Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wanita hamil mempunyai masalah yang rawan terhadap kekurangan zat besi dan
termasuk salah satu kelompok penderita anemia. (Manuaba IBG, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian WHO tahun 2016, diketahui bahwa prevalensi


anemia defisiensi besi di Asia >75%, di Indonesia kasus anemia gizi mencapai 63,5%,
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi anemia
pada ibu hamil di Indonesia sebesar 48.9 %. Pemberian tablet Fe di Indonesia pada
tahun 2018 sebesar 73.2 %. Presentase ini mengalami penurunan dibandingkan pada
tahun 2013 yang sebesar 76.2 %. Meskipun pemerintah sudah melakukan program
penanggulangan anemia pada ibu hamil yaitu dengan memberikan 90 tablet Fe kepada
ibu hamil selama periode kehamilan dengan tujuan menurunkan angka anemia ibu
hamil, tetapi kejadian anemia masih tinggi. (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh ibu, perubahan


perubahan itu untuk menyesuaikan tubuh ibu pada keadaan kehamilannya. Pada masa
kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi penggunaan zat-zat
makanan oleh tubuh berkurang sehingga kebutuhan tubuh akan sumber zat gizi juga
akan berkurang pada beberapa bulan pertama kehamilan. Untuk itu selama masa
kehamilan gizi ibu hamil harus tetap dijaga. Pola makan dan gaya hidup sehat dapat
Universitas Sumatera Utara 2 membantu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim ibu Pada masa kehamilan trisemester pertama (Manuaba, 2014).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) terdapat 37,1% ibu hamil
anemia yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gr/dl dengan proporsi yang
hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan pedesaan (37,8%). Tingginya

1
kejadian anemia ini erat kaitannya dengan faktor kurang asupan makanan bergizi saat
ibu hamil dan kurangnya kesadaran dalam mengkonsumsi tablet zat besi.
Anemia merupakan penurunan kadar hemoglobin dari 11 gr% pada trimester
pertama dan trimester ketiga,dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua. Anemia
sering dijumpai pada wanita hamil dari kalangan kurang mampu, tidak terbatas hanya
pada kalangan tersebut. Frekuensi anemia selama kehamilan sangat bervariasi, terutama
tergantung pemberian suplementasi zat besi (Fe) selama kahamilan. (Cunningham FG,
2014)
Penyebab anemia salah satunya adalah defisiensi zat–zat nutrisi. Penyebab
anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat,
bertambahnya zat gizi yang hilang dan kebutuhan yang berlebihan. Sekitar 75 % anemia
dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan penyebab kedua anemia dalam
kehamilan disebabkan oleh anemia megaloblastik yang dapat disebabkan oleh defisiensi
asam folat dan defisiensi vitamin B12 (Sarwono, 2016).

Kejadian anemia dapat membawa akibat negatif seperti gangguan dan hambatan
pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak dan kekurangan hemoglobin (Hb)
dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh
maupun otak. Anemia bisa menimbulkan bahaya terhadap kehamilan seperti abortus,
persalinan prematur, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terinfeksi
dan ketuban pecah dini (KPD). Bahaya dalam persalinan anemia bias menyebabkan
gangguan kekuatan mengejan,dalam kala III dan kala IV bisa menimbulkan perdarahan
postpartum primer dan sekunder, sedangkan dalam masa nifas anemia bisa
mengakibatkan infeksi puerperium, berkurangnya pengeluaran ASI dan anemia pada
masa nifas (Manuaba IBG, 2014).

Anemia pada kehamilan juga menimbulkan bahaya terhadap janin. Sekalipun


tampaknya janin mampu menyerap berbagai nutrisi dari ibunya, dengan adanya anemia
kemampuan metabolisme tubuh akan berkurang sehingga pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam kandungan juga akan terganggu. Akibat anemia pada janin

2
antara lain yaitu abortus, kematian janin dalam kandungan, persalinan premature, berat
badan lahir rendah, dan dapat terjadi cacat bawaan pada bayi (Manuaba IBG, 2014).

