Anda di halaman 1dari 9

Kebaktian Umum Minggu II

Tema : KETIKA YESUS MELIHAT IMAN MEREKA (Komunitas Pejuang Kabar Baik)
Teks : MARKUS 2: 1-12
Tujuan: Umat belajar dari kesungguhan perjuangan iman dan kasih komunitas untuk membawa mereka
yang memerlukan pengampunan, kasih, kelepasan, dan kehidupan yang berpengharapan kepada Tuhan
Yesus
Pendahuluan
Narasi Injil Markus menunjukkan kemunculan Yesus di Galilea untuk memberitakan Injil Kerajaan
Allah (ευαγγελιον της βασιλειας του θεου) paska ditangkapnya Yohanes pembaptis. Seruan besar dari Injil
Kerajaan Allah yang diberitakanNya adalah, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah telah dekat.
Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (1: 15). Pemberitaan akan segera hadirnya masa pemerintahan
Allah yang membawa damai sejahtera menjadi seruan Injil yang selaras dengan apa yang diserukan oleh
Yohanes Pembaptis supaya setiap orang mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskan jalan bagiNya (1:
3). Yohanes sendiri disebut oleh narasi Injil Markus sebagai pribadi yang “membuka” jalan bagi Tuhan yang
akan datang setelah dia, yaitu pribadi yang besar dan berkuasa, yang bahkan Yohanes yang hebat dan besar
namanya pada masa itu mengakui membuka tali kasutNyapun dia tidak layak (1: 7). Kehadiran pribadi
Tuhan Yesus yang disebut Yohanes itu adalah menjadi wujud kehadiran Kerajaan Allah yang
diberitakannya.
Siapa sesungguhnya Yesus, mendapat meterai yang kuat dalam narasi Injil Markus bahwa IA adalah
“Yang diurapi” (Kristus) manakala peristiwa pembaptisanNya oleh Yohanes di sungai Yordan
menghadirkan seruan Roh dari Bapa sendiri, “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku
berkenan” (1:11). Ya, Yesus adalah Anak Allah (ιησου χριστου υιου του θεου) sebagaimana secara tegas
disebut Injil Markus (1:1), sehingga Injil yang dibawa oleh Yohanes dan Yesus, sebagaimana disaksikan
oleh Injil Markus adalah Injil tentang Yesus Kristus. Dengan kata lain Yesus Kristus adalah Injil (kabar
baik) itu sendiri.
Dengan meminjam mulut orang yang dirasuk si jahat, penginjil Markus juga menegaskan bahwa Yesus
adalah “Yang Kudus dari Allah” (Markus 1:24), yang berlanjut pada demonstrasi otoritasNya menghardik
Roh Jahat dan mengusirnya. Hal itu menunjukkan siapa Dia dan kuasa yang bekerja di dalam diriNya.
Dalam konteks perikop bacaan kita (Markus 2: 1-12), Yesus sendiri menyebut dirinya sebagai
“Anak Manusia”. Gelar “Anak Manusia” mempunyai kaitan dengan penglihatan Nabi Daniel tentang Sang
Mesias yang tercatat dalam kitab Daniel: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang
dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu,
dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai
raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya
ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan
musnah.” (Dan 7: 13-14).
Maka, Yesus menggunakan gelar “Anak Manusia” sebab Ia bermaksud mengidentifikasikan diri-
Nya dengan Sang Mesias yang disebutkan di Kitab Daniel. Demikian pula bagaimana Yesus menyebutkan
istilah “Anak Manusia” ini dengan penggambaran lainnya, yaitu awan-awan di langit dengan kekuasaan dan
kemuliaan-Nya” (lih. Mat 24:30; Mrk 14:61-62). Ia mengatakan kemuliaan-Nya di surga (Mat 19:28; 25:31)
dan bahwa Kerajaan Allah adalah kepunyaan-Nya (Mat 16:28; Luk 9:26-27). Di dalam kedua kejadian
tersebut Ia menyebutkan “awan-awan di langit” ketika Ia menubuatkan kedatangan-Nya kembali (Mat24:30;
Mrk 13:26) dan pada saat pembelaan-Nya di hadapan mahkamah agama (lih. Mat 26:64; Mrk 14:62).
Namun apa yang unik dari penyebutan diri-Nya sebagai “Anak Manusia” adalah bahwa Yesus
menghubungkan identitas-Nya sebagai Anak Manusia itu dengan misi Penebusan-Nya yang digenapi-Nya
melalui penderitaan. Di dalam nubuat-nubuat-Nya tentang kisah sengsara-Nya yang disebutkan di dalam
Injil, Ia menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia (Mat 12:14; 17:12,22; 20:18; Mrk 9:31:10:33; Luk 9:44;
18:13). Yesus ingin menghubungkan diri-Nya dengan yang disebut sebagai “Anak Manusia” dalam Kitab
Daniel 7:13; “yang diurapi” yang disingkirkan (lih. Dan 9:26), dan “hamba yang menderita” (Yes 52-53).
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penderitaan dan penghinaan yang diterima-Nya sampai wafat-Nya
adalah suatu pendahuluan yang harus dilalui-Nya sebelum mencapai kejayaan-Nya di Surga.
Dengan menyebut diriNya sebagai Anak Manusia, maka nyata bahwa jalan kemuliaan Kerajaan
Allah, Injil yang membebaskan dan menghadirkan damai sejahtera justru adalah jalan solidaritas
kemanusiaan yang ditempuh Yesus. Solidaritas yang menyelamatkan itu manakala IA sendiri turut
merasakan segala beban derita manusia sebagaimana IA sendiri mengambil rupa seorang hamba, menjadi
sama dengan manusia, dan dalam keadaanNya sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati di atas kayu salib (Fil 2:6-8).
Isi
1. Misi membawa pribadi pada Yesus
Mesias Yesus, Anak Allah, Anak Manusia hadir membawa pengharapan akan tegaknya pemerintahan
Allah di bumi. Pemerintahan Allah yang berotoritas menghadirkan Damai sejahtera bagi semua adalah kabar
baik yang dibawaNya. PengajaranNya demikian penuh kuasa, karena bukan hanya mengajarkan hukum-
hukum yang mati semata, namun warta kabar baik yang membawa hidup, pengharapan, dan kelepasan.
Bukan oleh trik-intrik politik, namun pemberian diri yang utuh membayar harga untuk sebuah keselamatan
