Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Tuturan, Vol. 7, No.

1, Mei 2018 PISSN 2089-


2616
EISSN 2615-

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TEKS ANEKDOT BERBASIS


KEARIFAN LOKAL UNTUK SISWA
KELAS X SMA

Dede Endang Mascita


Ati Rosmiyati

Program Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon


Email : dedenmas68@gmail.com
Atirosmiati14@gmail.com

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis struktur, kebahasaan, dan isi teks anekdot,
dan
memanfaatkan hasil analisis untuk menyusun modul teks anekdot berbasis kearifan
lokal untuk siswa kelas X SMA. Modul pembelajaran teks anekdot adalah bahan ajar
yang menyajikan materi, latihan, tugas dan berbagai contoh teks anekdot yang berbasis
kearifan lokal Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan
pengembangan. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks anekdot yang berbasis
kearifan lokal Cirebon dengan tema dan karakteristik yang bervariasi. Sumber data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepuluh teks anekdot yang berbasis
kearifan lokal Cirebon. Kesepuluh teks itu dianalisis berdasarkan struktur, unsur
kebahasaan, isi/makna tersirat dan kearifan lokal Cirebon yang terdapat didalamnya.
Hasil analisis data menunjukan bahwa kesepuluh teks anekdot tersebut mempunyai
struktur yang lengkap yaitu, abstraksi, orientasi, krisis, reaksi dan koda.
Kesepuluh teks anekdot tersebut mengandung unsur kebahasaan yang lengkap yaitu
adanya kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu, kalimat retoris, penggunan kata
kerja aksi, penggunaan kalimat perintah dan penggunaan kalimat seru. Kesepuluh teks
anekdot tersebut mengandung isi/makna yang tersirat. Teks anekdot hasil analisis
selanjutnya dijadikan materi dalam bahan ajar yang dikembangkan.

Kata Kunci: Bahan Ajar, Teks Anekdot, Kearifan Lokal

A. PENDAHULUAN Kurikulum pada hakikatnya bersifat


Perkembangan ilmu pengetahuan dinamis, artinya senantiasa mengalami
dan teknologi menuntut terciptanya perubahan dan perkembangan
Sumber Daya Manusia (SDM) yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta
mampu bersaing secara global. didik. Kurikulum diharapkan mampu
Terciptanya insan individu yang mampu memberikan landasan dan menjadi
menghadapi persaingan secara global pedoman bagi pengembangan
selaras dengan penjabaran dari kemampuan peserta didik secara optimal
kurikulum. Kurikulum dikatakan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan
sebagai manifestasi yang bersifat peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
dokumen tertulis dalam rangkaian Salah satu upaya pemerintah untuk
aktivitas proses pembelajaran. meningkatkan kualitas bidang
Kurikulum bagian yang tidak pendidikan adalah dengan
terpisahkan dalam bidang pendidikan. penyempurnaan kurikulum beserta

