Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
.S. Ali 'Imran /3:190 menjelaskan bahwa dalam penciptaan langit
dan bumi, dan pergantian malam dan siang, mengandung tanda-tanda
kebesaran Allah Swt. Orang-orang yang berakal dalam ayat yang ke-191
adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah Swt. dalam segala
keadaan.

Tidak ada satu pun ciptaan Allah Swt. yang sia-sia, semuanya
mengandung makna, manfaat, dan pelajaran berharga bagi orang yang
mau merenungkannya. Orang yang cerdas menurut Rasulullah saw.
adalah orang yang berpikir jauh ke depan, sampai pada kehidupan di
akhirat kemudian mengisi hidupnya sebagai bekal kehidupan kedua itu.

B. Rumusan Masalah
1. ngimani kitab-kitab Allah SWT
2. Apa yang dimaksud Kitab dan Suhuf ?
3. Kitab-kitab rasul dan penerimanya

C. Tujuan Pembuatan Makalah


Adapun yang menjadi tujuan dari pada pembuatan makalah yaitu
sebaga berikut:
 Untuk Memperluas pengetahuan tentang Al-Quran
 Mengajarkan berperilaku dengan baik
 Sebagai petunjuk umat islam

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Makna Q.S. Ali-Imran/3:190-191 serta Hadis tentang


Berfikir Kritis

Menurut Mertes, berpikir kritis adalah “sebuah proses yang sadar


dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi
informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan
kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan”.

Berpikir kritis memungkinan untuk memanfaatkan potensi diri dalam


melihat masalah, memecahkan
masalah, menciptakan, dan menyadiri diri.

Salah satu mukjizat al-Quran adalah banyaknya ayat yang memuat


informasi terkait dengan penciptaan alam dan menantang para
pembacanya untuk merenungkan informasi Ilahi tersebut. Di antara
ayat yang dimaksud adalah firman Allah Swt. dalam Q.S. Ali
'Imran/3:190-191 berikut ini.

١٩٠

َِّ ‫ت خ َْل‬
َّ‫ق فِي ِإن‬ َّ ِ ‫ف َو ْاْل َ ْر‬
َِّ ‫ض الس َم َاوا‬ ْ ‫ْل َو‬
َِّ ‫اختِ ََل‬ َِّ ‫ب ِْلُو ِلي ََليَاتَّ َوالن َه‬
َِّ ‫ار اللي‬ َِّ ‫ْاْل َ ْلبَا‬

(inna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari


laaayaatin li-ulii al-albaabi)

َّ‫ِين‬
َ ‫ون الذ‬ََّ ‫ّللا يَ ْذ ُك ُر‬
ََّ ‫ون ُجنُوبِ ِه َّْم َو َعلَىَّ َوقُعُودًا قِيَا ًما‬ َِّ ‫ت خ َْل‬
ََّ ‫ق فِي َويَتَفَك ُر‬ َّ ِ ‫ت َما َربنَا َو ْاْل َ ْر‬
َِّ ‫ض الس َم َاوا‬ ََّ ‫َه َذا َخلَ ْق‬
َّ ً ‫اط‬
‫َل‬ ِ ‫َك َب‬
ََّ ‫س ْب َحان‬ ََّ َ‫ار َعذ‬
ُ ‫اب َف ِقنَا‬ َِّ ‫ ﴿ الن‬١٩١

(alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim


wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa
khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari)

2
Artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian


malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah Swt.) bagi
orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang senantiasa
mengingat Allah Swt. dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring,
dan memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya
Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
lindungilah kami dari siksa api neraka”.

2. Penerapan Tajwid

Surat Ali-Imran/3:190-191
Lafal Hukum Tajwid

َّ‫ِإن‬ Ghunnah karena ada nun ditasydid

‫فِي‬ Mad thobi'i karena ada kasroh diikuti ya' suku

ِ ‫ت خ َْل‬
َّ‫ق‬ َِّ ‫الس َم َاوا‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu salah satu
huruf syamsyiyah yaitu huruf sin, dan mad thobi'i karena da fathah
diikuti alif

َّ‫ض‬ِ ‫َو ْاْل َ ْر‬ Idhar qomariyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu alif

‫ف‬ ْ ‫َو‬
َِّ ‫اخ ِت ََل‬ Mad thobi'i karena ada fayhah diikuti alif

َّ‫الل ْي ِل‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu lam

َِّ ‫َوالن َه‬


‫ار‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu nun dan
mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

