Anda di halaman 1dari 52
See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/323747674

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/323747674

Thesis · March 2018

CITATIONS

0

1 author:

Muhammad Lutfi STISIP Muhammadiyah Sinjai Muhammad Lutfi STISIP Muhammadiyah Sinjai

2 PUBLICATIONS 0 CITATIONS SEE PROFILE
2 PUBLICATIONS
0 CITATIONS
SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Tesis/Tugas Akhir Program S2 View project View project

All content following this page was uploaded by Muhammad Lutfi on 14 March 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

READS

909

NASKAH PUBLIKASI

PELEMBAGAAN PARTAI POLITIK DI TINGKAT LOKAL (Studi tentang Pelembagaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai Pasca Kekalahan pada Pemilu 2009)

Untuk Membantu Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2

Membantu Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2 Diajukan Oleh: Muhammad Lutfi 10/306972/PSP/03974 Kepada

Diajukan Oleh:

Muhammad Lutfi

10/306972/PSP/03974

Kepada

Program Pasca Sarjana Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2012

i
i

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelembagaan Partai Golkar Kabupaten Sinjai pasca kekalahan pada Pemilu 2009, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya pelembagaan partainya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Untuk pengumpulan data penelitian, diperoleh melalui wawancara mendalam, pemanfaatan data-data sekunder, dan observasi langsung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai pasca kekalahannya pada Pemilu 2009 belum berhasil membangun pelembagaan partai yang kuat, dengan beberapa alasan. Pertama, Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam hal-hal tertentu terkait dalam pengambilan keputusan masih dipengaruhi oleh kuatnya unsur ketokohan dan elitisme, baik yang berasal dari internal Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri maupun dari level-level di atasnya (DPD I dan DPP). Kedua, pengurus partai di daerah jarang sekali melakukan inovasi dan kreatifitas program yang dapat mendukung arah dan perjuangan sesuai dengan visi dan misi partai. Program-program yang dilaksanakan senantiasa dilakukan sekedar melaksanakan amanah partai, tanpa ada tindak lanjut nyata sebagai wujud keberlanjutan program. Ketiga, lemahnya pemahaman kader partai akan ideologi dan platform partai sebagai basis identitas partai. Keempat, Partai Golkar Kabupaten Sinjai secara kelembagaan sampai saat ini tidak memiliki basis yang kuat di masyarakat.

Studi ini kemudian menawarkan bahwa untuk melihat kemapanan partai, tidak hanya dapat dilihat pada level nasional saja. Padahal, peran partai di daerah akan sangat menentukan keberhasilan partai secara umum, karena daerahlah yang menjadi basis terdepan partai dalam melaksanakan program dan perjuangan partai yang telah ditentukan di tingkat pusat. Hasil studi ini menunjukkan pula bahwa kehadiran partai politik di daerah sebagai sub-struktur dari partai politik di tingkat pusat, seakan hanya menjadi “pelaksana tugas” dan mengadopsi standar kebijakan yang telah diatur oleh pusat maupun propinsi. Kondisi di atas berakibat kepada pelemahan institusionalisasi partai politik di tingkat lokal.

Kata Kunci : partai politik, Partai Golkar Kabupaten Sinjai, pelembagaan partai.

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

Halaman Persetujuan

iii

Intisari

iv

Daftar Isi

v

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

3

C. Tujuan Penelitian

3

D. Kerangka Teori

3

D.1. Partai Politik

3

D.2. Pelembagaan Partai Politik

5

E. Metode Penelitian

11

F. Pembahasan

13

F.1. Dinamika Partai Golkar Di Kabupaten Sinjai

13

F.2. Derajat Kesisteman

16

F.2.1. Demokrasi Internal

17

F.2.2. Keutuhan Organisasi

19

F.2.3. Sistem Keanggotaan dan Kaderisasi

20

F.3. Derajat Kemandirian Partai

23

F.3.1. Kemandirian Keuangan Partai

23

F.3.2. Kemandirian Pengambilan Keputusan

26

F.4. Derajat Penanaman Nilai

28

F.4.1. Basis Dukungan Partai

29

F.4.2. Pengaruh Klientisme dalam Partai

32

 

F.5. Derajat Pemahaman Publik

34

F.5.1 Kiprah Partai Dalam Politik Lokal

34

F.5.2 Kiprah Partai di Masyarakat

37

G.

Kesimpulan

40

Daftar Pustaka

45

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Studi ini mengkaji tentang pelembagaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai pasca kekalahannya pada Pemilu 2009. Pelembagaan partai politik menjadi penting untuk dilakukan, agar partai politik dapat berperan dan berfungsi dengan baik. Selain itu,

perubahan sistem politik yang terjadi serta meningkatnya kompleksitas yang terjadi dalam masyarakat dibutuhkan sistem pelembagaan partai politik yang baik agar suatu partai tetap mampu berkompetisi. Sebuah partai yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, akan berakibat pada ketidakmampuannya bertahan dan meraih dukungan dan simpati yang besar dari masyarakat. Dalam sistem pemerintahan demokratis partai politik berfungsi sebagai representasi dari kepentingan warga negara melalui anggotanya yang duduk dalam lembaga legislatif yang dipilih lewat pemilu. Partai politik juga berperan penting dalam proses penentuan kepemimpinan baik di tingkat pusat maupun di daerah. Pada level daerah, dengan sistem pemilihan langsung kepala daerah, partai politik menjadi wadah untuk mengusung calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung dalam Pemilukada. Dengan tugas dan fungsinya tersebut, partai politik dituntut untuk senantiasa menjaga dan memelihara stabilitas organisasinya, melalui pembenahan secara internal maupun eksternal. Dengan kondisi ini, sistem pelembagaan partai politik yang mapan menjadi penting, baik dalam upaya untuk memenangkan kompetisi dalam pemilu, maupun untuk ikut serta dalam proses perumusan kebijakan publik.

Gambaran-gambaran yang diuraikan di atas itulah yang kemudian menginspirasi studi ini, dengan melihat kasus partai politik di tingkat lokal. Dalam studi ini difokuskan untuk melihat sistem pelembagaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai, dengan mengacu pada beberapa alasan. Pertama, Partai Golkar merupakan partai tua yang menurut beberapa penelitian sebelumnya memiliki tingkat pelembagaan yang cukup mapan di level nasional. Sehingga dalam penelitian ini ingin mengukur pelembagaan Partai Golkar di level lokal, yakni di Kabupaten Sinjai. Kedua, Partai Golkar di Kabupaten Sinjai pada 2 (dua) kali Pemilu legislatif pasca orde baru (Pemilu 1999 dan 2004) masih menjadi peraih kursi terbanyak di DPRD. Namun sejak itu pula

Partai Golkar justru mengusung calon Bupati dari luar partai. Ketiga, pada Pemilu Legislatif 2009 justru mengalami penurunan suara yang signifikan yang dibarengi dengan kekalahan dalam perolehan kursi di legislatif daerah (DPRD Sinjai). Dengan mengacu pada kondisi tersebut di atas, setidaknya dapat dipahami bahwa tanda-tanda kemunduran Partai Golkar Kabupaten Sinjai sudah terjadi pada Tahun 2003 ketika ketuanya diusung sebagai calon bupati namun dapat dikalahkan oleh calon lain. Sehingga berimbas pula pada pelaksanaan Pemilu legislatif Tahun 2004, di mana perolehan suara dan kursi di DPRD mengalami penurunan. Kemunduran Partai Golkar secara nasional yang mulai terlihat pada tahun 2004 kenyataannya tidak berimbas sampai ke tingkat lokal khususnya di Kabupaten Sinjai. Sehingga studi ini kemudian mnegkaji Partai Golkar Kabupaten Sinjai pasca Pemilu

2009.

Artinya bahwa momentum kekalahan dalam perolehan kursi yang dialami oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai pada Pemilu 2009 inilah yang kemudian menjadi unit analisis dalam studi ini. Dalam artian bahwa studi ini lebih memfokuskan untuk mengkaji upaya Partai Golkar Kabupaten Sinjai melakukan pelembagaan partai pasca kekalahannya pada Pemilu 2009. Karena puncak kemunduran Partai Golkar Kabupaten Sinjai terjadi pada Pemilu Tahun 2009, di mana Partai Golkar Kabupaten Sinjai untuk pertama kalinya gagal menjadi peraih kursi terbanyak di DPRD Sinjai. Partai Golkar Kabupaten Sinjai dengan kekalahannya dalam perolehan kursi tersebut, merupakan satu-satunya kekalahan yang dialami oleh Partai Golkar di Sulawesi Selatan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pelembagaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai pasca kekalahan pada Pemilu 2009?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pelembagaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai pasca kekalahan pada Pemilu 2009.

2. Untuk mengungkap kendala-kendala yang dihadapi Partai Golkar di Kabupaten Sinjai dalam proses pelembagaan partainya.

D. Kerangka Teori

D.1 Partai Politik Kehadiran partai politik dalam suatu negara yang demokratis merupakan suatu keharusan, karena keberadaannya merupakan salah satu instrumen utama demokrasi. Partai politik merupakan wadah penyaluran aspirasi dan partisipasi politik

masyarakat serta akan diharapkan menjadi pengendali pemerintah

dalam mengelola hubungan antara masyarakat dengan pemerintah.

Definisi tentang partai politik telah banyak dikemukakan

oleh para ahli. Sigmund Neumann (dikutip dalam Miriam Budiarjo

2007, h. 404) mengemukakan bahwa :

“Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda”. Dalam pengertian ini, nampaknya Neumann menekankan

pentingnya penanaman ideologi kepada masyarakat melalui

kegiatan-kegiatan politik untuk mendapatkan dukungan. Karena

dalam usaha meraih kekuasaan politik, golongan lain yang memiliki

ideologi berbeda juga akan melakukan hal yang sama.

