Anda di halaman 1dari 21

BAHAN AJAR

BUILDING LEARNING COMMITMENT

OLEH
MUHAMMAD TONTOWI

BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEAGAMAAN


PALEMBANG
2017 - 1439

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pekerja pada instansi pemerintah yang
terdiri dari berbagai unsur dan jenis sesuai dengan tugas dan fungsinya di dalam
bekerja akan membutuhkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, atau mereka
butuh jaringan/jejaring kerja, yang pada umumnya disebut tim kerja. Mereka
butuh bekerja dengan nyaman, butuh informasi, kerjasama, pelanggan, prestasi,
penghasilan, pengakuan, alat, tempat, dan sebagainya. Sebagian cara untuk
mencapai hal-hal tersebut adalah dengan membangun kerjasama tim, sebab
dengan melakukan kerjasama akan dapat memberikan berbagai kemudahan dalam
bekerja.
Dalam dunia kediklatan, peserta diklat pasti membutuhkan bantuan,
informasi, pelanggan, kerjasama, pesanan, dan sebagainya dalam rangka
mendukung pencapaian tujuan. Proses untuk mendapatkan semua itu hanya kan
dapat dilakukan dengan berinteraksi dengan orang lain. Salah satu bentuk
interaksi tersebut adalah dengan melakukan kerjasama. Kerjasama tersebut tidak
akan berjalan dengan baik jika tidak dirintis melalui niat yang kuat dan proses
yang benar. Peserta diklat agar bekerja efektif membutuhkan lingkungan yang
nyaman, menggunakan alat (teknologi) yang memadai dengan berbagai metode
yang tepat. Lingkungan yang nyaman dapat terwujud jika komitmen kerjasama
menjadi modal dasar pribadi anggotanya, dan merupakan hal selalu diingat.
Membangun komitmen kerjasama dalam hal ini, merupakan suatu pekerjaan yang
tidak boleh ditinggalkan, karena apabila terjadi pergeseran komitmen kerjasama
akan berakibat yang sangat merugikan.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah unsur aparatur negara dan abdi
masyarakat yang berperan melayani masyarakat. Dalam rangka
mengembanperannya tersebut PNS perlu memiliki kompetensi yang sesuai
dengan persyaratan yang ditentukan.

B. Tujuan
1. Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu
menjelaskan konsep Membangun Komitmen Belajar (Building Learning
Commitmen / BLC) dan mengaplikasikannya dalam membangun komitmen
belajar secara efektif dan efisien

2. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mempelajari mata diklat ini peserta diharapkan dapat :
1. Menjelaskan pengertian dan proses Membangun Komitmen Belajar (Building
Learning Commitmen / BLC).
2. Mengenal diri sendiri dan orang lain serta membangun kerjasama dalam
kelompok.
2
3. Mengidentifikasi gaya belajar dan ketidakmampuan belajar.
4. Membangun Tim Belajar dan Mengatasi Konflik
5. Menyusun nilai-nilai, norma dan komitmen belajar.

3
BAB II
BUILDING LEARNING COMMITMENT

A.Pengertian Membangun Komitmen Belajar (Building Learning


Commitment)

Membangun Komitmen Belajar (Building Learning Commitment / BLC)


dalam program diklat merupakan suatu proses membangun komitmen peserta
diklat untuk mengikuti proses belajar secara individual, kelompok maupun
bersama secara menyeluruh dalam upaya mengembangkan wawasan, intelektual
maupun emosional.
Dalam upaya pengembangan diri, diperlukan komitmen untuk terus menerus
belajar dalam kondisi apapun, mengingat proses belajar tidak mengenal batas
waktu (Lifelong learning). Prahalad menyatakan “If you don’t learn, you don’t
change, you will die”. Komitmen mengembangkan kualitas diri dengan komitmen
belajar dapat dilakukan melalui :
1. Mengalami langsung (direct experience), artinya pembelajaran tidak harus
dialami dalam secara nyata, namun dapat dilakukan melalui simulasi yang
serupa dengan realita, sehingga simulasi itu dapat diterapkan pada permanen
sistem;
2. Melakukan Observasi (eflective observation), artinya pembelajaran dapat
dilakukan dengan cara melakukan perbandingan belajar observasi yang serupa,
sehingga dapat merefleksikan, memproyeksikan hasil studi perbandingan
dengan organisasi permanen.
3. Melakukan Konseptualisasi Abstrak (abstract conceptualization), artinya
pembelajaran dilakukan denan cara melakukan internalisasi, konseptualisasi,
pemenuhan, pemaknaan dan abstaksi pribadi terhadap pengalaman belajar yang
pernah dilalui.
4. Melakukan percobaan secara aktif (active experiment), yaitu pembelajaran dilakukan
dengan cara mempraktikan sendiri secara aktif dalam rangka menemukan
makna belajar secara pribadi.

B. Proses Membangun Komitmen Belajar (Building Learning Commitment


/BLC)

Membangun Komitmen Belajar dilakukan melalui :


1. Pengenalan Sesama Peserta (Ice Breaking), yaitu dilakukan dengan cara
memperkenalkan diri masing-masing, bidang tugasnya dan pengalaman yang
pernah dimiliki, sehingga di antara mereka saling berkomunikasi dan saling
berdiskusi, sehingga bisa saling mengenal lebih dekat.
2. Pemahaman Gaya Belajar (Learning Style Assessment); yaitu berusaha
mengetahui gaya belajar diri sendiri dan juga gaya belajar orang lain, dan
memahami Pemahaman Gaya Belajar (Learning Style Assessment)
Ketidakmampuan Belajar (Learning Disabilities); yaitu bahwa dalam proses
pembelajaran terdapat masalah yang dihadapi oleh pembelajar dalam memahami
4
suatu permasalahan yaitu ketidakmampuan belajar (learning disabilities).
3. Pembentukan Nilai – Nilai dan Norma (Values and Norms) serta Komitmen
Belajar (Learning Commitment):

