Anda di halaman 1dari 39

Menghitung torsi (T)

Menghitung torsi (T) 49 Menghitung daya motor yang dibutuhkan untuk memutar puli (P) Untuk keperluan maksimum

49

Menghitung daya motor yang dibutuhkan untuk memutar puli (P)

Menghitung daya motor yang dibutuhkan untuk memutar puli (P) Untuk keperluan maksimum daya dikalika factor koreksi

Untuk keperluan maksimum daya dikalika factor koreksi (Pd)

Untuk keperluan maksimum daya dikalika factor koreksi (Pd) 4.1.6 Daya motor untuk pengirisan Daya motor untuk

4.1.6 Daya motor untuk pengirisan

Daya motor untuk pengirisan = daya motor yang tersedia (daya motor untuk memutar poros pisau + daya motor untuk memutar poros penghubung + daya motor untuk memutar pulley pada motor listrik + daya motor untuk memutar pulley penghubung + daya motor untuk memutar pulley poros pisau)

4.1.7

Menghitung daya untuk mengiris tempe

4.2

Transmisi Daya menggunakan sabuk-v

Diketahui:

Daya yang direncanakan (P)

= 0,5

[HP]

Kecepatan putar motor (n 1 )

= 1440

[rpm]

Kecepatan putar poros penghubung (n 2 )

= 164,57

[rpm]

Kecepatan putar poros penerus (n 3 )

= 164,57

[rpm]

Kecepatan putar poros pisau (n 4 )

= 37,6

[rpm]

Diameter puli 1 (D 1 )

= 40

[mm]

Diameter puli 2 (D 2 )

= 350

[mm]

Diameter puli 3 (D 3 )

= 40

[mm]

Diameter puli 4 (D 4 )

= 175

[mm]

50

4.2.1 Menghitung perbandingan reduksi

Menghitung perbandingan reduksi dapat dilakukan dengan rumus:

Keterngan:

reduksi dapat dilakukan dengan rumus: Keterngan: (Sularso, 2008: 166) i = Perbandingan reduksi n 1

(Sularso, 2008: 166)

i

= Perbandingan reduksi

n

1

= Kecepatan motor

[rpm]

n

2

= Kecepatan poros penghubung

[rpm]

n

3

= Kecepatan poros penerus

[rpm]

n

4

= Kecepatan poros pisau pemotong

[rpm]

Maka:

n 4 = Kecepatan poros pisau pemotong [rpm] Maka: 4.2.2 Menghitung kecepatan linier sabuk-v Menghitung

4.2.2 Menghitung kecepatan linier sabuk-v

Menghitung kecepatan linier sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus:

Keterangan:

linier sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus: Keterangan: (Sularso, 2008: 166) v = Kecepatan linier sabuk-v

(Sularso, 2008: 166)

v

= Kecepatan linier sabuk-v

[mm/s]

d 1

= Diameter puli 1

[mm]

n 1

Maka:

= Kecepatan motor

[rpm]

n 1 Maka: = Kecepatan motor [rpm] 51 4.2.3 Memilih tipe sabuk Pemilihan tipe sabuk dapat

51

4.2.3 Memilih tipe sabuk Pemilihan tipe sabuk dapat dilakukan berdasarkan tabel dibawah ini:

tipe sabuk dapat dilakukan berdasarkan tabel dibawah ini: Gambar 4.2 Diagram Pemilihan Sabuk-V (Sularso, 2008: 164)

Gambar 4.2 Diagram Pemilihan Sabuk-V

(Sularso, 2008: 164)

Daya rencana

= 0,5 [HP]

= 0,372

[kW]

Kecepatan putar motor

= 1440

[rpm]

Berdasarkan diagram diatas maka diperoleh sabuk-V tipe A.

4.2.4 Perhitungan puli 1 & 2

4.2.4.1 Menghitung jarak sumbu poros

52

Menentukan jarak poros secara trial dapat dihitung dengan rumus:

jarak poros secara trial dapat dihitung dengan rumus: Keterangan: D 2 = Diameter puli yang digerakkan

Keterangan:

D 2 = Diameter puli yang digerakkan D 1 = Diameter puli penggerak

C = Jarak sumbu poros

Maka:

(Robert L. Mott, 2004: 273)

[mm]

[mm]

[mm]

sumbu poros Maka: (Robert L. Mott, 2004: 273) [mm] [mm] [mm] Jadi, C dicoba 370 [mm]
sumbu poros Maka: (Robert L. Mott, 2004: 273) [mm] [mm] [mm] Jadi, C dicoba 370 [mm]
sumbu poros Maka: (Robert L. Mott, 2004: 273) [mm] [mm] [mm] Jadi, C dicoba 370 [mm]

Jadi, C dicoba 370 [mm]

4.2.4.2 Menghitung panjang sabuk

Menghitung panjang sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus:

370 [mm] 4.2.4.2 Menghitung panjang sabuk Menghitung panjang sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus: (Khurmi, 2005: 690)

(Khurmi, 2005: 690)

370 [mm] 4.2.4.2 Menghitung panjang sabuk Menghitung panjang sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus: (Khurmi, 2005: 690)

