Anda di halaman 1dari 20

IMPLEMENTASI CITES (CONVENTION OF INTERNATIONAL TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF WILD FAUNA AND FLORA) DALAM MENANGANI KASUS PERDAGANGAN ILEGAL SATWA LANGKA VIA ONLINE DI INDONESIA

PERDAGANGAN ILEGAL SATWA LANGKA VIA ONLINE DI INDONESIA Disusun sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada

Disusun sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada

Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin

Oleh:

Nurafiah Mustafa

E 131 15 004

Departemen Ilmu Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin

Makassar

2019

ii
ii

Implementasi CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dalam Menangani Kasus Perdagangan Ilegal Satwa Langka Via Online di Indonesia

Nurafiah Mustafa, E13115004 Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang implementasi CITES dalam menangani kasus perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesia, yang meliputi (1) implementasi CITES terhadap perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesiadi, (2) hambatan yang dialami Indonesia dalam mengimplemetasikan CITES dalam menyelesaikan kasus perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah tipe peneltian deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan penanganan kasus perdagangan sata langka via online di Indonesia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah telaah pustaka yang bersumber dari berbagai literatur, seperti Buku-buku, Jurnal, Majalah, Artikel, laporan, dan internet yang erat kaitannya dengan materi skripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi CITES di Indonesia belum signifikan melihat kasus perdagangan ilegal satwa langka via online mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pelaku selalu menjadikan faktor ekonomi sebagai alasan mereka melakukan tindakan tersebut, faktor lingkungan juga sanga berpengaruh dalam mendukung pola perilaku kejahatan yang dilakukan seseorang, serta fasilitas yang mendukung seperti internet. Indonesia mengalami hambatan dalam mengimplementasikan CITES dalam menangani kasus perdagangan ilegal satwa langka via online karena pelaku memalsukan identitasnya dimedia sosial sehingga sulit untuk diidentifikasi, peran otoritas yang berwenang juga kurang maksimal seperti

kurangnya data ilmiah yang memadai tentang jenis hewan yang mengalami kelangkaan, penegakan hukum yang belum optimal, serta komitmen pengusaha tumbuhan dan satw langka untuk mendukung program konservasi satwa langka yang diperdagangkan masih kurang. Key words: CITES, satwa langka, via online

ABSTRACT This study aims to describe CITES implementation in handling cases of illegal trade of endangered animals via online in Indonesia, which include (1) the implementation of CITES on illegal trade of endangered animals via online in Indonesia, (2) obstacles experienced by Indonesia in implementing CITES on resolving cases of illegal trade of endangered animals via online in Indonesia. Descriptive research is used as research method in this study to describe how Indonesia handling the cases of illegal online trade of endangered animals. The data collection method used in this study is literature review sourced from various literature, such as books, journals, magazines, articles, reports, and internet data related to study. The results of this study indicate that the implementation of CITES in Indonesia has not yet significant, seeing the increasing number of illegal online trade of endangered animals in each year. This is because the perpetrators always put the economy faktors as the reason they carried out this action, environment faktors also giving its influence in backing up this criminal behavior pattern, and the presence of supporting facilities such as internet. Indonesia faces obstacles in implementing CITES on handling the cases of illegal online trafficking of endangered animals due to the perpetrators using fake identities in sosial media which making it difficult to be identified; the role of authorized authority is not maximal, such as the lack of adequate scientific data on the types of animals that are expecting scarcity; disorganized law enforcement; and low commitment from the entrepreneurs of rare plants and animals to support the traded endangered species conservation programs. Keywords: CITES, endangered animals, online

1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah serta negara yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Selain itu, di Indonesia juga terdapat spesies yang unik dan endemik. Baik flora maupun fauna sudah pasti akan mengalami kelangkaan. Oleh karena itu, Indonesia melestarikan flora dan fauna dengan cara membuat wadah seperti cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional dan beberapa wadah lainnya yang dapat menampung flora dan fauna. Selain sebagai salah satu cara melestarikan flora dan fauna, wadah tersebut juga bermanfaat untuk penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi yang secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia sendiri. Salah satu penyebab terjadinya kelangkaan flora maupun fauna di Indonesia yaitu maraknya aktivitas Wildlife Crime yang merupakan kejahatan terhadap satwa yang mengacu pada tindakan yang dilakukan secara bertentangan dengan hukum dan peraturan nasional yang ditunjukkan untuk melindungi sumber daya alam. Hal ini dapat dimulai dengan eksploitasi ilegal sumber daya alam (CITES, 2018). Salah satu kejahatan yang banyak dilakukan terhadap satwa di Indonessia yaitu perdagangan ilegal. Tindakan ini marak terjadi dikarenakan satwa liar di Indonesia memliki keunikan tersendiri sehingga para pelaku memanfaatkan keunikan tersebut untuk menarik pembeli dan menjual dengan harga yang sangat mahal. Upaya untuk meminimalisir tindakan perdagangan satwa langka, pemerintah Indonesia meratifikasi CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dengan keputusan pemerintah No.43 tahun 1978 (Suyastri, 2013). CITES merupakan sebuah rezim internasional yang mengatur permasalahan perdagangan satwa liar dan tumbuhan langka, dan isu yang terkait dengan hubungan konservasi keanekaragaman hayati sehingga perlu usaha untuk menyelamatkan satwa liar dan tumbuha langka agar tidak mengalami kepunahan. Sesuai dengan visi dan misi CITES sendiri yaitu untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar yang mengakibatkan kelestarian spesies langka yang terancam punah. CITES sebagai salah satu alat perlindungan kehidupan satwa di internasional yang diterapkan

