Anda di halaman 1dari 12

REFLEKSI KASUS

Kusta

Disusun oleh:
Nila Munaya
1713020003

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
RSUD DR. SOESELO SLAWI KABUPATEN TEGAL
PERIODE 05 NOVEMBER 2018 – 12 JANUARI 2019
I. Rangkuman Kasus
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Usia : 63tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
PendidikanTerakhir : SD
Alamat : Desa TinggarjayaRT 04/RW 03
Jatilawang, Banyumas
Tanggal Kunjungan : Rabu, 2Januari 2019

B. ANAMNESIS (diperoleh melalui autoanamnesis)


1. Keluhan Utama
Mati rasa di tangan dan kaki.

2. Keluhan Tambahan
Terkadang masih nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum menjalar pada
seluruh bagian tangan dan kaki.Pada malam hari seringkali pada
awalnya (2008) menggigil, demam. Keluhan gangguan penglihatan
seperti buram, silau disangkal. Tidak ada kesulitan menutup mata
dengan sempurna.Penebalan cuping telinga, benjolan di leher, ketiak,
lipat paha, dan lidah disangkal.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dianamnesis di rumahnya pada hari Rabu, tanggal 2
Januari 2019 pukul 13.00 dengan keluhan mati rasa di seluruh bagian
tangan dan kaki yang dirasakan sejak 7 tahun yang lalu (2011). Pada
awalnyamuncul bercak kemerahan seperti bisul di bagian kaki
berjumlah banyak diikuti bengkak yang hilang timbul. Muncul gejala
tersebut sejak 10 tahun yang lalu (2008). Bercak kemerahan tersebut
tidak gatal, namun terasa tebal.Lesi basah, seperti keluar cairan,
terkadang bau, kemudian bekas luka menghitam sejak 2011 diikuti jari
semakin memendek di kaki dan tangan. Pasien mengaku sudah
berobat ke dokter sejak 2008 dan dilakukan tes gula darah hasilnya
normal. Sudah 9 dokter dan beberapa perawat ia datangi selama 2008-
2017, namun belum ada perubahan. Setelah periksa ke dokter kulit
dr.B, Sp. KK, dinyatakan terkena penyakit kusta tahun 2008. Namun,
ia tidak mengetahui jikalau penyakit tersebut akan merenggut jarinya.
Iakontrol rutin setiap bulan, atau terkadang 2 bulan sekali. Karena
terhalang oleh masalah biaya dan dirasakan tidak membaik, ia
menghentikan pengobatan setelah 3 kali kontrol. Kemudian
iamemutuskan ke Puskesmas tahun 2017 dan 2 bulan yang lalu
dinyatakan telah selesai dalam pengobatan kusta. Ia mengonsumsi
obat yang diberikan petugas Puskesmas secara rutin. Ia merasakan ada
perubahan, ia merasa luka-luka di kulitnya mongering. Namun ia
sangat menyayangkan bahwa saat bisa membaik, kondisi jari-jarinya
semakin memendek.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat keluhan serupa : disangkal
b. Riwayat batuk, pilek : sering, hanya 1 minggu sembuh
c. Riwayat penyakit jantung : disangkal
d. Riwayat darah tinggi : disangkal
e. Riwayat kencing manis : disangkal
f. Riwayat trauma : disangkal
g. Riwayat alergi : ikan laut, gatal-gatal, bercak merah
h. Riwayat asma : disangkal
i. Riwayat operasi : disangkal
j. Riwayat kejang : disangkal
k. Riwayat mondok : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Riwayat keluhan sama : disangkal
b. Riwayat penyakit jantung : disangkal
c. Riwayat darah tinggi : disangkal
d. Riwayat kencing manis : disangkal
e. Riwayat alergi : ada, ibu alergi udara dingin, bersin-
bersin
6. Riwayat Sosial dan Exposure
a. Community
Pasien dalam kesehariannya tinggal sendirian.Rumah pasien
berada di sebelah adiknya di pedesaan yang padat penduduk.