َّ‫ِْلُو ِلي ََليَات‬ Idghom bila ghunnah karena ada tanwin bertemu lam

َِّ ‫ْاْل َ ْل َبا‬


‫ب‬ Idhar qomariyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu alif, dan mad
arid lis sukun karena sebelum waqaf ada mad thobi'i

َّ‫ِين‬
َ ‫الذ‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu lam

ََّ ‫َي ْذ ُك ُر‬


‫ون‬ Mad thobi'i karena ada dhommah diikuti wawu sukun

ََّ‫ّللا‬ Tafhim karena ada lam jalalain didahului fathah

3
‫ِق َيا ًما‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

‫َوقُعُودًا قِيَا ًما‬ Idghom bighunnah karena ada tanwin bertemu wawu tidak dalam satu
kalimah

‫َوقُعُودًا‬ Mad thobi'i karena ada dhommah diikuti wawu sukun

‫علَىَّ َوقُعُودًا‬
َ ‫َو‬ Idghom bighunnah karena ada tanwin bertemu wawu tidak dalam satu
kalimah

َّ‫ُجنُو ِب ِه ْم‬ Mad thobi'i karena ada dhommah diikuti wawu suku

‫ُجنُو ِب ِه َّْم‬ Idhar syafawi karena ada mim mati bertemu dengan salah satu huruf
idhar syafawi yaitu huruf wawu
ََّ ‫َو َيتَفَك ُر‬
‫ون‬
ََّ ‫َيت َ َفك ُر‬
‫ون‬ Mad thobi'i karena ada dhommah diikuti wawu sukun

‫ِفي‬ Mad thobi'i karena ada kasroh diikuti ya' sukun

َّ‫ت‬
ِ ‫الس َم َاوا‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu salah satu
huruf syamsyiyah yaitu huruf sin, dan mad thobi'i karena ada fathah
diikuti alif

ِ ‫َو ْاْل َ ْر‬


َّ‫ض‬ Idhar qomariyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu alif

‫َربنَا‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

‫َما‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

َ ‫َخلَ ْق‬
َّ‫ت‬ Qolqolah sughro karena ada salah satu huruf qolqolah bertanda baca
sukun atau asli mati

‫َهذَا‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

َّ‫اط ًَل‬
ِ ‫َب‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

َّ‫اط ًَل‬
ِ َ‫َك ب‬
ََّ ‫س ْب َحان‬
ُ Ihfa' karena ada tanwin bertemu salah satu huruf ihfa' yaitu huruf sin

َّ‫س ْب َحان ََك‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif
ُ
‫َف ِقنَا‬ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

َ َ ‫عذ‬
َّ‫اب‬ َ Mad thobi'i karena ada fathah diikuti alif

‫النار‬ Idghom syamsyiyah karena ada alif lam (lam ta'rif) bertemu nun, dan
mad arid lis sukun karena sebelum waqof ada mad thobi'i

4
3. Kosakata Baru:

ِ ‫َو ْاْل َ ْر‬


َّ‫ض‬ َِّ ‫ت خ َْل‬
‫ق ِفي‬ َِّ ‫الس َم َاوا‬ َّ‫ِإن‬
Dan bumi Dalam penciptaan langit Sesungguhnya

َّ‫ََل َيات‬ َّ‫ار‬


ِ ‫َوالن َه‬ َّ‫ف‬ ْ ‫ل َو‬
ِ ‫اخ ِت ََل‬ َِّ ‫الل ْي‬
Benar-benar merupakan Dan pergantian/ pertukaran
Dan siang
tanda (kebesaran Allah) malam

‫اْللبب‬ ‫ْلولي‬ ‫لءايت‬


sungguh terdapat tanda-
berakal bagi orang-orang yang
tanda

‫هللا‬ ‫يذكرون‬ ‫الذين‬


Allah mengingat yaituorang-orang yang

َّ‫علَى‬
َ ‫ُجنُو ِب ِه َّْم َو‬ ‫وقعودا‬ ‫قيما‬
dan berbaring atau duduk sambilberdiri

‫واْلرض‬ َِّ ‫ت خ َْل‬


‫ق فِي‬ َِّ ‫الس َم َاوا‬ ‫ويتفكرون‬
dan bumi dalam penciptaan langit memikirkan/ merenungkan