Pengembangan Bahan Ajar Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Untuk Siswa Kelas X | 35
SMA
perangkat pendukungnya. Hal ini merupakan satuan bahasa yang memiliki
dibuktikan dengan adanya kurikulum struktur berpikir yang lengkap. Karena
baru, yaitu Kurikulum 2013. itu pembelajaran bahasa Indonesia harus
Kurikulum merupakan salah satu berbasis teks. Melalui teks maka peran
unsur yang memberikan kontribusi bahasa Indonesia sebagai penghela dan
untuk mewujudkan proses pengintegrasi ilmu lain dapat dicapai.
berkembangnya kualitas potensi peserta Pembelajaran teks membawa siswa
didik tersebut. Kurikulum 2013 sesuai dengan perkembangan mentalnya,
dikembangkan berbasis pada menyelesaikan masalah kehidupan nyata
kompetensi sangat diperlukan sebagai dengan berpikir kritis. Kenyataan
instrumen untuk mengarahkan peserta kehidupan sehari-hari tak terlepas dari
didik menjadi: (1) manusia berkualitas kehadiran teks. Materi pembelajaran
yang mampu proaktif menjawab bahasa Indonesia membuat muatan
tantangan zaman yang selalu berubah; Kurikulum 2013 penuh struktur teks.
(2) manusia terdidik yang beriman dan Kurikulum 2013 melakukan reduksi
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha secara besar-besaran terkait dengan jenis
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, teks sastra.
cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga Dalam pembelajaran bahasa
negara yang demokratis, bertanggung berbasis teks, bahasa Indonesia
jawab. diajarkan bukan sekedar sebagai
Bahasa Indonesia merupakan pengetahuan bahasa, melainkan sebagai
salah satu mata pelajaran yang teks yang mengemban fungsi untuk
mengalami perombakan total dalam menjadi sumber aktualisasi diri
Kurikulum penggunanya pada konteks sosial
2013 ini. Bila dalam Kurikulum 2006 budaya akademis. Teks merupakan
mata pelajaran bahasa Indonesia lebih satuan bahasa yang berisi ungkapan
mengedepankan pada keterampilan makna secara kontekstual. Pembelajaran
berbahasa (dan bersastra), maka dalam bahasa Indonesia berbasis teks
Kurikulm 2013 ini bahasa Indonesia dilaksanakan
digunakan sebagai sarana untuk dengan menerapkan prinsip bahwa
mengembangkan kemampuan dan (1) bahasa hendaknya dipandang
keterampilan menalar. Hal ini sebagai teks, bukan semata-mata
dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kumpulan kata atau kaidah kebahasaan,
kemampuan menalar peserta didik (2) penggunaan bahasa merupakan
Indonesia masih sangat rendah. proses pemilihan bentuk-bentuk
Dalam implementasinya, kebahasaan untuk mengungkapkan
pembelajaran bahasa Indonesia makna, (3) bahasa bersifat fungsional,
menggunakan pendekatan berbasis teks. yaitu penggunaan bahasa yang tidak
Teks dapat berwujud teks tertulis pernah dapat dilepaskan dari konteks
maupun teks lisan. Teks merupakan karena bentuk bahasa yang digunakan
ungkapan pikiran manusia yang lengkap itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan
yang di dalamnya memiliki situasi dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa
konteks. Belajar bahasa Indonesia tidak merupakan sarana pembentukan
sekedar memakai bahasa Indonesia kemampuan berpikir manusia.
untuk menyampaikan materi belajar. Pengembangan Kurikulum 2013
Namun, perlu juga dipelajari soal makna menuntut perubahan paradigma dalam
atau bagaimana memilih kata yang pembelajaran. Paradigma Kurikulum
tepat. Selama ini pembelajaran bahasa 2013 telah mencanangkan pembelajaran
Indonesia tidak dijadikan sarana berbasis teks. Cakupan Kurikulum 2013
pembentuk pikiran padahal teks
memuat adanya sumber bahan ajar yang Indonesia diharapkan dapat membentuk
berisikan berbagai teks, termasuk teks citra pembelajaran yang kaku dan lebih
anekdot. Setiap teks memiliki struktur luwes. Suasana belajar yang
tersendiri yang satu sama lain berbeda. menyenangkan dan penuh dengan
Struktur teks merupakan cerminan humor akan tercipta dengan adanya
struktur berpikir. Dengan demikian, materi anekdot pada pembelajaran
makin banyak jenis teks yang dikuasai bahasa Indonesia.
siswa, makin banyak pula struktur Pendidik dituntut untuk
berpikir yang dapat digunakannya dalam melakukan beberapa perubahan yang
kehidupan sosial dan akademiknya. signifikan pada tataran sistem. Pendidik
Kurikulum berkaitan dengan harus mampu mengimplementasikan
bahan ajar. Perubahan kurikulum berarti kurikulum baru ini dengan baik.
perubahan bahan ajar. Fenomena Pendidik sebagai subjek pelaku
pergantian kurikulum itu, di satu sisi Kurikulum 2013 belum memahami betul
dipandang sebagai ikhtiar untuk bagaimana implementasi dari kurikulum
memperbaiki kualitas pendidikan secara tersebut, baik dari segi metode
keseluruhan. Namun, di sisi lain pembelajaran maupun materi yang
pergantian kurikulum tersebut tak jarang disuguhkan. Oleh karena itu, sumber
menimbulkan ketidaksiapan pada setiap daya pendidik di sekolah harus
aspek pembelajaran, utamanya bahan menguasai konsep kurikulum yang baru
ajar. Bahan ajar yang berkaitan dengan ini dengan baik. Kehadiran materi baru
teks anekdot masih kurang karena teks membuat pengajar kurang siap dalam
anekdot merupakan materi baru. pembelajaran. Terlebih lagi, bahan ajar
Kehadiran materi teks anekdot dalam yang dihadirkan pada buku ajar belum
