Anda di halaman 1dari 14

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/325557251

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Membayar Pajak Bumi dan


Bangunan Pedesaan dan Perkotaan

Article · December 2017


DOI: 10.23887/ekuitas.v5i2.12751

CITATION READS

1 2,970

1 author:

Khasan Setiaji
Universitas Negeri Semarang
14 PUBLICATIONS   3 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Khasan Setiaji on 05 June 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN


MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PEDESAAN DAN
PERKOTAAN

Khasan Setiaji1, Adibatun Nisak2

Jurusan Pendidikan Ekonomi


Universitas Negeri Semarang
Semarang, Indonesia

e-mail: setiaji@mail.unnes.ac.id1, nisakadibatun@gmail.com2

Abstrak
Pajak sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian yang ada di
Indonesia. Namun pada saat ini banyak wajib pajak yang melakukan tindakan
penghindaran, pengelakan, dan pelalaian pajak yang pada akhirnya akan
menyebabkan peneriman pajak negara akan berkurang. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh motivasi, SPPT, pelayaan fiskus, dan kesadaran wajib
pajak terhadap kepatuhan membayar pajak bumi dan bangunan pedesaan dan
perkotaan di Desa Nolokerto baik secara simultan maupun secara parsial. Jenis
penelitia ini digolongkan sebagai penelitian kuaintitatif. Populasi dalam peneitian ini
adalah seluruh WP PBB P-2 di Desa Nolokerto. Penelitian ini menggunakan teknik
pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Propotional stratified random
sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa motivasi, SPPT, pelayanan fiskus, dan kesadaran
wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan membayar PBB P-
2 di Desa Nolokerto baik secara parsial maupun simultan. Saran dalam meningkatkan
kepatuhan membayar PBB P-2, maka pemerintah harus meningkatkan motivasi wajib
pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya, meningkatkan keakuratan data
pada SPPT dengan melakukan survey secara rutin; meningkatkan pelayanan
perpajakan bumi dan bangunan P2 terhadap wajib pajak, dan meningkatkan
kesadaran wajib pajak dengan mengadakan sosialisasi atau penyuluhan dan
informasi perpajakan, menciptakan aparatur pemerintah yang bersih dan berwibawa.

Kata Kunci: Motivasi, SPPT, Prelayanan Fiskus, Kesadarran Wajib Pajak, Kepatuh

Abstract
Taxes are instrumental in driving the wheels of the economy in Indonesia. But at this
time many taxpayers who do evasion, evasion, and tax negligence that will ultimately
lead to the state tax revenue will be reduced. The purpose of this study is to determine
the effect of motivation, SPPT, fiscal services, and taxpayer awareness of compliance
pay taxes earth and rural and urban buildings in the village of Nolokerto either
simultaneously or partially. This type of research is classified as quaintitative research.
Population in this research is all WP PBB P-2 in Nolokerto Village. This research uses
sampling technique by using technique of Propotional stratified random sampling.
Data analysis technique used is multiple regression. The results showed that
motivation, SPPT, fiscal services, and taxpayer awareness have a positive and
significant effect on P-2 PBB pay compliance in Nolokerto Village either partially or
simultaneously. Suggestion in increasing compliance to pay UN P-2, then the
government should increase taxpayer motivation to fulfill its tax obligations, improve
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 11 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

data accuracy on SPPT by conducting routine survey; improve the tax services of
earth and building P2 to taxpayers, and increase awareness of taxpayers by holding
socialization or counseling and information taxation, creating a clean and authoritative
government apparatus.

Keywords: Motivation, SPPT, Fiskus Service, Tax Payer Concern, Compliance


PENDAHULUAN
Salah satu sumber penerimaan bangunan adalah pajak yang dikenakan
negara adalah dari hasil pemungutan atas objek pajak bumi dan bangunan yang
pajak. Sebagai salah satu penerimaan diatur pengenaannya berdasarkan
negara, pajak sangat diandalkan untuk Undang-Undang No. 12 tahun 1994
pembiayaan pembangunan dan (Tjahjono dan Wahyudi,2005).
pengeluaran negara. Pajak adalah iuran Pemerintah dalam pelaksanaan penarikan
rakyat kepada kas negara berdasarkan pajak bumi dan bangunan masih banyak
undang-undang (yang dapat dipaksakan) mengalami kendala antara lain masih
dengan tidak mendapat jasa timbal balik
kurangnya kepatuhan masyarakat dalam
(kontraprestasi) yang langsung dapat
ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar PBB P2. Seperti yang terjadi di
membiayai pengeluaran umum (Soemitro Desa Nolokerto Kecamatan Kaliwungu.
dalam Resmi,2011). Dari definisi tersebut Berikut data mengenai target dan realisasi
tergambar bahwa salah satu fungsi pajak, penerimaan PBB P-2 Kecamatan
yaitu sebagai sumber penerimaan negara Kaliwungu tahun 2014, 2015, dan 2016.
(fungsi budgeter). Pajak bumi dan

Tabel 1. Realisasi Penerimaan PBB P-2 Kecamatan Kaliwungu

Realisasi 2014 Realisasi 2015 Realisasi 2016


No Desa /Kelurahan SPP Realisas SPP Realisas SPP Realisas
% % %
T i T i T i
A. PERDESAAN
1. WONOREJO 1.758 949 44,53 1.756 956 51,17 1.774 729 61,87