53

Gambar 4.3 Panjang Sabuk Terbuka

(A Textbook of Machine Design: 688)

Keterangan:

L

= Panjang keliling sabuk

[mm]

= Diameter puli penggerak [mm]

= Diameter puli penggerak

[mm]

= Diameter puli yang digerakan [mm]

= Diameter puli yang digerakan

[mm]

x =

Jarak antara titik pusat puli

[mm]

Maka:

[mm] x = Jarak antara titik pusat puli [mm] Maka: Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso,
[mm] x = Jarak antara titik pusat puli [mm] Maka: Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso,
[mm] x = Jarak antara titik pusat puli [mm] Maka: Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso,
[mm] x = Jarak antara titik pusat puli [mm] Maka: Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso,
[mm] x = Jarak antara titik pusat puli [mm] Maka: Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso,

Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso, 2004: 168) maka diambil panjang sabuk-V standar 1397 [mm] atau 55 [inci] dan sabu-V tipe A

54

54 (Sularso, 2004: 168) 4.2.4.3 Menghitung jarak sumbu poros actual Menghitung jarak sumbu poros actual dengan

(Sularso, 2004: 168)

4.2.4.3 Menghitung jarak sumbu poros actual

Menghitung jarak sumbu poros actual dengan rumus

Dimana

Menghitung jarak sumbu poros actual Menghitung jarak sumbu poros actual dengan rumus Dimana (Robert L. Mott,
Menghitung jarak sumbu poros actual Menghitung jarak sumbu poros actual dengan rumus Dimana (Robert L. Mott,

(Robert L. Mott, 2004: 270)

Keterangan:

55

C

= Jarak sumbu poros aktual

[mm]

L

=

Panjang sabuk standar

[mm]

D 1 = Diameter puli penggerak

[mm]

D 2 = Diameter puli yang digerakan

[mm]

Maka:

D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya

Jadi C,

D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 2 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya

Jadi jarak sumbu poros aktualnya adalah 358,87 [mm]

4.2.4.4 Menghitung sudut kontak sabuk

Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus

sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: = Sudut kontak puli penggerak (Khurmi, 2005:
sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: = Sudut kontak puli penggerak (Khurmi, 2005:
sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: = Sudut kontak puli penggerak (Khurmi, 2005:

Keterangan:

sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: = Sudut kontak puli penggerak (Khurmi, 2005: 708) (

= Sudut kontak puli penggerak

(Khurmi, 2005: 708)

( o )

56

Sudut kontak puli yang digerakkan=

=

( o ) [mm]

jari puli penggerak= Jari

=

Jari

jari puli yang digerakkan= Jari

=

Jari

[mm] [mm]

x

= Jarak antar pusat puli

Maka:

Jadi

yang digerakkan = Jari [mm] [mm] x = Jarak antar pusat puli Maka: Jadi 4.2.4.5 Menghitung
yang digerakkan = Jari [mm] [mm] x = Jarak antar pusat puli Maka: Jadi 4.2.4.5 Menghitung
yang digerakkan = Jari [mm] [mm] x = Jarak antar pusat puli Maka: Jadi 4.2.4.5 Menghitung

4.2.4.5 Menghitung massa sabuk-v

yang digerakkan = Jari [mm] [mm] x = Jarak antar pusat puli Maka: Jadi 4.2.4.5 Menghitung

57

Gambar 4.4 Penampang Sabuk Tipe A

57 Gambar 4.4 Penampang Sabuk Tipe A Luas Penampang sabuk tipe Massa sabuk ( Sularso, 2008:

Luas Penampang sabuk tipe

Massa sabuk

(Sularso, 2008: 164)

Luas Penampang sabuk tipe Massa sabuk ( Sularso, 2008: 164 ) Keterangan: m = Massa sabuk
Luas Penampang sabuk tipe Massa sabuk ( Sularso, 2008: 164 ) Keterangan: m = Massa sabuk

Keterangan:

m = Massa sabuk per meter

[kg/m]

(Khurmi, 2005: 732)

58

L = Panjang sabuk As = Luas penampang sabuk = Massa jenis [m] [m 2
L = Panjang sabuk
As = Luas penampang sabuk
= Massa jenis
[m]
[m 2 ]
[kg/m 3 ]
Maka:
4.2.4.6
Menghitung gaya sentrifugal sabuk-v

Menghitung gaya sentrifugal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan:

sentrifugal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: (Khurmi, 2005: 708) Tc = Gaya tarik sentrifugal [N]

(Khurmi, 2005: 708)

Tc

= Gaya tarik sentrifugal

[N]

m

= Massa sabuk setiap satu meter

[kg/m]

v

= Kecepatan linier sabuk

[m/s]

Maka,

[kg/m] v = Kecepatan linier sabuk [m/s] Maka, 4.2.4.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v Menghitung
[kg/m] v = Kecepatan linier sabuk [m/s] Maka, 4.2.4.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v Menghitung
[kg/m] v = Kecepatan linier sabuk [m/s] Maka, 4.2.4.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v Menghitung

4.2.4.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v

Menghitung tegangan tarik masksimal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan:

Menghitung tegangan maksimum sabuk-v Menghitung tegangan tarik masksimal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan:

