Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Wanita normal yang mengalami kehamilan akan mengalami perubahan


fisiologik dan anatomik pada berbagai sistem organ yang berhubungan dengan
kehamilan akibat terjadi perubahan hormonal di dalam tubuhnya. Perubahan yang
terjadi dapat mencakup sistem gastrointestinal, respirasi, kardiovaskuler,
urogenital, muskuloskeletal dan saraf. Perubahan yang terjadi pada satu sistem
dapat saling memberi pengaruh pada sistem lainnya dan dalam menanggulangi
kelainan yang terjadi harus mempertimbangkan perubahan yang terjadi pada
masing-masing sistem. Perubahan ini terjadi akibat kebutuhan metabolik yang
disebabkan kebutuhan janin, plasenta dan rahim.1

Penyakit jantung masih merupakan salah satu penyebab kesakitan dan


kematian nonobstetrik yang tinggi pada kehamilan/persalinan, dapat terjadi pada
0,4-4% dari kehamilan. Dilaporkan angka rata-rata mortalitas wanita hamil dengan
klasifikasi New York Heart Association kelas I dan II sebesar 0,4 hingga 6,8 % dan
lebih tinggi lagi pada penderita yang tingkat keparahannya kelas III dan IV.
Dilaporkan bahwa penyakit jantung merupakan penyebab kematian sebesar 5,6 %
dari 1459 kehamilan di Amerika Serikat sejak tahun 1987 hingga 1990. Hal itu
disebabkan oleh peningkatan beban hemodinamik pada saat hamil, bersalin dan
melahirkan yang dapat meperburuk gejala dan mencetuskan berbagai macam
komplikasi pada wanita yang sebelumnya sudah menderita penyakit jantung.2

Deteksi dini serta follow up yang teliti serta penatalaksanaan yang agresif
sangat membantu untuk menurunkan angka mortalitas bagi wanita yang hamil
dengan penyakit jantung. Dibutuhkan pengetahuan tentang perubahan fisiologis
pada system kardiovaskuler selama kehamilan dan puerpurium, gejala dan tanda
yang menyerupai penyakit jantung pada kehamilan yang normal, efek dari
perubahan fisiologis pada kehamilan pada kelainan kardiovaskuler, dan diagnosis
serta penatalaksanaan pada penyakit kardiovaskuler yang sudah ada.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena


kehamilan dapat memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Dan penyakit
jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Penyakit jantung dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab kesakitan dan
kematian yang tinggi pada kehamilan atau persalinan. Pasien dengan penyakit
jantung biasanya dibagi dalam 4 golongan. Klasifikasi fungsional yang diajukan
oleh New York Heart Association adalah:1,2,3,4

Klas I : aktivitas tidak terganggu (tidak perlu membatasi kegiatan fisik).

Klas II : aktivitas fisik terbatas, namun tak ada gejala saat istirahat (bila
melakukan aktifitas fisik maka terasa lelah, jantung berdebar-debar, sesak
nafas atau terjadi angina pektoris).

Klas III : aktivitas ringan sehari-hari terbatas (kalau bekerja sedikit saja
merasa lelah, sesak nafas, jantung berdebar).

Klas IV : waktu istirahat sudah menimbulkan keluhan (memperlihatkan


gejala-gejala dekompensasio walaupun dalam istirahat).

Penyakit jantung yang berat dapat menyebabkan partus prematurus atau


kematian intrauterin karena oksigenasi janin terganggu. Dengan kehamilan
pekerjaan jantung menjadi sangat berat sehingga klas I dan II dalam kehamilan
dapat masuk ke dalam klas III atau IV.

2.2 Epidemiologi

Di Indonesia, angka kematian ibu akibat penyakit jantung dalam kehamilan


berkisar antara 1 –2%. Penyakit jantung rematik merupakan jenis penyakit jantung

2
terbanyak, dan lebih dari 90% biasanya dengan kelainan katup mitral (stenosis
katup mitral), disusul penyakit jantung kongenital dan penyakit otot jantung.1

Meskipun banyak kasus penyakit jantung dengan kehamilan dijumpai di


klinik dan rumah sakit di Indonesia, akan tetapi hanya sedikit yang pernah
dilaporkan dalam tulisan ilmiah. Dari laporan, mengenai insiden kelainan jantung
pada kehamilan diperoleh angka 3,1 % dari sekitar 20 % penderita yang dirawat di
Bagian Kebidanan dan Kandungan RSCM/FKUI Jakarta dan dikonsulkan ke
kardiologis. Menurut Samil angka kematian penyakit jantung di Bagian Kebidanan
dan Kandungan RSCM Jakarta merupakan urutan keempat setelah eklamsia,
perdarahan dan infeksi. Mortalitas terbanyak pada multipara sebesar 1,6 %, dengan
insiden 1,21 % dari seluruh kasus obstetric/ginekologis yang dirawat di bagian
tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Bambang DW, Suhatno Djoko Sumantri
terhadap 4741 kasus persalinan di RSU Dr. Soetomo Surabaya selama empat tahun
(1990-1993), didapatkan ibu hamil dengan penyakit jantung (tidak termasuk
hipertensi dalam kehamilan) adalah 31 kasus per tahun atau 0,65 % per tahun
dengan angka kematian sebesar 4,88 %. Dibandingkan dengan 0,3 % per tahun
(1972-1973) dan 0,5% per tahun (1978-1982), angka kejadian ibu hamil dengan
penyakit jantung tersebut menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun.1

2.3 Etiologi

Etiologi kelainan jantung dapat primer maupun sekunder. Kelainan primer


akibat kelainan kongenital, katup, iskemik dan kardiomiopati. Sedangkan sekunder
akibat penyakit lain seperti hipertensi, anemia berat, dan lain-lain.1,3

2.4 Kehamilan dan Fisiologi Kardiovaskuler

Adaptasi normal yang dialami seorang wanita yang mengalami kehamilan


termasuk system kardiovaskuler akan memberikan gejala dan tanda yang sukar
dibedakan dari gejala penyakit jantung. Keadaan ini yang menyebabkan beberapa
kelainan yang tidak dapat ditoleransi pada saat kehamilan.1,2

3
a. Perubahan Hemodinamik

Pada wanita hamil akan terjadi perubahan hemodinamik karena peningkatan


volume darah sebesar 30-50% yang dimulai sejak trimester pertama dan
mencapai puncaknya pada usia kehamilan 32-34 minggu dan menetap sampai
aterm. Sebagian besar peningkatan volume darah ini menyebabkan
meningkatnya kapasitas rahim, mammae, ginjal, otot polos dan sistem vaskuler
kulit dan tidak memberi beban sirkulasi pada wanita hamil yang sehat.
Peningkatan volume plasma (30-50%) relatif lebih besar dibanding peningkatan
sel darah (20-30%) mengakibatkan terjadinya hemodilusi dan menurunya
konsentrasi hemoglobin. Peningkatan volume darah ini mempunyai 2 tujuan
yaitu pertama mempermudah pertukaran gas pernafasan, nutrien dan metabolit
ibu dan janin dan kedua mengurangi akibat kehilangan darah yang banyak saat
kelahiran.