C. Proses Pengenalan Dan Membangun Kerjasama


I. Simulasi dan Latihan Pencairan Kelas
1. Judul : “Peleburan Diri”
a. Tujuan : Mendorong terjadinya interaksi yang intensif, membuat peserta merasa
rileks dan tidak kaku.
b. Waktu : 15 – 20 menit
c. Sarana/Prasarana Ruangan yang cukup luas untuk bergerak sejumlah peserta
Proses Kegiatan :
1) Mulailah kegiatan ini dengan meminta peserta untuk berdiri melingkar,
kemudian berjalanlah pelan-pelan.
2) Berpencarlah dan lihatlah ke lantai dengan penuh konsentrasi.
3) Coba bayangkan bahwa sekarang Saudara adalah orang lanjut usia (kira-kira 70
tahun). Saudara boleh memandang ke segala arah dan jika Saudara bertemu
dengan orang tua yang lain, Saudara boleh member salam dengan
menganggukkan kepala saja. Setelah beberapa lama (± 1menit) peserta diminta
berhenti dan memandang ke lantai.
4) Sekarang lambat laun kalian menjadi lebih muda, berumur 60 tahun dan lebih
segar dari yang tadi. Berkelilinglah dan bila bertemu dengan orang lain, berilah
salam dengan berjabatan tangan. Berilah waktu lebih kurang satu menit.
Kemudian berhenti dan memandang ke lantai.
5) Sekarang Saudara menjadi lebih muda lagi, kira-kira berumur 50 tahun.
Saudara bertemu dengan orang lain dan berilah salam kepada yang lain dengan
melambaikan kedua tangan. Berilah waktu lebih kurang satu menit. Kemudian
berhenti dan memandang ke lantai.
6) Sekarang Saudara menjadi lebih muda, berumur 40 tahun yang penuh semangat
dan segar bugar. Bila bertemu dengan teman-teman saudara, tepuk-tepuklah
pundaknya. Bergeraklah selama lebih kurang satu menit. Setelah itu
berhentilah dan menghadap ke lantai.
7) Sekarang Saudara menjadi lebih muda, gesit dan segar, berumur sekitar 25
tahun. Berjalanlah dengan cepat ke segala arah, sentuhlah teman Saudara
sekilas dan usahakan jangan sampai disentuh orang lain. Lakukan hal ini
sekitar satu menit. Kemudian tiba-tiba Saudara menjadi belasan tahun, sehat
dan kuat. Larilah semau kalian dengan cepat, ... cepat... dan semakin cepat.
Hindari tabrakan dengan teman lain dan usahakan pegang pundaknya tapi
kalian jangan sampai kepegang. Berilah aba-aba berhenti pada saat kecepatan
lari sampai pada puncaknya.
8) Selanjutnya proses simulasi tersebut ke arah tujuan pembelajaran.
Tanyakan bagaimana perasaan mereka sekarang, dan pada usia berapa
perasaannya paling senang.
2. Judul “Nama Panggilan”
a. Tujuan : Memecah kebekuan antara peserta dan widyaiswara dan sesame
peserta.
b. Waktu : 15 – 20 menit
c. Sarana/Prasarana : Ruangan yang cukup luas untuk membuat barisan
5
berbanjar.
d. Proses Kegiatan :
1) Bagi peserta menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 8 – 10 orang
setiap kelompok, dengan cara berhitung (sesuai jumlah kelompok yang
akan dibentuk)
2) Minta peserta berdiri sesuai urutan abjad awal nama panggilannya
(misalnya Ali, Dedi, Endang, Ratih dstnya sampai dengan Zainuddin).
3) Widyaiswara akan menyebut satu kata, misalnya bunga, binatang atau
benda-benda alam, maka orang-orang yang huruf awal nama
panggilannya ada dalam kata tersebut harus mengucapkan kata bermakna
dimulai dengan huruf awal nama panggilannya. Contoh: Kalau
Widyaiswara menyebutkan Mawar, maka orang-orang yang nama
awalnya adalah A (Anti, Anto, Ali, Abidin, Ana dstnya) harus
meneriakkan satu kata bermakna di belakang namanya, misalnya Anti-
Angka, Anto-Anak, Ali-Alasan, dan seterusnya. Begitu juga dengan M
(Mansur, Maman, Maria atau Maulana) harus meneriakkan satu kata
bermakna misalnya Mansur-Mandat, Maman-malang, Maria-mawar,
Maulana-mahkamah dan seterusnya.
4) Widyaiswara bebas menunjuk kelompok mana yang dikehendaki terlebih
dahulu untuk menyebutkan nama panggilannya. Penyebutan harus
dilakukan dengan cepat. Bila kelompok tersebut menyebut nama tidak
berurutan abjad, maka bagi kelompok yang salah mendapat tugas untuk
menghibur temannya dengan bernyanyi, berjoget atau tugas lain yang
disepakati. Begitu seterusnya sampai setiap orang mempunyai nama
panggilan tambahan.
5) Proses (refleksi) ke arah tujuan pembelajaran.
3. Judul “Lempar Bola”
a. Tujuan : Memecah kebekuan antar peserta dan antara peserta dengan
widyaiswara.
b. Waktu 15-20 menit
c. Sarana/Prasarana : Ruang yang cukup luas untuk membuat lingkaran dan
bola plastik.
d. Proses Kegiatan:
1) Buka acara dengan salam. Jelaskan pada peserta bahwa keberhasilan
diklat sangat ditentukan oleh persamaan, peran serta dan spontanitas.
Persamaan adalah arti bahwa semua orang (peserta, widyaiswara dan
panitia penyelenggara) selama diklat memiliki kedudukan yang sama.
Artinya tidak ada perbedaan status, usia, sosial, pendidikan dan latar
belakang keluarga. Sebagai konsekuensinya adalah setiap orang harus
mau memperlakukan dan diperlakukan sama sederajat. Peran serta, setiap
peserta harus mau berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Keterlibatan bukan hanya dari aspek fisik tetapi juga dari aspek pikiran
dan perasaan. Spontanitas adalah sikap dan perilaku yang menampilkan
keberadaan diri sendiri menurut apa adanya (tidak dibuat-buat), tanggap,
sigap, teliti, kritis dan terbuka (siap dan sedia memberi dan menerima
umpan balik).
2) Tanyakan pada peserta tentang kesediaannya dan adakan uji coba.
3) Ajak peserta berdiri melingkar bergandengan tangan satu sama lain.
6
Widyaiswara melempar bola ke atas dan pada waktu bola diatas peserta
mengayunkan gandengan tangannya sambil bergumam heeeem...
4) Pada waktu bola sudah ditangkap kembali oleh widyaiswara peserta
mengatakan “enak teenan”.
5) Setelah beberapa kali hal tersebut di atas dilakukan, tanyakan pada
peserta apakah mereka sudah saling mengenal? Bila sudah, cek sejauh
mana mereka mengenal temannya, misalnya tanyakan apakah mereka
sudah mengetahui tanggal lahir atau hobby salah seorang di antara
mereka. Bila belum saling mengenal, maka kegiatan selanjutnya
tawarkan pada mereka untuk saling mengenal lebih baik satu dengan
lainnya. Untuk itu, silahkan memilih salah satu instrumen atau simulasi
perkenalan.
6) Akhirnya tanyakan perasaan mereka setelah melakukan kegiatan simulasi
tadi.
II. Simulasi dan Latihan Pengenalan Diri
1. Judul “Menggambar Wajah”
