Anda di halaman 1dari 22

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas

laboratorium, lumpang porselen, stamfer, cawan porselen, objek gelas, sudip, batang

pengaduk, spatula, pot plastik, pipet tetes, penangas air, neraca analitis (Dickson),

pH meter (Hanna Instrumen), freezee dryer, juicer (Miyako), moisture checker

(Aramo Huvis), skin analyzer (Aramo-SG).

3.1.2 Bahan-bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi propilen glikol,

natrium edetat, TEA, vaselin, setil alkohol, asam stearat, gliseril monostearat, butil

hidroksi toluen, nipagin, parfum, metilen blue, aquadest, sari tomat, larutan dapar

pH asam (4,01) dan larutan dapar pH netral (7,01).

3.2 Pengumpulan dan pengolahan sampel

3.2.1 Pengumpulan bahan

Pengambilan buah tomat (Solanum lycopersicum L.) dilakukan secara

purposif yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain. Sampel yang digunakan

adalah tomat yang dibeli di Pajak Sore, Padang Bulan, Medan.

3.2.2 Identifikasi tumbuhan

Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen

Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, USU. Hasil identifikasi

sampel dapat dilihat pada Lampiran 2, Halaman 42.

16
Universitas Sumatera Utara
3.3 Sukarelawan

Pemilihan sukarelawan dilakukan di Fakultas Farmasi USU berdasarkan

kriteria antara lain wanita berusia sekitar 20-30 tahun, tidak memiliki riwayat

alergi pada kulit dan telah dikondisikan tidak menggunakan krim lain selama 4

minggu untuk terapi anti-aging. Sukarelawan bersedia mengikuti penelitian sampai

selesai dan bersedia dilakukan uji iritasi dan uji efektivitas sediaan krim sebagai

anti-aging selama penelitian berlangsung. Sukarelawan bersedia menandatangani

surat pernyataan yang menyatakan ”setuju untuk ikut serta dalam penelitian”.

Contoh surat pernyataan dapat dilihat pada Lampiran 9, Halaman 72. Adapun

parameter pengujiannya adalah kadar air (moisture), kehalusan (evenness), besar

pori (pore) dan banyak noda (spot).

3.4 Prosedur Kerja

3.4.1 Pembuatan Sari Buah Tomat

Tomat segar berwarna merah seberat 3 kg dibersihkan dengan cara

mencucinya dengan air bersih, ditiriskan kemudian tomat dipotong-potong menjadi

bagian yang lebih kecil dan dihaluskan dengan juicer hingga diperoleh sari sebanyak

2 L. Sari tomat lalu dikeringkan dengan freezee dryer selama 48 jam pada suhu -40o

dengan tekanan 2 atm. Gambar tomat, tomat setelah di potong-potong dapat dilihat

pada Lampiran 3, Halaman 43. Gambar juicer dapat dilihat pada lampiran 3,

halaman 45.

3.4.2 Formula dasar krim

Sediaan dasar krim dibuat berdasarkan formula dasar sunblock yang

menggunakan tipe minyak dalam air (Mitsui, 1997).

17
Universitas Sumatera Utara
R/ Propilen glikol 7,0
Natrium edetat 0,05
Trietanol amin 1,0
Petrolatum 5,0
Setil alkohol 3,0
Asam stearat 3,0
Gliseril monostearat 3,0
Titanium dioksida 5,0
Oxibenzon 2,0
Oktilmetoksianamat 5,0
Etil poliakrilat 1,0
Squalen 10
Antioksidan q.s
Pengawaet q.s
Parfum q.s
Aquadest 54,95%

3.4.3 Formula Modifikasi

Formula krim yang digunakan dimodifikasi dengan mengeluarkan bahan-

bahan yang berfungsi sebagai sunblock dan emolien yaitu titanium dioksida,

oxibenzon, oktilmetoksinamat, etil poliakrilat, dan squalen. Formulasi dasar krim

sebagai berikut:

R/ Propilen glikol 7,0


Natrium edetat 0,05
Trietanol amin (TEA) 1,0
Petrolatum (Vaselin) 5,0
Setil alkohol 3,0
Asam stearat 3,0
Gliseril monostearat 3,0
Butil hidroksi Toluen (BHT) 0,1
Nipagin 0,2
Parfum 3 tetes
Aquadest ad 100