Sementara itu, Sartori (dikutip dalam Miriam Budiarjo

2007, h. 404) lebih menekankan pada aspek penempatan calon-

calon dari partai politik dalam menduduki jabatan publik. Jabatan

publik tersebut didapatkan dengan cara-cara yang konstitusional

yakni melalui pemilihan umum.

Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum, dan melalui pemilihan umum itu, mampu menempatkan calon-calonnya untuk menduduki jabatan-jabatan publik (A party is any political group that present at election, and is capable of placing trhough elections candidates for public office)”

Secara umum, Riswandha Imawan mengemukakan bahwa

pada dasarnya definisi-definisi mengenai partai politik memiliki

kesamaan ciri, yakni : pertama, kumpulan orang-orang se ide dan

berupaya mewujudkan ide-ide tersebut. Kedua, memiliki organisasi

yang rapi, yang memiliki kontinuitas kegiatan sepanjang tahun.

Ketiga, berupaya menyusun agenda kebijakan, serta berusaha

mempengaruhi pengambilan keputusan atas agenda tersebut.

Keempat, berambisi menempatkan wakil-wakilnya dalam jajaran

pemerintahan untuk mewujudkan ide-idenya (dikutip dalam

Ratnawati 2006, h. 2)

Berdasarkan beberapa pengertian partai politik di atas,

partai politik pada hakekatnya mempunyai kemampuan penetrasi

(penguasaan jabatan publik) tidak hanya dalam konteks orientasi

jabatan publik atau yang kemudian disebut office, melainkan juga

dalam orientasi to drive public policy. Untuk itu, secara umum fungsi

partai politik adalah representasi (perwakilan), konversi dan

agregasi, integrasi (partisipasi, sosialisasi, mobilisasi), persuasi,

represi, rekruitmen, pemilihan pemimpin, pertimbangan dan

perumusan kebijakan, serta kontrol terhadap pemerintah (Macridis

1996, h. 26).

D.2 Pelembagaan Partai Politik

Konsep mengenai pelembagaan partai politik telah

banyak dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya adalah konsepsi

pelembagaan partai politik yang dikemukakan oleh Vicky Randall

dan Lars Svasand. Dengan merujuk dari beberapa dimensi

pelembagaan partai politik yang dikemukakan oleh Huntington,

Panebianco, dan Kenneth Janda, Vicky Randall dan Lars Svasand

(2002, h. 12) kemudian merumuskan bahwa :

“pelembagaan partai politik dipahami sebagai proses pemantapan partai politik baik dalam wujud perilaku yang memola maupun dalam sikap atau budaya (process by which the party becomes established in terms

both of integrated patterns of behaviour and of attitudes, or culture)”.

Lebih

lanjut

keduanya

mengelompokkan pelembagaan

partai menjadi 4 (empat) dimensi, yaitu sebagai berikut :

Dimensi

   

Kepartaian

Internal

Eksternal

Structural

Systemness

Decisional autonomy (Otonomi Keputusan)

(Struktural)

(Kesisteman)

Attitudinal

Value infusion

Reification (Citra pada Publik)

(Kultural)

(Identitas Nilai)

Proses pelembagaan ini mengandung dua aspek, aspek

internal-eksternal, dan aspek struktural-kultural. Bila kedua

dimensi ini dipersilangkan, maka akan tampak sebuah tabel empat

sel, yaitu (1) derajat kesisteman (systemness) suatu partai sebagai

hasil persilangan aspek internal dengan struktural, (2) derajat

identitas nilai (value infusion) suatu partai sebagai hasil persilangan

aspek internal dengan kultural, (3) derajat otonomi suatu partai

dalam pembuatan keputusan (decisional autonomy) sebagai hasil

persilangan aspek eksternal dengan struktural, dan (4) derajat

pengetahuan atau citra publik (reification) terhadap suatu partai

politik sebagai persilangan aspek eksternal dengan kultural.

Dimensi pelembagaan partai yang dikemukakan oleh

Randall dan Svasand inilah yang kemudian menjadi rujukan dalam

penelitian. Alasannya didasarkan bahwa konsep pelembagaan yang

diuraikan oleh mereka merupakan hasil perpaduan dari konsep

pelembagaan partai yang dikemukakan oleh para ahli. Selain itu,

dalam konsepsi ini mencakup pelembagaan internal dan eksternal

partai politik. Konsepsi mengenai pelembagaan partai yang dikemukakan oleh Randall dan Svasand ini kemudian dielaborasi lebih mendalam oleh Surbakti (2003). Derajat kesisteman (Systemness) Yang dimaksudkan dengan kesisteman adalah proses pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik, termasuk penyelesaian konflik, dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur, dan mekanisme yang disepakati dan ditetapkan dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai politik. AD/ART partai politik dirumuskan secara komprehensif dan rinci sehingga mampu berfungsi sebagai kaidah dan prosedur penuntun perilaku dalam melaksanakan semua fungsi partai politik. Suatu partai politik dapat dikatakan sudah melembaga dari segi kesisteman bila partai politik melaksanakan fungsinya semata-mata menurut AD/ART yang dirumuskan secara komprehensif dan rinci itu. Derajat kesisteman suatu partai bervariasi menurut: (a) asal-usul partai politik, yaitu apakah dibentuk dari atas, dari bawah, atau dari atas yang disambut dari bawah; (b) siapakah yang lebih menentukan dalam partai: seorang pemimpin yang disegani atau pelaksanaan kedaulatan anggota menurut prosedur dan mekanisme yang ditetapkan organisasi sebagai suatu kesatuan; (c) siapakah yang menentukan dalam pembuatan keputusan: faksi-faksi dalam partai ataukah partai secara keseluruhan; dan (d) bagaimana partai memelihara hubungan dengan anggota dan simpatisan, yaitu apakah dengan klientelisme (pertukaran dukungan dengan pemberian materi) atau menurut konstitusi partai (AD/ART).

Identitas nilai (Value Infusion) Identitas nilai berkait dengan orientasi kebijakan dan tindakan partai politik menurut ideologi atau platform partai. Identitas nilai seperti ini tidak hanya tampak pada pola dan arah kebijakan yang diperjuangkan partai politik tetapi juga tampak pada basis sosial pendukungnya. Lapisan sosial atau golongan masyarakat memberi dukungan kepada suatu partai karena mengidentifikasi orientasi politiknya dengan ideologi atau platform partai itu. Karena itu derajat identitas nilai suatu partai politik berkaitan dengan (a) hubungan partai dengan kelompok populis tertentu (popular bases), yaitu apakah suatu partai politik mengandung dimensi sebagai gerakan sosial yang didukung kelompok populis tertentu, seperti buruh, petani, dunia usaha, kelas menengah, komunitas agama tertentu, komunitas kelompok etnik tertentu, dan (b) pengaruh klientelisme dalam organisasi, yaitu apakah hubungan partai dengan anggota cenderung bersifat instrumentalis (anggota selalu mengharapkan tangible resources berupa materi dari partai) ataukah lebih bersifat ideologis (anggota mengenal dan mengharapkan partai bertindak berdasarkan identifikasi terhadap ideologi partai). Suatu partai politik dapat dikatakan telah melembaga dari segi identitas nilai bila partai itu telah memiliki lapisan sosial atau golongan masyarakat sebagai pendukung loyal (basis sosial) karena pola dan arah kebijakan yang diperjuangkannya dan bila dukungan yang diberikan kepada partai itu bukan semata-mata karena menerima materi tertentu dari partai tetapi karena orientasi politiknya sesuai ideologi atau platform partai itu. Partai politik

yang mempunyai basis sosial pendukung yang spesifik niscaya akan memiliki identitas nilai yang jelas. Selain itu karena ideologi partai belum dijabarkan dalam bentuk pola dan arah kebijakan publik yang diperjuangkan, maka perbedaan di antara partai politik itu baru tampak secara simbolis. Karena itu, masih sukar mengategorikan basis sosial pendukung setiap partai politik di Indonesia. Derajat Otonomi (Decisional Autonomy) Derajat otonomi suatu partai politik dalam pembuatan keputusan berkait dengan hubungan partai dengan aktor luar partai, baik dengan sumber otoritas tertentu (penguasa, pemerintah), maupun dengan sumber dana (pengusaha, penguasa, negara atau lembaga luar), dan sumber dukungan massa (organisasi masyarakat). Pola hubungan suatu partai dengan aktor di luar partai dapat berupa: (a) hubungan ketergantungan kepada aktor luar, (b) hubungan itu bersifat saling tergantung (interdependen), dan (c) hubungan itu berupa jaringan (linkage) yang memberi dukungan kepada partai. Suatu partai politik dapat dikatakan sudah melembaga dari segi otonomi partai bila keputusan partai politik itu tidak didikte pihak luar tetapi diputuskan sendiri dengan atau tanpa konsultasi dengan aktor luar yang menjadi mitra atau jaringan pendukung partai itu. Suatu partai akan memiliki otonomi dalam pembuatan keputusan bila dana untuk membiayai kegiatan partai berasal dari iuran anggota, kontribusi pengurus, dan aktivis di luar iuran.

Pengetahuan Publik (Reification) Derajat pengetahuan publik tentang partai politik merujuk pertanyaan apakah keberadaan partai politik itu telah tertanam pada imajinasi publik seperti dimaksudkan partai politik itu. Yang menjadi isu utama di sini bukan terutama tentang sikap masyarakat mengenai partai politik umumnya, tetapi tentang corak dan kiprah masing-masing partai politik bagi masyarakat. Bila sosok dan kiprah partai politik tertentu telah tertanam pada imajinasi publik seperti dimaksudkan partai itu, maka pihak lain baik individu maupun lembaga di masyarakat akan menyesuaikan aspirasi dan harapannya atau sikap dan perilaku mereka dengan keberadaan partai politik itu. Suatu partai politik dapat dikatakan sudah melembaga dari segi pengetahuan publik bila masyarakat umum mendefinisikan sosok dan kiprah partai politik itu sesuai identitas nilai (platform) partai itu sehingga masyarakat pun dapat memahami (meski belum tentu setuju) mengapa suatu partai politik melakukan jenis tindakan tertentu dan tidak melakukan jenis tindakan lain. Harus dibedakan secara jelas antara mengetahui sosok dan kiprah suatu partai sesuai yang dimaksudkan partai itu dengan sikap setuju atau tidak setuju terhadap sosok dan kiprah partai itu.

