Anda di halaman 1dari 18

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

GRAND THEORY PENDIDIKAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah


Pengantar Pendidikan
Yang diampu oleh Ibu Rosyi Damayani Twinsari Maningtyas

Disusun oleh :

Rafi Mu’iz (180513626539)


Zaidan Al-Falakh (180513626510)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
S1 PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

i
Februari 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha kuasa atas
segala rahmat dan bimbingannya kepada kelompok tujuh sehingga makalah ini
dapat terselesaikan sesuai dengan topik yang diberikan oleh Ibu Rosyi Damayani
Twinsari Maningtyas. Adapun judul dari makalah ini adalah Aliran-aliran
Pendidikan Grand Theory Pendidikan.

Dalam makalah ini akan membahas beberapa hal tentang aliran-aliran


dalam dunia pendidikan serta pada bab terakhir akan menjelaskan teori-teori kunci
yang ada pada dunia pendidikan. Dengan membaca makalah ini semoga kita
semua dapat lebih memahami aliran dan teori yang ada di dalamnya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak


kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat kami
butuhkan. Pada kesempatan ini pula kami sampaikan terima kasih kepada semua
pihak, khususnya dosen pengajar yang banyak memberikan kritik dan sarannya.
Akhir kata segala upaya yang kita lakukan dapat memberikan manfaat kepada kita
semua.

Malang, 23 Februari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Cover.........................................................................................................i

Kata Pengantar.........................................................................................................ii

Daftar Isi.................................................................................................................iii

Bab I : 1.1. Latar Belakang...................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah..............................................................................1

1.3. Tujuan.................................................................................................1

Bab II : 2.1. Aliran Klasik dan Gerakan Baru Dalam Suatu Pendidikan..............2

2.2. Dua “Aliran” Pokok Pendidikan di Indonesia..................................8

Bab III : 3.1. Simpulan..........................................................................................14

3.2. Saran................................................................................................14

Daftar Pustaka........................................................................................................15

iii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika


manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan
itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial-budaya
dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan
pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan.

Seperti dalam bidang-bidang lainnya, pemikiran-pemikiran dalam pendidikan


itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran
terdahulu selalu di tanggapi pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan
karena dialog tersebut akan melahirkan lagi pemikiran-pemikiran baru, dan
demikian seterusnya.

Agar diskusi berkepanjangan itu dapat diikuti dan dapat dipahami, maka
berbagai aspek dari aliran-aliran itu harus dipahami terlebih dahulu. Oleh karena
itu setiap calon tenaga kependidikan, utamanya calon pakar kependidikan, harus
memahami berbagai aliran-aliran itu agar dapat menangkap makna setiap gerak
dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu.

1.2. Rumusan Masalah


1) Apa sajakah aliran-aliran klasik dalam pendidikan?
2) Apa sajakah gerakan baru dalam pendidikan dan pengaruhnya di
Indonesia?
3) Bagaimana isi dari gagasan pokok dua tonggak pemikiran pendidikan di
Indonesia?

1.3. Tujuan
1) Memahami aliran-aliran klasik dalam pendidikan (empirisme, nativisme,
naturalisme, dan konvergensi) serta pengaruhnya di Indonesia.
2) Memahami beberapa gerakan baru dalam pendidikan, utamanya
pengajaran, serta pengaruhnya di Indonesia.
3) Memahami gagasan-gagasan pokok dua tonggak pemikiran pendidikan di
Indonesia (Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidik INS
Kayu Tanam), upaya-upaya, dan hasilnya.

BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1 ALIRAN KLASIK DAN GERAKAN BARU DALAM PENDIDIKAN

Pemikiran – pemikiran tentang pendidikan telah dimulai pada zaman Yunani


Kuno, dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang
pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Pemikiran itu tersebar ke seluruh dunia,
termasuk Indonesia, dengan berbagai cara, seperti : dibawa oleh bangsa penjajah
ke daerah jajahannya, melalui bacaan ( buku dan sejenisnya), dibawa oleh orang –
orang yang pergi belajar ke Eropa / AS.

