Anda di halaman 1dari 129

BAHAN AJAR

Mata Kuliah SKS Semester Program Studi Disusun oleh

: DASAR-DASAR INFORMASI : 2 : II (DUA) : Kearsipan : Dra. Sri Ati, M. Si. Prof. Dr. Nurdien H. Kistanto,MA Amin Taufiq K., S.Sos.

FAKULTAS SOSIAL POLITIK UNIVERSITAS TEBUKA JAKARTA 2012

0

Daftar Isi

Tinjauan Mata kuliah …………………………………………………………

Modul 1 :

latar belakang Ilmu informasi

6

Konsep Informasi dan hubungannya dengan Pengetahuan; serta

9

Kegiatan Belajar 1:

Konsep Data, Informasi dan Karakteristiknya , serta hubungannya dengan

Pengetahuan ……………………………………………………………

10

Latihan ………………………………………………………………………

22

Rangkuman …………………………………………………………………

23

Tes Formatif 1………………………………………………………………

24

Kegiatan Belajar 2:

Latar belakang Ilmu Informasi dan ruang lingkup Ilmu Informasi ………

27

Latihan ………………………………………………………………………

38

Rangkuman …………………………………………………………………

39

Tes Formatif 2 …………………………………………………………………

40

Kunci jawaban Test Formatif ………………………………………………

43

Daftar Pustaka ………………………………………………………………

44

Modul 2 : Pengertian Ilmu Informasi : dan hubungan dengan ilmu-ilmu

lain

46

Kegiatan Belajar 1:

Pengertian Ilmu informasi, Ilmu Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi

 

47

Latihan ………………………………………………………………

…………

53

Rangkuman……………………………………………………………………… 54 Test Formatif 1……………………………………………………………………. 55

1

Kegiatan Belajar 2:

Hubungan Ilmu informasi dengan Ilmu-ilmu Perpustakaan, Dokumentasi dan Kearsipan serta sub bidang ilmu-ilmu lain ……………………………59 Latihan ……………………………………………………………………………. 76 Rangkuman ……………………………………………………………………… 77

Test Formatif 2 ………………………………………………………………….

78

Kunci jawaban Test Formatif

.

80

…………………………………………… Daftar Pustaka ……………………………………………………………

81

Senarai

81

Modul III : Kebutuhan

informasi,

Temu

balik

informasi

serta

Komunikasi Informasi

83

Kegiatan Belajar 1:

Kebutuhan Informasi dan Temu balik informasi

Latihan ……………………………………………………………………………… Rangkuman ………………………………………………………………………… Test Formatif 1 ……………………………………………………………………

……………… 84

Kegiatan Belajar 2:

Komunikasi informasi dalam aspek budaya dan social Latihan ……………………………………………………………………………… Rangkuman ………………………………………………………………………… Test Formatif 2 …………………………………………………………………… Kunci jawaban Test Formatif ……………………………………………… Daftar Pustaka ………………………………………………………………

2

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata Kuliah Pengantar Ilmu Informasi merupakan mata kuliah wajib

bagi mahasiswa UT Program Studi Perpustakaan dan Kearsipan

Kuliah Pengantar Ilmu Informasi merupakan mata kuliah pengantar yang akan memberikan landasan untuk menempuh mata kuliah di semester yang akan datang di Program Studi Kearsipan dan Perpustakaan terkait, dengan kompetensi pengelolaan informasibagi mahasiswa. Mata kuliah ini menjadi pengantar untuk memahami dasar keilmuan dalam bidang informasi dan manajemen informasi, baik dari segi teoritis maupun pengembangan ke ranah praktis. Buku Materi Pokok ASIP 4204 Dasar-dasar Informasi terdiri dari 6 modul, yang mencakup materi untuk 2 sks. Setiap modul terdiri dari pokok – pokok bahasan yang memiliki keterhubungan dan merupakan kesatuan dalam memahami dan melatih kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep dasar ilmu informasi (Information Science). Pada modul pertama, dijelaskan tentang Konsep dasar ilnformasi yang meliputi asal informasi, dan hubungannya dengan pengetahuan, jenis-jenis dan nilai-nilai informasi; serta latar belakang Ilmu Informasi yang berkembang dari perubahan paradima informasi. Modul kedua membahas pengertian Ilmu Informasi dan hubungannya dengan Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi, Ilmu komputer dan Telekomunikasi dan Ilmu Manajemen dan Sistem; Serta perbedaannya dengan ilmu-ilmu tsb.

Mata

Pada

modul

ketiga,

dibahas

hubungan

ilmu

informasi

dengan

munculnya kebutuhan informasi dan Temu Balik informasi, serta komunikasi

informasi.

3

Modul keempat, membahas pengertian Sistem Informasi, Jaringan Informasi, dan Manajemen Informasi, sebagai ilmu yang membahas informasi. Kemudian modul ke lima membahas dasar-dasar Teknologi informasi, dan dampak sosial yang timbul akibat adanya kemjuan teknologi informasi. Pada modul ke enam membahas riwayat Masyarakat Informasi dan Knowledge Management dan kKnowledge Sharing Apabila mahasiswa menguasai mata kuliah ini akan dapat dengan mudah memahami dan menerapkan konsep dasar keilmuan informasi dan penerapannya dalam mata kuliah lain di semester berikutnya mencakup bidang yang terkait dengan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Mata kuliah ini mendukung pencapaian kompetensi dalam sikap dan perilaku berkarya dalam struktur kurikulum Program Studi Kearsipan Fakultas Sosial dan Politik. Setelah menyelesaikan perkuliahan ini, peserta kuliah akan mampu mendeskripsikan berbagai konsep dasar ilmu informasi dan dimensi- dimensi yang melandasinya, serta pengembangannya ke depan hubungannya dengan teknologi informasi dan masyarakat informasi tanggap terhadap lingkungan.