pada tingkat nasional melalui sistem perundang-undangan nasional sehingga CITES harus menjadi perangkat hukum nasional (Saleh, 2007). Istilah satwa langka dalam tulisan ini ditujukan untuk populasi satwa langka yang tertuang dalam Article IV CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Transaksi di dunia perdagangan satwa yang dilindungi secara ilegal mencapai US $ 20 Miliar per tahun. (Konservasi, 2008) data tersebut merupakan data yang terkhusus pada transaksi perdagangan satwa langk dan yang dilindungi secara konvensional, lain halnya dengan transaksi online. Pada tahun 2015 ada 5.000 kasus perdagangan satwa liar dan 370 kasus perburuan satwa liar. (Profauna, 2015) Melihat kasus tersebut, maka penulis merasa bahwa perdagangan satwa liar di Indonesia kian meningkat transaksinya baik secara konvemsial maupun memanfaatkan media sosial atau dengan kata lain secara online. Perdagangan satwa langka via online di Indonesia perlu ditinjau dan ditindaklanjuti mengingat peningkatan kasus perdagangan satwa langka via online kiat merajalela. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melihat bagaimana peran CITES sebagai konvensi internasiona yang berperan dalam penangan masalah perdagangan tumbuhan dan satwa langka. Penelitian kali ini berfokus pada apa hambatan yang menyebabkan kegagalan CITES dalam mengatasi perdagangan ilegal satwa langka Via Online di Indonesia serta bagamana CITES berpengaruh terhadap tindakan tersebut. Berdasarkan pemaparan permasalahan tersebut CITES sebagai Rezim Internasional yang berperan dalam mengatasi perdagangan satwa dan tumbuhan langka maka menarik melihat bagaimana Implementasi CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dalam Menangani Kasus Perdagangan Ilegal Satwa Langka Via Online di Indonesia. Sehingga rumusah masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana dampak implementasi CITES terhadap perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesia?; dan Apakah hambatan yang dialami Indonesia dalam mengimplemetasikan CITES dalam menyelesaikan kasus perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesia?

2. Tinjauan Pustaka

a. Rezim Internasional Oran R. Young yang berpendapat bahwa rezim internasional merupakan seperangkat aturan, prosedur pembuatan keputusan dan program yang membutuhkan praktek sosial, menetapkan peranan bagi partisipan dalam praktek tersebut dan kemudian megelola interaksi-interaksi mereka. Konsep ini digunakan untuk membantu menganalisis masalah dampak implementasi CITES dalam menangani kasus perdagangan satwa langka via online di Indonesia. Sesuai konsep rezim internasional yang diasumsikan oleh Oran R.Young bahwa rezim sering memberikan kontribusi dalam pemenuhan fungsi-fungsi tertentu dimana CITES

sebagai Rezim Internasional terkait pengaturan perdagangan flora dan fauna atau yang lebih dikenal dengan CITES adalah suatu perjanjian multilateral untuk menjawab salah satu faktor ancaman kepunahan spesies. Menurut Juan Carlos Vaquue, sebuah rezim internasional dapat diimplemetasikan dengan baik apabila melakukan tiga tahap yaitu:

a. Mengimplementasikan kewajiban CITES dengan tiga tahap, pertama: dengan mengadopsi tindakan implementasi tingkat nasional termasuk tindakan legislatif dan ekonomi, sistem informasi dan unit pelaksana hukumnya, kedua:

memastikan tindakan nasional telah terpenuhi sesuai dengan aturan yang tertuang dalam yurisdiksi, ketiga: memenuhi kewajiban secretariat CITES dengan melakukan laporan tahunan mengenai volume perdagangan dan tindakan yang berpengaruh terhada kewajiban internasionalnya.

