Anda di halaman 1dari 10

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 02.04.

03
RUMAH SAKIT TK IV 02.07.04

PANDUAN

DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN

RUMAH SAKIT TK IV 02.07.04

BANDAR LAMPUNG
Lampiran

Surat Keputusan Kepala Rumah Sakit

Nomor :

Tanggal :

BAB I

DEFINISI

DPJP (dokter penanggung jawab pelayanan) : adalah seseorang dokter, sesuai


dengan kewenangan klinisnya terkait penyakit pasien, memberikan asuhan medis
lengkap kepada satu pasien dengan satu patologi/ penyakit, dari awal sampai
dengan akhir perawatan dirumah skait, baik pada pelayanan rawat jalan dan rawat
inap. Asuhan medis lengkap artinya melakukan asesmen medis sampai dengan
implementasi rencana serta tindak lanjutnya sesuai kebutuhan pasien. Pasien
dengan lebih dari stau penyakit dikelola oleh lebih drai satu DPJP sesuai
kewenangan klinisnya, dalam pola asuhan secara tim atau terintegrasi. Contoh :
pasien dengan Diabetes Melittu, katarak, dan stroke, dikelola oleh lebih dari satu
DPJP:dokter spesialis Penyakit dalam, dokter spesialis mata, dan dokter spesialis
saraf.

DPJP Utama : bila pasien dikelola oleh lebih dari satu DPJP, maka asuhan media
tersebut dilakukan secara terintegrasi dan secara tim diketuai oleh seorang DPJP
Utama.

Peran DPJP utama adalah sebagai koordinator proses pengelolaan asuhan medis
bagi pasien yang bersangkutan, dengan tugas menjaga terlaksananya asuhan
medis komprehensif-terpadu-efektif, dmei keselamatan pasien melalui komunikasi
efektif dengan membangun sinergisme dan mencegah duplikasi.

Dokter yang memberikan pelayanan interpretatif, misalnya memberikan uraian/data


tentang hasil laboratorium atau radiologi, tidak dipakai istilah DPJP, karena tidak
memberikan asuhan medis yang lengkap.
Asuhan pasien (patient care) diberikan dengan pola pelayanan berfokus pada
pasien (patient centered care), dan DPJP merupakan ketua (team leader) dari tim
yang terdiri dari paar professional pemberi asuhan pasien/staf klinis dengan
kompetensi dan kewenangan yang memadai, yang diantara lain terdiri dari dokter,
perawat, ahli gizi, apoteker, fisioterapin

BAB II
RUANG LINGKUP

Dirumah sakit DKT ditetapkan bahwa setiap pasien yang dirawat harus mempunyai
DPJP yaitu seorang dokter spesialis yang bertanggung jawab atas pengelolaan
pelayanan medis seorang pasien dan mempunyai tanggung jawab utama untuk
memberikan informasi dan penjelasan mengenai penyakit dan tindak lanjut
penanangannya. DPJP dipelayanan rawat jalan meliputi dokter/dokter gigi/dokter
spesialis.

Pedoman ini berlaku pada semua pelayanan rumah skait yang meliputi : emergensi,
rawat jalan, rawat inap, ruang tindakan, ruang perawatan khusus (HCU). Penetapan
DPJP dalam pelayanan medis pasien bertujuan:

a. Untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan pelayanan medis sesuai


standar pelayanan kedokteran / standar operasional prosedur yang berlaku di
rumah sakit DKT dan mendapatkan informasi yang benar tentang
penyakitnya.
b. Untuk memastikan asuhan medis pasien dilakukan oleh dokter yang
berkompeten sesuai dengan kasusnya/penyakitnya
c. Untuk menjamin kualitas pelayanan dan keselamatan pasien

