Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai ilmu terapan, yang bersifat multidisiplin didalam
era global dewasa hadir dan berkembang dalam aspek keilmuannya (di bidang pendidikan
maupun riset) maupun dalam bentuk program-program yang dilaksanakan di berbagai sektor
yang tentunya penerapannya didasari oleh berbagai macam alasan.
Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 45% penduduk dunia dan 58%
penduduk yang berusia diatas sepuluh tahun tergolong tenaga kerja. Diperkirakan dari jumlah
tenaga kerja diatas, sebesar 35% sampai 50% pekerja di dunia terpajan bahaya fisik, kimia,
biologi dan juga bekerja dalam beban kerja fisik dan ergonomi yang melebihi kapasitasnya,
termasuk pula beban psikologis serta stress. Dikatakan juga bahwa hampir sebagain besar
pekerja didunia, sepertiga masa hidupnya terpajan oleh bahaya yang ada di masing-masing
pekerjaanya. Dan yang sangat memperihatinkan adalah bahwa hanya 5% hingga 10% dari
tenaga kerja tadi yang mendapat layanan kesehatan kerja di Negara yang sedang berkembang.
Sedangkan di negara industri tenaga kerja yang memperoleh layanan kesehatan kerja
diperkirakan baru mencapai 50%.
Kenyataan diatas jelas menggambarkan bahwa sebenarnya hak azasi pekerja untuk hidup
sehat dan selamat dewasa ini belum dapat terpenuhi dengan baik. Masih banyak manusia
demi untuk dapat bertahan hidup justru mengorbankan kesehatan dan keselamatannya dengan
bekerja ditempat yang penuh dengan berbagai macam bahaya yang mempunyai risiko
langsung maupun yang baru diketahui risikonya setelah waktu yang cukup lama. Dari uraian
diatas akan dapat dipahami bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai ilmu maupun
sebagai program memang sangat diperlukan untuk menegakkan hak azasi manusia
(khususnya pekerja) untuk hidup sehat dan selamat.
Pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah secara filosofis suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah
tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat adil dan makmur. Secara keilmuan adalah merupakan ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja. Seirama dengan derap langkah pembangunan negara ini kita akan memajukan
industri yang maju dan mandiri dalam rangka mewujudkan era industrialisasi. Proses
industrialisasi maju ditandai antara lain dengan mekanisme, elektrifikasi dan modernisasi.
Dalam keadaan yang demikian maka penggunaan mesin-mesin, pesawat- pesawat, instalasi-
instalasi modern serta bahan berbahaya mungkin makin meningkat.
Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi
meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di
lingkungan kerja. Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi
dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis
kecelakaannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan keselamatan kerja?
2. Bagaimanakah keselamatan kerja di bagian mesin bubut?
3. Apa sajakah kecelakaan kerja yang sering terjadi di bagian mesin bubut?
4. Bagaimana cara mencegah kecelakaan yang terjadi di bagian mesin bubut?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan tentang definisi keselamatan kerja
2. Menjelaskan mengenai keselamatan kerja di bagian mesin bubut
3. Menjelaskan mengenai kecelakaan kerja yang sering terjadi di bagian mesin bubut
4. Menjelaskan mengenai pencegahan kecelakaan di bagian mesin bubut
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Keselamatan Kerja


Yang dimaksud dengan keselamatan kerja disini adalah keselamatan yang berhubungan
dengan peralatan pada tempat kerja pada lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Tujuan adanya keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Menjamin keselamatan setiap orang yang ditempat kerja.
c. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisiensi.
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada
khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera.
Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik
jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan
konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko
kecelakaan di lingkungan kerja.
2.2 Keselamatan Di Tempat Kerja di Bidang Mesin

Keselamatan di tempat kerja khususnya di bagian mesin dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang saling berhubungan, diantaranya yaitu: faktor manusia, faktor lingkungan kerja, dan
faktor mesin itu sendiri.
1. Faktor manusia/pribadi
Faktor manusia disini meliputi, antara lain kemampuan fisik, mental dan psikologi,
pengetahuan, keterampilan, dan kelalaian. Pekerja yang sedang mengalami gangguan pada
fisik, mental, dan psikologinya tidak dibenarkan melakukan pekerjaan apalagi yang
berhubungan dengan mesin karena pekerjaan di bidang mesin memerlukan konsentrasi dan
kewaspadaan yang tinggi sehingga dapat melakukan prosedur kerja yang sesuai dengan
ketentuan agar tidak terjadi kecelakaan yang mungkin dapat menyebabkan kecacatan pada
tenaga kerja. Selain itu, faktor pengetahuan dan keterampilan yang cukup juga diperlukan
pekerja sebelum melakukan pekerjaannya khususnya di bidang mesin sehingga pekerja
mampu mengoperasikan mesin dengan baik tanpa menyebabkan bahaya pada dirinya sendiri.
Selain faktor-faktor diatas, sebelum memasuki tempat kerja (di bagian mesin) juga terdapat
hal-hal yang perlu dilakukan oleh pekerja agar meminimalisir kecelakaan kerja yaitu dengan
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Alat pelindung diri yang diperlukan dalam
menjalankan pekerjaan di bagian mesin antara lain:
1. Sepatu Pelindung (Safety Shoes), berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang
menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dan
sebagainya.
2. Kacamata Pengaman (Safety Glasses), berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja
(misal membubut).
3. Baju kerja, Baju harus dapat melindungi pekerja dari luka akibat beram, serpihan benda
kerja, goresangoresan dan panas. Pakaian harus benar-benar ter-ikat atau pas dengan
pemakainya. Dalam bekerja, baju terkancing secara sempurna, sehingga tidak ada bagian-
bagian anggota badan yang terbuka atau tidak terlindungi.

2. Faktor lingkungan kerja


Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang atau keryawan dalam beraktifitas
bekerja. Lingkungan kerja yang mendukung keselamatan dalam aktivitas bekerja di bidang
mesin antara lain: pencahayaan, Suhu, kebersihan tempat kerja, dan pemasangan tanda-tanda
peringatan seperti poster.

a. Pencahayaan
Pencahayaan didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan. Satuannya
adalah lux (1 lm/m2), dimana lm adalah lumens atau lux cahaya. Salah satu faktor penting
dari lingkkungan kerja yang dapat memberikan kepuasan dan produktivitas adalah adanya
penerangan yang baik. Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan
pekerja dapat melihat obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas dan cepat.
Tenaga kerja disamping harus dengan jelas dapat melihat obyek-obyek yang sedang
dikerjakan juga harus dapat melihat dengan jelas pula benda atau alat dan tempat disekitarnya
yang mungkin mengakibatkan kecelakaan. Maka penerangan umum harus memadai. Dalam
suatu pabrik dimana terdapat banyak mesin dan proses pekerjaan yang berbahaya maka
penerangan harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi kecelakaan kerja.
Pekerjaan yang berbahaya harus dapat diamati dengan jelas dan cepat, karena banyak
kecelakaan terjadi akibat penerangan kurang memadai.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
dan Industri menyaratkan bahwa standar pencahayaan di tempat kerja khususnya di bidang
mesin adalah minimal 200 lux.