Peningkatan volume darah ini mengakibatkan cadiac output saat istirahat


akan meningkat sampai 40%. Peningkatan cadiac output yang terjadi mencapai
puncaknya pada usia kehamilan 20 minggu. Pada pertengahan sampai akhir
kehamilan cadiac output dipengaruhi oleh posisi tubuh. Sebagai akibat
pembesaran uterus yang mengurangi venous return dari ekstremitas bawah.
Posisi tubuh wanita hamil turut mempengaruhi cadiac output dimana bila
dibandingkan dalam posisi lateral kiri, pada saat posisi supinasi maka cadiac
output akan menurun 0,6 l/menit dan pada posisi tegak akan menurun sampai
1,2 l/menit. Umumnya perubahan ini hanya sedikit atau tidak memberi gejala,
dan pada beberapa wanita hamil lebih menyukai posisi supinasi. Tetapi pada
posisi supinasi yang dipertahankan akan memberi gejala hipotensi yang disebut
supine hypotensive syndrome of pregnancy. Keadaan ini dapat diperbaiki
dengan memperbaiki posisi wanita hamil miring pada salah satu sisi, Perubahan
hemodinamik juga berhubungan dengan perubahan atau variasi dari cadiac
output.

Cadiac output adalah hasil denyut jantung dikali stroke volume. Pada tahap
awal terjadi kenaikan stroke volume sampai kehamilan 20 minggu. Kemudian

4
setelah kehamilan 20 minggu stroke volume mulai menurun secara perlahan
karena obstruksi vena cava yang disebabkan pembesaran uterus dan dilatasi
venous bed. Denyut jantung akan meningkat secara perlahan mulai dari awal
kehamilan sampai akhir kehamilan dan mencapai puncaknya kira-kira 25 persen
diatas tanpa kehamilan pada saat melahirkan.

Curah jantung (cadiac output) juga berhubungan langsung dengan tekanan


darah merata dan berhubungan terbalik dengan resistensi vascular sistemik. Pada
awal kehamilan terjadi penurunan tekanan darah dan kembali naik secara
perlahan mendekati tekanan darah tanpa kehamilan pada saat kehamilan aterm.
Resistensi vascular sistemik akan menurun secara drastis mencapai 2/3 nilai
tanpa kehamilan saat kehamilan sekitar 20 minggu. Dan secara perlahan
mendekati nilai normal pada akhir kehamilan. Cadiac output sama dengan
oxygen consumption dibagi perbedaan oksigen arteri-venous sistemik Oxygen
consumption ibu hamil meningkat 20 persen dalam 20 minggu pertama
kehamilan dan terus meningkat sekitar 30 persen diatas nilai tanpa kehamilan
pada saat melahirkan. Peningkatan ini terjadi karena kebutuhan metabolisme
janin dan kebutuhan ibu hamil yang meningkat.

Cadiac output juga akan meningkat pada saat awal proses melahirkan. Pada
posisi supinasi meningkat sampai lebih dari 7 liter/menit. Setiap kontraksi uterus
cadiac output akan meningkat 34 persen akibat peningkatan denyut jantung dan
stroke volume, dan cadiac output dapat meningkat sebesar 9 liter/menit. Pada
saat melahirkan pemakaian anestesi epidural mengurangi cadiac output menjadi
8 liter/menit dan penggunaan anestesi umum juga mengurangi cadiac output.
Setelah melahirkan cadiac output akan meningkat secara drastis mencapai 10
liter/menit (7-8 liter / menit dengan seksio sesaria) dan mendekati nilai normal
saat sebelum hamil, setelah beberapa hari atau minggu setelah melahirkan.
Kenaikan cadiac output pada wanita hamil kembar dua atau tiga sedikit lebih
besar dibanding dengan wanita hamil tunggal. Adakalanya terjadi sedikit
peningkatan cadiac output sepanjang proses laktasi.

5
Perubahan unsur darah juga terjadi dalam kehamilan. Sel darah merah akan
meningkat 20-30% dan jumlah leukosit bervariasi selama kehamilan dan selalu
berada dalam batas atas nilai normal. Kadar fibronogen, factor VII, X dan XII
meningkat, juga jumlah trombosit meningkat tetapi tidak melebihi nilai batas
atas nilai normal. Kehamilan juga menyebabkan perubahan ukuran jantung dan
perubahan posisi EKG. Ukuran jantung berubah karena dilatasi ruang jantung
dan hipertrofi. Pembesaran pada katup trikuspid akan menimbulkan regurgitasi
ringan dan menimbulkan bising sistolik normal grade 1 atau 2. Pembesaran
rahim keatas rongga abdomen akan mendorong posisi diafragma naik keatas dan
mengakibatkan posisi jantung berobah kekiri dan keanterior dan apeks jantung
bergeser keluar dan keatas. Perubahan ini menyebabkan perubahan EKG
sehingga didapati deviasi aksis kekiri, sagging ST segment dan sering didapati
gelombang T yang inversi atau mendatar pada lead III.

b. Distribusi Aliran Darah

Aliran darah pada wanita hamil tidak sepenuhnya diketahui. Distribusi


aliran darah dipengaruhi oleh resistensi vaskuler lokal. Renal blood flow
meningkat sekitar 30 persen pada trimester pertama dan menetap atau sedikit
menurun sampai melahirkan. Aliran darah ke kulit meningkat 40 - 50 persen
yang berfungsi untuk menghilangkan panas. Mammary blood flow pada wanita
tanpa kehamilan kurang dari 1 persen dari cadiac output. Dan dapat mencapai 2
persen pada saat kehamilan aterm. Pada wanita yang tidak hamil aliran darah ke
rahim sekitar 100 ml/menit (2 persen dari cadiac output) dan akan meningkat
dua kali lipat pada kehamilan 28 minggu dan meningkat mencapai 1200
ml/menit pada saat kehamilan aterm, mendekati jumlah nilai darah yang
mengalir ke ginjalnya sendiri. Nilai semasa kehamilan pembuluh darah rahim
berdilatasi maksimal, aliran darah meningkat akibat meningkatnya tekanan
darah maternal. Pada dasarnya wanita hamil selalu menjaga aliran darah ke
rahimnya, apabila redistribusi aliran darah total diperlukan oleh ibu atau jika
terjadi penurunan tekanan darah maternal dan cadiac output, maka aliran darah
ke uterus menurun dan tetap dipertahankan.1,2