JUMLAH A 1.758 949 44,53 1.756 956 51,17 1.774 729 61,87

B. PERKOTAAN
2. KUMPULREJO 1.095 639 36,57 1.090 717 33,53 1.091 482 53,31
KARANG
3. 1.373 1.077 42,07 1.417 920 50,22 1.435 1.047 35,91
TENGAH
4. SARIREJO 2.540 606 76,63 2.624 813 74,62 2.854 973 72,35
5. KRAJANKULON 2.470 1.036 53,41 2.461 988 57,99 2.461 1.003 58,71
6. KUTOHARJO 3.278 1.579 56,90 3.236 1.315 67,60 3.246 1.319 61,57
7. NOLOKERTO 3.304 1.525 83,36 3.303 1.427 43,38 3.335 1.586 25,86
8. SUMBEREJO 3.170 1.477 63,70 3.202 1.475 62,20 3.238 1.613 62,06
9. MOROREJO 2.795 1.319 76,17 2.734 1.623 73,39 2.738 1.948 65,80

20.02 20.06 20.39


JUMLAH B 9.258 72,23 9.278 55,99 9.935 46,39
5 7 8
21.78 21.82 22.17
JUMLAH A + B 10.207 70,93 10.234 55,76 10.980 47,14
3 3 2

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 12 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Berdasarkan tabel 1. dapat diketahui diartikan kekuatan, dorongan, kebutuhan,


bahwa realisasi penerimaan PBB P-2 semangat, tekanan, atau mekanisme
Desa Nolokerto dari tahun 2014 sampai psikologi yang mendorong seseorang atau
tahun 2016 selalu menurun. Bahkan pada kelompok orang untuk mencapai prestasi
tahun 2016 hanya sebesar 25,86% wajib tertentu sesuai dengan apa yang
pajak yang memenuhi kewajibannya untuk dikehendakinya (Danim,2012). Motivasi
membayar pajak. adalah keinginan untuk melakukan
Salah satu cara untuk sesuatu dan menentukan kemampuan
mengoptimalkan penerimaan PBB P-2 bertindak untuk memuaskan kebutuhan
adalah dengan meningkatkan kepatuhan individu (Robbins,2002). Herzberg (1968)
wajib pajak. Kepatuhan perpajakan dapat dalam Robbins (2002) mengemukakan
di definisikan sebagai suatu keadaan sebuah teori yang disebut Motivation
dimana wajib pajak memenuhi semua Hygiene Theory, teori ini mengungkapkan
kewajiban perpajakannya (Nurmantu bahwa terdapat dua faktor yang
dalam Rahayu,2006). Menurut kamus mempengaruhi motivasi, yang pertama
umum bahasa Indonesia dalam Rahayu adalah faktor motivasional yang
(2006:110) istilah kepatuhan berarti merupakan hal-hal yang sifatnya intrinsik
tunduk atau patuh pada ajaran atau atau bersumber dari dalam diri seseorang,
aturan.Menurut Erard dan Feinstein yang sedangkan faktor kedua adalah faktor
di kutip oleh Chaizi Nasucha dan di hygiene atau pemeliharaan yang
kemukakan kembali oleh Rahayu (2006) merupakan faktor-faktor dengan sifat
pengertian kepatuhan wajib pajak adalah ekstrinsik yang bersumber dari luar diri
rasa bersalah dan rasa malu, persepsi individu yang turut menentukan perilaku
wajib pajak atas kewajaran dan keadilan seseorang dalam kehidupan seseorang.
beban pajak yang mereka tanggung, dan Begitu pula dalam hal perpajakan,
pengaruh kepuasan terhadap pelayanan terdapat faktor intrinsik dan ekstrinsik yang
pemerintah.Menurut Nurmantu dalam mempengaruhi motivasiwajib pajak dalam
Rahayu (2006) menyatakan bahwa membayar pajak.Faktor lain yang diduga
kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan mempengaruhi kepatuhan membayar
sebagai suatu keadaan di mana wajib pajak bumi dan banguanan adalah surat
pajak memenuhi semua kewajiban pemberitahuan pajak terutang (SPPT)
perpajakan dan melaksanakan hak karena di dalamnya terdapat kebenaran
perpajakannya. Dari beberapa definisi pajak yang harus dibayarkan. SPPT
tersebut dapat disimpulkan bahwa adalah surat yang digunakan oleh
kepatuhan membayar pajak adalah wajib direktorat jendaral pajak untuk
pajak yang taat dan memenuhi serta memberitahukan besarnya pajak yang
melaksanakan kewajiban perpajakan terutang kepada wajib pajak
sesuai dengan ketentuan perundang- (Waluyo,2004).SPPT adalah surat
undangan perpajakan. keputusan kepala kantor pelayanan Pajak
Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi Bumi dan Bangunan mengenai pajak
oleh beberapa faktor, yaitu: kondisi sistem terutang yang harus dibayar dalam 1
administrasi pajak suatu negara, tahun pajak (Suryarini dan Tarmuji,2009).
pelayanan pada wajib pajak, penegakan Dalam Pasal 1 Angka 54 UU Nomor 28
hukum perpajaka, pemeriksaan pajak, dan Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
tarif pajak (Devano dan Rahayu,2006). Retribusi Daerah) dijelaskan bahwa,
Faktor-faktor yang mempengaruhi “Surat Pemberitahuan Pajak Terutang
kepatuhan membayar pajak diantaranya adalah surat yang digunakan untuk
adalah motivasi.Hasil penelitian yang memberitahukan besarnya pajak bumi dan
dilakukan oleh Husein (2012) dan Putri bangunan pedesaan dan perkotaan yang
(2016) menyatakan bahwa motivasi terutang kepada wajib pajak.Dari definisi
berpengaruh secara signifikan terhadap tersebut dapat disimpulan bahwa SPPT
kepatuhan membayar PBB P-2. Motivasi adalah surat yang di keluarkan oleh

