Anda di halaman 1dari 10

ISSN 2442-3041

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika


Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
© STKIP PGRI Banjarmasin

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PERSPEKTIF KEKINIAN

Marsigit
Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
marsigitina@yahoo.com

Abstrak: Pada Konaspi VIII di Jakarta, 13 Oktober 2016, terdapat pokok-pokok pemikiran penting
perihal revitalisasi pendidikan di Indonesia dewasa ini terkait dengan kondisi LPTK dan masa depan
guru. Kementerian PPN melalui Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pembangunan
Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan BAPPENAS (Subandi Sardjoko, 2016) menguraikan
bahwa penguatan lembaga pendidikan tinggi keguruan melalui revitalisasi LPTK dilakukan agar
dapat mengembangkan program akademik, untuk dapat melahirkan guru-guru yang berkualitas. UU
No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, dalam Bab Ketentuan Penutup Pasal 82 mengatur bahwa
Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik wajib memenuhi kualifikasi
akademik dan sertifikat pendidik paling lambat pada tahun 2015. Pesan pokok UU Guru dan Dosen
adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Sementara,
ditataran makro atau dunia, Jika kita menuju hilirnya Filsafat, kita akan menemukan Pendidikan
Berbasis Rasio atau Berbasis Kognitif, dengan sifat-sifat ikutan yang dapat diturunkan sebagai atau
berbentuk Cognitive-Based Education, Anti-Spiritualisme, Dunia Parsial dan Hedonisme. Dalam
era Kontemporer (AFTA), terdapat main-set yang cukup kuat dan signifikan bahwa semua
pengambil kebijakan Pendidikan di Indonesia akan mengimplementasikan Pendidikan Berbasis
Pasar, yang dengan sendirinya akan mencari hakekat kebenaran ada di dalam Pasar. Dengan metode
yang sama seperti sudah dilakukan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Berbasis Pasar
dengan sendirinya bersifat Anti-Spiritualisme, dengan sifat-sifat ikutan yang dapat diturunkan
sebagai Reduksionisme, Eksploitasi Vital, Kompetisi Mutlak, Egosentrik, Hegemoni, Dunia
Terpotong, Materialisme, Pragmatisme, Hedonisme, dan Pendidikan Laskar. Pendidikan Konseratif
Mutlak mempunyai sifat Reduksionisme, Eksploitasi Vital, Monokulturisme, Egosentrik, dan
Ethical Closed-ended Mutlak (Nilai Budaya Tertutup Mutlak).

Kata kunci: pendidikan matematika, perspektif kekinian.

dan belum berdampak pada peningkatan


kualitas guru. Kondisi guru : 24,3% guru
Posisi Guru (Matematika) di Tengah belum memenuhi kualifikasi kademik;
Revitalisasi LPTK 47,4% guru belum memiliki sertifikat
pendidik. Revitalisasi LTPK perlu diarahkan
Hasil studi oleh Bappenas pada pengembangan program akademik dan
menunjukkan bahwa sertifikasi yang pembaruan kurikulum, yang mendukung
dilakukan sampai saat ini baru berpengaruh upaya peningkatan empat kompetensi pokok
positif pada peningkatan kesejahteraan guru seperti diamanatkan UU No. 14/2005, yaitu:

132
133 Marsigit

(1) pedagogis, (2) kepribadian, (3) passion di bidang keguruan untuk


profesional, (4) sosial. LPTK semestinya dididik menjadi guru profesional.
tidak terobsesi dengan penerimaan 7. Perlu ada refleksi 16 tahun
mahasiswa dalam jumlah besar. Sebaliknya, transformasi IKIP menjadi
LPTK harus lebih mengutamakan kualitas Universitas: beban ganda sebagai
melalui perbaikan program akademik (e.g. LPTK yang mendidik calon guru dan
pembaruan & pengembangan kurikulum, peran sebagai lembaga pendidikan
program studi, etc.), peningkatan kualitas tinggi non-kependidikan;
tenaga akademik (dosen, peneliti), dan 8. Selama ini, kritik yang seringkali
perkuatan kelembagaan. Berikut kami muncul adalah LPTK belum
nukilkan pokok-pokok pemaparan tentang sepenuhnya mampu melahirkan guru-
revitalisasi pendidikan keguruan, oleh guru kompeten yang menguasai mata
Bappenas, sebagai berikut (Subandi pelajaran. Lulusan-lulusan LPTK
Sardjoko, 2016): dinilai mahir dalam hal pemahaman
dan penguasaan metodologi
1. Meningkatkan kapasitas LPTK untuk pengajaran (pedagogical method),
memperbaiki mutu pendidikan namun kurang canggih dalam
keguruan melalui PPG berasrama, penguasaan substansi bahan-ajar
yang tercermin pada peningkatan (subject knowledge);
kompetensi guru dalam subject 9. Kementerian Riset, Teknologi, dan
knowledge dan pedagogical Pendidikan Tinggi harus melakukan
knowledge. evaluasi menyeluruh terhadap kinerja
2. Meningkatkan profesionalisme, LPTK. Perlu dipastikan kemampuan
kualitas, dan akuntabilitas guru LPTK dalam melahirkan guru-guru
melalui program induksi dan praktik berkualitas, yang menguasai tiga
mengajar berbasis penelitian di kompetensi utama: subject content
sekolah, untuk memperbarui ilmu knowledge, pedagogical knowledge
pengetahuan, mendalami ilmu & teaching skills.
pedagogi, dan mengembangkan 10. Kemristekdikti harus mampu
metode pembelajaran. mengendalikan pertumbuhan LPTK
3. Reorientasi program pre-service swasta, termasuk jumlah mahasiswa
education di LPTK yang sesuai dengan mempertimbangkan
dengan tuntutan kebutuhan keseimbangan antara supply &
masyarakat akan guru-guru yang demand terkait guru.
memenuhi kualifikasi akademik dan 11. Meningkatan kualitas pendidikan
memiliki kompetensi tinggi dalam jabatan (in-service education)
(profesional). untuk memberi kesempatan bagi para
4. Memantapkan program Pendidikan guru dalam mengembangkan
Profesi Guru (PPG) berasrama untuk kemampuan profesional secara
memperbaiki model pendidikan berkelanjutan.
keguruan. 12. Pelatihan guru bidang mata pelajaran
5. Seiring dengan semakin harus dirancang bukan saja untuk
meningkatnya minat lulusan Sekolah melakukan pendalaman materi-ajar,
Menengah untuk menempuh tetapi juga untuk meningkatkan
pendidikan tinggi di universitas keterampilan mengajar.
LPTK, perlu dilakukan seleksi calon 13. Peningkatan kualitas guru hanya bisa
mahasiswa yang ketat untuk ditingkatkan melalui program
menyaring calon-calon guru yang continuous professional
berkualitas. development, sehingga para guru
6. Seleksi penerimaan calon mahasiswa tidak pernah berhenti berinovasi
LPTK harus ketat dan menyaring dalam mengembangkan proses
mereka yang benar-benar punya pengajaran dan pembelajaran.

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika dalam Perspektif
Kekinian 134

14. Revitalisasi LPTK yang bertujuan 13. Be familiar with the central scientific,
untuk meningkatkan kualitas theoretical and ethical questions of
pendidikan keguruan harus mulai mentoring
dilakukan pada tahun pertama 14. Be able to use various interactive
pelaksanaan RPJMN 2015-2019; mentoring practice, including media
15. Pengembangan model pendidikan and ICT
guru berasrama melalui Pendidikan 15. Carry out a mentoring process that
Profesi Guru (PPG) untuk melahirkan leads to professional growth towards
guru-guru berkualitas; full teacher accreditation.
16. Penetapan standar lembaga 16. Motivation and commitment of the
pendidikan keguruan dan perkuatan applicant to the field of education and
LPTK (e.g. SDM, sarpras, teaching teaching
school, anggaran); 17. Potential of the applicant to
17. Penataan sistem penerimaan successfully meet the learning aims
mahasiswa calon guru di universitas and complete the studies
LPTK yang selektif; 18. Interaction, communication,
18. Rancangan model pengembangan cooperation, and problem solving
profesi berkelanjutan untuk skills.
meningkatkan kompetensi & jaminan 19. A dialogue between teacher and
pengembangan karir profesional learner
guru; 20. Mutual respect within the learner-
19. Kebutuhan anggaran dan teacher relationship
pemanfaatannya untuk mendukung 21. A reflective approach to teaching and
revitalisasi LPTK. learning process