a. Tujuan : Mengenal diri dengan lebih baik
b. Waktu : 25 – 30 menit
c. Sarana/Prasarana : Kertas ukuran folio/kuarto sejumlah peserta.
d. Proses Kegiatan :
1) Bagikan kepada peserta selembar kertas (ukuran kuarto/folio). Lipat
menjadi 2 (dua) bagian berdasarkan panjangnya.
2) Pada salah satu bagian (atas) kertas diminta peserta menggambar
wajahnya masing-masing. Pada lipatan bagian bawah buat garis tengah
memanjang ke bawah. Pada masing-masing bagian tulislah perilaku-
perilaku positif dan negatif dari diri Saudara.
3) Setelah itu proses ke arah tujuan pembelajaran. Kaitkan juga dengan
manfaat mengenal diri, mengenal kelebihan-kelebihan diri agar dapat
dioptimalkan dan mengenal kelemahan-kelemahan diri agar dapat
diminimalisir.
Perilaku Positif (+) Perilaku Negatif (-)
(1) Bertanggung jawab
(2) Suka menunda nunda kerja
(3) Pandai
(4) Keras kepala
(5) Terbuka
(6) Cerewet
(7) Mudah bergaul
(8) Boros
(9) Pekerja keras
(10) Malas Olahraga
2. Judul “Bintang”
a. Tujuan : Mengenal diri secara lebih baik.
b. Waktu : 30-45 menit
c. Sarana/Prasarana : Lembar kerja-1 (bintang) sebanyak peserta dan krayon
d. Proses Kegiatan :
1) Bagikan masing-masing peserta lembar kerja-1 (bintang). Tulislah nama
panggilan saudara pada kotak yang ada di tengah-tengah bintang.
7
2) Berikutnya pada masing-masing sudut bintang tersebut, tulislah secara
berturut mulai sudut pertama sampai dengan sudut ke lima: 2 tokoh idola
saya (boleh tokoh nasional, internasional atau keluarga terdekat kita
seperti ayah atau ibu), dua keberhasilan saya belum lama ini, dua
kegagalan saya belum lama ini, tiga kata yang menggambarkan diri saya
dan dua cita-cita saya.
3) Setelah selesai, beri kesempatan peserta memberi warna pada bintang
mereka masing-masing (gunakan crayon).
4) Proses ke arah tujuan pembelajaran. Tanyakan apakah mudah bagi
mereka untuk mengisi lembar kerja-1 tersebut. Kalau sulit itu merupakan
indikator bahwa mereka belum mengenal diri mereka secara lebih baik.
5) Peserta dikelompokkan 3 s.d 4 kelompok dengan anggota maksimal 10
orang (mempertimbangkan waktu yang tersedia).
6) Selanjutnya gambar tersebut ditempelkan dan diungkapkan maknanya
pada peserta lain. Peserta lain menyimak dan tidak boleh membantah,
hanya boleh minta klarifikasi.
III. Simulasi dan Latihan Pengenalan Orang Lain
1. Judul “Menyusun Peribahasa/Couplet”
a. Tujuan : Peserta saling mengenal dengan lebih baik, sehingga terjadi
interaksi yang intensif, komunikasi dan kerjasama yang efektif.
b. Waktu 45-60 menit
c. Sarana Kartu-kartu berisi potongan peribahasa. Ukuran kartu 5x6 cm dari
kertas manila.
d. Proses Kegiatan :
1) Mulailah kegiatan ini dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan peserta.
Peserta dibagikan masing-masing selembar kartu yang berisi sepotong
peribahasa (bisa peribahasa dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris).
2) Peserta diminta mencari potongan lain dari peribahasa tersebut sehingga
membentuk satu peribahasa yang lengkap dan bermakna.
3) Selanjutnya masing-masing pasangan saling berkenalan. Setelah pasangan
tersebut berkenalan secara lebih intensif, pasangan tersebut diminta
melanjutkan perkenalan secara berkelompok dengan pasangan-pasangan
lain yang terdiri dari 3 atau 4 pasangan. Dalam perkenalan tersebut dapat
dikemukakan mengenai nama, latar belakang pendidikan, status, hobby dan
lain-lain yang dianggap perlu. Dari perkenalan dalam kelompok tersebut,
mereka diminta untuk menunjuk salah seorang perwakilan yang akan
memperkenalkan mereka dikelompok besar (pleno). Kalau pesertanya tidak
terlalu banyak, masing-masing pasangan langsung saja memperkenalkan
pasangannya di kelas besar (pleno).
4) Setelah kegiatan tersebut selesai dapat dilanjutkan dengan simulasi “Zip-
Zap”
Agar lebih mengingat nama-nama orang yang telah memperkenalkan diri
atau dapat saja setiap peserta diminta menyebut 3 atau 4 orang nama teman
disebelah kiri atau sebelah kanannya.
5) Proses atau refleksi kegiatan tersebut dengan menggunakan ELC.
2. Judul “Bulan Kelahiran”
a. Tujuan : Mendorong terjadinya interaksi yang intensif, membuat peserta
rileks.
8
b. Waktu 45-60 menit
c. Sarana Ruangan yang cukup lebar untuk dapat berpindah atau bergerak.
d. Proses Kegiatan :
1) Minta kepada peserta untuk berkeliling menemukan orang yang bulan
kelahirannya sama. Setelah itu buatlah kelompok bulan Januari, Pebruari
s/d bulan Desember.
2) Dalam kelompok minta peserta untuk saling mengenal nama, latar
belakang pendidikan, hobby, kelebihan dan kekurangan masing-masing.
3) Setelah kegiatan tersebut selesai, salah seorang anggota mewakili
kelompok menyampaikan hasilnya pada kelompok besar (pleno).
4) Untuk lebih mengingat nama-nama peserta yang lain, boleh dilanjutkan
dengan melakukan simulasi “Zip-Zap” atau menyebut nama 3-4 orang
teman di sebelahnya.
5) Proses atau refleksi kegiatan ini ke arah tujuan pembelajaran.
3. Judul Siapa Dia
a. Tujuan : mendorong terjadinya interaksi yang intensif, membuat peserta
rileks, terbuka dalam berkomunikasi.
b. Waktu 45-60 menit
c. Sarana/Prasarana Ruang kelas yang cukup besar
d. Proses Kegiatan :
1) Mulailah kegiatan ini dengan meminta peserta untuk berdiri dan mencari
peserta lain untuk diajak ngobrol. Berusahalah mendapatkan informasi
tentang orang yang diajak ngobrol tersebut dan juga membuka diri
tentang siapa dirinya sebenarnya terhadap peserta lain yang menanyakah
hal tersebut. Setiap peserta diberi waktu 5 menit untuk menyampaikan
atau menanyakan mengenai peserta lain.
2) Setelah 5 menit berlalu, widyaiswara memberi aba-aba tanda waktu
ngobrol dengan orang tersebut habis dan segera cari orang lain. Setelah
30 menit berlalu, Widyaiswara meminta masing-masing orang
menyebutkan secara sekilas nama teman yang berhasil dikenalnya dan
sampaikan kepada pleno. Kalau dapat diungkapkan juga mengenai hal-
hal menonjol (kelebihan atau kekurangan) yang dimiliki orang
bersangkutan.
3) Akhiri sesi ini dengan merefleksi ke arah tujuan pembelajaran.
4) Variasi : Pada saat peserta mencari peserta lain, bisa menggunakan
potongan gambar hewan atau tanaman. (potongan sesuai dengan jumlah
peserta yang ditemukan oleh setiap peserta.

