Anda di halaman 1dari 63

Skenario A Blok 6 2017

Lili, remaja perempuan berusia 11 tahun, mengalami keluhan nyeri perut bagian bawah.
Sejak 1 hari lalu tampak keluar darah berwarna merah kecoklatan dari vagina yang belum pernah
dialami sebelumnya. Lili mengeluh pada ibunya bahwa nyeri perut dibagian bawah menjalar
sampai ke pinggang. Keluhan nyeri ini membuatnya tidak masuk sekolah, dan aktivitasnya
menjadi terganggu. Ibunda Lili membawanya untuk konsultasi.
Dokter menanyakan apakah ada riwayat benturan pada perut bagian bawah atau riwayat
jatuh sebelumnya. Menurut Lili, dia tidak pernah jatuh atau mengalami benturan pada bagian
bawah perutnya. Dokter melakukan pemeriksaan fisik terhadap Lili:
- Kesadaran: Compos Mentis - Denyut Nadi: 86x/menit
- Tekanan darah: 110/70 mmHg - Temperatur axila: 37,2°C
- Laju Respirasi: 20x/menit
Pemeriksaan khusus:
- Kepala:
o Mata: konjungtiva tak anemis
o Lain-lain dalam batas normal
- Thoraks
o Paru dalam batas normal
o Jantung dalam batas normal
o Payudara tampak menonjol dan mulai membentuk budding
- Abdomen:
o Inspeksi: tidak tampak hematom/jejas dan ekskoriasis
o Hepar dan lie tidak teraba, bising usus normal.
- Ekstremitas: dalam batas normal, refleks fisiologis (+) normal, refleks
patologis (-)
- Axilla: tampak rambut-tambut halus
- Genitalia: mons pubis tampak rambut-tambut halus
Dokter menjelaskan bahwa Lili mengalami menarche dan biasanya menstruasi sering disertai
dismenorrhea. Dokter memberikan obat penghilang nyeri dan edukasi pada remaja ini.

1
A. Klarifikasi Istilah
1. Perut bagian bawah : Regio Inguinal dextra, sinistra, dan hipogastic
2. Konsultasi : Perundingan antara pemberi dan penerima layanan
kesehatan yang bertujuan mencari penyebab
timbulnya penyakit dan menetukan cara
pengobatannya.
3. Compos mentis : Kesadaran normal, sadar sepenuhnya dan dapat
menjawab semua pertanyaan disekelilingnya
4. Axila : Istilah medis untuk ketiak(lipatan tubuh manusia
yang menghubungkan lengan atas dan bahu)
5. Konjungtiva tak anemis: Suatu keadaan dimana matanya normal, tidak
kekurangan darah
6. Budding : Payudara dan papilla menonjol sebagai gundukan
kecil bersama dengan peningkatan diameter areolar
7. Hematom : Penumpukan darah diluar pembuluh darah akibat
rusaknya pembuluh darah
8. Eksoriasis : lecet-lecet atau goresan pada kulit
9. Bising usus : Suara gemuruh atau menggeram yang ada di usus
akibat kontraksi otot peristaltik
10. Refleks fisiologis : Gerak refleks yang muncul pada orang normal
11. Mons pubis : Alat reproduksi wanita yang berbentuk menonjol
dan membulat pada bagian symphisis pubis
12. Menarche : Haid pertama yang terjadi akibat sistem hormonal
yang kompleks
13. Dysmenorrhea : Nyeri pada daerah panggul akibat menstruasi

B. Identifikasi Masalah
1. Lili, remaja 11 tahun, mengalami nyeri perut dibagian bawah yang menjalar
sampai ke pinggang tetapi tidak terdapat riwayat benturan sebelumnya.(****)
2. Sejak 1 hari yang lalu tampak keluar darah berwarna merah kecoklatan dari
vagina yang belum pernah dialami sebelumnya.(**)

2
3. Dari pemeriksaan fisik dan khusus didapatkan:
Pemeriksaan fisik:
- Kesadaran: Compos Mentis - Denyut Nadi: 86x/menit
- Tekanan darah: 110/70 mmHg - Temperatur axila: 37,2°C
- Laju Respirasi: 20x/menit
Pemeriksaan khusus:
- Kepala:
 Mata: konjungtiva tak anemis
 Lain-lain dalam batas normal
- Thoraks
 Paru dalam batas normal
 Jantung dalam batas normal
 Payudara tampak menonjol dan mulai membentuk budding
- Abdomen:
 Inspeksi: tidak tampak hematom/jejas dan ekskoriasis
 Hepar dan lien tidak teraba, bising usus normal.
- Ekstremitas: dalam batas normal, refleks fisiologis (+) normal, refleks
patologis (-)
- Axilla: tampak rambut-tambut halus
- Genitalia: mons pubis tampak rambut-tambut halus (*)
4. Dokter menjelaskan Lili mengalami menarche dan disertasi dysmenorrhea
serta diberikan obat penghilang nyeri dan edukasi pada remaja ini.(***)

C. Analisis Masalah
1. Lili, remaja 11 tahun, mengalami nyeri perut dibagian bawah yang menjalar
sampai ke pinggang tetapi tidak terdapat riwayat benturan sebelumnya.(****)

3
a. Bagaimana topografi perut bagian bawah?
Hipokhondriaka
Hipokhondriaka kanan Epigastrium
kiri

• Stomach
• Right lobe of liver • Spleen
•Pyloric end of stomach
• Gallbladder • Tail of pancreas
• Portion of duodenum •Duodenum •Pancreas • Splenic flexure
• Hepatic flexure of colon • Portion of right •Portion of liver of colon • Upper
kidney pole of left
• Suprarenal gland kidney •
Suprarenal gland

Lumbal kanan Umbilikal Lumbal kiri


Descending colon
Lower half of left
•Omentum •Mesentery
•Ascending colon •Lower half of right kidney Portions
•Lower part of
kidney of jejunum and
duodenum •Jejunum
•Portion of duodenum and jejunum ileum
and ileum

Inguinal kanan Hipogastrik (pubik) Inguinal kiri

• Cecum • Ileum • Sigmoid colon


• Appendix • Left ureter
• Bladder
• Lower end of ileum • Right ureter • Left spermatic
• Uterus (in pregnancy)
• Right spermatic cord cord • Left ovary

Kavum abdomen meluas mulai dari daerah di bawah diaphragma


yang terlindung oleh kosta. Di daerah yang terlindung ini, terletak sebagian
besar dari hepar, ventrikuli, dan seluruh bagian dari lien yang normal.
Organ-organ pada daerah terlindung tersebut tidak dapat diraba (dipalpasi),
tetapi dengan perkusi dapat diperkirakan adanya organ-organ tersebut.
Sebagian besar dari kandung empedu normal terletak disebelah dalam dari

4
hepar, sehingga hampir tidak dapat dibedakan. Duodenum dan pancreas
terletak di bagian dalam kuadran atas abdomen, sehingga dalam keadaan
normal tidak teraba. Ginjal adalah organ yang terletak di daerah posterior,
terlindung oleh tulang rusuk, sudut costovertebral (sudut yang dibentuk oleh
batas bawah kosta ke- 12 dengan processus transverses vertebra lumbalis)
merupakan daerah untuk menentukan ada tidaknya nyeri ginjal.
b. Organ apa saja yang mengalami nyeri tersebut?
Organ yang terkena nyeri yaitu Rahim, organ yang digunakan
untuk buang air besar, buang air kecil, otot-otot dasar panggul dan
daerah sekitar tulang belakang sebelah bawah

“Nyeri haid berpangkal pada mulainya proses menstruasi itu


sendiri yang merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi
otot-otot rahim tersebut membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi
berkurang yang berakibat meningkatnya aktivitas rahim untuk memenuhi
kebutuhannya akan aliran darah yang lancar, juga otot-otot rahim yang
kekurangan darah tadi akan merangsang ujung-ujung syaraf sehingga
terasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di rahim, namun juga
terasa di bagian-bagian tubuh lain yang mendapatkan persyarafan yang
sama dengan rahim. Oleh karma itulah maka rasa tidak nyaman juga
dirasakan di bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk buang air
besar, buang air kecil, maupun otot¬-otot dasar panggul dan daerah di
sekitar tulang belakang sebelah bawah. Hal ini disebut juga sebagai
nyeri rujukan (referred pain). Peningatan kadar prostaglandin (PG)
penting peranannya sebagai penyebab terjadinya Dysmenorrhea. PG alfa
sangat tinggi dalam endometrium, miometrium dan darah haid wanita
yang menderita Dysmenorrhea primer. PG menyebabkan peningkatan
aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf terminal rangsang nyeri.
Kombinasi antara pemngkatan kadar PG dan peningkatan kepekaan
miometrium menimbulkan tekanan infra uterus sampai 400 mm Hg dan
menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu

5
disimpulkan bahwa PG yang dihasilkan uterus berperan dalam
menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Selanjutnya kontraksi
miometrium yang disebabkan oleh PG akan mengurangi aliran darah,
sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan
timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG dilepaskan dalam jumlah berlebihan
ke dalam peredaran darah, maka selain Dysmenorrhea timbul pula
pengaruh umum lainnya seperti diare, mual, muntah (Genie, 2009).”

c. Bagaimana hubungan antara usia Lili dengan kasus tersebut?


Perbaikan kondisi sosial ekonomi yang terjadi pada abad ke-20
menghasilkan permulaan waktu pubertas pada anak-anak menjadi lebih
awal, ditandai dengan usia menarche yang semakin dini.1 Menurut World
Health Organization (WHO), menarche yang makin dini memungkinkan
remaja putri lebih cepat bersentuhan dengan kehidupan seksual sehingga
kemungkinan remaja untuk hamil dan menjadi seorang ibu semakin besar.
Kesehatan remaja memiliki efek antargenerasi. Sebaliknya, menarche
yang lambat juga berdampak terhadap lambatnya kematangan fisik, baik
hormon maupun organ tubuh.
Bayi yang lahir dari orangtua yang masih remaja, belum
matangnya organ reproduksi, memiliki risiko lebih tinggi menjadi
underweight dan bahkan akan mengalami kematian, di samping juga akan
menderita kerugian sosial ekonomi yang dihadapi oleh orangtuanya.
Selain itu juga, menarche yang lambat dalam jangka panjang akan
meningkatkan risiko perempuan terserang osteoporosis karena lambatnya
produksi estrogen yang akan mempengaruhi penentuan massa tulang.
Dari sisi psikososial, datangnya menarche, baik tepat waktu maupun tidak
akan membuat remaja putri menanggung risiko bila tuntutan konteks
sosial tertentu tidak sesuai dengan karakteristik fisik dan social mereka.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia menarche terjadi lebih
cepat.