Sementara Minna Mäkihonko (2016)


menyatakan kedudukan sentral guru dalam Pengembangan Kompetensi Guru
revitalisasi LPTK dengan pemahaman- Matematika Dalam Kerangka Kurikulum
pemahaman akan pentingnya unsur-unsur Nasional
pendidikan inovatif meliputi:
Seperti diketahui bahwa secara
eksplisit pendekatan Saintifik
1. Student centered approach, direkomendasikan untuk metode
2. Evidence-based teaching practices pembelajaran (dengan didukung atau
3. Subject specific pedagogy dikombinasikan dengan metode lain yang
4. Addressing the diversity in selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013.
classrooms Sebelum diuraikan tentang implementasi dan
5. Supporting students 'wellbeing and contoh-contohnya, maka di sini akan
motivation dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi
6. Mentoring teaching practice pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik.
7. Active rather than passive learning Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak:
8. Deep learning and understanding a. mengamati; b. menanya; c. mengumpulkan
9. Address diversity of learning informasi; d. mengasosiasi; dan e.
10. Responsibility and accountability on mengkomunikasikan. Pembelajaran dengan
the part of the student pendekatan Saintifik tetaplah berbasis
11. Assume responsibility in the Kompetensi sesuai dengan jiwa dan
supervision and tutoring of student semangat Kurikulum 2013. Fakta atau
teachers during their internship fenomena merupakan objek keilmuan yang
12. Act as leading educational digunakan untuk membangun (Ilmu)
institutions in the provision of Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik
teaching and learning yang melibatkan unsur logika dan
pengalaman. Segala macam kira-kira,