Derajat pengetahuan publik ini merupakan fungsi dari waktu dan kiprah partai itu. Makin tua umur suatu partai politik makin jelas definisi atau pengetahuan publik mengenai partai itu. Makin luas dan mendalam kiprah suatu partai dalam percaturan

politik, makin mudah bagi kalangan masyarakat untuk mengetahui sosok dan kiprah partai politik itu.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode seperti ini lebih dipilih karena penelitian ini lebih mengutamakan analisa deskriptif. Penelitian kualitatif digunakan dengan maksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks

khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong 2010, h. 6). Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, tekhnik yang digunakan adalah :

1. Dokumentasi Data yang diperoleh melalui dokumen adalah data-data dan dokumentasi yang terkait kegiatan-kegiatan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai, serta notulen-notulen rapat maupun hasil-hasil keputusan Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang berkaitan dengan topik dan masalah penelitian.

2. Wawancara Dalam rangka mencapai informasi yang spesifik dan mendalam, untuk menjawab pertanyaan penelitian sekaligus sebagai bentuk konfirmasi atas dokumen- dokumen yang didapatkan melalui dokumentasi, maka wawancara dalam penelitian ini mutlak dilakukan. Wawancara dilakukan secara terfokus, guna efisiensi dan efektivitas waktu dalam penelitian ini.

3.

Observasi langsung

Observasi langsung dilakukan dengan tujuan melihat dinamika Partai Golkar Kabupaten Sinjai pasca kekalahan pada Pemilu 2009 dalam upaya pelembagaan partai. Dalam penelitian ini juga melihat dan mengamati secara secara langsung kegiatan-kegiatan partai secara internal maupun dalam berinteraksi dengan masyarakat. Untuk analisis terhadap data yang telah diperoleh, dilakukan dengan mendasarkan kepada asumsi jawaban dari pertanyaan penelitian yang telah dibuat, dengan melalui tahapan dalam bentuk tujuan penelitian yang ingin dicapai. Dalam hal ini proses kegiatan analisis data meliputi a) tahap pengumpulan data, b) mereduksi data untuk mendapatkan pokok-pokok tema yang dianggap memiliki relevansi dengan masalah penelitian, c) penilaian data, yang dilakukan dengan cara mengkategorikan data primer dan data sekunder dengan sistem pencatatan yang relevan, d) menginterpretasikan data, yang dilakukan dengan cara menganalisis secara kritis data yang terkumpul dan pada akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Jadi, data yang telah diperoleh, diarahkan untuk mencapai tujuan penelitian tersebut. Sehingga data yang diperoleh bisa menjadi suatu kesimpulan, sebagai jawaban atas pertanyaan penelitian.

F. PEMBAHASAN F. 1. DINAMIKA PARTAI GOLKAR DI KABUPATEN SINJAI Tujuan dari bab ini pada dasarnya adalah menunjukkan bagaimana dinamika Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang begitu dominan di masa orde baru, sampai kemudian di masa reformasi mengalami penurunan suara yang cukup signifikan pada Pemilu 2009. Meskipun penulis kemudian tidak serta mengklaim bahwa terjadinya penurunan suara ini disebabkan karena pelembagaan partai yang tidak mapan. Namun dari temuan-temuan yang diperoleh, terlihat adanya pengaruh pelembagaan partai dalam dinamika yang terjadi dengan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai. Keberadaan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai tidak dapat dilepaskan dari sejarah Partai Golkar di tingkat pusat. Seperti digambarkan di atas bahwa pada masa orde baru Golkar merupakan kendaraan politik pemerintah dan menjadi tulang punggung pemerintahan orde baru dalam setiap pelaksanaan Pemilu. Praktis di daerah kondisi ini dimanfaatkan pula oleh elit-elit penguasa di tingkat lokal untuk menjadikan Golkar sebagai kendaraan politik. Doktrin penguasa orde baru melalui yang kesannya mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mendukung Golkar, menyebabkan sebagian besar kepengurusan di daerah didominasi dari kalangan PNS.

Dominasi Golkar di Kabupaten Sinjai pada setiap Pemilu di masa orde baru sangat terlihat jelas. Partai pesaing (PDI dan PPP) seakan hanya sebagai pelengkap untuk sekedar menunjukkan adanya unsur demokrasi dalam pelaksanaan pemilu. Apalagi beberapa pendapat mengemukakan bahwa salah satu lumbung

suara Partai Golkar terdapat di Indonesia Timur. Adanya tiga kekuatan utama (birokrasi, militer, dan organisasi massa) yang menopang Golkar kala itu dimanfaatkan dengan baik. Dengan dukungan tiga kekuatan inilah, Golkar di Kabupaten Sinjai senantiasa menjadi pemenang dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Oleh karenanya, dalam bagian ini penulis tidak mencoba untuk menyajikan dan menjelaskan sistem pelembagaan Partai Golkar pada masa orde baru. Dengan asumsi penulis bahwa akan sangat sulit mengkaji pelembagaan sebuah partai di tengah situasi politik yang tidak sehat. Capaian-capaian yang diperoleh Golkar di masa orde baru, menurut penulis bukan karena kemampuannya dalam melembagakan organisasinya sesuai dengan kerangka teori pelembagaan partai. Tetapi lebih karena adanya intervensi kekuasaan yang sangat besar untuk menjadikan Golkar sebagai pemenang tunggal dalam setiap pemilu di masa orde baru. Seiring dengan perubahan politik nasional yang memaksa Golkar di tingkat nasional berbenah dan berubah menjadi partai politik, tentunya juga secara struktural sampai ke level daerah. Terbukanya kran demokrasi dengan pemberlakuan undang-undang partai politik yang baru, berimbas pula terhadap dominasi Partai Golkar di Kabupaten Sinjai. Penurunan suara Partai Golkar pada Pemilu 1999 di tingkat nasional, juga dialami oleh Partai Golkar di Kabupaten Sinjai. Walaupun pada Pemilu 1999 berdasarkan data dari DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai, Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih merupakan peraih suara terbanyak dengan persentase 69% dan raihan 19 kursi dari 30 kursi di DPRD II Sinjai. Hal ini menunjukkan bahwa pada awal-awal reformasi Partai Golkar

Kabupaten Sinjai masih cukup kuat dalam menggalang kekuatan dan jaringannya untuk memenangkan pemilu. Tanda-tanda kemunduran yang dialami oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai mulai terlihat ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kabupaten Sinjai pada tahun 2003. Dalam pelaksanaan pemilihan bupati yang dilakukan oleh Anggota DPRD Sinjai yang terdiri dari 30 anggota, calon dari Partai Golkar justru kalah dari calon lain. Padahal jika dilihat dari nominal anggota DPRD pada masa itu, Partai Golkar masih menguasai kursi legislatif dengan 19 kursi. Apalagi pasangan calon yang diusung oleh Partai Golkar adalah Ketua DPRD II yang juga adalah Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai. Dalam pemilihan tersebut, calon dari Partai Golkar hanya memperoleh sebanyak 13 suara. Selanjutnya pada Pemilu Legislatif tahun 2004, Partai Golkar Kabupaten Sinjai kembali mengalami penurunan suara dari pemilu sebelumnya. Walaupun dalam perolehan suara, Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih merupakan peraih suara dan kursi terbanyak di legislatif. Di mana pada Pemilu 2004, perolehan kursi Partai Golkar Kabupaten Sinjai di DPRD turun menjadi 13 kursi dari 19 kursi pada Pemilu 1999. Kemerosotan perolehan suara dan dukungan terhadap Partai Golkar Kabupaten Sinjai akhirnya terjadi pada Pemilu Legislatif 2009 lalu. Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya pasca orde baru, perolehan suara Partai Golkar Kabupaten Sinjai juga mengalami penurunan suara, namun tetap menjadi peraih kursi terbanyak di legislatif. Pada penyelenggaraan pemilu kali ini, Partai Golkar Kabupaten Sinjai untuk pertama kalinya mengalami

kekalahan dalam perolehan kursi di legislatif. Jumlah kursi Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang diperoleh pada pemilu 2009 ini “hanya” meraih 4 (empat) kursi. Sementara partai yang menjadi peraih kursi terbanyak adalah Partai RepublikaN yang merupakan partai baru, yang mana Bupati Sinjai merupakan Ketua DPD I Sulawesi Selatan. Selain karena sistem pemilu yang ada, penurunan suara yang sangat signifikan ini, oleh beberapa pengurus lainnya yang diwawancarai dipengaruhi berbagai faktor, baik pengaruh dari eksternal partai maupun dari internal partai itu sendiri. Jika kemudian disimpulkan dari beberapa hasil wawancara yang telah dilakukan, selain sistem pemilu, faktor eksternal yang berpengaruh adalah sikap pragmatisme pemilih, masih kuatnya ikatan kekeluargaan, banyaknya partai-partai baru sehingga persaingan antar partai semakin kompetitif, serta keberadaan Partai RepublikaN yang dipimpin oleh Bupati Sinjai. Sementara dari faktor internal partai sendiri berupa kurang siapnya calon legislatif (caleg) yang diusung untuk bersaing di masyarakat, mesin partai di tingkat kecamatan tidak berjalan optimal, pola rekruitmen yang kaku, serta adanya persaingan antar caleg di internal partai sendiri yang menyebabkan mereka tidak bekerja secara kolektif untuk kepentingan partai.