BAB III
TATALAKSANA

1. Setiap pasien yang mendapat asuhan medis dirumah sakit baik rawat jalan
maupun rawat inap harus memiliki DPJP
2. Pada unit/ instalasi gawat darurat, dokter jaga menjadi DPJP pada pemberian
asuhan medis awal/penanganan kegawat-daruratan. Kemudian selanjutnya
saat dilakukan konsultasi/ rujuk ditempat (onside) atau konsultasi lisan
kepada dokter spesialis, dan dokter spesialis tersebut memberikan asuhan
medis (termasuk instruksi secara lisan) maka dokters pesialis tersebut telah
menjadi DPJP telah berganti dari dokter jaga IGD kepada dokter spesialis
tersebut.
3. Apabila pasien mendapat asuhan medis lebih dari satu DPJP, maka harus
ditunjuk DPJP utama yang berasal dari para DPJP pasien terkait. Kesemua
DPJP tersebut bekerja secara tim dlam tugas mandiri maupun kolaboratif,
berinteraksi dan berkoordinasi (dibedakan dengan bekerja sendiri-sendiri)
4. Peran DPJp utama adlah sebagai koordinator proses pengelolaan asuhan
medis bagi pasien yang bersangkutan (sebagai ketua tim), dengan tugas
menjaga terlaksananya asuhan medis komperhensif –terpadu-efektif, demi
keselamatan pasien melalui komunikasi yang efektif dan membangun
sinergisme dengan mendorong penyesuaian pendapat (adjustment) antar
anggota, mengarhakan agar tindakan masing-masing DPJP bersifat
kontributif (bukan intervensi), dan juga mencegah duplikasi
5. Tim membuat keputusan melalui DPJP utama termasuk keinginan DPJP
mengkonsultasikan ke dokter spesialis lain agar dikoordinasikan melalui
DPJP utama .kepatuhan DPJP terhadap jadwal kegiatan dan ketepatan waktu
misalnya antara lain kehadiran atau menjanjikan waktu kehadiran, adalah
sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pasien serta untuk kepentingan
koordinasi sehari-hari
6. Dibawah koordinasi DPJP utama, sekurang kurangnya ada rapat tim yang
melibatkan semua DPJP yang bersangkutan sesuai kebutuhan pasien, rumah
sakit diharapkan menyediakan ruangan untuk rapat tim di tempat-tempat
pelayanan misalnya dirawat inap,ICU, IGD .DPJP utama juga bertugas untuk
menghimpun komunikasi/data tentang pasien.
7. Setiap penunjukan DPJP harus diberitahu kepada pasien dan keluarga,
pasien dan keluarga dapat menyetujui atau sebaliknya. Rumah sakit
berwenang mengubah DPJP bila terjadi pelanggaran prosedur
8. Koordinasi dan transferinformasi antar DPJP dilakukan secara lisan dan
tertulis sesuai kebutuhan. Bila ada pergantian DPJP pencatatan di rekam
medis harus jelas tentang alih tanggung jawabnya. Harap digunakan formulir
DPJP (contoh formulir terlampir)
9. Pada unit pelayanan intesif DPJP Utama adalah dokter intensifis. Koordinasi
dan tingkatan keikutsertaan para DPJP terkait
10. Pada kamar operasi DPJP Bedah adlaah ketua dlaam seluruh kegiatan pada
saat di kamar operasi tersebut
11. Pada keadaan khusus misalnya seperti konsul saat diatas meja
operasi/sedang dioperasi, dokter yang dirujuk tersebut melakukan
tindakan/memberikan instruksi maka otomatis menjadi DPJP juga bagi pasien
tersebut