4

Peta kompetensi

Dasar-dasar Informasi (ASIP 4204) 2 sks

Mahasiswa mampu memahami dasar terbentuknya Masyarakat Informasi (Information Society), serta kaitannya dengan lingkungan dan teknologi

MODUL VI

serta kaitannya dengan lingkungan dan teknologi MODUL VI Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teknologi informasi dan

Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teknologi informasi dan temu balik informasi baik cetak maupun dalam lingkungan elektronik MODUL V

baik cetak maupun dalam lingkungan elektronik MODUL V Mahasiswa mampu memahami Sistem informasi, jaringan

Mahasiswa mampu memahami Sistem informasi, jaringan informasi dan manajemen informasi

MODUL IV

jaringan informasi dan manajemen informasi MODUL IV Mahasiswa mampu mendeskripsikan hubungan Ilmu Informasi
Mahasiswa mampu mendeskripsikan hubungan Ilmu Informasi dengan kebutuhan informasi dan temu Balik Informasi serta
Mahasiswa mampu mendeskripsikan
hubungan Ilmu Informasi dengan kebutuhan
informasi dan temu Balik Informasi
serta komunikasi informasi.
MODUL III
temu Balik Informasi serta komunikasi informasi. MODUL III Mahasiswa mampu menjelaskan latar belakang ilmu informasi

Mahasiswa mampu menjelaskan latar belakang ilmu informasi dan menjelaskan hubungan dan perbedaan Ilmu Informasi dengan ilmu - ilmu lain. MODUL II

perbedaan Ilmu Informasi dengan ilmu - ilmu lain. MODUL II Mahasiswa mampu menjelaskan konsep informasi, dan.

MODUL1

Pengantar konsep Informasi, data dan pengetahuan.

Pendahuluan Individu maupun manusia berada dalam lingkungan yang berkaitan dengan informasi. Informasi meliputi sebagian besar aktivitas manusia, karena pada hakikatnya individu merupakan pencipta informasi. Istilah informasi menjadi lazim diketahui oleh individu meskipun terkadang orang tidak pernah mencoba mendefinisikan istilah tersebut. Individu sering menghubungkan informasi dalam konteks ilmu pengetahuan. lmu pengetahuan memerlukan sekaligus menghasilkan informasi. Ketika ilmu pengetahuan semakin berkembang semakin banyak informasi yang dibutuhkan dan dengan sendirinya semakin banyak pula informasi yang dihasilkan. Proses ini yang membuat informasi yang tersedia menjadi melimpah. Oleh karena itu, setelah mempelajari modul 1 ini, anda diharapkan dapat menjelaskan :

1 . Konsep dasar informasi dan hubungnnya dengan pengetahuan, 2. Latar belakang Ilmu Informasi Secara lebih rinci, setelah mempelajar Modul 1, Anda diharapkan mampu menjelaskan kembali tentang :

1. fakta, data dan informasi;

2. berbagai definisi informasi

3. jenis-jenis informasi

4. nilai-nilai informasi

5. hubungan informasi dengan pengetahuan

6. kemunculan Ilmu Informasi

Kegiatan belajar dalam modul ini dapat diuraikan sebagai berikut:

6

1. Kegiatan Belajar 1 menguraikan berbagai definisi tentang data dan infomasi, nilai-nilai informasi, jenis-jenis informasi, dan hubungan informasi dengan data dan pengetahuan serta sistem informasi. 2. Kegiatan Belajar 2 menguraikan latar belakangi munculnya Ilmu informasi dan paradigma yang berkembang sekarang.

7

KEGIATAN BELAJAR 1

KONSEP INFORMASI: Hubungan Data, Informasi dan Pengetahuan.

Tidak mudah untuk mendefinisikan konsep informasi karena istilah ini mempunyai bermacam aspek, ciri, dan manfaat yang satu dengan yang lainnya berbeda. Definisi yang satu dengan yang lain terkadang berlainan maknanya karena mempunyai penekanan dan versi yang berbeda. Sejalan dengan perkembangan, khususnya di bidang teknologi informasi, maka konsep informasi juga mengalami perubahan-perubahan sesuai situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Menurut Saracevic definisi-definisi tentang informasi bukanlah klasifikasi mutlak tapi merupakan rangkaian perjalanan informasi (information journey) yang kerumitannya semakin bertambah

(Rivalina, 2004: 203).

Berbicara tentang informasi akan selalu berhubungan

dengan data. Oleh karena itu terlebih dulu perlu kita bahas pengertian data.

A. Pengertian Data Menurut Pendit, (1992) data adalah hasil observasi langsung terhadap suatu kejadian, yang merupakan perlambangan yang mewakili objek atau konsep dalam dunia nyata, yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Menurut. Ralston dan Reilly dalam (Chamidi, 2004: 314), data didefinisikan sebagai fakta atau apa yang dikatakan sebagai hasil dari suatu observasi terhadap fenomena alam. Sebagai hasil observasi langsung terhadap kejadian atau fakta dari fenomena di alam nyata, data bisa berupa tulisan atau gambar, yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Contohnya daftar hadir siswa semester 1, Ilmu Perpustakaan dan kearsipan adalah data. Daftar tersebut masih merupakan bentuk mentah, karena belum memberikan informasi apa-apa.

8

Sebagian besar orang awam sering memiliki pengertian yang agak

rancu terhadap data dan informasi. Sering terjadi pengertian data digunakan

untuk pengertian informasi dan demikian pula sebaliknya.

B. Informasi

Dalam ungkapan sehari-hari banyak yang mengatakan bahwa

Informasi adalah segala yang kita komunikasikan, seperti yang disampaikan

oleh sesorang lewar bahasa lisan, surat kabar, video, dll. Ungkapan ini

karena seringnya dipakai maka Fox (1983, dalam Pendit, 1992:64)

mengkategorikan sebagai The ordinary notion of information. Dalam

ungkapan ini terkandung pengertian bahwa tidak ada informasi kalau tidak

ada yang membawanya. Diantara yang membawa informasi ini yang paling

sering dibicarakan adalah lewat bahasa manusia, melalui komunikasi antar

manusia, meskipun tidak selalu manusia yang membawa informasi, teta[I

bisa juga Asap, DNA, atau aliran listrik, atau gambar. Dengan demikian

informasi disini bias dianggap sebagai pesan, atau makna yang terkandung

dalam sebuah pesan. Padahal dalam kenyataan sehari-hari sering kita

harus membedakan informasi yang dikandung suatu kalimat, atau yang

tertulis dalam kalimat tsb. Misalnya si A mengatakan:”Pintar kamu”, kepada

si ‘B’; belum tentu yang dimaksud si A bahwa si B benar-benar pintar, tetapi

ada makna lain. Jadi ada makna yang terkandung dalam informasi tsb.

Oleh karena itu, ada tiga makna dari kata informasi. Yang pertama

yaitu informasi sebagai suatu proses yaitu merujuk pada kegiatan- kegiatan

menjadi terinformasi. Makna yang kedua yaitu Informasi sebagai

pengetahuan. Disini informasi mengacu pada segala kejadian di dunia

(entitas) yang tak terhingga, yang tak dapat disentuh, atau sesuatu yang

abstrak. Sebagai sesuatu yang abstrak, informasi dilihat dari makna yang

terkandung di dalam keseluruhan medium yang digunakan, dan yang dapat

diartikan secara berbeda antara si pengirim dan si penerima. Informasi

dianggap sebagai bagian abstrak dari pikiran manusia sesuai dengan isi dan

9

makna pesan yang diterima. Misalnya Si Ani mengatakan kepada Si Budi

“Wah pandai betul kamu”. Mungkin maksud Ani karena jengkel melihat si

Budi yang nyontek pekerjaan temannya, tetapi mungkin dikira Budi Ani

mengatakan bahwa dia betul-betul pandai.

