Anda di halaman 1dari 14

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER

SUPERVISI DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

VI/A Reguler Pagi

Anggota Kelompok
Baiq Suryatika Suryaningsih (E1C016018)
Desi Hurmatisa (E1C016021)
Destira Ningsih (E1C016022)
M. Sibawaih Hirzi (E1C016044)

UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2019
BAB I dan II
Oleh : Destira Ningsih (E1C016021)
 Kelemahan
a. Pada BAB I Hal. 14 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “……… bermetamorposis dalam entitas sosial………” Seharusnya
kata itu diubah menjadi “metamorfosis”
b. Pada BAB I Hal. 14 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “……. maka akan melahirkan praktek-praktek kedokteran yang krisis
nilai (Ndesul, 2009).” Seharusnnya kata itu diubah menjadi “praktik-praktik”
c. Pada BAB I Hal. 16 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “……… soft skill dan hard skill ini dapat melahirkan peserta didik
utuh dalam pengembangan kepribadiannya.” Seharusnya kata-kata tersebut
dimiringkan karena kata tersebut merupakan kata serapan yang harus dicetak miring.
Sehingga kata tersebut harus diubah menjadi “soft skill dan hard skill.
d. Pada BAB I Hal. 16 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “…….. intes dalam pembangunan berkelanjutan …..” Seharusnya kata
itu diubah menjadi “intens” karena jika tidak diubah akan memiliki arti atau makna
lain.
e. Pada BAB I Hal. 16 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “ Dalam konteks khusus terdapat pada tujuan pendidikan nasional
dalam sisdiknas nomer 20 tahun 2003 sebagai cita-cita nyata pendidikan.”
Seharusnya kata itu diubah menjadi “Sisdiknas No. 20 Tahun 2003” karena kata
Sisdiknas adalah nama suatu departemen yang disingkat.
f. Pada BAB I Hal. 17 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “…… peserta didik seperti kebutuhan untuk ber prestasi, kerja keras,
berjuang, ….” Seharusnya kata tersebut diubah menjadi “berprestasi.” Kata
tersebut seharusnya disambung bukan dipisah karrena itu merupakan kata kerja
bukan keterangan tempat.
g. Pada BAB I Hal. 17 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : ….. kemanusiaan yang intens tentu menjadi terapi yang tepat, ditengah
goyahnya peradaban kafitalisme ……” Seharusnya kata tersebut diubah menjadi “di
tengah”, karena kata tersebut menunjukkan posisi sesuatu, maka kata tersebut harus
dipisah.
h. Pada BAB I Hal. 19 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya
: “…… soft skill dan hard skill untuk pengembangan kehidupan yang lebih
harmonis …..” Seharusnya kata-kata tersebut dimiringkan karena kata tersebut
merupakan kata serapan yang harus dicetak miring. Sehingga kata tersebut harus
diubah menjadi “soft skill dan hard skill.
i. Pada BAB I Hal. 22 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya “ Sistim penetapan standar mutu pendidikan harus berdasarka keunikan
……” Seharusnya kata tersebut diubah menjadi “sistem” karena penulisan yang
benar adalah sistem, lalu pengucapannya adalah sistim.
j. Pada BAB II Hal. 30 terdapat penulisan atau pengetika kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “ Ketiga aspek di atas merupakan domain utama yang harus dicapai
pendidikan nasional.” Seharusnya kata tersebut diubah menjadi “di atas”, karena itu
menunjukkan posisi sesuatu.
k. Pada BAB II Hal. 38 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “ Tapi, juga peran serta keluarga dan lingkungan sekitar untuk
membimbing …..” Seharusnya kata tersebut harus diubah menjadi “ tetapi “, karena
kata tersebut merupakan kata baku yang sudah ada di dalam KBBI.
l. Pada BAB II Hal. 39 terdapat penulisan atau pengetikan kata yang salah. Bukti
kalimatnya : “ Berdasar pada kenyataan pribadi usia masa remaja dan tujuan
pendidikan menengah …….” Seharusnya kata tersebut diubah menjadi “
berdasarkan ” karena jika menggunakan kata yang salah di atas maka kalimatnya
seperti menjadi tabu.

