Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK

Disusun oleh : Kelompok 5

1. Suci Tarmira 1610711111


2. Maya Suryawanti 1610711112
3. Siti Anisatur Rokhmah 1610711113
4. Vabella Widitiar 1610711114
5. Amelia Mustika D 1610711116
6. Nurfatma Silvia 1610711117
7. Dewi Astri Yulianti 1610711118

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan yang disebarkan virus disebarkan oleh nyamuk Aedes (Stegomyia). Selama
dua dekade terakhir, frekuensi kasus dan epidemi penyakit demam dengue (dengue fever,
DF), demam berdarah (dengue hemorragic fever, DHF), dan sindrom syok dengue
(dengue syok syndrom, DSS) menunjukkan peningkatan yang dramatis di seluruh dunia.
The World Health Report 1996, menyatakan bahwa”kemunculan kembali penyakit
infeksisus merupakan suatu peringatan bahwa kemajuan yang telah diraih sampai sejauh
ini terhadap keamanan dunia dalam hal kesehatan dan kemakmuran sia-sia belaka”.
Laporan tersebut lebih jauh menyebutkan bahwa” penyakit infeksius tersebut berkisar
dari penyakit yang terjadi di daerah tropis (seperti malaria dan DHF yang sering terjadi di
negara berkembang) hingga penyakit yang ditemukan di seluruh dunia (seperti hepatitis
dan penyakit menular seksual [PMS], termasuk HIV/AIDS) dan penyakit yang disebarkan
melalui makanan yang mempengaruhi sejumlah besar penduduk dunia baik di negara
miskin maupun kaya.
Pada Mei 1993, pertemuan kesehatan dunia yang ke-46 mengajukan suatu resolusi
tentang pengendalian dan pencegahan dengue yang menekankan bahwa pengokohan
pencegahan dan pengendalian DF, DHF, DSS baik di tingkat lokal maupun nasional
harus menjadi salah satu prioritas dari Negara Anggota WHO tempat endemiknya
penyakit. Resolusi tersebut juga meminta: (1) strategi yang dikembangkan untuk
mengatasi penyebaran dan peningkatan insiden dengue harus dapat dilakukan oleh negara
terkait, (2) peningkatan penyuluhan kesehatan masyarakat, (3) mengencarkan promosi
kesehatan, (4) memperkuat riset, (5) memperluas surveilens dengue, (6) pemberian
panduadalam hal pengendalian vektor, dan (7) mobilisasi sumber daya eksternal untuk
pencegahan penyakit harus menjadi prioritas.
Untuk menanggapi resolusi WHA dalam pencegahan dan pengendalian dengue,
strategi global untuk operasionalitas kegiatan pengendalian vektor dikembangkan
berdasarkan komponen utama seperti, tindakan pengendalian nyamuk yang selektif

2
terpadu dengan partisipasi masyarakat dan kerja sama antarsektor, persiapan kedaruratan,
dll. Salah satu penopang utama dalam strategi global adalah peningkatan surveilans yang
aktif dan didasarkan pada pemeriksaaan laboratorium yang akurat terhadap DF/DHF dan
vektornya. Agar berjalan lancar, setiap negara endemik harus memasukkan penyakit DHF
menjadi salah satu jenis penyakit yang harus dilaporkan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Prevalensi DHF
2. Apa saja Pengertian Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
3. Bagaimana faktor resiko DHF
4. Bagaimana Tanda dan Gejala / Manisfestasi klinis
5. Bagaimana Etiologi DHF
6. Bagaimana Patofisiologi DHF
7. Bagaimana Pemeriksaan penunjang DHF
8. Bagaimana Penatalaksanaan Medis DHF
9. Bagaiman Asuhan Keperawatan DHF

C. Tujuan
1. Mengetahui Prevalensi DHF
2. Mengetahui Pengertian Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
3. Mengetahui faktor resiko DHF
4. Mengetahui Tanda dan Gejala / Manisfestasi klinis
5. Mengetahui Etiologi DHF
6. Mengetahui Patofisiologi DHF
7. Mengetahui Pemeriksaan penunjang DHF
8. Mengetahui Penatalaksanaan Medis DHF
9. Mengetahui Asuhan Keperawatan DHF

