Anda di halaman 1dari 8

Akhlak Kepada Allah SWT

Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya
dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Al
Khalik (Pencipta).

Sehingga Akhlak kepada Allah dapat diartikan, “Segala sikap atau perbuatan
manusia yang dilakukan tanpa dengan berfikir lagi (spontan) yang memang
seharusnya ada pada diri manusia (sebagai hamba) kepada Allah SWT (sebagai Al
Khalik)

[1] HR. Muslim: 2553.

[2] Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 252-253. Asy Syamilah.

[3] Tahdzibus Sunan sebagaimana tertera dalam catatan kaki ‘Aunul


Ma’bud 13/91.

[4] HR. Bukhari: 5912; Muslim: 30.

[5] HR. Muslim: 214.

[6] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang


memakai jimat, sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad:
17458).

[7] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa


mendatangi dukun lalu membenarkan perkataannya, atau mengauli
istrinya yang sedang haidh, menyetubuhi dubur istrinya, maka
sesungguhnya dia telah berlepas diri dari ajaran yang diturunkan
kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud:
3408; Tirmidzi: 135; dan selain mereka).

[8] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang


yang menyembelih (baca: memberikan sesajen) untuk selain
Allah.” (HR. Muslim: 1978).

[9] Allah ta’ala berfirman mengenai ucapan orang-orang musyrik,


yang artinya, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa
yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan
tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah
pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah.” (Yunus: 18).

[10] Al Istiqamah 1/466; Asy Syamilah.

[11] HR. Ibnu Hibban: 276


Akhlak Kepada Manusia
Pengertian Akhlak kepada sesama manusia berarti kita harus berbuat baik kepada sesama
manusia tanpa memandang kepada siapa orang tersebut, sehingga kita mampu hidup
dalam masyarakat yang aman dan tenteram.

o
َ ‫ َ و الناس منهُ ِفي‬,‫ ال َحسن ال ُخلُق من نفسه ِفي َراحة‬:‫قال بعض البلغاء‬
,‫و هو من نفسه ِفي َعناء سالمة‬,‫والسيئ الخلُق الناس منهُ ِفي بَالء‬

“Berkata beberapa ahli Balaghah; bahwa akhlak yang baik adalah (sikap)
yang memebuat diri yang bersangkutan tenang dan orang lain selamat atas
(perbuatan tersebut).
Sementara akhlak yang buruk adalah (perbuatan) yang membuat manusia mendapat
bala dan (pelaku) akhlak buruk itu sendiri sesungguhnya sedang sakit (jiwa).”
Adab Dunia dan Agama, Al Mawardi][10]

1. alam sejumlah hadits lainnya, Baginda Rasulullah ‫ ﷺ‬menyebut sejumlah


keistimewaan Akhlak Mulia ini. Saat beliau ditanya tentang apa itu
kebajikan (al-birr), misalnya, beliau langsung menjawab, “Al-Birr husn alkhulq
(Kebajikan itu adalah akhlak mulia.” (HR Muslim).

2. Beliau bahkan bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam
timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia.
Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-kata
keji.”(HR at-Tirmidzi).

3. Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah ‫ ﷺ‬pernah ditanya tentang apa yang
paling banyak menyebabkan orang masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa
kepada Allah dan akhlak mulia.” (HR atTirmidzi).

4. Keutamaan kedudukan orang yang berakhlak mulia juga disejajarkan dengan


keutamaan kedudukan orangyang biasa memperbanyak ibadah shaum (puasa) dan
sering menunaikan shalat malam. Baginda
Rasulullah‫ ﷺ‬bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan
akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasamelakukan shaum dan
menunaikan shalat malam.” (HR Abu Dawud).
Akhlak Kepada Rasulullah
akhlak baik kepada Rasul pada masa sekarang tidak bisa kita wujudkan dalam
bentuk lahiriyah atau jasmaniyah secara langsung sebagaimana para sahabat telah
melakukannya.

 Barangsiapa bershalawat untukku satu kali, maka dengan shalawatnya itu Allah
akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR. Ahmad).

 Manakala seseorang telah menunjukkan akhlaknya kepada Nabi dengan banyak


mengucapkan shalawat, maka orang tersebut akan dinyatakan oleh Rasul Saw
sebagai orang yang paling utama kepadanya pada hari kiamat, beliau bersabda:

 Sesungguhnya orang yang paling utama kepadaku nanti pada hari kiamat adalah
siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku (HR. Tirmidzi).

