Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KONSEP DASAR

KESEHATAN REPRODUKSI
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah KB & Kesehatan Reproduksi Dosen Pengampu Ibu Irna
Trisnawati, SKM, MKM

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 1

1. LUTHFIANNY FADHILA (P17324418059)


2. ZULVAKANITA (P17324418037)
3. PARADITA PUTRI (P17324418043)

JALUM 2 B

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

PRODI D-III KEBIDANAN KARAWANG

TAHUN AJARAN 2019/2020


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
berjudul “MAKALAH KONSEP DASAR KESEHATAN REPRODUKSI”.

Pofesi bidan bukanlah profesi yang mengemban tugas ringan. Profesionalisme, kerja
keras dan kesungguhan hati serta niat baik akan memberikan kekuatan dan modal utama bagi
pengabdian profesi bidan.

Disamping itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ibu Irna Trisnawati,
SKM, MKM. selaku dosen pengampu mata kuliah KB dan Kesehatan Reproduksi yang telah
memberi dukungan dan dorongan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini .

Walaupun demikian, makalah ini tidak luput dari kekurangan. Kami mengharapakan
kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan serta kemahuan di masa yang akan
datang.

Karawang, 07 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
C. Tujuan ..................................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kesehatan Reproduksi…………………………………………………….2


B. Definisi Kesehatan Reproduksi .............................................................................. 3
C. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan .......................... 3
D. Hak-hak Reproduksi .............................................................................................. 5
E. Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja ........................................................ 5
F. Melibatkan Wanita dalam Mengambil Keputusan ................................................ 12
G. Pemantauan Tumbuh Kembang Wanita Sepanjang Daur Kehidupannya .............. 13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................................. 20
B. Saran ....................................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang
ini sangat mendukung dalam kehidupan manusia di Indonesia bahkan di dunia,
penemuan yang setiap waktu terjadi dan para peneliti terus berusaha dalam
penelitiannya demi kemajuan dan kemudahan dalam beraktivitas.
Ilmu kedokteran khususnya ilmu kesehatan pun begitu cepat bekembang mulai
dari peralatan ataupun teori sehingga mendorong para pengguna serta spesialis
tidak mau ketinggalan untuk bisa memiliki dan memahami wawasan serta ilmu
pengetahuan tersebut.
Terkait ilmu kesehatan dalam hal ini, yaitu kesehatan reproduksi banyak
sekali teori-teori serta keilmuan yang harus dimiliki oleh para pakar atau spesialis
kesehatan reproduksi. Wilayah keilmuan tersebut sangat penting dimiliki demi
mengemban tugas untuk bisa menolong para pasien yang mana demi kesehatan,
kesejahteraan dan kelancaran pasien dalam menjalanakan kodratnya sebagai
perempuan.
Pengetahuan kesehatan reproduksi bukan saja penting dimiliki oleh para
bidan atau spesialais tetapi sangat begitu penting pula dimiliki khususnya oleh
para istri-istri atau perempuan sebagai ibu atau bakal ibu dari anak-anaknya demi
kesehatan, dan kesejahteraan meraka.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Definisi Kesehatan Reproduksi?
2. Apa saja Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan?
3. Apa Saja Hak-hak Reproduksi?
4. Apa saja Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja?
5. Bagaimana Melibatkan Wanita dalam Mengambil Keputusan?
C. Tujuan
1. Mengetahui Definisi Kesehatan Reproduksi
2. Mengetahui Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan
3. Mengetahui Hak-hak Reproduksi
4. Mengetahui Asuhan Kesehatan Reproduksi pada Remaja
5. Mengetahui Melibatkan Wanita dalam Mengambil Keputusan.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Kesehatan Reproduksi

Konfrensi Wina Austria 1993

Konferensi internasional tentang HAM di wina mendiskusikan tentang ham dalam perspektif
gender serta isu-isu kontroversial mengenai hak hak reproduksi dan seksual. Deklarasi dan
platform aksi Wina menyatakan bahwa “Hak asasi perempuan dan hak anak perempuan
adalah mutlak, terpadu dan merupakan bagian dari HAM”

ICPD Kairo Mesir 1994

ICPD di sponsori oleh PBB di Kairo Mesir tahun 1994. Hadir 11.000 perwakilan dari 180
negara. Konferensi ini melahirkan kebijakan baru tentang pembangunan dan kependudukan
(tercantum dalam aksi 20 tahun). Dimana tidak lagi terfokus pada pencapaian target populasi
tetentu tetapi lebih ditujukan pada upaya penstabilan laju pertumbuhan penduduk yang
berorientasi pada kepentingan pembangunan manusia. Program aksi ini menyerukan agar
setiap negara meningkatkan status kesehatan, pendidikan dan hak individu khususnya bagi
perempuan dan anak anak dan mengintegrasikan pelayanan KB dalam agenda kesehatan
perempuan lebih luas.