Makna yang ketiga, yaitu informasi dianggap sebagai suatu benda,

penyajian yang nyata dari pengetahuan Sebagai benda yang nyata

informasi dilihat dari rangkaian simbol-simbol, dan dapat ditangkap oleh

panca indera manusia, serta dapat saling dipertukarkan. Informasi dianggap

sebagai bahan mentah yang nyata, yang berada diluar manusia, yang

memerlukan pemrosesan lebih lanjut. Sebagai contoh pemakai

perpustakaan mencari informasi tentang Penelitian perpustakaan, petugas

perpustakaan kemudian mengambilkan buku tentang Penelitian

Perpustakaan karangan Sulityo-Basuki. Di sini petugas menganggap bahwa

informasi tsb berada dalam buku itu, yang dapat diambil dari rak dan

diberikan kepada pemakai.

Dalam hubungannya dengan Sistem Informasi, Informasi dapat kita

definisikan sebagai kumpulan data yang terstruktur yang kita komunikasikan

lewat bahasa lisan, lewat surat kabar, video dan lain sebagainya; yang

dapat mempunyai dua pengertian, yaitu 1) sebagai benda nyata (information

as a thing)dan 2) sebagai sesuatu yang abstrak. Definisi tersebut

berdasarkan pendapat Teskey (dalam Pendit,1992), informasi adalah

kumpulan data yang terstruktur, yang disampaikan seseorang kepada orang

lain.

Kemudian,Gordon B. Davis (1999: 28).juga memberikan definisi,

informasi dari sudut pandang sistem informasi yang menyatakan bahwa

informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti

bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau

mendatang.

Di samping itu dalam Oxford English Dictionary, dijabarkan informasi

sebagai sesuatu yang dapat diberitahukan atau dijelaskan (that of which is

10

apprised or told); keterangan (intelligence), berita (news) (Zorkoczy, 1998:

9). Sedangkan berita menurut Arifin (1997), adalah informasi yang menarik,

penting, dan belum pernah didengar.

Dalam Undang-Undang no 14, tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan,dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

secara elektronik ataupun nonelektronik.

 

Terkait dengan mutu informasi, Buckland (Rivalina, 2004: 203),

menjabarkan informasi menjadi: a) information-as-process (berperan

menyampaikan), b) information-as-knowledge, (sesuatu yang dirasakan

dalam information-as-process, pengetahuan yang dikomunikasikan), dan c)

information-as-thing, informasi adalah objek seperti data dan dokumen yang

dapat memberikan informasi (Rivalina, 2004: 203).

Individu sebagai pengguna tentu mengharapkan informasi yang

akurat. Informasi harus sesuai dengan kenyataan. Kehandalan suatu

informasi meningkat apabila informasi tersebut dapat diverifikasi, yakni

kebenarannya dapat dibuktikan secara independen. Informasi harus cukup

up-to-date, sesuai dengan maksud penggunaannya informasi harus lengkap

dan tepat, sehingga pihak yang menerima dapat memilih rincian spesifik

yang sesuai dengan kebutuhannya. Informasi harus bermakna jelas, yakni

dapat dimengerti oleh si penerima (Zorkoczy, 1988: 12 – 13).

Nilai Informasi

Informasi dalam konteks sistem informasi akan menjadi bernilai dan

semakin formal dan ideal apabila didasarkan pada sepuluh sifat sebagai

berikut, Burch dan Strater , (dalam Davis, 1999: 58 – 59):

1. (Accesibility); Sifat ini menunjukkan mudah dan cepatnya diperoleh

keluaran Informasi

11

2. Luas dan lengkapnya (Comprehensiveness); Sifat ini menunjukkan lengkapnya isi informasi. Hal ini tidak berarti hanya mengenai volumenya, tetapi juga mengenai output informasinya.

3. Ketelitian (Accuracy); Berhubungan dengan tingkat kebebasan dari kesalahan pengeluaran informasi.

4. Kecocokan (Appropriateness); Sifat ini menunjukkan seberapa jauh keluaran informasi berhubungan dengan permintaan para pemakai. Isi Informasi harus berhubungan dengan masalah.

5. Ketepatan waktu (Timeliness); Berhubungan dengan waktu yang dilalui yang lebih pendek pada saat diperolehnya informasi.

6. Kejelasan (Clarify); Atribut ini menunjukkan tingkat keluaran informasi, bebas dari istilah-istilah yang tidak dipahami.

7. Keluwesan (Flexibility); Sifat ini berhubungan dengan dapat disesuaikannya keluaran informasi.

8. Dapat dibuktikan (Verifiability); Atribut ini menunjukkan kemampuan beberapa pengguna informasi untuk menguji keluaran informasi dan sampai pada kesimpulan yang sama.

9. Tidak ada prasangka (Freedom From Bias); Sifat ini berhubungan dengan tidak adanya keinginan untuk mengubah informasi guna mendapatkan kesimpulan yang telah dipertimbangkan sebelumnya.

10. Dapat diukur (Quantifiable); Sifat ini menunjukkan hakikat informasi yang dihasilkan pada sistem informasi formal (Davis, 1999: 58 – 59).

Menurut Zorkoczy (1988: 14), suatu informasi yang bermutu tinggi dapat membuat si penerima peka terhadap lingkungan sehingga mampu mengambil tindakan untuk mengatasi setiap perubahan situasi yang terjadi. Daya atau kemampuan yang dimiliki informasi ini tampak dalam kemampuannya membentuk gagasan baik fisik maupun mental. Dalam kelanjutannya, informasi yang bermutu rendah dapat menimbulkan

12

kesalahpahaman atau penyimpangan makna sebagai akibat suatu gangguan

terhadap sumber informasi atau proses transmisi.

Informasi merupakan sarana baku untuk menunjang dan

meningkatkan kegiatan bidang Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, dan

teknologi.

C. Jenis-jenis informasi

Ada bermacam-macam jenis informasi dilihat dari sudut pandang yang

berbeda, salah satunya melaluikegiatan yang dilakukan oleh manusia.