Aliran – aliran klasik yang meliputi aliran empirisme, nativisme, dan


konvergensi merupakan aliran yang mewakili berbagai variasi pendapat tentang
pendidikan, mulai dari yang pesimis sampai optimis. Aliran yang paling pesimis
memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak
bakat yang telah dimiliki anak. Sedangkan aliran yang sangat optimis memandang
anak seakan – akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.

Terdapat beberapa gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan
yang pengaruhnya masih terasa sampai kini, yakni gerakan – gerakan pengajaran
alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja dan pengajaran proyek.
Gerakan ini sangat mempengaruhi cara – cara guru dalam mengelola kegiatan
belajar mengajar disekolah. Oleh karena itu, gerakan itu dapat dikaji untuk
memperkuat wawasan dan pengetahuan tentang pengajaran.

1. Aliran – aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran


pendidikan di Indonesia.

Perbedaan pandangan tentang hakikat manusia itu berpangkal pada perbedaan


pandangan tentang perkembangan manusia. Terdapat perbedaan penekanan di
dalam sesuatu teori kepribadian tertentu tentang faktor manakah yang paling
berpengaruh dalam perkembangan kepribadian. Teori –teori dari strategi
disposisional, terutama yang berdasar pandangan biologis (konstitusional) dari
kreteshmer dan seldom, memberikan tekanan pada pengaruh faktor hereditas,
sedang teori – teori dari strategi behavioral dan strategi phenomenologist
menekankan faktor belajar. Kedua strategi yang terakhir ini, meskipun keduanya
menekankan faktor belajar, tetapi mengemukakan pandangan yang berbeda
tentang bagaimana proses belajar itu terjadi. Strategi behavioral memandang
manusia sebagai makhluk pasif yang tergantung pada pengaruh lingkungannya,
sedang strategi phenomenologist memandang manusia sebagai makhluk aktif
yang mampu beraksi dan melakukan pilihan sendiri.

a. Aliran Empirisme
3

Aliran empirisme bertolak dari tradisi yang mementingkan stimulasi


eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan
anak bergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan.
Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris John Locke (1704 –
1932) yang mengembangkan teori “ Tabularasa “, yakni anak dilahirkan di dunia
bagaikan kertas putih yang bersih. Penganut aliran ini masih pada pendapat –
pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk yang pasif dan dapat
dimanipulasi, umpama melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada
pandangan scientific psychology dari B.F. Skinner ataupun pandangan behavioral.
Pandangan behavioral juga masih bervariasi dalam menentukan faktor apakah
faktor yang paling utama dalam proses belajar itu sebagai berikut :

1. Pandangan yang menekankan peranan stimulus terhadap perilaku


2. Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan
sesuatu perilaku
3. Pandangan yang menekankan pengamatan dan imitasi.

b. Aliran Nativisme

Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian tradition yang menekankan


kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor
pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Schopenhauer
( Filsuf Jerman 1788 – 1860 ) berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan
pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan
ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Istilah nativisme dari
asal kata ”natie” yang artinya terlahir. Bagi Nativisme, lingkungan sekitar tidak
ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi
perkembangan anak.

Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology / humanistik


tersebut sebagai berikut :

1. Pendekatan aktualisasi diri atau non-direktif


2. Pendekatan “Personal Construct”
3. Pendekatan “Gestalt”
4. Pendekatan “Search for meaning”

c. Aliran Naturalisme

Pandangan yang ada persamaannya dengan Nativisme adalah aliran


naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J Rousseau (1712-1778).
Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai
pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan menjadi rusak karena dipengaruhi
oleh lingkungan. Beliau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang
dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga
4

disebut, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan


anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tak diperlukan. Yang
dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik
itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan
pendidikan itu.

d. Aliran konvergensi

Perintis aliran ini adalah William stern (1871 – 1939), seorang ahli
pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di
dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Penganut aliran ini
berpendapat bahwa dalam proses pengembangan anak , baik faktor pembawaan
maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan penting. Bakat yang
dibawa pada waktu lahir tak akan berkembang dengan baik tanpa adanya
dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya
lingkungan yang baik tak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal
kalau memang pada diri anak tak terdapat bakat yang diperlukan untuk
mengembangkan itu.

