Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI PADA PASIEN Sdr. W


DENGAN DIAGNOSA MEDIS BATU URETER DEXTRA
DI BANGSAL ALAMANDA 1 RSUD SLEMAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan


Kebutuhan Dasar Manusia
Pembimbing :
Dra. Ni Ketut Mendri, S.Kep., Ns., M.Sc

Disusun oleh :
Muhammad Naufal F (P07120217028)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2018
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI PADA PASIEN Sdr. W
DENGAN DIAGNOSA MEDIS BATU URETER
DI BANGSAL ALAMANDA 1 RSUD SLEMAN
2018

Diajukan untuk disetujui pada :

Hari :

Tanggal :

Tempat : Bangsal Alamanda 1 RSUD Sleman

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lapangan

( ) ( )
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan asuhan
keperawatan dengan judul “Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi
Pada Pasien Sdr. Dengan Diagnosa Medis Batu Ureter Di Bangsal Alamanda 1 Rsud
Sleman”. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik Keperawatan
Kebutuhan Dasar Manusia khususnya asuhan keperawatan pada pasien dengan
pemenuhan kebutuhan eliminasi.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada :
1. Bondan palestin, SKM., M.Kep., Sp. Kom. selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
2. Maryana, S. Psi., S. Kep., Ns., M.Kep. selaku Ketua Prodi D IV Keperawatan
Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
3. Dra. Ni Ketut Mendri, S.Kep., NS., M.Sc selaku dosen pembimbing akademik
yang telah memberikan bimbingan demi terselesainya laporan ini.
4. Rekan-rekan yang telah memberikan bantuan dalam proses menyelesaikan
penyusunan laporan ini.
Kami berharap semoga laporan ini dapat membantu pembaca untuk lebih
mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien Sdr.“W” dengan diagnosa medis
Batu ureter di Bangsal Alamanda I RSUD Sleman. Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan laporan ini, masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharap kritik dan saran dari berbagai pihak agar laporan ini lebih sempurna.

Yogyakarta, 3 Januari 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian batu saluran kemih (urolitiasis) di Amerika serikat tahun 2007
dilaporkan sekitar 5-10% penduduk dalam hidupnya pernah menderita penyakit ini,
sedangkan di Eropa bagian selatan di sekitar laut tengah 6-9%. Di Jepang 7%, di
Taiwan 9,8% dan di Indonesia se
kitar 59,1% dari 10.000 penduduk (Muslim, 2009).
Batu saluran kemih itu sendiri terbentuk karena disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan. Batu saluran
kemih (urolitiasis)) adalah zat padat yang dibentuk oleh persipitasi berbagai zat terlarut
seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat yang meningkat dalam urine di
saluran kemih. (Borlay, 2006) Beberapa peneliti mengemukakan bahwa penderita
batu saluran kemih pada laki-laki 3-4 kali lebih banyak dari wanita, hal ini terjadi
karena kadar kalsium air kemih sebagai bahan utama pembentukan batu. Sedangkan
pada wanita lebih rendah dari pada laki-laki karena kadar sitrat air kemih sebagai bahan
penghambat terjadinya batu lebih tinggi dari laki-laki. Batu kandung kemih ini juga
dapat terbentuk pada usia lanjut karena terjadi akibat adanya gangguan aliran di
perkemihan, misalnya karena hiperplasia (Sjamsuhidajat, 2010).
Nurlina, 2008 menyatakan bahwa batu saluran kemih banyak dijumpai pada
orang dewasa antara umur 30-60 tahun dengan rata-rata pria banyak yang menderita di
usia 43 tahun dan wanita 40 tahun. Sedangkan umur terbanyak penderita batu saluran
kemih di negara-negara barat 20-50 tahun dan di Indonesia sendiri 30-60 tahun.
Kemungkinan faktor penyebab ini dikarenakan dari faktor sosial, ekonomi dan
budayanya. Sedangkan Berdasarkan data yang didapatkan dari rumah sakit
muhammadiyah surakarta kejadian dalama 1 tahun terakhir didapatkan 6 orang yang
menderita penyakit urolitiasis dengan rata-rata usia penderita sekitar 30-43 tahun.
Sedangkan angka kekambuahan 10 tahun ke depan bisa mencapai 75% dan 20-25 tahun
ke depan bisa mencapai 95-100% ini dapat dipicu dari faktor sosial, ekonomi dan
dengan kemajuan zaman yang semakin berkembang saat ini. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa rata-rata penderita batu saluran kemih ini banyak diderita oleh kalangan dewasa
laki-laki dan banyak hal yang harus diketahui oleh kalangan masyarakat untuk
mencegah terjadinya peningkatan penderita batu saluran kemih 10-25 tahun ke depan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas
pada Sdr W. dengan diagnosis keperawatan yang sesuai.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pengkajian terhadap Sdr W diharapkan mahasiswa dapat
:
a. Melakukan pengkajian data
b. Menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat
c. Merencanakan suatu tindakan yang komprehensif
d. Melakukan asuhan keperawatan sesuai rencana
e. Mengevaluasi hasil pelaksanaan asuhan keperawatan.