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 13 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Direktorat Jenderal Pajak Daerah yang bahwa kualitas pelayanan fiskus


digunakan untuk memberitahu jumlah berpengaruh signifikan positif terhadap
pajak terutang yang dibayarkan wajib tingkat kepatuhan wajib pajak.
pajak sebelum jatuh tempo.SPPT dapat Menurut wawancara awal terhadap
diterbitkan berdasarkan Surat wajib pajak Desa Nolokerto fasilitas
Pemberitahuan Objek Pajak yang diterima pendukung seperti ruang tunggu kurang
oleh subyek pajak atau berdasarkan data memadai, dalam SPPT yang diberikan
yang ada di kantor pajak juga masih terdapat kesalahan
(Samudra,1995).Hasil penelitian yang administrasi perpajakan yang membuat
dilakukan oleh Yusnidar (2015) dan Fauzi masyarakat enggan untuk membayar
(2016), menyatakan bahwa SPPT pajak. Faktor lain yang di duga
berpengaruh signifikan terhadap berpengaruh terhadap kepatuhan
kepatuhan membayar pajak bumi dan membayar pajak adalah kesadaran wajib
bangunan pedesaan dan perkotaan. pajak. kesadaran adalah suatu keadaan
Dalam wawancara langsung dengan wajib dimana wajib pajak dalam keadaan tahu,
pajak memang mengeluhkan mengenai mengerti, dan tidak merasa dipaksa
data yang ada dalam SPPT yang kurang ataupun takut dalam melaksanakan
akurat. Seperti nama dan alamat wajib kewajibannya, karena adanya nilai-nilai
pajak, sering kali masih dibebankan atas hukum dalam diri wajib pajak dan adanya
nama wajib pajak lama padahal sudah pengetahuan bhwa perilaku tertentu diatur
terjadi pengalihan, dan sudah dilaporkan, oleh hukum (Riono,2011).
adanya objek pajak ganda. Hal ini Beberapa bentuk kesadaran
disebabkan kelalaian petugas. Dan juga membayar pajak yang mendorong wajib
nama dan alamat wajib pajak seringkali pajak untuk membayar pajak. Pertama,
terjadi kekeliruan data. Dari penjelasan kesadaran bahwa pajak merupakan
tersebut SPPT dijadikan masalah dalam bentuk partisipasi dalam menunjang
penelitian ini. Faktor lain yang diduga pembangunan negara. Dengan menyadari
mempengaruhi kepatuhan membayar hal ini, wajib pajak mau membayar pajak
pajak bumi dan bangunan pedesaan dan karena merasa tidak dirugikan dari
perkotaan adalah pelayanan fiskus. pemungutan pajak yang dilakukan. Kedua,
Pelayanan adalah sutu proses bantuan kesadaran bahwa penundaan
kepada orang lain dengan cara-cara pembayaran pajak dan pengurangan
tertentu yang memerlukan kepekaan dan beban pajak sangat merugikan negara.
hubungan interpersonal agar tercipta Wajib pajak mau membayar pajak karena
kepuasan dan keberhasilan memahami bahwa penundaan
(Boediono,2003).Pelayanan adalah setiap pembayaran pajak dan pengurangan
tindakan atau perbuatan yang dapat beban pajak berdampak pada kurangnya
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak sumber daya finansial yang dapat
lain, yang pada dasarnya bersifat mengakibatkan terhambatnya
intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak pembangunan negara. Ketiga, kesadaran
menghasilkan kepemilikan sesuatu bahwa pajak ditetapkan dengan Undang-
(Alghifari,2015).Ada hubungan timbal balik undang dan dapat dipaksakan. Wajib
antara kepatuhan membayar pajakdengan pajak akan membayar karena
kinerja pemerintah, terutama yang pembayaran pajak disadari memiliki
menyangkut jasa pelayananpublik yang landasan hukum yang kuat dan
berkaitan langsung dengan kepentingan merupakan kewajiban mutlak setiap warga
masyarakat.Kepatuhan masyarakat untuk negara.Kesadaran membayar pajak dapat
membayar pajak dapat ditingkatkan timbul karena adanya pengetahun dan
apabilaseluruh aparat pemerintah pemahaman wajib pajak mengenai
meningkatkan dan memperbaiki perpajakan. Sehingga wajib pajak yang
mutupelayanannya.Hasil penelitian yang memiliki pendidikan semakin tinggi
dilakukan Yusnidar (2015) menyebutkan cenderung akan semakin patuh dalam

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 14 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