‫َهذَا‬ ََّ ‫َخلَ ْق‬


‫ت َما‬ ‫َربنَا‬
(semua) ini Tidak Engkau ciptakan Ya Tuhan Kami

‫فقنا‬ َّ‫س ْب َحان ََك‬


ُ َّ‫اط ًل‬
ِ َ‫ب‬
maka lindungilah kami Maha Suci Engkau Sia-sia/ tanpa makna

- ‫النار‬ ‫عذاب‬
- neraka siksa

5
B. Tafsir/Penjelasan Ayat

Pada ayat 191 Allah Swt. menjelaskan ciri khas orang yang berakal,
yaitu apabila memperhatikan sesuatu, selalu memperoleh manfaat dan
terinspirasi oleh tanda-tanda kebesaran Allah Swt. di alam ini. Ia selalu
ingat Allah Swt. dalam segala keadaan, baik waktu berdiri, duduk,
maupun berbaring. Setiap waktunya diisi untuk memikirkan keajaiban-
keajaiban yang terdapat dalam ciptaan-Nya yang menggambarkan
kesempurnaan-Nya.

Banyak ayat yang menginspirasi dan memotivasi manusia untuk


meneliti alam raya ini, di antaranya adalah Q.S. al-A’raf/7:54, yang
menyebutkan bahwa penciptaan langit itu (dalam enam masa). Para
ilmuwan yang terinspirasi untuk membuktikan dalam penelitian-
penelitian mereka. Salah satunya adalah Dr. Ahmad Marconi, dalam
bukunya Bagaimana Alam Semesta Diciptakan, Pendekatan al-Quran
dan Sains Modern (tahun 2003), Secara ringkas, penjelasan “enam
masa” dari Dr. Marconi adalah sebagai berikut:

Masa Pertama, sejak peristiwa Dentuman Besar (Big Bang)


sampai terpisahnya Gaya Gravitasi dari Gaya Tunggal (Superforce).
1. Masa Kedua, masa terbentuknya inflasi jagad raya, namun
belum jelas bentuknya, dan disebut sebagai Cosmic Soup (Sup
Kosmos).
2. Masa Ketiga, masa terbentuknya inti-inti atom di Jagad Raya
ini.
3. Masa Keempat, elektron-elektron mulai terbentuk.
4. Masa Kelima, terbentuknya atom-atom yang stabil,
memisahnya materi dan radiasi, dan jagad raya terus
mengembang.
5. Masa Keenam, jagad raya terus mengembang, hingga
terbentuknya planet-planet.

Berpikir kritis dalam beberapa ayat tersebut adalah memikirkan dan


melakukan tadabbur semua ciptaan Allah Swt. Dengan demikian, kita
sadar betapa Allah Swt. adalah Tuhan Pencipta Yang Maha Agung,
Maha Pengasih lagi Penyayang, dan mengantarkan kita menjadi
hamba-hamba yang bersyukur. Hamba yang bersyukur selalu
beribadah (ritual dan sosial) dengan ikhlas.

6
Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul turunnya Surah Ali - Imran ayat 190-191 yaitu diawali
oleh kedatangan orang – orang Quraisy ke kaum Yahudi. Kemudian
mereka para kaum Quraisy bertanya mengenai bukti – bukti kebenaran
yang dibawa nabi Musa dan bukti – bukti kebenaran yang dibawa nabi
Isa. Kaum Yahudi pun menjawab bahwa tangan dan tongkat nabi Musa
mampu bersinar putih, sedangkan
nabi Isa mampu menyembuhkan mata buta, penyakit sopak, serta
mampu menghidupkan orang yang sudah mati.

Kemudian orang – orang Quraisy mendatangi Rasulullah S.A.W seraya


berkata “ Mintalah dari Tuhanmu agar bukit Safa itu menjadi emas
untuk kami “ lantas Rasulullah berdoa dan turunlah surah Ali – Imran
ayat 190 – 191, mengajak mereka memikirkan langit dan bumi tentang
kejadiannya, hal-hal yang menakjubkan di dalamnya, seperti bintang-
bintang, bulan, dan matahari serta peredarannya, laut, gununggunung,
pohon-pohon, buah-buahan, binatang-binatang, dan sebagainya.