C. Manfaat
1. Bagi klien
Pasien mengatahui tentang penyakitnya, cara pencegahan supaya tidak
timbul penyakit yang sama, dan menambah wawasan tentang
pengetahuan penyakit yang dideritanya.
2. Bagi penulis
Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan apa yang di dapat
dalam perkuliahan.
3. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan kepustakaan tentang asuhan keperawatan pada Sdr W
dengan pemenuhan kebutuhan“eliminasi” terkait diagnosa medis batu
ureter.
4. Bagi lahan praktek
Memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk
mempertahankan dan menguatkan serta meningkatkan asuhan
keperawatan secara profesional agar terhindar dari komplikasi yang
mungkin timbul.

D. Cara Pengumpulan Data


1. Wawancara
Pengumupulan data dengan tanya jawab langsung pada pasien dan
keluarga pasien.
2. Observasi
Pengambilan data dengan cara menilai dan memantau perkembangan
klien secara langsung.
3. Studi dokumentasi
Cara pengumpulan data dengan cara melihat buku rekam medik klien
dan hasil pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang.
4. Studi pustaka
Teori asuhan keperawatan dari buku-buku yang membahas masalah-
masalah asuhan keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Defenisi Eliminasi
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh.
Pembuangan dapat melalui urine ataupun bawel. Eliminasi urine normalnya adalah
pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi
organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder dan uretra. Ginjal memindahkan
air air dari darah dalam bentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke bladder. Bladder
urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan
melalui uretra (Tarwoto dan Hartonah, 2006).

