Anda di halaman 1dari 40

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN
POLIOMYELITIS DAN TETANUS

Disusun Oleh : Kelompok 4


1. Hendro Satya Pratama
2. Nadiya Ayu Nopihartati
3. Regina Desyanda
4. Yuni Mellianti
Dosen Pembimbing: Ns Septiyanti M.Pd

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat
limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah ini,
dengan judul Asuhan keperawatan pada penyakit polymyelitis dan tetanus.
Dalam penulisan Makalah ini Kami tidak henti-hentinya mengucapkan
banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
Makalah ini. Penulisan makalah ini bertujuan memberikan informasi tentang
Asuhan keperawatan post mature
Kami sadar sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan sebagaimana pepatah “Tak ada gading yang tak retak”. Oleh
karenanya kami membuka tangan selebar-lebarnya guna menerima saran dan kritik
membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya kami mengharapkan agar makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

Bengkulu, Mei 2019


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Polio adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus.Polio
menyerang sistem saraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan total dalamhitungan
jam. Virus ini memasuki tubuh melalui mulut dan berkembang biak dalam usus.
Gejala awal adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah,kekakuan pada leher
dan nyeri pada anggota badan. Satu dari 200 infeksimenyebabkan kelumpuhan
ireversibel (biasanya di kaki). Di antara mereka yanglumpuh, 5% sampai 10%
meninggal ketika otot pernapasan mereka lumpuh.(http:// www. Litbang.
Depkes.go.id).
Di Indonesia banyak dijumpai penyakit polio terlebih pada anak-anak halini
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Disamping asupan gizi juga
dapatdipengaruhi oleh faktor keturunan dari orang tua, apalagi dengan kondisi di
negeriini yang masih banyak dijumpai keluarga kurang mampu sehingga
kebutuhan gizianaknya kurang mendapat perhatian.
Peran serta pemerintah disini sangat diharapkan untuk membantu dalam
menangani masalah gizi buruk yang masih banyak ditemui khususnya di daerah
terpencil atau yang jauh dari fasilitas pemerintah, sehingga sulit terjangkau oleh
masyarakat pinggiran.Kalau hal ini tidak mendapat perhatian, maka akan lebih
banyak lagi anak-anak Indonesia yang menderita penyakit polio.
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium
tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah
penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai
gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi
dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah
tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah
peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat
bertebaran di mana-mana.
Kuman C. tetani tersebar luas ditanah, terutama tanah garapan, dan dijumpai
pula pada tinja manusia dan hewan. Perawatan luka yang kurang baik di samping
penggunaan jarum suntik yang tidak steril (misalnya pada pecandu
narkotik).merupakan beberapa faktor yang sering dijumpai sebagai pencetus
tirribulnya tetanus. Tetanus dapat menyerang semua golongan umur, mulai dari
bayi (tetanus neonatorum), dewasa muda (biasanya pecandu narkotik) sampai
orang-orang tua. Dari Program Nasional Surveillance Tetanus di Amerika serikat
diketahui rata-rata usia pasien tetanus dewasa berkisar antara 50-57 tahun.
Berdasar tingkat kejadian ( epidemiologi ) tersebut maka kelompok tertarik
untuk membahas tentang ASKEP pada tetanus .

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kelompok angkat dalam makalah ini,antara lain
:
1. Bagaimana asuhan keperawatan Poliomyelitis?
2. Bagaimana asuhan keperawatan tetanus?

C. Tujuan
1. Menjelaskan asuhan keperawatan Poliomyelitis.
2. Menjelaskan Asuhan keperawatan tetanus
BAB II
PEMBAHASAN

1. Polymyelitis
A. Pengertian
Polio, kependekan dari poliomyelitis, adalah penyakit yang dapat merusak
sistem saraf dan menyebabkan paralysis. Penyakit ini paling sering terjadi pada
anak-anak di bawah umur 2 tahun. Infeksi virus ini mulai timbul seperti demam
yang disertai panas, muntah dan sakit otot. Kadang-kadang hanya satu atau
beberapa tanda tersebut, namun sering kali sebagian tubuh menjadi lemah
danlumpuh (paralisis). Kelumpuhan ini paling sering terjadi pada salah satu atau
kedua kaki. Lambat laun, anggota gerak yang lumpuh ini menjadi kecil dan tidak
tumbuh secepat anggota gerak yang lain. Poliomielitis adalah penyakit menular
yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu
sumsum tulang belakang dan intimotorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian
susunan syaraf tersebut akanterjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis
atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yangdisebabkan oleh virus.
Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk
ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran
darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan
kadang kelumpuhan (paralysis).

B. Klasifikasi
Ada 2 klasifikasi yaitu :
a. Polio non-paralisis Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit
perut, lesu, dansensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Otot terasa
lembek jika disentuh.
b. Polio Paralisis Kurang dari 1% orang yang terinfeksi virus polio berkembang
menjadi polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai
dengan demam. Lima sampai tujuh hari berikutnya akan muncul gejala dan
tanda- tanda lain, seperti: sakit kepala, kram otot leher dan punggung,
sembelit/konstipasi, sensitif terhadap rasa raba.
Polio paralisis dikelompokkan sesuai dengan lokasi terinfeksinya,yaitu:
a) Polio SpinalStrain
Polio Spinal Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang,
menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan padabatang
tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan
permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami
kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadipada kaki. Setelah
poliovirus menyerang usus, virus ini akan diserap olehkapiler darah pada
dinding usus dan diangkut ke seluruh tubuh. Poliovirus menyerang saraf
tulang belakang dan motorneuron yang mengontrol gerak fisik. Pada periode
inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki
kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang
seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batangotak. Infeksi ini akan
mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyebar sepanjang serabut saraf.
Seiring dengan berkembangbiaknya virus dalamsistem saraf pusat, virus
akan menghancurkan motorneuron. Motorneuron tidak memiliki
kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan
bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki
menyebabkan tungkai menjadi lemas. Kondisi inidisebut acute flaccid
paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusatdapat menyebabkan
kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada dada dan perut, disebut
quadriplegia. Anak-anak dibawah umur 5 tahun biasanya akan menderita
kelumpuhan 1 tungkai, sedangkan jika terkenaorang dewasa, lebih sering
kelumpuhan terjadi pada kedua lengan dantungkai.
b) Bulbar Polio
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga
batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung motorneuron yang
mengatur pernapasan dan saraf otak, yang mengirim sinyal ke berbagai otot
yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka
yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf
auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu
proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan
rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf
tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan,
polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen
penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot
pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah
terjadi kerusakan pada saraf otak yang bertugas mengirim ‘perintah
bernapas’ ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan
pada fungsi penelanan; korban dapat ‘tenggelam’ dalam sekresinya sendiri
kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk
menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru.
Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah
menggunakan ‘paru-paru besi’ (iron lung). Alat ini membantu paru-paru
yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam
tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan mengempis, kalau
tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan demikian
udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah pada
otak dapat menyebabkan koma dan kematian.

