Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Istilah “ekowisata” dapat diartikan sebagai perjalanan oleh seorang turis ke daerah
terpencil dengan tujuan menikmati dan mempelajari mengenai alam, sejarah dan budaya di suatu
daerah, di mana pola wisatanya membantu ekonomi masyarakat lokal dan mendukung
pelestarian alam. Para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa
pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap lingkungan dan budaya
setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai
konservasi.
Dalam bahasa Indonesia istilah ecotourism diterjemahkan menjadi “Ekowisata”, yaitu
sejenis pariwisata yang berwawasan lingkungan. Maksudnya, melalui aktifitas yang berkaitan
dengan alam, wisatawan diajak melihat alam dari dekat, menikmati keaslian alam dan
lingkungannya sehingga membuatnya tergugah untuk mencintai alam. Semuanya ini sering
disebut dengan istilah Back-To-Nature.
Berbeda dengan pariwisata yang biasa kita kenal, ekowisata dalam penyelenggaraannya
tidak menuntut tersedianya fasilitas akomodasi yang modern atau glamour yang dilengkapi
dengan peralatan yang serba mewah atau bangunan artifisial yang berlebihan. Pada dasarnya,
ekowisata dalam penyelenggaraannya dilakukan dengan kesederhanaan, memelihara keaslian
alam dan lingkungan, memelihara keaslian seni dan budaya, adat-istiadat, kebiasaan hidup (the
way of life), menciptakan ketenangan, kesunyian, memelihara flora dan fauna, serta
terpeliharanya lingkungan hidup sehingga tercipta keseimbangan antara kehidupan manusia
dengan alam sekitarnya. Jadi, ekowisata bukan jenis pariwisata yang semata-mata
menghamburkan uang atau pariwisata glamour, melainkan jenis pariwisata yang dapat
meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, atau mempelajari sesuatu dari alam, flora dan
fauna, atau sosial-budaya etnis setempat.
Dalam ekowisata ada empat unsur yang dianggap amat penting, yaitu unsur pro-aktif,
kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, keterlibatan penduduk lokal, unsur
pendidikan. Wisatawan yang datang tidak semata-mata untuk menikmati alam sekitarnya tetapi
juga mempelajarinya sebagai peningkatan pengetahuan atau pengalaman.

1
Bali merupakan daerah tujuan wisata yang sangat terkenal baik di Indonesia sampai
manca negara. Karena keelokan pulau Bali, keragaman budaya, adat istiadat, masyarakatnya
yang ramah tamah, dan lain-lain.
Bagian-bagian dari gejala pariwisata terdiri dari 3 unsur yakni : Manusia (unsur insani
sebagai pelaku kegiatan pariwisata), Tempat (unsur fisik sebenarnya tercakup oleh kegiatan itu
sendiri), dan Waktu (unsur tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri dan selama
berdiam di tempat tujuan).
Pemerintah melakukan beberapa cara dan kebijakan-kebijakan untuk perkembangan
pariwisata di pulau Bali, antara lain : perencanaan (planning) daerah atau kawasan pariwisata,
pembangunan (development) fasilitas utama dan pendukung pariwisata, pengeluaran kebijakan
(policy) pariwisata, dan pembuatan dan penegakan peraturan (regulation).
Ecotourism diterjemahkan menjadi “Ekowisata” merupakan judul makalah sebagai
serangkaian pembuatan Tugas Mata Kuliah Kebijakan Pengembangan Pariwisata.

1.2. Tujuan
Tujuan Umum :
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mendapatkan pengetahuan mengenai
Kebijakan Pengembangan Pariwisata terkait Ecotourism.
Tujuan Khusus :
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebijakan Pengembangan Pariwisata.

1.3. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui gambaran pengembangan
Ecotourism terutama di Kabupaten Jembrana sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Kebijakan
Pengembangan Pariwisata.

