Anda di halaman 1dari 41

REFERAT

KATARAK

OLEH:
GUSTI NGURAH PURNAMA 17710206

PEMBIMBING :
dr. AMARUSMANA Sp.M
dr. MARISCHA Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUD MOHAMAD SALEH KABUPATEN PROBOLINGGO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA

0
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga pada akhirnya penulis dapat mennyelesaika
presentasi kasus mata dengan mengambil tema ”KATARAK”.
Tugas ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Mata di RSUD
Kabupaten Probolinggo. Penyelesaian tugas ini tak lepas dari bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Maka dengan segala kerendahan hati penulis haturkan ucapan terima kasih
kepada pembimbing dr. Amarusmana, Sp.M,
Penulis sangat menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki,
oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan
tugas ini dan sebagai bekal penulis untuk menyusun tugas-tugas lainnya di kemudian hari.
Semoga referat ini banyak memberi manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Probolinggo, 13 Mei 2019

Penulis

1
BAB I
PENDAHULUAN

WHO 1972, mendefinisikan kebutaan sebagai tajam penglihatan dibawah 3/60.


Kebutaan adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius bagi setiap negara. Berdasarkan
WHO (1979), prevalensi kebutaan lebih besar pada negara berkembang. Kebutaan ini sendiri
akan berdampak secara sosial dan ekonomi bagi orang yang menderitanya. Ironisnya, 75%
dari kebutaan yang terjadi dapat dicegah atau diobati.6
Indonesia sebagai negara berkembang, tidak luput dari masalah kebutaan. Disebutkan,
saat ini terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia 60% diantaranya berada di negara miskin
atau berkembang. Indonesia, dalam catatan WHO berada diurutan ketiga dengan terdapat
angka kebutaan sebesar 1,47%.8
Di dunia ini 48% kebutaan yang terjadi disebabkan oleh katarak. Untuk Indonesia,
survei pada 1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan 0,78% di
antaranya disebabkan oleh katarak , dan yang terbesar karena katarak senilis.8
Katarak adalah perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya menjadi
keruh, sehingga cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi kabur. Katarak
terjadi secara perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur.
Perubahan ini dapat terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan trauma mata, komplikasi
penyakit tertentu, maupun bawaan lahir.3,8

BAB II
2
PEMBAHASAN

I. ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA


Anatomi dan fisiologi mata sangat rumit dan mengaggumkan. Secara konstan mata
menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat
dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke
otak.3,7,8
Mata memiliki struktur sebagai berikut :
 Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang bewarna putih dan
relatif kuat.
 Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian
sclera.
 Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus
dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.
 Pupil : daerah hitam ditengah-tengah iris.
 Iris : jaringan bewarna yag berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea
dan di depan lensa, berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata
dengan cara merubah ukuran pupil.
 Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aquos dan
vitreus, berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.
 Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak dibagian belakang bola mata,
berfungsi mengirimkan pesan visual melalui saraf optikus ke otak.
 Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visual ke otak.
 Humor aqueus : caian jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea
(mengisi segmen anterior bola mata) serta merupakan sumber makanan bagi lensa
dan kornea, dihasilkan oleh processus ciliaris.
 Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina
(mengisi segmen posterior mata)

3
Gambar 1. (http://doctorology.net/wp-content/uploads/2009/03/eye.jpg&imgrefurl)

A. ANATOMI LENSA
Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah (avaskular),
tembus pandang, dengan diameter 9 mm dan tebal 5 mm yang memiliki fungsi untuk
mempertahankan kejernihan, refraksi cahaya, dan memberikan akomodasi.. Ke depan
berhubungan dengan cairan bilik mata, ke belakang berhubungan dengan badan kaca.
Digantung oleh Zunula zinii (Ligamentum suspensorium lentis), yang
menghubungkannya dengan korpus siliaris. Permukaan posterior lebih cembung daripada
permukaan anterior. Lensa diliputi oleh kapsula lentis, yang bekerja sebagai membran
yang sempermiabel, yang akan memperoleh air dan elektrolit untuk masuk.3,7,8
Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras
daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel terus
diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastik.
Nukleus dan korteks terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung ke ujung
berbentuk ( Y ) bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk ( Y ) ini tegak di anterior dan terbalik
di posterior. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamen yang dikenal zonula zinii, yang
tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliaris dan menyisip ke dalam ekuator
lensa.3,7,8
Lensa terdiri atas 65% air dan 35% protein (kandungan tertinggi diantara jaringan-
jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa berada di dalam jaringan tubuh
lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada dikebanyakan jaringan lain.
Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak
ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.3,7,8

Gambar 2. (http://duniamata.blogspot.com/2010/05/struktur-lainnya-lensa-
kristalina.html&usg)

B. FISIOLOGI LENSA

4
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. UNtuk
memfokuskan cahaya datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat
zonula zinii dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang
terkecil, dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel
akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris
berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa yang elastik kemudian
mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya.
Kerjasama fisiologis antar zonula, korpus siliaris, dan lensa untuk memfokuskan benda
dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi.2,7
Pada orang dewasa lensanya lebih padat dan bagaian posterior lebih konveks. Proses
sklerosis bagian sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung
perlahan-perlahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat, dimana nukleus
menjadi besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa lebih besar, lebih
gepeng, warnanya kekuningan, kurang jernih dan tampak seperti “ gray reflek “ atau
“senil reflek”, yang sering disangka katarak. Karna proses sklerosis ini lensa menjadi
kurang elastis dan daya akomodasinya berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia, dimana
pada orang Indonesia dimulai pada usia 40 tahun.2,7
Akomodasi lensa
Mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk mengubah fokus dari benda jauh ke
benda dekat disebut akomodasi. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa oleh badan siliar
terhadap serat-serat zonula. Setelah umur 30 tahun, kekakuan yang terjadi di nukleus lensa
secara klinis mengurangi daya akomodasi.
Saat m. cilliaris berkontraksi, serat zonular relaksasi mengakibatkan lensa menjadi
lebih cembung, ketebalan axial lensa meningkat, dan terjadi akomodasi. Saat m cilliaris
relaksasi, serat zonular menegang, lensa lebih pipih, dan kekuatan dioptri menurun.
Tabel 1. Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi
Akomodasi Tanpa
akomodasi
M. cilliaris Kontraksi Relaksasi
Ketegangan Menurun Meningkat
serat zonular
Bentuk lensa Lebih cembung Lebih pipih
Tebal axial lensa Meningkat Menurun
Dioptri lensa Meningkat Menurun

Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf simpatik cabang Nervus


Occulomotorius. Obat-obat parasimpatomimetik ( pilocarpin ) memicu akomodasi,
sedangkan obat-obat parasimpatolitik ( atropin ) memblok akomodasi. Obat-obatan yang
menyebabkan relaksasi otot ciliar disebut cyclopegik.