b. Suhu/temperatur
Manusia selalu berusaha mempertahankan keadaan normal tubuh dengan sistem tubuh yang
sangat sempurna sehingga dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi diluar
tubuhnya. Tubuh manusia menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk melakukan proses
konveksi, radiasi, dan penguapan juka terjadi kekurangan atau kelebihan yang
membebaninya. Tetapi, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan temperatur luar jika
perubahannya tidak melebihi 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin
terhadap temperatur normal ± 24 °C.
Temperatur udara lebih rendah dari 37 C berati temparatur udara ini dibawah kemampuan
tubuh unutk menyesuaikasn didi (35% dibawah normal), maka tubuh manuasia akan
mengalami kedinginan, karena hilangnya panas tubuh yang sebagian besar diakibatkan oleh
konveksi dan radiasi, juga sebagian kecil akibat penguapan. Sebaliknya jika temperatur udara
terlalu panas dibanding temperatur tubuh, maka tubuh akan menerima panas akibat konveksi
dan radiasi yang jauh lebih besar dari kemampuan tubuh untuk mendinginkan tubuhnya
malalui sistem penguapan. Hal ini menyebabkan temperatur tubuh menjadi ikut naik dengan
tingginya temperatur udara. Temparatur yang terlalu dingin akan mengakibatkan gairah kerja
menurun. Sedangkan temperatur udara yang terlampau panas, akan mengakibatkan cepat
timbulnya kelelahan tubuh dan cenderung melakukan kesalahan dalam bekerja.
Untuk tenaga kerja yang terpapar lingkungan yang panas dan lembab maka kecepatan angin
harus diperhatikan agar evaporasi dapat berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang
dianjurkan tenaga kerja yang terpapar panas pada berbagai suhu adalah sebagai berikut:

Tabel 1
Suhu dan Kecepatan Angin
Suhu (˚C) Kecepatan Angin (m/detik)
16 – 20 0,25
21 – 22 0,25 – 0,30
24 – 25 0,40 – 0,60
26 – 27 0,70 - 1,00
28 - 30 1,10 – 1,30

c. Kebersihan Tempat Kerja


Keadaan tempat kerja yang berdebu, licin, becek, berminyak, dan berbau menyengat juga
dapat mempengaruhi konsentrasi pekerja sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya tempat kerja perlu dibersihkan dahulu sebelum melakukan
pekerjaan.

d. Tanda-tanda Peringatan
• Tanda Larangan:
Tanda larangan adalah sebuah tanda yang biasa digunakan sebagai larangan untuk melakukan
sesuatu pada tempat tertentu seperti:
o Dilarang buang sampah sembarangan
o Dilarang masuk
o Dilarang Merokok

• Tanda Perintah:
Tanda perintah adalah tanda yang digunakan untuk menyuruh seseorang
menggunakan/melakukan sesuatu hal seperti:
o Gunakan safety shoes
o Gunakan safety glasses
o Tingkatkan kewaspadaan
o Gunakan PPPK
o Tanggap terhadap kecelakaan

3. Faktor Mesin
Faktor yang disebabkan oleh mesin yang dapat menyebabkan kecelakaan pada pekerja adalah
keadaan mesin yang tidak baik (ada bagian yang rusak), mesin tanpa alat pengaman, dan
kebisingan yang disebabkan oleh mesin.
Untuk mencegah kecelakaan kerja yang disebabkan oleh mesin dapat dilakukan dengan:
• Perawatan Mesin
Perawatan mesin adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk
menjaga suatu barang, memperbaikinya sampai pada suatu kondisi yang dapat diterima.
Perawatan pada umumnya dilakukan dengan dua cara: 1) Perawatan setelah terjadi kerusakan
(Breakdown maintenance), dan 2) Perawatan preventif (preventive maintenance).
Perawatan setelah terjadi kerusakan (Breakdown maintenance). Perbaikan dilakukan pada
mesin ketika mesinnya telah mengalami kerusakan. Kerusakan pada mesin disebabkan antara
lain karena:
a) Proses kerusakan komponen yang tidak dapat diperkirakan dan tidak dpat dicegah.
b) Kerusakan yang terjadi berangsur-angsur dan berkurangnya kekuatan komponen karena
pemakaian/keausan. Kejadian ini dapat diatasi dengan adanya inspeksi yang teratur dan
mengetahui cara pencegahannya.

Perawatan preventif (preventive maintenance). Pekerjaan perawatan preventif ini dilakukan


dengan mengadakan inspeksi dan pelumasan. Frekuensi inspeksi ditetapkan menurut tingkat
kepentingan mesin, tingkat kerusakan dan kelemahan mesin. Program perawatan harus dibuat
secara lengkap dan teperinci menurut spesifikasi yang diperlukan, seperti adanya jadwal
harian, mingguan, bulanan, tiap tiga bulan, tiap setengah tahun, setiap tahun dan sebagainya.
2.3 Bahaya Yang Ditimbulkan Oleh Mesin Bubut
Berikut beberapa bahaya yang terjadi pada mesin bubut :
a) Tangan masuk ke putaran spindel
b) Mata terkena gram besi yang terlempar
c) Kaki terjatuhan benda kerja yang berat
d) Tangan terkena pahat
e) Rambut atau baju tersangkut pada mesin dan tertarik sehingga kepala terluka (mesin
bubut).
2.4 Pencegahan Kecelakaan Kerja Oleh Mesin
Pencegahan kecelakaan kerja pada bagian mesin perlu dilakukan sebelum, sewaktu, dan
setelah bekerja.
a. Sebelum bekerja
Keselamatan kerja yang harus diperhatikan sebelum melaksakan pekerja meliputi:
• Persiapan dan pemakaian pelengkapan keselamatan kerja untuk si pekerja yakni; pakaian
kerja sepatu kerja, kaca mata pelindung, dll
• Pemeriksaan alat-alat dan perlengkapan yang digunakan seperti; pemeriksaan
perlengkapan pengaman pada mesin-mesin dan lain-lain
• Pemeriksaan terhadap bahan yang akan dipekerjakan seperti pemeriksaan sisi-sisi benda
kerja yang tajam.
• Lingkungan tempat bekerja juga perlu diperhatikan, sebab lingkungan kerja yang nyaman
dapat memberikan motivasi terhadap pekerja untuk bekerja lebih kosenstrasi, sehingga
kemungkinan terjadinya kecelakaan kecil terjadi.

b. Sewaktu bekerja
Perhatikan keselamatan kerja sewaktu bekerja perlu mendapat perhatian yang serius, sebab
biasanya kecelakaan yang sering terjadi adalah sewaktu melaksakan pekerjaan. Usaha-usaha
yang diperlakukan untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kecelakaan dapat ditempuh
dengan jalan sebagai berikut:
• Menggunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.
• Jangan coba-coba mengoperasikan mesin yang tidak diketahui prinsip-prinsip kerja yang
benar tehadap pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan.
• Pekerja harus menguasai pengetahuan keselamatan kerja.
• Konsentrasi penuh dalam bekerja.