2. Anatomi dan Fisiologi


Eliminasi urine tergantung kepada fungsi ginjal, ureter, kandung kemih, dan
uretra. Semua organ sistem perkemihan harus utuh dan berfungsi dengan baik,
supaya urine berhasil di keluarkan dengan baik (Potter & Perry, 2005). Berikut
diuraikan anatomi dan fisiologi organ sistem perkemihan menurut Hidayat (2006).
a. Ginjal
Ginjal adalah organ berbentuk kacang berwarna merah tua, panjang 12,5 cm
dan tebalnya 2,5 cm. Beratnya kurang lebih 125 sampai 175 gram pada laki-laki
dan 115-155 gram pada wanita. Ginjal terletak pada bagia belakang rongga
abdomen bagian atas setinggi vertebrata thorakal 11 dan 12, ginjal dilindungi oleh
otot-otot abdomen, jaringan lemak atau kapsul adiposa. Nefron merupakan unut
struktural dan fungsional ginjal. 1 ginjal mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang
merupakan unit pembentuk urine. Proses filtrasi, absorbsi dan sekresi dilakukan
di nefron. Filtrasi terjadi di glomerulus yang merupakan yang merupakan
gulungan kapiler dan dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda yang disebut
kapsul bowman. Fungsi utama ginjal adalah mengeluarkan sisa nitrogen, toksin,
ion dan obat-obatan, mengatur jumlah dan zat-zat kimia dalam tubuh,
mempertahankan keseimbangan antara air dan garam-garam serta asam dan basa,
menghasilkan renin, enzim untuk membantu pengaturan tekanan darah,
menghasilkan hormon eritropoitin yang menstimulasi pembentukan sel-sel darah
merah di sum-sum tulang dan membantu dalam pembentukan vitamin D.
b. Ureter
Setelah urine terbentuk kemudian akan di alirkan ke pelvis ginjal lalu ke bladder
melalui ureter. Panjang ureter pada orang dewasa antara 26 sampai 30 cm dengan
diameter 4 sampai 6 mm. Setelah meninggalkan ginjal, ureter berjalan ke bawah
dibelakang peritoneum ke dinding bagian belakang kandung kemih. Lapisan
tengah ureter terdiri atas otot-otot yang di stimulasi oleh transmisi impuls elektrik
berasal dari saraf otonom. Akibat gerakan peristaltik ureter maka urine di dorong
ke kandung kemih.
c. Kandung kemih
Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine, terletak di dasar
panggul pada daerah retroperitoneladan terdiri atas otot-otot yang dapat
mengecil. Kandung kemih terdiri atas dua bagian fundus atau body yang
merupakan otot lingkar, tersusun dari otot detrusor danbagian leher yang
berhubungan langsung dengan uretra. Pada leher kandung kemih terdapat spinter
interna. Spinter ini di kontrol oleh sistem saraf otonom. Kandung kemih dapat
menampug 300 sampai 400 ml urine.
d. Uretra
Merupakan saluran pembuangan urine yang langsung keluar dari tubuh.
Kontrol pengeluaran urine terjadi karena adanya spinter kedua yaitu spinter
eksterna yang dapat di kontrol oleh kesadaran kita. Panjang uretra wanita lebih
pendek yaitu 3,7 cm sedangkan pria 20 cm. Sehingga pada wanita lebih sering
beresiko terjadinya infeksi saluran kemih.
3. Etiologi pemenuhan kebutuhan eliminasi
Banyak faktor yang mempengaruhi volume dan kualitas urine serta kemampuan
klien untuk berkemih (Hidayat, 2006).
a. Diet dan asupan
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output
atau jumlah urine. Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang
dibentuk. Selain itu, kopi juga dapat eningkatkan pembentukan urine.
b. Respons keinginan awal untuk berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabakan
urine banyak tertahan di vesika urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika
urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
c. Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi,
dalam kaitannya dengan ketersediaan fasilitas toilet.
d. Stres psikologis
Meningkatnya stres dapat mengakibatkan seringnya frekuensi keinginan
berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan
berkeinginan berkemih dan jumlah urine yang dihasilkan.
e. Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi
sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan
pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan
beraktivitas.
f. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan dapat mempengaruhi pola berkemih. Hal
tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki kecenderungan untuk
mengalami kesulitan mengontrol uang air kecil. Namun dengan bertambahnya
usia kemampuan untuk mengontrol buang air kecil semakin meningkat.
g. Kondisi penyakit
Kodisi penyakit tertentu seperti diabetes melitus, ginjal dan lain-lain dapat
memengaruhi produksi urine.
h. Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti
adanya kultur masyarakat yang melarang buang air kecil di tempat tertentu.
i. Kebiasaan seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet dapat mengalami kesulitan
untuk berkemih dengan melalui urinal atau pot urine bila dalam keadaan sakit.
j. Tonus otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah
kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam
kontaksi pengontrolan pengeluara urine.
k. Pengobatan
Efek pengobatan menyebabkan peningkatan atau penurunan jumlah urine.
Misalnya pemberian diuretik hormon dapat menigkatkan jumlah urine sedangkan