5
C. PEMERIKSAAN LENSA
Pemeriksaan yang dilakukan pada enyakit lensa adalah pemeriksaan tajam
penglihatan dan dengan melihat lensa melalui slit lamp, oftalmoskop, penlight, loop,
sebaiknya dengan pupil dilatasi.8

D. METABOLISME LENSA NORMAL


Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan
kalium). Kedua kation berasal dari humor aqueus dan vitreus. Kadar kalium dibagian
anterior lensa lebih tinggi dibandingkan posterior, sedangkan kadar Natrium lebih tinggi
dibagian posterior lensa. Ion kalium bergerak ke bagian posterior dan keluar ke humor
aqueus, dari luar ion natrium masuk secara difusi bergerak ke bagian anterior untuk
menggantikan ion kalium dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar
kalsium tetap dipertahankan didalam oleh Ca-ATPase.7
Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur
HMP-shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk
aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktase adalah enzim yang
merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fruktosa oleh enzim
sorbitol dehidrogenase.7

6
KATARAK

I. DEFINISI

Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai pada
orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Penuaan
merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga factor lain yang
mungkin terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik (mis; diabetes), merokok,
dan herediter. Kata katarak berasal dari Yunani “katarraktes” yang berarti air terjun.
Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana seperti tertutup air terjun akibat lensa yang
keruh. Katarak sendiri sebenarnya merupakan kekeruhan pada lensa akibat hidrasi,
denaturasi protein, dan proses penuaan.sehingga memberikan gambaran area berawan
atau putih.3,8

Kekeuruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya untuk mencapai retina, sehingga


penderita katarak mengalami gangguan penglihatan dimana objek terlihat kabur. Mereka
mengidap kelainan ini mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak
apabila kekeruhan tidak terletak dibagian tengah lensanya.3,8

Gambar 3. (http://medicastore.com/images/katarak2.jpg&imgrefurl)

7
Gangguan penglihatan yang dirasakan oleh penderita katarak tidak terjadi
secara instan, melainkan terjadi berangsur-angsur, sehingga penglihatan penderita
terganggu secara tetap atau penderita mengalami kebutaan. Katarak tidak menular dari
satu mata ke mata yang lain, namun dapat terjadi pada kedua mata secara
bersamaan.3,8
Katarak biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasen
mungkin meninggal sebelum diperlukan pembedahan. Apabila diperlukan
pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaii ketajaman penglihtan pada >
90% kasus.sisanya mungkin mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit
pasca bedah serius misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infesi yang menghambat
pemulihan daya pandang.3,8

Gambar 4.(http://medicastore.com/images/katarak2.jpg&imgrefurl)

II. EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia 60
tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa.
Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak
kongenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-
laki dan perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan
akibat katarak.5

III. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang menyebabkan lensa
mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat dipercepat oleh faktor risiko
seperti merokok, paparan sinar UV yang tinggi, alkohol, defisiensi vit E, radang menahun
dalam bola mata, dan polusi asap motor/pabrik yang mengandung timbal.3,8
Cedera pada mata seperti pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, dan
trauma kimia dapat merusak lensa sehingga menimbulkan gejala seperti katarak.8
Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, disebut sebagai katarak
kongenital. Katarak kongenital terjadi akibat adanya peradangan/infeksi ketika hamil,

8
atau penyebab lainnya. Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi dan
metabolik lainnya seperti diabetes mellitus.3

IV. PATOFISIOLOGI
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari badan siliar ke
sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan
koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke
retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air
ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu
transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam
melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya
usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.3,8

Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan sklerosis:
1. Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa yang berada
di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapat dikeluarkan dari lensa. Air yang
banyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan osmotik yang menyebabkan
kekeruhan lensa.
2. Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana serabut kolagen terus
bertambah sehingga terjadi pemadatan serabut kolagendi tengah. Makin lama serabut
tersebut semakin bertambah banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.

Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:


1. Kapsula
a. Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
b. Mulai presbiopiac
c. Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
d. Terlihat bahan granular
2. Epitel-makin tipis
a. Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)
b. Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
3. Serat lensa
a. Serat irregular
b. Pada korteks jelas kerusakan serat sel
c. Brown sclerotic nucleus, sinar UV lama kelamaan merubah proteinnukelus
lensa, sedang warna coklat protein lensa nucleusmengandung histidin dan
triptofan disbanding normal
d. Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan
menghalangi foto oksidasi.
Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan fisik dan kimia
dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat perubahan pada serabut
halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di luar lensa,
9
misalnya menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Pada protein lensa
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan penghambatan
jalannya cahaya ke retina.8

Gambar 5. Perbandingan penglihatan normal dan penglihatan katarak

V. KLASIFIKASI

Katarak secara umum diklasifikasikan berdasarkan: Morfologi, Maturitas, dan Age of


Onset.

A. Katarak berdasarkan usia

1. Katarak Kongenital

Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab
kebutaan yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.

Dibagi menjadi 2 jenis :

A. Katarak kapsulolentikular

Katarak yang mengenai kapsul dan korteks

B. katarak lentikular

Katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja, tanpa disertai kekeruhan kapsul.
Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai kejadian primer
atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau umum.
10
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat
prenatal infeksi ibu seperti rubella (trimester pertama),mumps, hepatitis, toxoplasma

Pada pupil bayi yang terkena katarak konginental akan terlihat bercak putih
(leukokoria).Penyulit pada katarak kongenital total adalah tidak kuatnya rangsangan
pada makula lutea , sehingga makula tidak berkembang sempurna, dan sering
menyebabkan ambliopia. Selain itu katarak kongenital dapat menyebabkan terjadinya
nistagmus maupun strabismus. Pengobatan katarak kongenital bergantung kepada :

1. Katarak total bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya/


segera setelah katarak terlihat

2. Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau


segera sebelum terjadi juling

3. Katarak total atau kongenital unilateral, mempunyai prognosis yang buruk,


karena mudah sekali terjadinya ambliopia; karena itu sebaiknya dilakukan
pembedahan secepat mungkin, dan diberikan kacamata segera dengan latihan
bebat mata.

4. Katarak bilateral parsial, dapat dicoba dengan kacamata dan midriatikum terlebih
dahulu, bila terjadi kekeruhan yang progresif disertai dengan tanda juling dan
ambliopia maka dilakukan pembedahan

2. Katarak Juvenil

Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda, yang mulai
terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun. Biasanya
merupakan kelanjutan katarak kongenital atau merupakan penyulit penyakit sistemik
ataupun metabolik dan penyakit lainnya

3. Katarak Presenilis

Katarak presenilis adalah semua kekeruhan pada lensa yang terjadi pada usia antara
40-50 tahun. Biasanya bukan karena proses penuaan, melainkan karena komplikasi
dari penyakit sistemik atau metabolik, traumatik, penggunaan kortikosteroid jangka
panjang, dan lain sebagainya.