b. Tahap pemenuhan kewajiban memiliki dua dimensi, pada tingkat internasional berkaitan dengan hal-hal yang telah dilakukan oleh Negara anggota untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan aturan yang tertuang pada konvensi, dan pada tingkat nasional lebih kepada langkah-langkah yang telah diambil oleh otoritas-otoritas nasional atau instansi pemerintahan yang berwenang untuk memenuhi kewajiban undang-undang domestiknya.

c. Dalam konteks CITES, tahap pelaksanaan hukum melihat tindakan yang diambil oleh negara yang dapat menghentikan atau menghambat perdagangan ilegal, serta menentukan status aturan yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban dan menjatuhkan sanksi bagi yang melanggar aturan konvensi maupun aturan nasional. (Vanques, 2003) Tujuan rezim adalah untuk memfasilitasi kesepakatan. Demikian pula, Jervis berpendapat bahwa konsep rezim "menyiratkan tidak hanya norma dan harapan yang memfasilitasi kerja sama, tapi juga bentuk kerja sama yang lebih kepentingan itu sendiri. Selain itu, prinsip-prinsip dan norma-norma yang memberikan ciri dasar untuk mendefinisikan sebuah rezim. Setiap prinsip dan norma yang mengalami perubahan akan juga memberikan impact pada rezim itu sendiri yakni perubahan dalam pendefinisian. Apabila sebuah prinsip atau norma

hilang, terdapat hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Perubahan tersebut bisa membuat terciptanya suatu rezim baru atau malah rezim yang telah ada akan menghilang pada masa itu.

b. Kejahatan Transnasional Terorganisasi (Transnational Organized Crime)

Kejahatan transnasional merupakan tindakan atau kejahatan yang melintasi batas wilayah suatu negara. Kejahatan transnasional tidak menganggap negara sebagai aktor utama, bahkan mereka cenderung berusaha untuk meruntuhkan peran atau dominasi negara dan mengancam konsep agar kesatuan yang berdasarkan nation state’ (Rozi, 2008). Hal tersebut dikarenakan adanya aksi, interaksi, perilaku karakter dan orientasi kejahatan transnasional terorganisir yang bersifat tidak terbatas yang bahkan dapat melebihi batas suatu negara. Adapun tindakan yang termasuk dalam daftar kejahatan transnasional yaitu: kejahatan komputer,

pencurian kekayaan intelektual, peredaran senjata gelap, kegiatan terorisme, dan kejahatan lingkungan.

Ada enam karakteristik kejahatan transnasional berdasarkan pertemuan internasional The World Ministerial Conference On Organitation crime di Nepal

pada tahun 1994 yaitu: (1) suatu organisasi yang melakukan kejahatan; (2) memiliki jaringan hirarkis atau hubungan personal yang menerbitkan kewenangan pimpinnnya untuk mengendalikan kelompok tersebut; (3) kekerasan individu dan korupsi digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau mengontrol daerah kekuasaan atau pasal (4) mencuci hasil perdagangan gelap yang berasal dari kegiatan criminal dan disusupkan dalam kegiatan ekonomi yang sah; (5) memperluas jaringan operasinya keluar negeri; (6) bekerjasama dengan kelompok kejahatan (Aseanerpublications, 2006). Kejahatan transnasional terorganisir melibatkan individu yang biasanya bekerjasama dengan orang lain dengan kapasitas dan kemampuan untuk melakukan kejahatan serius secara berkelanjutan, yang meliputi unsur-unsur perencanaan, pengendalian dan kordinasi serta manfaat atau keuntungan finansial yang dapat diperoleh bagi mereka yang terllibat dalam tindakan kejahatan transnasional tersebut. Dengan demikian, kejahatan transnasional terorganisasi dalam konteks ini mengacu kepada pihak yang telibat dalam beberapa jenis tindakan. Kepala Universitas Edinburgh juga mengakui bahwa telah banyak kelompok penjahat yang terlibat dalam tindakan kejahatan transnasional terorganisir (Campbell, 2014).

Salah satu tindakan kejahatan transnasional terorganisasi adalah tidakan perdagangan ilegal satwa langka (Ilegal Wildlife Trade). Fenomena Ilegal Wildlife Trade yang biasa disingkat menjadi IWT telah terjadi sejak tahun 2007. Perdebatan pada ilmu pengetahuan dan kebijakan IWT umumnya berkonsentrasi pada spesies yang sudah sangat langkah misalnya badak, harimau dan gajah. Dalam transaksi IWT terdapat berbagai aktor yang terlibat yaitu pemanen/pemburu, perantara dan konsumen yang memiliki peran berbeda-beda dimana peran mereka tidak hanya seperti bermain dalam rantai pasar tetapi mereka juga termasuk pemeran sosial ekonomi (JR, 1998).

