Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Jantung Koroner (PJK) berdampak terhadap berbagai aspek
kehidupan penderitanya. Secara fisik penderita akan merasakan sesak, mudah
lelah, mengalami gangguan seksual, serta nyeri dada (Rochmayanti, 2011). Commented [WU1]: Cek penulisan referensi di panduan

Selain itu masalah psikososial seperti cemas dan depresi juga sering
dialami oleh pasien ditambah distres spiritual yang dapat terjadi pada pasien-
pasien dengan penyakit terminal seperti kanker, mungkin juga dialami oleh
pasien dengan PJK, karena penyakit ini merupakan penyakit akut dan
mengancam kehidupan namun membutuhkan perawatan dan penyesuaian
gaya hidup yang terus-menerus sepanjang hidup pasien (Wikison et a.l 2013).
Penyakit jantung koroner ini seringkali mematikan karena kurangnya
pengetahuan tentang gejala akan terjadinya serangan jantung, sehingga
terlambat dibawa ke rumah sakit bahkan menyebabkan kematian mendadak.
Hasil penelitian Dasulung (2014) tentang “Coronary Heart Disease
Knowledge and Risk Factors among Filipino-Americans connected to
Primary Care Services” didapatkan bahwa 68% pasien memiliki pengetahuan
yang rendah tentang PJK.
Hasil penelitian Indrawati (2012) tentang “Analisis Faktor yang
Berhubungan dengan Kemampuan Pasien PJK Melakukan Pencegahan
Sekunder Faktor Risiko” mengemukakan bahwa sebagian besar pasien yang
mengalami serangan jantung kurang pengetahuan tentang gejala akan
terjadinya serangan jantung, sehingga terlambat dibawa kerumah sakit bahkan
menyebabkan kematian mendadak. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa
70% pasien memiliki pengetahuan yang rendah tentang PJK.
Upaya perawat untuk menekan prevalensi kekambuhan adalah
meningkatkan kesadaran klien untuk mengetahui dan melakukan manajemen
preventif melalui pendidikan pengetahuan PJK. Melihat fenomena tersebut

1
maka perawat harus memberikan pendidikan bagi klien sebagai metode
dukungan rutin dan tindak lanjut perawatan dengan kebutuhan belajar klien
sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup klien PJK (Wikison et al. 2013).
Hasil penelitian Juli (2012) tentang “Faktor – Faktor yang
Menyebabkan Penyakit Jantung Koroner Di RS Jantung dan Pembuluh Darah
Harapan Kita Jakarta” persepsi biasanya terbentuk melalui tujuan dan harapan
individu. Perbedaan persepsi dapat menjadi batu sandungan untuk mencapai
komunikasi yang efektif. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada bulan
September 2014 kepada 8 orang pasien yang mengalami PJK di RS Jantung
dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta menanyakan pengertian dari PJK
kepada 8 orang pasien tersebut dan didapatkan hanya ada 4 orang pasien yang
dapat menyebutkannya dengan benar sedangkan sisanya menjawab dengan
jawaban yang kurang tepat, ada pula dari 8 orang pasien 5 diantaranya
menyatakan penyakit PJK ialah penyakit yang biasa saja dan tidak perlu ada
perubahan gaya hidup.”
Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk memiliki sikap yang
positif mengenai penyakit jantung koroner. Adanya persepsi diri yang positif,
motivasi untuk mau melakukan perubahan gaya hidup, memiliki sumber dana
yang cukup untuk menunjang proses perubahan, dukungan keluarga dalam
setiap keputusan yang diambil dari penderita PJK, juga menunjang
keberhasilan kemampuan pasien dalam melakukan pencegahan sekunder
faktor risiko PJK. Seringkali akses yang sulit dijangkau dan jarak yang jauh
menuju rumah sakit atau klinik yang menyebabkan pasien PJK enggan
memeriksakan kondisi kesehatan jantungnya secara rutin, sehingga pada saat
muncul gejala seperti nyeri dada, pasien PJK hanya beristirahat, menganggap
bahwa nyeri akan segera berkurang. Padahal kenyataanya, nyeri dada tersebut
ada yang tidak dapat hilang hanya dengan beristirahat saja (Dalusung 2014)
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit tertingi di
Indonesia hasil survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI tahun
2007 yaitu sebesar 71.079 jiwa, sedangkan pada tahun 2013 pendataan yang
dilakukan Kementrian Kesehatan dikhususkan untuk penyakit jantung

2
koroner saja yaitu sebanyak 20.556 jiwa. Angka tersebut menempati urutan
kedua terbanyak setelah stroke (Kemenkes, 2013).
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kesakitan
dan kematian di seluruh dunia. Menurut RISKESDAS (Riset Kesehatan
Dasar) pada tahun 2014, penyakit ini menyebabkan 17,5 juta kematian, yaitu
sekitar 30% dari total kematian pada tahun tersebut.
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) 2013 untuk
wilayah Asia Tenggara ditemukan 3.5 juta kematian penyakit kardiovaskular, Commented [WU2]: Pake koma atau titik

52% diantaranya disebabkan oleh penyakit infark miokard dan 7% akibat


hipertensi. Dan tahun 2014 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal Commented [WU3]: Tidak boleh di awal kalimat

akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh
dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di
negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Dari seluruh
kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3%) di antaranya
disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%)
disebabkan oleh stroke (Dirjen 2014). Commented [WU4]: Dirjen apa?

Berdasarkan laporan RISKESDAS (2013), prevalensi penyakit jantung


koroner di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar
883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5%
atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang. Berdasarkan diagnosis dokter,
estimasi jumlah penderita penyakit jantung koroner terdapat di Provinsi Jawa
Barat sebanyak 160.812 orang (0,5%), sedangkan Provinsi Maluku Utara,
yaitu sebanyak 1.436 orang (0,2%). Sementara prevalensi jantung koroner
menurut diagnosis atau gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur (4,4%),
diikuti Sulawesi Tengah (3,8%), Sulawesi Selatan (2,9%), dan Sulawesi Barat
(2,6%) jumlah penderita paling sedikit ditemukan di Provinsi Papua Barat,
yaitu sebanyak 6.690 orang (1,2%).
Berdasarkan laporan yang peneliti peroleh dari rekam medik RSUD
Undata Provinsi Sulawesi Tengah prevalensi penyakit jantung koroner pada 3
tahun terakhir yaitu tahun 2015 sekitar 142 jiwa kemudian pada tahun 2016 Commented [WU5]: Ini bukan merupakan prevalensi tetapi
jumlah kasus
naik menjadi 198 jiwa dan pada tahun 2017 234 jiwa.