C. Keterkaitan antara Berpikir Kritis dengan Ciri Orang


Berakal (Ulil Albab) sesuai Pesan Q.S. Ali-Imran/3: 190-191

Mustaji mendefinisikan bahwa berpikir kristis adalah “berpikir secara


beralasan dan reflektif
dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus
dipercayai atau dilakukan”. Orang yang dipandang cerdas oleh Nabi
adalah orang yang pikirannya jauh ke masa depan di akhirat.
Maksudnya, jika kita sudah mengetahui bahwa kebaikan dan
keburukan akan menentukan nasib kita di akhirat, maka dalam setiap
perbuatan kita harus ada pertimbangan akal sehat.

Pelajari baik-baik sabda Rasulullah saw. berikut ini.


‫ أوس بن شداد يعلى أبي عن‬- ‫ عنه هللا رضي‬- ، ‫ النبيَّ عن‬- ‫ وسلم عليه هللا صلى‬- ، ‫ل‬ ََّ ‫ قَا‬: ‫س‬ َّْ ‫َم‬
َُّ ‫ن الك َِي‬
َ ‫ نَ ْف‬، ‫ل‬
ََّ َ‫س َّهُ د‬
‫ان‬ َِّ ‫ ال َمو‬، ‫اج َُّز‬
ََّ ‫ت بع َّدَ ِل َما َو َع ِم‬ ِ َ‫ن والع‬ َ ‫هللاِ َعلَى َوت َمنى هَواهَا َن ْف‬
َّْ ‫س َّهُ أتْبَ ََّع َم‬ َّ . [‫الترمذي رواه‬

7
Artinya :

Dari Abu Ya’la yaitu Syaddad Ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau
bersabda: “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu
mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya
setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu
mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah Swt. dengan
harapan kosong”. (HR. At-Tirmizi dan beliau berkata: Hadis Hasan).

Dalam hadis ini Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang benar-
benar cerdas adalah orang yang pandangannya jauh ke depan,
menembus dinding duniawi, yaitu hingga kehidupan abadi yang ada di
balik kehidupan fana di dunia ini. Tentu saja, hal itu sangat dipengaruhi
oleh keimanan seseorang kepada adanya kehidupan kedua, yaitu
akhirat.

Rasulullah saw. bersabda:


:َّ‫ي ه َُري َْرَّة َ أَبِي َو َع ْن‬ ََّ ‫ض‬ َّ ُ‫ل أَنَّ َع ْن َّه‬
ِ ‫هللاُ َر‬ ََّ ‫سو‬ ُ ‫هللاِ َر‬ َّ ‫صلى‬ َ ُ‫هللا‬ َّ ‫سل ََّم َع َل ْي َِّه‬
َ ‫ل َو‬ََّ ‫قَا‬
َِّ ‫ ِباْل َ ْع َما‬،ً‫سبْعا‬
‫ل َباد ُِروا‬ َ ‫ون هَل‬ ََّ ‫ فَ ْقرَّا ً ِإلَّ تَ ْنت َِظ ُر‬،ً‫َى أَو ُم ْنسِيا‬
ًَّ ‫ ِغن‬،ً‫ َم َرضَّا ً أ َ َّْو ُمط ِغيا‬،ً‫ ه ََرمَّا ً أو ُمفسِدا‬،ً‫أَو ُمفَ ِندا‬
ً ‫ َموتَّا‬،ً‫ أَََ َّْو ُمجْ ِهزا‬،َ‫ غَائِبَّ فَشَرَّ الدجال‬،‫ظ ُر‬ َ َ ‫؟ وأ َ َمرَّ أ َ ْدهَى َوالسا َع َّةُ السا َع َّةَ أ َ َّْو يُ ْنت‬
ُ‫ل الت ْر ُمذِي َر َواَّه‬ ََّ ‫وقَا‬:
َ َّ‫سنَّ َح ِديْث‬ َ ‫ َح‬.

Artinya:

Dan dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw.
bersabda:“Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh
perkara yaitu: Apa yang kalian tunggu selain kemiskinan yang
melalaikan, atau kekayaan yang menyombongkan, atau sakit yang
merusak tubuh, atau tua yang melemahkan, atau kematian yang
cepat, atau Dajjal, maka ia adalah seburuk buruknya makhluk yang
dinantikan, ataukah kiamat, padahal hari kiamat itu adalah saat
yang terbesar bencananya serta yang terpahit dideritanya?” (HR. At-
Tirmizi dan beliau berkata: Hadis hasan).

8
Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. mengingatkan kita supaya
bersegera dan tidak menunda-nunda untuk beramal salih. Rasulullah
saw. menyebut tujuh macam peristiwa yang buruk untuk menyadarkan
kita semua.