Perdagangan ilegal satwa langka biasanya lebih di kenal dengan istilah perdagangan gelap. Untuk membedakan antara perdagangan satwa langka yang

legal dan ilegal dapat dilihat dari latar belakang organisasinya, dikatakan legal apabila telah melalui beberapa tahapan yaitu penentuan kuota, perizinan perdagangan tumbungan dan satwa langka, dan pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa langka sebagai suatu sistem dalam pengendalian perdagangan tumbuhan dan satwa langka tersebut.

Perdagangan satwa langka harus diawali dengan menetapkan kuota penangkapan atau dengan kata lain menentukan batas maksimal jenis dan jumlah satwa langka dari alam. Untuk mencegah terjadinya kerusakan dan degradasi populasi, maka penetapan kuota penangkapan harus berdasarkan pada prinsip kehati-hatian dan dasar ilmiah sebagaimana telah tertuang dalam Artivle IV CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Dalam proses penentuan daftar satwa langka yang telah mengalami kepunahan dan kelangkaan dapat dilihat pada daftar hewan yang tertuang dalam Appendix I dan II CITES.

3. Metode Penitian Adapun tipe penelitian yang digunakan penulis yaitu tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dapat didefinisiakan sebagai teknik penelitian yang intuitif dan sistematis untuk membantu seseorang peneliti menghasilkan pengetahuan dengan cara yang efisien dan konheren, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang fenomena, aktivitas, proses sosial. Sedangkan menurut Norman Denzin dan Yvonna Lincoln mengartikan penelitian kualitatif suatu penelitian yang mencakup metode mulai dari wawancara, analaisis wacana dan historis (Bakry, 2016, hal. 62). Pemilihan tipe penelitian tersebut, karena penulis ingin mendeskripsikan tentang implementasi CITES terhadap perdagangan ilegal satwa langka via online di Indonesia. Lebih terkhusus penulis ingin mengerucutkan pada tipe peneltian deskriptif yaitu suatu penelitian yang berfokus pada analisis dan penyajian data yang sistematis, yang kemudian diuraikan dengan tekhnik analisis untuk menarik kesimpulan yang bersifat analitik.

Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu Library Research yang merupakan suatu teknik untuk menghimpun data atau informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Adapun sumber yang akan di gunakan dalam penelitian ini yaitu: buku, jurnal, dokumen, artikel, surat kabar, ataupun dari media elektronik (internet) karena berfokus pada kasus perdagangan satwa langka via online. Adapun Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik

analisis kualitatif. Pada teknik ini, permasalahan yang diteliti akan dideskripsikan dengan fakta-fakta yang ditemukan baik itu dari data sekunder. Kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan fakta lainnya sehingga menghasilkan argumen yang sesuai. Metode penulisan yang digunakan adalah metode deduktif. Metode deduktif yaitu metode penulisan dalam menganalisis data, dimana penulis menggambarkan permasalahan secara umum, kemudian dilanjutkan dengan penarikan kesimpulan secara khusus atau lebih spesifik.

4. Hasil dan Pembahasan

a. Dampak implementasi CITES terhadap perdagangan satwa illegal via online di Indonesia Perdagangan satwa langka yang melintasi batas wilayah negara termasuk tindakan kejahatan transnasional. Hal ini karena sosial media dapat diakses oleh siapapun dan kapanpun sehingga konsumen di negara lain memiliki peluang untuk mengakses perdagangan satwa langka di sosial media. Kejahatan ini sangat mengkhawatirkan perkembangan dunia yang lebih aman, tentram, damai dan sejahtera dimasa depan. Indonesia juga dihadapkan pada tantangan dalam upaya penegakan hukum dan perlindungan warga negara dari mata rantai kejahatan transnasional. Tindakan kejahatan ini berdampak besar terhadap kemanan dan kenyamanan kehidupan bermasyarakat. Kejahatan transnasional juga berpotensi mengganggu kedaulatan suatu negara, serta mengancam stabilitas pembangunan ekonomi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikaasi tidak dapat disebut sebagai faktor penyebab terjadinya kejahatan transnasional. Hal ini malah dijadikan