59

Massa jenis=

=

[kg/mm 2 ]

Tegangan tarik maksimal sabuk=

=

[N/mm

2 ]

L

= Panjang sabuk

[mm]

= Kecepatan gravitasi [mm/s 2 ]

=

Kecepatan gravitasi

[mm/s 2

]

= Faktor keamanan

= Faktor keamanan

Maka,

gravitasi [mm/s 2 ] = Faktor keamanan Maka, Menghitung tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan

Menghitung tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: T = Tegangan maksimum sabuk = Tegangan tarik

Keterangan:

T

= Tegangan maksimum sabuk

= Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5

= Luas penampang

sabuk = Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732)

A

Maka,

Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732) [N] [N/mm
Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732) [N] [N/mm

(Khurmi, 2005: 732)

[N] [N/mm 2 ] [mm 2 ]

4.2.4.8 Menghitung tegangan sisi kencang sabuk-v

Menghitung tegangan sisi kencang sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

60

60 Gambar 4.5 Tegangan Sabuk Sisi Kencang dan Sisi Kendor (A Textbook of Machine Design: 683)

Gambar 4.5 Tegangan Sabuk Sisi Kencang dan Sisi Kendor

(A Textbook of Machine Design: 683)

Keterangan:

Sisi Kendor (A Textbook of Machine Design: 683) Keterangan: (Khurmi, 2005: 732) = Tegangan sabuk sisi

(Khurmi, 2005: 732)

= Tegangan sabuk sisi kencang [N] T = Tegangan maksimum sabuk [N] = Tegangan sentifugal
=
Tegangan sabuk sisi kencang
[N]
T
= Tegangan maksimum sabuk
[N]
=
Tegangan sentifugal sabuk
[N]
Maka,
4.2.4.9
Menghitung tegangan sisi kendor sabuk-v

Menghitung tegangan sisi kendor sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

tegangan sisi kendor sabuk-v Menghitung tegangan sisi kendor sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus (Khurmi, 2005: 732)

(Khurmi, 2005: 732)

Keterangan:

Tegangan sabuk sisi kencangKeterangan: Tegangan sabuk sisi kendor µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3 = = [N] [N]

Tegangan sabuk sisi kendorKeterangan: Tegangan sabuk sisi kencang µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3 = = [N] [N]

µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3

=

=

[N]

[N]

61

= sudut kontak antar puli dengan sabuk ] = sudut alur puli ] Maka, 4.2.4.10
= sudut kontak antar puli dengan sabuk
]
= sudut alur puli
]
Maka,
4.2.4.10
Menghitung gaya total saat kencang

Untuk menghitung gaya total saat kencang adalah,

kencang Untuk menghitung gaya total saat kencang adalah, 4.2.4.11 Menghitung gaya total saat kendor Untuk menghitung

4.2.4.11 Menghitung gaya total saat kendor

Untuk menghitung gaya total saat kendor adalah,

saat kendor Untuk menghitung gaya total saat kendor adalah, 4.2.4.12 Menghitung daya maksimum sabuk Untuk menghitung

4.2.4.12 Menghitung daya maksimum sabuk

Untuk menghitung daya maksimum sabuk

Keterangan:

Keterangan: 62 (Khurmi, 2005: 732) P = Daya yang ditransmisikan dari sabuk [watt] = Tegangan sabuk

62

(Khurmi, 2005: 732)

P

= Daya yang ditransmisikan dari sabuk

[watt]

= Tegangan sabuk sisi kencang [N]

= Tegangan sabuk sisi kencang

[N]

= Tegangan sabuk sisi kendor [N]

= Tegangan sabuk sisi kendor

[N]

v = Kecepatan linier sabuk

[m/s]

Maka,

kendor [N] v = Kecepatan linier sabuk [m/s] Maka, 4.2.5 Perhitungan puli 3 & 4 4.2.5.1

4.2.5 Perhitungan puli 3 & 4

4.2.5.1 Menghitung jarak sumbu poros

Menentukan jarak poros secara trial dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan:

poros secara trial dapat dihitung dengan rumus: Keterangan: (Robert L. Mott, 2004: 273) D 4 =

(Robert L. Mott, 2004: 273)

D 4 = Diameter puli yang digerakkan

[mm]

D 3 = Diameter puli penggerak

[mm]

C

= Jarak sumbu poros

[mm]

Maka:

[mm] D 3 = Diameter puli penggerak [mm] C = Jarak sumbu poros [mm] Maka: Jadi,
[mm] D 3 = Diameter puli penggerak [mm] C = Jarak sumbu poros [mm] Maka: Jadi,
[mm] D 3 = Diameter puli penggerak [mm] C = Jarak sumbu poros [mm] Maka: Jadi,

Jadi, C dicoba 200 [mm]

63

4.2.5.2 Menghitung panjang sabuk

Menghitung panjang sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus:

Menghitung panjang sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus: (Khurmi, 2005: 690) Gambar 4.6 Panjang Sabuk Terbuka (A

(Khurmi, 2005: 690)

sabuk-V dapat dilakukan dengan rumus: (Khurmi, 2005: 690) Gambar 4.6 Panjang Sabuk Terbuka (A Textbook of

