Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“PERMASALAHAN STRES DALAM BELAJAR”


Sebagai salah satu syarat pemenuhan nilai tugas akhir matakuliah
Dasar Logika dan Penulisan Ilmiah

Dosen Pembimbing :
Dr. Daharnis, M.Pd., Kons.

Disusun Oleh :
Nabilla Amron
18006043

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrohim
Segala puji bagi Allah SWT. yang senantiasa menaungi hamba-Nya
dengan limpahan kasih sayang, khususnya terhadap penulis sehingga penyusunan
makalah yang berjudul “Permasalahan Stres Dalam Belajar”, telah dapat
diselesaikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW serta seluruh keluarga dan sahabat.
Penulisan makalah ini disusun dengan sebaik-baiknya berdasarkan
petunjuk dan mengacu kepada saran dan bimbingan dosen pembimbing
matakuliah guna memperoleh hasil sebaik mungkin. Akhirnya penulis berharap
apa yang terdapat dalam makalah ini dapat bermanfaat dan sebagai catatan amal
ibadah yang diridhoi-Nya, sebagai wujud ikhtiyar mencari ilmu.

Padang, 23 Maret 2019


Penulis

Nabilla Amron
NIM 18006043
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...........................................................................................
B. Rumusan Masalah ........................................................................................
C. Tujuan .........................................................................................................
BAB II APA DAN BAGAIMANA STRES ITU TIMBUL
A. Pengertian Stres ...........................................................................................
B. Stres Dalam Belajar......................................................................................
C. Aspek-aspek Stres.........................................................................................
D. Ciri dan Jenis Stres.......................................................................................
E. Dimensi Stres................................................................................................
F. Tahapan Stres................................................................................................
G. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Stres Dalam Belajar..............................
H. Dampak Stres Dalam Belajar.......................................................................
BAB III Mengelolah dan Meminimalisir Stres
A. Teknik Konseling Kognitif ...........................................................................
B. Teknik Meditasi Hening................................................................................
C. Mengelolah stress belajar .............................................................................
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................................
B. Saran ............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah merupakan lembaga formal tempat pengabdian guru dan
dan rumah rehabilitasi peserta didik. Di tempat ini lah peserta didik
menimba ilmu dan pengetahuan dengan bantuan guru. Pelaksanaan
pendidikan sekolah merupakan langkah awal untuk perkembangan
seseorang. Dikatakan demikian, sebab dalam pendidikan ditanamkan pola-
pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan peserta didik sejak
dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar dan sebagai peserta didik
dalam aspek fisik, keterampilan, pengetahuan, sikap dan perilaku sosial
(fenti, 2010)
Menurut Sudarwan (2007), lembaga pendidikan formal atau
sekolah dikonsepsikan untuk mengemban fungsi reproduksi, penyadaran,
dan mediasi, secara simultan. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui
proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Pada proses
pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan
pemanusiaan terjadi.
Dewasa ini banyak permasalahan yang timbul dalam dunia
pendidikan seperti: Kekerasan seksual, bullying, ujian sekolah dan ujian
nasional, serta biaya pendidikan yang tinggi. Dimana hal ini menyebabka
peserta didik menjadi malas dalam menuntut ilmu, prestasi sekolah
menjadi menurun dan kecenderungan untuk berangkat ke sekolah pun
menjadi berkurang. (Ardian, 2015)

