekanisme untuk mengintegrasikan hasil-hasil KLHS ke
dalam KRP formal (misalnya RTRW baru)

USULAN TEKNIS
Berbagai bentuk mekanisme kelembagaan diatas diselenggarakan
atas dasar prinsip dan asas sebagai berikut :
• Disepakati oleh pihak pengusul dan pihak instansi pemerintah yang
diberi usulan
• Dibentuk secara transparan dan terbuka
• Disesuaikan dengan peraturan perundangan yang berlaku namun
tidak bersifat kaku dan baku
• Menjunjung asas-asas demokrasi
• Dipantau, dikoordinasikan, ditengahi, atau dilaksanakan oleh
instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup atau yang
ditugasi sesuai peraturan perundangan.

2.2.13. Pendekatan Dan Metodologi Kajian Lingkungan Hidup


Strategis
2.2.13.1. Pendekatan dalam Penyusunan KLHS
Jenis-jenis pendekatan KLHS dalam penataan ruang dibentuk oleh
kerangka bekerja dan metodologi berpikirnya. Berdasarkan literatur
terkait, sampai saat ini ada 4 (empat) model pendekatan KLHS untuk
penataan ruang, yaitu :
a. KLHS dengan Kerangka Dasar Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup/AMDAL [EIA-Mainframe)
KLHS dilaksanakan menyerupai AMDAL, baik dari segi langkah-
langkah prosedur bekerjanya, maupun metodologi berpikirnya,
yaitu mendasarkan telaah pada efek dan dampak yang ditimbulkan
RTRW atau KRP tata ruang terhadap lingkungan hidup.
b. KLHS sebagai Kajian Penilaian Keberlanjutan Lingkungan
Hidup [Environmental Appraisal)
KLHS yang memiliki pendekatan ini menempatkan posisinya
sebagai uji kebijakan untuk menjamin keberlanjutan lingkungan
hidup, sehingga bisa diterapkan sebagai sebuah telaah khusus
yang berpijak dari sudut pandang aspek lingkungan hidup.

USULAN TEKNIS
c. KLHS sebagai Kajian Terpadu/Penilaian Keberlanjutan
[Integrated Assessment/Sustainability Appraisal)
Pendekatan ini menempatkan posisinya sebagai bagian dari uji
kebijakan untuk menjamin keberlanjutan se-cara holistik, sehingga
sudut pandangnya merupakan paduan kepentingan aspek sosial,
ekonomi, dan lingkungan hidup.
d. KLHS sebagai pendekatan Pengelolaan Berkelanjutan
Sumberdaya Alam (SustainableNatural Resource
Management) atau Pengelolaan Berkelanjutan Sumberdaya
(Sustainable Resource Management)
KLHS diaplikasikan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan,
dan a) dilaksanakan sebagai bagian yang tidak terlepas dari hirarki
sistem perencanaan penggunaan lahan dan sumberdaya alam,
atau b) sebagai bagian dari strategi spesifik pengelolaan
sumberdaya alam. Model a) menekankan pertimbangan-
pertimbangan kondisi sumberdaya alam sebagai dasar dari
substansi RTRW atau KRP tata ruang, sementara model b)
menekankan penegasan fungsi RTRW atau KRP tata ruang sebagai
acuan aturan pemanfaatan dan perlindungan cadangan
sumberdaya alam.
Aplikasi-aplikasi pendekatan diatas dapat diterapkan dalam berbagai
bentuk kombinasi, baik dari segi cara maupun metoda telaahnya,
sesuai dengan : 1) hirarki dan jenis KRP tata ruang atau RTRW yang
akan dihasilkan/ditelaah, 2) lingkup isu yang menjadi fokus, 3)
kapasitas institusi dan sumberdaya manusia selaku pelaksana dan
pengguna KLHS, serta 4) kemauan politis pemanfaatan KLHS untuk
KRP tata ruang.