pemberian obat antikolinergik atau antihipertensi dapat menyebabkan retensi
urine.
4. Patofisiologi
a. Ginjal
1. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai denganvertebra
lumbalis ke-3. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 – 2 cm dari
ginjal kanan karena posisi anatomi hepar (hati). Setiap ginjal dilapisi oleh
kapsul yang kokoh dan dikelilingi oleh lapisan lemak. Produk pembuangan
hasil metabolisme yang terkumpul dalam darah di filtrasi di ginjal.
2. Darah sampai ke setiap ginjal melalui arteri renalis yang merupakan
percabangan dari aorta abdominalis. Arteri renalismemasuki ginjal
melalui hilum. Setiap ginjal berisi 1 jutanefron, yang merupakan unit
fungsional ginjal kemudian membentuk urine.
3. Darah masuk ke nefron melalui arteiola aferen. Sekelompok pembuluh darah
ini membentuk jaringan kapiler glomerulus, yang merupakan
tempat pertama filtrasi darah dan pembentukan urine. Apabila dalam urine
terdapat protein yang berukuran besar (proteinuria), maka hal ini merupakan
tanda adanya cedera pada glomelorus. Normalnya glomelorus memfiltrasi
sekitar 125 ml filtrat/menit.
4. Sekitar 99 % filtrat direabsorsi ke dalam plasma, dengan 1 % sisanya
diekskresikan sebagai urine. Dengan demikian ginjal memiliki peran dalam
pengaturan cairan dan eletrolit.
5. Ginjal juga sebagai penghasil hormon penting untuk memproduksi eritrisit,
pengatur tekanan darah dan mineralisasi mineral. Ginjal
memproduksi eritropoietin, sebuah hormon yang terutama dilepaskan dari sel
glomerolus sebagai penanda adanyahipoksia ( penurunan oksigen) eritrosit.
Setelah dilepaskan dari ginjal, fungsi eritropoesis ( produksi dan pematangan
eritrosit ) dengan merubah sel induk tertentu menjadi eritoblast. Klien yang
mengalami perubahan kronis tidak dapat memproduksi hormon ini sehingga
klien tersebut rentan terserang anemia.
6. Renin adalah hormon lain yang diproduksi oleh ginjal berfungsi untuk
mengatur aliran darah pada saat terjadi iskemik ginjal ( penurunan suplai darah
). Fungsi renin adalah sebagai enzim untuk mengubah angiotensinogen (
substansi yang disentesa oleh hati ) menjadi angiotensin I. Kemudian
angiotensi I bersikulasi dalam pulmonal ( paru-paru ), angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II dan angeotensin III. Angeotensin IImenyebabkan
vasokonstriksi pembuluh darah dan menstimulasi pelepasan aldosteron dari
korteks adrenal.
7. Aldesteron menyebabkan retensi air sehingga meningkatkan volume
darah. Angiotensin III mengeluarkan efek yang sama namun dengan derajat
yang lebih ringan. Efek gabungan dari keduanya adalah terjadinya
peningkatan tekanan darah arteri dan aliran darah ginjal.
8. Ginjal juga berfungsi sebagai pengatur kalsium dan fosfat. Ginjal
bertanggungjawab untuk memproduksi substansi mengaktifkan vitamin D.
Klien dengan gangguan fungsi ginjal tidak membuat metabolik vitamin D
menjadi aktif sehingga klien rentan pada kondisi demineralisasi tulang karena
adanya gangguan pada proses absorbsi kalsium.
b. Ureter
1. Ureter membentang pada posisi retroperitonium untuk memasuki kandung
kemih di dalam rongga panggul ( pelvis ) pada sambungan uretrovesikalis.
Dinding ureter dibentuk dari tiga lapisan jaringan. Lapisan dalam, merupakan
membran mukosa yang berlanjut sampai lapisan pelvis renalis dan kandung
kemih. Lapisan tengah merupakan serabut polos yang mentranspor urine
melalui ureter dengan gerakan peristaltis yang distimulasi oleh distensi urine
di kandung kemih. Lapisan luar adalah jaringan penyambung fibrosa yang
menyokong ureter.
2. Gerakan peristaltis menyebabkan urine masuk kedalam kandung kemih dalam
bentuk semburan. Ureter masuk dalam dinding posterior kandung kemih
dengan posisi miring. Pengaturan ini berfungsi mencegah refluks urine dari
kandung kemih ke dalam ureter selama proses berkemih ( mikturisi ) dengan
menekan ureter pada sambungan uretrovesikalis ( sambungan ureter dengan
kandung kemih ).
c. Kandung Kemih
1. Merupakan suatu organ cekung yang dapat berdistensi dan tersusun atas
jaringan otot serta merupakan wadah tempat urine dan ekskresi. Vesica
urinaria dapat menampungan sekitar 600 ml walaupun pengeluaran urine
normal 300 ml. Trigonum ( suatu daerah segetiga yang halus pada permukaan
bagian dalam vesica urinaria ) merupakan dasar dari kandung kemih.
2. Sfingter uretra interna tersusun atas otot polos yang berbentuk seperti cincin
berfungsi sebagai pencegah urine keluar dari kandung kemih dan berada di
bawah kontrol volunter (parasimpatis : disadari ).
d. Uretra
1. Urine keluar dari vesica urinaria melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui
meatus uretra. Uretra pada wanita memiliki panjang 4 – 6,5 cm. Sfingter
uretra eksterna yang terletak sekitar setengah bagian bawah uretra
memungkinkan aliran volunter urine.
2. Panjang uretra yang pendek pada wanita menjadi faktor predisposisi mengalami
infeksi. Bakteri dapat dengan mudah masuk ke uretra dari daerah perineum.
Uretra pada ria merupakan saluran perkemihan dan jalan keluar sel serta
sekresi dari organ reproduksi dengan panjang 20 cm.