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
135 Marsigit

khayalan, legenda, atau dongeng dapat Mengembangkan Kegiatan Diskusi


berfungsi untuk memperkuat landasan Kelompok, karena hakekat Ilmu bagi siswa
pikiran dan pengalaman. Pendekatan SD dan SMP adalah Kegiatan Diskusi, d.
Saintifik dapat diselenggarakan dalam Mengembangkan Skema Pencapaian
kerangka Konstruksivisme, yaitu memberi Ketrampilan Hidup (lebih tinggi dari
kesempatan peran siswa untuk membangun Kompetensi), e. Mengembangkan LKS yang
pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi memfasilitasi siswa agar memperoleh
guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon Ketrampilan Hidup (LKS harus dibuat
siswa” bertentangan dengan semangat sendiri oleh guru dan bukan dari membeli;
Saintisme yaitu kemandirian untuk LKS bukan sekedar kumpulan soal), f.
menemukan pengetahuannya. Pemikiran Mengembangkan kegiatan assessment
subjektif diperlukan untuk memperkokoh (bukan sekedar penilaian), berupa Portfolio
karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. dan Authentics Assessment, g, .
Penalaran yang menyimpang perlu disadari Mengembangkan Kegiatan Refleksi Siswa
dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk untuk menyampaikan dan menjelaskan
memperkokoh konsep yang telah kesimpulan diskusi kelompoknya, h.
dibangunnya. Mengembangkan dan mendorong agar Siswa
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah sendiri yang memperoleh Kesimpulan, i.
tidak serta merta dapat diturunkan dengan Mengembangkan Media atau Alat Peraga
menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah yang menunjang, j. Menembangkan Metode
bersintak (sesuai dengan referensinya), maka Pembelajaran yang Dinamis, Kreatif,
sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid Fleksibel, dan Kontekstual.
identik dengan sintak-sintaknya. Untuk
memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek
didik melakukan hal-hal yang dapat Pengembangan Model Pembelajaran
dikategorikan sebagai non ilmiah, misal Matematika
kekeliruan mengobservasi, dan mengambil
kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar 1. Pengembangan Model
mungkin terjadi walaupun siswa sudah Dari uraian yang sudah diberikan,
menggunakan sintak Saintifik. Peran intuisi dapat ditarik pelajaran bahwa untuk dapat
sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir mengembangkan suatu pembelajaran
maupun sebagai Intuisi Pengalaman. Akal matematika, seorang guru dituntut agar
sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya memahami dasar-dasar atau filosofi
kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir. pendidikan serta teori-teori yang
Kegiatan coba-coba secara ontologis menyertainya.
bermakna sebagai kegiatan interaksi antara
pikiran dan pengalaman, antara logika dan
2. Pengembangan Pembelajaran
faktanya, antara analitik dan sintetik, dan
Matematika Melalui Learning
antara a priori dan a posteriori. Berpikir kritis
Trajectory
adalah berpikir reflektif sampai pada
kemampuan mengambil keputusan secara Skema pencapaian kompetensi
benar. Fenomenologi sebagai kerangka belajar matematika dipengaruhi oleh
filosofis pendekatan Saintifik. Hermenitika kesadaran guru, sekolah atau sistem
sebagai pendekatan epistemologi pendekatan pendidikan tentang adanya bermacam-
Saintifik. macam paradigma pendidikan dan
Untuk mendukung palaksanaan politikpendidikan yang melatar belakangi
Kurikulum 2013, guru perlu praktik kependidikannya. Karakteristik
mengembangkan 10 (sepuluh) langkah: a. skema pencapaian kompetensi belajar
Mengembangkan RPP yang memfasilitasi matematika yang dikembangkan,
siswa untuk membangun hidup (ilmu)-Lile menggambarkan keseluruhan sistem dan
Skill, b. Mengembangkan Apersepsi sebagai dunia pendidikan. Ernest P. (1995)
kegiatan siswa dan bukan kegiatan guru, c. menerangkan bahwa perbedaan politik dan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika dalam Perspektif
Kekinian 136

ideologi pendidikan akan mempengaruhi pandangan terakhir dikategorikan sebagai


kepada tujuan pendidikan, teori-teori berada di wilayah kontek pendidikan inovatif
mengajar dan belajar, pengembangan sumber yaitu Progressive dan Public Educator. Baik
mengajar dan belajar, pengembangan media secara formal maupun substansial, praktek
dan alat peraga, serta pengembangan kependidikan di Indonesia dapat
penilaian pembelajaran. Mengingat hal dikarakterisasi sebagai lebih dominan
tersebut di atas, maka sebelum bersifat konvensional atau tradisional,
mengembangkan skema pencapaian walaupun mempunyai cita-cita menuju
kompetensi belajar, perlu terlebih dulu kependidikan inovatif yaitu dengan
dilakukan karakterisasi konteks ditetapkannya Pancasila sebagai landasan
pendidikannya; dalam hal ini, konteks pendidikan dalam wujud Demokrasi
pendidikan matematika Indonesia yang Pancasila.
secara formal digariskan dengan Kurikulum Mengingat uraian di atas maka dapat
2013 dan secara substansial merupakan dipahami bahwa Skema Pencapaian
sejarah kebiasaan praktek-praktek Kompetensi Belajar Matematika yang akan
kependidikan. dikembangkan mempunyai dua macam