Penanggulangan anemia pada ibu hamil dilaksanakan dengan pemeriksaan darah


yang dilakukan minimal dua kali yaitu pada kehamilan trimester pertama dan kehamilan
trimester ketiga. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar dari ibu hamil mengalami
anemia, selain itu juga perlu dilakukan pemberian tablet besi (Fe) sebanyak 90 tablet
selama kehamilan (Manuaba IBG, 2014).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan, maka perumusana masalah
dalam penyusunan Lapotan Kelompok ini adalah “ Bagaimanakah Pemberian Asuhan
Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Anemia sedang di PKM Darul Imarah” ?
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan kepada ibu hamil dengan
kehamilan dengan anemia sedang di PKM Daru Imarah dan mendokumentasikan
dalam bentuk soap.
b. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian data subjektif pada ibu hamil dengan anemia
sedang di PKM Darul Imarah
2. Mampu menentukan data objektif pada ibu hamil dengan anemia sedang di
PKM Darul Imarah
3. Mampu menegakkan analisa pada ibu hamil dengan anemia sedang di PKM
Darul Imarah
4. Mampu memberikan penatalaksanaan pada ibu hamil dengan anemia sedang di
PKM Darul Imarah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3
A. Tinjauan Umum Kehamilan
1. Definisi Kehamilan
Masa kehamilan dibagi menjadi tiga trimester yang masing – masing terdiri
dari 13 minggu atau tiga bulan menurut hitungan kalender. Pembagian waktu ini
diambil dari ketentuan yang mempertimbangkan bahwa lama kehamilan
diperkirakan kurang lebih 280 hari setara dengan 40 minggu dan 10 bulan, atau 9
bulan sejak hari pertama haid terakhir (HPHT). Pada kenyataannya, kehamilan tidak
berlangsung selama itu perubahan berlangsung ketika terjadi ovulasi kurang lebih
14 hari setelah haid terakhir (dengan perkiraan siklus 28 hari) Hal ini membuat
kehamilan berlangsung selama kurang lebih 266 hari atau 38 minggu. Dengan
penambahan 14 hari, maka lama kehamilan menjadi 280 hari, bila dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Namun dalam praktiknya trimester pertama secara umum
dipertimbangkan berlangsung pada minggu pertama hingga minggu ke 12 (12
minggu), dan trimester kedua pada minggu ke 13 hingga minggu ke 27 (15 minggu),
dan trimester ketiga pada minggu ke 28hingga minggu ke 40 (13 minggu) (Varney,
2010).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil
normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama
haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai
dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan,
triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin AB, 2010)
2. Fisiologi Kehamilan

Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang mempengaruhi oleh sistem


hormonal yang kompleks. Selama masa subur yang berlangsung 20 sampai 35
tahun, hanya 420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan dan terjadi
ovulasi (Manuaba, IAC, 2014).

Wanita setiap bulan melepaskan satu sampai dua sel telur (ovum) dari indung
telur (ovulasi), yang ditangkap oleh umbai-umbai (fimbriae) dan masuk ke dalam

4
vagina dan berjuta–juta sel mani (sperma) bergerak memasuki rongga rahim
kemudian masuk ke saluran telur. Pembuahan sel telur oleh sperma biasanya terjadi
di bagian yang menggembung dari tuba falopi (Manuaba IBG, 2014).

Di sekitar sel telur banyak berkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk
mencairkan zat – zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling
mudah dimasuki, masuklah sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur.
Peristiwa ini disebut pembuahan (Manuaba IBG, 2014).

Ovum yang dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak menuju ruang
rahim, kemudian melekat pada mukosa rahim untuk bersarang di ruang rahim,
peristiwa ini disebut nidasi. Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu sekitar
6-7 hari. Untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi janin dipersiapkan
plasenta (Manuaba IBG, 2014).

