Anda di halaman 1dari 14

Kisi-Kisi Sejarah Indonesia

1. Menjelaskan tokoh pemberontakan PKI tahun 1948


 Musso
Tujuannya untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila dan menggantinya dengan Negara Komunis. Namun dalam waktu
tidak lebih dari dua minggu, kekuatan bersenjata tentara Muso dihancurkan
pasukan TNI yang menyerang dari Jawa Timur (pimpinan Kol. Sungkono) dan
Jawa Tengah (pimpinan Kol. Gatot Subroto). Muso dan pimpinan PKI Madiun
melarikan diri.
 Amir Syarifuddin
Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, dan bahkan
Perdana Menteri RI. Dia menyertai Muso memproklamirkan Pemerintahan
Republik Soviet Indonesia di Madiun tanggal 19 September 1948. Amir
dieksekusi mati bersama para pemberontak Madiun yang tertangkap. Sebelum
meninggal Amir menyanyikan lagu internationale, yang merupakan lagu
komunis. Tapi peluru seorang polisi militer mengakhiri hidupnya sebelum ia
menyelesaikan nyanyiannya.

2. Alasan PKI dalam pembentukan angkatan ke-5


Pada masa Demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia merupakan
partai besar Indonesia pascaPemilu 1955, merupakan unsur dalam konsep Nasakom
(Nasional, Agama dan Komunis). Dengan situasi politik yang penuh gejolak dan
seruan revolusioner dari Presiden Soekarno serta banyaknya Konflik seperti Irian
Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora) yang membutuhkan banyak
sukarelawan-sukarelawan, PKI kemudian mengajukan usul kepada
pemerintah/Presiden untuk membentuk angkatan kelima yang terdiri atas kaum
buruh dan tani yang dipersenjatai.

3. Upaya pemerintah dalam mengatasi gerakan DI/TII


Secara umum, pemerintah melancarkan sejumlah operasi militer dan taktik
untuk menumpas pemberontakan DI/TII di berbagai wilayah. Pemberontakan DI/TII
sendiri terjadi di sejumlah wilayah antara lain Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Aceh,
Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.

 JAWA BARAT
dengan melancarkan operami militer tanggal 17 Agustus tahun
1949. Karena usaha ini tidak berhasil maka dilakukan operasi Bharatayuda
dengan menggunakan taktik bernama Pagar Betis.

 JAWA TENGAH
dengan membentuk pasukan khusus yang dinamai Banteng Raiders.
Pasukan ini menjalankan operasi militer ketat yang dinamakan GBN atau
Gerakan Banteng Negara.

 ACEH
dengan mengerahkan kekuatan senjata. Namun upaya ini kemudian
diubah atas saran Kol. M. Yasin. Kemudian terjadilah Musyawarah
Kerukunan Rakyat Aceh dimana wilayah ini mendapat keistimewaan.
Keistimewaan ini berhasil meredam pemberontakan DI/TII.

 SULAWESI SELATAN
dengan melaksanakan operasi militer yang menyeluruh untuk
menghadapi taktik gerilya Kahar Muzakkar.

 KALIMANTAN SELATAN
dengan memberi kesempatan pada Ibnu Hajar kembali ke pasukan,
namun karena jalan damai ini gagal maka pemerintah melaksanakan operasi
militer.

4. Pemberontakan yang didalangi golongan kolonialisme Belanda yang ingin


mengamankan kepentingan ekonominya di bekas Negara Pasundan (APRA)
 Tokoh : Raymond Westerling, Sultan Hamid II
 Latar belakang : Gerakan APRA didalangi oleh kelompok kolonialis Belanda
yang ingin mengamankan kepentingan ekonominya di Indonesia.
 Tujuan : Tujuan pemberontakan APRA adalah mempertahankan bentuk
federal, berdirinya negara federal, dan adanya tentara sendiri di setiap
negara bagian.
 Aksi/gerakan :
a. Pada tanggal 23 Januari 1950, Westerling dan pasukannya merebut
tempat-tempat penting di Bandung, membunuh anggota TNI, dan
menduduki markas staf Divisi Siliwangi.
b. Menyerang kabinet RIS dan akan membunuh beberapa orang menteri.
Namun dapat digagalkan.
 Upaya penumpasan :
a. Pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer pada tanggal 24
Januari 1950.
b. Di Jakarta, diadakan perundingan antara Drs. Moh. Hatta dengan
Komisaris Tinggi Belanda. Hasilnya Mayor Engels mendesak Westerling
dan pasukan APRA meninggalkan kota Bandung.
c. Melakukan penangkapan terhadap Westerling dan Sultan Hamid II,
namun Westerling berhasil melarikan diri.
d. Dampak dari gerakan APRA adalah parlemen Negara Pasundan
mendesak agar negara tersebut dibubarkan dan terjadi pada tanggal 27
Januari 1950.