2.2.14. 3.8.2. Metodologi Penyusunan KLHS


Pada prinsipnya, proses KLHS harus dilakukan terintegrasi dengan
proses perencanaan tata ruang. Beragamnya kondisi yang

USULAN TEKNIS
mempengaruhi proses perencanaan tata ruang menyebabkan
integrasi tersebut bisa dilaksanakan dalam 2 (dua) cara, yaitu:
a. Penyusunan dokumen KLHS untuk menjadi masukan bagi RTRW
atau KRP tata ruang
b. Melebur proses KLHS dengan proses penyusunan RTRW atau KRP
tata ruang
Pola seperti pada cara pertama sesuai untuk dilakukan dalam kondisi-
kondisi berikut:
a. RTRW atau KRP tata ruang yang berlaku mengalami proses
evaluasi dan/atau revisi,atau
b. Konsep RTRW atau KRP tata ruang yang akan/sedang
disusun membutuhkan masukan telaah kajian lingkungan yang
spesifik dan mendalam, atau
c. Dibutuhkan dokumentasi proses kajian lingkungan tersendiri yang
gamblang untuk menguatkan akuntabilitas dan kredibilitas seluruh
proses perencanaan tata ruang.
Proses kegiatan penyusunan dokumen harus berinteraksi langsung
dengan proses penyusunan KRP tata ruang, dimana integrasinya
berlangsung menurut langkah-langkah sebagai berikut:
• Langkah 1: Pelingkupan :
proses sistematis dan terbuka untuk mengidentifikasi isu- isu
penting atau konsekuensi lingkungan hidup yang akan timbul
berkenaan dengan rancangan KRP.
• Langkah 2 : Penilaian atau telaah/analisis teknis:
proses identifikasi, deskripsi, dan evaluasi mengenai konsekuensi
dan efek lingkungan akibat diterapkannya RTRW atau KRP tata
ruang; serta pengujian efektivitas muatan RTRW atau KRP tata
ruang dalam menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Kegiatan
telaah dan analisis teknis harus didasarkan pada:
a. Pemilihan dan penerapan metoda serta teknik analisis yang
sesuai dan terkini,

USULAN TEKNIS
b. Penentuan dan penerapan aras rinci (level of detail) analisis
agar sesuai dengan kebutuhan rekomendasi, dan
c. Sistematisasi proses pertimbangan seluruh informasi,
kepentingan dan aspirasi
yang dijaring.

• Langkah 3 : Penetapan alternatif :


a. substansi pokok/dasar RTRW atau KRP tata ruang (misalnya:
mengubah pola atau struktur ruang dari yang semula
diusulkan),
b. program atau kegiatan penerapan muatan RTRW atau KRP
tata ruang (misalnya: mengubah lokasi atau besaran
infrastruktur yang dibutuhkan), dan
c. kegiatan-kegiatan operasional pengelolaan efek lingkungan
hidup (misalnya:penerapan kode bangunan yang hemat
energi).

USULAN TEKNIS
Gambar 2.4
Kerangka Kerja KLHS Secara Umum
(Dapat Disesuaikan dengan Keadaan)

USULAN TEKNIS
Gambar 2.5. Contoh Integrasi Penyusunan Dokumen KLHS dalam
Evaluasi Laporan RTRW

langkah 1, 2, dan 3 didokumentasikan dalam sebuah laporan untuk


mempermudah pelaksanaan langkah-langkah selanjutnya

USULAN TEKNIS
• Langkah 4 : Formulasi pelaksanaan dan pengambilan
keputusan tentang pilihan muatan materi bagi KRP tata
ruang
Dengan mempertimbangkan hal-hal :
a. Kesimpulan-kesimpulan pokok yang dire-komendasikan KLHS,
b. Langkah-langkah kegiatan yang dire-komendasikan KLHS,
c. Aspirasi dan pandangan dari berbagai lapisan dan golongan
masyarakat yang berkepentingan, serta
d. Aspirasi dan pandangan dari instansi pemerintah yang
bertanggungjawab dan berkepentingan (misalnya : instansi
lingkungan hidup daerah, instansi kesehatan
daerah, dan lain-lain).
• Langkah 5 : Pemantauan dan Tindak Lanjut: sesuai dengan
kebutuhannya, kegiatan pemantauan dan tindak lanjut dapat diatur
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
Integrasi penyusunan KLHS dengan Penataan Ruang dengan pola
melebur proses KLHS dengan Proses Penyusunan RTRW/KRP Tata
Ruang sesuai untuk dilaksanakan untuk kondisi-kondisi sebagai
berikut:
a. Belum ada arah maupun konsep RTRW atau KRP tata ruang,
atau
b. Pihak berkepentingan memiliki keterbatasan waktu dan sumber
daya, atau
c. Konsep RTRW atau KRP tata ruang perlu diuji secara cepat, atau
d. Konsep RTRW atau KRP tata ruang tidak membutuhkan kajian
atas isu-isu lingkungan secara gamblang, spesifik atau
mendalam
Hal-hal tersebut menyebabkan rangkaian kajian dilakukan dengan
menerapkan daftar uji pada setiap langkah proses perencanaan tata
ruang.
Secara umum daftar uji tersebut mencakup :