 Adapun orang yang tidak mau bershalawat kepada Rasul dianggap sebagai
orang yang kikir atau bakhil, hal ini dinyatakan oleh Rasul Saw:

 Yang benar-benar bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku


dihadapannya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku (HR. Tirmidzi dan
Ahmad)

 Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila
berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

 Selain itu, Rasul Saw juga mengingatkan umatnya agar waspada terhadap bid’ah
dengan segala bahayanya, beliau bersabda:

 Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan.


Oleh karena itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan
sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk
tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang
baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka
(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

 Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan berceritalah tentang Bani Israil
tidak ada larangan. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka
hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka (HR. Ahmad, Bukhari
dan Tirmidzi dari Ibnu Umar).
 Dia yang menciptakan manusia dari air yang dikeluarkan dari tulang punggung dan tulang
rusuk, hal ini sebagaimana di firmankan Allah SWT dalam surat At-Thariq ayat 5-7, sebagai
berikut :
ُ ‫ان فَ ْالــيَ ْن‬
‫ظر‬ ُ ‫س‬َ ‫( ُخلقَ مم ْاْل ْن‬۵) َ‫( َدافق َمآء م ْن ُخلق‬۶) ‫بَيْن م ْن يَ ْخ ُر ُج‬
‫ص ْلب‬
ًّ ‫( َوالت َرآئب ال‬۷)
Artinya : “(5). Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?, (6). Dia
diciptakan dari air (mani) yang terpancar, (7). Yang terpancar dari tulang sulbi (punggung)
dan tulang dada”.

 Kedua, karena Allah SWT –lah yang telah member perlengkapan panca indera, berupa
pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang
kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah SWT dalam syrat An-Nahl ayat 78 :

ُ‫ط ْون م ْن أَخـْ َر َج ُك ْم َوللا‬ ُ ُ‫ش ْيئًا ت َ ْعلَ ُم ْونَ لَ أُم َهات ُك ْم ب‬
َ , ‫الس ْم َع لَ ُك ُم َو َج َع َل‬
‫ار‬َ ‫ص‬ َ ‫ َو ْاْل َ ْفئ َدة َ َو ْاْل َ ْب‬,
‫( ت َ ْش ُك ُر ْونَ لَـ َعل ُك ْم‬۷۸)
Artinya : “(78). Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun dan DIa memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar
kamu bersyukur”.

 Ketiga, karena Allah SWT –lah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang
diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. Firman Allah SWT dalam surat
Al-Jasiyah ayat 12-13 :

ُ‫ي للا‬ ْ ‫سخ َر الذ‬ َ ‫ي ْالبَ ْح َر لَ ُك ُم‬


َ ‫َولَ َعل ُك ْم فَضْله م ْن َولت َ ْبتَغُ ْوا بأ َ ْمره فيْه ْالفُ ْلكُ لت َ ْجر‬
َ‫( ت َ ْش ُك ُر ْون‬۱۲)
‫سخ َر‬ َ ‫ م ْنهُ َجم ْيعًا ْاْل َ ْرض فى َو َما الس َم َاوات فى َما لَ ُك ْم َو‬, ‫َذال َك فى إن‬
‫( يَتَفَك ُر ْونَ لقَ ْوم ِليَات‬۱۳)
Artinya : “(12). Allah -lah yang menundukkan laut untuk mu agar kapal-kapal dapat berlayar
di atasnya dengan perintah-NYa, dan agar kamu bersyukur, (13). Dan Dia menundukan apa
yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari -Nya.
Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi orang-orang yang berfikir.

Keempat, Allah SWT –lah yang memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan
daratan dan lautan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Israa’ ayat 70 :
‫الطيبَات منَ َو َرزَ ْقنَا ُه ْم َو ْالبَ ْحر ْالبَر فى َو َح َم ْلنَا ُه ْم أ َد َم بَن ْي َكر ْمنَا َولَقَ ْد‬
‫مم ْن َكثبْر َعلَى َوفَض ْلنَا ُه ْم‬
‫( ت َ ْفض ْيلً َخلَ ْقنَا‬۷٠ )
Artinya : “(70). Dan sungguh, Kami telah muliakan anak-anak cucu Adam dan Kami angkut
mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka di ats banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang
sempurna”.
Dari sedikit uraian diatas, kita memang benar perlu untuk berakhlak kepada Allah SWT.
Karena alasan-alasan di atas adalah tolak ukur yang tepat dan terdapat perintah Allah SWT
di dalamnya bahwa kita sebagai seorang muslim memang diharuskan untuk berakhlak
kepada Sang Pencipta.
 Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan perlakuan
sesama manusia. Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan
melakukan hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil
harta tanpa alasan yang benar, tetapi juga sampai kepada menyakiti hati dengan cara
menceritakan aib sesorang dibelakangnya, tidak perduli aib itu benar atau salah.