5. Pemberontakan Andi-Aziz
 Tokoh : Kapten Andi Azis, seorang komamdan Kompi APRIS bekas KNIL.
 Latar belakang :
a. Penolakan pemerintah RIS atas tuntutan Andi Azis yang menginginkan
agar APRIS dari unsur KNIL di Ujungpandang saja yang bertanggung
jawab atas keamanan NIT.
b. Penolakan terhadap kehadiran TNI ke Sulawesi Selatan.
 Tujuan : Mempertahankan keberadaan Negara Indonesia Timur.
 Aksi/gerakan :
a. Pada tanggal 5 April 1950, pasukan Andi Azis menduduki obyek-obyek
penting seperti lapangan terbang dan kantor Telkom.
b. Menawan pejabat panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur,
Letkol A.Y.Mokoginta.
 Upaya penumpasan :
a. Pada tanggal 8 April 1950, pemerintah memberi ultimatum agar dalam
waktu 4 x 24 jam Andi Azis menyerah. Namun Andi Azis tidak segera
melapor.
b. Mengirim pasukan yang dipimpin Mayor Worang untuk menangkap
Andi Azis.
c. Pada tanggal 26 April 1950, mengirimkan pasukan di bawah Kolonel A.E.
Kawilarang untuk menumpas habis pemberontakan Andi Azis yang
dilakukan oleh pasukan KL dan KNIL.

6. Penyebab pemberontakan Kahar-Muzakar


a. Kahar muzakar menuntut kepada pemerintah agar pasukannya yang
tergabung dalam komando gerilya sulawesi selatan di masukkan ke angkatan perang
RIS (APRIS)
b. pemerintah memberikan pangkat letnan kolonel kepada kahar muzakar
c. Kahar muzakar beserta anak buahnya melarikan diri ke hutan dan
melakukan aksi dengan melakukan teror terhadap rakyat

7. Tujuan dilaksanakannya pemilu 29 September 1955


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1953, Pemilu 1955 dilakukan
untuk memilih anggota-anggota parlemen (DPR) dan Konstituante (Lembaga yang
diberi tugas dan wewenang untuk melakukan perubahan terhadap konstitusi
negara). Selain pemilihan DPR dan Konstituante, juga diadakan pemilihan DPRD.
Pemilu DPRD yang dilaksanakan secara terpisah antara Indonesia Bagian Barat dan
Indonesia Bagian Timur. Dengan dipisahnya waktu penyelenggaraan pemilu DPR,
Konstituante, dan DPRD, pemilu menjadi fokus.

8. Pencapaian Kabinet Ali Sastroamidjojo 1


 Program kerja :
a. Menjaga Kemanan
b. Menciptakan Kemakmuran Dan Kesejahteraan Rakyat
c. Segera Melaksanakan Pemilu
d. Pembebasan Irian Barat Secepatnya
e. Menjalankan Politik Bebas Aktif Di Dunia Internasional
f. Segera Menyelesaikan Pertikaian Politik
 Pencapaian :
a. Berhasil melaksanakan pemilu
b. Terlaksanakannya KAA di Bandung
c. Melaksanakan pengalihan perusahaan asing di Indonesia
d. Menekan laju inflasi

9. Menjelaskan tugas dewan konstituante :


Tugas utama dewan konstituante yang dibentuk berdasarkan hasil pemilu 1955 :
a. Membuat UU baru untuk menggantikan UU RIS
b. Membuat UUD baru untuk menggantikan UUD 1945
c. Membuat dan menetapkan GBHN
d. Membantu rancangan RAPBN
e. Membantu presiden dalam memilih menteri-menteri

