Anda di halaman 1dari 28

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang KAJIAN KAPASITAS KOMUNITAS GROBAK HYSTERIA DALAM PROSES

KAJIAN KAPASITAS KOMUNITAS GROBAK HYSTERIA DALAM PROSES

PEMBANGUNAN KOTA SEMARANG

Oleh:

Wa Ode Sitti Jurianti Aswad

Magister Urban & Regional Planning Program, Diponegoro University

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Goverment atau pemerintah menurut Anglo dalam American Political Theory adalah institusi institusi

formal suatu negara dan monopoli mereka terhadap kekuasaan yang sah dan memaksa (legitimate

coercive power),ditandai dengan kemampuan dalam membuat keputusan dan kapasitas untuk

menjalnakanya. Pemerintah sudah dikenal sejak awal perdaban dunia munul. Pemerintah sejak zaman

dahulu sudah merupakan pengambil kebijakan yang didalamnya terkandung unsur-unsur memaksa dan

memonopoli. Seiring perkembangan ilmu dan pemikiran manusia, pada zaman modern ini keberadaan

pemerintah lebih diperhalus, tidak se-absolut dahulu, walaupun tidak menghilangkan kapasitasnya

sebagai decision maker. Pemerintah pada zaman modern dapat dikritisi dan membuka peluang untuk

diskusi dalam pengambilan keputudan. Keterlibatan berbagai stakeholder untuk berpatisipasi dalam

proses pengambilan keputusan menimbulkan pergeseran konsep pemerintah.Konsep governane di

Indonesia sering dihubungkan dengan sistem saling ketergantungan antar aktor dalam pembangunan

seperti yang dijelaskan oleh stoker.

Aktor- aktor dalam dalam perenanaan atau pembangunan suatu daerah diantaranya adalah pemerintah,

swasta dan masyarakat. Berbicara mengenai peran masyarakat, contoh real yang semakin sering

ditemukan di daerah terutama di perkotaan yaitu munculnya berbagai komunitas yang bergerak pada

berbagai bidang salah satunya pemerhati masalah perkotaan. Komunitas merupakan salah satu pilar

penting dalam pembangunan suatu perkotaan, dimana kita tahu bahwa pilar pembangunan adalah:

Pemerintah, Akademisi, masyarakat, Komunitas, dan lain sebagianya. di Kota Semarang, kehadiran

komunitas-komunitas semakin banyak, baik itu komunitas yang bergerak di bidang kesenian, sosial,

lingkungan, budaya, fotografi, olahraga, gambar, pecinta klub bola dan lain sebagainya. Keberadaan

komunitas ini cukup memberi warna lain di Kota Semarang, karena setiap kegiatan yang dilakukan

senantiasa memberikan gambaran suatu ilmu baru untuk masyarakat Kota Semarang.

1
1

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Komunitas Gerobak Hysteria merupakan salah satu komunitas

Komunitas Gerobak Hysteria merupakan salah satu komunitas di Kota Semarang yang concern pada isu kota, anak muda , dan komunitas. Grobak Hysteria menekankan produksi artistic berdasar hasil riset pengetahuan keseharian di masyarakat. Grobak Hysteria juga berperan sebagai laboratorium komunitas yang mempunyai kecenderungan kerja lintas disiplin, kesegaran gagasan, maupun praktik-praktik kecil yang laten dan intensif. Tak hanya selalu dalam ketegangan negosiasi seni dan non seni, lebih jauh Grobak Hysteria menegaskan kerja-kerja berkesenian adalah bagian dari intervensi sosial untuk mendinamisir peradaban yang lebih baik. Sepak terjang komunitas ini terhadap isu perkotaan sudah banyak mendapat sorotan, oleh karena itu untuk memnuhi tugas mata kuliah kelembagaan kota kami tertarik untuk mecoba membahas kapasitas komunitas ini dalam penyelesaian permasalahan kota di Kota Semarang.

1.2. Perumusan Masalah

Semarang merupakan salah satu kota metripolitan yang ada di Indonesia. Kota Semarang seperti halnya metropolitan lainnya juga menjadi daya tarik masyarakat sekitarnya (Kab.Kendal, Demak, Purwodadi dan Kab. Semarang) untuk mencari pengidupan dan pelayanan publik yang lebih baik dari pada di tempat asal. Daya tarik kota ini tentuk menimpulkan masalah tersendiri bagi Kota Semarang. Beragam masalah mulai timbul karana dari sisi daya tampung dan daya dukung lingkungan sudah mulai terlampaui. Hal ini tentu akan membuat Kota Semarang akan semakin jauh dari kata “layak huni dan manusiawi”. Layak huni dan manusiawi dalam dalam arti kota bisa mewadahi aktivitas masyarakatnya secara manusiawi dan seimbang antara kegiatan ekonomi, sosial budaya, lingkungan, teknologi dan politik . Banjir, macet, banyaknya permukiman kumuh merupakan beberapa permasalahan utama yang ada di Kota Semarang. Berbagai permasalahan tersebut tentunya tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata, peran serta masyarakat sangat penting untuk dimaksimalkan, Keberdaan komunitas yang merupakan perwakilan dari masyarakat yang sadar akan permasalahann yang terjadi merupakan angin segar untuk melakukan perubahan yang dimulai dari bawah dan menjadi motivasi untuk pemerintah dan masyarakat lainya.

1.3. Tujuan Kajian

Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis kapasitas kelembagaan (komunitas) gerobak hysteria dalam menaggapi isu-isu permsalahan Kota Semarang. Kapasitas kelembagaan tersebut dilihat dari peran aktif komunitas dengan berbagai kegiatan yang dilakukan dan juga komitmen serta visi misi dari komunitas tersebut.

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Ruang Lingkup kajian ini yaitu Komunitas Hysteria yang

Ruang Lingkup kajian ini yaitu Komunitas Hysteria yang merupakan komunitas yang concern pada isu kota, anak muda , dan komunitas dimana Komunitas ini telah aktif sejak 11 September 2004, dan sekarang merintis hub jejaring seniman maupun pegiat perkotaan skala nasional maupun internasional.

1.5. Sistematika Kajian

Sistematika penyajian dalam laporan ini yaitu sebagai berikut:

BAB 1 PENDHULUAN Berisikan Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Ruang Lingkup BAB 2 KAJIAN PUSTAKA Berisikan kajian literaut mengenai Lembaga, Komunitas dan Pemberdayaan Masyarakat BAB 3 KAJIAN KELEMBAGAAN KOMUNITAS GERBOAK HYSTERIA Berisikan tentang Perdan dan Fungsi Komunitas, Rasio Kuantitas dan Kualitas SDM, Sarana Parasarana dan Beban Tugas, Iklim Kerja, Kinerja Komunitas BAB 4 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berisikan tentang kesimpulan dan rekomendasi terhadap peran komunitas

3
3

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Lembaga Kelembagaan umumnya banyak dibahas dalam

2.1.

Lembaga

Kelembagaan umumnya banyak dibahas dalam sosiologi, antropologi , hukum dan politik, organisasi dan manajemen, psikologi maupun ilmu lingkungan yang kemudian berkembang ke dalam ilmu ekonomi karena kini mulai banyak ekonom berkesimpulan bahwa kegagalan pembangunan ekonomi umumnya karena kegagalan kelembagaan. Dalam bidang sosiologi dan antropologi kelembagaan banyak ditekankan pada norma, tingkah laku dan adat istiadat. Dalam bidang ilmu politik kelembagaan banyak ditekankan pada aturan main (the rules) dan kegiatan kolektif (collective action) untuk kepentingan bersama atau umum (public). Ilmu psikologi melihat kelembagaan dari sudut tingkah laku manusia (behaviour). Ilmu hukum menegaskan pentingnya kelembagaan dari sudut hukum, aturan dan penegakan hukum serta instrumen dan proses litigasinya. Pendekatan ilmu biologi, ekologi atau lingkungan melihat institusi dari sudut analisis system lingkungan (ecosystem) atau sistem produksi dengan menekankan struktur dan fungsi system produksi atau system lingkungan kemudian dapat dianalisis keluaran serta kinerja dari system tersebut dalam beberapa karakteristik atau kinerja (system performance atau system properties) seperti produktivitas, stabilitas, sustainabilitas, penyebaran dan kemerataanya.