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Prevalensi DHF
Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah
penderita DBD setiap tahunnya. Menurut WHO, negara Indonesia ialah negara dengan
kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara sejak tahun 1968 hingga 2009 (Anonim, 2010).
Angka kesakitan DBD pada tahun 2011 di wilayah Provinsi Sulawesi Utara
khususnya kota Manado sebesar 156 kasus dari total 1485 kasus di seluruh wilayah
provinsi sulut (Anonim, 2011). Total kunjungan penderita DBD Pada periode tahun
2008-2012 di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado mencapai 3077 dengan total kasus
baru sebanyak 2736 (Soputan, 2013) dan berdasarkan data instalasi rekam medik,
jumlah penderita DBD yang menjalani rawat inap tahun 2013 di RSUP Prof. Dr. R.D
Kandou Manado sebanyak 315 dengan 242 diantaranya ialah anakanak dengan umur 2-
12 tahun (Anonim, 2014).

B. Pengertian Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)


Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
aedes aegypti. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak.
Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah.
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit epidemik akut yang
disebabkan oleh virus yang ditransmisikan oleh Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Penderita yang terinfeksi akan memiliki gejala berupa demam ringan sampai tinggi,
disertai dengan sakit kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian, hingga perdarahan
spontan (WHO, 2010). Terdapat sekitar 2,5 miliar orang di dunia beresiko terinfeksi
virus dengue terutama di daerah tropis maupun subtropis, dengan perkiraan 500.000

4
orang memerlukan rawat inap setiap tahunnya dan 90% dari penderitanya ialah anak-
anak yang berusia kurang dari 15 tahun (WHO, 2011).

C. Faktor Resiko DHF


1. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang
bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar).
2. Aktivitas
Orang yang diam (tidak bergerak), akan lebih banyak digigit nyamuk Ae.
aegypti dibandingkan dengan orang yang lebih aktif
3. Usia
Pada anak-anak < 5 tahun imunitas belum sempurna maka dari itu kekebalan
tubuh masih lemah untuk menangkal virus.
4. Status Gizi
Status status gizi yang salah satunya dipengaruhi oleh keseimbangan asupan
dan penyerapan gizi, khususnya zat gizi makro yang berpengaruh pada sistem
kekebalan tubuh

D. Tanda dan Gejala / Manisfestasi klinis


Kasus DHF di tandai oleh manisfestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan mendadak
yang dapat mencapai 40 derajat celcius atau lebih dan terkadang disetrai dengan
kekjang demam, sakit kepala, anoreksian, muntah-muntah (vomiting), epigastric
discomfort, nyeri perut kanan atas atau seluruh bagian perut; dan pendarahan, terutama
perdarahan kulit, walaupun hanya berupa uji tourniquet positif. Selain itu, pendarahan
kulit dapat terwujud memar atau dapat juga berupa pendarahan spontan mulai dari
petechiae (muncul pada hari-hari pertama demam dan berlangsung selama 3-6 hari)
pada extermitas, tubuh, dan muka, sampai epitaksis dan pendarahan gusi. Sementara
perdarahan gastrointestinal masih lebih jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi pada
kasus denga syok yang berkepanjangan atau setelah syok yang tidak dapat teratasi.
Perdarahan lain seperti perdarahan subkonjungtiva terkadang juga ditemukan. Pada

5
masa konvalesen sering kali ditemukan eritema pada telapak tangan dan kaki dan
hepatomegali. Hepatomegali pada umumnya dapat diraba pada permulaan penyakit
dan pembesaran hati, ini tidak sejajar dengan beratnya penyakit. Nyeri tekan sering
dan pebesaran hati ini tidak sejajar dengan dengan beratnya penyakit. Nyeri tekan
sering kali ditemukan tanpa ikterus maupun kegagalan peredaran darah (circulatory
failure).

E. Etiologi
Penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DHF) atau Dengue Haemorrhagic
Fever (DHF) adalah virus dengue. Di Indonesia, virus tersebut sampai saat ini telah
diisolasi menjadi 4 serotipe virus dengue yang termaksud dalam group B dari
arthropedi borne viruses (Arboviruses), yaitu DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Ternyata
DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang menjadi penyebab terbanyak. Di Thailand,
di laporkan bahwa serotipe DEN-2 adalah dominan. Sementara di Indonesia, yang
terutama dominan adalah DEN-3, tetapi akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi
DEN-2.
Infeksi oleh salah satu serotipe menimbulkan antibody seumur hidup terhadap
serotipe bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain. Virus
dengan ini terutama ditularkan melalui vector nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes
albopictus, aedes polynesiensis, dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis
nyamuk ini terdapat hampi di seluruh Indonesia kecuali di ketinggian lebih dari 1000 m
di atas permukaan laut.