dan kehidupan.
Kabar baik itu telah hadir dan layak untuk dipercayai, tanda-tandanya telah nyata manakala kuasa Si jahat
yang membelenggu dan mengikat serta mengendalikan ditahlukkan secara tegas oleh Yesus (1: 21-28).
Kooptasi si jahat yang selama ini membelenggu dan mengendalikan atmosfer kehidupan, dengan cara
membangun karakter pribadi dan sistem sosial yang jahat, rusak dan membinasakah terbukti nyata bisa
dipatahkan dan dikalahkan. Sikap perlawanan terhadap Allah dan kehendakNya yang ternyata merusak
tatanan ilahi di bumi ini sehingga energi kehidupan sirna tertiup hawa panas alam maut bisa dikalahkan oleh
kuasa “Yang Kudus dari Allah”, oleh ketaatanNya bahkan sampai mati di atas salib.
Tanda-tanda telah nyata, mereka yang berada dalam penderitaan oleh jerat si jahat dan oleh berbagai
sakit-penyakit yang dibawa kepadaNya mengalami kelepasan dan kesembuhan dalam perjumpaan dengan
Yesus Anak Allah (Markus 1:34). Bukan hanya itu saja bahkan kuasa kebangkitan itu sungguh nyata di
dalam Yesus, manakala Yairus berlari menghampiriNya untuk anak perempuannya yang sakit dan mati.
Kematian menjadi tidak lebih hanyalah sebuah “tidur” bagiNya, DIA berkuasa atas kematian karena DIA
adalah “Sang Kehidupan” (Markus 5: 21-23; 35-43).
Yesus adalah pengharapan bagi mereka yang berada diambang batas keputus-asaan yang seolah tak
berujung. Perempuan yang berjuang melawan pendarahannya selama 12 tahun dalam gumul dan juang usaha
penyembuhannya yang tak membuahkan hasil, menemukan jawab atas kelelahan dirinya manakala,
“memegang ujung jumbai jubah Yesus”, sehingga dia bisa melenggang berjalan melanjutkan hidup dalam
sukacita dan pengharapan oleh karena keselamatan dan kesembuhan oleh sapaan lembut Sang Juruselamat
(Markus 5: 25-34).
HadirNya menyembuhkan, hadirNya melepaskan dan membawa kelegaan, hadirNya merilis kembali
damai sejahtera sorga yang telah lama sirna. Itulah Injil kabar baik Kerajaan yang Yesus bawa supaya
sekalian kita menjadi percaya (Markus 1: 14-15). Bertobat adalah sebuah sikap yang membalikkan kita dari
menolak pada penerimaan akan Allah yang hadir dengan kehendakNya memerintah atas kita. Mari serukan
undangan juru selamat ini karena perjumpaan dengan Yesus akan membawa pembebasan dan kesembuhan
dari setiap luka oleh dosa yang menghadirkan binasa.
Perhatikanlah sapaan sang Juruselamat Yesus, Sang Anak Manusia kepada “si lumpuh” yang tak
berdaya. Persoalan fisik dan mental demikian berat menjerat dan menindihnya, ketidaksanggupan bergerak
dan berkarya oleh kelumpuhan fisik membatasi dia dalam ruang sempit yang menjadikannya tak sanggup
untuk hanya sekedar mengendalikan tubuh fisiknya secara leluasa dalam mobilitas wajar normal. Pastilah
secara mental membuatnya demikian tersudut dalam ruang diri yang “minder” dan perasaan ketakberartian
yang akut. Menjadi diri yang “berbeda” dan “berkebutuhan khusus” bukan dalam kekuatan maupun
keunikan melainkan kelemahan dan keterbatasan pastilah dera rasa tak bermakna jumawa dalam jiwanya.
Perasaan semacam ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja, belum lagi jika ia hidup dalam masa dimana
“kebutuhan khusus” dipahami sebagai kutukan yang berimplikasi terhadap kehidupan sosial-spiritual.
Pertanyaan “apa dosaku?” atau “dosa siapakah ini?” tentulah menggelayut kuat berdentang dalam benak
sanubari, dan semakin kuat seiring tak adanya tenda-tanda baik bagi kesembuhan atau pemulihannya.
Satu kalimat Sang Juruselamat cukup mengubah drastis kehidupan seseorang, mengeluarkannya dari
lobang maut, mengangkatnya untuk berada dalam terangNya yang ajaib. “Hai anakku, dosamu sudah
diampuni!... Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” demikian Sang Anak
Manusia menyapanya (ay. 5 & 11). Anak manusia berkuasa mengampuni dosa adalah sebuah proklamasi
agar semua orang tahu (10), dan benarlah kenyataannya bahwa kuasa pengampunan itu telah membawa
pemulihan sempurna atas “si lumpuh”. Domain “pengampunan” yang hanyalah milik Allah (7), tersemat
dalam diri Yesus Sang Anak Manusia. Lihatlah realitas perjumpaan dengan Yesus yang mengurai rumit
kusut persoalan spiritual yaitu dosa dan kutuk, lihatlah kuasa pengampunan itu melahirkan daya penyembuh
yang membuat tubuh menjadi berdaya, lihatlah kuasa perkataanNya itu melahirkan keberanian untuk masuk
dalam lingkungan sosial keluarganya yang mungkin selama ini menolak dia dan menganggapnya menjadi
beban sosial maupun ekonomi. Bukankah ini damai sejahtera dan keselamatan sejati yang Tuhan Yesus
tawarkan? Sebab upah dosa adalah maut, tetapi kasih karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus
Yesus Tuhan kita (Roma 6: 23).
Tentu kita mengingat undangan Juruselamat: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban
berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11: 28). Ya, semua kita memerlukan Juruselamat.
2. Misi sebuah Koalisi
Kisah orang lumpuh yang menjadi sembuh, bangkit mengangkat alas tidurnya dan berjalan setelah
berjumpa dengan Yesus adalah sepenggal kisah kecil dari narasi besar agungnya Anugerah Allah dalam
Yesus Sang Anak Manusia. Diletakkan di antara narasi-narasi lain yang merujuk dan menunjukkan tanda-
tanda kuasa Sang Anak Allah, tetap saja kisah ini mencuri perhatian pembaca karena mengandung sebuah
drama unik penuh perjuangan dari sekelompok kecil orang untuk kesembuhan saudara/sahabat/tetangganya.
Tersiarnya kabar tentang kehadiran Yesus di Kapernaum telah mengundang hadirnya gelombang masa yang