silabus, membuat pengajar kurang siap memenuhi kebutuhan pembelajaran di
dalam pembelajaran. Hal ini kelas. Keterbatasan bahan ajar ini dapat
menimbulkan persoalan bagi tenaga menghambat proses pengembangan
pengajar dalam menyediakan teks implementasi Kurikulum 2013 di
anekdot yang benar-benar memenuhi sekolah. Pendidik diharapkan dapat
kriteria bahan ajar. Nilai kearifan lokal mencari referensi dan sumber lain agar
yang terkandung dalam teks anekdot wawasan yang diajarkan akan lebih luas
akan menjadi pondasi dalam upaya dan beragam.
membangun peserta didik yang bangga Buku ajar Kurikulum 2013
akan budaya bangsanya sendiri. Maka menjadi sumber belajar yang dapat
dari itu, perlu pengembangan bahan ajar menunjang pembelajaran menjadi lebih
teks anekdot yang sesuai dengan latar efektif. Hal ini dapat mempermudah
budaya peserta didik. kerja guru dalam mencari bahan ajar.
Teks anekdot memberikan suasana Bahan ajar, idealnya, dapat membantu
baru pada pembelajaran bahasa siswa dalam memenuhi standar
Indonesia. Teks ini menjadi penting kompetensi lulusan yang telah
dihadirkan dalam pembelajaran bahasa ditetapkan, yaitu (1) sikap (2)
Indonesia karena dalam teks anekdot keterampilan dan (3) pengetahuan.
bukan hanya aspek kognitif siswa saja Kurniawan (2012 : 121) berpendapat
yang terasah, melainkan juga aspek bahwa materi sumber belajar dibutuhkan
afektifnya. Nilai-nilai humanisme dan siswa untuk dapat mendukung faktor
sosial berusaha diterapkan dalam kognitif, afektif, dan psikomotor yang
pembelajaran. Dengan diterapkan nilai terkandung dalam perkembangan emosi,
humanistik pada pembelajaran bahasa motorik, pengamatan dan ingatan visual,
pendengaran, kemampuan berbahasa meminimalkan adanya jurang pemisah
pasif dan aktif, dan kecerdasan. antara masyarakat satu dengan yang
Teks anekdot yang beredar di lainnya. Hal ini terjadi karena nilai
masyarakat tidak semua memiliki kearifan lokal akan memiliki makna
makna cerita yang pantas digunakan di apabila tetap menjadi rujukan dalam
jenjang Sekolah Menengah Atas. mengatasi setiap dinamika kehidupan
Bahkan semua lelucon dan anekdot sosial, lebih-lebih lagi dalam menyikapi
yang paling banyak beredar, terutama di berbagai perbedaan yang rentan
kalangan remaja dan mahasiswa, adalah menimbulkan konflik. Keberadaan nilai
mengenai seks. Hal inilah yang kearifan lokal justru akan diuji ditengah-
membuat peneliti merasa perlu tengah kehidupan sosial yang dinamis.
melakukan penelitian ini. Peneliti Dari hal tersebut, bahan ajar yang
berusaha membantu pengajar mencari mengandung nilai kearifan lokal dapat
alternatif bahan ajar lain selain yang membentuk sistem kepercayaan, norma,
sudah terdapat pada buku ajar budaya dan diekspresikan di dalam
Kurikulum 2013 agar pendidik tidak tradisi yang tertanam dalam diri siswa.
sembarangan menggunakan teks
anekdot yang beredar di masyarakat. B. METODE PENELITIAN
Sejalan dengan tema yang diusungkan Metode penelitian yang digunakan
untuk pembelajaran teks anekdot di pada penelitian ini adalah metode
kelas X SMA yaitu kritik dan humor Penelitian dan Pengembangan atau
dalam layanan publik, maka peneliti Research and Development (R&D).
menyesuaikan bahan ajar yang Metode penelitian ini bertujuan untuk
dikembangkan dengan nilai-nilai menghasilkan produk. Produknya adalah
kearifan lokal yang ada di Indonesia. bahan ajar yang berupa modul. Sumber
Bahasa Indonesia merupakan salah satu data yang akan diteliti dan digunakan
bidang studi yang sesuai untuk adalah sepuluh teks anekdot yang
mengembangkan budaya progresif . berbasis kearifan lokal. Teks anekdot
Dengan kata lain, bahasa indonesia tersebut diambil dari berbagai sumber
bersifat terbuka bagi kemungkinan yaitu media Kabar Cirebon, Fajar
diberi isi baru yang sesuai dengan Cirebon, Suara Cirebon dan Internet.
kebutuhan pendidikan masa kini. Kearifan lokal yang diambil adalah
Nilai kearifan lokal dijadikan kearifan lokal Cirebon sesuai dengan
dasar pemikiran dalam upaya keberadaan sekolah yang peneliti
membangun masyarakat yang bangga jadikan tempat penelitian. Kearifan lokal
akan budaya bangsanya sendiri. Cirebon tersebut peneliti ambil dari
Kearifan tersebut banyak berisikan petatah petitih Sunan Gunung Jati. Dari
gambaran tentang anggapan masyarakat empat puluh lima petatah petitih
yang bersangkutan perihal kualitas kearifan lokal Cirebon peneliti
lingkungan manusia, serta hubungan- mengambil tiga belas untuk dijadikan
hubungan manusia dan lingkungan dasar menyusun bahan ajar teks anekdot.
alamnnya. Dengan adanya kearifan Instrumen penelitian yang
lokal, pembelajaran bahasa Indonesia digunakan dalam penelitian ini adalah
menanamkan keberagaman budaya yang sebagai berikut.
dianggap sebagai kekayaan yang
dimiliki oleh bangsa sehingga
Tabel 1
Instrumen Umum
No. Data Sumber Data Instrumen
1. Penilaian produk modul Ahli bidang materi ajar Validasi penilaian
teks anekdot berbasis pembelajaran khususnya
kearifan lokal oleh dosen modul teks anekdot yaitu
ahli dosen ahli
2. Tanggapan produk modul Guru mata pelajaran Angket tanggapan
teks anekdot berbasis bahasa Indonesia dan terhadap modul teks
kearifan lokal siswa-siswi kelas X SMA anekdot berbasis
kearifan lokal

