Anda di halaman 1dari 6

FORDIS MODUL 6

KB 2 : Globalisasi berasal dari kata Globalization.


Global artinya dunia sedangkan lization artinya adalah
proses. Secara umum, globalisasi dapat diartikan
sebagai proses menjadikan dunia dalam satu atap.
Pada tahap ini, setiap individu dapat mengetahui
segala jenis informasi yang tersebar di dunia luar
dengan cepat dan mudah.
Ciri-ciri adanya globalisasi :
1. perkembagan teknologi (Internet, smartphone)
2. kecepatan alat transportasi (Pesawat)
3. ilmu pengetahuan (Penemuan penemuan terbaru)
Dampak positif Globalisasi
1, Mudah mengakses berita dari mana saja kapan saja
2. Menghemat biaya karena tidak perlu bepergian bisa
diakses melalui internet
3. Memperluas jaringan pertemanan
4. Cepat mendapat informasi
Dampak negatif globalisasi
1. Banyaknya berita hoaks yang beredar
2. Masuknya ideologi barat
3.Kecenderungan masyarakat membeli barang import
yang dapat mematikan pasar lokal
4. Masyarakat yang semakin malas, karena berbagai
kemudahan dapat diakses
Pendidikan menurut UU No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
Negara.
Dengan adanya globalisasi dalam bidang pendidikan memberikan banyak kemudahan untuk
manusia melakukan aktivitas sehari-harinya. Dampak positif yang dapat dirasakan ialah:

1. Semakin banyak situs-situs online yang memberikan informasi yang berkualitas untuk
menambah wawasan dan ilmu
2. Sistem pembelajaran yang tidak harus selalu tatap muka
3. Semakin mudah untuk mengakses informasi yang diperlukan
4. Proses pendidikan akan semakin berkembang dengan bantuan teknologi, karena semakin banyak
referensi belajar
5. Membuat siswa aktif dengan mencari informasi di internet
6. Menciptakan karya inovatif dengan bersumber di berbagai media yang ada dengan bantuan
pendidik
7. Kualitas tenaga pendidik yang semakin meningkat sehingga berpengaruh dalam peningkatan
mutu pendidikan

Selain memberikan dampak positif, globalisasi juga memberikan dampak negatif kepada
manusia, yaitu:

1. Kualitas moral siswa yang semakin menurun karena di internet siapapun dapat mengakses
informasi tanpa batas, sehingga tidak menutup kemungkinan siswa membuka dan terpengaruh
oleh situs yang kurang baik sehingga berpengaruh pada tingkah laku dan pola pikir siswa
2. Timbulnya kesenjangan sosial
3. Munculnya tradisi serba praktis dimana pendidikan akar bergantung pada teknologi
4. Menipisnya kebudayaan lokal karena masuknya budaya dari luar
5. Kekuatan kontrol pendidikan oleh Negara berkurang

Dari beberapa dampak negatif yang muncul dari globalisasi pendidikan, masyarakat selalu
mencari upaya-upaya untuk mengurangi atau mencegah adanya dampak negatif. Penulis berfikir
bahwa upaya dapat dilakukan dengan melihat kearifan lokal, pancasila, dan gotong royong.
Upaya ini dapat dilakukan penulis dan masyarakat lainnya yang berada di bangku sekolah.

Upaya dalam kearifan lokal bagi para siswa ialah dengan bersekolah, di zaman yang sudah
modern sekarang setiap orang tua ingin anak-anaknya bersekolah setinggi-tingginya. Mengapa
bersekolah? Karena dengan bersekolah siswa dapat melihat langsung guru yang mengajar
dibandingkan dengan hanya mencari informasi atau belajar dari video dan penulis lebih merasa
nyaman dibandingkan hanya terpaku pada internet karena penulis dapat bertanya dan merasakan
interaksi sosial tidak hanya menambah ilmu pendidikan saja namun dalam hal budaya tentang
budaya lokal, agama, mengembangkan potensi diri, bersosialisasi dapat dirasakan disekolah
sehingga siswa dapat mengerti bahwa tidak semua hal itu bersifat praktis, tidak melupakan
budaya lokal dan mengurangi kesenjangan sosial dengan teknologi tetapi tetap bersosialisasi agar
dapat mengerti tentang masyarakat dan lingkungan sekitar.