Jenis informasi untuk kegiatan manusia menurut Soeatminah (1991) terdiri

dari :

1) Informasi untuk kegiatan politik. Informasi ini digunakan oleh para

politisi dalam rangka melakukan kegiatan politiknya. Misalnya

informasi yang didapat oleh anggota partai politik A, mengenai

akan adanya resuvle kabinet. Kemudian informasi ini digunakan

oleh partai politiknya untuk menyusun strategi mendekati Kepala

Negara untuk mendapatkan kursi di kabinet. Tetapi oleh partai

politik B yang juga mendengan informasi itu, digunakan

melemahkan kinerja pemerintahan untuk menggoyang kabinet

yang sedang berjalan, dan mereka berusaha untuk menggulingkan

pemerintahan.

2) Informasi untuk kegiatan pemerintahan. Informasi ini digunakan

para pejabat untuk menyusun rencana, membuat keputusan, dan

kebijakan-kebijakan pemerintah. Misalnya informasi dari para

menteri kepada presiden tentang daerah yang terkena bencana

alam. Informasi ini digunakan oleh presiden untuk menyusun

strategi membuat kebijakan tentang penanggulangan bencana

alam secara menyeluruh.

3) Informasi untuk kegiatan sosial. Informasi ini digunakan oleh

rencana-rencana, membuat

pemerintah

untuk

menyusun

13

keputusan dan kebijakan serta menentukan program kerja antara lain untuk program-progam kerja kesehatan, pendidikan, diluar kegiatan utama dari departemen yang membawahinya. 4) Informasi untuk dunia usaha Informasi yang dibutuhkan unntuk dunia usaha menncakup maslah-masalah : a) Pemupukan modal usaha melalui pinjaman dari bank, b) Innvestasi, c) Lokasi pabrik, d) berbagai macam yang terkait ddengan produksi, meliputi jenis produksi, kualitas dan kuantitasnya, pemasaran hasil produksi, dan distribusi hasil produksi, d) hubungan perusahaan dengan pemerintahan, e) persaingan, alih teknologi, dll. 5) Informasi untuk kegiatan militer. Informasi ini diperlukan oleh pejabat militer agar selalu menngikuti informasi kemiliteran yang meliputi 1) perubahan sistem persenjataan, perubahann sistem logistic, perubahann sistem administrasi, perennncanaan strategi, dan pembinaan pasukan. 6) Informasi untuk penelitian. Untuk melakukan penelitian, seorang peneliti perlu mengetahui berbagai macam penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti lain, termasuk hasilnya. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari duplikasi penelitian. Disaming itu peneliti perlu mengetahui darimana sumber-sumber informasi itu diperoleh, misalnya melalui jurnal-jurnal , baik tercetak, maupun online. 7) Informasi untuk pengajar. Pengajar, baik guru atau dosen membutuhkan informasi untuk menambah pengetahuan mereka, dan untuk memperluas cakrawala pengetahuan mereka, dari buku-buku bacaan, majalah, hasil-hasil penelitiann, baik tercetak maupun elektronik. 8) Informasi untuk tenaga lapangan.

14

Tenaga lapangan, baik penyuluh pertanian, maupun penyuluh

kesehatan, adalah orang-orang yang bekerja memberikan

informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu mereka butuh

informasi yang praktis dan mudah, misalnya petunjuk bergambar

untuk identifikasi hama padi, petunjuk bergambar untuk

membersihkan sarang nyamuk, cara memberantas sarang-sarang

nyamuk, dan lain sebagainya. Petunjuk-petunjuk itu bias mereka

dapatkan dari buku-buku praktis.

9) Informasi untuk individu, adalah informasi yang dibutuhkan

seseorang sesuai dengan statusnya dalam masyarakat,

pendidikannya, dan kegiatannya. Sebagai contoh. seseoang yang

membutuhkan yang membutuhkan informasi untuk membantu

kegiatannya dalam dunia perdagangan, misalnya informasi tentang

kurs dollar ke dalam rupiah, atau yang ingin bepergian ke Arab

Saudi, misalnya kurs real ke Rupiah; atau informasi tentang

keberangkatan pesawat terbang, kereta api, dlsb.

10)Informasi untuk pelajar dan mahasiswa.

Pelajar dan mahasiswa membutuhkan informasi guna

mengembangkan pengetahuannya. Mereka mencari informasi dari

buku-teks, buku wajib, majlah dan lain, guna memperoleh

tambahan pengetahuan.

Dari besar dan banyaknya informasi yang ada di alam ini, hanya

sebagian saja yang berhasil dirasakan, didengar, dilihat dan direkam oleh

manusia. Akan tetapi, informasi yang sempat direkam dalam berbagai bentuk

perekaman inilah yang kelak bisa dikembangkan dalam kinerja kehidupan

manusia. Informasi terekam ini banyak dicari dan dimanfaatkan oleh manusia

sesuai dengan kepentingannya (Yusup, 2002: 91).

Terkait dengan hal itu, ada pembagian jenis informasi lain yang terkait

dengan dokumentasi, seperti yang disebutkan oleh Pramanto (2004) dalam

Wulandari, dkk ( 2007), yaitu Informasi yang terekam dan informasi tak

15

terekam. Informasi terekam yaitu informasi yang dapat direkam melalui

berbagai alat atau media, antara lain media grafis, media elektronik, dan

media audiovisual, tak terkecuali media cetak. Selanjutnya jenis informasi ini

disebut sebagai dokumen. Sebagi contoh informasi tentang suatu artikel

tentang suatu subjek tertentu yang sudah dimasukkan di dalam jurnal imiah,

kewmudian disimpan dalam CD-ROM. Sedangkan informasi yang tak

terekam merupakan informasi yang belum atau tidak dapat direkam karena

situasi dan kondisi serta nilai kepentingan yang dikandung informasi itu.

Misalnya informasi informal mengenai kecelakaan kereta api, atau pesawat.

D. Karakterisitik Informasi

Informasi sangat berperan dalam komunikasi manusia. Dalam suatu

organisasi karakteristik informasi disesuaikan dengan jajaran manajemen

untuk menyelaraskan informasi yang dibutuhkan, sesuai dengan tugas yang

diembannya. Oleh karena itu jajaran manajemen perlu mengenali

karakteristik informasi, seperti apa yang ditulis oleh Wulandari (2007), antara

lain sbb.:

1. Luas Informasi : Luas informasi yang dimaksud disini adalah seberapa

luas ruang lingkup informasi tsb. Misalnya pada manajemen tingkat

bawah, luas informasi yang dibutuhkan lebih terbatas daripada

manjemen tingkat menengah, apalagi manjemen tingkat atas, yang

tentunya informasi yang dibutuhkan lebih luas. Misalnya manajemen

tingkat bawah, pada sub bagian akademik, membutuhkan informasi

berapa jumlah anggaran untuk pengelolaan adminstrasi akademik di

fakultas tsb, sementara itu pada manajemen tingkat menengah, yaitu

misalnya Kepala bagian Tata Usaha membutuhkan informasi berapa

dana yang didapat untuk pengelloaan ketatusahaan, yang meliputi

bidang akademik, rumah tangga, dan kepegawaian dan keuangan.