(fundamental of nursing hal 1679 – 1681, 2001)


5. Pathway

Supravesikal Vesikal (batu kandung Intravesikal (obstruksi


diabetes militus kemih) kandung kemih)

Kerusakan medulla
spinalis TH12-
L1Kerusakan saraf
simpatis dan
parasimpatis

Otot detrusor penyempitan


melemah uretra
Neuropati (otot
tidak mau
berkontraksi)

Distensi kandung
kemih

Retensi urin

Sumber : http://ikmapimakassar.blogspot.com/2014/11/asuhan-keperawatan-retensi-
urin.html

6. Manisfestasi Klinis
Manifestasi klinis penderita gangguan eliminasi urine,Wartonah. (2006).
1. Tanda gangguan eliminasi urine
1) Retensi Urine
 Ketidakmampuan untuk berkemih
 Ketidaknyamanan daerah pubis
 Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang
 Distensi dan ketidak sanggupan untuk berkemih
2) Inkontinesia Urine
 pasien tidak dapat menahan ke inginan BAK sebelum
sampai di WC
 pasien sering ngompol
3) Polyuria
 Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal,
seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake
cairan
 Tanda-tanda lain adalah : polydipsi, dehidrasi dan
hilangnya berat badan.

7. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan medis pada gangguan eliminasi urin, Hopper (2007).

1. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI)