3. Diagnosa Kehamilan

Untuk dapat menegakan diagnosa kehamilan ditetapkan dengan melakukan


penilaian terhadap bebrapa tanda dan gejala hamil. Perubahan fisiologi yang terjadi
pada wanita hamil menyebabkan timbulnya perubahan – perubahan yang menjadi
tanda – tanda kehamilan. Tanda – tanda kehamilan tersebut antara lain : tanda tidak
pasti (presumptive sign), tanda kemungkinan (probability sign) dan tanda pasti
(positive sign) (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

1) Tanda tidak pasti (presumptive sign)

a. Amenorea (berhentinya menstruasi)

Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel


de Graaf dan ovulasi sehingga mentruasi tidak terjadi. Lamanya amenorea

5
dapat dikonfirmasi dengan memastikan hari pertama haid terakhir (HPHT)
dan digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan tafsiran persalinan
persalinan. Tetapi amenore juga dapat disebabkan oleh penyakit kronik
tertentu, tumor, pituitari, perubahan dan faktor lingkungan, malnutrisi dan
biasanya gangguan emosional seperti ketakutan akan kehamilan
(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

b. Mual (nausea) dan muntah (emesis)

Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung


yang berlebihan dan menimbulkan mual, muntah yang terjadi terutama pada
pagi hari yang disebut morning sicknes. Dalam batas tertentu hal ini masih
fisiologis, tetapi bila terlampau sering dapat menyebabkan gangguan
kesehatan yang disebut hiperemesis gravidarum (Siswosudarmo R dan
Emilia O, 2016).

c. Ngidam (menginginkan makanan tertentu)

Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang


demikian disebut ngidam. Ngidam sering terjadi pada bulan – bulan pertama
kehamilan dan akan hilang dengan makin tuanya kehamilan (Siswosudarmo
R dan Emilia O, 2016).

d. Syncope (pingsan)

Terjadinya gangguan sirkuklasi ke daerah kepala (sentral)


menyebabkan iskemia susunan syaraf pusat dan menimbulkan syncope atau
pingsan. Hal ini sering terjadi terutama jika berada pada tempat yang ramai,
biasanya akan hilang setelah 16 minggu (Siswosudarmo R dan Emilia O,
2016).

e. Kelelahan

6
Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari penurunan kecepatan
basal metabolisme pada kehamilan, yang akan meningkat seiring
pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas metabolisme hasil konsepsi
(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

f. Payudara tegang

Estrogen meningkatkan perkembangan sistem duktus pada payudara,


sedangkan progesteron menstimulasi perkembangan system alveolar
payudara. Bersama somatomamotropin, hormon – hormon ini menimbulkan
pembesaran payudara, menimbulkan perasaan tegang dan nyeri selama dua
bulan pertama kehamilan, pelebaran putting susu, serta pengeluaran
kolostrum (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

g. Sering miksi

Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa


penuh dan sering miksi. Frekuensi miksi yang tersering, terjadi pada
triwulan pertama akibat desakan uterus terhadap kandung kemih. Pada
triwulan kedua umumnya keluhan ini akan berkurang karena uterus yang
membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan, gejala bisa
timbul karena janin mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali
kandung kemih (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

h. Pigmentasi kulit

Pigmentasi kulit terjadi pada usia kehamilan 12 minggu ke atas.


Pigmentasi kulit disebabkan karena pengaruh hormon kortikisteroid
plasenta, yang sering ditemukan pada pipi disebut cloasma gravidarum, pada
dinding perut : striae livide, striae nigra, dan linea alba, pada sekitar

7
payudara : hiperpigmentasi areola mamae. Puting susu makin menonjol,
kelenjar montgomery makin menonjol (Siswosudarmo R dan Emilia O,
2016).

2) Tanda kemungkinan (probability sign)

a. Pembesaran perut

Pembesaran perut terjadi pada usia kehamilan setelah minggu ke- 16


karena pada saat ini uterus telah keluar dari rongga pelvis dan menjadi organ
rongga perut (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

b. Kontraksi Braxton Hicks

Merupakan peregangan sel – sel otot uterus, akibat meningkatnya


actomysin di dalam otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak
nyeri biasanya timbul pada kehamilan delapan minggu , tapi baru dapat
diamati dan pemeriksaan abdominal pada trimester ketiga. Kontraksi ini
akan terus meningkat frekuensinya, lamanya dan kekuatannya sampai
mendekati persalinan (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