Permasalahan ini muncul akibat dari kesulitan peserta didik dalma


mengikuti ataupun menerima pelajaran yang berujung pada stress belajar.
Kesuilitan belajar merupakan suatu kondisi di mana peserta didik tidak
bisa belajar sebagaimana mestinya. Sehingga dari kesulitan belajar ini lah
peserta didik menjadi frustasi dan mengalami stress belajar (Ardian. 2015)
Masalah yang terkait dengan stress akhir-akhir ini semakin sering
diperbincangkan, baik dari lingkungan masyarakat maupun di ligkungan
pendidikan yang saat ini semakin berkembang. Dalam hal pendidikan,
peserta didik merupakan unsur terpenting didalamnya, di mana pasti akan
selalu dihadapkan pada rutinitas pembelajaran setiap harinya. Kondisi
inilah yang sedikit banyak bisa menimbulkan stres belajar pada peserta
didik (Ardanta, 2013).
Diantara berbagai permasalahan yang sering dihadapi peserta didik
ialah stress belajar. Stress belajar adalah gangguan mental atau emosional
pada semua hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan
pendidikan disekolah. Akibat dari stress belajar inilah menimbulkan
berbagai hal yang negatif yang dialami peserta didik. Peserta didik hidup
dalam masyarakat yang heterogen, yang tidak bisa dilepaskan dari
kebisingan, keributan, pertengkaran, perkelahian dan sebagainya.
Lingkungan masyarakat yang seperti inilah merupakan lingkungan yang
kurang bersahabat dengan peserta didik (Ardian, 2015 )
Peserta didik mengalami stress akademik yang harus dijalani,
kehidupan akademik bukan hanya sekedar datang ke sekolah, menghadiri
kelas, ikut dalam ujian dan akhirnya lulus. Masalah akademik berkaitan
dengan kegagalan peserta didik dalam menyelesaikan tuntutan belajar,
prestasi belajar yang menurun, dan masalah kesehatan. (Ardian, 2015)
Berdasarkan pemaparan diatas penulis tertarik mengangkat tema
stress belajar. Untuk itu penulis mengambil bahasan dengan judul
“Permasalahan Stres Dalam Belajar”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka penulis
merumuskan masalah stres dalam belajar adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan stres dalam belajar ?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan stress dalam belajar itu timbul ?
3. Bagai mana metode penangan stress dalam belajar ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah:
1. Mengetahui apa itu stres dalam belajar;
2. Mengetahui faktor yang meyebabkan stres dalam belajar itu timbul;
3. Mengetahui metode penangan stres dalam belajar.
BAB II
APA DAN BAGAIMANA STRES ITU TIMBUL