C. Epidemologi
Selama 3 dekade pertama di abad ke 20-,80-90% penderita polio adalah anak
balita,kebanyakan dibawah umur 2 tahun. Tahun 1955,di Massachusett Amerika
Serikat pernah terjadi wabah polio sebanyak 2.771 kasus dan tahun 1959 menurun
menjadi 139 kasus.Hasil penelitian WHO tahun 1972-1982,di Afrika dan Asia
Tenggara terdapat 4.214 dan 17.785 kasus. Dinegara musim dingin,sering terjadi
epidemic dibulan Mei-Oktober,tetapi kasus sporadic tetap terjadi setiap saat .
Di Indonesia ,sebelum perang dunia II, penyakit polio merupakan penyakit
yang sporadic-endemis,epidemi pernah terjadi di berbagai daerah seperti Bliton
sampai ke banda, Balikpapan, bandung Surabaya,Semarang dan Medan Epidemi
terakhir terjadi pada tahun 1976/1977 di Bali Selatan. Kebanyakan infeksi virus
polio tanpa gejala atau timbul panas yang tidak spesifik. Perbandingan
asimtomatik dan ringan sampaiterjadi paralisis adalah 100:1 dan 1000:1.
Penyebaran dipercepat bila ada wabah atau pada saat yang bersamaan
dilakukan pula tindakan bedah seperti tonsilektomi ,ekstraksi gigi dan
penyuntikan.
Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe paralitik ,disebabkan oleh
komplikasi berupa kegagalan nafas ,sedangkan untuk tipe ringan tidak dilaporkan
adanya kematian.Walaupun kebanyakan poliomyelitis tidak jelas /inapparent (90-
95%);hanya 5-10% yang memberikan gejala poliomyelitis.

D. Etiologi dan Faktor Resiko


Terjadinya wabah polio biasanya akibat:
1. Sanitasi yang jelek
2. Padatnya jumlah penduduk
3. Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
4. Pengadaan air ber`sih yang kurang
Penularan dapat melalui:
1. Inhalasi
2. Makanan dan Minuman
3. Bermacam serangga seperti lipas dan lalat.
Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu :
1. Brunhilde
2. Lansing
3. Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan
/oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari
Klasifikasi virus :
Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA)
Familia: Picornaviridae
Genus: Enterovirus
Spesies: Poliovirus
Secara serologi virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
Tipe I Brunhilde Tipe II Lansing dan Tipe III Leoninya
Faktor Resiko terjadinya Polio:
1. Belum mendapatkan imunisasi
2. Berpergian kedaerah yang masih sering ditemukan polio
3. Usia sangat muda dan usia lanjut
4. Stres atay kelehahan fisik yang luar biasa(karena stress emosi dan fisik dapat
melemahkan system kekebalan tubuh).

E. Manifestasi Klinis
1. Poliomielitis Asimtomatis: Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat
gejala karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik
sama sekali.
2. Poliomielitis Abortif: Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai
beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea,
muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.
3. Poliomielitis Non Paralitik: Gejala klinik hampir sama dengan poliomyelitis
abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-
2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi
demam atau masuk ke dalam fase ke-2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit
ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion
spinal dan kolumna posterior.
4. Poliomielitis Paralitik: Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai
kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis
akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus.
Adapun bentuk- bentuk gejalanya antara lain :
1. Bentuk spinal: Gejala kelemahan/paralysis atau paresis otot leher, abdomen,
tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.
2. Bentuk bulbar: Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa
gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.
3. Bentuk bulbospinal: Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan
bentuk bulbar.
4. Kadang ensepalitik: Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor
dan kadang kejang.