c. Selesai Bekerja
Setelah selesai bekerja keselamatan kerja juga perlu mendapat perhatian. Sebab akibat-akibat
yang sering terjadi setelah selesai bekerja ini diantaranya terjadi kerusakan pada peralatan
dan mesin-mesin, juga memungkinkan terjadinya kecelakaan terhadap pekerja dan
lingkungan tempat bekerja. Di samping itu kelalaian yang sering terjadi adalah lupa
mematikan panel kontrol listrik. Hal ini sangat membahayakan bagi pekerja lainnya yang
tidak mengetahui seperti tanpa sengaja menekan tombol mesin atau terpijaknya kabel arus
listrik dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan.
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi
proyek. Keselamatan di tempat kerja khususnya di bagian mesin bubut dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang saling berhubungan, diantaranya yaitu: faktor manusia, faktor
lingkungan kerja, dan faktor mesin itu sendiri. Faktor manusia disini meliputi, antara lain
kemampuan fisik, mental dan psikologi, pengetahuan, keterampilan, dan kelalaian. Selain itu,
sebelum memasuki tempat kerja (di bagian mesin) juga terhadapat hal-hal yang perlu
dilakukan oleh pekerja agar meminimalisir kecelakaan kerja yaitu dengan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD).
Lingkungan kerja yang mendukung keselamatan dalam aktivitas bekerja di bidang mesin
antara lain: pencahayaan, Suhu, kebersihan tempat kerja, dan pemasangan tanda-tanda
peringatan seperti poster.
Faktor yang disebabkan oleh mesin yang dapat menyebabkan kecelakaan pada pekerja adalah
keadaan mesin yang tidak baik (ada bagian yang rusak), mesin tanpa alat pengaman, dan
kebisingan yang disebabkan oleh mesin. Untuk mencegah kecelakaan kerja yang disebabkan
oleh mesin dapat dilakukan dengan perawatan mesin, pemberian alat pengaman pada mesin,
dan pemasangan alat pengendali kebisingan pada mesin.

3.2 Saran
Keselamatan kerja hanya dapat diwujudkan jika semua pihak dari suatu industri ataupun
organisasi saling bekerja sama mulai dari dosen sampai pada mahasiswa sehingga dapat
saling mengingatkan jika ada salah satu pihak yang lalai melaksanakan ketentuan
keselamatan kerja.
Sejarah dan Pengertian Mesin Bubut
Sejarah berawal ketika manusia pertama kali membangun sebuah rangka kaku
berbentuk bantalan untuk mendukung benda kerja yang dapat diputar pada sebuah kumparan
dan dipotong menjadi bentuk melingkar dengan alat genggam. Metode tersebut digunakan
pertama kali untuk pembuatan cawan pada tahun 1200 SM.
Bermacam-macam pembubutan di setiap Negara. Pembubut dari Timur awalnya
duduk di tanah dengan menggunakan satu tangan untuk memutar kumparan, tangan lain
memegang gagang pahat. Mereka menggunakan satu kaki untuk menjaga kestabilan mesin
bubut. Di China, orang duduk di mesin bubut dan menggunakan kakinya untuk membuat
gerakan bolak-balik (reciprocating) oleh pedal secara bergantian kaki kiri dan kanan pada
papan yang dikaitkan pada tali yang dililitkan pada mesin spindle bubut, sehingga membuat
kedua tangan bebas untuk memegang dan mengarahkan pahat pemotong. Orang Barat, lebih
memilih untuk berdiri di mesin bubut. Mereka mengembangkan mesin bubut tiang dimana
hanya satu kaki yang dibutuhkan untuk gerakan bolak-balik.
Perkembangan berikutnya dari Mendelsches Bruderbuch 1395, menunjukkan bingkai
bubut dan eretan yang terbuat dari kayu-kayu yang berat untuk meningkatkan kekakuan.
Leonardo, pengganti Jacques Besson sebagai insinyur di Pengadilan Perancis, juga
tertarik pada pengembangan mesin bubut dan membawa beberapa ide menjadi realitas praktis
dengan membangun sebuah sekrup-pemotongan dan dua mesin bubut hias berputar.
Pada tahun 1615 Salomon de Caus dari Wales menggambarkan sebuah mesin bubut
eksentrik (Eccentric Lathe) untuk mengubah benda oval. Untuk pertama kalinya mesin bubut
spindle yang dapat diubah di bawah kendali eksentrik Cams terhadap tekanan tegangan tali.
Pada tahun 1797, Henry Mauldslay (1771-1831) mendesain dan membuat mesin
bubut yang disebut sebagai screw cutting lathe, salah satu karyanya yang berkembang di
Negara bagian New England.
Mesin bubut itu sendiri adalah suatu mesin perkakas yang digunakan untuk
membentuk benda kerja dengan gerak utama berputar. Sedangkan, membubut merupakan
sebuah proses pembentukkan benda kerja menggunakan mesin bubut yang gerak potongnya
dilakukan dengan memutar benda kerja dan pahat digerakkan secara translasi sejajar dengan
sumbu putar dari benda kerja.
Prinsip kerja dari mesin bubut adalah benda kerja yang berputar, sedangkan pahat
bubut bergerak memanjang dan melintang. Dari kerja ini dihasilkan potongan dan benda
kerja yang umumnya simetris dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja
dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran yang
berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda gigi translasi yang
menghubungkan poros spindle dengan poros ulir. Mesin bubut dapat digunakan untuk
membuat bidang-bidang silindris luar dan dalam (membubut lurus dan mengebor), bidang
rata (membubut rata), bidang tirus (kerucut), bentuk lengkung (bola), dan membubut ulir,
Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir.
Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15
sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. Roda gigi penukar dengan jumlah 127
mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi dari ulir metrik ke ulir inci.
Tedy's Blog
Sabtu, 16 Januari 2016
MAKALAH MESIN BUBUT

LAPORAN

METODOLOGI PENELITIAN

MESIN BUBUT

DI SUSUN OLEH :

NAMA : MUHAMAD TEDY

NPM : 25413788

KELAS : 3IC05
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

JURUSAN TEKNIK MESIN

UNIVERSITAS GUNADARMA

BEKASI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mesin bubut adalah mesin yang dibuat dari logam, gunanya untuk membentuk benda
kerja dengan cara menyayat, gerakan utamanya adalah berputar. Di bidang industri, keadaan
mesin bubut sangat berperan, terutama didalam industri permesinan. Misalnya dalam industri
otomotif, mesin bubut berperan dalam pembuatan komponen-komponen kendaraan, seperti
mur, baut,roda gigi, poros, tromol dan lain sebagainya.Penggunaan mesin bubut juga dapat
dihubungkan dengan mesin lainseperti mesin bor ( drilling machine ), mesin gerinda ( grinding
machine), mesinfrais ( milling machine ), mesin sekrap ( shaping machine), mesin gergaji
( sawing machine) dan mesin-mesin yang lainnya. Namun ada salah satu hal yang paling penting
dari sebuah mesin adalah perawatannya.

