Anda di halaman 1dari 152

ABSTRAK

OJI. Strategi Pemasaran Produk Gadai Emas Pada Bank Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit (Mampang Jaksel). Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Di bawah Bimbingan Drs. Hasanuddin Ibnu Hibban, MA. Startegi Pemasaran merupakan Serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan persaingan yang selalu berubah. Setiap perusahaan mempunyai tujuan untuk dapat tetap hidup dan berkembang, tujuan tersebut hanya dapat dicapai melalui usaha mempertahankan dan meningkatkan penjualanya, melalui usaha mencari dan membina langganan, serta usaha menguasai pasar. Maka dari itu, dengan adanya strategi pemasaran Produk- produk Bank Syariah Mandiri diharapkan segala keinginan dan kebutuhan masyarakat maupun pelanggan dapat terpenuhi dengan baik dan terorganisir dengan baik pula. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa strategi pemasaran yang diterapkan dalam memasarkan produk gadai emas dan apakah strategi pemasaran yang dilakukan Bank Syariah Mandiri berpengaruh terhadap jumlah nasabah itu sendiri, agar masyarakat yang belum mengetahui tentang gadai emas dan tahu cara memanfaatkan emas untuk mendapatkan dana dalam mengatasi kebutuhan biaya pendidikan, modal usaha, biaya pengobatan, dan kebutuhan lainya, serta mengetahui cara menghitung taksiran berat dan harga emas di Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini mengguanakan metode kualitatif, yaitu penulis menganalisis data berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh dari wawancara, observasi dan sumber-sumber lain yang terdapat pada Bank Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit (Mampang-Jaksel). Hasil analisis yang dilakukan menyimpulkan bahwa produk gadai emas adalah produk pegadaian atau penyerahan hak penguasa secara fisik atas harta atau barang (berupa emas) dari nasabah (arraahin) kepada bank (al-murtahin) untuk dikelola dengan prinsip ar-rahnu yaitu sebagai jaminan (al-marhun) atas peminjam atau untang (al-marhumbih) yang diberikan kepada nasabah atau peminjaman tersebut. strategi pemasaran yang dilakaukan Bank Syariah Mandiri cabang Warung Buncit (Mampang-Jaksel) yaitu dengan menggunakan strategi pemasaran melalui brosur, dan Gerai, yang tentunya bertujuan untuk memberikan pelayanan dan kepuasan yang terbaik kepada para nasabah maupun calon nasabah. Dengan demikian, maka hasil dari penilitian ini mudah-mudahan dapat berguna bagi sistem pengembangan Bank Syariah Mandiri CabangWarung Buncit (Mampang-Jaksel) khususnya sebagai alternatif dalam pemberdayaan ekonomi umat dengan menerapkan strategi pemasaran yang baik dan tentunya profesional.

strategi pemasaran yang baik dan tentunya profesional. Kata Kunci: Strategi, Pemasaran, dan Startegi Pemasaran ii

Kata Kunci: Strategi, Pemasaran, dan Startegi Pemasaran

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala sanjung hanyalah milik Allah SWT yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Shalawat dan
Alhamdulillah segala sanjung hanyalah milik Allah SWT yang menciptakan
alam semesta beserta isinya. Shalawat dan salam semoga abadi tercurah kehariban
penghulu alam Nabi Muhammad SAW, sebagai tauladan dan panutan bagi seluruh
umat manusia sampai akhir zaman, dan sanak keluarga serta para sahabat nan setia.
Amin.
Kami tiada henti bersyukur dan memuji kepada Allah SWT atas curahan
rahmat dan maunahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai
dengan waktu yang telah direncanakan dan dalam rangka memenuhi persyaratan
mencapai gelar Sarjana Komunikasi Islam pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis sangat terbantu oleh partisipasi dari
berbagai pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung dan atas
bantuan motivasi serta masukan terhadap penulis skripsi ini. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut
membantu diantaranya :
1. Dr. Arief Subhan, MA, Selaku Dekan dan Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil

Dekan I, Drs. Jumroni, M.Si selaku Wakil Dekan II, dan Dr. H. Sunandar,

MA selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

iii

2. Drs. Cecep Castrawijaya, MA, Selaku Ketua Jurusan Manajemen Dakwah

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. 3. H. Mulkanasir BA, S.Pd, MM, sebagai Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu
Hidayatullah Jakarta.
3. H.
Mulkanasir
BA,
S.Pd,
MM,
sebagai
Sekretaris
Jurusan
Manajemen
Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Drs. Hasanudin Ibnu Hibban, MA, selaku Dosen Pembimbing yang tulus dan
ikhlas meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan, koreksi serta
saran-saranya
kepada
penulis
sehingga
penulisan
skripsi
ini
dapat
terselesaikan dengan baik.
5. Bapak
dan
Ibu
Dosen
Fakultas
Ilmu
Dakwah
dan
Ilmu
Komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Khususnya Jurusan
Manajemen Dakwah Konsentrasi Lembaga Keuangan Syariah (LKS) serta
tanpa mengurangi rasa hormat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,
yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis selama di
bangku kuliah.
6. Pihak Bank Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit (Mampang - Jaksel) dan
seluruh stafnya khusunya Ibu Desmita Artalina selaku staf bagian pemasaran

(marketing) dan Ibu Amanda yang telah membantu dalam penelitian yang

penulis lakukan di perusahaan tersebut.

7. Segenap pimpinan dan karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi serta Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif

iv

Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan pinjaman buku kepada penulis,

sehingga dapat membantu menyelesaikan skripsi ini.

8. Bapak dan Ibuku tersayang yang telah memberikan doa tiada henti sepanjang masa serta telah
8. Bapak dan Ibuku tersayang yang telah memberikan doa tiada henti sepanjang
masa serta telah mencurahkan kasih sayang, nasihat, dan perhatian yang tiada
henti memberi penulis semangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman-teman kelas Manajemen Dakwah Khususnya Konsentrasi lembaga
Keuangan Syariah B Angkatan 2009 yang selalu memberikan semangat
penulis yaitu, Sufi, Noval, Rustian, Nasrullah, Suhandi, Ulumudin, Supardi,
Ahmad Afipullah, Ulil Absor, serta teman-teman lain yang selalu memberi
semangat dan bantuanya dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Teman-teman KKN Andalusia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selalu
memberikan doa dan semangat tiada henti sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini.
11. Terima
kasih
kepada
my
best
Freind
Budianto
yang
telah
membantu
mengerjakan skripsi ini dari awal sampai akhir dan memberi support dan
masukanya
serta
bantuan
berikut
dukunganya
Jazakumullah
Khoiron
Katsiron.
12. kasih
Terima
kepada
my
Brother
Roji
Fatullah
S.Hum
yang
turut

berpartisipasi dan memotivasi penulis dalam mengerjakan skripsi hingga

rampung.

13. Terima kasih kepada Segenap tim penguji Skripsi.

v

14. Terima kasih atas dukungan dan motivasinya kepada semua pihak, semoga

Allah SWT membalas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir

kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin. Jakarta, Mei 2014
kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Amin.
Jakarta, Mei 2014
Penulis

vi

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR i ii iii DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL ix DAFTAR
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
i
ii
iii
DAFTAR
ISI
vii
DAFTAR TABEL
ix
DAFTAR
GAMB AR…
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
6
D. Tinjauan Pustaka
7
E. Metode Penelitian
9
F. Waktu Dan Tempat Penelitian
12
G. Sistematika Penulisan
13
BAB
II
LANDASAN
TEORI
TENTANG
STRATEGI
PEMASARAN,
GADAI
EMAS,
DAN
BANK
SYARIAH
A. Strategi Pemasaran
15
1. Pengertian strategi
15
2. Pengertian pemasaran
16
3. Pengertian startegi pemasaran
18
4. Ruang lingkup srtategi pemasaran
21
5. Perencanaan strategi pemasaran
24
6. Tahapan dalam rencana strategi pemasaran
26
B. Gadai Emas
30
1. Pengertian gadai emas syariah
30
2. Dasar hukum gadai emas syariah
34
3.
Mekanisme gadai emas syariah
41
4.
Manfaat dan keuntungan gadai emas syariah
46
C.
Bank Syariah
49
1. Pengertian bank syariah
49
2. Tujuan dan ciri-ciri bank syariah
51
3. Produk-produk bank syariah
53

vii

BAB III GAMBARAN UMUM BANK SYARIAH MANDIRI CABANG WARUNG BUNCIT MAMPANG - JAKARTA SELATAN

A. 61 B. 64 C. 64 D. Sejarah Bank Syariah Mandiri Visi dan Misi Bank
A.
61
B.
64
C.
64
D.
Sejarah Bank Syariah Mandiri
Visi dan Misi Bank Syariah Mandiri
Dewan Pengawas Syariah Bank Syariah Mandiri
Struktur Organisasi Bank SyariahMandiri
Produk-Produk Bank Syariah Mandiri
Keunggulan Bank Syariah Mandiri
66
E.
68
F.
71
BAB IV
STRATEGI PEMASARAN PRODUK GADAI EMAS
PADA BANK SYARIAH MANDIRI TERHADAP
PENGARUH JUMLAH NASABAH
A. Strategi Pemasaran Produk Gadai Emas Pada Bank
Syariah Mandiri
74
B. Pengaruh Strategi Pemasaran Terhadap Jumlah
Nasabah
83
C. Analisis Strategi Pemasaran Produk Gadai Emas Bank
Syariah Mandiri Terhadap Pengaruh Jumlah Nasabah
89
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
100
B. Saran
102
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
104

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Harga Perbandingan Emas BSM ……………… Tabel 2 Job Discription Pembiayaan Produk Gadai Emas Tabel 3 Fitur Produk Gadai Emas Tabel 4 Tantangan dan Upaya Solusi Gadai Emas ……

77

79

… 81 … 92
81
92

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri

66

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri 66 x

x

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu pemasaran telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam dua dekade terakhir ini. Bisnis apapun
Ilmu pemasaran telah mengalami perkembangan yang cukup pesat
dalam dua dekade terakhir ini. Bisnis apapun tidak akan bertahan lama apabila
tidak disertai dengan strategi pemasaran yang handal. Setiap lembaga atau
perusahaan harus mampu memperlakukan pemasaran sebagai ‘roh’ yang
menentukan hidup matinya perusahaan. Hal itu, tidak hanya berlaku bagi
divisi pemasaran, tetapi setiap elemen dari lembaga atau perusahaan harus
merasakan dan menghayati fungsinya sebagai pemasar.
Lembaga atau perusahaan harus cerdas dalam memikirkan misi bisnis
dan strategi pemasaran. Manajemen tidak lagi berpikir sebatas tentang pasar
tempat mereka menjual produk dan pesaing serta prefensi konsumen atau
nasabah. Lebih dari itu lembaga atau perusahaan di zaman moderen bekerja di
zona
“perang”
menghadapi
pesaing
yang
berkembang
dengan
pesat,
perkembangan
tekhnologi,
dan
berkurangnya
loyalitas
konsumen
atau
nasabah. 1
Emas dalam sejarah perkembangan sistem ekonomi dunia, sudah
dikenal sejak 40 ribu tahun sebelum masehi. Emas sering kali di identikan

dengan sesuatu yang nomor satu, prestitius, dan elegan. Hal ini dikarenakan

emas adalah logam mulia. Disebut logam mulia karena dalam keadaan murni

dalam udara biasa emas tidak dapat teroksidasi atau dengan kata lain akan

1 Titik Nurbiyati dan Mahmud Machfoedz, Manajemen Pemasaran Kontemporer, (Kayon Yogyakarta, 2005), Cet 1, hal 2.

1

2

tahan karat. Emas banyak digunakan sebagai standart keuangan di banyak

negara dan juga sebagai perhiasan, cadangan devisa dan sampai saat ini emas

merupakan alat pembayaran yang paling utama di dunia. 2

Emas juga mempunyai manfaat emosional untuk dinikmati keindahannya. Nilai keindahannya berpadu dengan harganya yang
Emas
juga
mempunyai
manfaat
emosional
untuk
dinikmati
keindahannya. Nilai keindahannya berpadu dengan harganya yang menarik
sehingga emas menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, dan emas telah
menjadi simbol status di berbagai sub kultur masyarakat Indonesia. Dengan
melihat kebutuhan masyarakat Indonesia dan ketertarikannya terhadap nilai
emas yang fluktuatif, selain hanya digunakan untuk menghiasi penampilan
agar terlihat sempurna termasuk kaum hawa, ternyata emas juga bisa juga
digunakan sebagai investasi. 3
Secara umum, operasional gadai emas syariah mirip dengan jasa
konvensional, yaitu menyimpan barang untuk memperoleh pendapatan uang
dalam jumlah tertentu. Untuk jasa ini dalam gadai konvensional dikenakan
beban
bunga,
layaknya
sistem
keuangan
yang
diterapkan
perbankan.
Sementara dalam investasi emas syariah, nasabah tidak dikenakan bunga tetap,
yang dipungut dari nasabah adalah biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan
serta penaksiran barang yang digadaikan. Perbedaan utama antara biaya gadai
emas syariah dan bunga gadai emas konvensional adalah dari sifat bunga yang

bisa berakumulasi dan berlipat ganda, sementara biaya gadai emas syariah

hanya sekali dan ditetapkan dimuka.

2 Joko Salim, Jangan Investasi Emas sebelum Baca Buku Ini !, Transmedia Pustaka, Jakarta, 2010, Cet IV. Hal.160.

3 Muhammad Ihsan, Tita Agustini, Rudi Kurniawan, Kemilau Investasi Emas: Menjaga dan Melejitkan Kesehatan Finansial dengan Emas, (Jakarta:Science Research Fondation, 2006) hal. 69.

3

Produk gadai emas sebagai komoditas yang ditawarkan kepada pasar

harus memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen atau nasabah. Karena

itu, untuk memasarkannya diperlukan perancangan agar memenuhi kualitas

dan kuantitas yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar. Dalam gadai emas syariah tidak mengenakan
dan kuantitas yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar.
Dalam gadai emas syariah tidak mengenakan biaya jasanya dengan
sistem bunga, dipandang memberatkan dan dapat mengarahkan kepada sistem
riba dalam Islam diharamkan, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surah
Al-Baqarah ayat 275.
Artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Ayat Al-qur’an di atas menjelaskan tentang bagaimana transaksi jual
beli yang benar dalam islam sehingga di dalamnya tidak mengandung unsur
riba, Jadi karena itu diperlukan adanya pembahasan lebih lanjut mengenai
gadai syariah ini agar dapat berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran agama
Islam yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits guna mewujudkan
kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan serta khususnya untuk
kaum muslim melalui bentuk penyaluran kredit.
Gadai pada emas adalah salah satu jenis instrumen yang banyak

dianjurkan oleh banyak tokoh dan pakar dibidang gadai emas, karena gadai

emas pada jenis instrumen ini memiliki banyak keunggulan yang tidak

dimiliki oleh instrumen gadai emas lainnya. Fakta membuktikan, semakin

4

tinggi laju inflasi maka semakin tinggi harga emas. 4 Harga emas dipercaya

akan selalu bisa mengamankan kemampuan beli kita, artinya harga emas akan

naik, setidaknya sama dengan tingkat inflasi dalam suatu waktu tertentu.