ICPD KAIRO 1994

Bagian terpenting dari program tersebut adalah penyediaan pelayanan kesehatan reproduksi
yang menyeluruh, yang memadukan KB, pelayanan kehamilan dan persalinan yang aman ,
pencegahan dan pengobatan IMS/HIV, informasi dan konseling seksualitas, serta pelayanan
kesehatan perempuan yang mendasar lainnya. Termasuk penghapusan bentuk kekerasan
terhadap perempuan seperti sunat perempuan, jual beli perempuan dan kekerasan lainnya

KONFRENSI PEREMPUAN SEDUNIA KE 4 DI BEIJING CHINA 1995(FCWC1995)


Deklarasi dan flatform aksi Beijing diadopsi dari 189 negara mencerminkan komitmen
internasional terhadap tujuan kebagi setaraan, pengembangan dan perdamaian tujuan kebagi
seluruh perempuan di dunia . Dari flatform ini mengidentifikas 12 area kepedulian terhadap
hambatan utama kemajuan wanita

2
12 HAMBATAN UTAMA KEMAJUAN WANITA

- Kemiskinan

- Pendidikan dan pelatihan

- Kesehatan

- Kekerasan perempuan dan anak perempuan

- Konflik bersenjata

- Ekonomi

- Pengambilan keputusan di lembaga lembaga

- Mekanisme institusional

- Hak asasi manusia

- Media

- Lingkungan

– Diskriminasi

ICPD + 5 (1999)

Lima tahun sejak ICPD Kairo mengundang pemimpin negara utk telaah membahas kegagalan
pembangunan kepemdudukan -isu kespro remaja ( seks –aborsi) kontroversi -kontrasepsi
darurat dan peran LSM

TARGET BARU ICPD + 5

- Akses pendidikan dasar

- Akses fasilitas kesehatan

- Mengurangi kesenjangan penggunaan kontrasepsi sekurangnya 60% ibu melahirkan akan


ditolong tenaga terlatih pelayanan pencegahan hiv utk krlompok usia 15-24 tahun

B. Definisi Kesehatan Reproduksi


Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan
(International Conference on Population and Development, ICPD) di Kairo, Mesir,
tahun 1994 diikuti 180 negara menyepakati perubahan paradigma dalam pengelolaan

3
masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan
penurunan fertilitas (keluarga berencana) menjadi pendekatan yang terfokus pada
kesehatan reproduksi kesehatan reproduksi serta upaya pemenuhan hak reproduksi
.Definisi kesehatan reproduksi menurut ICPD dalam buku kesehatan reproduksi
(Widyasturi, 2009) adalah sebagai berikut.
Kesehatan reproduksi adalah suatu sosial keadaan sejahtera fisik, mental, dan
secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal
yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksinya.
C. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
Ruang lingkup kesehatan reproduksi sebenarnya sangat luas, sesuai dengan
definisi yang tertera di atas, karena mencakup keseluruhan kehidupan manusia sejak
lahir hingga meninggal. Dalam uraian tentang lingkup kesehatan reproduksi yang
lebih rinci digunakan pendekatan siklus hidup (life-cycle approach) sehingga
diperoleh komponen pelayanan yang nyata dan dapat dilaksanakan.
Ruang lingkup kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:
1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) termasuk
PMS-HIV/AIDS
3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi.
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Pencegahan dan penanganan infertilitas.
6. Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
7. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi
genital, fistula, dll
Penerapan pelayanan kesehatan reproduksi oleh Departemen Kesehatan RI
dilaksanakan secara integratif dengan memprioritaskan pada empat komponen
kesehatan reproduksi yang menjadi masalah pokok di Indonesia yang disebut paket
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE), yang mencakup kesehatan ibu
dan bayi baru lahir, keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi remaja, dan
pencegahan serta penanganan infeksi saluran reproduksi, rermasuk HIV/AIDS. Paket
PKRE dapat ditambah dengan pelayanan kesehatan reproduksi untuk lansia sehingga
pelayanan yang diberikan disebut dengan Pelayanan Kesehatan Reproduksi
Komprehensif (PKRK).

4
Karena terdiri atas beberapa komponen, pelayanan kesehatan reproduksi
diupayakan diberikan secara terpadu, berkualitas, dan memerhatikan hak reproduksi
perorangan. Ini berarti balhwa kegiatan operasional program keseharan reproduksi
bertumpu pada program pelayanan yang sudah tersedia, yang dilaksanakan
berdasarkan kepentingan dan kehutuhan sasaran pelayanan/konsumen (sesuai dengan
siklus hidup). Dengan demikian, pelayanan kesehatan reproduksi bukari merupakan
suatu pelayanan yang baru maupun berdiri sendiri, tetapi merupakan kombinasi
berbagai pelayanan, agar konsumen memeroleh semua pelayanan secara terpadu dan
berkualitas termasuk dalam aspek komunikasi, infarmasi, dan edukasi (KIE).
D. Hak Kesehatan Reproduksi
Hak reproduksi merupakan hak asasi manusia. Baik ICPD 1994 di Kairo
maupun FMCW 1995 di Beijing mengakui hak reproduksi sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dan mendasar dari keschatan reproduksi dan seksual (Cottingham et al.,
2001). Hak reproduksi merupakan bentuk perlindungan bagi seriap individu serta
pra-kondisi untuk memeroleh hak lainnya tanpa diskriminasi. Hak reproduksi
mengawasi pemerintah dalam mematuhi berbagai dokumen HAM. Misalnya, tidak
terpenuhinya hak atas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sosial yang dapat
berakibat pada kematian ibu.
Hak reproduksi menurut kesepakatan dalam ICPED bertujuan untule mewujudkan
kesehatan jasmani maupun rohani yang meliputi:
1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
2. Hak mendapackan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3. Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi
4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan.
5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak
6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan
reproduksinya.
7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk
perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.
8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi.
9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya.
10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga.