F.2. DERAJAT KESISTEMAN (SYSTEMNEES) Tujuan dari bab ini adalah ingin menjelaskan tentang bagaimana upaya Partai Golkar Kabupaten Sinjai melakukan penataan internal organisasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, pada

bab ini diuraikan mengenai tiga indikator untuk mengukur pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut, yaitu penerapan demokrasi internal partai, sistem dan kaderisasi partai, serta kohesivitas (keutuhan) partai. F.2.1 Demokrasi Internal Partai Golkar Kabupaten Sinjai pelaksanaan menerapkan demokrasi di internal partai untuk senantiasa berpedoman pada mekanisme prosedur yang ada. Hal itu dilakukan untuk memberikan peluang kepada seluruh anggota dan pengurus untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan. Bukan hanya dalam penerapan aturan-aturan dalam partai, tetapi juga berlaku dalam semua proses pengambilan kebijakan. Oleh karenanya, Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri lebih mengedepankan proses musyawarah dalam membuat aturan maupun dalam perumusan kebijakan tertentu. Menurut prosedur yang ada, bahwa beberapa kebijakan dapat ditentukan sendiri oleh pengurus daerah, juga ada yang harus mendapatkan pengesahan dan persetujuan dari level yang lebih tinggi (dalam hal ini DPD I dan DPP). Jika kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan tidak terlalu urgen dan strategis, Partai Golkar Kabupaten Sinjai biasanya melakukan rapat pengurus, misalnya dalam menentukan panitia- panitia kegiatan partai. Untuk menjaga terjaminnya proses demokrasi dalam partai, senantiasa diupayakan melaksanakan rapat konsolidasi tiap bulan di Kantor DPD II. Namun untuk kebijakan-kebijakan yang strategis dan urgen, misalnya dalam penentuan daftar calon legislatif, penentuan pimpinan fraksi di DPRD, serta Pergantian Antar Waktu (PAW) maupun dalam

penentuan calon kepala daerah biasanya diputuskan melalui rapat pleno atau rapat pleno diperluas. Hasilnya kemudian diserahkan ke level yang lebih tinggi untuk mendapatkan persetujuan. Walaupun demikian dalam kondisi-kondisi tertentu, diperlukan adanya masukan-masukan dan saran dari tokoh-tokoh partai dalam setiap perumusan kebijakan. Hal ini sudah tertuang dalam AD/ART Partai, sehingga dalam ketentuan tersebut struktur kepengurusan partai dilengkapi dengan Dewan Pertimbangan Partai. Meskipun bukan berarti Dewan Pertimbangan ini memiliki kekuatan utama dalam penentuan kebijakan, hanya terbatas untuk memberikan saran. Kecenderungan “intervensi” dari DPD I dan DPP memang masih menggejala dalam setiap pengambilan kebijakan-kebijakan tertentu yang dilakukan oleh DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai. Karena memang menurut prosedur yang berlaku dalam partai, beberapa kebijakan strategis yang dilakukan oleh DPD II harus dikonsultasikan atau dilaporkan ke level di atasnya untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan. Seperti dalam penentuan daftar calon legislatif, penentuan pimpinan fraksi di DPRD, serta Pergantian Antar Waktu (PAW) maupun dalam penentuan calon kepala daerah. Walaupun pada hakekatnya hasil keputusan yang sudah ditetapkan oleh DPD II tinggal memperoleh persetujuan dan pengesahan, sepanjang mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan dalam prosedur organisasi. Selanjutnya dominasi segelintir elit partai dalam proses penerapan aturan dan kebijakan yang masih terjadi, terutama unsur pimpinan partai. Walaupun mekanisme musyawarah tetap

dikedepankan, namun kepentingan-kepentingan elit partai masih sering mengiringi kebijakan-kebijakan tertentu. Selain itu, pelibatan dan pendelegasian kewenangan terhadap beberapa pengurus juga masih kurang. Sehingga pengurus yang ada, kadang hanya menerima perintah ketika keputusan itu telah ditetapkan. Dalam artian bahwa pengurus yang ada tidak dioptimalkan untuk melakukan inovasi program sesuai dengan bidangnya masing- masing. F.2.2. Keutuhan Organisasi Dari hasil penelitian dengan beberapa wawancara yang telah dilakukan, bahwa dari segi keutuhan organisasi Partai Golkar Kabupaten Sinjai relatif tidak terjadi. Meskipun kadang muncul faksi-faksi di dalam partai, namun munculnya faksi tersebut tidak sampai mengganggu keutuhan organisasi. Faksi-faksi yang muncul akibat kekecewaan terhadap kebijakan partai, senantiasa ditanggapi sebagai bagian dari dinamika politik partai. Untuk menghindari terjadinya faksi atau perpecahan dalam tubuh partai ke depan, Partai Golkar Kabupaten Sinjai berupaya untuk meredam dengan memberdayakan anggota-anggotanya. Hal tersebut diungkapkan lebih lanjut oleh Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai bahwa salah satu upaya partai untuk meredam munculnya faksi-faksi dalam internal partai, salah satu upaya untuk meredamnya adalah dengan berupaya memberdayakan mereka serta melibatkannya dalam proses pengambilan keputusan. Karena pada dasarnya, perpecahan sering terjadi karena kurangnya komunikasi dan koordinasi di antara pengurus, sehingga menimbulkan kesalah

pahaman yang berujung pada kekecewaan pada sebagian anggota atau pengurus. Meskipun diakui oleh pengurus bahwa perpecahan yang ada dalam tubuh partai tidak sampai menimbulkan konflik internal, namun jika itu terjadi maka ada mekanisme dan prosedur tertentu untuk menyelesaikan konflik. Untuk kasus Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam upaya penanganan konflik, juga senantiasa berpedoman pada mekanisme yang telah ditentukan oleh aturan partai. Seperti yang diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa faksionalisme yang pernah terjadi di internal Partai Golkar Kabupaten Sinjai selama ini tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Faksi-faksi yang ada biasanya hanya terwacanakan

di luar, tetapi di dalam partai sesungguhnya masih solid. Namun

demikian, pengalaman yang pernah dialami oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai dengan perpecahan internal, diselesaikan dengan

pendekatan kekeluargaan. Dalam kasus ini, kehadiran tokoh

kharismatik partai menjadi sangat berarti dalam menjembatani upaya penyelesaian perpecahan yang terjadi. F.2.3. Sistem Keanggotaan dan Kaderisasi Terkait dengan standar rekruitmen anggota dan pengurus

di internal Partai Golkar, secara prosedural telah diatur dalam

AD/ART partai. Partai Golkar merupakan partai terbuka dan menerima semua kalangan untuk bergabung dengan partai, yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Namun demikian, berbagai upaya ditempuh oleh partai agar kesinambungan keanggotaan partai tetap terjaga. Upaya-upaya tersebut dilakukan

dengan berbagai pendekatan yang berusaha dilakukan oleh partai untuk merekrut anggota baru. Pendekatan kekerabatan dan hubungan pertemanan menjadi salah satu upaya untuk merekrut anggota partai. Hal lainnya yang dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan kepada mantan-mantan pengurus yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil di masa orde baru, yang keluar dari partai karena adanya aturan bagi PNS untuk tidak berpolitik praktis. Partai berupaya mendata mereka yang kemudian jika telah memasuki usia pensiun, diajak untuk kembali bergabung dengan partai. Jika mengamati pola rekruitmen yang dilakukan oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai seperti yang digambarkan di atas, maka dapat kita lihat kurangnya inovasi partai dalam mengenalkan ideologi dan platform partai kepada calon anggotanya. Hal ini akan berdampak pada rendahnya militansi anggota atau kader-kader baru untuk senantiasa komitmen dengan partai. Karena jika anggota-anggota yang kemudian bergabung, tidak didasarkan pada ketertarikan terhadap program partai, tetapi lebih karena pendekatan emosional, baik secara kekeluargaan maupun hubungan pertemanan. Dampaknya kemudian adalah tingkat kesadaran kader/anggota untuk berjuang membesarkan partai menjadi rendah.

Dalam hal rekruitmen kepungurusan, gejala nepotisme dalam penyusunan kepengurusan di tubuh Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih ada. Standarisasi rekrutmen yang telah ada menurut aturan dalam AD/ART partai memang kelihatannya diberlakukan, namun yang terjadi bahwa dominasi keluarga maupun kedekatan

pertemanan dari tokoh dan elit-elit partai di struktur kepengurusan masih terlihat. Gejala yang muncul yang disampaikan di atas menunjukkan bahwa pola-pola lama yang pernah menggejala di tubuh Partai Golkar di masa lalu, ternyata masih ada. Di mana kerabat, anak, dan teman dari para tokoh atau mantan tokoh dan pengurus Partai Golkar Kabupaten Sinjai dapat dengan mudah menduduki posisi strategis dalam partai dan dalam proses pencalonan anggota legislatif. Kondisi ini akan di samping menjadi penghambat bagi proses sirkulasi kader, juga akan menimbulkan kecemburuan di antara kader. Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri dalam rangka menyukseskan program yang telah diamanahkan oleh partai terkait kaderisasi di tubuh partai, telah melaksanakan beberapa kegiatan. Pada saat penelitian ini dilakukan, Partai Golkar Kabupaten Sinjai telah dan sedang melaksanakan pelatihan KARAKTERDES. Program KARAKTERDES ini ditujukan untuk menggalang kekuatan dari masyarakat desa untuk dijadikan sebagai tenaga penggerak partai di masyarakat. Output dari program ini adalah para kader yang telah mengikuti kegiatan, diberikan bekal untuk dapat terjun di masyarakat dan membantu pembangunan khususnya di pedesaan, sambil berupaya memperluas basis dukungan partai di desa. Oleh karenanya, peserta KARAKTERDES ini bukan hanya dari para kader dan anggota Partai Golkar, tapi diupayakan untuk menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda dari tingkat desa. Namun demikian, dari pengamatan selama penelitian, penulis sempat mengikuti salah kegiatan pelatihan ini, memang terlihat sepintas pesertanya cukup banyak. Hanya saja yang menjadi

pertanyaan adalah apakah mereka ini setelah mengikuti kegiatan

akan dapat menjadi kader militan partai dan siap mendukung

partai? Karena berdasarkan pengamatan penulis ketika mengikuti

kegiatan tersebut, peserta yang hadir cenderung dimobilisasi hanya

untuk memenuhi target. Beberapa peserta yang sempat kami amati

dalam kegiatan tersebut, bahkan masih berada di bawah umur dan

belum merupakan wajib pilih. Sehingga bagi penulis, apa yang

menjadi tujuan utama dari kegiatan ini akan mengalami kendala.