membayar pajak karena mereka memiliki di desa Nolokerto, (5) pengaruh


kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesadaran wajib pajak terhadap
membayar pajak bumi dan kepatuhan membayar PBB P-2 di desa
buangunan.Hasil penelitian yang
Nolokerto.
dilakukan oleh Junaidi (2013) dan Puspita
(2016) menjelaskan bahwa kesadaran
wajib pajak berpengaruh positif dan METODE
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Jenis penelitian yang dilakukan
Kajian utama pada penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif untuk
adalah teori artibusi yang dikemukankan mencari pengaruh anatar variabel bebas
oleh Fritz Heider, yaitu, bahwa bila dan variabel terikat (Sugioyo,2015).
individu-individu mengamati perilaku Populasinya seluruh wajib pajak bumi dan
seseorang, maka mencoba untuk bangunan yang berada Di Desa Nolokerto
menentukan apakah itu disebabkan oleh Kecamatan Kaliwungu yang berjumlah
faktor internal atau faktor eksternal 3.335 wajib pajak bumi dan bangunan
(Robbin,2002). Relevansi dari teori pedesaan dan perkotaan. Dari jumlah
artribusi dalam penelitian ini adalah bahwa populasi tersebut maka dapat diketahui
seseorang dalam mementukan patuh atau jumlah sampel berdasarkan rumus slovin
tidak patuh dalam membayar pajak (Prasetyo,2008) yaitu 98 WP PBB P-2
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor Teknik pengambilan sampel
eksternal. Faktor internal tersebut adalah menggunakan teknik Proportionate
motivasi dan kesadaran wajib pajak, stratified random sampling yaitu teknik
sedangkan faktor eksternal yang pengambilan sampel yang dilakukan
mempengaruhi kepayuhan membayar
dengan membagi anggota populasi dalam
PBB P-2 adalah SPPT dan pelayanan
fiskus. beberapa sub kelompok yang disebut
Tujuan dari penelitian ini adalah strata (tingkat pendidikan), lalu sampel
untuk mengetahui dan menganalisis: (1) dipilih dari masing-masing strata.
pengaruh motivasi, SPPT, pelayanan Penarikan sampel ini digunakan untuk
fiskus, kesadaran wajib pajak terhadap populasi yang mempunyai anggota atau
kepatuhan membayar PBB P-2 di desa unnsur yang tidak homogen (Suharyadi
Nolokerto, (2) pengaruh motivasi terhadap dan Purwanto,2009). Pengambilan
kepatuhan membayar PBB P-2 di desa datanya dilakukan secara random.
Nolokerto, (3) pengaruh SPPT terhadap Penentuan responden penelitian dengan
kepatuhan membayar PBB P-2 di desa melihat dari tingkat pendidikan wajib
Nolokerto, (4) pengaruh pelayanan fiskus pajak. berikut tabel penentuan responden
terhadap kepatuhan membayar PBB P-2 penelitian.

Tabel 2. Penentuan Responden Penelitian

No Tingkat Populasi Proportional Jumlahsampel


pendidikan stratafied
1. SD 126 (126:781)x 98 16
2. SMP 150 (150:781) x 98 19
3. SMA 367 (367:781) x 98 45
4. Diploma 72 (19:781) x 98 9
7. Sarjana 67 (59:781) x 98 9
Jumlah 781 98

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 15 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Penelitian ini menggunakan lima SPPT, NJOP atas bangunan pada SPPT
variabel, yaitu empat variabel independen (3) pelayanan fiskus dengan indikator dari
dan satu variabel dependen. Variabel variabel pelayanan fiskus menurut
dependen dalam penelitian ini adalah Parasuraman (1985) dalam Rahmayanty
kepatuhan membayar pajak. Variabel ini (2013) yaitu: tangibles (bukti fisik), realibity
diukur dengan menggunakan indikator (keandalan), assurance (jminan), dan
menurut Rahayu (2010), yaitu: wajib pajak emphaty (empati) (4) kesadaran wajib
melakukan pembayaran tepat waktu, wajib pajak yang diukur dari indikator dari
pajak melakukan pembayaran tepat variabel kesadaran wajib pajak menurut
jumlah, wajib pajak tidak memiliki Suryarini dan Tarmuji (2006) adalah:
tunggakan pajak. Sedangkan variabel sebab kultural dan historis, kurangnya
independen dalam penelitian ini adalah (1) informasi, adanya kebocoran pada
motivasi. Variabel ini diukur dengan penarikan pajak, suasanan individu.
menggunakan indikator menurut Danim Metode pengumpulan data dengan
(2012) yaitu: kejujuran wajib pajak, hasrat menggunaakan angket atau kuisioner.
untuk membayar pajak, dorongan dari Metode analisis data yang digunakan
aparat pajak, lingkungan kerja, teman , dalam penelitian ini adalah analisis regresi
dan kerabat (2) SPPT dengan Indikator linier berganda untuk menguji hipotesis
menurut Ronia (2011) yaitu: data wajib dengan melakukan uji secara simultan (uji
pajak pada SPPT, tempat pembayaran F) dan uji secara parsial (uji t). Sebelum
pajak yang tereta di SPPT, tanggal jatuh pengujian hipotesis, dilakukan pengujian
tempo, luas tanah pada SPPT, NJOP atas kualitas data yang terdiri dari uji validitas
tanah pada SPPT, luas bangunan pada dan reliabilitas data (Trihendradi,2013).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari data yang telah terumpul dan regresi. Berdasarkan hasil analisis regresi
telah diuji asumsi klasik, diperoleh hasil berganda maka hasil dapat dilihat pada
bahwa data layak dianalisis dalam model Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Model B Std. Error Beta T Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 2,315 2,081 1,113 ,269
Motivasi ,159 ,068 ,242 2,332 ,022 ,431 2,322
Sppt ,258 ,108 ,199 2,391 ,019 ,674 1,484
Pelayanan ,133 ,051 ,254 2,608 ,011 ,489 2,047
Kesadaran ,222 ,101 ,214 2,196 ,031 ,490 2,042
a. Dependent Variable: kepatuhan

Berdasarkan tabel di atas maka (X2), pelaynan fiskus (X3), dan kesadaran
persamaan regresi berganda dalam wajib pajak (X4), maka besarnya
penelitian ini adalah sebagai berikut: kepatuhan membayar pajak bumi dan
Y=2,315+0,159X1+0,258X2+0,133X3+0,22 bangunan kan naik sebesar 2,315.
2X4 (1) Koefisien regresi variabel motivasi (X2)
Konstanta sebesar 2,315 berarti sebesar 0,159 berarti bahwa jika terjadi
bahwa dengan mengesampingkan pengingkatan motivasi (X1) maka
pengaruh besarnya motivasi (X1), SPPT besarnya kepatuhan membayar pajak (Y)