10. Tujuan sistem ekonomi Gerakan Banteng


Tujuan dari sistem ekonomi gerakan benteng adalah sebagai berikut :
a. Sebagai sumber peningkatan danpenambahan devisa bagi negara
b. Melakukan kegiatan peningkatan kegiatan berupa ekspor danimpor di suatu
bidang pertanian
c. Melakukan penciptaan lapangan kerja bagi warga negara rakyat Indonesia
d. Peningkatan kemampuan para pengusaha agar negara Indonesia ini mampu dan
sanggup untuk bersaing dengan negara-negara yang lainnya
e. Pemberian pinjaman kepada para pengusaha yang difungsikan untuk modal
dalam usahanya itu

11. Latar belakang yang mendasari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Latar belakang Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah kegagalan Badan
Konstituante untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950 dan
pemilihan Sistem Demokrasi Liberal yang menyebabkan berbagai konflik mencuat
seperti konflik ideologis dan konflik kepentingan antarpartai politik.

12. Menjelaskan alasan Kota Bandung dibumihanguskan

Kota Bandung Dibumihanguskan agar Sekutu yang menjajah tidak dapat


memanfaatkan gedung,rumah yang telah dibumi hanguskan sehingga Sekutu
meninggalkan Kota Bandung karena tidak dapat dimanfatkan. Sehingga tujuan
Rakyat Bandung agar sekutu tidak memanfaatkan Kota Bandung tercapai

13. Tujuan Agresi Militer Belanda 1


Berikut tiga aspek yang menjadi tujuan Belanda ketika melakukan Agresi Militer
Belanda 1.
a. Aspek Politik, Belanda ingin mengepung ibu kota Republik Indonesia dan
menghilangkan kedaulatan Indonesia yang telah kita capai dengan susah payah.
b. Aspek Ekonomi, mereka berkeinginan menguasai sumber daya alam terutama
makanan dan bahan-bahan ekspor lainnya.
c. Aspek Militer, Belanda ingin menghancurkan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

14. Isi perjanjian Renville


Terdapat beberapa poin kesepakatan yang menjadi hasil dari perundingan Renville,
diantaranya:
a. Wilayah Republik Indonesia yang diakui Belanda hanya, Yogyakarta,Jawa Tengah
dan Sumatera
b. TNI harus ditarik mundur dari Jawa Barat dan Jawa Timur atau wilayah-wilayah
kekuasaan Belanda
c. Disetujuinya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara wilayah Indonesia
dengan daerah pendudukan Belanda.

15. Dampak Konferensi Meja Bundar terhadap kedaulatan Negara Indonesia


 Dampak Negatif Konferensi Meja Bundar
a. Hutang pemerintah Belanda dari tahun 1942 sepenuhnya ditanggung
RIS (Republik Indonesia Serikat).
b. Dengan dibentuknya RIS, maka demokrasi yang di cita-citakan tidak
terlaksana.
c. Penyelesaian masalah Irian Barat tertunda.
d. Republik Indonesia menjadi terpecah-pecah menjadi negara bagian
yang terdiri dari Negara Indonesia Timur, Negara Jawa Timur, Negara
Pasundan dan Jakarta, Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera
Selatan, Jawa Tengah, dan lain-lain.
 Dampak Positif Konferensi Meja Bundar
a. Penarikan seluruh tentara Belanda dari wilayah RIS (Indonesia)
b. Dengan penarikan tersebut, maka perang antara Indonesia-Belanda
berakhir.
c. Belanda mengakui Indonesia (RIS) sebagai negara yang MERDEKA.
d. Indonesia segera berbenah dengan memulai pembangunan.

16. Sistem pemerintahan pada masa Orde Baru


Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Ekonomi Indonesia
berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara
ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin
melebar.
Melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto mulai
berkuasa danmemperkenalkan sistem politik barunya yang disebut dengan
Demokrasi Pancasila. Pemerintahan yang sering disebut dengan orde baru ini,
secara formil berlandaskan padaPancasila, UUD 1945, dan Tap MPRS. Orde baru
berencana merubah kehidupan sosial dan politik dengan landasan ideal Pancasila
dan UUD 1945.
Selama orde baru, demokrasi pancasila yang dicanangkan hanya menjadi
slogan kosong. Penerapannya yang jauh dari kenyataan berlawanan dengan tujuan
demokrasi sendiri. Orde Baru justru menghambat dan membelenggu kebebasan
rakyat. Kekuasaan menjadi sentralistis pada kepemimpinan Soeharto.

