Anda di halaman 1dari 17

MODUL 3

UJI TEKUK PADA STRUKTUR KOLOM

LAPORAN PRAKTIKUM
TME 345- Praktikum Mekanika Teknik

Nama : Victor Churcill


NIM : 2015-041-084
Shift/Kelompok : MA-3
Tanggal Praktikum : 28 Agustus 2017
Asisten : Steven Henry

LABORATORIUM MEKANIKA EKSPERIMENTAL


PRODI TEKNIK MESIN - FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA
JAKARTA
2017
I. TUJUAN
 Menunjukkan terjadinya fenomena tekuk yang terjadi pada struktur berbentuk
kolom dengan jenis tumpuan dan material yang berbeda.
 Mencari nilai gaya tekuk dengan rumus Euler.

II. TEORI DASAR


Struktur kolom (column) merupakan sebuah batang tekan dengan ketebalan yang
sangat tipis, apabila dibandingkan dengan panjangnya. Kolom akan mengalami
kerusakan akibat adanya gaya tekuk atau buckling apabila beban bertambah secara
perlahan dengan beban yang lebih kecil terhadap beban yang diperlukan untuk
mematahkan batang tersebut. Lihat Gambar 3.1, dimana ditunjukkan terjadinya
fenomena tekuk pada suatu struktur kolom.

Gambar 3.1 Fenomena tekuk yang terjadi pada struktur kolom: (a) batang
dengan beban gaya P, (b) gaya tekuk pada kolom, (c) diagram benda bebas pada
penampang batang.
Apabila gaya P yang bekerja pada suatu kolom relatif kecil, maka kolom pada
Gambar 3.1 akan stabil dalam arah lateral (sejajar dengan sumbu batang). Hal ini
berarti bahwa jika ujung B didorong ke samping oleh suatu gaya lateral (atau gaya
tegak lurus terhadap sumbu batang), maka batang akan kembali ke bentuk semula atau
dengan kata lain batang akan lurus kembali setelah gaya lateral dihilangkan.
Sebaliknya, jika gaya tekan P diperbesar sampai suatu nilai tertentu, maka batang dapat
menjadi stabil netral. Keadaan stabil netral yaitu keadaan dimana pada saat batang
didorong kesalah satu arah, maka batang akan tetap berada pada posisi tersebut
walaupun gaya lateral telah dihilangkan. Fenomena tersebut dinyatakan sebagai
kejadian tekuk atau buckling. Sedangkan gaya yang menyebabkan tepat terjadinya
peristiwa tekuk disebut beban atau gaya kritis, Pcr.
Dengan demikian beban kritis adalah batas gaya aksial tekan yang dapat diterima
oleh suatu struktur kolom agar tidak terjadi fenomena tekuk pada kolom. Beberapa
keadaan yang menyatakan perbandingan antara besar gaya tekan yang bekerja P
terhadap besar beban kritis Pcr, sebagai berikut:
 Jika P < Pcr, maka batang dikatakan stabil, yaitu jika ujung batang B didorong ke
samping lalu dilepaskan, maka batang akan kembali ke posisi semula.
 Jika P = Pcr, maka batang disebut dalam keadaan stabil netral, artinya jika ujung
batang B didorong dengan gaya lateral yang relatif kecil, maka kedudukan batang
akan tetap pada posisi tersebut walaupun gaya lateral tadi dihilangkan.
 Jika P > Pcr, maka batang dikatakan dalam keadaan labil, artinya jika ujung bebas
batang B didorong sedikit ke samping maka lendutan akan bertambah terus sehingga
menjadi sangat besar.
Untuk struktur kolom dengan salah satu ujung jepit dan ujung lainnya bebas
seperti pada Gambar 1.1 dapat diuraikan penurunan rumus Euler. Diagram benda bebas
pada potongan batang kolom (Gambar 1.1 c) dapat menentukan besar momen lentur
pada Persamaan (1.1)
M = P (δ – y) (3.1)
Dimana:
M = momen lentur yang terjadi, Nm
P = gaya tekuk yang bekerja pada kolom, N
δ = defleksi lateral, m
Besarnya beban kritis untuk beberapa macam tumpuan dapat dianalisis secara
matematis seperti contoh diatas sehingga dihasilkan rumus Euler untuk beberapa
macam tumpuan seperti Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Rumus-rumus Euler untuk beberapa macam tumpuan [1]

III. PERALATAN PERCOBAAN


1. GUNT WP 120

Gambar 3.2 GUNT WP 120.