D. Gaya Belajar Dan Ketidakmampuan Belajar


I. Gaya Belajar
Memahami Gaya Belajar (Learning Style Assessment), yaitu berusaha
mengetahui gaya belajar diri sendiri dan juga gaya belajar orang lain. Gaya belajar
seseorang mempengaruhi efektivitas belajar bersama. Para ahli di bidang
pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar sebagai cara
untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang mudah dan menyenangkan.
Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi. Situasi dan
kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar Anda. Jika
Anda mengenali gaya belajar Anda, maka Anda dapat mengelola pada kondisi
9
apa, dimana, kapan dan bagaimana Anda dapat memaksimalkan belajar Anda.
Apa gaya belajar itu? Gaya belajar adalah (www.ut.ac.id/strategi-bjj/gaya1.htm)
cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan
dan memproses informasi tersebut. Gaya belajar setiap orang dipengaruhi oleh
faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan (hasil belajar). Jadi ada hal-
hal tertentu yang tidak dapat diubah dalam diri seseorang bahkan dengan latihan
sekalipun. Tetapi ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan disesuaikan dengan
lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah. Mengenali gaya belajar
sendiri, belum tentu membuat Anda menjadi lebih pandai. Tapi dengan mengenali
gaya belajar, Anda akan dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif. Anda
tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal, sehingga
hasil belajar Anda dapat optimal.
Kemampuan seseorang untuk memahami suatu materi yang sedang dipelajarinya
dapat dipengaruhi oleh hubungannya dengan orang lain. Alasan kebutuhan belajar
berkelompok ini bisa bermacam-macam, seperti:
1. Agar termotivasi untuk belajar, karena kelompok yang kuat biasanya akan
saling memotivasi untuk belajar;
2. Lebih mudah memahami suatu informasi/pengetahuan, karena anggota dalam
kelompok saling mengisi dalam belajar;
3. Adanya mata diklat tertentu yang menuntut belajar dalam kelompok sebagian-
bagian dari kegiatan atau tugas belajar.
Jika Anda tidak suka belajar dalam kelompok, Anda mungkin dapat
memilih belajar sendiri. Di samping itu, ada yang memiliki kecenderungan untuk
belajar dengan bimbingan dari orang yang dianggap lebih tahu, seperti
widyaiswara, instruktur, guru, dosen, tutor, atau bahkan alumni. Coba kenali
kebutuhan sosialisasi Anda. Kemandirian Anda ditentukan oleh kemampuan Anda
mengenali kebutuhan sosialisasi Anda. Baik belajar sendiri, dengan bantuan tutor
maupun belajar berkelompok; Anda tetap mandiri jika Anda dapat memutuskan
kebutuhan sosialisasi ini. Ini berarti Anda mengenali kebutuhan sosialisasi Anda.
Ada empat macam metode belajar :
1. Concrete Experience (CE)
Metode ini menggambarkan seseorang cepat mengerti didasarkan karena
pengalaman yang dimiliki dan apa yang diyakininya.
2. Reflective Observation (RO)
Menggambarkan pendekatan pembelajaran yang bersifat tentatif, adil, dan
reflektif. Seseorang yang menggunakan metode ini cenderung menjadi
pengamat yang obyektif.
3. Abstract Concentualization (AC)
Pembelajaran dengan mendasarkan pada analisis konseptual. Seseoang yang
termasuk menggunakan metode ini cenderung memilih situasi belajar yang
impersonal yang menekankan pada teori dan analisis yang sistematis.
4. Active Experience (AE)
Pembelajaran dengan berorientasi pada pelaksanaan yang aktif, meyakini hasil
eksperimen.
Gabungan metode belajar tersebut di atas menghasilkan Gaya Belajar (Learning
Style) yaitu :
1. Accomodator Style :
Gaya belajar ini merupakan gabungan dari CE dan AE. Seseorang dengan gaya
10
ini lebih menyukai pelaksanaan suatu rencana dan melibatkan diri dan
bertindak lebih berdasarkan perasaan daripada hasil analisis logika. Dalam
memecahkan masalah mengandalkan informasi dari orang lain dari pada
analisis teknis dari dirinya sendiri. Gaya belajar ini penting untuk efektivitas
seseorang sebagai tenaga marketing / sales.
2. Converger Style :
Gaya belajar ini merupakan gabungan cara belajar AC dan AE. Gaya belajar
ini baik sekali dalam menemukan cara-cara praktis untuk menggunakan ide-ide
dan teori. Gaya ini menunjukkan kemampuan memecahkan masalah dan