3
Menurut penelitian Dasulung (2014) tentang tentang “Coronary Heart
Disease Knowledge and Risk Factors among Filipino-Americans connected
to Primary Care Services didapatkan faktor risiko yang paling dominan
adalah pria yang merokok dilanjutkan dengan hiperkolesterolemia. Pada
perokok, kandungan racun seperti tar, nikotin dan karbon monoksida akan
menyebabkan penurunan kadar oksigen ke jantung, peningkatan tekanan
darah dan denyut nadi, penurunan HDL, peningkatan penggumpalan darah,
dan kerusakan endotel pembuluh darah koroner.
Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti
tentang ” Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Persepsi Pasien Penyakit
Jantung Koroner (PJK) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah”

1.2 Rumusan Masalah


Apakah ada hubungan pengetahuan dengan persepsi pasien penyakit
jantung koroner (PJK) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan
persepsi pasien penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien penyakit
jantung koroner (PJK) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah
1.3.2.2 Untuk mengidentifikasi persepsi pasien penyakit jantung
koroner (PJK) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah
1.3.2.3 Untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan
persepsi pasien penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD
Undata Provinsi Sulawesi Tengah

4
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pendidikan
1.4.1.1 Sebagai salah satu referensi acuan bagi penelitian selanjutnya
dalam bidang keperawatan medikal bedah terutama sistem
kardiovaskular.
1.4.1.2 Mengenalkan lebih dalam kepada mahasiswa untuk turut
aktif berpartisipasi melakukan penyuluhan kesehatan pada
pasien jantung koroner di lingkup rumah sakit sebagai salah
satu area praktik keperawatan.
1.4.2 Bagi Masyarakat
1.4.2.1 Menambah wawasan keilmuan terkait hubungan pengetahuan
dengan persepsi masyarakat tentang penyakit jantung koroner
(PJK).
1.4.2.2 Penelitian ini diharapkan memberikan masukan infomasi
kepada masyarakat tentang pentingnya pengetahuan dan
persepsi tentang penyakit jantung koroner (PJK)
1.4.3 Bagi Instansi Tempat Meneliti
1.4.3.1 Untuk pengembangan strategi pogram pengetahuan dengan
persepsi pasien penyakit jantung koroner (PJK).
1.4.3.2 Sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan
rumah sakit dalam program Promosi Kesehatan terkait
penyakit jantung koroner.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori


2.1.1 Tinjauan Penyakit Jantung Koroner
2.1.1.1 Definisi
American heart association (AHA), mendefinisikan
penyakit jantung koroner adalah istilah umum untuk
penumpukan plak di arteri jantung yang dapat menyebabkan
serangan jantung. Penumpukan plak pada arteri koroner ini
disebut dengan aterosklerosis (AHA 2013).
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan keadaan
dimana terjadi penimbunan plak pembuluh darah koroner. Hal
ini menyebabkan arteri koroner menyempit atau tersumbat
arteri koroner merupakan arteri yang menyuplai darah otot
jantung dengan membawa oksigen yang banyak. Terdapat
beberapa faktor memicu penyakit ini, yaitu: gaya hidup, faktor
genetik, usia dan penyakit penyerta yang lain (Putra et al.
2013).
2.1.2 Epidemiologi
Dewasa ini Penyakit Jantung koroner/Coronary Artery Disease
(PJK/CAD) merupakan salah satu penyakit jantung yang sangat penting
karena penyakit ini di derita oleh jutaan orang dan merupakan penyebab
kematian utama di beberapa Negara termasuk Indonesia. Sebagai gambaran,
di Amerika Serikat dilaporkan jumlah penderita PJK (Infark Miokard Akut)
baru adalah 1,5 juta per tahun (1 penderita tiap 20 detik) (Putra et al 2013).
Di Indonesia, hasil RISKESDAS tahun 2013 menunjukkan prevalensi
jantung koroner berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia
sebesar 0,5 persen, dan berdasarkan terdiagnosis dokter atau gejala sebesar
1,5 persen. Sementara prevalensi jantung koroner menurut diagnosis atau

6
gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur (4,4%), diikuti Sulawesi Tengah
(3,8%), Sulawesi Selatan (2,9%), dan Sulawesi Barat (2,6%).
Kemudian pada hasil RISKESDAS tahun 2013 menunjukkan prevalensi
penyakit jantung koroner (PJK) berdasarkan wawancara yang didiagnosis
dokter serta yang didiagnosis dokter atau gejala meningkat seiring dengan
bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun yaitu 2,0
persen dan 3,6 persen, menurun sedikit pada kelompok umur ≥ 75 tahun.
Prevalensi PJK yang didiagnosis dokter maupun berdasarkan diagnosis
dokter atau gejala lebih tinggi pada perempuan (0,5% dan 1,5%). Prevalensi
PJK lebih tinggi pada masyarakat tidak bersekolah dan tidak bekerja.
Berdasar PJK terdiagnosis dokter prevalensi lebih tinggi di perkotaan,
namun berdasarkan terdiagnosis dokter dan gejala lebih tinggi di perdesaan
dan pada kuintil indeks kepemilikan terbawah (RISKESDAS 2013).
Penyakit jantung terdistribusi dalam masyarakat berdasarkan karakteristik
masyarakat dan lingkungannya. Secara umum dapat dikatakan bahwa
distribusi PJK adalah:
1. Lebih banyak pada masyarakat negara berkembang dibandingkan
negara sedang berkembang.
2. Lebih banyak ditemukan pada daerah perkotaan dibandingkan daerah
pedesaan.
3. Lebih banyak mengenai golongan masyarakat sosial ekonomi
menengah ke atas dibandingkan sosial ekonomi lemah.
4. Lebih banyak mengenai pria daripada wanita; namun yang lebih banyak
meninggal adalah wanita.
5. Meninggi setelah berumur 40 tahun. Risiko tinggi sudah terjadi jika
memasuki umur 50 tahun.
6. Tinggi angka kematiannya, lebih banyak yang meninggal daripada yang
selamat (Nurarif et al 2013).
2.1.3 Etiologi
Etiologi penyakit jantung koroner adalah Penyempitan atau
penyumbatan pembuluh darah tersebut dapat menghentikan aliran darah ke