haus dan lapar untuk mendengar firman dan mengalami kuasaNya. Kerumunan orang menelan seluruh area
di sekitar Yesus sehingga tidak ada akses untuk bisa melihatNya apalagi menjumpai dan menyentuhNya.
Mendengar Yesus hadir adalah sebuah pengharapan bagi mereka yang rindu mengalami tetesan embun
sorgawi di tengah gersangnya hidup. Dijumpai dan menjumpai Yesus untuk mengalami jamahan yang
memulihkan kehidupan yang remuk redam oleh berbagai “penyakit” adalah sebuah kerinduan kuat
menyayat dalam hati setiap insan. Namun pengharapan dan kerinduan yang sangat kuat itu seolah harus
menemui penghalang tembok kokoh dan tak tertembus yaitu kerumunan masa yang tak tersibak, si lumpuh
perlu jalan namun tak ada pintu tersisa yang terbuka.
Selalu saja ada penghalang dari luar diri yang bisa menghalangi dan memupuskan harapan manakala
hati hendak datang pada Yesus. Kenyataan hidup dan orang-orang di sekitar bisa jadi adalah tantangan besar
bagi berjumpanya seseorang dengan Yesus. Tidak selalu orang-orang itu adalah mereka yang kontra atau
membenci kita, bisa jadi mereka justru adalah orang-orang yang sama seperti kita merindukan perjumpaan
dan jamahan dari Sang juruselamat. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan mereka yang dengan kesadaran
dan bahkan perjuangan sengaja menghalangi terwujudnya perjumpaan itu. Namun percayalah bahwa
sesungguhnya anugerah Bapa dalam Kristus bukanlah anugerah yang bisa dibatalkan oleh kegagalan dan
sikap jahat manusia. Selalu saja ada jalan untuk mereka yang merindukan hadirnya juruselamat Kristus
Yesus Sang Anak Manusia.
Penghalang terbesar kedua justru ada dalam diri orang itu sendiri. Bahkan jika tidak ada kerumunan
orang yang menghalanginya, tetap saja dia tidak akan bisa menghampiri dan bertemu dengan Yesus.
Kelumpuhannya adalah masalah terbesar bagi dirinya, padahal itu justru yang perlu disembuhkan oleh
Yesus. Ia tentu punya kerinduan yang hebat dalam dirinya, tetapi kerinduan yang hebat itu harus terbentur
ketakberdayaan mutlak. Nafsu besar tetapi tenaga kurang begitu orang menyebutnya.
Lengkap sudah tantangan si lumpuh itu untuk berjumpa dengan juruselamat. Diri yang tak mampu
untuk melangkah dan masa yang menghalang bak tembok China yang kokoh tak tertembus. Tak ada jalan,
tak ada harapan, mimpi adalah keji, manakala ia tak lagi bisa tersaji menjadi bukti. Akankah sesuatu terjadi,
atau mimpi hanya menjadi imaji yang menjadikan hidup tetap dalam sepi dan terpenjara jeruji asa yang
pergi? Beruntung sekali “si lumpuh” tak sendiri. Para sahabat yang peduli menyadari ketaksanggupan diri
memberi arti bagi dirinya yang tak berdaya, namun dalam diri mereka tetap tersisa asa bahwa ada kuasa
yang sanggup menjadi pembeda, Dia-lah Sang Anak Manusia Yesus.
Solidaritas komunitas melahirkan sebuah perjalanan bersama membawa “si lumpuh” yang terpuruk
dan tak berdaya untuk bisa berjumpa dengan Yesus “Sang Harapan”. Ada niat, ada langkah, ada usaha, ada
perjuangan, ada hambatan yang di atasi bersama, ada kemenangan bersama yang membawa sukacita, karena
ada IMAN bersama yang diperjuangkan untuk sebuah perjumpaan yang mengubahkan. Tembok kerumunan
orang adalah masalah, namun bukan berarti tak bisa dibelah, kelumpuhan adalah ketaksanggupan alat untuk
bisa berangkat, namun bukan berarti tak bisa diangkat, dinding dan atap rumah adalah sekat kuat yang
menghalang gentar, namun bukan berarti tak bisa dibongkar. “Ketika Yesus melihat iman mereka…”(5),
sebuah penggalan kalimat yang harus tercetak tebal dalam keseluruhan kisah yang sangat istimewa ini. Dari
semua tindakan yang mereka lakukan agar “si lumpuh” bisa sampai berada di hadapan Yesus, Tuhan melihat
itu sebagai tindakan iman. Iman yang bukan sekedar pribadi atau personal sifatnya, namun iman mereka,
iman sekelompok orang, iman komunitas yang bergerak berjuang dalam roh yang sama, dalam kesepakatan
yang sama, dalam ritme yang harmonis membayar harga untuk membawa saudaranya bertemu Anak
Manusia.
Penutup
Ah…seandainya kita adalah komunitas yang hidup dalam solidaritas iman macam ini, tentulah akan
ada banyak orang yang berjumpa dengan Juruselamat. Seandainya saja kita ini adalah komunitas pejuang
kabar baik, yang sungguh-sungguh siap membayar harga agar mereka yang lumpuh, miskin, buta, dan
telanjang bisa berjumpa dengan Anak Manusia pengampun dosa, pemberi hidup, dan penabur pengharapan.
Seandainya saja iman itu membawa kita bergerak bersama dengan roh yang sama, kerinduan yang sama,
kebersamaan yang terkelola oleh rasa membawa mereka yang tersiksa oleh dosa bertemu dengan Dia yang
berkuasa mengampuni dosa. Yah..kiranya! (AWM-ROS)
VOTUM (Mengawali Ibadah)
Sambil Mengangkat kedua Tangan
Bahwa pertolongan dalam Ibadah Raya hari ini datangnya dari Allah yang menciptakan langit dan
bumi. Yang oleh kasih dan setia-Nya tidak pernah meninggalkan buah pekerjaan tangan-Nya.
Turunlah atas kita sekalian anugerah dan damai sejahtera dari kasih Allah Bapa, Putra dan Roh
Kudus, melingkupi kita sakalian sepanjang Ibadah Raya hari ini. Dalam nama Bapa, Putra dan Roh
Kudus, amin.
Pujian : Mulia Bagi Bapa
MULIA BAGI BAPA,
BAGI ANAK SERTA ROH KUDUS,
DA RI PERMULAANNYA, SKARANG DAN AKAN JADI.
SELAMA-LAMANYA .. AMIN
Pdt:
(TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Mata hari tidak akan menyakiti engkau
pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam)
Mazmur 121 : 5-6