membuat keputusan berdasarkan temuan/jawaban atas pertanyaan atau
masalah. Gaya ini lebih suka berhadapan dengan tugas-tugas teknis daripada
berhadapan dengan isu-isu sosial dan interpersonal. Gaya ini baik untuk
efektivitas dalam karier seorang tenlog atau spesialis.
3. Diverger Style :
Gaya ini merupakan gabungan metode belajar CE dan RO. Orang dengan gaya
ini baik dalam melihat situasi konkret dari berbagai sudut pandang.
Pendekatannya terhadap situasi adalah lebih untuk mengamati daripada untuk
ikut bertindak. Seseorang dengan gaya ini cenderung menyukai situasi yang
membutuhkan tumbuhnya berbagai ide, seperti dalam curah pendapat. Ada
ketertarikan pada budaya dan suka mengumpukan informasi. Kemampuan
imaginasi dan sensitivitas terhadap perasaan ini dibutuhkan untuk efektivitas
dalam karier seni, hiburan dan jasa pelayanan.
4. Assimilator Style :
Gaya belajar ini merupakan gabungan metode belajar AC dan RO. Seseorang
dengan gaya ini sangat baik dan dapat memahami sejumlah besar informasi
dan mengartikannya ke dalam bentuk yang sangat dan logis. Gaya ini
cenderung lebih tertarik pada konsep dan ide-ide abstrak. Biasanya seseorang
dengan gaya ini berpendapat bahwa teori lebih penting, mempunyai kekuatan
logik. Gaya ini cocok dalam karier scientist.
II. Memahami Ketidakmampuan Belajar (Learning Disabilities) :
Dalam proses pembelajaran terdapat masalah yang dihadapi oleh pembelajar
dalam memahami suatu permasalahan, yaitu gangguan belajar atau
ketidakmampuan belajar (learning disabilities). Ketidakmampuan belajar adalah
ketidakmampuan untuk menerima, menyimpan dan menggunakan secara luas
kemampuan ataupun informasi khusus, yang terjadi akibat kurangnya pemusatan
perhatian, memori atau pemikiran dan hal ini mempengaruhi prestasi akademik.
(http://developmentbehaviourclinic.wordpress.com/gangguan-belajar).
Terdapat berbagai jenis ketidakmampuan belajar dan masing-masing tidak
memiliki penyebab yang pasti. Tetapi dasar dari semua jenis ketidakmampuan
belajar ini diyakini merupakan suatu kelainan pada fungsi otak.
Ketidakmampuan belajar lima kali lebih sering ditemukan pada pembelajar
pria. Seorang pembelajar yang mengalami ketidakmampuan belajar seringkali
mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan penglihatan dan gerakannya serta
menunjukkan kecanggungan ketika melaksanakan kegiatan fisik, seperti
memotong, mewarnai, mengancingkan baju, mengikat tali sepatu dan berlari.
Pembelajar juga mungkin mengalami masalah dengan persepsi penglihatan
atau pengolahan fonologis (misalnya dalam mengenali bagian-bagian atau pola
dan membedakan berbagai jenis suara) atau masalah dengan ingatan, percakapan,
11
pemikiran serta pendengaran.
Gejala lainnya adalah pemusatan perhatian yang pendek dan perhatiannya
mudah terganggu, percakapannya terputus serta ingatannya pendek. Pembelajar
juga mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengendalikan
dorongan serta memiliki masalah dalam kedisiplinan artinya gangguan belajar
secara sosial dan emosional. Mereka mungkin menunjukkan sikap hiperaktif,
menarik diri, pemalu atau agresif. Kadang-kadang pembelajar mengalami
kesulitan dalam mengekspresikan perasaan mereka, menenangkan diri, dan
membaca isyarat-isyarat non verbal yang dapat menyebabkan kesulitan di dalam
kelas dan dengan rekan-rekan mereka.
Ada tujuh macam ketidakmampuan belajar :
1. Hanya mengenal peran dan posisi masing-masing (I’m my position);
2. Musuh (penyebab masalah) ada di luar sana (the enemy is out there);
3. Ilusi mengambil tanggungjawab (the illusion of taking charge);
4. Terpaku pada peristiwa-peristiwa (the fixation on events);
5. Perumpamaan Kodok Rebus (the parable of boiled frog);
6. Kesalahpahaman dalam mengambil pelajaran dari pengalaman (the delusion of
learning from experience);
7. Mitos Tim Manajemen (the myth of the management team).
Hal-hal ini dapat diatasi dengan menciptakan sistem dukungan yang kuat bagi
pembelajar dan membantu mereka belajar untuk mengekspresikan diri,
menghadapi frustrasi dan bekerja melalui tantangan. Fokus pada pertumbuhan
mereka sebagai pribadi, dan bukan hanya pada prestasi akademis akan membantu
mereka mempelajari kebiasaan emosional yang baik dan alat yang tepat untuk
kesuksesan seumur hidup.