7
otot jantung yang sering ditandai dengan nyeri. Dalam kondisi yang parah,
kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini dapat merusak
sistem pengontrol irama jantung dan berakhir dan berakhir dengan kematian
(Hermawati et al 2014)
Penyempitan dan penyumbatan arteri koroner disebabkan zat lemak
kolesterol dan trigliserida yang semakin lama semakin banyak dan
menumpuk di bawah lapisan terdalam endothelium dari dinding pembuluh
arteri. Hal ini dapat menyebabkan aliran darah ke otot jantung menjadi
berkurang ataupun berhenti, sehingga mengganggu kerja jantung sebagai
pemompa darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan
oksigen dan nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang.
Pembentukan plak lemak dalam arteri memengaruhi pembentukan bekuan
aliran darah yang akan mendorong terjadinya serangan jantung. Proses
pembentukan plak yang menyebabkan pergeseran arteri tersebut dinamakan
arteriosklerosis (Hermawati et al 2014)
Awalnya penyakit jantung di monopoli oleh orang tua. Namun, saat ini
ada kecenderungan penyakit ini juga diderita oleh pasien di bawah usia 40
tahun. Hal ini biasa terjadi karena adanya pergeseran gaya hidup, kondisi
lingkungan dan profesi masyarakat yang memunculkan “tren penyakit”baru
yang bersifat degnaratif. Sejumlah prilaku dan gaya hidup yang ditemui
pada masyarakat perkotaan antara lain mengonsumsi makanan siap saji yang
mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman
beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stress (Hermawati et
al 2014).
2.1.4 Patofisiologi
Aterosklerosis atau pengerasan arteri adalah kondisi pada arteri besar
dan kecil yang ditandai penimbunan endapan lemak, trombosit, neutrofil,
monosit dan makrofag di seluruh kedalaman tunika intima (lapisan sel
endotel), dan akhirnya ke tunika media (lapisan otot polos). Arteri yang
paling sering terkena adalah arteri koroner, aorta dan arteri-arteri sereberal
(Ariesti 2011).

8
Langkah pertama dalam pembentukan aterosklerosis dimulai dengan
disfungsi lapisan endotel lumen arteri, kondisi ini dapat terjadi setelah
cedera pada sel endotel atau dari stimulus lain, cedera pada sel endotel
meningkatkan permeabelitas terhadap berbagai komponen plasma, termasuk
asam lemak dan triglesirida, sehingga zat ini dapat masuk kedalam arteri,
oksidasi asam lemak menghasilkan oksigen radikal bebas yang selanjutnya
dapat merusak pembuluh darah (Ariesti 2011).
Cedera pada sel endotel dapat mencetuskan reaksi inflamasi dan imun,
termasuk menarik sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit, serta
trombosit ke area cedera, sel darah putih melepaskan sitokin proinflamatori
poten yang kemudian memperburuk situasi, menarik lebih banyak sel darah
putih dan trombosit ke area lesi, menstimulasi proses pembekuan,
mengaktifitas sel T dan B, dan melepaskan senyawa kimia yang berperan
sebagai chemoattractant (penarik kimia) yang mengaktifkan siklus
inflamasi, pembekuan dan fibrosis. Pada saat ditarik ke area cedera, sal
darah putih akan menempel disana oleh aktivasi faktor adhesif endotelial
yang bekerja seperti velcro sehingga endotel lengket terutama terhadap sel
darah putih, pada saat menempel di lapisan endotelial, monosit dan neutrofil
mulai berimigrasi diantara sel-sel endotel keruang interstisial. Di ruang
interstisial, monosit yang matang menjadi makrofag dan bersama neutrofil
tetap melepaskan sitokin, yang meneruskan siklus inflamasi. Sitokin
proinflamatori juga merangsan ploriferasi sel otot polos yang
mengakibatkan sel otot polos tumbuh di tunika intima (Ariesti 2011).
2.1.5 Klasifikasi
Menurut, ( Putra et al 2013) Klasifikasi PJK :
1. Angina pektoris stabil/stable angina pektoris penyakit iskemik
disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen
miokard. Di tandai oleh rasa nyeri yang terjadi jika kebutuhan oksigen
miokardium melebihi suplainya. Iskemia Miokard dapat bersifat
asimtomatis (Iskemia Sunyi/Silent Ischemia), terutama pada pasien
diabetes. Penyakit ini sindrom klinis episodik karena iskemia mi okard

9
transien. Laki-laki merupakan 70% dari pasien dengan angina pektoris
dan bahkan sebagian besar menyerang pada laki-laki ± 50 tahun dan
wanita 60 tahun.
2. Angina pektoris tidak stabil/unstable angina pectoris sindroma klinis
nyeri dada yang sebagian besar disebabkan oleh disrupsi plak
ateroskelrotik dan diikuti kaskade proses patologis yang menurunkan
aliran darah koroner, ditandai dengan peningkatan frekuensi,
intensitas atau lama nyeri, angina timbul pada saat melakukan
aktivitas ringan atau istirahat, tanpa terbukti adanya nekrosis Miokard.
a. Terjadi saat istirahat (dengan tenaga minimal) biasanya
berlangsung > 10 menit.
b. Sudah parah dan onset baru (dalam 4-6 minggu sebelumnya), dan
c. Terjadi dengan pola crescendo (jelas lebih berat, berkepanjangan,
atau sering dari sebelumnya).
3. Angina varian prinzmetal arteri koroner bisa menjadi kejang, yang
mengganggu aliran darah ke otot jantung (Iskemia). Ini terjadi pada
orang tanpa penyakit arteri koroner yang signifikan, namun dua
pertiga dari orang dengan angina varian mempunyai penyakit parah
dalam paling sedikit satu pembuluh, dan kekejangan terjadi pada
tempat penyumbatan. Tipe angina ini tidak umum dan hampir selalu
terjadi bila seorang beristirahat - sewaktu tidur. Anda mempunyai
risiko meningkat untuk kejang koroner jika anda mempunyai :
penyakit arteri koroner yang mendasari, merokok, atau menggunakan
obat perangsang atau obat terlarang (seperti kokain). Jika kejang arteri
menjadi parah dan terjadi untuk jangka waktu panjang, serangan
jantung bisa terjadi.
4. Infark miokard akut/acute myocardial infarction nekrosis akibat
gangguan aliran darah arteri koronaria yang bermakna, sebagai akibat
oklusi arteri koronaria karena trombus atau spasme hebat yang
berlangsung lama. Infark Miokard terbagi 2 :
a. ST Elevasi Miokardial Infark (STEMI)