Sementara itu, manajemen tingkat atas, misalnya Pembantu Dekan

Bidang Administrasi dan Keuangan perlu mengetahui informasi berapa

16

dana yang didapat untuk kebutuhan seluruh fakultas, meliputi Tatu usaha, dan jurusan-jurusan yang ada.

2. Kepadatan Informasi Kepadatan informasi yang dimaksud yaitu seberapa berisinya informasi yang diterima. Misalnya untuk manajemen tingkat atas, informasi yang dibutuhkan adalah informasi yang terseleksi, padat, tetapi mencakup hal-hal yang luas; Untuk manajemen tingkat menengah informasi yang dibutuhkan adalah informasi yuang cukup padat tetapi tidak terlalu luas, cukup terseleksi untuk lingkup bidangnya saja, yang menitikberatkan pada bidang operasionalnya. Sedangkan informasi untuk manajemen tingkat bawah, informasi yang dibutuhkan tidak sepadat dan terseleksi tingkat menengah, tetapi sangat terseleksi untuk sub-bidang tugasnya.

3. Frekuensi informasi Frekuensi informasi artinya keseringan informasi atau tingkat rutinitas informasi yang dibutuhkan oleh masing-masing tingkatan manajemen. Untuk manajemen tingkat bawah frekuensi informasi yang diterima lebih rution sesuai dengan sifat pekerjaannya, sedangkan untuk manajemen tingkat menengahfrekuensi informasi tidak menentu, mungkin bisa mendadak saat dibutuhkan pimpinan; Sedang frekuensi informasi untuk manjemen tingkat atas, frekuensi lebih tidak terstruktura, mendadak sewaktu-waktu untuk pengambilan keputusan.

4. Waktu informasi Waktu informasi adalah informasi tentang kondisi atau situasi ayng telah dilalui dan akan dihadapi oleh organisasi tsb.di masa depan. Pada manajemen tingkat atas dan menengah, informasi yang dibutuhkan adalah informasi prediksi masa depan, sedangkan tingkat menengah lebih ke informasi masa kini, dan manjemen tingkat bawah, lebih pada informasi historis untuk mengontrol tugas-tugas rutin yang telah dilakukan karyawan.

17

5. Sumber informasi

Sumber informasi, di sini berarti sumber darimana informasi tsb.didapat,

yaitu sumber internal dan sumber eksternal. Sumber internal banyak

dibutuhkan manjemen tingkat bawah untuk mengontrol kegiatan-

kegiatan operasional sehari-hari . Sumber informasi eksternal banyak

dibutuhkan oleh manajemen tingkat menengah dan atas yang

digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis yang

berjangka panjang.

E. Pengetahuan

Pengetahuan, adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk

memahami dunia, yang dapat diubah-ubah berdasarkan informasi yang

diterima. Pengetahuan si A bisa berbeda dengan pengetahuan si B,

berdasarkan informasi yang sama

merupakan sarana baku untuk menunjang dan meningkatkan kegiatan

bidang Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, dan teknologi.

Beda Data, Informasi dan pengetahuan, menurut Teskey (dalam Pendit,

1992: 80-81), yang selama ini kita maksud dengan ‘data’ adalah hasil dari

observasi langsung terhadap suatu kejadian; ia merupakan entitas (entity)

yang dilengapi dengan nilai tertentu. Entitas ini merupakan perlambangan

yang mewakili objek atau konsep dalam dunia nyata. Data ini bisa disimpan

dalam bentuk lebih kongkrit, misalnya dalam bentuk tertulis, grafis, elektronik,

dan sebagainya. Sementara itu Informasi adalah kumpulan data yang

terstruktur untuk memperlihatkan adanya hubungan-hubungan entitas di atas;

Dan Pengetahuan adalah model yang digunakan manusia untuk memahami

Dengan demikian informasi dan Data

dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran

manusia.

Hubungan informasi dan pengetahuan lebih menekankan pada

pengertian informasi dan pengetahuan sebagai sebuah proses yang

bersambungan. Informasi tidak bisa dianggap tidak berhubungan dengan

18

pengetahuan, karena informasi merupakan bagian dari hubungan-hubungan

yang disadari oleh manusia. Kedua konsep ini, informasi dan pengetahuan,

selalu merujuk ke suatu antar hubungan yang terus menerus, antara

informasi yang baru diperoleh dengan pengetahuan yang masih statis pada

saat informasi tsb.diterima.( Nitecki 1985, dalam Pendit, 1992: 81)

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat perbedaan data

informasi dan pengetahuan. Sebagai contoh, daftar mahasiswa baru

semester 1 Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Terbuka,

adalah Data. Kemudian daftar tersebut disampaikan kepada para tutor

sebagai bahan absen. Berdasarkan data tersebut para tutor

menginformasikan kepada para mara mahasiwa bahwa jumlah peserta kuliah

tutorial Ilmu Informasi adalah 350 yang terdiri dari 200 siswa berjenis kelamin

perempuan, dan 150 berjenis kelamin laki-laki. Ini adalah informasi dari para

tutor. Selanjutnya salah seorang siswa mempunyai gambaran pengetahuan

bahwa jumlah siswa perempuan lebih banyak dibanding siswa laki-laki.

Kemudian siswa lain mempunyai pengetahuan yang berbeda, bahwa peminat

jurusan Ilmu perpustakaan dan kearsipan sebagian besar adalah siswa

perempuan. Jadi dari gambaran ini jelas bahwa berdasarkan informasi yang

sama, pengetahuan yang diterima seseorang bisa berbeda.

Hubungan informasi data dan pengetahuan dijelaskan oleh

Sulistyo-

Basuki (2011), bahwa Informasi dimulai dengan sebuah peristiwa (event),

misalnya

gunung

meletus.

bencana

banjir,

anak

menangis,

pegawai

menerima gaji. Peristiwa itu direpresentasikan dalam bentuk simbol. Simbol

ini dapat berupa teks, angka, suara, gambar', ataupun gabungan dua jenis

simbol atau lebih

,

ataupun gabungan yang diatur dengan peraturan dan

formulasi

sehingga

menjadi

data.

Data

tersebut,

bila

diterima

oleh

pancainclera manusia, berubah menjadi informasi, dan bila informasi ini

ditransfer ke manusia lain, berubah menjadi pengetahuan

(knowledge).