Hal tersebut pula diakui oleh beberapa pengurus yang dimintai

pendapatnya, bahwa memang itu tidak menjamin bahwa mereka ini

akan menjadi kader militan.

Proses kaderisasi yang dilakukan untuk pengurus dan

pejabat-pejabat di lingkup partai juga intens dilakukan. Secara

program Partai Golkar memiliki arah yang jelas untuk terus

melakukan pengembangan kompetensi bagi kader-kadernya.

Sehingga respon Partai Golkar Kabupaten Sinjai adalah dengan

berupaya melaksanakan amanah partai sesuai dengan ketentuan

dan peraturan yang berlaku yang diberikan oleh partai.

F.3. KEMANDIRIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN (DECISION AUTONOMY)

G.3.1 Kemandirian Keuangan Partai

Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri dalam hal

pendanaannya masih sangat bergantung dan terbatas pada

sumbangan-sumbangan, baik dari pemerintah maupun dari internal

partai itu sendiri. Menurut Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten

Sinjai bahwa sumber dana partai yang selama ini diharapkan

berasal dari :

a. Dana rutin dari DPP sebesar Rp. 5.000.000 / bulan

b. Dana dari APBD Kabupaten Sinjai sebesar Rp. 15.000.000 /

kursi

c. Sumbangan dari fungsionaris partai (baik dari DPD I maupun DPD II) yang sifatnya insidental. Sementara upaya untuk menggalang dana melalui iuran anggota juga sampai saat ini tidak berjalan. Walaupun sudah diatur dalam AD/ART partai, yang pada dasarnya merupakan kewajiban dari seluruh anggota partai. Namun pada pelaksanaannya, ternyata mengalami kendala yang sangat berarti. Padahal sesuai dengan program kerja hasil Musda Partai Golkar Kabupaten Sinjai dicantumkan bahwa salahsatu prioritas utama programnya adalah mengupayakan berjalannya iuran anggota. Namun lagi-lagi kesulitan ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari pengurus dan kader partai akan kewajibannya sebagai anggota partai. Partisipasi anggota dan pengurus dalam hal pendanaan hanya dapat dilakukan secara insidental. Dalam artian bahwa anggota dan pengurus yang memiliki sumberdaya finansial memadai, biasanya akan dimintai atau dengan sukarela memberikan sumbangan dana dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh partai. Hal inipun hanya terbatas kader-kader yang sedang menduduki jabatan baik di legislatif maupun di eksekutif. Akibat kendala sumber pembiayaan partai yang terbatas tersebut berimbas pada kegiatan partai itu sendiri. Artinya bahwa beberapa program partai yang semestinya dilakukan, pada akhirnya tidak dapat terlaksana karena keterbatasan anggaran partai. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh Ketua DPD II Partai Golkar

Kabupaten Sinjai bahwa upaya perekrutan anggota dan peningkatan kapasitas kader melalui program KARAKTERDES mengalami kendala pembiayaan. Menurutnya program tersebut sangat positif dan memiliki dampak yang besar terhadap penguatan kader, namun sampai saat ini belum dapat dioptimalkan karena persoalan keterbatasan anggaran. Salah satu upaya yang kadang dilakukan oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai untuk memperoleh dana dalam mendukung program partai,menurut Sekretaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai adalah dengan mengajukan proposal anggaran ke DPD I ataupun DPP. Di mana kegiatan-kegiatan dan program yang dilaksanakan oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai memang terlihat merupakan program titipan, baik dari DPD I maupun DPP Partai Golkar. Kenyataan ini semakin menunjukkan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai sangat menggantungkan pendanaan kegiatan- kegiatan partainya dari level di atasnya. Akibatnya, Partai Golkar Kabupaten Sinjai juga senantiasa melaksanakan kegiatan dan program jika didukung dan diikuti oleh pendanaan dari level partai di atasnya. Meskipun sumber dari internal partai juga masih tetap ada, baik itu dana rutin dari DPP Partai Golkar, iuran wajib kader yang duduk di legislatif maupun sumbangan-sumbangan yang sifatnya insidential dari anggota dan simpatisan partai. Walaupun dengan cara ini dapat dikatakan tidak keliru, namun dengan ketergantungan pada cara-cara yang pragmatis ini, dapat berakibat pada otonomi/kemandirian partai dalam pengambilan keputusannya. Karena hal ini dapat dijadikan alat oleh donatur-

donatur tersebut untuk menguasai partai melalui kemampuan finansial yang dimilikinya. Ukuran otonomi keuangan partai dapat dikatakan mapan, ketika sebuah partai mampu hidup dan memaksimalkan pendanaan partainya melalui iuran anggota, bukan bersandar pada bantuan pemerintah maupun dari individu atau kelompok-kelompok tertentu baik di internal partai maupun dari luar partai. F.3.2. Kemandirian Partai dalam Pengambilan Keputusan Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam setiap pengambilan kebijakan ada beberapa mekanisme yang ditempuh, sesuai dengan petunjuk organisasi yang ada. Jika keputusan itu sifatnya ad-hoc seperti pembentukan kepanitian maka DPD II memiliki otoritas untuk menentukannya. Namun dalam hal kebijakan-kebijakan yang sifatnya urgen, seperti penentuan calon anggota legislatif dan calon bupati maka DPD II harus mengajukan hasil-hasil keputusannya ke tingkatan yang lebih tinggi (DPP atau DPD I Partai Golkar) untuk mendapatkan persetujuan. Meskipun diakui oleh salah satu narasumber bahwa sesuai mekanisme yang ada, DPP dan DPD I Partai Golkar biasanya memberikan persetujuan sesuai dengan keputusan DPD II jika hal tersebut mengikuti prosedur yang ada. Pada titik inilah, kemandirian DPD II mengalami kendala, di mana kepentingan-kepentingan tertentu di dalam internal partai akan dapat menggerogoti kebijakan tersebut. Pengaruh kharismatik dan ketokohan seseorang yang ada dalam tubuh partai dapat saja mengintervensi kebijakan jika itu sifatnya urgen dan politis. Kepentingan kelompok dan individu akan

senantiasa bermain dan berupaya untuk meloloskan kepentingannya dengan memanfaatkan jaringan-jaringan tertentu yang memiliki pengaruh di dalam partai. Seperti yang dikemukakan oleh Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai bahwa pengaruh kharisma kadang akan berpengaruh ketika proses perumusan kebijakan penentuan calon legislatif. Dengan pertimbangan akan jasa mereka dan ketokohannya, masukan-masukan mereka ini akan senantiasa menjadi pertimbangan dalam penentuan kebijakan. Biasanya, jika di DPD II keinginan mereka ini tidak diakomodir, akan dipressure melalui pendekatan ke DPP atau DPD I. Jika hal ini terjadi, maka proses keputusan yang telah ditentukan sebelumnya bisa saja berubah. Adanya intervensi yang kuat dari internal partai sendiri terhadap proses perumusan kebijakan di DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai menunjukkan bahwa kharisma dan elitisme individu masih menjadi permasalahan dalam indepensi Partai Golkar Kabupaten Sinjai. Berperannya tokoh-tokoh ini selain disebabkan faktor ketokohan, juga karena elit-elit inilah yang senantiasa menjadi penyokong utama dana-dana partai ketika ada kegiatan partai. Penjelasan pada bagian sebelumnya, bahwa kader- kader yang ada biasanya memberikan sumbangan dana secara insedental jika ada kegiatan. Hal inilah yang bisa saja menjadi “senjata” mereka dalam mengintervensi kebijakan partai, dengan mengandalkan kekuatan finansial yang dimilikinya. Akibat ketergantungan sumber dana dari dana rutin DPP dan sumbangsih fungsionaris dari DPD I Partai Golkar, menyebabkan DPD II akan dengan mudah diintervensi. Sekali lagi,

ini disebabkan oleh kurangnya inovasi DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam melahirkan program-program yang sifatnya mandiri. Sehingga praktis ketika DPP dan DPD I memiliki kepentingan tertentu terhadap kebijakan yang dilakukan oleh DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai, maka DPD II tidak memiliki kekuatan untuk menangkalnya. Dengan demikian, kemandirian Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam pengambilan keputusan memang terbebas dari intervensi ekternal berupa kekuasaan birokrasi. Namun kemandirian itu justru terganggu oleh kalangan internal partai itu sendiri. Hal ini ditandai munculnya tokoh-tokoh kharismatik yang dianggap memiliki jasa besar dalam pengembangan partai, baik melalui kekuatan finansial maupun kekuatan jaringan yang dapat mempengaruhi kebijakan internal partai. Di samping itu, kemandirian Partai Golkar Kabupaten Sinjai juga tidak lepas dari intervensi DPP dan DPD I dalam kebijakan-kebijakan tertentu. Persoalan kepentingan, dominasi elit, dan hubungan kekerabatan diinternal partai ternyata belum mampu dilenyapkan di dalam tubuh Partai Golkar. Jika merujuk pada konteks pelembagaan partai, maka dapat dikatakan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai masih dianggap relatif rendah dalam derajat otonominya.