A. Pengertian Stres
Stres merupakan fenomena umum yang selalu hadir dalam
kehidupan manusia setiap harinya, hal ini disebabkan di mana manusia
masih berinteraksi dengna lingkungannya maka stress iu pasti akan selalu
ada karena pada dasarnya tidak ada manusia yang dapat menghindari
stress.
Menurut kamus Webster (dalam Abdullah, 2007) stres berasal dari
bahasa latin, yaitu strictus yang berarti kesulitan, kesengsaraan, dan
penderitaan. Konsep tentang stres selanjutnya mengalami perkembangan
di Perancis dan Inggris yang dikenal sebagai estresse, konsep stres
digunakan dalam ilmu fisiologi, kedokteran, psikologi, dan perilaku
Richard (2010) stres adalah suatu proses yang menilai suatu
peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, ataupun membahayakan dan
individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif
dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stres dapat saja positif
(misalnya merencanakan perkawinan) atau negatif (contoh : kematian
keluarga). Sesuatu didefinisikan sebagai peristiwa yang menekan (stressful
event) atau tidak, bergantung pada respon yang diberikan oleh individu
terhadapnya. Selain itu, menurut Baum (dalam Yusuf, 2004)
mendefinisikan stres sebagai pengalaman emosional yang negatif yang
disertai dengan perubahan-perubahan biokimia, fisik, kognitif, dan tingkah
laku yang diarahkan untuk mengubah peristiwa stres tersebut atau
mengakomodasikan dampak-dampaknya.
Sedangkan Menurut Dilawati (dalam Syahabuddin, 2010) stres
adalah suatu perasaan yang dialami apabila seseorang menerima tekanan.
Tekanan atau tuntutan yang diterima mungkin datang dalam bentuk
mengekalkan jalinan perhubungan, memenuhi harapan keluarga dan untuk
pencapaian akademik. Lazarus dan Folkman (dalam Evanjeli, 2012) yang
menjelaskan stres sebagai kondisi individu yang dipengaruhi oleh
lingkungan. Kondisi stres terjadi karena ketidak seimbangan antara
tekanan yang dihadapi individu dan kemampuan untuk menghadapi
tekanan tersebut. Individu membutuhkan energi yang cukup untuk
menghadapi situasi stres agar tidak mengganggu kesejahteraan mereka.
Stress merupakan suatu kondisi jiwa dan raga, fisik dan psikis yang
tidak dapat berfungsi secara normal. Stres juga dapat terjadi setiap saat
terhadap seseorang tanpa mengenal jenis kelamin. Usia seorang dalam
rentangan juga bukan menjadi sebuah kualifikasi stress. Kedudukan dan
jabatan turut menyumbang keberadaan stress dalam keidupan seseorang,
bahkan status sosial ekonomi juga dapat memicu seseorang mengalami
stress dalma kehidupannya (Abdullah, 2007)
Hampir memiliki makna arti yang sama, menurut Mc Nerney dan
Grenberg dalam Yosep (2004) menyebutkan bahwa stress ialah merepukan
reaksi fisik, mental, dan kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang
menankutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan dan
merisaukan seseorang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stres adalah
suatu peristiwa atau pengalaman yang negatif sebagai sesuatu yang
mengancam, ataupun membahayakan dan individu yang berasal dari
situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari
seseorang.
B. Stres Dalam Belajar
Stress merupakan fenomena umum yang selalu hadir dalam
kehidupan manusia setiap harinya, hal ini disebabkan dimana manusia
masih berinteraksi dengan lingkungannya maka stress itu pasti akan selalu
ada karena pada dasarnya tidak ada manusia yang dapat menghindari stress
(Yosep, 2004).
Sedangkan stress dalam kehidupan siswa dalam khazanah
psikologi disebut dengan istilah stress disekolah (school stress). Istilah
tersebut tergolong baru yang belum banyak digunakan dalam penelitian-
penelitian psikologi. Sebenarnya istilah stress disekolah ini bukan
merupakan konsep asli dan sama sekali baru tetapi tidak lain dari
pengembangan konsep organizational stress atau job stress, yaitu stress
yang dialami individu akibat tuntutan organisasi atau tuntutan pekerjaan.
Kemudian para ahli berusaha mengembangkan sebuah konsep yang secara
khusus menggambarkan kondisi stress yang dialami oleh siswa akibat
tuntutan disekolah (Yosep, 2004).
Stress disekolah menurut Desmita (2012: 291) adalah ketegangan
emosional yang muncul dari peristiwa-peristiwa kehidupan di sekolah dan
perasaan terancam keselamatan atau harga diri siswa, sehingga
memunculkan reaksi-reaksi fisik, psikologis, dan tingkah laku yang
berdampak pada penyesuaian psikologis dna prestasi akademik. Hampir
sama maknanya, menurut Yosep (2004) menyatakan stress di sekolah
merupakan penyesuaian pada fisiologis dan psikolgis terhadap tuntunan
yang dibebankan baik oleh diri sendiri atau orang lain yang dianggap
memberatkan siswa. Stressor pada siswa merujuk pada beragam situasi,
peristiwa, dan pikiran yang memicu reaksi stress.
Stres dalam belajar atau stress akademik merupakan stress yang
muncul karena adanya tekanan-tekanan untuk menunjukan prestasi dan
keunggulan dalam kondisi persaingan akademik yang semakin meningkat
sehingga siswa semakin terbebani oleh berbagai tekanan dan tuntutan
(Yosep, 2004). Berbeda dengan pendapat dari Yosep, menurut Gusniarti
(2002), stress akademik yang dialami sisawa merupakan hasil persepsi
yang subjektif terhadap adanya ketidak sesuaian antara tuntutan
lingkungan dengan sumber daya actual yang dimiliki siswa.
Gusniarti (2002) juga menyampaikan hal yang tak jauh berbeda
mengenai stress dalam belajar yaitu suatu keadaan atau kondisi dimana
siswa mengalami tekanan disekolah yang disebabkan karena tugas yang
tidak sesuai dengan kapasistas siswa, bermasalah dengan teman dan bosan
dengan pelajaran. Sedangkan menurut Verma, Sharma & Larson dalam
Desmita (2012: 291) stress di sekolah merupakan tuntutan sekolah (school
demands), yaitu stress siswa (student stress) yang bersumber dari tuntutan
sekolah, tuntutan sekolah sendiri adalah adanya tuntutan tugas sekolah
(school homework demands ), dan tuntutan dari guru (the demand of
tutors).
Tokoh lain Philips dalam Desmita (2012), juga memberikan
pendapatnya tentang stress disekolah, dimana stress disekolah merupakan
pengalaman yang terjadi dalam diri siswa yang berakitan dengna
pengalaman hubungan interpersonal dan academis stress didalam kelas,
interpersonal stress menggunakan indicator, persetujuan (acquiescent),
dan perilaku negatif (negativistic), dan indicator dari academic stress
berupa peningkatan diri (self-enhancing), penurunan diri (self-derogating)
saat siswa belajar disekolah.
Menurut kutipan dari Rainham (dalam Desmita, 2012: 289) bahwa
masa sekolah menengah atas disamping memberikan pengalaman yang
sangat berharga bagi perkembangan remajanya juga menjadikan masa
yang penuh stress, hal tersebut karena mereka dihadapkan pada banyaknya
tuntutan dan perubahan yang realtif cepat. Seperti mereka dihadapkan pada
pekerjaan rumah yang banyak, perubahan kurikulum yang beralangsung
cepat, batas waktu tugas dan ujian, kecemasan dan kebingungan, dalma
menentukan pilihan karir dan program pendidikan lanjut, membagi waktu
megerjakan PR, olahraga, hobi, dan kehidupan sosialnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa stress dalam belajar
merupakan kondisi stress atau perasaan tidak nyaman siswa akibat adanya
tuntutan sekolah yang sangat menekan mulai dari banyaknya tugas sekolah
maupun tuntutan yang tinggi dari guru, hal ini memberikan efek pada
siswa adanya ketegangan fisik, psikologi, dan emosional, serta perubahan
tingkah laku pada siswa. Sehingga dapat mempengaruhi dalam proses
belajar siswa maupun prestasinya (Desmita, 2012).
C. Aspek-aspek Stres Dalam Belajar
Philips (Yosep, 2004) menjelaskan bahwa stress disekolah timbul
karena adanya tuntutan dari lingkungan sekolah itu sendiri dalam hal ini
dibagi dalam dua aspek tuntutan, yaitu :
1. Academic stressor
Yaitu stress yang berkaitan dengan berbagai tugas
akademik sekolah seperti, penguasaan materi dan evaluasi
belajar.
2. Social stressor
Yaitu stress yang berkaitan dengan interaksi atau hubungan
interpersonal disekolah, seperti berinteraksi dengna guru, teman
sebaya maupun segala macam bentuk partisipasi siswa dalam
kelas.