5
11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga
dan kehidupan reproduksi.
12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi.
Hak Reproduksi Perorangan
Seriap orang, baik laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang perbedaan
kelas sosial, suku, umur, agama, dll.) mempunyai hak yang sama untuk memuruskan
secara hebas dan bertanggung jawab (kepada diri, keluarga, dan masyarakat)
mengenai jumlah anak, jarak antar- anak, serta untuk menentukan waktu kelahiran
anak dan tempat melahitkan. Hak reproduksi ini didasarkan pada pengakuan akan hak
asasi manusia yang diakui internasional.
Hak reproduksi dapar dijabarkan secara praktis sebagai berikut:
1. Setiap orang berhak memeroleh standar pelayanan kesehatan reproduksi yang
terbaik. Hal ini berarti penyedia pelayanan harus memberikan pelayanan yang
berkualitas dengan memerhatikan kebutuhan klien sehingga menjamin
keselamatan dan kearmanan klien.
2. Perempuan dan laki-laki, sebagai pasangan atau sebagai individu, berhak
memceroleh informasi lengkap tentang seksualitas keseharan reproduksi, dan
manfaat serta efek samping obat- obatan, alat dan tindakan medis yang
digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi.
3. Adanya hak untuk memeroleh pelayanan KB yang aman, efektif, terjangkau,
dapar diterima, sesuai dengan pilihan, tanpa paksaan dan tidak melawan
hukum.
4. Perempuan berhak memeroleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, yang
memungkinkannya sehat dan selamat dalam menjalani kehamilan-persalinan,
serta memeroleh bayi yang sehat
5. Hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-masing
dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan bersama, ranpa unsur
paksaan, ancaman, dan kekerasan.
6. Remaja, laki-laki maupun perempuan, berhak memeroleh informasi yang tepat
dan benar tentang reproduksi remaja sehingga dapat berperilaku sehat dan
menjalani kehidupan seksual yang bertanggungjawab.
Diperlukan beberapa tindakan berikut ini untuk mewujudkan pemenuhan hak
reproduksi di Indonesia (BKKBN, 2000).

6
a. Promosi hak reproduksi.
Dilaksanakan dengan menganalisis perundang.undangan, peraturan, dan
kebijakan yang saat ini berlaku apakah sudalh seiring dan mendukung hak
reproduksi dengan tidalk melupakan kondisi sosial budaya masyarakat
setempat. Pelaksanaan upava pemenuhan hak reproduksi memerlulan
dukungan secara politik dan legislatif sehingga dapat tercipta undang-undang
hak reproduksi yang memuat aspek pelanggaran hak reproduksi.
b. Advokasi hak reproduksi.
Advokasi dimaksudkan agar mendapatkan dukungan komitmen dari para
tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM, dan swasta.
Dukungan swasta dan LSM sangat dibutuhkan karena ruang gerak pemerintah
lebih terbatas. Dukungan para tokoh sangat membantu memperlancar
terciptanya pemenuhan hak reproduksi. LSM yang memperjuangkan hak
reproduksi sangat penting artinya untuk rerwujudnya pemenuhan hak
reproduksi.
c. KIE hak reproduksi.
Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak reproduksi
sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya.
Terpenuhi dan tidak terpenuhinya hak reproduksi ini akan tercermin dalam
derajat kesehatan reproduksi masyarakat. Di Indonesia, derajar kesehatan reproduksi
masih rendah. Hal terscbut ditunjukkan dengan tingginya angka kematian ibu (AKI),
banyaknya ibu hamil dengan keadaan 4 terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu
banyak anak, dan terlalu dekar jarak antar kelahiran), arau banyaknya masalah
kesehatan dan kurang energi kronis sehingga memperburuk derajat kesehatan
reproduksi masyarakat. Selain itu, kurang terlindungnya perempuan dan rendahnya
pemahaman laki-laki terhadap penularan penyakit menular seksual (PMS) yang
berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi laki-laki dan perempuan serta
kesehatan keturunannya.
E. Asuhan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara
utah, yang tidak semata-mata bebas dari penvakit atau kecacatan dalam semua hal
yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Tujuan program
kesehatan reproduksi remaja adalah membantu remaja agar memahami dan menyadari
ilmu kesehatan reproduksi tersebut sehingga memiliki sikap dan perilaku sehat dan