F. Patofisiologi
Virus biasanya memasuki tubuh melalui rongga orofaring dan berkembang biak
dalam traktus digestivus,kelenjar getah bening regional dan system
retikuloendoteal dalam keadaan ini timbul :
 Perkembangan virus sehingga tubuh akan membentuk antibody spesifik.
 Apabila zat antibody dalam tubuh mencukupi dan cepat maka virus akan
dinetralisasi sehingga hanya timbul gejala klinik yang ringan atau tidak
timbul gejala sama sekali sehingga tubuh timbul imunitas terhadap virus
tersebut
 Dan apabila proliferasi virus lebih cepat dari pembentukan zat antibody
tersebut maka akan timbul gejala klinik atau viremia kemudian virus akan
terdapat dalam faeses penderita dalam beberapa minggu lamanya.
Pada umumnya virus yang tertelan akan menginfeksi di epitel
orofaring,tonsil,kelenjar limfe pada leher dan usus kecil/halus. Faring akan segera
terkena setelah virus masuk dan karena virus tahan terhadap asam lambung maka
virus dapat mencapai saluran cerna bagian bawah tanpa perlu proses in aktivasi.
Dari faring setelah bermultiplikasi virus akan menyebar pada jaringan limfe tonsil
yang berlanjut pada aliran limfe dan pembuluh darah. Virus dapat dideteksi pada
nasofaring setelah 24 jam sampai 3-4 minggu. Infeksi susunan saraf pusat dapat
terjadi akibat viremia yang menyusul replikasi cepat virus ini. Virus polio
menempel dan berkembang biak pada sel usus yang mengandung PVR (
PolioVirus Reseptor) dalam waktu sekitar 3 jam setelah infeksi telah terjadi
kolonisasi. Sel yang menganduk PVR tidak hanya di usus dan tenggorok saja akan
tetapi terdapat di sel monosit dan sel neuro motor di SSP, sekali terjadi perkaitan
antara virion dan replikator akan terjadi integrasi RNA ke dalam virion berjalan
cepat sehingga dari infeksi sampai pelepasan virion baru hanya memerlukan waktu
4-5 jam. Sedang virus yang bereplikasi secara local kemudian menyebar pada
monosit dan kelenjar limfe yang terkait. Perlekatan dan penetrasi virus dapat
dihambat oleh secretory IgA lokal, kejadian neuropati pada poliomyelitis
merupakan akibat langsung dari multiplikasi virus di jaringan saraf,itu merupakan
gejala yang patognomonik namun tidak semua saraf yang terkena akan mati
keadaan reversibillitas fungsi sebagian disebabkan karena sprouting dan seolah
kembali seperti sediakala dalam waktu 3 – 4 minggu setelah onset. Terdapat
kelainan perivaskular dan infiltrasi interstisiel sel glia, secara histology pada
umumnya kerusakan saraf yang terjadi luas namun tidak sejalan dengan gejala
klinisnya.
Lesi saraf pada kasus poliomyelitis dapat ditemukan pada ;
 Medula spinalis terutam didaerah kornu anterior,sedikit didaerah kornu
intermediet & dorsal serta di ganglia radiks dorsalis.
 Medulla oblongata (nuclei vestibularis,nuclei saraf cranial dan formation
retikularis yang merupakan pusat-pusat vital).
 Serebelum (hanya di nuclei bagian atas dan vermis)
 Otak tengah/mid brain terutama pada massa kelabu,substansia nigra kadang-
kadang substansia rubra.
 Thalamus dan hipotalamus
 Palidum
 Korteks serebri bagian motorik.
Gambaran patologik menunjukkan adanya reaksi peradangan pada system
retikuloendoteal terutama jaringan limfe, kerusakan terjadi pada sel motor neuron
karena virus bersifat sangat neuronotropik,tetapi tidak menyerang
neuroglia,myelin atau pembuluh darah besar. Terjadi juga peradangan pada sekitar
sel yang terinfeksi dehingga kerusakan sel makin luas. Kerusakan pada sumsum
tulang belakang terutama pada anterior horn cell/kornu anterior,pada otak
kerusakan terutama terjadi pada sel motor neuron formasi dari pons dan
medulla,nuclei vestibules,serebelum sedang lesi pada kortex hanya merusak
daerah motor dan premotor saja. Pada jenis bulbar lesi terutama mengenai medulla
yang berisi nuklai motor dari saraf otak, replikasi pada sel motor neuron di SSP
yang akan menyebabkan kerusakan permanen

G. Komplikasi
1. Melena cukup berat sehingga memerlukan transfusi, yang mungkin diakibatkan
erosi ususs uperfisial.
2. Dilatasi lambung akut dapat terjadi mendadak selama stadium akut atau
konvalesen dalam keadaan pemulihan kesehatan' stadium menuju kesembuhan
setelah serangan penyakit masa penyembuhan menyebabkan gangguan respirasi
lebih lanjut.
3. Hipertensi ringan yang lamanya beberapa hari atau beberapa minggu , biasanya
pada stdiumakut, mungkin akibat lesi pusat vasoregulator dalam medula.
4. Ulkus dekubitus dan emboli paru, dapat terjadi akibat berbaring yang lama di
tempat tidur,sehingga terjadi pembususkan pada daerah yang tidak ada
pergerakan atrofi otot sehingga terjadi kematian sel dan jaringan!e.
5. Hiperkalsuria, yaitu terjadinya dekalsifikasi kehilangan zat kapur dari tulang
gigi akibat penderita tidak dapat bergerak.
6. Kontraktur sendi,yang sering terkena kontraktur antara lain sendi paha, lutut
dan pergelangan kaki
7. Pemendekan anggota gerak bawah,biasanya akan tampak salah satu tungkai
lebih pendek dibandingkan tungkai yang lainnya, disebabkan karena tungkai
yang pendek mengalami antropiotot.
8. Skoliosis,tulang belakang melengkung ke salah satu sisi, disebabkan
kelumpuhan sebagianotot punggung dan juga kebiasaan duduk atau berdiri
yang salah.i.
9. Kelainan telapak kaki, dapat berupa kaki membengkok ke luar atau ke dalam

H. Pemeriksaan Penunjang
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. Viral Isolation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena
penyakit polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal adalah
diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat. Jika poliovirus terisolasi
dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang tersebut harus diuji lebih
lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan genomic untuk menentukan
apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah.
2. Uji Serology
Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita. Jika
pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang tersebut
terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak netral dan
dapat menjadi aktif pada saat Klien tersebut sakit.
3. Cerebrospinal Fluid ( CSF)
Cerebrospinal Fluid di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat
peningkatan jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel
limfositnya. Dan kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml ( Paul, 2004 ).

