Anda di halaman 1dari 24

INTERAKSI SOSIAL PETERNAKAN

MAKALAH SOSIOLOGI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah Sosiologi

Oleh :

Nama : Muhammad Reiva Primayana


NPM : 24032115127

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GARUT
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai mahluk individual mempunyai dorongan ayau motif untuk mengadakan
hubungan dengan dirinya, sedangkan sebagai mahluk sosial manusia mempunyai dorongan
untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Dengan adanya dorongan atau motif sosial,
manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan
interaksi. Dengan demikian, maka akan terjadi interaksi antara manusia dengan manusia
yang lain.
Dengan adanya interaksi tentunya akan melahirkan suatu pertukaran sosial, dengan
pendekatan ini akan menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep
ekonomi dan perilaku mengenai biaya dan imbalan. Dan peran suatu lembaga
kemasyarakatan sangat perlu dalam hal ini untuk menampung dan menyalurkan aspirasi
masyarakat dalam pembangunan. Mananamkan dan memupuk rasa persatuan masyarakat
dalam kerangka memperkokoh NKRI, meningkatkan kualitas dan percepatan pelestarian dan
pengembangan hasil-hasil pembangunan secara partisipatif, menumbuhkembangkan dan
menggerakkan prakarsa, partisipasi, swadaya gotong royong masyarakat dan menggali
pendayagunaan dan pengembangan potensi sumberdaya alam serta keserasian lingkungan
hidup.
Terkait dengan masyarakat khususnya komoditas peternak ayam ras petelur, tentunya
interaksi itu sangatlah dipandang perlu baik dari sesama peternak, peternak dengan
konsumen muapun dengan lembaga kemasyrakatan.
Dan untuk mengetahui bagaimana pertukaran sosial yang terjadi, kaitannya interaksi di
tengahmasyarakat yang berada di linkup komoditas peternak ayam ras petelur maka
dilakukanlah praktek lapang dengan judul “PERTUKARAN SOSIAL DALAM
INTERAKSI SOSIAL INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM KELEMBAGAAN
MASYARAKAT”.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dari dilakukannya praktek lapang sosiologi peternakan ini adalah dapat melihat
dan mengetahui secara langsung bagaimana pertukaran sosial dalam interaksi sosial individu
dan kelompok dalam kelembagaaan masyarakat peternak ayam ras petelur di desa Tanete
Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.
Tujuan dilaksanakannya praktek lapang sosiologi peternakan ini adalah untuk memperoleh
pengetahuan tentang bagaimana pertukaran sosial dalam interaksi sosial individu dan
kelompok dalam kelembagaaan masyarakat peternak ayam ras petelur di desa Tanete
Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang,dan membandingkan dengan teori
yang didapatkan dalam perkuliahan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Tujuan Ras Ayam Petelur

Ayam ras petelur adalah jenis ayam yang sangat efisien diternakan sebagai penghasil telur.
Ciri-ciri umunmnya yaitu badan relatif kecil dan berbentuk langsing. Karena badannya langsing
dan kecil ayam ini sifatnya lincah dan mudah kaget (Sukardi. 2010). Rasyaf (1996)
mengemukakan bahwa, usaha ternak ayam ras petelur di Indonesia secara komersial belum
banyak ditemukan, tetapi telah menghasilkan suatu perkembangan populasi ternak ayam pesat
baik petelur maupun pedaging. Perkembangan populasi ternak ayam ras yang paling
menggembirakan adalah ternak ayam ras petelur (Sukardi.2010).

Beternak ayam ras petelur mempunyai prospek yang cukup baik untuk masa mendatang,
karena kebutuhan akan sumber protein semakin meningkat. Oleh karena itu, pemeliharaannya
harus lebih diperhatikan terutama dalam pemberian makanan, vaksinasi serta penggunaan obat-
obatan yang dicampur dengan makanan dan minuman (sukardi 2010). Usaha peternakan ayam
ras petelur telah berkembang pesat, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain
meningkatkan efisiensi usaha ayam ras petelur akibat meningkatnya keterampilan peternak
dalam menerapkan teknologi maju adanya dorongan dan pembinaan pemerintah. Semakin
meningkatnya permintaan komoditi telur serta pesatnya perusahaan pembibitan ayam, pabrik
makanan ternak serta obat-obatan di dalam negeri (Sukardi. 2010).