7
tentu saja bertanggung jawab kaitannya dengan masalah kehidupan reproduksi. Upaya
yang dilakukan dapat melalui advokasi, promosi, KIE, konseling dan pelayanan
kepada remaja yang memiliki permasalahan khusus serta pemberian dukungan pada
kegiatan remaja yang bersifat positif.
Terdapat berbagai definisi tentang remaja berdasarkan umur kronalogis dan
berbagai kepentingan, antara lain:
1. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak- kanak ke masa
dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya
setempat.
2. Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 hingga 24 rahun. Sedangkan
dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen
Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 hingga 19 tahun dan helum kawin.
3. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak
Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 hingga 19 tahun.
4. Pada buku pediatri seseorang dianggap memasuki remaja, bila seorang anak
telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun
untuk anak laki-laki.
5. Menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak,
remaja adalah individu yang helum mencapai usia 21 tahun dan belum
menikah.
6. Menurut Undang-Undang Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah
mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk
tinggal.
7. Menurut UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja
apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun untuk anak
perempuan dan 19 rahun untuk anak laki- laki
8. Menurut Diknas anak dianggap remaja bila sudah berumur 18 tahun, yang
sesuai dengan usia saat lulus sekolah menengah.
Remaja terbagi menjadi tiga tahap, yaitu masa remaja awal, masa emaja
pertengahan, dan masa remaja akhit. Masa remaja awal dimulai kerika usia 11-13
rahun. Ciri khas remaja pada tahap ini, antara lain Tebih dekat dengan teman sebaya,
ingin behas, dan lebih banyak mempethatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir
abstrak. Masa remaja pertengahan dimulai ketika usia 14-16 tahun. Pada tahap ini
remaja mulai mencari identitas diri. mulai timbul keinginan untuk berkencan,

8
memiliki rasa cinta yang mendalam, mengemhangkan kemampuan berpikir abstrak,
dan mulai berkhayal mengenai aktivitas seksual Masa remaja akhir, usia 17-20 tahum.
Pada tahap ini remaja smulai mengungkapkan kebebasan diri, lebih selektif dalam
memilih reman sebaya, memiliki citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta,
dan mampu berpikit abstrak.
Pertumbuhan fisik berkembang dengan cepat pada masa remaja, Termasuk
perkembangan organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan
schingga mampu melangsunglkan fungai reproduksi. Pecubalian ini ditandai dengan
munculnya tanda seks primer dan seks sekunder. Tanda seks primer ditandai dengan
rerjadinya menstruasi pertama (menarke) pada remaja putri dan minpi basah pada
remaia laki-laki Tanda scks sekunder pada remaja purri ditand dengan perubalian
pinggul (melebar) pertumbuhan rahim dan vagina, pembesaran payudara, dan
pertumbuhan rambut di ketizk scrta pubis. Tanda seks sekunder pada remaja laki laki
ditandai dengan perubahan ara, rumbuh akun, penis dan buah zalar bettambah besat,
terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih lebar, badan berotot, tumbuh kumis
jambang dan rambue di sekitar kemaluan dan ketiak.
Proses perubaban kejiwaan berlangsung lebih lambat dibanding perubahan fisik.
Pada mass ini terjadi per bahan emosi dan parubahan intelegensia. Remaja menjadi
lebih sensul (mudah menangis, cemas, frustras dan tertawa) dan agresif serta mudah
bereaksi terhadap rangsangan liar yang berpengaruh, misalnya mudah betkelahi. Ke
mampuan berpikir juga mengalami perubahan, Mureka sudah mampu berpikir abstrak
sehingga jangan kaget apabila ia menjadi senang memberi kritik terhadap sesuatu.
Masa ini juga dikenal sebagai masa ingin mengetahui segala hal haru schingga
muncul perilaku coba-coba. Perilalcu ingin mencoba hal baru ini jika didorong oleh
tangsangan selksual dapat membawa remaja masuk pada hubungan seks pranilcah
dengan segala akibatnya, antarm lain kehamilan di luar nikah, upaya abortus, dan
penularan penyakir kelamin, termasuk HIV AIDS. Perilaku tersebut juga dapat
mengakibatkan remaja mengalami ketergantungan NAPZA (narkotika, psikotropika,
dan zat aditif lainnya, termasuk rokok dan alkohol).
F. Kesehatan Reproduksi Remaja
Istilah reproduksi berasal dari kata re- yang artinya kembali dan kata produksi
yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi, reproduksi berarti suatu proses
kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup.
Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk

9
reproduksi manusia. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.
Pengertian sehat di sini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas
kecacatan, tetapi juga sehat secara mental serta sosial budaya.
a. Tujuan dan Sasaran Kesehatan Reproduksi Remaja
Tujuan umum
Tujuan umum kesehatan reproduksi remaja adalah mewujudkan keluarga
berkualitas tahun 2015 melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran, sikap,
perilaku remaja dan orang tua agar peduli, bertanggung jawab dalam
kehidupan berkeluarga, serta pemberian pelayanan kepada remaja yang
memiliki permasalalan khusus.
Tujuan khusus.
Tujuan khusus program kesehatan reproduksi remaja adalah sebagai berikut
1) Seluruh lapisan masyarakat mendapatkan informasi tentang KRR.
Sasaran tujuan ini ialah peningkatan cakupan penyebaran informasi
KRR melalui media massa.
2) Seluruh remaja di sekolah mendapatkan informasi tentang KRR
Sasaran rujuan ini ialah peningkatan cakupan penycbaran informasi
KRR di sekolah umum, SLTP SMU, pesantren, dll.
3) Seluruh remaja dan keluarga yang menjadi anggota kelompok
masyarakat mendapat informasi tentang KRR. Sasaran tujuan ini ialah
peningkatan cakupan remaja dan orang tua yang memeroleh informasi
KRR melalui kelompok remaja dan orang rua, seperti karang taruna,
remaja masjid, perusahaan, remaja gereja, PKK pramuka, pengajian,
dan arisan.
4) Seluruh remaja di perusahaan rempat kerja mendapatkan informasi
tentang KRR. Sasaran tujuan ini ialah peningkacan cakupan remaja
yang memeroleh informasi dan layanan KRR melalui perusahaan di
tempat mereka bekerja.
5) Seluruh remaja yang membutuhkan konseling serta pelayanan khusus
dapat dilayani. Sasaran tujuan ini ialah peningkatan jumlah dan
pemanfaatan pusat konseling dan pelayanan khusus bagi remaja.

10
6) Seluruh masyarakat mengerti dan mendukung pelaksanaan program
KRR. Susarannya ialah peningkatan komitmen bagi politisi, toga,
toma, serta LSM dalam pelaksanaan KRR.
b. Kebijakan Program Departemen Kesehatan dalam Kesehatan Reproduksi
Remaja.
Adapun kebijakan Departemen Kesehatan da am KRR adalah sebagai berikut .
1) Pembinaan KRR untuk remaja awal, remaja tengah, dan re- maja akhir.
2) Pembinaan KRR dilaksanakan terpadu lintas program dan lin- tas
sektoral. Pembinaan KRR dilaksanakan melalui jaringan pelayanan
kesehatan dasar dan rujukannya.
3) Pembinaan KRR dapat dilakukan pada 4 daerah tangkapan. vaitu
rumah, sekolah, masyarakat dan semua pelayanan kesehatan.
4) Peningkatan peran serta orang tua, unsur potensial di kelu arga, serta
remaja sendiri
c. Berbagai Keadaan yang Memengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja dan
Cara Penanggulangannya.
Berikut ini adalah beberapa keadaan yang berpengaruh buruk terhadap
kesehatan remaja.
1) Masalah gizi, meliputi:
 Anemia.
Anemia sangat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi
terutama pada wanita. Kondisi ini akan sangat berbahaya ketika
hamil dan melahitkan. Hal tersebut dapat menye- babkan
BBLR (berat badan bayi kurang dari 2500 gram). Di samping
itu, anemia juga dapat mengakibatkan kematian ibu maupun
bayi pada waktu proses persalinan.
 Kekurangain zat gizi lainnya, seperti kekurangan vitamin
mineral, atau protein, dan sebagainya yang mengakibatkan
berbagai jenis penyakir dan berujung pada gangguan kesehatan
reproduksi.
 Pertumbuhan yang terhambat pada remaja putri, meng-
akibatkan panggul sempit dan berisiko melahirkan BBIR.

11
 Penyakit lain, akibat infeksi atau yang beerkaitan dengan
keturunan, sangat mungkin berpengaruh pada kesehatan remaja
yang pada akhirnya juga berpengaruh pada kesehatan
reproduksi.
2) Masalah pendidikan, melipuri:
 Buta huruf mengakibatkan remaja tidak mempunyai akses
terhadap informasi yang dibutuhkan dan mungkin kurang
mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kesehatan
dirinya.
 Pendidikan rendah dapat mengakibatkan remaja kurang mampu
memenuhi kebutuhan fisik dasar ketika berkeluarga dan hal ini
akan berpengaruh buruk terhadap derajar kesehatan diri dan
keluarganya.
3) Masalah lingkungan dan pekerjaan, antara lain:
 Lingkungan dan suasana kerja yang kurang memperhatikan
kesehatan remaja yang bekerja akan mengganggu kesehatan
remaja.
 Lingkungan sosial yang kurang schat dapat menghambat
bahkan merusak kesehatan fisik, mental, dan emosi remaja.
4) Masalah seks dan seksualitas, antara lain:
 Pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak tepat rentang
masalah seksualiras, misalnya miros yang tidak benar
 Kurangnya bimbingan untuk bersikap positif dalam hal yang
berkaitan dengan seksualitas.
 Penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA, yang meng arah
ke penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dan melalui
hubungan seks bebas. Masalah ini semakin meng khawatirkan
dewasa ini.
 Penyalahgunaan seksual.
 Kehamilan remaja.
 Kehamilan pranikah/di luar ikatan pernilkahan
5) Masalah kesehatan reproduksi remaja:
 Ketidakmatangan secara fisik dan mental