sebagai fasilitas untuk melakukan tindakan kejahatan transnasional. Sesuai dengan beberpa karakteristik yang diklasifikasikan berdasarkan pertemuan internasional The World Ministerial Conference On Organization Crime pada tahun 1994 poin 5 bahwa kejahatan transnasional dapat memperluas jaringan operasinya ke luar negeri. Sama halnya dengan tindakan kejahatan transnasional dalam bentuk perdagangan ilegal satwa langka via online yang diakses oleh semua orang di dunia sehingga konsumen dari luar negeri juga merasa mudah untuk memperoleh satwa langka yang mereka inginkan. Sementara pada poin 6 menyatakan bahwa kejahatan transnasional terorganisasi terjadi karena adanya kerjasama antar kelompok kejahatan. Biasanya tindakan perdagangan ilegal satwa langka via online marak di grup facebook. Grup tersebut menjadi wadah untuk memposting gambar satwa langka yang akan diperjual belikan. Perdagangan ilegal satwa langka via online tidak dapat berlansung apabila tidak ada kerjasama antar pelaku kejahatan. Karena aktor yang terlibat dalam transaksi perdagangan minimal dua orang yaitu penjual dan pembeli, bahkan ada yang bertugas sebagai pemanen, distributor dan konsumen yang berstatus sebagai pembeli. Untuk menyalurkan barangnya ke luar negeri pun juga membutuhkan aktor yang dapat bekerjasama dengan pelaku perdagangan satwa langka. Transaksi ini juga diawali dengan perencanaan, pengendalian, kordinasi mengenai manfaat atau keuntungan finansial yang dapat diperoleh apabila terlibat dalam proses perdagangan tersebut. Untuk menangani kasus perdagangan satwa maka Indonesia sebagai negara yang ikut meratifikasi CITES, maka Indonesia menerapkan kewajiban-kewajiban CITES dengan mengadopsi sistem informasi, manajemen, serta unit pelaksanaan hukumnya yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI dan Undang-undang yang berlaku di Indonesia yakni perlindungan dan pengelolaan Kawasan konservasi satwa serta perlindungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa langka diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan ekosistemnya. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis

tumbuhan dan satwa yang memuat daftar tumbuhan dan satwa langka yang dilindungi di Indonesia. Sementara untuk peraturan pemanfaatannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa langka. Dalam peraturan tersbut diatur cara memanfaatkan satwa yang dilindungi untuk beberapa kegiatan tertentu dengan kondisidan persyaratan yang diizinkan oleh kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan misalnya untuk pengelolaan Taman Margasatwa dan Kebun Binatang. (Yoshua Aristide, 2016, p. 14) Melihat karakteristik yang disebutkan oleh Carlos, Implementasi CITES telah berjalan apabila hanya dilihat dari tahap implementasi dengan mengadopsi tindakan implementasi tingkat nasional termasuk tindakan legislatif dan ekonomi, sistem informasi dan unit pelaksana hukumnya serta memastikan tindakan nasional telah terpenuhi sesuai dengan aturan yang tertuang dalam yurisdiksi. Karena aturan-aturan CITES telah diadopsi ke dalam undang-undang domestik Indonesia seperti yang telah dijelaskan di alinea sebelumnya. namun belum mendapat hasil yang maksimal, melihat dari wujud adopsi aturan CITES di dalam peraturan- peraturan pemerintah Indonesia dan undang-undang yang diberlakukan hanya sebatas aturan teknis untuk di Indonesia. Apabila melihat tahap ketiga yaitu memenuhi kewajiban secretariat CITES dengan melakukan laporan tahunan mengenai volume perdagangan dan tindakan yang berpengaruh terhada kewajiban internasionalnya, Indonesia belum melaksanakan kewajiban ini dengan baik setelah melihat laporan tahunan Indonesia di website resmi CITES, Indonesia hanya melaporkan volume perdagangan tumbuhan dan satwa langak sampai tahun 2012. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa CITES di Indonesia belum terimplementasi dengan baik. Pada tahap pemenuhan kewajiban, Indonesia telah melakukan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi CITES dengan mendelegasikan suatu badan pengelolaan yang bertanggungjawan dalam pelaksanaan sistem perizinan (management authority) yaitu Direktorat Konservasi

Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Selain management authority Indonesia juga mendelegasikan badan ilmiah untuk memberikan nasehat mengenai dampak terdagangan terhadap status spesies yaitu scientipic authority. Otoritas tersebut bertuga untuk memastikan bahwa aturan CITES diimplementasikan pada tingkat nasional. Beberapa langkah juga telah dilakukan oleh otoritas-otoritas nasional seperti pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia Departemen Kehutanan yang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana perdagangan ilegal satwa langka. Selain itu, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga memaksimalkan perannya dengan melakukan pemeriksaan dokumen ekspor berupa surat angkut satwa langka ke luar negeri (SATS-LN)/CITES Permit, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal PHKA. Fokus pemeriksaan diantaranya meliputi keaslian dokumen, kebenaran isi dokumen (jumlah dan jenis spesimen yang akan dikirim), dan masa berlaku dokumen, serta pembubuhan legalitas pada dokumen SATS-LN. Bea cukai telah menemukan banyak kasus perdagangan dan penyelundupan satwa langka yang terjadi diwilayah perbatasan. Bea cukai lebih focus menangani tindakan kejahatan transnasional atau perdagangan satwa langka yang melintasi batas wilayah negara. Pada Tahun 2015 Bea Cukai berhasil mengungkap kasus penyelundupan trenggiling di Surabaya. Kementerian lingkungan hidup sebagai otoritas pengelola (management authority) juga telah memaksimalnya tugasnya dengan melakukan kordinasi dengan Korservasi Keanekaragaman Hayati. Hal ini membuktikan bahwa beberapa otoritas telah memaksimalkan tugasnya masing sesuai kewenangannya. Sementara untuk otoritas keilmuan (scientipic authority) dalam hal ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan rekomendasi jumlah dan jenis tumbuhan dan satwa langka yang tidak dapat di perdagangkan karena termasuk dalam daftar Appendix I & II CITES. Hal ini menjadi dasar bagi Direktur Jenderal PHKA dalam pembuatan keputusan pemetaan kuota. Akan tetapi beberapa kasus ditemukan bahwa pelaku memelihara satwa langka dan akan menjualnya

karena tidak mengetahui bahwa satwa yang dipelihara tersebut termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi.

b. Hambatan Indonesia dalam Mengimplemetasikan CITES

Hambatan Indonesia dalam mengimplementasikan CITES dapat dilihat pada peran otoritas yang bekerjasama dengan CITES seperti LIPI sebagai otoritas keilmuan. Akan tetapi, pemahaman CITES masih kurang. Walaupun Indonesia telah meatifikasi CITES lebih dari dua puluh lima tahun, tetapi pemahaman mengenai CITES terutama manfaat CITES dalam menangani masalah perdagangan satwa langka via online serta mendukung pemanfaatan tumbuhan dan satwa langka secara berkelanjutan masih belum utuh pada seluruh pemangku pihak (stake holders) yang terlibat. Pemahaman yang belum utuh tentang tugas masing-masing pemangku pihak seringkali menimbulkan salah pengertian dan cenderung menyalahkan satu sama lain. Pemahaman yang tidak utuh tentang CITES juga terjadi diantara unit kerja atau individu dalam satu instansi terkait dengan CITES. Kurangnya pemahaman mengenai CITES dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat antara pemangku pihak. Selain itu, keinginan untuk mengedepankan kepentingan lembaga masing-masing dan kadang-kadang mengabaikan kepentingan bersama yang lebih besar juga menjadi salah satu pemicu terjadinya kesalahpahaman antar otoritas yang terlibat. Hal tersebut harusnya dapat dieliminasi melalui komunikasi yang intensif dan memadai yang didasari dengan saling menghargai tugas dan fungsi masing-masing otoritas yang terlibat.

Penentuan kuota tentang daftar jenis tumbuhan dan satwa langka yang diperdagangkan masih kurang dan beberapa data ilmiah yang diklasifikasikan kedalan penentuan kuota tidak seluruhnya didasari atas dasar dukungan data ilmiah yang memadai. Salah satu penyebabnya karena jenis satwa langka yang di perdagangankan terlalu banyak dan terus mengalami pengingkatan. Sementara ottoritas ilmiah memiliki banyak keterbatasan untuk menyediakan data tentang jenis tumbuhan dan satwa langka yang diperdagangkan via online.