17. Penyebab tidak meratanya pembangunan pada Orde Baru


Hasil pembangunan selama orde baru sangat rapuh karena banyaknya
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi pada masa ini. Korupsi pada masa
Orde Baru ini mengakibatkan infrastruktur pendukung ekonomi tidak dibangun
dengan baik, sehingga Indonesia tertinggal dan kalah bersaing dari negara tetangga.
Ketika negara lain sudah memiliki sarana pendukung seperti transportasi masal dan
suplai energi yang mencukupi, di Indonesia masih serba kekurangan.
Infrastruktur yang dibangun juga tidak sesuai dengan spesifikasi, dan
akibatnya, kualitas infrastruktur yang dihasilkan sangat rendah dan cepat rusak
serta tidak tahan lama. Penyebab kerapuhan pembangunan ini adalah korupsi yang
terjadi pada masa Orde Baru.Pejabat dan kontraktor bersekongkol untuk melakukan
pengurangan terhadap spesifikasi proyek. Misalnya dengan menggunakan jenis
aspal yang lebih rendah untuk jalan, atau menggunakan beton berkualitas rendah
untuk bangunan.

18. Lembaga pelaksana Pemilu tahun 1997


 Lembaga Pemilihan Umum (LPU) dibentuk dengan Keputusan Presiden
Nomor 3 Tahun 1970. LPU diketuai oleh Menteri Dalam Negeri yang
keanggotaannya terdiri atas Dewan Pimpinan, Dewan Pertimbangan,
Sekretariat Umum LPU dan Badan Perbekalan dan Perhubungan.
 Struktur organisasi penyelenggara di pusat, disebut Panitia Pemilihan
Indonesia (PPI), di provinsi disebut Panitia Pemilihan Daerah Tingkat I (PPD
I)
 Di kabupaten/kotamadya disebut Panitia Pemilihan Daerah Tingkat II
 Di kecamatan disebut Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan di
desa/kelurahan disebut Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih)
 Untuk melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara dibentuk
Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
 Bagi warga negara RI di luar negeri dibentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri
(PPLN), Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (PPSLN), dan Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) yang bersifat
sementara

19. Tuntutan masyarakat terhadap perubahan kebijakan politik, ekonomi, dan hukum
pada masa Orde Baru
a. Krisis Politik
Demokrasi yang tidak dilaksanakan dengan semestinya akan menimbulkan
permasalahan politik. Ada kesan kedaulatan rakyat berada di tangan
sekelompok tertentu, bahkan lebih banyak di pegang oleh para penguasa.
Dalam UUD 1945 Pasal 2 telah disebutkan bahwa “Kedaulatan adalah ditangan
rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR”.

b. Krisis Hukum
Masyarakat menghendaki adanya reformasi di bidang hukum agar dapat
mendudukkan masalah-masalah hukum pada kedudukan atau posisi yang
sebenarnya.
c. Krisis Ekonomi
Krisis moneter yang melanda Negara-negara di Asia Tenggara sejak bulan Juli
1996, juga mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Ekonomi
Indonesia ternyata belum mampu untuk menghadapi krisi global tersebut. Krisi
ekonomi Indonesia berawal dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat.

d. Krisis Kepercayaan
Demontrasi di lakukan oleh para mahasiswa bertambah gencar setelah
pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada
tanggal 4 Mei 1998. Puncak aksi para mahasiswa terjadi tanggal 12 Mei 1998 di
Universitas Trisakti Jakarta. Aksi mahasiswa yang semula damai itu berubah
menjadi aksi kekerasan setelah tertembaknya empat orang mahasiswa Trisakti
yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin
Royan. Tragedi Trisakti itu telah mendorong munculnya solidaritas dari kalangan
kampus dan masyarakat yang menantang kebijakan pemerintahan yang
dipandang tidak demokratis dan tidak merakyat

20. Kebijakan pemerintahan Orde Baru terhadap pihak oposisi


Pihak oposisi ditekan dan dipersempit ruang geraknya dalam berpolitik.