Dan yang dimaksud dengan kelembagaan adalah suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama (Djogo, Sunaryo, Suharjito, & Sirait, 2003).

4
4

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Adapun ciri kelembagaan yang dapat mencapai tujuan negara

Adapun ciri kelembagaan yang dapat mencapai tujuan negara diungkapkan oleh Widodo (2001:80) bahwa kelembagaan publik dalam era sekarang ini harus dapat bekerja secara efisien, efektif, kompetitif, responsif dan adaptif. Selain itu, kelembagaan publik harus mempunyai struktur dan prosedur yang fleksibel, juga harus mempunyai kemauan dan kemampuan yang diperlukan untuk memperkembangkan diri, menyesuaikan diri dengan situasi dinamis dan ketidakpastian lingkungan. Max Weber berpendapat bahwa kelembagaan adalah suatu bentuk organisasi yang paling efisien dan rasional. Hal itu digambarkan dengan menunjukkan apa yang menjadi karakteristik kelembagaan (Thaha, 2009) , yaitu :

a) Kewenangan yang berjenjang sesuai dengan tingkatan organisasi;

b) Spesialisasi tugas, kewajiban, dan tanggung jawab;

c) Posisi didesain sebagai jabatan;

d) Penggantian dalam jabatan secara terencana;

e) Jabatan bersifat impersonal;

f) Suatu sistem aturan dan prosedur yang standar untuk menegakkan disiplin dan pengendaliannya;

g) Kualifikasi yang rinci mengenai individu yang akan memangku jabatan; Perlindungan terhadap individu dari pemecatan.

2.2.

Komunitas

Istilah kata komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berasal dari kata dasar communis yang artinya masyarakat, publik atau banyak orang. Wikipedia Bahasa Indonesia menjelaskan pengertian komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu didalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa (Agoes Patub BN, 2011 dalam Kusumastuti, 2015).

Komunitas (community) adalah sebuah kelompok sosial yang terdiri dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama, komunitas dalam konteks manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak” (Kusumastuti, 2015).

Menurut Mac Iver (dalam Mansyur, Cholil 1987:69) community diistilahkan sebagai persekutuan hidup atau paguyuban dan dimaknai sebagai suatau daerah masyarakat yang ditandai dengan beberapa

5
5

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang tingkatan pertalian kelompok sosial satu sama lain.

tingkatan pertalian kelompok sosial satu sama lain. Keberadaan komunitas biasanya didasari oleh beberapa hal yaitu:

a. Lokalitas

b. Sentiment Community Menurut Mac Iver (dalam Soerjono Soekanto, 1983: 143), unsurunsur dalam

community adalah:

sentiment

Seperasaan : Unsur seperasaan muncul akibat adanya tindakan anggota dalam komunitas yang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok dikarenakan adanya kesamaan kepentingan

Sepenanggungan : Sepenanggungan diartikan sebagai kesadaran akan peranan dan tanggung jawab anggota komunitas dalam kelompoknya

Saling memerlukan : Unsur saling memerlukan diartikan sebagai perasaan ketergantungan terhadap komunitas baik yang sifatnya fisik maupun psikis

Menurut Montagu dan Matson (dalam Ambar Sulistiyani, 2004 : 81-82), terdapat sembilan konsep komunitas yang baik dan empat kompetensi masyarakat, yakni:

a) Setiap anggota komunitas berinteraksi berdasar hubungan pribadi dan hubungan kelompok;

b) Komunitas memiliki kewenangan dan kemampuan mengelola kepentingannya secara bertanggungjawab;

c) Memiliki vialibitas, yaitu kemampuan memecahkan masalah sendiri;

d) Pemerataan distribusi kekuasaan;

e) Setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi demi kepentingan bersama;

f) Komunitas memberi makna pada anggota;

g) Adanya heterogenitas dan beda pendapat;

h) Pelayanan masyarakat ditempatkan sedekat dan secepat kepada yang berkepentingan;

i) Adanya konflik dan managing conflict.

Sedang untuk melengkapi sebuah komunitas yang baik perlu ditambahkan kompetensi sebagai berikut

a) Kemampuan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan komunitas;

b) menentukan tujuan yang hendak dicapai dan skala prioritas;

c) kemampuan menemukan dan menyepakati cara dan alat mencapai tujuan;

d) kemampuan bekerjasama secara rasional dalam mencapai tujuan.

Kekuatan pengikat suatu komunitas, terutama adalah kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sosialnya yang biasanya, didasarkan atas kesamaan latar belakang budaya, ideologi, sosial- ekonomi. Disamping itu secara fisik suatu komunitas biasanya diikat oleh batas lokasi atau geografis.

6
6

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Masing-masing komunitas, karenanya akan memiliki cara dan

Masing-masing komunitas, karenanya akan memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam menanggapi dan menyikapi keterbatasan yang dihadapinya serta mengembangkan kemampuan kelompoknya.

2.3. Community Basic Development

Burkey (1993: 48 dalam Wetmore, 1998) menyatakan pembangunan melibatkan perubahan-perubahan di dalam kesadaran, motivasi dan perilaku individu, dan dan dalam hubungan-hubungan antara individu dan juga kelompok-kelompok suatu masyarakat. Perubahan ini harus muncul dari dalam individu-individu dan kelompok-kelompok masyarakat itu sendiri bukan dari luar. Wetmore (1998) menyatakan tujuan- tujuan masyarakat terkait nilai-nilai inti pembangunan adalah sebagai berikut:

1. Life sustenance: kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, tempat berlindung dan rasa aman

2. Self-esteem: kemampuan untuk memiliki suatu perasaan berguna dan memiliki harga diri.

3. Freedom from servitude: kemampuan untuk menentukan pilihan-pilihan yang akan mempengaruhi atau menentukan masa depan seseorang

4. Self-esteem: kemampuan untuk memiliki suatu perasaan berguna dan memiliki harga diri.

Pendekatan Pembangunan Berbasis Masyarakat (Community Based Development) adalah metode pendekatan yang melibatkan masayarakat/komunitas didalam pembangunan. Didalam pembangunan ini melibatkan berbagai unsur-unsur yang lebih luas diantaranya adalah sosial, budaya, ekonomi hingga peraturan/kepranataan dan lingkungan. Sifat dari pendekatan CBD ini adalah proses pembangunan mulai dari tahap idea/gagasan, perencanaan, pembuatan program kegiatan, penyusunan anggaran/biaya, pengadaan sumber-sumber hingga pelaksanaan di lapangan lebih menekankan kepada keinginan atau kebutuhan yang nyata ada (the real needs of community) dalam kelompok masyarakatnya.

Pendekatan CBD ini lebih menekankan pada keinginan dan kebutuhan yang nyata ada dalam kelompok masyarakatnya, maka pendekatan ini lebih bercirikan pendekatan yang bersifat ‘bottom up’. Kelebihan- kelebihan dari pendekatan CBD ini adalah antara lain: lebih aspiratif dan akomodatif terhadap keinginan dan kebutuhan dari kelompok masyarakatnya, lebih peka terhadap dinamika/ perkembangan yang terjadi dalam kelompok masyarakatnya, dapat lebih meningkatkan motivasi dan peran-serta kelompok masyarakatnya karena jenis keinginan atau kebutuhan yang direncanakan nyata datang dari mereka, kelompok masyarakatnya merasa lebih dihargai (didengar dan diperhatikan) yang akan meningkatkan ‘rasa memiliki’ (sense of belonging) pada program kegiatan yang direncanakan.