Usaha petenakan ayam ras petelur merupakan kegiatan industri biologi, dimana keberhasilan
ditentukan oleh sarana poduksi, bibit dan makanan ternak serta ketepatan manajemen dan usaha
kelancaran pemasaran hasil produksi. Namun demikian komponen pakan ternak memegang
peranan penting dalam menjamin kelangsungan usaha (sukardi.2010). Dilanjutkan kembali oleh
Rasyaf (1996)yang menyatakan bahwa ayam ras petelur dikenal dua macam, petelur kulit cokelat
dan kulit putih. Keduanya sebenarnya sama dan kandungan gizinyapun relatif sama, yang
berbeda hanyalah dari sudut pandang pembeli yang menganggaptelur warna cokelat lebih
menarik , lebih besar dan lebih enak sekalipun ini tidak terbukti, masalah enak atau tidak enak
tentu harus malalui pengujian rasa yang sifatnya relatif. Namun akibatnya dari pandangan
pembeli itulah menyebabkan telur ayam ras cokelat lebih banyak peminatnya (Sukardi.2010)
Menurut sudarmono (2003) ayam ras petelur mempunyai sifat-sifat unggul yaitu sebagai
berikut:

1. Laju pertumbuhan ayam ras petelur sangat pesat pad aumur 4,5-5,0 bulan telah mencapai
kedewasaan kelamin dan bobot badan antara 1,6-1,7 kg. Pada waktu itu sebagian dari kelompok
ayam telah berproduksi. Adapun pada ayam kampung pada umur yang sama bobot badannya
baru mancapai sekitar 0,8 kg, kedewasaan kelamin ayam kampung baru dicapai pada umur 7-8
bulan

2. Kemampuan berproduksi ayam ras petelur cukup tinggi yaitu antara 250-280 butir pertahun
dengan bobot telur antara 50-60 g/butir. Sedangkan produksi ayam kampung berkisar 30-40
g/butir.

3. Kemampuan ayam ras petelur dalam memanfaatkan ransum pakan sangat baik dan
berkolerasipositif. Konversi terhadap penggunaan ransum cukup bagus yaitu setiap 2,2 kg-2,5kg
ransum dapat menghasilkan 1 kg telur. Dalam hal ini ayam kampung telah memiliki korelasi
positif dalam memanfaatkan ransum memanfaatkan ransum yang baik dan mahal. Oleh karena
itu ayam kampung lebih ekonomis bila diberi pakan yang lebih murah.

4. Periode bertelur ayam ras leih panjang, bisa berlangsung 13-14 bulan atau hingga ayam
berumur 19-29 bulan. Walaupun ayam ras hanya mengalami satu periode bertelur akan tetapi
periode bertelurnya tersebut berlangsung sangat panjang dan produktif. Hal ini disebabkan
karena tidak adanya perode mengeram pada ayam ras petelur tersebut. Sedangkan ayam
kampung mangalami periode bertelur berkali-kali namun satu periode bertelurnya berlangsung
sangat pendek, yaitu sekitar 15 hari. Periode bertelur ayam kampung terputus-putus karena
ayam kampung memiliki sifat atau periode mengeram.

Dilanjutkan kembali oleh Sukardi dalam (Sudarmono.2003) mengatakan bahwa


kelemahan yang dimiliki ayam ras petelur, yaitu sebagai berikut :

1. Ayam ras petelur sangat peka terhadap lingkungan, kemampuan adaptasi terhadap lingkungan
lebih rendah bila dibandingkan dengan ayam kampung. Ayam ras petelur lebih mudah
mengalami stress.
2. Tuntutan hidup ayam ras petelur lebih tinggi yaitu selalu menuntut pakan dalam jumlah dan
kualitas yang tinggi, jumlah air minum yang cukup dan menggantunkan diri sepenuhnya pada
peternak. Sehingga dengan demikian ayam ras petelur tidak cocok diternakkan secara ekstensif.

3. Memiliki sifat kanibalisme yang lebih tinggi daripada ayam kampung, walaupun secara umum
ayam ras tersebut, tetapi harus diteliti lebih dahulu.

2. Pengertian Ilmu Sosiologi

Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli :

1. Emile durkheim

sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung
cara bertindak, berfikir dan berperasaan yang berada di luar individu dimana fakta-fakta tersebut
memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.(Sukamto.2002)

2. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi

Sosiologi adalah ilmukemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial
termasuk perubahan sosial.(Sukamto.2002)

3. Soejono Soekamto

Sosiologi adalah ilmi yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat
umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-
pola umum kehidupan masyarakat.(Sukamto.2002)

4. William Kornblum

Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial
anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan
kondisi. (Soelaeman,M.2005)

5. Roucek dan Warren


Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok
sosial.(Soelaeman,M.2005)

6. Allan Johnson

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya
dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana
pula orang yang terlibat di dalamnya memperngaruhi sistem tersebut.