12. Dalam pelaksanaan pelayanan dan asuhan pasien, bila DPJP dibnatu oleh
dokter lain (dokter ruangan) dimana yang bersangkutan boleh menulis/
mencatat di rekam media, maka tanggung jawab adalah tetap ada pada
DPJP, sehingga DPJP ynag bersangkutan harus memberikan supervisi,
menentukan skal prioritas dan melakukan validasi berupa pemberian paraf/
tanda tangan pad asetiap catatan kegiatan tersebut direkam medis
13. Asuhan pasien dilaksanakan oleh para profesional pemberi asuhan yang
bekerja secara tim sesuai konsep pelayanan fokus pada pasien, DPJP
sebagai ketua tim harus proaktif melakukan koordinasi dan mengintergrasikan
asuhan pasien, serta berkomunikasi intesif dan efektif dalam tim. Termasuk
dalam kegiatan ini adalah perencanaan pulang (discharge planning)yang
dapat dilakukan pada awal masuk rawat inap atau pada akhir rawat inap
14. DPJP harus aktif dan intensif dalam pemberian edukasi/informasi kepada
pasien dan keluarganya. Gunakan dan kembangkan tehnik komunikasi yang
berempati komunikasi merupakan elemen yang penting dlaam konteks
pelayanan fokus pada pasien, selain juga merupakan kompetensi dokter
dalam area kompetensi ke 3
15. Pendokumentasian yang dilakukan oleh DPJP di rekam medis harus
mencantumkan nama dan paarf/tandatangan. Pendokumentasian tersebut
dilakukan antara lain di form asesmen awal medis, catatan perkembangan
pasien terintegrasi/ CPPT (integrated note), form asesmen pra
anestesi/sedasi, instruksi pasca bedah, form edukasi/informasi ke pasien dan
sebagainya. Termasuk juga pendokumentasian keputusan hasil pembahasan
tim medis, hasil ronde bersama multi kelompok staf medis/departemen, dan
sebagainya.
16. Pada kasus tertentu DPJP sebagai ketua tim dari para profesional pemberi
asuhan bekerjasama erat dengan manajer pelayanan pasien (hospital Case
manager), agar terjaga kontinuitas pelayanan baik waktu rawat inap, rencana
pemulangan, tindak lanjut asuhan mandiri dirumah, kontrol dan sebagainya.
17. Pada setiap rekam medis harus ada pencatatan (kumulatif, bila lebih dari
satu) tentang DPJP,dalam bentuk satu formulir yang diisi secara periodik
sesuai kebutuhan/ penambahan/ pengurangan / penggantian, yaitu nama dan
gelar setiap DPJP, tanggal mulai dan akhir penanganan pasien, DPJP Utama
nama dan gelar, tanggal mulai dan akhir sebagai DPJP Utama. Daftar ini
bukan berfungsi sebagai daftar hadir.
18. Keterkaitan DPJP dengan Panduan Praktek Klinis / alur Perjalanan Klinis/
clinical Pathway, setiap DPJP bertanggung jawab mengupayakan proses
asuhan pasien ( baik asuhan medis maupun asuhan keperawatan) yang
diberikan kepada pasien patuh pada Panduan Praktek Klinis/ Alur Perjalanan
klinis/ clinical Pathway yang telah ditetapkan oleh RS. Tingkat kepatuhan
pada panduan praktek klinik/ Alur Perjalanan klinis/ clinical Pathway ini akan
menjadi objek audit klinis dan audit medis
19. Apabila dokter tidak mematuhi alur Perjalanan klinis/ clinical Pathway/
Panduan Praktek Klinik maka harus memberi penjelasan tertulis dan dicatat di
rekam medis.