Penyediaan data ilmiah memang seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas ilmiah, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab pemangku pihak lainnya termasuk LSM, tetapi sebaiknya tetap menganut kaidah penelitian yang dikeluarkan oleh LIPI sehingga datanya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk mendukung penentuan kuota. Pihak pengusaha tumbuhan dan satwa juga harus memberikan dukungan finansial untuk mendukung pelaksanaan penelitian, terutama terhadap jenis tumbuhan dan satwa yang signifikan secara ekonomi. Tetapi, dukungan ini tidak mengikat, misalnya untuk menaikkan kuota tangkap, karena kenaikan kuota sangat tergantung dari hasil survey populasi di alam. Untuk mengatasi masalah kurangnya data dapat dilakukan dengan cara mencegah perdagangan satwa langka, kerjasama seluruh pemangku pihak untuk sama-sama mencari data populasi jenis-jenis satwa langka yang siginifikan secara ekonomi (penentuan jenisnya dibantu oleh pihak pengusaha tumbuhan dan satwa) dan melakukan penelitian bersama-sama (bisa dilakukan di lokasi kerja masing- masing) dengan mengacu kepada metoda penelitian yang dikeluarkanoleh LIPI. Penegakan hukum belum optimal untuk menghentikan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa langka masih belum optimal, sehingga masih terjadi pelanggaran perdagangan tumbuhan dan satwa langka dengan modus yang terus berkembang. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya peraturan nasional yang dapat dipergunakan untuk mengatasi perdagangan ilegal untuk jenis-jenis tumbuhan dan satwa langka yang belum dilindungi sehingga memicu juga pedagang untuk menjual satwa langka. Berbagai jenis satwa yang masuk ke dalam appendix I, termasuk yang masuk ke Indonesia masih mudah dijumpai diperdagangkan secara bebas dan terbuka. Salah satu contoh kasusnya yang terjadi di Makassar Sulawesi selatan, dimana pelaku dua dua tahun berturut-turut ditangkap oleh pihak berwajib dengan kasus yang sama. Hal ini karena hukuman yang diterima hanya penjara selama 4 bulan sementara dalam aturan Undang- undang No.5 Tahun 1990 tertulis bahwa hukuman bagi pelaku yang melakukan perdagangan satwa langka yaitu 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Penyebab lain sulitnya menghentikan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa termasuk tumbuhan dan satwa yang masuk ke appendiks CITES, karena para petugas yang terkait memiliki keterbatasan untuk melakukan identifikasi jenis-jenis tumbuhan dan satwa langka yang diperdagangkan, termasuk status perlindungannya. Disisi lain, ada juga masyarakat yang belum mengetahui peraturan perlindungan tumbuhan dan satwa, terutama yang masuk ke dalam appendiks I CITES, yaitu jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang sangat dilarang untuk diperdagangkan karena dikhawatirkan akan menyebabkan kepunahan jenis- jenis tersebut. Pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang masuk. Komitmen pengusaha tumbuhan dan satwa langka untuk mendukung program konservasi jenis-jenis tumbuhan dan satwa langka yang diperdagangkan masih rendah. Ada kecenderungan bahwa para pengusaha tumbuhan dan satwa hanya menomorsatukan kepentingan ekonomi dari tumbuhan dan satwa yang diperdagangkan, tetapi belum terlalu peduli terhadap aspek kelestariannya untuk menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan. Pada kenyataannya berbagai jenis tumbuhan dan satwa terus berada dalam ancaman, tidak hanya di eksploitasi untuk diperdagangkan, tetapi juga penyusutan habitat oleh berbagai sebab misalnya penebangan langka, konversi hutan alam untuk perkebunan dan sebagainya. Apabila suatu jenis tumbuhan dan satwa semakin sulit untuk diperdagangkan, maka kecenderungan yang dipilih oleh para pengusaha tumbuhan dan satwa adalah mengalihkan ke jenis tumbuhan dan satwa yang lain. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah yang berkeinginan untuk meningkatkan upaya penangkaran sebagai alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap populasi di alam. Mekanisme di dalam asosiasi pengusaha tumbuhan dan satwa juga belum secara optimal untuk mengikat anggotanya untuk tidak melakukan tindakan perdagangan ilegal, yang sebenarnya juga menjadi kepedulian bagi para pengusaha tumbuhan dan satwa karena dapat mengancam perdagangan yang legal. Komitmen yang lemah juga ditunjukkan oleh pihak LSM, terutama dalam hal mengambil peran untuk mencari data ilmiah berbagai jenis tumbuhan

dan satwa yang diperdagangkan, juga dalam hal peningkatan kemampuan petugas khususnya dalam melakukan identifikasi jenis tumbuhan dan satwa langka yang diperdagangkan dengan menerbitkan buku-buku panduan. Peningkatan kemampuan petugas juga dapat dilakukan dengan cara mendukung pelatihan CITES yang dilakukan secara berkala oleh pihak otoritas pengelola. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas maka pihak pengusaha tumbuhan dan satwa langka serta LSM bersama-sama dengan otoritas ilmiah dan otoritas pengelola dapat meningkatkan kerjasama sesuai kapasitas masing-masing yang dilandasi pemahaman bersama untuk mendukung implementasi CITES di Indonesia guna memperoleh pemanfaatan tumbuhan dan satwa langka secara berkelanjutan. Hal ini dapat juga dilakukan melalui forum seperti yang telah diusulkan di atas. Selain hambatan-hambatan diatas, pihak otoritas dalam menangani kasus perdagangan ilegal satwa langka via online juga kesulitan untuk menyelidiki pelaku karena kerap kali mereka menggunakan identitas palsu sehingga sulit untuk diidentifikasi. Untuk mengatasi hal ini, pada akhir tahun 2018 pihak kepolisian merilis aplikasi e-pelaporan yang mewadahi masyarakat dan lainnya untuk membantu melaporkan tindakan perdagangan ilegal satwa langka disekitarnya. Aplikasi ini akan sangat membantu pihak kepolisian dalam menemukan kasus- kasus yang terjadi. Pada tahun 2012 juga sudah dibuat situs e-commerce bersama Lembaga non-pemerintahan dengan harapan tindakan perdagangan ilegal satwa langka via online dapat ditangani dengan baik, sehingga satwa yang dilindungi dapat terselamatkan. Bahkan manager salah satu onlineshop dalam hal ini manager Tokobagus.com mendukung adanya situs e-commerce tersebut. Akan tetapi pada tahun 2016 beberapa situs onlineshop kembali menjajakan satwa langka. Hal ini juga menjadi pemicu semakin meningkatnya kasus perdagangan satwa langka via online di Indonesia.