c. Ballotement

Adalah tanda ada benda yang terapung atau melayang dalam cairan,
tanda balotement muncul pada minggu ke- 16 sampai minggu ke-20
(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

d. Tanda Hegar

Tanda hegar berupa pelunakan pada daerah isthmus uteri, sehingga


daerah tersebut pada pemeriksaan bimanual mempunyai kesan lebih tipis dan

8
uterus mudah difleksikan. Tanda hegar mulai teerlihat pada minggu ke-6 dan
menjadi nyata pada mingguke 7-8 (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

e. Tanda Chadwicks

Adalah peningkatan pembuluh darah pada vulva dan vagina karena


peningkatan estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru – biruan
(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

f. Tanda Piscaseck

Adalah pertumbuhan uterus yang cepat di daerah implantasi plasenta,


sehingga bentuk uterus tidak sama (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

3) Tanda pasti (positive sign)

a. Gerakan janin dalam Rahim

Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa.
Gerakan janin baru dapata dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20 minggu
(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

b. Denyut jantung janin

Denyut jantung janin dapat didengarkan dengan stetoskop Leanec


pada minggu 17 – 18. Dengan stetoskop ultrasonik (Doppler), DJJ dapat
didengar lebih awal sekitar minggu ke 12 (Siswosudarmo R dan Emilia O,
2016).

c. Bagian – bagian janin

Bagian – bagian janin yaitu bagian besar janin (kepala dan bokong)
serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia

9
kehamilan lebih tua (trimester terakhir). Bagian janin ini dapat dilihat lebih
sempurna lagi menggunakan USG (Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

d. Kerangka janin

Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun USG


(Siswosudarmo R dan Emilia O, 2016).

4. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Siswosudarmo dan Emilia (2016) untuk mengetahui wanita hamil


atau tidak dapat dilakukan dengan pemeriksaan:

1) Rontgenografi

Rontgenografi adalah gambar tulang – tulang janin tampak setelah minggu


ke-12 sampai 14. Pemeriksaan ini hanya bisa digunakan bila terdapat keraguan
dalam diagnosis kehamilan.

2) Ultrasonografi ( USG )

USG adalah alat yang digunakan untuk mendiagnosis kehamilan untuk


mengetahui apakah ada kelainan atau tidak.

3) Fetal Electro Cardio Grafi (ECG )

ECG adalah alat yang digunakan untuk merekam janin pada usia kehamilan
12 minggu

4) Tes Laboratorium

Pada tes laboratorium dilakukan tes inhibisi koagulasi. Tes ini bertujuan
untuk mendeteksi adanya HCG dalam urin.

5. Perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester III

10
1) Sistem reproduksi

a. Uterus

Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30


gram akan mengalami hipertrofi dan hyperplasia, sehingga menjadi seberat
1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim mengalami hyperplasia dan
hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim
karena pertumbuhan janin (Manuaba IAC, 2014).

- Pada usia kehamilan 32 minggu tinggi fundus uteri adalah setengah jarak
prosesus xifoideus dan pusat.

- Pada usia kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu jari di
bawah prosesus xifoideus dan kepala bayi belum masuk pintu atas panggul.

- Pada usia kehamilan 40 minggu fundus uteri turun setinggi tiga jari di
bawah prosesus xifoideus, oleh karena saat ini kepala janin telah masuk
pintu atas panggul (Manuaba IAC, 2014).

b. Vagina

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena


pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah kebiru – biruan
(tanda chadwicks) (Manuaba IAC, 2014)

c. Ovarium

Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus


luteum gravidarum yang akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya
plasenta yang sempurna pada usia kehamilan 16 minggu (Manuaba IAC,
2014).

11
Kejadian ini tidak dapat lepas dari kemampuan vili korealis yang
mengeluarkan hormone korionik gonadotropin yang mirip dengan hormone
luteotropik hipofisis anterior (Manuaba IAC, 2014).

d. Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai


persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan, yaitu estrogen,
progesteron, dan somatomamotrofin (Manuaba IAC, 2014)

2) Kenaikan Berat Badan

Pada trimester dua berat badan naik 0,4-0,5 kg perminggu selama sisa
kehamilan (Manuaba IAC, 2014).