4. Katarak Senilis

Kejadian paling sering adalah katarak yang disebabkan oleh usia lanjut atau senil.
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia
di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Namun kekeruhan lensa dengan
nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari
60 tahun. Katarak ini hampir selalu mengenai kedua mata, walaupun yang satu lebih
11
berat daripada yang lain. Kekeruhan dapat terjadi di korteks atau sekitar nukleus. Pada
katarak senil sebaiknya disingkirkan penyakit mata lokal dan sistemik seperti diabetes
melitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. Penyebab katarak ini masih
kurang pasti, namun dikaitkan dengan proses penuaan dan perubahan lensa pada usia
lanjut. Tidak ada terapi medis untuk katarak senil, namun ekstraksi lensa dapat
diindikasikan apabila penurunan penglihatan mengganggu aktifitas normal penderita.

Perubahan lensa yang terjadi pada usia lanjut yaitu sebagai berikut :

1. Kapsul

a. Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)

b. Mulai presbiopia

c. Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur

d. Terlihat bahan granular

2. Epitel – makin tipis

a. Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat

b. Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata

3. Serat lensa

a. Lebih iregular

b. Pada korteks jelas kerusakan serat sel

c. Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein


nukleus lensa (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin), sedangkan
warna coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan
dibandingkan yang normal

d. Korteks tidak berwarna, karena :

 Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi


 Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda

B. Morfologi

 Katarak Nuklear
12
Katarak nuklear dimulai dengan adanya perubahan secara berlebihan yang dialami
oleh nukleus lensa yang diakibatkan karena bertambahnya umur sehingga menyebabkan
terjadinya sklerosis nuklear setelah usia pertengahan. Tipe ini berhubungan dengan
myopia karena terjadi peningkatan indeks refraksi dari nukleus lensa dan juga
peningkatan abrasi sperikal. Katarak nuklear cenderung untuk berkembang lambat.
Walaupun pada umumnya terjadi bilateral, namun bisa juga terjadi unilateral dan
menyebabkan penderitanya tidak dapat melihat jarak jauh dibandingkan dengan jarak
dekat.
Pada stadium awal, mengerasnya nukleus lensa menyebabkan peningkatan index
refraksi dan kemudian menyebabkan terjadinya myopia lentikular. Pada beberapa kasus,
hal ini menimbulkan terjadinya second sight atau penglihatan ganda perubahan index
refraksi yang secara tiba-tiba antara nukleus sklerotik dan korteks dapat menyebabkan
diplopia monocular. Pada kasus lanjut usia, nukleus lensa menjadi lebih keruh dan
berwarna coklat yang dinamakan katarak nuclear brunescent. Jenis katarak nigra
(Brunesen) ini terjadi pada pasien diabet dan miopia tinggi, dimana tajam pengelihatan
lebih baik dari sebelumnya dan biasanya pada usia lebih dari 65 tahun.

 Katarak Kortikal

Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa, termasuk daerah anterior,
posterior dan equatorial korteks. Kekeruhan dimulai dari celah dan vakoula antara
serabut lensa oleh karena hidrasi oleh korteks. Katarak kortikal disebabkan oleh
perubahan komposisi ion dari korteks dan hidrasi lensa. Katarak ini biasanya terjadi
bilateral namun dapat juga terjadi asimetris. Dampak terhadap fungsi penglihatan
bervariasi tergantung pada lokasinya. Salah satu gejala yang sering timbul adalah
penglihatan yang menjadi silau, misalnya silau terhadap lampu mobil. Selain itu
monokular diplopia juga bisa terjadi.

13
 Katarak subcapsularis

Kekeruhan mulai dari kecil, daerah opak hanya dibawah capsul, dan biasanya ada di
belakang lensa. Pasien merasa sangat terganggu saat membaca di cahaya yang terang
dan biasanya melihat halo pada malam hari. Dibagi menjadi katarak subcapsularis
posterior dan Subcapsularis anterior. Pada Subcapsularis posterior biasanya terdapat
pada pasien DM, Myotonic Dystrophy, dan steroid. Sedangkan pada subcapsularis
anterior biasanya terdapat pada Glaukoma sudut tertutup akut ( Glaukomfleckens ),
toksisitas amiodaron, miotic, dan Wilson disease.

A. Maturitas

 Katarak Insipiens :

Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut:


 Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks
anterior dan posterior (katarak kortikal).
 Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
 Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat. Anterior
subkapsularis posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan
korteks berisi jaringan degeneratif (benda morgagni) pada katarak
insipien.
 Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi
yang tidak sama pada semua bagian lensa.
 Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
14
 Katarak Immatur :

Pada katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang
belum mengenai seluruh lapisan lensa. Pada katarak imatur akan dapat
bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa
yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung, akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.

 Katarak matur :

Pada katarak matur lensa kehilangan cairan sehingga menyusut.


Kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa yang terjadi akibat deposisi ion
Ca yang menyeluruh dengan warna kelabu atau amber (kuning sawo) biasanya
coklat tua dan disebut black cataract. Lama-kelamaan kekeruhan seluruh lensa
ini akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan dalamnya normal,
iris shadow tidak ada dengan penyinaran samping. Pada stadium ini katarak
dapat dipisahkan dari kapsul lensa dan sudah masuk untuk dioperasi.

15
 Katarak hipermatur :

Pada katarak hipermatur permukaan lensa dapat menjadi lebih keras


atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul
sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada
pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-
kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn
menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal,
maka korteks yang berdegenerasi dan mencair tidak dapat keluar. Hal ini akan
memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang
terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat.

16
 Katarak Morgagni :

Katarak hipermatur yang nukleus lensanya mengambang dengan


bebas di dalam kantung kapsulnya

Perbedaan stadium katarak

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang


(air masuk) (air keluar)

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow test - + - Pseudops

Penyulit - Glaukoma - Uveitis +


Glaukoma

Katarak Komplikata

Katarak komplikata merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang, dan
proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaucoma, iskemia ocular,
nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata.
Katarak komplikata dapat juga disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin (diabetes
melitus, hipoparatiroid, galaktosemia,dan miotonia distrofi) dan keracunan obat (tiotepa
intravena, steroid local lama, steroid sistemik, oral kontraseptik dan miotika