(Lawang,R.2008)

7. Pitirim Sorokin

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka
macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral). Sosiologi
adalaah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan
gejala non sosial dan yang terakhir sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum
semua jenis gejala-gejala sosial lain.( Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007)

Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi
sosial ( Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007)

8. Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial ( Ritzer, George &
Douglas J. Goodman.2007)

9. Paul B Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk
kehidupan kelompok tersebut. ( Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007)

Dari berbagai definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara individi dengan individu, individu dengan masyarakat, dan
masyarakat dengan masyarakat.
Selain itu sosiologi adalah ilmuyang membicarakan apa yang sedang terjadi saat itu. Khususnya
pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum,
rasional, empiris, serta bersifat umum.

3. Pengerian Teori Pertukaran Sosial

Teori pertukatan sosial menurut George C Homans adalah teori dalam ilmu sosial yang
menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan dan
keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang
tentang hubunga kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan dari manusia tersebut terhadap
(1) keseimbangan antara apa yang diberikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari
hubungan itu dan (2) jenis hubungan yang dilakukan. (Ritzer, George & Douglas J.
Goodman.2007)

Selanjutnya untuk terjadinya pertukaran sosial harus ada persyaratan yang harus dipenuhi.
Adapun syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Suatu perilaku atau tindakan harus berinteraksi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat tercapai
lewat interaksi dengan orang lain.

2. Suatu perilaku atau tindakan harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian
tujuan-tujuan yang dimaksud. Adapaun tujuan yang dimaksud dapat berupa ganjaran atau
penghargaan ekstrinsik yaitu berupa benda-benda tertentu, uang dan jasa. ( Ritzer, George &
Douglas J. Goodman.2007)

Teori pertukaran sosial menurut Peter M Blau adalah pemahaman struktur sosial berdasarkan
analisis proses sosial yang memengaruhi hubungan- hubungan individu dan kelompok yang di
dalamnya mengatur perilaku manusia dan melandasi hubungan antar individu maupun antar
kelompok, di dalamnya terdapat empat langkah berurutan mulai dari petukaran antara pribadi ke
struktur sosial hingga ke perubahan sosial:

Langkah 1 : pertukaran antara individu yang meningkat ke......

Langkah 2 : diferensiasi status dan kekuasaan yang mengarah ke....


Langkah 3 : Legitimasi dan pengorganisasian yang menyebarkan bibit dari....

Langkah 4 : Operasi dan perubahan . ( Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007)

4. Teori Pertukaran Sosial dan Penggagasnya

Pada umumnya, hubungan sosial terdiri daripada masyarakat lain dilihat mempunyai perilaku
yang saling mempengaruhi dalam hubungan tersebut, yang terdapat unsur ganjaran, pengorbanan
dan keuntungan. Ganjaran merupakan segala hal yang dipengaruhi melalui adanya pengorbanan,
manakala pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan dan keuntungan adalah ganjaran
dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran antara dua orang
berdasarkan perhitungn untung-rugi. Misalnya pola-pola perilaku di tempat kerja.
.(Soelaeman,M.2005)

Analogi dari hal tersebut pada suatu ketika anda merasa bahwa setiap teman anda di satu
kelas selalu berusaha memperoleh sesuatu dari diri anda. Pada saat tersebut anda selalu
memberikan apa yang teman anda butuhkan , akan tetapi hal sebaliknya justru terjadi ketika anda
membutuhkan sesuatu dari teman anda. Setiap individu menjalin pertemanan tentunya
mempunyai tujuan untuk saling memperhatikan satu sama lain. Individu tersebut pasti
diharapkan untuk berbuat sesuatu bagi sesamanya, saling membantu jikalau dibutuhkan dan
saling memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi mempertahankan hubungan
persahhabatan juga membutuhkan biaya (cost) tertentu seperti hilang waku dan energi serta
kegiatan-kegiatan yang lainnya yang tidak jadi dilaksanakan. Meskipun biaya-biaya itu tidak
dilihat sebagai sesuatu hal yang mahal atau membebani kita dipandang dari sudut pandang
penghargaan (reward) yang didapatkan dari persahabatan. Apabila biaya yang dikeluarkan
terlihat tidak sesuai dengan imbalannya yang terjadi justru perasaan tidak enak di pihak lain yang
merasa bahwa imbalan yang diterima tidak sesuai dengan biaya / pengorbanan yang sudah
diberikan (Soelaeman,M. 2005)