Jelaslah bahwa emas adalah investasi yang paling aman dan menguntungkan karena relatif tahan terhadap inflasi.
Jelaslah bahwa emas adalah investasi yang paling aman dan menguntungkan
karena relatif tahan terhadap inflasi. Emas juga sering disebut sebagai produk
investasi penangkal inflasi. sedangkan definisi Deflasi adalah kebalikannya,
yaitu suatu kondisi dimana harga yang turun terus menerus disebabkan
menurunnya
jumlah
uang
yang
beredar
secara
drastis.
Deflasi
yang
kisarannya juga lepas kontrol disenut kepanikan atau depresi ekonomi,
dimana
daya
beli
melambung
karena
harga
barang
dan
jasa
menurun,
sedangkan harga emas cenderung konstan. 5
Memang
masyarakat
indonesia
pada
umumnya
telah
mengimplementasikan gadai emas dengan menggunakan emas sejak dulu.
Dengan cara membeli emas dengan harga tertentu dan karat tertentu, dalam
bentuk perhiasan untuk digunakan atau disimpan. Kemudian emas yang telah
dibeli tersebut di simpan dalam kurun waktu tertentu sampai tiba nanti saat
harga emas tersebut naik, baik naik secara signifikan ataupun tidak, baru
kemudian mereka jual emas tersebut. Selisih harga antara harga beli emas
dimasa
lalu
dengan
harga
jual
emas
di
masa
kini
adalah
merupakan

keuntungan yang diperoleh.

4 Sofiniyah Ghufron, Megatasi Masalah Dengan Pegadaian Syariah, (Jakarta:Renaisan, 2005), Cet.1, hal 14. 5 Muhammad Ihsan, Tita Agustini, Rudi Kurniawan, Kemilau Investasi Emas: Menjaga dan Melejitkan Kesehatan Finansial dengan Emas, hal 70.

5

Dalam perkembangan sejarah, perekonomian syariah yang bersih dan

bebas

bunga

di

Indonesia

telah

memasuki

tahap

pengembangan

yang

bersyarat dan dipenuhi dengan tantangan. Dalam perjalanannya kita dapat

menganalisis adanya beberapa kendala kultural dalam penerapannya, kendala kultural masyarakat islam baik dari
menganalisis adanya beberapa kendala kultural dalam penerapannya, kendala
kultural
masyarakat
islam
baik
dari
kalangan
praktisi
usaha
maupun
masyarakat umum sering terjebak pada simbolisme dan melupakan aspek
subtansi dari ajaran syariat Islam. Kepatuhan dan kesesuaian syariah (syariah
complience) adalah harapan masyarakat secara umum termasuk dalam bidang
ekonomi. Karena keterlibatannya dalam ekonomi syariah berangkat dari
ideologi yang akan mengalahkan segala pertimbangan pragmatis, sehingga
menjadi potensi yang besar bagi pengembangan ekonomi syariah.
BSM
(Bank
Syariah
Mandiri)
merupakan
salah
satu
Lembaga
Keuangan Makro Syariah (LKMS), yaitu lembaga keuangan makro yang
sistem
operasionalnya
berlandaskan
syariah
Islam.
Di
tengah
semakin
pesatnya perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Keberadaan BSM
mempunyai
peranan
penting
dalam
upaya
mempercepat
sosialisasi
pengembangan keuangan syariah khususnya di kalangan masyarakat ekonomi
menengah ke bawah.
Seperti yang telah di jelaskan diatas di dalam memasarkan satu

produk gadai emas harus ada strategi pemasaran yang sangat mantap dan jitu.

Karena tanpa adanya strategi pemasaran yang mantap di dalam suatu lembaga

6

tidak akan ada penjualan atau pemasaran produk gadai emas yang sangat

maksimal di dalam satu lembaga keuagan syariah atau Bank syariah tersebut. 6

Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk membahas dan meniliti

tentang bagaimana mekanisme dan operasional pemasaran gadai emas pada Bank Syariah Mandiri, bagaimana kelebihan dan
tentang bagaimana mekanisme dan operasional pemasaran gadai emas pada
Bank Syariah Mandiri, bagaimana kelebihan dan keuntungan yang ditawarkan
kepada nasabah, bagaimana tingkat perkembangannya, bagaimana pengaruh
produk tersebut terhadap tingkat pendapatan bank serta bagaimana prospek
pendapatan yang dihasilkan dari gadai emas tersebut. Oleh karena itu, penulis
tertarik
untuk
mengangkat
judul
skripsi
dengan
Judul
“STRATEGI
PEMASARAN
PRODUK
GADAI
EMAS
PADA
BANK
MANDIRI
SYARIAH CABANG WARUNG BUNCIT (MAMPANG – JAKARTA
SELATAN)” .
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari terlalu luasnya pembahasan ini maka dalam
penelitian ini dibatasi pada strategi pemasaran yang berkualitas adalah
strategi dalam memasarkan produk gadai emas kepada nasabah Bank
Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit.
2. Perumusan Masalah

Adapun masalah pokok yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah

mengenai hal sebagai berikut :

6 M. Syafi’I Antonio, dkk. Bank Syariah (Analisis, Kekuatan, Kelemahan, dan Ancaman), Ekonosia: Yogyakarta, 2004, Cet. 3, hal 3.

7

a. Bagaimana strategi pemasaran

produk

gadai

emas pada Bank

Mandiri

Syariah

Cabang

Warung

Buncit

(Mampang-Jakarta

Selatan) ?

b. Apakah pengaruh strategi pemasaran yang dilakukan Bank Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit terhadap jumlah
b. Apakah pengaruh strategi pemasaran yang dilakukan Bank Syariah
Mandiri Cabang Warung Buncit terhadap jumlah nasabah ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian :
1. Tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui bagaimana strategi pemasaran gadai emas
yang
dilakukan
oleh
pihak
Bank
Mandiri
Syariah
dalam
meningkatkan kualitas nasabah
b. Untuk mengetahui apakah strategi pemasaran gadai emas yang
dilakukan BSM ada pengaruhnya dalam meningkatkan jumlah
nasabah terhadap Bank Syariah Mandiri.
2. Manfaat penelitian yang penulis lakukan adalah :
a. Bagi Bank Mandiri Syariah cabang Warung Buncit
Memberikan saran dan masukan yang lebih bermanfaat bagi Bank
Mandiri Syariah cabang Warung Buncit tentang meningkatkan nasbah
terhadap produk gadai emas.
b. Bagi penulis

Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang pemasaran

produk gadai emas dalam meningkatkan nasabah dalam produk investasi

emas.

c.

Bagi pihak lain

8

Dapat

dijadikan

informasi

dan

sumber

pengetahuan

serta

memberikan

gambaran

tentang

produk

pemasaran

gadai

emas

yang

dilakukan oleh pihak Bank Mandiri Syariah.

D. Tinjauan Pustaka Pembahasan mengenai produk investasi dan gadai emas memang selalu mewarnai berbagai judul
D. Tinjauan Pustaka
Pembahasan mengenai produk investasi dan gadai emas memang
selalu mewarnai berbagai judul dan skripsi, hal ini tidak dipungkiri, oleh
karena itu langkah pertama yang dilakukan dalam penilitian ini adalah
mengadakan eksplorasi terhadap berbagai sumber penilitian yang mungkin
dapat diuraikan. Dari survey awal diketahui bahwa ada beberapa skripsi yang
berkaitan tentang pemasaran produk gadai emas. Diantaranya adalah :
1.
Skripsi
Siti
Khadijah,
Prodi
Muamalat
(Ekonomi
Islam),
pada
Konsentrasi Perbankan Syariah, fakultas syariah dan hukum UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011 yang berjudul “Strategi Pemasaran
Produk Gadai Syariah Dalam Menarik Minat Nasabah (Penelitian Pada
Unit
Pegadaian
Syariah
Cabang
Pondok
Aren)”
yang
mencoba
menjelaskan
bagiamana
strategi
pemasaran
produk
gadainya
bisa
memberikan daya tarik atau minat kepada nasabahnya.
2.
Skripsi Atep Misbahudin, Prodi Muamalat (Ekonomi Islam), pada
konsentrasi Perbankan
Syariah,
fakultas syariah dan hukum
UIN

Syarif Hidayatullah, 2008 yang berjudul “Strategi Pemasaran Produk

Gadai Emas (Rahn) Pada BPRS Al-Ma’soem Dalam Meningkatkan

Pendapatan Bank” yang mencoba menjelaskan bagaimana pendapatan

9

omzet

produk

gadai

emasnya,

yang

didalamnya

menguraiakn

penjelasan tentang rasio capital again (keuntungan yang didapat).

3. Skripsi Faridatun Sa’adah, Prodi Muamalat (Ekonomi Islam), Pada

Konsentrasi Perbankan Syariah, fakultas syariah dan hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008 yang berjudul “Strategi
Konsentrasi Perbankan Syariah, fakultas syariah dan hukum UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008 yang berjudul “Strategi Pemasaran
Produk Gadai Syariah Dalam Upaya Menarik Minat Nasabah Pada
Pegadaian Syariah Cabang Dewi Sartika” yang mencoba menjelaskan
tentang
pengaruh
startegi
pemasaran
produk
gadai
syariah
pada
pegadaian syariah dalam upaya menarik minat nasabahnya, dan di
dalamnya
menguraikan
laju
pertumbuhan
pada
nasabah
dan
peningkatan omzetnya.
Jadi kesimpulan dan perbedaan skripsi penulis, dengan skripsi-skripsi
yang telah ada, yaitu dari segi pembahasan materinya, objek dan subjek
penelitiannya. Di sini Penulis menguraikan tentang strategi pemasaran gadai
emas terhadap pengaruh pertumbuhan nasabah dan laju peningkatan omzet
pada
Bank
Syariah
Mandiri
cabang
Warung
Buncit
(Mampang-Jakarta
Selatan).
E. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian

Pada penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan

kualitatif yaitu menggunakan data yang bukan dalam bentuk skala rasio,

tetapi dalam bentuk skala yang lebih rendah, yaitu skala nominal, ordinal,

ataupun interval yang kesemuanya dapat dikategorikan, sehingga jelas apa

10

yang akan disamakan dan dibedakan dari apa yang akan diperbandingkan

dalam rangka menjawab permasalahan yang telah dirumuskan dalam riset,

karena memang inilah bagian yang terpenting dalam riset jenis ini. 7

Penelitian deskriftif yaitu mencatat secara teliti segala gejala-gejala (fenomena) yang dilihat , didengar dan
Penelitian
deskriftif
yaitu
mencatat
secara
teliti
segala
gejala-gejala
(fenomena) yang dilihat , didengar dan dibacanya (melalui wawancara,
foto, video, tape, dokumen pribadi, brosur, dan lainnya) dan peneliti juga
membanding-bandingkan, mengkombinasikan, dan menarik kesimpulan. 8
2. Subjek dan Objek Penelitian
Adapun
yang
menjadi
subjek
penilitian
adalah
Bank
Syariah
Mandiri cabang Warung Buncit (Mampang-Jakarta Selatan), sedangkan
yang
menjadi
Objeknya
adalah
Strategi
BSM
dalam
meningkatkan
penjualan Produk gadai emasnya.
3. Sumber Data
Sumber data merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk
digunakan dalam penelitian guna menjelaskan riil atau tidaknya suatu
penelitian tersebut. Dalam hal ini penulis menggunakan beberapa data,
diantaranya adalah :
a. Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik

dari individu atau perseorangan seperti dari hasil wawancara atau hasil

7 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Tesis Bisnis, cet. 11 (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2011), hal.37 8 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001) hal.324

11

observasi yang biasa dilakukan oleh peneliti. 9 dalam data primer, peneliti

atau observer melakukan sendiri observasi di lapangan, pelaksanaanya

dapat berupa survey langsung ke lembaga terkait.

b. Data Sekunder Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan
disajikan baik oleh pihak pegumpul data primer atau oleh pihak lain.
Misalnya yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah yang
berbentuk
dokumen
yaitu
buku-buku,
brosur,
majalah
dan
sumber
informasi lainnya yang memiliki relevansi dengan masalah penelitian
sebagai bahan penunjang penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara penelitian lapangan
atau survey, sedangkan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data
adalah :
a. Observasi
Observasi
ialah
pengamatan
dan
pencatatan
yang
sistematis
terhadap gejala-gejala yang diteliti. 10 Penulis melakukan penelitian dengan
cara mengamati langsung terhadap segala sesuatu yang terkait dengan
masalah strategi pemasaran terhadap produk investasi dan gadai emas pada

Bank Syariah Mandiri cabang Warung Buncit, baik secara langsung

maupun tidak langsung.

b. Wawancara

9 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Tesis Bisnis, hal.42 10 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta:

PT. Bumi Aksara, 2003), hal.53

12

Wawancara (Interview) ialah tanya jawab lisan antara dua orang

atau

lebih

secara langsung. 11

Wawancara

dilakukan

untuk

menyerap

(saturate) (atau menemukan informasi yang kontinu untuk menambah

hingga tidak ada lagi yang dapat ditemukan) kategori. 12 Hal ini bertujuan untuk memberikan kebebasan
hingga tidak ada lagi yang dapat ditemukan) kategori. 12 Hal ini bertujuan
untuk
memberikan
kebebasan
pada
narasumber
dalam
menjawab
pertanyaan
yang
diberikan
namun
tetap
terarah
pada
masalah
yang
diangkat.
c.
Dokumentasi
Dokumentasi yaitu proses pengumpulan data dan pengambilan data
berdasarkan tulisan-tulisan berbentuk catatan, buku, dokumen atau arsip-
arsip
milik
lembaga
Bank
Syariah
Mandiri
cabang
Warung
Buncit,
ataupun tulisan-tulisan dan berkas-berkas yang memiliki relevansi dengan
pembahasan peneliti ini.
5. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data penulis menggunakan metode deskriftif
analisis,
yaitu
suatu
teknik
data
dimana
penulis
terlebih
dahulu
menguraikan semua data yang diperoleh dari hasil pengamatan secara
sistematis lalu diklasifikasi untuk dianalisis sesuai dengan perumusan
masalah dan tujuan penelitian, untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk

laporan ilmiah.

