Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Hati / hepar / liver merupakan organ metabolik terbesar dalam tubuh manusia. Oleh
karena itu hati mempunyai berbagai macam fungsi, yaitu :
1. Vaskuler - menimbun dan filtrasi darah
2. Ekskresi - membentuk empedu dan mengeluarkan ke Usus, juga bilirubin, cholesterol, garam
empedu → empedu
3. Metabolik - Karbohidrat, protein, lemak, vitamin
4. Pertahanan tubuh - Detoksifikasi bahan – bahan beracun, dengan : konjugasi, reduksi, metilasi,
asetilasi, oksidasi, hidroksilasi- fagositosis - dan pembentukan antibodi
Dalam fungsi ekskresi maka hati akan mengeluarkan bahan bahan metabolit seperti
empedu, bilirubin, kolesterol dan sebagainya melalui saluran pencernaan, untuk dibuang atau
menjadi metabolit lain. Banyak faal metabolik yang dilakukan oleh jaringan hati, maka ada
banyak pula, lebih dari 100, jenis test yang mengukur reaksi faal hati.' Semuanya, disebut
sebagai "tes faal hati ". Sebenarnya hanya beberapa yang- benar-benar mengukur faal hati. 1-3
Diantara berbagai tes tersebut tidak ada tes tunggal yang efektif mengukur faal hati secara
keseluruhan. Beberapa tes terlalu peka sehingga tidak khas, sebagian lagi dipengaruhi pula oleh
faktor -faktor di luar hati, sebagian lagi sudah obsolete.
Sebaliknya makin banyak tes yang diminta maka makin besar pula kemungkinannya
mendapatkan defisiensi biokimia. Cara pemeriksaan shotgun semacam itu akan menimbulkan
kebingungan. Sebaiknya memilih beberapa tes saja.
Beberapa kriteria yang dapat dipakai adalah, antara lain, dapatnya dikerjakan tes tersebut
secara baik dengan sarana yang memadai, segi kepraktisan, biaya, stress yang dibebankan
kepada penderita, kemampuan diagnostik dari tes tersebut, dan lain-lain. Pada pengujian
kerusakan hati, gangguan biokimia yang terlihat adalah peningkatan permeabilitas dinding sel,
berkurangnya kapasitas sintesa, terganggunya faal ekskresi, berkurangnya kapasitas
penyimpanan, terganggunya faal detoksifikasi peningkatan reaksi mesenkimal dan imunologi
yang abnormal.
FUNGSI HATI :
1. Vaskuler : menimbun dan filtrasi darah
2. Ekskresi : membentuk empedu dan mengekskresikan ke usus
3. Metabolic : karbohidrat, protein, lemak, vitamin
4. pertahanan tubuh : detoksifikasi bahan – bahan beracun, dengan : konjugasi, reduksi, metilasi,
asetilasi, oksidasi, hidroksilasi sel – sel kupfer, fagositosis, pembentukan antibody

FUNGSI EKSKRESI :
Diperiksa menggunakan berbagai parameter laboratorium yaitu :
 Bilirubin serum
 Bilirubin urin (kualitatif)
 Urobilinogen urin (kualitatif)
 Stercobilin tinja (kualitatif)
 Asam empedu
 Menyuntikkan bahan – bahan : BSP, ICG, Rose Bengal Radioaktif

METABOLISME BILIRUBIN
 85% bilirubin berasal dari pemecahan s.d.m tua (umur s.d.m ± 120 hari), terutama di limpa
 15% berasal dari destruksi s.d.m matang dlm sumsum tulang (hematopoisis tidak efektif)
 Metabolisme bilirubin. oleh sel hati berlangsung 3 tahap :
1. pengambilan, konyugasi & ekskresi
2. Pengambilan perlu protein sitoplasma
3. Konyugasi molekul bilirubin dengan asam glukoronat dalam retikulum endoplasma sel hati
dengan bantuan enzim glukuronil transferase
Konyugasi mengubah sifat² bilirubin; bilirubin terkonyugasi larut dalam air & dapat diekskresi
dalam kemih ( >< bilirubin tak terkonyugasi) - Bilirubin terkonyugasi kemudian diekskresi
melalui saluran empedu ke usus halus, bakteri usus halus mereduksi bilirubin terkonyugasi
menjadi sterkobilinogen atau urobilinogen (shg feses berwarna coklat) - ± 10 – 20 %
urobilinogen mengalami siklus enterohepatik & sejumlah kecil diekskresi dlm saluran kemih