10
ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian
otot jantung secara permanen akibat insufisiensi aliran darah
koroner oleh proses degeneratif maupun di pengaruhi oleh banyak
faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim
jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG. STEMI adalah
cermin dari pembuluh darah koroner tertentu yang tersumbat total
sehingga aliran darahnya benar-benar terhenti, otot jantung yang
dipendarahi tidak dapat nutrisi-oksigen dan mati.
b. Non ST Elevasi Miokardial Infark (NSTEMI)
Nstemi adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan
suplai oksigen ke miokardium terutama akibat penyempitan arteri
koroner akan menyebabkan iskemia miokardium lokal. Iskemia
yang bersifat sementara akan menyebabkan perubahan reversibel
pada tingkat sel dan jaringan. Nstemi infrak miokard akut tanpa
elevasi ST yang terjadi dengan mengembangkan oklusi lengkap
arteri koroner kecil atau oklusi parsial arteri koroner utama yang
sebelumnya terkena arteroklerosis. Hal ini menyebabkan kerusakan
ketebalan parasit otot.
2.1.6 Komplikasi
Komplikasi Penyakit Jantung Koroner menurut, (Nurarif et al 2013)
Adapun komplikasi PJK adalah:
1. Disfungsi ventricular
2. Aritmia pasca STEMI
3. Gangguan hemodinamik
4. Ekstrasistol ventrikel Sindroma Koroner Akut Elevasi ST Tanpa
Elevasi ST Infark miokard Angina tak stabil.
5. Takikardi dan fibrilasi atrium dan ventrikel
6. Syok kardiogenik
7. Gagal jantung kongestif
8. Perikarditis
9. Kematian mendadak

11
2.1.7 Manifestasi Klinis
Menurut Hermawati (2014), gejala penyakit jantung koroner
1. Timbulnya rasa nyeri di dada (Angina Pectoris)
2. Sesak nafas (Dispnea)
3. Keanehan pada irama denyut jantung
4. Pusing
5. Rasa lelah berkepanjangan
6. Sakit perut, mual dan muntah Penyakit jantung koroner dapat
memberikan manifestasi klinis yang berbeda-beda. Untuk menentukan
manifestasi klinisnya perlu melakukan pemeriksaan yang seksama.
Dengan memperhatikan klinis penderita, riwayat perjalanan penyakit,
pemeriksaan fisik, elektrokardiografi saat istirahat, foto dada,
pemeriksaan enzim jantung dapat membedakan subset klinis PJK.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hermawati (2014) untuk mendiagnosa PJK secara lebih tepat
maka dilakukan pemeriksaan penunjang diantaranya: a. EKG memberi
bantuan untuk diagnosis dan prognosis, rekaman yang dilakukan saat
sedang nyeri dada sangat bermanfaat. Gambaran diagnosis dari EKG
adalah:
1. Depresi segmen ST > 0,05 mV

Gambar 2.1
Sumber: Hermawati (2014)

12
2. Inversi gelombang T, ditandai dengan > 0,2 mV inversi gelombang T
yang simetris di sandapan prekordial.

Gambar 3.1
Sumber: Hermawati (2014)

3. Chest X-Ray (foto dada) Thorax foto mungkin normal atau adanya
kardiomegali, CHF (gagal jantung kongestif) atau aneurisma
ventrikiler.
4. Latihan tes stres jantung (treadmill) merupakan pemeriksaan
penunjang yang standar dan banyak digunakan untuk mendiagnosa
PJK, ketika melakukan treadmill detak jantung, irama jantung, dan
tekanan darah terus-menerus dipantau, jika arteri koroner mengalami
penyumbatan pada saat melakukan latihan maka ditemukan segmen
depresi ST pada hasil rekaman.
5. Ekokardiogram Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk
menghasilkan gambar jantung, selama ekokardiogram dapat
ditentukan apakah semua bagian dari dinding jantung berkontribusi
normal dalam aktivitas memompa. Bagian yang bergerak lemah
mungkin telah rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu
sedikit oksigen, ini mungkin menunjukkan penyakit arteri koroner.

13
6. Kateterisasi jantung atau angiografi adalah suatu tindakan invasif
minimal dengan memasukkan kateter (selang/pipa plastik) melalui
pembuluh darah ke pembuluh darah koroner yang memperdarahi
jantung, prosedur ini disebut kateterisasi jantung. Penyuntikkan cairan
khusus ke dalam arteri atau intravena ini dikenal sebagai angiogram,
tujuan dari tindakan kateterisasi ini adalah untuk mendiagnosa dan
sekaligus sebagai tindakan terapi bila ditemukan adanya suatu
kelainan.
7. CT scan (Computerized tomography Coronary angiogram)
Computerized tomography Coronary angiogram/CT Angiografi
Koroner adalah pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk
membantu memvisualisasikan arteri koroner dan suatu zat pewarna
kontras disuntikkan melalui intravena selama CT scan, sehingga dapat
menghasilkan gambar arteri jantung, ini juga disebut sebagai ultrafast
CT scan yang berguna untuk mendeteksi kalsium dalam deposito
lemak yang mempersempit arteri koroner. Jika sejumlah besar kalsium
ditemukan, maka memungkinkan terjadinya PJK.
8. Magnetic resonance angiography (MRA) Prosedur ini menggunakan
teknologi MRI, sering dikombinasikan dengan penyuntikan zat
pewarna kontras, yang berguna untuk mendiagnosa adanya
penyempitan atau penyumbatan, meskipun pemeriksaan ini tidak
sejelas pemeriksaan kateterisasi jantung.
2.1.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Keperawatan menurut (Hermawati et al 2014) :
a. Hindari makanan kandungan kolesterol yang tinggi kolesterol jahat
LDL dikenal sebgai penyebab utana terjadinya proses
aterosklerosis, yaitu proses pengerasan dinding pembuluh darah,
terutama di jantung, otak, ginjal, dan mata.
b. Konsumsi makanan yang berserat tinggi
c. Hindari mengonsumsi alkohol.
d. Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok

14
e. Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan
memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi.
f. Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O² ke miokard
g. Menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang
berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL
kolesterol
h. Menurunkan tekanan darah
i. Meningkatkan kesegaran jasmani
2. Penatalaksaan Medis menurut (Rochmayanti 2011) :
a. Terapi trombolitik
Bertujuan untuk menyelamatkan otot jantung sebanyak mungkin
dan dapat menurunkan angka kematian dari 30% ke 15%.
b. Cardiac catheterization
c. Percutaneus Transluminal Coronary angioplasty (PTCA)
d. Coronary Artery Bypass Graft Surgery (CABG)
e. Terapi obat-obatan
2.2 Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
2.2.1 Pengertian
Pengetahuan adalah hasil “tahu”dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (Notoatmodjo 2012).
Pengetahuan diperoleh dari suatu proses belajar terhadap suatu
informasi yang diperoleh seseorang. Pengetahuan dapat juga diperoleh dari
pengalaman yang secara langsung maupun dari pengalaman orang lain.
Pengetahuan juga dapat diperoleh dari proses pendidikan atau edukasi
(Wawan A & Dewi M 2013).
2.2.2 Jenis-jenis Pengetahuan

