Anda di halaman 1dari 2

Kapitalisme Student Loan Terhadap Kesetaraan Akses Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran kepada peserta didik agar memiliki
pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam
berpikir. Secara garis besar pendidikan bertujuan mencerdaskan dan mengambangkan potensi
dalam diri seseorang agar menciptakan suatu kepribadian yang memiliki watak, akhlak,
sikap, dan moral yang bermartabat bagi masyarakat. Oleh karena itu, semua orang berhak
untuk mengenyam pendidikan hingga mencapai pendidikan di perguruan tinggi.
Namun dalam kehidupan sekarang pemerataan pendidikan masih sangat minim,
terutama di negara Indonesia. Faktor terbesar yang mempengaruhi dalam pendidikan adalah
kurangnya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Terutama dalam
program pendidikan di perguruan tinggi yang umumnya memiliki biaya pendidikan yang
cukup mahal. Tidak heran, jika banyak mahasiswa yang berlomba-lomba mencari beasiswa
untuk dapat melanjutkan pendidikan.
Kondisi demikian banyak macam pemecahan yang telah dan sedang dilakukan oleh
pemerintah untukmeningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Salah satu program yang terkenal di negara-negara maju adalah Student
Loan. Pada pertengahan Maret 2018, Presiden Jokowi Widodo meminta perbankan
mengeluarkan fitur finansial baru berupa kredit pendidikan atau student loan. Student Loan
adalah pinjaman yang ditawarkan kepada siswa untuk melunasi biaya yang berhubungan
dengan pendidikan seperti biaya kuliah, tempat tinggal atau buku pelajaran. Biasanya
pinjaman ini memiliki suku bunga yang lebih rendah dari pinjaman yang lain. Secara umum,
siswa tidak diharuskan untuk membayar kembali pinjaman ini sampai akhir masa sekolah
atau kuliahnya, dimana biasanya mulai di bayar atau di lunasi setelah mereka menyelesaikan
pendidikan mereka. Student loan memberikan penawaran-penawaran yang dapat membantu
untuk membiayai uang kuliah, buku-buku, serta biaya hidup mahasiswa.
Student loan atau pinjaman pendidikan ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi
masyarakat. Apakah program student loan akan efektif jika diterapkan di negara-negara
berkembang atau justru menjadi bumerang? Dan bagaimana dampak jika student loan benar-
benar diterapkan di negara-negara selatan seperti Indonesia? Student loan yang diwacanakan
Jokowi ini mendapatkan sambutan positif dari pihak yang bakal ikut andil dalam kelanjutan
sistem ini di Indonesia, salah satunya adalah pihak perbankan yang bekerja sama dengan
pemerintah serta universitas untuk melaksanakan sistem pinjaman pendidikan ini.
Namun, tidak hanya respon positif yang diperoleh dari adanya sistem student loan ini.
Pada penelitian Facing The Student-Debt Crisis: Restoring The Integrity Of The Federal
Student Loan Program menyatakan program pinjaman siswa yang didanai pemerintah
federal. Diperkirakan $ 165 miliar hutang kepada bank swasta dan lembaga keuangan yang
berada di luar program pinjaman mahasiswa federal.Dalam beberapa tahun terakhir, semakin
terbukti bahwa banyak mantan siswa mengalami kesulitan membayar kembali pinjaman
siswa mereka (Cloud& Fossey, 2014 : 468).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Cloud & Fossey ini dapat diketahui bahwa
Student laon memiliki dampak negatif . Salah satu dampak yang diperoleh itu adalah dapat
menyebabkan kredit macet. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua mahasiswa setelah lulus
langsung dapat pekerjaan. Sekalipun dapat pekerjaan, kecil kemungkinan gaji yang diperoleh
dalam membayar pinjaman pendidikan. Hal yang juga menjadi penyebab terjadinya kredit
macet dari pinjaman pendidikan ini adalah biaya hidup seseorang yang berbeda satu sama
lain, misalnya adanya kebutuhan sandang dan pangan ditiap daerah yang berbeda-beda.
Menurut College Board, di tahun 2014–2015, biaya kuliah S1 di universitas negeri
per tahun mencapai USD 23,000, sedangkan di universitas swasta mencapai USD 31,000. Ini
belum termasuk biaya hidup dan biaya-biaya lainnya. Misalkan kita kalikan dengan 4 atau 5
tahun, tergantung berapa semester gelar berhasil diraih. Dari hal tersebut, bisa dipahami
bahwa lulusan 2015 berutang hingga USD 120,000 selama 4 tahun kuliah S1. Penghasilan
median Amerika Serikat di tahun 2014 adalah USD 51,400 dan ini mencakup mereka yang
telah berpengalaman kerja cukup lama. Para lulusan baru (fresh graduates) entry-
level menerima gaji sekitar USD 20,000 hingga USD 30,000 per tahun. Angka ini relatif
bergantung dari berbagai faktor, seperti sektor industri, lokasi kerja (upah median berbeda
setiap kota), dan skill yang dimiliki. Jumlah demikian untuk biaya hidup di kota yang biaya
sewa apartemen satu kamar yang mencapai USD 1000 hingga USD 2,500 per bulan, tidaklah
seberapa. Sisa yang ditabung pun bisa dipastikan nihil ataupun sangat minim(Fadzilah,2017).
Jika kita perhatikan pada penjelasan diatas dapat diketahui dampak besar lainnya
yaitu jika mahasiswa tidak dapat membayar pinjaman dalam kurun waktu yang ditentukan,
maka akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara yang juga ikut melambat. Hal ini
dapat terjadi karena pinjaman pendidikan akan membawa akibat sosial dan ekonomi yang
luar biasa, seperti penutupan perguruan-perguruan tinggi karena nihilnya biaya operasi,
kepailitan para pemberi pinjaman (lender), dan sebagainya. Padahal, pendidikan tinggi adalah
pilar penting suatu masyarakat dan negara. Selain itu, dampak yang ditimbulkan yakni utang
mahasiswa bertambah dan utang negara pun juga ikut bertambah jika mahasiswa tidak dapat
mengembalikan dana pinjaman tersebut.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia masih sangat sulit untuk
melaksanakan student loan karena masih terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan
layanan ini. Pemicu lainnya ialah mahasiswa di Indonesia terbiasa disuapi gratis dengan
beasiswa oleh lembaga-lembaga donor baik dari luar negeri atau dari pemerintah dan
lembaga swasta dalam negeri. Media massa, seperti majalah, koran dan internet pun belum
memberikan pencerahan dalam hal ini.Student loan memang bukanlah cara pembiayaan
terbaik untuk melanjutkan pendidikan terutama dinegara berkembang seperti Indonesia
karena akan berpengaruh besar terhadap perekonomian negara.