F. Patofisiologi

Nyamuk Aedes spp yang sudah terin-fesi virus dengue, akan tetap infektif sepan-
jang hidupnya dan terus menularkan kepa-da individu yang rentan pada saat meng-gigit
dan menghisap darah.9 Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus de-ngue akan
menuju organ sasaran yaitu sel kuffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus lim-
paticus, sumsum tulang serta paru-paru. Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit

6
dan makrofag mempunyai peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan
masuknya genom virus ke dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk
komponen perantara dan komponen struktur virus. Setelah komponen struktur dirakit,
virus dilepaskan dari dalam sel.7 Infeksi ini menimbulkan reaksi immunitas protektif
terhadap serotipe virus tersebut tetapi tidak ada cross protective terhadap serotipe virus
lainnya.32

Secara invitro, antobodi terhadap virus dengue mempunyai 4 fungsi biologis yaitu
netralisasi virus, sitolisis komplemen, anti-body dependent cell-mediated cytotoxity
(ADCC) dan ADE.33 Berdasarkan perannya, terdiri dari antobodi netralisasi atau
neutralizing antibody yang memiliki serotipe spesifik yang dapat mencegah in-feksi
virus, dan antibody non netralising serotype yang mempunyai peran reaktif silang dan
dapat meningkatkan infeksi yang berperan dalam pathogenesis DBD dan DSS(7).
Terdapat dua teori atau hipotesis im-munopatogenesis DBD dan DSS yang masih
kontroversial yaitu infeksi sekunder (secondary heterologus infection) dan anti-body
dependent enhancement (ADE).7 Da-lam teori atau hipotesis infeksi sekunder
disebutkan, bila seseorang mendapatkan infeksi sekunder oleh satu serotipe virus
dengue, akan terjadi proses kekebalan ter-hadap infeksi serotipe virus dengue tersebut
untuk jangka waktu yang lama. Tetapi jika orang tersebut mendapatkan infeksi
sekunder oleh serotipe virus dengue lainnya, maka akan terjadi infeksi yang be-rat. Ini
terjadi karena antibody heterologus yang terbentuk pada infeksi primer, akan
membentuk kompleks dengan infeksi virus dengue serotipe baru yang berbeda yang
tidak dapat dinetralisasi bahkan cenderung membentuk kompleks yang infeksius dan
bersifat oponisasi internalisasi, selanjutnya akan teraktifasi dan memproduksi IL-1, IL-
6, tumor necrosis factor-alpha (TNF-A) dan platelet activating factor (PAF); aki-
batnya akan terjadi peningkatan (enhancement) infeksi virus dengue.7 TNF alpha akan
menyebabkan kebocoran dind-ing pembuluh darah, merembesnya cairan plasma ke
jaringan tubuh yang disebabkan kerusakan endothel pembuluh darah yang
mekanismenya sampai saat ini belum diketahui dengan jelas.34 Pendapat lain
menjelaskan, kompleks imun yang ter-bentuk akan merangsang komplemen yang

7
farmakologisnya cepat dan pendek dan ber-sifat vasoaktif dan prokoagulan sehingga
menimbulkan kebocoran plasma (syock hipolemik) dan perdarahan.35 Anak di bawah
usia 2 tahun yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus dengue dan terjadi infeksi dari ibu
ke anak, dalam tubuh anak tersebut terjadi non neutralizing antibodies akaibat adanya
infeksi yang persisten. Akibatnya, bila terjadi infeksi virus dengue pada anak tersebut,
maka akan langsung terjadi proses enhi bancing yang akan memacu makrofag mudah
terinfeksi dan teraktifas dan mengeluarkan IL-1, IL-6 dan TNF alpha juga PAF.