F.4. DERAJAT PENANAMAN NILAI (VALUE INFUSION) Randall dan Svasand (2002) mengemukakan bahwa penanaman niali (value infusion) merujuk pada suatu kondisi di mana para aktor yang ada di dalam partai dan konstituennya mendapatkan mampu mengidentifikasi dan memiliki komitmen

terhadap partai. Keberhasilan suatu partai menanamkan nilai-nilai dan budaya yang jelas kepada para anggotanya akan berimplikasi terhadap komitmen pendukung dalam memperjuangkan partai. Para anggota akan senantiasa berjuang sesuai dengan identitas, ideologi, dan platform partai tersebut. Implikasi selanjutnya dari penanaman nilai-nilai pula akan berdampak pada sejauhmana cara pandang dan sikap terhadap dirinya dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Suatu partai dianggap melembaga jika memiliki basis pendukung yang loyal dan dukungan para anggota diberikan bukan atas pertimbangan material, tetapi karena orientasi politiknya sesuai dengan ideologi dan platform partai tersebut. F.4.1 Basis Dukungan Partai Partai Golkar sebagai sebuah partai yang telah lama berkiprah, memiliki organisasi-organisasi internal yang cukup banyak sebagai bagian integral partai. Dalam tubuh Partai Golkar dikenal adanya organisasi-organisasi baik yang dibentuk oleh partai maupun organisasi kemasyarakatan yang berafiliasi kepada Partai Golkar. Organisasi tersebut yang dikenal di antaranya adalah organisasi sayap partai, organisasi pendiri, dan organisasi yang didirikan. Hubungan Partai Golkar Kabupaten Sinjai dengan organisasi internal mereka menurut beberapa narasumber mengalami kendala. Kendala yang dihadapi di antaranya adalah beberapa organisasi tersebut dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap partai. Sebagian dari organisasi-organisasi yang ada mengalami stagnasi kepengurusan, dan sampai saat ini tidak pernah diperbaharui

struktur kepengurusannya. Dengan kondisi ini jelas menunjukkan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai tidak memiliki cukup kekuatan untuk menjaga soliditas organisasi internalnya. Kenyataan ini semakin menunjukkan pula adanya hubungan yang tidak harmonis dalam intern partai. Indikasi ketidakharmonisan disebabkan adanya perbedaan pandangan di antara orang-orang yang ada di dalamnya. Organisasi pendiri seperti MKGR dan SOKSI sebenarnya diisi oleh tokoh-tokoh partai yang memiliki komitmen yang kuat terhadap pengembangan partai. Hal inilah yang menyebabkan hubungannya dengan partai mengalami gangguan, karena pada satu sisi pengurus terkadang masih berkutat dengan pragmatisme yang dimilikinya, sedangkan tokoh-tokoh yang ada dalam organisasi lebih mengedepankan kepentingan partai secara umum.

Secara umum memang terlihat adanya keinginan partai untuk senantiasa memelihara hubungan baik dengan organisasi- organisasi internal partai. Tetapi hubungan itu masih terkesan dilakukan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu untuk dimanfaatkan pada moment-moment tertentu. Dalam artian bahwa keberadaan organisasi internal ini tidak dibentuk atas dasar keinginan untuk pengembangan partai. Karena yang ada kemudian hanya struktur kepengurusan organisasi, sementara kegiatan- kegiatan riil jarang sekali dilakukan. Keberadaan mereka dibutuhkan ketika ada kegiatan yang sifatnya memerlukan dukungan dari organisasi internal, seperti dalam pelaksanaan musda partai.

Selanjutnya, upaya partai untuk menjaga basis dukungannya adalah dengan memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan konstituennya, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan partai untuk berinteraksi dengan kelompok- kelompok masyarakat tertentu. Dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok masyarakat, seperti kelompok petani, dunia usaha, komunitas agama, dan lainnya diakui oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai sedikit mengalami kesulitan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya partai yang sudah “mengkapling” kelompok-kelompok tertentu di masyarakat baik dengan memanfaatkan kekuasaan maupun dari pimpinan partainya. Menurut narasumber yang diwawancarai bahwa sekarang sangat berbeda pada masa orde baru, di mana Partai Golkar menguasai hampir semua kelompok masyarakat strategis melalui dominasi kekuasan. Hasil wawancara dengan salah seorang pengurus Partai Golkar tingkat kecamatan menuturkan bahwa saat ini sangat sulit untuk menentukan basis dukungan di masyarkat, di samping karena banyaknya partai juga sikap pragmatisme masyarakat dalam memilih partai. Namun demikian, salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh partai adalah melalui program Orientasi Muballigh di tingkat propinsi yang direkrut di tiap kecamatan. Menurut Sekretaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai bahwa kegiatan ini setidaknya mampu menjembatani hubungan partai dengan kelompok keagamaan. Menurutnya, output dari program tersebut menimbulkan citra positif terhadap partai, karena yang diutus dalam kegiatan tersebut menyambut dengan baik. Di mana para

muballigh ini membantu partai memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa program Partai Golkar sangat positif. Momentum kegiatan seperti ini selayaknya dimanfaatkan dengan oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai untuk kembali mengembangkan jaringannya melalui hubungan dan kerjasama dengan kelompok- kelompok masyarakat. Dengan tradisi sejarah yang dimilikinya, selayaknya diupayakan untuk menjalin hubungan kelompok- kelompok di masyarakat. Upaya yang dilakukan melalui program dari DPP Partai di atas harusnya direspon oleh DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai dengan menjalin sinergitas dengan kelompok keagamaan di daerah. Namun dari pengamatan penulis saat penelitian, imbas dari kegiatan ini terlihat tidak ada sama sekali. F.4.2. Pengaruh Klientisme dalam Partai Sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya bahwa dengan sistem rekruitmen anggota dan pengurus partai yang terkesan tidak didasarkan pada kompetensi ideologi, menyebabkan komitmen kader terhadap partai masih rendah. Artinya bahwa kader-kader yang bergabung dalam partai bukan karena kesamaan ideologi serta adanya harapan kesamaan platform dengan Partai Golkar. Beberapa dari mereka yang masuk menjadi anggota hanya didasarkan karena adanya hubungan kekerabatan atau pertemanan dengan salah seorang elit partai. Begitu pula orientasi untuk bergabung dengan partai sebagian hanya kepentingan material berupa ajang memperoleh kekuasaan (menjadi anggota legislatif). Jika harapan-harapan itu tidak terpenuhi, maka dimungkinkan mereka akan keluar dari partai dan bergabung dengan partai lain.

Hal ini diakui sendiri oleh narasumber (unsur wakil ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai) yang mengatakan bahwa kader-kader muda masih belum punya komitmen tinggi terhadap partai, ketika mereka kecewa masih ada kemungkinan untuk berpindah ke partai lain. Pada kenyataannya memang terlihat bahwa sudah banyak kader potensial Partai Golkar Kabupaten Sinjai keluar dan bergabung dengan partai lain. Beberapa di antaranya kini menjadi pengurus partai lain, dan pada Pemilu legislatif 2009 menjadi calon anggota legislatif dengan partai yang berbeda. Realitas tersebut mengindikasikan bahwa pengaruh klientisme dalam partai masih tinggi, di mana beberapa anggota yang bergabung tidak didasarkan karena kesamaan ideologi maupun platform dari partai, tetapi cenderung bersifat instrumentalis (anggota selalu mengharapkan tangible resources berupa materi dari partai). Masih rendahnya kesadaran para kader partai dalam melaksanakan amanah partai yang didasarkan atas ideologi dan platform partai, berdasar dari temuan dan penjelasan pada bab-bab sebelumnya karena ketidakmampuan partai itu sendiri untuk menanamkan nilai-nilai dasar partai. Mulai dari proses rekruitmen anggota, pola kaderisasi, sampai kepada menjaga hubungan dengan konstituennya, Partai Golkar Kabupaten Sinjai tidak memiliki arah yang sesuai dengan ideologi partai itu sendiri. Proses-proses yang dilakukan senantiasa dilakukan hanya sekedar rutinitas semata, ataupun hanya untuk mengejar target-target tertentu yang diamanahkan oleh DPP atau DPD I Partai Golkar. Selain itu, pengaruh kekuatan elit-elit yang ada di internal partai yang cenderung mendominasi dalam berbagai kebijakannya,

menyebabkan sebagian anggota yang tidak dilibatkan, tidak memiliki power untuk berbuat yang lebih banyak. Mereka hanya cukup merasa bangga menjadi bagian dari partai, tanpa ada upaya untuk ikut serta dalam mengembangkan partai. Sikap pragmatisme inilah yang menyebabkan sebagian kader bergabung hanya untuk mendapatkan posisi tertentu atau keuntungan material lainnya. Ketika kepentingan tersebut kemudian tidak diakomodir, maka sangat dimungkinkan kader-kader tersebut akan keluar dan berpindah ke partai lain.