E. Membangun Tim Belajar Dan Mengatasi Konflik


I. Pengertian dan Manfaat Tim
Kata “Tim” berasal dari bahasa Inggris : team : regu / sekelompok orang
yang melakukan kegiatan (Kamus Inggris Indonesia Peter Salim). Sebenarnya
pengertian tim hampir sama dengan pengertian kelompok, hanya saja pengertian
tim mengarah kepada kebutuhan tertentu. Tim adalah suatu kelompok yang
berinteraksi secara positif dengan hubungan secara timbal balik sesuai fungsi dan
tugas masing-masing individu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi
dapat diartikan bahwa kelompok belum tentu tim sedang tim pasti merupakan
suatu kelompok. (Pranoto, 2003: 8).
Tim pada dasarnya dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran yang meliputi:
1. Tim Pemecah masalah, yakni tim pada suatu departemen yang bertemu secara
teratur untuk membahas cara-cara memperbaiki kualitas, efisiensi, dan
lingkungan kerja.
2. Tim pengelola diri, adalah tim yang bertanggung jawab dari mantan penyelia
mereka.
3. Tim fungsional-silang, adalah tim dari tingkat herarkis dengan bidang kerja
yang berlainan yang bertugas menyelesaikan suatu tugas, atau tugas serupa
dengan komite.
Manfaat membangun tim yang efektif adalah sebagai berikut (Maddux, 2001 : 10)
:
1. Dengan adanya tim, maka sasaran yang realistis ditentukan, dan dapat dicapai
12
secara optimal;
2. Anggota tim dan Pemimpin Tim memiliki komitmen untuk saling mendukung
satu sama lain agar tim berhasil;
3. Anggota tim memahami prioritas anggota lainnya, dan dapat saling membantu
satu sama lain;
4. Komunikasi bersifat terbuka, diskusi cara kerja baru atau memperbaiki kinerja
lebih berjalan secara baik, karena anggota tim terdorong untuk lebih
memikirkan permasalahannya;
5. Pemecahan masalah lebih efektif karena kemampuan tim lebih memadai;
6. Umpan balik kinerja lebih memadai karena anggota tim mengetahui apa yang
diharapkan dan dapat membandingkan kinerja mereka terhadap sasaran tim;
7. Konflik diterima sebagai hal yang wajar, dan dianggap sebagai kesempatan
untuk menyelesaikan masalah. Melalui diskusi tersebut konflik bias
diselesaikan secara maksimal;
8. Keseimbangan tercapainya produktivitas tim dengan pemenuhan kebutuhan
pribadi;
9. Tim dihargai atas hasil yang sangat baik, dan setiap anggota dipuji atas
kontribusi pribadinya;
10. Anggota kelompok termotivasi untuk mengeluarkan ide-idenya dan
mengujinya serta menularkan dan mengembangkan potensi dirinya secara
maksimal;
11. Anggota kelompok menyadari pentingnya disiplin sebagai kebiasaan kerja dan
menyesuaikan perilakunya untuk mencapai standar kelompok;
12. Anggota kelompok lebih berprestasi dalam bekerja sama dengan tim dan tim
lainnya.
Perlu dipahami pula ciri-ciri ketidakberhasilan tim yang menurut Belbin
(1991: ) disebabkan :
1. Desain visi, misi dan strategi tidak jelas,
2. Moral atau semangat tim rendah,
3. Konflik antar personal merebak,
4. Kemampuan mental (inteligensi, kreativitas) rendah,
5. Seleksi yang kurang berhasil,
6. Kepribadian yang dominan egois,
7. Komposisi susunan tim tidak efektif,
8. Peran anggota tidak jelas,
9. Tertutup untuk evaluasi,
10. Pemberdayaan kurang efektif.
II. Unsur dan Tahapan Pembentukan Tim
Unsur-unsur tim yang dinamis menurut Richard Y Chang (1999 : 8) adalah
sebagai berikut :
1. Menyatakan secara jelas misi dan tujuan tim
2. Beroperasi secara kreatif
3. Memfokuskan pada hasil
4. Memperjelas peran dan tanggung jawab
5. Diorganisasikan dengan baik
6. Dibangun atas kekuatan individu
7. Saling mendukung kepemimpinan anggota yang lain
8. Mengembangkan iklim tim
13
9. Menyelesaikan ketidaksepakatan
10. Berkomunikasi secara terbuka
11. Membuat keputusan secara obyektif
12. Mengevaluasi efektifitasnya sendiri.
Tahapan pertumbuhan tim yang yang baik dalam suatu organisasi tidak akan
terjadi dengan sendirinya dalam waktu yang pendek, melainkan perlu upaya yang
sungguh-sungguh, kebijakan dan program yang konsisten, berkesinambungan dan
sistematis atau dapat dikatakan perlu proses dan waktu yang diusahakan dengan
sungguh-sungguh. Adapun tahapan pertumbuhan tim sebagai berikut :
1. Tingkat forming, yakni tingkat pengumpulan informasi yang dibutuhkan
sebagai penentuan dasar tim.
2. Tingkat storming, yakni tingkat keraguan atas kepercayaan terhadap tugas dan
metodologinya, sehingga pesimis dengan program yang ada.
3. Tingkat norming, yaitu tingkat di mana anggota mulai mau menerima
perbedaan-perbedaan dan mengadakan rekonsiliasi tentang hal-hal yang tidak
disetujuinya.
4. Tingkat performing, pada tingkat ini anggota mulai matang, mengerti tentang
apa yang diharapkan dirinya. Mereka mulai membicarakan gagasan-gagasan
penyempurnaan, mencari data, mendiagnosis, mengembangkan solusi dan
mencoba melakukan perubahan-perubahan.
III. Konflik dalam Tim dan Respon Terhadap Konflik
Dalam suatu tim yang berinteraksi satu sama lain dalam mencapai tujuannya
selalu mengalami perbedaan pendapat. Perbedaan Pendapat yang berlarut-larut
akan menyebabkan konflik. Anggota tim perlu memahami bahwa konflik atau
ketidaksepakatan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dan tidak memiliki
sifat baik atau buruk (konflik bersifat netral). Konflik akan menghancurkan
kemajuan tim jika dibiarkan tidak terkelola, tetapi juga dapat mengarah pada
pengambilan keputusan yang mantap jika dikelola secara efektif. Hasil dari suatu
konflik sangat tergantung pada bagaimana tim mengelolanya. Lalu apa
sebenarnya yang dimaksud dengan konflik? Isyarat apakah yang merupakan
gejala konflik dalam suatu tim? Bagaimana konflik merebak dan bagaimanakah
respon terhadap konflik? Dalam Pokok bahasan inilah akan dibahas hal tersebut.
Sebelum Saudara membaca pokok bahasan ini silahkan Saudara
merenungkan terlebih dahulu hakekat tentang konflik menurut pikiran saudara.
Apabila Saudara mendengar kata konflik apa yang terfikirkan dalam benak
Saudara dan bagaimanakah perasaan Saudara? Dari jawaban saudara tersebut
silahkan diidentifikasi mana perasaan yang cenderung positif dan mana yang