Konsentrasi sari tomat yang digunakan dalam pembuatan sediaan krim anti –

aging dengan variasi konsentrasi 5%, 7,5%, 10% dan 12%. Formulasi blanko

dilakukan tanpa sari tomat. Rancangan formula dapat dilihat pada Tabel 3.1 di

bawah ini. Adapun formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

18
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3.1 Komposisi bahan dalam krim

Formula
Komposisi FA FB FC FD FE
Sari tomat (g) - 5 7,5 10 12
Basis Krim (G) ad 100 100 100 100 100
Oleum jasmine (tetes) 3 3 3 3 3

Keterangan : F: Formula, FA : blanko (tanpa sari tomat), FB : sari tomat 5%,


FC : sari tomat 7,5%, FD : sari tomat 10%, FE : sari tomat 12%,

3.4.4 Pembuatan sediaan krim

Ditimbang semua bahan yang diperlukan. Bahan yang terdapat dalam

formula dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu fase minyak dan fase air. Fase

minyak terdiri dari vaselin, asam stearat, gliseril monostearat, dan setil alkohol

dilebur di atas penangas air dengan suhu 700 -750C setelah melebur ditambahkan

butil hidroksi toluen (massa 1). Fase air yang terdiri dari nipagin, propilen glikol,

TEA, natrium edetat dilarutkan di dalam air panas yang telah ditakar pada suhu 700C

(massa II). Dimasukkan massa 1 ke dalam lumpang panas yang telah dikeringkan

dengan tissue kemudian ditambahkan secara perlahan-lahan massa II digerus

konstan sampai terbentuk massa krim. Setelah terbentuk massa krim, ditambahkan

sari tomat sedikit demi sedikit, digerus sampai terbentuk krim yang homogen.

Ditambahkan 3 tetes parfum, dihomogenkan sampai terbentuk massa krim.

Pembuatan dilakukan dengan cara yang sama untuk semua formula dengan

konsentrasi sari tomat yang berbeda.

3.5 Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim

3.5.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim

Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan menggunakan objek gelas.

Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan

19
Universitas Sumatera Utara
lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak

terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM., 1979).

3.5.2 Penentuan tipe emulsi sediaan krim

Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan sejumlah tertentu sediaan

diletakkan di atas objek gelas, ditambahkan 1 tetes metil biru, diaduk dengan batang

pengaduk. Bila metil biru tersebar merata berarti sediaan tersebut tipe emulsi m/a,

tetapi bila hanya bintik-bintik biru berarti sediaan tersebut tipe emulsi a/m (Ditjen

POM., 1985).

3.5.3 Penentuan pH Sediaan

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Alat

terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar netral (pH

7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH

tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan aquades, lalu dikeringkan dengan

tissue. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 gram sediaan dan

dilarutkan dengan air suling hingga 100 ml aquades. Kemudiaan elektroda

dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan nilai pH sampai

konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).

3.5.4 Pengamatan stabilitas sediaan krim

Masing-masing formula sediaan dimasukkan ke dalam pot plastik, selanjutnya

dilakukan pengamatan berupa pecah atau tidaknya emulsi, perubahan warna dan

perubahan bau pada saat sediaan telah selesai dibuat serta dalam penyimpanan

selama 0, 7, 14, dan 90 hari .

3.6 Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan

Uji iritasi dilakukan terhadap 18 orang sukarelawan untuk mengetahui apakah

sediaan yang dibuat dapat menyebabkan eritema dan edema. Reaksi iritasi yang

20
Universitas Sumatera Utara
diamati yaitu eritema dan edema dengan sistim skor. Eritema: tidak eritema 0,

sangat sedikit eritema 1, sedikit eritema 2, eritema sedang 3, eritema sangat parah 4.

Edema: tidak edema 0, sangat sedikit edema 1, sedikit edema 2, edema sedang 3,

edema sangat parah 4 (Barel, dkk., 2009).

3.7 Pengujian Efektivitas Anti-Aging Terhadap Sukarelawan

Pengujian aktivitas anti-aging dilakukan terhadap 18 orang sukarelawan

wanita yang dibagi menjadi 6 kelompok dengan mengoleskan masing-masing krim

dua kali sehari yaitu pada pagi dan malam selama 4 minggu pada kulit punggung

tangan dan dilakukan pengukuran parameter meliputi kadar air, kehalusan kulit,

besar pori, dan banyaknya noda menggunakan skin analyzer (Aramo-SG) pada

kondisi awal dan setiap minggu selama perawatan 4 minggu.