Pada teori ADE disebutkan, jika ter-dapat antibodi spesifik terhadap jenis virus
tertentu, maka dapat mencegah penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut, tetapi
sebaliknya apabila antibodinya tidak dapat menetralisasi virus, justru akan men-
imbulkan penyakit yang berat.7 Kinetik im-munoglobulin spesifik virus dengue di da-
lam serum penderita DD, DBD dan DSS, didominasi oleh IgM, IgG1 dan IgG3.

Selain kedua teori tersebut, masih ada teori-teori lain tentang pathogenesis DBD, di
antaranya adalah teori virulensi virus yang mendasarkan pada perbedaan serotipe virus
dengue yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4 yang kesemuanya dapat ditemukan
pada kasus-kasus fatal tetapi berbeda antara daerah satu dengan lainnya. Selanjutnya
ada teori antigen-antibodi yang berdasarkan pada penderita atau kejadian DBD terjadi
penurunan aktivitas sistem komplemen yang ditandai penurunan kadar C3, C4 dan C5.
Disamping itu, pada 48-72% penderita DBD, terbentuk kompleks imun antara IgG
dengan virus dengue yang dapat menempel pada trombosit, sel B dan sel organ tubuh
lainnya dan akan mempengaruhi aktivitas komponen sistem imun yang lain. Selain itu
ada teori modera-tor yang menyatakan bahwa makrofag yang terinfeksi virus dengue
akan melepas berbagai mediator seperti interferon, IL-1, IL-6, IL-12, TNF dan lain-lain,
yang bersa-ma endotoksin bertanggungjawab pada ter-jadinya sok septik, demam dan
peningkatan permeabilitas kapiler.

Pada infeksi virus dengue, viremia ter-jadi sangat cepat, hanya dalam beberapa hari
dapat terjadi infeksi di beberapa tempat tapi derajat kerusakan jaringan (tissue de-

8
struction) yang ditimbulkan tidak cukup untuk menyebabkan kematian karena in-feksi
virus; kematian yang terjadi lebih disebabkan oleh gangguan metabolic.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Tourniquet Test/Rumple Leed
Merupakan teknik pemeriksaan fisik yang dapat mengidentifikasi dan
stratifikasi penyakit demam berdarah. Demam berdarah dapat mengakibatkan
peningkatan permeabilitas kapiler, sebuah keadaan fisiologis yang dieksploitasi uji
ini dengan menerapkan tekanan berkelanjutan pada pembuluh darah kecil.
a. Pasang manset pada lengan atas
b. Tentukan sistol dan diastole
c. Tahan tekanan antara sistol dan diastole selama 5 menit
d. Hasil dinyatakan (+) bila terdapat 10 atau lebih petachie di bagian lengan
dengan luas 2,5 cm x 2,5 cm

2. Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan Pemeriksaan Darah Pasien :
a. Hb dan PCV meningkat ( ≥20 %)
b. Trambositopenia ( ≤ 100.000/ml), Nilai Normal: 150.000 –400.000 / µL
c. Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis), Nilai Normal: 5.000- 10.000/ µL
d. Ig. D. Dengan positif
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia, hipokloremia,
dan hiponatremia.
f. Umum dan pH darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolik : 𝑝𝐶𝑂2 < 35-40 mmHg dan 𝐻𝐶𝑂3 rendah
h. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

H. Penatalaksanaan Medis DHF


1. Penanganan DBD tanpa syok (Krtiteria WHO 1997)
- Jika Hb,Ht,Trombosit normal

9
o Observasi Rawat jalan, priksa Hb,Ht,Leukosit,Trombosit/24 jam.
- Jika Hb,Ht normal tetapi Trombosit 100.000-150.000
o Observasi Rawat jalan, periksa Hb,Ht,Leukosit,Trombosit/24 jam.
- Jika Hb,Ht normal tetapi trombosit <100.000
o Rawat
- Jika Hb,Ht meningkat tetapi Trombo normal/turun
o Rawat

2. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit > 20%


a) Terapi awal cairan intravena kristaloid 6-7 ml/kg/jam
 Perbaikan :
- Jika mengalami perbaikan (Ht dan frekuensi nadi turun, tekanan darah
membaik, produksi urine meningkat). Lakukan pengurangan infuse
kristaloid 5ml/kg/jam.
- Jika mengalami perbaikan kembali, lakukan pengurangan infuse kristaloid
menjadi 3ml/kg/jam.
- jika mngalami perbaikan kembali, lakukan penghentian infuse 24-48 jam.
 Tidak membaik :
- jika mengalami perburukan (Ht,Nadi meningkat,tekanan darah menurun <20
mmHg, produksi urine menurun. Lakukan infuse kristaloid 10 ml/kg/jam
- jika masih tidak membaik, lakukan infuse kristaloid 15 ml/kg/jam
- dan jika kondisi memburuk atau tanda-tanda syok. Lakukan pelaksanaan
sesuai protocol syok dan pendarahan.