cenderung negatif. Kecenderungan dari kita adalah konflik berkonotasi negatif.
Kata konflik menimbulkan kesan tidak menyenangkan. Reaksi kita pada
umumnya adalah negatif. Pada umumnya merupakan bahaya dan menyakiti
perasaan orang lain. Kita cenderung menghubungkan konflik dengan kekerasan,
krisis, perkelahian, perang, kalah, menang, kehilangan kendali dan lain
sebagainya.
Kebanyakan dari kata-kata ini memberikan gambaran adanya kerusakan
besar, merasa disakiti, dan hubungan menjadi rusak. Haruskah demikian? Lalu
apa sebenarnya konflik tersebut? Konflik selalu melibatkan dua orang atau lebih
(perseorangan atau kelompok) yang terjadi apabila salah satu pihak merasa
(Lembaga kepentingannya dihalang-halangi atau akan dihalang-halangi
14
Administrasi Negara, 2000:23).
Selanjutnya Hanmer dan Hogan (Suprapti, 2006:32) mengatakan bahwa
yang dimaksud dengan konflik adalah segala macam bentuk pertikaian yang
terjadi dalam organisasi, baik antara individu dengan individu, individu dengan
kelompok maupun kelompok yang bersifat antagonis.
Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa (Suprapti,
2006:ibid): konflik terkait dengan persepsi pihak yang bersangkutan yang merasa
kepentingannya dihalang-halangi atau akan dihalang-halangi, terlepas dari ada
atau tidak ada halangan tersebut. Apabila konflik ini dibiarkan maka akan
menghancurkan kemajuan tim, sebaliknya juga dapat mengarah pada pengambilan
keputusan yang mantap bila dikelola dengan baik.
Hasil dari suatu konflik tergantung pada bagaimana mengelolanya. Untuk
itu perlu mengenali konflik secara dini. Isyarat adanya konflik (Chang, 1999:32)
antara lain:
1. Anggota kelompok memberikan komentar dan saran dengan penuh emosi;
2. Anggota tim menyerang gagasan orang lain sebelum gagasan tersebut
diselesaikan;
3. Anggota tim saling menuduh bahwa mereka tidak memahami masalah yang
sebenarnya,
4. Anggota Tim selalu beroperasi dan menolak untuk berkompromi dan anggota
tim saling menyerang secara langsung pada pribadinya
Menurut Bolton (Suprapti, 2006:34) sumber-sumber konflik adalah :
1. Menghalangi pencapaian sasaran perorangan;
2. Kehilangan status;
3. Kehilangan otonomi atau kekuasaan;
4. Kehilangan Sumber-sumber;
5. Merasa diperlakukan tidak adil;
6. Mengancam nilai dan norma;
7. Perbedaan persepsi dan lain sebagainya.
Sedangkan Robert B. Maddux (2001:22), penyebab konflik sebagai berikut :
1. Perbedaan kebutuhan, tujuan,dan nilai-nilai
2. Perbedaan cara pandang terhadap motif, ajaran, tindakan, dan situasi
3. Perbedaan harapan terhadap hasil suka >< tidak suka
IV. Enggan untuk bekerjasama
Adanya konflik akan berdampak terjadinya perubahan-perubahan dalam
suatu kelompok, organisasi atau tim kerja. Perubahan tersebut meliputi perubahan
di dalam kelompok itu sendiri maupun perubahan antar kelompok. Adapun
perubahan di dalam kelompok, yakni :
1. Meningkatnya kepaduan kelompok untuk menghadapi konflik eksternal dengan
mengesampingkan perbedaan individu.
2. Munculnya kepemimpinan yang otokratis, yakni dalam menghadapi kondisi
yang kurang kondusif perlu adanya pemimpin yang kuat / otokratis.
3. Munculnya perhatian atas kegiatan, toleransi membuang-buang waktu
menurun, kepuasan secara individu sementara terkesampingkan, semua
perhatian tertuju pada konflik yang dihadapi.
4. Penekanan pada kesetiaan, dalam situasi konflik; interaksi dengan anggota
diperkuat dan interaksi anggota dengan kelompok lain merupakan pelanggaran.
Sedangkan perubahan di antara kelompok antara lain sebagai berikut :
15
1. Persepsi yang terganggu, merasa dirinya/kelompoknya lebih penting dari yang
lain.
2. Stereotip negatif lebih menonjol, hal-hal negatif yang sudah terpendam dapat
timbul kembali.
3. Menurunnya komunikasi. Akibat terjadinya konflik biasanya komunikasi antar
kelompok menurun dratis atau justru malah hilang sama sekali, pengambilan
keputusan sulit dilakukan (terganggu), para pelanggan atau fihak-fihak yang
dilayani terganggu.
Konflik akan tambah merebak apabila :
1. Tindakan bermusuhan;
a. Anggota Tim memasuki permainan menang kalah;
b. Mereka lebih senang memenangkan kemenangan pribadi daripada
memecahkan masalah.
Memegang posisinya dengan kuat; Anggota tim tidak melihat
perlunya mencapai tujuan yang menguntungkan, mereka memegang
teguh posisinya, mempersempit komunikasi dan membatasi
keterlibatannya satu sama lain.
Keterlibatan emosional; Anggota tim mempertahankan posisinya
secara emosional.
Tidak setiap orang merespon konflik dengan cara yang sama, respon tersebut
(Suprapti, 2006:ibid) antara lain :
1. Konfrontasi agresif,
2. Melakukan manuver negatif,
3. Penundaan terus menerus, serta
4. Bertempur secara pasif.
Sebagian besar manusia menganggap bahwa konflik itu suatu hal yang
merugikan dan harus dihindari, tetapi sebagian yang lain menyadari bahwa dalam
berinteraksi dengan orang lain mungkin pada suatu saat akan terjadi konflik, dan
itu dianggap sebagai hal yang wajar. Faham yang terakhir ini menganggap bahwa
dengan adanya konflik justru dapat menambah wawasan dan informasi untuk
kemajuan. Oleh karenanya konflik perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik dan
sistematis artinya tim merespon dari segi positif. Apabila hal ini yang terjadi maka
pemecahan konflik mengarah ke hal yang positif. sadar untuk Respon tersebut
adalah Mengarahkan energi secara sehat dan langsung untuk memecahkan
masalah atau tidak ada reaksi secara emosional, melakukan upaya yang
menanggapinya dengan cara rasional. Respon yang tepat ini akan memperkuat tim
kerja dan melancarkan jalan untuk mengatasi konflik, Huruf Tionghoa krisis
berarti kesempatan yang mengandung resiko. Untuk itu maka perlu melihat
konflik tidak selalu mengandung resiko, tetapi juga merupakan kesempatan-
kesempatan yang bersifat petualangan, tantangan, kegembiraan dan kesempatan-
kesempatan.
Gaya tanggapan setiap anggota tim dalam menghadapi suatu konflik
menurut Robert B. Maddux (2001:57) dapat diklasifikasikan ke dalam 5 (lima)
pola seperti yang tertuang dalam Tabel Gaya Tanggapan Terhadap Konflik
berikut.

