Anda di halaman 1dari 6

Anisya Zakiyyahaya Arvant

1710211101 – A1
Neoplasma (Onkogenesis, Gambaran Klinis, Staging dan Grading, dan Diagnosis)

1. Onkogenesis
Karsinogenesis atau onkogenesis atau tumorigenesis adalah suatu proses dimana sel
normal mengalami transformasi menjadi sel kanker. Karsinogenesis disebabkan oleh
mutasi DNA / material genetik dari sel normal sehingga merusak keseimbangan
proliferasi dan apoptosis/ kematian seli. Kerusakan genetik tersebut (atau mutasi) bisa
terjadi akibat agen lingkungan, misalnya zat kimia, radiasi, virus, atau bisa diturunkan
melalui garis germinalii.
Onkogen merupakan gen hasil mutasi dari proto-onkogen yang diakibatkan karena
terjadinya mutasi protoonkogen mengkode protein untuk proliferasi yang diaktifkan
oleh reseptor dan jalur diferensiasi. Protoonkogen yang bermutasi mejadi onkogen
(menghasilkan onkoprotein yang abnormal) akan mengaktifkan jalur yang seharusnya
berhenti secara periodik tersebut menjadi terus-menerus / tidak berhenti.
Protoonkogen dapat diubah menjadi onkogen dengan empat mekanisme dasar: mutasi
point, amplifiksai gen, pengaturan kembali kromosom, dan insersi genom virusiii.

Gambar 1: Mekanisme perubahan proto-onkogen menjadi onkogen

Gen supresor tumor menghambat pertumbuhan dan siklus pertumbuhan sel. Secara
normal menjaga agar tidak terjadi pertumbuhan yang tidak terkendali dan menjaga
jika ada mutasi untuk melakukan apoptosis dan tidak terus proliferasi. Terdapat dua
kelompok GST, yaitu pelaksana dan penjaga.
Gen pelaksana adalah RB memiliki sifat antiproliferatif dengan mengikat pada E2F
sebagai faktor transkripsi. Hal ini berfungsi untuk meregulasi pertumbuhan dari G1
menuju S. Agar dapat melanjutkan fase siklus sel, diperlukan fosforilasi RB oleh
CDK sehingga faktor transkripsi dapat ‘bebas’. Mutasi gen menyebabkan
transformasi dan menyebabkan menghilangnya penghalang penting dalam proliferasi
sel.
Sedangkan, gen penjaga adalah TP53, akan melakukan regulasi progresi terhadap
siklus sel, perbaikan DNA, penuaan dan perkembangan, dan apoptosis. TP53 akan
mengkode p53 yang mendeteksi stress selular (kerusakan DNA), hipoksia, stress
karena tingginya pro-growth signal. Kemudian p53 akan mengaktivasi reparasi
DNA, arrest growth ketika terjadi kerusakan DNA, dan jika tidak dapat diperbaiki
akan terjadi apoptosis.

Gambar 2: Fungsi dan signifikansi dari p53

Karsinogenesis dalam tahapnya melibatkan perubahan molekular seperti mutasi proto-


onkogen dan GST yang disebut dengan inisiasi, kemudian sel yang sudah
tertransformasi secara genetik akan mengalami ekspansi klonal yang disebut juga
dengan tahap promosi, tahap selanjutnya adalah persistensi sel sudah berproliferasi
secara otonom.
Gambar 3: Menjelaskan multi-step dari onkogenesis

