Anda di halaman 1dari 8

APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI

SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peristiwa banjir bandang menjadi perhatian bagi orang hidrologi dan ilmu
bencana alam karena menjadi peringkat atas di antara bencana alam lainnya dalam hal
jumlah orang yang terkena dampak dan proporsi kematian individu secara global
(Marchi, 2010). Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang dapat
menimbulkan dampak secara signifikan terhadap kondisi sosial-ekonomi dan
lingkungan seperti korban jiwa, kehilangan harta benda, kerusakan infrastruktur dan
lingkungan alam (Bangira, 2013). Peristiwa banjir bandang sebagian besar disebabkan
oleh curah hujan intens, kegagalan bendungan atau pencairan es (Gourley, 2013)
Bencana banjir bandang melanda DAS Tabo-Tabo (masyarakat setempat
menyebutnya sebagai DAS Sangkara) pada tanggal 24 bulan April tahun 2011 yang
menyebabkan 4 orang meninggal dan 34 unit rumah mengalami kerusakan (BPBD
Kabupaten Pangkep, 2016). Besarnya bahaya yang dapat ditimbulkan dari banjir
bandang disebabkan oleh karakteristik alirannya yang berupa kenaikan permukaan air
dengan cepat, kecepatan aliran tinggi dan transportasi material (Borga, 2014).
Karakteristik aliran banjir bandang tersebut, tidak lepas dari pengaruh karakteristik
wilayah terutama karakteristik curah hujan, morfologi dan morfometri, penggunaan
lahan, kerapatan vegetasi, lereng dan kondisi tanah (Smith, 2003; Mulder, 2012;
Bangira, 2013). Dari segi karakteristik aliran, faktor-faktor yang berperan dan dampak
yang ditimbulkan, maka permasalahan banjir bandang merupakan permasalahan yang
berbasis kewilayahan.
Tuntutan pemenuhan kesejahteraan dan kebutuhan pembangunan di era modern
ini mendorong pemaanfaatan potensi wilayah secara maksimal, sehingga pengelolaan
yang tidak tepat akan menyebabkan penurunan kualitas dan fungsi wilayah dalam
sistem DAS yang berujung pada kerawanan banjir bandang, termasuk DAS Tabo-
Tobo. Kondisi tersebut sejalan dengan penyataan Marchi (2012) bahwa akibat adanya

1
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

perubahan iklim global, sistem badai cuaca, kondisi debit sungai serta perkembangan
sosial dan ekonomi yang menyebabkan tekanan pada penggunaan lahan, frekuensi dan
kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir bandang akan meningkat di banyak daerah.
Berdasarkan data dari BNPB (2015), wilayah Tabo-Tabo dan sekitarnya telah terjadi
peristiwa banjir sebanyak sepuluh kejadian untuk wilayah Kabupaten Maros sejak
tahun 1999 yaitu tahun 1999, 2004 (dua kali kejadian), 2005, 2006 (tiga kali kejadian),
2007 (dua kali kejadian) dan tahun 2013. Kabupaten Pangkep sejak tahun 2004
sebanyak delapan peristiwa banjir yaitu tahun 2004, 2007, 2008, 2010, 2011 (dua kali
kejadian), 2013 dan 2014. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Heryani (2014) di
Kabupaten Maros dan Arfina (2014) di Kabupaten Pangkep menyatakan bahwa
wilayah yang terletak di DAS Tabo-Tabo memiliki tingkatan kerawanan banjir dari
tinggi sampai sangat tinggi.
Fenomena banjir bandang di setiap wilayah dapat disebabkan dan dipengaruhi
oleh faktor yang berbeda. Menurut Gourley (2013) bahwa banjir bandang dapat terjadi
dengan faktor penyebab seperti faktor curah hujan, pencairan es dan kegegagalan
bendungan. Penelitian yang dilakukan oleh Dawod (2011) di Kota Makkah,
menyimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi banjir bandang di daerah
metropolitan Makkah yaitu luas wilayah DAS, panjang sungai dalam DAS, debit
puncak, sifat fisik tanah, geologi dan jenis penggunaan lahan, sedangkan penelitian
Pelly (2013) di DAS Batang Kuranji Kota Padang menyimpulkan bahwa banjir
bandang yang terjadi di wilayah tersebut dipengaruhi oleh faktor bentuklahan,
kemiringan lereng, bentuk lereng, panjang lereng, dan proses geomorfologi.
Kompleksitas fenomena banjir bandang yang berorientasi pada permasalahan
wilayah dalam DAS, menuntut khususnya para peneliti untuk melakukan kajian
terhadap permasalahan banjir bandang secara holistik dan komprehensif. Di sisi lain,
skala waktu dan cakupan wilayah menjadi tantangan bagi peneliti yang melakukan
kajian berbasis kewilayahan. Oleh karena itu, hadirnya teknologi geo-informasi telah
memberikan kemudahan dalam melakukan kajian berbasis kewilayahan yang berupa
teknologi Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Global Navigation