D. Ciri-ciri dan Jenis Stres

Menurut Selye (1992) dalam Jasalindo (2014) mengakategorika


jenis stress menjadi dua, yaitu:
1. Distress (stress negatif)
Selye (1992) menyebutkan distress merupakan stress yang
bersifat tidak menyenangkan. Stress dirasakan sebagai suatu
keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, gelisah
ketakutan, dan khawatir, sehingga individu mengalami
keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan atau timbul
keigninan untuk menghindarinya.
2. Eustress (stress positif)
Selye (1992) menyebutkan bahwa eustress bersifat
menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan.
Eustress dapat meningkatkan kewaspadaan, kognisi dan
perfomarsi individu. Eustress juga dapat meningkatkan
motivasi individu untuk menciptakan sesuatu.
Menurut Yosep (2004) ada beberapa gejala yang dapat dilihat untuk
mengatahui stress yang daialami seseorang, terdapat dua gejala yaitu:
1. Gejala fisik : yang termasuk dalam gejala stress bersifat fisik
antara lain ialah sakit kepala, darah tinggi, sakit jantung, sulit
tidur, sakit lambung, keluar keringat dingin, kurang nafsu
makan serta sulit buang air kecil.
2. Gejala psikis : adapun gejala stress bersifat psikis ialah, gelisah
atau cemas, kurang bisa berkonsentrasi atau belajar, sering
melamun sikap masa bodoh, sikap pesimis, selalu murung,
malas bekerja atau belajar, bungkam seribu bahasa, hilang rasa
humor, dan mudah marah. Bersikap agresif seperti kata-kata
kasar dan menghina, menendang dan membanting pintu dan
terkadang suka memecahkan barang.
Tak jauh berbeda dengan penjelasan sebelumnya menurut Hardjana
(1994: 24-26) gejala stress dibagi menjadi empat bagian antara lain:
1. Gejala fisik : sakit kepala, tidur tidak teratur, sakit punggung,
sulit buang air besar, gatal-gatal pada kulit, urat tegang
terutama pada leher dan bahu, tekanan darah, sering
berkeringat, berubah selera makan, lelah atau kehilangan daya
energy.
2. Gejala emosional : gelisah atau cemas, sedih, mudah menangis,
mood berubah-ubah, mudah panas atau marah, gugup, merasa
tidak aman, mudah tersinggung, gampang menyerah atau
bermusuhan.
3. Gejala intelektual : susah berkonsentrasi, sulit membuat
keputusan, mudah lupa, pikiran kacau, daya ingat menurun,
melamun secara berlebihan, hilang rasa humor, prestasi kerja
menurun, pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja, dalam kerja
jumlah kekeliruan yang dibuat bertambah.
4. Gejala interpersonal : kehilangna kepercayaan pada orang lain,
mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji,
suka mencari-cari kesalahan orang lain, menyerang orang lain
dengan kata-kata.
E. Dimensi Stres
Cohen, Kamarck dan Mermelstein (dalam Desmita, 2012)
membagi dimensi stres menjadi tiga yang disebut sebagai “the perceived
stress scale”, yaitu :