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
 Poliomyelitis asimtomatis tidak perlu perawatan.
 Poliomyelitis abortif diatasi dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala
kelainan aktivitas dapat dimulai lagi. Sesudah 2 bulan dilakukan pemeriksaan
lebih teliti terhadap kemungkinan kelainan muskuloskeletal.
 Poliomyelitis paralitik/ non-paralitik diatasi dengan Istirshat mutlak paling
sedikit 2 minggu, perlu pengawasan yang teliti karena setiap saat dapat
terjadi paralisis pernapasan. Terapi kausal tidak ada.
 Fase akut:
Analgetik untuk rasa nyeri otot. Lokal diberi pembalut hangat. Sebaiknya
dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak pada
sudut yang sesuai terhadap tungkai. Antipiretik untuk menurunkan suhu. Jika
terdapat retensi urine dilakukan kateterisasi. Bila terjadi paralisis pernapasan
seharusnya dirawat di unit perawatan khusus karena Klien memerlukan bantuan
pernapasan khusus (mekanis). Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang
refleks menelan terganggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi.
Dalam hal ini kepala anak harus diletakan lebih rendah dan dimiringkan ke salah
satu sisi.
 Sesudah fase akut:
Kontraktur, atrofi dan atoni otot dikurangi dengan fisioterapi. Tindakan ini
dilakukan setelah 2 hari demam hilang. Akupuntur yang dilakukan sedini mungkin
segera setelah diagnosis ditegakkan akan membawa hasil yang memuaskan.
Penatalaksanaan Keperawatan
 Klien perlu dirawat di kamar isolasi dengan perangkat lengkap kamar isolasi
dan memerlukan pengawasan yang teliti.
 Mengingat bahwa virus polio juga terdapat pada feses Klien maka bila
membuang feses harus betul-betul ke dalam lobang WC dan disiram air
sebanyak mungkin. Kebersihan WC/sekitarnya harus diperhatikan dan
dibersihkan dengan desinfektan.
 Menganjurkan klien beristirahat selama 2 minggu/lebih bergantung pada jenis
penyakit bentuk polio. Karena Klien merasakan sakit pada otot yang sarafnya
terkena maka Klien tidak mau bergerak sendiri. Oleh karena itu Klien ditolong
di atas tempat tidur dengan hati-hati misalnya mau memasang pot, atau bila
akan mengubah posisi angkatlah dahulu kaki/anggota yang sakit dan orang lain
memasangkan pot atau membereskan alat tenun.

J. Pencegahan
Cara pencegahan dapat dilalui melalui :
1. Imunisasi
 Pengertian Imunisasi Polio
Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan
terhadap penyakit poliomielitis yaitu penyakit radang yang menyerang syaraf dan
dapat mengakibatkan lumpuh kaki (Anik Maryunani, 2010).
 Jadwal Pemberian
Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak
kurang dari satu bulan. Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan.
Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin
polio selalu dibarengi dengan vaksin DPT.
 Cara Pemberian
Cara pemberian imunisasi polio bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis
Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV).Di Indonesia
yang digunakan adalah OPV, karena lebih aman. OPV diberikan dengan
meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau
dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi polio
diberikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
 Efek Samping
Hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare
ringan, dan sakit otot.
 Tingkat Kekebalan
Dapat mencapail hingga 90%.Pemberian imunisasi polio untuk memutus rantai
penularan virus polio.
 Kontra Indikasi
Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi
(diatas 380C), muntah atau diare, penyakit kanker atau keganasan, HIV/AIDS,
sedang menjalani pengobatan radiasi umum, serta anak dengan mekanisme
kekebalan terganggu.
 Vaksin Polio
 Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)
IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan,
kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia.
Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat
menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan
tubuh yang lemah.
Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1, 2, dan 3 dibiakkan
pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.Selain itu
dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin.IPV harus
disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian vaksin tersebut
dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam 4 kali
berturut-turut dalam jarak 2 bulan.
 Oral Polio Vaccine (OPV)
Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut.
Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Komposisi vaksin
tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1, 2, dan 3 adalah suku Sabin yang masih
hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan
jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2 tetes
mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih
dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.
Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus
dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar
lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang
akan masuk. Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi
terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Setelah diberikan
dosis pertama dapat terlindungi secara cepat, sedangkan pada dosis berikutnya
akan memberikan perlindungan jangka panjang. Vaksin ini diberikan pada bayi
baru lahir 2, 4, 6, 18 bulan, dan 5 tahun.
 Imunisasi ulang
Diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6 tahun) dan saat meninggalkan
sekolah dasar (12 thun).Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan
meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung ke dalam mulut
anak.Imunisasi ini jangan diberika pada anak yang sedang diare berat, efek
samping yang terjadi sangat minimal dapat berupa kejang

2. Pencegahan yang amat penting dengan perbaikan sanitasi


setiap keluarga harus memiliki sarana air bersih, sarana sanitasi seperti jamban,
pembuangan air limbah rumah tangga, pembuangan sampah yang tertib. Dengan
mewujudkan rumah sehat dan lingkungan yang sehat maka akan dapat mencegah
penyakit berbasis lingkungan termasuk polio.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
POLIOMYELITIS

A. Pengkajian
1. Identitas.
Penyakit polio dapat menyerang semua kelompok umur, namun kelompok
umur yang paling rentan adalah 1–15 tahun dari semua kasus polio . Penelitian
Soemiatno dalamApriyatmoko menyebutkan bahwa 33,3 % dari kasus polio
adalah anak-anak di bawah 5 tahun. Infeksi oleh golongan enterovirus lebih
banyak terjadi pada laki-laki dari pada wanita (1,5-2,5 : 1). Resiko kelumpuhan
meningkat pada usia yang lebih tinggi, terutama bila menyerang individu lebih
dari 15 tahun.
2. Riwayat Keperawatan.
 Keluhan utama.
Gejala terjadi secara mendadak beberapa jam saja. Muntah, nyeri kepala, nyeri
tenggorokan, konstipasi, nyeri abdomen, malaise, dan timbul gejala seperti
anoreksia dan nausea (Poliomyelitis abortif). Nyeri, kaku otot belakang leher,
dan tungkai hipertonia (Poliomyelitis nonparalitik) (Chin 2006: 482-485).
Demam tinggi, sakit punggung dan otot, dan terjadi kelumpuhan (Poliomyelitis
paralitik).
 Riwayat penyakit sekarang.
Awalnya tidak ada gejala yang timbul. Gejala terjadi secara mendadak beberapa
jam saja. Gajala Poliomyelitis abortif adalah muntah, nyeri kepala, nyeri
tenggogorokan, konstipasi, nyeri abdomen, malaise, dan timbul gejala seperti
anoreksia dan nausea. Pada Poliomyelitis Nonparalitik gejala hampir sama
dengan Poliomyelitis abortif tetapi lebih berat, disertai dengan adanya nyeri,
kaku otot belakang leher, dan tungkai hipertonia. Sedangkan Poliomyelitis
paralitik gejala hampir sama dengan Paralitik Nonparalitik tetapi sudah terjadi
kelumpuhan disertai demam tinggi, sakit punggung dan otot.
 Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya pasien pernah terpajan virus polio.
 Riwayat kesehatan keluarga.
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya.
 Riwayat kesehatan lingkungan.
Biasanya virus dapat hidup di air dan manusia, meskipun juga bisa terdapat
pada sampah dan lalat
 Imunisasi.
Biasanya orang-tua tidak memberikan imunisasi Polio secara lengkap ataupun
tidak sama sekali (4 kali dengan interval 6-8 minggu).
 Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Tidak ada masalah pada pertumbuhan dan perkembangan.
 Nutrisi.
Tidak ada masalah pada nutrisi.
 Pemeriksaan fisik.
 Sistem kardiovaskuler.
Tidak ada kelainan.
 Sistem pernapasan.
Tidak ada kelainan.
 Sistem pencernaan.
Umumnya terjadi konstipasi, muntah, nyeri abdomen, anoreksia dan nausea.
 Sistem genitourinarius.
Tidak ada kelainan
 Sistem saraf.
Umumnya nyeri pada kepala, malaise, dan terjadi kelumpuhan.
 Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Umumnya sakit pada punggung dan otot, nyeri tenggorokan, tungkai
hypertonia.Kelemahan otot, Resistensi terhadap fleksi leher (poliomyelitis
nonparalitik dan paralitik). Pasien “tripod” mengekstensi lengan ke belakang
tubuhnya sebagai penopang saat duduk. Kepala pasien jatuh ke belakang saat
supine dan bahu elevasi (tanda Hoyne), Tidak mampu mengangkat tungkai 90*
saat posisi supine, Tanda kernix dan burdzinski (poliomyelitis paralitik).
 Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
 Sistem integumen.
Akral hangat.
 Sistem pendengaran.
Tidak ada kelainan.

B. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungandengandisfungsi neuromuscular
2. Gangguan menelan berhubungan dengan gangguan neuromuscular (penurunan
kekuatan atau ekskursiotot yang terlibat dalam mastikasi)
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
4. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
ekstremitas
6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan kekuatan otot abdomen

Data Mayor Dehidrasi Hipertermi


Subjektif : Terpapar lingkungan panas
Tidak tersedia Proses penyakit
Objektif : Ketidaksesuain pakaian
Suhu tubuh diatas dengan suhu lingkungan
nilai normal Peningkatan laju
Data minor metabolisme
Subjektif : Respon trauma
Tidak tersedia Aktivitas berlebihan
Objektif: Penggunaan Incubator
Kulit merah
Kejang
Takikardia
Takipnea
Kulit terasa hangat
Data mayor Agen pencendera fisiologis ( Nyeri Akut
Subjektif : miss inflamasi, iskemia,
Mengeluh nyeri neoplasma)
Objektif : Agen pencendera kimiawi (
Tampak meringis mis, terbakar, bahan kimia
Bersikap protektif iritan )
( mis, waspada, Agen pencedera fisik ( mis,
posisi, menghindari abses, amputasi, terbakar,
nyeri ) terpotong, mengangkat berat,
Gelisah prosedur operasi , trauma,
Frekuensi nadi latihan fisik berlebihan)
meningkat
Sulit tidur
Data minor
Subjektif :
Tidak tersedia
Objektif :
Tekanan darah
meningkat
Pola nafas berubah
Nafsu makan berubah
Proses berfikir
terganggu
Menarik diri
Berfokus pada diri
sendiri
Diaphoresis
Data Mayor Kerusakan integritas Hambatan mobilitas
Subjektif struktur tulang Fisik
Mengeluh sulit Perubahan metabolisme
menggerakan Ketidakbugaran fisik
ekstremitas Penurun kendali otot
Objektif Penurunan massa otot
Kekuatan otot Penurunan kekuatan otot
menurun Keterlambatan
Rentang gerak perkembangan
(ROM) menurun Kekakuan sendi
Data Minor Kontraktur
Subjektif Malnutrisi
Nyeri saat bergerak Gangguan musculoskeletal
Enggan melakukan Gangguan neuromuscular
pergerakan Indeks masa tubuh diatas
Merasa cemas saat persentil ke-75 sesuai usia
bergerak Efek agen farmakologis
Objektif Program pembatasan gerak
Sendi kaku Nyeri
Gerakan tidak Kurang terpapar informasi
terkoordinasi tentang aktivitas fisik
Gerakan berbatas Kecemasan
Fisik lemah Gangguan kognitif
Keengganan melakukan
pergerakan
Gangguan sensoripersepsi
2. Tetanus
Konsep Penyakit
A. Definisi
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium
tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman. Tetanus
adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani,
bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh
badan. Kekakuan tonusss otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot
rangka.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit
infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani,yang ditandai
dengan gejala kekakuan dan kejang otot.(Ritharwan,2004)
Perbedaan tetanus pada anak dan dewasa
1. Anak
Penyakit tetanus kebanyakan terdapat pada anak-anak yang belum pernah
mendapatkan imunasi tetanus (DPT). Dan pada umumnya terdapat pada anak dari
keluarga yang belum mengerti pentingnya imunasi dan pemeliharaan kesehatan,
seperti kebersihan lingkungan dan perorangan.
Sebagian besar tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang lahir dengan dukun
yang belum mengikuti penataran dari Depkes. Dimana dukun – dukun ini
memotong tali pusat hanya memakai alat sederhana seperti bilah bambu, pisau
atau gunting yang tidak di steril dahulu, sehingga bisa menimbulkan infeksi
melalui luka pada tali pusat. Infeksi yahng disebabkan oleh Clostridium Tetani
dapat juga karena perawatan tali pusat yang menggunakan obat trradisional seperti
abu, kapur sirih, daun-daunan, dsb. Tetanus pada anak tejadi 10 hari setelah bayi
lahir.
2. Dewasa
Penyebab penyakit seperti pada tetanus neonatorum, yaitu Clostridium tetani
yang hidup anaerob, berbentuk spora selama di luar tubuh manusia, tersebut luas
di tanah. Juga terdapat di tempat yang kotor, besi berkarat sampai pada tusuk sate
bekas. Basil ini bila kondisinya baik ( didalam tubuh manusia ) akan
mengeluarkan toksin. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak
leukosit dan merupakan tetanospasmi, yaitu neurotropik yang dapat menyebabkan
ketegangan dan spasme otot.
Tetanus, biasa disebut kejang mulut, disebabkan oleh toksin bakteri, atau racun,
yang mempengaruhi sistem saraf. Hal ini dikontrak lewat luka atau luka yang
menjadi terkontaminasi dengan bakteri tetanus. Bakteri bisa masuk melalui bahkan
kecil cocokan peniti atau menggaruk, tetapi luka tusukan mendalam atau luka
seperti yang dibuat oleh paku atau pisau yang sangat rentan terhadap infeksi
tetanus. Bakteri tetanus di seluruh dunia hadir dan biasanya ditemukan di tanah,
debu dan kotoran. Tetanus menyebabkan kejang otot parah, termasuk
"penguncian" rahang sehingga pasien tidak bisa membuka / nya mulutnya atau
menelan, dan mungkin menyebabkan kematian oleh sesak napas. Tetanus tidak
menular dari orang ke orang.