PEMERIKSAAN FUNGSI HATI


Pemeriksaan terhadap fungsi hati secara umum meliputi Alanine aminotransferase
(ALT), Aspartarte aminotransferase (AST), Alkaline phosphatase (ALP), Gamma glutamyl
transferase (GGT atau Gamma GT), Bilirubin, Albumin, pemeriksaan massa prothrombin (PT)
dan International Normalised Ratio (INR). Masing-masing pemeriksaan tersebut menjadi
petunjuk untuk mengetahui apakah ada masalah pada fungsi hati atau tidak. Hasil yang ingin
diketahui dari pemeriksaan yang telah disebutkan sebelumnya adalah:
1. Alanine Tranaminase (ALT)
Ini merupakan enzim yang ditemukan terutama di dalam sel hati. ALT dapat membantu
metabolisme protein dalam tubuh. Dalam kondisi normal, kadar ALT di dalam darah adalah
rendah. Sebaliknya, tingginya kadar ALT mengindikasikan adanya kerusakan hati.
2. Aspartate Transaminase (AST)
Enzim AST berperan dalam metabolisme alanine. AST ditemukan dalam kadar yang tinggi di
sel-sel hati, jantung, dan otot-otot lainnya. Namun jika AST tersebut ditemukan dengan kadar
yang tinggi di dalam darah, ini mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati.
3. Alkaline Phosphatase (ALP)
Enzim ALP ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi di hati, saluran emmpedu, dan beberapa
jaringan lainnya. Peningkatan kadar ALP mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati,
terutama bila terjadi sumbatan di saluran empedu.
4. Albumin dan Total Protein
Kadar Albumin (protein yang dibuat di hati) dan protein total menunjukkan baiknya kemampuan
hati memproduksi protein untuk kebutuhan tubuh memerangi infeksi dan menjaga fungsi
lainnya. Berkurangnya kadar dari nilai normal mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit
hati.
5. Bilirubin
Bilirubin dihasilkan oleh pemecahan hemoglobin di dalam hati. Bilirubin dikeluarkan melalui
empedu dan dibuang melalui feses. Peningkatan kadar bilirubin menunjukkan adanya penyakit
hati atau saluran empedu.
6. Gamma glutamyl transferase (GGT atau Gamma GT)
Pemeriksaan Gamma glutamyl transferase (GGT atau Gamma GT), bertujuan sebagai indikator
untuk para pengguna alkohol. Pemeriksaan GGT ini biasa dilakukan bersamaan dengan
pemeriksaan ALP untuk meyakinkan bahwa kenaikan angka pada ALP disebabkan karena
adanya masalah pada hati, bukan karena faktor lain.
7. Albumin
Pemeriksaan Albumin, bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar albumin yang biasa terjadi
pada penyakit hati kronik. Tetapi, penurunan albumin juga bisa disebabkan karena kekurangan
protein.
8. Massa Prothrombin (PT) dan International Normalised Ratio (INR)
Pemeriksaan Massa Prothrombin (PT) dan International Normalised Ratio (INR), bertujuan
sebagai indikasi apakah penyakit hati semakin buruk atau tidak. Peningkatan angka
menunjukkan penyakit kronik menjadi semakin buruk.
Jika ada kecurigaan penderita mengalami kanker hati, maka perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut. Misalnya, pemeriksaan kadar protein dalam darah yang disebut Alpha fetoprotein
(AFP). Kenaikan nilai AFP menunjukkan tingkat parahnya kanker hati yang diderita, sedangkan
penurunan nilai AFP menujukkan menjinaknya kanker karena pengobatan yang berhasil.
Pemeriksaan ini sangat penting pada penderita kanker untuk memantau efektivitas pengobatan
yang sedang dilakukan. Pada penderita kanker bilier, pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah
CA 19-9 dan CEA.
Pemeriksaan hati yang rutin sangat baik untuk memastikan agar organ ini dapat terus
bekerja secara maksimal. Hindari sakit hati dengan melakukan pemeriksaan fungsi hati sebelum
terlambat.
BAB II
PEMERIKSAAN LABORATORIS FUNGSI HATI
1. Fosfatase Alkali
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama
oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus,
tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase
alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada
saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang.

Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan pada
anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada sel hati,
mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada penyakit hati akut.
Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun, sementara kadar bilirubin tetap
meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan (tulang,
prostat, payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau tulang tanpa
matastase (isoenzim Regan).

Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal) pada
sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakit-
penyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik. Peningkatan kadar
sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada obstruksi saluran empedu ekstrahepatik (misalnya oleh
batu) meskipun obstruksi hanya sebagian. Sedangkan peningkatan sampai 3 x lipat dapat
dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik aktif, dan hepatitis oleh virus.

Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik
(pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget. Jika ditemukan kadar
ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal ini adalah normal
karena pertumbuhan tulang (fisiologis). Elektroforesis bisa digunakan untuk membedakan ALP
hepar atau tulang. Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit hati dan tulang; ALP1
menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tidak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari isoenzim-
isoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak dipengaruhi oleh kehamilan
dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah : 5’nukleotidase (5’NT), leusine
aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar GGT dipengaruhi oleh pemakaian alcohol, karena
itu GGT sering digunakan untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol daripada untuk
pengamatan penyakit obstruksi saluran empedu.

Metode pengukuran kadar ALP umumnya adalah kolorimetri dengan menggunakan alat
(mis. fotometer/spektrofotometer) manual atau dengan analizer kimia otomatis. Elektroforesis
isoenzim ALP dilakukan untuk membedakan ALP hati dan tulang. Bahan pemeriksaan yang
digunakan berupa serum atau plasma heparin.

Nilai Rujukan :

 DEWASA : 42 – 136 U/L, ALP1 : 20 – 130 U/L, ALP2 : 20 – 120 U/L, Lansia : agak lebih
tinggi dari dewasa
 ANAK-ANAK : Bayi dan anak (usia 0 – 20 th) : 40 – 115 U/L), Anak berusia lebih tua (13 – 18
th) : 50 – 230 U/L.

Masalah Klinis

PENINGKATAN KADAR :

obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis sel hati, hepatitis, hiperparatiroidisme, kanker
(tulang, payudara, prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis deforman, penyembuhan fraktur,
myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester akhir, arthritis rheumatoid (aktif), ulkus.

Pengaruh obat : albumin IV, antibiotic (eritromisin, linkomisin, oksasilin, penisilin), kolkisin,
metildopa (Aldomet), alopurinol, fenotiazin, obat penenang, indometasin (Indocin), prokainamid,
beberapa kontrasepsi oral, tolbutamid, isoniazid, asam para-aminosalisilat.

PENURUNAN KADAR :

hipotiroidisme, malnutrisi, sariawan/skorbut (kekurangan vit C), hipofosfatasia, anemia


pernisiosa, isufisiensi plasenta.

Pengaruh obat : oksalat, fluoride, propanolol (Inderal)


Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Sampel hemolisis,
 Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),
 Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai normalnya,
 Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP),
 Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat meningkatkan kadar ALP.

2. SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase)


SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang
banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim
ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya
nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut,
sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya.

SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara


semi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :

 Laki-laki : 0 - 50 U/L
 Perempuan : 0 - 35 U/L

Masalah Klinis

Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :

 Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitas obat
atau kimia)
 Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan empedu
ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
 Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis biliaris.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
 Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapat meningkatkan
kadar
 Hemolisis sampel
 Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin, eritromisin,
gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika (meperidin/demerol,
morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparat digitalis, indometasin (Indosin),
salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol (Inderal), kontrasepsi oral (progestin-
estrogen), lead, heparin.
 Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar.

3. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)


SGOT atau juga dinamakan AST (Aspartat aminotransferase) merupakan enzim yang
dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot
rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi
cedera seluler, kemudian dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark
jantung, SGOT/AST akan meningkat setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam setelah
terjadinya infark. SGOT/AST akan normal kembali setelah 4-6 hari jika tidak terjadi infark
tambahan.
Kadar SGOT/AST biasanya dibandingkan dengan kadar enzim jantung lainnya, seperti CK
(creatin kinase), LDH (lactat dehydrogenase). Pada penyakit hati, kadarnya akan meningkat 10
kali lebih dan akan tetap demikian dalam waktu yang lama.
SGOT/AST serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, semi otomatis
menggunakan fotometer, spektrofotometer, atau secara otomatis menggunakan chemistry
analyzer. Nilai rujukan untuk SGOT/AST adalah :

 Laki-laki : 0 - 50 U/L
 Perempuan : 0 - 35 U/L
Masalah Klinis

Kondisi yang meningkatkan kadar SGOT/AST :

 Peningkatan tinggi ( > 5 kali nilai normal) : kerusakan hepatoseluler akut, infark miokard,
kolaps sirkulasi, pankreatitis akut, mononukleosis infeksiosa
 Peningkatan sedang ( 3-5 kali nilai normal ) : obstruksi saluran empedu, aritmia jantung, gagal
jantung kongestif, tumor hati (metastasis atau primer), distrophia muscularis
 Peningkatan ringan ( sampai 3 kali normal ) : perikarditis, sirosis, infark paru, delirium tremeus,
cerebrovascular accident (CVA)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Injeksi pre intra-muscular (IM) dapat meningkatkan kadar SGOT/AST


 Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
SGOT/AST
 Hemolisis sampel darah
 Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (ampisilin, karbenisilin, klindamisin,
kloksasilin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, nafsilin, oksasilin, polisilin, tetrasiklin), vitamin
(asam folat, piridoksin, vitamin A), narkotika (kodein, morfin, meperidin), antihipertensi
(metildopa/aldomet, guanetidin), metramisin, preparat digitalis, kortison, flurazepam (Dalmane),
indometasin (Indosin), isoniazid (INH), rifampin, kontrasepsi oral, teofilin. Salisilat dapat
menyebabkan kadar serum positif atau negatif yang keliru.

4. Gamma Glutamil Transferase (GGT)


Gamma-glutamil transferase (gamma-glutamyl transferase, GGT) adalah enzim yang
ditemukan terutama di hati dan ginjal, sementara dalam jumlah yang rendah ditemukan dalam
limpa, kelenjar prostat dan otot jantung. Gamma-GT merupakan uji yang sensitif untuk
mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan
hepatobiliar meningkatkan GGT dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih
awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung.

GGT adalah salah satu enzim mikrosomal yang bertambah banyak pada pemakai alkohol,
barbiturat, fenitoin dan beberapa obat lain tertentu. Alkohol bukan saja merangsang mikrosoma
memproduksi lebih banyak enzim, tetapi juga menyebabkan kerusakan hati, meskipun status gizi
peminum itu baik. Kadar GGT yang tinggi terjadi setelah 12-24 jam bagi orang yang minum
alkohol dalam jumlah yang banyak, dan mungkin akan tetap meningkat selama 2-3 minggu
setelah asupan alkohol dihentikan. Tes gamma-GT dipandang lebih sensitif daripada tes fosfatase
alkalis (alkaline phosphatase, ALP).
Metode pemeriksaan untuk tes GGT adalah spektrofotometri atau fotometri, dengan
menggunakan spektrofotometer/fotometer atau alat kimia otomatis. Bahan pemeriksaan yang
digunakan berupa serum atau plasma heparin.