Analisa mengenai hubungan sosial terjadi menurut cost and reward ini merupakan salah satu
ciri khas teori pertukaran. Teori pertukaran iini memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis
makro. Khusus pada analisis tingkat kenyataan sosial antar pribadi. Pada pembahasan ini akan
ditekankan pada pemikiran teori pertukaran Homans dan Blau. Homans dalam pemiirannya
berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip psikologi individu untuk menjelaskan
peilaku sosial dari pada hanya menggambarkannya. Akan tetapi Blau di piak lain berusaha
merujuk bernjak pada tingkat pertukaran antar pribadi tingkat mikro ke tingkat yang lebih makro
yaitu struktur sosial. Ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana struktur sosial yang lebih besar
itu muncul dari proses-proses pertukaran dasar .(Soelaeman,M.2005)

5. Pertentangan Teori Sosial Individualistis dan Kolektivistis

Pertentangan yang terjadi merupakan akibat dari tumbuhnya pertentangan antara orientasi
individualistis dan kolektivistis. Homans merupakan seorang yang sangat menekan pada
pendekatan individualistis terhadap perkembangan teori sosial. Hal ini berbeda dengan
penjelasan Levi-Strauss yang bersifat kolektivistas khususnya mengenai perkawinan dan pola-
pola kekerabatan.(Lawang,R.2008)

Levi-Strauss merupakan sosiolog ahli antropologi dari prncis yang mengembangkan perspektif
mengenai pertukaran sosial dalam analisisnya mengenai praktik perkawinan dan sistem
kekerabatan masyarakat-masyarakat primitif. Suatu pola umum yang dianalisisnya adalah
seorang pria putri saudara ibunya. Suatu pola yang jarang terjadi adalah orang mengawini putri
saudara bapaknya. Pola yang terakhir dianalisis lebih lanjut oleh Bronislaw Malinoski dengan
pertukaran non material. (Lawang,R.2008)

Dalam menjelaskan hal ini Levi-Strauss membedakan dua sistem pertukaran yaitu retricted
exchange. Pada retricted exchange para anggota kelompok dyad terlibat dalma transaksi
pertukaran langsung, masing-masing anggota pasangan tersebut saling memberikan dasar pribadi
sedangkan pada generalized exchange anggota-anggota dalam suatu kelompok triad atau yang
lebih besar lagi menerima sesuatu dari seseorang pasangan lain dari orang yang dia berikan
sesuatu yang berguna. Dalam pertukaran ini memberikan dampak pada integrasi dan solidaritas
kelompok-kelompok yang lebih besar dengan cara yang lebih efektif. Tujuan utama proses
pertukaran ini adalah tidak untuk memungkinkan pasangan-pasangan yang terlibat dalam
pertukaran ini untuk memenuhi kebutuhan individualistisnya. Akan tetapi untuk mengungkapkan
komitmen moral mengenai pola-pola pertukaran yang terjadi antara pasangan perkawinan dalam
masyarakat primitif. (Lawang,R.2008)

6. Pertukaran Sosial dalam Interaksi Sosial Ekonomi Kemasyarakatan

Ada beberapa hal yang ditetapkan Homans mengenai proposisi sukses, pertama meski
umumnya benar bahwa makin sering hadiah diterima menyebabkan makin sering tindakan
dilakukan, namun pembahasan ini lebih besar kemungkinan tidak dapat berlangsung tanpa batas.
Disaat tertentu individu benar-benar tidak dapat bertindak seperti itu sesering mungki. Kedua
makin pendek jarak waktu antara perilaku dan hadiah, makin besar kemungkinan orang-orang
mengulangi perilaku. Sebaliknya lama jarak waktu antara perilaku dan hadiah makin kecil
kemungkinan orang mengulangi perilaku. Ketiga menurut Homans pemberian hadiah secara
intermiten lebih besar kemungkinannya perulangan perilaku ketimbang menimbulkan hadiah
yang teratur. Hadiah yang teratur menimbulkan kejenuhan dan kebosanan. Sedangkan hadiah
yang diterima dalam jarak waktu yang teratur sangat menimbulkan perulangan perilaku.
(Ritzer,George & Douglas J. Goodman.2007)

Konsep penting lainnya adalah biaya dan keuntungan. Biaya tiap perilaku didefinisikan
sebagai hadiah yang hilang karena tak jadi melakukan sederetan tindakan yang direncanakan.
Keuntungan dalam pertukaran sosial dilihat sebagai sejumlah hadiah yang lebih besar yang
diperoleh atas biaya yang diperoleh seseorang sebagai hasil tindakannya makin besar
kemungkinanya ia melaksanakan tindakan itu . ( Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007)
BAB III
METODE PRAKTEK Dan PELAKSANAAN PRAKTEK

III. 1 Gambaran Umum Lokasi Praktek

III.1.1 Batas Wilayah

Desa Tanete merupakan salah satu dari 12 desa/kelurahan yang terdapat di Kecamatan
Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Adapun batas-batas wilayah Desa Tanete
adalah sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa/Kelurahan Lautang Benteng.


- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa/Kelurahan Allakuang/ Amparita.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa/Kelurahan Allakuang.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa/Kelurahan Ariawa.

III.1.2 Data Populasi Ternak

Adapun jenis dan populasi berbagai jenis ternak yang dimiliki ataupun yang diusahakan
oleh masyarakat di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae dapat dilihat pada tabel berikut.

No Jenis Ternak Jumlah Persentase


(Ekor) (%)

1 Sapi - -

2 Kerbau - -

3 Kuda - -

4 Kambing - -

5 Ayam ras petelur 234 28.12

6 Ayam ras pedaging - -

7 Ayam buras 18 2.16


8 Itik 542 65.14

9 Bebek Manila/ 38 4.56


Muscovy

Jumlah 832 100

Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012.

Tabel 1, dapat dilihat bahwa terdapat beraneka ragam jenis ternak di Desa Tanete
Kecamatan Maritengngae yaitu terdiri atas ternak unggas seperti ayam ras petelur, ayam buras,
itik, dan bebek manila. Ternak yang memiliki populasi paling banyak adalah itik yaitu 542 ekor
dan ternak yang terkecil populasinya adalah ayam buras yaitu 18 ekor.

III.1.3 Data Luas Areal Pertanian

Adapun areal pertanian yang dimiliki ataupun yang diusahakan oleh masyarakat di Desa
Tanete Kecamatan Maritengngae dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Populasi Luas Areal Pertanian di Desa Tanete. Kecamatan Maritengngae.

Luas Lahan Persentase


No Jenis areal pertanian
(Ha/m2) (%)

1 Sawah irigasi kering 35 17.59

2 Sawah irigasi ½ teknis 65 32.67

3 Sawah tadah hujan 70 35.2

4 Tanah kerin/pemukiman 29 14.57

Jumlah 199 100

Sumber : Data Profil Desa Tanete, 2010

Tabel 2, dapat dilihat bahwa areal pertanian di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae
didominasi oleh areal persawahan yang luasnya mencapai 170 Ha/m2 sedangkan luas tanah
kering/pemukiman hanya 29 Ha/m2.
III.1.4 Data Distribusi Pekerjaan

Data distribusi pekerjaan masyarakat yang ada di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae dapat
dilihat dari table berikut.

Tabel 3. Data Distribusi Pekerjaan Menurut Jenisnya di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae.

No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


(orang)

1 Petani 65 16.58

2 Buruh tani 25 6.37

3 Buruh migrasi 14 3.57

4 PNS 88 22.44

5 Peternak 171 43.62

6 Nelayan 10 2.55

7 Polri 3 0.76

8 Pensiunan PNS 16 4.08

Jumlah 392 100

Sumber : Data Profil Desa Tanete, 2010.

Table 3, menjelaskan bahwa distribusi pekerjaan yang terbanyak adalah peternak senyak 171
orang atau sebesar 43.62%. dan yang terrenda adalah polri sebanyak 3 orang atau sebesar 0.76%.
III. 2 Metode Pengumpulan Data

III.2.1 Jumlah Responden

Jumlah responden pada praktek lapang sosiologi peternakan yang berlokasi di Desa
Tanete Kecamatan Maritengngae berjumlah 5 orang.

III.2.2 Alamat Responden

Semua responden pada Praktek Lapang Sosiologi Peternakan beralamat di dusun 3 Desa
Tanete Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang.

III.2.3 Metode Wawancara

Metode yang dilakukan adalah wawancara langsung dengan responde. Untuk


memudahkan proses wawancara tersebut dilakukan dengan menggunakan bantuan kuisioner atau
daftar pertanyaan yang telah disusun sesuai dengan kebutuhan penelitian.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Karakteristik Responden

IV. 1. 1 Umur

Umur merupakan salah satu indikator kemampuan fisik seseorang. Seseorang yang
memiliki umur lebih muda cenderung akan memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat daripada
mereka yang memiliki umur yang lebih tua. Umur seorang peternak dapat berpengaruh terhadap
produktifitas kerja, sebab umur erat kaitannya dengan kemampuan kerja serta pola pikir dalam
menentukan bentuk serta pola manajemen yang diterapkan dalam usaha. adapun karakteristik
responden ditinjau dari segi umur dpat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut ;

Tabel 4.. Katakteristik responden dari segi umur

No Umur (tahun) Jumlah responden Persentase

1 20-30 -

2 30-40 3 60

3 40-50 -

4 50-60 -

5 60-70 2 40

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer yang telah diolah di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae Kabupeten
Sidenreng Rappang 2012.