1. Perasaan yang Tidak Terprediksi (feeling of unpredictability)


Individu yang tidak mampu memprediksi peristiwa yang
terjadi dalam kehidupannya secara tiba-tiba, maka individu
tersebut akan menjadi tidak berdaya dan merasa putus asa.

2. Perasaan yang Tidak Terkontrol (feeling of uncontrollability)


Perasaan yang tidak terkontrol terjadi ketika individu tidak
mampu mengendalikan diri atas berbagai tuntutan eksternal
termasuk lingkungan sehingga memberikan efek pada perilaku
individu yang dijadikan sebagai pengalaman individu.

3. Perasaan Tertekan (feeling of overloaded)


Perasaan tertekan ditandai dengan berbagai gejala termasuk
perasaan benci, harga diri rendah, perasaan sedih, cemas, gejala
psikosomatis dan lain sebagainya. Cohen (1994) menjelaskan
bahwa individu dengan perasaan tertekan lebih mungkin untuk
mengalami stres dibandingkan dengan individu yang tidak
mengalami perasaan tertekan.
F. Tahapan Stres Belajar
Martaniah dkk, 1991(dalam Rumiani, 2006 ) menyebutkan bahwa
stres terjadi melalui tahapan :

1. Tahap 1: stres pada tahap ini justru dapat membuat seseorang


lebih bersemangat, penglihatan lebih tajam, peningkatan energi,
rasa puas dan senang, muncul rasa gugup tapi mudah diatasi.
2. Tahap 2: menunjukkan keletihan, otot tegang, gangguan
pencernaan.

3. Tahap 3: menunjukkan gejala seperti tegang, sulit tidur, badan


terasa lesu dan lemas.

4. Tahap 4 dan 5: pada tahap ini seseorang akan tidak mampu


menanggapi situasi dan konsentrasi menurun dan mengalami
insomnia.