Nilai Rujukan :

DEWASA : Pria : 15 - 90 U/L, Wanita : 10 - 80 U/L, Lansia : sedikit lebih tinggi

ANAK-ANAK : Bayi baru lahir : 5 x lebih tinggi daripada dewasa, Prematur : 10 x lebih tinggi
dari dewasa, Anak : sama dengan dewasa.

(Nilai normal bisa berbeda untuk tiap lab, tergantung metode yang digunakan).

Masalah Klinis

PENINGKATAN KADAR :

sirosis hati, nekrosis hati akut dan subakut, alkoholisme, hepatitis akut dan kronis, kanker (hati,
pankreas, prostat, payudara, ginjal, paru-paru, otak), kolestasis akut, mononukleosis infeksiosa,
hemokromatosis (deposit zat besi dalam hati), DM, steatosis hati / hiperlipoproteinemia tipe IV,
infark miokard akut (hari keempat), CHF, pankreatitis akut, epilepsi, sindrom nefrotik.

Pengaruh obat : Fenitoin (Dilantin), fenobarbital, aminoglikosida, warfarin (Coumadin).

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Obat fenitoin dan barbiturat dapat menyebabkan tes gamma-GT positif palsu.
 Asupan alkohol berlebih dan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan peningkatan kadar
gamma-GT.

5. BILIRUBIN
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin dalam
proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20% bilirubin berasal
dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air;
bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan kepada albumin untuk diangkut dalam
plasma menuju hati.
Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan itu dan mengkonjugasinya dengan asam
glukoronat sehingga bersifat larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim
glukoronitransferase.

Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin) masuk ke saluran


empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi
urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil melalui urin. Bilirubin terkonjugasi
bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin (reaksi van den
Bergh). Karena itu sering dinamakan bilirubin direk atau bilirubin langsung.

Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) yang merupakan bilirubin bebas yang terikat
albumin harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat
bereaksi, karena itu dinamakan bilirubin indirek atau bilirubin tidak langsung.

Peningkatan kadar bilirubin direk menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakan
sel hati) atau saluran empedu (batu atau tumor). Bilirubin terkonjugasi tidak dapat keluar dari
empedu menuju usus sehingga akan masuk kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah.
Peningkatan kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit
(hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau eritroblastosis fatalis.

Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan kecepatan kunjugasi dan ekskresi
ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin indirek.
Hati bayi yang baru lahir belum berkembang sempurna sehingga jika kadar bilirubin yang
ditemukan sangat tinggi, bayi akan mengalami kerusakan neurologis permanen yang lazim
disebut kenikterus. Kadar bilirubin (total) pada bayi baru lahir bisa mencapai 12 mg/dl; kadar
yang menimbulkan kepanikan adalah > 15 mg/dl. Ikterik kerap nampak jika kadar bilirubin
mencapai > 3 mg/dl. Kinikterus timbul karena bilirubin yang berkelebihan larut dalam lipid
ganglia basalis.

Dalam uji laboratorium, bilirubin diperiksa sebagai bilirubin total dan bilirubin direk.
Sedangkan bilirubin indirek diperhitungkan dari selisih antara bilirubin total dan bilirubin direk.
Metode pengukuran yang digunakan adalah fotometri atau spektrofotometri yang mengukur
intensitas warna azobilirubin.