landasan yaitu: 1. Secara formal


Ditinjau dari pandangan tentang berlandaskan konteks Kurikulum 2013 dan
hakikat matematika, Ernest P. (ibid) secara substansial berlandaskan tradisi atau
membedakan tiga kelompok pertama sebagai kebiasaan, 2. Secara normatif berdasarkan
konteks pendidikan yang berasumsi referensi universal dan secara substansial
matematika sebagai Struktur Pengetahuan, berdasarkan pada hakekat komponen
Struktur Kebenaran, dan Bangunan Ilmu; dan pembelajaran meliputi hakekat matematika,
dua kelompok kedua yang memandang hakekat belajar matematika, hakekat metode
matematika sebagai Kreativitas Berpikir dan pembelajaran, hakekat sumber belajar dan
Kegiatan Sosial. Tiga pandangan pertama hakekat penilaian. NCTM (2014)
dikategorikan sebagai berada di dalam menggariskan terdapat dua macam
konteks pendidikan yang bersifat kompetensi matematika di sekolah yaitu
konvensional atau tradisional, meliputi Kompetensi Isi Matematika dan Kompetensi
Technological Pragmatism, Industrial Proses Matematika. Kompetensi Isi
Trainer, dan Old Humanism. Sedangkan dua Matematika meliputi Bilangan dan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
137 Marsigit

Operasinya, Aljabar, Geometri, Pengukuran, sendiri. Komunikasi Matematika merupakan


Analisis Data dan Probabilitas. Sedangkan kegiatan untuk tukar menukar ide atau
Kompetensi Proses Matematika meliputi gagasan agar siswa dapat melakukan
Pemecahan Masalah, Penalaran dan Bukti, klarifikasi dan pemahaman yang lebih
Komunikasi Matematika, Koneksi mendalam. Komunikasi Matematika dapat
Matematika dan Representasi Matematika. dilakukan dengan cara menulis, menjelaskan
Pada Bilangan dan Operasinya, siswa secara lisan, atau menggunakan simbol atau
diharap mampu memahami pengertian gambar matematika. Pada Koneksi
bilangan, melakukan operasi dan perhitungan Matematika, siswa diharap mampu
menggunakan bilangan. Untuk siswa tingkat menguhubungkan satu kosep dengan konsep
SMP, diharap mampu menguasai bilangan yang lain untuk memperoleh struktur
bulat dan juga bilangan pecah dan melakukan matematika yang lebih lengkap atau
operasi dengan berbagai cara serta dapat komprehensif. Pada Representasi, siswa
menggunakan alat bantu seperti Kalkulator. diharapkan mampu menyajikan matematika
Pada Aljabar, siswa diharap mampu ke dalam berbagai cara misalnya gambar,
melakukan Penalaran Aljabar dan melakukan benda konkrit, tabel, grafik, bilangan atau
investigasi adanya hubungan antara variabel huruf-huruf.
dalam bentuk persamaan atau Learning Trajectory adalah alur
perttidaksamaan. Pada Geometri, siswa berpikir siswa tentang matematika,
diharap mampu mengidentifikasi sifat-sifat perkembangan dan bentuknya. Dikarenakan
bangun geometri, memahami hubungannya, setiap siswa mempunyai potensi dan sifat
melakukan visualisasi, penalaran bidang dan yang berbeda dalam memikirkan
keruangan, model-model geometri serta matematika, maka learning trajectory
model-model geometri untuk memecahkan bersifat personal dan kontekstual. Dari sifat
persoalan matematika. Pada Pengukuran, personal dan kontekstual tersebut, maka
diharap siswa memahami atribut, satuan, dapat diusahakan untuk mencari pola-pola
sistem pengukuran, proses mengukur, teknik pada komunitas atau kelompok siswa pada
mengukur, dan dapat menggunakan alat dan suatu konteks pembelajaran matematika
rumus untuk menentukan hasil pengukuran. tertentu. Mengingat hal tersebut maka
Pada Analisis Data dan Probabilitas, siswa diaungkapkannya learning trajectory akan
diharap mengamati, menanya, membawa manfaat yang besar bagi guru-
mengumpulkan, mengorganisasi, dan guru matematika. Clements & Sarama, 2009,
menyajikan data-data untuk menjawab p. 2 dalam Dian Armanto & Max Stephens
pertanyaan-pertanyaan. Siswa juga diharap (2011) menyatakan :” In learning
mampu menggunakan langkah-langkah mathematics, students follow natural
Statistika untuk menganalisis data, mengolah development progressions in learning and
dan menerjemahkan artinya. development. They follow development
Pada Pemecahan Masalah, siswa progressions in learning mathematical ideas
diharap merumuskan persoalan ke dalam and skills in their own way”
kalimat matematika, dan memecahkannya Untuk dapat mengungkap learning
menggunakan berbagai metode matematika. trajectory siswa, maka guru, dalam
Siswa diharap dapat menerapkan suatu mengajar, perlu melakukan kegiatan
metode yang telah digunakan kasus lain observasi belajar siswa dan menafsirkannya
untuk memecahkan masalah yang sama. sesuai dengan teori yang ada. Dapat dipahami
Kegiatan pemecahan masalah melibatkan bahwa learning trajectory siswa dipengaruhi
cara berpikir, rasa ingin tahu, rasa percaya oleh asumsi dasar tentang hakekat dan
diri baik di dalam maupun di luar kelas. Pada kompetensi matematika sekolah, baik
Penalaran Matematika dan Bukti, siswa dapat kompetensi konten matematika maupun
menganalisis pola-pola yang ada, struktur- kompetensi proses matematika. Teori belajar
struktur, dan ketentuan atau syarat-syarat yang sesuai dengan pengembangan learning
baik yang ada dalam fenomena sehari-hari trajectory adalah teori belajar Konstruktivis
maupun yang ada dalam matematika itu dan Saintifik (Simon, 1995: ibid). Secara