3) Sistem Endokrin

Produksi estrogen plasenta terus naik selama kehamilan dan pada akhir
kehamilan. Kadarnya kira – kira 100 kali sebelum hamil. Produksi progesteron
bahkan lebih banyak dibanding estrogen. Pada akhir kehamilan produksinya kira
– kira 250 mg/hari. Progesteron menyebabkan tonus otot polos menurun dan juga
diuresis (Siswosudarmo, 2016)

4) Sistem Respirasi

Karena adanya penurunan tekanan CO2 ibu hamil sering mengeluh sesak
nafas sehingga meningkatkan usaha nafas (Siswosudarmo, 2016).

5) Sistem Traktus Urinarus

Kandung kencing tertekan oleh uterus yang membesar mulai berkurang,


karena uterus sudah mulai keluar dari uterus. Pada trimester kedua, kandung
kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul kearah abdomen. Uretra

12
memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah atas. Kongesti
panggul pada masa hamil ditunjukan oleh hyperemia kandung kemih dan uretra.
Peningkatan vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih menjadi mudah
luka dan berdarah. Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal ini memungkinkan
distensi kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama,
pembesaran uterus menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih
walaupun kandung kemih hanya berisi sedikit urin (Siswosudarmo, 2016).

6) Sistem Musculoskeletal

Selama trimester kedua mobilitas persendian akan berkurang terutama pada


daerah siku dan pergelangan tangan dan meningkatnya retensi cairan pada
jaringan konektif/jaringan yang berhubungan disekitarnya (Siswosudarmo,
2016).

7) Sistem Integument

Akibat peningkatan hormon estrogen dan progesteron serta terhambatnya


pembentukan FSH dan LH (Siswosudarmo, 2016).

8) Sistem Pencernaan

Pada trimester dua biasanya tejadi konstipasi karena hormone progesterone


meningkat. Selain itu perut kembung juga terjadi karena adanya tekanan uterus
yang membesar dalam rongga perut yang mendesak organ-organ dalam perut
khususnya saluran pencernaan, usus besar, kearah atas dan lateral. Wasir
(hemoroid) cukup sering pada kehamilan sebagian besar akibat konstipasi dan
naiknya tekanan vena-vena di bawah uterus termasuk vena hemoroid. Panas
perut (heart burn) terjadi karena terjadiya aliran balik asam gastric ke dalam
esophagus bagian bawah (Siswosudarmo, 2016).

13
9) Sistem Kardiovaskuler

Pada usia kehamilan 16 minggu, mulai jelas kelihatan tejadi proses


hemodilusi. Setelah 24 minggu tekanan darah sedikit demi sedikit naik kembali
pada tekanan darah sebelum aterm. Perubahan auskultasi mengiringi perubahan
ukuran dan posisi jantung. Peningkatan volume darah dan curah jantung juga
menimbulkan perubahan hasil auskultasi yang umunya terjadiselama hamil.
Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau
hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel – sel darah kurang dibandingkan
dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan
tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18%, dan
hemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara
fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama
pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat
dalam masa hamil (Wiknjosastro, 2014).

B. Tinjauan Khusus Anemia

1. Definisi Anemia

Seseorang, baik pria maupun wanita dinyatakan menderita anemia apabila


kadar hemoglobin kurang dari 12 g/100 ml. Anemia lebih sering dijumpai dalam
kehamilan (Wiknjosastro, 2014).

Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam
sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya
sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan (Tarwoto dan Wasnidar, 2016).

Anemia dalam hal ini berkaitan dengan kondisi dimana menurunnya kadar
hemoglobin dari 11 g/dl pada trimester pertama dan trimester ketiga,dan kurang dari
10,5 g/dl pada trimester kedua. (Cunningham F.G, 2014).

14
2. Klasifikasi anemia

Menurut Manuaba (2014), berikut adalah klasifikasi anemia berdasarkan


derajat keparahan :
Tabel Klasifikasi derajat keparahan anemia pada kehamilan.