Tulisan ini dibuat karena masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang mesin bubut
dan pengertian kecepatan tersebut terutama masyarakat yang tinggal diluar perkotaan atau
para pemula yang mula belajar montir, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pemakaian dan
kurang memperhatikan aspek-aspek keselamatan kerja.

1.2 Perumusan Masalah

Permasalah yang akan dibahas pada karya tulis ini adalah masalah menyangkut prinsip
kerja mesin bubut, Keunggulan dan kelemahan mesin bubut, serta pemeliharaan mesin bubut.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka perumusan masalah dalam
pembuatan perencanaan perawatan ini adalah :

a.Apa itu mesin bubut ?

b.Apa fungsi utama komponen mesin bubut ?

c.Apa sajakah sumber yang terkait dengan pekerjaan perawatan mesin bubut

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai salah satutugas mata kuliah
metodologi penelitian Fakultas Teknologi industri Jurusan Teknik Mesin Universitas
Gunadarma dan untuk mempelajari proses pengerjaan logam melalui pemotongan dan
mengetahui prinsip kerja mesin bubut serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari .

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah studi literature yang
berkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas. Sumber dari data kepustakaan diperoleh
dari buku-buku dan internet yang berhubungan dengan mesin bubut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN MESIN BUBUT

Proses bubut merupakan proses pengerjaan material dimana benda kerja dan alat pahat
bergerak mendatar(searah meja/bed mesin),melintang atau membentuk sudut secara perlahan dan
teratur baik secara otomatis atau pun manual. Pada proses pembubutan berlangsung, benda kerja
berputar dan pahat disentuhkan pada benda kerja sehingga terjadi penyayatan. Penyayatan dapat
dilakukan kearah kiri atau kanan,sehingga menghasilkan benda kerja yang berbentuk silinder. Jika
penyayatan dilakukan melintang maka akan menghasilkan bentuk alur, pemotongan atau
permukaan yang disebut facing (membubut muka).

Selain dapat dilakukan kearah samping dan kearah melintang, penyayatan dapat juga
diarahkan miring dengan cara memutarkan eretan atas sehingga menghasilkan benda kerja yang
berbentuk konis/tirus. Penyayatan yang beralur dengan kecepatan dan putaran tertentu dapat
menghasilkan alur yang teratur seperti membubut ulir. Penyayatan dapat dilakukan dari luar
maupun dari dalam. Penyayatan yang dilakukan dari luar disebut membubut luar(outside turning),
sedangkan penyayatan yang dilakukan dibagian dalam atau pada lubang disebut membubut
dalam(inside turning). Bubut dalam berupa rongga, ulir dalam, lubang tembus, atau lubang tidak
tembus.

2.2 Prinsip Kerja dan Gerakan Utama Mesin Bubut

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda
gigi pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros
ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi pada eretan yang
membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.

Sedangkan gerakan-gerakan utama pada mesin bubut yaitu:

a.
2

Gerakan berputar, yaitu bentuk gerakan rotasi dari benda kerja yang digerakanpada pahat dan
dinamakan gerak potong.
b. Gerakan memanjang, yaitu bentuk gerakan apabila arah pemotonganna sejajar dengan sumbu
kerja. Gerakan ini disebut juga dengan gerakan pemakanan.

c. Gerakan melintang, yaitu bentuk gerakan apabila arah pemotongan tegak lurus terhadap sumbu
kerja. Gerakan ini disebut dengan gerakan melintang atau pemotongan permukaan.

Ketiga bentuk gerakan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.2

Gerakan-gerakan dalam membubut

2.3 Jenis Geram (chip)

Dilihat dari ukuran pajang pendeknya adalah :

a. Chip Discontinous
b. Geram Continous

c. Geram Continous dengan built up edge (BUE)

d. BUE akan hilang dengan meningkatnya kecepatan


BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Mesin Bubut dan Konstruksinya

Mesin bubut termasuk mesin perkakas dengan gerak utama berputar. Ditinjau dari daya
penggerak dan ukurannya, mesin bubut dikelompokkan menjadi:

A. Jenis - jenis mesin bubut


1. Mesin Bubut Ringan

Gambar 3.1 Mesin Bubut Ringan

Mesin bubut ringan adalah mesin bubut dengan daya dan ukuran serta bobot yang ringan.
Mesin ini biasanya diletakkan diatas meja atau bangku, sehingga disebut mesin bubut lantai.

2. Mesin Bubut Sedang


Gambar 3.2 Mesin Bubut Sedang

Mesin bubut sedang adalah mesin bubut yang mempunyai daya dan kapasitas serta ukuran
sedang. Mesin ini digunakan untuk memperbaiki peralatan-peralatan teknik yang mempunyai
ukuran yang sedang. Mesin bubut sedang terdiri atas mesin bubut Bantu dan mesin bubut lantai.
Pada mesin bubut sedang dimungkinkan untuk membubut produk yang mempunyai benda kerja
dengan bentuk yang lebih bervariasi.

3. Mesin Bubut Standar

Konstruksi mesin bubut standar mempunyai ukuran lebih besar dan peralatan yang lebih
lengkap. Mesin ini digunakan untuk membuat produk atau memperbaiki peralatan-peralatan teknik
dengan tingkat kekasaran yang standar. Ditinjau dari transmisi dan daya penggerak sumbu
utamanya, terdiri atas

a. mesin bubut standar dengan transmisi roda sabuk: mesin bubut yang hubungan antara putaran dari
motor penggerak ke sumbu utamanya menggunakan sabuk(belt).

b. Mesin bubut standar dengan transmisi roda rantai: mesin bubut standar yang hubungan puatran
motor penggerak ke poros utamanya menggunakan transmisi rantai dan roda rantai.

c. Mesin bubut standar dengan transmisi roda gigi: mesin bubut standar yang hubungan putaran dari
motor penggerak kesumbu utamanya diatur dengan roda gigi yang terpasang pada roda gigi
transmisi.

4. Mesin Bubut Khusus

Mesin bubut khusus adalah mesin bubut yang digunakan untuk membuat atau memperbaiki
alat-alat teknik yang tidak dapat dikerjakan pada mesin bubut standar. Mesin bubut khusus terdiri
atas:
a. Mesin Bubut Beralas Panjang

Mesin bubut beralas panjang biasa digunakan untuk mengerjakan poros-poros atau benda kerja
yang berukuran panjang. Misalnya: poros-poros kapal laut, poros-poros untuk peralatan alat-alat
pada pekerjaan tambang, dan semacamnya.

b. Mesin Bubut Carrousel

Mesin bubut carrousel adalah mesin bubut yang sumbu utamanya vertikal dan cekam berbentuk
meja putar. Benda kerja diletakkan diatas meja putar dan pahat dapat digerakan kearah vertikal
maupun kearah melintang.