12
 Risiko komplikasi dan kematian ibu dan bayi lebih besar.
 Kehilangan kesermpatan untuk pengembanga diri remaja.
 Risiko bercambah untuk melakukan aborsi yang tidak aman
Berbagai keadaan tersebut dapat dicegah arau diminimalisasi dengun cara
memberi pengetaluan dasar mengenai kesehatan reproduksi pada remaja. Pengetahuan
dasar tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tumbuh kembang remaja: perubahan fisik/psikis pada remaja, masa subur,
anemia, dan kesehatan reproduksi.
2. Kehamilan dan melahirkan: usia ideal untuk hamil, bahaya hamil pada usia
muda, berbagai aspek kehamilan ridak diinginkan (KTD) dan abortus.
3. Pendidikan seks bagi remaja: pengertian seks, perilaku seksual, akibat
pendidikan seks, dan keragaman seks.
4. Penyakit menular seksual dan HIVIAIDS.
5. Kekerasan seksual dan cara menghindarinya.
6. Bahaya narkoba dan minuman keras pada kesehatan reproduksi.
7. Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual.
8. Kemampuan berkomunikasi: memperkuat kepercayaan diri dan bagaimana
bersikap asertif.
9. Hak reproduksi dan gender.
Program tersebut dapat dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang dapar
mendukung pelaksanaan program di lapangan, seperti tokoh masyarakat, tokoh
agama, pendidik, profesional, seperti bidan, dokter, LSM, serta instansi pernerintah
terkait. Akan tetapi, jangan lupa untuk melibatkan remaja itu sendiri dalam
merencanakan, melak- sanakan, dan memonitor/mengevaluasi program yang akan
dijalankan.
Program ini dapat dilakukan dalam berbagai jalur, antara lain jalur sekolah melalui
kegiatan ekstrakurikuler dan melalui jalur kelompok yang ada di masyarakat, seperti
pramuka, karang taruna, pengajian remaja ataupun orang tua, kelompok arisan dan
lain sebagainya. Program ini juga dapat mernanfaatkan media massa, seperti radio
ataupun media cetak. Melalui radio, kita da pat mengintegrasikan program ini dalam
siaran yang khusus membahas masalah remaja atau kita sendiri dapat
mengembangkan program radio interaktif yang membahas masalah keschatan

13
reproduksi remaja. Kita dapat pula mengembangkan pusat informasi dan konseling
remaja.
Upaya pembinaan kesehatan reproduksi remaja bertujuan secara umum untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehat remaja sebagai unsur kesehatan keluarga,
guna membina kesehatan diri dan lingkungannya dalam rangka meningkatkan
ketahanan diri, prestasi dan peran aktifnya dalam pembangunan nasional. Secara
khusus pembinaan ini berrujuan untuk:
1. Meningkatkan pengetahuan remaja tentang pertumbuhan dan perkembangan
biologis yang terjadi pada dirinya.
2. Menurunkan angka kehamilan di kalangan remaja.
3. Menurunkan angka kematian bayi dan ibu akibar kehamilan remaja.
4. Menurunkan angka kejadian penyakit akibat hubungan seksual di kalangan
remaja
5. Meningkatkan peran serta remaja dalam upaya pembinaan kesehatan dirinya.
6. Meningkatkan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam upaya pembinaan
kesehatan remaja.
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan pembinaan
pada remaja melalui penyuluhan. Cakupan informasi yang dapat diberikan bidan
dalam hal ini, antara lain gizi. anatomi dan fisiologi alar reproduksi, menstruasi dan
permasalahannya, proses kehamilan, aborsi dan bahayanya, penyakit menular seksual
dan HIV AIDS, serta narkoba dan bahayanya. Informasi tersebut dapat diberikan pada
remaja secara individual, kelompok remaja maupun melalui ibunya.
G. Melibatkan Wanita Dalam Pengambilan Keputusan
Di banyak masyarakat dunia, seorang wanita tidak boleh memiliki atau
mewarisi hak milik, mencari penghasilan, arau mendapatkan kredit bank. Bila dicerai,
dia mungkin tidak boleh merawat anak-anaknya lagi atau hak miliknya. Meskipun
wanita punya hak secara hukum, tetapi tradisi mungkin tidak akan mengizinkannya
memuruskan bagaimana keuangan keluarga dikelola atau kapan harus mendapatkan
pelayanan keseharan. Dia tidak dapat berpergian jauh atrau berperan serta di
masyarakat tanpa izin suami. Bila wanita dirampas hak-haknya seperti itu, mereka
harus berganrung pada pria untuk hidup. Akibarnya, mereka tidak dapat dengan
mudah menuntut sesuatu untuk meningkackan kesehatan mereka, misalnya KB, seks
yang aman, cukup anian, pelayanan kesehatan, dan bebas dari rasa takut. Oleh sebab