Karena itu, teori W-stern disebut teori konvergensi (konvergen) artinya


memusat kesatu titik. Jadi menurut teori konvergensi :

1. Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.


2. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan
kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan
mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik
3. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

e. Pengaruh aliran klasik terhadap pemikiran dan praktik pendidikan di


Indonesia.

Aliran-aliran pendidikan yang klasik mulai dikenal di Indonesia melalui


upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari pengusaha penjajah
Belanda dan disusul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar di negeri
Belanda pada masa penjajahan. Meskipun peranan pandangan empirisme dan
nativisme tidak sepenuhnya ditolak, tetapi penerimaan itu dilakukan dengan
pendekatan afektif fungsional yakni diterima sesuai dengan kebutuhan, namun
ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi. Seperti telah dikemukakan
tumbuh-kembang manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni hereditas,
lingkungan, proses perkembangan itu sendiri, dan anugerah. Faktor itu merupakan
pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib
manusia.

2. Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pelaksanaan di


Indonesia.
5

Pendidikan sebagai kegiatan yang kompleks menuntut penanganan untuk


meningkatkan kualitasnya, baik yang bersifat menyeluruh maupun pada beberapa
komponen tertentu saja. Gerakan – gerakan baru dalam pendidikan pada
umumnya termasuk yang kedua yakni upaya peningkatan mutu pendidikan hanya
dalam satu beberapa komponen saja. Meskipun demikian, sebagai suatu sistem,
penanganan satu atau beberapa komponen itu akan mempengaruhi komponen
yang lain. Beberapa dari gerakan – gerakan baru tersebut memusatkan diri pada
perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar – mengajar pada sistem
persekolahan, seperti pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah
kerja, pengajaran proyek dan sebagainya (Suparlan, 1984; Soejono, 1958).

a. Pengajaran Alam Sekitar

Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah


gerakan pengajaran alam sekitar. Perintis gerakan ini adalah Fr. A. Finger dan Hot
Volle Leven. Prinsip dari gerakan ini adalah :

1) Dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat meragakan secara


langsung.

2) Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya


agar anak aktif atau giat tidak hanya duduk, dengar, dan catat saja.

3) Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran


totalitas suatu bentuk pengajaran dengan ciri - ciri dalam poin sebagai
berikut.

a. Suatu pengajaran yang tidak mengenai pembagian mata pelajaran dalam


daftar pengajaran.

b. Suatu pengajaran yang menarik minat

c. Suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu


berhubungan satu sama lain secara teratur.

4) Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual


yang kokoh dan tidak verbalistis.

5) Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alam


sekitar memberikan ikatan emosional dengan anak.

Alam sekitar sebagai fundamen pendidikan dan pengajaran memberikan dasar


emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala
sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu didasarkan dan atas dan diambil dari
6

alam sekitarnya. J. Lingthart mengemukakan pegangan dalam Het Volle Leven


sebagai berikut :

1) Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar


namanya

2) Pengajaran sesungguhnya itu harus mendasari pengajaran selanjutnya, atau


mata pengajaran yang lain harus dipusatkan atas itu.

3) Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya ke semua


jurusan agar murid paham akan hubungan antara bermacam – macam
lapangan dalam hidupnya (pengajaran alam sekitar).

b. Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly ( 1871 –


1932 ) dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat – pusat minat ( Centres
d’interest ), di samping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan
menurut Decroly berdasar pada semboyan : Ecole pour la vie, par la vie ( sekolah
untuk hidup dan oleh hidup ).

