Anda di halaman 1dari 4

Temperamen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, temperamen yaitu sifat batin yang tetap
mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran (periang, penyedih).

Temperamen adalah gabungan dari sifat atau karakteristik dalam diri seseorang yang
cenderung menentukan cara ia berpikir, bertindak, dan merasa. Temperamen kita merupakan
bawaan sejak lahir.

1. Teori Immanuel Kant (1724-1804)


Temperamen memiliki dua aspek yaitu :
a. Aspek fisiologis yaitu konstitusi tubuh dan segala macam cairan dalam tubuh.
b. Aspek psikologis yaitu kecenderungan kejiwaan yang disebabkan oleh komposisi
darah.

Selanjutnya Kant membagi temperamen menjadi :

1.) Temperament Sanguinis (orang dengan darah ringan). Sifat-sifat khas golongan ini
ialah selalu penuh harapan, segala sesuatu kadang dianggap penting, sering
menjanjikan sesuatu tetapi jarang menepatinya, senang menolong orang lain,
pergaulan peramah dan periang, bukan penakut, dan lekas bosan.
2.) Temperament Melancholis (orang dengan darah berat). Sifat-sifat khasnya ialah yang
bersangkutan dengannya dianggap penting, kebimbangan, tidak mudah membuat
janji, mengurangi kepuasan akan keadaan dan kurang dapat melihat kesenangan orang
lain.
3.) Temperament Choleris (orang dengan darah panas). Sifat-sifat khasnya yakni: Lekas
terbakar tetapi lekas padam atau tenang, tanpa membenci, Tindakan-tindakannya
cepat, tetapi tidak constant, Selalu sibuk, tetapi dalam kesibukannya itu ia lebih suka
memerintah daripada mengerjakannya sendiri, Mengejar kehormatan, Suka pada sikap
semu dan formal, Suka bermurah hati dan melindungi serta dalam berpakaian cermat
dan rapi
4.) Temperament Phlegmatis (orang dengan darah dingin). Sifat-sifat khas golongan
temperament ini adalah : Lambat menjadi panas tapi panas itu tahan lama; Tidak
mudah marah; Darah yang dingin itu tak pernah dirisaukannya; Cocok untuk tugas-
tugas ilmiah.
2. Teori Heymans
Hasil karya Heymens merupakan kemajuan satu langkah dalam lapangan tipologi atas
dasar temperament, tidak seperti ahli-ahli yang lebih dahulu yang menyusun teorinya
atas dasar pemikiran spekulatif, tetapi teorinya atas dasar data-data penyelidikan
empiris. Dasar klasifikasinya ialah tiga macam kualitas kejiwaan yaitu:

1.) Emosionalitas. Mudah atau tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh kesan-kesan.
Seperti eh mudah marah, suka tertawa, perhatian tidak mendalam, berhati dingin,
berhati-hati dalam menentukan pendapat, tidak praktis dan lain-lain
2.) Proses pengiring. Yaitu banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran
setelah kesan-kesan itu sendiri tidak lagi ada dalam kesadaran antara lain, tenang,
tidak lekas putus asa, bijaksana, suka menolong, ingatan baik, teliti, konsekuen,
berpikir bebas, dan lain-lain.
3.) Aktivitas. Ialah banyak sedikitnya orang menyatakan diri, menjelmakan perasaan-
perasaannya dan pikiran-pikirannya dalam tindakan spontan, antara lain, riang
gembira, suka bergerak, pandangan luas, lekas mengalah, boros, segan membuka hati
dan lain-lain

3. Teori G Ewald
Mempunyai titik berangkat dari sudut pandangan psikiatrik membuat perbedaan
secara tajam antara temprement dan watak.

1.) Temperamen. Temperament adalah konstitusi psikis, yang berhubungan dengan


konstitusi jasmani. Di sini keturunan atau dasar memainkan peranan penting
selanjutnya G Ewald berpendapat bahwa temperament itu sangat erat hubungannya
dengan biotonus (tegangan hidup, kekuatan hidup, tegangan energi), yaitu intensitas
serta irama hidup, yang mengatur kecepatan serta kekuatan kegiatan-kegiatan hidup.
2.) Watak. Ewald memberi batasan watak sebagai totalitas dari keadaan-keadaan dan cara
bereaksi jiwa terhadap perangsang. Secara teoritis dia membedakan antara: Watak
yang di bawa sejak lahir, yang merupakan dasar daripada watak genotipis yang erat
hubungannya dengan keadaan fisiologis dan Watak yang diperoleh, watak yang telah
dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, dan pendidikan.

4. Teori Enselhans
Berbeda dari Kant, Enselhans membatasi temperament pada segi perasaan saja, sebab
ia berpendapat memang hanya itulah yang ada. Adapun temperament itu tergantung
pada dua pokok yaitu:

1.) Kepekaan hidup afektif yaitu mendalam dan tidaknya pengaruh perangsang
2.) Bentuk kejadian afektif, dan ini tergantung pada dua hal lain, yaitu Mobilitas perasaan
dan kekuatan perasaan

5. Teori E Meumann (1862-1915)


Teorinya mengatakan watak atau karakter adalah disposisi kemauan yang manifest
dalam perbuatan, maka pembahasan tentang watak dapat dikerjakan melalui
pembahasan kemauan. Kemauan mengandung tiga aspek pokok yaitu:

1.) Aspek yang mempunyai dasar kejasmanian. Sifat-sifat kemauan itu mempunyai dasar
fisiologis dan pada pokoknya tergantung pada sistem syaraf
2.) Aspek afektif. Temperament oleh Meumann diberinya batasan sebagai bentuk afektif
aktivitas yang tergantung kepada kerja sama antara disposisi-disposisi afektif dan
volisional dengan menunjuk kepada sifat-sifat fundamental perasaan.
3.) Aspek kecerdasan. Mencakup tiga macam yaitu sifat kerja mental, taraf kecerdasan
intelektual, dan perbedaan-perbedaan cara berpikir

6. Teori J. Bahnsen (1830-1881)


Bahnsen berpendapat bahwa kepribadian ditentukan oleh tiga macam keadaan
kejiwaan yaitu :

1.) Temperamen mencakup spontanitas, reseptivitas, impresionabilitas dan reaktivitas


2.) Kemauan oleh Bahnsen dianggap penting dan mengendalikan sebagian besar
daripada tingkah laku
3.) Posodynie yaitu ketabahan manusia dalam menghadapi kesukaran atau dalam
menderita
4.) Daya susila yakni kecakapan manusia untuk membedakan dan menyakini hal-hal
yang baik dan yang buruk (dalam berbagai bentuk) seperti adil dan tidak adil, patut
dan tidak patut, dan sebagainya.
Suryabrata, Sumadi.Drs,B.A,M.A,Ed.s,Ph.D, 2006. Psikologi Kepribadian, Jakarta, PT
Raja Grafindo Persada.