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika dalam Perspektif
Kekinian 138

formal, learning trajectory meliputi tiga sembilan di Candi untuk membatu


komponen yaitu : Kompetensi Matematika Borobudur. mempelajari
konsep bangun
Sekolah; Pengembangan Alur Berpikir siswa datar belah
berdasar kompetensi yang ditetapkan; serta, ketupat melalui
aktivitas dan tugas belajar sesuai dengan masalah nyata.
pengembangan learning trajectory. 2. Mencari sifat –
sifat bangun datar
belah ketupat
3. Pengembangan Pembelajaran dengan
Matematika Berbasis menggunakan
masalah nyata.
Etnomatematika
3. Mencari luas
Shirley (2014) berpandangan bahwa permukaan dan
sekarang ini bidang etnomatematika, yaitu volume bagian
badan stupa
matematika yang tumbuh dan berkembang dengan
dalam masyarakat dan sesuai dengan pendekatan luas
kebudayaan setempat, dapat digunakan permukaan dan
sebagai pusat proses pembelajaran dan volume tabung.
metode pengajaran, walaupun masih relatif 4. Mencari luas
bangun gabungan
baru dalam dunia pendidikan. dari bangun datar
Etnomatematika membutuhkan interpretasi trapesium
yang dinamis. Sebagaimana dikemukakan maupun persegi
oleh D'Ambrosio (1987) bahwa "The term panjang, belah
requires a dynamic interpretation because it ketupat dan
segitiga.
describes concepts that are themselves 5. Mencari jumlah
neither rigid nor singular-namely, ethno and batu yang
mathematics". dibutuhkan untuk
membangun
bagian badan
a. Etnomatematika Konteks Candi stupa dengan
Prambanan (M Kamaludin, 2014) menggunakan
luas permukaan
Dari hasil observasi lapangan batu bagian luar.
ethnomatematika di Candi Prambanan pada
hari Jumat, 24 April 2015 diperoleh data –
data dalam bentuk foto dokumentasi c. Etnomatematika Konteks Kraton
mengenai bagian – bagian Candi Prambanan Yogyakarta (Sumbaji, dkk, 2014)
yang terkait dengan ethnomatematika, Artefak Aspek Matematika
sebagai berikut: Atap dalam arsitektur Silabus SMP tentang
Foto Benda Identifikasi Benda keraton bangun datar
Nama Benda: Materi Pokok : Segitiga
Candi Brahma
Lokasi Benda:
Di pelataran utama
Candi Prambanan
Bahan: Batu Identifikasi:
1. Lokasi Benda: 1. Keliling dan Luas
Lingkungan Segitiga
b. Etnomatematika Konteks Candi Keraton  Keliling segitiga
Yogyakarta K=a+b+c
Borobudur (Dyah Wahyu Utami, dkk)
2. Bentuk:  Luas segitiga
Artefak Yang AspekMatematikaS Segitiga L=½xaxt
Mengandung Unsur ekolah Yang 3. Bahan: kayu 2. Perbandingan dan
Matematis DapatDipelajari Skala
Bagian badan dari stupa 1. Bentuk lubang – KD: 080312
pada pelataran delapan dan lubang pada stupa Memahami konsep
dapat digunakan perbandingan dengan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
139 Marsigit