Guru harus dapat menumbuhkan dan mengembangkan kreatifitas dan potensi masing-masing
siswa. Pola pembelajaran tradisonal atau dikenal pembelajaran berpusat pada guru cenderung
pasif maka pola pembelajaran saat ini diharapkan berpusat pada siswa. Kalau pembelajaran
dilakukan hanya untuk mengejar pencapaian buku teks maka pemikiran siswa akan terbatas pada
buku teks alias catat buku sampai habis (CBSA). Kegiatan semacam ini hanya mematikan
kreatifitas siswa itu sendiri. Oleh karena itu kehadiran komputer internet dapat menjadi media
pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk dapat mencari informasi-informasi tentang topik
atau materi yang sedang dipelajarinya. Guru tinggal menciptakan sarana untuk meransang
potensi belajar peserta didik serta menciptakan kondisi belajar yang sebaik-baiknya untuk
tumbuhnya kreatifitas dan inovatif bagi peserta didik.

Sejalan dengan itu guru senantiasa melatih anak untuk memiliki keterampilan dan sikap tertentu
agar dirinya mampu dan mau belajar sepanjang hayat. Kebiasaan siswa selama ini masih
menganut kebiasaan menerima informasi secara pasif seperti mencacat, mendengar, meniru yang
seharusnya akan diubah pada pola budaya kreatif inovatif dimana siswa terbiasa untuk
menghasilkan gagasan/karya seperti merancang/membuat model, penelitian, memecahkan
masalah dan menemukan gagasan baru.

Kesimpulan

Guru yang berwasawasan global adalah guru memiliki pemahaman akan pentingnya teknologi
internet dan mampu memanfaatkannya dalam pengembangan pembelajarannya. Guru harus
senantiasa memiliki kesadaran akan perlunya peningkatan kompetensinya masing-masing
sehingga selalu berupaya mengikuti kegiatan pelatihan baik secara mandiri maupun kegiatan
kolektif yang dilaksanakan oleh institusi terkait.

Peran guru dalam era globalisasi pendidikan saat ini masih sangat dibutuhkan dan tidak bisa
tergantikan oleh komputer maupun internet antara lain : peran guru sebagai pembimbing dalam
menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar, peran guru sebagai evaluator dan
motivator dalam melakukan tindakan terhadap permasalahan siswa, peran guru konselor dalam
pembinaan karakter siswa yang berkepribadian luhur sebagai banga Indonesia, peran guru dalam
mengembangkan kreatifitas dan inovatif siswa melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa.

KB 1
Kebanyakan orang menyepelekan makna yang terkandung dalam pancasila itu sendiri. Penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi sebenernya merupakan berawal dari tidak menerapkan nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila pada karakter.
Oleh karena itu, memaknai kandungan nilai-nilai dalam pancasila seperti nilai ketuhan, kemanusiaan,
persatuan, kemasyarakatan serta sebuah keadilan merupakan suatu hal yang perlu diterapkan melalui
pendidikan karakter agar bangsa Indonesia menjadi manusia yang taat beragama, berkemanusiaan, adil
dan berguna bagi dirinya, oranglain, bangsa dan negara.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang
lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai nilai
Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara (Puskur, 2010: 8).

Berikut nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila:


1. Ketuhanan Yang Maha Esa
a. Selalu tertib dalam menjalankan ibadah.
b. Tidak berbohong kepada guru maupun teman.
c. Bersyukur kepada Tuhan karena memiliki keluarga yang menyayanginya.
d. Tidak meniru jawaban teman (menyontek) ketika ulangan ataupun mengerjakan tugas di kelas.
e. Tidak mengganggu teman yang berlainan agama dalam beribadah.
f. Menceritakan suatu kejadian berdasarkan sesuatu yang diketahuinya, tidak ditambah-tambah
ataupun dikurangi.
g. Tidak meniru pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas di rumah.
h. Percaya pada kemampuan sendiri dalam melakukan apapun , karena Allah sudah memberian
kelebihan dan kekurangan kepada setiap
manusia.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
a. Menolong teman yang sedang kesusahan.
b. Tidak membeda-bedakan dalam memilih teman.
c. Berbagi makanan dengan teman lain jika sedang makan didepan teman lain.
d. Mau mengajari teman yang belum paham dengan pelajaran tertentu.
e. Memberikan tempat duduk kepada orang tua, ibu hamil, atau orang yang lebih membutuhkan saat
ada di kendaraan umum.
f. Tidak memaki-maki teman bersalah kepada kita.
g. Meminta maaf atau memaafkan apabila melakukan kesalahan.
h. Hormat dan patuh kepada guru, tidak membentak-bentaknya.
i. Hormat dan patuh kepada orang tua.