Manusia yang memperoleh pengetahuan akan menjadi (lebih) bijak (wise)

daripada sebelumnya.

Untuk lebih jelasnya, lihat gambar 1.

19

Gambar 1. Rangkaian informasi

Nilai

Kearifan (wisdom) Pengetahuan
Kearifan (wisdom)
Pengetahuan
Data
Data

Informasi

segmen berdasarkan kognisi

ketentuan dan formulasi

Simbol (representasi peristiwa)

Peristiwa

-segmen berdasarkan data

Sumber: Debons, Information science (1985) dengan perubahan oleh Sulistyo Basuki (2011.)

Latihan Jawablah Pertanyaan berikut

1. Sebutkan definisi Informasi berdasarkan pendapat para pakar.

2. Jelaskan konsep informasi sebagai bahan mentah (raw materials) dalam

pengetahuan manusia!

3. Jelaskan karakteristik informasi

4. Jelaskan hubungan informasi, data dan pengetahuan menurut anda.

5. Berikan contoh beda data, informasi dan pengetahuan, sehingga jelas bedanya.

Jawab

1. Informasi adalah

keterangan, pernyataan, gagasan,dan tanda-tanda

yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan

20

dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.

2. Informasi berasal dari fakta di lapangan yang membutuhkah pemrosesan lebih lanjut untuk dapat dimaknai oleh individu

3.

Karakteristik

informasi

dapat

dilihat

dari

luas

informasi,kepadatan

informasi, frekuensi informasi, waktu informasi dan sumber informasi

.

4. Pengetahuan, adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk memahami dunia, yang dapat diubah-ubah berdasarkan informasi yang diterima, sedangkan inforamsi berasal dari data yang dismapaikan seseorang kepada orang lain. Jadi .hubungan informasi dan pengetahuan lebih menekankan pada pengertian informasi dan pengetahuan sebagai sebuah proses yang bersambungan. 5. Contoh : Berdasarkan data di bagian Akademik Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan, Universitas Terbuka, siswa semester 1 th 2010/1011 adalah 250 orang, yang terdiri dari perempuan 150, dan laki-2 100; dan tahun 2011/2012 adalah 350 orang, terdiri dari perempuan 200, laki-laki 150. Kemudian Ketua Jurusan menginformasikan kepada PD 1 hal yang sama. Kemudian PD 1 mempunyai gambaran bahwa ada peningkatan siswa baru Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan, sedangkan Dekan berpikiran lain, bahwa siswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan dari tahun ke tahun sebagian besar adalah perempuan. Jadi pengetahuan PD 1 dan Dekan berbeda, padahal informasi yang diterima sama.

Rangkuman Definisi Informasi adalah

keterangan, pernyataan, gagasan,dan tanda-

penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan

dalam

berbagai

kemasan

dan

format

sesuai

dengan

perkembangan

teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.

Nilai-nilai informasi menurut Soeatminah dibagi menjadi 10 macam yaitu:

1) Kemudahan pengaksesan. 2) Luas dan lengkapnya, 3) Ketelitian, 4) Kecocokan, 5) Ketepatan waktu, 6) Kejelasan 7) Keluwesan, 8) Dapat dibuktikan 9) Tidak ada prasangka, dan 10) Dapat diukur. Jenis-jenis informasi, menurut Wulandari, dkk ada dua, yaitu Informasi terekam dan tak terekam. Informasi terekam dapat direkam melalui media grafis, elektronik, audio visual dan media cetak. Masih menurut Wulandari, karakteristik informasi ada enam macam, yaitu 1) Luas informasi, 2) Kepadatan informasi, 3) Jadwal informasi, 4) Frekuensi informasi, 5) Waktu informasi, dan 6) Sumber informasi. Pengetahuan, adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk memahami dunia, yang dapat diubah-ubah berdasarkan informasi yang diterima. Informasi adalah kumpulan data yang terstruktur yang disampaikan seseorang kepada orang lain, dan bermakna bagi orang tersebut. Data adalah hasil observasi langsung terhadap kejadian atau fakta dari fenomena di alam nyata yang dilengkapi dengan nilai tertentu.

1. 3. Penutup 2.3.1. Tes Formatif

1) Sejumlah kejadian di suatu kota dan kejadian-kejadian di suatu lembaga adalah :

A. data

B. berita

C, Informasi

D. Pengetahuan

22

2) Hasil pengamatan dari suatu kejadian yang disampaikan oleh orang yang mengamati kepada orang lain adalah :

A. data

B. berita

C, Informasi

D. Pengetahuan

3) Kesimpulan dari informasi yang disampaikan oleh seseorang disebut:

A. data

B. berita

C, Informasi

D. Pengetahuan

4) Seseorang yang mendapatkan informasi dari orang lain, kemudian mempunyai pandangan baru disebut :

A. data

B. berita

C, Informasi

D. Pengetahuan

5) Informasi yang didapat dari masyarakat tentang calon yang terkuat di dalam pemilihan bupati adalah jenis informasi untuk :

A. Pemerintahan

B. Informasi untuk penelitian

C. Informasi untuk pengajar

D. Informasi untuk tenaga lapangan

6) Informasi tentang cara memberantas berbagai jenis hama tanaman,

merupakan jenis informasi untuk :

A. Pengajar;

B. Tenaga lapangan

C. Individu;

23

D. Kegiatan sosial

7) Informasi tentang penerapan teknologi informasi dalam suatu jurnal yang

sudah dimasukkan didalam CD-Rom merupakan jenis informasi :

A. Terekam

B. Tersirat

C. Tak trekam

D. Tak tersirat

8) Informasi tentang perang Diponegoro yang dilukis dalam suatu patung di

suatu museum, merupakan jenis informasi :

A. Terekam

B. Tersirat

C. Tak trekam

D. Tak tersirat

9) Arsip suatu instansi yang telah di alih bentuk dan dihimpun dalam suatu

komputer, merupakan jenis informasi :

A. Terekam

B. Tersirat

C. Tak trekam

D. Tak tersirat

10) Informasi mengenai kecelakaan antara sepeda motor dan truk yang diampaikan oleh orang yang melihat kepada keluarganya merupaka jenis informasi :

A. Terekam

B. Tersirat

C. Tak trekam

D. Tak tersirat

24

2. 3.2. Umpan Balik Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban test formatif yang ada pada bahasan berikut ini, hitunglah jawaban anda yang benar, kemudian gunakan rumus ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi dalam bab ini.