 Keunggulan
a. Dari isi buku tersebut, kalimat-kalimat yang digunakan mudah dimengerti dan
dipahami bagi siapapun yang membacanya karena pilihan kata atau diksinya
menggunakan kata atau kalimat sehari-hari yang sering kita dengar.
b. Penyusunan paragraf-paragrafnya sudah tertata dengan rapi dan sempurna.
c. Terdapat daftar rujukan di setiap subbabnya, jadi kita bisa mengetahui dari mana
saja sumber isi buku ini dibuat.
d. Penulisan huruf-hurufnya juga tebal, jelas, tidak terlalu mepet sehingga
memudahkan kita untuk membacanya.

 Ulasan
Mazhab pendidikan humanisme-spiritualis sebagai alternatif paradigma
pendidikan nasional untuk pengembangan pribadi peserta didik secra utuh, yang
akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Karakter anak bangsa
tercermin dari kuatnya nilai-nilai dan iptek sebagai penguatan kemampuan untuk
meningkatkan daya saing. Pemahaman atas mazhab ini melihat pentingnya soft skill dan
hard skill serta penguatan kearifan local pada pendidikan untuk pembangunan
berkelanjutan ( education for sustainibility development ).
Karakter bangsa yang unggul dan mandiri, yang memiliki nilai-nilai keunggulan,
dalam bidang nilai-nilai dan iptek. Untuk itulah, maka pendidikan nasional harus
digiring ke paradigma humanisme-spiritualis untuk mendidik anak bangsa memiliki
karakter dan kemandirian pada era globalisasi ini. Dan tentunya, kebijakan,
ppengelolaan, kurikulum, dan seterusnya benar-benar mencerminkan hal ini.
Hatta Rajasa (2007) tentang unsur pokok pembangun karakter dan kemandirian bangsa
terfokus pada tiga aspek penting yaitu :
a. Peran kritis sumber daya manusia sebagai sumber daya yang terus terbarukan.
b. Peningkatan daya saing dari sumber daya manusia tersebut, sebagai jaminan untuk adanya
kemandirian bangsa yang berrkesinambungan.
c. Pemahaman bahwasanya mencetak mentalitas daya saing membutuhkan suartu rantai nilai
dengan tatanan dan urutan tertentu. Serta keberhasilannya pun tergantung dari sampai sejauh
mana tingkat pemenuhan criteria dan persyaratan tersebut. Aspek-aspek utama dari tujuan
pendidikan menengah, yaitu pertama, peserta didik diharapkan menjadi anggota masyarakat
yang mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar; kedua, peserta
didik disiapkan untuk memasuki dunia kerja; ketiga, peserta didik disiapkan untuk melanjutkan
studi ke perguruan tinggi.
BAB III dan IV
Oleh : M. Sibawaih Hirzi (E1C016044)
BAB III

DESENTRALISASI PENDIDIKAN PADA KONTEKS SEKOLAH MENENGAH

A. PENDAHULUAN

Perubahan tatanan pemerintahan di indonesia dari sistem sentralistik mengakibatkan


perubahan juga pada pendekatan pengelolaan lembaga layanan publik (public service). Tujuan
utama desentralisasi yaitu menciptakan akuntabilitas, otonomi dan profesionalisme dalam
membuat keputusan tentang peningkatan mutu.

Lembaga pendidikan, seperti dinas pendidikan dan sekolah, sebagai intitusi layanan publik
dituntutmeningkatkan profesionalitas pengelolaan. Lembaga yang terdesentralisasi pada
tingkat sekolah memberi peluang pada lembaga ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan
dalam proses pembelajaran secara dinamis dan inovatif. Salah satu aspek utama dalam sistem
terdesentralisasi yaitu pendekatanmanajemenpartisipatif. Manajemen ini mengutamakan
partisipasi tinggi pada semua unsur dan komponen di organisasi baik yang terkait baik
langsung atau tidak dengan lembaga tersebut.