B. Klasifikasi
Tetanus berdasarkan bentuk klinis dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Tetanus local: biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas
dan spasme pada bagian paroksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam
beberapa minggu dan menghilang.
2. Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering, biasanya timbul
mendadak dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung daan sakit
kepala merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat kontraksi otot
somatic meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan
aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme
berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode
relaksasi.
3. Tetanus segal: varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2 hari
terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol adalah
disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti tetanus
umum.
Berdasarkan berat gejala dapat dibedakan menjadi 3 stadium, yaitu:
1. Trismus (3 cm) tanpa kejang torik umum meskipun dirangsang.
2. Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
3. Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.

C. Etiologi
Penyakit tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dapat
masuk melalui luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tidak
dirawat dan tidak dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang
tidak steril, dan penjahitan luka robek yang tidak steril. Penginfeksian kuman
Clostridium tetani lebih mudah bila klien belum terimunisasi.
Tetanus pada anak
1. Infeksi melalui tali pusat saat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang tidak steril
3. Tidak diberikannya imunisasi tetanus tiksoid ketika masih kecil
4. Pertolongan persalinan yang tidak memenuhi sarat kesehatan ketika proses
persalinan
5. Masa inkubasi virus yang cepat yaitu 5-14 hari
Tetanus pada dewasa
1. Luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca, luka tembak, luka
bakar, luka yang kotor.
2. Kecelakaan dan timbul luka yang tertutup debu / kotoran.
3. Luka yang kotor / tertutup memungkinkan keadaan anaerob yang ideal untuk
pertumbuhan Clostridium tetani.
4. Luka gores yang ringan kemudian menjadi bernanah ; gigi berlobang dikorek
dengan benda yang kotor atau OMP yang dobersihkan dengan kain yang kotor.
Faktor predisposisi
1. Umur tua atau anak-anak
2. Luka yang dalam dan kotor
3. Belum terimunisasi

D. Patofisiologi
Tetanus disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang masuk melalui
luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar, luka operasi yang tida dirawat dan tidak
dibersihkan dengan baik, caries gigi, pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan
penjahitan luka robek yang tidak steril yang lebih beresiko bagi orang-orang yang
belum terimunisasi.
Toksin kuman C. tetani berbentuk spora. Bentuk spora dalam suasana anaerob
dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini
menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya
keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun
mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga
terpengaruh.

E. Manifestasi Klinis
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin
bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini
menjadi nyata dengan gejala umum:
1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
2. Kaku kuduk sampai epistotonus karena ketegangan otot-otot erector trunki
3. Ketegangan otot dinding perut
4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior
5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alias tertarik ke atas), sudut mulut
tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
6. Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan (sering
merupakan gejala dini)
7. Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas inferior
dala keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Keadaan tetap
sadar, spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi, kemudian
tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi
perdarahan intramuscular karena kontraksi yang kuat.
8. Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring.
Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur kolumna
vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan
cairan otak.

F. Penatalaksanaan Tetanus
Penatalaksanaan pada klien dengan tetanus ada 2 macam yaitu farmakologi dan
non-farmakologi.
1. Farmakologi
a) Antitoksin: antitoksin 20.000 1u/ 1.M/5 hari. pemberian baru diberikan
setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.
b) Anti kejang (antikonvulsan)
c) Fenobarbital (luminal): 3 x 100 mg/1.M. Untuk anak diberikan mula-mula
60-100 mg/1.M lalu dilanjutkan 6x30 mg/hari (max. 200mg/hari).
d) Klorpromasin: 3x25 mg/1.M/hari. Untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg
BB.
e) Diazepam: 0,5-10 mg/kg BB/1.M/4 jam, dll.
f) Antibiotic: penizilin procain 1juta 1u/hari atau tetrasifilin 1gr/hari/1.V.
Dapat memusnahkan tetani tetapi tidak mempengaruhi proses
neurologiknya.
2. Non-farmakologi
a) Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
b) Diet TKTP. Pemberian tergantung kemampuan menelan. Bila trismus,
diberikan lewat sonde parenteral.
c) Isolasi pada ruang yang tenang, bebas dari rangsangan luar.
d) Menjaga jalan nafas agar tetap efisien.
e) Mengatur cairan dan elektrolit.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan tetanus meliputi:
1. Darah
Glukosa darah: hipoglikemia merupakan predisposisi kejang.
2. BUN: peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi
nepro toksik akibat dari pemberian obat.
3. Elektrolit (K, Na): ketidakseimbangan elektroit merupakan predisposisi kejang
kalium (normal 3,80-5,00 meq/dl).
4. Skull Ray: untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi.
5. EEG: teknik untuk menekan aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh
untuk mengetahui focus aktifitas kejang, hasil biasanya normal.