USULAN TEKNIS
1. Uji Kesesuaian Tujuan dan Sasaran KRP.
Kepentingan pengujian adalah untuk memastikan bahwa : a) tujuan
dan sasaran umum KRP memang jelas, b) berbagai isu
keberlanjutan maupun lingkungan hidup tercermin dalam tujuan
dan sasaran umum KRP, c) sasaran terkait dengan keberlanjutan
akan bisa dikaitkan langsung dengan indikator-indikator
pembangunan berkelanjutan, d) keterkaitan KRP tata ruang dengan
KRP-KRP lain bisa dijelaskan dengan baik, dan e) konflik
kepentingan antara KRP tata ruang dengan KRP-KRP lain segera
bisa teridentifikasi.

2. Uji Relevansi Informasi yang Digunakan.


Kepentingan utama pengujian ini adalah bukan menilai
kelengkapan dan validitas data, tetapi identifikasi kesenjangan
antara data yang dibutuhkan dengan yang tersedia serta cara
mengatasinya. Hal ini terasa penting ketika KRP tata ruang
diharuskan memperhatikan kesatuan fungsi ekosistem dan wilayah-
wilayah rencana selain wilayah administratifnya sendiri.
Selanjutnya pengujian juga lebih mengutamakan relevansi
informasi dan sumbernya agar proses kerja bisa efektif namun
tetap memperhatikan kendala-kendala setempat.
3. Uji Pelingkupan Isu-isu Lingkungan Hidup dan
Keberlanjutan dalam KRP.
Pengujian ini ditujukan untuk memandu penyusun KRP
memperhatikan isu-isu lingkungan hidup maupun keberlanjutan di
tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional, dan melihat
relevansi langsung isu-isu tersebut terhadap wilayah
perencanaannya.
4. Uji Pemenuhan Sasaran dan Indikator Lingkungan
Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan.

USULAN TEKNIS
Pengujian ini efektif bila konsep rencana sudah mulai tersusun,
sehingga dapat dilakukan penilaian langsung atas arahan-arahan
rencana pemanfaatan dan pola ruang terhadap indikator-indikator
teknis lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Uji ini
sebenarnya merupakan iterasi atau pengembangan dari uji yang
dilakukan di awal proses penyusunan RTRW sebagaimana
dijelaskan pada nomor 1.
5. Uji Penilaian Efek-efek yang Akan Ditimbulkan.
Pengujian ini membantu penyusun KRP untuk dapat
memperkirakan dimensi besaran dan waktu dari efek-efek positif
maupun negatif yang akan ditimbulkan. Bentuk pengujian ini dapat
disesuaikan dengan kemajuan konsep maupun ketersediaan data,
sehingga pengujian dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif.
Pengujian secara kuantitatif maupun kualitatif sama-sama bernilai
apabila diikuti dengan verifikasi berupa proses konsultasi maupun
diskusi dengan pihak-pihak yang terkait.
6. Uji Penilaian Skenario dan Pilihan Alternatif.
Pengujian ini membantu penyusun KRP untuk memperoleh pilihan
alternatif yang beralasan, relevan, realistis dan bisa diterapkan.
Keputusan pemilihan alternatif bisa dilakukan dengan sistem
pengguguran (memilih satu opsi dan menggugurkan yang lainnya)
atau mengkombinasikan beberapa pilihan dengan penyesuaian.
7. Uji Identifikasi Timbulan Efek atau Dampak- dampak
Turunan maupun Kumulatif.
Pengujian ini merupakan pengembangan dari jenis pengujian
nomor 5, dimana jenis-jenis KRP tertentu diperkirakan juga akan
menimbulkan efek-efek atau dampak-dampak lanjutan yang lahir
dari dampak langsung yang ditimbulkan, maupun akumulasi efek
dalam jangka waktu panjang dan pada skala ruang yang besar.
Kelompok-kelompok pengujian ini bisa dilakukan dengan cara :
• mengemasnya dalam berbagai model daftar pertanyaan, misalnya