6
Di Indonesia, penelitian Yulianto menunjukkan bahwa responden
dengan status gizi normal (indeks TB/U) sebagian besar menarche pada
usia <12,5 tahun (62,26 %) dan responden dengan status gizi stunting
sebagian besar pada usia >12,5 tahun (94,12 %). Terdapat perbedaan
bermakna usia menarche pada responden status gizi normal dan stunting.
Berdasarkan data Riskesdas 2010 masalah stunting di Indonesia masih
tinggi, yaitu pada anak umur 6-12 tahun adalah 35,6% dan pada anak
umur 13-15 tahun adalah 35,2%.7 Usia menarche juga dipengaruhi oleh
status ekonomi keluarga.
Umur menarche 6-8 tahun sudah terjadi pada sebagian kecil
(<0,5%) anak-anak di 17 provinsi, sebaliknya umur menarche 19-20
tahun merata terdapat di seluruh provinsi. Penurunan usia menarche
juga terjadi pada setiap tahun sesuai penelitian Toanubun pada
tahun 2008 terhadap 58 orang siswi SMP di Tanjung Morawa
menemukan rata-rata usia Menarche adalah 12,07 tahun, penelitian
Derina tahun 2011 menunjukkan rata-rata usia menarche remaja putri di
SMPN 155 Jakarta adalah 11,07 tahun, dan juga penelitian Susanti
tahun 2012 di SMPN 30 Semarang bahwa rerata kelompok kasus
dengan nilai usia menarche 10,07 tahun. Menurunnya usia menarche
bisa berpengaruh terhadap pernikahan dini pada remaja putri. Dengan
semakin mudanya usia pernikahan remaja putri, maka semakin muda pula
kemungkinan remaja untuk hamil dan hal tersebut dapat berdampak pada
perkembangan dan pertumbuhan diri remaja putri karena kondisi hamil
tubuh seorang ibu juga memerlukan banyak zat gizi untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin, sehingga akan berdampak
adanya perebutan zat gizi yang masuk dalam tubuh ibu dengan zat
gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin (Llwellyn, 2009).

2. Dokter menjelaskan Lili mengalami menarche dan disertasi dysmenorrhea


serta diberikan obat penghilang nyeri dan edukasi pada remaja ini.(***)
a. Bagaimana fisiologi sistem reproduksi wanita?

7
A. Genitalia Interna
 Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi
peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat
implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan
adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi
konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan
serviks uteri.
 Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan /
menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri
dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan
glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu
portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum
(luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks,
dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan
(nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah
pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis
melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina
ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks
yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan
berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas
lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
 Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat
pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan
muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam
arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan
runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium.

8
Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior,
fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
 Ligamenta penyangga uterus
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum
cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium,
ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina,
ligamentum rectouterina.
 Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca
interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.
 Salping / Tuba Falopii
Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri.
Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan
transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba
terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta
mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars
isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria,
dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda
pada setiap bagiannya (gambar).
 Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter
uterotuba pengendali transfer gamet.
 Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula /
infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi
implantasi di dinding tuba bagian ini.
 Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada
ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi
“menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan
ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.

9
 Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada
usus).
 Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga
peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai
jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari
korteks dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel
menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar
epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan
sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel,
progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan
pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae
“menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium
terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum
infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari
cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
B. Persarafan pada Sistem Genitalia Femina
Organ genitalia wanita memiliki saraf yang sangat banyak,
misalnya klitoris yang memiliki sekitar 8.000 saraf. Ketika terjadi
orgasme, maka rangsangan tersebut akan dikirimkan ke saraf
belakang. Berikut ini adalah saraf-saraf yang terkait dengan hal
tersebut
 Saraf hipogastrik, membantu mentransmisikan rangsangan dari uterus
dan serviks pada wanita dan dari prostat pada pria.
 Saraf pelvis, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari vagina
dan serviks pada wanita dan dari rektum untuk kedua jenis kelamin.
 Saraf pudendal, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari
klitoris pada wanita dan dari skrotum dan penis pada pria.

10
 Saraf vagus, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari serviks,
uterus, dan vagina pada wanita.

b. Bagamana mekanisme menarche?


Menarche sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian
perubahan yang terjadi pada seorang gadis sedang menginjak dewasa.
Perubahan timbul karena serangkaian interaksi antara beberapa kelenjar
di dalam tubuh. Pusat pengendalian yang utama adalah bagian otak,
disebut hypothalamus, yang bekerja sama dengan kelenjar bawah otak
mengendalikan urutan - urutan rangkaian perubahan itu. Oleh sebab yang
hingga kini belum jelas, empat tahun sebelum menarche.
Hypothalamus sudah mengeluarkan zat yang disebut faktor
pencetus. Faktor pencetus bergerak melalui pembuluh darah kelenjar
bawah otak, dan menyebabkan kelenjar itu mengeluarkan hormon -
hormon tertentu. Salah satu ialah hormon pertumbuhan yang
menyebabkan pertumbuhan lebih cepat menjelang gadis.
Pertumbuhan yang cepat ini dimulai kira - kira 4 tahun sebelum
menarche, terutama dalam dua tahun yang pertama, dan melambat
datangnya menarche datang. Sekitar usia 12 tahun, hormon pencetus
yang lain, hormon pencetus gonadtrophin (GnRH) mulai dihasilkan
kelenjar pituitary secara bergelombang, yang terjadi setiap 90 menit.
Gelombang GnRH mempunyai efek sangat besar pada kematangan
seksual seorang gadis remaja. Hormon itu mencapai kelenjar pituitary
dan menyebabkan sel - sel istemewa tertentu menghasilkan dua hormon
mempengaruhi indung telur berisi cairan yang dinamai folikel. Satu di
antara dua hormon itu bertugas mempengaruhi folikel, dengan
merangsang pertumbuhannya, sehingga diberi nama hormone perangsang
folikel (Follicle Stumulating Hormone atau FSH). Pada mulanya folikel
yang tumbuh sedikit. Sementara itu, sel - sel yang mengelilinginya
membuat seorang anak perempuan memiliki sifat wanita setelah remaja.
Folikel - folikel yang terangsang tadi selama sebulan menghasilkan

11
hormon esterogen, dan kemudian mati. Tetapi pada saat folikel
rombongan pertama mati, sejumlah folikel lain sudah mulai di rangsang
FSH dan memproduksi esterogen.
Semangkin lama, semakin folikel yang di rangsang oleh FSH
dalam tiap bulannya (kira - kira antara 12 - 20 folikel), sehingga jumlah
esterogen yang terbentuk banyak. Esterogen juga mempengaruhi
pertumbuhan saluran susu di payudara, sehingga payudara membesar.
Juga dapat merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan
vagina, sehingga membesar. Di vagina, esterogen membuat dinding kian
tebal dan cairan vagina bertambah banyak. Esterogen juga dapat
mengakibatkan tertimbunnya lemak didaerah pinggul wanita juga dapat
memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh
kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa remaja tidak setinggi anak
laki - laki yang sama umurnya.
Kadar esterogen yang beredar bersama darah semakin lama
semakin banyak. Masa menarche oun semakin dekat, kenaikan esterogen
merangsang lapisan dalam rongga rahim yang disebut endometrium
sehingga menebal. Tetapi juga menekan kelenjar bawah otak sehingga
produksi FSH berkurang. Dengan kadar hormon perangsang folikel
(FSH) mulai menurun, pertumbuhan folikel melambat. Akibatnya,
produksi esterogen pun menurun. Pembuluh darah yang mengaliri lapisan
dalam rahim mengerut dan putus, sehingga terjadi perdarahan didalam
rahim. Endometrium ikut runtuh,berbentuk cairan berupa darah dan sel -
sel endometrium yang terkumpul di rahim kemudian mengalir melalui
vagina, mulailah terjadi haid pertama yaitu menarche
c. Bagamana mekanisme dysmenorrhea?
1. Faktor Kejiwaan
Wanita mempunyai emosional yang tidak stabil, sehingga
mudah mengalami Dysmenorrhea primer. Faktor kejiwaan,
bersamaan dengan Dysmenorrhea akan
menimbulkan gangguan tidur (insomnia).

12
2. Faktor Konstitusi
Faktor konstitusi berhubungan dengan faktor kejiwaan yang
dapat menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktor konstitusi antara
lain: anemia, penyakit menahun dan sebagainya.
3. Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
Teori tertua menyatakan bahwa Dysmenorrhea primer
disebabkan oleh stenosis kanalis servikalis, akan tetapi sekarang
sudah tidak lagi. Mioma submukosum bertangkai polip endometrium
dapat menyebabkan Dysmenorrhea karena otot-otot uterus
berkontraksi kuat untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
4. Faktor Alergi
Teori ini dikemukakan setelah adanya asosiasi antara
Dysmenorrhea primer dengan urtikaria, migren atau asma bronkial.

5. Faktor Neurologis
Uterus dipersyarafi oleh sistem oleh sistem syaraf otonom yang
terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate
mengemukakan bahwa Dysmenorrheaa ditimbulkan oleh
ketidakseimbangan pengendalian sistem syaraf otonom terhadap
miometrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan
oleh syaraf simpatis sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus
dan ostium uteri internum menjadi hipertonik.
6. Vasopresin
Kadar vasopresin pada wanita Dysmenorrheaa primer sangat
tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa Dysmenorrheaa. Pemberian
vasopresin pada saat menstruasi menyebabkan meningkatnya
kontraksi uterus, menurunnya aliran darah pada uterus, dan
menimbulkan nyeri. Namun, hingga kini peranan pasti vasopresin
dalam mekanisme terjadinya Dysmenorrheaa masih belum jelas.

7. Leukotren

13
Helsa (1992), mengemukakan bahwa leukotren meningkatkan
sensitivitas serabut nyeri pada uterus. Leukotren dalam jumlah besar
ditemukan dalam uterus wanita dengan Dysmenorrheaa primer yang
tidak memberi respon terhadap pemberian antagonis prostaglandin.

8. Prostaglandin
Penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa
prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya
dysmenorrhea. Prostaglandin yang berperan di sini yaitu
prostaglandin E2 (PGE2) dan F2α (PGF2α). Pelepasan prostaglandin
di induksi oleh adanya lisis endometrium dan Universitas Sumatera
Utara rusaknya membran sel akibat pelepasan lisosim. Prostaglandin
menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf
terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar
prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan
tekanan intrauterus hingga 400 mmHg dan menyebabkan kontraksi
miometrium yang hebat. Selanjutnya, kontraksi miometrium yang
disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah,
sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan
timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin dilepaskan dalam
jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain
dysmenorrhea timbul pula diare, mual, dan muntah.
9. Faktor hormonal

Umumnya kejang atau kram yang terjadi pada dysmenorrhea


primer dianggap terjadi akibat kontraksi uterus yang berlebihan.
Tetapi teori ini tidak menerangkan mengapa dysmenorrhea tidak
terjadi pada perdarahan disfungsi anovulatoar, yang biasanya disertai
tingginya kadar estrogen tanpa adanya progesteron. Kadar
progesteron yang rendah menyebabkan terbentuknya PGF2α dalam
jumlah banyak. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi korpus
luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom dan

14
juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang berperan
sebagai katalisator dalam sintesis prostaglandin melalui perubahan
fosfolipid menjadi asam archidonat. Peningkatan prostaglandin pada
endometrium yang mengikuti turunnya kadar progesteron pada fase
luteal akhir menyebabkan peningkatan tonus miometrium dan
kontraksi uterus.

d. Hormone apa saja yang mempengaruhi proses menstruasi?


1. Gonadotropin
Bertanggung jawab untuk pembentukan hormon progesteron dan
estrogen
2. Estrogen
Dihasilkan oleh ovarium. Fungsinya pembentukan ciri-ciri
perkembangan seksual wanita, yaitu pemmbentukan payudara, lekuk
tubuh, dan rambut kemaluan.
3. Progesteron
Mempersiapkan tubuh untuk menerima kehamilan
4. FSH (folikel stimulating hormon)
Berfungsi dalam pengeluaran ovum
5. LH (luteinizing hormon)
Merupakan pencetus terjadinya ovulasi atau masa subur
6. Androgen adrenal
Merangsang kelenjar keringat berlebihan yang menyebabkan
munculnya jerawat.

15
Keterangan: Selama fase folikular(1), folikel ovarium(2)
mengeluarkan estrogen dan progesteron(3). Kemudian terjadi
peningkatan terhadap kadar Estrogen(3), akan menghambat
sekresi FSH yang turun selama fase folikular(4) tetapi akan
menekan produksi LH yang meningkat(7). Ketika produksi
Estrogen sampai puncak(8) akan memicu kenaikan LH (9)
sehingga terjadi ovulasi(10), kemudian sekresi estrogen turun
setelah ovulasi (11) dan diikuti pembentukan korpus luteum(12)
sehingga memicu kenaikan progesteron yang lebih tinggi
dibandingkan estrogen(13&14). Selama Fase Luteal pada siklus
Ovarium(15) Progesteron akan menghambat kuat FSH dan
LH(16&17) kemudian Korpus luteum berdegenerasi(18). Jika
Korpus luteum berdegenerasi, fase folikular uterus baru (1,2) dan
fase haid uterus (23) kembali dimulai.

16
e. Bagaimana mekanisme obat penghilang rasa nyeri pada kasus ini?
Obat-obatan yang dapat membantu mengurangi nyeri haid antara lain:
analgetika, hormonal, anti prostaglandin.
 Analgetika, Analgetika digunakan untuk mengurangi nyeri. Jenis
analgetika untuk nyeri ringan antara lain: aspirin, asetaminofen,
propofiksen. Sedangkan jenis analgetika untuk nyeri berat antara
lain: prometazin, oksikodon, butalbital.
Obat analgetik bekerja di dua tempat utama, yaitu di
perifer dan sentral. Golongan obat AINS bekerja diperifer dengan
cara menghambat pelepasan mediator sehingga aktifitas enzim
siklooksigenase terhambat dan sintesa prostaglandin tidak terjadi.
Sedangkan analgetik opioid bekerja di sentral dengan cara
menempati reseptor di kornu dorsalis medulla spinalis sehingga
terjadi penghambatan pelepasan transmitter dan perangsangan ke
saraf spinal tidak terjadi.
Prostaglandin merupakan hasil bentukan dari asam
arakhidonat yang mengalami metabolisme melalui
siklooksigenase. Prostaglandin yang lepas ini akan menimbulkan
gangguan dan berperan dalam proses inflamasi, edema, rasa nyeri
lokal dan kemerahan (eritema lokal). Selain itu juga prostaglandin
. meningkatkan kepekaan ujung-ujung saraf terhadap suatu
rangsangan nyeri (nosiseptif).
Enzim siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang
mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Obat
AINS memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi
mediator prostaglandin, dimana hal ini menghasilkan kedua efek
yakni baik yang positif (analgesia, antiinflamasi) maupun yang
negatif (ulkus lambung, penurunan perfusi renal dan perdarahan).
Aktifitas COX dihubungkan dengan dua isoenzim, yaitu
ubiquitously dan constitutive yang diekspresikan sebagai COX-1
dan yang diinduksikan inflamasi COX-2. COX-1 terutama terdapat

17
pada mukosa lambung, parenkim ginjal dan platelet. Enzim ini
penting dalam proses homeostatik seperti agregasi platelet,
keutuhan mukosa gastrointestinal dan fungsi ginjal. Sebaliknya,
COX-2 bersifat inducible dan diekspresikan terutama pada tempat
trauma (otak dan ginjal) dan menimbulkan inflamasi, demam,
nyeri dan kardiogenesis. Regulasi COX-2 yang transien di medulla
spinalis dalam merespon inflamasi pembedahan mungkin penting
dalam sensitisasi sentral.
 Hormonal, Pengobatan hormonal untuk meredakan
Dysmenorrhea, dan lebih tepat diberikan pada wanita yang ingin
menggunakan alat KB berupa pil. Jenis hormon yang diberikan
progestin, pil kontrasepsi (estrogen rendah dan progesteron
tinggi). Pemberian pil dari hari 5-25 siklus haid dengan dosis 5-10
mg/hari. Progesteron diberikan pada hari ke 16 sampai ke 25
siklus haid, setelah keluhan nyeri berkurang.
 Anti Prostaglandin, Non-steroidal anti-inflammatory drugs
(NSAIDs) yang menghambat produksi dan kerja prostaglandin
digunakan untuk mengatasi Dysmenorrhea primer. NSAIDs tidak
boleh diberikan pada wanita hamil, penderita dengan gangguan
saluran pencernaan, asma dan alergi terhadap jenis obat anti
prostaglandin.

f. Bagaimana edukasi bagi remaja pada kasus ini?


1. MENGENALKAN PERBEDAANLAWAN JENIS
Jelaskan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang
memiliki perbedaan jenis kelamin. Hal ini yang menyebabkan
beberapa hal menjadi berbeda, seperti cara berpakaian, gaya rambut,
cara buang air kecil. Terangkan bahwa anak laki-laki jika sudah besar
akan jadi ayah dan anak perempuan akan menjadi ibu. Tugas utama
ayah adalah mencari nafkah, walaupun harus tetap memperhatikan
keluarga. Adapun tugas utama ibu adalah mengatur rumah tangga dan

18
keluarga. Namun, tidak menutup kemungkinan seorang ibu membantu
ayah dalam mencukupi kebutuhan. Dengan demikian, anak bisa
memahami peran jenis kelamin dengan baik dan benar.
2. MEMPERKENALKAN ORGAN SEKS
Caranya cukup mudah, misalnya dengan menggunakan boneka
ataupun ketika mandi. Perkenalkan anak secara singkat organ tubuh
yang dimiliki, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, serta jangan
lupa penis dan vagina. Terangkan juga fungsi dari anggota tubuh dan
cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman penyakit.
3. MENGHINDARI ANAK DARI KEMUNGKINAN PELECEHAN
SEKSUAL
Tegaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan
secara sembarangan. Tumbuhkan rasa malu pada anak, misalnya
ketiika keluar dari kamar mandi hendaknya mengenakan pakaian atau
handuk penutup. Selain itu, jika ada yang menyentuhnya, segera
laporkan pada orang tua atau guru di sekolah. Anak boleh teriak
sekeras-kerasnya dalam hal ini untuk melindungi dirinya.
4. INFORMASIKAN TENTANG ASAL-USUL ANAK
Untuk anak usia prasekolah, bisa diterangkan bahwa anak berasal
dari perut ibu, misalnya sambil menunjuk perut ibu atau pada ibu yang
sedang hamil. Sejalan dengan usia, anak boleh diterangkan bahwa
seorang anak berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh sperma yang
berasal dari ayah. Tekankan bahwa pembuahan boleh atau bisa
dilakukan setelah wanita dan pria menikah.
5. PERSIAPAN MENGHADAPI MASA PUBERTAS
Informasikan bahwa seiring bertambahnya usia, anak akan mengalami
perubahan dan perkembangan. Perubahan yang jelas terlihat adalah
ketika memasuki masa pubertas. Anak perempuan akan mengalami
menstruasi/haid, sedangkan anak laki-laki mengalami mimpi basah.
Hal ini menandai juga perubahan pada bentuk tubuh dan kualitas,

19
misalnya bagian dada yang membesar pada wanita dan suara yang
memberat pada seorang pria.

Penjelasan yang diberikan tentu menggunakan istilah tepat namun


tetap dapat dipahami anak. Orang tua dapat memberikan anak buku
dengan topik pendidikan tentang seks. Bacalah bersama anak dan
diskusikan apa yang telah dibaca. Hati-hati menonton acara televisi yang
mungkin tidak sengaja berisi kasus-kasus perkosaan dan kekerasan
seksual lainnya. Oleh karena itu, orang tua harus peka untuk langsung
mendiskusikannya dan menjelaskan secara baik, sebab akibat dari kasus
tersebut. Yang terpenting di sini adalah meluangkan waktu, untuk
menyampaikan pendidikan seks dengan santai dan cukup waktu.
Perhatikan juga karakter anak dan rentang atensi yang dimiliki anak,
sehingga anak tidak bosan atau jenuh. Gunakan media seperti gambar,
buku, dan benda lain yang menarik minat anak dan buat semenarik
mungkin.
g. Bagaimana hubungan dysmenorrhea dan menarche?
Nyeri haid berpangkal pada mulainya proses menstruasi itu
sendiri yang merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi
otot-otot rahim tersebut membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi
berkurang yang berakibat meningkatnya aktivitas rahim untuk memenuhi
kebutuhannya akan aliran darah yang lancar, juga otot-otot rahim yang
kekurangan darah tadi akan merangsang ujung-ujung syaraf sehingga
terasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di rahim, namun juga
terasa di bagian-bagian tubuh lain yang mendapatkan persyarafan yang
sama dengan rahim. Oleh karma itulah maka rasa tidak nyaman juga
dirasakan di bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk buang air besar,
buang air kecil, maupun otot¬-otot dasar panggul dan daerah di sekitar
tulang belakang sebelah bawah. Hal ini disebut juga sebagai nyeri
rujukan (referred pain). Peningatan kadar prostaglandin (PG) penting
peranannya sebagai penyebab terjadinya Dysmenorrhea. PG alfa sangat

20
tinggi dalam endometrium, miometrium dan darah haid wanita yang
menderita Dysmenorrhea primer. PG menyebabkan peningkatan aktivitas
uterus dan serabut-serabut syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi
antara pemngkatan kadar PG dan peningkatan kepekaan miometrium
menimbulkan tekanan infra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan
kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan bahwa PG
yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan hiperaktivitas
miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium yang disebabkan oleh PG
akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel
miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG
dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka
selain dismenorre timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare,
mual, muntah .
h. Bagaimana perbandingan antara menstruasi biasa dan menarche?
Tidak ada perbedaan Antara menstruasi dan menarche, menarche adalah
awal dari siklus menstruasi

3. Sejak 1 hari yang lalu tampak keluar darah berwarna merah kecoklatan dari
vagina yang belum pernah dialami sebelumnya.(**)
a. Mengapa darah yang keluar berwarna merah kecoklatan?
1. Cokelat
Bila warna darah haid Anda coklat gelap, itu menandakan
menandakan darah haid Anda adalah darah tua. Darah ini sudah
disimpan di dalam rahim untuk waktu yang lama. Jenis darah seperti
ini biasanya terlihat saat pagi hari. Biasanya untuk menandai
menstruasi.
2. Merah
Warna ini berarti darah tersebut baru dan segera diluruhkan
keluar dari tubuh. Jenis aliran darah ini sangat ringan dan tak
tersimpan lama di dalam rahim.
3. Merah muda

21
Ini adalah warna yang sehat untuk jangka waktu menstruasi yang
Anda alami. Warna ini biasanya terlihat pada hari ke-2 saat periode
menstruasi. Para ahli menjelaskan bahwa wanita yang memiliki siklus
haib yang lebih lama, akan mendapatkan warna medium merah ini
dalam rentang waktu yang lama. Namun, jangan khawatir, warna ini
menandakan darah haid Anda normal.
4. Hitam atau keabu-abuan
Anda harus berhati-hati, karena warna ini mengkhawatirkan. Jika
Anda menyaksikan warna jenis darah ini periode menstruasi Anda,
And atidak boleh mengabaikannya. Darah yang berwarna abu-abu
atau hitam mengacu pada keguguran atau infeksi pada rahim. Namun,
jika wrana darah hitam tersebut bersamaan dengan warna merah
pada hari ke-4 menstruasi, Anda tidak perlu khawatir, karena darah
hitam tersebut adalah bekuan darah.
5. Oranye
Warna ini terlihat ketika darah dicampur dengan cairan dari leher
rahim. Namun, darah berwarna oranye cerah juga bisa menunjukkan
kemungkinan adanya infeksi.

4. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan khusus didapatkan:


Pemeriksaan fisik:
- Kesadaran: Compos Mentis - Denyut Nadi: 86x/menit
- Tekanan darah: 110/70 mmHg - Temperatur axila: 37,2°C
- Laju Respirasi: 20x/menit
Pemeriksaan khusus:
- Kepala:
 Mata: konjungtiva tak anemis
 Lain-lain dalam batas normal
- Thoraks
 Paru dalam batas normal
 Jantung dalam batas normal

22
 Payudara tampak menonjol dan mulai membentuk budding
- Abdomen:
 Inspeksi: tidak tampak hematom/jejas dan ekskoriasis
 Hepar dan lien tidak teraba, bising usus normal.
- Ekstremitas: dalam batas normal, refleks fisiologis (+) normal, refleks
patologis (-)
- Axilla: tampak rambut-tambut halus
- Genitalia: mons pubis tampak rambut-tambut halus (*)
a. Bagaimana hasil pemeriksaan fisik yang normal dan tidak normal?
Pemeriksaan fisik adalah peninjauan dari ujung rambut sampai ujung
kaki pada setiap system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang
klien dan memungkinkan perawat untuk mebuat penilaian klinis.
Keakuratan pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang
diterima klien dan penetuan respon terhadap terapi tersebut.(Potter dan
Perry, 2005).
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan
atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data
yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil
anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan
yang tepat bagi klien. (Dewi Sartika, 2010). Pemeriksaan fisik meliputi hal-
hal berikut ini :
 Infeksi
Infeksi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera pengelihatan,
pendengaran dan penciuman.(Laura A. Talbot dan Mary Meyers,1997).
 Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan ondera peraba
dengan meletakan tangan pada bagian tubuh yang dapat dijangkau
tangan. (Laura A. Talbot dan Mary Meyers,1997).
 Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan
tubuh untuk menghasilkan bunyi yang akan membantu dalam

23
penentuan densitas, lokasi, dan posisi struktur dibawahnya. (Laura A.
Talbot dan Mary Meyers,1997).
 Auskultasi
Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh
bermacam-macam organ dan jaringan tubuh. (Laura A. Talbot dan
Mary Meyers,1997).

A. Pemeriksaan kepala
1. Inspeksi : ukuran lingkar kepala, bentuk, kesimetrisan, adanya lesi atau
tidak, kebersihan rambut dan kulit kepala, warna, jumlah dan distribusi
rambut.
Hasil pemeriksaan :
Normal (simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukan adanya
kekurangan tanda-tanda kekurangan gizi)
B. Pemeriksaan Abdomen
1. Inspeksi: kuadran dan simetris, kontur, warna kulit, lesi, scar, tonjolan,
pelebaran vena dan gerakan dinding perut.
Hasil pemeriksaan :
Normal (simetris kiri kanan, warna sama dengan warna kulit lain, tidak
terdapat lesi, scar, tonjolan, pelebaran vena dan kelainan lainnya).
2. Auskultasi: suara peristaltic (bising usus) disemua kuadran (dengan
stetoskop, bagian diafragma), suara pembuluh darah.
Hasil pemeriksaan :
Normal (suara perstaltik terdengar setiap 5-10x/detik, terdengar
denyutan arteri renalis, arteri aorta).
3. Perkusi
 Perkusi semua kuadran : mulai dari kuadran kanan atas
bergerak searah jarum jam, perhatikan jika klien merasa nyeri
dan bagaimana kualitas bunyinya.
 Perkusi hepar : batas.
 Perkusi limfa : ukuran dan batas

24
 Perkusi ginjal : nyeri.

Hasil pemeriksaan :
Normal [timpani, bila hepar dan limfa membersar (redup) dan apabila
banyak cairan (hipertimpani)]
 Palpasi semua kuadran (hepar, limfa, ginjal kanan dan kiri) :
masa, karakteristik organ, lokasi, dan nyeri.
Hasil pemeriksaan :
Normal (tidak teraba penonjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada masa dan penumopukan cairan).

b. Bagaimana ciri-ciri perempuan yang mengalami pubertas?


1. Tahap Awal
Tahapan awal pubertas anak perempuan akan dimulai saat ia
memasuki usia 8 atau 9 tahun dimana terjadi beberapa tanda
secara internal. Tahap awal ini menjadi pertanda dari aktivitas
hormon FSH dan LH yang kemudian memicu ovarium dalam
memproduksi estrogen. Pada tahap ini, belum terlihat perubahan
secara fisik, termasuk dalam jaringan payudara.
2. Tahap Kedua
Saat anak perempuan sudah memasuki usia 10 atau 11 tahun,
maka akan terlihat perubahan pada payudaranya. Pada tahap ini,
area di sekitar putingnya yang disebut aerola akan mulai
berpigmen, berwarna gelap, dan mengembang. Fase ini juga
sudah memungkinkan pertumbuhan rambut pada area labia.
3. Tahap Ketiga
Saat berusia 11-12 tahun, mereka akan menyaksikan pertumbuhan
rambut pada area kemaluannya. Namun pertumbuhan rambut ini
masih sedikit dan tipis. Pertumbuhan rambut ini juga akan terjadi
pada bagian kaki dan ketiak yang terlihat lebih tebal. Sementara

25
itu, pertumbuhan dari jaringan payudara akan membuat areola
menjadi lebih luas dan bisa lebih gelap.
4. Tahap Keempat
Tahapan pubertas pada wanita yang keempat akan ditandai
dengan tumbuhnya rambut yang lebih tebal di seluruh tubuh,
utamanya pada bagian labia dan ketiak. Hal ini sangat umum
terjadi ketika sang gadis berusia 12-13 tahun dan sudah memasuki
periode menstruasi. Meski demikian, periode menstruasi ini tidak
selalu terjadi pada tahap keempat, karena kedatangannya bisa
lebih awal atau pada tahap selanjutnya. Selain itu, masa ovulasi
juga sudah dimulai pada fase ini, namun membutuhkan waktu agar
ovulasi mereka lebih teratur (sekitar 2-3 tahun). Perubahan lain
yang bisa dilihat pada masa ini adalah ukuran vagina yang
meningkat.
5. Tahap Kelima
Ditahap ini, jaringan payudara mulai timbul secara signifikan dari
dinding dada dan bentuk aerola serta puting yang semakin
menonjol. Rambut kemaluan juga akan tumbuh lebih lebat,
berbentuk keriting dan kasar. Secara fisik, sang gadis juga akan
tumbuh lebih tinggi dan mengalami peningkatan berat pada
bagian payudara, paha, bokong, dan lengan atas. Pada saat yang
sama, mereka juga akan mengalami bau badan akibat dari
tingginya sekresi hormon.
6. Tahap keenam
Tahapan terakhir ini terjadi saat usia 15-17 tahun yang menjadi
pertanda bahwa tubuh mereka sudah mencapai kematangan yang
penuh. Biasanya, ketinggian gadis akan stagnan pada masa ini,
seiring dengan pertumbuhan payudara yang juga sudah mencapai
ukuran dewasa. Menstruasi dan ovulasi juga sudah berjalan
secara teratur.Selain dengan banyaknya perubahan fisik, sejumlah
remaja juga akan mengalami masalah jerawat. Hal ini

26
dikarenakan produksi hormon estrogen dan progesteron yang
meningkatkan produksi minyak pada kulit dan berpotensi
menimbulkan jerawat. Masalah lain yang juga akan dihadapi pada
tahap ini adalah menstruasi berat.

c. Hormone apa saja yang mempengaruhi perkembangan seks sekunder


pada wanita?
Estrogen
Dihasilkan oleh ovarium. Fungsinya pembentukan ciri-ciri
perkembangan seksual wanita, yaitu pemmbentukan payudara, lekuk tubuh,
dan rambut kemaluan.

D. Keterbatasan Ilmu Pengetahuan

No. What I What I have to How will


Pokok Bahasan What I don’t know
Know prove I learn
1 Fisiologi Sistem  Genitalia Interna  Pemeliharaan
Reproduksi  Persarafan pada Organ Reproduksi
Wanita Sistem Genitalia
Femina
Jurnal
 Gametogenesis
 Oogenesis
Textbook

2 Dysmenorrhea Pengertian  Patofisiologi  Terapi dan


Internet
 Faktor - faktor yang Penatalaksamaam
mempengaruhi medik
Pakar
Dysmenorrhea
 Klasifikasi dan
Karakteristik gejala
Dysmenorrhea

27
3 Menarche Definisi  Faktor - faktor yang
mempengaruhi usia
menarche
 Mekanisme menarche
 Gangguan menarche

4 Pubertas pada Pengertian  Tahapan Pubertas  Metode


Wanita Pada Wanita penyuluhan
 Edukasi

5 Sistem Hormone  Poros Hormonal


pada Reproduksi Sistem Genitalia
Wanita Femina
 Hormon-hormon yang
Memengaruhi
Genitalia Femina

6 Pemeriksaan  Topografi
Fisik dan abdomen
Khusus  Pemeriksaan
abdomen dan
kepala

E. Sintesis
1. Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita
A. Genitalia Interna
 Uterus

28
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi
peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat
implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan
adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi
konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan
serviks uteri.
 Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan /
menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari
3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan
glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu
portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum
(luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks,
dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan
(nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah
pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis
melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina
ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks
yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan
berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas
lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
 Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat
pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan
muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam
arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan
runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium.
Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus
uteri berada di atas vesica urinaria.
 Ligamenta penyangga uterus

29
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum
cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium,
ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina,
ligamentum rectouterina.
 Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca
interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.

 Salping / Tuba Falopii


Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang
tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi
ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri tiga
lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa
dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars
ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan
karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada
setiap bagiannya (gambar).
 Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter
uterotuba pengendali transfer gamet.
 Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula /
infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi
implantasi di dinding tuba bagian ini.
 Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada
ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi
“menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium,
dan membawanya ke dalam tuba.
 Mesosalping

30
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada
usus).
 Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga
peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai
jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks
dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel
menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar
epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan
sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel,
progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan
pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae
“menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium
terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum
infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari
cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
B. Persarafan pada Sistem Genitalia Femina
Organ genitalia wanita memiliki saraf yang sangat banyak, misalnya
klitoris yang memiliki sekitar 8.000 saraf. Ketika terjadi orgasme, maka
rangsangan tersebut akan dikirimkan ke saraf belakang. Berikut ini adalah
saraf-saraf yang terkait dengan hal tersebut
 Saraf hipogastrik, membantu mentransmisikan rangsangan dari uterus
dan serviks pada wanita dan dari prostat pada pria.
 Saraf pelvis, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari vagina
dan serviks pada wanita dan dari rektum untuk kedua jenis kelamin.
 Saraf pudendal, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari
klitoris pada wanita dan dari skrotum dan penis pada pria.
 Saraf vagus, berguna untuk mentransmisikan rangsangan dari serviks,
uterus, dan vagina pada wanita.

31
C. Gametogenesis
Proses pembentukan gamet atau sel kelamin disebut gametogenesis, ada
dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh
kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui
proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen
utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan
meiosis.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel
baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat
diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah
kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom.
Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis.

D. Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pematangan ovum di dalam ovarium. Tidak
seperti spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan spermatozoa dalam
waktu yang bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan satu ovum
matang sekali waktu. Mari kita simak prosesnya lebih lanjut:
1. Oogonium yang merupakan prekursor dari ovum tertutup dalam folikel di
ovarium.

32
2. Oogonium berubah menjadi oosit primer, yang memiliki 46 kromosom.
Oosit primer melakukan meiosis , yang menghasilkan dua sel anak yang
ukurannya tidak sama.
3. Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat haploid.
Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang lain karena
berisi lebih banyak sitoplasma dari oosit primer.
4. Sel anak yang lebih kecil disebut badan kutub pertama yang kemudian
membelah lagi.
5. Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi.
Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami pembelahan
meiosis yang kedua . begitu pula dengan badan polar pertama membelah
menjadi dua badan kutub kedua yang akhirnya mengalami degenerasi.
Namun apabila tidak terjadi fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan
terjadi dan siklus oogenesis diulang kembali.
6. Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat
haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid.
Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu
juga ootid kemudian mencapai perkembangan finalnya menjadi ovum
yang matang.
7. Kedua sel haploid (sperma dan ovum) bersatu membentuk sel zygot yang
bersifat dipoid (2n)

33
E. Pemeliharaan Organ Reproduksi
Meskipun terkesan sepele, namun pemeliharan organ reproduksi sangatlah
penting. Cara memelihara organ reproduksi secara umum baik bagi
perempuan maupun laki-laki adalah sebagai berikut:
a. Mengganti underwear minimal 2 kali sehari
b. Menggunakan air bersih untuk menjaga kebersihan alat kelamin atau
cebok dari arah depan ke belakang
c. Mencukur atau merapikan rambut kemaluan dan dijaga kebersihannya
untuk menghindari jamur atau kutu.

34
2. Dysmenorrhea
A. Pengertian
Dysmenorrhea merupakan nyeri saat menstruasi pada perut bagian bawah
yang terasa seperti kram. Menurut Manuaba dkk (2006) dysmenorrhea adalah
rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan
pekerjaan sehari-hari. Dysmenorrhea merupakan menstruasi yang sangat
menyakitkan, terutama terjadi pada perut bagian bawah dan punggung bawah
yang terasa seperti kram (Varney, 2004).
B. Patofisiologis Dysmenorrhea’
Mekanisme terjadinya nyeri pada Dysmenorrhea primer adalah sebagai
berikut:

Korpus luteum akan mengalami regresi apabila tidak


terjadi kehamilan. Hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar
progesteron dan mengakibatkan labilisasi membran lisosom,
sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase
A2 akan menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membran sel
endometrium dan menghasilkan asam arakhidonat. Asam arakhidonat
bersama dengan kerusakan endometrium akan merangsang kaskade asam
arakhidonat dan menghasilkan prostaglandin PGE2 dan PGF2
alfa. Wanita dengan Dysmenorrhea primer didapatkan adanya peningkatan
kadar PGE dan PGF2 alfa di dalam darahnya, yang merangsang
miometrium. Akibatnya terjadi peningkatan kontraksi dan disritmi uterus,
sehingga terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan mengakibatkan
iskemia. Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan
sensitisasi, selanjutnya menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung
saraf aferen nervus pelvicus terhadap rangsang fisik dan kimia (Sunaryo,
1989).
Dysmenorrhea terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi). Pada
fase ini terjadi peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen. Sesuai
dengan sifatnya, prolaktin dapat meningkatkan kontraksi uterus. Hormon
yang juga terlibat dalam dysmenorrhea adalah hormon prostaglandin.

35
Prostaglandin sangat terkait dengan infertilitas pada wanita,
dysmenorrhea, hipertensi, preeklamsieklamsi, dan anafilaktik syok. Pada
fase menstruasi prostaglandin meningkatkan respon miometrial yang
menstimulasi hormon oksitosin. Dan hormon oksitosin ini juga
mempunyai sifat meningkatkan kontraksi uterus. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa dysmenorrhea sebagian besar akibat kontraksi uterus
(Manuaba , 2006)
Nyeri haid berpangkal pada mulainya proses menstruasi itu sendiri
yang merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi otot-otot
rahim tersebut membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi berkurang
yang berakibat meningkatnya aktivitas rahim untuk memenuhi
kebutuhannya akan aliran darah yang lancar, juga otot-otot rahim yang
kekurangan darah tadi akan merangsang ujung-ujung syaraf sehingga
terasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di rahim, namun juga terasa
di bagian-bagian tubuh lain yang mendapatkan persyarafan yang sama
dengan rahim. Oleh karma itulah maka rasa tidak nyaman juga dirasakan
di bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk buang air besar, buang air
kecil, maupun otot¬-otot dasar panggul dan daerah di sekitar tulang
belakang sebelah bawah. Hal ini disebut juga sebagai nyeri rujukan
(referred pain). Peningatan kadar prostaglandin (PG) penting peranannya
sebagai penyebab terjadinya Dysmenorrhea. PG alfa sangat tinggi dalam
endometrium, miometrium dan darah haid wanita yang menderita
Dysmenorrhea primer. PG menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan
serabut-serabut syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara
pemngkatan kadar PG dan peningkatan kepekaan miometrium
menimbulkan tekanan infra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan
kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan bahwa PG
yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan hiperaktivitas
miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium yang disebabkan oleh PG
akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel
miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG

36
dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka
selain Dysmenorrhea timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare,
mual, muntah (Genie, 2009).
C. Etiologi
1. Faktor Kejiwaan
Wanita mempunyai emosional yang tidak stabil, sehingga
mudah mengalami Dysmenorrhea primer. Faktor kejiwaan, bersamaan
dengan Dysmenorrhea akan menimbulkan gangguan tidur (insomnia).
2. Faktor Konstitusi
Faktor konstitusi berhubungan dengan faktor kejiwaan yang
dapat menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktor konstitusi antara
lain: anemia, penyakit menahun dan sebagainya.
3. Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
Teori tertua menyatakan bahwa Dysmenorrhea primer
disebabkan oleh stenosis kanalis servikalis, akan tetapi sekarang sudah
tidak lagi. Mioma submukosum bertangkai polip endometrium dapat
menyebabkan Dysmenorrhea karena otot-otot uterus berkontraksi kuat
untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
4. Faktor Alergi
Teori ini dikemukakan setelah adanya asosiasi antara
Dysmenorrhea primer dengan urtikaria, migren atau asma bronkial.

5. Faktor Neurologis
Uterus dipersyarafi oleh sistem oleh sistem syaraf otonom yang
terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate mengemukakan
bahwa Dysmenorrheaa ditimbulkan oleh ketidakseimbangan
pengendalian sistem syaraf otonom terhadap miometrium. Pada
keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan oleh syaraf simpatis
sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan
ostium uteri internum menjadi hipertonik.
6. Vasopresin

37
Kadar vasopresin pada wanita Dysmenorrheaa primer sangat
tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa Dysmenorrheaa. Pemberian
vasopresin pada saat menstruasi menyebabkan meningkatnya kontraksi
uterus, menurunnya aliran darah pada uterus, dan menimbulkan nyeri.
Namun, hingga kini peranan pasti vasopresin dalam mekanisme
terjadinya Dysmenorrheaa masih belum jelas.
7. Leukotren
Helsa (1992), mengemukakan bahwa leukotren meningkatkan
sensitivitas serabut nyeri pada uterus. Leukotren dalam jumlah besar
ditemukan dalam uterus wanita dengan Dysmenorrheaa primer yang
tidak memberi respon terhadap pemberian antagonis prostaglandin.
8. Prostaglandin
Penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa
prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya
dysmenorrhea. Prostaglandin yang berperan di sini yaitu prostaglandin
E2 (PGE2) dan F2α (PGF2α). Pelepasan prostaglandin di induksi oleh
adanya lisis endometrium dan Universitas Sumatera Utara rusaknya
membran sel akibat pelepasan lisosim. Prostaglandin menyebabkan
peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf terminal
rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan
peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan intrauterus
hingga 400 mmHg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang
hebat. Selanjutnya, kontraksi miometrium yang disebabkan oleh
prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia
sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik.
Jika prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam
peredaran darah, maka selain dysmenorrhea timbul pula diare, mual,
dan muntah.
9. Faktor hormonal

Umumnya kejang atau kram yang terjadi pada dysmenorrhea


primer dianggap terjadi akibat kontraksi uterus yang berlebihan. Tetapi

38
teori ini tidak menerangkan mengapa dysmenorrhea tidak terjadi pada
perdarahan disfungsi anovulatoar, yang biasanya disertai tingginya
kadar estrogen tanpa adanya progesteron. Kadar progesteron yang
rendah menyebabkan terbentuknya PGF2α dalam jumlah banyak.
Kadar progesteron yang rendah akibat regresi korpus luteum
menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom dan juga
meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang berperan sebagai
katalisator dalam sintesis prostaglandin melalui perubahan fosfolipid
menjadi asam archidonat. Peningkatan prostaglandin pada
endometrium yang mengikuti turunnya kadar progesteron pada fase
luteal akhir menyebabkan peningkatan tonus miometrium dan
kontraksi uterus.

Faktor Menurut Damianus (2006), ada beberapa faktor resiko


yang bisa meningkatkan terjadinya dysmenorrhea yaitu:

1. Wanita yang merokok


2. Wanita yang minum alkohol selama menstruasi karena alkohol akan
memperpanjang nyeri pada saat menstruasi
3. Wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas
4. Wanita yang tidak memiliki anak
5. Menarche dini (wanita yang pertama menstruasi sebelum umur 12
tahun)
6. Mempunyai riwayat yang sama dalam keluarga
D. Gejala Dysmenorrhea
Menurut Kasdu (2005), gejala dysmenorrhea yang sering muncul adalah :

1. Rasa sakit yang dimulai pada hari pertama menstruasi


2. Terasa lebih baik setelah pendarahan menstruasi mulai
3. Terkadang nyerinya hilang setelah satu atau dua hari. Namun, ada juga
wanita yang masih merasakan nyeri perut meskipun sudah dua hari
haid.

39
4. Nyeri pada perut bagian bahwa, yang bisa menjalar ke punggung
bagian bahwa dan tungkai.
5. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau sebagai nyeri
tumpul yang terus menerus.
6. Terkadang disertai rasa mual, muntah, pusing atau pening.
E. Klasifikasi dan Karakteristik Gejala Dysmenorrhea
Menurut Jones (2001), dysmenorrhea berdasarkan penyebabnya
diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

1. Dysmenorrhea primer
Dysmenorrhea primer merupakan nyeri haid tanpa kelainan anatomis
genitalis yang dapat diidentifikasi. Dysmenorrhea primer timbul pada
masa remaja, yaitu sekitar usia 2-3 tahun setelah menarche dan
mencapai maksimal antara usia 15-25 tahun. Akan tetapi,
dysmenorrhea primer juga mengenai sekitar 50-70% wanita yang
masih menstruasi. Dysmenorrhea primer diduga sebagai akibat dari
pembentukan prostaglandin yang berlebih, yang menyebabkan uterus
untuk berkontraksi secara berlebihan dan juga mengakibatkan
vasospasme anteriolar. Nyeri dymenorrhea primer seperti mirip kejang
spasmodik, yang dirasakan pada perut bagian bawah (area suprapubik)
dan dapat menjalar ke paha dan pinggang bawah dapat juga disertai
dengan mual, muntah, diare, nyeri kepala, nyeri pinggang bawah,
iritabilitas, rasa lelah dan sebagainya. Nyeri mulai dirasakan 24 jam
saat menstruasi dan bisa bertahan selama 48-72 jam (Baradero, 2006
& Suzannec, 2001).
2. Dysmenorrhea sekunder
Dysmenorrhea sekunder merupakan nyeri haid sebelum menstruasi
yang disertai kelainan anatomis genitalis. Dysmenorrhea sekunder
terjadi pada wanita berusia 30-45 tahun dan jarang sekali terjadi
sebelum usia 25 tahun. Nyeri dysmenorrhea sekunder dimulai 2 hari
atau lebih sebelum menstruasi, dan nyerinya semakin hebat serta

40
mencapai puncak pada akhir menstruasi yang bisa berlangsung selama
2 hari atau lebih. Secara umum, nyeri datang ketika terjadi proses yang
mengubah tekanan di dalam atau di sekitar pelvis, perubahan atau
terbatasnya aliran darah, atau karena iritasi peritoneum pelvis. Proses
ini berkombinasi dengan fisiologi normal dari menstruasi sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat
menstruasi, proses ini menjadi sumber rasa nyeri. Penyebab
dysmenorrhea sekunder seperti: endometriosis, adenomiosis, radang
pelvis, sindrom menoragia, fibroid dan polip dapat pula disertai
dengan dispareuni, kemandulan, dan perdarahan yang abnormal.