TRI AMIN : AMIN...AMIN….AMIN


Saya menyerahkan Pujian & Penyembahan untuk dipimpin oleh Worship Leader.

Khotbah Umum Minggu III


Tema: Menjadi Komunitas Penyaksi Karunia Allah Dalam Dunia Yang Bengkok Dan Keras
Teks: Roma 12:6-21
Tujuan: Agar umat memahami dimensi misiologis (perutusan) dari kekaryaan kasih karunia Allah dalam
wujud hidup etis yang berbeda dari ukuran dunia dan dapat memperoleh contoh-contoh praktis dari tindakan
misioner ini dalam konteks sosial yang penuh tantangan.
Berita Teologis:
Kasih karunia yang dituliskan dalam pasal 12:6, Paulus mencatat apa yang dapat disebutkan karunia
dari kasih karunia (Bahasa Yunani-charismata). Karunia itu, baik berupa keinginan ataukecenderungan
batiniah maupun kesanggupan (Filipi 2:13) yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang dalam
jemaat untuk membangun umat Allah dan mengungkapkan kasih Allah kepada orang lain.
Pengantar:
Dalam 1 Korintus 14: 12,26 ; 1 Petrus 4:10 dituliskan bahwa setiap orang percaya mempunyai
sekurangnya satu karunia. Daftar karunia yang ditulis Paulus yang terdiri atas tujuh karunia ini hanya
sebagai yang mewakili karunia yang lain dan bukan sebagai semua karunia secara lengkap. Karunia yang
dituliskan dalam Roma 12:6-8 ada bermacam-macam karunia, antara lain karunia nubuat, melayani,
mengajar, menasehati, membagi-bagi, memimpin, dan bermurah hati. Tuhan melengkapi kita semua dengan
karunia agar dapat memberitakan dan menyaksikan kasih dalam hidup sesehari sesuai dengan karunia yang
Tuhan berikan kepada kita di tengah-tengah lingkungan kita yang seringkali diwarnai dengan kekerasan dan
banyak hal yang bengkok yang tidak cocok dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan demikian kita sebagai
umat memahami dimensi misiologis (perutusan) dari kekaryaan kasih karunia Allah dalam wujud hidup etis
yang berbeda dari ukuran dunia dan dapat memperoleh contoh-contoh praktis dari tindakan misioner ini
dalam konteks sosial yang penuh tantangan.
Hagelberg menjelaskan bahwa kasih yang dituliskan dalam 12:9, sama seperti dalam 1 Korintus 12,13,
dalam nats ini diskusi mengenai karunia rohani kurang lengkap kalau tidak disertai dengan diskusi mengenai
kasih. Karunia rohani merupakan semacam keahlian dalam bidang kerohanian, tetapi hasil keahlian itu tanpa
tujuan yang kudus yang diperoleh melalui kasih tidak berkenan. Seorang yang memberitakan kasih Tuhan
melalui hidupnya harus dengan kasih. Bila tanpa kasih, seorang pengajar masih tetap mengagumkan orang
dengan pengajaran yang hebat dan mendalam, tetapi dia akan menjadi semakin sombong. Tanpa kasih,
seorang pemimpin masih dapat memimpin, tetapi bukan Kerajaan Allah yang dibangun, melainkan kerajaan
si pemimpin itu sendiri. Sebab itu kita harus dengan kasih dalam menyaksikan kasih Kristus di tengah-
tengah masyarakat di sekitar kita sesaui dengan tugas dan pangiilan kita serta karunia yang diberikan kepada
kita masingmasing.
Semangat dan sukacita, tidak dapat terjadi otomatis, namun kita harus menyadarinya bahwa hanya
dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat melakukannya perintah Tuhan yang dituliskan dalam pasal 12:11
ini. Kita harus menjadikannya sebagai usaha kita, dan tidak boleh malas mengerjakannya. “Janganlah
hendaknya kerajinanmu kendor.” (1 Tesalonika 4:11). Di dalam pekerjaan dunia yang menjadi panggilan
khusus kita, kerajinan kita tidak boleh kendor. Yang dimaksud di sini adalah pekerjaan melayani Tuhan,
pekerjaan Bapa kita. Kita menjadikannya sebagai pekerjaan kita, kerajinan kita di dalamnya tidak boleh
kendor, tidak boleh mengikuti kesenangan kita sendiri, dan harus mempertimbangkannya ketika timbul
persaingan dengan kewajiban-kewajiban kita. Kita tidak boleh berlambat-lambat di dalam hidup keagamaan
kita. Pelayan-pelayan yang malas diperhitungkan sebagai pelayan-pelayan yang jahat. Kita harus menyala-
nyala di dalam roh, dalam melayani Tuhan. Allah harus dilayani dengan roh, di bawah pengaruh Roh Kudus
(1:9;Yohanes 4:24). Dengan memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepada kita sesuai dengan masa
kasih karunia sekarang ini. Proskarterountes. Kata ini menunjukkan semangat dan ketekunan di dalam doa.
Kita tidak boleh menjadi dingin dalam menjalankan kewajiban ini, juga tidak boleh merasa jemu (Lukas
18:1;1Tesalonika 5:17; Efesus 6:18;Kolose 4:2) Kita harus tetap bersukacita dalam pengharapan.
Pendahuluan
Tema khotbah yang dipilih oleh Sinode GKMI untuk bulan Misi ini sangat bagus sekali. Bertepatan
pula di bulan Mei ini kita juga merayakan Kenaikan Tuhan Yesus dan 10 hari kemudian merayakan hari
raya Pentakosta. Jadi hanya dengan pertologgan Roh Kudus yang diberikan kepada kita yang memampukan
kita untuk “menjadi komunitas penyaksi kasih karunia allah dalam dunia yang bengkok dan keras ini,”
dengan pengertian bahwa kita tidak harus pergi ke tempat yang jauh atau menjadi misionaris ke luar negeri.
Tetapi dapat kita laksanakan sekarang di mana Tuhan tempatkan kita sekarang, baik dalam keluarga kita, di
tempat kerja kita, di tempat study kita atau di tengah-tengah masyarakat di sekitar kita.
Firman Tuhan yang telah kita baca dalam surat Roma 12:6-21 ini menjelaskan kepada kita bahwa
Tuhan memberi kesempatan kepada kita di tengah-tengah lingkungan kita yang bengkok ini dan yang sarat
dengan kekerasan, paling sedikit kita dapat melakukan 4 hal. Mari kita lihat satu persatu.
Isi
1. Bersaksi Sesuai Dengan Karunia (1 :6-8)
Karunia yang dituliskan dalam Roma 12:6-8 ada bermacam-macam, antara lain karunia bernubuat,
melayani, mengajar, menasehati, membagi-bagi, memimpin, dan bermurah hati. Tuhan melengkapi kita
semua dengan karunia supaya dimampukan memberitakan kasih Tuhan atau menyaksikan kasih Tuhan
melalui apa yang kita lakukan dalam hidup kita ini sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan kepada kita di
tengah-tengah lingkungan kita yang seringkali kita menjumpai adanya kekerasan dan banyak hal yang
bengkok yang tidak cocok dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan demikian kita sebagai umat memahami