6
2.5 Faktor Resiko
1. Penyakit Jantung Akibat Demam Reumatik
Sebagian besar penyakit jantung pada kehamilan disebabkan oleh demam
rematik. Manifestasi yang terbanyak adalah poliartritis migrant serta karditis.
Perubahan kehamilan yang menyulitkan diagnosis demam rematik adalah nyeri
sendi pada wanita hamil mungkin oleh karena sikap tubuh yang memikul beban
yang lebih besar sehubungan dengan kehamilannya serta meningkatnya laju endap
darah dan jumlah leukosit. Bila terjadi demam rematik pada kehamilan, maka
prognosisnya akan buruk. Adanya aktivitas demam rematik dapat diduga bila
terdapat:
a. Suhu subfebris dengan takikardi yang lebih cepat dari semestinya
b. Leukositosis dan laju endap darah yang tetap tinggi
c. Terdengar desir jantung yang berubah-ubah sifatnya maupun tempatnya
2. Penyakit Jantung Kongenital
Biasanya kelainan jantung bawaan oleh penderita sebelum kehamilan, akan
tetapi kadang-kadang dikenal oleh dokter pada pemeriksaan fisik waktu hamil.
Dalam usia reproduksi dapat dijumpai koarktatio aortae, duktus arteriosus Botalli
persistens, defek septum serambi dan bilik, serta stenosis pulmonalis. Penderita
tetralogi Fallot biasanya tidak sampai mencapai usia dewasa kecuali apabila
penyakit jantungnya dioperasi. Pada umunya penderita kelainan jantung bawaan
tidak mengalami kesulitan dalam kehamilan asal penderita tidak sianosis dan tidak
menunjukkan gejala-gejala lain di luar kehamilan. Penyakit jantung bawaan dibagi
atas :
a. Golongan sianotik (right to left shunt)
b. Golongan asianotik (left to right shunt)
c. Penyakit jantung hipertensi
Penyakit jantung hipertensi sering dijumpai pada kehamilan, terutama pada
golongan usia lanjut dan sulit diatasi. Apapun dasar penyakit ini, hipertensi
esensial, penyakit ginjal atau koaktasio aorta, kehamilan akan mendapat komplikasi
toksemia pada 1/3 jumlah kasus disertai mortalitas yang tinggi pada ibu maupun
janin. Tujuan utama pengobatan penyakit jantung hipertensi adalah mencegah

7
terjadinya gagal jantung. Pengobatan ditujukan kepada penurunan tekanan darah
dan control terhadap cairan dan elektrolit. Perubahan tersebut disebabkan oleh :
a. Hipervolemia: dimulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya
pada 28-32 minggu lalu menetap.
b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh karena pembesaran rahim.
Dalam kehamilan :
a. Denyut jantung dan nadi: meningkat
b. Pukulan jantung meningkat.
c. Tekanan darah menurun sedikit.
Maka dapat dipahami bahwa kehamilan dapat memperbesar penyakit jantung
bahkan dapat menyebabkan payah jantung (dekompensasi kordis). Frekuensi
penyakit jantung dalam kehamilan berkisar antara 1-4%. Pengaruh kehamilan
terhadap penyakit jantung, saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah :
a. Pada kehamilan 32-36 minggu, dimana volume darah mencapai puncaknya
(hipervolumia).
b. Pada kala II, dimana wanita mengerahkan tenaga untuk mengedan dan
memerlukan kerja jantung yang berat.
c. Pada Pasca persalinan, dimana darah dari ruang intervilus plasenta yang
sudah lahir, sekarang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu.
d. Pada masa nifas, karena ada kemungkinan infeksi
2.6 Klasifikasi
Kehamilan yang disertai penyakit jantung secara klinis dibagi menjadi empat
stadium :5
Kelas I :
- Tanpa gejala pada kegiatan biasa
- Tanpa batas gerak biasa
Kelas II :
- Waktu istirahat tidak terdapat gejala
- Gerak fisik terbatas
- Cepat lelah, palpitasi, sesak napas, dapat nyeri dada, edema tangan/tungkai

8
Kelas III : Gerakan sangat terbatas karena gerak minimal saja dapat
menimbulkan gejala payah jantung.
Kelas IV : Dalam keadaan istirahat sudah terjadi gejala payah jantung.

2.7 Manifestasi Klinis

Beberapa tanda dan gejala pada ibu hamil yang memiliki penyakit jantung
selama kehamilan meliputi adanya nyeri dada terkait aktivitas dan emosi ibu, sesak
nafas berat baik itu saat istirahat maupun terjadi di malam hari, dan sinkop
(kehilangan kesadaran karena kekurangan suplai oksigen di otak). Akibat beberapa
gejala tersebut, ibu akan cepat merasa lelah dan susah beraktivitas.6
Sedangkan tanda dan gejala yang dapat ditemukan selama pemeriksaan fisik
dapat berupa murmur, baik itu sistolik maupun diastolic, sianosis, terdapat distensi
vena jugular, pembesaran hati sehingga menimbulkan nyeri tekan, pembesaran
jantung, denyut jantung terlalu cepat, denyut jantung tidak seperti biasanya baik itu
terlalu cepat maupun terlalu lambat (palpitasi) dan edema perifer pada bagian
tubuh, khususnya di ekstremitas tubuh.7

Pemeriksaan Diagnostik

a. Anamnesa

Pada pasien dengan penyakit jantung yang telah terdiagnosis sebelum


kehamilannya, harus dicari data-data mengenai: usia saat pertama kali diagnosis
ditegakkan, gejala-gejala sebelumnya dan komplikasi yang ada, prosedur
diagnostik sebelumnya termasuk kateterisasi jantung, excercise test (treadmill) atau
ekokardiografi, riwayat pengobatan sebelumnya, riwayat operasi, derajat
kesembuhan, gejala sisa, obat-obat yang dipakai, diet, pembatasan-pembatasan
aktifitas, serta sedapat mungkin didapatkan catatan medis mengenai perawatan
rumah sakit, prosedur diagnostik dan pengobatan sebelumnya.