Pengetahuan anak harus bersifat subyektif dan obyektif. Decroly


menyumbangkan pendapat yang sangat berguna bagi pengajaran dan pendidikan,
yang merupakan dua nilai yang khas dari Decroly :

1) Metode Global

2) Centre d’interest

Anak – anak mempunyai minat spontan terhadap diri sendiri dan terhadap
diri sendiri diri itu, dapat kita bedakan menjadi : (a) Dorongan mempertahankan
diri, (b) Dorongan mencari makan dan minum, dan (c) Dorongan memelihara diri
sendiri. Sedangkan minat terhadap masyarakat ialah : (a) Dorongan sibuk bermain
– main, (b) Dorongan meniru orang lain. Dorongan – dorongan inilah yang
digunakan sebagai pusat minat.

c. Sekolah Kerja

Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari


pandangan – pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam
pendidikan. J.A. Cornenius (1592-1670) menekankan agar pendidikan
mengembangkan : pikiran, ingatan, bahasa, dan tangan (keterampilan, kerja
tangan).

Sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan itu tidak
hanya demi kepentingan individu tatapi juga demi kepentingan masyarakat.
7

Dengan kata lain, sekolah berkewajiban menyiapkan warga negara yang baik,
yakni : (1) Tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan jabatan, (2) Tiap
orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan Negara, dan (3)
Dalam menunaikan kedua tugas tersebut haruslah selalu diusahakan
kesempurnaannya, agar dengan jalan itu tiap warga Negara ikut membantu
mempertinggi dan menyempurnakan kesusilaan dan keselamatan negara.

Berdasarkan hal itu, maka menurut G. Kerschensteiner tujuan sekolah


adalah :

(1) Menambah pengetahuan anak

(2) Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu.

(3) Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam
mengabdi negara

Kerschensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama dalam sekolah


adalah mempersiapkan anak – anak untuk dapat bekerja. Banyaknya macam
pekerjaan yang menjadi pusat pelajaran, yang dibagi menjadi tiga golongan besar:

(1) Sekolah – sekolah perindustrian ( tukang cukur, tukang cetak, tukang kayu,
tukang daging, masinis, dan lain – lain )

(2) Sekolah – sekolah perdagangan ( makanan, pakaian, bank, asuransi,


pemegang buku, porselen, pisau, dan gunting dari besi, dan lain – lain )

(3) Sekolah – sekolah rumah tangga, bertujuan mendidik para calon ibu yang
diharapkan akan menghasilkan warga negara yang baik.

Leo de Paeuw merupakan pengikut G. Kerschensteiner , membuka lima


macam seklah kerja yaitu :

(1) Sekolah teknik kerajinan, (2) Sekolah dagang, (3) Sekolah pertanian bagi
anak laki-laki, (4) Sekolah rumah tangga kota dan (5) Sekolah rumah tangga desa.
Kedua yang terakhir ini khusus untuk para gadis dan dapat berhasil baik. Sedang
sekolah-sekolah bentuk lainnya bersifat intelektualistik.

d. Rintisan Pengajaran Proyek

Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek


diletakkan oleh Jhon Dewey (1859-1952), namun pelaksanaannya dilakukan oleh
pengikutnya, utamanya W.H.Kilpatrick (1871-….). Dewey menegaskan bahwa
sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (becoine a microcosm of
society); oleh karena itu, pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan
bukannya penyampaian untuk kehidupan di masa depan (education is a process of
8

living and not a preparation for future living) Ulich,1950:318). Dikemukakan


bahwa Dewey merupakan peletak dasar dari falsafah pragmatisme dan penganut
behaviorisme.

Pengajaran proyek di Amerika

Khusus dalam bidang pengajaran, Dewey menegaskan pengajaran proyek


anak bebas menentukan pilihannya merancang serta memimpin. Proyek yang
ditentukan oleh anak mendorongnya mencari jalan keluar bila menemui kesulitan.

e. Pengaruh Gerakan Baru Dalam Pendidikan Terhadap Penyelengaraan


Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk memperluas


pemahaman tentang seluk beluk pendidikan serta memupuk wawasan historis dari
setiap tenaga kependidikan. Kedua hal itu sangat penting karena seiap keputusan
dan tindakan kependidikan, termasuk di bidang pembelajaran, akan membawa
dampak bukan hanya pada masa kini tetapi juga masa depan.