14
itu, diperlukan kererlibatan wanita dalam pengambilan keputusan rerkait seluruh
aspek kehidupannya.
H. Aspek Yang Dikaji dalam Setiap Tahap Kehidupan
a. Pengukuran Fisik Pertumbuhan
Penilaian pertumbuhan fisik:
1. Tinggi Badan
Untuk anak yang berusia 0-2 tahun, panjang badan diukur dengan
menggunakan alat infatometer. Ubun-ubun dan telapak kaki menempel
pada alat ukur. Anak yang berusia lebih dari 2 tahun, pemeriksaan
dilakukan dengan posisi berdiri dengan alat stadiometer. Rata-rata
kenaikan tinggi badan (TB) prasekolah 6-8 cm/tahun. Rata-rata laju
pertumbuhan TB laki-laki 10,3 cm/ tahun sedangkan perempuan 9
cm/tahun. Tinggi badan dapat diperkirakan berdasarkan rumus dari
Behram (1992) sebagai berikut.
 TB rata-rata waktu lahir= 50 cm
 1 tahun =1,5 x TB lahir
 4 tahun = 2 x TB lahir
 6 tahun = 1,5 x TB setahun
 13 tahun = 3 x TB lahir
 Dewasa = 3,5 x TB lahir
2. Berat Badan
Berat badan (BB) pada bayi diukur dengan menggunakan timbangan
elektrik, sedangkan BB pada anak diukur dengan menggunakan
timbangan BB yang umum digunakan. Beberapa hari setelah lahir,
biasanya bayi akan mengalami penurunan BB yang bersifat normal
sebesar 10% BB lahir. Umumnya BB lahir akan kembali setelah hari
kesepuluh.
Pada bayi sehat, kenaikan normal pada triwulan I adalah 700- 1000
g/bulan, pada triwulan II adalah 500-600 g/bulan, triwulan III adalah
350-450 g/bulan, dan triwulan IV sebesar 250-350 g bulan. Ketika
anak berada pada tahap prasekolah, kenaikan BB umumnya sebesar 2
kg/tahun. Pacu tumbuh dan terhentinya pertumbuhan pada anak
perempuan dan laki-laki berbeda. Anak perempuan mencapai pacu

15
tumbuh lebih cepat pada usia 8 tahun, sedangkan anak laki-laki pada
usia 10 tahun. Pertumbuhan pada anak perempuan terhenti ketika
berusia 18 tahun sedangkan lali laki 20 tahun.
Selain perkiraan tersebut, BB dapat diperkirakan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut.
 BB usia 3-12 bulan umur (bulan) +9
 BB usia 1-6 tahun (umur [tahun] x 2) +8
 BB usia 7-12 tahun = (umur [tahun] x 7) - 5 /2
 Usia 5 bulan 2x BB lahir
 Usia 1 tahun = 3 x BB lahir
 Usia 2 tahun = 4 x BB lahir
3. Lingkar Kepala
Pengukuran antropometii lainnya yang dilakukan ketika melakukan
pemeriksaan fisik pada anak adalah mengukur lingkar kepala.
Tindakan ini dilakukan pada lingkaran oksipitofrontal, yang bertujuan
untuk mengukur pertumbuhan kepala dan otak Ukuran lingkar kepala
waktu lahir rata-rata sebesar 34 cm, ketika usia 6 bulan menjadi
sebesar 44 cm. Ketika usia 1 rahun ukuran lingkar kepala cm, dan
ketika dewasa rata-rata ukuran lingkar kepala manusia adalah sebesar
54 cm.
Rata-rata sebesar 47 cm, usia 2 tahun menjadi 49 Anak arau bayi dapat
memiliki lingkar kepala kecil (mikrosefali) maupun lingkar kepala
besat (makrosefali). Biasanya keadaan tersebut dibawa sejak lahit atau
keturunan. Mikrosefali dapat terjadi pada bayi kecil, bayilanak yang
mengalami retardasi mental. Makrosefalí dapat terjadi pada bayi besar,
bayi/anak yang mengalami tumor serebri, dan juga bayi/anak yang
mengalami hidrosefalus. Anak yang mengalami hidrosefalus
mengalami pertumbuhan tulang kepala mengikuti pertumbuhan otak.
Pertumbuhan otak tercepat terjadi pada trimester III kehamilan sampai
5-6 bulan pertama setelah lahir (pembelahan sel otak setelah itu
pembelahan melambat dan terjadi pembesaran sel-sel otak.
4. Lingkar Lengan Atas

16
Ukuran lingkar lengan atas (LILA) mencerminkan pertumbuhan
jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan
cairan tubuh. Saat lahir, ukuran LIILA sebesar 11 cm dan pada tahun
pertama menjadi 16 cm. Pengukuran ini biasanya dilakukan pada
lengan kiri. LILA biasanya digunakan untuk mengukur status gizi
seseorang
Standar lingkar lengan usia 1-5 tahun:
>13,5 cm normal.
12,5-13,5 cm malnutrisi ringan.
<12,5 cm malnutrisi
5. Lingkar Dada
Lingkar dada diukur tepat di payudara (mclingkari puting susu).
Ukuran ini biasanya lebih kecil 2 cm dari lingka kepala.
b. Pengukuran perkembang reproduksi
1. Perkembangan reproduksi
Titik kulminasi kemampuan reproduksi adalah maturasi dari gamet dan
sistem transportasinya, fertilisasi, dan perkembangan Ketika manusia
memasuki masa pubertas, terjadi OVum. pembesaran testis dan
ovarium. IHal ini biasanya terjadi 1 tahun sebelum muncul tanda
pertama dari ciri seks sekunder
2. Ciri seks primer
Ciri seks primer pada laki-laki:
 Spermache: sperma matang
 Mampu berejakulasi.
Ciri seks primer pada perempuan:
 Menarce: munculnya menstruasi pertama. Biasanya terjadi
pada usia 11-15 tahun (rata-rata 13 tahun).
 Ovulasi: proses pelepasan sel telur dari folikel ovarium.
3. Ciri seks sekunder
Ciri seks sekunder merupakan perubahan pada tubuh yang terjadi
akibat pengaruih androgen testis dan adrenal/estrogen ovarium.
Ciri seks sekunder pada laki-laki:
 Pertumbuhan rambur pubis, aksila, wajah, dada.