3. Persatuan Indonesia
a. Mengikuti upacara bendera dengan tertib.
b. Bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah.
c. Tidak berkelahi sesama teman maupun dengan orang lain.
d. Memakai produk-produk dalam negeri.
e. Menghormati setiap teman yang berbeda ras dan budayanya.
f. Bangga menjadi warga negara Indonesia.
g. Tidak sombong dan membangga-banggakan diri sendiri.
i. Mengagumi keunggulan geografis dan kesuburan tanah wilayah Indonesia.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.


a. Membiasakan diri bermusyawarah dengan teman-teman dalam menyelesaikan masalah.
b. Memberikan suara dalam pemilihan.
c. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
d. Menerima kekalahan dengan ikhlas apabila kalah bersaing dengan teman lain.
e. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan
musyawarah.
f. Berani mengkritik teman, ketua maupun guru yang bertindak semena-mena.
g. Berani mengemukakan pendapat di depan umum.
h. Melaksanakan segala aturan dan keputusan bersam dengan ikhlas dan bertanggung jawab.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


a. Berlaku adil kepada siapapun.
b. Berbagi makanan kepada teman lain dengan sama rata.
c. Seorang ketua memberikan tugas yang merata dan sesuai dengan kemampuan anggotanya.
d. Seorang guru memberikan pujian kepada siswa yang rajin dan memberi nasihat kepada siswa yang
malas.
e. Tidak pilih-pilih dalam berteman.
f. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
g. suka bekerja keras
h. tidak bersifat boros
i. Menghargai hak orang lain

2.4. Menanamkaan Nilai-nilai Pancasila dengan Menerapkan Metode pembelajaran “Petak Umpet”
dalam Pembelajaran PPKn SD

2.4.1. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


KD SD/MI Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Kelas III
Kompetensi Inti Kompetensi Dasar
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri dalam berinteraksi
dengan keluarga, teman, tetangga dan guru
2.1. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, kasih sayang, percaya diri,
berani mengakui kesalahan, meminta maaf dan memberi maaf di rumah dan sekolah dalam berinteraksi
dengan keluarga, teman, dan guru, sebagai perwujudan moral Pancasila

2.4.2. Pengertian Permainan Petak Umpet


Petak Umpet merupakan sebuah permainan tradisional yang sangat terkenal. Setiap anak di Indonesia
pasti tahu dan pernah memainkan permainan ini. Permainan petak umpet ini dimainkan oleh lebih dari
3 orang, diawali dengan hompimpa untuk menentukan siapakah yang akan menjadi 'kucing' (pencari
teman-temannya yang sedang bersembunyi). Si Kucing ini nantinya akan menutup mata sambil
bersandar di hadapan tembok, pohon, atau dimana saja agar ia tidak dapat melihat temannya yang
sedang bersembunyi.
Si Kucing tersebut menghitung dari satu sampai sepuluh atau bisa lebih, sampai teman-temannya
selesai bersembunyi. Setelah teman-temannya mendapatkan tempat persembunyian, barulah si kucing
(pencari) beraksi dengan meninggalkan tempat jaganya sembari menemukan teman-temannya yang
telah bersembunyi. Nah disinilah letak seru dari permainan Petak Umpet ini, si Kucing harus cepat dan
sesegera mungkin mencari teman-temannya sebelum temannya tersebut berhasil menyentuh tempat
penjagaannya tadi.
Jika si "kucing" menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO
atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si "kucing" dianggap kalah dan
mengulang permainan dari awal. Yang seru adalah, pada saat si "kucing" bergerilya menemukan teman-
temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai "target operasi" atau belum
ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil menyentuhnya,
maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si "kucing" dibebaskan, alias sandera
si "kucing" dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si "kucing" harus kembali menghitung dan
mengulang permainan dari awal.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi
kucing berikutnya.
2.5. Manfaat Permainan Petak Umpet0tem
Kasir Dalam mendidik anak sebaiknya tidak monoton memberikan pendidikan formal seperti latihan
membaca, menulis, atau menggambar. Dunia anak merupakan dunia dimana pendidikan masih banyak
didapatkan melalui permainan. Banyak permainan anak-anak yang bisa memberikan manfaat bagi
kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Salah satu permainan yang masih menjadi favorit anak-
anak dari berbagai daerah yaitu permainan petak umpet.
Selain menyenangkan, ternyata permainan ini juga bisa memberikan manfaat bagi anak-anak. Berikut
kami informasikan manfaat permainan petak umpet untuk pertumbuhan anak dan pendidikan karakter
antara lain:
1. Menanamkan perilaku jujur dan lapang dada,
Dalam permainan Petak Umpet ini diajarkan kejujuran, misalnya saat kucing menemukan musuhnya.
Musuh harus mengakui kekalahannya dan bersedia untuk menjadi kucing menggantikan yang
sebelumnya.