11 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, hal.57 12 Emzir, Metodologi Pendidikan: Kuantitatif & Kualitatif, cet. I (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hal.209

13

F. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu

Waktu penelitian penulis akan dilaksanakan pada bulan Januari

2014 sampai Maret 2014. 2. Tempat Penelitian Penulis melakukan penelitian di Bank Syariah Mandiri Warung
2014 sampai Maret 2014.
2. Tempat Penelitian
Penulis melakukan penelitian di Bank Syariah Mandiri Warung
Buncit, yang beralamat Jl. Mampang Prapatan Warung Buncit No. 96,
Jakarta Selatan.
G. Sistematika Penulisan
Untuk lebih mudah memahami pembahasan dan penulisan pada skripsi
ini, maka penulis menguraikan secara terperinci masalah demi masalah yang
pembahasannya terbagi menjadi lima bab dan masing-masing bab terdiri sub
bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I berisi tentang penjelasan latar belakang masalah, pembatasan
dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka,
metodologi penelitian, waktu dan tempat penelitian dan sistematika penelitian
atau penulisan.
Bab
II
berisi
tentang
penjelasan
mengenai
definisi-defenisi
yang
bersangkutan dengan judul penelitian yang ditinjau dari etimologi maupun

terminologi yang bersandar dari kepustakaan yang rajih. Yakni mengkupas

tentang teori-teori yang bersangkutan dengan Strategi Pemasaran serta teori

yang membahas mengenai produk Gadai emas, serta pembahasan teori-teori

tentang Bank Syariah.

14

Bab III dalam bab ini penulis akan membahas tentang gambaran umum

atau profil bank syariah mandiri yang penjelasannya bisa terurai sebagaimana

berikut: sejarah singkat bank syariah mandiri, visi misi bank syariah mandiri,

dewan pengawas syariah (DPS) bank syariah mandiri, struktur organisasi serta nilai-nilai pada bank syariah mandiri,
dewan pengawas syariah (DPS) bank syariah mandiri, struktur organisasi serta
nilai-nilai pada bank syariah mandiri, produk-produk pada bank syariah
mandiri dan keunggulan pada bank syariah mandiri.
Bab IV membahas tentang tinjauan umum strategi pemasaran produk
gadai emas pada bank syariah mandiri terhadap pengaruh jumlah nasabah
yang berisikan tentang : strategi pemasaran produk gadai emas pada bank
syariah mandiri, pengaruh strategi pemasaran terhadap jumlah nasabah, dan
analisis strategi pemasaran produk gadai emas bank syariah mandiri terhadap
pengaruh jumlah nasabah.
Bab V merupakan bab penutup, yang mana di dalamnya penulis
mengemukakan
kesimpulan
dari
seluruh
pembahasan
sebelumnya
dan
sekaligus menjawab permasalahan pokok yang dikemukakan sebelumnya dan
kemudian penulis mengemukakan saran-saran.

BAB II

LANDASAN TEORI TENTANG STRATEGI PEMASARAN, GADAI EMAS,

DAN BANK SYARIAH A. Strategi Pemasaran 1. Pengertian Strategi Secara etimologis, strategi berasal dari bahasa
DAN BANK SYARIAH
A. Strategi Pemasaran
1. Pengertian Strategi
Secara etimologis, strategi berasal dari bahasa Yunani Strategos yang
berarti Jenderal. 1 Strategi pada mulanya berasal dari peristiwa peperangan,
yaitu sebagai suatu siasat untuk mengalahkan musuh. Namun pada akhirnya
strategi berkembang untuk kegiatan organisasi termasuk keperluan ekonomi,
sosial, budaya dan agama.
Dalam Kamus Istilah Manajemen, strategi adalah rencana yang cermat
mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus dan saling hubungan dalam
waktu dan ukuran. 2 Dalam sebuah perusahaan, strategi merupakan salah satu
faktor
terpenting
agar
perusahaan
dapat
berjalan
dengan
baik.
Strategi
menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan
merupakan
pedoman
untuk
mengalokasikan
sumber
daya
usaha
suatu
organisasi. 3
Dari
definisi
di
atas,
peneliti
dapat
mengambil
kesimpulan
tentang

strategi, yaitu:

1 George Stainer dan John Miller, Manajemen Strategi, (Jakarta:Erlangga, 2008), hal.20

2 Panitia Istilah Manajemen Lembaga PPM, Kamus Istilah Manajemen, (Jakarta:Balai Aksara, 2002), Cet Ke-2 hal. 245

3 Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, (Yogyakarta:Andi, 2002), Cet Ke-2, hal.3

15

16

a. Strategi

merupakan

suatu

kesatuan

rencana

yang

terpadu

yang

diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.

b. Dalam menyusun strategi perlu dihubungkan dengan lingkungan organisasi, sehingga dapat disusun kekuatan strategi
b. Dalam
menyusun
strategi
perlu
dihubungkan
dengan
lingkungan
organisasi, sehingga dapat disusun kekuatan strategi organisasi
c. Dalam pencapaian tujuan organisasi perlu alternative strategi yang
dipertimbangkan dan harus dipilih.
d.
Strategi yang dipilih akan di implementasikan oleh organisasi yang
akhirnya memerlukan evaluasi terhadap strategi tersebut.
2.
Pengertian Pemasaran
Pemasaran suatu faktor penting dalam siklus yang bermula dan berakhir
dalam
kebutuhan
konsumen,
dimana
pemasaran
harus
dapat
menafsirkan
kebutuhan-kebutuhan
konsumen
dan
mengkombinasikan-nya
dengan
data
pasar. Kebanyakan orang mengatakan bahwa pemasaran adalah serangkaian
kegiatan ekonomi yang mencakup penjualan, permintaan atau pembelian dan
harga.
Dalam kegiatan pemasaran tidak hanya mencakup transaksi jual beli,
tetapi pemasaran lebih luas kegiatan penjualan. Oleh karena itu pemasaran
adalah kegiatan vital dalam beberapa organisasi baik organisasi profit maupun

non

profit

yang

didalamnya

menyediakan

barang

dan

pelayanan.

Maka

keberhasilannya tergantung sekali pada kemampuan dari organisasi tersebut

dalam memahami dan menemukan segala yang dibutuhkan pelanggannya.

17

Drs. Bashu Swasta M. A dan Irawan mengukapkan bahwa “pemasaran

adalah sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan,

ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa kepada pembeli”. 4
ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan
mendistribusikan barang dan jasa kepada pembeli”. 4
Menurut Philip Kotler mengatakan bahwa pemasaran adalah “suatu
proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok untuk
mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan dan mempertukar produk yang bernilai dengan pihak lain.” 5
Pemasaran
juga
dapat
dipahami
sebagai
suatu
rencana
untuk
memperbesar pengaruh terhadap pasar, baik jangka pendek maupun jangka
panjang, yang didasarkan pada riset pasar, penilaian, perencanaan produk,
promosi, perencanaan penjualan dan distribusi. Secara spesifik pengertian
pemasaran bagi lembaga keuangan adalah:
a. Mengidentifikasikan pasar yang paling menguntungkan sekarang dan
masa yang akan datang.
b. Menilai kebutuhan nasabah atau anggota saat ini dan masa yang akan
datang.
c. Menciptakan sarana pengembang bisnis dan membuat rencana untuk

mencapai sasaran tersebut.

4 Bashu Swasta, Manajemen Pemasaran Modern, (Yogyakarta:Liberty,1990), Cet Ke-2, hal.5 5 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran (Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian), (Jakarta:Salemba Empat, 1995), Cet.1 hal 8.

18

d. Promosi untuk mencapai sasaran. 6

Jadi kesimpulan dari penjelasan tentang pemasaran yang akan diuraikan

oleh penulis yaitu diantaranya adalah a. Kegiatan pemasaran tidak hanya memikirkan target atau sasaran tetapi
oleh penulis yaitu diantaranya adalah
a. Kegiatan pemasaran tidak hanya memikirkan target atau sasaran tetapi
harus memikirkan indentifikasi lokasi atau pengamatan lokasi untuk
menunjang berhasil atau tidaknya kegiatan pemasaran.
b. Kegiatan pemasaran harus mampu memberikan nilai prospek yang
bagus pada konsumen atau costumer.
c. Kegiatan
pemasaran
juga
mempunyai
peran
penting
dalam
mengembangkan unit bisnisnya agar mecapai target dan sasaran.
d. Kegiatan
Pemasaran
harus
memberlakukan
suatu
promosi-promosi
produk yang dipasarka agar kegiatan pemasaran bisa mencapai target
atau sasaran
3. Pengertian Strategi Pemasaran
Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, strategi pemasaran merupakan
proses pemasaran yang mencakup beberapa hal analisis atau kesempatan-
kesempatan, pemilikan sasaran-sasaran, pengembangan strategi, perumusan
rencana implementasi serta pengawasan. 7

Strategi pemasaran adalah bagian dari lingkungan yang terdiri atas

rangsangan fisik dan sosial. Termasuk di dalam rangsangan tersebut adalah

6 Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta:UPP AMP YKPN, 2002), hal. 194 7 Save M. Dagum, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta:BPFE, 1994), Cet Pertama,

hal.124

19

produk dan jasa, materi promosi (iklan), tempat pertukaran (took eceran), dan

informassi tentang harga (label yang tertempel pada produk), selanjutnya

penerapan strategi pemasaran melibatkan penempatan rangsangan tersebut di lingkungan konsumen agar dapat mempengaruhi
penerapan strategi pemasaran melibatkan penempatan rangsangan tersebut di
lingkungan konsumen agar dapat mempengaruhi afeksi, kognisi, dan perilaku
mereka. 8
Startegi pemasaran ialah suatu rencana yang memungkinkan perusahaan
dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya untuk
mencapai tujuan perusahaan. Strategi pemasaran terdiri dari dua unsur (1)
seleksi dan analisis pasar sasaran dan (2) menciptakan dan menjaga kesesuaian
bauran pemasaran, perpaduan antara produk, harga, distribusi, dan promosi. 9
Strategi pemasaran dapat dipahami sebagai logika pemasaran yang
dengannya
unit
usaha
dapat
mencapai
tujuan
pemasarannya. 10
Strategi
pemasaran juga merupakan pernyataan mengenai bagaimana suatu merek atau
lini produk dapat memenuhi keinginan dan dapat memuaskan pelanggan. Selain
itu pemasaran sendiri dapat diartikan
sebagai
seleksi atau pasar sasaran,
menentukan posisi bersaingan dan pengembangan suatu bauran pemasaran
yang efektif untuk mencapai dan melayani klien yang dipilih. 11

8 Purwanto, Marketing Strategic (Meningkatkan Pangsa Pasar), (Jakarta:Platinum, 2012), Cet. 1, hal 43. 9 Titik Nurbiyati dan Mahmud Machfoedz, Manajemen Pemasaran Kontemporer, (Yogyakarta:Kayon, 2005), Cet 1, hal 110. 10 Philip Kotler dan Paul N. Blom, Teknik dan Strategi Pemasaran Jasa Profesional, (jakarta:Intermedia, 1995), hal.27 11 Kotler dan Amstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran, (Jakarta:Erlangga, 1997), Cet Ke-2, jilid

1, hal.3

20

Beberapa strategi pemasaran diterapkan akan mampu menembus pasar,

mengembangkan pasar, mengembangkan produk, diversifikasikan, biaya murah

dan pemfokuskan pasar. 12 Dengan penjelasan sebagai berikut : a. Menembus Pasar Strategi ini digunakan
dan pemfokuskan pasar. 12 Dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Menembus Pasar
Strategi ini digunakan apabila diketahui bahwa masih ada sasaran
yang
belum
mengetahui
atau
memakai
(barang
maupun
jasa)
disebabkan karena pesaing lebih agresif seningga belum mempunyai
kesempatan membeli.
b. Mengembangkan Pasar
Strategi ini apabila sasaran pembeli lama telah dapat dicapai
baik oleh produk kita maupun oleh produk pesaing, sehingga perlu
mencari sasaran pembeli baru, sementara produk lama masih berjalan
dengan cara memperluas daerah.
c. Pengembangan Produk
Straegi
ini
mencakup
usaha
perubahan
produk,
tetapi
menggunakan cara produksi sebelumnya.
d. Diversifikasi
Strategi ini merupakan pengembangan produk baru yang masih

berhubungan dengan produk lama untuk ditawarkan kepada pasar yang

12 Bashu Swasta, Manajemen Pemasaran Modern, (Yogyakarta:Liberty, 1990), Cet Ke-2

hal.32-40

21

baru juga. Strategi ini sangat efektif untuk

mengisi sasaran

yang

terabaikan atau kosong, sehingga mereka mengikuti pesaing.

e. Biaya Murah Strategi ini didasarkan pada input rendah, sehingga dapat menghasilkan produk yang murah
e. Biaya Murah
Strategi
ini
didasarkan
pada
input
rendah,
sehingga
dapat
menghasilkan produk yang murah pula, namun dengan kualitas dan
standar yang tinggi. Hal ini bisa dilakukan dengan pemilikan modal
yang besar serta teknologi tinggi maupun bergabung dengan wadah
koperasi misalnya.
f. Pemfokusan Pasar
Strategi
ini
dilakukan
dengan
memberikan
pelayanan
yang
sangat
terbatas,
kelompok
pembeli
ditentukan
dengan
jelas
agar
pelayanan lebih efektif dan efesien.
4. Ruang Lingkup Strategi Pemasaran
Banyak pengertian yang diberikan menegenai Strategi Pemasaran.
Salah satu pengertian menyatakan, bahwa Strategi Pemasaran merupakan
kegiatan
penganalisisan,
perencanaan,
pelaksanaan
dan
pengendalian
program-program
yang
dibuat
untuk
membentuk,
membangun
dan
memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar
guna

mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang.

Dengan batasan pengertian mengenai Strategi Pemasaran seperti

diatas, maka akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara

singkat dapat dinyatakan bahwa Strategi Pemasaran mencakup seluruh

22

falsafat, konsep, tugas dan proses Strategi Pemasaran. Pada umumnya

ruang lingkup Strategi Pemasaran meliputi:

a. Falsafah Strategi Pemasaran, yang mencakup konsep dan proses pemasaran serta tugas-tugas Strategi Pemasaran. b.
a. Falsafah Strategi Pemasaran, yang mencakup konsep dan proses
pemasaran serta tugas-tugas Strategi Pemasaran.
b. Faktor lingkungan pemasaran merupakan faktor yang tidak dapat
dikendalikan pimpinan perusahaan.
c. Analisis Pasar, yang mencakup cirri-ciri dari masing-masing jenis
pasar, analisis produk, analisis konsumen, analisis persaingan dan
analisis kesempatan pasar.
d. Pemilihan sasaran (target) pasar, yang mencakup dimensi pasar
konsumen, perilaku konsumen, segmentasi pasar dan criteria yang
digunakan, peramalan potensi sasaran pasar, dan penentuan wilayah
pasar atau penjualan.
e. Perencanaan pemasaran perusahaan, yang mencakup perencanaan
strategi jangka panjang pemasaran perusahaan (marketing corporate
planning),
perencanaan
operasional
pemasaran
perusahaan,
penyusunan anggaran pemasaran dan, proses penyusunan rencana
pemasaran perusahaan.

f. Kebijakan dan Strategi Pemasaran terpadu (Marketing Mix Strategy),

yang mencakup pemilihan strategi orientasi pasar, pengembangan

acuan pemasaran (marketing mix) untuk strategi pemasaran dan

penyusunan kebijakan, strategi dan taktik pemasaran secara terpadu.