Tujuan desentralisasi pendidikan ditingkat sekolah yaitu untuk meningkatkan


akuntabilitas, otonomi, relevansi dan mutu pendidikan agar dapat melahirkan lulusan yang
memiliki kemampuan/kompetensi profesional dan siap pakai baik di tengah kehidupan sosial
dan dunia kerja. Untuk itu, organisasi sekolah menengah mengarah pada terciptanya
peningkatan kualitas pengelolaan secara menyeluru, muaranya pada meningkatkan mutu. Sisi
lai bahwa manajemen pendidikan mempunyai sasaran pada utama pada upaya meningkatkan
suasana pembelajaran yang epektif dan efesien dengan melibatkan semua komponen sekolah.
Sinergisitas semua komonen sebagai modal dasar untuk terwujudnya kinerja anggota secara
maksimal dan profesional.

B. KONSEP DASAR DESENTRALISASI ORGANISASI


1. Pengertian Desentralisasi
Menurut rice dan bishoprick (1971) bahwa desentralisai dalam organisasi merupakan
otonomi pengelolaan pada tingkat unit organisasi. Selanjutnya bahwa privatisasi merupakan
pengalihan otoritas sektoral kepada usaha-usaha swasta. Sedangkan otonomi merupakan arah
balik dari desentralisasi berangkat dari otoritas pusat yang diserahkan kedaerah sedangkan
otonomi merupakan pengakuan atas otoritas daerah.

Menurut hamidjoyo bahwa alasan pentingnya desentralisasi adalah luasnya wilayah


indonesia, keragaman sosial-budaya, agama dan etnik, perkembangan politik dan ekonomi.
Hal ini dapat dilihat dari beragamnya upaya meningkatkan lembaga pendidikan dalam setting
pembangunan nasional berlangsung dalam sistem sentralistis, yang tidak menghargai
keragaman masyarakat indonesia.

Menurut varghese bahwa desentralisasinmempunyai pengertian tentang pengalihan


kekuasaan dan wewenang dalam mempersiapkan dan melaksanakan perencanaan, yaitu: 1)
unit perencana yang lebih rendah mempunyai wewenang untuk memformulasikan targetnya
sendiri. 2)unit perencana yang lebih rendah diberi wewenang dan kekuasaan yang
memobilisasi sumber-sumber lainnya. 3)unit perencana yang lebih rendah turut dengan unit
yang lebih tinggi dengan hubungan kerjasama.

2. Ruang Lingkup Desentralisasi

Desentralisasi diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu


layanan pemerintah pada masyarakat. Sistem desentralisasi pemerintahan diharap mampu
menjembatani kesenjangan pengelolaan pembangunan selama ini terjadi antara pemerintah
pusat dengan pemerintah daerah. Dimana bahwa tujuan desentralisasi untuk memberikan
wewenang dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya secara
otonom dan bertanggungjawab.

Akuntabilitas sekolah merupakan bagian penting untuk meningkatkan pengelolaan


sekolah. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap orang tua dan
masyarakat luas akan keefektifan dan efesiensi pengelolaan dalam mencapai visi dan tujuan
sekolah.
C. Sekolah Menengah dan Desentralisasi Pendidikan

Tahun 2002 sebagai berikut pendidikan menengah yang mencakup SMU,SMK, dan MA
ditunjuk untuk memperluas jangkauan daya tampung bagi seluruh masyarakat, meningkatkan
kesamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi ke;lompok yang kurang beruntung,
meningkatkan kualitas pendidikan menengah sebagai landasan bagi peserta didik untuk
melanjutkan pendidikan, meningkatkan efesiensi pemampaatan sumber daya pendidikan yang
tersedia, meningkatkan keadilan pembiayaan dengan dana publik, meningkatkan efektifitas
pendidikan sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan kondisi setempat,
meningkatkan kinerja personel dan lembaga pendidikan, meningkatkan partisipasi masyarakat
untuk mendukung program pendidikan, meningkatkan transfaransi dan akuntabilitas
penyelenggaraan pendidikan.