2. Batang spesimen
3. Dial gauge
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
Pada praktikum kali ini dilakukan dilakukan 3 jenis percobaan tekuk yaitu
percobaan uji tekuk tumpuan jepit-jepit, tumpuan jepit-engsel, dan tumpuan jepit
engsel dengan material yang berbeda-beda.
1. Pastikan posisi selongsong sesuai dengan panjang batang spesimen dengan
memutar spindle pada alat uji.
2. Pasang batang spesimen pada alat uji.
3. Pastikan batang spesimen terpasang pada tumpuan dengan baik.
4. Pasang dial gauge pada batang spesimen sesuai dengan jarak yang telah
ditentukan berdasarkan jenis batangnya.
5. Kalibrasikan dial gauge agar hasil pengukuran defleksi akurat.
6. Berikan pembebanan dengan memutar spindle hingga terjadi tekukan pada batang
spesimen. Pengukuran besar defleksi yang diakibatkan oleh tekukan dan besar
gaya yang menyebabkan defleksi tersebut dilihat dengan menggunakan dial
gauge.
7. Perhatikan dan catat data-data yang ditunjukan oleh instrumen pengukuran (besar
defleksi benda uji, tekanan yang ditunjukan oleh pressure gauge).
8. Hentikan pemberian pembebanan apabila pengukuran angka pada pressure gauge
dalam keadaan tetap (tidak berubah atau setelah pressure gauge menunjukan
angka tertinggi dan kemudian turun kembali).
9. Lepaskan benda uji setelah selesai mendapatkan data pengujian dengan memutar
spindle dan membuka tumpuan.
10. Lakukan pengujian lainnya dengan tumpuan yang berbeda dan panjang dan
material yang berbeda pula.
V. TUGAS DAN PERTANYAAN
1. Sebutkan aplikasi dari percobaan buckling dan beserta gambarnya (2 buah) !
Jawab:
 Perancangan Jembatan

Gambar 5.1. Penekukan pada Jembatan


Jembatan merupakan suatu struktur yang pada umumnya digunakan untuk
menyebrangi jurang ataupun jalan raya. Jembatan juga sering digunakan oleh
mobil truk untuk melakukan loading barang. Efek pada mobil truk yg sering
melintasi jembatan dengan membawa beban yang sangat besar akan
menyebabkan fenomena tekuk pada struktur jembatan. Sehingga pada saat
melakukan perancangan jembatan diperlukan pengujian buckling agar
jembatan memenuhi syarat tegangan yang aman.
 Rel Kereta Api

Gambar 5.2. Penekukan pada Rel Kereta Api


Rel kereta api merupakan suatu kontruksi logam batang yang mengatur
landasan jalannya kereta api. Pada bagian batang rel kereta api akan sering
mengalami gaya tekuk sebagai akibat dari beban kereta api. Pemberian beban
yang terus menerus akan mengakibatkan kerusakan pada rel kereta api.
Sehingga untuk memenuhi syarat aman diperlukan pengujian buckling
terlebih dahulu pada konstruksi rel kereta api.

2. Jelaskan perbedaan tumpuan engsel dan tumpuan jepit?


Jawab:
 Tumpuan Engsel
Tumpuan engsel terdiri dari dua jenis reaksi tumpuan yaitu arah horizontal
dan vertikal namun tidak dapat menahan momen. Pengaplikasian tumpuan
engsel yang paling sering dapat ditemukan yaitu pada jembatan.
 Tumpuan Jepit
Tumpuan jepit terdiri dari tiga jenis reaksi tumpuan yaitu arah horizontal,
vertikal, dan mampu menahan momen. Pengaplikasian tumpuan jepit yang
paling sering dapat ditemukan yaitu struktur bangunan yang kaku seperti pilar
pada bangunan.