NILAI RUJUKAN
DEWASA ; total : 0.1 -1.2 mg/dl. Direk : 0.1-0.3 mg/dl, Indirek : 0.1-1.0 mg/dl

ANAK : total : 0.2-0.8 m/dl, indirek : sama dengan dewasa

BAYI BARU LAHIR : 1-12 mg/dl, indirek :sama dengan dewasa

MASALAH KLINIS

1. Bilirubin Total, Direk


 PENINGKATAN KADAR : ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma,hepatitis, sirosis hati,
mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Pengaruh obat : antibiotic
(amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin),
sulfonamide, obat antituberkulosis ( asam para-aminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretic
(asetazolamid, asam etakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturate, narkotik
(kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin,
prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K.
 PENURUNAN KADAR : anemia defisiensi besi. Pengaruh obat : barbiturate, salisilat (aspirin),
penisilin, kafein dalam dosis tinggi.
2. Bilirubin indirek
 PENINGKATAN KADAR : eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria,
anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi,
hepatitis. Pengaruh obat : aspirin, rifampin, fenotiazin (lihat biliribin total, direk)
 PENURUNAN KADAR : pengaruh obat (lihat bilirubin total, direk)

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

 Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi kadar
bilirubin.
 Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin.
 Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
 Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya
akan menurun.
 Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin.
BAB III
PROSEDUR PEMERIKSAAN

1. PEMERIKSAAN ALKALIN PHOSPATASE

Metode : Buffer DEA


Prinsip : ALP dalam suasana basa akan mengkatalisa dari transfer gruf 4-
nitrophenylphospatase dengan bantuan AMP phosphatase menjadi
membebaskan 4-nitrophenol. Di ukur pada panjang gelombang 405 nm
Alat : spektrofotometer
Cuvet
Klinipette
Reagensia : Buffer 10 x 8 ml
Substrat 2x10 ml
Persiapan Reagen :
Encerkan 1 ml substrat dengan 4 ml buffer atau 1 : 4
Stabilitas reagen setelah diencerkan 4 minggu suhu 2-80 C
Prosedur Kerja :
1. Siapkan reagen pada suhu kamar
2. Pipetkan ke masing-masing cuvet sbb
Temp 250 atau 300 C Temp 370 C
Reagen kerja 1000 µl 1000 µl
Sampel 20 µl 20 µl
3. Campur , ukur absorbent pada saat bersamaan. Jalankan stopwatch , ulangi pembacaan setelah
1,2,3 menit. Hitung DA/menit
Perhitungan :
Temperatur 25/300 C = DA x 2757
Temperatur 370 C = Da x 5454
Linieritas : Bila DA/ menit lebih dari 0,25 encerkan 0,1 – 0,5 ml dengan NaCl 0,85 % dan ulangi
pemeriksaan. Kalikan hasil yang di dapat denga 6.
Nilai Normal :
Temperatur 250 C/300 C 370 C
Wanita s/d 68 U/L s/d 105 U/L
Pria s/d 75 U/L s/d 115 U/L

2. PEMERIKSAAN GAMMA GT ( BIOSYSTEM )


Metode : Buffer DEA
Prinsip : Gamma GT akan mengkatalisis kelompok Gamma GT dari
Gamma Glutamil-3-Carboxy-4-nitroaniline menjadi glycyglycine
membebaskan 3-Carboxy-4-nitroaniline.
Alat : spektrofotometer
Cuvet
Klinipette
Reagensia : Buffer 10 x 8 ml
Substrat 2x10 ml
Persiapan Reagen :
Encerkan 1 ml substrat dengan 4 ml buffer atau 1 : 4
Stabilitas reagen setelah diencerkan 4 minggu suhu 2-80 C
Prosedur Kerja :
1. Siapkan reagen pada suhu kamar
2. Pipetkan ke masing-masing cuvet sbb
Semi mikro Semi Makro
Reagen kerja 1000 µl 1000 µl
Sampel 100 µl 300µl
3. Campur , ukur absorbent pada saat bersamaan. Jalankan stopwatch , ulangi pembacaan setelah
1,2,3 menit. Hitung DA/menit
Perhitungan : untuk semi miro dan makro = DA x 1111
Linieritas : Bila DA/ menit lebih dari 0,25 encerkan 0,1 – 0,5 ml dengan NaCl 0,85 % dan ulangi
pemeriksaan. Kalikan hasil yang di dapat denga 6.
Nilai Normal :
Temperatur 250 C 300 C 370 C
Pria 6-28 U/L 8 – 37 U/L 10-47 U/L
Wanita 4-18 U/L 5-24 U/L 7- 30 U/L