Pada pasien tanpa riwayat penyakit jantung sebelumnya, harus ditanyakan


mengenai riwayat demam rematik atau penyakit-penyakit lainnya yang
berhubungan dengan penyakit jantung seperti demam scarlet, sistemik lupus

9
eritematosus, penyakit paru-paru, penyakit ginjal, difteri atau pneumonia, riwayat
perawatan di Rumah sakit dan riwayat operasi besar sebelumnya.

Perlu ditanyakan juga mengenai tanda-tanda dan gejala penyakit jantung


seperti sianosis pada waktu lahir atau waktu aktivitas, “squatting” pada masa kanak-
kanak, infeksi saluran napas berulang, gangguan irama jantung, dispnu pada saat
istirahat atau aktifitas, batuk-batuk lama, hemoptisis, asma, nyeri dada, riwayat
keluarga dengan penyakit jantung dan kelainan-kelainan kongenital.2,8

b. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik perlu dievaluasi mengenai berat badan dan tinggi
badan, kelainan pada wajah, jari-jari dan tubuh yang menunjukkan kelainan
kongenital dan perubahan-perubahan pada kulit seperti sianosis, pucat, angioma,
xantelasma, dan xanthoma. Tekanan darah harus diukur secara hati-hati dengan cuff
yang sesuai, kalau perlu pada kedua lengan dan pada beberapa posisi. Denyut nadi
radial harus dinilai dengan cermat, pada Aorta Insufisiensi dapat dijumpai denyut
yang kolaps (Collapsing pulse), denyut yang lemah pada cadiac output yang rendah,
pulsus alternans atau pulsus paradoksus.

Inspeksi pada kepala dan wajah untuk mencari adanya tanda-tanda kelainan
kongenital, pengukuran JVP dan penilaian denyut karotid dan kelenjar thyroid.
Inspeksi dan palpasi pada dada untuk mencari adanya kelainan bentuk dinding
toraks seperti pectus excavatum, precordial bulging, denyut apeks kordis, thrill.
Pada auskultasi perlu dinilai bunyi jantung I, II, III, IV, murmur jantung, opening
snap, gallop dsb. Selanjutnya juga perlu dilakukan pemeriksaan pada paru-paru,
abdomen dan ekstremitas serta sistim-sistim organ tubuh lainnya. 8

c. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium rutin, seperti hematologis, kimia darah, gula darah.

2. EKG, bila perlu dapat dilakukan monitor 24 jam.

3. Phonokardiogram, untuk menilai bunyi jantung dan murmur.

10
4. Ekokardiografi.

5. Lain-lain, seperti kultur tenggorok (throat culture), C-reactive protein,


ASTO, kultur darah.9

d. Diagnosis

Diagnosis biasanya dapat ditegakkan bila ditemukan adanya satu diantara


gejala-gejala berikut :

1. Bising diastolik, presistolik, atau bising jantung terus-menerus;

2. Bising jantung yang nyaring, terutama bila disertai thrill;

3. Pembesaran jantung yang jelas pada gambaran foto toraks;

4. Aritmia yang berat. Kadang-kadang penyakit jantung dalam kehamilan baru


diketahui kalau sudah terjadi dekompensasio seperti adanya sesak nafas,
sianosis, edema atau asites.3,9

2.8 Penatalaksanaan

A. Pengawasan antenatal

1. Rawat bersama dengan ahli kardiologi.


2. Banyak istirahat karena jantung melakukan kerja ekstra saat hamil dengan
peningkatan sekitar 12-15 bpm selama hamil.
3. Pengawasan antenatal lebih sering disertai pemeriksaan EKG dan
Ekokardiografi.
4. Serial USG sehingga dapat dipantau kesejahteraan janin dalam Rahim.
5. Perhatikan saat kehamilan berusia 32-34 minggu karena puncak hemodulasi
besar kemungkinan terjadi akut dekompensasio kordis.
6. Pengobatan tergantung dari ahli kardiologi
- Tingkat I : Tanpa pengobatan
- Tingkat II : Perhatikan saat kehamilan berusia 28-34 minggu
- Tingkat I-II
1. Frekwensi ANC trimester I-II setiap dua minggu

11
2. Pada trimester II:
- Setiap minggu
- Konsultasi dokter anak atau kardiolog
3. Nasihat dietnya:
- Kurangi garam
- Banyak minum yang memperlancar diuresis
4. Pengawasan ketat terhadap:
- Nadinya agar tidak melebihi 20-28 x/menit
- Temperature untuk menetapkan kemungkinan infeksi
- Perhatikan bertambahnya BB, tidak melebihi ½ kg/minggu
5. Berikan nasihat bila timbul keluhan agar segera datang kembali
6. Setiap bulan, konsultasi rutin pada kardiolog atau bila dipandang perlu
- Tingkat III-IV : rawat dirumah sakit bersama
- Kelas III
1. Setiap minggu sejak trimester II
2. Perhatikan keluhan dan gejala dekompensasio kordisnya
3. Konsultasi dengan kardiolog / dokter anak sesuai dengan indikasi atau
dilakukan secara rutin
4. Sekitar 14 hari menjalang persalinan harus masuk rumah sakit untuk
persiapan definitive
- Kelas IV
1. Sebagian besar waktunya di rumah sakit, dengan perawatan bersama
dokter anak, kardiolog
2. Persiapan untuk menghadapi persalinan sehingga terhindar dari
dekompensasio kordis

B. Pertolongan persalinan penyakit jantung pada kehamilan


Persalinan pada bumil yang menderita penyakit jantung disesuaikan dengan
tingkat penyakitnya, yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat I : Dapat dengan persalinan spontan