dimensi misiologis (perutusan) dari kekaryaan kasih karunia Allah dalam wujud hidup etis yang berbeda
dari ukuran dunia dan dapat memperoleh contohcontoh praktis dari tindakan misioner ini dalam konteks
sosial yang penuh tantangan. Firman Tuhan juga mengambarkan kita bagaikan “Surat Kristus yang terbuka”
sehingga melalui apa yang kita katakan, apa yang kita kerjakan dan bagaimana sikap hati kita dalam
menapaki perjalanan dalam hidup kita ini sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan, apakah dapat dibaca
orang sesuai dengan pesan Kristus yang mewujudkan kasihNya kepada dunia yang bengkok dan sarat
dengan kekerasan ini? Sehingga mereka yang melihat dan membaca kita dapat menerima kasih karunia
keselamatan dari Tuhan kita Yesus Kristus?
2. Bersaksi Dengan Kasih (12:9,10)
Ada sebuah kisah nyata, seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya
yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu
menuju kantor Pimpinan Harvard University. Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung
mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard
dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang
pria lembut. “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang
Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut
akhirnya akan patah semangat dan pergi.Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya
memutuskan untuk melaporkan kepada pimpinan. ”Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa
menit, mereka akan pergi,” katanya pada pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram
dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua
orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah
muncul. Dengan wajah galak ia menuju ke arah pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami
memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di
sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan
untuknya, di suatu tempat di kampus ini bolehkah?” tanyanya dengan mata yang penuh harap. Sang
pemimpin tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan
kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita
lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.” “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat,
“Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk
Harvard.”Sang
Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka
kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu
memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.” Untuk beberapa saat sang wanita
terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Wanita itu
menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah
universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah pimpinan Harvard
menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan
perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama
mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas
tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Kisah nyata ini menceritakan bahwa jika kasih tidak dipraktekkan dalam hidup, maka orang akan
memandang rendah kepada orang lain. Karunia rohani merupakan semacam keahlian dalam bidang
kerohanian, tetapi hasil keahlian itu tanpa tujuan yang kudus yang diperoleh melalui kasih tidak berkenan.
Seorang yang memberitakan kasih Tuhan melalui hidupnya harus dengan kasih. Bila tanpa kasih, seorang
pengajar masih tetap mengagumkan orang dengan pengajaran yang hebat dan mendalam, tetapi dia akan
menjadi semakin sombong. Tanpa kasih, seorang pemimpin masih dapat memimpin, tetapi bukan Kerajaan
Allah yang dibangun, melainkan kerajaan si pemimpin itu sendiri. Sebab itu kita harus dengan kasih dalam
menyaksikan kasih Kristus di tengah-tengah masyarakat di sekitar kita sesuai dengan tugas dan pangiilan
kita serta karunia yang diberikan kepada kita masingmasing
3. Bersaksi Dengan Semangat (12:11)
Semangat ini tidak dapat terjadi otomatis dalam menyaksikan kasih Kristus yang
menyelamatkan umat manusia yang berdosa ini. Namun kita perlu dibentuk terus menerus oleh Sang
Pencipta, Allah kita. Sehingga hidup kita menjadi produktif sesuai dengan karunia yang Tuhan Yesus
berikan kepada kita. Rick Warren menuliskan dalam sebuah bukunya, bahwa agar kita dapat menjadi
produktif, diperlukan “SHAPE” yang dijabarkan dengan S=Spiritual Gift/karunaia rohani; H=Heart/hati;
A=Ability/kemampuan; P=Personality/kepribadian; E=Experience/pengalaman. Semua itu akan membuat
kita tidak mudah patah semangat, terlebih karena kita menyadari bahwa Tuhan turut berkarya membentuk
kita melalui karunia rohani, untuk menyaksikan kasih Tuhan di mana Tuhan
tempatkan kita, baik dalam keluarga kita, tempat kerja atau study kita atau masyarakat di sekitar kita yang
sangat membutuhkan berita sukacita yang kita bawa melalui cara hidup dan karya kita yang produktif itu.
Dengan demikian kita harus menyala-nyala di dalam roh, dalam melayani Tuhan. Allah harus dilayani
dengan roh, dengan pertolongan Roh Kudus Dengan memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepada kita,
sesuai dengan masa kasih karunia sekarang ini.
4. Bersaksi Dengan Sukacita (12: 12-21)
Proskarterountes, kata ini menunjukkan semangat dan ketekunan di dalam doa. Kita tidak boleh
menjadi dingin dalam menjalankan kewajiban ini, juga tidak boleh merasa jemu. Kita harus tetap
bersukacita dalam pengharapan. Tanpa kita sadari, apa yang kita katakan, apa yang kita kerjakan dan
bagaimana sikap kita, tutur kata kita, tindak-tanduk kita, semuanya itu mencerminkan akan Tuhan kita
Yesus Kristus. Sehingga orang lain juga melihat kasih Tuhan dalam hidup kita sehingga mereka ditarik
datang kepada Tuhan Yesus Kristus.
Penutup
Melalui pemahaman Firman Tuhan ini, kita telah memahami dimensi misiologis, baik dari bersaksi
sesuai dengan karunia, bersaksi dengan kasih, semangat dan sukacita serta dari kekaryaan kasih karunia
Allah dalam wujud hidup etis yang berbeda dari ukuran dunia dan dapat memperoleh contoh-contoh praktis
dari tindakan misioner ini dalam konteks sosial yang penuh tantangan. Sekarang maukah kita
mempraktekkannya? Apakah jawab kita? Amin.