II. LANDASAN TEORI


Emil Salim, mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan hidup dalam Harian
Karya edisi hari Jum’at tanggal 12 April 1991 memberi batasan tentang ekowisata sebagai
berikut:

2
Ecotourism adalah pariwisata yang berwawasan lingkungan dan pengembangannya selalu
memperhatikan keseimbangan nilai-nilai.
Oleh karena itu, kata Emil Salim, lingkungan alam dan kekayaan budaya adalah aset
utama pariwisata Indonesia yang harus dijaga agar jangan sampai rusak atau tercemar.
Entin Supriatin dalam tulisannya berjudul “Ada Lima Unsur Dalam Pengelolaan
Ekowisata” yang dimuat dalam Berita Wisata tanggal 21 Oktober 1997 memberikan batasan
tentang ekowisata sebagai berikut:
Puposeful travel to natural area to understand the culture and natural history of the
environment, taking care not to alter the integrity of the ecosystem, while producing economic
opportunities that make the conservation of natural resources beneficial to local people
(Ecotourism Society).
Secara bebas batasan itu dapat diartikan sebagai berikut: Ekowisata suatu jenis
pariwisata yang kegiatannya semata-mata menikmati aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan
alam dengan segala bentuk kehidupan dalam kondisi apa adanya dan berkencenderungan sebagai
ajang atau sarana lingkungan bagi wisatawan dengan melibatkan masyarakat di sekitar kawasan
proyek ekowisata.
Batasan tentang ekowisata oleh beberapa organisasi atau pakar :
1. Australian National Ecoutourism Strategy, 1994:
Ekowisata adalah wisata berbasis alam yang berkaitan dengan pendidikan dan
pemahaman lingkungan alam dan dikelola dengan prinsip berkelanjutan.
2. Alam A. Leq, Ph.D. The Ecotourism Market in The Asia Pacific Region, 1996:
Ekowisata adalah kegiatan petualangan, wisata alam, budaya, dan alternatif yang
mempunyai karakteristik:
 Adanya pertimbangan yang kuat pada lingkungan dan budaya local
 Kontribusi positif pada lingkungan dan sosial-ekonomi local
 Pendidikan dan pemahaman, baik untuk penyedia jasa maupun pengunjung mengenai
konservasi alam dan lingkungan.
3. Hector Cebollos Lascurain, 1987:
Ekowisata adalah wisata ke alam perawan yang relatif belum terjamah atau tercemar
dengan tujuan khusus mempelajari, mengagumi, serta perwujudan bentuk budaya yang ada di
dalam kawasan tersebut.

3
4. Linberg and Harkins, The Ecotourism Society, 1993:
Ekowisata adalah wisata alam asli yang bertanggungjawab menghormati dan
melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.
Kalau kita simpulkan dari batasan yang dikemukakan di atas, kita dapat memberikan
batasan yang lebih sederhana sebagai berikut:
Ekowisata adalah suatu jenis pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan aktivitas melihat,
menyaksikan, mempelajari, mengagumi alam, flora dan fauna, sosial-budaya etnis setempat, dan
wisatawan yang melakukannya ikut membina kelestarian lingkungan alam di sekitarnya dengan
melibatkan penduduk lokal.
Perbedaan batasan antara ekowisata dengan pariwisata “biasa”
Batasan ekowisata hendaknya memiliki ciri khusus dan berbeda dengan batasan tentang
pariwisata yang biasa kita kenal. Dalam hal ini kita dapat membedakannnya sebagai berikut:
1. Objek dan atraksi wisata
Baik obyek maupun atraksi yang dilihat adalah yang berkaitan dengan alam atau
lingkungan, termasuk di dalamnya alam, flora dan fauna, sosial dan ekonomi, dari budaya
masyarakat di sekitar proyek yang memiliki unsur-unsur keaslian, langka, keunikan, dan
mengagumkan.
2. Keikutsertaan wisatawan
Keikutsertaan seorang wisatawan berkaitan keingintahuan (curiousity), pendidikan
(education), kesenangan (hoby), dan penelitian (research) tentang sesuatu yang berkaitan dengan
lingkungan sekitar.
3. Keterlibatan penduduk setempat
Adanya keterlibatan penduduk setempat, seperti penyediaan penginapan,
barang/kebutuhan, memberikan pelayanan, tanggungjawab memlihara lingkungan, atau
bertindak sebagai instruktur atau pemandu.
4. Kemakmuran masyarakat setempat
Proyek pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat
di sekitar.

4
5. Kelestarian lingkungan
Proyek pengembangan ekowisata harus sekaligus dapat melestarikan lingkungan,
mencegah pencemaran seni dan budaya, menghindari timbulnya gejolak sosial, dan memlihara
kenyamanan dan keamanan.

III. DASAR HUKUM


Kebijaksanaan pengembangan ekowisata dapat dilihat dari ruang lingkup kepentingan
nasional, seperti dijelaskan Undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur
kebijaksanaan pengembangan ekowisata sebagai berikut:
1. UU No.4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Lingkungan Hidup
2. Kepmen Parpostel No.KM.98/PW.102/MPPT-1987 tentang Ketentuan Usaha Obyek
Wisata.
3. Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No.Kep.18/U/11/1988 tentang Pelaksanaan Ketentuan
Usaha Obyek Wisata dan Daya Tarik Wisata.
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Parpostel No.24/KPTS-11/89
dan No.KM.1/UM.209/MPPT-1998 tentang Peningkatan Koordinasi dua instansi tersebut
untuk mengembangkan Obyek Wisata Alam sebagai Obyek Daya Tarik Wisata.
5. UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem.
6. UU. No.9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.
7. UU. No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruangan.
8. UU No.5 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konservasi Keanekaragaman Hayati.
9. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Alam di zona pemanfaatan
kawasan pelestarian alam.
10. Peraturan Pemerintah No.67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.
Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan atau pengelolaan suatu kawasan untuk
dijadikan sebagai kawasan Ekowisata, harus memperhatikan 5 unsur yang dianggap paling
menentukan, yaitu:
1. Pendidikan (Education)
Aspek pendidikan merupakan bagian utama dalam mengelola keberadaan manusia,
lingkungan, dan akibat yang mungkin ditimbulkan bila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam
manajemen pemberdayaan lingkungan. Misi tersebut tidak mudah karena untuk menjabarkan

5
dalam satu paket wisata seringkali bentrok dengan kepentingan antara perhitungan ekonomi dan
terjebak dalam misi pendidikan konservatif yang kaku.
2. Perlindungan atau Pembelaan (Advocasy)
Setiap pengelolaan ekowisata memerlukan integritas kuat karena kadang-kadang nilai
pendidikan dari ekowisata sering terjadi salah kaprah. Misalnya, pada Taman Nasional seperti
Raflesia di Bengkulu yang memiliki ciri-ciri yang khas atau unik, waktu sedang berkembang
dipublikasikan secara gencar sebagai bunga langka yang tidak ada duanya di dunia. Lingkungan
di sekitar bunga tersebut ditata sedemikian rupa dengan biaya yang relatif mahal dan berbeda
dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Tindakan yang membangun infrastruktur secara
berlebihan justru akan membuat perlindungan (Advocasy) terhadap bunga tadi menjadi tersamar.
Seharusnya, prasarana yang dibuat hendaknya mampu memberikan nilai-nilai
berwawasan lingkungan dan menggunakan bahan-bahan di sekitar obyek itu walau kelihatan
sangat sederhana. Dengan cara itu, keaslian dapat dipertahankan karena dengan kesederhanaan
itu masyarakat di sekitar kawasan mampu mengelola dan mempertahankan kelestarian alam
dengan sendirinya tanpa mengada-ada.
3. Keterlibatan komunitas setempat (Community Involvement)
Dalam pengelolaan kawasan ekowisata, peran serta masyarakat setempat tidak bisa
diabaikan. Mereka lebih tahu dari pendatang yang punya proyek karena keterlibatan mereka
dalam persiapan dan pengelolaan kawasan sangat diperlukan. Mereka lebih mengetahui di mana
sumber mata air yang banyak, ahli tentang tanaman dan buah-buahan yang bisa dimakan untuk
keperluan obat, tahu mengapa binatang pindah tempat pada waktu-waktu tertentu, sangat
mengerti mengapa semut berbondong-bondong meninggalkan sarangnya, karena takut banjir
yang segera datang, misalnya.
4. Pengawasan (Monitoring)
Kita sangat menyadari bahwa budaya yang berkembang pada masyarakat di sekitar
kawasan tidak sama dengan budaya pengelola yang pendatang. Dalam melakukan aktivitas, akan
terjadi pergeseran yang lambat laun akan mengakibatkan hilangnya kebudayaan asli. Ini harus
diusahakan jangan sampai terjadi. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan (monitoring) yang
berkesinambungan sehingga masalah integritas, loyalitas, atau kualitas dan kemampuan untuk
mengelola akan sangat menentukan untuk mengurangi dampak yang timbul.

6
5. Konservasi (Conservation)
Dari kasus itu, baik pengelola maupun wisatawan yang datang berkunjung harus
menyadari bahwa tujuan pengembangan ekowisata adalah aspek konservasi bagi suatu kawasan
dengan memperhatikan kesejahteraan, kelestarian, dan mempertahankan kelestarian lingkungan
kawasan itu sendiri.

IV. PEMBAHASAN
Sejarah kota atau kabupaten Jembrana adalah sebuah kabupaten terletak di Bali bagian
barat, selain memiliki seni dan tradisi seperti mekepung, gamelan jegog dan lainnya. Jembrana
juga memiliki cerita yang sangat menarik khususnya dengan penggunaan nama "Jembrana"
sendiri yaitu dengan asal katanya berasal dari "Jaran Rana". Tersebutlah sebuah kisah keturunan
dari keluarga Pasek Gaduh sekitar tahun 1337 M. Berangkatlah rombongan dari daerah
Pejarakan dan Bakungan untuk membangun sebuah Puri di daerah pulau ayam ( Gilimanuk )
yaitu cekik. Kerajaan ini diberi nama Bakungan karena di bangun oleh orang Bakungan. Pada
waktu pendirian Kerajaan Bakungan rombongan dari Ki Ageng Melel Cengkrong, mencari
tempat yang dianggap suci. Melalui cerita bahwa perjalanan Leluhur yaitu Bhagawan Sidimantra
/ Empu Bakung yang pernah beryoga di daerah Bali Barat.
Pemerintah Kabupaten Jembrana akan all out membangun sektor pariwisata secara
besar-besaran. Hal itu agar mampu menaikkan kunjungan wisatawan ke daerah ujung barat Pulau
Bali ini. Sama seperti kabupaten lainnya di Bali, Kabupaten Jembrana juga memiliki segudang
destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi. Hanya saja objek wisata yang ada di Bali Barat
tidak sepopuler objek wisata yang ada di Bali Selatan. Selain karena akses yang sangat jauh dari
bandara Ngurah Rai, juga disebabkan kurangnya promosi sehingga tidak banyak yang tahu akan
keberadaan objek wisata di Bali Barat ini.
Objek wisata yang ada di kabupaten yang mendapat julukan “Bumi Makepung” ini
sangat indah dan unik, tentunya tidak akan ditemukan di tempat lain di Pulau Dewata. Mulai dari
bentang alam perbukitan, pantai, perkebunan dan pertanian, serta budaya yang mampu membuat
wisatawan berdecak kagum akan keindahan dan keunikannya. Berikut beberapa tempat wisata
yang ada di kabupaten Jembrana :

7
1. TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Taman Nasional ini ini kaya akan keanekaragaman hayati yang berada di Pintu Masuk
Pulau Bali. Taman Nasional Bali Barat adalah hamparan taman yang cukup luas di areal jalan
raya Denpasar-Singaraja-Gilimanuk. Luas keseluruhan dari taman ini adalah 19.002 hektar. Dari
luas tersebut 15.587 hektarnya berupa areal daratan dan sisanya berupa areal perairan. Taman
Nasional Bali Barat terdiri dari berbagai habitat hutan dan sabana.
Di tengah-tengah taman ini didominasi oleh sisa-sisa empat gunung berapi dari zaman
Pleistocene, dengan gunung Patas sebagai titik tertinggi di tempat ini. Sekitar 160 spesies hewan
dan tumbuhan dilindungi di taman nasional ini. Hewan-hewan seperti Banteng, Rusa, lutung,
kalong dan aneka burung. Taman Nasional Bali Barat merupakan tempat terakhir untuk
menemukan endemik Bali yang hampir punah, Jalak Bali di habitat aslinya.
Taman Nasional ini berbagai macam flora maupun fauna yang membentang luas di areal taman
nasional bali barat. Karena banyaknya flora dan fauna, taman ini juga dijadikan sebagai tempat
penelitian, perlindungan dan pelestarian margasatwa beserta ekosistem alaminya. Fauna yang
hidup di taman ini sangat beragam, bahkan ada fauna yang benar-benar langka hidup dan
ilindungi ditaman nasional bali barat ini.

8
2. WISATA AIR TIRTA LESTARI GUMBRIH

Objek Wisata Air Tirta Lestari Gumbrih di Pekutatan Jembrana Bali memiliki suasana
yang dihadirkan sangat alami dan bisa melakukan berbagai aktivitas yang menarik. Keunikan
Taman Wisata Air Tirta Lestari Gumbrih terdapat pada kombinasi yang menarik antara Tukad
(Sungai) Pangyangan dengan deretan pohon kelapa yang tumbuh rapi di sekitar aliran sungai.
Kolaborasi alam inilah yang tampak sangat indah dan menawan sehingga memikat wisatawan
untuk datang berkunjung. Aktivitas yang menyenangkan di obyek wisata ini adalah pengunjung
harus menaiki jukung untuk berkeliling sungai sambil menikmati panorama alam. Jukung
bertenaga mesin ini akan mengantarkan pengunjung dalam sekitar 2 kilometer perjalanan
melewati sungai. Tak hanya cantiknya pemandangan alam saja, pengunjung juga dapat melihat
beraneka macam hewan liar yang hidup bebas di alamnya. Hewan tersebut di antaranya burung
kokoan dan biawak. Selain panorama deretan nyiur yang rapi tumbuh di tepian sungai,
pengunjung juga akan menikmati pemandangan hamparan persawahan yang menghijau serta
rimbunnya hutan bambu. Rimbunnya hutan bambu di sekitar lokasi sungai juga menambah sejuk
dan asri selama dalam perjalanan menyusuri sungai. Beberapa biota yang hidup di aliran Sungai
Pangyangan di antaranya udang, kepiting, ikan kakap merah, julit (jenis ikan lele yang berukuran
panjang). Tak jarang pengunjung yang datang khusus untuk menghabiskan waktu sambil
memancing di kawasan sungai tersebut.

9
3. ALUN-ALUN JEMBRANA

Objek Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali adalah salah satu tempat
wisata yang berada di Desa Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, yang
ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa
memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari.
Objek Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali memiliki pesona keindahan yang
sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota Jembrana tidak
mengunjungi Objek Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali . Objek Wisata Alun
Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda,
apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari libur lainnya. Keindahan Objek
Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali ini sangatlah baik bagi anda semua yang
berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi Objek Wisata Alun Alun Jembrana
di kota Jembrana. Objek Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali merupakan
lapangan yang sudah sangat lama, bahkan sudah banyak mencetak pemain-pemain sepak bola
yang sangat berprestasi. Objek Wisata Alun Alun Jembrana di Negara Jembrana Bali memiliki
fungsi semula yakni, untuk lapangan olah raga. Perbaikan lapangan ini sangat memprioritaskan
kepada sarana-sarana yang sangat fital. Diantaranya, pengurugan secara total, pembuatan jogging
track, pembuatan kamar mandi dan WC, kantin serta penghijauan disekeliling lapangan.

10
4. TUKAD GELAR BATU AGUNG

Objek Wisata Tukad Gelar yaitu obyek wisata air sungai pegunungan yang sangat
segar, airnya sangat jernih, dan ditambah pemandangan alam yang masih sangat asri. Hal ini lah
yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi obyek wisata
Gelar. Nikmatilah pesona alam yang luar biasa indahnya di kawasan Tukad Gelar, sambil mandi
riang di air jernih nan sejuk sejati. Tukad Gelar terletak sekitar 12 km dari kota Negara ke arah
Timur Laut. Daerah Gelar juga memiliki alam yang indah dengan sungai yang mempesona. Jalan
menuju ke kali ini sedikit berliku, sedikit tanjakan dan turunan. Dari ketinggian jalan, hamparan
sawah indah dan nyiur hijau tertatap sedap. Di kejauhan membentang laut biru bercumbu dengan
langit biru. Dikurung oleh alam hijau, bebas polusi udara, membuat pesona sekitar Tukad Gelar
benar-benar menyenangkan hati. Sungai yang agak lebar ini memiliki banyak tempat untuk
pengunjung mandi bersama grup masing-masing. Bebatuan yang besar di tepi dan tengah sungai
membuat pengunjung bisa mandi di tengah atau di pinggir. Setiap spot menyenangkan karena
ada bebatuan untuk bersandar atau duduk menikmati rendaman air sejuk. Penduduk setempat
mengabarkan bahwa daerah Gelar adalah salah satu wilayah gerilya pejuang Bali ketika
mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda.

11
5. AIR TERJUN JUWUK MANIS

Objek Wisata Air Terjun Juwuk Manis di Pekutatan Jembrana Bali memiliki ketinggian
4 km. Namun kesegaran airnya tak kalah dengan air terjun dengan ketinggian lebih. Dua air
terjun yang berdampingan bisa anda nikmati di sini, selain kolam kecil di bawahnya yang bisa
anda gunakan mandi atau sekedar bermain air.Air terjun Juwuk Manis belum dikelola secara
optimal dan masih perlu dikembangkan lagi. Terutama untuk prasarana dan akses ke lokasi air
terjun. Air terjun memiliki suasana yang cukup asri yang bisa menghilangkan kepenatan anda.
Namun usaha keras dibutuhkan untuk bisa sampai ke air terjun Juwuk Manis. Dari parkiran,
petualangan yang sesungguhnya baru dimulai. Anda harus trekking menuruni jalan setapak yang
cukup curam sepanjang 1 km dengan melewati perkebunan kopi dan cengkeh. Selain itu anda
juga perlu berhati-hati dalam menuruni jalan dan anak tangga tersebut karena cukup curam.
Namun anda tidak perlu khawatir karena petualangan anda akan ditemani dengan udara yang
cukup sejuk dan pemandangan perbukitan yang masih alami. Bunga-bunga kopi dan cengkeh
dari perkebunan penduduk memberikan keharuman yang khas, yang juga turut menemani
perjalanan anda. Begitu sampai di air terjun, kesegaran airnya akan segera mneghapus rasa lelah
anda seusai trekking yang anda lakukan. Perjuangan anda pun terbayar dengan kejernihan air
terjun Juwuk Manis.

12
6. KEBUN RAYA JAGATNATHA

Berada di Pulau Dewata, Kebun Raya Jagatnatha Jembrana merupakan salah satu
destinasi wisata unik yang memadukan fungsi konservasi tumbuhan, pendidikan, penelitian
botani dan rekreasi. Kebun raya ini memiliki luasan 5,8 hektar yang berlokasi di jalur utama
jalan raya penghubung Gilimanuk-Denpasar kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana,
Kabupaten Jembrana, Propinsi Bali. Berbeda dengan kebun raya lainnya, koleksi tumbuhan di
Kebun Raya Jagatnatha Jembrana mengambil konsep tematik dengan prioritas tumbuhan upakara
(tumbuhan untuk upacara adat umat Hindu) dan Usada (tumbuhan obat tradisional Bali). Tema
tersebut sesuai dengan pola masyarakat Hindu Jembrana yang dinilai sangat religius dan terikat
untuk melakukan berbagai pemujaan melalui upacara yang menggunakan berbagai jenis
tumbuhan sebagai persembahan. Pengunjung Kebun Raya Jagatnatha dapat bersantai menikmati
keindahan dan keasrian kebun raya sambil mempelajari manfaat berbagai jenis tumbuhan koleksi
untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu, pengunjung dapat mengunjungi Pura Agung Jagatnatha
yang terdapat di dalam lokasi kebun raya. Tempat peribadatan ini dibangun megah dan luas
dengan relief artistik khas Bali. Pada hari tertentu pengunjung juga dapat menonton pementasan
seni budaya Jembrana di stadion utama Pura Agung Jagatnatha.

13
7. AIR TERJUN DEWASANA

Obyek wisata Air Terjun Dewasana, di Lingkungan Dewasana, Kelurahan Pendem,


Kecamatan Jembrana, yang berlokasi kurang lebih 4 kilometer dari pusat kota. Untuk menuju air
terjun ini, pengunjung harus turun menyusuri jalan tegalan milik warga sejauh 200 meter dari
jalan utama. Perjalanan menuju ke sana tidaklah mudah. Medan masih cukup berat, mengingat
kontur tanah yang miring serta jalanan mudah licin dikala hujan datang. Namun hal itu terbayar
dengan keindahan alam khas pedesaan. Di sisi kanan kiri jalan bisa dijumpai batu-batu andesit
besar serta aliran air sungai yang bersih dan segar. Ada juga spot yang dinamai "batu belah",
karena tumbuh sebuah pohon besar diantara batu yang penampakannya seperti terbelah menjadi
dua. Selama ini air terjun ini sudah sering dikunjungi anak muda sekedar untuk berfoto-foto, dan
spot hunting bagi mereka yang hobi fotografi .

14
V. KESIMPULAN
1. Ekowisata atau ecotourism merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang
berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek
pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan
pendidikan.
2. Manfaat ekowisata berdampak dalam berbagai aspek yaitu :

 Konservasi
Wisata berkorelasi positif dengan konservasi berarti memberikan insentif ekonomi
yang efektif untuk melestarikan, meningkatkan keanekaragaman hayati budaya,
melindungi warisan alam serta budaya.
 Pemberdayaan ekonomi
Ekowisata melibatkan masyarakat local berarti meningkatkan kapasitas dan
kesempatan kerja masyarakat local.
 Pendidikan lingkungan
Kegiatan wisata yang dilakukan harus memperkaya pengalaman, juga kesadaran
lingkungan melalui interpretasi. Kegiatan harus mempromosikan pemahaman,
penghargaan yang utuh terhadap alam, masyarakat dan budaya.

15