Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

JEJAS PERSALINAN PADA NEONATUS DAN BAYI


Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Dosen pengampu :

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Sherin Servina (P17324418052) Siti Aditia N (P17324418052)
Adinda Niken (P17324418052) Nabela Aulia (P17324418052)
Mely Fitriani (P17324418052) Cantika utami (P17324418052)
Nadia Dwi R (P17324418052) Mutiara Nandhini (P17324418052)
Nadia Septiani (P17324418052) Luthfiany Fadhila (P17324418052)

JALUM 2B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PRODI KEBIDANAN KARAWANG
2019/2020
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelahiran seorang bayi merupakan saat yang membahagiakan orang tua,
terutama bayi yang sehat. Bayi yang nantinya tumbuh menjadi anak dewasa melalui
proses yang panjang, dengan tidak mengesampingkan factor lingkungan keluarga.
Terpenuhinya kebutuhan dasar anak (asah-asih-asuh)oleh keluarga akan memberi
lingkungan yang terbaik bagi anak, sehingga tumbuh kembang anak menjadi
seoptimal mungkin. Tetapi tidak semua bayi lahir dalam keadaan sehat. Beberapa
bayi lahir dengan gangguan pada masa prenatal, natal, pascanatal. Keadaan ini akan
member pengaruh bagi tumbun kembang selanjutnya. Seperti mengalami salah
satunya trauma pada fleksus brachialis dan masi banyak lagi gangguan yang tidak
normal pada bayi.
Asuhan neonates dengan jejas ( trauma) persalinan sangat berpengaruh terhadap
trauma pada kelahiran. Trauma lahir adalah trauma mekanis yang disebabkan karena
persalinan/kelahiran. Pengertian yang lain tentang trauma lahir adalah trauma pada
bayi yang diterima dalam atau karenaproses kelahiran. Istilah trauma digunakan
untuk menunjukkan trauma mekanik dan anoksik, baik yang dapat dihindarikan
maupun yang dapat dihindarkan, yang didapat bayi pada masa persalinan dan
kelahiran. Trauma dapat terjadi sebagai akibat keterampilan atau perhatian medic
yang tidak pantas atau tidak memadai sama sekali, atau dapat terjadi meskipun telah
mendapat perawatan kebidanan yang terampil dan kompeten dan sama sekali tidak
ada kaitannya dengan tindakan atau sikap orang tua yang acuh tak acuh.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian
Jejas atau trauma kelahiran adalah kelahiran pada bayi baru lahir yang terjadi karena trauma
kelainan akibat tindakan, cara persalinan/gangguan yang diakibatkan oleh kelainan fisiologik
persalinan. Etiologi penyebabnya antara lain :
1. Makrosomia
2. Mal presentasi (bagian terendah janin yang tidak sesuai).
3. Presentasi ganda (bagian terendah janin lebih dari 1 bagian)
4. Disproporsi sephalo pelvik (ketidak sesuaian panggul dan kepala janin).
5. Kelahiran dan tindakan (proses persalinan yang tidak spontan tapi dengan
menggunakan alat).
6. Persalinan lama (persalian yang lebih dari 24 jam)
7. Persalinan presipiatus (persalinan dimana gejala kala 1 tidak dirasakan sakit dan
berakhir dengan lahirnya bayi)
8. Bayi kurang bulan (bayi lahir dengan usia kehamilan 22-26 minggu)
9. Distosia bahu(kemacetan bahu)
Jenis-Jenis Jejas kelahiran
1. Caput Succedaneum
Caput Succedaneum adalah pembengkakan pada suatu tempat dikepala karena
oedema yang disebabkan tekanan jalan lahir pada kepala.
Penyebabnya Caput Succedaneum timbul akibat tekanan yang keras pada kepala
ketika memasuki jalan lahir hingga terjadi pembendungan sirkulasi kapiler dan
limfe disertai pengeluaran cairan tubuh kejaringan extravasa. Benjolan kaput
berisi cairan serum dan sedikit bercampur darah.

a) Tanda-tanda Caput Succedaneum


Secara klinis benjolan ditemukan didaerah presentasi lahir, pada perabaa
teraba benjolan lunak, berbatas, tidak tegas, tidak berfluktuasi tetapi bersifat
oedema tekan. Benjolan terletak diluar periostem hingga dapat melampaui
sutura kulit pada permukaan benjolan sring berwarna kemerahan atau ungu
dan kadang-kadang ditemukan adanya bercak petekie atau ekimosis. Caput
Succedaneum dapat terlihat segera setelah bayi lahir
b) Penatalaksanaan Caput Succedaneum
Ukuran dan letak Caput Succedaneum dicatat dan area yang terkena
diamati sampai pembengkakan menghilang. Biasanya sekitar 3 hari dan tidak
dibutuhkan pengobatan. Tetapi orang tua harus diingatkan pada kondisi
tersebut adalah realtif umum dan sementara. Jika terjadi ekimosis yang luas,
dapat diverikan indikasi fototerapi untuk hiperbilirubinemia
c) Patofisiologi Caput Succedaneum
Kelainan ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan
lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran
cairan tubuh ke jaringan ekstra vaskuler. Benjolan caput ini berisi cairan serum dan
sering bercampur dengan sedikit darah. Benjolan dapat terjadi sebagai akibat
bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada suatu proses kelahiran
sebagai salah satu upaya bayi untuk mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat
melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan
terlihat segera setelah bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas terlihat pada bayi
premature dan akan hilang sendiri dalam satu sampai dua hari.
Menurut Sarwono Prawiraharjo dalam Ilmu Kebidanan 2002, proses
perjalanan penyakit caput succedaneum adalah sebagi berikut :
1. Pembengkakan yang terjadi pada kasus caput succadeneum merupakan
pembengkakan difus jaringan otak, yang dapat melampaui sutura garis
tengah.
2. Adanya edema dikepala terjadi akibat pembendungan sirkulasi kapiler dan
limfe disertai pengeluaran cairan tubuh. Benjolan biasanya ditemukan
didaerah presentasi lahir dan terletak periosteum hingga dapat melampaui
sutura.