15
Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis diantara nya
(Notoatmodjo 2012) :
1. Pengetahuan langsung (immediate)
Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir
dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran. Kaum realis
(penganut paham Realisme) mendefinisikan pengetahuan seperti itu.
Umumnya dibayangkan bahwa kita mengetahui sesuatu itu
sebagaimana adanya, khususnya perasaan ini berkaitan dengan realitas-
realitas yang telah dikenal sebelumnya seperti pengetahuan tentang
pohon, rumah, binatang, dan beberapa individu manusia. Namun,
apakah perasaan ini juga berlaku pada realitas-realitas yang sama sekali
belum pernah dikenal dimana untuk sekali meilhat kita langsung
mengenalnya sebagaimana hakikatnya?. Apabila kita sedikit
mencermatinya, maka akan nampak dengan jelas bahwa hal itu tidaklah
demikian adanya
2. Pengetahuan tak langsung (mediated)
Pengetahuan mediated adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan
proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita
ketahui dari benda-benda eksternal banyak berhubungan dengan
penafsiran dan pencerapan pikiran kita.
3. Pengetahuan indrawi (perceptual)
Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih
melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh, kita menyaksikan satu
pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini yang masuk ke alam pikiran
melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita. Tanpa
diragukan bahwa hubungan kita dengan alam eksternal melalui media
indra-indra lahiriah ini, akan tetapi pikiran kita tidak seperti klise foto
dimana gambar-gambar dari apa yang diketahui lewat indra-indra
tersimpan didalamnya. Pada pengetahuan indrawi terdapat beberapa
faktor yang berpengaruh, seperti adanya cahaya yang menerangi objek-
objek eksternal, sehatnya anggota-angota indra badan (seperti mata,

16
telinga, dan lain-lain), dan pikiran yang mengubah benda-benda
partikular menjadi konsepsi universal, serta faktor-faktor sosial (seperti
adad istiadad). Dengan faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan
bahwa pengetahuan indrawi hanya akan dihasilkan melalui indra-indra
lahiriah.
4. Pengetahuan konseptual (conceptual)
Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan
indrawi. Pikiran manusia secara langsung tidak dapat membentuk suatu
konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal
tanpa berhubungan dengan alam eksternal. Alam luar dan konsepsi
saling berpengaruh satu dengan lainnya dan pemisahan di antara
keduanya merupakan aktivitas pikiran.
5. Pengetahuan partikular (particular)
Pengetahuan partikular berkaitan dengan satu individu, objek-
objek tertentu, atau realitas-realitas khusus. Misalnya ketika kita
membicarakan satu kitab atau individu tertentu, maka hal ini
berhubungan dengan pengetahuan partikular itu sendiri.
6. Pengetahuan universal (universal)
Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang berbeda.
Sebagai contoh, ketika kita membincangkan tentang manusia dimana
meliputi seluruh individu (seperti Muhammad, Ali, hasan, husain, dan
…), ilmuwan yang mencakup segala individunya (seperti ilmuwan
fisika, kimia, atom, dan lain sebagainya), atau hewan yang meliputi
semua indvidunya (seperti gajah, semut, kerbau, kambing, kelinci,
burung, dan yang lainnya).
2.2.3 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai enam
tingkat, yakni (Notoatmodjo 2012) :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai kemampuan menghafal, mengingat,
mengulang informasi, yang pernah diberikan sebelumnya, termasuk

17
dalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap
suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. “Tahu” merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Pemahaman diartiakan sebagai kemampuan untuk
menginterpretasikan atau mengulang informasi dengan bahasa sendiri
secara benar tentang objek yang diketahui.

3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan informasi,
teori, situasi, dan mengenai bagian-bagian serta hubungan dengan
kondisi sebenarnya.
4. Analisis (Analysis)
Analisa diartikan sebagai kemampuan menjabarkan materi yang
didalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi
tersebut dan ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat
dilihat berdasarkan penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan,dan mengelompokkan.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis diartikan sebagai kemampuan mengumpulkan komponen
guna membentuk suatu pola pemikiran baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi diartikan sebagai kemampuan membuat pemikiran
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau norma yang
berlaku di masyarakat. Misalnya seorang ibu dapat menilai dan
menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak.
2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Adapun faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah (Notoatmodjo
2012):

18
1. Umur
Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam
penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang
mempengaruhi pengetahuan. Umur adalah lamanya hidup seseorang
dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur
seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang
dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman
sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain.
2. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh
kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga
dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan
klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang
atau lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi. Pendidikan meliputi
peranan penting dalam menentukan kualitas manusia. Dengan
pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan
implikasinya. Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin
berkualitas karena pendidikan yang tinggi akan membuahkan
pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang berkualitas.
3. Paparan media massa
Melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik maka
berbagai ini berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat,
sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa akan
memperoleh informasi yang lebih banyak dan dapat mempengaruhi
tingkat pengetahuan yang dimiliki.
4. Sosial ekonomi (pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun skunder keluarga,
status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang
dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi

19
seseorang semakin mudah dalam mendapatkan pengetahuan, sehingga
menjadikan hidup lebih berkualitas
5. Hubungan sosial
Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu
sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi
media. Apabila hubungan sosial seseorang dengan individu baik maka
pengetahuan yang dimiliki juga akan bertambah.
6. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan
cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal biasanya diperoleh
dari lingkungan kehidupan dalam proses pengembangan misalnya
sering mengikuti organisasi
2.3 Tinjauan Umum Tentang Persepsi
2.3.1 Pengertian
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan
yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya.
Persepsi dapat dilihat dalam arti sempit yaitu penglihatan, bagaimana cara
seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau
pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan
sesuatu. Proses persepsi tidak dapat terlepas dari proses penginderaan dan
proses tersebut merupakan proses pendahulu dari proses persepsi.
Penginderan sendiri dapat diartikan suatu stimulus yang diterima oleh
individu melalui alat reseptor yang disebut indera (Rakhmat 2012).
Manusia tidak lepas dari kegiatan berpersepsi, hampir setiap hari
manusia berpersepsi seperti persepsi ketika berkomunikasi dengan
masyarakat, menguus perizinan, bertemu dengan petugas instansi dan
sebagainya. Secara garis besar persepsi manusia dibagi menjadi dua
bagian, yaitu (Rakhmat 2012) :

20
a. Persepsi terhadap obyek (lingkungan fisik); sifat-sifat luar, sedangkan
persepsi terhadap orang menaggapi sifat-sifat luar dan dalam (perasaan,
motif, harapan, dan sebagainya). Orang akan mempersepsi anda pada
saat anda mempersepsi mereka. Dengan kata lain, persepsi terhadap
manusia bersifat interaktif.
b. Persepsi terhadap manusia; melalui lambing-lambang fisik, sedangkan
persepsi terhadap orang melalui lambing-lambang verbal dan
nonverbal. Orang lebih aktif daripada kebanyakan obyek dan leih sulit
diramalkan.