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 16 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

akan naik sebesar 0,159. Koefisien regresi pajak (X4) sebesar 0,222 berarti bahwa
variabel SPPT (X2) sebesar 0,258 berarti jika terjadi pengingkatan SPPT (X2) maka
bahwa jika terjadi pengingkatan SPPT besarnya kepatuhan membayar pajak (Y)
(X2) maka besarnya kepatuhan membayar akan naik sebesar 0,222.
pajak (Y) akan naik sebesar 0,258.
Koefisien regresi variabel pelayanan fiskus Uji Koefisien Determinasi (R2)
(X3) sebesar 0,133 berarti bahwa jika Nilai R2yang mendekati 1 berarti
terjadi pengingkatan pelayanan fiskus (X3) variabel-variabel independen memberikan
maka besarnya kepatuhan membayar hampir semua informasi yang dibutuhkan
pajak (Y) akan naik sebesar 0,133. untuk memprediksi variabel dependen.
Koefisien regresi variabel kesadaran wajib

Tabel 4.Uji Koefisien Determinasi Simultan (R2)

Model Summary
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
1 ,753
a ,567 ,549 2,576

a.Predictors: (Constant), kesadaran, sppt, pelayanan, motivasi

Berdasarkan tabel tersebut lain yang tidak masuk dalam analisis


menunjukkan bahwa nilai adjuster R regresi ini.
square yang dihasilkan oleh variabel- Hasil F
variabel independen sebesar 0,549 yang Jika nilai signifikansi < 5% maka Ho
artinya 54,9% variabel kepatuhan ditolah dan H1 diterima, artinya variabel
membayar pajak dapat dijelaskan oleh motivasi, SPPT, pelayanan fiskus, dan
variabel independen motivasi, SPPT, kesadaran wajib pajak berpengaruh
pelayanan fiskus, dan kesadaran wajib terhadap variabel terikat. Hasil
pajak. Sisanya 45,1% dijelaskan variabel perhitungan menggunakan SPSS dapat
dilihat dari tabel berikut.

Tabel 5.Hasil Uji F

a
ANOVA
Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.
1 Regression 30,47 ,000
809,195 4 202,299 b
8
Residual 617,295 93 6,638
Total 1426,490 97
a. Dependent Variable: kepatuhan
b. Predictors: (Constant), kesadaran, sppt, pelayanan,
motivasi

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 17 dari 69


Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan Uji t


bahwa nilai F hitung 30,478 dengan Kriteria yang digunakan dalam
tingkat sigifikansi 0,000. Karena tingkat menentukan uji t adalah apabila nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka signifikansi masing-masing variabel bebas
dapat dikatakan bahwa motivasi, SPPT, < 0,05 maka variabel bebas berpengaruh
pelayanan fiskus, dan kesadaran wajib terhadap variabel terikat. Hasil
pajak berpengaruh secara simultan dan perhitungan menggunakan SPSS dapat
signifikan terhadap kepatuhan membayar dilihat pada tabel berikut.
pajak bumi dan bangunan.

Tabel 6. Hasil Uji t

a
Coefficients
Unstandardized
Coefficients Standardized Coefficients
Model B Std. Error Beta T Sig.
1 (Constant) 2,315 2,081 1,113 ,269
Motivasi ,159 ,068 ,242 2,332 ,022
Sppt ,258 ,108 ,199 2,391 ,019
Pelayanan ,133 ,051 ,254 2,608 ,011
Kesadaran ,222 ,101 ,214 2,196 ,031
a. Dependent Variable: kepatuhan

Pengujian hipotesis kedua (H2) secara signifikan terhadap kepatuhan


Hasil uji yang dilakukan terhadap wajib pajak.
variabel motivasi memiliki nialai
signifikansi 0,022 < 0,05 dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa H2 diiterima. Pengujian hiptesis kelima (H5)
Artinya motivasi berpengaruh secara Hasil uji yang dilakukan terhadap
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. variabel kesadaran wajib pajak memiliki
nialai signifikansi 0,031 < 0,05 dengan
Pengujian hiptesis ketiga (H3) demikian dapat dinyatakan bahwa H5
Hasil uji yang dilakukan terhadap diiterima. Artinya kesadaran wajib pajak
variabel SPPT memiliki nialai signifikansi berpengaruh secara signifikan terhadap
0,019 < 0,05 dengan demikian dapat kepatuhan wajib pajak.
dinyatakan bahwa H3 diiterima. Artinya Pengaruh Motivasi, SPPT,
SPPT berpengaruh secara signifikan Pelayanan Fiskus, dan Kesadaran Wajib
terhadap kepatuhan wajib pajak. Pajak terhadap Kepatuhan Membayar
Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan
Pengujian hiptesis keempat (H4) Perkotaan.
Hasil uji yang dilakukan terhadap Hasil pengujian yang diperoleh dari
variabel pelayanan fiskus memiliki nialai uji statistik F menunjukkan bahwa nilai
signifikansi 0,011 < 0,05 dengan demikian signifikansi diperoleh sebesar 0,000. Nilai
dapat dinyatakan bahwa H4 diiterima. tersebut menunjukkan bahwa signifikansi
Artinya pelayana fiskus berpengaruh dibawah nilai alfa (0,05) sehingga
hipotesis pertama diterima. Artinya,
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 18 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

terdapat pengaruh positif dan signifikan Secara individual hasil analisis


antara motivasi, SPPT, pelayanan fiskus, deskriptif variabel kepatuhan membayar
dan kesadaran wajib pajak terhadap pajak menunjukkan bahwa secara
kepatuhan membayar pajak bumi dan keseluruhan rata-rata wajib pajak patuh
bangunan P2 Desa Nolokerto secara untuk membayar pajak bumi dan
bersama-sama (simultan). Hal ini bangunan termasuk dalam kategori
menunjukkan bahwa semakin tinggi rendah. Hal ini dibuktikan dengan
motivasi, semakin akurat SPPT semakin perolehan skor indikator membayar pajak
tinggi tingkat pelayanan fiskus, dan tepat waktu termasuk dalam kategori
semakin tinngi tingkat kesadaran wajib rendah karena dari 98 responden 69
pajak maka semakin tinggi pula kepatuhan responden membayar pajak melampaui
membayar pajak bumi dan bangunan batas pembayaran jatuh tempo yang
perdesaan dan perkotaan. tertera pada SPPT. Untuk indikator tepat
Hasil adjusted R2 menunjukkan jumlah termasuk dalam kategori tinggi
bahwa 54,9%variabel motivasi, SPPT, karena dari 98 responden 42 responden
pelayanan fiskus, dan kesadaran wajib atau 43% membayar pajak sesuai dengan
pajak. Sedangkan sisanya 45,1% jumlah yang dibebankan. Untuk indikator
dijelaskan oleh variabel lain diluar model tidak mempunyai tunggakan pajak
penelitian. Secara simultan keempat termasuk dalam kategori rendah karena
variabel bebas berpengaruh terhadap 43 responden atau 44% responden
variabel terikat,maka keempat variabel mereka memiliki tunggakan pajak bumi
bebas tersebut dapat dijadikan perhatian dan bangunan perdesaan dan perkotaan.
bagi pihak aparat pajak setempat dalam Analisis deskriptif indikator dari
rangka meningkatkan kepatuhan motivasi menyatakan bahwa indikator
membayar pajak bumi dan bangunan kejujuran termasuk dalam kategori,
perdesaan dan perkotaan. Hal tersebut indikator hasrat untuk membayar pajak
mendukung diterimanya hipotesis termasuk dalam kategori rendah, indikator
pertama. Bahwa terdapat pengaruh yang dorongan dari aparat pajak termasuk
positif dan signifikan anatara motivasi, dalam kategori rendah. Berdasarkan
SPPT, pelayanan fiskus, dan kesadaran penjelasan di tersebut, dapat disimpulkan
wajib pajak terhadap kepatuhan bahwa motivasi membayar pajak
membayar pajak bumi dan bangunan berpengaruh positif dan signifikan
perdesaan dan perkotaan. terhadap kepatuhan membayar pajak.
Safri Nurmantu dalam Rahayu Penelitian tersebut mendukung penelitian
(2006:110) mengatakan bahwa, sebelumnya yang dilakukan oleh Susi
“kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan Diana yang berjudul “analisis pengaruh
sebagai suatu keadaan dimana wajib motivasi dan tingkat pendidikan terhadap
pajak memenuhi semua kewajiban kepatuhan membayar pajak (studi kasus
perpajakan dan melaksanakan kewajiban pada KPP Pratama Jakarta Tananh Abang
perpajakannya." kepatuhan merupakan Satu) yang menyatakan bahwa motivasi
perilaku yang taat hukum. Kepatuhan berpengaruh signifikan tergadap
wajib pajak sangat erat hubungannya kepatuhan membayar pajak bumi dan
dengan faktor internal (motivasi dan bangunan baik secara parsial maupun
kesadaran wajib pajak) dan faktor internal simultan. Penelitian tersebut juga selaras
(SPPT dan pelayanan fiskus). dengan teori yang dikemukakan oleh
Danim (2012:18) bahwa jenis motivasi
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 19 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