5. Tahap 6: gejala yang muncul detak jantung meningkat, gemetar


sehingga dapat pula mengakibatkan pingsan.Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan tahapan stres terbagi menjadi 6
tahapan yang tingkatan gejalanya berbeda-beda di setiap
tahapan.
Berbeda dengan yang dikemukan oleh Robert J. Van Amberg
dalam Hardjana (1994) yaitu sebagai berikut :
1. Stress tingkat I
Hardjana (1994) Tahapan ini merupakan tingkat stress yang
palling ringan dan biasanya dosertai dengna perasaan gugup
berlebihan. Tahapan ini biasanya tidak menyenangkan dan
membuatorang kurang bersemangat, tanpa disadari bahwa
sebenarnya cadangan energinya sedanng menipis.
2. Stress tingkat II
Hardjana (1994) Dalam tahapan ini dampak stress yang
mulai ditimbulkan adalah keluhan-keluhan yang dikarenakan
cadangna energi tidak cukup lagi sepanjang hari. Keluhan-
keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut, merasa letih
dan lelah, perasaan tegang dan tidak bisa santai. Hal ini
menyebabkan hilangnya semangat untuk belajar karena merasa
lelah.
3. Stress tingkat III
Hardjana (1994) Pada tahap ini keluhan keletihan semakin
terlihat disertai dengan gejala-gejala berikut perasaan tegangn
yang semakin meningkat, badan terasa lemah. Pada tahap ini
penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter karena sudah
muali berpengaruh pada fisik, kecuali kalau beban stress atau
tuntutan-tuntutan dikurangi, dan tubuh mendapatkan
kesempatan untuk beristirahat atau relaksasi, guna memulihkan
suplai energi.
4. Stress tingkat IV
Hardjana (1994) Tahapan ini menujukan keadaan yang
lebih buruk, yang ditandai dengna ciri sebagai berikut,
kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan
sosial dan kegiatan rutin lainnya terasa berat, perasaan
negative, kemampuan berkonsentrasi menurun tajam, perasaan
takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa.
5. Stress tingkat V
Hardjana (1994) Tahapan ini merupakan keadaan yang
lebih mendalam, seperti keletihan yang mendalam, kurang
mampu untuk menajalani pekerjaan yang sederhana, perasaan
taku yang semakin menjadi (seperti panik).
6. Stress tingkat VI
Hardjana (1994) Tahap ini merupakan tahapan puncak yang
merupakan keadaan gawat darurat. Tidak jarang penderita
dalam tahap ini dibawa ke ICCU. Gejala pada tahap ini cukup
mengerikan diantaranya debaran jantung terasa amat keras, hal
ini disebabkan karena zat adrenalin yang keluar karena stress
tersebut cukup tinggi dalam perdaran darah, badan gemetar,
tubuh dingin, keringat bercucuran, tenaga untuk hal-hal ringan
sekalipun tidak bisa lagi.
Bilamana diperhatikan, maka dalam tahapan stress diatas
menunjukan manifestasi dibidang fisik dan psikis. Dibidang fisik berupa
kelelahan, sedangkan dibidang psikis berupa kecemasan dan depresi. Hal
ini dikarenakan penyebab energy fisik maupun mental mengalami defidit
terus-menerus. Sering buang air kecil dan sukar tidur merupakan pertanda
dari depresi (Evanjeli, 2012)
G. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stress Dalam Belajar
Menurut Smet 1994 (dalam Gunawati dkk., 2004) faktor yang
mempengaruhi stress antara lain:
1. Variable dalam diri individu
Variable dalam diri individu meliputi: umur, tahap
kehidupan, jenis kelamin, tempramen, faktor genetic,
intelegensi, pendidikan, suku, kebudayaan, dan status
ekonomi.
2. Karakteristik kepribadian
Karakteristik kepribadian meliputi: introvert-
ekstrovert¸stabilitas emosi secara umum, kepribadian,
ketabahan, locus of control¸ kekebalan, ketahanan.
3. Variable sosial-kognnitif
Karakteristik sosial kognitif meliputi: dukungna sosial yang
dirasakan, jaringan sosial dan control pribadi yang dirasakan.
4. Hubungan dengna lingkungan sosial
Hubungan dengan lingkungan sosial adalah dukungan
sosial yang diterima dan integrasi dalam hubungan
interpersonal.
5. Strategi coping
Coping adalah merupakan rangkaian respon yang
melibatkan unsur-unsur pemikiran untuk mengatasi
permasalahan sehari-hari dan sumber stress yang menyangkut
tuntutan dan ancaman yang berasal dari lingkungan sekitar.
Secara umum, Gunawati (2004) membagi faktor-faktor yang dapat
menyebabkan stres menjadi tiga, yaitu :
1. stressor rohani (spiritual)
Stressor jenis ini berhubungan dengan ke-diri-an manusia.
Stresor ini timbul karena kecintaan manusia yang mendalam
terhadap dirinya sendiri. Hal yang paling membuat manusia
stres adalah ketakutan akan kematian dan rasa cinta terhadap
kedudukan, harta dan sesama manusia.

2. Stresor Mental (psikologi)


Stressor jenis ini berhubungan dengan adanya tekanan yang
timbul akibat perlakuan orang lain. tekanan itu akan membuat
batin kita timbul rasa benci, marah atau sedih.

3. Stressor Jasmani (fisikal)


Stressor jenis ini berhubungan dengan faktor nutrisi dan
lingkungan. Pola makan yang tidak baik juga menyebabkan
stres. Mislanya stres dapat meningkat akibat terlalu bnayak
mengkonsumsi gula, kafein, alkohol, garam, dan lemak serta
sedikit mengkonsumsi zat-zat gizi. Sedangkan faktor
lingkungan mislanya adanya mikroorganisme, populasi udara,
asap rokok, temperatur dan gerakan fisik.