7
7

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Konsep CBD sebagai mekanisme perencanaan yang menekankan

Konsep CBD sebagai mekanisme perencanaan yang menekankan pada teknologi “social learning” dan strategi perumusan program yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengaktualisasikan diri. Pokok pikiran yang terkandung dalam CBD adalah mencakup: pertama, keputusan dan inisiatif pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat dibuat di tingkat lokal oleh warga masyarakat yang memiliki identitas yang diakui peranannya; kedua, memperkuat kemampuan masyarakat miskin mengarahkan dan mengatasi aset-aset yang ada untuk memenuhi kebutuhannya; ketiga, toleransi yang besar terhadap variasi dan karenanya mengakui makna pilihan nilai individual didalam pengambilan keputusan dan desentralisasi; keempat, CBD menggunakan teknologi “social learning process” dimana individu berinteraksi satu sama lain menembus batas organisatoris dengan mengacu pada kesadaran kritis masing-masing; kelima, Budaya kelembagaan ditandai oleh adanya organisasi otonom, mandiri dan saling berinteraksi memberikan umpan balik; keenam, adanya jaringan koalisi dan komunikasi antara pelaku organisasi lokal yang otonom (Tjokrowinoto, 1996).

Community Based Development di Indonesia sudah berjalan dengan baik, ditandai dengan tumbuhnya industri rumah yang sudah mampu berperan secara global. Sebagai contoh, industri batik yang mampu menembus pasaran global, merupakan kemajuan yang baik bagi perkembangan community based development di Indonesia. Dengan berbasis community maka ada beberapa keuntungan yang diperoleh dalam industri, salah satunya adalah ketergantungan industri-industri kecil sehingga diperoleh kemakmuran bersama. Namun peran pemerintah tetap diperlukan dalam mendukung tersedianya bahan baku dan sarana prasarana pendukung sehingga indutri rumahan dapat terus berjalan sesuai Program OVOP (One Villager One Product).

2.4. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) ; pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Dalam proses pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) ; pertama, upaya itu harus terarah. Kedua, program ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Ketiga,

8
8

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang menggunakan pendekatan kelompok, karena secara

menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah masalah yang dihadapinya. Pendekatan kelompok ini paling efektif dan dilihat dari penggunaan sumber daya juga lebih efisien.

Tidak Menuju BERDAYA Masyarakat Masyarakat Masyarakat (Masyarakat BERDAYA MANDIRI MADANI Miskin) Belajar
Tidak
Menuju
BERDAYA
Masyarakat
Masyarakat
Masyarakat
(Masyarakat
BERDAYA
MANDIRI
MADANI
Miskin)
Belajar
melakukan
perbaikan Sikap
/ Prilaku /
Cara pandang
Belajar
1 Belajar
5
3
Belajar Mengelola
7
Kemitaan
Membuat
Pembangunan
Pemda &
Program
Permukiman
Kegiatan
Belajar Mampu
Belajar Aplikasi
4
6
Belajar Bersinergi
2
Rencana Kegiatan
diantara masyarakat
Mengakses Sumber Daya
disekitarnya
diantara masyarakat Mengakses Sumber Daya disekitarnya Gambar 2.1 Jenjang Pengembangan Masyarakat Secara umum
diantara masyarakat Mengakses Sumber Daya disekitarnya Gambar 2.1 Jenjang Pengembangan Masyarakat Secara umum

Gambar 2.1 Jenjang Pengembangan Masyarakat Secara umum pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memulihkan atau meningkatkan keberdayaan suatu komunitas agar mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak-hak dan tanggung jawab mereka sebagai komunitas manusia & warga negara (Parwoto, 2009). Secara khusus Pemberdayaan adalah pemberian wewenang yang lebih besar kepada masyarakat sebagai pengguna akhir (end user) untuk mengelola sumber daya (resources) pembangunan yang tersedia secara lebih mandiri (Manaf, 2006).

Pada dasarnya pembangunan desa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat menjadi sasaran sekaligus pelaku pembangunan. Keterlibatan masyarakat pada setiap tahapan pembangunan di desa, merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan. Kegagalan berbagai program pembangunan perdesaan di masa lalu adalah disebabkan antara lain karena penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi program-program pembangunan tidak melibatkan masyarakat. Sejalan dengan dikedepankannya prinsip tata pemerintahan yang baik terutama di tingkat Kabupaten/Kota, maka konsep pembangunan yang partisipatif mulai digagas dan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai program pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan meliputi semua sektor, mulai dari pembangunan infrastruktur perdesaan, pengembangan pertanian, desentralisasi pendidikan dasar, pelayanan kesehatan, perencanaan pembangunan partisipatif, dan sebagainya. Konsep pembangunan yang partisipatif merupakan suatu proses pemberdayaan pada masyarakat sehingga masyarakat mampu untuk mengidentifikasi kebutuhannya sendiri atau kebutuhan kelompok masyarakat sebagai suatu dasar perencanaan pembangunan. Oleh karena itu, maka konsep pembangunan partisipatif mengandung tiga

9
9

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang unsur penting, yaitu : (1) Peningkatan peran masyarakat

unsur penting, yaitu : (1) Peningkatan peran masyarakat dalam perencanaan, implementasi pembangunan, pemanfaatan hasil pembangunan, dan evaluasi proses pembangunan, (2) Orientasi pemahaman masyarakat akan peran tersebut, dan (3) Peran pemerintah sebagai fasilitator (Hadi, Tanpa angka tahun).

Partisipasi mendorong setiap warga masyarakat untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui pembangunan yang partisipatif, masyarakat diharapkan dapat : (1) Mampu secara kritis menilai lingkungan sosial ekonomi mereka sendiri mengidentifikasi bidang- bidang yang perlu diperbaiki, (2) Mampu menentukan visi masa depan yang ingin masyarakat wujudkan, (3) Dapat berperan dalam perencanaan masa depan mereka sendiri dalam masyarakatnya tanpa menyerahkannya kepada ahli atau kelompok berkuasa, (4) Dapat menghimpun sumber-sumber daya di dalam masyarakat dan juga di dalam lingkup anggotanya untuk merealisasi tujuan bersama, (5) Dapat memperoleh pengalaman dalam menyatakan, menganalisa situasi dan mengidentifikasi strategi yang tepat dan realistis untuk suatu kehidupan yang baik, (6) Karenanya anggota masyarakat menjadi tokoh individual yang dapat bekerja atas dasar persamaan, (7) Desa dan masyarakat akan menyelesaikan tugas dan proyek swadaya, karena masyarakat tidak tergantung pada bantuan dari luar, yang juga akan menjadi dasar menuju kemandirian, dan (8) Dalam proses ini akan dibangun hubungan yang erat dan integratif diantara anggota masyarakat (Muslim, tanpa angka tahun). Partisipasi berkaitan dengan konsep relasi dan pembagian kekuasaan antara satu aktor dengan aktor yang lain didalam proses pengambilan keputusan. Dalam proses partisipasi tidak cukup hanya menjelaskan mengapa keputusan itu dibuat (tanpa melibatkan mereka dalam pembuatan keputusan itu sendiri) apalagi hanya menginformasikan keputusan tersebut saja kepada penerima manfaat. Kekuasan di dalam pengambilan keputusan di antara aktoraktor ini harus adanya persetujuan atau kesepakan dari semua aktor tersebut (Arnstein, 1969). Tingkat Partisipasi secara umum dibagi tiga (Arnstein, 1969):

10
10

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Gambar 2.2. Tangga Partisipasi Arnstein (1969) 1. Kekuasaan

Gambar 2.2. Tangga Partisipasi Arnstein (1969)

1. Kekuasaan Rakyat (Degree of Citizen Power),

a. Masyarakat (have-not) mengambil alih otoritas secara keseluruhan baik di dalam penyusunan perencanaan, membuat kebijakan dan mengelola program (Citizen Control).

b. Masyarakat pemegang keputusan utama dalam sebuah komite pengambilan keputusan (Delegated Power). Mereka memiliki delegasi (suara) mayoritas dan mampu menjamin akuntabilitas pelaksanaan keputusan.

c. Kekuasaan terdistribusi sebagai hasil negosiasi antara masyarakat dengan pemegang kekuasaan (Partnership). Tanggungjawab perencanaan dan pembuatan keputusan dibagi secara rasional berdasarkan hasil negosiasi.