3. PEMERIKSAAN AST ( SGOT ) ( Biosystem )


Metode : Continuous Spektrofotometer
Prinsip : AST mengkatalisis , transfer gugus amino dari aspartat
menjadi 2-oxoglutaratei membentuk oxalate dan glutamate. Konsentrasi ditentukan
dari penurunan NADH. Di ukur pada panjang gelombang 340 nm melalui reaksi
dehidrogenerase.
Alat : spektrofotometer
Cuvet
Klinipette
Reagensia : reagen A, reagen B, reagen C
Persiapan Reagen :
 Reagen kerja tanpa pyrodoxal phospat
Campur reagen A dengan reagen B dengan perbandingan 9 : 1. Stabil 2 bulan pada suhu 2-80 C
 Reagen kerja dengan pyrodoxal phospat
 Campur 10 ml reagen kerja tanpa pyrodoxal phospat dengan 0,1 ml reagen C. stabil 6 hari pada
suhu 2-80 C
Prosedur Kerja :
1. Siapkan reagen pada suhu kamar
2. Pipetkan ke masing-masing cuvet sbb
300 C 370C
Reagen kerja 1000 µl 1000 µl
Sampel 100 µl 50 µl
3. Campur , ukur absorbent pada saat bersamaan. Jalankan stopwatch , ulangi pembacaan setelah
1,2,3 menit.
4. Baca Abs sampel pada panjang gelombang 340 nm
Perhitungan :
Temp 370 C = abs test x 3333 U/L
Temp 30o C = abs test x 1746 U/L
Nilai normal :
temperatur 37 o C 30oC
Tanpa pyridoxal phospat 42 U/L 25 U/L
Dengan pyridoxal phospat 50 U/L 30 /L

4. PEMERIKSAAN ALT (BIOSYSTEM)


Metode : Continuous Spektrofotometer
Prinsip : ALT / GPT mengkatalisis yang ditranser dari kelompok amino berasal dari
alanin-2-oxoglutarate, bentuk piruvat dan glutamate , konsentrasi katalis ditentukan dari
peningkatan NADH. Pengukuran pada panjang gelombag 340 nm yang berarti LDH bereaksi
berpasangan.
Alat : spektrofotometer
Cuvet
Klinipette
Reagensia : reagen A, reagen B, reagen C
Persiapan Reagen :
 Reagen kerja tanpa pyrodoxal phospat
Campur reagen A dengan reagen B dengan perbandingan 9 : 1. Stabil 2 bulan pada suhu 2-80 C
 Reagen kerja dengan pyrodoxal phospat
 Campur 10 ml reagen kerja tanpa pyrodoxal phospat dengan 0,1 ml reagen C. stabil 6 hari pada
suhu 2-80 C
Prosedur Kerja :
5. Siapkan reagen pada suhu kamar
6. Pipetkan ke masing-masing cuvet sbb
300 C 370C
Reagen kerja 1000 µl 1000 µl
Sampel 100 µl 50 µl
7. Campur , ukur absorbent pada saat bersamaan. Jalankan stopwatch , ulangi pembacaan setelah
1,2,3 menit.
8. Baca Abs sampel pada panjang gelombang 340 nm
Perhitungan :
Temp 370 C = abs test x 3333 U/L
Temp 30o C = abs test x 1746 U/L
Nilai normal :
temperatur 37 o C 30oC
Tanpa pyridoxal phospat 41 U/L 29 U/L
Dengan pyridoxal phospat 65 U/L 46 U/L