Tabel 4,menjelaskan bahwa keadaan respondendi desaTanete, KecamatanMaritengngae, Kabupat


en Sidrap berdasarkan umur yaitu umur 30-40 tahun sebanyak 3 orang atau (60%) dan umur 60 -
70 sebanyak 2 orang atau (40%). Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata responden berada
pada umur produktif yang memiliki kemampuan fisik yang mendukung dalam mengelola usaha
peternakan ayam ras petelur agar lebih produktif. secara umum.

IV. 1. 2 Jenis Kelamin

Jenis kelamin seseorang akan dapat berdampak pada jenis pekerjaan yang digelutinya.
Produktivitas kerja seseorang dapat pula dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Adanya
perbedaan fisik antara laki-laki dengan perempuan tentunya akan berdampak pada hasil kerjanya.

Adapun karakteristik responden ditinjau dari segi jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5
sebagai berikut :

No Jenis kelamin Jumlah Persentase

1 Laki-laki 5 100

2 Perempuan - 0

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer profildi Desa Tanete Kecamatan Maritengngae Kabupeten Sidenreng
Rappang 2010

Tabel 5, dapat dijelaskan bahwa semua responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 5 orang atau
sebesar100 %. Hal ini terjadi karena pada usaha yang dilakoni masyarakat di Desa
Tanete pada umumnya petani dan peternak yang membutuhkan tenaga yang besar untuk bekerja.

IV. 1. 3 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang merupakan suatu indikator yang mencerminkan


kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu jenis pekerjaan atau tanggung jawab.
Dengan latar belakang pendidikan seseorang dianggap mampu melaksanakan suatu pekerjaan
tertentu atau tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Adapun karakteristik responden ditinjau dari segi pendidikan dpat dilihat pada tabel 6 sebagai
berikut :

Tabel 6. karakteristik responden dari segi pendidikan


No Nama Pendidikan

1 H. Muh. Rafiq Tidak sekolah

2 ABD. Kadir SMA

3 ABD. Majid SMA

4 Tamrin SD

5 Muh. Nurun Tidak Sekolah

Sumber : Data Primer yang telah diolah di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae
Kabupeten Sidenreng Rappang 2012.

Tabel 6, dapat dijelaskan bahwa keadaan responden di Desa Tanete. Kecamatan


Maritengngae,Kabupaten Sidrap berdasarkan tingkat pendidikan yaitu mulai dari tidak pernah
mengenyam pendidikan sampai SMA.

IV. 1. 4 Pekerjaan

Pekerjaan merupakan suatu kebutuhan hidup masyarakat dalam menunjang kehidupannya


sehari-hari agar dapat membiayai segala kebutuhan baik sandang, pangan dan papan. Adapun
pekerjaan masyarakat di Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel
berikut.

Adapun karaktristik responden ditinjau dari segi pekerjaan dapat dilihat pada tabel 7 sebagai
berikut :

Tabel 7. Karakteristik responden dari segi pekerjaan

Jenis pekerjaan
No Nama
Pokok Sampingan

1 H. Muh. Rafiq Peternak Petani

2 ABD. Kadir Peternak Petani

3 ABD. Majid Peternak Petani


4 Tamrin Peternak Petani

5 Muh. Nurun Petani -

Sumber : Data Primer yang telah diolah di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae
Kabupeten Sidenreng Rappang 2012.

Tabel 7, dapat dijelaskan bahwa pekerjaan yang digeluti responden sebagain besar adalah
peternak yaitu sebanyak 4 orang atau sebesar 80%. Hal ini berkaitan dengan kondisi daerah
yang memiliki populasi ternak ayam ras petelur terbanyak di Kabupaten Sidrap dan tentunya
sangat berpotensi untuk pengembangan usaha ternak ayam ras petelur.