2.2 DUA “ALIRAN” POKOK PENDIDIKAN DI INDONESIA

Dua “Aliran” pokok pendidikan di Indonesia itu dimaksudkan adalah


perguruan kebangsaan taman siswa dan ruang pendidikan INS Kayu Tanam.
Kedua aliran ini dipandang sebagai suatu tonggak pemikiran tentang pendidikan
di Indonesia. Namun, perlu dikemukakan bahwa prakarsa dan upaya dibidang
pendidikan tidak hanya terbatas oleh taman siswa dan INS itu saja.

Setelah Belanda memperkenalkan sistem persekolahan di Indonesia,


timbul pula berbagai upaya untuk mendirikan sekolah RA. Kartini (1879 – 1904)
sebelum menikah telah berhasil mendirikan sekolah untuk anak perempuan di
Jepara, dan setelah menikah didirikanlah pula di Rembang. Dan demikianlah pula
tokoh di bidang keagamaan (Islam, Kristen, Katolik, dan sebagainya) setelah
merintis persekolahan yang bercorak keagamaan sesuai agamanya masing-
masing, sebagai contoh Muhammadiyah didirikan 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Yang bercorak kebangsaan adalah perguruan kebangsaan Taman Siswa (didirikan
oleh K.H. Dewantara pada 3 Juli 1922) ruang pendidik INS Kayu Tanam
(didirikan oleh Muh. Sjafei pada 31 Oktober 1926).

1. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa

Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara


(lahir 2 Mei 1889 dengan nama Suwardi Suryaningrat) pada tanggal 3 Juli 1932 di
Yogyakarta, yakni dalam bentuk yayasan, selanjutnya mulai didirikan Taman
Indria, Taman Dewasa.

a. Asas dan Tujuan Taman Siswa


9

Perguruan Kebangsaan Taman Siswa mempunyai tujuh asas perjuangan


untuk menghadapi kolonial Belanda. Ketujuh asas tersebut adalah sebagai berikut.

1) Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur diri sendiri (zelf


bschikkingsrect) dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri
kehidupan umum.

2) Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang


dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.

3) Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan


sendiri.

4) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada


seluruh rakyat.

5) Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir


maupun batin hendaknya diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan
menolak bantuan apa pun dari siapa pun yang mengikat, baik ikatan lahir
maupun batin.

6) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak


harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan (zelf begrotings-
system).

7) Bahwa dalam mendidik anak – anak perlu keikhlasan lahir dan batin,
untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan anak-
anak.

Selanjutnya dikemukakan penjelasan resmi dari Perguruan Kebangsaan


Taman Siswa tentang ketujuh asas 1922 tersebut Ki Hajar Dewantara 1952 : 270-
271, wawasan kependidikan guru, 1982: 148-151.

Dalam perkembangan selanjutnya Taman Siswa melengkapi “Asas 1922”


tersebut dengan “Dasar – dasar 1974” yang disebut “Panca Dharma”. Selain itu,
tujuan perguruan Kebangsaan Taman Siswa dapat dibagi dua jenis yakni tujuan
yayasan atau keseluruhan perguruan dan tujuan pendidikan. Tujuan yang pertama
adalah :

1. Sebagai yang dinyatakan dalam keterangan “Asas Taman Siswa”


tahun 1922 Pasal 1, tujuan Taman Siswa sebagai badan perjuangan
kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang tertib dan damai.

2. Tertib yang sebenarnya tidak akan ada damai antara manusia.

b. Upaya – upaya Pendidikan yang Dilakukan Taman Siswa


10

Peraturan Dasar Persatuan Taman Siswa menetapkan berbagai upaya yang


dilakukan Taman Siswa, baik dilingkungan perguruan maupun di luar lingkungan
perguruan itu. Di lingkungan perguruan, untuk mencapai tujuannya (seperti yang
dinyatakan dalam pasal 8).