Mesin bubut carrousel dgunakan untuk membubut benda-benda kerja yang mempunyai
diameter besar dengan ukuran antara 1 m s.d 2 m.

Sedangkan untuk mesin bubut carrousel yang berukuran kecil dapat membubut benda kerja
yang mempunyai ukuran antara 300 mm sampai dengan 400mm.

Mesin bubut carrousel mempunyai keungulan dibandingkan dengan mesin bubut horizontal
biasa. Beberapa kelebihan mesin bubut carrousel dibandingkan degan mesin bubut horizontal biasa,
antara lain:

 Mesin bubtu carrousel tidak memerlukan tempat yang luas dibandingkan dengan mesin bubut biasa
karena arahnya vertical (keatas).

 Mesin bubut carrousel dapat menahan beban lebih besar.

 Pengencangan pada mesin bubut carrousel jauh lebih ringan dibandingkan dengan mesin bubut
horizontal. Hal ini dikarenakan benda kerja ditempatkan diatas meja putar.
 Benda kerja pada mesin bubut carrousel dilayani dengan menggunakan cran. Benda-benda kerja
yang dapat dikerjakan pada mesin carrousel antara lain: rumah-rumah blower,rumah turbin dan
semacamnya.

c. Mesin Bubut Revolver


Mesin bubut revorver disebut juga mesin bubut turret. Pada mesin bubut revolver terdapat
pemegang pahat yang banyak, dengan kedudukan dan macam pahat yang berbeda dan dapat diatur
sesuai dengan kebutuhan.

d. Mesin poros engkol

Mesin bubut poros engkol adalah mesin bubut yang digunakan untuk memperbaiki atau membuat
benda kerja yang eksentrik, misalnya: poros eksentrik atau poros engkol.

e. Mesin bubut copy


Mesin bubut copy adalah mesin bubut yang membentuk benda kerja dengan menggunakan contoh
(maket). Pengoperasiannya dilakukan dengan cara mengcopy dari maket yang telah dibuat
sebelumnya.

B. Bagian-bagian mesin bubut


1. Bed mesin / alas mesin: mempunyai bentuk profil memanjang yang berfungsi untuk
mendapatkan kedudukan eretan kepala lepas dan bril atau penyangga. Bed mesin
harus dilumasi supaya eretan dapat digeserkan kekiri dan kekanan dengan lancar
dan terhindar dari korosi. Alur yag mempunayi profil digunakan sebagai jalan dari
eretan dan kepala lepas.
Gambar2

alasmesin
bubut

2. Kepala tetap: mempunyai sumbu utama dengan gerak utama berputar. Sumbu
utama merupakan poros transmisi dengan pully bertingkat atau roda gigi bertingkat,
sehingga pada kepala tetap mesin bubut terdapat lemari roda gigi dengan handle-
handle pengatur putaran sumbu utamanya.

Pengaturan putaran dapat menggunakan pully bertingkat yang dihubungkan dengan motor
penggerak dan roda gigi bertingkat yang berada pada lemari roda gigi.

Gambar3
Kepalatetap

3. Eretan: bagian mesin yang digunakan untuk penyetelan, pemindahan posisi pahat
kearah memanjang, yang dapat dilakukan dengan gerakan kekiri atau kekanan
secara manual maupun otomatis. Eretan ditempatkan diatas bed mesin yang dapat
di gerakkan manual mau pun otomatis.

a. Eretan memanjang biasanya digunakan untuk menggerakkan atau menyetel posisi pahat kearah
sumbu memanjang pada saat mesin sedang berjalan maupun saat mesin dalam keadaan mati.
b. Eretan melintang ditempatkan memanjang dan gunanya untuk mengatur posisi pahat kearah
melintang. Pahat bubut dapat diatur mendekati atau menjauhi operator. Jika roda pemutar diputar
kekiri maka gerakan atau posisi pahat akan mendekati operator dan jika diputar kekanan maka akan
menjauhi operator.

c. Eretan atas: antara eretan melintang dan eretan atas dipasang support yang dilengkapi dengan skala
derajat.

4. Kepala lepas mesin bubut

Adalah bagian mesin bubut yang berfungsi untuk mendapatkan senter kepala lepas, bor, senter bor,
tap atau reamer. Untuk membubut benda kerja yang panjang, biasanya benda kerja ini dipasang
diantara dua senter kepala lepas dan kepala tetap. Kepala lepas juga berfungsi agar benda kerja
tetap berputar pada sumbunya.
Gambar4

Kepalalepas

5. Penyangga

Penyangga digunakan pada saat membubut batang ulir yang panjang,dapat juga berfungsi sebagai
penahan gaya sentrifugal akibat putaran tinggi.
a. penyangga tetap: Penyangga ini dikunci pada bed mesin agar benda kerja dapat berputar tetap pada
sumbunya.

Gambar5

Penyanggatetap

b. Penyangga jalan: dipasang pada eretan yang dikunci dengan baut. Fungsinya untuk menahan atau
menyangga benda kerja dari lengkungan akibat gaya tekan dari pahat saat pemotongan atau
penyayatan berlangsung.
Gambar6

Penyanggaberjalan

6. Batang transportur dan batang pengantar

Batang transportur dan batang pengantar berfungsi untuk menggerakkan eretan secara otomatis
kekiri atau kekanan saat operasi pembubutan berlangsung.batang transportur tidak berulir tetapi
mempunyai alur pasak yang berfungsi untuk memutarkan roda gigi yang berada pada eretan
sehingga dapat bergerak kekiri atau kekanan dengan teratur. Putaran pada poros transportur ini
dapat diatur sesuai dengan posisi putaran pada lemari roda gigi yang tersedia sehingga kecepatan
sayatnya dapat diatur.

7. Penjepit Pahat

Penjepit pahat yaitu rumah pahat yang dipasang diatas eretan. Penjepit pahat berfungsi
sebagai penjepit pahat bubut agar posisi mata pahat benda tetap kuat sejajar dengan sumbu benda
kerja.
Penjepit pahat ada yang mempunyai tempat pahat lebih dari satu sehingga untuk
pembubutan tertentu dapat dipasang beberapa macam pahat sekaligus pada penjepit pahat dan
digunakan sesuai dengan urutan operasi pembubutannya.

Gambar7

Penjepitpahat

3.2 Pahat Bubut

Pahat bubut adalah penyayat yang digunakan pada mesin bubut. benda kerja bergerak
berputar, disayat dengan pahat yang dapat digerakkan kekiri, kekanan,atau kedepan sesuai dengan
gerakkan penyayatan yang diperlukan.