2.3.2 Jenis-jenis Persepsi


Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh
oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis
(Rakhmat 2012) :
1. Persepsi visual
Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini
adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan
memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi
visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum,
sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam
konteks sehari-hari.
2. Persepsi auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu
telinga.
3. Persepsi perabaan
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
4. Persepsi penciuman

21
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera
penciuman yaitu hidung.
5. Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera
pengecapan yaitu lidah.
2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi, sebagai
berikut (Rakhmat 2012), yaitu:
a. Faktor-faktor fungsional
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman sama lalu dan
hal-hal lain yang termasuk apa yang disebut sebagai faktor-faktor
personal.

b. Faktor-faktor struktural
Faktor-faktor struktural yang menentukan persepsi berasal dari luar
individu, seperrti lingkungan, budaya, hukum yang berlaku, nilai-nilai
dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam
mempersepsikan sesuatu.
2.4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Persepsi Pasien PJK
Media dan sumber informasi kesehatan yang semakin berkembang
menjadikan masyarakat lebih mengetahui tentang kesehatan. Hal ini
terkadang membuat masyarakat bingung dengan informasi yang beragam,
maka diperlukan pemahaman tentang penyakit jantung koroner (PJK) yang
berisi bagaimana cara mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan
informasi untuk membuat keputusan dalam hal kesehatan, pencegahan
penyakit dan promosi kesehatan. Oleh karena itu sangat penting bagi pasien
PJK untuk memiliki pengetahuan tentang penyakit jantung koroner (PJK)
(Rakhmat 2012).
Pasien PJK yang mempunyai persepsi diri yang positif melakukan
perubahan gaya hidup sehat, memiliki dana yang cukup sehingga dapat
menunjang proses penyembuhan. Sedangkan pasien PJK yang mempunyai

22
persepsi diri yang negatif tidak menyadari dirinya mengalami gejala penyakit
jantung dan banyak pasien yang menganggap bahwa pola hidupnya selama
ini tidak ada masalah namun tetap saja terkena PJK (Rakhmat 2012).
Dikutip dari jurnal : Lina Indrawati, 2012, Jurnal Penelitian Analisis
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kemampuan Pasien PJK Melakukan
Pencegahan Sekunder Faktor Risiko Di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta,
http://http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20313795-T%2031743
Analisis%20faktor-full%20text.pd. Diakses pada tanggal 25 Januari 2013. Commented [WU6]: Sesuaikan susunan penulisannya
mengikuti bagian yg tidak berwarna merah di atas

Perhatikan urutan sub sub bab ke sub sub sub bab, dst

23
2.3 Kerangka Teori Commented [WU7]: Perhatikan pembuatan kotak2, jgn
melewati batas kertas

Penyempitan atau penyumbatan


pembuluh darah

Penyakit Jantung Koroner Menghentikan aliran darah ke


(PJK) otot jantung yang sering
ditandai dengan nyeri

Fokus Penatalaksanaan
keperawatan : Edukasi : Penatalaksanaan medis :
a. Perubahan gaya hidup : 1) Terapi trombolitik
1) Penurunan berat badan 2) Cardiac catheterization
2) Pengaturan pola makan dengan 3) Percutaneus Transluminal
diit rendah lemak yang tersaturasi Coronary angioplasty (PTCA)
3) Menghentikan kebiasaan 4) Coronary Artery Bypass
merokok Graft Surgery (CABG)
4) Mengatasi depresi/cemas 5) Terapi obat-obatan

b. Aktivitas fisik dengan program


rehabilitasi Peningkatan Pengetahuan
c. Pengendalian faktor risiko :
mempertahankan TD, kadar
glukosa, kolesterol, skrining Faktor-faktor yang
keluarga yang memiliki riwayat mempengaruhi
penyakit jantung. pengetahuan :
 Umur
 Pendidikan
 Persepsi diri yang positif  Paparan media massa
melakukan perubahan gaya hidup
 Sosial ekonomi
(pendapatan)
sehat, memiliki dana yang cukup
 Hubungan sosial
sehingga dapat menunjang proses
 Pengalaman
penyembuhan.
 Persepsi diri yang negatif yang tidak
menyadari dirinya mengalami gejala Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi :
penyakit jantung dan banyak pasien  Faktor fungsional: kebutuhan, pengalaman sama lalu
yang menganggap bahwa pola  Faktor struktural: berasal dari luar individu, seperti
hidupnya selama ini tidak ada masalah lingkungan, budaya, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam
namun tetap saja terkena PJK. masyarakat

(Sumber : Notoadmodjo 2012, Rakhmat 2012, Kemenkes RI 2013, Hermawati et al 2014)


Gambar 2.1 Kerangka Teori

24
2.4 Kerangka Konsep Commented [WU8]: Pembuatan kotak2 tdk ush diwarnai

Variabel Independen :
Variabel Dependen :
Pengetahuan Pasien
. Persepsi Pasien Penyakit
Penyakit Jantung
Jantung Koroner (PJK)
Koroner (PJK)

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

2.5 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan tinjauan yang telah dikemukakan
sebelumnya, peneliti menduga adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan
persepsi pasien penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD Undata Provinsi
Sulawesi Tengah.
.

25
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif


yaitu digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan (Sugiyono 2012). Desain penelitian ini dipilih karena peneliti
mencoba mencari tahu hubungan pengetahuan dengan persepsi pasien jantung
koroner (PJK). Dengan pendekatan cross sectional yaitu peneliti melakukan Commented [WU9]: Kata dengan tidak boleh ditempatkan di
awal kalimat
survei atau pengukuran terhadap variabel bebas dan variabel terikat yang
pengumpulan datanya dilakukan pada satu periode tertentu dan
pengamatan hanya dilakukan satu kali selama penelitian.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Ruang Poli Jantung RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah. Peneliti mengambil rumah sakit tersebut
sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan bahwa :
3.2.1.1 RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu
rumah sakit rujukan jantung dan bedah jantung serta rumah sakit
pendidikan. Commented [WU10]: Apakah benar RSUD Undata merupakan
rumah sakit pendidikan?
3.2.1.2 Mudah dijangkau oleh peneliti.
3.2.1.3 Jumlah responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dapat
terpenuhi.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2018.