2. Gambaran Klinis
Efek lokal dan hormonal, pada keadaan neoplastik, lokasi merupakan determinan
penting. Tumor yang mengganggu jaringan fatal dapat mengganggu fungsi dari organ
tersebut. Contoh pada beta sel adenoma yang merupakan neoplasma benign, dapat
menyebabkan tingginya kadar insulin di dalam darah sehingga terjadi hipoglikemik.
Pada tumor benign di kelenjar endokrin, biasanya menyebabkan sekresi tinggi
hormon sedangkan tumor maligna tidak dikarenakan sifat yang tidak terdifirensiasi
sehingga hilangnya kapabilitas untuk melakukan fungsi normal.
Kakeksia, merupakan keadaan kehilangan masa otot dan lemak secara progresif
dengan gejala lemah, anorexia, dan anemia. Hal ini dihubungkan dengan tingginya
basal metabolic rate dan tanda inflamasi sistemik yaitu tingginya cachexin atau TNF
alpha. Cachexin menyebabkan mobilisasi lemak dari penyimpanan dan menurunnya
nafsu makan.
Sindrom paraneoplastik merupakan gangguan klinis yang bukan diakibatkan karena
adanya tumor lokal dan merepresentasikan manifestasi klinis yang tidak langsung dan
efek yang jauh diakibatkan metabolit tumoriv.

3. Staging dan Grading


Dilakukan untuk menentukan prognosis, membandingkan tata laksana, dan
perencanaan pengobatan.
Grading merupakan derajat diferensiasi, keganasan, dan agresivitas tumor. Pada
grading, dinilai jumlah mitosis, ukuran inti, diferensiasi, derajat kesesuaian dengan
jaringan normal. Secara general, grading dibagi menjadi;
G(x): belum dapat dinilai
G(1): Well differentiated.
G(2): Moderately differentiated.
G(3): Poorly differentiated.
G(4): Undifferentiated.

Gambar 4: Panduan WHO dalam penentuan grade tumor


Staging dilihat berdasarkan eksplorasi dan imaging tumor, pembesaran nodus limfa
regional, dan metastasis. Dilihat dalam tiga aspek yaitu tumor primer, status nodus
limfa, dan ada atau tidaknya metastasis. Hasil dari ketiga aspek ini akan memberikan
pengetahuan stadium akan tumor.
Gambar 5v: Panduan Staging TNM berdasarkan AJCC
4. Diagnosis
Diagnosis kangker ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, radiologis dan
histopatologi. Anamnesis dilakukan untuk melihat adanya gambaran klinis kangker,
riwayat penyakit keluarga dan dahulu serta kebiasaan yang dapat menjadi faktor
predisposisi dari kangker. Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan dengan sitologi
dapat aspiratif seperti FNAB (fine needle aspiration biopsy), imunohistokimia dengan
melihat titer antibodi, dan diagnosis molekular untuk melihat mutasi dari onkogen.
Pada kangker nasofaring, pemeriksaan histopatologi biopsi nasofaring merupakan gold
standard untuk penegakan diagnosis. Pemeriksaan radiologi diperlukan untuk
mendapatkan informasi adanya tumor nasofaring, perluasan tumor ke jaringan sekitarnya
dan adanya destruksi tulang dasar tengkorak. Untuk memperoleh gambaran lesi yang
lebih jelas, dapat dilakukan pemeriksaan tomogram atau computed tomography scaning
(CT-Scan) dengan kontras maupun magnetic resonance imaging (MRI).

i
Jun Yokota; Tumor progression and metastasis , Carcinogenesis, Volume 21, Issue 3, 1
March 2000, Pages 497–503, https://doi.org/10.1093/carcin/21.3.497
ii
Kumar, V., Abbas, A., Aster, J. and Robbins, S. (2013). Robbins basic pathology.
Philadelphia, PA: Elsevier/Saunders.
iii
Kresno, S. (2011). Ilmu Dasar Onkologi. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

ivMathew, D., Rooban, T., Janani, V., Joshua, E., Rao, U. and Ranganathan, K. (2010).
Review of paraneoplastic syndromes associated with oropharyngeal squamous cell
carcinoma. Journal of Oral and Maxillofacial Pathology, 14(2), p.41.

vYamashiro, Ilka, & Souza, Ricardo Pires de. (2007). Imaging diagnosis of
nasopharyngeal tumors. Radiologia Brasileira, 40(1), 45-52.
https://dx.doi.org/10.1590/S0100-39842007000100011