12
Tingkat II-IV : Hindari kala dua panjang, profilaksis dengan forsep
ekstraksi
b. Postpartum
1. Perhatikan regurgitasi darah yang besar sehingga dapat terjadi
dekompensasio kordis akuta
2. Pada kasus dengan HPP dapat diberikan oksitosin transfuse hanya
dengan pack Cel.
3. Pantau kemungkinan dekompensasio kordis pascanifas. Dapat
diberikan digalisasi atas saran ahli penyakit jantung.
Terdapat kemungkinan pendarah post partum sehingga memerlukan
uterotonika
- Untuk menimbulkan kontraksi otot uterus dapat diberikan oksitosin
bolus atau drip sehingga pendarahan post partum dapat dikendalikan
- Jangan diberikan ergometrin-preparat ergot karena dapat
menimbulakn
1) Vasokrontriksi pembuluh darah sehingga tahanan perifer makin meningkat
2) Dapat terjdi vasokontriksi pembuluh darah coroner sehingga menambah
beratya dekompensasio kordis.
Tindakan lain untuk menghentikan pendarahan adalah melakukan massae
bimanual. Pengawasan post partum dilakukan dirumah sakit selama 14 hari, sampai
dapat dijamin keaadaan jantungnya stabil untuk aktivitas puerperiumnya.
C. Profilasis antibiotic yang di rekomendasikan
1. Untuk persalinan dan kelahiran
- Ampisilin 2 gram IM atau IV, gentamisin 1,5 mg/kg BB IM atau IV pada
persalinan aktif, dosis tunggal dilanjutkan diberikan 8 jam kemudian dan
post partum
2. Regimen oral untuk prosedur minor atau pada pasien beresiko rendah
dengan pasien alergi penisilin
- Amoksilin 3 gram per oral 1 jam sebelum prosedur dilakukan dan 1,5
gram 6 jam kemudian

13
- Vankomisin 1 gram IV secara perlahan selama 1 jam, plus gentamisin
1,5 mg/kgBB IM atau IV yang diberikan 1 jam sebelum prosedur
dilakukan, dapat diulang sekali lagi 8 jam kemudian
2.9 Komplikasi

Ada beberapa macam komplikasi dari penyakit jantung pada kehamilan yaitu:
a. Eklampsia
Eklampsia adalah kejang grand mal akibat spasme serebrovaskular.
Kematian disebabkan oleh hipoksia dan komplikasi dari penyakit berat
yang menyertai.
b. Perdarahan serebrovaskular
Perdarahan serebrovaskular terjadi karena kegagalan autoregulasi aliran
darah otak pada MAP (Mean Arterial Pressure) diatas 140 mmHg.
c. Masalah liver dan koagulasi: HELLP Syndrome (hemolysis, Elevated Liver
Enzyme, Low Platelets Count).
Preeklampsia-eklampsia disertai timbulnya hemolisis, peningkatan enzim
hepar, disfungsi hepar dan trombositopenia.
d. Gagal ginjal
Diperlukan hemodialisis pada kasus yang berat.

e. Edema Paru
f. Kematian maternal
Munculnya satu atau lebih dari komplikasi tersebut dan muncul secara
bersamaan, merupakan indikasi untuk terminasi kehamilan berapapun umur
gestasi. Fetal Kematian perinatal dan morbiditas fetus meningkat. Pada usia
kehamilan 36 minggu, masalah utama adalah IUGR. IUGR terjadi karena plasenta
iskemi yang terdiri dari area infark. Kelahiran prematur juga sering terjadi aterm,
preeklampsia mempengaruhi berat lahir bayi dengan penigkatan risiko kematian
dan morbiditas bayi. Pada semua umur gestasi terjadi peningkatan risiko abrupsi
plasenta.
a. Komplikasi pada maternal
1. Gagal ginjal akibat tubuler nekrotik akut

14
2. Gagal jantung
3. Edema paru
4. Trombositopeni
5. Rupture plasenta yang menyebabkan pendarahan
b. Komplikasi pada janin
1. Persalinan premature
2. Pertumubuhan janin terhambat
3. Kematian perinatal
4. IUGR (Intra Utery Growth Restriction)
2.10 Prognosis

1. Bagi ibu

Bergantung pada beratnya penyakit, umur dan penyulit-penyulit lain. Pengawasan


pengobatan, pimpinan persalinan, dan kerjasama dengan penderita serta kepatuhan
dalam mentaati larangan, ikut menentukan prognosis. Angka kematian maternal
secara keseluruhan : 1-5% Angka kematian maternal bagi penderita berat : 15%

2. Bagi bayi

Bila penyakit jantung tidak terlalu berat, tidak begitu mempengaruhi kematian
perinatal. Namun pada penyakit yang berat, prognosis akan buruk karena akan
terjadi gawat janin.

KELAINAN JANTUNG BERISIKO RENDAH TERHADAP IBU


HAMIL10,11,12

A. ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD)

Atrial septal defect (ASD) merupakan kelainan jantung kongenital yang


paling sering ditemukan dalam kehamilan dan umumnya asimptomatik. Pada
pemeriksaan tampak tanda yang khas berupa dorongan ventrikel kanan dan bising
sistolik yang keras pada tepi sternum kiri, dan bunyi jantung kedua yang terpisah.
Pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) tampak hipertrofi ventrikel kanan dan

15
right bundle branch block dengan aksis jantung normal. Pada pemeriksaan foto
toraks tampak peningkatan vaskularisasi paru dan pembesaran ruang jantung kanan.

Biasanya perubahan pada kehamilan dapat ditolerir oleh penderita ASD


kecuali peningkatan volume darah yang terjadi pada trimester kedua. Ada beberapa
laporan mengenai terjadinya kegagalan jantung kongestif dan aritmia pada pasien-
pasien ini. Kegagalan jantung kongestif merupakan indikasi untuk melakukan
operasi untuk mengoreksi defek. Sebagian kecil penderita ASD kemudian
mengalami hipertensi pulmonal dan sindroma Eisenmenger ( shunt balik dari kanan
ke kiri karena tekanan arteri pulmonalis suprasistemik). Keadaan ini dapat
membahayakan jiwa penderita sehingga perlu penanganan yang hati-hati dan
serius.

B. VENTRICULAR SEPTAL DEFECT (VSD)

Pasien penderita VSD yang mencapai usia reproduksi umumnya mempunyai


defek yang kecil sebab defek yang besar memerlukan koreksi pada masa kanak-
kanak. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan getaran dan bising pada tepi sternum
kiri, bunyi jantung pertama yang keras dan bunyi gemuruh diastol. Pada defek yang
kecil pemeriksaan EKG umumnya nampak normal namun dapat pula tampak tanda
hipertrofi ventrikel kiri dan kanan. Pada foto toraks pembesaran ventrikel kanan
dan atrium kiri.