17
 Bau badan akibat sekresi kelenjar apokrin.
 Jerawat.
 Suara menjadi dalam dan berat akibat rangsangan testosteron
terhadap pertumbuhan sel tulang rawan riroid dan krikoid serta
sel otot laring
Ciri seks sekunder pada perempuan:
 Perkembangan payudara (relarche) terhadap estrogen yang
diproduksi ovarium. .
 Pertumbuhan rambut pubis dan aksila.
 Bau badan akibar sekresi kelenjar apokrin.
 Penebalan dan pelunakan mukosa vagina, pigmentasi. .
 Vaskularisasi dan erotisasi labia mayora.
 Pembesaran klitoris.
 Penebalan hymen
 Deposit glikogen dalam sel mukosa vagina menyebabkan
pertumbuhan bakteri dordelein. Asam laktat: PH vagina
menjadi asam.
 Sekresi kelenjar Bartolini menghasilkan zat mukoid yang
berbentuk seperti susu.
c. Psikologi wanita remaja
Karakteristik:
 Narsisme Ingin dicintai dan cinta pada diri sendiri. Harus
melepaskan ikatan ketergantungan pada orang rua menuju
dunia orang dewasa, tempat ia belum juga diterima.
 Narsisme positif: memperkuat percaya diri, memiliki kekuatan
mengikat dan menghindari cerbaginya kepribadian
 Narsisme negatif: beclebihan, sukar bethubungan dengan orang
lain, mudah frustrasi, dan kecewa
 Kehidupan fantasi yang kuat
 Khayalan dan fantasi. Ingin dikagumi dan dicintai: buku harian.
 Keinginan melepaskan diri dari orang tua. Gadis yang bersikap
pasif dan menunggu lebih lama bergantung pada orang tua.
Setelah menikah baru lepas dari orang tua.

18
 Inner life yang lebih kaya
 Intuisi: proses yang terjadi di bawah sadar. Seseorang mengerti
pikiran dan perasaannya dengan baik sehingga dapar
melakukan penyesuaian diti yang lebih baik
4. Tipe gadis
Feminin pasif
 Mudah mengidentifikasi diri pada pasangannya karena adanya
perralian psikologis ancar-ego.
 Gadis mengadakan penyesuaian terhadap pria dan membiarkan
pasangannya berinisiatif.
Feminin aktif
 Mencintai pasangannya dengan ilkhlas. -Mengundurkan diri
bila cinta tidak dibalas.
 Tidak mendewakan pasangan.
 Maskulin
 Feminitasnya sebagai sesuatu yang mengganggu reaksinya
menolak. la merasa inferior karena tidak dapat mencapai apa
yang menjadi tujuannya.
 Mencintai pria lemah yang ingin dimotivasi untuk menjadi
aktif, retapi biasanya tidak berhasil. Perempuan dengan tipe ini
harus mendapat pasangan yang kuat.

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan reproduksi adalah suatu sosial keadaan sejahtera fisik, mental, dan
secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal
yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksinya.
Ruang lingkup kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut:
1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) termasuk
PMS-HIV/AIDS
3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi.
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Pencegahan dan penanganan infertilitas.
6. Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
7. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi
genital, fistula, dll

Hak reproduksi merupakan bentuk perlindungan bagi seriap individu serta


pra-kondisi untuk memeroleh hak lainnya tanpa diskriminasi.

Tujuan program kesehatan reproduksi remaja adalah membantu remaja agar


memahami dan menyadari ilmu kesehatan reproduksi tersebut sehingga memiliki
sikap dan perilaku sehat dan tentu saja bertanggung jawab kaitannya dengan
masalah kehidupan reproduksi.

B. Saran
Mahasiswa bidan diharapkan memperhatikan dan memahami mata kuliah
Kesehatan Reproduksi sehingga mampu memberikan asuhan yang berkualitas dan
mampu menangani berbagai masalah atau komplikasi yang mungkin terjadi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Tri Wiji.2017.Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Berbasis Kompetensi.EGC.Jakarta.


Kusmiran, Eny.2011.Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita.Salemba Medika.Jakarta.
Saifudin, AB. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta: YBSP
Manuaba, IBG, 2010. Ilmu Kebidanan, Kandungan dan KB Bagi Bidan. Jakarta: EGC
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Kespro-dan-KB-
Komprehensif.pdf

21