Gambar 4.6 Panjang Sabuk Terbuka

(A Textbook of Machine Design: 688)

Keterangan:

L

= Panjang keliling sabuk

[mm]

= Diameter puli penggerak [mm]

= Diameter puli penggerak

[mm]

= Diameter puli yang digerakan [mm]

= Diameter puli yang digerakan

[mm]

x =

Jarak antara titik pusat puli

[mm]

Maka:

puli penggerak [mm] = Diameter puli yang digerakan [mm] x = Jarak antara titik pusat puli
puli penggerak [mm] = Diameter puli yang digerakan [mm] x = Jarak antara titik pusat puli
puli penggerak [mm] = Diameter puli yang digerakan [mm] x = Jarak antara titik pusat puli
puli penggerak [mm] = Diameter puli yang digerakan [mm] x = Jarak antara titik pusat puli
puli penggerak [mm] = Diameter puli yang digerakan [mm] x = Jarak antara titik pusat puli

64

Berdasarkan table panjang sabuk-V standar (Sularso, 2004: 168) maka diambil panjang sabuk-V standar 762 [mm] atau 30 [inci] dan sabuk-V tipe A

sabuk-V standar 762 [mm] atau 30 [inci] dan sabuk-V tipe A (Sularso, 2004: 168) 4.2.5.3 Menghitung

(Sularso, 2004: 168)

4.2.5.3 Menghitung jarak sumbu poros actual

Menghitung jarak sumbu poros actual dengan rumus

tipe A (Sularso, 2004: 168) 4.2.5.3 Menghitung jarak sumbu poros actual Menghitung jarak sumbu poros actual
Dimana Keterangan:
Dimana
Keterangan:

65

(Robert L. Mott, 2004: 270)

C

= Jarak sumbu poros aktual

[mm]

L

= Panjang sabuk standar

[mm]

D 3 = Diameter puli penggerak

[mm]

D 4 = Diameter puli yang digerakan

[mm]

Maka:

D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya

Jadi C,

D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya
D 4 = Diameter puli yang digerakan [mm] Maka: Jadi C, Jadi jarak sumbu poros aktualnya

Jadi jarak sumbu poros aktualnya adalah 226,475 [mm]

4.2.5.4 Menghitung sudut kontak sabuk

Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus

aktualnya adalah 226,475 [mm] 4.2.5.4 Menghitung sudut kontak sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus
aktualnya adalah 226,475 [mm] 4.2.5.4 Menghitung sudut kontak sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus
aktualnya adalah 226,475 [mm] 4.2.5.4 Menghitung sudut kontak sabuk Menghitung sudut kontak dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan:

66

(Khurmi, 2005: 708)

Sudut kontak puli penggerak=

=

( o ) ( o ) [mm] [mm] [mm]

Sudut kontak puli yang digerakkan=

=

jari puli penggerak= Jari

=

Jari

jari puli yang digerakkan= Jari

=

Jari

x

= Jarak antar pusat puli

Maka:

jari puli penggerak = Jari jari puli yang digerakkan = Jari x = Jarak antar pusat
jari puli penggerak = Jari jari puli yang digerakkan = Jari x = Jarak antar pusat

Jadi

jari puli penggerak = Jari jari puli yang digerakkan = Jari x = Jarak antar pusat
jari puli penggerak = Jari jari puli yang digerakkan = Jari x = Jarak antar pusat

4.2.5.5 Menghitung massa sabuk-v

67

4.2.5.5 Menghitung massa sabuk-v 67 Gambar 4.7 Penampang Sabuk Tipe A Sudut alur Luas Penampang sabuk

Gambar 4.7 Penampang Sabuk Tipe A

Sudut alur

Menghitung massa sabuk-v 67 Gambar 4.7 Penampang Sabuk Tipe A Sudut alur Luas Penampang sabuk tipe

Luas Penampang sabuk tipe

(Sularso, 2008: 164)

Menghitung massa sabuk-v 67 Gambar 4.7 Penampang Sabuk Tipe A Sudut alur Luas Penampang sabuk tipe

Massa sabuk

Keterangan:

68

Massa sabuk Keterangan: 68 (Khurmi, 2005: 732) m = Massa sabuk per meter L = Panjang
Massa sabuk Keterangan: 68 (Khurmi, 2005: 732) m = Massa sabuk per meter L = Panjang

(Khurmi, 2005: 732)

m = Massa sabuk per meter L = Panjang sabuk As = Luas penampang sabuk
m = Massa sabuk per meter
L = Panjang sabuk
As
= Luas penampang sabuk
= Massa jenis
[kg/m]
[m]
[m 2 ]
[kg/m 3 ]
Maka:
4.2.5.6
Menghitung gaya sentrifugal sabuk-v

Menghitung gaya sentrifugal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan:

sentrifugal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: (Khurmi, 2005: 708) Tc = Gaya tarik sentrifugal [N]

(Khurmi, 2005: 708)

Tc

= Gaya tarik sentrifugal

[N]

m

= Massa sabuk setiap satu meter

[kg/m]

v

= Kecepatan linier sabuk

[m/s]