1. Pertama, kemiskinan yang membuat kita menjadi lalai kepada


Allah Swt. karena sibuk mencari penghidupan (harta).
2. Kedua, kekayaan yang membuat kita menjadi sombong karena
menganggap semua kekayaan itu karena kehebatan kita.
3. Ketiga, sakit yang dapat membuat ketampanan dan kecantikan
kita pudar, atau bahkan cacat.
4. Keempat, masa tua yang membuat kita menjadi lemah atau tak
berdaya.
5. Kelima, kematian yang cepat karena usia/umur yang dimilikinya
tidak memberi manfaat.
6. Keenam, datangnya dajjal yang dikatakan sebagai makhluk
terburuk karena menjadi fitnah bagi manusia.
7. Ketujuh, hari kiamat, bencana terdahsyat bagi orang yang
mengalaminya.

Jadi, berpikir kritis dalam pandangan Rasulullah saw. dalam dua hadis
di atas adalah mengumpulkan bekal amal salih sebanyak-banyaknya
untuk kehidupan pasca kematian (akhirat),

9
D. Manfaat Berpikir Kritis

Adapun manfaat berfikir kritis di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Dapat menangkap makna dan hikmah di balik semua ciptaan


Allah Swt.
2. Dapat mengoptimalkan pemanfaatan alam untuk kepentingan
umat manusia.
3. Dapat mengambil inspirasi dari semua ciptaan Allah Swt. dalam
mengembangkan IPTEK.
4. Menemukan jawaban dari misteri penciptaan alam (melalui
penelitian).
5. Mengantisipasi terjadinya bahaya, dengan memahami gejala dan
fenomena alam.

10
6. Semakin bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah akal dan
fasilitas lain, baik yang berada di dalam tubuh kita maupun yang ada
di alam semesta.
7. Semakin bertambah keyakinan tentang adanya hari pembalasan.
8. Semakin termotivasi untuk menjadi orang yang visioner.
9. Semakin bersemangat dalam mengumpulkkan bekal untuk
kehidupan di akhirat dengan meningkatkan amal saleh dan
menekan/meninggalkan kemaksiatan.

E. Menerapkan Perilaku Mulia

Berikut ini adalah sikap dan perilaku terpuji yang harus dikembangkan
terkait dengan berpikir kritis berdasarkan ayat al-Qur'an dan hadis di
atas yaitu sebagai berikut.

1. Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah akal sehat.


2. Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah alam
semesta bagi manusia.
3. Melakukan kajian-kajian terhadap ayat-ayat al-Qur±n secara
lebih mendalam bersama para pakar di bidang masing-masing.
4. Menjadikan ayat-ayat al-Quran sebagai inspirasi dalam
melakukan penelitian-penelitian ilmiah untuk mengungkap misteri
penciptaan alam.
5. Menjadikan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) sebagai inspirasi
dalam mengembangkan IPTEK.
6. Mengoptimalkan pemanfaatan alam dengan ramah untuk
kepentingan umat manusia.
7. Membaca dan menganalisis gejala alam untuk mengantisipasi
terjadinya bahaya.
8. Senantiasa berpikir jauh ke depan dan makin termotivasi untuk
menjadi orang yang visioner.
9. Senantiasa berupaya meningkatkan amal salih dan menjauhi
kemaksiatan sebagai tindak lanjut dari keyakinanannya tentang
adanya kehidupan kedua di akhirat dan sebagai perwujudan dari rasa
syukur kepada Allah Swt. atas semua anugerah-Nya.
10. Terus memotivasi diri dan berpikir kritis dalam merespon semua
gejala dan fenomena alam yang terjadi.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan kita mengetahui
bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk lemah. Dalam Al-Quran
mengandung akhlak yang baik. Kita sebagai manusia wajib memahami dan
mempelajarai Al-Quran agar kita tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak
baik. AL-Quran yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW
merupakan pedoman hidup manusia oleh karena itu kita harus berpedoman
kepada Al-Quran.
B. Saran
Dari sumber yang diperoleh akhirnya penulis ingin menyampaikan
saran kepada pembaca bila akan menyampaikan agar lebih baik memahami
tentang Al-Quran yang lebih dalam supaya umat islam mudah memahami dan
mempelajari.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://jayus-simeulu.blogspot.co.id/2014/11/makalah-beriman-kepada-kitab-
allah.html
khaerunnisajuraerah.blogspot.com/2013/04/makalah- iman-kepada-kitab-
allah.html

13