2
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Satellite System (GNSS). Teknologi Penginderaan Jauh telah memberikan kemudahan


terutama dalam memperoleh data-data spatial yang terbarukan (up to date) dengan
cakupan wilayah yang luas, sedangkan teknologi Sistem Informasi Geografi
memungkinkan untuk pengelohan dengan data-data geografi secara efisien dan efektif
(Domnita, 2010). Hal tersebut sejalan dengan pernyataan oleh Dawod (2011) bahwa
teknologi SIG dan Penginderaan Jauh menjadi alat yang efisien dalam analisis
permasalahan kebencanaan, termasuk fenomena banjir bandang. GNSS telah
dimanfaatkan beberapa produk teknologi seperti Global Positioning System (GPS)
yang memiliki peranan penting terutama dalam kegiatan survei dan pemetaan.

1.2. Permasalahan
Dari sudut pandang geografi bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik
bersifat khas yang berbeda dengan wilayah lainya, sehingga memungkinkan banjir
bandang yang terjadi memiliki karakteristik yang berbeda di setiap wilayah. DAS
Tabo-Tabo memiliki karakteristik bersifat khas berupa morfologi karst terutama
wilayah bagian hulu sampai bagian tengah. Menurut Bonacci (2006) menekankan
bahwa di daerah karst yang berbeda maka banjir bandang akan terwujud dalam cara
yang berbeda karena setiap sistem karst menunjukkan heterogenitas ekstrem dan
variabilitas geologi, morfologi, hidrogeologi, hidrologi, hidraulik, ekologi dan
parameter lainnya dalam ruang dan waktu.
Aspek meteorologi berupa curah hujan memiliki peranan penting pada proses
banjir bandang terutama sebagai sumber aliran. Curah hujan yang jatuh di permukaan
pada DAS akan direspon dalam bentuk penyaluran, penyimpanan dan kehilangan
(Kult, 2012), sehingga peranan curah hujan dalam menghasilkan aliran banjir masih
dipengaruhi oleh karakteristik fisik wilayah dalam DAS (Mulder, 2012; Bagira, 2013).
Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman karateristik curah hujan dan respon
hidrologi banjir penting untuk pengeolaan wilayah dalam DAS kedepannya. Kondisi
tersebut sejalan dengan pernyataan Hoedjes (2014) yang menekankan bahwa
pengetahuan yang akurat tentang faktor meterologi seperti karakteristik curah hujan

3
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

sangat penting dalam analisis banjir bandang termasuk dalam membangun sistem
peringatan dini banjir bandang. Menurut Kim (2012) bahwa mengkarakterisasi
perilaku hidrologi banjir yang terjadi di wilayah DAS dengan bentuk respon terhadap
banjir, penting untuk membentuk sistem manajemen yang tepat dan efektif untuk banjir
bandang. Menurut Borga (2010) bahwa memahami proses hidro-meteorologi yang
mengontrol proses banjir bandang sangat penting, baik dari perspektif sains maupun
dari perspektif sosial.
Dari sudut pandang kewilayahan, satuan DAS terbentuk dari beberapa Sub-
DAS dan masing-masing memiliki karakteristik wilayah yang berbeda terutama dari
segi morfometri. Karakteristik morfometri dapat mempengaruhi proses banjir bandang
(Bagira, 2013), sehingga kontribusi setiap Sub-DAS terhadap kejadian banjir bandang
juga berbeda. Selain itu, penggunaan parameter morfometri DAS dapat menjadikan
analisis banjir bandang lebih efektif (Karalis, 2014). Oleh karena itu, wilayah
penelitian dibagi menjadi beberapa Sub-DAS untuk memudahkan dalam
menemukenali bagian wilayah Tabo-Tabo yang memiliki kontribusi paling tinggi
terhadap kejadian banjir bandang, sehingga prioritas kebijakan untuk penanggulan
banjir bandang bagian wilayah Tabo-Tabo dapat diusulkan.
Setiap karateristik fisik wilayah juga memiliki peranan yang berbeda terhadap
proses banjir bandang seperti tekstur dan struktur tanah beperan penting dalam
menahan air dan infiltrasi, lereng dan geometri cekungan menentukan prilaku
kecepatan dan konsetrasi limpasan, vegetasi dan kanopi hutan mempengaruhi
intersepsi curah hujan dan praktek penggunaan lahan dapat memainkan peran penting
terhadap resepan air, konsetrasi dan prilaku limpasan (Smith, 2003). Oleh karena itu,
informasi terkait karakteristik fisik suatu wilayah secara tidak langsung dapat
menggambarkan distribusi potensi banjir bandang pada wilayah tersebut. Smith (2003),
Smith (2010) dan Kruzdlo (2010) telah mengembangkan indeks potensi banjir bandang
dari aspek fisik wilayah dengan memanfaatkan integrasi data penginderaan jauh dan
teknik SIG.