21
Universitas Sumatera Utara
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pembuatan Sari Tomat

Filtrat yang diperoleh sebanyak 2 L, kemudian dikeringkan dengan freeze

dryer dan diperoleh sari tomat yang berupa serbuk kering seberat 30 gram. Gambar

sari tomat kering dapat dilihat pada Lampiran 3, Halaman 44.

4.2 Hasil Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim

4.2.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan

Berdasarkan hasil pengamatan homogenitas krim yang dilakukan, pada

sediaan krim tidak terdapat butiran kasar pada gelas objek, maka semua sediaan

krim dikatakan homogen. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada sediaan

pembanding yakni olay dan blanko, hasil yang diperoleh menunjukkan tidak adanya

butiran kasar pada gelas objek. Gambar uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran

6 Halaman 48.

4.2.2 Hasil penentuan tipe emulsi sediaan krim

Dari hasil uji tipe emulsi semua sediaan krim menunjukkan bahwa warna biru

metil dapat homogen atau tersebar merata di dalam krim sehingga dapat dibuktikan

bahwa sediaan krim yang dibuat mempunyai tipe emulsi minyak dalam air (m/a)

(Ditjen POM., 1985). Tipe emulsi ini memiliki keuntungan yaitu lebih mudah

menyebar di permukaan kulit, tidak lengket dan mudah dihilangkan dengan adanya

pencucian. Hasil penentuan tipe emulsi m/a pada sedíaan krim menggunakan biru

metil dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Gambar pada Lampiran 6 Halaman 48.

22
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.1 Data penentuan tipe emulsi sediaan krim menggunakan biru metil

No Formula Kelarutan Biru Metil pada Sediaan


Ya Tidak
1 FA √ -
2 FB √ -
3 FC √ -
4 FD √ -
5 FE √ -
6 FF √ -

Keterangan : F: Formula, FA: blanko (tanpa sari tomat), FB: sari tomat 5%, FC: sari
tomat 7,5%, FD: sari tomat 10%, FE: sari tomat 12%, FF: Olay®
√ : larut dalam biru metil, -: tidak larut dalam biru metil

4.2.3 Hasil pengukuran pH sediaan

Hasil pengukuran pH sediaan krim sari tomat dilakukan dengan menggunakan

pH meter.

Tabel 4.2 Data pengukuran pH sediaan krim

Nilai pH Rata-rata Pada Hari Ke


Formula
0 7 14 21 28 90
FA 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0
FB 5,9 5,9 5,9 5,9 5,9 5,8
FC 5,8 5,8 5,8 5,7 5,7 5,6
FD 5,8 5,8 5,6 5,6 5,5 5,5
FE 5,7 5,7 5,6 5,5 5,5 5,4
FF 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4

Keterangan: FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari
tomat 7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan
FF: Olay®

Tabel 4.2 di atas, memperlihatkan bahwa semakin banyak konsentrasi sari

tomat yang ditambahkan ke dalam sediaan krim maka pH semakin menurun atau

semakin asam. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya kandungan asam yang

terdapat di dalam sari tomat. Penurunan pH ini masih dalam pH fisiologis kulit yaitu

4,5 – 6,5 dan masih aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007).

4.2.4 Pemeriksaan stabilitas sediaan krim

Hasil organoleptis sediaan krim sari tomat yang dibuat dengan berbagai variasi

23
Universitas Sumatera Utara
konsentrasi dan blanko memiliki perbedaan kecerahan warna dari masing-masing

sediaan, data organoleptis dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan data hasil pengamatan

stabilitas selama 90 hari dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.

Tabel 4.3 Data organoleptis sediaan krim yang dibuat

Penampilan
Formula
Warna Bau Konsistensi
FA Putih Jasmine semi padat
FB Putih kekuningan Jasmine semi padat
FC Putih kekuningan Jasmine semi padat
FD Jingga Jasmine semi padat
FE Jingga Jasmine semi padat

Keterangan: FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, dan FE: krim sari tomat 12%

Tabel 4.4 Data hasil pengamatan terhadap kestabilan sediaan krim pada saat
sediaan selesai dibuat, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari

No Formula Pengamatan setelah


Selesai 7 hari 14 hari 21 hari
90 28 hari
dibuat hari
X Y Z X Y Z X Y Z X Y Z X Y Z X Y Z
1 FA - - - - - - - - - - - - - - - - - -
2 FB - - - - - - - - - - - - - - - - - -
3 FC - - - - - - - - - - - - - - - - - -
4 FD - - - - - - - - - - - - - - - - - -
5 FE - - - - - - - - - - - - - - - - - -
6 FF - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Keterangan: FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan FF:
olay, X: perubahan warna, Y: perubahan bau, Z: pecahnya emulsi, dan
- : tidak terjadi

Menurut Ansel (2005), rusak atau tidaknya suatu sediaan yang mengandung

bahan yang mudah teroksidasi dapat diamati dengan adanya perubahan warna dan

perubahan bau.

Menurut Rawlins (2003), sumber tidak stabilnya suatu emulsi adalah

mikroorganisme. Emulsi m/a yang dibuat dengan bahan-bahan alami seperti gom,

karbohidrat, dan protein mudah sekali ditumbuhi fungi dan bakteri pembusuk.

24
Universitas Sumatera Utara
Tingginya kandungan air juga menyebabkan mikroba cepat berkembang, sehingga

kebutuhan konsentrasi pengawet pada fase air harus cukup untuk menghambat

pertumbuhan mikroba, dan sebagian pengawet juga dimasukkan dalam fase minyak.

Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa masing-masing

formula yang telah diamati selama 90 hari memberikan hasil yang baik yaitu tidak

terjadi perubahan warna, bau dan pecahnya emulsi selama 90 hari penyimpanan,

dengan demikian krim sari tomat memenuhi persyaratan kestabilan. Gambar sediaan

krim yang telah dibuat disimpan selama 90 hari di dalam suhu kamar dapat dilihat

pada Lampiran 5 Halaman 47.

4.3 Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan

Hasil pengamatan uji iritasi terhadap kulit sukarelawan dapat dilihat pada

Tabel 4.5 di bawah ini.

Tabel 4.5 Hasil uji iritasi terhadap sukarelawan

No Reaksi iritasi Sukarelawan


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Eritema 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Edema 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Keterangan: sistim skor Federal hazardous Substance Act (Barel, dkk., 2009).

Eritema Edema
tidak eritema 0 tidak edema 0
sangat sedikit eritema 1 sangat sedikit edema 1
sedikit eritema 2 sedikit edema 2
eritema sedang 3 edema sedang 3
eritema sangat parah 4 edema sangat parah 4

Hasil uji iritasi di atas menunjukkan bahwa semua sukarelawan memberikan

hasil negatif terhadap reaksi iritasi yang diamati yaitu eritema dan edema. Dari hasil

uji iritasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan krim yang dibuat aman untuk

digunakan.

25
Universitas Sumatera Utara
4.4 Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan

Pengujian efektivitas anti-aging menggunakan skin analyzer Aramo,

parameter uji meliputi pengukuran kadar air (moisture), kehalusan kulit (evenness),

besar pori (pore), dan banyaknya noda (spot). Pengukuran efektivitas anti-aging

dimulai dengan mengukur kondisi awal kulit sukarelawan bertujuan untuk melihat

seberapa besar pengaruh krim sari tomat dalam memulihkan kulit yang mengalami

penuaan dini. Data yang diperoleh pada setiap parameter anti-aging dianalisa secara

statistik dengan metode ANAVA lalu dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD

untuk melihat perbedaan nyata dari setiap perlakuan pada sukarelawan. Pengujian

Post Hoc Tukey HSD dilakukan untuk melihat kelompok formula mana yang

memiliki efek sama atau berbeda dan efek yang terkecil sampai terbesar antara satu

dengan yang lainnya. Pengujian ini dilakukan terhadap semua perlakuan dari

minggu ke-1 sampai minggu ke-4. Contoh hasil uji efektivitas anti-aging pada

sukarelawan dapat dilihat pada Lampiran 7 Halaman 49.

4.4.1 Kadar air (Moisture)

Dari hasil pengukuran dapat dilihat bahwa, kondisi awal kadar air pada kulit

semua kelompok sukarelawan terjadi dehidrasi dan setelah pemakaian krim selama

empat minggu kondisi kulit semua kelompok sukarelawan menjadi normal. Buah

tomat yang mengandung vitamin A dan karoten memiliki keunggulan dalam produk

kosmetik, antara lain dapat mudah diserap oleh kulit dan mampu meningkatkan

kandungan air pada kulit (Tranggono dan Latifah, 2007). Oleh karena itu, semakin

banyak kandungan sari tomat yang terdapat di dalam sediaan krim maka semakin

cepat menimbulkan efek dalam meningkatkan kadar air pada kulit.

Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.6 pada Halaman 27 dan Gambar 4.1

pada Halaman 28 berikut ini.

26
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.6 Data hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit sukarelawan

Persentase kadar air (%)


Krim Sukarelawan Sebelum Pemulihan (minggu)
I II III IV
1 27 27 27 28 29
FA 2 28 28 28 29 29
3 29 29 29 30 30
28,00 ± 28,00± 28,00 ± 29,00 ± 29,33 ±
1,00 1,00 1,00 1,00 0,58
1 28 28 29 30 30
FB 2 27 28 29 30 30
3 28 29 30 30 30
27,66 ± 28,33± 29,33 ± 30,00 ± 30,00 ±
0,58 0,58 0,58 0,00 0,00
1 29 29 31 32 32
FC 2 28 29 30 31 33
3 27 30 33 34 35
28,00 ± 29,33 ± 31,33 ± 32,33± 33,33 ±
1,00 0,58 1,53 1,53 1,53
1 28 31 32 33 34
FD 2 29 30 32 33 34
3 26 28 30 32 33
27,66 ± 29,66 ± 31,33 ± 32,66 ± 33,66 ±
1,53 1,53 1,20 0,58 0,58
1 29 29 31 33 34
FE
2 29 32 33 34 37
3 28 29 32 33 35
28,66 ± 30,00 ± 32,00 ± 33,33 ± 35,33 ±
0,58 1,73 1,00 0,58 1,53
1 29 30 33 33 36
FF
2 27 29 32 35 37
3 28 32 32 34 37
28,00 ± 30,33 ± 32,33 ± 34,00 ± 36,66 ±
1,00 1,53 0,58 1,00 0,58

Keterangan : FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan FF:
Olay®
Nilai pengukuran: 0-29 (dehidrasi), 30-50 (normal), 51-100 (hidrasi) (Aramo,
2012).

27
Universitas Sumatera Utara
Kadar air ( Moisture )
40

35

30

25

20

15

10

0
0 1 2 3 4
Waktu (minggu)
blanko kst 5% kst 7,5% kst 10% kst 12% krim dipasaran

Gambar 4.1 Grafik hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit sukarelawan
kelompok blanko, krim sari tomat 5; 7,5; 10; 12% dan Olay® (krim
di pasaran) selama 4 minggu.

Hasil yang telah diperoleh pada Tabel 4.6 dan Gambar 4.1, menunjukkan

bahwa kondisi awal kulit semua kelompok sukarelawan adalah dehidrasi (0 - 29).

Hasil analisa statistik dari data yang diperoleh pada Tabel 4.6 sebelum perawatan

tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p ≥ 0,05) antara kelompok sediaan krim

sari tomat dan krim di pasaran dengan blanko. Perawatan minggu ke-1 tidak terdapat

perbedaan yang signifikan (p ≥ 0,05) antara kelompok sediaan krim sari tomat, krim

di pasaran dengan blanko. Minggu ke-2 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤

0,05) antara kelompok sediaan krim sari tomat, krim di pasaran dengan blanko.

Minggu ke-3 dan ke-4 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) terlihat pada

semua sediaan krim sari tomat yang dibuat dan krim di pasaran dengan blanko.

Sediaan krim yang menghasilkan efek terbesar dalam meningkatkan kadar air pada

28
Universitas Sumatera Utara
kulit terlihat pada krim di pasaran dan krim sari tomat 12% (28,66 menjadi 35,33),

sedangkan krim yang menghasilkan efek terkecil dan masih dalam rentang dehidrasi

terlihat pada krim blanko (28,00 menjadi 29,33). Hal ini menunjukkan bahwa krim

sari tomat 12% yang paling baik dalam meningkatkan kadar air kulit. Hasil analisa

secara statistik dapat dilihat pada Lampiran 8 Halaman 56.

4.4.2 Kehalusan (Evenness)

Kehalusan kulit bagian punggung tangan sukarelawan diukur menggunakan

perangkat skin analyzer lensa perbesaran 60x (normal lens) dengan sensor biru.