23

g. Kebijakan

dan

strategi

produk,

yang

mencakup

strategi

pengembangan produk, strategi produk baru, strategi lini produk,

dan strategi acuan produk (product mix). h. Kebijakan dan strategi harga, yang mencakup strategi tingkat
dan strategi acuan produk (product mix).
h. Kebijakan dan strategi harga, yang mencakup strategi tingkat harga,
strategi potongan harga, strategi syarat pembayaran, dan strategi
penetapan harga.
i. Kebijakan dan strategi penyaluran, yang mencakup strategi saluran
distribusi dan strategi distribusi fisik.
j. Kebijakan dan strategi promosi, yang mencakup strategi advertensi,
strategi
promosi
penjualan
(sales
promotion),
strategi
personal
selling, dan strategi publisitas serta komunikasi pemasaran.
k. Organisasi
pemasaran,
yang
mencakup
tujuan
perusahaan,
dan
tujuan bidang pemasaran, struktur organisasi pemasaran, proses dan
iklim prilaku organisasi pemasaran.
l. Sistem
informasi
pemasaran,
yang
mencakup
ruang
lingkup
informasi pemasaran, riset pemasaran, pengelolaan, dan penyusunan
sistem informasi pemasaran.
m. Pengendalian
pemasaran,
yang
mencakup
analisis
dan
evaluasi

kegiatan pemasaran baik dalam jangka waktu (tahun) maupun tahap

operasional jangka pendek.

24

n. Manajemen penjual, yang mencakup manajemen tenaga penjual,

pengelolaan

wilayah

penjualan,

dan

penyusunan

rencana

dan

anggaran penjualan. o. Pemasaran Internasional yang mencakup pemasaran ekspor (export marketing), pola-pola pemasaran
anggaran penjualan.
o. Pemasaran Internasional yang mencakup pemasaran ekspor (export
marketing), pola-pola pemasaran internasional dan pemasaran dari
perusahaan multinasional. 13
5. Perencanaan Strategi Pemasaraan
Setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya selalu
menyusun
rencana
kegiatan
yang
akan
dilakukannya
dalam
rangka
pencapaian tujuan usaha yang diharapkan. Rencana yang disusun memberi
arah terhadap kegiatan yang akan dijalankan untuk pencapaian tujuan.
Rencana kegiatan perusahaan yang menyeluruh harus didukung dengan
rencana pelaksanaan yang lebih rinci dalam bidang-bidang kegiatan yang
terdapat dalam perusahaan tersebut.
Dalam hal ini, sering ditemui adanya rencana produksi, rencana
keuangan, dan rencana pemasaran. Rencana pemasaran yang disusun
suatu perusahaan tidak lepas dari rencana kegiatan perusahaan secara
menyeluruh, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. 14

Setiap

perusahaan

harus

melihat

apa

yang

akan

terjadi

dan

mengembangkan strategi dan perencanaan pemasaran jangka panjang

13 Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (Dasar, Konsep, dan Strategi), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) Ed 1 Cet. 7 hal 12-14 14 Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (Dasar, Konsep, dan Strategi), hal 297

25

untuk menghadapi perubahan kondisi pasar. Tidak ada strategi yang

sempurna. Setiap perusahaan harus membuat rencana yang dipandang

paling sesuai untuk situasi, kesempatan, tujuan, dan sumber daya yang ada. Banyak perusahaan beroperasi tanpa
paling sesuai untuk situasi, kesempatan, tujuan, dan sumber daya yang
ada.
Banyak perusahaan beroperasi tanpa perencanaan formal. Dalam
perusahaan baru, manajer pada umumnya sangat sibuk sehingga mereka
tidak mempunyai waktu untuk perencanaan. Sementara itu, perusahaan
kecil beranggapan bahwa hanya perusahaan besar
yang memerlukan
perencanaan formal. Pada perusahaan yang telah mapan, pada umumnya
manajer
beralasan
bahwa
mereka
telah
bekerja
dengan
baik
tanpa
perencanaan formal, karena itu mereka beranggapan bahwa perencanaan
formal tidak terlalu penting.
Perencanaan formal dapat mendatangkan berbagai keuntungan
untuk semua jenis perusahaan, besar maupun kecil, perusahaan baru
ataupun yang sudah mapan. Perencanaan formal memotivasi manajemen
untuk berpikir sistematis, mempertajam visi, tujuan dan kebijaksanaan,
melakukan
koordinasi
upaya
perusahaan
dengan
lebih
baik,
dan
menunjukkan standar prestasi kerja yang lebih jelas untuk pengawasan.

Pada umumnya peerusahaan menyusun rencana tahunan, rencana

jangka panjang, dan rencana strategis.

1. Rencana Tahunan adalah rencana pemasaran jangka pendek

yang

menerangkan

situsi

pemasaran

pada

saat

ini,

tujuan

26

perusahaan,

strategi

pemasaran

untuk

tahun

yang

berjalan,

program tindakan, anggaran, dan pengendalian.

2. Rencana Jangka Panjang ialah rencana yang menerangkan faktor-faktor umum dan yang mempengaruhi perusahaan selama
2. Rencana Jangka Panjang ialah rencana yang menerangkan
faktor-faktor umum dan yang mempengaruhi perusahaan selama
beberapa tahun ke depan. Faktor-faktor tersebut meliputi tujuan
jangka panjang, strategi pemasaran umum yang digunakan untuk
mencapai
tujuan
jangka
panjang,
dan
sumber
daya
yang
diperlukan.
Rencana
jangka
panjang
ditinjau
kembali
untuk
diperbaiki setiap tahun agar perusahaan selalu mempunyai rencana
jangka panjang yang sesuai dengan kondisi.
3. Perencanaan Strategis merupakan proses pengembangan dan
penjagaan kesesuaian yang strategis antara tujuan dan kemampuan
perusahaan,
dan
perubahaan
kesempatan
pemasarannya.
Perencanaan strategis mencakup penyesuaian perusahaan untuk
mengambil
keuntungan
dari
kesempatan
yang
terjadi
dalam
perubahan lingkungan yang berlangsung konstan.
6. Tahapan dalam Rencana Strategi Pemasaran
Perencanaan pemasaran merupakan suatu proses yang terdiri dari

lima tahapan sebagai berikut:

1. Analisis situasi

2. Pengembangan tujuan pemasaran

3. Penetapan posisi dan perbedaan manfaat

27

4. Pemilihan pasar sasaran dan pengukuran permintaan pasar

5. Desain bauran pemasaran yang strategis

a. Analisis Situasi Analisis situasi meliputi penganalisaan jalannya program pemasaraan perusahaan, cara
a. Analisis Situasi
Analisis
situasi
meliputi
penganalisaan
jalannya
program
pemasaraan perusahaan, cara penerapannya, dan segala sesuatu yang
mungkin dihadapi pada masa yang akan datang.
b. Tujuan Pemasaran
Langkah
selanjutnya dalam
perencanaan
pemasaraan
strategis
adalah
menetapkan
tujuan
pemasaran.
Tujuan
pemasaran
harus
dihubungkan dengan luas tujuan pemasaran dan strategi.
c. Penetapan Posisi dan Perbedaan keunggulan
Langkah ketiga dalam perencanaan pemasaran strategis meliputi
dua keputusan yang kompelementer: cara menetapkan posisi produk di
pasar dan cara membedakannya dari pesaing. Dengan demikian penetapan
posisi (positioning) mengacu pada citra produk dalam kaitannya dengan
persaingan produk sejenis maupun produk lain yang dipasarkan oleh
perusahaan yang sama.
d. Pasar Sasaran dan Permintaan Pasar

Memilih

pasar

sasaran

merupakan

langkah

keempat

dalm

perencanaan pemasaran. Pasar terdiri dari orang-orang atau perusahaan

yang mempunyai kebutuhan untuk dipenuhi, uang untuk dibelanjakan,

28

dan kemauan untuk membayar. Pasar sasaran mengacu pada sekelompok

orang atau perusahaan yang menjadi tujuan program pemasaran.

e. Desain Bauran Pemasaran Lebih lanjut, manajemen harus mendesain, bauran pemasaran kombinasi produk, cara
e. Desain Bauran Pemasaran
Lebih lanjut, manajemen harus mendesain, bauran pemasaran
kombinasi produk, cara mendistribusikan dan mempromosikan, serta
menetapkan harganya. Keempat elemen itu harus secara bersama-sama
memenuhi kebutuhan pasar sasaran, dan mencapai tujuan pemasaran
perusahaan.
1. Segmentasi Pasar
Pasar merupakan kelompok konsumen yang berada di berbagai
lokasi yang mempunyai beraneka keinginan dan kebutuhan, sumber daya,
sikap dan praktik pembelian yang saling berbeda antara satu dengan yang
lain.
Sifat pasar yang sangat heterogen memerlukan segmentasi pasar,
suatu proses pemisahan pasar yang heterogen menjadi beberapa segmen
atau bagian yang homogen dalam semua aspek yang berhubungan dengan
pemasaran produk.
2. Segmenting

Dalam batas tertentu, setiap orang adalah segmen pasar tersendiri

karena tidak ada dua atau lebih orang mempunyai kesamaan yang tepat

dalam motivasi, kebutuhan, proses keputusan, dan prilaku pembelian.

29

Dengan

demikian,

tujuan

segmentasi

pasar

adalah

untuk

mengindentifikasikan berbagai kelompok dalam pasar yang lebih luas

mempunyai kesamaan dalam kebutuhan dan respon kepada tindakan promosi dan bauran pemasaran lainnya untuk menetapkan
mempunyai kesamaan dalam kebutuhan dan respon kepada tindakan
promosi dan bauran pemasaran lainnya untuk menetapkan perlakuan
pemasaran terpisah.
Selanjutnya pemasar mencari korelasi kelompok yang ditetapkan
berdasarkan kebutuhan dan daya reaksi mereka terhadap sisat yang lain
seperti lokasi geografis atau demografis.
3. Strategi Segmenting
Segmentasi
pasar
dapat
dilakukan
dengan
menerapkan
dua
strategi: strategi konsentrasi dan strategi multisegmen.
1. Strategi Konsentrasi
Pada waktu sebuah perusahaan mengarahkan upaya pemasarannya
ke segmen pasar tunggal melalui satu bauran pemasaran, upaya ini
mengikuti strategi konsentrasi.
Strategi konsentrasi mempunyai sifat yang mendatangkan manfaat
dan sebaliknya. Dengan manfaat dari strategi ini, perusahaan dapat
melakukan spesialisasi sehingga dapat mengkonsentrasikan seluruh upaya

pemasaran pada satu segmen tunggal.

2. Strategi Multisegmen

30

Setelah sebuah perusahaan berhasil dengan baik menerapkan

strategi konsentrasi, tidak jarang perusahaan tersebut mengembangkan

fokus pada beberapa segmen. Dengan strategi multisegmen, perusahaan megarahkan upaya pemasarannya pada dua atau lebih
fokus pada beberapa segmen.
Dengan strategi multisegmen, perusahaan megarahkan upaya
pemasarannya pada dua atau lebih segmen dengan mengembagkan
bauran pemasaran untuk setiap segmen yang ditetapkan.
Bauran pemasaran yang diterapkan untuk strategi multisegmen
dapat bervariasi karena perbedaan produk, metode distribusi, metode
promosi, dan harga. 15
B. Gadai Emas Syariah
1. Pengertian Gadai Emas Syariah
Menurut bahasa, gadai (al-rahn) berarti al-tsubut dan al-habs yaitu
penetapan dan penahanan. Ada pula yang menjelaskan bahwa rahn adalah
terkurung atau terjerat. 16
Menurut istilah syara’, yang dimaksud dengan rahn ialah:
1. “Akad yang objeknya menahan harga terhadap sesuatu hak yang mungkin
diperoleh bayaran dengan sempurna darinya.”
2. Menjadikan
suatu
benda
berharga
dalam
pandangan
syara’
sebagai

jaminan atas utang selama ada dua kemungkinan, untuk mengembalikan

uang itu atau mengembalikan sebagian benda itu.

15 Titik Nurbiyati dan Mahmud Machfoedz, Manajemen Pemasaran Kontemporer, hal 93-

100.

16 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1987), Cet. 1, hal.150.

31

3. Gadai adalah akad perjanjian pinjam memeinjam dengan menyerahkan

barang sebagai tanggungan utang.

4. “Menjadikan harta sebagai jaminan utang.” 5. “Menjadikan zat suatu benda sebagai jaminan atas utang.
4. “Menjadikan harta sebagai jaminan utang.”
5. “Menjadikan zat suatu benda sebagai jaminan atas utang.
6. Gadai ialah menjadikan harta benda sebagai jaminan atas utang.
7. Gadai
adalah
suatu
barang
yang dijadikan
peneguhan
atau
penguat
kepercayaan dalam utang piutang.
8. Gadai ialah menjadikan suatu benda bernilai menurut pandangan syara’
sebagai
tunggangan
utang,
dengan
adanya
benda
yang
menjadi
tanggungan itu seluruh atau sebagian utangdapat diterima. 17
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1153, gadai adalah
suatu hak yang diperoleh seorang yang mempunyai piutang atas suatu barang
bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang
oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang
mempunyai utang. 18
Seorang yang berutang tersebut memberikan kekuasaan kepada orang
yang
memberi
utang
untuk
menggunakan
barang
bergerak
yang
telah
diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat

memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.

17 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2007) Edisi 1 hal.105-

106

18

Mariam

Darus

Badrulzaman,

Bab-bab

tentang

Credietverband,

gadai

dan

fidusia,

32

Gadai dalam fiqh disebut rahn, yang menurut bahasa adalah nama barang

yang

dijadikan

sebagai

jaminan

kepercayaan.

Sedangkan

syara’

artinya

menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, tetapi dapat diambil kembali sebagai tebusan.
menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, tetapi
dapat diambil kembali sebagai tebusan. 19
Menurut
Ahmad
Azhar
Basyir,
rahn
berarti
tetap
berlangsung
dan
menahan sesuatu barang sebagaimana tanggungan utang. Dalam definisinya
rahn adalah barang yang digadaikan, rahin adalah orang yang menggadaikan,
sedangkan murtahin adalah orang yang memberikan pinjaman. 20
Pengertian rahn yang merupakan perjanjian utang piutang antara dua atau
beberapa pihak mengenai persoalan benda dan menahan sesuatu barang sebagai
jaminan utang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai
jaminan atau ia bisa mengambil sebagian manfaat barangnya itu. Firman Allah
dalam surat Al-Muddatstsir (74) ayat 38 mengatakan :
Artinya: “Setiap diri bertanggung atas apa yang telah diperbuatnya.”
Dan surat Al-Baqarah (2) ayat 283 menyebutkan :

19 Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, (Jakarta:Sinar Grafika, 2008) Cet. 1, hal. 2 20 Ahmad A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riba : Utang Piutang Gadai, (Bandung: Al- Ma’arif, 1983), Cet. 1, hal.50.