Rumus :

Tingkat penguasaan = jawaban yang benar x 100% Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai adalah :

90% - 100% 80% - 89% 70% - 79% 60% - 69% 0% - 59%

: baik sekali : baik : cukup : kurang : gagal

25

KEGIATAN BELAJAR 2:

Latar belakang Ilmu Informasi dan ruang lingkup Ilmu Informasi

Tahap baru dalam perkembangan pendekatan ilmiah terhadap kajian

tentang sistem informasi menurut Vickery & Vickery (1987) dimulai pada

tahun 1948, ketika masyarakat bangsawan di London bersama-sama

membahas dalam konferensi informasi ilmiah. Sepuluh tahun kemudian

bidang ini mendapat perhatian yang lebih mendalam dalam Konferensi

Internasional Informasi Ilmiah yang diorganisir oleh “United Stated National

Science Foundation’. Kemudian sejak 1966 kemajuan ditunjukkan dengan

adanya survei oleh majalah ‘Annual Review on information Science and

Technology ‘. Kemudian pada tahun 1970 Tefko Saracevic telah

mengembangkan suatu penelitian tentang Ilmu Informasi yang dibukukan

dalam buku dari paper terseleksi sehingga mengakibatkan perkembangan

dalam beberapa dekade. Bagian pertama dari buku tersebut ditujukan pada

fenomena dasar dari Hakikat Informasi, perilaku pengetahuan, literatur dan

pemakai, serta konsep relevansi. Bagian kedua dari sistem informasi

difokuskan pada fungsi-fungsi informasi, yaitu sejak informasi disiapkan,

dianalisa, diolah dan ditemu balik hingga kembali menjadi penyiapan

pembuatan dokumen. Bagian ketiga dari buku ini terutama dikhususkan pada

evaluasi sistem temu kembali informasi. Hal ini sejalan dengan kejadian

perubahan organisasi American documentation, yang pada tahun 1971

berubah nama menjadi American Society for Information Science yang

disingkat menjadi ASIS. Menurut anggaran dasar ASIS, Ilmu Informasi

adalah kajian mengenai pencetus, pemakai, penggunaan, karakteristik, dn

distribusi rekaman grafis. Hal ini merupakan perubahan dari pengertian

dokumentasi seusai perang dunia ke dua (Sulistyo Basuki, 1991).

Istilah Ilmu Informasi pertama kali muncul dari penyamaran ahli

informasi. Khususnya di dalam industri selama beberapa dekade, beberapa

ahli informasi yang kualified melakukan riset, perkembangan-perkembangan

26

industri ke peranan baru, yaitu memberikan layanan informasi secara aktif kepada teman sejawat mereka. Mereka lebih menganggap diri mereka sebagai Ahli Informasi daripada Ahli Riset. Ketika pekerjaan itu berkembang dan diformalkan, kebutuhan memberikan training untuk mereka-meraka yang ingin masuk kedalam kedudukan sebagai ahli informasi muncul. Pada waktu tertentu, training-training tsb kemudian disebut Ilmu Informasi. Pada awalnya isi dari ilmu Informasi menekankan pada kemampuan praktis yang dibutuhkan dalam memberikan layanan informasi, mencakup pengetahuan dan pengalaman terhadap sumber-sumber informasi, pengelolaan dukumen dalam arti pengindeksan dan pengabstrakan,

penanganan pertanyaan-pertanyaan pemakai,

kemampuan dan sarana ini ada pada ahli-ahli informasi dan telah menjadi lebih terkenal. Dalam waktu tertentu komputer dan telekomunikasi telah memainkan peranannya menjadi lebih besar dalam pengelolaan informasi. Teknik yang canggih pada gilirannya telah mendorong skala pemakaian fasilitas informasi. Hal tsb telah mendorong ahli informasi mendapatkan kemampuan analisa sistem, dan kemampuan managemen. Isi potensial dari Ilmu Informasi (meskipun masih tampak sebagai

training) telah berkembang dengan lebih luas. Saat itu isi dari Ilmu informasi masih tampak sebagai training atau pendidikan profesi untuk kedudukan

Pada th 1976, ketika Institut Ahli informasi (Instittute

praktis telah diperluas

of information Scientiest) di London mengembangkan satu set kriteria Ilmu Informasi sebagai suatu bimbingan topik yang yang sangat berguna bagi pedoman kursus. Versi terakhir dari kreiteria Ilmu Informasi seperti yang akan digambarkan pada bagian berikut ini.

dsb.

.Tepat pada waktunya,

Ruang lingkup Ilmu Informasi Kriteria terbaru dari Ilmu Informasi menurut Vickery dan Vickery (1987) dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu:

27

I. Bagian utama atau Topik inti, yang terdiri dari :

1) Pengetahuan dan komukasi pengetahuan tsb., 2) Sumber-sumber informasi, 3) Pengelolaan informasi, 4) Temu kembali informasi, 5) Penyebaran informasi dan 6) Manajemen informasi; II. Bagian pelengkap, yaitu 1) pengelolaan data, 2) metode penelitian, 3) bibliometrik (beberapa aspek dari matematik, statistik, 4) linguistik, 5) pengetahuan bahasa asing, 6) dan teknologi informasi.

Ad I. 1) Pengetahuan dan komukasi pengetahuan tsb. Karakterisik pengetahuan dan komukasi pengetahuan tsb. adalah alur komunikasi pengetahuan dari si pengarang, ditransfer, kemudian digunakan oleh seseorang, kemudian menjadi pengetahuan baru. Transfer pengetahuan tsb. merupakan fungsi-fungsi dari informasi. Dari gambar 1 dapat dilihat alur dari komunikasi pengetahuan tsb, yang merupakan fuingsi-fungsi informasi.

Gambar 2 Komunikasi pengetahuan

28

Sumber : Brian Vickery & Alina Vickery, Information Science in Theory and Practice, London :

Sumber : Brian Vickery & Alina Vickery, Information Science in Theory and Practice, London : Butterworth Co1987.

Berdasarkan gambar tsb, dapat kita lihat bahwa komunikasi pengetahuan dimulai dari pengetahuan tsb diciptakan, dengan jalan berpikir, bekerja, kemudian dikumpulkan menjadi dokumen. Dokumen dapat langsung dikirim

29

ke perpustakaan atau melalui penerbit. Jika melalui penerbit, kemudian

didistribusikan melalui penjualan, dipinjamkan atau difotokopi, kemudian baru

disimpan kepurtakaan. Sebelum masuk dilayankan, dokumen tsb di analisa

misalnya diindeks atau diabstrak atau dikatalog, dengan menggunakan alat

bantu direktory, union list, Bagan klasifikasi, atau tesaurus, kemudian

dokumen ditemubalik oelh pencari informasi dengan jalan mencari di rak

(locating), terus ditransfer, diterjemahakan atau dengan pendidikan pemakai,

baru kemudian informasi tsb digunakan dengan jalan mendengarkan,

Setelah itu informasi tsb dapat

membaca, atau diberi arahan atau rujukan

digunakan lagi untuk menciptakan informasi baru, setelah melalui bantuan

perkuliahan, telepon atau melalui email.