17
antikolinesterase). Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana mulai katarak
selamanya didaerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata,
linear, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol.
Dikenal 2 bentuk yaitu bentuk yang disebabkan kelainan pada polus posterior mata
dan akibat kelainan pada polus anterior bola mata. Katarak pada polus posterior terjadi akibat
penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa, ablasi retina, kontusio retina dan myopia tinggi yang
mengakibatkan kelainan badan kaca. Biasanya kelainan ini berjalan aksial dan tidak berjalan
cepat didalam nucleus, sehingga sering terlihat nucleus lensa tetap jernih. Katarak akibat
miopia tinggi dan ablasi retina memberikan gambaran agak berlainan. Katarak akibat
kelainan polus anterior bola mata biasanya diakibatkan oleh kelainan kornea berat,
iridoksiklitis, kelainan neoplasma dan glaukoma. Pada iridoksiklitis akan mengakibatkan
katarak subkapsularis anterior. Pada katarak akibat glaucoma akan terlihat katarak disiminata
pungtata subkapsular anterior (katarak Vogt). Katarak komplikata akibat hipokalsemia
berkaitan dengan tetani infantile, hipoparatiroidisma. Pada lensa terlihat kekeruhan titik
subkapsular yang sewaktu – waktu menjadi katarak lamellar. Pada pemeriksaan darah,
terlihat adanya kadar kalsium yang turun.
Penyebabnya :
1. Penyakit lokal di mata
2. Penyakit sistemik, yang mengenai seluruh tubuh, terutama penyakit endokrin
3. Trauma:
i. Fisik: radiasi
ii. Mekanis: pasca bedah dan kecelakaan
iii. Kimia: zat toksik
1. Penyakit Lokal Mata
a. Glaukoma
Glaukoma adalah sekelompok gangguan yang melibatkan beberapa
perubahan atau gejala patologis yang di tandai dengan peningkatan tekanan
intraocular (TIO) dengan segala akibatnya. Glaukoma memberikan gambaran
klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik
dengan defek lapang pandangan mata.
Glaukoma dapat timbul secara perlahan dan menyebabkan hilangnya
pandangan ireversibel tanpa timbulnya gejala lain yang nyata atau dapat
timbul secara tiba-tiba dan menyebabkan kebutaan dalam beberapa jam. Jika
peningkatan TIO lebih besar dari pada toleransi jaringan, kerusakan terjadi
18
pada sel ganglion retina, merusak diskus optikus sehingga menyebabkan atrofi
saraf optic dan hilangnya pandangan perifer.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan
keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa
titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular
diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya katarak Vogt, bisa
juga kekeruhan seperti porselen / susu tumpah di meja pada subkpasul
anterior. Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata
sudah terkontrol.
b. Uveitis
Seperti semua proses radang, uveitis anterior ditandai dengan adanya
dilatasi pembuluh darah yang akan menimbulkan gejala hiperemia silier
(hiperemi perikorneal atau pericorneal vascular injection). Peningkatan
permeabilitas ini akan menyebabkan eksudasi ke dalam akuos humor,
sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos humor. Pada
pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal ini tampak sebagai akuos flare atau
sel, yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown (efek tyndal). Kedua
gejala tersebut menunjukkan proses keradangan akut.
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan
sel-sel radang di dalam Bilik Mata Depan yang disebut hipopion, ataupun
migrasi eritrosit ke dalam bilik mata depan, dikenal dengan hifema. Apabila
proses radang berlangsung lama (kronis) dan berulang, maka sel-sel radang
dapat melekat pada endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate (KP).
Jika tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses keradangan akan berjalan
terus dan menimbulkan berbagai komplikasi.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan
metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat
iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang
mengenai seluruh lensa. Kekeruhan dapat bermacam-macam, dapat difus,
total, atau hanya terbatas pada tempat sinekia posterior.
c. Miopia maligna
Miopia adalah suatu kelainan refraksi di mana sinar cahaya paralel
yang memasuki mata secara keseluruhan dibawa menuju fokus di depan

19
retina. Miopia umum disebut sebagai kabur jauh / terang dekat (short
sightedness)
Katarak miopia di karenakan karena terjadi degenerasi badan kaca,
yang merupakan proses primer, yang menyebabkan nutrisi lensa terganggu,
juga karena lensa pada miopia kehilangan transparansi sehingga menyebabkan
katarak. Dilaporkan bahwa pada orang dengan miopia onset katarak muncul
lebih cepat.
2. Penyakit sistemik
a. Katarak diabetes mellitus
Katarak diabetes merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit
diabetes mellitus. Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan sistemik, seperti
salah satunya pada penyakit diabetes melitus. Katarak ini dapat terjadi pada umur
pubertas atau dewasa muda, tampak sebagai kekeruhan berupa bercak-bercak salju
di lensa sedangkan katarak pada orang tua dengan diabetes, biasanya bukan
katarak diabetika tetapi katarak senilis, yang di percepat oleh diabetes melitus.
Katarak pada pasien diabetes mellitus dapat terjadi dalam 3 bentuk:
- Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada
lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut.
Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang
bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali.
- Pasien diabetes juvenile dan tua yang tidak terkontrol, dimana terjadi
katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake
atau bentuk piring subkapsular.
- Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara
histopatologi dan biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetik.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada keadaan hiperglikemia
terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa. Pada mata
terlihat peningkatkan insidens maturasi katarak yang lebih pada pasien
diabetes. Jarang ditemukan “true diabetic” katarak. Pada lensa akan
terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsular yang sebagian jernih dengan
pengobatan. Diperlukan pemeriksaan tes urine dan pengukuran darah gula
puasa.
b. Galaktosemia

20
Galaktosemia adalah penyakit yang disebabkan oleh defisiensi
galaktosa 1-fosfat uridililtransferase. Enzim ini penting untuk mengubah
galaktosa menjadi glukosa, karena laktosa yang merupakan gula utama susu
adalah disakarida yang mengandung glukosa dan galaktosa.Galaktosemia
merupakan penyakit resesif autosom pada metabolisme galaktosa yang
terdapat pada sekitar 1 dalam 60.000 bayi baru lahir. Bayi dengan
galaktosemia dalam urinenya akan terdapat galaktosa, tetapi bukan glukosa.
Oleh karena itu diagnosis dapat ditegakkan dengan mencari zat yang terdapat
pada urine (galaktosa) menggunakan clinitest, sedangkan pemeriksaan glukosa
dalam urine negatif.
Katarak galaktosemia di duga terjadi karena penimbunan gula dan gula
alkohol dalam lensa (terutama pada pasien hiperglikemia). Kadar glukosa
meningkat dan mendorong pembentukan sorbitol (oleh aldosa reduktase) dan
fruktosa. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan osmotik di lensa. Kadar
glukosa dan fruktosa yang tinggi juga menimbulkan glikosilasi nonenzimatik
protein lensa. Akibat peningkatan tekanan osmotik dan glikosilasi protein
lensa, lensa menjadi tidak tembus cahaya dan keruh yang dikenal sebagai
katarak. Katarak pada bayi dengan galaktosemia besifat reversibel dengan
manajemen terapi yang lebih awal.
c. Tetani
Katarak komplikata akibat hipokalsemia berkaitan dengan tetani
infantile, hipoparatiroidisma karena insufisiensi glandula paratiroid. Pada
lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular yang sewaktu – waktu menjadi
katarak lamellar. Pada pemeriksaan darah terlihat kadar kalsium turun.
3. Trauma
a. Trauma tembus dan trauma tak tembus
Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada
pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan
perdarahan dalam bilik mata depan. Iris bagian perifer merupakan bagian
paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata akan menimbulkan kekuatan
hidraulis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta merobek
lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non reaktif. Tenaga
yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke dalam isi bola mata