33

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara

tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika
sebagian
kamu
mempercayai
sebagian
yang
lain,
maka
hendaklah
yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah dan Tuhannya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan
persaksian. Dan Barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya
ia adalah orang yang berdosa hatinya dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”
Adapun pengertian rahn menurut Imam Ibnu Qudhamah dalam Kitab al-
Mughni adalah sesuatu benda yang dijadikan kepercayaan dari suatu utang
untuk
dipenuhi
dari
harganya,
apabila
yang
berutang
tidak
sanggup
membayarnya dari orang yang berpiutang. 21
Sedangkan Imam Abu Zakria Al-Anshary, dalam kitabnya Fathul Wahab,
mendefinisikan rahn adalah menjadikan
benda
yang bersifat harta benda

21 Ibnu Qudhamah, Kitab Al-Mughni, (Hajar: Kairo Mesir, 1981) Cet. 2, Jilid 6, hal. 443.

34

sebagai kepercayaan dari suatu yang dapat dibayarkan dari harta benda itu bila

utang tidak dibayar. 22

Gadai Emas Syariah adalah penggadaian atau penyerahan hak penguasa secara fisik atas harta atau barang
Gadai Emas Syariah adalah penggadaian atau penyerahan hak penguasa
secara fisik atas harta atau barang (berupa emas) dari nasabah (arraahin)
kepada bank (al-Murtahin) untuk dikelola dengan prinsip ar-Rahnu yaitu
sebagai jaminan (al-Marhun) atas peminjam atau utang (al-Marhumbih) yang
diberikan kepada nasabah atau peminjaman tersebut. 23
Ar-Rahnu merupakan akad penyerahan barang dari nasabah kepada anak
sebagai jaminan sebagai atau seluruhnya atas hutang yang dimiliki nasabah.
Transaksi
tersebut
diatas
merupakan
kombinasi
atau
penggabungan
dari
beberapa transaksi atau akad yang merupakan satu rangkaian yang tidak
terpisahkan meliputi:
a. Pemberian pinjaman dengan menggunakan transaksi atau akad Qardh.
b. Penitipan barang jaminan berdasarkan transaksi atau akad rahn.
c. Penetapan sewa tempat khasanah (tempat penyimpanan barang) atas
penitipan tersebut atas melalui transaksi atau akad ijarah. 24
2. Dasar Hukum Gadai Emas Syariah

22 Chuzaimah T. Yanggo dan Hafiz Anshari, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, 1997), Edisi 3. Hal. 60.

23 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi, (Yogyakarta:Ekonisia, 2003), Cet.1 hal 164-165.

dan

24 Abdul

Ghofur

Anshori,

Gadai

Syariah

di

Indonesia:

Konsep,

Implementasi

35

Boleh tidaknya transaksi gadai menurut islam, diatur dalam Al-qur’an,

sunnah dan ijtihad.

1. Al-Qur’an Ayat al-qur’an yang dapat dijadikan dasar hukum perjanjian gadai adalah QS. Al-Baqarah ayat
1. Al-Qur’an
Ayat al-qur’an yang dapat dijadikan dasar hukum perjanjian gadai
adalah QS. Al-Baqarah ayat 282 dan 283:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
menuliskannya.”
Surat Al-Baqarah ayat 283
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan sedang kau tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan

yang dipegang (oleh yang berpiutang. Akan tetapi jika sebagian kamu

mempercayai itu menunaikan amantnya (hutangnya).” 25

2. As-Sunnah

25

Abdul

Ghofur

Anshori,

Gadai

Syariah

di

Indonesia:

Konsep,

Implementasi

dan

36

( ) Dari Aisyah r.a. berkata bahwa Rasul bersabda: Rasulluah membeli makanan dari seorang Yahudi
( )
Dari
Aisyah
r.a.
berkata
bahwa
Rasul
bersabda:
Rasulluah
membeli makanan dari seorang Yahudi dan mejaminkan kepadanya baju
besi. (HR Bukhari dan Muslim) 26
( )
Dari Abi Hurairah r.a. Rasullulah bersabda: Apabila ada ternak
digadaikan, maka punggungnya boleh dinaiki (oleh yang menerima
gadai), karena ia telah mengeluarkan biaya
(menjaga)nya.
Apabila
ternak itu digadaikan, maka air susunya yang deras boleh diminum (oleh
orang
yang
menerima
gadai)
karena
ia
telah
mengeluarkan
biaya
(menjaga)nya. Kepada orang yang naik dan minum, maka ia harus
mengeluarkan biaya (perawatan)nya. (HR Jamaah kecuali Muslim dan
Nasai-Bukhari) 27

26 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta : Gema Insani, 2001), Cet. 1, hal 129.

dan

27

Abdul

Ghofur

Anshori,

Gadai

Syariah

di

Indonesia:

Konsep,

Implementasi

37

37 : ( ) Dari Anas r.a. berkata: “Rasulullah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi di

:

( ) Dari Anas r.a. berkata: “Rasulullah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi di Madinah
( )
Dari Anas r.a. berkata: “Rasulullah menggadaikan baju besinya
kepada seorang Yahudi di Madinah dan mengambil darinya gandum
untuk keluarga beliau.” (HR Bukhari) 28
:
)
(
Dari
Abu
Hurairah
r.a.
berkata
bahwasanya
Rasulullah
saw
bersabda: “Barang yang digadaikan itu tidak boleh ditutup dari pemilik
yang
menggadaikannya.
Baginya
adalah
keuntungan
dan
tanggung
jawabnya bila ada kerugian (atau biaya).” (HR Syafi’I dan Daruqutni) 29
3. Ijma’ Ulama
Jumhur ulama menyepakati kebolehan status hukum gadai. Hal
dimaksud,
berdasarkan
pada
kisah
Nabi
Muhammad
Saw
yang
menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan makanan dari seorang

Yahudi.

Para

ulama

juga

mengambil

indikasi

dari

contoh

Nabi

28 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah : Dari Teori Ke Praktik, hal 129. 29 Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia: Konsep, Implementasi dan Institusionalisasi, hal 90.

38

Muhammad

Saw

tersebut,

ketika beliau

beralih

dari

yang biasanya

bertransaksi kepada para sahabat yang kaya kepada seorang, Yahudi,

bahwa hal itu tidak lebih sebagai sikap Nabi Muhammad Saw yang tidak mau memberatkan para
bahwa hal itu tidak lebih sebagai sikap Nabi Muhammad Saw yang tidak
mau memberatkan para sahabat yang biasanya enggan mengambil ganti
ataupun
harga
yang
diberikan
oleh
Nabi
Muhammad
Saw
kepada
mereka. 30
4. Ijtihad
Berkaitan dengan pembolehan perjanjian gadai ini, jumhur ulama
juga berpendapat boleh dan mereka tidak pernah berselisih pendapat
mengenai hal ini. Jumhur ulama berpendapat bahwa disyariatkannya pada
waktu tidak berpergian maupun pada waktu berpergian, berargumentasi
kepada perbuatan Rasulullah SAW terhadap riwayat hadis tentang orang
Yahudi tersebut di Madinah. 31
Adapun keadaan dalam perjalanan seperti ditentukan dalam QS.
Al-Baqarah: 283, karena melihat kebiasaan dimana pada umumnya rahn
dilakukan pada waktu berpergian. Ad-Dhahak dan penganut madzhab Az-
Zahiri berpendapat bahwa rahn tidak disyariatkan kecuali pada waktu
berpergian, berdalil pada ayat tadi. Pernyataan mereka telah terbantahkan

dengan adanya hadits tersebut.

5. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Undang Undang (UU)

30 Adrian Sutedi, Hukum Gadai Syariah, (Bandung: Alfabeta, 2011) Cet. 1, hal 185. 31 Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia: Konsep, Implementasi dan Institusionalisasi,Cet. 1, hal 91

39

Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-

MUI) menjadi salah satu rujukan yang berkenaan gadai syariah, di

antaranya dikemukan sebagai berikut: Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor
antaranya dikemukan sebagai berikut:
Fatwa
Dewan
Syariah
Nasional
Majelis
Ulama
Indonesia
Nomor 25/DSNMUI/III/2002, tentang Rahn.
Kententuan Umum:
1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhum
(barang) sampai semua hutang Rahin (yang menyerahkan barang)
dilunasi.
2. Marhum dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya,
Marhum tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seijin Rahin,
dengan tidak mengurangi nilai Marhum dan pemanfaatannya itu
sekedar mengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya.
3. Pemeliharaan
dan
penyimpanan
Marhum
pada
dasarnya
menjadi
kewajiban
Rahin,
namun
dapat
dilakukan
juga
oleh
Murtahin,
sedangkan
biaya
dan
pemeliharaan
penyimpanan
tetap
menjadi
kewajiban Rahin.
4. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhum tidak boleh

ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.

5. Penjualan Marhum

a.

Apabila

jatuh

tempo,

Murtahin

harus

memperingatkan

Rahin

untuk segera melunasi hutangnya.

40

b.

Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutang, maka Marhum

dijual paksa atau dieksekusi melalui lelang sesuai dengan syariah.

c. Hasil penjualan Marhum digunakan untuk melunasi hutang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar
c.
Hasil penjualan Marhum digunakan untuk melunasi hutang, biaya
pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya
penjualan.
d.
Kelebihan
hasil
penjualan
menjadi
milik
Rahin
dan
kekurangannya menjadi kewajiban Rahin.
6. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di
antara kedua belah pihak,
maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI)
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Fatwa
Dewan
Syariah
Nasional
Majelis
Ulama
Indonesia
Nomor 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas
Kentetuan pokok dalam Fatwa DSN ini adalah sebagai berikut:
a. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat Fatwa DSN
nomor: 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn).
b. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhum) ditanggung oleh
penggadai (rahin).

c. Ongkos didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.

41

d.

Biaya

penyimpanan

barang

gadai

dilakukan

berdasarkan

akad

Ijarah. 32

UU NO. 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN Pemegang hak tanggungan adalah orang perseorangan atau
UU NO. 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN
Pemegang hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan
hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang. Pemberian hak
tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak tanggungan
sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang diutangkan di dalam dan
merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang-piutang yang
bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut. 33
UU NO. 42 TAHUN 1999 TENTANG FIDUSIA SEBAGAI
JAMINAN
Lembaga Jaminan Fidusia memungkinkan kepada kepada pemberi
fidusia
untuk
menguasai
benda
yang
dijaminkan,
untuk
melakukan
kegiatan usaha yang dibiayai dari pinjaman dengan menggunakan jaminan
fidusia.
Pada awalnya, benda yang menjadi objek fidusia terbatas pada
kekayaan benda bergerak yang berwujud dalam bentuk peralatan. Akan
tetapi dalam perkembangan selanjutnya, benda yang menjadi objek fidusia

termasuk juga kekayaan benda bergerak yang tak berwujud, maupun benda

tak bergerak.

32 Adrian Sutedi, Hukum Gadai Syariah, hal 186-187 33 Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia: Konsep, Implementasi dan Institusionalisasi, hal 109-111.

42

3. Mekanisme Gadai Emas Syariah

Mekanisme

operasional

gadai

syariah

sangat

penting

untuk

diperhatikan, karena jangan sampai operasional gadai syariah tidak efektif dan efesien. Mekanisme operasional gadai
diperhatikan, karena jangan sampai operasional gadai syariah tidak efektif
dan
efesien.
Mekanisme
operasional
gadai
syariah
haruslah
tidak
menyulitkan
calon
nasabah
yang
akan
meminjam
uang
atau
akan
melakukan akad utang piutang. 34
Mekanisme Produk Gadai Syari’ah
1. Produk Gadai (Ar-Rahn)
Untuk mengajukan permohonan permintaan gadai, calon nasabah
harus terlebih dahulu memenuhi ketentuan berikut :
a. Membawa fotokopi KTP atau identitas lainnya (SIM, Paspor, dan
lain-lain)
b. Mengisi formulir permintaan rahn
c. Menyerahkan barang jaminan (marhun) bergerak, seperti :
a. Perhiasan emas, berlian.
b. Kendaraan bermotor
c. Barang-barang elektronik.
2. Produk Gadai Emas di Bank Syariah

Prosedur pemberian pinjaman (marhun bih) dilakukan melalui

tahapan berikut:

a. Nasabah mengisi formulir permintaan rahn.

34 Adrian Sutedi, Hukum Gadai Syariah, hal 150.

43

b. Nasabah menyerahkan formulir permintaan yang di fotokopi identitas

serta barang jaminan ke loket.

c. Petugas pegadaian menaksir (marhun) agunan yang diserahkan. d. Besarnya pinjaman atau marhun bih adalah
c. Petugas pegadaian menaksir (marhun) agunan yang diserahkan.
d. Besarnya pinjaman atau marhun bih adalah sebesar 90% dari taksiran
marhun.
e. Apabila disepakati besarnya pinjaman, nasabah menandatangani akad
dan menerima uang pinjaman. 35
Bagi calon nasabah yang ingin mengajukan permohonan dapat
menandatangani
bank-bank
syariah
yang
menyediakan
fasilitas
pembiayaan gadai emas dengan memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Identitas diri KTP atau SIM yang masih berlaku
b. Perorangan WNI
c. Cakap secara hukum
d. Mempunyai rekening giro atau tabungan di bank syariah tersebut
e. Menyampaikan NPWP (untuk pembiayaan sesuai dengan aturan
yang berlaku)
f. Adanya
barang
jaminan
berupa
emas.
Bentuk
dapat
emas
batangan, emas perhiasan atau emas koin dengan kemurnian

minimal 18 karat atau kadar emas 75%. Sedangkan jenisnya

adalah emas merah dan kuning.

35 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta:Rajawali Pers, 2009 ), Cet.1 hal

270.

44

g. Memberikan keterangan yang diperluakn dengan benar mengenai

alamat, data penghasilan atau data lainnya.

Selanjutnya pihak bank syari’ah akan melakukan analisis pinjaman yang meliputi: a. Petugas bank memeriksa kelengkapan
Selanjutnya pihak bank syari’ah akan melakukan analisis pinjaman yang
meliputi:
a. Petugas bank memeriksa kelengkapan dan kebenaran syarat-syarat calon
pemohon peminjam.
b. Penaksir melakukan analisis terdapat data pemohon, kaslian,dan karatese
jaminan berupa emas, sumber pengembalian pinjaman, penampilan atau
tingkah laku calon nasabah yang mencurigakan.
c. Jika menurut analisis pemohon layak maka bank akan menerbitkan
pinjaman (qardh) dengan
gadai emas.
Jumlah pinjaman disesuaikan
dengan kebutuhan nasabah dengan maksimal pinjaman sebesar 80% dari
taksiran emas yang disesuaikan dengan standar emas.
d. Realisasi pinjaman dapat dicairkan setlah akad pinjaman (qardh) sesuai
dengan ketentuan bank.
e. Nasabah dikenakan biaya administrasi, biaya sewadari jumlah pinjaman.
f. Pelunasan dilakukan sekaligus pada saat jatuh tempo.
g. Apabila sampai dengan waktu yang ditetapkan nasabah tidak dapat

melunasi dan proses kolektibilitas tidak dapat dilakukan, maka jaminan

1.

dijual di bawah tangan dengan ketentuan :

Nasabah

tidak

dapat

melunasi

pinjaman

pinjaman dan tidak diperbaharui.

sejak

tanggal

jatuh

tempo

45

2.