Prosedur penelitian pengembangan produk, (7) revisi produk, (8) uji coba
yang digunakan mengikuti pendapat pemakaran, (9) revisi produk, (10)
Sugiono (2015:298) langkah-langkah produksi masal.
penelitian dan pengembangan adalah (1) Untuk memudahkan menganalisis
potensi dan masalah, (2) pengumpulan teks anaekdot maka dibutuhkan pedoman
informasi, (3) desain produk, (4) validasi analisis teks anekdot yang dapat
desain, (5) revisi desain, (6) uji coba digambarkan sebagai berikut.

Tabel 2
Format Analisis Teks Anekdot
No Pokok Analisis Rincian Aspek yang Dianalisis
1 Analisis Struktur Teks Struktur Teks Anekdot meliputi: Abstraksi, Orientasi,
Anekdot Krisis, Reaksi, Koda
2 Unsur Kebahasaan Unsur-unsur kebahasaan yang terdapat dalam teks
anekdot meliputi
Kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu.
Penggunaan kalimat retoris.
Penggunaan kalimat seru.
Penggunaan kata kerja aksi.
Penggunaan kalimat perintah.
Penggunaan konjungsi menyatakan hubungan waktu.
3 Isi/Makna tersirat Isi/Makna yang tersembunyi yang tidak diketahui
secara langsung. Isi/makna tersebut akan diperoleh
setalah membaca teks anekdot tersebut.
4 Kearifan lokal Kearifan lokal yang digunakan adalah kearifan lokal
Cirebon yang diambil dari petatah petitih Sunan
Gunung Jati. Dari empat puluh lima petatah petitih
diambil tiga belas yang dijadikan dasar untuk
menyusun bahan ajar teks anekdot