Maka,

sentrifugal [N] m = Massa sabuk setiap satu meter [kg/m] v = Kecepatan linier sabuk [m/s]
sentrifugal [N] m = Massa sabuk setiap satu meter [kg/m] v = Kecepatan linier sabuk [m/s]
69 4.2.5.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v Menghitung tegangan tarik masksimal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

69

4.2.5.7 Menghitung tegangan maksimum sabuk-v

Menghitung tegangan tarik masksimal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan:

masksimal sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: Massa jenis = [kg/mm 2 ] Tegangan tarik

Massa jenis=

=

[kg/mm 2 ]

Tegangan tarik maksimal sabuk=

=

[N/mm

2 ]

L

= Panjang sabuk

[mm]

= Kecepatan gravitasi [mm/s 2 ]

=

Kecepatan gravitasi

[mm/s 2

]

= Faktor keamanan

= Faktor keamanan

Maka,

gravitasi [mm/s 2 ] = Faktor keamanan Maka, Menghitung tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan

Menghitung tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

tegangan maksimum sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Keterangan: T = Tegangan maksimum sabuk = Tegangan tarik

Keterangan:

T

= Tegangan maksimum sabuk

= Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5

= Luas penampang

sabuk = Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732)

A

Maka,

sabuk = Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732)
sabuk = Tegangan tarik maksimum sabuk = 2,5 = Luas penampang A Maka, (Khurmi, 2005: 732)

(Khurmi, 2005: 732)

[N] [N/mm 2 ] [mm 2 ]

70

4.2.5.8 Menghitung tegangan sisi kencang sabuk-v

Menghitung tegangan sisi kencang sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

tegangan sisi kencang sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus Gambar 4.8 Tegangan Sabuk Sisi Kencang dan Sisi

Gambar 4.8 Tegangan Sabuk Sisi Kencang dan Sisi Kendor

(A Textbook of Machine Design: 683)

Keterangan:

Sisi Kendor (A Textbook of Machine Design: 683) Keterangan: (Khurmi, 2005: 732) = Tegangan sabuk sisi

(Khurmi, 2005: 732)

= Tegangan sabuk sisi kencang [N] T = Tegangan maksimum sabuk [N] = Tegangan sentifugal
=
Tegangan sabuk sisi kencang
[N]
T
= Tegangan maksimum sabuk
[N]
=
Tegangan sentifugal sabuk
[N]
Maka,
4.2.5.9
Menghitung tegangan sisi kendor sabuk-v

Menghitung tegangan sisi kendor sabuk-v dapat dilakukan dengan rumus

Keterangan: Tegangan sabuk sisi kencang Tegangan sabuk sisi kendor µ = Koefisien gesek sabuk =

Keterangan:

Tegangan sabuk sisi kencangKeterangan: Tegangan sabuk sisi kendor µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3 = = 71 (Khurmi,

Tegangan sabuk sisi kendorKeterangan: Tegangan sabuk sisi kencang µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3 = = 71 (Khurmi,

µ = Koefisien gesek sabuk = 0,3

=

=

71

(Khurmi, 2005: 732)

[N]

[N]

= sudut kontak antar puli dengan sabuk ] = sudut alur puli ] Maka, 4.2.5.10
= sudut kontak antar puli dengan sabuk
]
= sudut alur puli
]
Maka,
4.2.5.10
Menghitung gaya total saat kencang

Untuk menghitung gaya total saat kencang adalah,

kencang Untuk menghitung gaya total saat kencang adalah, 4.2.5.11 Menghitung gaya total saat kendor Untuk menghitung

4.2.5.11 Menghitung gaya total saat kendor

Untuk menghitung gaya total saat kendor adalah,

gaya total saat kencang adalah, 4.2.5.11 Menghitung gaya total saat kendor Untuk menghitung gaya total saat

72

4.2.5.12 Menghitung daya maksimum sabuk Untuk menghitung daya maksimum sabuk

Keterangan:

sabuk Untuk menghitung daya maksimum sabuk Keterangan: (Khurmi, 2005: 732)   P = Daya yang ditransmisikan

(Khurmi, 2005: 732)

 

P

= Daya yang ditransmisikan dari sabuk

[watt]

= Tegangan sabuk sisi kencang [N]

= Tegangan sabuk sisi kencang

[N]

= Tegangan sabuk sisi kendor [N]

= Tegangan sabuk sisi kendor

[N]

v = Kecepatan linier sabuk

 

[m/s]

Maka,

 
v = Kecepatan linier sabuk   [m/s] Maka,   4.3 Perhitungan Poros   4.3.1 Perhitungan Poros

4.3

Perhitungan Poros

 

4.3.1 Perhitungan Poros Pisau Keterangan:

W p1

[N]

Massa jenis steel Diameter Poros

= Berat pisau = 7,85 = 25 [mm]

= 0,025

[kg/m 3 ] [m]

Massa Pisau Massa piringan pisau Panjang Poros

= = = 380

= 0,38

[kg] [kg] [m]

W p2

= Berat piringan pisau

[N]

= 4 [buah]

= 4

[buah]