I. Asuhan Keperawatan DHF


1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang
dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan
orang tua, dan pekerjaan orang tua

b. Keluhan Utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke Rumah Sakit
adalah panas tinggi dan anak lemah

10
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat
demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke-3 dan
ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk
pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksia, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri
oto dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola manta terasa pegal, serta
adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau
hematemesis

d. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita


Penyakit apa saja yang pernah diderita. Ada DHF, Anak bisa mengalami
serangan ulangan DHF dengan tipe virus yang lain.

e. Riwayat Imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.

f. Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan
status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual,
muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak
disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencakupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang

g. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang
bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar)

11
h. Pola Kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolisme frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, dan nafsu makan menurun
2) Eliminasi alvi (buang air besar). Kadang-kadang anak mengalami
diare/konstipasi. Sementara DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
3) Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering
kencing,sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi
hematuria.
4) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami
sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun
istirahatnya kurang.
5) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk
aedes aegypti.
6) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk
menjaga kesehatan.

i. Pemeriksaan Fisik
Meliputi, palpasi auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut :
1) Grade I : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital
dan nadi lemah
2) Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada perdarahan
spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan
tidak teratur.
3) Grade III : kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi lemah,
kecil, dan tidak teratur, serta tensi menurun.
4) Grade IV : kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak
terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit
tampak biru.

12
j. Sistem Integumen :
1) Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat
dingin, dan lembab
2) Kuku sianosis/tidak
3) Kepala dan leher.
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata
anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II, III,
IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan
gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hyperemia pharing
dan terjadi perdarahan telinga (pada grade II, III, IV).
4) Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terdapat
adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura), Rales
(+), Ronchi (+) yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
5) Abdomen. Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali) dan
asites
6) Ekstremitas. Akral dingin, serta terajdi nyeri otot, sendi, serta tulang

k. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai :
1) Hb dan PCV meningkat ( ≥20 %)
2) Trambositopenia ( ≤ 100.000/ml)
3) Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis)
4) Ig. D. Dengan positif
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
6) Umum dan pH darah mungkin meningkat.
7) Asidosis metabolik : 𝑝𝐶𝑂2 < 35-40 mmHg dan 𝐻𝐶𝑂3 rendah
8) SGOT/SGPT mungkin meningkat.

13
2. Masalah/ Diagnosis
a. Diagnosis medis : Dugaan (suspect) DHF.
b. Masalah yang dapat ditemukan pada pasien DHF antara lain :
- Peningkatan suhu tubuh (hipertemia).
- Nyeri
- Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, sehingga kurang dari kebutuhan
- Potensial terjadi perdarahan intra abdominal.
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
- Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, dan perawatan pasien
DHF
- Gangguan aktivitas sehari-hari
- Potensial untuk terjadinya reaksi transfuse

3. Intervensi/ Perencanaan
Apabila terdapat tanda-tanda DHF, segera rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan
penanganan segera. Sementara untuk mengatasi permasalahannya, perencanaan
yang diperlukan adalah :

a. Peningkatan Suhu tubuh


- Kajilah saat timbulnya demam
- Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi, dan pernapasan setiap 3 jam
atau lebih sering lagi
- Berikan penjelasan mengenai penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh.
- Berikan penjelasan kepada pasien/keluarga tentang hal-hal yang dapat
dilakukan untuk mengatasi demam dan menganjurkan kepada
pasien/keluarga untuk bersikap kooperatif
- Jelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut
tidak dilakukan.