3. Dari praktikum yang terlah dilakukan, tumpuan apa yang memerlukan gaya yang
paling besar untuk mencapai tegangan kritis (Baja)? Faktor apa saja yang
mempengaruhinya?
Jawab:
Ditinjau dari jenis tumpuan, tumpuan jepit-jepit memerlukan gaya yang paling
paling besar hingga spesimen dapat mencapai tegangan kritis. Yang
membedakan perhitungan pada tiap tumpuan yaitu pada nilai koefisien pada
pembilang. Untuk tumpuan jepit-jepit nilai koefisien pembilangnya antara lain
yaitu 4. Untuk tumpuan jepit-engsel nilai koefisien pembilang lebih kecil
1
daripada 4 yaitu 1.42857 (atau 0.7). Sedangkan tumpuan engsel-engsel memiliki
nilai koefisien pembilang terkecil yaitu 1. Selain dari koefisien pembilang,
panjang dari suatu spesimen yang akan diuji juga mempengaruhi tegangan kritis
yang dapat diterima spesimen. Semakin pendek suatu spesimen maka semakin
besar beban kritis yang dapat diterima spesimen. Modulus elastisitas dan momen
inersia juga berpengaruh terhadap besarnya beban kritis yang dapat diterima
spesimen. Semakin besar besar modulus elsatisitas dan momen inersia suatu
spesimen maka semakin besar juga beban gaya kritis yang dapat diterima
spesimen. Dikarenakan material acuan tertuju pada baja, maka faktor yang
mempengaruhi besarnya beban kritis yang dapat diterima hanyalah panjang baja
dan jenis tumpuan baja. Hal tersebut dikarenakan baja akan tetap memiliki nilai
modulus elastisitas dan momen inersia yang sama walaupun adanya perbedaan
jenis tumpuan dan panjang pada baja.

VI. LEMBAR DATA, PERHITUNGAN DAN ANALISIS


VI.1 LEMBAR DATA
VI.2 PERHITUNGAN
Beban kritis perhitungan pada:

 Engsel – Engsel baja 650 mm (I = 106,6 mm4 dan E = 210 ×

103 N⁄mm2 )

π2 EI 3,142 x210x103 N⁄ x106,6 mm4


mm2
 Pcr = = = 522.407113 𝑁
L2 (650 mm)2

 Engsel – Engsel kuningan 600 mm (I = 450 mm4 dan E = 104 ×

103 N⁄mm2 )

π2 EI 3,142 x104x103 N⁄ x450 mm4


mm2
 Pcr = = = 1281.748 𝑁
L2 (600 mm)2

 Engsel – Jepit baja 650 mm (I = 106,6 mm4 dan E = 210 × 103 N⁄mm2 )

π2 EI 3,142 x210x103 N⁄ x106,6 mm4


mm2
 Pcr = 0.7 L2 = = 746.295877 𝑁
0.7𝑥(650 mm)2
 Jepit – Jepit baja 650 mm (I = 106,6 mm4 dan E = 210 × 103 N⁄mm2 )

4π2 EI 4x3,142 x210x103 N⁄ x106,6 mm4


mm2
 Pcr = = = 2089.628455
L2 (650 mm)2

Jenis Tumpuan 𝐏𝐜𝐫 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐨𝐛𝐚𝐚𝐧(𝐍) 𝐏𝐜𝐫 𝐏𝐞𝐫𝐡𝐢𝐭𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧(𝐍)

Engsel-Engsel Baja 500mm 900 882,868


Engsel-Engsel Baja 600mm 625 613,103
Engsel-Engsel Baja 650mm 450 522,407
Engsel-Engsel Tembaga 600mm 1450 1540,563
Engsel-Engsel Kuningan 600mm 1250 1281,748
Engsel-Engsel Fiber 600mm 650 570,57
Engsel-Engsel Aluminium 600mm 850 862,715
Engsel-Jepit Baja 650mm 900 746,296
Jepit-Jepit Baja 650mm 1850 2089,628