Hasil pengukuran kehalusan kulit dapat dilihat pada Tabel 4.7 Halaman 30 dan

Gambar 4.2 Halaman 31 memperlihatkan bahwa kondisi awal kulit semua kelompok

sukarelawan adalah normal (32 - 51) dan setelah perawatan selama 4 minggu

menjadi lebih halus. Kulit kasar merupakan tanda umum yang dialami saat kulit

mengalami penuaan dini, ketika kulit terlalu sering terpapar oleh sinar matahari

kolagen dan elastin yang berada di dalam lapisan kulit akan rusak sehingga sel-sel

mati yang bertumpuk pada stratum korneum menyebabkan permukaan kulit menjadi

kurang halus, akibatnya kulit tampak lebih kasar (Bodagenta, 2012).

Hasil analisa statistik pada uji anova menunjukkan bahwa sebelum dan setelah

perawatan di minggu ke-1 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p ≥ 0,05) antara

kelompok sediaan krim sari tomat, krim di pasaran dengan blanko. Pada perawatan

minggu ke-2, ke-3, dan ke-4 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) terlihat

pada kelompok sediaan krim sari tomat, krim di pasaran dengan krim blanko. Hasil

statistik dapat dilihat pada Lampiran 8 Halaman 60.

29
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.7 Hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit sukarelawan

Kehalusan kulit
Pemulihan (minggu)
Krim Sukarelawan
Sebelum
I II III IV
1 37 37 37 37 36
FA 2 36 35 36 35 35
3 35 35 35 35 34
36,00 ± 35,66 ± 36,00 ± 35,66 ± 35,00 ±
1,00 1,15 1,00 1,15 1,00
1 35 34 34 33 33
FB 2 37 37 35 35 33
3 37 37 35 36 32
36,33 ± 36,00 ± 34,66 ± 34,66 ± 32,66 ±
1,15 1,73 0,58 1,53 0,58
1 35 35 34 33 30
FC 2 37 36 36 34 32
3 35 35 34 33 31
35,66 ± 35,33 ± 34,66 ± 33,00 ± 31,00 ±
1,15 0,58 1,15 0,58 1,00
1 36 35 33 31 30
FD 2 36 35 33 32 30
3 35 34 33 30 30
35,66 ± 34,66 ± 33,00 ± 31,00 ± 30,00±
0,58 0,58 0,00 1,00 0,00
1 35 34 31 29 28
FE 2 35 35 33 30 29
3 34 34 33 31 30
34,66 ± 34,33 ± 32,33 ± 30,00 ± 29,00 ±
0,58 0,58 1,15 1,00 1,00
1 35 34 32 30 28
FF 2 36 35 33 33 29
3 36 33 31 30 27
35,66 ± 34,00 ± 32,00 ± 31,00 ± 28,00 ±
0,58 1,00 1,00 1,73 1,00

Keterangan : FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan FF:
krim di pasaran
Nilai pengukuran: 0–31 (halus), 32–51 (normal), 52-100 (kasar) (Aramo, 2012).

30
Universitas Sumatera Utara
Kehalusan (Evenness)

40

35

30

25

20

15

10

0
0 1 2 3 4
Waktu (Minggu)
blanko kst 5% kst 7,5% kst 10% kst 12% olay

Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit sukarelawan
kelompok blanko, krim sari tomat 5; 7,5; 10; 12% dan krim di
pasaran selama 4 minggu.

Hasil yang telah diperoleh pada Tabel 4.7 dan Gambar 4.2, menunjukkan

bahwa kondisi awal kulit semua kelompok sukarelawan sebelum perawatan adalah

normal (32 - 51) dan setelah perawatan selama 4 minggu menjadi lebih halus.

Sediaan krim yang menghasilkan efek terbesar dalam meningkatkan kehalusan kulit

terlihat pada krim di pasaran (35,66 menjadi 28,00) dan krim sari tomat 12% (34,66

menjadi 29,00). Hal ini disebabkan oleh tomat yang mengandung protein dan

merupakan sumber asam amino bagi tubuh mampu untuk membangun dan

mengganti sel-sel yang rusak. Oleh karena itu semakin banyak kandungan sari tomat

di dalam sediaan krim maka semakin besar peranannya dalam melembabkan kulit

yang dapat mencegah kulit kering dan kasar (Sulastomo, 2013).