4
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Karakteristik banjir bandang, baik dari segi karakteristik aliran dan dampak
yang dapat ditimbulkan maupun dari segi faktor-faktor yang berperan merupakan
pembeda dengan jenis banjir lainnya sehingga data dan informasi yang ditampilkan
seharusnya dibedakan dengan jenis banjir lainnya. Pada realitasnya, dalam dokumen
rencana tata ruang wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009, Kabupaten Maros
tahun 2012 dan Kabupaten Pangkep tahun 2012 serta rencana pengelolaan DAS
Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015 belum mengkategorikan jenis-jenis banjir. Selain
itu, belum adanya penelitian yang terpublikasi terkait banjir bandang di DAS Tabo-
Tabo, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan dengan harapan dapat
menjadi data dan informasi untuk perencanaan pengelolaan DAS Tabo-Tabo
kedepannya dalam rangka penanggulangan dan pengurangan resiko dari banjir
bandang.

1.3. Keaslian Penelitian


Untuk menyatakan keaslian penelitian, maka peneliti membandingkan beberapa
aspek dengan penelitian terdahulu yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Keaslian Penelitian


Judul, Tahun, Tujuan Penelitian Pendekatan dan Hasil Penelitian
Wilayah, Nama Metode
Peneliti Penelitian
RS & GIS Based 1. Untuk memetakan Integrasi 1. Kota Thiruvananthapuram
Spatial Mapping bahaya banjir penginderan jauh memiliki bahaya banjir
of Flash Floods in bandang dengan di dan SIG, Metode bandang yang sangat tinggi
Karamana and cekungan sungai rasional, 2. Thampanoor adalah daerah
Vamanapuram Karamana dan Peringkatan, yang paling terkena dampak di
River Basin, Vamanapuram Pembobotan, kota dan debit puncak
Kerala-India, 2. Untuk menilai debit Model HEC-RAS banjirnya yang diperkirakan
2014, Vinod P. puncak banjir and HEC- 44,82 m3/s untuk periode
G., Menon A. R. bandang GeoRAS ulang 5 tahun dan 72,66 m3/s
R, Ajin R. S. and untuk periode ulang 50 tahun
Chinnu R. V.

5
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Judul, Tahun, Pendekatan dan


Wilayah, Nama Tujuan Penelitian Metode Hasil Penelitian
Peneliti Penelitian
The Use of Untuk Analisis statistik 1. Sebagian kejadian banjir
Distributed mengkarakterisasi dan Model dipicu oleh curah hujan
Hydrological banjir bandang dan Numerik yang umumnya melanda
Models for The curah hujan yang pertama dan paling tinggi di
Gard 2002 Flash memicu banjir Montagne Noire dan
Flood Event: bandang tersebut
pegunungan Corbières
Analysis of diberbagai skala
Associated temporal dan spatial sebelum beralih ke kaki
Hydrological bukit Pyrenean dengan
Processes. 2014. curah hujan yang relatif
Garambois P. rendah
A., Larnier K., 2. Banjir bandang yang terjadi
Roux H., Labat berupa kategori menengah dan
D. dan Dartus parah seiring berlangsungnya
curah hujan sebagai pemicu
D.
3. Tingkat kejenuhan tanah
awal yang tinggi cenderung
mendorong respon banjir
pada tangkapan antara 3
sampai 10 jam.
4. Karakteristik curah hujan
setiap kejadian
menunjukkan tren unimodal
dan banjir di DAS gunung
Pyrenean umumnya dipicu
oleh curah hujan dekat
outlet, dengan topografi
lebih rendah.
An Analysis of 1. Menemukan daerah Model 1. Sub-DAS dengan limpasan
Flash Floods in sumber limpasan LISFLOOD tertinggi yaitu Bayele,
The Peyne tertinggi di DAS Rieutord dan St. Martial
Catchment Peyne 2. Kapasitas reservoir hanya
Southern France, 2. Mengetahui secara mampu menampung debit
2010, Backwell mendasar aliran 106 m3/s dari total
dan Bijkerk mekanisme kausal volume limpasan dari wilayah
yang mengakibatkan bagian utara cekungan,
banjir di Pézenas sehingga sekitar 42 m3/m
dan mengetahui keluar dari reservoir dan
pengaruh menyebabkan banjir di bagian
pengelolaan setiap hilir
parameter