Sumber: Klasifikasi Angka Hemoglobin Manuaba,


I.B.G. & Ringan 9,0-10,0 gr/dL Bakta, I.M.
“Gangg Sedang 7,0-8,9 gr/dL uan
Berat < 7,0 gr/dL Hematologik”
in Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta: EGC, 2014, Bab XVII.

3. Pembagian anemia dalam kehamilan

1) Anemia Defisiensi Besi

Adalah anemia akibat kekurangan zat besi yang disebabkan karena kurang
masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan
penggunaan, atau karena terlalu banyaknya besi ke luar dari tubuh misalnya pada
perdarahan (Winkjosastro, 2014).

2) Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam


folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (Winkjosastro, 2014)

3) Anemia Hipoplastik

15
Anemia hipoplastik pada wanita hamil disebabkan karena sumsum tulang
kurang mampu membuat sel – sel darah baru (Winkjosastro, 2014)

4) Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah


berlangsung lebih cepat dari pembuatannya (Winkjosastro, 2014)

4. Etiologi

1) Perdarahan aktif

Kehilangan darah bisa terjadi karena perdarahan, menstruasi berat, atau


luka sehingga dapat menyebabkan anemia (Proverawati, 2015). Terjadinya
perdarahan kronis (gangguan mestruasi, penyakit yang menyebabkan perdarahan
pada wanita seperti mioma uteri, polip serviks, penyakit darah) (Manuaba IAC,
2014).

Abortus adalah berakhirnya kehamian sebelum kehamilan tersebut berusia


22 minggu, abortus mengakibatkan peradarahan yang dapat menyebabkan
anemia. Pada abortus yang menyebabkan anemia sedang, untuk pengobatannya
diberikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran
mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk
anemia berat berikan transfusi darah (Saiffudin, AB, 2010)

2) Ibu hamil yang menderita penyakit cacing

Cacing merupakan parasi yang tersebar dimana – mana, cacing juga dapat
menggangu manusia penjamunya dalam bentuk cacing dewasa, telurnya ataupun
dalam bentuk larva. Cacing usus mungkin akan bersaing dengan penjamunya
dalam mengambil makanan (zat gizi) dan hal ini akan menyebaba\kan anemia
karena perdarahan yang ditimbulkan (Wiknjosastro, 2014).

16
3) Kurang gizi

Kebanyakan dari anemia yang diderita masyarakat adalah karena


kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur
dan peningkatan gizi. Selain itu didaerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil
dengan malnutrisi atau kekurangan gizi (Manuaba, 2014).

4) Penyerapan zat besi yang tidak optimal

Penyerapan zat besi yang tidak optimal bisa disebabkan karena diare,
pembedahan saluran pencernaan, sebagian zat besi diabsorbsi di usus halus
bagian pangkal (duodenum), penyerapan zat besi juga dipengaruhi oleh hormone
intriksik faktor yang dihasilkan di lambung (Tarwoto,2016).

5) Terlalu sering melahirkan

Seorang wanita dengan yang mengalami kehamilan dan persalinan dengan


jarak yang berdekatan dapat menyebabkan ibu hamil tersebut kekurangan Fe.
Kehamilan dan persalinan yang 17sering juga mengakibatkan cadangan Fe
semakin berkurang dan dapat menyebabkan anemia. (Manuaba IAC, 2014).

6) Hiperemesis gravidarum

Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum mengalami mual, muntah yang


berlebihan, nafsu makan buruk dan asupan nutrisi berkurang dan dehidrasi, selain
itu menyebabkan karbohidrat habis dipakai untuk keperluan energi. (Varney,
2010).

7) Infeksi malaria dalam kehamilan

Pada infeksi malaria dalam kehamilan ini menyebabkan pemecahan sel


darah merah yang dapat menyebabkan anemia sehingga mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan janin didalam rahim (Manuaba IAC, 2014).

17
8) Penyakit ginjal kronik

Selama kehamilan, sejumlah penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan


anemia. Semua jenis insufisiensi ginjal kronik dapat disertai oleh anemia dengan
perdarahan bervariasi, biasanya akibat defisiensi eritropoietin. Juga terdapat
unsure anemia pada penyakit kronik. Selama kehamilan pada sebagian wanita
massa sel darah merah bertambah tetapi lebih rendah dibandingkan pada
kehamilan normal. (Cunningham, 2014).