16
TABEL 1
GAYA TANGGAPAN TERHADAP KONFLIK

V. Langkah-Langkah Penyelesaian Konflik


Gejala konflik dalam tim dinamis tidak dibiarkan berlarut-larut tetapi diselesaikan
secara terbuka. Adapun beberapa langkah dalam penyelesaian konflik tersebut
secara skematis menurut Richard Y. Chang (1999:35) adalah sebagai berikut :

17
Bagan 1
Alur Penyelesaian Konflik

F. Nilai-Nilai, Norma Dan Komitmen Belajar


I. Nilai – Nilai dan Norma (Values and Norms) :
Guna menemukan nilai yang mempunyai kesesuaian dengan pribadi
seseorang (peserta diklat) dalam belajar bersama, diberikan tugas perseorangan
dan tugas kelompok yaitu :
1. Memilih sejumlah nilai pada lembar himpunan nilai yang diberikan yang sangat
terpaut dengan kesesuaian pribadi peserta dalam belajar bersama;
2. Pilihan nilai pribadi didiskusikan dalam kelompok dan selanjutnya disarikan
untuk dipilih sejumlah nilai tertentu untuk dijadikan “Norma Belajar Bersama”.
II. Komitmen Belajar (Learning Commitment):
Komitmen menerapkan nilai belajar bersama yaitu norma belajar bersama
yang telah dibangun merupakan perwujudan komitmen belajar. Tindakan lebih
lanjut dalam upaya membangun komitmen belajar, maka peserta ditugaskan untuk
membuat “Jurnal Harian” atas proses pembelajaran yang telah diberikan setiap
hari, yaitu peserta diminta memberikan catatan, ungkapan dan kesimpulan dengan
membuat rangkuman atas pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1. Kejadian apa saja yang dialami dan diamati selama proses pembelajaran;
2. Apa saja yang dirasakan atau bagaimana perasaan peserta selama mengikuti
pembelajaran;
3. Pengalaman baru yang mempunyai kesan mendalam;
4. Kesan manfaat belajar apa yang dapat diperoleh yang berpengaruh bagi karier
anda ke depan;
5. Manfaat apa yang mungkin dapat diterapkan dalam pertumbuhan atau
perkembangan organisasi peserta.
.
18
BAB III

PENUTUP

Membangun Komitmen Pembelajaran yang diberikan pada awal setiap


pelatihan memberikan peluang untuk saling mengenal secara lebih mendalam,
dalam situasi yang menyenangkan. Kerjasama dalam tim yang direkat oleh saling
percaya mempercayaai, kesiapan untuk menerima masukan karena keterbukaan,
menerima tanggung jawab, dan merasa bahwa antara peserta saling
ketergantungan satu dengan lainnya, akan menghasilkan tim yang kompak,
berfungsi, efektif dan sinergis
Kegiatan membangun komitmen pembelajaran menggunakan pendekatan
kegiatan yang dipolakan (structured experience), dan diproses dengan
menggunakan daur belajar melalui pengalaman (experiential learning cyle).
Adapun urutannya mulai dari mengalami, mengungkapkan pengalaman, pikiran
dan perasaan, menganalisis perilaku, keberhasilan, kegagalan, membuat
generalisasi prinsip yang ditemukan dari pengalaman dalam simulasi, dan
memikirkan untuk mengaplikasikan prinsip tersebut dalam kegiatan nyata di unit
kerja bila sudah selesai mengikuti diklat dan kembali ke system permanen.

19
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Richard Y. 1999. Membangun Tim yang Dinamis. Jakarta : PT. Gramedia.

--------------, 1999. Sukses melalui Kerja Sama TIM. Jakarta : PT. Gramedia.
Maddux, Robert B. 2001. Team Building, Terampil Membangun Tim Handal,
Edisi ke-dua, penterjemah Kristiyabudi P. Hananto, Surabaya : PT.
Erlangga.

Pranoto, Juni dan Wahyu Suprapti, 2000. Pengembangan Potensi Diri. Modul
SPAMA, Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.

--------------, 2000. Leadership Laboratory. Bahan Ajar Diklat SPAMA, Jakarta :


Lembaga Administrasi Negara.

Suprapti, Wahyu, 2006. Membangun Kerjasama Tim. Modul Prajabatan


Golongan III. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara

20
21