diantaranya adalah motivasi internal atau sudah sesuai dengan dengan luas
motivasi yang muncul dari dalam diri bangunan yang dimiliki wajib pajak. untuk
individu. Karena memang individu tersebut indikator NJOP atas tanah dan bangunan
mempunya kesadaran untuk berbuat, juga sudah sesuai dengan perhitungan
kejujuran, hasrat untuk membayar pajak, yang benar.
dan motivasi dari luar atau motivasi yang Penelitian ini juga mendukung
muncul akibat adanya pengaruh dari luar penelitian yang sebelumnya yang
seperti aparat pajak, lingkungan keluarga, dilakukan oleh Yusnidar, dkk yang
kerja, dan teman. berjudul “Pengaruh faktor–faktor yang
Masing-masing indikator dari mempengaruhi kepatuhan wajib pajak
variable SPPT menyatakan bahwa dalam melakukan pembayaran pajak bumi
indikator data wajib pajak pada SPPT dan bangunan perdesaan dan perkotaan
dalam kategori sangat rendah, indikator (studi pada wajib pajak PBB-P2
tempat pembayaran pajak yang tertera Kecamatan Jombang Kabupaten
pada SPPT rendah, tanggal jatuh tempo Jombang).” Yang menyatakan bahwa
yang tertera pada SPPT tinggi, luas tanah SPPT berpengaruh signifikan terhadap
yang tertera pada SPPT sangat tinggi, Kepatuhan membayar pajak baik secara
luas bangunan yang tertera pada SPPT simultan maupun parsial.
tingi, NJOP atas tanah pada SPPT sangat Analisis deskriptif variabel pelayanan
tinggi, NJOP bangunan pada SPPT fiskus menunjukkan bahwa secara
sangat tinggi. Berdasarkan penjelasan keseluruhan rata-rata wajib pajak
tersebut dapat disimpilkan bahwa SPPT beranggapan bahwa pelayanan fiskus
berpengaruh positif dan terhadap masuk dala kategori rendah. Hal ini
kepatuhan membayar pajak. SPPT adalah dibuktikan dengan rata-rata variabel
surat yang digunakan oleh direktorat motivasi sebesar 32,69. Berdasarkan
jenderal pajak untuk memberitahukan perolehan skor indikator tangibles (bukti
besarnya pajak yang terutang kepada fisik) termasuk dalam kategori rendah
wajib pajak (Waluyo,2002: 423). SPPT karena dari 98 responden 69 responden
dalam penelitian ini menguji mengenai atau 48% wajib pajak menilai bahwa
seberapa tinggi tanggapan wajib pajak gedung beserta fasilitas untuk membayar
tentang keakuratan data. Peranan SPPT pajak masih rendah. Untuk indikator
telah mempengaruhi wajib pajak untuk realibility (kendalan) termasuk dalam
patuh dalam membayar pajak bumi dan kategori rendah karena dari 98 responden
bangunan P2. Dari hasil penelitian, 58 responden atau 59% wajib pajak di
tanggapan masyarakat tentang data yang Desa Nolokerto Kecamatan Kaliwungu
tertera di SPPT masih banyak yaang menilai bahwa keandalan pegawai pajak
salah. Atau data yang tertera di SPPT atau fiskus masih rendah. Untuk indikator
kurang akurat. penetapan tanggal jatuh responsiviness (daya tangkap) termasuk
tempo termasuk dalam kategori baik, dalam kategori rendah karena 54
karena sebagian dari masyarakat tidak responden atau 55% responden mereka
merasa keberatan dengan tanggal yang memandang bahwa daya tangkap petugas
ditetapkan untuk membayar pajak. pajak atau fiskus dirasa kurang. Untuk
sedangkan untuk indikator luas tanah indikator assurance(jaminan) termasuk
pada SPPT sudah sesuai dengan luas dalam kategori tinggi karena 44 responden
tanah yang dimiliki wajib pajak, untuk atau 45% responden percaya akan
indikator luas bangunan pada SPPT juga terjaminya keamanan data-data yang ada.
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 20 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Hasil penelitian ini juga mendukung kepatuhan. Sebagai warga negara yang
penelitian sebelumnya yang dilakukan baik, kewajibanya adalah memenuhi
oleh Agus Nurfaozi yang berjudul “Faktor- kewaajiban perpajakan. Penelitian ini juga
faktor yang mempengaruhi kepatuhan mendukung penelitian yang sebelumnya
wajib pajak dalam membayar pajak bumi yang dilakukan oleh Asriani Juaedi yang
dan bangunan perdesaan dan perkotaan berjudul “pengaruh pengetahuan dan
di Kecamatan Wanasari Kabupaten kesadaran wajib pajak bumi dan
Brebes”. Menunjukkan bahwa pelayanan bangunan terhadap kepatuhan wajib
perpajakan berpengaruh signifikan pajak” yang menunjukkan bahwa
terhadap kepatuhan membayar pajak pengetahuan dan kesadaran berpengaruh
bumi dan bangunan perdesaan dan terhadap kepatuhan membayar pajak baik
perkotaan di Kecamatan Wanasari secara parsia maupun simultan. Penelitian
Kabupaten Bebes baik secara simultan ini juga selaras dengan teori yang
maupun parsial. Penelitian tersebut juga dikemukakan oleh Tarmuji (2006:10)
selaras dengan teori yang dikemukakan bahwa ada banyak hal yang menjadi
oleh parasuraman (1985) bahwa ada lima penyebab mengapa tingkat kesadaran
dimensi kualitas pelayanan, yaitu: masih rendah diantarannya adalah: sebab
tangibles, realibility, responsiveness, kultural dan historis, kurangnya informasi
assurance, dan emphaty. dari pihak pajak kepada wajib pajak,
Variabel kesadaran wajib pajak adanya kebocoran pada penarikan pajak,
menunjukkan bahwa secara keseluruhan dan suasana individu.
rata-rata kesadaran wajib pajak dalam
mendukung kepatuhan membayar pajak SIMPULAN
termasuk dalam kategori rendah. Pertama, Motivasi, SPPT, pelayanan
Berdasarkan analisis deskriptif masing- fiskus, dan kesadaran wajib pajak
masing indikator dari variabel kesadaran berpengaruh positif dan signifikan
membayar pajak menyatakan bahwa terhadap kepatuhan membayar pajak
indikator sebab kultural dan historis, bumi dan bangunan pedesaan dan
kurangnya informasi, adanya kebocoran perkotaan. Kedua, motivasi berpengaruh
pada penarikan pajak, dan suasara positif dan signifikan terhadap keppatuhan
individu semuanya masuk dalam kategori membayar pajak bumi dan bangunan
rendah. Adanya kebocoran dalam pedesaan dan perkotaan. Ketiga, SPPT
penarikan pajak juga tergolong sangat berpengaruh positif dan signifikan
mempengaruhi wajib pajak dalam terhadap keppatuhan membayar pajak
memenuhi kewajiban pajaknya, bahwa bumi dan bangunan P2. Keempat,
adanya kebocoran dalam penarikan pajak pelayanan fiskus berpengaruh positif dan
akan membuat individu enggan untuk signifikan terhadap kepatuhan membayar
membayar pajak. Untuk indikator suasana pajak bumi dan bangunan pedesaan dan
individu seeperti belum punya uang, perkotaan. Kelima, kesadaran wajib pajak
malas, tidak ada imbalan langsug dari berpengaruh positif dan signifikan
pemerintah individu menilai masih rendah. terhadap keppatuhan membayar pajak
Tingkat kesadaran yang dimiliki oleh wajib bumi dan bangunan pedesaan dan
pajak berpengaruh terhadap kepatuhan perkotaan.
membayar pajak. hal ini mengindikasikan
bahwa budaya kurangnya kesadaran
sangat berpotensi mengurangi tingkat
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 21 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