5. Faktor Predisposisi

1) Lingkungan

Didaerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan malnutrisi atau


kekurangan gizi, hal ini merupakan penyebab dari anemia pada ibu hamil
(Manuaba, 2010). Selain itu perlu diperhitungkan juga faktor lingkungan yang
mempengaruhi cara pemilihan tempat dan penolong persalinan, sehingga dapat
menimbulkan resiko saat persalinan atau saat hamil (Manuaba, 2014).

2) Personal hygiene

Personal hygiene perlu di kaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga
kebersihan tubuh terutama organ genitalia, kebersihan bahan makanan dan
kebersihan lingkungan (Lynn, 2016)

3) Asupan nutrisi yang mengandung zat besi

Pada dasarnya wanita hamil dianjurkan makanan empat sehat lima


sempurna dan makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan
makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan dari bahan makanan nabati
(sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe). Perlu juga makan sayur-
sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun
singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk

18
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus dan mencegah terjadinya anemia
pada kehamilan (Sulistyoningsih, H, 2015). Zat besi juga ditemukan dalam
gandum, sereal, buah dan sayuran yang meningkat selama kehamilan (Linda V,
2014)

6. Patofisiologi

Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan


produksi eritropoiein. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah darah
merah (eritrosit) meningkat. Namun, peningkatan volume plasma terjadi dalam
proporsi yang lebih besarjika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehinga
terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin akibat hemodilusi (Sarwono, 2016).
Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau
hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel – sel darah kurang dibandingkan
dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan
tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin
19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam
kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu
meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil,
karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan
apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan
darah tidak naik. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi
yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental
(Wiknjosastro, 2014).

Anemia merupakan suatu keadaan dimana kadar Hb/atau jumlah eritrosit lebih
rendah dari jumlah yang normal. Dikatakan anemia bila Hb < 12 gr/dl dan Ht < 37%
pada wanita. (Arief Mansjoer, 2009). Perubahan konsentrasi Hb sesuai dengan
bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama, konsentrasi konsentrasi Hb
tampak menurun kecuali pada perempuan yang telah memiliki kadar Hb rendah
(<11,5 gr/dl). Konsentrasi paling rendah didapatkan pada trimester kedua yaitu pada

19
usia kehamilan sekitar 30 minggu. Pada trimester ketiga terjadi sedikit peningkatan
Hb kecuali pada perempuan yang memiliki kadar Hb tinggi (>14,6 gr/dl) pada
pemeriksaan pertama. (Sarwono, 2016).

7. Komplikasi anemia pada kehamilan

Menurut Manuaba (2014) Komplikasi anemia adalah sebagai berikut

1) Pengaruh anemia terhadap kehamilan

(1) Bahaya selama kehamilan

(1) Dapat mengakibatkan abortus/keguguran

(2) Persalinan premature

(3) Hambatan tumbuh kembang janin didalam rahim

(4) Mudah terjadi infeksi

(5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 gr/dl)

(6) Mola hidatidosa

(7) Hiperemesis gravidarum

(8) Ketuban pecah dini (KPD)

b. Bahaya saat persalinan

(1) Gangguan kekuatan mengejan

(2) Kala I dapat berlangsung lama

(3) Kala II dapat berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering
memerlukan tindakan operasi kebidanan.

20
(4) Dalam kala III bisa terjadi retensio plasenta dan perdarahan post partum
akibat atonia uteri.

(5) Dalam kala IV dapat terjadi perdarahn post partum sekunder dan atonia
uteri.

c. Bahaya pada masa nifas

(1) Terjadi subinvolusi uteri yang menimbulkan perdarahan post partum.

(2) Dapat mengakibatkan infeksi puerperium.

(3) Berkurangnya pengeluaran ASI.

(4) Dapat terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.

(5) Anemia pada masa nifas.

(6) Dapat menimbulkan infeksi payudara.

d. Bahaya anemia terhadap janin

(1) Dapat terjadi abortus

(2) Kematian intrauterin.