Sebelum Doa Berkat


KOMITMEN KEMURIDAN
Sebagai jemaat Mennonite, marilah kita mengikrarkan Komitmen Kemuridan :
“Kami bersaksi bahwa tidak seorangpun dapat mengenal Kristus kecuali ia yang mengikuti-Nya setiap hari dalam kehidupan”
Dan sebagai bagian dari gereja yang am, marilah bersama-sama dengan gereja-gereja di sepanjang segala
abad dan tempat, kita mengikrarkan :
PENGAKUAN IMAN RASULI
Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa khalik Langit dan Bumi. Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan
kita. Yang dikandung dari pada Roh Kudus lahir dari anak dara Maria, yang menderita sengsara dibawah Pemerintahan Pontius
Pilatus, di salibkan, mati dan di kuburkan, turun ke dalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke Surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa, dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup
dan yang mati. Aku percaya kepada Roh Kudus; Gereja yang Kudus dan Am, Persekutuan orang Kudus; Pengampunan Dosa;
Kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal. AMIN
DOA BERKAT (Mengakhiri Ibadah)
Sambil Mengangkat kedua Tangan
Saudara yang dikasihi Tuhan, angkatlah kedua tanganmu, pulanglah dalam damai sejahtera, lakukanlah
berita Firman Tuhan dan terimalah berkat Tuhan:
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Di dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus ketiganya yang Esa, akan memimpin, menolong
dan memberkati kita sekalian mulai sekarang hingga Tuhan datang untuk kedua kalinya,
haleluya… amin…..

KEPADA ALLAH BRI PUJI


KEPADA ALLAH B’RI PUJI … SEMUA MAHKLUK DI BUMI,
PADANYA KU B’RI PUJIAN, BAPA, ANAK DAN ROH SUCI…. AMIN…..
VOTUM (Mengawali Ibadah)

Sambil Mengangkat kedua Tangan


Bahwa pertolongan dalam Ibadah Raya hari ini datangnya dari Allah yang menciptakan langit dan
bumi. Yang oleh kasih dan setia-Nya tidak pernah meninggalkan buah pekerjaan tangan-Nya.
Turunlah atas kita sekalian anugerah dan damai sejahtera dari kasih Allah Bapa, Putra dan Roh
Kudus, melingkupi kita sakalian sepanjang Ibadah Raya hari ini. Dalam nama Bapa, Putra dan Roh
Kudus, amin.
Pujian : Mulia Bagi Bapa
MULIA BAGI BAPA,
BAGI ANAK SERTA ROH KUDUS,
DA RI PERMULAANNYA, SKARANG DAN AKAN JADI.
SELAMA-LAMANYA .. AMIN
Pdt:
(TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Mata hari tidak akan menyakiti engkau
pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam)
Mazmur 121 : 5-6

TRI AMIN : AMIN...AMIN….AMIN

Saya menyerahkan Pujian & Penyembahan untuk dipimpin oleh Worship Leader.