Diameter piringan pisau

= 500 [mm]

= 0,5

[m]

Tebal piringan pisau Percepatan gravitasi (g) Massa tempe kedelai (m)

= 2 [mm] = 9,81 =

= 0,002

[m] [m/s 2 ] [kg]

Panjang tempe kedelai (L)

a. Berat pisau (Wp1)

= [m]
=
[m]

b. Berat Piringan Pisau (Wp2)

Berat pisau (W p1 ) = [m] b. Berat Piringan Pisau (W p2 ) c. Berat

c. Berat beban pisau putar (Wpisau)

Piringan Pisau (W p2 ) c. Berat beban pisau putar (W pisau ) d. Gaya pada

d. Gaya pada puli (FTp)

Keterangan:

pisau putar (W pisau ) d. Gaya pada puli (FTp) Keterangan: = gaya pada puli [N]
= gaya pada puli

= gaya pada puli

[N]

gaya sabuk sisi kencang=

=

[N]

gaya sabuk sisi kendor=

=

[N]

73

e. Berat tempe kedelai (W)

f. Berat merata tempe kedelai (W tempe)

4.3.1.1 Perhitungan Momen Poros

Perhitungan momen pada poros dapat dilihat pada gambar di bawah

74

74 Gambar 4.9 Pembebanan Poros Pisau Arah Vertikal Gambar 4.10 Diagram Bebas Vertikal Keterangan: MB =

Gambar 4.9 Pembebanan Poros Pisau

74 Gambar 4.9 Pembebanan Poros Pisau Arah Vertikal Gambar 4.10 Diagram Bebas Vertikal Keterangan: MB =

Arah Vertikal

74 Gambar 4.9 Pembebanan Poros Pisau Arah Vertikal Gambar 4.10 Diagram Bebas Vertikal Keterangan: MB =

Gambar 4.10 Diagram Bebas Vertikal

Keterangan:

MB

= Momen di titik B

RBV

= Gaya reaksi di titik B vertikal

RCV

= Gaya reaksi di titik C vertikal

W

pisau

=

[N]

W

puli

=

[N]

FT pisau

=

[N]

MBV = 0RCV = Gaya reaksi di titik C vertikal W pisau = [N] W puli = [N]

= Gaya reaksi di titik C vertikal W pisau = [N] W puli = [N] FT
Arah Horizontal
Arah Horizontal

75

Arah Horizontal 75 Gambar 4.11 Diagram Bebas Horizontal Keterangan: MB = Momen di titik B RBH

Gambar 4.11 Diagram Bebas Horizontal

Keterangan:

MB

= Momen di titik B

RBH

= Gaya reaksi di titik B Horizontal

RCH

= Gaya reaksi di titik C Horizontal

W tempe

=

[N]

FTp

=

[N]

reaksi di titik B Horizontal RCH = Gaya reaksi di titik C Horizontal W tempe =
reaksi di titik B Horizontal RCH = Gaya reaksi di titik C Horizontal W tempe =
reaksi di titik B Horizontal RCH = Gaya reaksi di titik C Horizontal W tempe =

Nilai RBNilai RC 76 4.3.1.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal

Nilai RB Nilai RC 76 4.3.1.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan

Nilai RCNilai RB 76 4.3.1.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu

Nilai RB Nilai RC 76 4.3.1.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan

76

4.3.1.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum

Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu

Momen Bengkok VertikalMomen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0

ada vertikal dan horizontal yaitu Momen Bengkok Vertikal Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0

Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal

MAV = 0 MDV = 0
MAV
= 0
MDV
= 0
horizontal yaitu Momen Bengkok Vertikal Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0 MDV = 0

Momen Bengkok Horizontalmaksimum ada vertikal dan horizontal yaitu Momen Bengkok Vertikal Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal MAV =

horizontal yaitu Momen Bengkok Vertikal Gambar 4.12 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0 MDV = 0

77

Gambar 4.13 Diagram Bebas Horizontal

MDH = 0

77 Gambar 4.13 Diagram Bebas Horizontal MDH = 0 Nilai MB MB = MBV Nilai MC
77 Gambar 4.13 Diagram Bebas Horizontal MDH = 0 Nilai MB MB = MBV Nilai MC

Nilai MB77 Gambar 4.13 Diagram Bebas Horizontal MDH = 0 MB = MBV Nilai MC 4.3.1.3 Perhitungan

MB = MBV

Nilai MC4.13 Diagram Bebas Horizontal MDH = 0 Nilai MB MB = MBV 4.3.1.3 Perhitungan Torsi Pada

Diagram Bebas Horizontal MDH = 0 Nilai MB MB = MBV Nilai MC 4.3.1.3 Perhitungan Torsi

4.3.1.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)

Keterangan:

T

= Torsi pada poros

[Nm]

P

= 0,5 [HP]

[Watt]

n

= Kecepatan putar =

[rpm]

= 0,5 [HP] [Watt] n = Kecepatan putar = [rpm] 4.3.1.4 Perhitungan Torsi Ekivalen (T e

4.3.1.4 Perhitungan Torsi Ekivalen (Te)

Keterangan:

T e

= Torsi Ekivalen

[Nm]