C. HASIL PENILITIAN DAN anekdot dan (2) kearifan lokal Cirebon.


PEMBAHASAN Penelitian pertama yang akan
Data penelitian yang dipaparkan dipaparkan dalam penelitian ini adalah
dalam penelitian ini meliputi (1) teks teks anekdot. Data ini peneliti ambil dari
media Kabar Cirebon, Fajar Cirebon dan 5. Jalan Ambles
Suara Cirebon Edisi Bulan Februari – 6. Orang Tuaku Sayang, Anakku
April 2017. Selain dari media-media Malang
tersebut, peneliti juga mengambil 7. Rejeki
beberapa teks anekdot dari internet. 8. Rambut Putih
Teks anekdot dari media/surat kabar 9. UUD (Ujung-ujungnya Duit)
terbitan Cirebon merupakan teks 10. Harus Bekerja.
anekdot berbahasa Cirebon. Teks
anekdot tersebut oleh peneliti Kearifan Lokal Cirebon
diterjemahkan ke dalam bahasa Tradisi kearifan lokal masyarakat
Indonesia. Penelitia mengumpulkan dua Cirebon, secara umum berasal dari
puluh teks anekdot yang terdapat pada tradisi yang diajarkan oleh Sunun
sumber-sumber tersebut. Gunung Jati terutama petatah petitih
Adapun judul-judul teks anekdot Sunan Gunung Jati yang mengandung
tersebut peneliti deskripsikan sebagai makna yang luas dan kompleks. Effendi
berikut. (1994:14-34) mengungkapkan unsur-
1. Korupsi unsur dari petatah-petitih Sunan Gunung
2. Keluarga Jati, yakni petatah petitih dalam nilai
3. Tidak Pulang Lima Belas Tahun ketaqwaan dan keyakinan, kedisiplinan,
4. Digigit Tikus kearifan dan kebijakan, kesopanan dan
5. Obatnya Biru Merah tatakarma, dan kehidupan.
6. Pusing Kepala Adapun petatah petitih kearifan
7. Ikut Ibu lokal Cirebon tersebut dapat
8. Orang Tuaku Sayang, Anakku dideskripsikan sebagai berikut.
Malang 1. Insun titip tajug lan fakir miskin
9. Jalan Ambles (Aku titip masjid dan fakir miskin).
10. Nehnik 2. Yen sembahyang kungsi pucuke
11. Rajeki panah (Jika Sholat harus khusu’ dan
12. Hiburan sendiri tawadhu seperti anak panah yang
13. Sebangku bertiga menancap kuat).
14. Minta Cerai 3. Yen puasa den kungsi tetaling
15. UUD (Ujung-ujungnya Duit) gundewa (jika puasa harus kuat
16. Rambut Putih seperti tali gondewa).
17. Empat Tipe 4. Ibadah kang tetep (ibadah harus
18. Aku Tidak Apa-apa terus menerus).
19. Harus Bekerja 5. Edia ing Allah (takutlah kepada
20. Tidak Batal Puasa Allah).
Dari dua puluh judul teks 6. Manah den Syukur ing Allah (hati
anekdot diatas peneliti mengambil harus bersyukur kepada Allah).
sepuluh judul yang menurut peneliti 7. Kudu ngahekaken pertobat (banyak-
layak dijadikan data penelitian masuk banyaklah bertobat).
kedalam teks anekdot berbasis kearifan 8. Aja nyindra janji mubarang (jangan
lokal. Judul-judul teks anekdot tersebut mengingkari janji)
dideskripsikan sebagai berikut. 9. Pemboraban kang ora patut
1. Tidak Pulang Lima Belas Tahun anulungi (jangan belajar untuk
2. Obatnya Biru Merah kepentingan yang tidak benar atau
3. Pusing Kepala disalahgunakan).
4. Ikut Ibu
10. Singkirna sifat kanden wanci (jauhi 31. Ake lara ati ing wong, namun
sifat yang tidak baik). saking duriat (jika sering disakiti
11. Duweha sifat kang wanti (miliki orang, hadapilah dengan kecintaan
sifat yang baik). tidak dengan aniaya).
12. Amapesa ing bina batan (jangan 32. Aja ilok gawe kaniaya ing mahluk
serakah atau berangasan dalam (jangan membuat aniaya kepada
hidup). mahluk lain).
13. Angadahna ing perpadu (jauhi 33. Aja ngagungaken ing salira (jangan
pertengkaran). mengagungkan diri sendiri).
14. Aja ilok ngamad kang durung yakin 34. Aja ujub ria suma takabur (jangan
(jangan suka menduga sesuatu bila sombong dan takabur).
belum terbukti kebenarannya). 35. Aja duwe ati ngunek (jangan
15. Aja ilok gawe bobat (jangan suka dendam).
berbohong). 36. Den hormat ing wong tua (harus
16. Ing panemu aja gawe tingkah (bila hormat kepada orang tua).
pandai jangan sombong). 37. Den hormat ing leluhur (harus
17. Kenana ing hajate wong (kabulkan hormat kepada leluhur).
keinginan orang) 38. Hormaten, emanen, mulyaken ing
18. Aja dahar yen durung ngeli (jangan pusaka (hormat, sayangi, dan
lapar sebelum lapar). mulyakan pusaka)
19. Aja nginum yen durung ngelok 39. Den weles asih ing sapapada
(jangan minum sebelum haus). (hendaknya menyayangi sesama
20. Aja turu yen durung katekan arif manusia).
(jangan tidur sebelum ngantuk). 40. Mulyaken ing tetamu (hormati