H. Pencegahan
Pencegahan penyakit tetanus meliputi :
1. Anak mendapatkan imunisasi DPT diusia 3-11 Bulan
2. Ibu hamil mendapatkan suntikan TT minimal 2 X
3. Pencegahan terjadinya luka & merawat luka secara adekuat
4. Pemberian anti tetanus serum

I. Komplikasi pada klien Tetanus


1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di rongga
mulut. Hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi
2. Pneumonia aspirasi.
3. Asfiksia.
4. Atelektasis karena obstruksi secret.
Konsep Asuhan keperawatan

A. Pengkajian
1. Identitas
Penyakit tetanus kebanyakan terdapat pada anak-anak yang belum pernah
mendapatkan imunisasi tetanus (DPT) dan pada umumnya terdapat pada anak dari
keluarga yang belum mengerti pentingnya imunisasi dan pemeliharaan kesehatan
seperti kebersihan lingkungan dan perorangan (Muttaqin, 2008, p. 219)
2. Status Kesehatan Saat Ini
 Keluhan Utama
Seing menjadi alasan klien atau orang tua membawa anaknya untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah panas badan tinggi, kejang dan penurunan tingkat
kesadaran (Muttaqin, 2008, p. 118).
 Alasan Masuk Rumah Sakit
Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan
toksin tetanus yang menginflamasi jaringan otak. Keluhan perubahan perilaku
juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, tidak
responsif, dan koma (Muttaqin, 2008, p. 221).
 Riwayat Penyakit Sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui
predisposisi penyebab sumber luka. Biasanya pasien tetanus sering
menimbulkan kejang, dan harus diberikan tindakan untuk menurunkan keluhan
kejang tersebut (Muttaqin, 2008, p. 221).
 Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah ada penyakit yang dapat berhubungan dengan tetanus atau
memperberat penyakit tetanus
 Riwayat Penyakit Sebelumnya
penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau
menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi klien mengalami tubuh terluka
dan luka tusuk yang dalam misalnya tertusuk paku, pecahan kaca, terkena
kaleng, atau luka yang menjadi kotor; karena terjatuh di tempat yang kotor dan
terluka atau kecelakaan dan timbul luka yang tertutup debu/kotoran juga luka
bakar dan patah tulang terbuka. Adakah porte d’entree lainnya seperti luka
gores yang ringan kemudian menjadi bernanah dan gigi berlubang dikorek
dengan benda yang kotor (Muttaqin, 2008, p. 222).
 Riwayat Pengobatan
Biasanya pasien tetanus menggunakan obat-obatan diazepam sebagai terapi
spasme tetanik dan kejang tetanik. Mendepresi semua tingkatan system saraf
pusat, termasuk bentukan limbik dan reticular, mungkin dengan meningkatkan
aktivitas GABA, suatu neurotransmitter inhibitori utama (Sudoyo, 2009, p.
2920).
3. Riwayat Psikososial
Psikososial pasien tetanus biasanya timbul ketakutan akan kecacatan, rasa
cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Karena klien harus
menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak pada status
ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang
tidak sedikit (Muttaqin, 2008, p. 222).
4. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum
Kesadaran
Kesadaran klien biasaanya composmentis, pada keadaan lanjut tingkat
kesadaran klien tetanus mengalami penurunan pada tingkat letargi, stupor, dan
semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS
sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk
monitoring pemberian asuhan (Muttaqin, 2008, p. 223).
 Tanda-tanda vital
 Tekanan darah : biasanya tekanan darah pada pasien tetanus biasanya normal
(Muttaqin, 2008, p. 222).
 Nadi : penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan perfusi jaringan di
otak (Muttaqin, 2008, p. 222)
 RR : Frekuensi pernappassan pada pasien tetanus meningkat karena
berhubungan dengan peningkatan laju metabolism umum (Batticaca, 2012, p.
127).
 Suhu : pada pasien tetanus biasanya peningkatan suhu tubuh lebih dari normal
38-40°C (Batticaca, 2012, p. 127).
5. Body System
 Sistem pernapasan
Inspeksi apakah klien terdapat batuk, produksi sputum, sesak napas,
penggunaan otot pernapasan dan peningkatan frekuensi pernapasan yang sering
didapatkan pada klien tetanus yang disertai adanya ketidakefektifan bersihan
jalan napas. Palpasi thorax didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronchi pada klien dengan peningkatan
produksi secret dan kemampuan batuk yang menurun (Muttaqin, 2008, p. 223).
 Sistem kardiovaskuler
Pengkajian pada system kardiovaskular didapatkan syok hipovolemik yang
sering terjadi pada klien tetanus. TD biasanya normal, peningkatan heart rate,
adanya anemis karena hancurnya eritrosit (Muttaqin, Arif, 2012, p. 138).
 Sistem persarafan
 Saraf I. Biasanya pada klien tetanus tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
tidak ada kelainan.
 Saraf II Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.
 Saraf III, IV, dan Dengan alasan yang tidak diketahui, klien tetanus mengeluh
mengalami fotofobia atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya. Respons
kejang umum akibat stimulus rangsang cahaya perlu diperhatikan perawat
untuk memberikan intervensi menurunkan stimulasi cahaya tersebut.
 Saraf V. Refleks masester meningkat. Mulut-mencucu seperti mulut ikan (ini
adalah gejala khas dari tetanus).
 Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
 Saraf VIII Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
 Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut
(trismus).
 Saraf XI Didapatkan kaku kuduk. Ketegangan otot rahang dan leher
(mendadak).
 Saraf XII Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi. Indra pengecapan normal
 Sistem motorik
Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan dan koordinasi pada tetanus
tahap lanjut mengalami perubahan.
 Pemeriksaan refleks
 Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau
periosreum derajat refleks pada respons normal.
 Gerakan involunter
 Tidak diremukun adanya tremor, Tic, dan distonia. Pada keadaan tertentu klien
biasanya mengalami kejang umum, terutama pada anak dengan tetanus disertai
peningkatan suhu nibuh yang tinggi. Kejang berhubungan sekunder akibat area
fokal kortikal yang peka.
 Sistem sensorik
Pcmcriksaan sensorik pada tetanus biasanya didapatkan perasaan raba normal,
perasaan nyeri normal. Perasaan suhu normal, tidak ada perasaan abnormal di
permukaan tubuh. Perasaan proprioseptif normal dan pcrasaan diskriminatif
normal. (Muttaqin, 2008, p. 223).