USULAN TEKNIS
model daftar uji untuk menilai mutu dokumen, model daftar uji
untuk menilai konsistensi muatan RTRW terhadap prinsip-prinsip
keberlanjutan, model daftar uji untuk menuntun pengambil
keputusan mempertimbangkan kriteria-kriteria dan opsi-opsi yang
mendukung keberlanjutan, dan lain sebagainya
• melakukannya secara berurut sejalan dengan proses persiapan,
pengumpulan data, kompilasi data, analisis dan penyusunan
rencana
• melakukannya secara berulang/iteratif
• mengembangkan atau memodifikasi jenis pertanyaan-
pertanyaannya sesuai dengan kepentingan pengujian atau
kemajuan pengetahuan.
Isu-isu lingkungan hidup yang amat beragam bentuknya, yang
diperkirakan paling sering dibutuhkan dalam proses penataan ruang,
yaitu :
• Efek/dampak kegiatan manusia terhadap fungsi ekosistem
• Tingkat keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam
• Kapasitas daya dukung lingkungan
• Tingkat kerentanan dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap
perubahan iklim
• Tingkat keberlanjutan dan potensi keanekaragaman hayati
A. Telaah Efek/Dampak Kegiatan Manusia terhadap Fungsi
Ekosistem
Kerangka berpikir dari telaah model ini adalah adanya efek yang
ditimbulkan oleh kegiatan manusia terhadap fungsi ekosistem.
Perubahan fungsi ekosistem tersebut akan mempengaruhi kualitas
layanannya dan secara langsung akan mempengaruhi kualitas
kehidupan manusia. Efek yang timbul bisa berbentuk dampak atau
resiko, dan memiliki sifat negatif atau positif ditinjau dari
keberlangsungan fungsi ekosistem dimana lokasi kegiatan dan
efeknya berada

USULAN TEKNIS
Gambar 2.6. Contoh Kerangka Telaah Dampak Kegiatan Manusia
Terhadap Ekosistem

Kerangka diatas mengimplikasikan beberapa kebutuhan metoda


analisis spesifik, seperti :
• Identifikasi ekosistem dan analisisnya
• Analisis perubahan biofisik
• Analisis perubahan sosial-ekonomi, dll.
Keputusan yang penting dalam penataan ruang adalah memilih mana
fungsi ekosistem suatu wilayah yang akan dioptimalkan dan mana
yang akan dikorbankan apabila suatu jenis peruntukan ruang
diterapkan. Pendekatan telaah ini akan membantu pengambil
keputusan untuk dapat memahami "harga" yang harus dibayar
apabila ada fungsi ekosistem yang rusak atau hilang akibat
keputusannya, sekaligus juga membuat pengambil keputusan dapat
secara bijak mengembangkan potensi fungsi ekosistem yang paling
bermanfaat bagi masyarakat.
Beberapa hal penting yang perlu diketahui mengenai ekosistem
adalah sebagai berikut :

USULAN TEKNIS
Gambar 2.7. Fungsi Ekosistem

B.Telaah Tingkat Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Alam


Secara umum, pengukuran keberlanjutan pembangunan menggunakan
3 (tiga) variabel utama, yaitu: keberlanjutan "modal" buatan manusia
(misalnya infrastruktur dan kegiatan produksi), keberlanjutan "modal"
alamiah (misalnya sumberdaya alam dan proses-proses ekologis),
serta keberlanjutan "modal" sosial (misalnya kapasitas dan
kemampuan manusia, jejaring yang terbentuk, dan kelembagaan).
Keberlanjutan alamiah, yang dalam hal ini adalah pengelolaan
sumberdaya alam memiliki keterkaitan langsung dengan kebijakan
penataan ruang dan berpengaruh langsung pada kualitas lingkungan
hidup.
Prinsip-prinsip yang mendasari kerangka keberlanjutan ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
USULAN TEKNIS
C.Telaah Kapasitas Daya Dukung Lingkungan terhadap Kegiatan
Pembangunan
Secara sederhana, daya dukung lingkungan adalah kemampuan
lingkungan mendukung kehidupan di dalamnya. Konsep dasar
pendekatan ini adalah menyesuaikan kemampuan alam menyediakan
berbagai bentuk kebutuhan makhluk untuk dapat hidup. Dalam
penataan ruang, daya dukung lingkungan terhadap kegiatan
pembangunan diartikan sebagai penyediaan sumber daya alam untuk
digunakan manusia agar dapat hidup dan beraktivitas.
Beberapa contoh teknik yang digunakan dalam model telaah ini adalah
Tapak Ekologis [ecological footprints) yang menekankan penghitungan
tingkat konsumsi individu terhadap sumber daya alam, dan
Keseimbangan Bionomic (bionomic equilibrium) yang membuat model
ukuran populasi optimal suatu ekosistem atas dasar ketersediaan
sumber daya alam dengan akses penuh (open-access resources).
Kerangka telaah ini mengilhami kerangka telaah yang lebih spesifik,
seperti kerangka pengukuran kinerja layanan ekosistem (tingkat