b. Home : Rumah Ny. S memilikiventilasi kurang dan


pencahayaan darisinar matahari yangkurang pada
masing-masing ruangan untuk menerangi rumah.
Dinding rumah dari tembok. Lantai rumah
berkeramik. Dalam rumah terdapat 2 kamar tidur
berukuran 2x3 meter,ruang tamu dan ruang
keluarga jadi 1, 1 ruang makan, 1kamar mandi dan
1 dapur. Dalam kamar mandi sudah memiliki
jamban, sehingga untuk BAB pasien tidak perlu ke
luar rumah. Pasien memiliki tempat pengumpulan
sampah rumah tangga yang diletakkan di dapur,
dengan wadah dan terbuka yang dapat menjadi
sumber penularan penyakit. Ventilasi tidak ada,
namun jendela rumah sering dibuka sehingga
memungkinkan pertukaran udara rumah, namun
masih mungkin mengakibatkan kelembapan di
dalam rumah tinggi.Sumber air bersih yang
digunakan pasien untuk kebutuhan sehari-hari
berasal dari pompa air dan sumur. Jarak septic tank
dari sumber air berjarak sekitar 4 meter. Septic
tank digunakan bersama oleh beberapa rumah.
Syarat minimal sumber air bersih dengan septic
tank yaitu 10 meter. Keluarga pasien memasak
dengan menggunakan kompor gas 1 tempat api.
Tempat sampah keluarga diletakkan dibelakang
rumah, dan ditumpuk saja di perkebunan pelataran
belakang rumah. Lingkungan tempat tinggal Ny.
Smerupakan lingkungan pemukiman, jarak antar
rumah saling berdekatan sekitar 2-3 meter
dipisahkan oleh pekarangan yang ditanami pohon
pisang.Di pekarangan juga terdapat bekas kandang
ayam yang sudah tidak terpakai ditutupi bekas
spanduk. Ia baru menikmati rumah permanen
dengan jamban dan sumur 1 tahun ini.
Sebelumnya, rrumahnya berdinding anyaman
bamboo dan berlubang-lubang.
c. Hobby : Pasien mengisi waktu luangnya dengan
membersihkan rumah. Selain itu, ia habiskan
waktu untuk menonton televise sambil duduk.
d. Occupational: Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang
setiap hari hanya beraktivitas di rumah.
e. Personal Habit: Pasien seringkali melakukan mandi cuci
kakus (MCK) di sungai sekitar 5 m di belakang
rumahnya sejak dulu. Kebiasaan ini baru
dihentikannya 1 tahun yang lalu.
f. Diet : Pasien makan dua sampai tiga kali dalam sehari.
Lauk pauk yang biasa dikonsumsi adalah sayur,
tempe, ikan tawar, telur, dan sesekali
mengkonsumsi daging yang seringkali dikirim dari
menantunya.
g. Drug : Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu.

7. Riwayat Psikologi
Pasien tinggal sendirian. Suaminya sudah lama meninggalkannya
semenjak ia menderita kusta dan menikah dengan wanita lain 1 RT
dengannya. Anak pertamanya meninggal dunia terkena serangan jantung 1
tahun yang lalu dan meninggalkan istri serta 2 orang anak.Anaknya
meninggal setelah memutuskan untuk merawatnya dan membangun rumah
pasien yang sudah rusak.Dalam kehidupan sehari-hari, pasien 2 hari sekali
dikunjungi oleh menantu pertamanya tersebut yang tinggal di desa
tetangga dan diberi makanan serta lauk pauk. Setiap malam ia dikunjungi
pula oleh adiknya yang tinggal di samping rumahnya.Anak keduanya di
Jakarta bersama istri dan anaknya.Pasien sering menghabiskan waktu
untuk membersihkan rumah dan menonton televisi. Masalahnya ia
ceritakan kepada setiap orang yang mengunjunginya, serta merasa senang
dan haru jika dikunjungi serta diberi motivasi, karena ia merasa putus asa
dengan kondisinya seolah ia sedang berada di atas tepi jurang. Ia juga
mengeluh ia malu dan merasa tidak enak dibicarkakan oleh orang-orang
sekitar, terutama saat keluar rumah, misalnya untuk mengikuti posyandu
lansia. Sehingga ia memutuskan untuk di rumah saja. Saat diundang ke
Posyandu lansia baru iadatang. Saat memiliki keluhan tentang
kesehatannya, ia meminta tolong keponakan atau adiknya untuk
membelikan obat atau mengonsultasikannya ke Pak Sobihin di Puskesmas.

8. Riwayat Ekonomi
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah kebawah. Ia
menerima kiriman bulanan dari anaknya yang kedua.
9. Riwayat Demografi
Hubungan antara pasien dengan keluarganya dapat dikatakan
kurang harmonis.Hal tersebut dapat terlihat dari hubunganantara pasien
dan suaminya.Namun dengan keluarga lainnya harmonis.

10. Riwayat Sosial


Saat sakit ini, pasien terbatasi dalam melakukan aktivitas sehari-hari
seperti mencuci, menyapu atau membersihkan lantai.Namun ia tetap rajin
dan berusaha dengan kemampuannya membersihkan rumah. Hubungan
pasien dengan tetangga sekitarnya cukup baik. Pasien mengaku tidak
pernah bertemu dengan orang dengan keluhan dan penyakit kulit yang
sama dengan pasien.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum/Kesadaran
Tampak baik,kesadaran compos mentis.

2. Tanda Vital
a. Nadi :88x/menit
b. Pernafasan : 20x/menit
c. Suhu : 36.5oC per axillar
d. TD : 130/80mmHg
3. Status gizi
a. BB : 50 kg
b. TB : 155cm
c. IMT : 20,83
d. Status gizi :normal
4. Kulit
Turgor kulit kembali dalam satu detik.