D. Sekolah Menengah: Desentralisasi Pengelolaan

Pengembangan sekolah menurut konsep desentralisasi merupakan issu manajemen


pendidikan yang perlu mendapat perhatian. Kurikulum akan memberikan arah pendidikan
akan memiliki relevansi dengan kebutuhan lokal tenaga kerja. Kurikulum sebagai komponen
pening dalam pendidikan disekolah menengah harus mendapatkan perhatian. Diharapkan
dengan sistem desentralisasi maka kewenangan sekolah, seperti kepala sekolah, guru dan
tenaga pendidikan lainnya dapat ditingkatkan.

E. Sekolah Menengah: Mutu, Relevansi, Otonomi dan Akuntabilitas

Misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan mutu, relevansi, dan


akuntabilitas dalam mengelelola sekolah.

1. Mutu dan Relevansi Sekolah Menengah

Sekolah menengah sebagai bagian dari satuan pendidikan nasional mempunyai tujuan
utama untuk mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan
memasuki dunia kerja. Ini artinya bahwa sekolah menengah merupakan jenjang pendidikan
yang akan menyiapkan siswa dengan sejumlah kompetensi yang layak dipasarkan di dunia
kerja atau masyarakat luas.

2. Otonomi dan Akuntabilitas Sekolah Menengah


Otonomi pengelolaan pada tingkat sekolah menengah merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan kualitas pengelolaan dan pembelajaran di kelas. Manjemen sekolah menengah
membutuhkan tingkat partisipasi yang tinggi dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua dan
masyarakat dalam meningkatkan kemampuan sekolah meningkatkan kualitas pendidikan.
Berikut ini fungsi team dalam sekolah berbasis team kerja yaitu:

- Team akan terdiri dari 3-5 guru bidang studi yang tinggal bersama sekelompok siswa
selama dua tahun.
- Team yang bertanggung jawab kepada semua siswa bahwa mereka akan membuktikan
kesesuaian tujuan pembelajaran sekolah dan distrik.
- Team akan tinggal bersama siswa selama beberapa tahun untuk melihat manfaat maksimal
dari kolaborasi dan hubungan yang lama dengan para siswa.

BAB IV

GURU, SISWA DAN KURIKULUM DI SEKOLAH MENENGAH

A. Pendahuluan

Guru, siswa dan kurikulum merupakan komponen utama untuk berlangsungnya pendidikan
di sekolah. Dalam wacana pendidikan nasional aspek ini selalu menjadi komponen penting
dari upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bahkan proses belajar mengajar disekolah
akan berlangsung secara baik manakala ketiga komponen ini berada dalam keserasian sehingga
proses secara pembelajaran berlangsung secara efektif. Karena ketiga hal ini, dalam sistem
pendidikan nasional merupakan hal mendasar, yang terkait dengan upaya peningkatan mutu
pendidikan disekolah.

Dalam sistem pendidikan nasional bahwa guru sebagai komponen utama pelaksanaan
pendidikan. Kegagalan dan keberhasilan pendidikan selalu dikaitkan dengan kemampuan guru
dalam melakukan peroses pembelajaran di kelas. Siswa disekolah menengah mempunyai
tingkat perkembangan kepribadian dan sosial dimana ia berada pada masa transisi dari anak-
anak ke masa remaja.dengan mempertimbangkan kondisi perkembangan siswa maka peroses
pendidikan memerlukan kondisi kondusif bagi perkembangan kemampuan kognitif, efektif
dan psikomotorik.
B. Guru Sebagai Fasilitas Demokrat

Perkembangan dunia pendidikan di indonesia sampai sekarang ini belum


menggembirakan. Indikator sederhana dapat dilihat dari masih rendahnya mutu lulusan dari
semua jenjang satuan pendidikan. Dalam era ilmu pengetahuan, teknologi dan globalisasi
peran guru menjadi begitu kompleks, yang tentunya menuntut tingkat profesionalitas tinggi
dalam melakukan pembelajaran. Ini isebabkan karena sekolah menjadi tempat untuk
menyiapkan kemampuan peserta didik yang memadai sesuai dengan kapasitas intelektualnya.