Kebaktian Umum Minggu IV


Tema : FIRMAN TUHAN BERGEMA (Komunitas yang mengerjakan iman, mengusahakan kasih
dan bertekun dalam pengharapan)
Teks : 1 Tesalonika 1:2-10
Tujuan : Umat Belajar dari jemaat Tesalonika walau berada dalam keterbatasan sekaligus berbagai
tekanan penganiayaan, namun justru Firman Allah makin menggema di berbagai tempat
melalui kesaksian hidup mereka yang tidak terbatahkan melalui pekerjaan iman, usaha kasih,
dan ketekunan pengharapan.
PENDAHULUAN
Banyak gereja yang telah dirintis oleh Paulus termasuk gereja Tesalonika. Gereja Tesalonika
merupakan gereja yang unik, berbeda, sangat istimewa jika dibandingkan dengan Gereja-gereja lain yang
didirikan Rasul Paulus. Menurut 1 Tesalonika 1:7, gereja Tesalonika adalah Gereja teladan di seluruh
wilayah Makedonia (propinsi yang mencakup kota Filipi, Tesalonika, dan Berea) dan Akhaya (propinsi
tetangga yang mencakup kota Korintus dan Atena). Walaupun dalam 2 wilayah tersebut terdapat juga
Gereja-gereja yang lebih besar seperti: Gereja di Korintus. Gereja di Korintus dengan jemaat yang memiliki
banyak karunia dan talenta tidak pernah mendapatkan gelar sebagai jemaat teladan dari Paulus. Padahal
Rasul Paulus hanya melayani dalam waktu yang sangat singkat di sana. (Kisah Rasul 17:1-10a).
ISI
Orang-orang Kristen di Tesalonika memperlihatkan kepada orang lain bagaimana sepatutnya hidup
sebagai orang percaya. Banyak hal yang kita dapat belajar dari jemaat Ini antara lain:
I. Pekerjaan Iman Mereka
Jemaat Tesalonika menunjukkan iman mereka dari perbuatannya. Pekerjaan iman di sini berarti
perbuatan (pekerjaan) yang terpancar dari iman atau dilakukan karena iman. Dalam ayat 8 dikatakan: “…
Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di
semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-
apa tentang hal itu.
Dari kesaksian hidup dan apa yang mereka lakukan ini menunjukkan bagaimana jemaat Tesalonika
beriman. 1 Tesalonika1:8, Sebab mulai dari kalian, berita tentang Tuhan sudah tersebar sampai ke
Makedonia dan Akhaya. Dan bukan hanya itu saja; bahkan berita tentang bagaimana kalian percaya
kepada Allah sudah sampai ke mana-mana, sehingga kami tidak perlu lagi mengatakan apa-apa.(BIS)
Ada dua hal pekerjaan iman di sini:
1. Bagaimana mereka membuat Firman Tuhan bergema di Makedonia dan sampai ke Akhaya (ke propinsi
lain). Iman memang seharusnya dapat dilihat oleh orang lain. Karena itu Yakobus menyebut bahwa iman
tanpa perbuatan adalah mati. Bagaimana membuat Firman Tuhan bergema melalui gereja kita? Tentu
ini memerlukan tindakan - tindakan praktis, dan jemaat Tesalonika melakukannya.
2. Bagaimana mereka beriman kepada Allah. Bagaimana jemaat Tesalonika beriman kepada Allah, dalam
ayat 9 dikatakan, “bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah
yang hidup dan yang benar”, jemaat ini menunjukkan iman yang radikal. Bagaimana jemaat ini beriman
pada Yesus. Paulus sendiri dapat melihat bagaimana jemaat ini bertobat atau beriman dari tindakan
mereka meninggalkan berhala berhala mereka. Jelas perbedaan sebelum menjadi seorang Kristen dengan
sesudah menjadi Kristen. Tidak abu-abu. Zaman sekarang ini sering kita menjumpai anggota jemaat
tanpa kesaksian bagaimana mereka beriman. Mereka hanya dapat menceritakan bagaimana mereka
menjadi anggota gereja. Berbeda sekali dengan jemaat Tesalonika.
Jemaat ini paham bahwa menjadi Kristen percaya Yesus bukan saja untuk supaya dosa diampuni dan
masuk surga tetapi menjadi orang Kristen adalah sekaligus hidup melayani Tuhan. Sebuah pertanyaan yang
dikemukaan seorang pendeta Korea mengatakan, “jikalau anda memang orang Kristen, berapa jam dalam
seminggu anda memberi waktu bagi Dia untuk melayani Tuhan? Pertanyaannya menunjukkan bahwa
beriman kepada Yesus identik dengan mulai hidup melayani dan berbakti kepada Allah. “It is written,
'Worship the Lord your God and serve only him!' (NIV). Dari banyaknya waktu yang kita beri untuk
melayani Tuhan adalah salah satu membuktikan bahwa saudara dan saya beriman kepada Allah. Di mana
dahulu kita hanya melayani diri kita sendiri tetapi setelah percaya Yesus kita berbalik menjadi melayani
Allah.
Satu hal yang sangat menarik di sini adalah kedua perbuatan iman yang tersebar itu dilakukan
mereka pada kondisi mengalami penindasan dan tekanan yang berat (Kis. 17 :1-10). Orang orang Yahudi iri
hati dan memakai preman-preman (dalan bahasa sekarang) untuk menindas mereka. “Tetapi orang-orang
Yahudi menjadi iri hati dan dengan dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di
pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu. Mereka menyerbu rumah Yason dengan
maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat”.(Ayat 5)
Dalam kondisi demikian mereka menerima Firman dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus
artinya Roh Kuduslah yang memampukan, menguatkan dan menghibur jemaat Tesalonika ini untuk terus
bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan sekalipun dalam penindasan.
II. Usaha Kasih Mereka.
Iman jemaat ini nyata lewat kasih kepada Allah dan juga kepada sesama. Kasih yang sudah diterima
mereka tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi kasih ini diupayakan sampai kepada orang lain. Dalam
penindasan yang berat memang tidak mudah menyalurkan kasih justru sebenarnya mengharapkan kasih.
Tetapi Jemaat Tesalonika menyatakan usaha-usaha untuk menyampaikan, memberitakan, membagikan
berkat berkat kepada orang lain seperti kata-kata bijak mengatakan “diberkati untuk memberkati”. Paulus
mengucapkan pernyataan ini dalam suratnya. Ini menunjukkan kesaksian hidup jemaat yang baik dalam
menunjukkan kasih yang dapat dilihat dan dirasakan orang lain. Ayat 5 mengatakan: “Injil yang kami
beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh
Kudus dan dengan suatu kepastian (iman) yang kokoh. Ini berarti bukan hanya dengan perkataan tapi harus
ada tindakan nyata dan usaha kasih sehingga Injil tersebar. Apakah gereja masa kini masih tetap ada usaha
kasih yang dikerjakan supaya Injil boleh tersebar? Gereja Tesalonika dapat menyebarkan Injil sampai ke
kota - kota lain bahkan ke propinsi lain.
III. Tekun Dalam Pengharapanmu Kepada Tuhan.
Sebagai orang Kristen salah satu hal yang diajarkan Tuhan Yesus adalah hidup dalam pengharapan.
Ketekunan dalam pengharapan berarti mereka teguh dalam pengharapan mereka, mereka menderita dengan
sabar, karena pengharapan mereka salah satu pengharapan orang Kristen adalah berpengharapan akan
kedatangan Yesus kedua kali di mana semua air mata akan dihapus oleh Dia. Dan Dia akan membalaskan
semua sesuai dengan perbuatan kita. Hidup dalam pengharapan berarti juga dapat melihat hal yang tidak
dapat dilihat oleh mata jasmani tetapi dapat dilihat oleh iman karena percaya akan Firman yang dikatakan di
dalam Alkitab. Walaupun terkadang yang dikatakan dan dijanjikan dalam Firman Tuhan itu belum terjadi,
tetapi mereka percaya bahwa semua hal yang dikatakan dalam Alkitab pasti terjadi. Inilah yang dinamakan
hidup dalam pengharapan. Hidup berpengharapan ini tidak hanya sesaat tetapi terus menerus. Inilah yang
menjadi rahasia orang Kristen dalam menghadapi semua tantangan.
Jemaat Tesalonika bertekun dalam pengharapan. Menurut KKBI Bertekun “artinya tetap
berpegang teguh pada.”. Berpegang teguh kepada Firman sebagai kekuatan dalam menjankan hidup
sehari-hari sebagai pengikut Kristus. Dalam lagu Living for Jesus (Hidup Bagi Yesus) yang dikarang oleh
Thomas O. Chisholm, mengatakan bahwa untuk menjadi Kristen itu bukan saja untuk supaya masuk sorga
tetapi hidup bagi Yesus. Dan untuk hidup bagi Yesus itu memerlukan ketaatan, perjuangan dan ketekunan.
Dengan memahami latar belakang penulisan lagu Hidup bagi Yesus ini kita mengerti bahwa kita perlu
ketekunan supaya hidup setelah diselamatkan dapat berguna bagi Yesus.
PENUTUP
Keterbatasan jemaat Tesalonika tidaklah menjadi alasan untuk menjadi komunitas yang memberkati
atau gereja teladan. Jemaat Tesalonika juga dapat menjadi inspirasi bagi gereja-gereja masa kini dalam
menghadapi tantangan dan keterbatasan daya dan dana. Menginspirasi dengan cara mereka menerima
Firman dengan suka cita, cara mereka menunjukkan usaha kasih, cara mereka menjadi terang bukan saja
bagi kota di mana mereka berada tetapi menjadi terang bagi propinsi lain. Dengan memahami dan
mempelajari jemaat Tesalonika menyakinkan kita para pembaca bahwa gereja gereja masa kini pun pasti
akan dapat menjadi berkat dan dapat mengemakan Firman Tuhan dalam segala situasi. Mari meneladani
jemaat Tesalonika! Menjadi komunitas-komunitas yang mengerjakan Iman, mengusahakan Kasih dan
Bertekun dalam Pengharapan. (MB)
Sebelum Doa Berkat
KOMITMEN KEMURIDAN
Sebagai jemaat Mennonite, marilah kita mengikrarkan Komitmen Kemuridan :
“Kami bersaksi bahwa tidak seorangpun dapat mengenal Kristus kecuali ia yang mengikuti-Nya setiap hari dalam kehidupan”