DAFTAR PUSTAKA Robbins & Srephen, D. 1992. Essential of


Algifari. 2015. Analisis Regresi untuk Organizational Behavior.
Bisnis dan Ekonomi. Edisi Ketiga. Terjemahan Sartika dan Halida.
Yogyakarta: BPFE Yogyakarta Jakarta: Erlangga
Budiono, B. 2003. Pelayanan Prima Rahmayanty & Nina. 2013. Manajemen
Perpajakan. Jakarta: Rineka Cipta Pelayanan Prima. Yoyakarta: Graha
Danim & Sudarman. 2012. Motivasi Ilmu.
Kepemimpinan dan Efektivitas Riono. 2011. Pengaruh pendidikan dan
Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta pendapatan terhadap kesadaran
Devano., S & Siti, K.R. 2006. Perpajakan: masyarakat dalam membayar pajak
Konsep, Teori dan Isu. Jakarta: bumi dan bangunan di Desa
Rineka Cipta. Wonomkeling Kecamatan Jatiyoso
Fauzi & Agus, N. 2010. Faktor-faktor Yang Kabupaten Karanganyar tahun
Mempengaruhi Kepatuhan Wajib 2011. Proposal. Surakarta:
Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Universitas Muhammadiyah
Dan Bangunan Perdesaan Dan Surakarta
Perkotaan Di Kecamatan Wanasari Samudra & Azhari, A. 1995. Perpajakan di
Kabupaten Brebes. Skripsi. Indonesia (Keuangan, pajak, dan
Semarang: Universitas Negeri retribusi). Jakarta: Gramedia
Semmarang Pustaka Utama
Husein & Abdul, G. 2012. Pengaruh Sugiyono. 2015. Metode penelitian
Motivasi dan Pengetahuan Wajib pendidikan pendekatan kuantitatif,
Pajak terhadap Kepatuhan Wajib kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfa
Pajak. Jurnal UNESA, vol 1 No.1 Beta
Prasetyo & Jannah. 2008. Metode Suharyadi & Purwanto. 2009. Statistika
Penelitian Kuantitatif: Teori dan Untuk Ekonomi dan Keuangan
Aplikasi. Jakarta: P.T. Raja Gravindo Modern. Jakarta Selatan: Salemba
Persada Empat
Puspita & Erna. 2016. Analisis Jalur Rahayu & Kurnia, S. 2010. Perpajakan
Pengaruh Sosialisasi Terhadap Indonesia: Konsepdan Aspek
Kepatuhan Wajib Pajak Bumi Dan Formal. Yogyakarta: Graha Ilmu
Bangunan Kota Kediri Dengan Rahmayanty & Nina. 2013. Manajemen
Kesadaran Sebagai Variabel Pelayanan Prima.Yoyakarta: Graha
Intervening. Jurnal Akuntansi dan Ilmu
Ekonomi FE.UN PGRI Kediri, Vol. 1 Resmi & Siti. 2011. Perpajakan teori dan
No. 1 kasus edisi 6 buku 1. Jakarta:
Putri & Lukmana, R. 2015. Pengaruh Salemba Empat
Motivasi Membayar Pajak dan Robbins, Srephen, D. 1992. Essential of
Tingkat Pendidikan Terhadap WPOP Organizational Behavior.
Pada Kantor Wilayah Direktorat Terjemahan Sartika dan Halida.
Jenderal Pajak Daerah Istimewa Jakarta: Erlangga
Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Ronia, Kessi. (2011). “Faktor-Faktor yang
Universitas Negeri Yoogyakarta Mempengaruhi Kepatuhan Wajib
Resmi & Siti. 2011. Perpajakan teori dan Pajak dalam Membayar Pajak Bumi
kasus edisi 6 buku 1. Jakarta: dan Bangunan (Studi Kasus pada
Salemba Empat Kecamatan Pekalongan Utara
Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 22 dari 69
Vol. 5 No. 2 , Desember 2017 Ekuitas – Jurnal Pendidikan Ekonomi

Kabupaten Pekalongan)”. Jurnal


Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis. Semarang:
Universitas Dian Nuswantoro
Tarmuji., Tarsis & Suryarini. 2006.
Pengetahuan Perpajakan.
Semarang: UNNES PRESS
Tjahjono, Ahmad & Wahyudi, T. 2005.
Perpajakan Indonesia Pendekatan
Soal Jawab dan Kasus (Edisi
Pertama). Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada
Trihendradi. 2009. Step By Step SPSS 16
Analiis Data Statistika. Yogyakarta:
CV. Andi Offset
Ilyas, Waluyo & Wirawan. 2002.
Perpajakan Indonesia. Edisi
Pertama. Jakarta: Salemba Empat
Yusnidar, Sumarti, & Prasetya. 2015.
Pengaruh Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kepatuhan Wajib
Pajak Dalam Melakukan
Pembayaran Perpajakan Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan (Studi Pada Wajib Pajak
PBB-P2 Kecamatan Jombang).
jurnal JEJAK. Vol. 1, No. 1

Khasan Setiaji, Adibatun Nisak | 23 dari 69

View publication stats