Selain upaya – upaya dalam lingkungan perguruan, untuk mencapai tujuan


Taman Siswa, juga berusaha di luar lingkungan perguruan dengan jalan (Pasal
10).

c. Hasil – hasil yang dicapai

Yayasan Perguruan Kebangsaan Taman Siswa telah mencapai hal seperti :


gagasan / pemikiran tentang pendidikan nasional, lembaga – lembaga pendidikan
dari Taman Indria sapai dengan Sarjana Wiyata.

Akhirnya perlu dikemukakan harapan seperti yang tercermin dalam Tajuk


Rencana Harian Kompas menyambut Kongres ke-16 hari dan jadi ke-70 Taman
Siswa yang berjudul : “Menyegarkan kembali Semangat Humanisme Ki Hajar
Dewantara”.

Karena tanpa penyegaran dan dinamisasi, dapat terjadi Taman Siswa


sebagai “Indonesia Kecil” bisa mengikuti “sesama Taman Siswa”. Harapan kita,
semua penyegaran dan dinamisasi itu akan terus berkembang agar Taman Siswa
dapat maju.

2. Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

31 Oktober 1926 Indonesia Nederlandsche School didirikan di Kayu Tanam,


Sumatera Barat. Awalnya dipimpin bapaknya dan lalu diambil alih oleh Moh.
Sjafei. Jumlah murid pertama kali adalah 75 murid.

• Desember 1948 seluruh gedung INS dibumihanguskan.

• Mei 1950 INS bangkit kembali oleh Moh. Sjafei dengan 30 murid.

• Tahun 1952 mendirikan percetakan Sridharma dan menerbitkan majalah


bulanan Sendi untuk anak-anak.

a. Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

• Berpikir logis dan rasional

• Keaktifan atau kegiatan

• Pendidikan masyarakat
11

• Memperhatikan pembawaan anak

• Menentang intelektualisme

Setelah Indonesia merdeka, Moh. Sjafei mengembangkan asas-asas di atas


menjadi Dasar – dasar Pendidikan Republik Indonesia (Moh. Sjafei, 1979: 31-86;
dan Said, 1981: 57-69).

1) Ketuhanan Yang Maha Esa

2) Kemanusiaan

3) Kesusilaan

4) Kerakyatan

5) Kebangsaan

6) Gabungan antara pendidikan ilmu umum dan kejuruan

7) Percaya pada diri sendiri juga pada Tuhan

8) Berakhlak (bersusila) setinggi mungkin

9) Bertanggung jawab akan keselamatan nusa dan bangsa

10) Berjiwa aktif positif dan aktif negatif

11) Mempunyai daya cipta

12) Cerdas, logis, dan rasional

13) Berperasaan tajam, tajam, dan estetis

14) Gigih atau ulet yang sehat

15) Correct atau tepat

16) Emosional atau terharu

17) Jasmani sehat dan kuat

18) Cakap berbahasa Indonesia, Ingggris, dan Arab

19) Sanggup hidup sederhana dan bersusah payah

20) Sanggup mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan alat serba kurang

21) Sebanyak mungkin memakai kebudayaan nasional waktu mendidik


12

22) Waktu mengajar para guru sebanyak mungkin menjadi objek, dan
murid sebagai subjek. Bila hal ini tidak mungkin barulah guru menjadi
subjek dan murid menjadi objek

23) Sebanyak mungkin para guru mencontohkan pelajaran-pelajarannya,


tidak hanya pandai menyuruh saja

24) Diusahakan supaya pelajar mempunyai darah ksatria; berani karena


benar

25) Mempunyai jiwa konsentrasi

26) Pemeliharaan (perawatan) sesuatu usaha

27) Menepati janji

28) a. Sebelum pekerjaan dimulai dibiasakan menimbangnya dulu sebaik-


baiknya
b. Kewajiban harus dipenuhi

29) Hemat

Tujuan Ruang pendidik INS Kayu Tanam adalah

• Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan

• Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat

• Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat

• Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan bertanggung jawab

• Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan

b. Usaha – usaha Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

Di bidang kelembagaan, antara lain

• Menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan seperti ruang rendah (7


tahun, setara SD) dan ruang dewasa (4 tahun, setara sekolah menengah)