21
melalui sumbu anterior posterior sehingga menyebabkan kompresi ke
posterior serta menegangkan bola mata ke lateral sesuai dengan garis ekuator.
Hifema yang terjadi dalam beberapa hari akan berhenti, oleh karena adanya
proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan diserap sehingga akan
menjadi jernih kembali.
Trauma pada umumnya menyebabkan katarak monookuler. Trauma
fisik baik tembus maupun tidak tembus dapat merusak kapsul lensa, cairan
COA masuk ke dalam lensa dan timbul katarak. Trauma tak tembus (tumpul)
dapat menimbulkan katarak dengan berbagai bentuk :
- Vossious ring
Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul yang berbentuk
vossious ring yaitu lingkaran yang terbentuk oleh granula coklat
kemerah-merahan dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1
mm. Secara normal menjadi padat sesudah trauma. Cincin viscous
cenderung untuk menghilang sedikit demi sedikit. Kekeruhan kapsul
yang kecil-kecil dan tersebar dapat ditemui sesudah menghilangnya
pigmen.
- Roset (bintang)
Katarak berbentuk roset; bentuk ini dapat terjadi segera sesudah
trauma tetapi dapat juga beberapa minggu sesudahnya. Trauma
tumpul mengakibatkan perubahan susunan serat-serat lensa dan
susunan sistem suture (tempat pertemuan serat lensa) sehingga terjadi
bentuk roset. Bentuk ini dapat sementara dan dapat juga menetap.
- Katarak zonuler atau lamellar
Katarak Zonular dan lamelar, bentuk ini sering ditemukan pada
orang muda yang sesudah trauma. Penyebabnya karena adanya
perubahan permeabilitas kapsul lensa yang mengakibatkan degenerasi
lapisan kortek supersial. Trauma tumpul akibat tinju atau bola dapat
menyebabkan robekan kapsul, walaupun tanpa trauma tembus mata.
Bahan-bahan lensa dapat keluar melalui robekan kapsul ini dan bila
diabsorbsi maka mata akan menjadi afakia.
- Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt)

22
Berbentuk kekeruhan yang bercak-bercak dan terletak dibawah
lapisan epitel lensa bagian depan. Kadang-kadang kekeruhan ini
bersifat permanen dan tidak progresif.
Katarak akibat trauma tembus dapat dalam bentuk : Laserisasi
yaitu robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul robek dan isi lensa
bercampur dengan cairan aqueous dapat timbul katarak total.
b. Trauma fisik (radiasi)
Secara medis mata bertugas menerima sinar, namun tidak semua sinar
baik untuk mata. Sinar yang tidak terlihat oleh mata adalah sinar yang tidak
baik. Misalnya, sinar ultraviolet dan infra merah. Keuntungan kita adalah mata
kita memiliki kemampuan untuk menahan sinar tersebut. Namun, bila secara
terus menerus terpapar sinar juga tidak baik karena berakibat mata akan rusak.
Ultraviolet merusak kornea, sedangkan infra merah merusak lensa yang
menyebabkan katarak.
Dr. Janes mengungkapkan bahwa, sinar yang tidak terlihat mata
dengan panjang gelombang di bawah 400 nm atau di atas 750nm sangat tidak
baik karena mata tidak bereaksi terhadap sinar yang tidak terlihat itu. Contoh
ekstrimnya, radiasi karena rontgen atau bom atom. Kedua hal itu, paling
berpengaruh merusak mata. Tragedi Nagasaki dan Hiroshima di Jepang, yang
dalam angka menyebutkan bahwa, 10 persen penduduk yang tinggal dalam
radius 1 km yang dijatuhkan bom menderita katarak.
c. Trauma mekanik (Pasca bedah EKEK)
Ekstraksi katarak ekstrakapsular, yaitu mengeluarkan isi lensa (korteks
dan nukleus) melalui kapsul anterior yang dirobek (kapsulotomi anterior)
dengan meninggalkan kapsul posterior. Operasi katarak ini adalah merupakan
tehnik operasi untuk katarak Imatur/matur yang nukleus atau intinya keras
sehingga tidak memungkinkan dioperasi dengan tehnik fakoemulsifikasi.
Insisi kornea lebih kecil daripada ICCE (kira-kira 5 - 6 mm) sehingga proses
penyembuhan lebih cepat sekitar seminggu. Karena kapsul posterior yang
utuh, sehingga dapat dilakukan penanaman lensa intraokular (IOL).
Mengurangi resiko edema kornea. Kerugiannya berupa membutuhkan alat dan
tekniknya lebih sukar dibandingkan ICCE. Penyulit pada teknik ini berupa

23
adanya ruptur kapsul posterior, prolaps badan kaca, hifema, peningkatan
tekanan intraokular, endofthalmitis, katarak sekunder.
Katarak traumatik EKEK di sebabkan karena kekeruhan kapsul
posterior akibat katarak traumatik yang terserap sebagian atau setelah
terjadinya ekstraksi katarak ekstrakapsular. Epitel lensa subkapsul yang tersisa
mungkin mencoba melakukan regenerasi serat-serat lensa, sehingga
memberikan gambaran “telur ikan” pada kapsul posterior (manik-manik
Elschnig). Lapisan epitel yang berproliferasi tersebut mungkin menghasilkan
banyak lapisan, sehingga menimbulkan kekeruhan. Sel-sel ini mungkin juga
mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi serat-serat ini menimbulkan
banyak kerutan-kerutan kecil di kapsul posterior, yang menimbulkan distorsi
penglihatan. Semua ini menimbulkan penurunan ketajaman penglihatan
setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular
d. Trauma kimia (zat toksik)
Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an akibat
penelanan dinitrofenol (obat untuk menekan nafsu makan). Kortikosteroid
merupakan bahan yang berperan untuk menghilangkan gejala peradangan
dalam waktu cepat. Namun, juga mempengaruhi proses metabolisme tubuh,
sehingga lama kelamaan mengakibatkan kekeruhan pada lensa mata atau biasa
dikenal sebagai katarak. Pemberian kortikosteroid dalam jangka waktu lama
baik dalam pemberian sistemik maupun tetes, dapat mengakibatkan kekeruhan
lensa.

2. Manifestasi Klinis
Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi secara
progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan bervariasi, tergantung
pada jenis dari katarak yang diderita pasien.3,5
Gejala pada penderita katarak adalah sebagai berikut:
1. Penurunan visus
2. Silau
3. Perubahan miopik
4. Diplopia monocular
5. Halo bewarna
6. Bintik hitam di depan mata

Tanda pada penderita katarak adalah sebagai berikut:3


1. Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya
24
2. Pemeriksaan iluminasi oblik
3. Shadow test
4. Oftalmoskopi direk
5. Pemeriksaan sit lamp

Derajat kekerasan nukleus dapat dilihat pada slit lamp sebagai berikut.