(3) Persalinan prematuritas tinggi.

(4) Berat badan lahir rendah

(5) Kelahiran dengan anemia.

(6) Dapat terjadi cacat bawaan pada janin.

(7) Bayi mudah terinfeksi sampai kematian perinatal.

(8) Intelegensia rendah.

21
8. Tanda dan gejala

Untuk mengetahui adanya anemia pada ibu hamil kita dapat mengenali
beberapa tanda dan gejala anemia seperti keletihan, kelemahan, pusing, sakit kepala,
nafsu makan berkurang, pucat, membran mukosa dan bantalan kuku pucat (Varney,
2010).

9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat


Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut :

1) Hb 11 gr/dl Normal

2) Hb 9 – 10 gr/dl Anemia ringan

3) Hb 7 – 8 gr/dl Anemia sedang

4) Hb < 7 gr/dl Anemia berat

Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada
trimester I dan trimester III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil
mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet
selama kehamilan (Manuaba, 2014).

10. Penatalaksanaan Medis

1) Pada anemia defisiensi besi pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per
os. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600 – 1000 mg sehari, seperti sulfas-
ferrosus atau glikonas ferrosus. Hb dapat dinaikan sampai 10 gr/100 ml tau lebih,
asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir. Terapi parental baru diperlukan
apabila penderita tidak tahan akan obat besi per os, ada gangguan penyerapan,
penyakit saluran pencernaan, atau apabila kehamilannya sudah tua. Besi parental
diberikan dalam bentu ferri, secara intra muskulus dapat disuntikan dekstran besi

22
(Imferon) atau sorbitol besi (Jectofer) dan hasilnya lebih cepat dicapai, hanya
penderita merasa nyeri ditempat suntikan. Juga secara intravena perlahan – lahan
besi dapat diberikan seperti ferrum oksidum sakkarratum (Ferrigen, Ferrivenin,
Profferin, Vitis), sodium diferrat, (Ferronascin) dan Dekstran besi (Imferon).
(Wiknjosastro, 2014).

2) Mengatasi penyebeb anemia itu sendiri seperti penyakit, perdarahan, cacingan,dll


(Tarwoto, 2015).

3) Pemberian nutrisi/makanan yang banyak mengandung unsur zat besi diantaranya


yaitu daging hewan, telur , ikan, sayuran hijau (Tarwoto, 2015).

4) Pemberian tablet besi selama kehamilan, pemberian suplemen besi merupakan


salah satu cara yang dianggap paling cocok bagi ibu hamil untuk meningkatkan
kadar Hb sampai pada tahap yang diinginkan, karena sangat efektif dimana satu
tablet di Indonesia mengandung 60 mg Fe dan 0,25 asam folat. Selama masa
kehamilan minimal diberikan 90 tablet Fe sampai 42 minggu setelah melahirkan,
diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama. Setiap satu kemasan tablet Fe
terdiri dari 30 tablet yang terbungkus dalam kertas aluminium foil sehingga obat
tidak cepat rusak dan tidak berbau. Pemberian zat besi untuk dosis pencegahan
diberikan 1 X 1 tablet dan untuk dosis pengobatan (bila Hb kurang dari 11 gr/dl)
adalah 3 X 1 tablet. Pemberian tablet besi sebaiknya dilakukan pada jeda makan
dimana lambung tidak banyak makanan. Pada keadaan ini zat besi akan mudah
diserap (Tarwoto, 2015).

5) Penanganan kehamilan dengan anemia yaitu dengan pemberian preparat fe 60


mg/hari dapat menaikan kadar hb sebanyak 1 gr%/bulan (Saifudin AB, 2010).

6) Pemberian preparat besi sebanyak 30 gram/hari dapat meningkatkan kadar


hemoglobin sebesar 0,3 gr%/minggu atau dalam 10 hari (Sulistyoningsih H,
2015).

23
7) Pendidikan kesehatan yang meliputi pengetahuan tentang anemia, pemilihan
makanan tinggi zat besi, dan asupan zat besi (Tarwoto, 2015).

24