1. Cara kerja: Menghambat pembentukan Angiotensin II sehingga


menurukan retensi garam dan air.
2. Nama obat: Captopril (Capoten), Enalapril (Vasotec), Fosinopril
(Monopril), Lisinopril (Prinivil, Zestril), Moexipril (Univasc), Perindopril
(Aceon), Quinapril (Accupril), Ramipril (Altace), Trandolapril (Mavik)
3. Efek samping: Batuk, hipotensi, ruam, proteinuria, hiperkalemia,
angioedema (dyspnea, wajah bengkak), neutropenia (dengan kaptopril).
4. Implikasi keperawatan:
1. Periksa tekanan darah sebelum memberikan obat.
2. Pantau WBC dengan kaptopril.
3. Ambil kaptopril dan moexipril pada saat perut kosong (1 jam sebelum
atau 2 jam sesudah makan).
4. Ajarkan pasien untuk melaporkan perkembangan batuk, sehingga obat
dapat diubah jika ada perubahan.
5. Ajarkan pasien untuk memeriksa tekanan darah setiap minggunya dan
melaporkan perubahan ke dokter.
6. Ajarkan pasien untuk melaporkan jika terjadi ruam, sakit tenggorokan
/ mulut, demam, pembengkakan tangan / kaki / wajah / lidah, kesulitan
bernapas / menelan, nyeri dada atau detak jantung tidak teratur.
2. Diuretik
1. Cara kerja: Menaikkan kecepatan pembentukan urin dan menaikkan
eksresi natrium dan air serta menghancurkan garam yang tersimpan di
dalam tubuh.
2. Nama obat: Bumetanide, Furosemide, Torsemide
3. Efek samping: Hipokalemia, hipokloremia, hypomagnesemia,
hiponatremia, dehidrasi, hipotensi
4. Implikasi keperawatan:
1. Jangan memberikan loop atau diuretik thiazide pada pasien sulfa-
alergi.
2. Mengambil tekanan darah dan denyut nadi sebelum memberikan obat.
3. Pantau kadar elektrolit (khususnya tingkat kalium dan bagi mereka
pada digitalis), dan status cairan (bobot harian, asupan, output, haus,
mulut kering, lemah, oliguria) seluruh terapi.
4. Mengelola gaya hidup pasien (biasanya dalam AM) untuk
menghindari nokturia.
3. Angiotensin II Receptor Inhibitor
1. Cara kerja: Memblok aksi angiotensin II
2. Nama obat: Kaptopril, Enalapril, Lisinopril, Benazepril, Fosinopril,
Moexipril, Quianapril
3. Efek samping: Sakit kepala, pusing, angioedema (dyspnea, pembengkakan
wajah)
4. Implikasi Keperawatan:
1. Mengambil tekanan darah dan denyut nadi sebelum memberikan obat.
2. Ajarkan untuk mengubah posisi secara perlahan untuk mengurangi
hipotensi ortostatik.
3. Ajarkan untuk melaporkan apabila terjadi ruam, sakit tenggorokan /
mulut, demam, pembengkakan tangan / kaki / wajah / lidah, kesulitan
bernapas / menelan, nyeri dada atau detak jantung tidak teratur.
4. Penyekat reseptor beta adrenergic
1. Cara kerja: Menurunkan angiotensin II sehingga menghambat sekresi
rennin dari sel jukstaglomerular ginjal
2. Nama obat: Propanolol, Metoprolol, Atenolol, Concept: Betaxolol,
Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol
3. Efek samping: Pusing, hipotensi, hiperglikemia, retensi cairan, diare,
bradikardia, impotensi, bronkospasme (carvedilol)
4. Implikasi keperawatan:
1. Hindari karvedilol pada pasien dengan asma (menyebabkan
bronkospasme).
2. Periksa denyut jantung dan tekanan darah apikal. Jika denyut jantung
di bawah 50 atau tekanan darah sistolik di bawah 100, hubungi dokter
sebelum memberikan obat.
3. Ajarkan untuk mengecek denyut nadi harian dan tekanan darah dua
kali seminggu dan menghubungi dokter sebelum mengkonsumsi obat
jika denyut nadi di bawah 60.
4. Ajarkan untuk mengubah posisi secara perlahan untuk mengurangi
hipotensi ortostatik.
8. Penatalaksanaan Keperawatan

Fundamental Keperawatan (3-Vol Set) 7th Edition

1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
a) Pola berkemih
b) Gejala dari perubahan berkemih
c) Factor yang mempengaruhi berkemih
b. Pemeriksaan Fisik
a) Abdomen
Pembesaran, pelebaran darah vena, distensi bladder, pembesaran
ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.n
b) Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya secret dari meatus, keadaan atrofi
jaringan vagina.
c) Genetalia laki-laki
d) Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
c. Intake dan Output Cairan
a) Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam)
b) Kebiasaan minum dirumah
c) Intake: cairan infus, oral, makanan, NGT.
d) Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan
cairan.
e) Output urin dari urinal, cateter bag, drainage uterestomy, sistostomi.
f) Karakteristik urine: warna, kejernihan, bau, kepekatan.
d. Pemeriksaan Diagnostic
a) Pemeriksaan urine (urinalisis) :
 Warna (N: jernih kekuningan)
 Penampilan (N: jernih)
 Bau (N:beraroma)
 pH (H: 4,5-8,0)
 Berat jenis (N: 1,005-1,030)
 Glukosa (N:negative)
 Keton (N: negative)
b) Kultur urine (N: kuman pathogen negative)
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa NANDA (2018-2020)