B. Diagnosa

Diagnosa katarak senilis dapat dibuat dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit-
penyakit yang menyertai, seperti DM, hipertensi, dan kelainan jantung.6,8

Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui


kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subcapsuler posterior dapat
membaik dengan dilatasi pupil. Pemeriksaan adneksa okuler dan struktur intraokuler dapat
memberikan petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya.6

Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas lensa tetapi dapat
juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva, kornea, iris, bilik mata depan. Ketebalan
kornea harus diperiksa dengan hati-hati, gambaran lensa harus dicatat dengan teliti
sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil, posisi lensa dan intergritas dari serat zonular
juga dapat diperiksa sebab subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata
sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak hipermatur. Pemeriksaan shadow test
dilakukan untuk menentukan stadium pada katarak senilis. Selain itu, pemeriksaan
ofthalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari intergritas bagian belakang harus
dinilai.8

C. Diagnosis Banding

Diagnosa banding katarak adalah:

1. Ablasio Retina

25
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina sensorik, yakni lapisan

fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dan jaringan bagian dalam, epitel pigmen retina

dibawahnya. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu

perlekatan struktural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah

yang potensial untuk lepas secara embriologis.1


Gejala paling penting dari ablasio retina regmatogenosa adalah fotopsia (kilatan

cahaya pada mata), floaters (mouchesvolantes), dan skotoma absolut (bayangan). Jika

makula tidak terpengaruh, ketajaman visual dapat relatif bagus. Secara klinis, ablasio

retina menunjukkan permukaan pucat dan berkerut. Defek retinal, sel pigmen, dan

eritrosit ditemukan dalam korpus vitreous sering dengan tekanan intraokular subnormal. 5
Ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologi dan

pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Gejala umum pada ablasio retina yang sering dikeluhkan penderita adalah:
a. Floaters (terlihatnya benda melayang – laying) yang terjadi karena adanya

kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi

vitreus itu sendiri.1,6,7


b. Photopsi/light flashes (kilatan cahaya), tanpa adanya sumber cahaya di sekitarnya,

yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau

dalam keadaan gelap.6


c. Penurunan tajam penglihatan, penderita mengeluh penglihatannya sebagian seperti

tertutup tirai yang semakin lama semakian luas. Pada keadaan yang telah lanjut,

dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat.1,7,8


2. Pemeriksaan
Adapun tanda – tanda yang dapat ditemukan pada keadaan ini antar lain :

a. Pemeriksaan visus. Dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya

makula lutea atau kekeruhan media refrakta atau badan kaca yang menghambat

sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat terganggu bila makula lutea ikut

terangkat. 1,5,6
b. Tekanan intraokuler (TIO) biasanya sedikit hipotoni atau mungkin normal.1,6

26
c. Pemeriksaan funduskopi. Merupakan salah satu cara terbaik untuk mendiagnosa

ablasio retina dengan menggunakan oftalmoskop indirek binokuler. Pada

pemeriksaan ini retina yang mengalami ablasio tampak sebagai membran abu –

abu merah muda yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat

akumulasi cairan pada ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi retina

ketika mata bergerak. Pembuluh darah retina yang terlepas dari dasarnya

berwarna gelap, berkelok – kelok dan membengkok di tepi ablasio. Pada retina

yang terjadi ablasio telihat lipatan – lipatan halus. Satu robekan pada retina

terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya. 1,6,9
d. Ultrasonography mngkonfirmasikan diagnosis. Ini adalah nilai khusus pada

pasien media berkabut terutama dihadapan padat katarak. Pada ablasio eksudatif,

USG dapat mendeteksi penebalan koroid, ada atau tidaknya massa koroid, ukuran

dan lokasi massa koroid, dan ketebalan sklera.6,10

2. Endoftalmitis
Endoftalmitis adalah peradangan intraokuler yang melibatkan badan kaca dan segmen

anterior bola mata, serta dapat melibatkan struktur yang berdekatan seperti retina dan

koroid, biasanya akibat trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang

supuratif dalam bola mata, dan akan mengakibatkan abses di badan kaca. Bila terjadi

peradangan lanjut yang mengenai ketiga dinding bola mata, maka keadaan ini disebut

panoftalmitis.11,12,13
Endoftalmitis terjadi akibat suatu keradangan akut pada jaringan uvea dan retina

disertai pembentukan abses badan kaca (korpus vitreum). Keradangan tersebut

menyebabkan destruksi jaringan, sehingga tajam penglihatan mundur sampai buta.


Peradangan yang disebabkan bakteri akan memberikan gambaran klinik rasa sakit

yang sangat, kelopak merah dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva kemotik dan

merah, kornea keruh, bilik mata depan keruh. Selain itu akan terjadi penurunan tajam

penglihatan dan fotofobia (takut cahaya). Endoftalmitis akibat pembedahan biasa terjadi

27
setelah 24 jam dan penglihatan akan semakin memburuk dengan berlalunya waktu. Bila

sudah memburuk, akan terbentuk hipopion, yaitu kantung berisi cairan putih, di depan

iris.
Pasien terlihat sakit dapat disertai oleh demam, Pada mata timbul gejala berupa mata

sakit, merah, kelopak bengkak, edema kornea, disertai hipopion, refleks fundus hilang

akibat adanya nanah di dalam badan kaca. Tajam penglihatan sangat menurun. Tekanan

bola mata sangat merendah dan kadang-kadang meninggi akibat massa supuratif yang

tertumpuk di dalam bola mata.1


Endoftalmitis terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Endoftalmitis Supurativa

Dari luar tak tampak gejala-gejala peradangan. Gejala utama yang dirasakan

oleh penderita ialah penglihatan yang lekas hilang dan tidak kembali lagi, oleh karena

koroid yang sakit dan sudah rusak tidak dapat sembuh kembali. Pemeriksaan fokal :

dibelakang lensa tampak warna kuning, didalam badan kaca. Gambaran fundus tak

terlihat sama sekali, karena tertutup oleh abses tadi. Visus : 0 atau hanya persepsi

cahaya dengan proyeksi buruk. Tensi intraokuler sangat rendah. Disertai gejala umum,

seperti pada infeksi akut lainnya, suhu badan yang tinggi, menggigil dan sebagainya.14

2. Endoftalmitis Septika

Selain peradangan koroid, juga terdapat peradangan dari iris dan badan siliar.

Oleh karenanya selain abses badan kaca, disertai pula gejala-gejala dari iridosiklitis,

seperti injeksi perikornea, kornea yang keruh, keratik presipitat, dicoa flare (+),

mungkin ada hipopion, nyeri tekan pada bola mata, sakit kepala dan sakit pada mata.