2. Alat Legitimasi/Stempel (Degree of Tokenism),

a. Kooptasi orang-orang yang terpandang (tokoh masyarakat) yang bisa diajak bicara dilibatkan di dalam komite. Masyarakat dilibatkan akan tetapi mereka tidak punya hak suara dalam mengambil keputusan. Sifatnya sebagai “Stempel Karet” saja (Placation).

b. Masyarakat tidak dilibatkan secara langsung aspirasinya diperoleh melalui survey sikap masyarakat dsb. Hasil survey di sampaikan melalui pertemuan-pertemuan akan tetapi pertemuan ini biasanya hanya bersifat saja (Consultation).

c. Langkah paling awal dari upaya mewadahi partisipasi melalui kontak langsung dengan masyarakat. Pada umumnya lebih bersifat memberikan informasi satu arah (Informing).

3. Tidak ada partisipasi (Non-Participation). Tujuan pendekatan ini adalah untuk mengobati (masyarakat dianggap lemah atau sakit) dan mengajari masyarakat untuk berpartisipasi (Therapy).Semua usulan perencanaan dianggap sudah paling bagus. Pertemuan dengan masyarakat diadakan hanya untuk memenuhi tangungjawab administrasi projek saja (Manipulation).

11
11

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang BAB III KAJIAN PERAN KOMUNITAS GEROBAK HYSTERIA 3.1. Tentang

BAB III KAJIAN PERAN KOMUNITAS GEROBAK HYSTERIA

3.1. Tentang Komunitas Gerobak Hysteria “Peka Kota”

Gerobak Hysteria merupakan artis kolektif yang concern pada isu kota, anak muda, dan komunitas. Grobak Hysteria menekankan produksi artistic berdasar hasil riset pengetahuan keseharian di masyarakat. Visinya menumbuhkan ekosistem kebudayaan yang baik untuk itu selain kerja artistic Grobak Hysteria juga berperan sebagai laboratorium komunitas yang mempunyai kecenderungan kerja lintas disiplin, kesegaran gagasan, maupun praktik-praktik kecil yang laten dan intensif. Tak hanya selalu dalam ketegangan negosiasi seni dan non seni, lebih jauh Grobak Hysteria menegaskan kerja-kerja berkesenian adalah bagian dari intervensi sosial untuk mendinamisir peradaban yang lebih baik.

sosial untuk mendinamisir peradaban yang lebih baik. Komunitas ini telah aktif sejak 11 September 2004, dan

Komunitas ini telah aktif sejak 11 September 2004, dan sekarang merintis hub jejaring seniman maupun pegiat perkotaan skala nasional maupun internasional. Pada pertengahan tahun 2008, komunitas ini menyewa rumah di Jalan Stonen 29 yang difungsikan sebagai ruang seni dan diskursus. Ruang ini adalah kelanjutan proyek seni ‘Grobak Art’ yang merupakan angkringan atau tempat jualan nasi kucing setahun sebelumnya di Jalan Atmodirono.

Peka Kota merupakan salah satu platform yang ada pada Komunitas Grobak Hysteria. Platform kekotaan warga (citizen urbanism), mendorong rasa kepemilikan terhadap kota dan menjadi bagian dari solusi dalam mencari pemecahan permasalahan perkotaan. Embrio PekaKota berasal dari pertemuan di Hotel Quest 2012 yang diprakarsai oleh Rujak Center for Urban Studies (Jakarta). Pertemuan dengan berbagai pemerhati kota (wartawan, peneliti, akademisi, dan LSM terkait) ditindaklanjuti beberapa peserta untuk membuat platform baru bernama ‘Unidentified Group Discussion’ yang memberi perhatian pada penguatan kapasitas warga melalui identifikasi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan keseharian untuk kebaikan kota.

12
12

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Dalam perjalananya sebagai pilot project pertama dipilihlah

Dalam perjalananya sebagai pilot project pertama dipilihlah Kampung Tugu dan Kampung Bustaman. Hasilnya berupa buku tentang kampung dan festival guna mendistribusikan kembali informasi yang telah didapat pada tahun 2013. Tahun berikutnya dikarenakan beberapa alasan teknis platform ini berganti nama menjadi ‘Kota Milik Bersama’, dirasa terlalu panjang, akhirnya disepakatilah untuk menggunakan ‘Peka Kota’ sebagai kelanjutan dari platform sebelumnya.

Bermula dari Festival Kota Masa Depan 2014, Peka Kota yang semula menjadi sub program naik tingkat menjadi nama platform yang akan digunakan untuk seterusnya. Peka Kota sepakat dengan Jane Jacobs yang menyatakan sebuah kota hanya bisa memenuhi kebutuhan semua orang jika dibangun oleh semua orang. Untuk itu membangun basis pengetahuan akan kota dan memberdayakan simpul-simpul di dalamnya adalah kunci perubahan lebih baik. Kerja kebudayaan itu mendapat apresiasi lagi saat tahun 2014-2015 Japan Foundation memberi kesempatan untuk menyelenggarakan festival seni di Bustaman dengan tajuk ‘Bok Cinta’ project yang mempunyai perhatian pada pemanfaatan ruang publik warga. Saat ini melanjutkan segitiga pengumpulan-distribusi-pemanfaatan pengetahuan warga.

Visi

Untuk memajukan kehidupan seni di Semarang khususnya seni urban dan untuk mendorong masyarakat menjadi disiplin sehingga membuat asosiasi ini tidak hanya berkembang di daerah tapi lebih jauh dari itu nasional dan internasional.

Misi

Untuk meningkatkan sumber daya manusia anggota masyarakat dan juga mitra terkait

Untuk memperluas jaringan skala global

memetakan perkembangan budaya di kota terutama dalam acara seni rupa

Mendorong praksis seni interdisipliner dan memiliki akar yang kuat di daerah juga kontekstual

Merangsang terjadinya masyarakat mandiri

Memperkuat jaringan lokal, nasional, dan internasional.

3.2.

Peran dan Fungsi Komunitas

Komunitas hysteria tercipta dikarenakan adanya sekumpulan orang menyadari bahwa peran masyarakat dalam melakukan intervensi dalam permasalahan yang terjadi di Kota mungkin cukup strategis untuk dikampanyekan. Karena itu, berbaur dengan masyarakat dan berada dalam organisasi menjadi pilihan strategis ditengah kondisi politik dan juga kondisi Kota Semarang yang semakin berantakan. Dimulai dari bawah Komunitas Histeria ditargetkan menggait para pemuda namun tidak menutup juga untuk

13
13

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang masyarakat lainya. Sebagai suatu komunitas hysteria tidak

masyarakat lainya. Sebagai suatu komunitas hysteria tidak memiliki kepentingan apapun selain ingin berpartisipasi dalam memajukan Kota Semarang dengan sumber daya manusia yang dimiliki. Cara kerja komunitas ini dengan cara memberdayakan masyarakat walaupun proses tersebut tidak semudah kelihatanya sehingga butuh komitmen dan kerja keras anggotanya.

Komunitas Histeria muncul sebagai teman, fasilitator, dan mediator untuk masyarakat sehingga kita bisa belajar satu sama lain terutama tentang kota dan lingkungan. Program-program hysteria antara lain:

menerbitkan zine periodik, lokakarya pengembangan kapasitas, pameran, pertunjukan, pemutaran film atau video, diskusi, pelaksanaan manajemen, dan program lainnya yang dititikberatkan melalui seni, pemuda, masyarakat dan kota. Selain itu laboratorium komunitas, hysteria yang membantu dan memfasilitasi kelompok-kelompok yang ingin mengangkat seputar isu budaya, kesenian atau perkotaan di sekitarnya dengan mengundang beberapa ahli di bidangnya. Sebagai komitmen terhadap isu kota, bersama Rujak Center for Urban Studies dan lembaga partner, Grobak Hysteria membidani lahirnya ‘Unidentified Group Discussion’ yang pada akhirnya bertransformasi menjadi platform ‘Peka Kota’ yang fokusnya mendorong partisipasi warga dalam membentuk kota dengan satu term ‘Urbanisme Warga’. Hingga saat ini tercatat berbagai lembaga yang pernah bekerjasama dengan Grobak Hysteria, diantaranya Hivos, Rumah Lebah, Rujak Center for Urban Studies, Ushahidi, Ford Foundation, Yayasan Kelola, Kontras, Goethe Institut, Japan Foundation, British Council, dan lain-lain.