31
Universitas Sumatera Utara
4.4.3 Pori (Pore)

Tabel 4.8 Hasil pengukuran besar pori (pore) pada kulit sukarelawan

Ukuran pori
Krim Sukarelawan Sebelum Pemulihan (minggu)
I II III IV
1 34 33 32 31 31
FA 2 35 35 35 34 34
3 37 37 37 36 35
35,33± 35,00 ± 34,66 ± 33,66 ± 33,33 ±
1,53 2,00 2,52 2,52 2,08
1 36 36 34 34 33
FB 2 36 35 34 33 33
3 35 35 35 29 29
35,66 ± 35,33 ± 34,33 ± 32,00 ± 31,66 ±
0,58 0,58 0,58 2,65 2,31
1 32 30 30 29 27
FC 2 32 31 29 25 26
3 34 33 30 27 25
32,66± 31,33 ± 29,66 ± 27,00 ± 26,00 ±
1,55 1,53 0,58 2,00 1,00
1 34 33 29 24 19
FD 2 31 30 29 28 27
3 32 30 29 28 26
32,33 ± 31,00 ± 29,00 ± 26,66 ± 24,00 ±
1,53 1,73 1,53 2,31 4,36
1 35 35 33 27 24
FE 2 34 33 28 26 25
3 28 28 25 22 18
32,33 ± 32,00 ± 28,66 ± 25,00 ± 22,33 ±
3,00 2,65 1,73 3,06 4,36
1 35 33 27 21 18
FF 2 30 26 22 17 15
3 29 26 20 17 14
31,33 ± 28,33 ± 23,00 ± 18,33 ± 15,66 ±
3,21 4,04 3,61 2,31 2,08

Keterangan : FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan FF:
olay®
Nilai pengukuran: 0 - 19 (kecil), 20 - 39 (besar), 40 -100 (sangat besar) (Aramo,
2012).

32
Universitas Sumatera Utara
Besar pori pada kulit sukarelawan yang diukur menggunakan perangkat skin

analyzer yang sama dengan pengukuran kehalusan yakni lensa perbesaran 60x

(normal lens) sensor biru, pada waktu melakukan analisa kehalusan kulit, secara

otomatis analisa besar pori ikut terbaca (Aramo, 2012).

Pori (Pore)

40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 1 2 3 4

Waktu (minggu)

blanko kst 5% kst 7,5% kst 10% kst 12% olay

Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran pori (pore) pada sukarelawan kelompok
blanko, krim dipasaran dan krim sari tomat 5; 7,5; 10; dan 12%
selama 4 minggu.

Berdasarkan Tabel 4.8 dan Gambar 4.3 di atas dapat dilihat bahwa kelompok

krim anti-aging dari sari tomat konsentrasi 10%; 12% dan krim anti-aging di

pasaran menunjukkan penurunan ukuran pori yang lebih besar selama perawatan

dibandingkan dengan kelompok krim anti-aging sari tomat dengan konsentrasi 5%;

7,5% dan krim blanko karena mampu mengecilkan ukuran pori setelah perawatan

walaupun belum termasuk ke dalam rentang pori-pori kecil.

Pori-pori dapat membesar apabila terkena sinar matahari, penumpukkan sel

kulit mati (kotoran) sehingga dapat memicu timbulnya jerawat, adanya karoten

33
Universitas Sumatera Utara
sebagai pro-vitamin A dapat melepaskan sel kulit mati dan merangsang

pembentukan sel baru serta dapat menangkap radikal bebas yang merusak kulit,

sehingga dapat mengecilkan pori-pori kulit (Muliyawan dan Suriana, 2013).

4.4.4  Noda (Spot)

Tabel 4.9 Hasil pengukuran noda (spot) pada kulit sukarelawan

Total noda
Krim Sukarelawan Sebelum Pemulihan (minggu)
I II III IV
1 33 33 33 33 33
A 2 32 32 32 32 32
3 31 31 31 31 30
32,00 ± 32,00± 32,00± 32,00 ± 31,66 ±
1,00 1,00 1,00 1,00 1,53
1 33 33 33 31 32
B 2 30 30 30 29 29
3 32 32 31 31 30
31,66 ± 31,66 ± 31,33 ± 30,33 ± 30,33 ±
1,53 1,53 1,53 1,15 1,53
1 32 32 31 30 30
C 2 31 31 30 29 28
3 30 29 26 25 24
31,00 ± 30,66 ± 29,00 ± 28,00 ± 27,33 ±
1,00 1,53 2,65 2,65 3,06
1 34 33 30 28 25
D 2 30 29 28 24 25
3 29 28 28 25 18
31,00 ± 30,00 ± 28,66 ± 25,66 ± 22,66 ±
2,65 2,65 1,15 2,08 3,61
1 33 27 26 25 25
E 2 31 30 28 26 20
3 31 28 25 22 21
31,66 ± 28,33 ± 26,33 ± 24,33 ± 22,00 ±
1,53 1,00 1,73 3,06 4,36
1 29 27 27 23 19
F 2 31 30 28 21 19
3 29 28 25 23 20
29,66 ± 28,33 ± 26,66 ± 22,33 ± 19,33 ±
1,15 1,15 1,15 1,15 2,00