26
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek


atau objek yang memiliki karakter dan kualitas tertentu yang ditetapkan
oleh seorang peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik sebuah
kesimpulan (Riduwan 2013). Dalam penelitian ini,yang menjadi obyek Commented [WU11]: Tidak boleh menggunakan kata dalam di
awal kalimat
atau populasi adalah seluruh pasien PJK yang menjalani pengobatan di
Poli Jantung RSUD Undata Palu yang tercatat setiap bulannya sebanyak
46 orang.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi. Sampel ditetapkan berdasarkan rumus Slovin:
N
𝑛=
1 + 𝑛(𝑑)²

46
n=
1+46(0,1)²

46
n=
1.46

n = 31,50= 32

Jadi, jumlah pasien PJK yang diperlukan dalam penelitian ini berjumlah
32 orang.
Keterangan : n = Sampel yang dibutuhkan
N = Jumlah populasi 46
d = Derajat kepercayaan yang digunakan (10%)
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non random
sampling yaitu, cara pengambilan sampel yang tidak semua anggota
populasi diberi kesempatan untuk dipilih menjadi sampel. Dengan Commented [WU12]: Tidak boleh menggunakan kata dengan
di awal kalimat
teknik consecutive sampling yaitu, semua subjek yang datanya secara
berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukan ke dalam
penelitian sampai jumlah subjek terpenuhi (Riduwan 2013).

27
3.3.2.1 Kriteria inklusi sampel adalah :
a. Pasien PJK yang menjalani perawatan di ruang perawatan jantung Commented [WU13]: Ruang perawatan inap ayau jalan?
diperjelas
RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.
b. Usia pasien > 30 tahun.
c. Kesadaran compos mentis, tidak sesak dan tidak nyeri dada.
d. Dapat membaca dan menulis.
e. Bersedia menjadi responden
3.3.2.2 Kriteria eksklusi yang menyebabkan subjek yang memenuhi kriteria
inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian ini antara lain :
a. Pasien PJK yang dirawat di ruang perawatan jantung dengan
komplikasi seperti gagal jantung, aritmia dan gagal ginjal.
b. Terjadi penurunan status kesehatan secara drastis.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemuadia ditarik kesimpulannya (Sugiyono
2012).
3.4.1 Variabel Independen (Variabel bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau
nilainya menentukan variabel lain. Dalam penelitian ini, variabel Commented [WU14]: Tidak boleh menggunakan kata dalam di
awal kalimat
independen adalah pengetahuan pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK)
di RSUD Undata.
3.4.2 Variabel Dependen (Variabel terikat)
Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi serta
ditentukan oleh variabel lain. Dalam penelitian ini, yaitu persepsi
Pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) di RSUD Undata.

28
3. 5 Definisi Operasional

3.5.1 Variabel Independen


Pengetahuan
Definisi : Pengetahuan individu mengenai pengertian,
penyebab, tanda dan gejala, cara pengobatan, pola
kehidupan sehari-hari dan pencegahan penyakit
jantung koroner (PJK).
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Kuesioner pengetahuan Commented [WU15]: Kuesioner bukan cara ukur tetapi alat
ukur. Cara ukur dapat berupa wawancara atau pengisian kuesioner?
Hasil ukur : Baik jika nilainya ≥ 76-100 %
Cukup jika nilainya 60 – 75 %
Kurang jika nilainya ≤ 60 % Commented [WU16]: Tambahkan referensi

Skala ukur : Ordinal


3.5.2 Variabel Dependen
Persepsi
Definisi : Tindakan perilaku individu, mengenali, dan
menafsirkan informasi guna memberikan gambaran
dan pemahaman tentang penyait jantung koroner
(PJK).
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Kuesioner persepsi
Hasil ukur : 1 = Positif (jika score ≥ 80)
0 = Negatif (jika score < 80)
Skala ukur : Ordinal

29
3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian


ini adalah kuesioner. Kuesioner berupa daftar pertanyaan yang tersusun
dengan baik, sehingga responden tinggal memberi tanda silang atau check
list pada pilihan jawaban yang tersedia. Bentuk pertanyaan dalam kuesioner
ini adalah pertanyaan tertutup yang harus dijawab responden dengan
memilih jawaban yang telah disediakan.
Kuesioner terdiri atas 3 (tiga) bagian yaitu : Commented [WU17]: Tetapi penjabarannya hanya 2 poin

1. Demografi pasien
Pada bagian ini pertanyaan yang meliputi usia, pendidikan, jenis kelamin,
pekerjaan, riwayat penyakit (hipertensi, DM), riwayat merokok.
2. Kuesioner penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan
responden tentang PJK. Cara pengukuran dilakukan dengan cara angket
kuesioner versi modifikasi HDFQ (Dalusung 2014), dengan cara skala Commented [WU18]: Apakah HDFQ merupakan instrument
baku untuk mengukur pengetahuan pasien pjk
Guttman yaitu skala yang menginginkan tipe jawaban tegas. Dengan
membagikan kuesioner yang berisi 20 pernyataan dengan pilihan
jawaban ya dan tidak. Untuk variabel independen (pengetahuan pasien
PJK) pernyataan nomor 1-10, bila dijawab ya diberi score 1, bila dijawab
tidak diberi score 0 dan pernyataan nomor 11-20 bila dijawab ya diberi
score 0, bila dijawab tidak diberi score 1. Sedangkan variabel dependen
(persepsi pasien PJK) Menggunakan kuesioner yang terdiri dari 20
pernyataan Kuesioner ini menggunakan skala likert yaitu adalah skala
yang digunakan untuk mengukur persepsi seseorang dengan bentuk
pernyataan 10 positif dan 10 bentuk pertanyaan negatif, dimana terdiri
atas Sangat Setuju (SS) nilai 4, Setuju (S) nilai 3, Tidak Setuju (TS) nilai
2, Sangat Tidak setuju (STS) nilai 1 untuk pernyataan positif dan Sangat
setuju (SS) nilai 1 Setuju (S) nilai 2, Tidak Setuju (TS) nilai 3, Sangat
Tidak setuju (STS) nilai 4 untuk pernyataan negatif.