3.3. Partisipasi Dalam Pembangunan dan Karya Nyata

Dalam menjalankan peran dan kegiatanya, komunitas hysteria memiliki berbagai macam program yang

telag berjalan selama beberapa tahun dan terus dikembangkan. Program-program ini diinisiasi langsung

oleh kemunitas hysteria dan juga didukung oleh berbagai macam kalangan. Program-program tersebut

sejauh ini disambut positif oleh masyarakat, pemerintah dan unsur lainya. Beberapa program yang

dilakukan komunitas hysteria dengan platform “Peka Kota” antara lain sebagai berikut:

1. Program citizen urbanism

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Komunitas Hysteria memiliki sebuah platform kegiatan yang dinamakan peka kota, dimana program ini mengangkat isu-isu kekinian dalam kota atau sering disebut dengan istilah citizen urbanism. Dengan menghadirkan platform baru ini mereka coba mendorong rasa kepemilikan masyarakat terhadap kota dan menjadi bagian dari solusi. Peka Kota sepakat dengan Jane Jacobs yang menyatakan sebuah kota hanya bisa memenuhi kebutuhan semua orang jika dibangun oleh

14
14

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang semua orang. Untuk itu membangun basis pengetahuan akan kota

semua orang. Untuk itu membangun basis pengetahuan akan kota dan memberdayakan simpul-simpul di dalamnya adalah kunci perubahan lebih baik.

Ada dua tempat yang kini menjadi pilot projecting peka kota yakni kampung Bustaman di Kelurahan Purwodinatan dan Tugurejo. Berangkat dari agenda kegiatan di dua daerah tersebut seperti Tengok Bustaman dan Mertamu ke Tugu bersama RCUS. Hasilnya terwujud dalam sebuah buku tentang kampung dan festival guna mendistribusikan kembali informasi yang telah mereka gali. Yakni informasi tentang pengalaman keseharian yang telah menahun menjadi pengetahuan yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bersama mendokumentasikan pengetahuan warga, mendistribusikan, dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. Program ini juga bermaksud membantu warga mengidentifikasi diri mereka sendiri sehingga muncul kesadaran untuk membenahi diri sendiri berbekal kemampuan advokasi melalui kanal-kanal kesenian maupun yang lain.

advokasi melalui kanal-kanal kesenian maupun yang lain. Gambar 3.1. Kegiatan Citizen Urbanisme di Kampung Bustaman

Gambar 3.1. Kegiatan Citizen Urbanisme di Kampung Bustaman

Selain Kampung Bustaman dan Tugurejo terdapat enam kampung lainya di Semarang menjadi proyek kegiatan komunitas Hysteria. Mereka membentuk jejaring dan menggelar acara rutin yang melibatkan berbagai kesenian. Sebagi refleksi tahunan kegiatan tersebut, digelar Peka Kota Hub tiap tahunya. Peka Kota Hub ini untuk melihat Peka Kota pada lima tahun terakhir yang fokus pada isu kota, terutama kampung. Adapun kampung yang selama ini menjadi jejaring selain Kampung Bustaman yaitu Kampung Petemesan, Kampung Malang, Sendangguwo, Krapyak, Karangsari,

15
15

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Nongkosawit, dan Kemijen. Mereka berupaya melakukan

Nongkosawit, dan Kemijen. Mereka berupaya melakukan pendekatan kepada warga, membentuk jejaring warga, dan menjadi jembatan warga dengan pihak berkepentingan, termasuk pemerintah. Hal tersebut merupakan upaya komunitas hysteria untuk membentuk wajah kota.

Ada lima isu utama yang sering diangkat oleh komunitas ini yakni kehidupan pasar, lingkungan, partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kesenian dan kampung kota. Semua project sudah dijajaki, hanya saja isu yang diangkat dan tercover lebih spesifik. Beberapa tahun terakhir Festival Urbanisme Warga mengadakan kegiatan dengan judul Kota Masa Depan , Kegiatan ini diperuntukkan bagi seluruh kalangan masyarakat yang memiliki peminatan yang sama yakni ke arah pembangunan kota. Acara ini diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS) yang berpusat di ibukota Jakarta. Rujak bermaksud untuk merengkuh semua pegiat dan masyarakat untuk memproduksi pengetahuan tentang kota dan berharap dapat bermanfaat bagi perubahan kebijakan perkotaan.

dapat bermanfaat bagi perubahan kebijakan perkotaan. Tujuan dengan adanya urbanisme warga ini sendiri memiliki

Tujuan dengan adanya urbanisme warga ini sendiri memiliki tiga aras. yakni aras produksi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan. Diasumsikan di awal bahwa kota ini dibangun dengan pengetahuan yang kurang memadahi, hanya ada para teknokrat dan birokrat dari kalangan atas. Para pegiat ini mendorong masyarakat untuk mendistribusikan beragam pengetahuan, dan mereka percaya pengetahuan masyarakat tentang tatanan wilayahnya itu terus diproduksi hanya saja mereka butuh wadah untuk mengakomodasi semua pemikiran tersebut.

Visi komunitas hysteria dengan adanya kegiatan ini adalah mengapresiasi pemikiran warga, karena mereka juga memiliki hak untuk mendistribusikan pengetahuan. Jika pengetahuan lokal tidak dikumpulkan maka pembangunan hanya akan datang dari pusat, tanpa tahu sebernarnya apa soul dari masing-masing kampung tersebut. Para pegiat mengaku sudah seringkali berafiliasi dengan pemerintah terkait zonasi, alih fungsi lahan, reklamasi lahan terkait tujuan, seberapa besar, dan dampak yang akan dihasilkan. Tidak hanya sekedar mengkritisi saja tetapi juga turut mencari solusi apa yang dapat dikontribusikan terhadap kota. Terlihat niatan baik untuk mengetahui acara apa tersebut, dan melihat peluang untuk bekerja sama. Meskipun akan mengalami pasang surut akan tetapi demi melipat gandakan efek mau tidak mau harus berkerja sama dengan pemerintah. Harapannya utama dengan

16
16

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang kegiatan yang dilakukan adalah semakin banyak orang yang

kegiatan yang dilakukan adalah semakin banyak orang yang peduli dengan kota, akan semakin baik kota.

Komunitas ini bermimpi agar kota semarang berlatih membuat konsensus kesepakatan antar warganya. Pengetahuan tidak serta merta diberikan ke pemerintah hanya salah satu institusi yang menentukan masa depan kota. Kota ditentukan oleh proses negosiasi seluruh warganya. Bisa saja mereka guyub rukun menyusun tata ruang tentang kampung, sehingga warga punya tata ruangnya sendiri. Semakin banyak orang yang memproduksi pengetahuan itu dan tercipta forum akan semakin beragam pilihan. Sehingga kampung punya banyak alternatif akan dibentuk seperti apa.

2. Project Pemetaan Online

akan dibentuk seperti apa. 2. Project Pemetaan Online Histeria ada sejak September 2004 merupakan komunitas yang

Histeria ada sejak September 2004 merupakan komunitas yang memfasilitasi orang-orang yang sedang mengembangkan komunitas. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Hysteria memiliki platform “Peka Kota” yang berkonsep Citizen Urbanism (Kekotaan Warga) dimana warga berpaham tentang kota dan mau berkontribusi terhadap kotanya. Peta Kota memiliki berbagai macam projek salah satunya adalah pemetaan online dengan menggunakan open street maps, hal ini menunjukan bahwa forum peka kota mempunyai sarana belajar melalui beberapa pendekatan. Dalam menjalankan project Peta Kota komunitas hysteria membuka peluang sebesar- besarnya agar masyarakat juga ikut terlibat dengan cara menjalani intership dan menjaring minat. Program ini memberi kesematan bagi yang lolos untuk mengikuti serangkaian workhosp bersama OSM dan Ushahidi (US) dan praktik langsung di Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah selama 6 bulan ke depan.Para peserta akan mendapatkan pengalaman berharga bekerja dan berjeraring dengan lembaga atau individu tidak hanya tingkat lokal namun juga internasional.