Diupayakan

sepengetahuan

nasabah

dan

kepada

nasabah

diberikan

kesempatan untuk mencari calon pemilik. Apabila tidak dapat dilakukan,

maka bank menjual berdasarkan harga tertinggi dan wajar (karyawan bank tidak diperkenankan memliki agunan tersebut).
maka bank menjual berdasarkan harga tertinggi dan wajar
(karyawan
bank tidak diperkenankan memliki agunan tersebut). 36
3. Rukun dan Syarat-syarat Gadai Emas Syariah
Dalam
menjalankan
pegadaian
syariah,
bank
syariah
harus
memenuhi rukun gadai syariah. Rukun gadai tersebut antara lain:
1. Ar-Rahin (yang menggadaikan)
Orang yang telah dewasa, bisa dipercaya dan memiliki barang yang di
gadaikan
2. Al-Murtahin (yang menerima gadai)
Orang,
bank,
atau
lembaga
yang
dipercaya
oleh
rahin
untuk
mendapatkan modal dengan jaminan barang (gadai)
3. Al-Marhun atau Rahn (barang yang digadaikan)
Barang
yang
digunakan
rahin
untuk
dijadikan
jaminan
dalam
mendapatkan utang.
4. Al-Marhun bih (utang)
Sejumlah dana yang diberikan murtahin kepada rahin atas dasar

besarnya taksiran marhum.

36 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, (Jakarta:Prenada Media Group, 2009), Cet.1 hal 391-392.

46

5. Shigat, Ijab, Qabul

Kesepakatan antara rahin dan murtahin dalam melakukan transaksi

gadai. 37 Adapun syarat-syarat yang diberlakukan bank syariah dalam produk gadai emasnya kepada nasabah atau
gadai. 37
Adapun
syarat-syarat
yang
diberlakukan
bank
syariah
dalam
produk gadai emasnya kepada nasabah atau murtahin, diantaranya adalah
sebagai berikut:
a)
Para pihak yang terlibat hukum (mukkallaf) berdasarkan lafadz
ijab dan qabul (sigah) yang jelas.
b)
Harta yang dijadikan agunan (al-Marhun) mempunyai nilai
jual
yang
baik
sehingga
dapat
untuk
mencukupi
untuk
pelunasan kembali pinjaman atau utang milik sah nasabah
(arrahin)
atau
tidak
terkait
dengan
orang
lain,
dapat
dimanfaatkan jelas dan tertentu (bukan barang haram, sesuai
kriteria syariah, utuh (tidak tersebar di beberapa tempat) serta
dapat diserahkan baik materialnya (fisik) maupun manfaatnya.
c)
Utang
(al-Marhun
bih)
merupakan
hak
yang
wajib
dikembangkan
kepada
bank
(al-Murtahin)
yang
jelas
dan
tertentu (baik jumlah maupun rencana pengembalian). 38

4. Manfaat dan Keuntungan Gadai Emas Syariah

1. Manfaat Gadai Emas

37 Adrian Sutedi, Hukum Gadai Syariah, hal 27. 38 Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia: Konsep, Implementasi dan Institusionalisasi, hal 130.

47

Manfaat yang dapat diambil oleh bank dari prinsip ar-rahn

adalah sebagai berikut:

a. Menjaga kemungkinan nasabah untuk lalai untuk lalai atau bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang
a. Menjaga
kemungkinan
nasabah
untuk
lalai
untuk
lalai
atau
bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan oleh
bank.
b. Memberikan
keamanan
bagi
semua
penabung
dan
pemegang
deposito bahwa dananya tidak akan hilang begitu saja jika nasabah
peminjam ingkar janji karena ada suatu aset atau barang (marhum)
yang dipegang oleh bank.
c. Jika rahn diterapkan dalam mekanisme pegadaiaan atau gadai,
sudah barang tertentu akan sangat membantu saudara kita yang
kesulitan dana, terutama di daerah-daerah.
d. Adapun manfaat yang langsung di dapat oleh bank adalah biaya-
biaya konkret yang harus dibayar oleh nasabah untuk pemeliharaan
dan keamanan aset tersebut.
Jika penahanan aset berdasarkan fidusia (penahanan barang
bergerak
maupun
tidak
bergerak
sebagai
jaminan
pembayaran),
nasabah juga harus membayar biaya asuransi yang besarnya sesuai

dengan yang berlaku secara umum. 39

2. Keuntungan Gadai Emas

39 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta:Gema Insani, 2001), Cet.1 hal 130.

48

Gadai emas syariah (Qardh beragun Emas) memiliki sejumlah

keuntungan, keuntungan gadai emas syariah yang bisa kita dapatkan di

antaranya adalah: a. Gadai emas syariah tidak menerapkan keuntungan yang lebih dalam kegiatan akad bagi
antaranya adalah:
a. Gadai emas syariah tidak menerapkan keuntungan yang lebih
dalam kegiatan akad bagi hasil, karena produk gadai ini diciptakan
untuk menolong orang yang kesulitan dana dalam jangka pendek.
Nasabah hanya diwajibkan melunasi pinjaman dengan jumlah
yang sama alias tidak dikenakan biaya modal, namun dikenakan
biaya
sewa
penitipan
dan
pemeliharaan
emas
yang
dijadikan
barang jaminan.
b. Gadai emas syariah tidak mengandung unsur riba, seperti bunga
pinjaman, sehingga produk ini benar-benar mencermikan semangat
tolong menolong semangat tolong menolong sesama yang sedang
mengalami kesulitan keuangan jangka pendek.
c. Gadai
emas
syariah
tergolong
jenis
pembiayaan
yang
likuid
(mudah dicairkan). Bagi nasabah yang membutuhkan pinjaman
cepat dan mudah, produk gadai emas syariah dapat dijadikan
pilihan.

d. Prosedur gadai emas syariah tergolong mudah dan tidak berbelit-

belit.

49

e. Gadai emas syariah tergolong aman bagi bank pemberi pinjaman

sebab emas memiliki nilai yang relatif stabil dibandingkan dengan

barang jaminan lainnya. 40 C. Bank Syariah 1. Pengertian Bank Syariah Kata bank dari kata
barang jaminan lainnya. 40
C. Bank Syariah
1. Pengertian Bank Syariah
Kata bank dari kata banque dalam bahasa Prancis, dan dari banco dalam
bahasa Italia, yang berarti peti atau lemari atau bangku. Kata peti atau lemari
menyiratkan fungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga, seperti
peti emas, peti berlian, peti uang dan sebagainya.
Istilah lain yang digunakan untuk sebutan Bank Islam adalah Bank
Syariah. Secara akademik, istilah Islam dan Syariah memang mempunyai
pengertian yang berbeda. Namun secara teknis untuk penyebutan Bank Islam
dan Bank Syariah mempunyai pengertian yang sama.
Menurut ensiklopedia Islam, Bank Islam adalah lembaga keuangan yang
usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalul lintas pembayaran
serta peredaran
uang
yang
pengoperasiannya
disesuaikan
dengan
prinsip-
prinsip Syariat Islam.
Berdasarkan rumusan tersebut, Bank Islam berarti bank yang tata cara

beroperasinya didasarkan pada tata cara bermuamalat secara Islam, yakni

mengacu

kepada

ketentuan-ketentuan

Al-Quran

dan

Al-Hadis.

Sedangkan

40 http://www.bisnisemas1.com/keuntungan-gadai-emas-syariah.htm, di akses melaui internet pada hari jumat pukul 21.30.wib

50

pengertian “muamalat adalah ketentuan-ketentuan yang mengatuur hubungan

manusia dengan manusia, baik hubungan pribadi maupun antara perorangan

dengan masyarakat. Muamalah ini meliputi bidang kegiatan jual-beli (ba’e), bunga (riba), piutang (qoroah), gadai
dengan masyarakat.
Muamalah ini meliputi bidang kegiatan jual-beli (ba’e), bunga (riba),
piutang (qoroah), gadai (rohan), memindahkan utang (hawalah), bagi untung
dalam
perdagangan
(qiro’ah),
jaminan
(dhomah),
persekutuan
(syirqoh),
persewaan dan perburuhan (ijarah).
Di
dalam
operasionalnya
Bank
Islam
harus
mengikuti
dan
atau
berpedoman kepada praktik-praktik usaha yang dilakukan di zaman Rasulullah,
bentuk-bentuk usaha baru sebagai hasil ijtihad para ulama atau cendekiawan
Muslim yang tidak menyimpang dari ketentuan Al-Quran dan Hadits. 41
Dalam Al-Qur’an, istilah bank tidak disebutkan secara eksplisit. Tetapi
jika yang dimaksud adalah sesuatu yang memiliki unsur-unsur seperti struktur,
manajemen, fungsi, hak dan kewajiban maka semua itu disebutkan dengan
jelas, seperti zakat, shadaqah, ghanimah (rampasan perang), bai’ (jual beli),
dayn (utang dagang), maal (harta) dan sebagainya, yang memiliki fungsi yang
dilaksanakan oleh peran tertentu dalam kegiatan ekonomi. Oleh karena itu,
usaha bank akan selalu berkaitan dengan masalah uang sebagai dagangan

utamanya.

Kegiatan usaha bank akan selalu berkait dengan komoditas antara lain:

41 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait:BAMI, Takaful dan Pasar Modal Syariah di Indonesia, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2004), Cet-4

hal.5-6

51

1)

Pemindahan uang

2)

Menerima dan membayaran kembali uang dalam rekening Koran

3) Mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat-surat berharga lainnya, 4) Membeli dan menjual surat-surat
3)
Mendiskonto
surat
wesel,
surat
order
maupun
surat-surat
berharga lainnya,
4)
Membeli dan menjual surat-surat berharga
5)
Membeli dan menjual surat-surat berharga
6)
Memberi kredit
7)
Memberi jaminan kredit 42
2. Tujuan dan Ciri-ciri Bank Syariah
Bank
syariah
mempunyai
beberapa tujuan
di
antaranya sebagai
berikut:
1. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermu’amalah secara
islam, khususnya mu’amalah yang berhubungan dengan perbankan,
agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha atau
perdagangan lain yang mengandung unsur gharar (tipuan), di mana
jenis-jenis usaha tersebut selain dilarang dalam islam, juga telah
menimbulkan dampak negative terhadap ekonomi umat.
2. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi, dengan jalan

meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi

kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal (orang kaya)

dengan pihak yang membutuhkan dana (orang miskin).

42 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah:Deskripsi dan Ilustrasi, hal.27

52

3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat, dengan jalan membuka

peluang berusaha yang lebih besar terutama kepada kegiatan usaha

yang produktif, menuju terciptanya kemandirian berusaha (berwira usaha). 4. membantu Untuk menanggulangi
yang produktif, menuju terciptanya kemandirian berusaha (berwira
usaha).
4. membantu
Untuk
menanggulangi
(mengentaskan)
masalah
kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari
Negara-negara yang sedang berkembang.
5. Untuk menjaga kestabilan ekonomi atau moneter pemerintahan.
Dengan aktivitas-aktivitas Bank Islam yang diharapkan mampu
mengindarkan inflasi akibat penerapan sistem bunga.
6. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap bank
non-Islam (konvensional) yang menyebabkan umat Islam berada di
bawah kekuasaan bank. Sehingga umat Islam tidak bisa melaksakan
ajaran agamanya secara penuh. 43
Bank
syariah
mempunyai
ciri-ciri
berbeda
dengan
bank
konvensional, adapun ciri-ciri bank syariah adalah:
1)
Beban
biaya
yang
disepakati
bersama
pada
waktu
akad
perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal, yang

besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan

untuk tawar-menawar dalam batas wajar.

43 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait:BAMI, Takaful dan Pasar Modal Syariah di Indonesia, hal 17.

53

2)

Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan

pembayaran selalu dihindari, karena persentase bersifat melekat

pada sisa utang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir. 3) Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek,
pada sisa utang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir.
3)
Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah
tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang
pasti yang ditetapkan di muka. Karena pada hakikatnya yang
mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang di biayai bank
hanyalah Allah semata.
4)
Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan
oleh
penyimpan
di
anggap
sebagai
titipan
(al-wadiah)
sedangkan
bagi
bank
di
anggap
sebagai
titipan
yang
diamanatkan sebagai penyertaan dana
pada proyek-proyek
yang di biayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip
syariah sehingga pada penyimpan tidak di janjikan imbalan
yang pasti. 44
3. Produk-produk Bank Syariah
Pada dasarnya, produk yang ditawarkan perbankan syariah dapat
dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu produk penyaluran dana, produk

penghimpunan dana dan produk jasa.

1. Produk Penyaluran Dana

54

Dalam menyalurkan dana kepada nasabah, secara garis besar

produk pembiayaan syariah terbagi kedalam tiga kategori yang dibedakan

berdasarkan tujuan penggunaan yaitu: Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang yang dilakukan dengan
berdasarkan tujuan penggunaan yaitu:
Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang yang
dilakukan dengan prinsip jual beli.
Transaksi
pembiayaan
yang
ditujukan
untuk
mendapatkan
jasa
dilakukan dengan prinsip sewa.
Transaksi
pembiyaan
untuk
usaha
kerja
sama
yang
dituju
guna
mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
Pada
kategori
pertama
dan
kedua,
tingkat
keuntungan
bank
ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang atau jasa yang
dijual. Produk yang termasuk dalam kelompok ini adalah produk yang
menggunakan prinsip jual beli seperti murabahah, salam dan istishna serta
produk yang menggunakan prinsip sewa atau ijarah. Sedangkan kategori
ketiga, tingkat keuntungan bank ditentukan dari besarnya usaha sesuai
dengan prinsip bagi hasil. Pada produk bagi hasil keuntungan ditentukan
oleh nisbah bagi hasil yang disepakati dimuka. Produk perbankan yang
termasuk kedalam kelompok ini adalah musyarakah dan mudhrabah.

Prinsip jual beli (Ba’i)

Prinsip

jual

beli

diadakan

sehubung

diadanya

perpindahan

kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan

bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.

55

Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu

penyerahan barang seperti :

a. Pembiayaan Murabahah Murabahah adalah transaksi jual beli, dimana bank mendapat sejumlah keuntungan. Dalam hal
a. Pembiayaan Murabahah
Murabahah
adalah
transaksi
jual
beli,
dimana
bank
mendapat
sejumlah keuntungan. Dalam hal ini, bank menjadi penjual dan nasabah
menjadi pembeli. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka
waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika
telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad.
b. Salam
Salam adalah transaksi jual beli, dimana barangnya belum ada,
sehingga barang yang menjadi objek transaksi tersebut diserahkan secara
tangguh. Dalam transaksi ini, bank menjadi pembeli dan nasabah menjadi
penjual.
c. Istishna
Alur trankasksi Istishna mirip dengan Salam, hanya saja dalam
Istishna, Bank dapat membayar harga pembelian dalam beberapa kali termin
pembayaran. Skim istishna dalam bank syariah umumnya diaplikasikan pada
pembiayaan manufaktur dan konstruksi.