 Sistem perkemihan
Penurunan volume haluaran urine berhubungan dengan perfusi dan penurunan
curah jantung ke ginjal. Adanya retensi urine karena kejang umum. Pada klien
yang sering kejang sebaiknya pengeluaran urine dengan menggunakan cateter
(Muttaqin, 2008, p. 224).
 Sistem pencernaan
Mual sampai munttah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam
lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien tetanus menurun Karen aanorexia dan
adanya kejang, kaku dinding perut (perut papan) merupakan tanda khas pada
tetanus. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan BAB (Muttaqin, 2008, p.
224)
 Sistem Integumen
klien mengalami tubuh terluka dan luka tusuk yang dalam nisalnya tertusuk
paku, pecahan kaca, terkena kaleng, atau luka yang menjadi kotor, karena
terjatuh di tempat yang kotor, dan terluka atau kecelakaan dan timbul luka yang
tertutup debu atau kotoran juga luka bakar dan patah tulang terbuka. Adakah
porte de entrée seperti luka gores yang ringan kemudian menjadi bernanah dan
gigi berlubang dikorek dengan benda yang kotor (Muttaqin, 2008, p. 222).
 Sistem musculoskeletal
adanya kejang umum sehingga mengganggu mobilitas klien dan menurunkan
aktivitas sehari-hari. Perlu dikaji apabila klien mengalami patah tulang terbuka
yang memungkinkan port de entrée kuman clostridium tetani, sehingga
memerlukan perawatan luka yang optimal. Adanya kejang memberikan resiko
pada fraktur vertebra pada bayi, ketegangan, dan spasme otot pada abdomen
(Muttaqin, 2008, p. 224)
 Sistem Endokrin
fungsi endokrin pada klien tetanus normal (Sudoyo, 2009, p. 2213)
 Sistem reproduksi
Pasien tetanus dari tingkah laku seksual dan reproduksi normal (Sudoyo, 2009,
p. 2215)
 Sistem pengindraan
Sistem pengindraan pengecapan pada pasien tetanus normal dan tidak
ditemukan gangguan (Muttaqin, 2008, p. 223).
 Sistem imun
kemampuan sistem imunitas akan berkurang dalam mengenali toksin sebagai
antigen sehingga mengakibatkan tidak cukupnya antibodi yang dibentuk
(Batticaca, 2012, p. 128)
B. Diagnosa
1. Hipertemia b/d inflamasi
2. Bersihan jalan Napas tidak efektif b/d secret yang menumpuk
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d asupan nutrisi yang tidak adekuat
4. Gangguan mobilitas fisik b/d kejang
5. Ansietas b/d koping tidak efektif
6. Pola nafas tidak efektif b/d penurunan tingkat kesadaran
7. Gangguan Eliminasi urin b/d perubahan pola eliminasi
Adapun
Data Mayor Dehidrasi Hipertermi
Subjektif : Terpapar lingkungan panas
Tidak tersedia Proses penyakit
Objektif : Ketidaksesuain pakaian
Suhu tubuh diatas dengan suhu lingkungan
nilai normal Peningkatan laju
Data minor metabolisme
Subjektif : Respon trauma
Tidak tersedia Aktivitas berlebihan
Objektif: Penggunaan Incubator
Kulit merah
Kejang
Takikardia
Takipnea
Kulit terasa hangat
Data mayor Penyebab Defisit nutrisi
Subjektif : Ketidakmampuan menelan
Tidak tersedia Ketidsakmampuan mencerna
Objektif : makanan
Berat badan menurun Ketidakmampuan
minimal 10% di mengabsorpsi nutrient
bawah rentang ideal Peningkatan kebutuhan
Data minor metabolism
Subjektif : Faktor ekonomi (
Cepat kenyang setelah mis,financial tidak
makan mencukupi )
Kram/nyeri abdomen Faktor psikologis ( mis,
Nafsu makan stress, keengganan untuk
menurun makan )
Objektif :
Bising busung
hiperaktif
Otot pengunyah
lemah
Otot menelan lemah
Membrane mukosa
pucat
Sariawan
Serum albumin turun
Rambut rontok
berlebih
Diare
Data Mayor Depresi pusat pernapasan Pola Nafas Tidak
Subjektif Hambatan upaya napas Efektif
Dispnea (mis. Nyeri saat bernapas,
Objektif kelemahan otot pernapasan)
Penggunaan otot Deformitas dinding dada
bantu pernafasan Deformitas tulang dada
Fase ekspirasi Gangguan neuromuscular
memanjang Gangguan neurologis (mis.
Pola napas abnormal Elektroensefalogram (EEG)
(mis. Takipnea, postif, cedera kepala,
bradipnea, gangguan kejang)
hiperventilasi, Imaturitas neurologis
kussmaul, cheyne- Penurunan energi
stokes) Obesitas
Data Minor Posisi tubuh yang
Subjektif menghambat ekspansi paru
Ortopnea Sindrom hipoventilasi
Objektif Kerusakan inervasi
Pernapasan pursed-lip diafragma (kerusakan saraf
Pernapasan cuping C5 ke atas)
hidung Cedera pada medulla
Diameter thoraks spinalis
anterior-posterior Efek agen farmakologis
meningkat Kecemasan
Ventilasi semenit
menurun
Kapasitas vital
menurun
Tekanan ekspirasi
menurun
Tekanan inspirasi
menurun
Ekskursi dada beruba
BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan
Polio adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus.Polio
menyerang sistem saraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan total dalamhitungan
jam. Virus ini memasuki tubuh melalui mulut dan berkembang biak dalam usus.
Gejala awal adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah,kekakuan pada leher
dan nyeri pada anggota badan
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium
tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.Tetanus adalah
penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai
gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan
cakupan imunisasi DPT yang rendah. Reservoir utama kuman ini adalah tanah
yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah
peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat
bertebaran di mana-mana.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat menambah pengetahuan
pembaca mengenai asuhan keperawatan tetanus dan polio. Kami selaku penulis
mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca untuk kebaikan kelompok kami
Daftar Pustaka

Huda, A. N., & Kusuma, H. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Yogyakarta:


Mediaction.
Maryunani, Anik. 2010. Imu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta : TIM.
NANDA Internasional Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-
2017, Ed.10. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta: EGC.
Smeltzer, suzannec. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth, ed.8, vol.1. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Polio Pediatrik, ed.4.
Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta :EGC
Doengoes, ME .2000 Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC.
Lynda Juall C, 2003. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Penerjemah Monica Ester, EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzane C.2002 . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,edisi 8 vol
3.Jakarta :EGC