Umumnya kehamilan dapat ditolerir oleh penderita VSD karena kehamilan


menyebabkan penurunan resistensi vaskuler yang mengurangi terjadinya shunt kiri
– kanan. Morbiditas dan mortalitas meningkat bila terjadi hipertensi pulmoner 21
dan sindroma Eisenmenger. Pada masa postpartum penderita VSD dengan
hipertensi pulmonal berisiko untuk mengalami kegagalan jantung ketika terjadi
penurunan tekanan darah dan volume darah yang sesaat sehingga menyebabkan
shunt terbalik.

C. PATENT DUCTUS ARTERIOSUS

Dengan makin majunya teknik operasi jantung anak maka kasus ini sudah
jarang ditemukan pada orang dewasa. Kebanyakan penderita asimptomatik kecuali

16
bila terjadi komplikasi hipertensi pulmonal. Pada pemeriksaan fisik terdengar
bising pada interkosta II. Hipertrofi ventrikel kanan dan kiri dapat terlihat pada
pemeriksaan EKG, dan pada pemeriksaan foto toraks tampak hipervaskularisasi
paru serta pembesaran ventrikel kiri dan atrium kiri. Seperti pada kelainan shunt
yang lain maka pemeriksaan doppler dan ekokardiografi kontras bermanfaat untuk
menentukan dimensi ruang dan mendeteksi shunt.

Umumnya penderita dapat mentolerir perubahan pada kehamilan. Namun


seperti lesi shunt kiri-kanan yang lain harus dilakukan penanganan yang baik untuk
mencegah shunt balik yang terjadi karena hipotensi dan kehilangan darah
postpartum. Morbiditas dan mortalitas akan meningkat bila terjadi hipertensi
pulmonal.

D. REGURGITASI MITRAL

Regurgitasi mitral mempunyai banyak penyebab, namun pada wanita muda


penyebab tersering adalah rematik (selalu berhubungan dengan stenosis mitral).
Tanda yang khas pada pemeriksaan fisik adalah bising holosistolik pada apeks
jantung yang menjalar ke aksila dan pada pemeriksaan EKG tampak tanda
pembesaran atrium kiri. Fibrilasi atrium jarang ditemukan kecuali bila atrium kiri
sangat membesar.

Umumnya kehamilan dapat ditolerir dengan baik sebab pada kehamilan


normal terjadi penurunan resistensi vaskuler yang tidak membebani ventrikel. Bila
terjadi regurgitasi mitral yang berat akibat kongesti paru maka harus diberikan
diuresis dan digoxin profilaksis.

E. INSUFISIENSI AORTA

Seperti pada regurgitasi mitral, insufisiensi aorta jarang ditemukan pada


wanita usia reproduksi dan biasanya disebabkan oleh rematik, hampir selalu
berhubungan dengan penyakit katup mitral. Penyebab insufisiensi yang jarang
adalah sindroma Marfan dan pada pasien yang hamil perlu dilakukan evaluasi untuk
menentukan apakah insufisiensi aorta yang tejadi disebabkan oleh sindroma
Marfan.

17
Tanda khas pada pemeriksaan fisik adalah bising diastolik pada tepi atas
sternum yang paling kuat terdengar pada posisi duduk dan saat akhir ekspirasi. Pada
insufisiensi yang lama akan tampak gambaran pembesaran ventrikel kiri pada
pemeriksaan EKG dan foto toraks. Penanganannya sama dengan regurgitasi mitral.

F. LESI KATUP TRIKUSPIDAL DAN PULMONAL

Regurgitasi trikuspidal merupakan hal yang sangat umum ditemukan pada


kehamilan normal dan jarang menimbulkan dampak klinis kecuali bila regurgitasi
trikuspidal yang berhubungan dengan anomali Ebstein yang akan meningkatkan
morbiditas dalam kehamilan. Stenosis trikuspidal dan insufisiensi pulmonal jarang
ditemukan dalam kehamilan dan hanya ada beberapa laporan saja mengenai kasus
ini.

Stenosis pulmonal merupakan gambaran kelainan jantung kongenital yang


berdiri sendiri atau merupakan bagian dari tetralogi Fallot. Pada pemeriksaan fisik
gelombang “A” yang menonjol pada tekanan vena jugularis. Bising kresendo dan
dekresendo biasa terdengar sepanjang daerah parasternal kiri atas. Gambaran EKG
terlihat normal kecuali bila stenosis yang berat sehingga terjadi hipertrofi ventrikel
kanan dan deviasi aksis kanan. Pada pemeriksaan foto toraks tampak pembesaran
ventrikel kanan dan tonjolan arteri pulmonalis.

Kehamilan umumnya dapat ditolerir bahkan pada stenosis pulmonal yang


tidak dikoreksi. Walaupun pemasangan balon valvuloplasty perkutaneus
merupakan pengobatan terpilih namun bila terjadi kegagalan jantung yang 23
refrakter selama kehamilan maka operasi merupakan tindakan yang lebih baik
sebab pemasangan balon memberikan efek radiasi pada janin.

KELAINAN JANTUNG YANG BERISIKO SEDANG TERHADAP IBU


HAMIL

1. STENOSIS MITRAL

Stenosis katup mitral hampir selalu berhubungan dengan penyakit jantung


reumatik. Disfungsi katup akan terjadi seumur hidup. Kerusakan katup ini dipicu

18
oleh episode demam rheuma yang berulang. Demam rheumatik sendiri merupakan
respon imunologik terhadap infeksi streptococcus  hemolitik grup-A. Insiden
penyakit ini dalam populasi dipengaruhi oleh kondisi kemiskinan.

Pasien dengan stenosis mitral asimptomatik mempunyai umur harapan hidup


10 tahun sekitar 80%, namun bila kemudian menjadi simtomatik akan berkurang
menjadi 15%. Bila ada hipertensi pulmonal maka rata-rata harapan hidup kurang
dari 3 tahun. Kematian terjadi karena edem paru yang progresif, kegagalan jantung
kanan, emboli sistemik atau emboli paru.

Stenosis katup mitral menghalangi aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel
kiri pada saat diastol. Luas permukaan katup mitral yang normal sekitrar 4 – 5 cm2
. Gejala pada saat aktifitas akan nampak bila luas permukaan ini < 2,5 cm 2 . Gejala
pada saat istirahat dipastikan akan timbul bila luas permukaan < 1,5 cm 2 . Curah
jantung terbatas karena aliran darah yang relatif pasif selama diastol ; peningkatan
arus balik dari vena akan menyebabkan kongesti paru. Takikardia relatif dalam
masa kehamilan mengurangi pengisian ventrikel kiri dan selanjutnya
mempengaruhi curah jantung dan meningkatkan kongesti paru.