Dalam project peta kota ini dihasilkan beberapa peta tematik selain memetakan kawasan purwodinatan, tim juga melangkah lebih jauh dengan memetakan lingkar dalam tol Kota Semarang. Selain itu hal unik

17
17

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang yang dilakukan adalah memetakan tempat populer anak muda

yang dilakukan adalah memetakan tempat populer anak muda Semarang. Outputnya Hysteria membuat karya instalasi dicetak ukuran 2 meter x 3 meter berupa peta lingkar dalam tol. MMT itu lalu dibingkai dan dibawa berkeliling ke ruang publik Semarang. Responden pun diajak memetakan

ke ruang publik Semarang. Responden pun diajak memetakan Gambar 3.2. Karya Instalasi Peta Lingkat Cinta Gambar

Gambar 3.2. Karya Instalasi Peta Lingkat Cinta

memetakan Gambar 3.2. Karya Instalasi Peta Lingkat Cinta Gambar 3.3. Output Street Map Komunitas Hysterid dengan

Gambar 3.3. Output Street Map Komunitas Hysterid dengan Konsep Participatory Planning

3. Peka Kota Forum

Melalui Platform Peka Kota komunitas hysteria rutin mengadakan forum yang bertemakan pembangunan kota dan masalahanya salah satunya forum diskusi dengan tajuk Ketahui Rencana Kota Yukyang pernah diadakan tanggal 30 September 2015. Acara tersebut bertujuan untuk menimbulkan daya kritis

18
18

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang dan kontrol terhadap kota, poin penting khususnya adalah

dan kontrol terhadap kota, poin penting khususnya adalah mengetahui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang. Sekitar 20 orang hadir dalam acara tersebut, yang terdiri dari pelajar, akademisi, praktisi, dan komunitas. Tidak tanggung-tanggung acara yang diadakan minimal sebulan sekali ini turut menarik perhatian beberapa orang yang akhirnya hadir dari kota lain, seperti Temanggung. Acara ini juga melibatkan beberapa latar belakang termasuk arsitektur, planologi, dan hukum.

latar belakang termasuk arsitektur, planologi, dan hukum. Gambar 3.4. Salah Satu Kegiatan Peka Kota Forum dengan

Gambar 3.4. Salah Satu Kegiatan Peka Kota Forum dengan Tema “Ketahui Rencana Kota Yuk”

Pembicara yang diundang dalam acara tersebut antara lain perwakilan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda Kota Semarang) , perwakilan Pusat Telaah dan Informasi Regional Semarang , perwakilan Lembaga Pengkajian & Pengembangan Sumberdaya Pembangunan. Pembicara-pembicara tersebut menyampaikan tentang evaluasi RPJMD 2010-2015 dan beberapa usulan awal RPJMD 2016-2020. Evaluasi sebagai bahan pembelajaran sekaligus pengingat serta rencana kedepan sebagai solusi dan jawaban. Perwakilan Bappeda memberikan pemaparan tentang gambaran umum RPJMD. Beberapa penyampain dari akademisi dan NGO juga memperkaya penilikan ulang apa yang berubah dan statis.

Para pembicara memberikan evaluasi tentang capaian-capaian target dari RPJMD 2010-2015. “Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga konstan dan dasar harga berlaku semakin meningkat. Dari 43.398.190,77 menjadi 68.031.250,81. Kontribusi sektor terbesar terhadap total PDRB adalah perdagangan, hotel, rest kemudian industri pengolahan, dan disusul bangunan. Pertumbuhan ekonomi fluktuatif cenderung turun dan tahun 2014 di bawah target RPJMD. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 Kota Semarang masih di bawah Kota Salatiga, Magelang, Surakarta, Pekalongan, namun di atas Jateng. Tingkat inflasi cenderung meningkat pada kisaran 3,3% hingga 8,53%, dan hampir

19
19

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang selalu lebih tinggi dari target RPJMD. Tingkat inflasi tahun

selalu lebih tinggi dari target RPJMD. Tingkat inflasi tahun 2014 Kota Semarang lebih tinggi dari Kudus, Surakarta, dan Jateng. Indeks Pembangunan Manusia semakin meningkat, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan penduduk meningkat termasuk kategori tingg. Beberapa isu strategis kota yang masih perlu untuk ditangani lebih lanjut seperti tingkat kemiskinan kota yang masih tinggi, penyandang masalah sosial yang semakin banyak, mutu pendidikan yang belum merata, pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang belum optimal, hingga rob, banjir, dan kualitas lingkungan yang semakin menurun.

Peka Kota forum memang merupakan wadah diskusi, ngobrol, dan menyampaikan ide tentang kota dalam aspek dan latar belakang apa saja. Tentunya diharapkan dari acara ini adalah mengajak siapa saja bisa lebih tahu apa yang akan terjadi terhadap kota, sehingga semua bisa turut andil. Forum lintas disiplin dirasa perlu karena pendekatan terhadap kota tidak bisa hanya satu pandang latar belakang saja. Basis produksi pengetahuan, kemudian didistribusikan sekaligus dimanfaatkan untuk kepentingan banyak oranng adalah dasar kunci dari acara ini.

Sementara itu, dalam kegiatan lain yaitu “Peka Kota Hubdigelar acara dengan berbagai tema yang dibungkus dalam bentuk diskusi panel dan pameran. Salah satu Tema yang pernah diselengarakan, yakni ”Peranan Seni Membentuk Wajah Gugusan Kampung”, ”Kelas Kreatif dan Masa Depan Tata Ruang”, ”Kota Berketahanan”, ”Open Government dan Smart City”, ”Semarang Kota Fashion”, dan ”Jalur Gula dan Potensi Kota Lama”. Diskusi tersebut digelar sehari penuh dengan melibatkan warga kampung, budayawan, Bappeda, praktisi planologi, akademisi, CRO 100 Resilience City Semarang, Pattiro Semarang, DPRD Kota Semarang, seniman, Komunitas Semarang Open Go (SOG), Inkubator Kreasi & Inovasi Telematika Semarang (Ikitas), Indonesian Fashion Chamber Semarang,” . Pekakota Hub juga menampilkan kerja kebudayan Hysteria pada medan visual dan relevansi kota selama 13 tahun terakhir. Ragam tema yang diangkat adalah urbanisme warga, seni yang terlibat, placemaking atau space branding, kebebasan berekspresi, hak atas kota dan tata ruang, citizen science, dan ekonomi kreatif.

20
20

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Gambar 3.5. Kegiatan Peka Kota Hub Dalam acara ini,
Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Gambar 3.5. Kegiatan Peka Kota Hub Dalam acara ini,

Gambar 3.5. Kegiatan Peka Kota Hub

Dalam acara ini, hysteria juga merangkum konten dari 8 kampung yang telah ia bentuk sebgaai jejaring. 8 kampung tersebut diantaranya Kampung Bustaman, Kampung Petemesan, Kampung Malang, Sendangguwo, Krapyak, Karangsari, Nongkosawit dan Kemijen. Hal ini juga bertujuan untuk media refleksi hysteria selama bekerja di kampung sehingga dapat memperbaiki cara ataupun menemukan cara baru dalam melakukan Komitmennya untuk kampung dan kota di Semarang. Peka Kota Hub ini juga untuk melihat Peka kota 5 tahun terakhir yang fokus pada isu kota terutama kampung. event ini ingin melihat ulang Pekakota 5 tahun terakhir yang fokus pada isu kota terutama kampung. Selain itu, acara ini dirasa mampu memberikan angin segar bagi para anak muda untuk lebih peduli terhadap kota. Peranan Seni dalam membentuk wajah gugusan kampung bahwa event semacam ini menjadi bukti bahwa sebenarnya ada yang peduli dengan kota Semarang.