َ ‫َحليم غَني َوَللاُ أَذًى يَتْبَعُ َها‬


‫ص َدقَة م ْن َخيْر َو َم ْغف َرة َم ْع ُروف قَ ْول‬
Artinya: "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah yang diiringi
dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah Maha Kaya Lagi Maha
Penyantun.(Al-Baqarah :263)

 Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara
wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan
salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik, firman allah surat An-
Nur ayat 24 :

َ ‫ِب َما َوأ َ ْرجله ْم َوأ َ ْي ِدي ِه ْم أ َ ْل ِسنَته ْم‬


‫علَ ْي ِه ْم ت َ ْش َهد يَ ْو َم‬
‫ون َكانوا‬ َ ‫يَ ْع َمل‬
Artinya: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka
terhadap apa yang dahulu mereka kerjaka.( An-Nur ayat 24 )
‫يرت ُ ُك ْم َوأ َ ْز َٰ َو ُج ُك ْم َوإ ْخ َٰ َونُ ُك ْم َوأ َ ْبنَا ٓ ُؤ ُك ْم َءا َبا ٓ ُؤ ُك ْم َكانَ إن قُ ْل‬
َ ‫َوأ َ ْم َٰ َول َو َعش‬
‫سا َدهَا ت َ ْخش َْونَ َوت َٰ َج َرة ٱ ْقت َ َر ْفت ُ ُموهَا‬ َ ‫سك ُن َك‬ َ ‫ٱّلل منَ إلَ ْي ُكم أ َ َحب ت َ ْر‬
َ َٰ ‫ض ْونَ َها ٓ َو َم‬
ْ
‫سولهۦ‬ ُ ‫سبيلهۦ فى َوج َهاد َو َر‬ َ ‫صوا‬ ُ ‫ى َحت َٰى فَت َ َرب‬ َ ‫َل َوٱّللُ بأ َ ْمرهۦ ٱّللُ َيأت‬
‫ْٱل َٰفَسقينَ ْٱلقَ ْو َم يَ ْهدى‬
Artinya : Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,
keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya dasn (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
fasik (QS At-Taubah : 24).

 Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang
yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak kepada Rasul,
bahkan Allah Swt akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat
yang tinggi dan mulia, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya:
ٓ
‫ٱّلل يُطع َو َمن‬ َ ‫سو َل‬ ُ ‫ٱلنبيۦنَ منَ َعلَيْهم ٱّللُ أ َ ْن َع َم ٱلذينَ َم َع فَأُو َٰلَئ َك َوٱلر‬
ٓ
َ‫ش َه َدآء َوٱلصديقين‬ َٰ ‫سنَ ۚ َو‬
ُّ ‫ٱلصلحينَ َوٱل‬ ُ ‫َرفيقًا أُو َٰلَئ َك َو َح‬

Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-
sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, orang-orang
yang benar, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman
yang sebaik-baiknya (QS An-Nisaa:69).

 ‫ّللا ت ُ ِحبُّونْ كُنتُمْ إِنْ قُ ْل‬ َْ ْ‫ّللاُ ذُنُوبكُمْ لكُمْ ويغ ِفر‬
َْ ‫ّللاُ يُح ِبب ُك ُْم فات َ ِبعُونِي‬ َْ ‫و‬
ْ‫ ر ِحيمْ غفُور‬Disamping itu, manakala kita telah mengikuti dan mentaati Rasul Saw, Allah
Swt akan mencintai kita yang membuat kita begitu mudah mendapatkan ampunan dari Allah
manakala kita melakukan kesalahan, Allah berfirman yang artinya: Katakanlah: “jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan
mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Imran :
31)

 ‫س ْلنَا َو َما‬
َ ‫سول م ْن أ َ ْر‬ ُ ‫ع إل َر‬ َ ‫طا‬َ ُ‫ظلَ ُموا إ ْذ أَن ُه ْم َولَ ْو ۚ َللا بإ ْذن لي‬ َ ُ‫أ َ ْنف‬
َ ‫س ُه ْم‬
َ ‫سو ُل لَ ُه ُم َوا ْست َ ْغفَ َر‬
َ ‫َللا فَا ْست َ ْغفَ ُروا َجا ُء‬
‫وك‬ ُ ‫َللا لَ َو َجدُوا الر‬
َ ‫َرحي ًما تَوابًا‬
Oleh karena itu, dengan izin Allah Swt, Rasulullah Saw diutus memang untuk ditaati,
Allah Swt berfirman yang artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk
ditaati dengan izin Allah (QS An-Nisaa : 64).