6
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Judul, Tahun, Pendekatan dan


Wilayah, Nama Tujuan Penelitian Metode Hasil Penelitian
Peneliti Penelitian
Aplikasi geo- 1. Menganalisis Integrasi -
informasi untuk karakteristik curah penginderan jauh
analisis respon hujan di DAS Tabo- dan SIG,
hidrologi das Tabo. observasi,
tabo-tabo provinsi 2. Menganalisis pemodelan, hidro-
sulawesi selatan karakteristik respon meteorologi dan
terhadap kejadian hidrologi DAS fisiografi DAS
banjir bandang Tabo-Tabo.
3. Menganilisis Potensi
Banjir Bandang di
Das Tabo-Tabo
4. Menemukenali
faktor-faktor yang
menyebabkan banjir
bandang dan
memahami
mekanisme proses
terjadinya banjir
bandang di DAS
Tabo

1.4. Pertanyaan Penelitian


Berangkat dari latar belakang dan permasalahan yang telah dipaparkan
sebelumnya, adapun pertanyaan yang peneliti akan dibahas pada penelitian ini yaitu:
1.4.1. Bagaimanakah karakteristik distribusi spasial dan temporal curah hujan di DAS
Tabo-Tabo?
1.4.2. Bagaimanakah karakteristik respon hidrologi dan peranan masing-masing Sub-
DAS terhadap proses banjir bandang di DAS Tabo-Tabo?
1.4.3. Bagaimanakah distribusi spasial potensi banjir bandang di DAS Tabo-Tabo
dengan pemanfaatan aplikasi Geo-Informasi?
1.4.4. Bagaimanakah mekanisme faktor-faktor yang berperan terhadap proses
terjadinya banjir bandang di DAS Tabo-Tabo?

7
APLIKASI GEO-INFORMASI UNTUK ANALISIS RESPON HIDROLOGI DAS TABO-TABO PROVINSI
SULAWESI SELATAN
TERHADAP KEJADIAN BANJIR BANDANG
IRIANSA
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

1.5. Tujuan Penelitian


Berangkat dari permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, adapun tujuan
yang ingin di capai dalam penelitian ini yaitu:
1.5.1. Untuk menganalisis karakteristik curah hujan di DAS Tabo-Tabo dalam skala
temporal dan spasial.
1.5.2. Untuk menganalisis karakteristik respon hidrologi dan peranan masing-masing
Sub-DAS terhadap proses banjir bandang di DAS Tabo-Tabo.
1.5.3. Untuk menganalisis distribusi spasial potensi banjir bandang di DAS Tabo-
Tabo dengan pemanfaatan aplikasi Geo-Informasi.
1.5.4. Untuk menganalasis faktor yang menyebabkan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi banjir bandang serta memahami mekanisme proses terjadinya
banjir bandang di DAS Tabo-Tabo.

1.6. Manfaat Penelitian


Berdasarkan tujuan dari penelitian ini, maka diharapkan dapat memberikan
manfaat yaitu:
1.6.1. Sebagai data dan informasi bagi pemerintah untuk melakukan pengawasan dan
pengelolaan serta manajemen bencana banjir bandang di DAS Tabo-Tabo.
1.6.2. Sebagai bahan kajian/studi bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan
penelitian terkait banjir bandang.
1.6.3. Sebagai informasi bagi masyarakat dan organisasi non-kepemerintahan dalam
melakukan pengelolaan dan pengawasan lingkungan berbasis penanggulangan
bencana banjir badang.