F. Karakteristik Gejala dysmenorrhea berdasarkan derajat nyerinya


menurut Manuaba (2001) dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu:

1. Dysmenorrhea ringan
Dysmenorrhea ringan adalah rasa nyeri yang dirasakan waktu
menstruasi yang berlangsung sesaat, dapat hilang tanpa pengobatan,
sembuh hanya dengan cukup istirahat sejenak, tidak mengganggu
aktivitas harian, rasa nyeri tidak menyebar tetapi tetap berlokasi di
daerah peruh bawah.
2. Dysmenorrhea sedang
Dysmenorrhea yang bersifat sedang jika perempuan tersebut merasakan
nyeri saat menstruasi yang bisa berlangsung 1-2 hari, menyebar di
bagian perut bawah, memerlukan istirahat dan memerlukan obat
penangkal nyeri, dan hilang setelah mengkonsumsi obat anti nyeri,
kadang- kadang mengganggu aktivitas hidup sehari-hari.
3. Dysmenorrhea berat
Dysmenorrhea berat adalah rasa nyeri pada perut bagian bawah pada
saat menstruasi dan menyebar kepinggang atau bagian tubuh lain juga
disertai pusing, sakit kepala bahkan muntah dan diare. Dysmenorrhea
berat memerlukan istirahat sedemikian lama yang bisa mengganggu

41
aktivitas sehari-hari selama 1 hari atau lebih, dan memerlukan
pengobatan dysmenorrhea.

G. Terapi dan Penatalaksanaan Medik

Terapi dysmenorrhea terbagi atas dua macam yaitu:

a. Terapi Farmakologi

Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan


non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat
anti peradangan non steroid akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari
sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi. Untuk
mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan
muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi, Jika nyeri terus
dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB
dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan
medroxiprogesteron. Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk
mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan
prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dysmenorrhea.
Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan
(misalnya laparoskopi). Jika dysmenorrhea sangat berat bisa dilakukan
ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar
atau diuapkan dengan alat pemanas

b. Terapi nonfarmakologi

Terapi pengobatan yang bisa dilakukan dalam mengurangi gejala


Dysmenorrhea yang bersifat nonfarmakologi yaitu:

1. Istirahat yang cukup

42
2. Olah raga yang teratur (terutama berjalan). Olah raga Mampu
meningkatkan produksi endorphin otak yang dapat menurunkan
stress sehingga secara tidak langsung juga mengurangi nyeri
3. Pemijitan. Pijatan lembut pada bagian tubuh klien yang nyeri
dengan menggunakan tangan akan menyebabkan relaksasi otot dan
memberikan efek sedasi.
4. Yoga
5. Orgasme pada aktivitas seksual
6. Kompres hangat di daerah perut. Suhu panas dapat memperingan
keluhan. Lakukan pengompresan dengan handuk panas atau botol
air panas pada perut atau punggung bawah atau mandi dengan air
hangat
7. TENS ( Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation). Tindakan ini
melalui pendekatan gate control of pain atau gerbang transmisi
nyeri yaitu memblok stimuli nyeri dengan stimuli kurang nyeri
kepada serabut-serabut besar. Stimuli listrik dapat mengakibatkan
opiat dan non opiat jalur yang menurun.
8. Distraksi pendengaran. Diantaranya mendengarkan musik yang
disukai atau suara burung serta gemercik air, individu dianjurkan
untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti musik
klasik, dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu.
Klien juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti
irama lagu seperti bergoyang, mengetukkan jari atau kaki.
H. Obat-Obatan
Obat-obatan yang dapat membantu mengurangi nyeri haid antara lain:
analgetika, hormonal, anti prostaglandin.
 Analgetika, Analgetika digunakan untuk mengurangi nyeri. Jenis
analgetika untuk nyeri ringan antara lain: aspirin, asetaminofen,
propofiksen. Sedangkan jenis analgetika untuk nyeri berat antara lain:
prometazin, oksikodon, butalbital.
 Hormonal, Pengobatan hormonal untuk meredakan Dysmenorrhea,

43
dan lebih tepat diberikan pada wanita yang ingin menggunakan alat
KB berupa pil. Jenis hormon yang diberikan progestin, pil kontrasepsi
(estrogen rendah dan progesteron tinggi). Pemberian pil dari hari 5-25
siklus haid dengan dosis 5-10 mg/hari. Progesteron diberikan pada hari
ke 16 sampai ke 25 siklus haid, setelah keluhan nyeri berkurang.
 Anti Prostaglandin, Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs)
yang menghambat produksi dan kerja prostaglandin digunakan untuk
mengatasi Dysmenorrhea primer. NSAIDs tidak boleh diberikan pada
wanita hamil, penderita dengan gangguan saluran pencernaan, asma
dan alergi terhadap jenis obat anti prostaglandin.
 Rileksasi, Pada kondisi rileks tubuh akan menghentikan produksi
hormon adrenalin dan semua hormon yang diperlukan saat stress.
Karena hormon seks esterogen dan progesteron serta hormon stres
adrenalin diproduksi dari blok bangunan kimiawi yang sama. Ketika
kita mengurangi stres maka mengurangi produksi kedua hormon seks
tersebut. Jadi, perlunya rileksasi untuk memberikan kesempatan bagi
tubuh untuk memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan
haid yang bebas dari nyeri.
 Hipnoterapi, Hipnoterapi adalah metode mengubah pola pikir negatif
menjadi positif. Hal ini dilakukan dengan memunculkan pikiran bawah
sadar agar permasalahan dapat diketahui dengan tepat.

3. Menarche
A. Definisi
Menarche adalah haid pertama yang terjadi akibat proses sistem
hormonal yang kompleks. Setelah panca indra menerima rangsangan yang
diteruskan kepusat dan diolah oleh hipotalamus, dilanjutkan dengan hipofise
melalui sistem fortal dikeluarkan hormone gonatropik perangsang folikel dan
luteinizing hormone untuk merangsang indung telur. Hormon perangsang
folikel (FSH), merangsang folikel primordial yang didalam perjalanannya
dominan mengeluarkan hormon esterogen sehingga terjadi pertumbuhan

44
dan perkembangan tanda seks sekunder, ini juga merupakan tanda - tanda
remaja sedang mengalami pubertas (Ida, 2005).
Menarche adalah menstruasi pertama yang menjadi pertanda
kematangan seksual pada remaja wanita (Dariyo, 2004). Menarche merupakan
menstruasi pertama yang terjadi pada masa awal remaja di tengah masa
pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Seiring dengan perkembangan
biologis maka pada usia tertentu seseorang mencapai tahap kematangan
organ-organ seks yang ditandai dengan menstruasi pertama. Menarche
merupakan suatu tanda yang penting bagi seorang wanita yang menunjukkan
adanya produksi hormon yang disekresikan oleh hipotalamus dan kemudian
diteruskan pada ovarium dan uterus (Sukarni & Wahyu, 2013).
B. Faktor - faktor yang mempengaruhi usia menarche
Menarche dipengaruhi oleh beberapa faktor. Status sosial ekonomi
keluarga mempunyai peranan penting dalam hal percepatan usia menarche
saat ini. Tingkat sosial ekonomi keluarga akan mempengaruhi kemampuan
keluarga di dalam hal kecukupan gizi terutama gizi anak perempuan.
Nutrisi yang semakin baik menyebabkan menarche terjadi lebih awal.
Selain itu, rangsangan audio visual juga memberikan pengaruh terhadap
onset menarche. Rangsangan berupa percakapan maupun tontonan dari
film-film berlabel dewasa, vulgar, atau mengumbar sensualitas akan
merangsang sistem reproduksi dan genital untuk lebih cepat matang
sehingga menyebabkan menarche dini. Pada anak perempuan yang
menderita cacat mental dan mongolisme akan mendapat menarche pada
usia yang lebih lambat (Sukarni & Wahyu, 2013).
C. Usia Menarche
Umumnya remaja mengalami menarche pada usia 12-16 tahun
(Kusmiran, 2011). Secara normal menarche terjadi pada usia 11-16 tahun
(Suryani & Widyasih, 2010). Wiknjosastro dkk (2008) berpendapat bahwa
usia seorang remaja mengalami menarche yaitu pada umur 11-13 tahun.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, rata-rata usia

45
menarche pada perempuan usia 10-59 tahun di Indonesia adalah 13 tahun
dengan kejadian lebih awal pada usia kurang dari 9 tahun.
D. Mekanisme Menarche
Menarche salah satu tanda bahwa remaja tersebut telah mengalami
perubahan didalam dirinya dan juga disertai dengan berbagai masalah dan
perubahan - perubahan baik fisik, biologi, psikologik maupun sosial, harus
dihadapi oleh remaja karena ini merupakan masa yang sangat penting karena
merupakan masa peralihan kemasa dewasa (Moersintawati, 2008).
Menarche sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan
yang terjadi pada seorang gadis sedang menginjak dewasa. Perubahan timbul
karena serangkaian interaksi antara beberapa kelenjar di dalam tubuh. Pusat
pengendalian yang utama adalah bagian otak, disebut hypothalamus, yang
bekerja sama dengan kelenjar bawah otak mengendalikan urutan - urutan
rangkaian perubahan itu. Oleh sebab yang hingga kini belum jelas, empat
tahun sebelum menarche.
Hypothalamus sudah mengeluarkan zat yang disebut faktor pencetus.
Faktor pencetus bergerak melalui pembuluh darah kelenjar bawah otak, dan
menyebabkan kelenjar itu mengeluarkan hormon - hormon tertentu. Salah satu
ialah hormon pertumbuhan yang menyebabkan pertumbuhan lebih cepat
menjelang gadis.
Pertumbuhan yang cepat ini dimulai kira - kira 4 tahun sebelum
menarche, terutama dalam dua tahun yang pertama, dan melambat datangnya
menarche datang. Sekitar usia 12 tahun, hormon pencetus yang lain, hormon
pencetus gonadtrophin (GnRH) mulai dihasilkan kelenjar pituitary secara
bergelombang, yang terjadi setiap 90 menit. Gelombang GnRH mempunyai
efek sangat besar pada kematangan seksual seorang gadis remaja. Hormon itu
mencapai kelenjar pituitary dan menyebabkan sel - sel istemewa tertentu
menghasilkan dua hormon mempengaruhi indung telur berisi cairan yang
dinamai folikel. Satu di antara dua hormon itu bertugas mempengaruhi folikel,
dengan merangsang pertumbuhannya, sehingga diberi nama hormone
perangsang folikel (Follicle Stumulating Hormone atau FSH). Pada mulanya