1. Bahan Pahat Bubut


Bahan pahat bubut harus mempunyai sifat-sifat,yaitu:

 Tahan panas agar ketajaman sisi potong tidak mudah aus pada suhu tinggi akibat gesekan

 Ulet sisi potong tidak mudah patah

 Keras agar dapat menyayat benda kerja

 Ekonomis sehingga dalam perawatan mudah dan pangadaannya murah

Bahan yang memenuhi persyaratan untuk membuat pahat bubut, yaitu:

 Baja karbon tinggi: baja yang mempunyai kandungan karbon 0,5 % sampai 1.5 %. Pahat ini
digunakan untuk membubut bahan benda kerja yang lunak.

 Baja kecepatan tinggi: baja yang mengandung karbon, kromium,vanadium dan molydenum

 Paduan cor bukan besi: bahan yang mengandung wolfram 12-15 %, cobalt 40-50 %, chrome 15- 35 %
ditambah karbon 1-4 %.

 Carbide: pahat bubut carbide mengandung wolfram-carbide dan cobalt dengan persentase berkisar
94 % wolfram-carbide dn 6 % cobalt. Pahat ini cocok untuk membubut besi cor.

 Intan: Biasa digunakan untuk finishing pada mesin-mesin khusus. Tahan sampai suhu 900oC.

 Ceramic: bahan ini dicampur dengan srbuk aluminium-oksida , titanium, magnesium, dan chrome
dengan pengikat keramik. Bahan ini mempunyai kekuatan tekanan tinggi tetapi agak rapuh.

2. Bentuk pahat bubut dan fungsinya:

 Pahat ISO 1(Staight Shank Tool)

Biasa digunakan pada proses roughing memanjang

 Pahat ISO 2(Bent shank tool)

Untuk proses roughing memanjang dan juga bias untuk membuka muka(fancing) dan membuat
Chamfer

 Pahat ISO 3(Offset corner cutting tool)

Untuk proses finishing memanjang dan facing dari arah dalam menuju luar

 Pahat ISO 4(Board edge tool)


Untuk memebuat undercut yang lebar dan juga untuk finshing memanjang dengan kedalaman
pemakanan yang kecil

 Pahat ISO 5(Offset face turning tool)

Untuk proses facing dari arah luar menuju kedalam

 Pahat ISO 6(Offset side cutting turning tool)

Untuk proses finishing memanjang dan proses facing tetapi pahat harus miring sedikit untuk facing
kearah luar

 Pahat ISO 7(parting tool)

Untuk membuat undercut,memotong ataupun untuk finshing memanjang

 Pahat ISO 8(Boring tool)

Untuk boring dengan lubang tembus

 Pahat ISO 9(Corner boring tool)

Digunakan untuk proses boring, dengan lubang tidak tembus

3. Bentuk Mata Pahat Bubut

Bentuk –bentuk mata bubut harus disesuaikan dengan fungsi pengerjaannya, diantaranya:

 Pahat potong

 Pahat alur

 Pahat lurus kanan

 Pahat lurus kiri

 Pahat bengkok kiri

 Pahat bengkok kanan

 Pahat sisi kiri

 Pahat sisi kanan


 Pahat bubut dalam

 Pahat kerong

 Pahat profil

4. Sudut Mata Pahat Bubut

Pahat bubut dalam perdagangan dapat berupa batangan dengan penampang bujur sangkar, segi
empat, bulat, atau bentuk-bentuk lain.

Pada saat mengasah pahat bubut kita harus memperhatikan sudut mata pahatnya:

 Sudut tatal

 Sudut bebas sisi

 Sudut bebas muka

 Sudut bebas mata potong

5. Pemasangan pahat bubut

Selama pengerjaan, pahat ditekan oleh tenaga potong (cutting force). Besarnya tenaga tenaga ni
tergantung dari daya tahan benda kerja dan penampang chip.

Dengan memasang pahat pada baut pengunci (clamping bolt) , terjadilah getaran yang kuat di
antara permukaan penyangga pahat dengan penjepit pahat. Oleh karena itu pahat harus dipegang
dengan kuat dan aman.

Jika pahat dipasang, misalnya di atas atau di bawah center, maka besarmya sudut bebas dan
sudut buang akan berubah.

Pemasangan diatas center,maka :

Getaran yang terjadi di antara permukaan bebas dari pahat dengan benda kerja menjadi lebih
besar,sehingga chip yang lebih tebal pun dapat dihilangkan dengan mudah. Pemasangan pahat di
atas center kira-kira sampai dengan 2% dari diameter benda kerja.

Pemasanangan di bawah center,maka :


Getaran di antara permukaan bebas dan permukaan potong menjadi lebih kecil,chip sukar
dihilangkan. Karena gaya atau tenaga potong, pahat tidak boleh dipasang terlalu menonjol karena
pahat dapat bengkok. Oleh karena itu penonjolan pahat harus sesuai dengan batas yang diijinkan.

3.3 Sistem Pencekaman

Untuk memegang benda kerja yang akan dikerjakan dalam mesin bubut diperlukan alat
pencekam yang kokoh. Alat ini dipasang pada spindle utama dengan beberapa metode, antara
laindengan spindle bentuk berulir, dengan pasak melintang, dengan pasangan mur dan baut.

1. Pencekaman denagan chuck

Macam-macam chuck:
 Three jaw chuck: Untuk mencekam benda kerja yang silindris atau bidang persegi kelipatan tiga yang
simetri.

 Four jaw chuck: Untuk mencekam benda kerja yang silindris atau bidang bersegi kelipatan empat
yang simetri.

Menurut gerakan rahang dari chuck maka dibedakan yaitu:

 Universal chuck, dimana rahang-rahang dari chuck dapat bergerak maju/mundur secara bersamaan.

 Independet chuck, dimana rahang-rahang dari chuck bergerak maju / mundur secara sendiri-sendiri.
Keuntungannya yaitu bias mencekam benda kerja yang mempunyai bentuk tidak teratur,eksentrik
dan lebih kuat.

2. Pemasangan benda kerja pada cekam

 Outside grip untuk mencekam benda berdiameter besar.


 Inside grip untuk pencekaman benda kerja dengan memberikan gaya pada diameter dalam.
 Outside grip untuk pencekaman benda kerja berdiameter kecil.

3. 4 Parameter-Parameter Pemotongan Logam Dalam Pemesinan Bubut dan Perhitungan Putaran


Mesin

1. Kecepatan Potong

Cutting speed atau kecepatan potong adalah kecepatan potong pada putaran utama. Bila
benda kerja berputar satu kali, panjang yang dilalui oleh pahat sama dengan keliling benda kerja.
Kecepatan potong tidak dapat dipilih sembarangan. Bila kecepatan potong rendah akan
memakan waktu dalam dalam mengerjakannya. Bila kecepatan terlalu tinggi pahat akan kehilangan
kekerasan (karena panas),cepat rusak atau tumpul. Oleh sebab itu kecepatan potong harus
ditentukan sesuai dengan tabel.