5.

Kesimpulan

Indonesia telah meratifikasi CITES dengan harapan dapat meminimalisir kasus perdagangan ilegal satwa langka. Akan tetapi, semakin berkembangnya informasi dan komunikasi, perdagangan satwa langka semakin mudah dilakukan melalui media sosial maupun website dan onlineshop. CITES sebagai rezim internasional telah mengeluarkan aturan dan diadopsi kedalam aturan nasional Indonesia yaitu UU No.5 Tahun 1990, Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999, Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999, serta Keputusan Pemerintah No.43 Tahun 1978. Untuk mewujudkan aturan tersebut maka Indonesia melibatkan otoritas sesuai wewenangnya masing-masing yaitu LIPI sebagai otoritas keilmuan Bea Cukai, BKSDA, Badan Karantina Hewan, Kepolisian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Lingkungan Hidup sebagai otoritas pengelola. Akan tetapi, Implementasi CITES di Indonesia belum signifikan melihat kasus perdagangan ilegal satwa langka via online mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pelaku selalu menjadikan faktor ekonomi sebagai alasan mereka melakukan tindakan tersebut, faktor lingkungan juga sanga berpengaruh dalam mendukung pola perilaku kejahatan yang dilakukan seseorang, serta fasilitas yang mendukung seperti internet. Indonesia mengalami hambatan dalam mengimplementasikan CITES dalam menangani kasus perdagangan ilegal satwa langka via online karena pelaku memalsukan identitasnya dimedia sosial sehingga sulit untuk diidentifikasi, pelaku mengaku sebagai satu-satunya pihak yang telibat sehingga sulit untuk ditelusuri lebih dalam. Selain itu, peran otoritas yang berwenang juga kurang maksimal seperti kurangnya data ilmiah yang memadai tentang jenis hewan yang mengalami kelangkaan, penegakan hukum yang belum optimal, serta komitmen pengusaha tumbuhan dan satw langka untuk mendukung program konservasi satwa langka yang diperdagangkan masih kurang.

Daftar Pustaka

Aseanerpublications. (2006, April 3). Upaya ASEAN dalam menanggulangi kejahatan

transnasional di kawasan Asia Tenggara. Bakry, U. S. (2016). Metode Penelitian Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Campbell, L. (2014). Organized Crime and National Security: A Dubious Connection?' New Criminal Law Review. Edinburgh Research Explorer, 17. JR, M. R. (1998). Illegal Harvest of Renewable natural resources in North America:

Toward a Typology of The Motivations for Poaching. Soc Natur Resource. 11,

9-12.

Konservasi, P. K. (2008). Konservasi Indonesia, sebuah Potret pengelolaan dan kebijakan Jakarta. Retrieved 2018 Olii., M. I. (2005). Oshiba, R. (1994). International Regimes. GOVERNMENT AND POLITICS Vol. II,

4.

Profauna. (2015, 12 29). Protecting Forest and Wildlife. Retrieved 2 15, 2018, from

www.Profauna.net/id/content/tahun-2015

Rismawanharsih, D. (2012). Kebijakan Kriminal di Negara-Negara Anggota ASEAN Tentang Perdagangan Manusia dan Perdagangan Narkoba Sebagai Bentuk Transnational Organized Crimes (TOCs), Skripsi Jurusan Kriminologi . p. 26.

Rosen, G. E. (2010). Summarizing the Evidence on the International Trade in Illegal Wildlife. EoHealth, 7. Rozi, R. F. (2008). Komunikasi Massa dan Globalisasi Media Dalam Konstelasi Transnasionalisme Dunia. Skripsi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jember: Universitas Jember. Saleh, H. d. (2007). Penegakan Hukum Perdagangan Ilegal Hidupan Liar. WWF Indonesia. Suyastri, C. (2013). Transnasional Ilmu Hubungan Internasional. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 4. Suyastri, C. (2013). Transnasional Jurnal Ilmu Hubungan Internasional. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau., 4. www.cites.org. (n.d.). Yani, A. A. (2006). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.