Lebih jauh dari itu dijelaskan tentang tiga peran guru dalam pembelajaran yang lebih luas
sebagai pengambil keputusan di kelas, yang meliputi tugas pembelajaran, konseling dan
pengelolaan. Disini guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivasi di sekolah.

Sodjiarto (1989) bahkan menemukan bahwa peranan guru di kelas harus diubah, bukan
sebagai pemberi ceramah, yaitu guru hendaknya mengutamakan kemampuan merencanakan,
mengelola dan mengawasi akan terjadinya pembelajaran. Karena peran guru sebagai pemberi
pemberi informasi lebih merupakan upaya untuk mengebiri siswa. Semakin kompleksnya
perkembangan sosial kehidupan masyarakat membawa pengaruh terhadap lingkungan sekolah.
Untuk itulah guru dituntut untuk mengetahui latar belakang siswa agar dapat dibina potensinya
secara maksimal. Guru tidak lagi memberikan informasi secara sepihak terhadap anak didik
tetapi di tuntut untuk menciptakan suasana agar anak dapat berkembang secara maksimal.

John goodlad melakukan penelitian dengan publikasi penelitian menemukan bahwa


kualitas pembelajaran sangat ditentuakan oleh guru, manakala guru sudah sudah memasuki
ruang kelas serta pintu kelas tertutup maka kehidupan kelas akan menjadi wewenang dan
tanggung jawab guru.

Menurut garys dan margaret a tomas bahwa guru profesional mempunyai empat
kemampuan, yaitu pertama, kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, kedua,
kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, ketiga, kemampuan yang
terkait dengan umpan balik dan penguatan, keempat, kemampuan yang terkait dengan
peningkatan diri.

C. Siswa dan Kurikulum di Sekolah Menengah


1. Siswa ; Masa Perkembangan Tinggi
Siswa di sekolah menengah sedang berada pada masa remaja, yang memiliki beberapa
karakteristik perkembangan yang meliputi aspek sosial masa remaja sudah mulai menyadari
kehadiran lingkungan sosial seperti keluarga, sekolah dan masyarakat. Pada masa remaja,
emosinya sangat sensitif dan temperamental reaktif dalam menyikapi perilaku sosial. Dilihat
sudut ini bahwa pada masa remaja kebutuhan terhadap pendidikan merupakan aspek yang
berkaitan dengan kesiapan untuk menghadapi sosial.

Kehidupan siswa di sekolah untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi


berlangsungnya pembelajaran merupakan tanggung jawab siswa agar mencapai prestasi yang
diharapkan. Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar maka diperlukan kurikulum
yang relevan dengan realitas kehidupan yang dihadapi siswa. Kondisi perkembangan kejiwaan
wiswa diatas hendaknya sebagai sarana siswa untuk mematangkan kepribadiannya.

2. Kurikulum: Penguatan Relevansi

Kurikulum merupakan suatu rencana pelaksana pembelajaran mengenai isi dan bahan
pelajaran serta sekaligus sebagai pedoman pelaksanaan pendidikan dalam jenjang pendidikan
tertentu di sekolah. Sampai saat ini bahwa kurikulum pendidikan nasional yang pernah berlaku
yaitu kurikulum 1994 sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan
nasional. Sedangkan untuk mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja ditempuh
melalui jalur sekolah kejujuran, yang secara spesifik memberikan pendidikan dan pelatihan
khusus kepada siswa untuk menjadi tenaga kerja profesional pada tingkat dasar.