21. Penyimpangan kebijakan ekonomi Orde Baru dari UUD 1945


Penyimpangan pada masa orde baru dalam bidang ekonomi yang cenderung
monopolostik bertentangan dengan UUD 1945 terutama pasal 33, yaitu
“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”.

22. Alasan kegagalan presiden Soeharto membentuk kabinet reformasi


 karena sebagian dari menteri yang menandatangani surat menolak duduk di
kabinet reformasi,dari 45 orang yang diminta duduk di Komite Reformasi,
sebagian besar menolak bergabung.
 Penyebab utamanya adalah krisis moneter dan ke uangan di asia
 kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan
pembakaran. Bersama Menteri Pendayagunaan BUMN melaporkan soal
rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan
mundur.
 Terjadinya kerusuhan besar pecah, terjadi penjarahan, perusakan,
pembakaran, kekerasan seksual, penganiayaan, pembunuhan, penculikan,
dan intimidasi yang berujung pada munculnya teror.

23. Latar belakang berakhirnya pemerintahan Orde Baru


Latar belakang berakhirnya pemerintahan orde baru karena adanya krisis
politik, krisis ekonomi, dan krisis sosial. Masa orde baru berakhir pada
tahun 1998 dan ditandai dengan lengsernya presiden Soeharto dari jabatannya
setelah menjabat lebih dari 30 tahun.
 Krisis politik
Penyebab krisis politik ialah terlalu lamanya Presiden Suharto berkuasa
( kurang lebih 32 tahun)
 Krisis ekonomi
Penyebab krisis ekonomi ialah
a. hutang Indonesia kepada luar negeri terlampau banyak
b. banyak terjadi korupsi
 Krisis sosial
Pertikaian sosial yang terjadi sepanjang tahun 1996
telah memicu munculnya kerusuhan antar agama dan etnis, contohnya:
a. di Situbondo(Jawa Timur),
b. Tasikmalaya(Jawa Barat),
c. Sanggau Ledo (Kalimantan Barat) yang meluas ke Singkawang dan
Pontianak.

Kronologi jatuhnya orde baru berlanjut dengan persaingan politik


yang menjadi tidak imbang akibat penyederhanaan partai dan indikasi kecurangan
dalam pemilu. Kebebasan berpendapat juga ditekan, siapa saja yang tidak
sependapat dengan pemerintah akan ditutup mulutnya. Hal ini dilakukan demi
mempertahankan kekuasaan Soeharto sebagai presiden Indonesia.

24. Usaha Presiden B.J Habibie mereformasi perekonomian Indonesia


 Merekapitulasi perbankan dan menetapkan independensi Bank Indonesia
agar lebih fokus mengurusi perekonomian
 Melikuidasi beberapa bank bermasalah
 Menaikkan nilai tukar Rupiah
 Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

25. UU No. 2 Tahun 1999


Menimbang :
a. bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
pikiran sebagaimana diakui dan dijamin dalam Undang-Undang
Dasar 1945 adalah bagian dari hak asasi manusia;
b. bahwa usaha untuk menumbuhkan dan memperkokoh
kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran,
merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan
kebangsaan yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis, dan berdasarkan
atas hukum;
c. bahwa partai politik merupakan sarana yang sangat penting arti,
fungsi, dan perannya sebagai perwujudan kemerdekaan berserikat,
berkumpul, dan mengeluarkan pikiran dalam mengembangkan
kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. bahwa Undang-undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik
dan Golongan Karya sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang Nomor 3 Tahun 1985 tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya
sudah tidak dapat menampung aspirasi politik yang berkembang
sehingga kehidupan demokrasi di Indonesia tidak dapat berlangsung
dengan baik;
e. bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas dan untuk
memberi landasan hukum yang lebih baik bagi tumbuhnya
kehidupan partai politik yang dapat lebih menjamin peran serta
rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dipandang
perlu mengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang
Partai Politik dan Golongan Karya sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan
Golongan Karya dengan sebuah Undang-undang Partai Politik yang
baru.