menggunakan tabel, matematikanya melalui berbagai fasilitas dan


grafik, dan persamaan sumber belajar. Guru yang mempunyai peran
080402 Menggunakan
konsep perbandingan
penting, dalam setiap usaha inovasi
untuk menyelesaikan pendidikan seyogyanya dalam posisi atau
masalah nyata dengan memeroleh keadaan sebagai berikut:
menggunakan tabel,
grafik, dan persamaan 1. Guru merasa memperoleh pengetahuan
baru tentang pembelajaran matematika
2. Guru merasa lebih mampu memfasilitasi
d. Etnomatematika Konteks Suku Dayak belajar siswa yang mempunyai beraneka
(Areani Eka Purti, 2014) ragam
Perisai (Tameng) 3. Guru merasa senang karena dapat
Perisai ini terbuat dari kayu mengembangkan pembelajaran
yang sudah dipilih kayu matematika yang inovatif.
yang diambil adalah kayu
yang tidak mudah rapuh
4. Guru merasa lebih termotivasi untuk
dan pecah, sehingga ketika mengembangkan berbagai media
digunakan tidak mudah pembelajaran.
retak atau patah. Tameng 5. Guru mampu mengembangkan dan
ini digunakan saat akan melaksanakan pembelajaran matematika
berperang sebagai
pelindung. Juga biasa
berbasis etnomatematika, memerlukan
digunakan saat menari waktu yang lebih lama dan energi yang
khususnya tarian perang. lebih banyak.
6. Guru mempunyai kesempatan untuk
Etnomatematik menggambarkan menguji benda-benda konkret dan
semua hal yang membentuk identitas budaya obyek-obyek lingkungan sekitar dapat
suatu kelompok, yaitu bahasa, kode, nilai- digunakan sebagai konteks
nilai, jargon, keyakinan, makanan dan pembelajaran matematika dalam
pakaian, kebiasaan, dan sifat-sifat fisik. membangun keterkaitan matematika
Sedangkan matematika mencakup melalui interaksi sosial.
pandangan yang luas mengenai aritmetika, 7. Guru memperoleh kesempatan untuk
mengklasifikasikan, mengurutkan, menggali dan merefleksikan konsep-
menyimpulkan, dan modeling. konsep pembelajaran matematika
Etnomatematika berfungsi untuk realistik.
mengekspresikan hubungan antara budaya 8. Guru memperoleh kesempatan untuk
dan matematika. Dengan demikian, bertukar pengalaman dengan guru lain
etnomatematika adalah suatu pendekatan tentang pengembangan pembelajaran
pengembangan pendidikan yang digunakan matematika realistik.
untuk mengkonstruksi bagaimana 9. Guru memperoleh kesempatan untuk
matematika diadaptasi dari sebuah budaya merefleksikan persiapan proses belajar
dan selanjutnya digunakan dalam kegiatan mengajar (PBM) matematika di sekolah
pembelajaran matematika. melalui berbagai metode dan
pendekatan.
10. Guru memperoleh kesempatan untuk
Kesimpulan merefleksikan pengembangan kegiatan
asesmen untuk proses belajar mengajar
Pengembangan Pendidikan (PBM) matematika di sekolah melalui
Matematika kekinian diupayakan sedemikian berbagai macam metode dan
sehingga pokok persoalan tetaplah apa yang pendekatan.
dikerjakan siswa di dalam kelas, di mana
guru mempunyai fungsi utama sebagai
fasilitator atau peran melayani kebutuhan
siswa untuk belajar matematika, yaitu
membangun (konstruksi) pengetahuan