1. Hambatan eliminasi urin berhungan dengan penyebab multiple


ditandai dengan anyang anyangan
2. Retensi urine berhubungan dengan sumbatan saluran perkemihan
3. Inkontenensia urin berlanjut berhubungan dengan disfungsi neurologis

3. Intervensi

No Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)


Dx Keperawatan

Setelah dilakukan
1. Hambatan eliminasi 1. Monitor output
tindakan
urin berhungan dan input cairan
keperawatan selama
dengan penyebab tiap 4 jam
.......x24 jam,
multiple ditandai 2. Manajemen
diharapakan
dengan anyang intake cairan
berkemih menjadi
anyangan pasien
3. Anjurkan klien
untuk banyak
lancar dengan minum air putih
kriteria: minimal 2,5 liter
perhari
1.Aliran urin lancar
2.Klien berkemih
dengan jumlah
normal (500-1500
perhari)
3.Menunjukan pola
eliminasi urin
yang normal yaitu
4 jam sekali
berkemih

Setelah dilakukan
2. Retensi urine 1. Monitor output
tindakan
berhubungan dengan dan input cairan
keperawatan selama
sumbatan saluran tiap 4 jam
.......x24 jam,
perkemihan 2. Monitor
diharapakan
keadaan bladder
berkemih menjadi
setiap 2 jam
tuntas dengan
3. Manajemen
kriteria:
intake cairan
1.Pasien dapat 4. Lakukan latihan
mengontrol pergerakan dan
pengeluaran urin lakukan latihan
relaksasi ketika
duduk berkemih
tiap 4 jam 5. Ajarkan teknik
(4cc/kg/4jam latihan kegel
exercise
2. Tanda dan gejala 6. Kolaborasi
retensi urin tidak dalam
ada ( rasa ingin pemasangan
buang air kecil kateter
yang mendesak, 7. Kolaborasi
tetapi urine tidak tindakan operasi
bisa keluar) pengambilan
sumbatan

Setelah dilakukan 1. Pantau pola


3. Inkontenensia urin
tindakan eliminasi urin
berlanjut
keperawatan selama 2. Lakukan
berhubungan dengan
…x 24 jam perawatan
disfungsi neurologis
diharapkan klien kateter
dapat berkemih 3. Ajarkan klien
dengan normal lagi untuk segera
dengan kriteria: berespon
terhadap
1. Mampu keinginan
mengidentifikasi berkemih
keinginan 4. Kolaborasi obat
berkemih dengan dokter
2. Klien mampu untuk mengatasi
melakukan masalah
eliminasi urin kontenensia urin
secara mandiri
tanpa bantuan
orang lain
DAFTAR PUSTAKA

NANDA International.2017. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-


2020,Ed.11. Jakarta: EGC.
Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. 2004.Nursing Out Comes (NOC), United
States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press.
Muslim, H. M., 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. EGC, Jakarta
Grace, Pierce A. dan Neil R. Borley. At a Glance Ilmu Bedah . Alih Bahasa dr. Vidia
Umami. Editor Amalia S. Edisi 3. Jakarta: Erlangga, 2006.
Sjamsuhidajat. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta : EGC
Tarwoto & Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan.
Edisi Ke-3. Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P.A, Perry, A.G.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata
Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005
Hidayat, A. A. A. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep
dan Proses Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
Patricia Ann Potter; Anne Griffin Perry; Jackie Crisp; Catherine Taylor.2001, Potter
and Perry's fundamentals of nursing.Sydney : Mosby

Williams, L. S., & Hopper, P. D. (2007). Understanding Medical Surgical


Nursing (3rd Edition ed.). Philadelphia: F. A. Davis Company.

Ns.Eko Prabowo.2014.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.


Yogyakarta: Medical Book