Anda di halaman 1dari 5

ASKARIASIS

No.Dokumen : SOP / C / IX.ICD-X /


110 / 07 / 2016
No.Revisi : -
SOP Tanggal Terbit : Juli 2016
Halaman : 1/5 UPTD
Puskesmas Kaimana

dr. Vinsensia Thie


Kabupaten
NIP.197405142006052003
Kaimana

1. Pengertian Askariasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit
Ascaris lumbricoides.
Di Indonesia prevalensi ascariasis tinggi, terutama pada anak Frekuensinya
antara 60-90%
2. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas di dalam penatalaksanaan kasus Askariasis di
UPTD Puskesmas Kaimana
3. Kebijakan Sesuai Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Kaimana Nomor :
440/SK/C/IX/005/06/2016, Tentang Indikator Mutu Layanan Klinis
4. Referensi PMK no 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
5. Prosedur/ 5.1. Petugas melakukan anamnesis terhadap pasien
Langkah- 5.1.1. Keluhan :
langkah 5.1.1.1. Nafsu makan menurun, perut membuncit lemah, pucat,
berat badan menurun, mual, muntah.
5.1.1.2. Gejala Klinis timbul pada penderita dapat disebabkan
oleh cacing dewasa dan larva.
5.1.1.3. Gangguan karena larva : biasanya terjadi pada saat
berada diparu. Pada orang yang rentan pendarahan
kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada
paru yang disertai dengan batuk ,demam,dan
eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang
menghilang dalam waktu 3 minggu keadaan ini
disebutkan sindrom loeffler
ASKARIASIS
No.Dokumen : SOP / C / IX.ICD-X/
UPTD dr. Vinsensia Thie
110 / 07 / 2016
Puskesmas NIP.197405142006052003
Kaimana SOP No.Revisi : -
Tanggal Terbit : Juli 2016
Halaman : 2/5

5.1.1.4. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya


ringan, dan sangat tergantung dari banyaknya cacing
yang menginfeksi di usus. Kadang – kadang penderita
mengalami gejala ganggua n usus ringan seperti mual,
nafsu makan berkurang, diare, atau konstipasi.
5.1.1.5. Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi
malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi.
Efek yang serius terjadinya bila cacing – cacing ini
menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi
usus (ileus).
5.1.1.6. Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke
saluran empedu, apendiks, atau ke bronkus dan
menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang –
kadang perlu tindakan operatif.
5.1.2. Faktor resiko :
5.1.2.1. Kebiasaan tidak mencuci tangan
5.1.2.2. Kurangnya penggunaan jamban
5.1.2.3. Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk
5.1.2.4. Kebiasaan tidak menutup makanan sehingga dihinggapi
lalat
5.2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pemerikssaan penunjang
sederhana.
5.2.1. Pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
5.2.1.1. Pemeriksaan tanda vital
ASKARIASIS
No.Dokumen : SOP / C / IX.ICD-X /
UPTD
110 / 07 / 2016
Puskesmas dr. Vinsensia Thie
Kaimana SOP No.Revisi : - NIP.197405142006052003
Tanggal Terbit : Juli 2016
Halaman : 3/5

5.2.1.2 Pemeriksaa generalis tubuh : konjungtiva anemis,


terdapat tanda – tanda malnutrisi, nyeri abdomen jika
terjadi obstruksi.
5.2.2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ini adalah dengan
melakukan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur
dalam tinja memastikan diagnosis Ascarisis.
5.3. Petugas menegakkan diagnosa klinis
5.3.1. Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.
5.3.2. Diagnosis banding : jenis kecacingan lainnya
5.3.3. Komplikasi : anemia defisiensi besi
5.4. Petugas memberikan penatalaksanaan
5.4.1. Memberi pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya
kebersihan diri dan lingkungan, antara lain :
5.4.1.1. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun
5.4.1.2. Menutup makanan
5.4.1.3. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga
5.4.1.4. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk
5.4.1.5. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih
dan tidak lembab
5.4.2. Farmakologis
5.4.2.1. Pirantel pamoat 10 mg/kgBB, dosis tunggal, atau
5.4.2.2. Mebendazole, 500 mg, dosis tunggal , atau
5.4.2.3. Albendazole, 400 mg dosis tunggal. Tidak boleh
diberikan pada ibu hamil.
ASKARIASIS
No.Dokumen : SOP / C / IX.ICD-X /
UPTD dr. Vinsensia Thie
110 / 07 / 2016
Puskesmas NIP.197405142006052003
Kaimana SOP No.Revisi : -
Tanggal Terbit : Juli 2016
Halaman : 4/5

5.4.3. Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara


massal pada masyarakat. Syarat untuk pengobatan massal antara
lain :
5.4.3.1. Obat mudah diterima dimasyarakat
5.4.3.2. Aturan pemakaian sederhana
5.4.3.3. Mempunyai efek samping yang minim
5.4.3.4. Bersifat polivalen,sehingga dapat berkhasiat terhadap
beberapa jenis cacing
5.4.3.5. Harga mudah dijangkau
5.5. Petugas memberikan Konseling dan Edukasi
5.5.1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai
pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu antar
lain :
5.5.1.1. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga
sehingga kotoran manausia tidak menimbulkan
pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat
tinggal kita.
5.5.1.2. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk
5.5.1.3. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh
tinja manusia.
5.5.1.4. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola
limbah/sampah.
5.5.1.5. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan
aktivitas dengan menggunakan sabun.
5.5.1.6. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih
dan tidak lembab.
ASKARIASIS
No.Dokumen : SOP / C / IX.ICD-X /
UPTD dr. Vinsensia Thie
110 / 07 / 2016
Puskesmas NIP.197405142006052003
Kaimana SOP No.Revisi : -
Tanggal Terbit : Juli 2016
Halaman : 5/5

6. Unit terkait 6.1. Pelayanan poli umum


6.2. Pustu