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
Pembelajaran Matematika dalam Perspektif
Kekinian 140

Daftar Pustaka Marsigit, 2013, Karakter Islam Dalam


Sejarah Pergulatan Memperebutkan
Armando, D., and Stephen M., 2011, Kekuasaan, Filsafat, Ideologi,
“Developing Learning Trajectory For Ilmu(Matematika), Dan Pendidikan,
Enhancing Students’ Relational Makalah Dipresentasikan pada Kuliah
Thinking : International Seminar and Umum (Studium Generale) untuk
the Fourth National Conference on Mahasiswa Baru Tahun Akademik pada
Mathematics Education 2011 Jurusan Pendidikan Matematika, FITK
Department of Mathematics Education, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Yogyakarta State
UniversityYogyakarta, July 21-23 2011. Marsigit, 2013, Pergulatan Memperebutkan
Filsafat, Ideologi Dan Paradigma:
D’Ambrosio, U. 1991. ‘Ethnomathematics Sebuah Kesadaran untuk Lembaga
and its place in the history and Pendidikan Ke Islaman dalam rangka
pedagogy of mathematics’, in M. Harris ikut Membangun Karakter Bangsa
(ed.). Schools, Mathematics and Work. (Melalui KKNI dan Kurikulum 2013?),
The Falmer Press. London. pp. 15–25. Makalah dimaksudkan sebagai
Pengantar Presentasi pada Kegiatan
D’Ambrosio, U.: 1994. ‘Cultural framing of Seminar dan Workshop dengan Tema
mathematics teaching and learning’, in Membangun Karakter Bangsa dengan
R. Biehler, R.W. Scholz, R. Sträßer and Pendidikan Melalui Kurikulum 2013
B. Winklelmann (eds.). Didactics of yang diselenggarakan oleh Fakultas
Mathematics as a Scientific Discipline. Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Kluwer Academic Publishers. Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Dordrecht. pp. 443–455.
Marsigit, 2013, Nilai Strategis Kurikulum
Ebbutt, S and Straker, A. 1995. Children and 2013 Untuk Membangun Karakter
Mathematics: A Handbook for Teacher, (Islami) Bangsa Serta Tantangan Dan
London: Collins Educational. Harapan Bagi Pendidikan Matematika
Di Indonesia, Makalah dipresentasikan
Gardner P. and Rix C., 2012, “Learning pada Seminar Nasional dan Workshop
Trajectories of Primary Student Pendidikan Matematika IAIN Syekh
Teachers; a Cross-Cultural Nurjati Cirebon.
Comparison”, Journal of Social
Sciences Volume 8, Issue 2 DOI : Marsigit dan Rosnawati, 2014,
10.3844/jssp.2012.135.142. Pengembangan Learning Trajectory
dalam Pembelajaran matematika,
Marsigit, 2013, Urgensi Pemikiran Dalam FMIPA UNY.
Pendidikan Karakter Untuk
Membentuk Karakter, Makalah Marsigit, dkk, 2013, Pengembangan
dipresentasikan pada Seminar dan Pembelajaran Matematika Berbasis
Lokakarya Kurikulum Fakultas Agama Ethnomatematika, FMIPA UNY.
Karakter dan Pemikiran UNPAB
Medan McLaren, P., 2004, Critical Theory in
Education: Power, Politics and
Marsigit, 2013, Tantangan Dan Harapan Liberation, Graduate School of
Kurikulum 2013 Bagi Pendidikan Education and Information Studies: Los
Matematika, Makalah dipresentasikan Angeles.
pada Seminar Nasional Matematika dan
Pendidikan Matematika, Universitas Rochel, C.R and Gelman G., 2005,
PGRI Yogyakarta. “Mathematical Cognition” in In K
Holyoak & R. Morrison (Eds), The

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016
141 Marsigit

Cambridge handbook of thinking and


reasoning: Cambridge University
Press.

Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 2, No. 3, September - Desember 2016