Prinsip Sewa (Ijarah)

Secara prinsip, Ijarah sama dengan transaksi jual beli. Hanya saja yang

menjadi objek dalam transaksi ini adalah dalam bentuk manfaat. Pada akhir

masa sewa dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya

56

selama masa sewa akan dijual belikan antra Bank dan nasabah yang menyewa

(Ijarah

muntahhiyah

bittamlik/sewa

yang

diikuti

dengan

berpindahnya

kepemilikan) Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) Produk pembiayaan syariah yang didasarkan dengan prinsip bagi hasil adalah:
kepemilikan)
Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)
Produk pembiayaan syariah yang didasarkan dengan prinsip bagi hasil
adalah:
a.
Musyarakah
Musyarakah adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil. Dalam
kerjasama ini para pihak secara bersama-sama memadukan sumber daya baik
yang
berwujud
ataupun
tidak
berwujud
untuk
menjadi
modal
proyek
kerjasama,
dan
secara
bersama-sama
pula
mengelola
proyek
kerjasama
tersebut.
b. Mudarabah
Dalam
mengaplikasikan
prinsip
mudharabah,
penyimpan
atau
deposan
bertindak
sebagai
pemilik
modal,
dan
bank
sebagai
mudharib
(pengelola). Dana tersebut digunakan Bank untuk melakukan pembiayaan
murabahah atau ijarah seperti yang dijelaskan terdahulu. Dapat pula dana
tersebut digunakan oleh bank untuk melakukan pembiayaan mudharabah.

Hasil usaha ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati.

Akad Pelengkap

Untuk

memudahkan

pelaksanan

pembiyaan,

biasanya

diperlukan

juga akad pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari

57

keuntungan, namun ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiyaan.

Meskipu tidak ditujukan mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini

dibolehkan untuk meminta pengganti biaya biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besarnya biaya pengganti
dibolehkan untuk meminta pengganti biaya biaya yang dikeluarkan untuk
melaksanakan akad ini. Besarnya biaya pengganti ini sekedar untuk menutupi
biaya yang benar benar timbul.
a. Hiwalah (Alih Utang Piutang)
Hiwalah adalah transaksi pengalihan utang piutang. Dalam praktek
perbankan
syariah,
fasilitas
hiwalah
lazimnya
untuk
membantu
supplier
mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya, sedangkan
bank mendapat ganti biaya atas jasa.
b. Rahn
Rahn, dalam bahasa umum lebih dikenal dengan Gadai. Tujuan akad
Rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank
dalam memberikan pembiayaan.
c. Qardh
Qardh adalah pinjaman uang. Misalnya dalam hal seorang calon haji
membutuhkan dana pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran
biaya perjalanan haji. Bank memberikan pinjaman kepada nasabah calon haji

tersebut dan si nasabah melunasinya sebelum keberangkatan Hajinya.

d. Wakalah

58

Wakalah dalam praktek Perbankan syariah terjadi apabila nasabah

memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan

jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang. e. Kafalah Kafalah dalam bahasa umum
jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang.
e.
Kafalah
Kafalah dalam bahasa umum lebih dikenal dengan istilah Bank
Garansi,
yang
ditujukan
untuk
menjamin
pembayaran
suatu
kewajiban
pembayaran. Bank dapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah
dana untuk fasilitas ini sebagai Rahn. Bank dapat pula menerima dana tersebut
dengan prinsip wadi’ah. Bank mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang
diberikan.
2. Produk Penghimpun Dana
Produk penghimpunan dana dibank syariah dapat berupa giro,
tabungan, dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan
dalam penghimpunan dana masyarakat adalah wadi’ah dan mudharabah.
a. Wadi’ah
Prinsip Wadi’ah yang diterapkan dalam Perbankan syariah adalah
Wadiah Yad Dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro.
Dalam konsep Wadi’ah Yad Dhamanah, Bank dapat mempergunakan

dana yang dititipkan, akan tetapi bank bertanggung jawab penuh atas

keutuhan dari dana yang dititipkan.

b. Mudharabah

59

1. Mudarabah Mutlaqah

Mudarabah

Mutlaqah

adalah

Mudarabah

yang

tidak

disertai

dengan pembatasan penggunaan dana dari Sahibul Mal. 2. Mudarabah Muqayadah on Balance Sheet Mudarabah Muqayadah
dengan pembatasan penggunaan dana dari Sahibul Mal.
2. Mudarabah Muqayadah on Balance Sheet
Mudarabah
Muqayadah
on
Balance
Sheet
adalah
Aqad
Mudarabah
yang disertai dengan
pembatasan
penggunaan dana dari
Sahibul Mal untuk investsi-investasi tertentu.
3. Mudarabah of Balance Sheet
Dalam Mudarabah of Balance Sheet, Bank bertindak sebagai
arranger, yang mempertemukan nasabah pemilik modal dan nasabah yang
akan menjadi mudharib.
c.
Wakalah
Wakalah
dalam
praktek
perbankan
syariah
dilakukan
apabila
nasabah
memberikan
kuasa
kepada
bank
untuk
mewakili
dirinya
melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti inkaso dan transfer uang.
3. Produk Pelayanan Jasa
Bank syariah dapat melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan
kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa sewa atau keuntungan.

Jasa perbankan tersebut antara lain berupa :

a. Sharf (jual beli valuta asing)

60

Pada prinsipnya jual beli valuta asing sejalan dengan prinsip

Sharf,

sepanjang

dilakukan

pada

waktu

yang

sama

(spot).

Bank

mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini. b. Ijarah (Sewa) Jenis kegiatan Ijarah antara
mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.
b. Ijarah (Sewa)
Jenis kegiatan Ijarah antara lain penyewaan kotak simpanan (safe
deposit box) dan jasa tata-laksana administrasi dokumen (custodian).
Bank mendapat imbalan sewa dari jasa tersebut. 45

45 Zainul Arifin, Memahami Bank Syariah: Lingkup, Peluang, dan Prospek, (Jakarta:Alfabet, 1990), Cet.1 hal 198.

BAB III

GAMBARAN UMUM BANK SYARIAH MANDIRI CABANG WARUNG

BUNCIT MAMPANG - JAKARTA SELATAN A. Sejarah Bank Syariah Mandiri 1. Profil Bank Syariah Cabang
BUNCIT MAMPANG - JAKARTA SELATAN
A. Sejarah Bank Syariah Mandiri
1. Profil Bank Syariah Cabang Warung Buncit
Bank Syariah Mandiri KC Warung Buncit Yang beralamatkan di Gedung
Fortuna, JL. Mampang Prapatan No 96, Jakarta Selatan berdiri pada tanggal 25
Oktober 1999 setelah itu mulai di operasikan pada tanggal 19 November dengan
jumlah karyawan sekitar 60 orang pegawai, dengan modal dasar yang dimiliki
adalah sebesar Rp 2.500.000.000,-. Adapun
kepemilikan saham dari Bank
Mandiri
Syariah
yaitu
terbagi
atas
dua
bagian
:
(1).
PT
Bank
Mandiri
231.648.712 lembar saham (99,999999%) (2). PT Mandiri Sekuiritas : 1 lembar
saham (0,000001%). 1
2. Sejarah Singkat Bank Syariah Mandiri Cabang Warung Buncit
Hadir dengan Cita-cita membangun Negeri. Nilai-nilai perusahaan yang
menjunjung tinggi kemanusiaan dan integritas telah tertanam kuat pada segenap
insan Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak awal pendiriannya. Kehadiran BSM
sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah
sekaligus berkah pasca

krisis ekonomi dan moneter 1997-1998.

1 Wawancara pribadi dengan Bag. SDI (Sumber Daya Insani) pada hari kamis 10 april pukul

14.30

61

62

Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang

disusul dengan krisis multi dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah

menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia
menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi
kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha.
Dalam kondisi tersebut, industri perbankan nasional yang didominasi
oleh bank-bank konvensional mengalami krisis luar biasa. Pemerintah akhirnya
mengambil tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian
bank-bank di Indonesia.
Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki
oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT
Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi
tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa bank lain serta
mengundang investor asing. 2
Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger)
empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo)
menjadi satu bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli
1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan dan menetapkan PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemilik mayoritas baru BSB.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan

konsolidasi

serta

membentuk

2 www.syariahmandiri.co.id

Tim

pengembangan

perbankan

syariah.

63

Pembentukan

tim

ini

bertujuan

untuk

mengembangkan

layanan

perbankan

syariah

di

kelompok

perusahaan

Bank

Mandiri,

sebagai

respon

atas

diberlakukannya UU No.10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual
diberlakukannya UU No.10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum
untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).
Tim pengembangan perbankan syariah memandang bahwa pemberlakuan
UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT
Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya,
Tim
Pengembangan
Perbankan
Syariah
segera
mempersiapkan
sistem
dan
infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional
menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank
Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No.
23 tanggal 8 September 1999.
Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan
oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No. 1/24/ KEP.BI/1999,
25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior
Bank
Indonesia
No.
1/1/KEP.DGS/
1999,
BI
menyetujui
perubahan
nama
menjadi PT Bank Syariah Mandiri.
Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah

Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau

tanggal 1 November 1999. PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh

64

sebagai bank

yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai

rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya.

Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah
Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi
salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di perbankan
Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia
yang lebih baik. 3
B. Visi dan Misi Bank Syariah Mandiri
Visi
Memimpin pengembangan peradaban ekonomi yang mulia
Misi
1. Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan di atas rata-rata industri yang
berkesinambungan
2. Mengutamakan penghimpunan dana murah dan penyaluran pembiayaan
pada segmen UMKM.
3. Meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan
4. Mengembangkan nilai-nilai syariah universal 4
C. Dewan Pengawas Syariah Bank Syariah Mandiri
Ketua
: Prof. Komaruddin Hidayat

Anggota 1

: Dr. Muhammad Syafi’I Antonio, MEc

3 www.syariahmandiri.co.id

4 Wawancara pribadi dengan ibu Desmita Artalina Bag. Marketing Officer pada hari rabu 15 januari pukul 13.30

65

Anggota 2

: Dr. H. Mohammad Hidayat, MBA

Dewan

Pengawas

Syariah

mengawasi

operasional

BSM

secara

independen. DPS ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN), seebuah badan di bawah Majelis Ulama Indonesia
independen. DPS ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN), seebuah
badan di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Seluruh pedoman produk jasa
layanan dan operasional bank telah mendapat persetujuan DPS untuk menjamin
kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah Islam.
Tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah:
1. Memberikan nasihat dan saran kepada direksi mengawasi kegiatan Bank
agar sesuai dengan Prinsip Syariah.
2. Menilai dan memastikan Prinsip Syariah atas pedoman operasional dan
produk yang dikeluarkan Bank.
3. Mengawasi proses pengembangan produk baru Bank.
4. Meminta fatwa kepada Dewan Syariah Nasional untuk produk baru Bank
yang belum ada fatwanya.
5. Melakukan
review
secara
berkala
atas
pemenuhan
prinsip
Syariah
terhadap mekanisme penghimpunan dana dan penyaluran dana serta
pelayanan jasa Bank.
6. Meminta data dan informasi terkait dengan aspek syariah dari satuan

kerja Bank dalam rangka pelaksanaan tugasnya. 5

5 www.syariahmandiri.co.id

66

D. Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri

KEPALA CABANG MANAGER MANAGER MARKETING OPERASIONAL ACCOUNTING PROIRITY COSTUMER HEAD OFFICER BANKING SERVIS
KEPALA CABANG
MANAGER
MANAGER
MARKETING
OPERASIONAL
ACCOUNTING
PROIRITY
COSTUMER
HEAD
OFFICER
BANKING
SERVIS OFFICER
TELLER
OFFICER
COSTUMER
TELLER
PELAKSANA
PELAKSANA
SERVIS
MARKETING
MARKETING
SUPPORT
SUPPORT
DOMESTIC &
ADMIN
OFFICER
CLEANING
OFFICER
PELAKSANA
PEMBIAYAAN
GADAI EMAS
OFFICER
GADAI EMAS
DOMESTIC
STAF ADMIN
&
CLEANING
BACK OFFICE
OFFICER
INFORMASI
OPERATOR
SUMBER DAYA
INSANI & GA
OFICCE BOY
SUPIR
SATPAM
TEKNOLOGI
TUPOKSI (Tugas Pokok & Fungsi)
Kepala Cabang

Bertanggung jawab dan membawahi kantor cabang dan seluruh karyawan-nya

Manajer Operasional

Bertanggung jawab atas kegiatan operasional kantor cabang

Manajer Marketing

67

Bertanggung jawab atas kegiatan marketing dan penjuualan-nya

Shared Values

Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran pegawai sejak pertengahan 2005, 6 lahirlah nilai-nilai perusahaan
Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran pegawai sejak
pertengahan 2005, 6 lahirlah nilai-nilai perusahaan yang baru yang disepakati
bersama untuk di-shared oleh pegawai Bank Syariah Mandiri yang disebut
Shared Values Bank Syariah Mandiri. Shared Values Bank Syariah Mandiri
disingkat “ETHIC”
Excellence:
Mencapai hasil yang mendekati sempurna (perfect result-oriented)
Teamwork:
Mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi.
Humanity:
Mengembangkan kepedulian terhadap kemanusiaan dan lingkungan.
Integrity:
Berprilaku terpuji, bermartabat, dan menjaga etika profesi.
Customer Focus:
Mengembangkan
kesadaran
tentang
pentingnya
nasabah
dan
berupaya
melampaui harapan nasabah (internal dan eksternal).

