Anda di halaman 1dari 5

Nama : Siti Nur Fadilah

Kelas : XI Akuntansi - 2

NPWP ISTRI

Pada dasarnya, satu keluarga cukup memiliki satu Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP). Dalam artian, seorang istri ikut NPWP suami.

Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) bahwa sistem
pengenaan pajak Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis.

Penjelasan Pasal 8 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 menyatakan bahwa penghasilan


atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabung sebagai satu kesatuan yang
dikenai pajak, dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga
(suami).

Dalam artian ini, penghasilan dan kerugian istri akan dianggap sebagai penghasilan
dan kerugian suami, sehingga dikenai pajak bersama.

Namun, jika penghasilan istri hanya didapat satu pemberi kerja dan tidak ada
hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami, maka tidak akan digabung.
Dengan catatan, penghasilan tersebut telah dipotong pajak oleh pemberi kerja.
Berikut kami berikan contoh kasus NPWP suami-istri tidak gabung.

Sepasang suami istri yang baru menikah dan belum memiliki keturunan, keduanya
masing-masing memiliki NPWP.

Ryan, sang suami bekerja di PT Makmur Sejahtera dengan penghasilan neto setahun
Rp 75.000.000, sedangkan istrinya bekerja di PT Abadi Jaya dengan penghasilan neto
setahun Rp 60.000.000.

Atas penghasilan mereka sudah dipotong oleh perusahaan mereka masing-masing


dengan perhitungan sebagai berikut:

Suami
Penghasilan Neto 75.000.000

PTKP (K/0) 26.325.000

Penghasilan Kena Pajak 48.675.000

PPh Terutang Setahun 5% x 48.675.000 2.433.750

Istri
Penghasilan Neto 60.000.000

PTKP (TK/0) 24.300.000

Penghasilan Kena Pajak 35.700.000

PPh Terutang Setahun 5% x 35.700.000 1.785.000

Karena NPWP istri berbeda dengan NPWP suami, maka penghitungan PPh
terutangnya digabung.
Penghasilan Suami-Istri Digabung

Penghasilan Neto Suami 75.000.000

Penghasilan Neto Istri 60.000.000

Total Penghasilan Neto 135.000.000

PTKP (K/I/0) 50.625.000

Total Penghasilan Kena Pajak 84.375.000

PPh Terutang Setahun 5% x 50.000.000 2.500.000

15% x 34.375.000 5.156.250

Total PPh Terutang Setahun 7.656.250

Perhitungan untuk SPT Tahunan PPh Suami


PPh Terutang (75.000.000/135.000.000) x 7.656.250 4.253.472

Kredit pajak PPh 21 2.433.750

PPh Kurang Bayar 1.819.722

Angsuran PPh Pasal 25 tahun pajak berikutnya 151.644


Perhitungan untuk SPT Tahunan PPh Istri
PPh Terutang (60.000.000/135.000.000) x 7.656.250 3.402.778

Kredit Pajak PPh 21 1.785.000

PPh Kurang Bayar 1.617.778

Angsuran PPh Pasal 25 tahun pajak berikutnya 134.815

Munculnya PPh Kurang Bayar diperhitungan SPT Tahunan ini adalah konsekuensi
karena istri memilih punya NPWP sendiri.

Dikarenakan istri memilih punya NPWP sendiri padahal tidak ada perjanjian pisah
harta, maka total tambahan pajak yang harus dibayar adalah Rp 3.437.500.

Belum lagi, nantinya tiap bulan harus sisihkan sebagian penghasilan untuk bayar
angsuran PPh Pasal 25 dengan total sebesar Rp 286.459.

Lantas, apa keuntungan istri punya NPWP sendiri? Bisa dibilang, tidak ada
keuntungan sama sekali.

Namun, kalau Anda sebagai istri tetap memilih tidak mau ikut NPWP suami padahal
tidak ada perjanjian pisah harta karena ada pertimbangan atau kepentingan tertentu
(misalnya mengajukan kredit tanpa agunan (KTA) ke bank), tentu Anda sudah harus
siap dengan segala konsekuensinya.

Bila NPWP Istri Gabung dengan Suami


Bila memilih NPWP istri digabung dengan suami, jelas lebih menguntungkan. Karena
jika suami-istri sama-sama hanya menerima penghasilan dari satu pemberi kerja
(NPWP ikut suami), maka tidak akan ada kewajiban bayar pajak di akhir tahun.

Jadi, penghasilan istri cukup dilaporkan di bagian lampiran SPT 1770 S, tanpa harus
menggabungkan penghasilan neto suaminya. Dengan kata lain, SPT Tahunan PPh
suami akan nihil, dan juga tidak perlu bayar angsuran PPh Pasal 25 tiap bulan.
Cara Laporan SPT Gabungan Suami-Istri
Bila berniat menggabungkan NPWP, maka Anda harus menyampaikan laporan Surat
Pemberitahuan (SPT) Pajak Tahunan secara gabungan. Syaratnya tidaklah rumit, istri
hanya perlu menghapus NPWP dan ikut dalam NPWP suami dengan mengurus ke
kantor pajak.

Saat pengisian SPT, yang dimasukkan ke formulir adalah tetap penghasilan suami.
Bila menggunakan e-filing, maka Wajib Pajak akan dipandu dalam pengisiannya.
Misalnya penghasilan yang digabung serta cara perhitungannya. Namun, yang
dilaporkan di induk tetaplah penghasilan suami.

Sementara, data penghasilan istri tetap dilaporkan dalam lampiran khusus. Dalam
lampiran tersebut disebutkan bahwa penghasilan sudah dipotong pemberi kerja,
sehingga sifatnya final dan tidak perlu digabungkan dengan penghasilan suami.

Maka dari itu, bukti potong pajak yang diberikan perusahaan tetap dipegang dan
nantinya diserahkan kepada suami.

Kemudian untuk harta dan utang, akan dihitung secara gabungan suami dan istri
seperti rumah, kendaraan, hingga cicilan barang elektronik. Hal ini wajib dicantumkan
ke dalam SPT. Harta boleh digabungkan jadi satu. Namun kalau terpisah, akan ikut
pemilik atas nama yang telah ditentukan.

Dengan adanya perhitungan pajak di atas, semoga bisa menjadi pertimbangan Wajib
Pajak sebelum memutuskan apakah sebaiknya istri ber-NPWP sendiri atau tidak.