26. Latar belakang munculnya demokrasi terpimpin


latar belakang munculnya demokrasi terpimpin adalah sebagai berikut;
a. Banyak muncul gerakan separatis pada masa demokrasi liberal
b. Sering terjadinya pergantian kabinet, sehingga program tidak dapat berjalan
secara utuh
c. Kegagalan konstitusi dalam menyusun UUDS 1950

27. Latar belakang terjadinya konfrontasi dengan Malaysia


Latar belakang terjadinya konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia
adalah keinginan federasi Malaya atau Persekutuan Tanah Melayu untuk
menggabungkan Brunei, Sarawak, dan Sabah ke dalam Federasi Malasyia, yang
mana tindakan tersebut merupakan pelanggaran atas Persetujuan Manila yang
ditandatangani oleh Indonesia, Filipina dan Federasi Malasyia.
28. Isi dekrit Presiden 5 Juli 1959
pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Isi Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 yang berisi sebagai berikut :
 Pembubaran Konstituante.
 Beriakunya Kembali UUD 1945.
 Tidak berlakunya UUDS 1950.
 Pembentukan MPRS dan DPAS.

29. Perjanjian Indonesia-Belanda dalam menyelesaikan masalah Irian Barat


Perjanjian New York
Perjanjian Newyork ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 1962 oleh Subandrio
selaku Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dengan Schuurman dan Van Royen
yang mewakili pemerintah Belanda. Proses penandatanganan perjanjian ini
disaksikan oleh Sekertaris Jenderal PBB U Thant dan Ellsworth Bunker di markas
besar PBB.
Isi Persetujuan New York
a. Selambat-lambatnya tanggal 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan Irian Barat
kepada United Nation Temporary Executive Authority
(UNTEA).
b. Pemerintah sementara PBB menggunakan tenaga Indonesia, baik sipil maupun
alat-alat keamanan bersama dengan putra-putra Irian Barat.
c. Angkatan perang Belanda secara berangsur dikembalikan.
d. Pasukan Indonesia yang sudah di Irian Barat tetap tinggal di Irian Barat, tetapi di
bawah pemerintah sementara PBB.
e. Antara Irian Barat dan daerah Indonesia lainnya berlaku lalu lintas bebas.
f. Pada tanggal 31 Desember 1962 bendera Indonesia mulai berkibar di samping
bendera PBB.
g. Selambat-lambatnya tanggal 1 Mei 1963 UNTEA atas nama PBB menyerahkan
Irian Barat kepada Indonesia

30. Alasan Indonesia keluar dari PBB


Indonesia sempat keluar dari PBB, berikut adalah alasan mengapa Indonesia keluar
dari PBB:
a. Markas PBB di Amerrika Serikat
b. PBB lamban mengatasi permasalahan
c. mengenai sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika,
yang hasil kebijakannya selalu mengakomodasi kepentingan Barat.
31. Hal yang harus dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya pergolakan di
daerah di masa yang akan datang
Langkah-langkah kebijakan dalam pencegahan dan penanggulangan terjadinya
pergolakan dan pemberontakan (separatism) di Indonesia :
(1) pemulihan keamanan untuk menindak secara tegas separatisme
bersenjata yang melanggar hak-hak masyarakat sipil;
(2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah rawan konflik atau
separatisme melalui perbaikan akses masyarakat lokal terhadap sumber
daya ekonomi dan pemerataan pembangunan antardaerah;
(3) meningkatkan kualitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi;
(4) mendeteksi secara dini dan pencegahan awal potensi konflik dan
separatisme;
(5) melaksanakan pendidikan politik secara formal, informal, dialogis, serta
melalui media massa dalam rangka meningkatkan rasa saling percaya;
(6) menguatkan kelembagaan pemerintah daerah di bidang pelayanan
publik; dan
(7) menguatkan komunikasi politik pemerintah dengan masyarakat.

Upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan separatisme


ditempuh melalui program-program sebagai berikut.

A. Pengembangan Ketahanan Nasional


B. Penyelidikan, Pengamanan dan Penggalangan Keamanan Negara
C. Penjagaan Keutuhan Wilayah NKRI
D. Pemantapan Keamanan Dalam Negeri
E. Peningkatan Komitmen Persatuan dan Kesatuan Nasional
F. Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik

32. Penyebab seringnya terjadi mosi tidak percaya pada masa demokrasi liberal
Dikarenakan, pemerintah saat ini sudah tidak dapat dipercaya. Tidak perlu
ditanya kenapa lagi. Sudah banyak kasus-kasus negatif yang banyak terjadi di
pemerintahan, parpol, ataupun DPR. Mulai dari kasus seperti; perilaku anggota DPR
yang tidak beradab dalam sidang, anggota DPR yang tidur saat sidang, banalitas
politik, kasus asusila, kasus pornografi, kasus penyalahgunaan narkoba, dan koropsi.
Korupsi merupakan masalah yang palimg sulit diberantas dalam sistem
pemerintahan di Indonesia. sudah sangat sering terjadi pelaku politik yang
melakukan tindakan memakan uang haram ini. Para pemerintah kaya tapi rakyat
sengsara.