USULAN TEKNIS
keberlangsungan fungsi ekosistem akibat intervensi kegiatan
manusia), atau kerangka untuk mengukur efisiensi pemanfaatan
sumberdaya alam.

D. Telaah Tingkat Kerentanan Masyarakat dan Kapasitas


Adaptasi terhadap Perubahan Iklim
Desakan untuk segera beradaptasi dalam menghadapi perubahan
iklim telah mendorong kebutuhan akan informasi dan teknik telaah
yang mampu menjelaskan kapasitas adaptasi saat ini maupun masa
mendatang, tingkat kerentanan sosial dan sumber-sumber penekan
yang akan muncul, serta mengidentifikasi skenario- skenario
pencapaian pembangunan berkelanjutan masa depan. Kerangka
telaah yang berbasis pada perubahan iklim ini adalah perkembangan
dari berbagai teknik telaah lingkungan yang kemudian
dikombinasikan dengan pendekatan-pendekatan yang sesuai.
Kerangka ini memiliki tujuan analisis untuk : a) mengkaji tingkat
kerentanan dan pengalaman adaptasi yang terjadi saat ini; b)
mengenali kemampuan masyarakat untuk menghadapi kondisi-
kondisi ekstrim; c) mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas
untuk beradaptasi; d) mengidentifikasi ukuran dan indikator
kemampuan adaptasi; e) mengkaji ketersediaan dan kebutuhan
sumberdaya untuk mengimplementasikan ukuran-ukuran
kemampuan adaptasi tersebut; f) integrasi telaah kemampuan
adaptasi dengan tingkat kerentanan; serta g) penyusunan program
dan rencana aksi untuk melaksanakannya.
E. Telaah Keberlanjutan dan Potensi Keanekaragaman hayati
Kerangka telaah ini diangkat dari persepsi bahwa lingkungan beserta
komponen keanekaragaman hayatinya menyediakan barang dan
layanan yang tidak bisa diatur secara sektoral dan dibatasi dalam
kesatuan geografis tertentu saja. Secara sederhana, pendekatan dari
kerangka ini adalah berbasis ekosistem dengan penekanan bahwa

USULAN TEKNIS
perlu ada ruang perlindungan untuk menjaga keberadaan
keanekaragaman hayati sebagai cadangan hidup di masa depan.
Keunikan dari kerangka telaah model ini adalah panjangnya horizon
waktu dari pengaruh dampak terhadap keanekaragaman hayati.
Lingkup analisisnya tidak bisa dibatasi menurut rentang masa
berlakunya RTRW, namun juga harus melihat konteks generasi-
generasi mendatang sebagai pengguna dan penarik manfaat
langsung dari keanekaragaman hayati tersebut.
Secara umum, kerangka telaah ini menganalisis hubungan antara
faktor-faktor perubahan langsung (misalnya kegiatan-kegiatan
manusia) dan faktor perubahan tidak langsung (misalnya kebijakan
pemerintah) dengan dampak pada layanan ekosistem yang terdiri
dari berbagai struktur keanekaragaman hayati dan proses-prosesnya.