2. Rumus

Kecepatan potong ialah panjang potongan dalam m/min (meter per menit), maka rumusnya
adalah :
V= π .d .n (m/min)

1000

Keterangan : V = Kecepatan potong


d = Diameter benda kerja

n = Putaran benda kerja

3. Kedalaman Pemotongan (Depth of Cut)

Kedalaman pemotongan adalah dalamnya masuk alat potong menuju sumbu sumbu benda.
Dalam proses pembubutan depth of cut dapat diukur dengan menggunakan persamaan:

Kedalaman pemotongan diukur tegaklurus terhadap sumbu benda kerja.

4. Waktu Pemesinan (Machining Time)

Waktu pemesinan adalah banyaknya waktu nyata yang dibutuhkan untuk mengerjakan
(membentuk atau memotong) suatu benda kerja. Waktu pemesina dihitung dengan menggunakan
persamaan:

Tm =

Dimana:
L = panjang total yang akan dibubut
I = jumlah pemotongan
n = rpm
s = Total Feed (mm/put.)

3.5 Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Dapat Dilakukan Dengan Mesin Bubut

3.5.1 Membubut Tirus

Untuk membuat tirus luar maupun dalam caranya sama yaitu dengan menggunakan
cara-cara sebagai berikut :

 Menggunakan eretan atas, untuk tirus luar dan dalam dengan sudut yang besar, tidak dapat
dilakukan dengan otomatis, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Rumus : Membuat tirus dengan eratan atas

Dimana :

D = diameter besar

d = diameter kecil

p = panjang tirus
Gambar Membuat tirus dengan eretan atas

Setelah diketahui Tg a, maka besarnya sudut x dilihat pada daftar berikut ini:

Tabel 1.1 Pembuatan sudut tirus

X Tg X Tg X Tg X Tg X Tg X Tg X Tg X Tg X Tg
1 20 11 194 21 383 31 600 41 869 51 1234 61 1804 71 2904 81 6313
2 38 12 212 22 404 32 624 42 900 52 1279 62 1880 72 3077 82 7115
3 52i 13 230 23 424 33 649 43 932 53 1327 63 1962 73 3270 83 8114
4 70 14 249 24 445 34 674 44 965 54 1378 64 2050 74 3487 84 9814
5 87 15 267 25 466 35 700 45 1000 55 1428 65 2144 75 4010 85 1143
6 105 16 286 26 487 36 726 46 1035 56 1482 66 2246 76 4331 86 1430
7 122 17 305 27 509 37 753 47 1072 57 1540 67 2355 77 4704 87 J 908
8 140 18 324 28 531 38 781 48 1110 58 1600 68 2475 78 5144 88 2863
9 158 19 344 29 554 39 809 49 7750 59 1664 69 2605 79 5144 89 5729
10
178 20 364 30 577 40 839 50 1191 60 1732 70 2747 80 5671 90

Keterangan :

Angka Tg didalam table untuk :

X no 1 - 84 dalam per 1000 (/1000)

X no 85 - 89 dalam per 100 (/100)

Menggeser kepala lepas bagian atas secara melintang, hanya untuk tirus luar dengan sudut kecil
dapat dilakukan dengan otomatis, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Dimana:

P = panjang seluruh kerjaan

p = panjang tirus

D = diameter besar

d = diameter kecil

X = penggeseran dari kepala lepas

 Menggunakan tapperattachment untuk tirus luar dan dalam dengan sudut kecil, dapat dilakukan dengan
otomatis untuk menghitung besarnya sudut dengan rumus seperti cara pertama.

Gambar Pembuatan tirus dengan menggunakan tapperaltachments


3.5.2 Membubut Ulir

Pada umumnya bentuk ulir adalah segitiga atau V (ulir metrik dengan sudut 60° dan ulir
withworth 55°), segi empat dan trapesium (sudut ulir 29°). Cara membubut ulir segitiga adalah sebagai
berikut:
1. Bubutlah diameter ulir.

2. Bubutlah alur pembebas sedalam atau lebih sedikit dari dalamnya ulir.

3. Pinggulah ujung dari benda kerja.

4. Serongkan eretan atas setengah dari sudut ulir yang akan dibuat dan pasanglah pahat ulir.

5. Ambillah mal ulir yang akan dibuat.

6. Tempatkanlah ujung pahat tegak lurus terhadap benda kerja.

7. Kencangkan baut-baut penjepit bila pahat sudah sama tinggi dengan senter dan lurus dengan benda
kerja.

8. Tempatkan tuas-tuas pengatur transporter menurut table sesuai dengan banyaknya ulir yang akan
dibuat.

9. Masukkan roda gigi agar mesin jalannya secara ganda.

10. Jalankan mesin dan kenakan ujung pahat sampai benda kerja tersentuh.

11. Hentikan mesin dan tariklah eretan kekanan.

12. Putarlah cincin pembagi, sehingga angka 0 segaris dengan angka 0 pada eretan lintang dan tidak
merubah kedudukannya.
Gambar Urutan pembuatan ulir

13. Majukan eretan lintang 3 garis pada cincin pembagi, maka pahat maju untuk penyayatan.

14. Putar cincin pembagi sehingga angka 0 lagi dan eretan lintang tidak boleh bergerak.

15. Jalankan mesin.

16. Masukkan tua penghubung transporter pada waktu salah satu angka pada penunjuk ulir bertepatan
dengan angka 0.

17. Bila pahat sudah masuk pada pembebas, putarlah kembali eretan lintang sehingga pahat bebas dari
benda kerja.

18. Kembalikan eretan.

19. Hentikan mesin.

20. Periksalah jarak ulir dengan mal ulir yang sesuai dengan jumlah gangnya.

21. Kembalikan ujung pahat pada kedudukan semula dengan memutar eretan lintang sehingga angka 0
segaris dengan angka 0 pada cincin pembagi.

22. Majukan pahat ulir untuk penambahan penyayatan sebanyak 3 garis dengan memutar eretan atas.

23. Kembalikan cincin pembagi pada angka 0 segaris dengan angka 0.

24. Jalankan mesin.

25. Hubungkan tuas penghubung bila ujung pahat sampai pada saat angka semula berhadap dengan
angka 0.

26. Lepaskan tuas penghubung bila ujung pahat sampai pada alur pembebas sambil eretan lintang
kebelakang.
27. Kembalikan eretan lintang pada kedudukan semula dengan tangan.

28. Lakukan berulang-ulang seperti yang diterangkan dalam no. 21 s/d 27 sampai selesai.

Catatan :

Dengan memajukan pahat ulir oleh eretan lintang, maka mengurangi gesekan pahat. Untuk
penghalusan pembuatan ulir, eretan lintang kita gerakan cukup dengan menambah 1 garis dari cincin
pembagi dari kedudukan semula dan eretan atas tidak dirubah kedudukannya, sehingga penyayatan
seluruh bidang dari ulir mendapat gesekan yang kecil. Lakukan hal ini 2 sampai 3 kali dengan
menambah penyayatan sehingga hasil dari ulir akan bagus. Setiap memulai pembubutan harus
menggunakan lonccng (thread dial) yaitu pada saat akan memulai pembubutan, jarum dengan angka
yang telah ditentukan harus tepat bertemu, langsung handle otomatis dijalankan, bila sampai ulir,
handle dilepas.