M

=

[Nm]

T

=

[Nm]

K

t

= 1,5

2,0 diambil 1,5

K

m

= 1,5

2,0 diambil 1,5

78 4.3.1.5 Perhitungan Tegangan Tarik Ijin dan Tegangan Geser Izin Keterangan: = tegangan Tarik ijin
78 4.3.1.5 Perhitungan Tegangan Tarik Ijin dan Tegangan Geser Izin Keterangan: = tegangan Tarik ijin

78

4.3.1.5 Perhitungan Tegangan Tarik Ijin dan Tegangan Geser Izin

Keterangan:

= tegangan Tarik ijin ST37 [Mpa]

= tegangan Tarik ijin ST37

[Mpa]

= tegangan geser ijin ST37 [Mpa]

= tegangan geser ijin ST37

[Mpa]

= 6 (bahan S-C lampiran terlampir)

= 6 (bahan S-C lampiran terlampir)

2 (terjadi beban kejut dan tumbukan yang besar lampiran terlampir) =

2 (terjadi beban kejut dan tumbukan yang besar lampiran terlampir)

=

= 580 [N/mm 2 ]

= 580

[N/mm 2 ]

besar lampiran terlampir) = = 580 [N/mm 2 ] 4.3.1.6 Perhitungan Diameter Poros (d) Keterangan: d
besar lampiran terlampir) = = 580 [N/mm 2 ] 4.3.1.6 Perhitungan Diameter Poros (d) Keterangan: d

4.3.1.6 Perhitungan Diameter Poros (d)

Keterangan:

d

= diameter poros

[mm]

T e

=

[Nmm]

= [N/mm 2 ]

=

[N/mm 2 ]

poros [mm] T e = [Nmm] = [N/mm 2 ] 4.3.2 Perhitungan Poros Penghubung Keterangan: Massa

4.3.2 Perhitungan Poros Penghubung Keterangan:

Massa jenis steel Diameter poros

= 7,85 = 20 [mm]

= 0,025

[kg/m 3 ] [m]

79

Panjang poros

= 200 [mm]

[m]

Percepatan gravitasi (g)

= 9,81

[m/s 2]

a. Gaya pada puli 350 mm (FTp1)

Keterangan:

[m/s 2 ] a. Gaya pada puli 350 mm (FT p1 ) Keterangan: = gaya pada
=

=

gaya pada puli

[N]

gaya sabuk sisi kencang=

=

[N]

gaya sabuk sisi kendor=

=

[N]

b. Gaya pada puli 40 mm (FTp2)

Keterangan:

= [N] b. Gaya pada puli 40 mm (FT p2 ) Keterangan: = gaya pada puli
= gaya pada puli [N]

= gaya pada puli

[N]

= gaya sabuk sisi kencang [N]

= gaya sabuk sisi kencang

[N]

= gaya sabuk sisi kendor [N]

= gaya sabuk sisi kendor

[N]

4.3.2.1 Perhitungan Momen Poros

Perhitungan momen pada poros dapat dilihat pada gambar di bawah

Gambar 4.14 Pembebanan Poros Pisau

pada gambar di bawah Gambar 4.14 Pembebanan Poros Pisau Arah Vertikal Gambar 4.15 Diagram Bebas Vertikal

Arah Vertikal

Gambar 4.15 Diagram Bebas Vertikal

Keterangan:

80

MB

 

= Momen di titik B

RBV

= Gaya reaksi di titik B vertikal

RCV

= Gaya reaksi di titik C vertikal

W

puli1

=

[N]

W

puli2

=

[N]

 
 
 
 
W puli1 = [N] W puli2 = [N]       Arah Horizontal     Gambar
W puli1 = [N] W puli2 = [N]       Arah Horizontal     Gambar
W puli1 = [N] W puli2 = [N]       Arah Horizontal     Gambar
 
 
= [N] W puli2 = [N]       Arah Horizontal     Gambar 4.16 Diagram
= [N] W puli2 = [N]       Arah Horizontal     Gambar 4.16 Diagram
Arah Horizontal  

Arah Horizontal

 
 

Gambar 4.16 Diagram Bebas Horizontal

Keterangan:

 

MB

 

= Momen di titik B

RBH

= Gaya reaksi di titik B Horizontal

RCH

= Gaya reaksi di titik C Horizontal

FT

p1

=

[N]

FT

p2

=

[N]

titik B Horizontal RCH = Gaya reaksi di titik C Horizontal FT p 1 = [N]
titik B Horizontal RCH = Gaya reaksi di titik C Horizontal FT p 1 = [N]
Nilai RB Nilai RC 81 4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal

Nilai RBNilai RC 81 4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal

Nilai RB Nilai RC 81 4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan

Nilai RCNilai RB 81 4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu

Nilai RB Nilai RC 81 4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum Momen bengkok maksimum ada vertikal dan

81

4.3.2.2 Mencari Momen Bengkok Maksimum

Momen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu

Momen Bengkok VertikalMomen bengkok maksimum ada vertikal dan horizontal yaitu Gambar 4.17 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0