Gambar 2.8. Kerangka Telaah Keberlanjutan dan Potensi


Keanekaragaman Hayati

Sebagai sebuah perangkat bantu untuk pengambilan keputusan yang


efektif digunakan pada tahap mana saja dalam proses pembuatan

USULAN TEKNIS
kebijakan, rencana, dan program, KLHS memberikan banyak pilihan
penggunaan teknik dan metodologi analisis. Namun demikian,
pengalaman-pengalaman yang bersifat best practice dalam
perencanaan tata ruang banyak menggunakan kerangka metodologi
sebagai berikut:
Teknik dan metoda-metoda diatas dijelaskan dalam berbagai literatur
yang berkaitan dengan metoda-metoda penelitian, pembangunan
berkelanjutan, dan kajian lingkungan.

USULAN TEKNIS
Gambar 2.9. Model dan Teknik KLHS

USULAN TEKNIS
Gambar 2.10. Kerangka Kerja KLHS untuk Revisi RTRW (mengadopsi
pendekatan EIA Mainframe)

2.2.15. Metode Pelaksanaan KLHS


KLHS bukan merupakan proses teknokratis atau ilmiah semata
melainkan juga proses politik melalui negosiasi. Meskipun demikian,
berbagai metode ilmiah perlu dikaji kemungkinannya untuk
meningkatkan kualitas KLHS. Tentu saja bahwa metode ilmiah ini
sangat beragam dan terus berkembang, oleh karenanya tidak
diperlukan suatu standarisasi dan keharusan untuk menerapkan
suatu metode ilmiah tertentu untuk KLHS.

USULAN TEKNIS
2.2.15.1. Metode Pelaksanaan KLHS Berdasarkan Tingkat
Kedetilan
Penentuan metode analisis teknis dan metode proses pelaksanaan
KLHS juga akan sangat ditentukan oleh konteks, kondisi, dan jenis
kebijakan, rencana dan/atau program yang akan dikaji. Oleh karena
itu, diperlukan satu kecermatan dan kreativitas untuk menentukan
metode mana yang tepat dan efisien untuk satu KLHS. Dengan kata
lain, penentuan metode akan sangat ditentukan dengan kekhasan
kondisi, situasi, dan jenis kebijakan, rencana dan/atau programnya.
Tabel 2.1 memberikan gambaran tentang tiga metode dan kondisi
yang melatarbelakangi pemilihan metode.

Tabel 2.1 Tiga Alternatif Metode Pelaksanaan KLHS dan


Pertimbangan
Pilihannya

Pilihan Deskripsi Um
Pertimbangan Catatan
Metode um
Metode Proses penilaian  Kebijakan, Prasyarat penyusunan
Cepat/ suatu isu rencana dan / atau kebijakan, rencana dan/atau
(QuickAppr berdasarkan program membutuhkan program yang telah diatur
aisal) pertimbangan penilaian yang cepat dalam peraturan
ahli yang perundangan harus tetap
 Keterbatasan
umumnya terpenuhi
waktu dan sumberdaya.
cenderung
kualitatif.  Tidak tersedia
data yang cukup.
 Situasi darurat.
Metode Penilaian Kebijakan, rencana Prasyarat penyusunan
semi detail berdasarkan dan/atau program kebijakan, rencana dan/atau
pada data dan memerlukan masukan program yang telah diatur
informasi yang segera. data dan
Tersedia dalam peraturan
lebih akurat, informasi yang cukup. perundangan harus tetap
dapat bersifat terpenuhi.
kuantitatif.
Metode Penilaian Kebijakan, rencana Prasyarat penyusunan
Detil menggunakan dan/atau program yang kebijakan, rencana dan/atau
metode yang kompleks dan cukup program yang telah diatur
komprehensif waktu untuk dalam peraturan
dan memerlukan Tersedia
menyusunnya.
data dan sumber perundangan harus tetap
ahli. daya yang melimpah. terpenuhi.

USULAN TEKNIS
Tersedia ahli yang dapat
mengerjakan.