• Tambahan pendidikan selama 1 tahun, program khusus menjadi guru


(Said, 1981:57-69)

Selain itu sebagai bagian dari usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, INS
menerbitkan majalah anak Sendi, dalam rangka pemberantasan buta aksara dan
angka dengan judul Kunci 13.
13

Dan INS melakukan usaha-usaha tersebut dengan mandiri, dan menolak


bantuan yang mungkin akan membatasi kebebasannya.

c. Hasil-hasil yang Dicapai Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

• Menciptakan sumber daya manusia yang berkompeten, memiliki


keterampilan/kerajinan, guna menjadi seorang pendidik yang
profesional,

• Menciptakan beberapa jenjang pendidikan

• Menerbitkan beberapa majalah dan buku dalam rangka menuntaskan


buta huruf, aksara, dan angka

• Memberikan penyegaran dan dinamisasi seiring perkembangan


masyarakat dan iptek.

Dan upaya-upaya di atas dilakukan dalam kerangka pengembangan Sisdiknas,


sebagai bagian dari usaha mewujudkan cita-cita Ruang Pendidik INS, yakni
mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia.

BAB III
PENUTUP
14

3.1 SIMPULAN

Pemikiran tentang pendidikan sejak dulu, kini dan masa yang akan datang
terus berkembang. Hasil – hasil dari pemikiran tersebut disebut aliran pendidikan
atau gerakan baru dalam suatu pendidikan. Aliran / gerakan tersebut memengaruhi
pendidikan di seluruh dunia, termasuk pendidikan di Indonesia. Dari sisi lain, di
Indonesia juga muncul gagasan – gagasan tentang pendidikan yang dapat
dikategorikan sebagai aliran pendidikan, yakni Taman Siswa dan INS Kayu
Tanam.

Kajian tentang berbagai aliran atau gerakan pendidikan itu akan


memberikan pengetahuan dan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. Hal
itu sangat penting, agar para pendidik dapat memahami, dan pada gilirannya nanti
dapat memberikan kontribusi terhadap dinamika pendidikan itu. Dan yang tidak
kalah pentingnya adalah bahwa dengan pengetahuan dan wawasan historis
tersebut, setiap tenaga kependidikan diharapkan memiliki bekal yang memadai
dalam meninjau berbagai masalah yang dihadapi, serta pertimbangan yang tepat
dalam menetapkan kebijakan dan tindakan sehari – hari.

3.2 SARAN

Mempelajari Aliran-aliran Pendidikan dan Grand Theory memerlukan


konsentrasi tinggi agar dapat memahami seluruh informasi mengenai material
bahan teknik yang kompleks. Pembaca harus dapat melakukan membaca intensif
agar seluruh materi dapat dipahami dengan baik.

DAFTAR RUJUKAN

Tirtarahardja, Prof. Dr. Umar.1995.Pengantar Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta


15

Dasar Ilmu Pendidikan. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V,


Buku IIA. 1981 . Jakarta : Proyek PIPT Ditjen Dikti Depdikbud.
Dewantara, Ki Hajar. 1962 . Karya Ki Hajar Dewantara . Yogyakarta : Majelis
Luhur Taman Siswa
Undang – undang tentang Sistem Pendidikan nasional (UU RI No. 2 Tahun 1989)
dan Peraturan Pelaksanaannya. Jakarta : Sinar Grafika.
Wawasan Kependidikan Guru, Program Akta Mengajar V-B Komponen Dasar
Kependidikan, Buku II : Modul No. 5 (1982). Jakarta : PPIPT Ditjen Dikti
Depdikbud.

Anda mungkin juga menyukai