IV. 1. 5 Kepemilikan ternak

Kepemilikan ayam ras petelur menunjukkan banyaknya ayam ras petelur yang dimiliki
oleh responden. Jumlah kepemilikan ternak pada tiap responden berbeda-beda tergantung
kondisi usaha. Adapun klasifikasi responden berdasarkan kepemilikan ayam ras petelur di
Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 8. Karakteristik Responden dari Segi Kepemilikan Ternak

No Nama Ayam Bebek

1 H. Muh. Rafiq 5000 100

2 ABD. Kadir 1000 -

3 ABD. Majid 1500 -

4 Tamrin 4.000 70

5 Muh. Nurun - -

Sumber : Data Primer yang telah diolah di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae
Kabupeten Sidenreng Rappang 2012.

Tabel 8 terlihat bahwa klasifikasi responden di desa Tatete Kecamatan Maritengngae Kabupaten
Sidrap berdasarkan kepemilikan ayam ras petelu dan itik. Terdiri dari berbagai skala mulai dari
skala 1.000 – 5.000 ekor dan itik sebagai ternak sampingan tidak terlalu besar jumlahnya.
IV. 1. 6 Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga merupakan banyaknya anggota keluarga yang dimiliki oleh
responden di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae. Anggota keluarga tersebut baik keluarga
inti maupun keluarga batih. Anggota keluarga yang dimiliki dapat memberikan dampak positif
dalam pekerjaan karena anggota keluarga yang dimiliki tersebut dapat digunakan sebagai tenaga
kerja.

Klasifikasi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Desa Tanete Kecamatan


Maritengngae dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 9. Jumlah Tanggungan Keluarga

No Jumlah Tanggungan Jumlah (Orang) Persentase (%)


(Orang)

1 1-5 5 100

2 6 -10 0 0

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012.

Tabel 9, menjelaskan bahwa keadaan responden di Desa Tanete Kecamatan Maritengngae


berdasarkan jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki yaitu rata-rata 1 sampai 5 orang.
Dalam bekerja dibutuhkan tenaga kerja. Sebagian besar pekerja di Desa Tanete Kecamatan
Maritengngae menggunakan anggota keluarga sebagai tenaga kerja. Sehingga banyaknya
anggota keluarga dapat mengurangi biaya tenaga kerja karena anggota keluarga dapat membantu
dalam pekerjaan.

IV. 2 Kasus Yang Diangkat

Responden pertama, bapak H. Muh. Rafiq mengatakan bahwa beliau sangat merasakan
maanfaat dari adanya penyulihan peternakan, karena belaiu tidak pernah mengenyam pendidikan
formal maka beliau sangat terbuka untuk menerima pendidikan mengenai peternakan dari
penyuluh untuk kelangsungan usaha ternaknya. Untuk hal pemasaran beliau lebih memilih untuk
pembeli untuk datang kerumahnya, ketimbang membawanya kepasar, karena beliau tidak mau
pusing dengan pembeli yang barang dagannyaa sehingga berpotensi menghambat usahanya.

Responden selanjutnya, yaitu bapak Abd. Kadir yang pada dasarnya pernah mengenyam
pendidikan sampai bangku SMA, namun bukan pada disiplin ilmu peternakan, numun karena
beliau mempunyai tekat untuk bergelut di dunia peternakan khususnya ayam Ras Petelur beliau
berusaha untuk bertanya kepada tetangganya-tetangganya yang sudah berhasil, Dengan respon
yang baik dari para tetangganya kini bapak Abdul Kadir sudah memiliki 1.000 ekor ayam ras
petelur

Selanjutnya bapak Abdul Majid dan bapak Tamrin yang keduanya berprofesi sebagai peternak
ayam ras petelur yang bermitra dengan bapak H. Muhtar. Keduanya mengungkapkan bahwa
bermitra dengan bapak H.Muhtar sangat menguntungkan bagi mereka, dimana keduanya
dimodali berupa bibit ayam ras petelur yang juga ditanggungi pakan maupun obat-obatnnya,
mereka hanya menyediakan kandang dan mengurus ayam-ayam tersebut. Selanjutnya tiap dua
minggu sekali orang dari bapak H. Muhtar datang mengambil telurnya dan memberikan setengah
dari hasil penjualan.

Responden terakhir yakni bapak Muhammad Nurun yang kebetulan bukan peternak, setiap
harinya beliau bekerja sebagai buruh tani. Dan sebagai warga yang tidak berprofesi sebagai
peternak beliau mengaku bahwa tidak merasa terganggu dengan kondisi lingkungan yang ada.
Hal ini dikarenakan interaksi sosial dalam masyarakat sangat baik yang memang terbentuk dari
dulu. Selain itu diantara masyarakat sudah tertanam rasa kekeluargaan.