14
- Anjurkan pasien untuk banyak minum, paling tidak ± 2,5 liter tiap 24 jam
dan jelaskan manfaatnya bagi pasien.
- Berikan kompres dingin pada daerah axilla dan lipatan paha
- Anjurkan agar pasien tidak memakai selimut dari pakaian yang tebal
- Catatlah asupan dan keluaran cairan
- Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dengan program
dokter.

b. Gangguan Rasa Nyaman Nyeri


- Kajilah tingkat nyeri yang dialami pasien dengan menggunakan skala nyeri
(0-10). Biarkan pasien memutuskan tingkat nyeri yang dialami, tipe nyeri
yang dialami, dan respons pasien terhadap nyeri.
- Berikan posisi yang nyaman dan usahakan situasi yang tenang.
- Berikan suasana yang gembira pada pasien, alihkan perhatian pasien dari
rasa nyeri (libatkan keluarga) misalnya : membaca buku, mendengar musik,
dan menonton TV.
- Berikan kesempatan pada pasien untuk berkomunikasi dengan teman-
temannya atau orang terdekat.
- Berikan obat-obat analgetik (kolaborasi dengan dokter).

c. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi (kurang dari kebutuhan) :


- Kajilah keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami oleh pasien
- Berikan makanan yang mudah ditelan, seperti bubur dan tim, serta
dihidangkan selagi masih hangat.
- Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
- Jelaskan manfaat makanan/nutrisi bagi pasien terutama saat sakit.
- Catatlah jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.

d. Potensial Terjadinya Perdarahan Lebih Lanjut Sehubungan Dengan


Trombositopenia :

15
- Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda klinis
- Monitor jumlah trombosit setiap hari
- Berikan penjelasan mengenai pengaruh trombositopenia pada pasien
- Anjurkan pasien untuk banyak istirahat

e. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit :


- Monitor keadaan umum pasien
- Observasi tanda-tanda vital setiap 2-3 jam
- Perhatikan keluhan pasien, seperti mata berkunang-kunang, pusing, lemah,
ekstremitas dingin, dan sesak napas.
- Apabila terjadi tanda-tanda syok hipovolemik, baringkan pasien terlentang
tanpa bantal
- Pasang infus beri terapi cairan intravena jika terjadi perdarahan (kolaborasi
dengan dokter)

f. Kurangnya Pengetahuan Keluarga Tentang Proses Penyakit, Diet, dan


Perawatan :
- Berikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk menanyakan hal-hal yang
ingin diketahui sehubungan dengan penyakitnya.
- Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya bagi pasien
dan keluarga.
- Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan obat-obatan pada
pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti

g. Gangguan Aktivitas Sehari-hari :


- Bantulah pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari seperti
: mandi, makan, dan eliminasi sesuai dengan tingkat keterbatasan pasien.
- Berikan penjelasan mengenai hal-hal yang dapat membantu dan
meningkatkan kekuatan fisik pasien
- Siapkan bel di dekat pasien.

16
h. Potensial Untuk Terjadinya Reaksi Transfusi :
- Pesan darah/komponen darah sesuai dengan instruksi medis.
- Cek ulang formulir permintaan darah sebelum dikirim
- Sebelum pemberian transfusi yakinkan bahwa pada daerah tusukan infus
tidak tampak tanda-tanda plebitis dan aliran infus lancer
- Gunakan blood set untuk pemberian transfuse
- Berikan cairan normal saline (NaCl) sebelum pemberian transfuse
- Jangan tunda pemberian transfusi lebih dari 30 menit setelah darah diterima
dari bank darah
- Cek ulang/ yakinkan bahwa darah yang akan diberikan sesuai dengan
kebutuhan pasien (perhatikan jenis darah, golongan darah, jumlah darah dan
masa kadaluwarsa). Perhatikan dan cocokan kode yang tertulis pada kantung
darah yang ada.
- Minta perawat lain untuk bersama-sama mengecek ulang, jangan mengecek
seorang diri.
- Jelaskan tentang tanda-tanda atau reaksi yang mungkin terjadi selama
pemberian transfusi.
- Anjurkan pasien/keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda atau
reaksi transfusi.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
aedes aegypti. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak.
Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah.
Adapun faktor resiko dhf :
1. Kondisi lingkungan
2. Aktivitas
3. Usia
4. Status gizi

B. Saran

Menjaga sanitasi lingkungan tetap sehat dan rutin melakukan 3M akan menghindari
kita terjangkit virus DBD.

18