4. Citizen Gigs Hiburan Berkelas untuk Kampung-kampung di Semarang

Selain program-program yang disebutkan sebelumnya komunitas histeria juga menginisiasi sebuah program yang berjuluk citizen Gigs. Citizen Gigs merupakan sebuah upaya untuk mengajak warga untuk kembali menumbuhkan aktivitas kreatif di kampung-kampung Kota Semarang. Selain untuk memberi hiburan, kegiatan ini merupakan sebuah ajakan untuk memulai sebuah gerakan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan sesama warga, karena memang perilaku warga di kampung pinggir kota juga selayaknya kampung-kampung yang lain tidak selalu saling mengenal, dengan kegiatan seperti ini menjadi salah satu bentuk membangun jaringan internal kampung dengan membuat kegiatan bersama. Dalam kegiatan ini berbagai penampilan unik terlihat menyita perhatian warga sekitar. Antusias warga juga sangat tinggi menanti sebuah pertunjukan yang mungkin tek pernah mereka lihat sebelumnya.

21
21

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Selain itu, acara ini sengaja digelar di tengah kampung

Selain itu, acara ini sengaja digelar di tengah kampung guna memberikan sebuah hiburan kepada warga yang lelah dengan rutinitasnya.

5. Mencintai Kota Melalui Seni Mural

Salahsatu kegiatan hysteria lainya adalah street art, dengan kegiatan ini bukannya untuk mengotori

dinding atau vandalisme, tetapi mereka berusaha mengajak masyarakat agar lebih mencintai kotanya melalui seni mural. Kegiatan ini bekerjasama dengan puluhan pemuda yang tergabungan dari Serikat Mural Semarang, Street Art Semarang, dan beberapa mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes).

mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Gambar 3.6. Lukisan Mural di Jalan Veteran Dengan adanya

Gambar 3.6. Lukisan Mural di Jalan Veteran

Dengan adanya kegiatan lukisan mural ini diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk lebih ‘care’ dengan kotanya. Mural yang dilukis di tembok yang rata-rata sepanjang lebih dari 100 meter nantinya akan membentuk sebuah tulisan, yang mempunyai makna khusus dan ditujukan kepada masyarakat yang lewat. Kegiatan tersebut sekaligus juga sebagai ajang latihan mental untuk orang- orang yang secara otodidak belajar mural.

6. Narasi Kemijen

Dalam usaha mengangkat kembali sejarah Kemijen, Hysteria bekerja sama dengan Komjen (Komunitas Masyarakat Kemijen) mengadakan workhsop di Margorejo Barat, RW 4, Kemijen (19/06/2016). Lewat workshop ini diharapkan dapat memberi pemahaman lebih dalam mengenai sejarah dan kearifan lokal Kemijen dimasa lalu. Program ini antusian diikuti oleh masyarakat kemijen yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan buruh. Seperti diketahui kemijen merupakan salah satu kampung kumuh yang ada di Kota Semarang, oleh karena itu komunitas hysteria memberikan perhatian lebih kepada kampung

kemijen walaupun kegiatan yang dilakukan hanya berupa kegiatan sosial yang tidak memberikan dampak secara langsung terhadap kehidupan ekonomi masyatakat.

22
22

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Gambar 3.7. Workshop Sejarah Kemijen 7. Program Grobak
Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang Gambar 3.7. Workshop Sejarah Kemijen 7. Program Grobak

Gambar 3.7. Workshop Sejarah Kemijen

7. Program Grobak Bioskop

Grobak Bioskop program pemutaran rutin film dengan konsep keliling kampus, komunitas, kampung, dan ruang publik di kota. Grobak Bioskop telah digelar sejak 2011 dan masih berlangsung hingga sekarang. Diinisiasi oleh Ruang Rupa dan Hysteria program ini memutar film berbagai genre sesuai kebutuhan. Tujuan Grobak Bioskop yakni menjadikan film sebagai alat pembelajaran, perekat komunitas, dan memberikan media tontonan alternatif pada masyarakat. Selain di Semarang, ada 9 kota lagi lainnya yakni Jakarta, Aceh, Padang, Bali, Surabaya, Jatiwangi, Malang, Makasar, dan Balikpapan. Tahun 2014 Grobak Bioskop Semarang lebih intensif memutar film-film di perkampungan. Tercatat ada 15 kelurahan di 10 kecamatan di Semarang yang telah disambangi. Hingga akhir tahun 2014 ada 67 titik di Jawa Tengah yang telah didatangi Grobak Bioskop dengan total penonton kurang lebih 1900 an orang. Program ini terbuka untuk melakukan kerjasama baik sebagai penyedia tempat maupun layanan pemutaran film.

melakukan kerjasama baik sebagai penyedia tempat maupun layanan pemutaran film. Gambar 3.8. Program Grobak Bioskop 23

Gambar 3.8. Program Grobak Bioskop

23
23

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang 3.4. Sumber Daya Manusia, Sarana Prasarana dan Beban Tugas

3.4.

Sumber Daya Manusia, Sarana Prasarana dan Beban Tugas

Hysteria lahir sejak 2004 lalu atas dasar persamaan prinsip dari anggotanya yang sama-sama berorientasi pada bidang kesenian dan bidang perkotaan. Sebagai sebuah komunitas yang berasal dari masyarakat anggota komunitas tidak dibatasi dan tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut asalkan dapat berbaur dan memiliki visi dan misi yang sama, sejauh ini anggota komunitas hysteria yang aktif sebanyak 25 orang, pada dasarnya sudah ratusan orang yang tergabung namun tidak semua konsisten dan aktif. Latar belakang para anggota komunitas hysteria berasal dari berbagai kalangan dan profesi mulai dari masyarakat biasa, mahasiswa, anggota LSM dll. Dalam komunitas ini setiap anggota tidak mendapatakan gaji, tanggungan dsb, semua yang dilakukan hanya atas dasar kemauan untuk berpartisipasi dalam pembangunan kota.

Pada tahun 2011 Grobak Hysteria mencoba memperkuat lembaga mereka dengan menjadikannya sebagai komunitas yang berbadan hukum, dan memiliki struktur pengelola seperti gambar di bawah ini:

Solidarity Maker Manajer Program/ Manajer Ruang Sekretaris Pemagang Artlab : Department : 1,2,3,dst 1,2,3, dst
Solidarity Maker
Manajer
Program/
Manajer Ruang
Sekretaris
Pemagang
Artlab :
Department :
1,2,3,dst
1,2,3, dst

Gambar 3.2. Struktur Pengelola Grobak Hysteria

Namun upaya menjadikan hysteria sebagai komunitas berbadan hukum sampai saat ini masih terkendala. Spirit untuk melegalkan komunitas memang patut diapresiasi namun dan juga konstitusi menjunjung tinggi kebebasan berserikat dan berkumpul tanpa harus membuatnya dalam bentuk yang formal. Melegalkan suatu komunitas bukan berarti harus membentuk badan hukum. Meski tanpa berbadan hukum komunitas hysteria tetap legal karena dijamin oleh konstitusi di Indonesia berdasarkan UUD 1945. Oleh karena itu, renana yang belum terealisasi tersebut tidak terlalu dikhawatirkan oleh

24
24

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang komunitas hysteria selama kegiatan yang mereka lakukan

komunitas hysteria selama kegiatan yang mereka lakukan merupakan kegiatan positif yang mengedepankan manfaat untuk masyarakat Kota Semarang.