21. Yen kaya den luhur (jika kaya harus tamu).
dermawan). 41. Aja anglakoni lunga haji ing
22. Aja ilok ngijek rarohi ing wong Makkah (jangan berangkat haji ke
(jangan suka menghina orang lain). Mekkah, jika belum mampu secara
23. Den bisa megeng ing nafsu (harus ekonomis dan kesehatan).
dapat menahan hawa nafsu). 42. Aja munggah gunung gede utawa
24. Angasana diri (harus bisa mawas manjing ing kawah (jangan mendaki
diri). gunung tinggi atau menyelam ke
25. Tepo saliro den adol (tampilan dalam kawah, jika tidak mempunyai
prilaku yang baik). persiapan dan keterampilan).
26. Ngoletena rejeki sing halal (carilah 43. Aja ngimami atau khotbah ing
rejeki yang halal). masjid agung (jangan berkhotbah di
27. Aja akeh kang den pamrih (jangan Masjid Agung, jika belum dewasa
banyak mengharapkan pamrih). dan mempunyai wawasan islam
28. Den suka wenan lan suka yang cukup).
membersih gelis lipur (jika sedih 44. Aja dagangan atawa warungan
jangan diperlihatkan agar cepat (jangan berdagang, jika hanya
hilang). dijadikan tempat bergerombol
29. Gegunem sifat kang pinuji (milik orang).
sifat terpuji). 45. Aja lunga layaran ing lautan (jangan
30. Aja ilok gawe lara ati ing wong berlayar ke lautan, jika tidak
(jangan suka menyakiti hati orang mempunyai persiapan matang).
lain). Dari empat puluh lima kearifan
lokal Cirebon berupa petatah-petitih di
atas peneliti mengambil tiga belas teks anekdot tersebut. Struktur dalam
kearifan lokal Cirebon. Kearifan lokal teks anekdot meliputi (1) abstraksi; (2)
Cirebon tersebut dapat dideskripsikan orientasi; (3) krisis; (4) reaksi; dan (5)
sebagai berikut. koda.
1. Manah den Syukur ing Allah (hati Berdasarkan unsur
harus bersyukur kepada Allah). kebahasaannya, hal-hal yang dianalisis
2. Singkirna sifat kanden wanci (jauhi dari teks anekdot meliputi (1) kalimat
sifat yang tidak baik). yang menyatakan peristiwa masa lalu;
3. Duweha sifat kang wanti (miliki (2) penggunaan kalimat retoris; (3)
sifat yang baik). penggunaan konjungsi yang menyatakan
4. Amapesa ing bina batan (jangan hubungan waktu; (4) penggunaan kata
serakah atau berangasan dalam kerja aksi; (5) penggunaan kalimat
hidup). perintah; dan (6) penggunaan kalimat
5. Aja ilok ngamad kang durung yakin seru.
(jangan suka menduga sesuatu bila Selanjutnya hal-hal yang
belum terbukti kebenarannya). dianalisis adalah isi/makna tersirat dari
6. Aja ilok gawe bobat (jangan suka teks anekdot tersebut. Isi/makna tersirat
berbohong). adalah makna tersembunyi yang terdapat
7. Aja ilok ngijek rarohi ing wong dalam teks anekdot tersebut. Isi/makna
(jangan suka menghina orang lain). tersirat ini dapat diperoleh setelah
8. Angasana diri (harus bisa mawas mebaca teks anekdotnya.
diri). Hal terakhir yang dianalisis
9. Tepo saliro den adol (tampilan adalah kearifan lokal Cirebon. Dalam
prilaku yang baik). teks anekdot tersebut dianalisis apakah
10. Ngoletena rejeki sing halal (carilah terdapat kearifan lokal Cirebon atau
rejeki yang halal). tidak. Kearifan lokal Cirebon ini dilihat
11. Aja akeh kang den pamrih (jangan dari petatah petitih Sunan Gunung Jati.
banyak mengharapkan pamrih). Sepuluh teks anekdot dengan
12. Den suka wenan lan suka berbagai tema ini akan dianalisis satu
membersih gelis lipur (jika sedih persatu dengan instrumen yang sama
jangan diperlihatkan agar cepat sehingga hasilnya diharapkan akan
hilang). menunjukan data sebagai analisis yang
13. Den hormat ing wong tua (harus sebenarnya.
hormat kepada orang tua). Dari hasil analisi sepuluh teks
anekdot tersebut sudah mempunyai
Analisis Teks Anekdot Berbasis struktur, kebahasaan, dan isi yang
Kearifan Lokal Cirebon lengkap juga sudah mengandung
Analisis teks anekdot yang kearifan lokal Cirebon. Hal ini penulis
dilakukan peneliti berjumlah sepuluh tuangkan dalam bentuk bahan ajar teks
buah teks dengan karakteristik dan tema anekdot berbasis kearifan lokal Cirebon.
yang variatif. Teks anekdot tersebut Dari hasil validasi dosen ahli, guru
diambil dari Media Kabar Cirebon, pengajar bahasa Indonesia dan siswa
Fajar Cirebon, Suara Cirebon dan kelas X SMA modul teks anekdot
internet. berbasis kearifan lokal ini sangat layak
Teks Anekdot dianalisis digunakan sebagai bahan ajar siswa
berdasarkan struktur, unsur kebahasaan, kelas X SMA.