Bentuk-bentuk pekerjaan yang dapat dilakukan dalam proses membubut dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar9

Jenis-
jenispengerjaan dengan mesin bubut
1. Pembubutan Muka (Facing), yaitu proses pembubutan yang dilakukan pada tepi penampangnya
atau gerak lurus terhadap sumbu benda kerja, sehingga diperoleh permukaan yang halus dan rata.

2. Pembubutan Rata (pembubutan silindris), yaitu pengerjaan benda yang dilakukan sepanjang garis
sumbunya. Membubut silindris dapat dilakukan sekali atau dengan permulaan kasar yang kemudian
dilanjutkan dengan pemakanan halus atau finishing.

3. Pembubutan ulir (threading), adalah pembuatan ulir dengan menggunakan pahat ulir.

4. Pembubutan tirus (Taper), yaitu proses pembuatan benda kerja berbentukkonis. Dalam
pelaksanaan pembubutan tirus dapat dilakukan denngan tiga cara, yaitu memutar eretan atas
(perletakan majemuk), pergerseran kepala lepas (tail stock), dan menggunakan perlengkapan tirus
(tapper atachment).

5. Pembubutan drillng, yaitu pembubutan dengan menggunakan mata bor (drill), sehingga akan
diperoleh lubang pada benda kerja. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan awal dari pekerjaan boring
(bubut dalam).

6. Perluasan lubang (boring), yaitu proses pembubutan yang bertujuan untuk memperbesar lubang.
Pembubutan ini menggunakan pahat bubut dalam.

7. Knurling, yaitu proses pembubutan luar (pembubutan slindris) yang bertujuan untuk membuat
profil pada permukaan benda kerja. Pahat yang digunakan adalah pahat khusus (kartel).

III. 6 Aspek-Aspek Keselamatan Kerja dalam Proses Pembubutan

Keselamatan kerja dalam bekerja merupakan aspek penting yang harus diperhatikan pada
saat melaksanakan suatu pekerjaan. Keselamatan kerja tersebut harus menyangkut aspek
keselamatan kerja yang terkait dengan manusia (operator/pekerja), mesin, dan alat. Sehubungan
dengan sebelum kita melakukan suatu pekerjaan, harus diperhatikan instruksi-instruksi yang terkait
dengan keselamatan kerja. Instruksi-instruksi Standar Keselamatan Kerja dalam proses pembubutan
Ada beberapa instruksi standar keselamatan kerja terkait dengan proses pembubutan, diantaranya
adalah:

1. Baca dulu instruksi manual sebelum mengoperasikan mesin

2. Upayakan tempat kerja tetap bersih dengan penerangan yang memadai

3. Gunakan selalu kaca mata pelindung seriap saat bekerja dengan mesin

4. Hindari pengoperasian mesin pada lingkungan yang berbahaya,

5. Yakinkan bahwa switch dalam keadaan OFF sebelum menghubungkan mesin dengan sumber
listrik

6. Pertahankan kebersihan tempat kerja, bebas dari kekacauan (clutter),

7. Tetapkan batas aman untuk pengunjung

8. Ketika membersihkan mesin, upayakan mesin dalam keadaan mati, akan lebih baik jika hubungan
dengan sumber listrik diputus.

9. Gunakan selalu alat dan perlengkapan yang ditentukan.

11. Gunakan selalu alat yang benar


BAB IV

PENUTUP

IV. 1 Kesimpulan

1. Bubut merupakan suatu istilah yang sering didengar di dunia ketehnikan khususnya bidang mekanik
pabrikasi. Yaitu suatu proses pembentukan benda kerja dengan cara pengikisan menggunakan alat
dalam hal ini disebut pisau sehingga bisa menghasilkan benda kerja yang diinginkan.

2. Mesin Bubut mencakup segala mesin perkakas yang memproduksi bentuk silindris..

3. Tujuan utama dibuatnya makalah ini adalah agar masyarakat dapat mengetahui cara kerja dan
operasi mesin bubut.
4. Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang
menggunakan dan membutuhkan.

4. 2 Saran

1. Sebuah makalah harus mempunyai tampilan yang menarik agar

pembaca merasa nyaman dan berencana untuk kembali membaca

makalah tersebut.

2. Kelengkapan tentang informasi yang ada membuat masyarakat lebih jauh mengenal tentang mesin
bubut. Sehingga nantinya masyarakat tertarik untuk mengetahui bahkan tertarik untuk mempelajari
tentang mesin ini.
17

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. Bambang Sugiantoro. "Mesin Perkakas Bengkel”. Erlangga ;

1998. Jakarta.

www. Google.com. “pdfdatabase.com/index.php?q=www.about-mesin

bubut+com”

www. Wikipedia.com
Diposting oleh Muhamad Tedy di 00.54
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke
TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

2 komentar:

1.

Rini Musrifah8 Februari 2018 17.14

Terimakasih infonya sangat membantu


Salam Kursus Android

Balas

2.

Unknown3 Februari 2019 19.25

mantul bang, trimakasih makalahnya

Balas

18 Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

 http://gunadarma.ac.id
 http://baak.gunadarma.ac.id
 http://studentsite.gunadarma.ac.id
 http://v-class.gunadarma.ac.id
 http://seminar.gunadarma.ac.id
 http://wartawarga.gunadarma.ac.id
 http://library.gunadarma.ac.id
 http://ocw.gunadarma.ac.id
 http://sap.gunadarma.ac.id
 http://community.gunadarma.ac.id

 http://gunadarma.ac.id
 http://baak.gunadarma.ac.id
 http://studentsite.gunadarma.ac.id
 http://v-class.gunadarma.ac.id
 http://seminar.gunadarma.ac.id
 http://wartawarga.gunadarma.ac.id
 http://library.gunadarma.ac.id
 http://ocw.gunadarma.ac.id
 http://sap.gunadarma.ac.id
 http://community.gunadarma.ac.id

Arsip Blog
 ► 2017 (3)

 ▼ 2016 (6)
o ► Desember (1)
o ► September (1)
o ► April (1)
o ► Maret (1)
o ▼ Januari (2)
 MAKALAH MESIN BUBUT
 BAB 1 DAN BAB 4 MESIN BUBUT

 ► 2015 (11)

 ► 2014 (9)

 ► 2013 (4)

Mengenai Saya

Muhamad Tedy

Lihat profil lengkapku

Tema Sederhana. Gambar tema oleh luoman. Diberdayakan oleh Blogger.

Muhammad Afif Fauzy “http://afiffauzy.blogspot.com/2012/04/sejarah-


dari-mesin-bubut.html”

http://bumn.go.id/semenbaturaja/halaman/41/tentang-
perusahaan.html
https://www.scribd.com/doc/186196061/Analisis-Bahaya-Pada-
Mesin-Bubut-mesin-bubut