33. Latar belakang dikeluarkannya dekrit presiden 5 Juli 1959


Dekrit Presiden 1959 dilatarbelakangi oleh kegagalan Badan Konstituante
untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950. Anggota Konstituante
mulai bersidang pada 10 November 1956, tetapi pada kenyataannya hingga tahun
1958 belum berhasil merumuskan UUD yang diharapkan.

34. Upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian melalui revolusi hijau
Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting[4]:
1. penyediaan air melalui sistem irigasi,
2. pemakaian pupuk kimia secara optimal,
3. penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu,
4. penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas.

Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil


tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam
setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak
mungkin terjadi.

35. Perbedaan pemilu tahun 2004 dibanding pemilu tahun sebelumnya

XI PKn - Perbedaan Pemilu Sebelum dan Sesudah


tahun 2004
No Perbedaan Sebelum Tahun 2004 Sesudah Tahun 2004
Memilih DPR, DPRD Memilih DPR, DPRD provinsi
Tujuan provinsi, dan DPRD dan kota, DPD (Dewan
1 Pemilu kabupaten/kotamadya Perwakilan Daerah)
Proporsional dengan daftra calon
Proposional dengan terbuka (pilih/coblos/contreng
stelsel daftar gambar partai politik dan nama
Sistem (pilih/coblos gambar calon di bawah gambar partai
2 Pemilihan partai politik saja). politik yang dipilih).
Didasarkan pada 1. Didasarkan pada jumlah
Daerah kabupaten/kotamadya penduduk yang ada di wilayah
3 Pemilihan atau provinsi. tersebut
2. Daerah pemilihan untuk DPR
adalah provinsi. Daerah
pemilihan untuk DPRD adalah
kabupaten/kotamadaya. Daerah
pemilihan DPRD
kabupaten/kotamadaya adalah
kecamatan atau gabungan
kecamatan.
Peserta Partai politik dan perorangan
4 Pemilu Partai politik (individu)
Memiliki pengurus dan
sekretariat tetap di 1. Memiliki pengurus dan
setengah pada kabupaten/ sekretariat tetap didua atau tiga
Syarat Pertai kotamadya yang ada di pada kabupaten/ kotamadya yang
5 Politik provinsi ada di provinsi
2. Memiliki anggota 1.000 orang
atau seperseribu penduduk di
setiap kabupaten/kotamadya yang
dibuktikan dengan kartu tanda
anggota (KTA).
1. Didukung minimal 1.000
Syarat orang di provinsi yang
Perorangan berpenduduk satu juta orang dan
Sebagai minimal 5.000 orang di provinsi
Peserta berpenduduk kurang 15 juta
6 Pemilu Tidak ada. orang
2. Dukungan tersebut tersebar di
sekurang-kurangnya di 25% dari
jumlah kabupaten/kotamadya
provinsi yang bersangkutan.
Di pusat dilaksanakan
oleh KPU dan Panitia
Pemilihan Indonesia
sebagai pelaksana Komisi Pemilihan Umum (KPU)
pemilu. Di daerah dari pusat sampai ke daerah yang
Panitia dilakasanakan oleh bersifat nonpartisipan,
Penyelenggar Panitia Pemilihan Daerah independen dan tetap (sampai 5
7 a (PPD) tingkat I dan II. tahun).
Surat keterangan dari
penurus parpol yang
menyatakan calon
Syarat Calon mempunyai pengalaman Harus memiliki ijazah
8 Legislatif setaraf dengan SMA. SMA/sederajat
Pelibatan Nominasi caleg memerhatikan
9 Perempuan Tiadak ada. kuota 30% perempuan.
Penegakan Tidak ada ketentuan Ada ketentuan pidana beserta
10 Hukum pidana. hukum acaranya/prosedurnya.