Di unit / instalasi gawat darurat dokter jaga yang bersertifikat kegawat-daruratan


antara lain : ATLS,ACLS,PPGD, menjadi DPJP pada saat asuhan awal pasien
gawat darurat. Saat pasien dikonsul/ rujuk ke dokter spesialis dan memberikan
asuhan medis, maka dokter spesialis tersebut menjadi DPJP pasien tersebut
menggantikan DPJP sebelumnya, yaitu dokter jaga IGD tersebut diatas.

Penunjukan / penetapan DPJP:


1. Penetapan DPJP harus dilakukan sejak pertama pasien masuk Rumah Sakit,
baik dari Instalasi rawat jalan maupun Instalasi gawat darurat
2. Penentuan dan pengaturan DPJP pasien bedasarkan jadwal konsulen jaga,
dimana konsulen jaga hari itu menjadi DPJP pasien baru, kecuali kasus
rujukan yang ditujukan langsung kepada salah seorang konsulen.
3. Juga berdasarkan surat rujukan langsung kepada salah satu dokter spesialis
yang dituju otomatis menjadi DPJP pasien yang dimaksud, kecuali bila dokter
tersebut berhalangan karena sesuatu hal, maka pelimpahan DPJP beralih
kepada konsulen jaga pada hari itu.
4. Jika dalam pemeriksaan oleh dokter jaga ditemukan penyakit pasien tidak
sesuai dengan SMF dokter spesialis yang dituju maka dokter jaga akan
mengkomunikasikan dengan pasien tentang DPJP pasien yang bersangkutan
dan penetapan DPJP dilakukan oleh dokter jaga atas seijin pasien
5. Atas permintaan pasien. Pasien dan keluarga berhak meminta salah seorang
dokter sebagai DPJP apabila ada relevansinya, hendaknya diberikan
alternatif DPJP lain. Penjelasannya sebaiknya dilakukan oleh dokter jaga.
6. Pada kasus yang sangat kompleks atau jarang penetuan DPJP/ DPJP Utama
dapat ditentukan bedasarkan rapat komite medis
7. Kriteria penunjukan DPJP utama untuk seorang pasien, sebagai berikut:
a. DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang pertama kali mengelola
pasien pada awal perawatan
b. DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang mengelola pasien dengan
penyakit dalam kondisi (relative)
c. DPJP Utama dapat ditentukan melalui kesepakatan antar para DPJP
penyakit
d. DPJP Utama dapat merupakan pilihan dari pasien
8. Penentuan atau penetapan DPJP adalah penetuan dokter yang bertanggung
jawab dalam memberikan rangkaian asuhan medis kepada pasien sehingga
pasien mendapatkan pelayanan medis oleh dokter sesuai dengan bidang
kompetensi dan keahlian
9. Uraian tugas DPJP
a. Mengelola asuhan medis seorang pasien sesuai dengan standar
pelayanan medis yang meliputi: anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, perencanaan pemberian terapi, tindak lanjut/
follow up (evaluasi asuhan medis) sampai rehabilitasi.
b. Melakukan konsultasi dengan disiplin terkait lain untuk meminta
pendapat atau perawatan bersama
c. Membuat rencana pelayanan dalam berkas rekam medis yang memuat
segala aspek asuhan medis yang akan dilakukan termasuk
pemeriksaan konsultasi, rehabilitasi pasien dan sebagainya
d. Memberikan penjelasan secara rinci kepada pasien dan keluarga
tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk
pasien termasuk kejadian yang tidak diharapkan
e. Memberikan pendidikan/ edukasi kepada pasien tentang kewajibannya
terhadap rumah skait dan bila diperlukan dibantu oleh staf
dokter/perawat/staf administrasi
f. Pemberian pendidikan/ edukasi kepada pasien tentang penyakit pasien
tersebut, dan harus dicatat dalam rekam medis, bahwa DPJP telah
memberikan penjelasan
g. DPJP harus memberikan penjelasan mengenai kewajiban pasien yaitu:
1) Pasien dan keluarganya wajib memberi informasi yang
jelas,benar, dan jujur tentang penyakit dan kondisi lain
2) Pasien dan keluarganya wajib mengetahui kewajiban dan
tanggung jawabnya
3) Pasien dan keluarganya wajib mengajukan pertanyaan untuk
hal-hal yang tidak dimengerti
4) Pasien dan keluarganya wajib memahami dan menerima
konsekuensi pelayanan
5) Pasien dan keluarganya wajib mengikuti instruksi dan
menghormati peraturan rumah sakit
6) Pasien dan keluarganya wajib memperlihatkan sikap
menghormati dan tenggang rasa
7) Pasien dan keluarganya wajib memenuhi kewajiban finansial
yang disepakati
BAB IV

DOKUMENTASI

Dengan mengacu pada UU no. 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran pasal 46
menerangkan bahwa dokter dlaam menjalankan praktek kedokteran wajib membuat
rekam medis, harus dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan
kesehatan dan harus dibubuhi nama, waktu dan tanda tangan petugas yang
memberikan pelayanan atau tindakan . dan dalam pasal 47 menyebutkan bahwa
dokumen rekam medis merupakan milik dokter, atau sarana pelayanan kesehatan,
sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien dan harus dijaga kerahasiannya
oleh dokter, dan tentang rekam medis. Sehingga dokter selalu dituntut dan wajib
bertanggung jawab dalam pengisian dan kelengkapan dokumen rekam medis.
Dalam pengisian informed consent DPJP memberikan informasi serta yang harus
memberikan persetujuan atau penolakan tindakan kedokteran. Informed consent
harus ditanda tangani dokter dan pasien sebelum tindakan medis dilakukan.