F.5. DERAJAT PENGETAHUAN PUBLIK (REIFICATION) Konsep reification pada prinsipnya adalah upaya partai untuk mencitrakan dirinya sebaik mungkin di mata publik. Secara konseptual, partai politik yang mampu mencitrakan dirinya dengan baik di mata publik, akan mendapatkan kepercayaan tinggi dari publik. Sebaliknya, jika di mata publik partai tersebut memiliki citra yang tidak diinginkan oleh publik, maka kecenderungan untuk ditinggalkan oleh publik juga akan tinggi. Pada kenyataannya saat ini kita dapat menyaksikan bagaimana partai-partai politik yang ada, terus berupaya untuk tampil sebagai partai yang berjuang untuk kepentingan masyarakat. Upaya pencitraan yang dilakukan oleh partai politik dapat dilakukan melalui proses-proses politik maupun pengunaan simbol-simbol partai di masyarakat. F.5.1. Kiprah Partai dalam Politik Lokal Melalui pelaksanaan pemilu, baik pemilukada maupun pemilu legislatif, suatu partai yang mendapatkan dukungan dari masyarakat akan dapat menempatkan kader-kadernya untuk

memangku jabatan publik. Melalui Pemilukada langsung partai diberikan peluang untuk menjadi wadah pengusung calon pemimpin daerah, dan lewat pemilu legislatif partai politik juga menjadi satu-satunya wadah untuk menempatkan kader-kadernya menjadi wakil rakyat. Pada kedua momentum inilah yang kemudian menjadi pertaruhan bagi sebuah partai untuk menarik dukungan dari masyarakat. Akibat membutuhkan dukungan dari masyarakat inilah, maka partai politik akan senantiasa berupaya menunjukkan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga dibutuhkan upaya dari partai untuk menanamkan kepercayaan dari masyarakat akan keberadaan partai tersebut. Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang saat mendudukkan kadernya sebanyak 4 (empat) orang di DPRD Sinjai, memiliki peluang untuk memperjuangkan kepentingan konstituennya di legislatif. Sementara di eksekutif Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai saat ini menjabat sebagai wakil bupati. Dengan posisi ini, Partai Golkar Kabupaten Sinjai setidaknya memiliki cukup kekuatan untuk mengenalkan partainya di masyarakat melalui wadah ini. Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri dengan 4 (empat) orang kadernya yang duduk di DPRD Kabupaten Sinjai membentuk fraksi sendiri tanpa melalui koalisi dengan partai lain. Di samping itu sebagai peraih suara terbanyak kedua pada Pemilu 2009, juga mendudukkan salah seorang kadernya pada posisi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sinjai. Menurut Ketua Fraksi Partai Golkar di DPRD II Sinjai bahwa sebagai upaya partai dalam perumusan kebijakan, maka fraksi merupakan perpanjangan tangan partai di legislatif. Sehingga dalam

setiap perumusan kebijakan, fraksi akan senantiasa berkomunikasi dengan pengurus-pengurus partai mengenai sikap partai dalam sebuah perumusan kebijakan. Dalam pemandangan umum fraksi tersebut, menurutnya fraksi Partai Golkar akan senantiasa berupaya memperjuangkan kepentingan masyarakat sesuai dengan visi dan misi partai. Apalagi dalam setiap rapat paripurna, senantiasa disiarkan secara langsung melalui media radio, sehingga seluruh masyarakat dapat menilai tentang posisi partai dalam merumuskan sebuah kebijakan. Sehingga melalui momentum ini Partai Golkar Kabupaten Sinjai akan berupaya mensinkronkan arah kebijakan partai dengan kepentingan masyarakat yang diwakilinya. Selain secara kelembagaan melalui fraksi di legislatif, hal lain yang dapat dilakukan oleh partai untuk membentuk citra adalah dengan melalui individu-induvidu dari anggotanya di legislatif. Salah satu yang dapat dilakukan oleh partai adalah melalui eksistensi partai di media publik khususnya bagi wakil-wakil partai yang di legislatif. Dalam artian bahwa semakin sering sosok pengurus memberikan statement yang di media dengan isu yang sedang berkembang di masyarakat, maka tingkat pengetahuan publik tentang kiprah suatu partai juga akan meningkat. Sebagai contoh ketika ada keluhan-keluhan atau permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Partai Golkar Kabupaten Sinjai melalui wakilnya di legislatif setidaknya berupaya membangun citra di masyarakat melalui komentar atau statementnya di media massa, yang menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat. Namun pada kenyataannya, berita-berita di media lokal yang memuat Partai Golkar Kabupaten

Sinjai baik secara kelembagaan maupun personal partai sangat kurang, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Ketidakmampuan Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam menggalang komunikasi dan bermitra dengan media ini jelas mempengaruhi citra partai tersebut di mata publik. Akibatnya adalah informasi mengenai proses kebijakan yang dilakukan oleh partai tidak diketahui oleh pulik secara luas, dan tentunya ini mempengaruhi penilaian publik terhadap keberadaan partai tersebut. F.5.2. Kiprah Partai di Masyarakat Salah satu hal yang paling penting dilakukan oleh partai untuk dapat menanamkan pengetahuan publik terhadap eksistensinya dengan melalui kiprah partai di masyarakat. Kiprah partai di masyarakat adalah dengan melalui kegiatan-kegiatan partai secara kelembagaan maupun personal kader partai. Kegiatan- kegiatan dimaksud dapat berupa pengenalan simbol-simbol partai kepada masyarakat mengenai keberadaan partai. Penggunaan simbol-simbol ini bertujuan untuk menanamkan ideologi dan platform partai, sehingga keberadaan partai tersebut dapat dipahami dan tertanam dalam imajinasi publik. Upaya Partai Golkar Kabupaten Sinjai untuk mengenalkan eksistensinya lebih banyak dilakukan melalui kegiatan person- person yang ada dalam partai. Hal itupun terbatas pada kiprah dari masing-masing kader sesuai dengan posisi dan jabatan yang dimilikinya. Secara kelembagaan, terkesan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai tidak banyak melakukan kegiatan yang arahnya untuk memberikan pemahaman mendalam terhadap keberadaan partainya. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan cenderung sifatnya

sekedar menarik dukungan publik, dan tidak berorientasi bagaimana publik memahami partai atas dasar ideologi dan platformnya. Pemahaman-pemahaman seperti itu terbatas ada kegiatan-kegiatan internal partai, yang juga hanya diikuti oleh kader-kader internalnya. Hal demikian pula terlihat dari program dan kegiatan- kegiatan Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang dilakukan selama ini. Dari dokumen kegiatan partai yang berhasil penulis dapatkan, kegiatan partai lebih banyak dihabiskan untuk mengikuti kegiatan- kegiatan internal. Misalnya menghadiri pertemuan di DPP atau DPD I, acara pelantikan pengurus, maupun pelatihan-pelatihan di internal partai. Penulis tidak mendapatkan dokumen ataupun pengamatan langsung berupa kegiatan partai di masyarakat yang wujudnya dapat menarik simpati publik dan mengenalkan keberadaan partainya di masyarakat. Partai Golkar Kabupaten Sinjai terkesan tidak mampu memanfaatkan momentum-momentum tertentu untuk melancarkan kiprahnya di masyarakat. Partai hanya disibukkan oleh kegiatan yang sifatnya administratif, tanpa adanya upaya untuk mengenalkan simbol-simbol partai di masyarakat secara konsekuen. Seperti pada momen bulan ramadhan tahun lalu, tidak terlihat adanya kegiatan partai yang melakukan safari ramadhan, ataupun pada perayaan hari-hari besar keagamaan ataupun nasional, Partai Golkar Kabupaten Sinjai tidak berupaya memanfaatkan momen itu untuk melakukan kegiatan di masyarakat. Sangat jarang terlihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai yang berkaitan dengan

pengenalan simbol partai di masyarakat. Kalaupun ada, hanya sebatas kegiatan-kegiatan yang sifatnya internal. Seperti pada saat penelitian dilakukan, Partai Golkar Kabupaten Sinjai melakukan kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri oleh Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan internal partai. Sehingga menurut penulis, kegiatan semacam ini tidak kemudian menguntungkan partai dari sisi pencitraan di mata publik. Akibatnya, walaupun Partai Golkar merupakan partai lama, namun pada kenyataannya pemahaman masyarakat tentang partai tersebut hanya terbatas pada keberadaan orang-orang (pengurus) yang ada dalam partai. Menurut salah seorang pengurus yang juga anggota DPRD Sinjai dari fraksi Partai Golkar, sangat sulit memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai ideologi partai. Mengingat sikap masyarakat yang cenderung melihat dan memahami partai tidak didasarkan pada ideologi, tetapi sosok dari pengurus yang ada di dalam partai. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap keberadaan Partai Golkar Kabupaten Sinjai tidak dalam kapasitas memahami dalam kerangka ideologi dan platform partai, tetapi lebih kepada personal-personal yang ada dalam partai. Ini disebabkan kurangnya kegiatan-kegiatan partai yang sifatnya memperjuangkan kepentingan publik yang sesuai dengan arah platform dan program Partai Golkar kurang dilakukan.

G. KESIMPULAN Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Partai Golkar Kabupaten Sinjai pasca kekalahannya pada Pemilu 2009 belum berhasil membangun pelembagaan partai yang kuat. Indikasi lemahnya pelembagaan Partai Golkar Kabupaten Sinjai tersebut,

dengan mengacu temuan penelitian yang telah dijelaskan pada bab-

bab sebelumnya.

Pertama, Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam hal-hal tertentu terkait dalam pengambilan keputusan masih dipengaruhi oleh kuatnya unsur ketokohan dan elitisme, baik yang berasal dari internal Partai Golkar Kabupaten Sinjai sendiri maupun dari level- level di atasnya (DPD I dan DPP). Pengaruh kekuatan tokoh kharismatik ini sering akan menguat ketika dalam proses seleksi kepemimpinan maupun dalam proses rekruitmen politik di tubuh Partai Golkar Kabupaten Sinjai. Selain itu, sebagai struktur organisasi partai di level lokal,