isi/makna tersirat dan kearifan lokal
Cirebon. Analisis struktur dilaksanakan
berdasarkan ada tidaknya struktur dalam
D. SIMPULAN lima petatah petitih tersebut peneliti
Berdasarkan analisis hasil mengambil tiga belas kalimat.
penelitian dapat disimpulkan hal-hal 2. Desain bahan ajar teks anekdot
sebagai berikut. berbasis kearifan lokal ini disusun
1. Kesepuluh teks anekdot yang diteliti sebagai berikut. Judul, Kompetensi
memiliki struktur, unsur kebahasaan, Inti, Kompetensi Dasar, indikator,
dan isi/makna tersirat yang lengkap. petunjuk belajar, informasi
Struktur teks anekdot terdiri atas pendukung, tugas-tugas dan
lima bagian yaitu abstraksi, petunjuk kerja, serta penilaian.
orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Kompetensi Dasar yang disampaikan
Abstraksi merupakan bagian awal dalam bahan ajar ini adalah
yang memberikan gambaran umum. kompetensi Dasar 3.5 Mengevaluasi
Orientasi merupakan bagian cerita teks anekdot dari aspek makna
yang mengarah pada terjadinya tersirat; 3.6 Menganalisis struktur
suatu krisis. Krisis merupakan dan kebahasaan teks anekdot; 4.5
bagian dari inti peristiwa suatu Mengontruksi makna tersirat dalam
anekdot. Reaksi merupakan bagian sebuah teks anekdot baik secara lisan
tanggapan atau respon atas krisis maupun tulis; dan 4.6 Menciptakan
yang dinyatakan sebelumnya. kembali teks anekdot dengan
Bagian kelima atau terakhir dari memerhatikan struktur dan
struktur teks anekdot adalah koda. kebahasaan baik lisan maupun tulis.
Koda merupakan bagian penutup Kompetensi Dasar tersebut
atau simpulan sebagai pertanda dituangkan dalam indikator-
berakhirnya cerita. Selain struktur, indikator. Kompetensi Dasar dan
kesepuluh teks anekdot juga indikator terdapat dalam peta
mempunyai unsur- unsurkebahasaan konsep. Setelah Kompetensi Dasar
yang lengkap. Unsur-unsur dan indikator urutan selanjutnya
kebahasaan tersebut terdiri atas adalah informasi pendukung.
kalimat yang menyatakan peristiwa Informasi pendukung memuat uraian
masa lalu, kalimat retoris, tentang pengertian teks anekdot,
penggunaan konjungsi yang contoh-contoh anekdot, struktur,
menyatakan hubungan waktu, unsur kebahasaan dan isi/makna
penggunaan kata kerja aksi, tersirat dalam teks anekdot. Urutan
penggunaan kalimat perintah dan selanjutnya adalah tugas-tugas dan
penggunaan kalimat seru dalam teks petunjuk kerjanya yang harus
anekdot. Selanjutnya adalah dikerjakan oleh peserta didik. Tugas-
isi/makna yang tersirat dalam teks tugas tersebut disesuaikan dengan
anekdot. Isi/makna tersirat adalah indikator-indikator yang harus
makna yang tersembunyi atau dicapai oleh peserta didik. Urutan
makna yang dapat dipahami dengan terakhir dalam bahan ajar tersebut
cara tidak langsung. Isi/makna ini adalah penilain. Penilaian didasarkan
dapat dipahami setelah benar-benar pada cara dan langkah peserta didik
membacanya. Kesepuluh teks dalam memahami dan memaparkan
anekdot tersebut berbasis kearifan struktur, unsur kebahasaan,
lokal yang diambil dari daerah isi/makna tersirat teks anekdot.
Cirebon. Kearifan lokal Cirebon Bahan ajar ini ditutup dengan uji
tersebut berupa petatah petitih Sunan kompetensi. Uji kompetensi
Gunung Jati yang berjumlah empat bertujuan untuk mengukur
puluh lima kalimat, dari empat puluh
kemampuan peserta dalam Praktik Pendidikan dan
memahami teks anekdot. Pendidikan Guru. Bandung : Kiblat
3. Berdasarkan hasil pembelajaran, Buku Utama.
penggunaan bahan ajar berupa Chaer, Abdul. (2011). Cekakak Cekikik
modul teks anekdot berbasis kearifan Jakarta. Jakarta : Rineka Cipta
lokal terbukti efektif. Hal ini Darmansyah. (2010). Strategi
menunjukkan bahwa penggunaan Pembelajaran Menyenangkan
modul telah memotivasi dan dengan Humor. Jakarta : Bumi
mendorong peserta didik dapat Aksara.
mempraktikan kemampuan Effendy, Khasan. (1994) Petatah petitih
membuat teks anekdot. Peserta didik Sunan Gunung Jati ditinjau dari
kelas X SMA memberikan respon Aspek Nilai dan Pendidikan.
kognitif dan efektif yang positif. Bandung : Indra Prahasta.
Peserta didik sangat antusias Iskandarwassid dan Sunendar, D.
menggunakan bahan ajar ini. Hal ini (2011). Strategi Pembelajaran
terbukti ketika pembelajaran Bahasa. Bandung : PT
berlangsung, peserta didik aktif Rosdakarya.
bertanya kepada guru tentang cara Ismawati, Esti. (2011). Perencanaan
membuat teks anekdot. Modul teks Pengajaran Bahasa. Surakarta :
anekdot dapat meningkatkan Yuma Pustaka.
keterampilan peserta didik dalam Julianto. (2014). Pembelajaran Menulis
memahami, mengevaluasi, Teks Anekdot Menggunakan
mengetahui struktur, unsur Metode NLP (Pemograman
kebahasaan, isi/makna tersirat dan Neorolinguistik) dengan teknik
membuat teks anekdot. (4) Respon VAKOT (visual, Audiotory,
siswa dan guru terhadap desain Kinesthetic, Olfactory, and Taste).
bahan ajar teks anekdot berbasis (Eksperimen pada Peserta Didik
kearifan lokal untuk siswa kelas X SMA Negeri 6 Bandung Tahun
SMA ini sangat positif. Hal ini Ajaran 2013/2014). Tesis.
terbukti dalam angket tanggapan Pascasarjana. Bandung :
guru dari 25 indikator guru Universitas Pendidikan Indonesia.
memberikan tanggapan 23 indikator Kementerian Pendidikan dan
sangat baik hanya 2 yang diberi Kebudayaan. (2014). Materi
tanggapan baik. Begitupun dengan Pelatihan Guru, Implementasi
siswa, dari lima siswa yang diberi Kurikulum 2013, Mata Pelajaran
angket tanggapan, mereka Bahasa Indonesia SMA/SMK.
memberikan tanggapan “Ya” Jakarta : Kementerian Pendidikan
sebanyak 12 dari 12 indikator yang dan Kebudayaan.
ditanggapinya. Berdasarkan hasil Kementerian Pendidikan dan
angket tanggapan siswa dan guru Kebudayaan. (2013). Bahasa
dapat dikatakan bahwa bahan ajar Indonesia Ekspresi Diri dan
tersebut berkategori baik dan layak Akademik Kelas X. Jakarta :
digunakan sebagai bahan ajar. Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA Kosasih, Engkos. (2013). Cerdas
Alwasilah, A.C., Suryadi, K., Tri Berbahasa Indonesia untuk
Karyono. (2009). Etnopedagogi: SMA/MA Kelas X. Jakarta :
Landasan Erlangga.
Kosasih, E. (2014). Jenis-jenis Teks SMA. Tesis. Cirebon : Unuversitas
(Analisis Fungsi, Struktur, dan Swadaya Gunung Jati.
Kaidah serta Langkah Rosidi, Ajip. (2011). Kearifan Lokal
Penulisannya). Bandung : Yrama dalam Perspektif Budaya Sunda.
Widya. Bandung : Kiblat.
Maryanto, dkk. (2013). Bahasa Setiawan, A. (1990). Teori Humor.
Indonesia Ekspresi Diri dan Jakarta : Majalah Astaga.
Akademik. Jakarta : Politeknik Sibarani, Robert. (2012). Kearifan Lokal
Negeri Media kreatif. (Hakikat, Peran, dan Metode
Mulyadi, Y. dan Danaira, F. (2013). Tradisi Lisan). Jakarta : Penerbit
Bahasa Indonesia untuk SMA- Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
MA/SMK Kelas X. Bandung : Sugiyono. (2015). Metode Penelitian
Yrama Widya. Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Nurjamal, Daeng dkk. (2013). Terampil Bandung : Alfabeta.
Berbahasa. Bandung : Alfabeta. Sukmadinata, N. (2012). Metode
Nurwicaksono, Bayu Dwi. (2013). Penelitian Pendidikan. Bandung :
Eksplorasi Nilai Budaya dan Pustaka Setia.
Pendidikan Karakter Berbasis Suyatno, Suyono. (2013). “Revitalisasi
Kearifan Lokal dalam Tradisi Kearifan Lokal sebagai Upaya
Lisan “Rupa Bumi” dan Penguatan Identitas
Ancangan Revitalisasinya melalui Keindonesiaan”.
Implementasi Kurikulum 2013 dan http:/www.badanbahasa.kemendik
Program Agrowisata. Tesis. bud.go.id.
Pascasarjana. Bandung : Syamsudin & Vismmaia, S.D. (2009).
Universitas Pendidikan Indonesia. Metode Penelitian Bahasa.
Prastowo, A. (2013). Panduan Kreatif Bandung : Rosda.
Membuat Bahan Ajar Inovatif, Utomo, Budi. (2014). Nilai Budaya dan
Menciptakan Metode Nilai Pendidikan Karakter Cerita
Pembelajaran yang Menarik dan Rakyat di Pualau Bangka dan
Menyenangkan. Yogyakarta : Diva Pemanfaatannya sebagai
Press. Alternatif Bahan Ajar Apresiasi
Rifjiana, Popy Monica. (2015). Sastra di Sekolah Menengah Atas.
Peningkatan Keterampilan Tesis. Pascasarjana. Bandung :
Memproduksi Teks Anekdot Universitas Pendidikan Indonesia.
Berbentuk Dialog Menggunakan Wiratno, Tri. (2013). Pembelajaran
Pendekatan Saintifik dengan Bahasa Berbasis Teks dan Jenis-
Media Audivisual Berbasis jenis Teks. Jakarta : Badan
Pendidikan pada Siswa SMK Pengembangan dan Pembinaan
Negeri 10 Semarang. Skripsi. Bahasa Kemendikbud
Semarang : Universitas Negeri
Semarang.
Romlah, (2017). Kajian Struktur, dan Isi
Teks, serta Kebahasaan Teks
Eksplanasi yang terdapat pada
Media Kabar Cirebon dan
Pemanfaatannya untuk menyusun
Bahan Ajar Teks Eksplanasi di