Kelelahan dan sesak pada saat aktifitas merupakan gejala khas untuk stenosis
mitral namun juga sering ditemukan pada kehamilan normal. Gejala lain berupa
bising diastolik dan distensi vena jugularis sering luput dari perhatian. Pemeriksaan
ekokardiografi diperlukan untuk menyingkirkan adanya stenosis mitral khususnya
pada pasien dari kelompok yang berisiko. Diagnosis ekokardiografi stenosis mitral
didasarkan pada gambaran khas stenosis berupa katup yang mengalami kalsifikasi.
Bila luas penampang katup kurang atau sama 24 dengan 1,0 cm2 biasanya
diperlukan penanganan farmakologi dalam kehamilan dan pemantauan
hemodinamik yang invasif pada saat persalinan. Hipertensi pulmonal yang
merupakan komplikasi yang memperburuk stenosis mitral dapat didiagnosis
dengan pemeriksaan ekokardiografi.

Penanganan antepartum pada penderita stenosis mitral bertujuan untuk


mencapai keseimbangan antara upaya untuk meningkatkan curah jantung dan

19
keterbatasan aliran darah yang melewati katup stenosis. Kebanyakan ibu hamil
memerlukan diuresis berupa pemberian furosemid. Pemberian -blocker akan
menurunkan denyut jantung, meningkatkan aliran darah yang melewati katup dan
menghilangkan kongesti paru.

Wanita dengan riwayat penyakit katup rheuma yang berisiko untuk kontak
dengan populasi yang mempunyai prevalensi tinggi untuk infeksi streptococcus
harus mendapat profilaksis penicilllin G peros setiap hari atau benzathine penicillin
setiap bulan. Pasien yang mengalami fibrilasi atrium dan riwayat emboli harus
diterapi dengan antikoagulan.

Pada saat persalinan sering terjadi dekompensasi karena nyeri akan


menginduksi takikardia. Kontraksi uterus meningkatkan aliran balik vena dan
kemudian terjadi kongesti paru. Hemodinamik penderita dengan luas katup < 1 cm
2 harus ditangani dengan bantuan kateter arteri pulmonalis. Denyut jantung
dipertahankan dengan mengontrol nyeri dan pemberian -blocker. Kala II
diperpendek dengan persalinan forcep atau vakum rendah. Seksio sesaria dilakukan
hanya atas indikasi obstetri. Pemberian diuresis yang progresif akan menurunkan
kongesti paru dan desaturasi oksigen.

2. STENOSIS AORTA

Stenosis aorta jarang ditemukan pada kehamilan karena kelainan ini sering
ditemukan pada populasi yang lebih tua, namun penderita stenosis aorta yang
mempuyai katup aorta bikuspidal dapat menjadi simptomatik pada usia 20- an dan
30-an. Stenosis aorta menandakan adanya obstruksi aliran darah yang keluar dari
ventrikel kiri. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bising sistolik kresendo dan
dekresendo pada tepi atas sternum, pada tipe yang berat bunyi jantung kedua tidak
25 terdengar. Pada EKG tampak tanda hipertrofi ventrikel kiri dan pada foto toraks
gambaran jantung membesar.

Pada kasus yang berat mortalitas ibu dilaporkan sekitar 17%, risiko untuk
mendapat bayi dengan kelainan jantung kongenital berkisar 17% - 26%, sehingga
dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ekokardiografi terhadap janin pada

20
trimester kedua. Penanganan pada pasien terutama adalah tirah baring dan
mempertahankan volume darah yang adekuat. Pada saat persalinan dilakukan
pemantauan sentral dengan kateter Swan-Ganz dan cegah terjadinya hipotensi.
Anestesi spinal dan epidural harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien stenosis
berat karena bahaya hipotensi. Bila memungkinkan sebaiknya dilakukan koreksi
stenosis sebelum kehamilan, namun juga telah dilaporkan penggantian katup aorta
pada saat kehamilan yang memberikan hasil memuaskan. Valvuloplasty balon pada
katup aorta telah berhasil dilakukan pada saat kehamilan dengan luaran maternal
dan perinatal yang memuaskan.

3. SINDROMA MARFAN

Merupakan kelainan autosom dominan dengan defek sintesis kolagen yang


mengenai mata, skelet, dan kardiovaskuler dengan derajat yang bervariasi. Gen
yang terkena berlokasi di kromosom 15. Manifestasi kardiovaskuler berupa prolaps
katup mitral dengan regurgitasi mitral, dilatasi aneurisma aorta yang berhubungan
dengan regurgitasi aorta.

Kehamilan akan meningkatkan risiko ruptur aorta pada penderita sindroma


Marfan. Morbiditas dan mortalitas tergantung pada apakah kelainan berupa dilatasi
pangkal aorta atau kelainan katup. Bila diameter pangkal aorta lebih dari 40 mm
maka kematian dapat mencapai 50%, sebaliknya bila aorta tidak membesar dan
katup tidak terkena maka kehamilan dapat mencapai aterm dengan morbiditas dan
mortalitas maternal yang rendah. Penderita harus diberitahu mengenai bahaya ini
dan mendapat pengawasan ketat terhadap gejala dan tanda diseksi aorta.
Pemeriksaan ekokardiogram serial dilakukan selama kehamilan untuk menilai
keadaan jantung khususnya pangkal aorta dan ada tidaknya 26 regurgitasi. Obat
beta-blocker secara selektif dapat menurunkan risiko dilatasi aorta yang progressif
dengan menurunkan tekanan pulsatil pada dinding aorta.

21
KELAINAN JANTUNG YANG BERISIKO TINGGI TERHADAP IBU
HAMIL

1. SINDROMA EISENMENGER

Pada sindroma ini terjadi hipertensi pulmonal yang mendekati tekanan


sistemik menyebabkan aliran balik dari shunt kiri – kanan menjadi shunt kanan –
kiri menyebabkan hipoksemia dan kematian. Pasien akan mengalami sianosis
perifer, kegagalan jantung kongestif dan hemoptisis. Kelainan kongenital yang
berupa shunt kiri – kanan seperti ASD, VSD atau PDA dengan hipertensi pulmonal
progresif dapat menyebabkan terjadinya sindroma Eisenmenger.