Gambar 4.17 Diagram Bebas Vertikal

MAV = 0 MDV = 0
MAV
= 0
MDV
= 0
Gambar 4.17 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0 MDV = 0 Momen Bengkok Horizontal Gambar 4.18

Momen Bengkok Horizontalyaitu Momen Bengkok Vertikal Gambar 4.17 Diagram Bebas Vertikal MAV = 0 MDV = 0 Gambar

Gambar 4.18 Diagram Bebas Horizontal

MAH = 0

MDH = 0

MAH = 0 MDH = 0 Nilai MB Nilai MC 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)
MAH = 0 MDH = 0 Nilai MB Nilai MC 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)

Nilai MBMAH = 0 MDH = 0 Nilai MC 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T) Keterangan: 82

MAH = 0 MDH = 0 Nilai MB Nilai MC 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)

Nilai MCMAH = 0 MDH = 0 Nilai MB 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T) Keterangan: 82

MAH = 0 MDH = 0 Nilai MB Nilai MC 4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)

4.3.2.3 Perhitungan Torsi Pada Poros (T)

Keterangan:

82

T

= Torsi pada poros

[Nm]

P

= 0,5 [HP]

[Watt]

n

= Kecepatan putar =

[rpm]

= 0,5 [HP] [Watt] n = Kecepatan putar = [rpm] 4.3.2.4 Perhitungan Torsi Ekivalen (T e

4.3.2.4 Perhitungan Torsi Ekivalen (Te)

Keterangan:

T e

= Torsi Ekivalen

[Nm]

M

=

[Nm]

T

=

[Nm]

K

t

= 1,5

2,0 diambil 1,5

K

m

= 1,5

2,0 diambil 1,5

83 4.3.2.5 Perhitungan Tegangan Tarik Ijin dan Tegangan Geser Izin Keterangan: = tegangan Tarik ijin

83

4.3.2.5 Perhitungan Tegangan Tarik Ijin dan Tegangan Geser Izin

Keterangan:

= tegangan Tarik ijin ST37 [Mpa]

= tegangan Tarik ijin ST37

[Mpa]

= tegangan geser ijin ST37 [Mpa]

= tegangan geser ijin ST37

[Mpa]

= 6 (bahan S-C lampiran terlampir)

= 6 (bahan S-C lampiran terlampir)

== 2 (terjadi beban kejut dan tumbukan yang besar lampiran terlampir)

== 2 (terjadi beban kejut dan tumbukan yang besar lampiran terlampir)

= 580 [N/mm 2 ]

= 580

[N/mm 2 ]

yang besar lampiran terlampir) = 580 [N/mm 2 ] 4.3.2.6 Perhitungan Diameter Poros (d) Keterangan: d
yang besar lampiran terlampir) = 580 [N/mm 2 ] 4.3.2.6 Perhitungan Diameter Poros (d) Keterangan: d

4.3.2.6 Perhitungan Diameter Poros (d)

Keterangan:

d

= diameter poros

[mm]

T e

=

[Nmm]

= [N/mm 2 ]

=

[N/mm 2 ]

poros [mm] T e = [Nmm] = [N/mm 2 ] 4.4 Perhitungan sambungan las 4.4.1 Perhitungan

4.4 Perhitungan sambungan las

4.4.1 Perhitungan sambungan las pada rangka Diketahui:

84

s

= 5

[mm]

l

= 40

[mm]

37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ]

37

= 370 [Mpa] = 370

[N/mm 2]

a. Perhitungan leher las

= 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ] a. Perhitungan leher las Sambungan Las Corner Join

Sambungan Las Corner Join

2 ] a. Perhitungan leher las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las
2 ] a. Perhitungan leher las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las
2 ] a. Perhitungan leher las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las

b. Perhitumgan luas sambungan leher las

las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las c. Kekuatan sambungan las pada

c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal

las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las c. Kekuatan sambungan las pada
las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las c. Kekuatan sambungan las pada
las Sambungan Las Corner Join b. Perhitumgan luas sambungan leher las c. Kekuatan sambungan las pada
85 d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui:

85

d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel

85 d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui: s
85 d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui: s
85 d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui: s
85 d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui: s

4.4.2 Perhitungan sambungan las pada hopper Diketahui:

s

=

[mm]

l

=

[mm]

37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ]

37

= 370 [Mpa] = 370

[N/mm 2]

a. Perhitungan leher las

l = [mm] 37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ] a. Perhitungan leher las

b. Perhitumgan luas sambungan leher las

l = [mm] 37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ] a. Perhitungan leher las

86

c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal

86 c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.3

d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel

tunggal d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel 4.4.3 Perhitungan sambungan las pada cover Diketahui: s

4.4.3 Perhitungan sambungan las pada cover Diketahui:

s

=

[mm]

l

=

[mm]

37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ]

37

= 370 [Mpa] = 370

[N/mm 2]

a. Perhitungan leher las

l = [mm] 37 = 370 [Mpa] = 370 [N/mm 2 ] a. Perhitungan leher las

b. Perhitumgan luas sambungan leher las

87 c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel

87

c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal

87 c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel

d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel

87 c. Kekuatan sambungan las pada sambungan tunggal d. Kekuatan sambungan las pada sambungan parallel