Tabel 6.2.1.Tabel Perbandingan Nilai Beban Kritis Perhitungan dan Percobaan

VI.3 ANALISIS
Praktikum uji tekuk bertujuan untuk menentukan fenomena tekuk dan beban
maksimum yang dapat diterima suatu material dengan jenis tumpuan, material, dan
panjang material yang berbeda dengan menggunakan pendekatan Euler. Secara teoritis
jika dilihat dari jenis material baja, tembaga, kuningan, aluminium, dan fiber nilai
beban kritis terbesar yang dapat diterima adalah material tembaga. Hal tersebut
dikarenakan tembaga memiliku nilai modulus elastisitas dan momen inersia yang
terbesar. Sebaliknya beban kritis terkecil yang dapat diterima adalah material fiber.
Apabila dilihat dari panjang struktur kolom, semakin kecil panjang suatu struktur
kolom maka semakin besar nilai beban kritis yang dapat diterima suatu struktur kolom.
Apabila dilihat dari jenis tumpuan, jenis tumpuan jepit-jepit dapat menerima beban
terbesar sedangkan tumpuan engsel-engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima
beban paling kecil jika dibandingkan dengan tumpuan engsel-engsel dan engsel-jepit.
Percobaan tekuk dilakukan dengan cara memberikan gaya tekuk kepada struktur
kolom. Percobaan dilakukan dengan mengukur deformasi suatu struktur kolom pada
jarak tertentu dengan menggunakan dial gauge. Kemudian nilai beban yang dapat
diterima oleh spesimen dapat diperoleh melalui indikator pada pressure gauge. Pada
saat pemasangan spesimen, terdapat kemiringan antara beban dan spesimen yang akan
diuji sehingga mengakibatkan beban yang diberikan tidak terdistribusi secara merata
pada spesimen. Hal tersebut dapat mengakibatkan nilai pada pressure gauge kurang
akurat. Kalibrasi yang kurang akurat juga mempengaruhi nilai pada dial gauge menjadi
kurang akurat saat menghitung jarak pergeseran pada spesimen saat terjadi deformasi.
Dikarenakan dial gauge yang sensitif, saat melakukan kalibrasi, jarum pada indikator
dial gauge selalu bergeser yang menyebabkan kalibrasi tidak tepat pada titik nol.
Pengukuran titik tengah pada spesimen dengan menggunakan mistar yang kurang
akurat juga menyebabkan dial gauge tidak tepat sasaran pada titik terjadinya gaya kritis
pada spesimen. Pada saat pemberian beban dengan memutar spindle, terdapat beban
tambahan dari praktikan sehingga indikator pada pressure gauge menjadi kurang
akurat dikarenakan beban praktikan juga terhitung pada pressure gauge. Pembulatan
nilai pada dial gauge dan pressure gauge menyebabkan terdapat perbedaan sedikit
antara nilai beban kritis pada percobaan dengan beban kritis pada perhitungan.
Pada tabel perbandingan antara nilai beban kritis secara perhitungan dan
percobaan, Nilai beban kritis pada tumpuan jepit-jepit antara percobaan dan
perhitungan berbeda jauh. Hal tersebut dapat disebabkan pada saat pemberian beban
terjadi kendala ketika indikator pada pressure gauge mencapai 1675 N. Pemberian
beban menjadi sulit menyebabkan indikator pada dial gauge dan pressure gauge
gampang bergeser.
VII. SIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh praktikan, maka:
 Nilai beban kritis yang dapat diterima oleh material bergantung dengan
jenis material, jenis tumpuan, dan panjang material.
 Ditinjau dari segi material baja, kuningan, tembaga, aluminium, dan fiber.
Tembaga dapat menerima beban terbesar dan kemampuan fiber dalam
menerima beban kritis merupakan yang terkecil.
 Ditinjau dari segi panjang, semakin pendek suatu material makan
kemampuan material tersebut dalam menerima beban kritis semakin besar.
 Ditinjau dari segi tumpuan, Tumpuan jepit-jepit dapat menerima beban
terbesar dan kemampuan tumpuan engsel-engsel dalam menerima beban
kritis merupakan yang terkecil.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


[1] Beer, F. P., Johnston, E. R.& DeWolf, J. T., 2006. Mechanics of Materials.
4th ed. New York: McGraw-Hill Education.
[2] Timoshenko, S.,D.H. Young., (1996). Mekanika Teknik.Terjemahan,
edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
IX. LAMPIRAN

Gambar 9.1.Gunt WP 120

Gambar 9.2.Dial Gauge