Sedangkan kurikulum pada tahun 2002 ini lebih melihat kurikulum sebagai langkah untuk
membangun relevansi dan mutu pendidikan yang berkaitan dengan proses out put dan outcome
pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan upaya untuk memberikan apresiasi
yang tinggi pada potensi-potensi yang dimiliki masing-masing siswa disekolah
BAB V dan VI

Oleh : Desi Hurmatisa (E1C016021)


Setelah membaca dan menelaah dengan cermat, berikut hasil kesimpulan saya atas buku ini
khususnya pada bab v dan vi:

1. Saya setuju jika meningkatkan kualitas menejemen penting untuk ditingkatkan karena
berdampak besar pada perbaikan pembelajaran dan pengajaran. Hal ini masih sangat
kurang diperhatikan dan diaplikasikan di sekolah swasta maupun negeri saat ini. (hal 77).
2. Buku ini khususnya pada bab v lebih menjelaskan tugas seorang kepala sekolah. Menurut
saya buku ini layak dibaca oleh para pendidik, para kepala sekolah untuk lebih memahami
dan mengetahui tugasnya sebagai pendidik dan kepala sekolah guna meningkatkan mutu
sekolah maupun perkembangan siswa. Seorang kepala sekolah harus memiliki
kepemimpinan yang visioner, kepala sekolah adalah contoh dan jiwa hidup dari visi dan
misi sekolah yang telah di rancang. Kepala sekolah juga harus membangun hubungan yang
terbuka kepada guru dan staf.
3. Pada hal 81 dibicarakan mengenai teori sifat. Menurut penelitian yang sudah dilakukan
sifat sangat beperngaruh dalam keefektifan kepemimpinan dan bakat tidak terlalu
berpengaruh. Menurut saya penelitian ini dilakukan pada awal tahun 1948, jadi bakat tidak
bisa dikesampingkan begitu saja. Tidak semua orang memiliki bakat dalam memimpin.
Baik sifat maupun bakat sama-sama memiliki peran yang besar dalam keefektifan
kepemimpinan.
4. Terdapat beberapa penulisan kata yang salah, berikut daftar kesalahan penulisan yang
terdapat dalam buku ini
a. Kata “dimana” dipisah menjadi “di mana” (84, 90)
b. Kata “merupakan” menjadi “merupa (84).
c. Kata berdasar pada kalimat pertama hal 85
“kepemimpinan berdasar kecerdasan emosional merupakan pendekatan baru dalam
ilmu menejemen.”
Menurut saya kata berdasar di atas harus di lengkapi menjadi berdasarkan untuk
menciptakan kalimat yang efektif.
d. Terdapat penempatan kata yang salah pada kata “di sini” di awal kalimat pertengahan
paragraph. Menurut saya penggunaan kata “di sini” tidak tepat untuk digunakan.
e. Kata diharap dalam suatu kalimat seharusnya di tulis “di harapkan”. (88)
f. Bahasa asing seharusnya ditulis miring. (89, 104)
5. Menurut saya jika terjadi penurunan dalam pendidikan lalu menciptakan SDM yang
rendah. Kebijakan pemerintah dalam hal ini harus memperhatikan letak kekurangan dan
kelemahan Pendidikan Indonesia saat ini dan ke depannya. (94)
6. Seharusnya keterkitan manusia dengan organisasi tidak boleh dikesampingkan. Tidak
hanya terfokus pada meningkatkan produksi para karyawan, aspek kesejahteraan, ,
pelatihan, kesehatan dan keselamatan namun juga manusia harus ikut berorganisasi dalam
mencapai tujuan bersama. (96)
7. Pada halaman 100 terdapat Assemen eksternal, dan saya jarang melihat ini diterapkan oleh
sebuah sekolah menengah. Assemen eksternal harus dilakukan agar sekolah mampu untuk
mengetahui akuntabilitas public yang dimiliki sekolah dalam melaksanakan Pendidikan.
8. Upaya peningkatan guru dan tenaga kependidikan harus diperhatikan dengan serius karena
kecerdasan anak bangsa bergantung pada pendidik yang memiliki jiwa visioner, jiwa
pendidik yang berkualitas dan memiliki tanggung jawab yang tinggi. (105)
9. Menejemen personalia sebagai bagian terpenting yang harus diperhatikan oleh semua
pihak agar perkembangan mutu siswa meningkat.
BAB VII dan VIII
Oleh : Baiq Suryatika Suryaningsih (E1C016018)

BAB VII PERENCANAAN PENDIDIKAN PADA KONTEKSPEMBANGUNAN SDM dan


BAB VIII KARAKTERISTIK ORGANISASI SEKOLAH (Sebuah Pemahaman Kontekstual –
Visioner).