6 Jurnal (Dokumen) Pribadi Bank Syariah Mandiri

68

E. Produk-produk Bank Syariah Mandiri

Tabungan

 Tabungan BSM  BSM Tabungan Berencana  BSM Tabungan Simpatik  BSM Tabungan Investasi
Tabungan BSM
BSM Tabungan Berencana
BSM Tabungan Simpatik
BSM Tabungan Investasi Cendikia
BSM Tabungan Dollar
BSM Tabungan Pensiun
BSM Tabunganku
Giro
BSM Giro
BSM Giro Valas
BSM Giro Singapore Dollar
BSM Giro Euro
Deposito
 BSM Deposito 7
 BSM Deposito Dollar
Pembiayaan Konsumer

BSM Implan

Pembiayaan Peralatan Kedokteran

7 Brosur produk-produk Bank Syariah Mandiri

69

Pembiayaan Edukasi BSM

Pembiayaan Kepada Koperasi Karyawan untuk Para Anggotanya

 Pembiayaan Griya BSM  Pembiayaan Griya BSM Bersubsidi  Pembiayaan Kendaraan Bermotor Produk Jasa
 Pembiayaan Griya BSM
 Pembiayaan Griya BSM Bersubsidi
 Pembiayaan Kendaraan Bermotor
Produk Jasa
1. Jasa Produk
 BSM Card
 BSM Sentra Bayar
 BSM SMS Banking
 BSM Net Banking 8
 Pembayaran Melalui Menu Pemindahan Bukuan di ATM (PPBA)
 BSM Jual Beli Valas
 BSM Electronic Payroll
 Transfer Uang Tunai
2. Jasa Operasional
 BSM Transfer Lintas Negara Western Union
 BSM Kliring

BSM Inkaso

BSM Intercity Clearing

8 Brosur produk-produk Bank Syariah Mandiri

70

BSM RTGS (Real Time Gross Settlement)

Transfer Dalam Kota (LLG)

 BSM Transfer Valas  BSM Pajak Online  BSM Referensi Bank  BSM Standing
 BSM Transfer Valas
 BSM Pajak Online
 BSM Referensi Bank
 BSM Standing Order
 BSM Payment Point
3. Jasa Investasi
 Reksadana
 Sukuk Negara Ritel 9
Emas
 BSM Gadai Emas
 BSM Cicil Emas
Haji dan Umroh
 Tabungan Mabrur
 Pembiayaan Umroh
 Pembiayaan Talangan Pendaftaraan Haji Reguler dan Khusus
 Tabungan Mabrur Junior 10

9 Brosur produk-produk Bank Syariah Mandiri

10 Brosur produk-produk Bank Syariah Mandiri

71

F. Keunggulan Bank Syariah Mandiri

Prinsip kemitraan, saling percaya, dan jujur membuat bank syariah

unggul dan mampu melalui setiap krisis moneter. Sistem perbankan syariah belakangan mulai mendapat tempat di
unggul dan mampu melalui setiap krisis moneter. Sistem perbankan syariah
belakangan
mulai
mendapat
tempat
di
hati
masyarakat
dunia
dan
kian
berkembang
pesat.
Kehadiran
bank-bank
syariah
itu
mampu
menjawab
kebutuhan akan sistem perbankan yang sesuai syariat Islam.
Pakar ekonomi syariah Syafii Antonio menyatakan paling tidak ada tujuh
hal yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional. “Yang pertama
dari sisi visi dan misinya, kemudian sisi filosofis, struktur organisasinya, legal,
produk, laporan keuangan, serta budaya korporasi.” Dari segi visi dan misi, jelas
Antonio, keberadaan bank syariah dalam mendukung kegiatan perekonomian
masyarakat bersifat fardu kifayah, yakni suatu kewajiban kolektif.
“Tidak mungkin perekonomian di suatu masyarakat maju bila tidak ada
lembaga keuangan yang mendorongnya. Karena itulah, keberadaan bank syariah
wajib
secara
kolektif.
Harus
ada
sebagian
orang
yang
menjalaninya
di
masyarakat. Bila tidak ada sama sekali, menjadi dosa.” Pembeda kedua yakni
dari sisi filosofi.
Antonio menuturkan di bank-bank konvensional orang menyimpan uang

kemudian mendapatkan bunga di akhir bulan. “Si penyimpan tidak tahu-menahu

uangnya dipakai bank untuk investasi di proyek halal atau haram. Yang penting

akhir bulan ia mendapatkan bunga.” Di bank syariah, penabung sudah meniatkan

72

menyimpan uang demi investasi di proyek-proyek halal dan produktif. Bila

investasi itu menuai untung, bank akan membagi keuntungan. Itulah yang disebut

sistem bagi hasil. 11 “Bank syariah memiliki struktur Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang tidak dimiliki
sistem bagi hasil. 11
“Bank syariah memiliki struktur Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang
tidak
dimiliki
oleh
bank
konvensional.
DPS
bertugas
memastikan
semua
operasional dan budaya bank syariah sesuai dengan prinsip syariah,” tambahnya.
Jika dilihat dari sisi legal, produk bank syariah harus memiliki akad yang
melandasinya. Itu bisa berupa ayat Alquran, hadis, atau contoh langsung dari
Nabi Muhammad semasa hidupnya. “Jadi, produk perbankan prinsipnya juga
berbeda-beda. Ada yang bagi hasil, jual beli, sewa-menyewa.
Prinsip kemitraan, saling percaya, jujur, dan tanpa membungakan modal
ialahpenyangga utama kesuksesan roda perekonomian di masa kepemimpinan
Rasulullah SAW dan para khulafaur rasyidin di Madinah. Prinsip yang sama
juga, menurut Antonio, membuat bank syariah unggul dan mampu melalui setiap
krisis moneter.
“Di perbankan konvensional ada istilah negative spread phenomena.
Misalnya ketika sektor ekonomi riil paling banyak menguntungkan 15%, sektor
perbankan mau tak mau harus memberi keuntungan 70% ke penabung sesuai

dengan perjanjian bunga yang tetap. Bukan bagi hasil seperti konsep bank

11 www.syariahmandiri.co.id

73

syariah. Sebanyak 20% keuntungan dikurangi 70%, berarti ada minus 50% yang

harus selalu ditutup. Lama-lama habislah seluruh keuntungan.”

Jadi, lanjut Antonio, bisa dikatakan yang merugikan perbankan Indonesia ialah bank konvensional. Ada dana yang
Jadi, lanjut Antonio, bisa dikatakan yang merugikan perbankan Indonesia
ialah bank konvensional. Ada dana yang disebut obligasi rekap untuk menutupi
kekurangan
tadi. “Siapa
yang menanggungnya selain rakyat melalui pajak
mereka?” sebut Antonio.
Karena itulah, menurut Antonio, praktik bank syariah juga penting untuk
menghindarkan bangsa dari krisis ekonomi. “Di Eropa, sistem perbankan syariah
sudah sangat maju. Inggris bahkan ingin menjadi pusatnya perekonomian syariah
dunia.” 12

12 www.syariahmandiri.co.id

BAB IV

STRATEGI PEMASARAN PRODUK GADAI EMAS PADA BANK SYARIAH

MANDIRI TERHADAP PENGARUH JUMLAH NASABAH A. Strategi Pemasaran Produk Gadai Emas Pada Bank Syariah Mandiri
MANDIRI TERHADAP PENGARUH JUMLAH NASABAH
A. Strategi Pemasaran Produk Gadai Emas Pada Bank Syariah Mandiri
Strategi pemasaran merupakan bagian dari lingkungan yang terdiri atas
rangsangan fisik dan sosial. Termasuk di dalam rangsangan tersebut adalah
produk dan jasa, materi promosi (iklan), tempat
pertukaran (toko eceran), dan
informasi
tentang
harga
(label
yang
tertempel
pada
produk),
selanjutnya
penerapan strategi pemasaran melibatkan penempatan rangsangan tersebut di
lingkungan konsumen agar dapat mempengaruhi afeksi, kognisi, dan perilaku
mereka. 1
Maka dari itu strategi pemasaran yang di lakukan oleh Bank Syariah
Mandiri dalam meningkatkan produk gadai emas dilakukan dengan beberapa
strategi pemasaran, diantaranya:
1. Brosur
Brosur adalah terbitan tidak berkala yang dapat terdiri dari satu hingga
sejumlah kecil halaman, tidak terkait dengan terbitan lain, dan selesai dalam
sekali terbit. Halamannya sering dijadikan satu (antara lain dengan stapler,

benang, atau kawat), biasanya memiliki sampul, tapi tidak menggunakan jilid

keras. Menurut definisi UNESCO, brosur adalah terbitan tidak berkala yang tidak

1

Purwanto,

Marketing

Strategic

(Jakarta:Platinum, 2012), Cet Ke-1 hal 14.

(Meningkatkan

74

Pangsa

Pasar

dan

Daya

Saing),

75

dijilid keras, lengkap (dalam satu kali terbitan), memiliki paling sedikit 5

halaman tetapi tidak lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan sampul.

Alternatif media dengan memanfaatkan media brosur dan selebaran memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
Alternatif media dengan memanfaatkan media brosur dan selebaran
memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
a. Kelebihan beriklan dengan menggunakan media brosur dan selebaran
1. Waktu edar cepat
Waktu yang di miliki tidak terbuang sia-sia karena informasi yang di
berikan akurat dan tepat sasaran kepada nasabah atau costumer.
2. Biaya Murah
Anggaran yang dikeluarkan tidak perlu banyak terbuang karena biaya
yang di keluarkannya hanya sedikit.
b.
Kelemahan beriklan dengan menggunakan media brosur dan selebaran
1)
Ruang iklan terbatas
Tempat untuk memberikan informasi sangat terbatas untuk di sampaikan
dan memang sangat kecil sekali ruang lingkupnya
2)
Publik sedikit atau terbatas
Penyampaian informasinya di batasi oleh tempatnya yang sangat sempit
lingkupnya dan hanya bisa dilakukan di internal tidak sampai pada eksternal.

Jadi dengan menggunakan media brosur pemasaran produk gadai emas

masyarakat akan lebih paham dan mengerti jelas tentang produk gadai emas. Dan

masyarakat bisa lebih jelas dan paham akan mekanisme produk gadai emas,

karena di dalam brosur tersebut banyak penjelasan-penjelasannya diantara dari

76

syarat dan kentuan, manfaat dan kemudahan, persyaratan, karekteristik, contoh

perhitungan dan nilai taksiran emas pergramnya.

2. Gerai Gerai ialah tempat aktiviti berjual beli bersaiz kecil dan bersifat sementara sahaja. Biasanya
2.
Gerai
Gerai
ialah
tempat
aktiviti
berjual
beli
bersaiz
kecil
dan
bersifat
sementara sahaja. Biasanya dibina di tepi jalan raya atau tepi bangunan untuk
menjual makanan, minuman, pakaian, surat khabar dan lain-lain.
Alternatif media dengan memanfaatkan sarana gerai dan outlet memiliki
kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
a. Kelebihan memasarkan dengan media gerai dan outlet
1. Tepat Sasaran
Karena nasabah bisa langsung mendapatkan informasi dan penjelasan
dari para penyelenggara gadai emas yaitu pihak Bank Syariah Mandiri
2. Face to Face (tatap muka)
Nasabah bisa langsung bertemu dengan para pihak penyelenggara gadai
emas dan prosesnya lebih mudah di dapatkan.
b. Kelemahan memasarkan dengan sarana gerai dan outlet
1. Pasar makin sempit
Karena banyaknya pesaing yang ikut menawarkan produk gadai dengan

layanannya yang lebih murah dan praktis, sehingga segmen pasar semakin kecil

peluangnya.

2. Pedagang tidak kompetitif

77

Karena pihak bank mengejar target untuk mendapatkan nasabah sebanyak

mungkin,

karena

para

pihak

penyelenggara

gadai

emas

menetapkan

harga

pembiayaan gadai emas dengan melambung tinggi sehingga pasar tidak berkembang dan nasabah tidak punya banyak
pembiayaan
gadai
emas
dengan
melambung
tinggi
sehingga
pasar
tidak
berkembang dan nasabah tidak punya banyak pilihan. 2
Struktrur
pembiayaan
gadai
emas
Bank
Syariah
Mandiri
dengan
pembiayaan gadai emas di Bank-Bank Syariah lainnya, diantaranya adalah :
Tabel 1
Harga Perbandingan Emas BSM Dengan Bank-Bank Syariah lainnya 3
Bank Syariah Mandiri
BRI Syariah
BTPN syariah
%
(Selisih Dengan Harga
Pasar)
(Selisih Dengan Harga
Pasar)
(Selisih Dengan Harga
Pasar)
Biaya Ujroh
Biaya Ujroh
Biaya Ujroh
1,5%
1,25%
1,6%
%
Loan To
Loan To
Loan To
Harga
Harga
Value
Harga
Value
Value
Dasar
Dasar
100%
Dasar
90% (LM)
93% (LM)
Emas
Emas
(LM)
Emas
85%
90%
343.120,-
342.950,-
85%
330.000,-
Perhiasan
Perhiasan
Perhiasan
Biaya Asuransi
Termasuk dalam
Termasuk dalam
0.1333%
administrasi
administrasi
Keterangan dan penjelasan yang bisa penulis berikan dari tabel di atas

adalah selisih harga dari setiap bank-bank syariah yang satu sama lainnya dari

2 Wawancara pribadi dengan ibu Desmita Artalina Bag. Marketing Officer pada hari rabu 09 april pukul14.30

3 Modul Overview Gadai Emas Syariah Bank Mandiri Syariah

78

bank Syariah Mandiri dengan bank BRI Syariah serta Bank BPTN Syariah, dari

segi ujroh atau biaya penitipan emas BSM memberikan biaya 1,5 % dari harga

dasar emas, sedangkan BRI Syariah memberikan biaya 1,25% dari harga emas dasar, dan bank BPTN
dasar emas, sedangkan BRI Syariah memberikan biaya 1,25% dari harga emas
dasar, dan bank BPTN Syariah memberikan biaya 1,6% dari harga emas dasar,
jadi perbedaan antara BSM dengan BRI syariah dan BPTN Syariah hanya 1%
sampai dengan 3%.
Dari segi penaksiran emas yang ada di BSM dengan BRI Syariah dan
BPTN Syariah juga memberikan arti yang signifikan terhadap nasabah atau
konsumen, karena BSM mentaksir harga dasar emas pergram atau LM (logam
mulia), dengan harga
Rp 343.120, sedang BRI Syariah Rp 342.950, dan BPTN
Syariah dengan harga Rp 330.000. Dapat sangat jelas perbedaan antara BSM dengan
BRI Syariah serta BPTN Syariah mencapai 5% sampai dengan 7%.
Selain strategi pemasaran yang jitu, gadai emas
BSM cabang
warung
buncit memberikan akad-akad yang menjamin nasabah untuk tidak memberatkan
beban terhadap nasabah, Akad dalam Islam akan memberikan ikatan secara
hukum apabila akad itu telah dipenuhi syarat dengan ketentuan syara’. Akad-
akad yang bisa diperoleh nasabah dari BSM diantaranya adalah:
1. Akad Qardhul Hasan

Akad ini dilakukan pada kasus nasabah yang menggadaikan barangnya

(emas) untuk keperluan konsumtif. Dengan demikian, nasabah (rahin) akan

memberikan biaya upah atau fee kepada pihak bank atau pegadaian (murtahin)

yang telah menjaga atau merawat barang gadaian (marhum). Dalam bentuk akad

79

qardhul hasan ini, utang yang terjadi wajib dilunasi pada waktu pinjamannya

jatuh tempo tanpa ada tambahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok).

2. Akad Rahn Artinya rahn digunakan sebagai akad tambahan (jaminan atau collateral) terhadap produk lain
2. Akad Rahn
Artinya rahn digunakan sebagai akad tambahan (jaminan atau collateral)
terhadap produk lain seperti dalam pembiayaan ba’i al-murabahah dimana bank
dapat menahan barang nasabah sebagai konsekuensi akad tersebut.
3. Akad Ijarah
Akad Ijarah merupakan penggunaan manfaat
atau jasa penggantian
kompensasi, yaitu pemilik yang menyewakan manfaat disebut muajjir sedangkan
penyewa
atau
nasabah
disebut
dengan
mustajir.
Sesuatu
yang
diambil
manfaatnya (tempat penitipan) disebut major dengan kompensasi atau balas jasa
yang
disebut
dengan
ajran
atau
ujrah.
Karena
itu,
nasabah
(rahin)
akan
memberikan biaya kepada muajjir karena telah menitipkan barangnya untuk
dijaga dan dirawat oleh murtahin. 4
Proses untuk gadai emas dalam memiliki produk Gadai Emas di Bank