Dan sebagai bagian dari gereja yang am, marilah bersama-sama dengan gereja-gereja di sepanjang segala
abad dan tempat, kita mengikrarkan :
PENGAKUAN IMAN RASULI
Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa khalik Langit dan Bumi. Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan
kita. Yang dikandung dari pada Roh Kudus lahir dari anak dara Maria, yang menderita sengsara dibawah Pemerintahan Pontius
Pilatus, di salibkan, mati dan di kuburkan, turun ke dalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke Surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa, dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup
dan
yang mati. Aku percaya kepada Roh Kudus; Gereja yang Kudus dan Am, Persekutuan orang Kudus; Pengampunan Dosa; Kebangkitan
orang mati dan hidup yang kekal. AMIN

DOA BERKAT (Mengakhiri Ibadah)


Sambil Mengangkat kedua Tangan
Saudara yang dikasihi Tuhan, angkatlah kedua tanganmu, pulanglah dalam damai sejahtera, lakukanlah
berita Firman Tuhan dan terimalah berkat Tuhan:
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Di dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus ketiganya yang Esa, akan memimpin, menolong
dan memberkati kita sekalian mulai sekarang hingga Tuhan datang untuk kedua kalinya,
haleluya… amin…..

KEPADA ALLAH BRI PUJI


KEPADA ALLAH B’RI PUJI … SEMUA MAHKLUK DI BUMI,
PADANYA KU B’RI PUJIAN, BAPA, ANAK DAN ROH SUCI…. AMIN…..