30
3.7 Teknik Pengumpulan Data

3.7.1 Jenis Data yang Dikumpulkan


3.7.1.1 Data primer
Data primer dari data penelitian ini ialah data yang
diperoleh/dikumpulkan oleh peneliti sendiri secara
langsung melalui angket yang diberikan pada responden Commented [WU19]: Data primernya apa sj dlm penelitian yg
akan dilakukan
yaitu pasien PJK di RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah.
3.7.1.2 Data Sekunder
Data skunder dari data penelitian ini ialah data yang Commented [WU20]: Tuliskan pengettian data sekunder

diperoleh dari world health organizaton, RISKESDAS dan


pihak pengurus RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah
khususnya bagian rekam medik tentang jumlah pasien yang
menderita PJK.
3.7.2 Prosedur Pengumpulan Data Penelitian
3.7.2.1 Peneliti mengajukan izin penelitian kepada RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah.
3.7.2.2 Peneliti melakukan sosialisasi rencana penelitian kepada
bagian Penelitian dan Pengembangan RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah atau pihak yang terkait.
3.7.2.3 Setelah mendapatkan izin penelitian, peneliti melakukan
identifikasi pasien PJK yang akan dijadikan responden di
ruang Poli Jantung RSUD Undata Provinsi Sulawesi
Tengah berdasarkan catatan medik pasien.
3.7.2.4 Peneliti melakukan pengumpulan data menggunakan
kuesioner yang sudah disusun dengan memberikan
kuesioner. Kuesioner demografi dan sumber informasi Commented [WU21]: Ke siapa diberikan informasi

ditanyakan langsung oleh peneliti


3.7.2.5 Setelah data terkumpul dilakukan analisis data.

31
3.7.3 Pengelolaan Data
Dalam penelitian ini penulis mengggunakan pengelolaan dengan cara
(Hidayat 2011) :
1. Editing : adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan
2. Coding : merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka)
terhadap data yang terdri atas beberapa kategori
3. Entry Data : adalah proses memasukan data kedalam program
computer untuk selanjutnya dianalisa
4. Cleaning Data :merupakan kegiatan mengecek kembali data yang
sudah di Entry apakah ada kesalah atau tidak Commented [WU22]: TidaK ada bagian pengolahan data di
panduan
3.8 Analisis Data
Analisis data adalah data yang telah diolah akan dianalisis dengan
software statistik (Hidayat 2011). Adapun analisis data yang dilakukan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.8.1 Analisis Univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proposi
masing-masing variabel independen (bebas) dan variabel dependen
(terikat) (Notoatmodjo 2010).
3.8.2 Analisa Bivariat
Dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen menggunakan “Chi-Square” dengan
CI=95% (Notoatmodjo 2013). Rumus Chi-Square :
Commented [WU23]: Dituslkam kembalu

Keterangan: χ2: Nilai chi-kuadrat


fe: Frekuensi yang diharapkan
fo: Frekuensi yang diperoleh/diamati
Kriteria penerimaan hipotesis :
Bila nilai P < 0,05 berarti HO ditolak (ada hubungan)
Commented [WU24]: Tambahkan syarat uji chi-square dan
Bila nilai P > 0,05 berarti HO gagal ditolak (tidak ada hubungan) alternatif ujinya

32
3.9 Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan izin di
RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendapat persetujuan,
kemudian kuisioner dijalankan kesubyek yang diteliti dengan menekankan
kepada masalah etika yang meliputi (Hidayat 2011) :
1. Informend Concent (Lembar Persetujuan)
Informend concent merupakan bentuk persejutuan antara peneliti
dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.
Informend Concent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi
responden.Tujuan Informend Concent adalah agar subyek bersedia,
maka harus menandatangani lembar persetujuan.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat
ukur dan hanya menuliskan kode lembar pengumpulan data atau hasil
penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah
lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaannya oleh penliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset. Commented [WU25]: Etika penelitian tdk ada dalam susunan
proposal penelitian sesuai panduan

33
DAFTAR PUSTAKA

[AHA] American Heart Association. 2013 ACCF/AHA guideline for the


management of heart failure: A report of the American College of
Cardiology Foundation/American Heart Association task force on
practice guidelines. J Am Coll Cardio, 62(16), e240-e327.

Alimul, Aziz Hidayat. 2011. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta (ID) : Salemba Medika

Ariesti, A., 2011. Asuhan Keperawatan Gagal Jantung (Heart Failure)


http://learntogether-aries./2011/09/askep-gagal-jantung-
heartfailure.html. Diakses pada tanggal 10 Januari 2014.

Dalusung-Angosta, A. 2014. Coronary Heart Disease Knowledge and Risk


Factors among Filipino-Americans connected to Primary Care
Services. University of Hawai at Manoa). ProQuest Dissertations and
Theses, Retrieved from
http://search.proquest.com/docview/860743994?accountid=17242
http://search.proquest.com/docview/228176006/fulltextPDF/13505E0
21 D601FE1A6/13?accountid=17242. Diakses pada tanggal 10
Februari 2016.

[DEPKES RI] Depatemen Kesehatan Republik Indonesia.2013. Profil Kesehatan


Indonesia. Jakarta. DEPKES RI

Dirjen PP&PL. 2014. Pedoman Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Jantung


dan Pembuluh Darah berbasis Masyarakat (Edisi I). Jakarta (ID) :
EGC

Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung (ID) :


Rosdakarya

Huda Nurarif, Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Jakarta (ID) : MediAction
Publishing.

Judith.M,Wilkison dan Nancy.R. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed 9.


Jakarta (ID) : EGC

Juli, J. 2012. Faktor – faktor yang menyebabkan Penyakit jantung koroner di RS


jantung dan pembuluh darah harapan kita Jakarta.
http://eprints.undip.ac.id. Di akses pada tangal 29 Januari 2015.

34
[KEMENKES] Kementrian Kesehatan RI. 2013. Profil Kesehatan Indonesia
tahun 2013. Jakarta : KEMENKES RI.

Lina Indrawati, 2012, Jurnal Penelitian Analisis Faktor Yang Berhubungan


Dengan Kemampuan Pasien PJK Melakukan Pencegahan Sekunder
Faktor Risiko Di Rspad Gatot Soebroto Jakarta,
http://http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20313795-T%2031743-
Analisis%20faktor-full%20text.pd. Diakses pada tanggal 25 Januari
2013.

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta (ID) : PT. Rineka


Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi kesehatan dan Perilaku Kesehatan.


Jakarta (ID) : PT. Rineka cipta

Riduwan. 2013.Skala Pengukuran Vaiabel-variabel Penelitian.Bandung (ID) :


Alfabeta

Risa Hermawati, Haris Candra Dewi.2014. Penyakit Jantung Koroner. Jakarta:


Kandas media (Imprint agromedia pustaka).

[RISKESDAS] Riset Kesehatan Dasar. 2013. Pedoman Pewawancara Petugas


Pengumpul Data. Jakarta : Badan Litbangkes. DEPKES RI

Rochmayanti, 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien


dengan penyakit jantun koroner. Jakarta (ID) : Gramedia

Putra S, Panda L, Rotty. 2013. Profil Penyakit Jantung Koroner. Jakarta (ID) :
EGC

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung (ID) : ALFABETA

[WHO] World Health Organization. 2013. About Cardiovascular diseases. World


Health Organization. Geneva.Available from URL :
http://www.who.int/cardiovascular_diseases/about_cvd/en/ accessed on.
Di akses pada tanggal 15 Juli 2014 Commented [WU26]: Dicek penulisannya sesuai panduan

35