Keadaan ini akan menyebabkan mortalitas ibu yang sangat tinggi (23 – 50%)
yang dapat terjadi pada masa kehamilan atau periode postpartum. Penderita harus
diberitahu mengenai risiko ini dan ditawari untuk memilih terminasi kehamilan atau
melanjutkan kehamilannya. Bila penderita memilih untuk melanjutkan kehamilan
maka penanganannya meliputi tirah baring secara ketat, pemberian oksigen
kontinu, digoksin, pemantauan hemodinamik infasif pada periode peripartum,
percepat kala II dengan persalinan forsep rendah. Penderita harus dirawat di rumah
sakit. PaO2 ibu dipertahankan di atas 70% untuk menjamin oksigenasi janin yang
adekuat.

Berhubung karena tingginya kejadian pertumbuhan janin terhambat dan


kematian janin maka direkomendasikan untuk melakukan pemantauan janin secara
ketat dengan pemeriksaan USG serial dan NST dan atau pemeriksaan profil
biofisik. Periode peripartum merupakan periode yang genting berhubung karena
terjadi perubahan volume darah yang cepat dan kemungkinan perdarahan. Penderita
harus diawasi di rumah sakit selama seminggu sesudah persalinan sebab risiko
kematian ibu meningkat pada periode ini.

2. HIPERTENSI PULMONAL PRIMER

Hipertensi pulmonal primer merupakan keadaan dimana terjadi penebalan


abnormal dan konstriksi tunika media arteri pulmonalis yang menyebabkan fibrosis
tunika intima dan pembentukan trombus. Penyebabnya tidak diketahui, ditemukan

22
pada wanita muda dan menyebabkan peningkatan tekanan arteri pulmonalis yang
progresif. Gejalanya berupa sesak, fatique, palpitasi dan kadangkala sinkop.

Pada pemeriksaan fisik tampak penonjolan gelombang “A” pada vena


jugularis, desakan ventrikel kanan dan biasanya bunyi jantung kedua yang dapat
dipalpasi. Pada tahap akhir akan tampak tanda-tanda kegagalan jantung kanan
berupa peningkatan tekanan vena jugularis, hepatomegali dan edem. Pada
pemeriksaan EKG dan foto toraks tampak pembesaran ventrikel kanan dan deviasi
aksis jantung ke kanan.

Angka kematian maternal pada keadaan ini dapat melebihi 40%, bahkan
kematian tetap tinggi pada pasien yang asimptomatik atau dengan gejala yang
ringan pada saat sebelum hamil. Angka kematian janin dan neonatal pada kasus ini
juga tinggi. Penderita sering datang pada trimester kedua saat perubahan
hemodinamik yang maksimal dan sering dengan gejala kegagalan jantung kanan.
Berhubung karena tingginya angka kematian maternal maka penderita dianjurkan
untuk tidak hamil, dan bila hamil ditawarkan untuk menjalani terminasi kehamilan
pada trimester pertama. Namun bila penderita memilih untuk tetap melanjutkan
kehamilannya maka harus dilakukan tirah baring, rawat inap pada trimester ketiga,
pengobatan dini terhadap gejala kegagalan jantung kongestif dengan digoksin dan
diuretik dan lakukan pemantauan hemodinamik invasif selama persalinan.
Pemberian antikoagulan dapat memperbaiki prognosis penyakit ini. Nifedipin dosis
tinggi peros dan pemberian adenosin intravena bermanfaat untuk menurunkan
resistensi pembuluh darah pulmoner.

3. KARDIOMIOPATI PERIPARTUM

Kardiomiopati peripartum menyebabkan kegagalan jantung pada bulan


terakhir kehamilan atau pada 6 bulan pertama postpartum tanpa penyebab yang 28
jelas. Di Amerika Serikat insidennya bervariasi dari 1 per 4000 kelahiran sampai 1
per 1500 kelahiran. Puncaknya terjadi pada bulan kedua postpartum, meningkat
pada ibu yang berusia tua, multipara dan kulit hitam. Angka kematian ibu bervariasi
dari 25% – 50%.

23
Walaupun penyebabnya belum diketahui namun diduga karena hipertensi,
infeksi virus, reaksi imunologik dan defisiensi vitamin. Di Nigeria dilaporkan
insiden yang lebih tinggi karena ibu postpartum mengkonsumsi garam dalam
jumlah yang besar.

Gejala klinis yang timbul berupa orthopnea, dyspnea, kelemahan, palpitasi,


edem perifer dan kadang hemoptisis. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
kardiomegali, irama gallop, distensi vena-vena di daerah leher. Pemeriksaan EKG
tampak gambaran segmen ST yang abnormal dan perubahan gelombang T.
Kardiomegali dan kongesti vena pulmonal merupakan tanda khas pada pemeriksaan
foto toraks. Pemeriksaan ekokardiografi bermanfaat untuk menyingkirkan adanya
kelainan katup.

Pengobatan berupa tirah baring, hindari aktifitas fisik, pengobatan kegagalan


jantung kongestif dengan digoksin dan diuretik. Berhubung karena meningkatnya
risiko tromboembolik pada pasien ini maka perlu dipertimbangkan pemberian
heparin.

Prognosis tergantung pada perjalanan penyakit saat postpartum. Bila


kardiomegali menetap maka prognosisnya jelek, sebaliknya bila ukuran jantung
kembali normal dalam 6-12 bulan menandakan prognsosis yang lebih baik.
Penderita yang refrakter dianjurkan untuk menjalani transplantasi jantung dan
sudah ada laporan mengenai keberhasilan persalinan sesudah transplantasi.

24
BAB III

KESIMPULAN

Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena


kehamilan dapat memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Dan penyakit
jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Penyebab kelainan jantung pada kehamilan dapat dibagi menjadi dua primer
maupun sekunder. Adapun kelainan primer akibat kelainan kongenital, katup,
iskemik dan kardiomiopati. Sedangkan sekunder akibat penyakit lain seperti
hipertensi, anemia berat, dan lain-lain. Secara klinis kehamilan yangdisertai
penyakit jantung di bagi menjadi empat stadium.
Beberapa tanda dan gejala pada ibu hamil yang memiliki penyakit jantung
selama kehamilan meliputi adanya nyeri dada terkait aktivitas dan emosi ibu, sesak
nafas berat baik itu saat istirahat maupun terjadi di malam hari, dan sinkop
(kehilangan kesadaran karena kekurangan suplai oksigen di otak). Akibat beberapa
gejala tersebut, ibu akan cepat merasa lelah dan susah beraktivitas. Penatalaksanaan
pada ibu hamil dengan kelainan jantung tergantung dari stadium kelainan jantung.

25