Gerak mata masih baik. Visus lenyap dan tidak kembali lagi, disebabkan koroid yang

memberi makanan pada batang dan kerucut di retina rusak sama sekali oleh

degenerasi atau hanya persepsi cahaya dengan proyeksi yang buruk.5 Gejala umum

seperti pada penyakit infeksi akut yang lain, rasa sakit, demam, badan lemah, mual

28
dan muntah.5 Pus yang ada didalam badan kaca dan jaringan uvea, kemudian

mengalami jaringan organisasi jaringan fibrotik, yang disebut retinitis proliferans dan

bila mengisut menyebabkan ablasi retina. Tekanan intraokuler mula-mula dapat

meninggi, kemudian menurun. Tekanan yang tinggi dapat pula menyebabkan visus

menjadi 0 karena tekanan pada nervus II.14

3. Fibroplasi retrolental
Fibroplasi retrolental atau Retinopathy of prematurity (ROP) adalah suatu keadaan

dimana terjadinya perkembangan abnormal pada pembuluh darah retina pada bayi

prematur.15
-Retina merupakan jaringan yang unik. Pembuluh darah retina mulai terbentuk pada 3

bulan setelah konsepsi dan menjadi lengkap pada waktu kelahiran normal. Jika bayi lahir

sebelum waktunya, hal ini dapat mengganggu perkembangan mata. Pertumbuhan

pembuluh darah mungkin saja terhenti atau tumbuh abnormal misalnya rapuh dan bocor,

yang dapat menimbulkan perdarahan pada mata.


Semua bayi prematur dengan berat badan lahir dibawah dari 1500 gram dan masa

gestasi dibawah 30 minggu harus diperiksa secara rutin untuk mengetahui ada atau

tidaknya ROP. Bayi prematur akan diperiksa dini mulai 4 sampai 6 minggu setelah lahir.15
Berdasarkan derajatnya, ROP diklasifikasikan menjadi16 :

 Derajat 1 : Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang ringan. Pada stadium ini

biasanya membaik sendiri dan bayi akan mempunyai penglihatan yang normal.

 Derajat 2 : Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang sedang. Pada stadium ini

biasanya akan membaik sendiri dan bayi akan mempunyai penglihatan yang normal.

 Derajat 3 : Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang berat. Pembuluh darah

abnormal tersebut akan tumbuh ke arah sentral dan tidak mengikuti pola pertumbuhan

yang normal di permukaan retina. Pada stadium ini ada bayi yang akhirnya membaik

dan tidak memerlukan terapi serta mempunyai penglihatan yang normal. Pada bayi

dengan stadium III dan “plus disease (dimana pembuluh retina menjadi membesar dan

29
berkelok-kelok, yang mengindikasikan perubahan penyakit kearah yang lebih buruk),

terapi diperlukan terutama untuk mencegah terjadi pelepasan retina.

 Derajat 4 : Pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang berat ditambah robekan

lapisan retina sebagian yang berawal pada ridge. Retina tertarik ke anterior ke dalam

vitreous oleh ridge fibrovaskular, tarikan disebabkan oleh perdarahan.

 Derajat 5 : robekan retina total berbentuk seperti corong (funnel). Bayi akan

mengalami kebutaan. Pada derajat 5 memberi gambaran leukokoria.

D. Tatalaksana

Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Bergantung pada
integritas kapsul lensa posterior ;

Indikasi
Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup indikasi visus,medis, dan
kosmetik.8
1. Indikasi visus; merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini berbeda pada tiap
individu, tergantung dari gangguan yang ditimbulkan oleh katarak terhadap aktivitas
sehari-harinya.
2. Indikasi medis; pasien bisa saja merasa tidak terganggu dengan kekeruhan pada lensa
matanya, namun beberapa indikasi medis dilakukan operasi katarak seperti glaukoma
imbas lensa (lens-induced glaucoma), endoftalmitis fakoanafilaktik, dan kelainan
pada retina misalnya retiopati diabetik atau ablasio retina.
3. Indikasi kosmetik; kadang-kadang pasien dengan katarak matur meminta ekstraksi
katarak (meskipun kecil harapan untuk mengembalikan visus) untuk memperoleh
pupil yang hitam.

Persiapan Pre-Operasi6
1. Pasien sebaiknya dirawat di rumah sakit semalam sebelum operasi
2. Pemberian informed consent
30
3. Bulu mata dipotong dan mata dibersihkan dengan larutan Povidone-Iodine 5%
4. Pemberian tetes antibiotik tiap 6 jam
5. Pemberian sedatif ringan (Diazepam 5 mg) pada malam harinya bila pasien cemas
6. Pada hari operasi, pasien dipuasakan.
7. Pupil dilebarkan dengan midriatika tetes sekitar 2 jam sebelum operasi. Tetesan
diberikan tiap 15 menit
8. Obat-obat yang diperlukan dapat diberikan, misalnya obat asma, antihipertensi, atau
anti glaukoma. Tetapi untuk pemberian obat antidiabetik sebaiknya tidak diberikan
pada hari operasi untuk mencegah hipoglikemia, dan obat antidiabetik dapat
diteruskan sehari setelah operasi.

Anestesi8
1. Anestesi Umum
Digunakan pada orang dengan kecemasan yang tinggi, tuna rungu, atau retardasi
mental, juga diindikasikan pada pasien dengan penyakit Parkinson, dan reumatik
yang tidak mampu berbaring tanpa rasa nyeri.
2. Anestesi Lokal :
 Peribulbar block
Paling sering digunakan. Diberikan melalui kulit atau konjungtiva dengan jarum
25 mm. Efek : analgesia, akinesia, midriasis, peningkatan TIO, hilangnya
refleks Oculo-cardiac (stimulasi pada n.vagus yang diakibatkan stimulus rasa
sakit pada bola mata, yang mengakibatkan bradikardia dan bisa menyebabkan
cardiac arrest)
Komplikasi :
o Perdarahan retrobulbar
o Rusaknya saraf optik
o Perforasi bola mata
o Injeksi nervus opticus
o Infeksi

 Subtenon Block
Memasukkan kanula tumpul melalui insisi pada konjungtiva dan kapsul tenon 5
mm dari limbus dan sepanjang area subtenon. Anestesi diinjeksikan diantar
ekuator bola mata.
 Topical-intracameral anesthesia
Anestesi permukaan dengan obat tetes atau gel (proxymetacaine 0.5%,
lidocaine 2%) yang dapat ditambah dengan injeksi intrakamera atau infusa
larutan lidokain 1%, biasanya selama hidrodiseksi.

Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi
katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi, SICS.

1. Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)

31
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh
lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata
melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya
pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak
sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.ICCE tidak
boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang
masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada
pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.3,6,8

Gambar 11. Teknik ICCE

2. Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )

Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa
dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek
lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak
muda, pasien dengan kelainan endotel, implantasi lensa intra ocular posterior,
perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan
bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata

32
sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina,
mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada
saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat
timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.3,6,8

Extracapsular cataract extraction


1. Anterior 2. Completion of
capsulotomy incision

3. Expression of 4. Cortical cleanup


nucleus

5. Care not to aspirate


posterior capsule 6. Polishing of posterior
accidentally capsule, if appropriate

33
Gamabar 13. ECCE dengan pemasangan IOL

3. Phacoemulsification

Phakoemulsifikasi (phaco) adalah teknik


untuk membongkar dan memindahkan
kristal lensa. Pada teknik ini diperlukan
irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di
kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan
untuk menghancurkan katarak, selanjutnya
mesin PHACO akan menyedot massa
katarak yang telah hancur sampai bersih.
Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat
dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena
incisi yang kecil maka tidak diperlukan
jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-
hari.Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak
senilis.3,6,8

34
Phacoemulsific tion
1. Capsulorrhexis 2. Hydrodissection

3. Sculpting of nucleus 4. Cracking of nucleus

5. Emulsification of 6. Cortical cleanup and


each quadrant insertion of IOL

4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)


Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm. Namun
tetap dikatakan SICS sejak design arsiteknya tanpa jahitan, Penutupan luka insisi
terjadi dengan sendirinya (self-sealing). Teknik operasi ini dapat dilakukan pada
stadium katarak immature, mature, dan hypermature. Teknik ini juga telah dilakukan
pada kasus glaukoma fakolitik dan dapat dikombinasikan dengan operasi
trabekulektomi.6

35
Jenis tehnik Keuntungan Kerugian
bedah katarak
Extra capsular  Incisi kecil  Kekeruhan pada
cataract  Tidak ada komplikasi kapsul posterior
extraction vitreus  Dapat terjadi
(ECCE)  Kejadian perlengketan iris dengan
endophtalmodonesis lebih kapsul
sedikit
 Edema sistoid makula
lebih jarang
 Trauma terhadap
endotelium kornea lebih
sedikit
 Retinal detachment lebih
sedikit
 Lebih mudah dilakukan

Intra capsular  Semua komponen lensa  Incisi lebih besar


cataract diangkat  Edema cistoid pada
extraction makula
(ICCE)  Komplikasi pada
vitreus
 Sulit pada usia < 40
tahun
 Endopthalmitis
Fakoemulsifikasi  Incisi paling kecil  Memerlukan dilatasi
 Astigmatisma jarang pupil yang baik
terjadi  Pelebaran luka jika ada
 Pendarahan lebih sedikit IOL
 Teknik paling cepat

KOMPLIKASI PEMBEDAHAN
Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif, postoperatif
awal, postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa intra okular (intra
ocular lens, IOL).
A. Komplikasi preoperatif
a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat ketakutan
akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat memperbaiki
keadaan.

36
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid dan/atau
gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida oral untuk
mengurangi gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep
antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2 hari.

B. Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
b) Edema kornea
c) Uvetis kronik
d) Endoftalmitis
e) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau selama
insisi ke bilik mata depan.
f) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat terjadi
akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
g) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
h) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi akibat
ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.

C. Komplikasi postoperatif awal


Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema, prolaps iris,
keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis bakterial.

D. Komplikasi postoperatif lanjut


Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative endophtalmitis,
Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan katarak sekunder
merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa waktu post operasi.

E. Komplikasi yang berkaitan dengan IOL


Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucoma-hyphema
syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa toksik (toxic lens
syndrome).

PREVENTIF DAN PROMOTIF


Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah
oleh karena faktor usia, namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang
memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik, mencegah paparan langsung terhatap
sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya. Pemberian intake
antioksidan (seperti asam vitamin A, C dan E) secara teori bermanfaat.5

37
Bagi perokok, diusahakan berhenti merokok, karena rokok memproduksi radikal
bebas yang meningkatkan risiko katarak. Selanjutnya, juga dapat mengkonsumsi makanan
bergizi yang seimbang. Memperbanyak porsi buah dan sayuran. Lindungilah mata dari sinar
ultraviolet. Selalu menggunakan kaca mata gelap ketika berada di bawah sinar matahari.
Lindungi juga diri dari penyakit seperti diabetes.6

PROGNOSIS
Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak senilis dapat memperbaiki
ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus. Sedangkan prognosis penglihatan untuk
pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak
senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi
tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan
ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan
paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat.4

BAB III
KESIMPULAN
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya.
Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak
mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat
kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Berbagai macam penyakit
mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis dan retinitis pigmentosa.
Katarak juga dapat berhubungan dengan penyakit vascular lanilla.

38
Berdasarkan usia dapat diklasifikasikan dalam : Katarak kongenital , Katarak yang
sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun, Katarak juvenile, Katarak yang terjadi sesudah usia
1 tahun, dan Katarak senilis, katarak setelah usia 50 tahun .
Gambaran umum gejala katarak yang lain,seperti: Berkabut, berasap, penglihatan
tertutup film, perubahan daya lihat warna, gangguan mengendarai kendaraan malam hari,
lampu besar sangat menyilaukan mata, lampu dan matahari sangat mengganggu, sering
meminta ganti resep kaca mata, melihat ganda, baik melihat dekat pada pasien rabun dekat
(hipermetropia), gejala lain juga dapat terjadi pada kelainan mata ini.
Pada pemeriksaan klinis, ketajaman penglihatan dan dengan melihat lensa melalui
senter tangan, kaca pembesar, slit lamp, dan oftalmoskop sebaiknya saat pupil berdilatasi.
Dengan penyinaran miring (45 derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan
mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow).
Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. Pengobatan yang
diberikan biasanya hanya memperlambat proses, tetapi tidak menghentikan proses degenerasi
lensa. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk menghambat proses katarak adalah
vitamin dosis tinggi, kalsium sistein, iodium tetes.
Prognosis penglihatan pasien katarak anak – anak yang memerlukan pembedahan
tidak sebaik prognosis pasien katarak terkait usia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology. 17th ed. USA : Mc Graw-Hill;
2007.
2. Guyton AC, Hall EH. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Philadelphia : W.B. Saunders
Company ; 2006.
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
4. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 7 th ed. China: Elsevier :
2011. (e-book)
5. Ocampo VVD. Cataract, Senile : Differential Diagnosis and Workup. 2009. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/1210914-overview, tanggal 08 Februari 2014.
6. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment:2010. BR J Ophthalmol. 2011.
7. Scanlon VC, Sanders T. Indra. In. : Komalasari R, Subekti NB, Hani A, editors. Buku Ajar Anatomi
dan Fisiologi. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.

39
8. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya
Medika, 2000.
9. Anonim. 2010. Cataract. Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/Cataract , tanggal 5 Januari 2012.

10. Ilham. 2006. Epidemiologi Katarak. Diakses dari


http://www.scribd.com/doc/20283414/EPIDEMIOLOGI-KATARAK .

11. Ilyas, S. 2005. Ilmu Penyakit Mata. Ed. 3. FKUI: Jakarta.

12. Ocampo, V.V.D. 2009. Cataract, Senile: Differential Diagnosis and Workup. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/1210914-overview

13. Razi. 2011. Katarak Senilis. Diakses dari http://razimaulana.wordpress.com/2011/03/24/katarak-


senilis/ , tanggal

14. Said. 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis. Diakses dari
http://alfinzone.files.wordpress.com/2010/12/patologi-pada-katarak1.pdf , tanggal

40