2. Menanamkan perilaku bertanggung jawab dan Peduli.


Dalam permainan ini tak jarang ditemukan cedera/terluka misalnya jatuh ke tanah, tersungkur atau
menabrak benteng (pohon atau tembok ), lalu sebagai kawan yang baik harus peduli dan menolongnya.
Dalam peristiwa ini dapat ditemukan bahwa Anak belajar peka, kecerdasan emosinya mulai
berkembang seperti rasa peduli, tolong menolong dll

3. Anak menjadi lebih aktif


Permainan petak umpet bisa membantu anak untuk menjadi anak yang lebih aktif. Anak yang aktif
bergerak akan mengalami perkembangan yang signifikan daripada anak yang banyak diam. Dalam
permainan ini, anak akan berlari dan bersembunyi sehingga secara tidak langsung anak sudah
melakukan olahraga.
Daripada hanya bermain game atau menonton televisi, lebih baik anak diarahkan untuk melakukan
kegiatan yang lebih bermanfaat.
4. Anak bisa belajar bersosialisasi
Bersosialisasi tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak kecil pun sudah harus melakukan hal
tersebut untuk membiasakannya sampai ia dewasa. Permainan ini dilakukan dengan cara bersama-sama
tanpa memandang ras atau latar belakang keluarga. Semua anak-anak akan terlibat aktif dalam
permainan tersebut.

5. Belajar berhitung
Permainan ini tidak hanya baik bagi pertumbuhan fisik anak-anak, tetapi juga bagi perkembangan
kecerdasan anak. Anak-anak akan berlatih menghitung dalam permainan ini. Anak-anak yang bermain
dibagi menjadi 2 peran yaitu berperan sebagai pencari dan yang akan dicari. Saat anak mendapatkan
kesempatan menjadi pencari, tentu dia akan menyebutkan hitungan untuk memberikan kesempatan
kepada yang bersembunyi.

6. Membuat anak menjadi kreatif


Permainan petak umpet akan memberikan pelajaran bagi anak untuk bisa mengasah otaknya dimana
anak harus lebih kreatif mendapatkan tempat persembunyian yang berbeda dengan teman lainnya.
Pada kondisi ini anak akan dituntut untuk berfikir cepat agar bisa menemukan tempat yang kira-kira
akan sulit ditemukan.

7. Melatih anak patuh pada aturan


Untuk melatih anak agar bisa taat pada berbagai aturan, baik aturan dari lingkungan terkecil seperti
keluarga, aturan sekolah, lingkungan masyarakat bahkan sampai lingkungan besar seperti aturan
negara, anak harus dididik sejak dini. Belajar mendisiplinkan anak tidak harus lewat pendidikan formal
atau kata-kata dari Anda, tetapi bisa juga dilakukan lewat sebuah permainan. Dalam permainan ini
anak-anak akan bermain bersama dengan mematuhi peraturan yang telah dibuat bersama. Setiap anak
harus bisa mematuhi dan melaksanakan semua ketentuan yang telah dirumuskan dan disepakati. Jika
aturan yang telah dibuat dipatuhi bersama, permainan akan berjalan dengan lancar dan
menyenangkan.

8. Belajar berdiskusi akan suatu masalah


Permainan yang dilakukan secara bersama-sama tentu diperlukan kesepakatan bersama pula untuk
melakukan hal tersebut. Dalam permainan ini semua pemain harus bisa membuat, menyetujui dan
melaksanakan aturan dalam permainannya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan yang akan
berujung pada pertengkaran.

9. Melatih sportivitas anak


Dalam permainan ini, pemain yang kalah dan menang harus bisa menerima dan melakukan tugasnya
masing-masing. Anak-anak akan belajar bagaimana menerima kekalahan dengan tetap menikmati
permainan tersebut.
Banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari permainan petak umpet ini menjadikan permainan ini
menjadi pilihan dalam membelajarkan budi pekerti dan nilai-nilai luhur kepada Siswa Di Sekolah Dasar.
Dan juga petak umpet kini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak di zaman sekarang, inilah saatnya
kita bersama-sama kembali mengenalkan permainan Petak Umpet dengan cara berbeda tentunya
dengan cara yang mengasyikkan pula, agar makna dan manfaat yang terkandung dalam permainan ini
akan tetap ada dan selalu dilestarikan di zaman-zaman selanjutnya.