46
folikel yang tumbuh sedikit. Sementara itu, sel - sel yang mengelilinginya
membuat seorang anak perempuan memiliki sifat wanita setelah remaja.
Folikel - folikel yang terangsang tadi selama sebulan menghasilkan hormon
esterogen, dan kemudian mati. Tetapi pada saat folikel rombongan pertama
mati, sejumlah folikel lain sudah mulai di rangsang FSH dan memproduksi
esterogen.
Semangkin lama, semakin folikel yang di rangsang oleh FSH dalam
tiap bulannya (kira - kira antara 12 - 20 folikel), sehingga jumlah esterogen
yang terbentuk banyak. Esterogen juga mempengaruhi pertumbuhan saluran
susu di payudara, sehingga payudara membesar. Juga dapat merangsang
pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina, sehingga membesar. Di
vagina, esterogen membuat dinding kian tebal dan cairan vagina bertambah
banyak. Esterogen juga dapat mengakibatkan tertimbunnya lemak didaerah
pinggul wanita juga dapat memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula
sudah dirangsang oleh kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa remaja
tidak setinggi anak laki - laki yang sama umurnya.
Kadar esterogen yang beredar bersama darah semakin lama semakin
banyak. Masa menarche oun semakin dekat, kenaikan esterogen merangsang
lapisan dalam rongga rahim yang disebut endometrium sehingga menebal.
Tetapi juga menekan kelenjar bawah otak sehingga produksi FSH berkurang.
Dengan kadar hormon perangsang folikel (FSH) mulai menurun, pertumbuhan
folikel melambat. Akibatnya, produksi esterogen pun menurun. Pembuluh
darah yang mengaliri lapisan dalam rahim mengerut dan putus, sehingga
terjadi perdarahan didalam rahim. Endometrium ikut runtuh,berbentuk cairan
berupa darah dan sel - sel endometrium yang terkumpul di rahim kemudian
mengalir melalui vagina, mulailah terjadi haid pertama yaitu menarche.
E. Gangguan menarche
Menarche adalah salah satu kejadian yang penting dalam masa pubertas.
Gangguan-gangguan yang dapat terjadi menurut Wiknjosastro dkk (2008)
meliputi :

47
a. Menarche dini
Pada menarche dini terjadi haid sebelum umur 10 tahun. Hormon
gonadotropin diproduksi sebelum anak berumur 8 tahun. Hormon ini
merangsang ovarium sehingga ciri-ciri kelamin sekunder, menarche
dan kemampuan reproduksi terdapat sebelum waktunya.
b. Menarche tarda
Menarche tarda adalah menarche yang baru datang setelah umur 14 tahun.
Pubertas dianggap terlambat jika gejala-gejala pubertas baru datang antara
umur 14-16 tahun. Pubertas tarda dapat disebabkan oleh faktor herediter,
gangguan kesehatan, dan kekurangan gizi.

4. Pubertas pada Wanita

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan
fisik, emosi dan psikis. Menurut Depkes RI adalah antara 10 sampai 19 tahun
dan belum kawin. Remaja adalah suatu masa ketika individu yang
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual (Sarwono, 2006
p.12).
A. Pengertian
Pubertas adalah proses kematangan dan pertumbuhan yang terjadi ketika
organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai
muncul (Wong, et al. 2009 p.585). Masa puber merupakan masa transisi dan
tumpang tindih. Dikatakan transisi karena pubertas berada dalam peralihan
antara masa kanak-kanak dengan masa remajadan dikatakan tumpang tindih
karena beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimilikinya,
sementara beberapa ciri remaja juga dimilikinya. Jadi masa puber meliputi
tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan awal masa remaja.
B. Tahapan Pubertas Pada Wanita :
 Tahap Awal
Tahapan awal pubertas anak perempuan akan dimulai saat memasuki usia
8 atau 9 tahun dimana terjadi beberapa tanda secara internal. Tahap awal
48
ini menjadi pertanda dari aktivitas hormon FSH dan LH yang kemudian
memicu ovarium dalam memproduksi estrogen. Pada tahap ini, belum
terlihat perubahan secara fisik, termasuk dalam jaringan payudara.
 Tahap Kedua
Saat anak perempuan sudah memasuki usia 10 atau 11 tahun, maka akan
terlihat perubahan pada payudaranya. Pada tahap ini, area di sekitar
putingnya yang disebut aerola akan mulai berpigmen, berwarna gelap, dan
mengembang. Fase ini juga sudah memungkinkan pertumbuhan rambut
pada area labia.
 Tahap Ketiga
Saat berusia 11-12 tahun, mereka akan menyaksikan pertumbuhan
rambut pada area kemaluannya. Namun pertumbuhan rambut ini masih
sedikit dan tipis. Pertumbuhan rambut ini juga akan terjadi pada bagian
kaki dan ketiak yang terlihat lebih tebal. Sementara itu, pertumbuhan dari
jaringan payudara akan membuat areola menjadi lebih luas dan bisa lebih
gelap.
 Tahap Keempat
Tahapan pubertas pada wanita yang keempat akan ditandai dengan
tumbuhnya rambut yang lebih tebal di seluruh tubuh, utamanya pada
bagian labia dan ketiak. Hal ini sangat umum terjadi ketika sang gadis
berusia 12-13 tahun dan sudah memasuki periode menstruasi. Meski
demikian, periode menstruasi ini tidak selalu terjadi pada tahap keempat,
karena kedatangannya bisa lebih awal atau pada tahap selanjutnya. Selain
itu, masa ovulasi juga sudah dimulai pada fase ini, namun membutuhkan
waktu agar ovulasi mereka lebih teratur (sekitar 2-3 tahun). Perubahan
lain yang bisa dilihat pada masa ini adalah ukuran vagina yang meningkat.
 Tahap Kelima
Ditahap ini, jaringan payudara mulai timbul secara signifikan dari dinding
dada dan bentuk aerola serta puting yang semakin menonjol. Rambut
kemaluan juga akan tumbuh lebih lebat, berbentuk keriting dan kasar.
Secara fisik, sang gadis juga akan tumbuh lebih tinggi dan mengalami

49
peningkatan berat pada bagian payudara, paha, bokong, dan lengan atas.
Pada saat yang sama, mereka juga akan mengalami bau badan akibat dari
tingginya sekresi hormon.
 Tahap keenam
Tahapan terakhir ini terjadi saat usia 15-17 tahun yang menjadi pertanda
bahwa tubuh mereka sudah mencapai kematangan yang penuh. Biasanya,
ketinggian gadis akan stagnan pada masa ini, seiring dengan pertumbuhan
payudara yang juga sudah mencapai ukuran dewasa. Menstruasi dan
ovulasi juga sudah berjalan secara teratur.Selain dengan banyaknya
perubahan fisik, sejumlah remaja juga akan mengalami masalah jerawat.
Hal ini dikarenakan produksi hormon estrogen dan progesteron yang
meningkatkan produksi minyak pada kulit dan berpotensi menimbulkan
jerawat. Masalah lain yang juga akan dihadapi pada tahap ini adalah
menstruasi berat.

Jenis Perubahan Laki-laki Perempuan


Hormon Testosteron Estrogen dan Progesteron
Tanda Mimpi basah Menstruasi
Perubahan Fisik
Tumbuh rambut pubis, di sekitar kaki, Tinggi badan bertambah
tangan, dada, ketiak, dan wajah. Tumbuh rambut pubis dan
Suara memberat sekitar ketiak
Badan lebih berotot Kulit menjadi lebih halus
Berat badan dan tinggi badan Suara menjadi lebih halus
bertambah dan tinggi
Buah zakar membesar dan bila Payudara membesar
terangsang dapat mengeluarkan sperma Pinggul membesar
Paha membulat

50
C. Pemilihan metode penyuluhan yang paling efektif dapat dilakukan
melalui tiga pendekatan, yaitu:
a. Metode penyuluhan menurut media
1. Media lisan (percakapan, tatap muka, radio, dan telepon)
2. Media cetak (gambaran, foto, tulisan, selebaran, poster, dan lain-lain)
3. Media terproyeksi (presentasi dengan slide dan film)
b. Metode penyuluhan menurut penyuluh dan sasarannya
1. Komunikasi langsung (tatap muka)
2. Komunikasi tidak langsung (surat)
D. Edukasi yang diberikan:
a. MENGENALKAN PERBEDAANLAWAN JENIS
Jelaskan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang
memiliki perbedaan jenis kelamin. Hal ini yang menyebabkan
beberapa hal menjadi berbeda, seperti cara berpakaian, gaya
rambut, cara buang air kecil. Terangkan bahwa anak laki-laki jika
sudah besar akan jadi ayah dan anak perempuan akan menjadi ibu.
Tugas utama ayah adalah mencari nafkah, walaupun harus tetap
memperhatikan keluarga. Adapun tugas utama ibu adalah
mengatur rumah tangga dan keluarga. Namun, tidak menutup
kemungkinan seorang ibu membantu ayah dalam mencukupi
kebutuhan. Dengan demikian, anak bisa memahami peran jenis
kelamin dengan baik dan benar.
b. MEMPERKENALKAN ORGAN SEKS
Caranya cukup mudah, misalnya dengan menggunakan boneka
ataupun ketika mandi. Perkenalkan anak secara singkat organ
tubuh yang dimiliki, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut,
serta jangan lupa penis dan vagina. Terangkan juga fungsi dari
anggota tubuh dan cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman
penyakit.

51
c. MENGHINDARI ANAK DARI KEMUNGKINAN
PELECEHAN SEKSUAL
Tegaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh
dipertontonkan secara sembarangan. Tumbuhkan rasa malu pada
anak, misalnya ketiika keluar dari kamar mandi hendaknya
mengenakan pakaian atau handuk penutup. Selain itu, jika ada
yang menyentuhnya, segera laporkan pada orang tua atau guru di
sekolah. Anak boleh teriak sekeras-kerasnya dalam hal ini untuk
melindungi dirinya.
d. INFORMASIKAN TENTANG ASAL-USUL ANAK
Untuk anak usia prasekolah, bisa diterangkan bahwa anak berasal
dari perut ibu, misalnya sambil menunjuk perut ibu atau pada ibu
yang sedang hamil. Sejalan dengan usia, anak boleh diterangkan
bahwa seorang anak berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh
sperma yang berasal dari ayah. Tekankan bahwa pembuahan boleh
atau bisa dilakukan setelah wanita dan pria menikah.
e. PERSIAPAN MENGHADAPI MASA PUBERTAS
Informasikan bahwa seiring bertambahnya usia, anak akan
mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan yang jelas
terlihat adalah ketika memasuki masa pubertas. Anak perempuan
akan mengalami menstruasi/haid, sedangkan anak laki-laki meng-
alami mimpi basah. Hal ini menandai juga perubahan pada bentuk
tubuh dan kualitas, misalnya bagian dada yang membesar pada wa-
nita dan suara yang memberat pada seorang pria.

Penjelasan yang diberikan tentu menggunakan istilah tepat namun


tetap dapat dipahami anak. Orang tua dapat memberikan anak buku
dengan topik pendidikan tentang seks. Bacalah bersama anak dan
diskusikan apa yang telah dibaca. Hati-hati menonton acara televisi yang
mungkin tidak sengaja berisi kasus-kasus perkosaan dan kekerasan seksual
lainnya. Oleh karena itu, orang tua harus peka untuk langsung

52
mendiskusikannya dan menjelaskan secara baik, sebab akibat dari kasus
tersebut. Yang terpenting di sini adalah meluangkan waktu, untuk
menyampaikan pendidikan seks dengan santai dan cukup waktu.
Perhatikan juga karakter anak dan rentang atensi yang dimiliki anak,
sehingga anak tidak bosan atau jenuh. Gunakan media seperti gambar,
buku, dan benda lain yang menarik minat anak dan buat semenarik
mungkin.