5. Kepala : Bentuk normosefal, rambut tidak mudah dicabut, facies

leonina (+)
6. Mata : Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

konjungtiva bulbi hiperemis +/+, madarosis (+)


7. Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), discharge (-/-), saddle nose (+)
8. Telinga: Bentuk dan ukuran normal, sekret (-/-)
9. Mulut : Bibir sianosis (-), lidah kotor (-)
10. Tenggorokan : Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1
11. Leher : Deviasi trakea (-), limfonodi cervicalis tidak teraba
12. Thoraks :
a. Pulmo :
Inspeksi :pergerakan dada kanan = kiri
Palpasi :fremitus raba kanan = kiri
Perkusi :sonor/sonor
Auskultasi :suara dasar vesikuler (+/+)suara tambahan RBH (-/-)
RBK (-/-) wheezing (-/-)
b. Cor :
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-)
13. Abdomen

Inspeksi : datar

Auskultasi : bising usus (+) normal

Perkusi : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)

Palpasi :supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidakteraba


14. Sistem Collumna Vertebralis

Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)

Palpasi :nyeri tekan (-)


15. Ektremitas :
Akral dingin - - Oedem - -
- - - -
16. Status lokalis : ekstremitas
Inspeksi : claw hand(+),bercak hipopigmentasi (+),
hiperpigmentasi (+), krusta (+), xerosis (+)
Pemeriksaan saraf : pemeriksaan anestesi di keempat ekstremitas (+)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kuman BTA pada skin smear: (+)

E. DIAGNOSIS
Diagnosis : Morbus hansenmultibasiler tipe I
Diagnosa banding : psoriasis, vitiligo, ptiriasis versikolor.
F. PENATALAKSANAAN
a. Medikamentosa
1) Sudah dinyatakan selesai mengonsumsi multi drugs theraphy
(MDT)
2) Sebelumnya mengonsumsi:
a) Pengobatan bulanan: hari pertama
 2 kapsul rifampisin @ 300 mg (600 mg)
 3 kapsul lampren @ 100 mg (300 mg)
 1 tablet dapson 100 mg
b) Pengobatan harian: hari ke 2-28
 1 tablet lampren 50 mg
 1 tablet dapson 100 mg
c) Satu blister untuk 1 bulan. 12 blister selama 12-18 bulan.
b. Non Medikamentosa
1) Istirahat yang cukup
2) Diet nutrisi lengkap (tinggi protein, karbohidrat, sayur, dan
buah-buahan)
G. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : ad malam
Ad sanationam : Dubia ad bonam

II. Perasaan terhadap pengalaman


Praktikan merasa sangat iba kepada pasien dengan kondisinya. Secara
psikologis, pasien merupakan orang yang sangat tegar. Ditinggal suaminya
menikah lagi dengan wanita 1 RT, kemudian 1 tahun lalu baru dibangunkan rumah
oleh anaknya, tak lama setelah itu setelah ia memutuskan untuk merawat ibunya
di rumah, ternyata ia meninggal dunia. Semoga Allah memberikan ketabahan
kepada pasien selama di dunia dan mendapat balasan surge di akhirat nanti,
dimudahkan hisabnya, diterima amal ibadahnya, sakitnya allah ridloi sebagai
salah satu kebaikan untuknya dunia akhirat untuk menghapus dosa-dosanya.
Aamiin.

III. Evaluasi
Pemeriksaan fisik khusunya saraf diharapkan lebih menyeluruh lagi.

IV. Analisis
Hasil diagnosis sudah sesuai teori
V. Kesimpulan
Kusta merupakan penyakit kulit yang menular. Banyak faktor risiko yang
dapat menunjang M.leprae dapat menjangkit seseorang, diantaranya kurangnya
higienitas atau PHBS. Diharapkan semakin digalakkannya PHBS dan rumah
sehat dapat meminimalisasi kejadian kusta. Selain itu, setelah dilakukan
pengobatan, kusta tidak lag menular. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan
sosialisasi pula mengenai PHBS dan kusta supaya masyarakat tidak menjauhi
penderitanya.

.
DAFTAR PUSTAKA

1. Amiruddin, M.D. (2012). Penyakit Kusta Sebuah


Pendekatan Klinis. Surabaya : Brilian Internasional.
2. Azwar, S. (2003). Sikap Manusia, Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
3. Departemen Kesehatan RI. (2007). Buku Pedoman
Nasional Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta.
4. Departemen Kesehatan RI. (2009). Modul Pelatihan
Program P2 Kusta Bagi Unit Pelayanan Kesehatan Tahun 2009. Jakarta.
5. Departemen Kesehatan RI. (2010). Penyakit Kusta
Masih Ditakuti. Jakarta,
6. Dinas Kesehatan RI. (2005). Kusta Eliminasi 2005.
Bojonegoro.
7. Dinas Kesehatan RI. (2012). Petunjuk Operasional
Program P2 Kusta Tahun 2012.