2.2.15.2. Metode Cepat (Quick Appraisal)


Metode Cepat atau quick appraisal adalah metode kajian yang lebih
mengandalkan pengalaman dan pandangan para pakar (profesional
judgement) dan cenderung bersifat kualitatif. Metode ini dipilih ketika
satu kebijakan, rencana dan/atau program segera memerlukan
pandangan KLHS, tidak tersedia waktu yang cukup untuk melakukan
kajian yang lebih detil. Namun prasyarat penyusunan kebijakan,
rencana dan/atau program berdasarkan peraturan perundangan yang
berlaku harus tetap terpenuhi.
Beberapa petunjuk teknis agar metode ini dapat dilakukan dengan
baik antara lain sebagai berikut:
1. Perlu dipilih pakar yang tepat sesuai dengan isu-isu yang terkait
dengan kebijakan, rencana dan/atau program.
2. Perlu dirancang suatu proses diskusi yang efektif dan efisien,
antara lain dengan merumuskan isu-isu pokok yang akan
didiskusikan.
3. Moderator yang dipilih sebaiknya handal dan efektif, dapat
menjaring dan merumuskan pandangan para pakar secara obyektif
4. Seluruh proses perlu dicatat atau didokumentasikan dengan rinci
dan lengkap.

2.2.15.3. Metode Semi Detil


Metode semi detil adalah kajian yang memanfaatkan data-data yang
ada digabungkan dengan pengalaman dan pandangan para ahli.
Metode ini merupakan suatu langkah lebih maju daripada metode
cepat, dimana pandangan para pakar didasarkan pada dukungan
data-data dan informasi yang cukup memadai, sehingga
keputusannya lebih akurat dan dapat lebih berifat kuantitatif.

USULAN TEKNIS
Metode semi detil dipilih apabila kebijakan, rencana dan/atau
program yang dikaji tidak begitu mendesak untuk diputuskan, serta
tersedia waktu dan sumber daya yang cukup untuk mengumpulkan
data dan informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan
oleh para pakar. Prasyarat penyusunan kebijakan, rencana dan/atau
program berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku harus
tetap terpenuhi. Pada metode ini sebaiknya didahului dengan
pelingkupan kajian (misalnya lingkup wilayah, lingkup waktu, lingkup
substansi yang dikaji dll).
Kiat-kiat untuk melakukan metode semi detil yang efektif dan efisien
antara lain:
1. Pemilihan pakar dan pemangku kepentingan dilakukan secara
selektif dan benar-benar sesuai dengan isu-isu yang terkait dengan
kebijakan, rencana dan/atau program.
2. Data-data dan informasi pendukung yang memadai disiapkan
dalam format-format yang mudah dibaca dan dipahami.
3. Moderator yang dipilih sebaiknya handal dan efektif, dapat
menjaring dan merumuskan pandangan para pakar secara jernih.

2.2.15.4. Metode Detil


Metode detil adalah kajian menggunakan berbagai metode ilmiah
yang komprehensif, dan kompleks yang dalam beberapa hal hanya
dapat dilakukan oleh para pakar di bidangnya masing-masing.
Metode detil dilakukan untuk mengkaji beberapa isu spesifik yang
dianggap penting dan sangat beresiko apabila diputuskan tanpa
kajian ilmiah yang sesuai prosedur.
Metode detil dilakukan apabila kebijakan, rencana dan/atau program
yang dikaji menimbulkan isu-isu penting dan komprehensif dan tidak
segera harus diputuskan. Metode ini juga dipilih apabila pemrakarsa
kebijakan, rencana dan/atau program mempunyai sumber daya yang
cukup untuk melaksanakan metode ini. Pada metode ini sebaiknya

USULAN TEKNIS
didahului dengan pelingkupan kajian (misalnya lingkup wilayah,
lingkup waktu, lingkup substansi yang dikaji dll).
Beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam memilih/melaksanakan
metode detil yakni:
1. Metode yang kompleks tidak otomatis menghasilkan kajian yang
lebih gamblang dan jelas.
2. Penggunaan metodologi yang kompleks juga berpotensi
menimbulkan penilaian pemangku kepentingan bahwa hasil kajian
justru tidak transparan.
3. Pendekatan kajian yang kompleks dapat bermanfaat jika benar-
benar memberikan nilai tambah bagi proses pengambilan
keputusan
4. Kerangka acuan kajian detil idealnya didiskusikan dengan
pengambil keputusan dan pemangku kepentingan yang terkait
langsung untuk memastikan bahwa mereka menyetujui tingkat
akurasi dan keterbukaan dari pendekatan kajian yang kompleks
tersebut serta menyetujui konsekuensi waktu dan sumber daya
yang diperlukan untuk menyelenggraakan usulan kajian detil ini.

USULAN TEKNIS