5. Sistem Hormon pada Reproduksi Wanita


A. Poros Hormonal Sistem Genitalia Femina
1. Badan Pineal
Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu
penonjolan dari bagian posterior ventrikel III di garis tengah. Terletak di
tengah antara 2 hemisfer otak, di depan serebelum pada daerah
posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan hipotalamus
melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut
saraf. Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin
reproduksi. Tampaknya melatonin menghambat produksi GnRH dari
hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi gonadotropin dari
hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi hormon dari
gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya
fase pubertas.
2. Hipotalamus
Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di
bawah talamus. Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf yang
berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis posterior (neurohipofisis).
Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH (Gonadotropin Releasing
Hormone), TRH (Thyrotropin Releasing Hormone), CRH (Corticotropin
Releasing Hormone) , GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone),
PRF (Prolactin Releasing Factor). Menghasilkan juga hormon-hormon
penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).

53
3. Pituitari / hipofisis
Terletak di dalam sella turcica tulang sphenoid. Menghasilkan
hormon-hormon gonadotropin yang bekerja pada kelenjar reproduksi,
yaitu perangsang pertumbuhan dan pematangan folikel (FSH – Follicle
Stimulating Hormone) dan hormon lutein (LH – luteinizing hormone).
Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan juga
hormon-hormon metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain.
4. Ovarium
Berfungsi gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan
pengeluaran sel telur (ovum). Selain itu juga berfungsi steroidogenesis,
menghasilkan estrogen (dari teka interna folikel) dan progesteron (dari
korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon gonadotropin.
5. Endometrium
Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal
tempat implantasi hasil konsepsi. Selama siklus haid, jaringan
endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian
jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan
keluar berupa darah / jaringan haid. Jika ada pembuahan / implantasi,
endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi. Fisiologi
endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.

B. Hormon-hormon yang Memengaruhi Genitalia Femina


1. Estrogen
Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen
tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen
berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita
yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen
juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan
endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina
sehingga sesuai untuk penetrasi sperma. Berfungsi stimulasi pertumbuhan
dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.

54
 Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
 Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir
serviks.
 Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
 Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
2. Progesteron
Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone
mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima
implantasi zygot. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester
awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG.
3. Gonadotropin Releasing Hormone
GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus
diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating
hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan
memberikan umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan
menjadi rendah, begitupun sebaliknya.
4. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)
Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang
diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan
menyebabkan pematangan dari folikel. Dari folikel yang matang akan
dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan
dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.
5. LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH,
LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel
granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus
(LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan
mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan
progesteron. Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah
bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1
jam). Kerja sangat cepat dan singkat.

55
6. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan
trofoblas (plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan
10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada
trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai
akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml). Berfungsi meningkatkan
dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon
steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki
fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan
sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes
Pack, dsb).
7. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu /
meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di
ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan
mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan, prolaktin juga
diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen). Fungsi
laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi /
pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH
hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia)
dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan
gangguan haid berupa amenorhea.

6. Pemeriksaan Fisik dan Khusus


Pemeriksaan fisik adalah peninjauan dari ujung rambut sampai ujung
kaki pada setiap system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang
klien dan memungkinkan perawat untuk mebuat penilaian klinis.
Keakuratan pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang
diterima klien dan penetuan respon terhadap terapi tersebut.(Potter dan
Perry, 2005).

56
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan
atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data
yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil
anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan
yang tepat bagi klien. (Dewi Sartika, 2010). Pemeriksaan fisik meliputi hal-
hal berikut ini :
1. Infeksi
Infeksi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera pengelihatan,
pendengaran dan penciuman.(Laura A. Talbot dan Mary Meyers,1997).
2. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan ondera peraba
dengan meletakan tangan pada bagian tubuh yang dapat dijangkau
tangan. (Laura A. Talbot dan Mary Meyers,1997).
3. Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan
tubuh untuk menghasilkan bunyi yang akan membantu dalam
penentuan densitas, lokasi, dan posisi struktur dibawahnya. (Laura A.
Talbot dan Mary Meyers,1997).
4. Auskultasi
Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh
bermacam-macam organ dan jaringan tubuh. (Laura A. Talbot dan
Mary Meyers,1997).

C. Pemeriksaan kepala
1. Inspeksi : ukuran lingkar kepala, bentuk, kesimetrisan, adanya lesi atau
tidak, kebersihan rambut dan kulit kepala, warna, jumlah dan distribusi
rambut.
Hasil pemeriksaan :
Normal (simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukan adanya
kekurangan tanda-tanda kekurangan gizi)
D. Pemeriksaan Abdomen

57
 Syarat-syarat pemeriksaan abdomen yang baik adalah :
1. Penerangan ruang memadai.
2. Penderita dalam keadaan relaks.
3. Daerah abdomen mulai dari atas processus xiphoideus sampai
symphisis pubis harus terbuka.
 Untuk memudahkan relaksasi :
1. Kandung kencing dalam keadaan kosong.
2. Penderita berbaring terlentang dengan bantal dibawah kepalanya,
dan dibawah lututnya.
3. Kedua lengan diletakkan di samping badan, atau diletakkan
menyilang pada dada. Tangan yang diletakkan di atas kepala akan
membuat dinding abdomen teregang dan mengeras, sehingga
menyulitkan palpasi.

Mulailah menginspeksi dinding abdomen dari posisi Anda berdiri


di sebelah kanan penderita. Apabila anda akan memeriksa gerakan
peristaltik sebaiknya dilakukan dengan duduk, atau agak membungkuk,
sehingga Anda dapat melihat dinding abdomen secara tangensial.
Perhatikanlah :

1. Kulit : apakah ada sikatriks, striae atau vena yang melebar. Secara
normal, mungkin terlihat vena-vena kecil. Striae yang berwarna
ungu terdapat pada sindroma Cushing dan vena yang melebar dapat
terlihat pada cirrhosis hepatic atau bendungan vena cava inferior.
Perhatikan pula apakah ada rash atau lesi-lesi kulit lainnya.
2. Umbillikus: perhatikan bentuk dan lokasinya, apakah ada tanda-
tanda inflamasi atau hernia.
3. Perhatikan bentuk permukaan (countour) abdomen termasuk daerah
inguinal dan femoral : datar, bulat, protuberant, atau scaphoid.
Bentuk yang melendung mungkin disebabkan oleh asites,
penonjolan suprapubik karena kehamilan atau kandung kencing

58
yang penuh. Tonjolan asimetri mungkin terjadi karena pembesaran
organ setempat atau massa.
4. Simetri dinding abdomen.
5. Pembesaran organ : mintalah penderita untuk bernapas, perhatikan
apakah nampak adanya hepar atau lien yang menonjol di bawah
arcus costa.
6. Apakah ada massa abnormal, bagaimana letak, konsistensi,
mobilitasnya.
7. Peristaltik. Apabila Anda merasa mencurigai adanya obstruksi
usus,amatilah peristaltik selama beberapa menit. Pada orang yang
kurus, kadang-kadang peristaltik normal dapat terlihat.
8. Pulsasi : Pulsasi aorta yang normal kadang-kadang dapat terlihat di
daerah epigastrium.

Untuk menemukan hal tertentu seperti nyeri atau massa, abdomen


dapat dibagi menjadi 9 daerah dengan cara membuat 4 garis khayal. Garis
pertama sepanjang batas bawah dari dada, selanjutnya garis paralel dari
kedua SIAS dan akhirnya 2 garis linea mediana klavikula.
Tabel 1. Topografi abdomen
Hipokhondriaka kanan Epigastrium Hipokhondriaka kiri

• Right lobe of liver •Pyloric end of stomach • Stomach


• Gallbladder • Spleen
•Duodenum •Pancreas •Portion
• Portion of duodenum • Tail of pancreas
of liver
• Hepatic flexure of colon • • Splenic flexure of colon • Upper
Portion of right kidney pole of left kidney • Suprarenal
• Suprarenal gland gland

Lumbal kanan Umbilikal Lumbal kiri


•Ascending colon •Lower •Omentum •Mesentery •Lower Descending colon
half of right kidney part of duodenum •Jejunum Lower half of left kidney Portions
•Portion of duodenum and and ileum of jejunum and ileum

59
jejunum

Inguinal kanan Hipogastrik (pubik) Inguinal kiri

• Cecum • Ileum • Sigmoid colon

• Appendix • Bladder
• Lower end of ileum • • Uterus (in pregnancy) • Left ureter

Right ureter • Left spermatic cord • Left ovary

• Right spermatic cord

Kavum abdomen meluas mulai dari daerah di bawah diaphragma yang terlindung oleh kosta. Di
daerah yang terlindung ini, terletak sebagian besar dari hepar, ventrikuli, dan seluruh bagian dari
lien yang normal. Organ-organ pada daerah terlindung tersebut tidak dapat diraba (dipalpasi),
tetapi dengan perkusi dapat diperkirakan adanya organ-organ tersebut. Sebagian besar dari
kandung empedu normal terletak disebelah dalam dari hepar, sehingga hampir tidak dapat
dibedakan. Duodenum dan pancreas terletak di bagian dalam kuadran atas abdomen, sehingga
dalam keadaan normal tidak teraba. Ginjal adalah organ yang terletak di daerah posterior,
terlindung oleh tulang rusuk, sudut costovertebral (sudut yang dibentuk oleh batas bawah kosta
ke- 12 dengan processus transverses vertebra lumbalis) merupakan daerah untuk menentukan ada
tidaknya nyeri ginjal.

o Inspeksi: kuadran dan simetris, kontur, warna kulit, lesi, scar, tonjolan,
pelebaran vena dan gerakan dinding perut.
Hasil pemeriksaan :
Normal (simetris kiri kanan, warna sama dengan warna kulit lain, tidak
terdapat lesi, scar, tonjolan, pelebaran vena dan kelainan lainnya).
o Auskultasi: suara peristaltic (bising usus) disemua kuadran (dengan
stetoskop, bagian diafragma), suara pembuluh darah.
Hasil pemeriksaan :
Normal (suara perstaltik terdengar setiap 5-10x/detik, terdengar
denyutan arteri renalis, arteri aorta).
o Perkusi

60
 Perkusi semua kuadran : mulai dari kuadran kanan atas
bergerak searah jarum jam, perhatikan jika klien merasa nyeri
dan bagaimana kualitas bunyinya.
 Perkusi hepar : batas.
 Perkusi limfa : ukuran dan batas
 Perkusi ginjal : nyeri.

Hasil pemeriksaan :
Normal [timpani, bila hepar dan limfa membersar (redup) dan apabila
banyak cairan (hipertimpani)]
 Palpasi semua kuadran (hepar, limfa, ginjal kanan dan kiri) :
masa, karakteristik organ, lokasi, dan nyeri.
Hasil pemeriksaan :
Normal (tidak teraba penonjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada masa dan penumopukan cairan).

61
D. Kerangka Konsep

Nutrisi Usia pubertas

Esterogen turun Regenerasi kospus


luteum
Diproduksinya FSH

Pematangan folikel de graff


Progesteron turun
Penebalan
Sintesis esterogen
endometrium

Meningkatnya LH ovulasi Degenerasi Labilisasi


endometrium memberan lisosom
( menarche )
Kospus luteum
menghasilkan
Melepaskan
progesteron Tidak terjadi
enzim fosfolipase
fertilisasi
A2

Hidrolisis senyawa
fosfolipid

Menghasilkan asam
arakhidonat
menurunkan ambang rasa sakit
pada ujung-ujung saraf aferen
nervus pelvicus Menghasilkan prostaglandin
PGE2 dan PGF2 alfa

Faktor kejiwaan.
Faktor konstitusi.
Faktor obstruksi kontraksi dan
kanallis servikalis. dismenorre disritmik uterus
Faktor endokrin.
Faktor alergi.
Faktor neurologis.
Vasopresin. penurunan aliran
Leukotren. darah ke uterus

62
iskemia
E. Kesimpulan
Lili remaja perempuan 11 tahun mengalamai dysmenorrhea pada saat menarche karena
peningkatan hormon prostaglandin .

63