Untuk mewadahi kegiatanya komunitas hysteria menyewa sebuah rumah di Jalan Stonen 29, Sampangan. Rumah ini dijadikan markas untuk berkumpul mengembangkan ide-ide dan kegiatan yang akan dilakukan kedepanya, tidak jarang rumah ini juga digunakan untuk kegiatan forum atau diskusi dengan pihak luar.

untuk kegiatan forum atau diskusi dengan pihak luar. Gambar 3.3. Markas Komunitas Hysteria Untuk menjalankan

Gambar 3.3. Markas Komunitas Hysteria

Untuk menjalankan fungsinya walaupun hanya diwadahi oleh tempat seperti diatas namun tidak menyurutkan eksistensi komunitas ini, terbukti kurang lebih 13 tahun terbentuk komunitas hysteria masih bisa bertahan meskipun pernah mengalami masa-masa sulit. Segala sarana prasarana komunitas ini mayoritas berasal dari inisiatif masing-masing anggota, konsitensi dan kekompakan anggotanya inilah yang membuat komunitas ini masih bisa tetap beratahan

3.5. Iklim Kerja dan Sumber Pembiayaan

Tujuan dengan adanya peka kota ini sendiri didasarkan tiga aras yakni aras produksi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan. Diasumsikan di awal bahwa kota ini dibangun dengan pengetahuan yang kurang memadahi, hanya ada para teknokrat dan birokrat dari kalangan atas. Para pegiat ini mendorong masyarakat untuk mendistribusikan beragam pengetahuan, dan mereka percaya pengetahuan masyarakat tentang tatanan wilayahnya itu terus diproduksi hanya saja mereka butuh wadah untuk mengakomodasi semua pemikiran tersebut. Visi komunitas hysteria dengan adanya kegiatan ini adalah mengapresiasi pemikiran warga, karena mereka juga memiliki hak untuk mendistribusikan pengetahuan. Jika pengetahuan lokal tidak dikumpulkan maka pembangunan hanya akan datang dari pusat, tanpa

25
25

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang tahu sebernarnya apa soul dari masing-masing kampung

tahu sebernarnya apa soul dari masing-masing kampung tersebut. Para pegiat mengaku sudah seringkali berafiliasi dengan pemerintah terkait zonasi, alih fungsi lahan, reklamasi lahan terkait tujuan, seberapa besar, dan dampak yang akan dihasilkan. Tidak hanya sekedar mengkritisi saja tetapi juga turut mencari solusi apa yang dapat dikontribusikan terhadap kota. Terlihat niatan baik untuk mengetahui acara apa tersebut, dan melihat peluang untuk bekerja sama. Meskipun akan mengalami pasang surut akan tetapi demi melipatgandakan efek mau tidak mau harus berkerja sama dengan pemerintah.

Hysteria merupakan komunitas yang sangat peduli pada isu perkotaan, anak muda, dan komunitas. Hysteria menekankan produksi artistik berdasar hasil riset pengetahuan keseharian di masyarakat. Visinya menumbuhkan ekosistem kebudayaan yang baik. Untuk itu, selain kerja artistik, Hysteria juga berperan sebagai laboratorium komunitas yang mempunyai kecenderungan kerja lintas disiplin, kesegaran gagasan, maupun praktik-praktik kecil yang laten dan intensif. Tak hanya selalu dalam ketegangan negosiasi seni dan non seni, lebih jauh Hysteria menegaskan kerja-kerja berkesenian merupakan bagian dari intervensi sosial untuk mendinamisir peradaban yang lebih baik. Hysteria aktif sejak 11 September 2004 dan sekarang merintis hubungan jejaring seniman maupun pegiat perkotaan skala nasional maupun internasional

Bermacam kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas hysteria dilakukan dengan suka rela dan dengan penuh dedikasi tinggi tanpa mengharapkan imbalan. Sebagai komitmen terhadap isu kota, Hysteria bersama Rujak Center for Urban Studies dan lembaga partner membidani lahirnya ‘Unidentified Group Discussion’ yang pada akhirnya bertransformasi menjadi platform ‘Peka Kota’. Peka Kota bergerak di isu kota, mendorong partisipasi masyarakat, dan menantang berbagai lintas disiplin ilmu untuk melakukan pendekatan terhadap persoalan-persoalan kota. Hingga saat ini tercatat berbagai lembaga yang pernah bekerjasama dengan Hysteria, diantaranya Hivos, Rumah Lebah, Rujak Center for Urban Studies, Ushahidi, Ford Foundation, Yayasan Kelola, Kontras, Goethe Institute, Japan Foundation, British Council, dan juga Pemerintah Kota dan Propinsi. Selain bekerjasama dengan lembaga diatas dalam menjalankan kegiatanya hysteria di sponsori oleh banyak perusahaan swasta yang tentunya hal ini didapatkan dari hasil kerja keras anggota komunita hysteria. Sejauh ini program- program yang dijalankan oleh komunitas hysteria dilakukan secara mandiri yang didasarkan oleh kerjasama lembaga dan pemerintah.

26
26

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 4.1. Kesimpulan Dengan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan

Dengan berbagai permasalahan kota yang semakin kompleks, peran lembaga pemerintah semakin berat dalam proses pembangunan, untuk itu membangunan sebuah kota tidak harus bersifat kaku, seluruh elemen masyarakat harus dioptimalkan peranya, salah satunya melalui bentuk lembaga lain seperti komunitas. Komunitas kini telah menjadi bagian dari kehidupan dan pembangunan kota. Dan ia kian menjadi unsur yang penting dalam menjembatani pemerintah, stake holder, serta masyarakat dalam berbagai isu-isu urban. Kolektif Hysteria salah satu komunitas yang masih aktif dan masif bergerak. Sudah 13 tahun komunitas hysteria berkecimpung dalam berbagai isu-isu seni, anak muda, kampung dan kota. Sebagai laboratorium komunitas, Hysteria berkomitmen untuk terus melakukan hal-hal kecil secara laten dan konsisten. Hal ini telrihat dari cara kerja yang lebih dominan pada pendekatan kepada warga, membentuk jejaring warga dan juga menjadi jembatan bagi warga dengan stakeholder lain termasuk pemerintah dalam upaya membentuk wajah kota. Melalui komunitas, masyarakat akan berkumpul dan berlajar bersama untuk memiliki kesamaan pikiran, pemahaman dan kepedulian bersama. Agenda membuat Semarang Tangguh merupakan hajatan bersama yang membutuhkan banyak orang di dalamnya. Keberadaan komunitas hysteria membuka banyak mata bahwa masyarakat sudah tidak mau sekedar menjadi objek tapi masyarakat juga punya keinginan untuk berperan aktif dalam pembangunan kota. Keberadaan komunitas-komunitas seperti ini juga menunjukan peran dalam membangun kota tidak hanya berada di tangan lembaga pemerintah tapi juga oleh lembaga swasta dan masyarakat, namun semua unsur ini tentunya harus saling menyokong bila ingin menyukseskan pembangunan tersebut.

4.2. Rekomendasi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa visi komunitas hysteria dengan berbagai kegiatanya adalah mengapresiasi pemikiran warga, hal itu dikarenakan masyarakat juga memiliki hak untuk mendistribusikan pengetahuan. Jika pengetahuan lokal tidak dikumpulkan maka pembangunan hanya akan datang dari pusat (Top Down). Untuk mewujudkan visi ini tentunya bukan hal yang mudah, kesadaran yang dimiliki komunitas ini harusnya juga didukung oleh pihak lain seperti pemerintah dan swasta, permasalahan yang terjadi merupakan tanggung jawab semua pihak, pemerintah sebagai lembaga resmi harus memaksimalkan peranya, tentunya hal tersebut bukan hal sulit untuk dilakukan mengingat pemerintah difasilitasi dengan anggaran dan sumber daya manusia, yang dibutuhkan

27
27

Kajian Kapasitas Komunitas Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang

Grobak Hysteria Dalam Proses Pembangunan Kota Semarang hanyalah niat, komitmen dan tanggung jawab. Keberadaan

hanyalah niat, komitmen dan tanggung jawab. Keberadaan lembaga masyarakat seperti komunitas juga sangat penting untuk mengaktualisasikan pemikiran mereka terhadap pembangunan kota, oleh karena itu keberadaan komunitas seperti hysteria harus terus didukung dan dapat diperkuat menjadi partner pemerintah dalam menyerap aspirasi masyarakat dan mensukseskan pembangunan kota.

28
28