Keterangan: FA: dasar krim (blanko), FB: krim sari tomat 5%, FC: krim sari tomat
7,5%, FD: krim sari tomat 10%, FE: krim sari tomat 12%, dan FF: krim
di pasaran
Nilai pengukuran: 0 - 19 (sedikit noda), 20 - 39 (beberapa noda), 40 -100
(banyak noda) (Aramo, 2012).

34
Universitas Sumatera Utara
Noda (Spot)

35

30

25

20

15

10

0
0 1 2 3 4

Waktu (minggu)
blanko kst 5% kst 7,5% kst 10% kst 12% olay

Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran banyak noda (spot) pada sukarelawan
kelompok blanko, krim di pasaran dan krim sari tomat 5; 7,5; 10; dan
12% selama 4 minggu.

Noda pada kulit sukarelawan diukur menggunakan perangkat skin analyzer

lensa perbesaran 60x (polarizing lens) sensor jingga. Tabel 4.9 dan Gambar 4.4

memperlihatkan bahwa kondisi awal kulit semua kelompok sukarelawan memiliki

beberapa noda di kulit (20 - 39). Hasil analisa statistik dari data yang telah diperoleh

pada Halaman 70 menunjukkan bahwa sebelum perawatan tidak terdapat perbedaan

yang signifikan (p ≥ 0,05) antara kelompok sediaan. Namun setelah perawatan

sediaan mampu mengurangi jumlah noda walaupun belum termasuk ke dalam

rentang noda sedikit.

Krim yang dapat memberikan efek terbesar dalam mengurangi noda kulit

terlihat pada minggu ke-4 adalah krim di pasaran (29,66 menjadi 19,33) dan krim

sari tomat 12% (31,66 menjadi 22,00). Hal ini diketahui bahwa semakin banyak

kandungan sari tomat yang digunakan maka semakin efektif dalam mencegah

35
Universitas Sumatera Utara
penggelapan kulit dari paparan sinar matahari. Menurut Rohmatussolihat (2009),

karoten adalah sumber utama pembentuk vitamin A yang berperan dalam

melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Semakin lama kulit terpapar sinar

matahari, maka pembentukan melanin kulit semakin aktif sehingga dapat

menimbulkan bercak-bercak noda coklat pada kulit (Sumaryati, 2012).

36
Universitas Sumatera Utara
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

a. Sari buah tomat dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan krim dengan

tipe emulsi m/a. Krim dengan konsentrasi 5%, 7,5%, 10% dan 12% stabil

dalam penyimpanan selama 90 hari pada suhu kamar. Sediaan krim yang

dihasilkan semuanya homogen dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit

b. Penambahan sari tomat ke dalam sediaan krim mampu memberikan efek

anti-aging. Semakin tinggi konsentrasi sari tomat yang ditambahkan pada

sediaan krim, maka semakin tinggi kemampuan sediaan krim tersebut untuk

memberikan efek sebagai anti- aging. Hasil analisa statistik krim sari tomat

dengan blanko memiliki perbedaan yang signifikant (p ≤ 0,05), dimana krim

sari tomat mampu memberikan efek sebagai anti- aging dengan kadar air

pada kulit yang meningkat, kulit semakin halus, pori-pori kulit mengecil dan

noda semakin sedikit. Krim sari tomat dengan konsentrasi 12% dibandingkan

dengan sediaan krim di pasaran (Olay®) sudah hampir menyamai

kemampuan efektivitas anti-aging.

5.2 Saran

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk meningkatkan konsentrasi sari

tomat dalam formulasi untuk memperoleh efektivitas anti-aging yang lebih baik

lagi.

37
Universitas Sumatera Utara