2. Cephal Haematoma
Cephal Haematoma adalah penumpukan diantara tulang tengkorak dan membran
yang melapisinya.
a) Tanda-tanda Cephal Haematoma
Secara klinis benjolan Cephal Haematoma berbentuk benolan difus terbatas
tegas tidak melampaui sutura. Pada perabaan terasa adanya fluktuasi karena
merupakan sauatu timbunan darah yang letaknya di rongga subperiost. Cephal
Haematoma biasanya tampak didaerah tulang perietal, kadang-kadang
ditemukan di daerah tulang oksipital jarang sekali ditemukan ditulang frontal.
b) Penyebab Cephal Haematoma
Disebabkan perdarahan subperiostal tulang tengkorak dan terbatas tegas pada
tulang yang bersangkutan, tidak melapaui sutura-sutura sekitarnya. Tulang
tengkorak yang sering terkena adalah tulang temporal dan parietal. Ditemukan
pada 0,5-2% dari kelahiran hidup. Kelainan dapat terjadi pada persalinan
biasa. Tetapi lebih sering pada persalinan lama atau persalinan yang diakhiri
dengan ekstraksi cuman atau ekstraksi vacum.
c) Penatalaksanaan Cephal Haematoma
Kebanyakan Cephal Haematoma diserap dalam 2 minggu dengan 3 bulan
bergantung pada ukurannya. Cephal Haematoma ini dapa mulai mengalami
klasifikasi pada minggu ke 2. Cephal Haematoma tidak memrlukan
pengobatan.
d) Patofisiologi Cephalhematoma
1. Cephal hematoma terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi
tulang kepala ke jaringan poriosteum. Robeknya pembuluh darah ini dapat
terjadi pada persalinan lama. Akibat pembuluh darah ini timbul timbunan
darah di daerah sub periosteal yang dari luar terlihat benjolan.
2. Bagian kepala yang hematoma biasanya berwarna merah akibat adanya
penumpukan daerah yang perdarahan sub periosteum.(Menurut : FK.
UNPAD. 1985. ObstetriFisiologiBandung )

3. Fraktur Klafikula
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klafikula antara
lain: Bayi tidak daapt menggerakan lengan secara bebas pada sisi yang terkena,
krepitasi dan ketidak teraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna
pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme
otot sternokleidomastoideus yang disertai dngan hilangnya depresi supra
klavikular pada daerah fraktur.
Penyebabnya :
1. Trauma (benturan)
2. Tekanan atau stres yang terus menerus yang berlangsung lama
3. Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia

Tanda-tanda Fraktur Klafikula :


1. Klafikula membantu mengangkat bahu keatas, keluar dan kebelakang
thorax. Maka bila klafikula patah, pasien akan terlihat dalam posisi
melindungi bahu jatuh kebawah dan mengimobilisasi lengan untuk
menghindari gerakan bahu
2. Perbubahan warna jaringan yang terkena
3. Diformitas postur tubuh / bengkak
4. Abnormal mobilitas/ kurangnya gerakan
5. Menangis merintih ketika tulang digerakan
6. Penatalaksaan fraktur klafikula

Penanganan Fraktur Klafikula


1. Dengan cara redukasi tertutup dan imobilisasi. Modifikasi (gifs klafikula)
atau balutan berbentuk angka 8 atau strap klafikula dapat digunakan untuk
meredupsi fraktur ini. Bila digunakan strap klafikula, ketiak harus diberi
bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus
brakhialis dan arteri aksilaris.
2. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus dipantau. Frkatur 1/3 distal
klafikula tanpa pergeseran dan terpotongnya ligamen dapat ditangani
dengan sling dan pembatasan grakan lengan . Bila fraktur 1/3 distal
disertai dengan terputusnya ligamen korako klafikula akan terjadi
pergeseran, yang harus ditangani dengan reduksi dan fiksasi interna.

4. Fraktur Humerus
Fraktur humerus adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umunya
disebabkan oleh ruda paksa pada tulang humerus atau rusaknya kontinuitas tulang
yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang daapt
diserap pada tulang humerus.
a) Penyebab Fraktur Humerus
Penyebabnya adalah kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi
kepala/ sungsang dengan lengan menbumbung keatas.
b) Tanda-tanda Fraktur Humerus
Tanda-tanda Fraktur Humerus adalah sisi yang terkena tidak dapat digerakan
dan refleks moro sisi tersebut menghilang
c) Penatalaksanaan Fraktur Humerus
Beri bantalan kapas atau kasa antara lengan yang terkena dan dada dari ketiak
sampai siku. Balut lengan atas sampai dada dengan kasa pembalut fleksikan
siku 90° dan balu dengan kasa pembalut lain, balut lengan atas menyilang .
Yakinkan tali pusat tidak tertutup kasa pembalut. Imobilisasi lengan selama 2-
4 minggu
BAB III
PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Noordianti.2018.AsuhanKebidananNeonatus,Bayi,Balita,danAnakPraSekolah.Jln Palmerah
XIII N29B, Vila Gunung Buring Malang65138.Wineka Media