Partai Golkar Kabupaten Sinjai harus senantiasa merujuk pada aturan yang tertuang dalam AD/ART partai yang berlaku secara nasional. Akibatnya ketika ada keputusan yang sifatnya urgen dan strategis, seperti penentuan caleg dan kepala daerah, harus melalui mekanisme yang berjenjang. Di sinilah independensi partai di tingkat lokal akan terganggu dengan kuatnya intervensi dari jenjang

di atasnya. Padahal partai politik yang dianggap memiliki

pelembagaan yang baik, terlihat dari penataan organisasi yang senantiasa diawali dengan menciptakan kondisi internal yang demokratis, di mana seluruh komponen dan fungsionaris partai dapat mengikuti proses yang benar dan akuntabel. Hal ini untuk

menghindari terjadinya kontrol yang sewenang-wenang serta berfungsinya partai di bawah kendali pimpinan, individu ataupun kelompok-kelompok tertentu yang ada dalam partai. Kedua, pengurus partai di daerah jarang sekali melakukan inovasi dan kreatifitas program yang dapat mendukung arah dan perjuangan sesuai dengan visi dan misi partai. Program-program yang dilaksanakan senantiasa dilakukan sekedar melaksanakan amanah partai, tanpa ada tindak lanjut nyata sebagai wujud keberlanjutan program. Data yang ada menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan Partai Golkar Kabupaten Sinjai sebagian besarnya adalah program “titipan” baik dari propinsi maupun dari pusat. Dalam proses perekrutan anggota dan pelaksanaan kaderisasi partai misalnya, dilaksanakan untuk memenuhi target yang diberikan oleh level partai di tingkat atas. Sehingga output dari program tidak cukup untuk memberikan konstribusi yang besar terhadap pengembangan partai. Pola rekruitmen anggota yang dilakukan terkesan masih sarat dengan pendekatan kekerabatan dan pertemanan. Ketiga, terkait dengan pemahaman kader partai akan ideologi dan platform partai sebagai basis identitas partai. Ideologi dan platform suatu partai menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sebuah partai, karena dengan basis ideologi inilah yang senantiasa menjadi panduan dan arah perjuangan partai tersebut. Kondisi ini masih menjadi kelemahan dari Partai Golkar Kabupaten Sinjai saat ini. Akibat dari pola rekruitmen dan kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik, membuat pemahaman kader akan identitas partai tidak cukup memadai. Sehingga sebagian

kader menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan untuk memperoleh kekuasaan ataupun sumber daya material. Ketika tujuan tersebut tidak terakomodir, mereka cenderung untuk keluar partai. Hal lainnya yang terlihat dengan kurang berfungsinya sebagian organisasi internal partai yang dibentuk sebagai upaya partai memperluas basis dukungan. Akibatnya, organisasi internal sebagai bagian dari partai, kurang memberikan konstribusi berarti dalam upaya pengembangan partai. Keberadaan organisasi ini hanya pada tataran struktural, namun sangat minim kegiatan yang sifatnya mengenalkan partai kepada masyarakat. Keempat, partai politik yang memiliki pelembagaan yang kuat adalah partai yang memiliki akar kuat di masyarakat, dengan itu partai dapat mengidentifikasi basis dukungannya dengan jelas. Artinya bahwa partai memiliki wilayah pendukung utama yang tidak berubah setiap pemilu dan mempunyai ideologi yang mengikat. Akar partai dalam masyarakat ditentukan oleh program dan ideologi yang jelas dan dapat diterima masyarakat serta menyangkut hubungan antara partai dan pemilihnya. Selain itu, Partai Golkar Kabupaten Sinjai senantiasa hanya mengandalkan kekuatan personalitas atau figur-figur yang ada dalam partai. Kecenderungan ini mengakibatkan pemahaman masyarakat terhadap keberadaan Partai Golkar Kabupaten Sinjai dipahami hanya sebatas pada individu-individu yang ada dalam partai. Pemahaman masyarakat akan eksistensi Partai Golkar Kabupaten Sinjai dengan ideologi dan platformnya sangat kecil. Karena kiprah partai, baik dalam politik lokal maupun di masyarakat lebih dominan dilakukan secara personal. Para kader-

kader partai lebih mengedepankan mengusung visi pribadinya untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat dibanding mengenalkan nilai-nilai dasar partai, yang berupa visi, program, dan platform partai. Hanya saja penting pula untuk dipahami bahwa dari temuan yang ada, terlihat adanya upaya Partai Golkar Kabupaten Sinjai dalam menata organisasinya pasca kekalahan Pemilu 2009. Ada dua hal yang menurut penulis menonjol dari upaya Partai Golkar Kabupaten Sinjai tersebut. Pertama adalah dinamika konflik yang terjadi di tubuh Partai Golkar Kabupaten Sinjai senantiasa dapat diselesaikan secara internal. Hal ini mengurangi munculnya faksi-faksi di internal partai yang dapat mempengaruhi keutuhan partai. Kedua, Partai Golkar Kabupaten Sinjai relatif imun dari intervensi yang berasal dari eksternal partai. Tidak adanya sumber pendanaan dari individu maupun kelompok tertentu diluar partai, membuat partai ini tidak terpengaruh dari kekuatan luar dalam pengambilan keputusannya. Kemandirian partai seperti yang dijelaskan sebelumnya, justru terganggu oleh dominasi dari internal partai itu sendiri. Selanjutnya beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Partai Golkar Kabupaten Sinjai terkait dengan pelembagaan partainya, juga tak lepas dari upaya partai menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Seperti kuatnya intervensi dari level partai di atasnya, lebih disebabkan oleh adanya aturan yang berlaku di partai secara nasional. Di mana partai di tingkat lokal terikat dengan dominasi pusat dalam penentuan keputusan-keputusan tertentu, sehingga partai di daerah senantiasa menunggu persetujuan dari

atas. Demikian pula dalam kaitannya dengan menonjolnya figur partai dibanding partai secara kelembagaan. Dengan sistem pemilu yang ada saat ini, memaksa mereka yang ada di dalam partai bersaing memperebutkan simpati masyarakat untuk mendapatkan dukungan dalam pemilu.

DAFTAR PUSTAKA

Agustino, Leo. 2009. Pilkada dan Dinamika Politik Lokal. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Budiardjo, Miriam. 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Edisi Revisi (Cetakan Ketiga). PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Dwipayana, Ari. 2009. “Demokrasi Biaya Tinggi Dimensi Ekonomi dalam Proses Demokrasi Elektoral di Indonesia Pasca Orde Baru”, dalam Jurnal Ilmu Sosial & Ilmu Politik UGM, Volume 12, Nomor 3, Maret 2009, hh. 257-280. Eko, Sutoro. 2006. “Krisis Demokrasi Elektoral”, dalam Pradjarta Dirjosanjata dan Nico L Kana (eds.). Demokrasi dan Potret Lokal Pemilu 2004. Salatiga: Pustaka Percik. Hutington, Samuel P. 2003. Tertib Politik Di Tengah Pergeseran Masa. Edisi 1. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Imawan, Riswandha. 2004. Partai Politik di Indonesia: Pergulatan Setengah Hati Mencari Jari Diri. Yogyakarta. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Politik pada FISIPOL UGM. Lay, Cornelis, dkk. 2006. “Organisasi dan Manajemen Kepartaian”, dalam Parpol, Pemilu dan Parlemen: Agenda-Agenda Penguatan Parpol. Yogyakarta: PLOD UGM & JPP UGM. Macridis, Roy C. 1996. “Pengantar, Sejarah, Fungsi, dan Tipologi Partai-Partai”, dalam Dr. Ichlasul Amal (eds.). Teori-Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. Mainwaring, Scott, & Mariano Torcal. 2006. “Party System Intitutionalization And Party System Theory After The Third Wave of Democratization”, dalam Katz, Richard. S dan William Crotty (eds.). Hand Book of Party Politics. London:

SAGE. Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan keduapuluh delapan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Netherlands Institute for Multiparty Democracy (IMD). 2006. Suatu Kerangka Kerja Pengembangan Partai Politik Yang Demokratis. Den Haag: The Netherlands Institute for Multiparty Democracy. Randall, Vicky, dan Lars Svasand. 2002. “Party Institusionalization in New Democracies”, dalam Jurnal Party Politics, Vol.8 No.1, pp. 5-29. London: Sage Publication.

Ratnawati. 2006. Sistem Kepartaian di Era Transisi. Yogyakarta:

Fisipol UGM. Rifai, Anam, dkk (Tim Penyusun). 2010. Partai Politik, Demokrasi dan Kebijakan Publik. Malang: Averroes Press. Romli, Lili, dkk (Eds.). 2008. Pelembagaan Partai Politik Pasca Orde Baru (Studi Kasus Partai Golkar, PKB, PBB, PBR, dan PDS). Jakarta: LIPI Press. S2 PLOD UGM Angkatan XVI. Bahan Bacaan Utama Mata Kuliah Partai Politik, Pemilu dan Legislasi Daerah. Yogyakarta: S2 PLOD Universitas Gadjah Mada. Santoso, Purwo. 2006. “Kompotensi Partai Politik Sebagai Pelaku Kebijakan Publik: Kasus Kota Yogyakarta”, dalam Pradjarta Dirjosanjata dan Nico L Kana (eds.). Demokrasi dan Potret Lokal Pemilu 2004. Salatiga: Pustaka Percik. Surbakti, Ramlan. 2003. “Perkembangan Partai Politik di Indonesia”, dalam Henk. S Nordholt & G. Anan (eds.). Indonesia in Transition Work in Progress. Jakarta: Pustaka Pelajar. Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Grasindo. Suryadinata, Leo. 2007. The Decline of the Hegemonic Party System in Indonesia: Golkar after the Fall of Soeharto. Contemporary Southeast Asia Vol. 29, No. 2, pp. 333-358. Syafarani, Tri Rainny. 2008. “Pelembagaan Partai Golongan Karya:

Beringin yang Semakin Meranggas, dalam Lili Romli (Eds.). Pelembagaan Partai Politik Pasca Orde Baru: Studi Kasus Partai Golkar, PKB, PBB, PBR, dan PDS. Jakarta: LIPI Press. Tanjung, Akbar. 2007. The Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Tomsa, Dirk. 2008. Party Politics and Democrazation in Indonesia; Golkar in the post-Soeharto era. New York: Routlage 270 Madison Ave.

Dokumen :

Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golongan Karya Kumpulan Peraturan Organisasi (PO), Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) dan Keputusan DPP Partai Golkar 2009-2015. Dokumen Hasil Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kaderisasi Partai Golkar Tahun 2011.

Hasil-Hasil Rapat Kerja Daerah Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan. Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai Periode 2004-2009. Laporan Hasil Pelaksanaan Musyawarah Daerah VIII DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai Tahun 2010. Dokumen Kegiatan Partai Golkar Kabupaten Sinjai Tahun 2010 dan Tahun 2011.

47