IV. 3 Pembahasan Kasus

Berdasarkan kasus yang telah di temukan pada masyarakat penati/peternak di Desa


Tanete Kecamatan Maritenggae Kabupaten Sidrap bahwa adaptasi pada teori pertukaran sosial
yang terjadi di masyarakat tumbuh secara alamiah tanpa ada campur tangan atau pun rekayasa
dari golongan atau pun kelompok yang memehami inti dari teori pertukaran sosial yaitu
mengandung usur ganjaran, pegorbanan dan keuntungan. Melihat dari realitas masalah secara
umum yang terjadi pada ke 5 responden yang tela di wawancarai, proses pertukaran sosial yang
terjadi yaitu pada penyuluhan yang di ikuti oleh responden mengandung unsur pengorbanan di
karenakan responden harus meninggalkan usaha ternaknya untuk mengikuti kegiatan penyuluhan
tersebut tetapi pada dasarnya responden juga mendapkat keuntungan berupa pengetahuan
tambahan mengenai bagaimana megelola peternakan ayam petelur dengan pola manajeman yang
baik. Sehingga baik dari pihak peternak maupun penyuluh masing masing mendapatkan
keuntungan dan menerima ganjaran yang merupakan unsur dasar dari teori pertukaran sosial.

Hal selanjutnya yang di temukan pada responden yaitu pola kemitraan yang terjalin
antara Inti dan Inti dimana H. Muktar bertindak sebagai inti dan responden sebagai plasma dan
terjadilah hubungan dimana kedua komponen tersebut melakukan proses pertukaran yang
dimana pada umumnya di setiap pelaku usaha peternakan yang menjalankan hubungan
kemitraan itu mengandung unsur ganjaran, pengoerbanan dan keuntungan. H Muktar dalam
proses kemitraan yang bertindan sebagai Inti menyiapkan DOC, pakan, dan obat-obatan
sedangkan Responden sebagai plasma menyiapkan prasarana berupa lahan, kandang dan tenaga
kerja untuk mengurus semua kegiatan pemeliharaan ayam sehingga jika di kaitkan pada terori
pertukaran sosial, hal yang gejadi pada proses kemitraan berkesesuain dengan terori pertukaran
sosila yang di ungkapkan oleh George C. Homans menyatakan bahwa dalam hubungan sosial
terdapat unsur ganjaran, pengorbanan dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini
menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubunga kita dengan orang lain sesuai
dengan anggapan dari manusia tersebut terhadap (1) keseimbangan antara apa yang diberikan ke
dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu dan (2)
jenis hubungan yang dilakukan.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1 Kesimpulan

Dari hasil Praktek Lapang Sosiologi Peternakan di desa Tanete Kecamatan Maritengngae
Kabupaten Sidenreng Rappang dapat disimpulkan bahwa Pertukaran Sosial dalam Interaksi
Sosial Indivudu dan Kelompok sudah berjalan dengan baik, Namun untuk pertukaran sosial
dalam Kelembagaan Masyarakat belum berjalan maksimal karena kurangnya Kelompok
Tani/ternak yang ada dalam Desa Tanete.

V. 2 Saran

1. Demi tercapainya pertukaran sosial dalam interaksi sosial individu dan kelompok
dalam kelembagaan masyarakat maka peran pemerintah daerah sangat perlukan dalam hal ini
ketegasan dalam mengarahkan warganya untuk bergabung dalam Kelompok Tani/Ternak.

2. Untuk penegembangan praktek mata kuliah Sosiologi Masayarakat Pedesaan, harapkan


agar Dosen dan Asisten pendamping untuk lebih mengembangkan Materi materi yang di berikan
sehinnga apa yang dapat kita pelajari lebih baik lagi kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Teori Pertukaran Sosial.

http://id.wikipedia.org. diakses pada tanggal 07 Agustus 2019

Tugas dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan.

Desapurwa.blogspot.com Diakses pada tanggal 07 Agustus 2019

Lawang, Robert M.Z . 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia. Jakarta

Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2007.Teori sosiologi modern.terjemahan


Alimandan.Kencana.Jakarta

Soekamto,Soeryono.2002. Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi. PT.Raja Grafindo.


Persada:Jakarta

Soelaeman, Dr M Munandar.2005. Ilmu Sosial Dasar (Teori dan Konsep Ilmu


Sosial). Reflika Aditama. Bandung

Sukardi.2010.Skripsi Profitabilitas Usaha Ayam Ras Petelur.Jurusan Sosial Ekonomi


Peternakan.Universitas Hasanuddin.Makassar

Tri, Sandi Cahyo.2011 .Teori Struktural Fungsional, Teori Konflik