Pada bab VII yang berjudul “Perencanaan Pendidikan Pada Konteks Pembangunan SDM”
terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan,antara lain :

Pada paragraf ke 3 halaman 120 terdapat dua kesalahan penulisan yaitu penulisan kata “
menajdikan” dan “ keterampiulan” pada paragraf “ Perspektif itu tentu menjadikan sekolah dan
perguruan tinggi hanya memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat luas. Sementara
peningkatan relevansi dan mutu lulusan belum dianggap sebagai yang utama dalam pelaksanaan
pendidikan. Pendekatan tuntutan sosial tidak melihat kompleksitas kebutuhan masyarakat terhadap
pendidikan. Semestinya pendidikan sebagai upaya pencerdasaan dan pemberdayaan masyarakat
agar memiliki keterampiulan dan pengetahuan terkait bidang ekonomi, industri dan seterusnya”.

Seharusnya kata “ menjadikan” dan “keterampilan” sehingga menjadi paragraf yang padu, yaitu
“Perspektif itu tentu menjadikan seskolah dan perguruan tinggi hanya memberikan layanan
pendidikan kepada masyarakat luas. Sementara peningkatan relevansi dan mutu lulusan belum
dianggap sebagai yang utama dalam pelaksanaan pendidikan. Pendekatan tuntutan sosial tidak
melihat kompleksitas kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. Semestinya pendidikan sebagai
upaya pencerdasaan dan pemberdayaan masyarakat agar memiliki keterampilan dan pengetahuan
terkait bidang ekonomi, industri dan seterusnya”.

Selain dari segi penulisan, pada bab VII ini materinya sangat luas dan umum. Sehingga inti dari
materi yang ingin disampaikan pada bab ini tentang Perencanaan Pendidikan Pada Konteks
Pembangunan SDM pun sulit untuk dipahami. Namun jika dilihat dari bahasa yang digunakan,
materi pada bab ini mudah untuk dimengerti.
Pada paragraf ke 2 halaman 133 terdapat kesalahan penulisan yaitu kata “deketahui” pada paragraf
“ Dari deklarasi tersebut deketahui bahwa separuhnya mengisyaratkan keeratan hubungan antara
pendidikan dengan pembangunan ekonomi dan penguasaan serta pemanfaatan iptek. Dengan
ungkapan lain pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkemampuan umum sesuai
dengan tuntutan dunia kerja, baik dalam jenis maupun kompetensinya. Negara–negara maju
(Amerika, Inggris, Australia dan Selandia Baru) telah merumuskan tujuh kompetensi umum yang
diperlukan oleh dunia kerja”.

Seharusnya kata “ diketahui” sehingga menjadi paragraf yang padu, yaitu : “ Dari deklarasi
tersebut diketahui bahwa separuhnya mengisyaratkan keeratan hubungan antara pendidikan
dengan pembangunan ekonomi dan penguasaan serta pemanfaatan iptek. Dengan ungkapan lain
pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkemampuan umum sesuai dengan
tuntutan dunia kerja, baik dalam jenis maupun kompetensinya. Negara –negara maju (Amerika,
Inggris, Australia dan Selandia Baru) telah merumuskan tujuh kompetensi umum yang diperlukan
oleh dunia kerja”.

Pada bab VIII yang berjudul “ Karakteristik Organisasai Sekolah (Sebuah Pemahaman
Kontekstual-Visioner) tidak terdapat kesalahan dari segi penulisan. Akan tetapi berbeda dengan
bab VII, penyampaian materi pada bab VIII ini pembahasannya lebih khusus dan to the point.
Sehingga inti dari materi yang ingin disampaikan pada bab ini pun lebih cepat untuk dipahami dan
bahasa yang digunakan lebih cepat untuk dimengerti.