5. PEMERIKSAAN BILIRUBIN DARAH


Metode : Diazotized sulfanilic
Prinsip : bilirubin akan bereaksi dengan diazotized sulfanilic acid(DSA) membentuk zat
warna merah,absorbance zat warna ini pada 546 nm adalah proporsional terhadap konsentrasi
bilirubin dalam sampel.Bilirubin glukoronida yang larut dalam air bereaksi
langsung(direct)dengan DSA,sedangkan bilirubin yang terikat pada albumin bereaksi tidak
langsung(indirect)dengan DSA dan dengan adanya accelerator.bilirubin total=bilirubin
direct+bilirubin indirect.
Alat : spektrofotometer
Cuvet
Clinipette
Reagensia : Reaggen AT 2x40 ml
Reagen AD 2 x 40 ml
Reagern B 4 x 10 ml
Standar kerja nilirubin consentrasi 4,41 mg%
Persiapan reagen : masukkan 1 vial reagen B kedalam botol reagen AT untuk bilirubin
total atau reagen AD untuk bilirubin direk, atau 1 ml reagen B+ 4 ml reageb AT/AD , stabil 20
hari suhu 2-8o C .
Untuk bilirubin standar, masukkan 5 ml aquadest ke dalam 1 botol standar bilirubin , hindari
kontak langsung dengan sinar matahari. Stabil 4 jam pada suhu 15 – 30 C atau 2 bulan pada suhu
-18o C ,
Prosedur Kerja :
1. Pipetkan ke dalam cuvet
Reagen Sampel Sampel Standar
Blanko blanko
Reagen kerja 1000µl - 1000µl 1000µl
Aquadest 100µl - - -
Standar - - - 100µl
Sampel - 100µl 100µl -
Reagen AT/AD 1000µl
2. Campur dan biarkan 2 menit pada suhu kamar
3. Baca absorbance sampel blanko pada 540nm dengan blanko aquadest
4. Baca abs standar dan sampel pada 540 nm dengan blanko reagen blanko
Perhitungan :
= mg%
Nilai normal :
Dewasa total bilirubin : sampai 1,1 mg%
Direck bilirubin : sampai 0,25 mg%
Indirect bilirubin--dewasa : s/d 0,85 mg/dl
total bilirubin --bayi baru lahir : s/d 5 mg/dl
5 hari : s/d 12 mg/dl
1 bulan : s/d 1.5 mg/dl

6. PEMERIKSAAN PROTEIN TOTAL


PEMERIKSAAN PROTEIN TOTAL (BIOSYSTEM)
Metode : biuret
Prinsip : Ikatan peptida yang terdapat dalam protein dengan adanya pereaksi Biuret akan
membentuk senyawa komplek yang berwarna ungu, yang intensitasnya sesuai dengan kadar
protein total dalam sampel, yang dapat ditentukan dengan fotometer dengan l 546 nm.

Reagen : reagen kerja dan standar kerja protein konsentrasi 64 g/L


Alat : spektrofotometer, cuvet , clinipette
Prosedur kerja :
1. Pipetkan ke dalam cuvet
Blanko standar sampel
Reagen 1,0 ml 1,0 ml 1,0 ml
Aquadest 0,02 ml - -
Protein standar - 0,02 ml -
sampel - - 0,02 ml
2. Campur. Inkubasi selama 10 menit.
3. Baca pada panjang gelombang 545 nm
Perhitungan :

Nilai normal : 65 – 80 g/L

DAFTAR PUSTAKA

http://medicastore.com/penyakit/613/Pemeriksaan_Diagnostik_Untuk_Penyakit_Hati_&_Kandu
ng_Empedu.html
http://spiritia.or.id dengan beberapa perubahan oleh dr.Abu Hana untuk :
http://kaahil.wordpress.com
http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/sgpt-serum-glutamic-pyruvic.html
http://catatan.legawa.com/2010/11/tes-fungsi-hati/
http://dessy1412.blogspot.com/2011/05/pemeriksaan-bilirubin-serum.html
http://feriyadiramen.wordpress.com/2010/01/24/praktikkum-kadar-protein-total-pada-serum/
http://www.klikdokter.com/userfiles/image/ORG&TAKERLABKLIRS.pdfhttp://xa.yimg.com/k
q/groups/21612083/1478830814/name/Transfusi+Darah+FK+Unjani+(Dinyar+S,+dr,+SpPK).pd
f