H. Dampak stress dalam belajar

Pada umumnya, individu yang mengalami ketegangan akan


mengalami kesulitan dalam memanajemen kehidupannya, sebab stress
akan memunculkan kecemasan (anxiety) dan sistem syaraf menjadi kurang
terkendali. Pusat syaraf otak akan mengaktifkan saraf simpatis, sehingga
mendorong sekresi hormon adrenalin dan kortisol yang akhirnya akan
memobilisir hormon-hormon lainnya (Yosep, 2004). Individu yang berada
dalam kondisi stress, kondisi fisiologisnya akan mendorong pelepasan
gula dari hati dan pemecahan lemak tubuh, dan bertambahnya kandungan
lemak dalam darah (Richard, 2010).
Kondisi tersebut akan mengakibatkan tekanan darah meningkat
dan darah lebih banyak dialihkan dari sistem pencernaan ke dalam otot-
otot, sehingga produksi asam lambung meningkat dan perut terasa
kembung serta mual. Oleh karena itu, stress yang berkepanjangan akan
berdampak pada depresi yang selanjutnya juga berdampak pada fungsi
fisiologis manusia, di antaranya gagal ginjal dan stroke. Pada dasarnya,
penyakit disfungsi secara fisiologis itu diakibatkan oleh terganggunya
kondisi psikologis seseorang. Sebagai contoh, perilaku agresif dan defensif
individu dapat disebabkan oleh akumulasi stress yang tidak mampu
dikenali dan dieliminir oleh individu. Selain itu, kondisi sosial ekonomi
individu yang serba kekurangan dan lingkungan hidup (seperti di desa dan
di kota besar) juga berpotensi melahirkan stress. Hal itulah salah satu
faktor yang memunculkan berbagai kejahatan di kota-kota besar. Sebagai
dampak dari kondisi masyarakat atau individu yang stress mudah
memunculkan bentuk perilaku agresif karena berbagai faktor kesenjangan
kondisi dan status masyarakat yang mencolok (Yosep, 2004).
Secara garis besar dampak stress dapat menimpa pada kondisi fisik
dan kondisi psikologis individu. Seperti telah dijelaskan pada indikasi
gejala stress di atas. Berikut ini dampak stress terhadap fisik individu
(Gunawati dkk, 2004)
Stres memiliki efek negatif pada individu. Efek negatif stres
tersebut dibagi menjadi dua (National Safety Council, 2004), yaitu :

1. Efek Stres Secara Emosional

Stres dimulai dengan suatu persepsi terhadap beberapa


informasi yang ditangkap oleh satu atau kelima indra kita.
Setelah otak kita menerima informasi tersebut, secara
bersamaan akan muncul respon emosional yang biasanya
diekspresikan dalam bentuk rasa marah atau takut. Apabila
dibiarkan, emosi tersebut dapat menimbulkan keletihan, sikap
menutup diri, depresi, dan harga diri rendah.

2. Efek Stres Secara Fisik


Stres juga dapat mempengaruhi kesehatan seseorang,
karena emosi dapat membantu atau menurunkan sistem imun
sehingga dapat mempengaruhi kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Yogyakarta:
ArRuzz Media.
Ardana, A. T. 2013. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Bandung: Karya Pustaka.
Ardian Aprianto. 2015. Skripsi: Fenomena Stress Belajar Peserta Didik SMK
Muhammadiyah 1 Moyudan. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Agus M. Hardjana, 1994. Stres Tanpa Distres: Seni Mengolah Stres.
Yogyakarta: Kanisius
Cohen, S. 1994. Perceived Stress Scale. USA : Mind Garden, Inc.
Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosda
Karya.
Evanjeli, A. L. 2012. Hubungan Antara Stres, Somatisasi Dan Kebahagiaan.
Laporan Peneltian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Gadjah Mada.
Fenti Hikmawati. 2010. Bimbingan Konseling. Jakarta: Rajawali Press.
Gunawati, dkk. 2006. Hubungan Antara Efektifitas Komunikasi Mahasiswa-
Dosen Pembimbing Utama Skripsi Dengan Stres Dalam Menyusun
Skripsi Pada Mahasiswa. Semarang Jurnal Psikologi Universitas
Diponegoro, vol 3, no 2, Desember 2006.
Iyus, Yosep. 2007. Keperawatan Jiwa, Edisi 1. Jakarta : Refika Aditama.
National Safety Council. 2004. Manajemen Stres. Jakarta: EGC.
Rumiani. 2006. Prokrastinasi Akademik Ditinjau Dari Motivasi Berprestasi
dan Stres Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 3(2),
37-48.
Sudarwan Danim. 2007. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara
Syahabuddin. 2010. Hubungan Antara Cinta dan Stres Dengan Memaafkan
Pada Suami Dan Istri, Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Waitz, Grete; Stromme, Sigmund; Railo, Willi S. 1983. Conquer Stress with
Grete Waitz, (terjemahan Sinta A. W). Bandung: Angkasa.
Yusuf, S. 2004. Mental Hygiene : Pengembangan Kesehatan Mental dalam
Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisi.