Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang
berjudul “DOMINASI PEMERINTAHAN BELANDA”.

Penulisan makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata
pelajaran Sejarah Indonesia.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis pengetikan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami
miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada :
1. Bapak Guru mata pelajaran sejarah indonesia.
2. Teman – teman di Kelas XI MIA 1 SMPN 1 Sei Kanan
3. Anggota Kelompok yang telah membantu.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. semoga Tuhan
memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan,
dan Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati segala usaha kita. Amin

Penulis,-

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………………
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………….. 1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………… 2
1. BAB I : PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG………………………………………………............. 3
B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………........... 3

2. BAB II : PEMBAHASAN
A. KEBIJAKAN JALAN TENGAH………………………………………….. 4
B. SISTEM TANAM PAKSA…………………………………………………… 4
C. SISTEM USAHA SWASTA………………………………………………… 5
D. MASUKNYA AGAMA KRISTEN………………………………………… 6

3. BAB III : PENUTUP


A. KESIMPULAN…………………………………………………………………. 7
B. SARAN……………………………………………………………………………. 7

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….................. 8

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Akibat jatuhnya kota konstantinopel ketangan bangsa Turki Usmani
pada tahun 1453 membuat ekonomi dan pedagangan eropa mengalami
penurunan, sehingga memaksa bangsa eropa melakukan penjelajahan samudra
untuk mencari rempah – rempah. Spanyol merupakan bangsa yang menjadi
pelopor penjelajahan tersebut, kemudian diikuti bangsa Portugis. Mendengar
keberasilan Spanyol dan Portugis, para pelaut dan pedagang Belanda tidak mau
ketinggalan. Pada tahun 1596, Belanda berhasil mendarat di nusantara,
tepatnya di Banten. Karena ambisi Belanda untuk memonopoli perdagangan di
Banten dengan kesombongan dan kelakuan kasar, maka Belanda di usir dari
Banten. Pada tahun 1598 Belanda melanjutkan ekpedisi penjelajahan di
nusantara, kali ini mereka bersikap hati – hati agar rakyat dapat menerimanya
kembali. Untuk memperkuat kekuasaan di Tanah Hindia, Belanda mendirikan
Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk memonopoli pedagangan.
VOC semakin merajalela. Karena kekuasaan VOC semakin luas banyak pegawai
yang melakukan korupsi, sehingga utang VOC semakin meningkat dan kas
habis untuk biaya perang, sehingga VOC mengalami kebangkrutan. Kemudian
pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. Karena beberapa dearah
telah dikuasai Inggris, Belanda harus meniggalkan daerah jajahannya,
sehingga pada tahun 18 September 1811 mulailah kekuasaan Inggris di Hindia.
Tetapi pada tahun 1816 kepulauan Nusantara kembali dikuasai oleh Belanda.
Dan sejak saat itu dimulailah Pemerintahan Kolonial Belanda.

B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, masalah yang ingin dikaji adalah :
1. Pemerintahan Kolonial Belanda
2. Sistem Tanam Paksa
3. Kegiatan VOC di Indonesia

3
BAB II
PEMBAHASAN

Tahun 1816 Kepulauan Nusantara kembali dikuasai oleh Belanda setelah sebelumnya
dikuasai oleh Inggris. Tanah Hindia diperintah oleh badan baru yang diberi nama
Komisaris Jenderal. Komisaris Jenderal ini dibentuk oleh Pangeran Willem VI yang
terdiri atas tiga orang, yakni: Cornelis Theodorus Elout (ketua), Arnold Ardiaan
Buyskes (anggota), dan Alexander Gerard Philip Baron Van der Capellen (anggota).
Dengan tugas utama menormalisasikan keadaan di Hindia Belanda.

Sementara itu perdebatan antar kaum liberal dan kaum konservatif terkait dengan
pengelolaan tanah jajahan untuk mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya belum
mencapai titik temu. Kaum liberal berkeyakinan bahwa pengelolaan negeri jajahan
akan mendatangkan keuntungan yang besar bila diserahkan kepada swasta, dan
rakyat diberi kebebasan dalam menanam. Sedang kelompok konservatif berpendapat
pengelolaan tanah jajahan akan menghasilkan keuntungan apabila langsung
ditangani pemerintah dengan pengawasan yang ketat.

A. Kebijakan Jalan Tengah


Kebijakan jalan tengah adalah kebijakan yang merupakan jalan tengah yang diambil
diantara pertentangan kaum liberal dan kaum konservatif dalam mengelola tanah
jajahan di Indonesia. Ketiga Komisaris sepakat menerapkan kebijakan jalan tengah
yaitu eksploitasi kekayaan ditanah jajahan langsung ditangani oleh pemerintah
Hindia Belanda.

Namun kebijakan ini tidak berjalan mulus. Akhirnya pada 22 Desember 1818
Pemerintah memberlakukan UU yang menegaskan bahwa penguasa tertinggi ditanah
jajahan adalah Gubernur Jenderal. Van der Capellen ditunjuk sebagai Gubernur
Jenderal.

Ia ingin melanjutkan strategi jalan tengah. Tetapi kebijakan Van der Capellen itu
berkembang ke arah sewa tanah dengan penghapus peran penguasa tradisional
(bupati dan para penguasa setempat). Kemudian Van der Capellen juga menarik pajak
tetap yang sangat memberatkan rakyat. Timbul banyak protes dan mendorong
terjadinya perlawanan. Kemudian ia dipanggil pulang dan digantikan oleh Du Bus
Gisignies. Kebijakan De Bus tidak berhasil karena rakyat tetap miskin sehingga tidak
mampu menyediakan barangbarang yang diekspor.

B. Sistem Tanam Paksa


Tahun 1829 seorang tokoh bernama Johannes Van den Bosch mengajukan kepada raja
Belanda usulan yang berkaitan dengan cara melaksanakan politik kolonial Belanda di
Hindia. Van den Bosch berpendapat untuk memperbaiki ekonomi, di tanah jajahan
harus dilakukan penanaman tanaman yang dapat laku dijual di pasar dunia. Konsep
Bosch itulah kemudian dikenal dengan Cultuur stelsel atau tanam paksa.

Ketentuan Tanam Paksa


Raja Willem tertarik serta setuju dengan usulan dan perkiraan Van den Bosch
tersebut. Tahun 1830 Van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal baru di
Jawa. Secara rinci beberapa ketentuan Tanam Paksa itu termuat pada Lembaran
Negara (Staatsblad) Tahun 1834 No. 22. Ketentuan-ketentuan itu antara lain sebagai
berikut.
1. Penduduk menyediakan sebagian dari tanahnya untuk pelaksanaan Tanam Paksa.
2. Tanah pertanian yang disediakan penduduk untuk pelaksanaan Tanam Paksa tidak
boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa.
3. Waktu dan pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman Tanam Paksa tidak
boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.

4
4. Tanah yang disediakan untuk tanaman Tanam Paksa dibebaskan dari pembayaran
pajak tanah.
5. Hasil tanaman yang terkait dengan pelaksanaan Tanam Paksa wajib diserahkan
kepada pemerintah Hindia Belanda. Jika harga atau nilai hasil tanaman ditaksir
melebihi pajak tanah yang harus dibayarkan oleh rakyat, maka kelebihannya akan
dikembalikan kepada rakyat.
6. Kegagalan panen yang bukan disebabkan oleh kesalahan rakyat petani, menjadi
tanggungan pemerintah.
7. Penduduk desa yang bekerja di tanah-tanah untuk pelaksanaan Tanam Paksa berada
di bawah pengawasan langsung para penguasa pribumi, sedang pegawai-pegawai
Eropa melakukan pengawasan secara umum.
8. Penduduk yang bukan petani, diwajibkan bekerja di perkebunan atau pabrik-pabrik
milik pemerintah selama 65 hari dalam satu tahun.

Pelaksanaan Tanam Paksa


Tanam Paksa dilaksanakan dengan cara sebagai berikut.
1. Sistem tanam paksa harus menggunakan organisasi desa
2. Pengerahan tenaga kerja melalui sambatan, gotong royong, gugur gunung
3. Peran kepala desa sangat sentral sebagai penggerak petani, penghubung dengan
atasan dan pejabat pemerintah
Tanam paksa yang dilaksanakan telah membawa penderitaan rakyat. Banyak pekerja
yang jatuh sakit. Mereka dipaksa fokus bekerja untuk Tanam Paksa, sehingga nasib
diri sendiri dan keluarganya tidak terurus. Bahkan kemudian timbul bahaya kelaparan
dan kematian di berbagai daerah. Misalnya di Cirebon (1843 - 1844), di Demak (tahun
1849) dan Grobogan pada tahun 1850.

Walaupun banyak merugikan rakyat, namun Tanam Paksa juga memiliki beberapa
dampak positif bagi rakyat, diantaranya adalah dikenalkan tanaman jenis baru untuk
ekspor, dibangun saluran irigasi, dan dibangun jaringan rel kereta api. Sedangkan
dampak negatifnya adalah sebagai berikut.
1. Pelaksanaan tanam paksa tidak sesuai dengan peraturan
2. Terjadi tindak korupsi dari pegawai dan pejabat dan rakyat sangat menderita
3. Para pekerja jatuh sakit dan terjadi bahaya kelaparan
4. Hindia Belanda mengeruk keuntungan 832 jt gulden 1831- 1877

C. Sistem Usaha Swasta


Masyarakat Belanda mulai mempertimbangkan baik buruk dan untung ruginya
Tanam Paksa. Timbullah pro dan kontra mengenai pelaksanaan Tanam Paksa. Pihak
yang pro Tanam Paksa tetap adalah kelompok konservatif dan para pegawai
pemerintah, sedangkan yang kontra adalah mereka dipengaruhi oleh ajaran agama
dan penganut asas liberalisme.

Setelah kaum liberal mendapatkan kemenangan politik di Parlemen (Staten


Generaal). Parlemen memiliki peranan lebih besar dalam urusan tanah jajahan.
Sesuai dengan asas liberalisme, maka kaum liberal menuntut adanya perubahan dan
pembaruan. Kaum liberal menuntut pelaksanaan Tanam Paksa di Hindia Belanda
diakhiri.

Hal tersebut didorong oleh terbitnya dua buah buku pada tahun 1860 yakni buku
Max Havelaar tulisan Edward Douwes Dekker dengan nama samarannya Multatuli,
dan buku berjudul Suiker Contractor (Kontrak-kontrak Gula) tulisan Frans van de
Pute. Secara berangsur-angsur Tanam Paksa mulai dihapus dan mulai diterapkan
sistem politik ekonomi liberal.

Penetapan pelaksanan sistem politik ekonomi liberal memberikan peluang pihak


swasta untuk ikut mengembangkan perekonomian di tanah jajahan. Seiring dengan
upaya pembaruan dalam menangani perekonomian di negeri jajahan, Belanda telah
mengeluarkan berbagai ketentuan dan peraturan perundang-undangan.
5
1. Tahun 1864 dikeluarkan Undang-undang Perbendaharaan Negara (Comptabiliet
Wet). Berdasarkan Undang-undang ini setiap anggaran belanja Hindia Belanda
harus diketahui dan disahkan oleh Parlemen.
2. Undang-undang Gula (Suiker Wet). Undang-undang ini antara lain mengatur
tentang monopoli tanaman tebu oleh pemerintah yang kemudian secara bertahap
akan diserahkan kepada pihak swasta.
3. Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) pada tahun 1870. Undang-Undang ini
mengatur tentang prinsip-prinsip politik tanah di negeri jajahan. Di dalam undang-
undang itu ditegaskan, antara lain : Pertama, Tanah di negeri jajahan di Hindia
Belanda dibagi menjadi dua. Pertama, milik pribumi berupa persawahan, kebun,dll.
Kedua tanah hutan pegunungan, dll milik pemerintah. Kedua, Pemerintah
mengeluarkan surat bukti kepemilikan tanah. Ketiga, Pihak swasta dapat menyewa
tanah. Tanah pemerintah disewa sampai 75 tahun, tanah penduduk sampai 5 tahun

Sejak UU Agraria, pihak swasta banyak emasuki tanah jajahan di Hindia Belanda.
Munculnya imperalisme modern, kapitalisme di Hindia Belanda. Tanah jajahan
berfungsi sebagai: tempat mendapat bahan mentah dan penanaman modal asing,
tempat pemasaran hasil industri dari Eropa, dan penyedia tenaga kerja yang murah.

Sisi positif kebijakan ini antara lain pada tahun 1873 dibangun serangkaian jalan
kereta api, tahun 1872 dibangun pelabuhan tanjung priok, Belawan, Teluk Bayur, dan
1883 maskapai tembakau Deli memprakarsai pembangunan jalan kereta api.
Sedangkaan dampak negatifnya adalah pelaksanaan usaha swasta membawa
penderitaan bagi rakyat bumiputera, pertanian merosot, rakyat kerja paksa dan
membayar pajak

D. Masuknya Agama Kristen


Perkembangan agama Kristen di Indonesia secara garis besar dapat dikelompokkan
menjadi dua, yakni Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Dalam kenyataannya agama
Kristen Katolik dan Kristen Protestan berkembang di berbagai daerah. Bahkan di
daerah Indonesia bagian Timur seperti di Papua, daerah Minahasa, Timor, Nusa
Tenggara Timur, juga daerah Tapanuli di Sumatera, agama Kristen menjadi
mayoritas.

Pada tahun 650 agama Kristen sudah mulai berkembang di Kedah (Semenanjung
Malaya) dan sekitarnya. Pada abad ke-9 Kedah berkembang menjadi pelabuhan
dagang yang sangat ramai di jalur pelayaran yang menghubungkan India-Aceh-Barus-
Nias-melalui Selat Sunda-Laut Jawa dan terus ke Cina. Jalur inilah yang disebut
sebagai jalur penyebaran agama Kristen dari India ke Nusantara.

Agama Kristen (Katolik dan Protestan) masuk dengan cara damai melalui kegiatan
pelayaran dan perdagangan. Agama ini tumbuh di daerah-daerah pantai di
Semenanjung Malaya dan juga pantai barat di Sumatera.

Kedatangan bangsa-bangsa Barat itu semakin memantapkan dan mempercepat


penyebaran agama Kristen di Indonesia. Orang-orang Portugis menyebarkan agama
Kristen Katolik (selanjutnya disebut Katolik). Orangorang Belanda membawa agama
Kristen Protestan (selanjutnya disebut Kristen).

Agama Katolik dan Kristen berkembang di daerah-daerah Papua, wilayah Timur


Kepulauan Indonesia pada umumnya, Sulawesi Utara dan tanah Batak di Sumatera.
Singkatnya agama Katholik dan Kristen dapat berkembang di berbagai tempat di
Indonesia, termasuk di Batavia dan Jawa pada umumnya. Bahkan di Jawa ada sebutan
Kristen Jawa.

6
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

 Periode kemaharajaan kolonialisme dan imperialisme dapat dipahami melalui


dua fase : fase keserakahan kongsi dagang dan fase dominasi pemerintahan
kolonial.
 Pemerintahan Komisaris Jenderal yang mengawali dominasi pemerintahan
colonial Belanda mengambil kebijakan kebijakan jalan tengah.
 Pelaksanaan tanam paksa di bawah Van den Bosch telah membawa penderitaan
rakyat Indonesia yang berkepanjangan.
 Sistem usaha swasta Belanda telah berhasil mengeruk keuntungan dari bumi
Indonesia, sementara rakyatnya masih menderita.

Saran

Kami harap, makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua, dan dapat menjadi
sebuah ilmu pengetahuan. Jika ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-
besarnya. Kami berharap anda bisa membantu kami untuk memperbaiki makalah
adar makalah ini menjadi lebih baik.

7
DAFTAR PUSTAKA

BUKU PAKET SEJARAH INDONESIA KELAS XI SEMESTER 1


http://www.mikirbae.com/2016/06/dominasi-pemerintahan-kolonial-belanda.html

http://erakas.blogspot.com/2011/01/sistem-tanam-paksa-18301870.html

http://guru-sejarah-paroki-pati.blogspot.com/2013/03/latar-belakang-kedatangan-
bangsa-barat.html

http://hnr09.blogspot.com/2013/02/kapitalisme-dan-imperialisme.html

http://indahsekart20.blogspot.com/2012/10/undang-undang-agraria-tahun-
1870.html

http://lilyistigfaiyah.blogspot.com/2012/12/latar-belakang-pelaksanaan-sistem-
tanam.html

http://okayana.blogspot.com/2010/02/imprealisme-
moderen.html#sthash.Wwx4rL5S.dpuf

http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2012/09/sistem-tanam-paksa-dan-
dampaknya.html

http://pentagone911.blogspot.com/2013/05/imperialisme-modern-dan-
mundurnya.html

http://wardku.blogspot.com/2013/03/pelaksanaan-tanam-paksa.html\

https://mubt4.blogspot.com/2015/08/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html