Ad I. 2) Sumber-sumber informasi.

Informasi dapat diperoleh melalui berbagai sumber. Sumber infformasi

dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan besar, yaitu Dokumen, dan Non

Dokumen. Non dokumen adalah manusia, yang bisa terdiri dari pengarang,

dosen/ pengajar, dan teman seprofesi. Sumber Dokumen dapat dibagi

menjadi 3 bagian, yaitu : 1) Sumber informasi primer, 2) Sumber Sekunder,

dan 3) Sumber Tersier. (Soeatminah, 1992: 49 – 51)

a. Sumber primer didapatkan dari karangan asli yang ditulis secara

lengkap; yang terdiri dari : a) Monograph : adalah buku teks yang

dapat berupa karya dari penulis asli, oleh pengarang tunggal,

ganda, atau editor, terjemahan, atau saduran, dan dapat berseri,

berjilid dengan objek bahasan sama. b) Artikel majalah: Artikel

majalah bisa berupa hasil penelitian, atau tinjauan pustaka, yang

dilengkapi dengan abstrak atau intisari yang dibuat oleh si

pengarang. c) Laporan langsung atau reportase, yang dapat

berupa hasil wawancara dengan seseorang, dan laporan

pandangan mata. d) Hasil penelitian: Merupakan hasil penemuan

baru yang didasarkan pada hipotesis yang dikaji kebenarannya,

30

atau hasil observasi terhadap suatu kejadian yang telah diuji

kebenarannya. E) Skripsi, Tesis. Disertasi: merupakan karya tulis

untuk mempertanggungjawabnya penyelesaian pendidikannya.

b. Sumber Sekunder.

Sumber sekunder adalah hasil ringkasan sumber primer dan

merupakan alat bantu untuk menemukan sumber primer. Contoh :

Ensiklopedi, Kamus, Bibliografi, Kumpulan indeks, kumpulan

abstrak, sumber biografi, katalog perpustakaan, dll.

c. Sumber Tersier

Sumber tersier adalah ringkasan dari sumber sekunder. Sebagai

contoh: a) Indeks abstrak, yaitu kumpulan abstrak yang diterbitkan

dalam bentuk majalah. b) Bibliografi dari bibliografi, yaitu daftar

beberapa bibliografi yang diterbitkan dalam bentuk majalah, yang

dapat digunakan untuk menemukan bibliografi tertentu dalam

waktu cepat. Misalnya Bibliografi of Bibliografi Human Rights for

Children.

Ad I.3) Organisasi Informasi.

Organisasi informasi yang dimaksud disini adalah bagaimana

mengolah informasi mulai dari informasi tsb disiapkan, di inventaris,

kemudian dikatalog, diklasifikasi sampai dilayankan. Jadi mullai informasi tsb

di inventaris menggunakan salah sistem kendali sirkulasi, kemudian dikatalog

dengan menggunakan AACR2, kemudian diklasifikasi dengan menggunakan

misalnya DDC atau UDC.

Ad.I.4) Temu kembali informasi.

Temu kembali informasi, yaitu proses penemuan kembali informasi

dalam suatu sistem informasi atau pangkalan data. Suwanto (2009 :1 – 3),

Dalam Penelusuran informasi atau temu kembali informasi ada dua cara

yang digunakan, yaitu :a). Secara manual, dan b) Secara elektronis.

31

Ad. I.4a) Penelusuran secara manual Penemuan kembali informasi secara manual menggunakan cara- cara manual, tanpa bantuan komputer. Misalnya mncari informasi melalui katalog perpustakaan, melalui buku indeks, atau melalui bibliografi Ad.I.4b). Penelusuran secara Elektronis.

. Penelusuran informasi secara elektronis yaitu penemuan kembali informasi yang dibutuhkan pemakai dalam suatu pangkalan data atau sistem informasi dengan menggunakan sarana-sarana elektronis. Menurut Belkin (1985, dalam Suwanto 2000: 383) ada 5 fokus perhatian pada kajian temu kembali informasi, yaitu : 1) Perpindahan informasi dalam sistem informasi, 2) Pemikiran tentang informasi yang diinginkan, 3) Efektifitas sistem dan perpindahan informasi, 4) Hubungan antara informasi dengan penciptnya, dan 5) Hubungan antara informasi dengan pemakai. Tujuannya untuk mempelajari proses temu kembali, membentuk, membangun dan mengevaluasi sistem temu kembali informasi yang dapat memberikan informasi yang diinginkan secara efektif antara pengarang dan pemakai.

Ad.I. 5) Penyebaran informasi Penyebaran Informasi atau dalam istilah Ilmu Dokumentasi lebih dikenal dengan nama Penyebaran Informasi terpilih atau Selected dissemination Information. Penyebaran Informasi Terpilih yang dimaksud di sini adalah suatu prosedur untuk memberikan acuan dari dokumen-dokumen yang dibutuhkan pemakai yang berhubungan dengn bidang atau subyek yang diminati, dalam waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk menghindari dari keharusan pemakai membaca secara keseluruhan buletin abstrak yang tentunya amat panjang, misalnya dari

32

buletin chemical abstracts yang sangat banyak dan tulisannya kecil-

kecil (Sulistyo-Basuki, 1992: 173 – 174)

Ad.I. 6) Manajemen Informasi .

Definisi manajemen Informasi menurut Wikipedia ("http://en.wikipedia.

org/wiki/Information_management") adalah ‘the collection and

management of information from one or more sources and the

distribution of that information to one or more audiences.’ Yang artinya

adalah kumpulan dan pengelolaan informasi dari satu atau beberapa

sumber dan pendistribusiannya kepada satu atau beberapa pemakai.

Jadi manajemen informasi adalah pengumpulan dan pengelolaan

informasi dari berbagai sumber kepada pemakai. Jadi disini ada unsur

pengumpulan, pengolahan dan penyebaran. Tetapi menurut James

Robertson (www.steptwo.com.au/ category/papers/information

Menurutnya

manajemen informasi (Information management’ adalah penerapan

teknologi baru untuk mengatasi masalah-masalah semacam ‘content

management)

definisi

tsb

masih

membingungkan.

manajement’ atau manajemen dari isi sistem informasi atau lembaga

informasi, pengelolaan dokumen, sarana-sarana sistem informasi atau

perpustakaan, dan penerapan portal pada lembaga tsb. Menurutnya

komponen managemen informasi meliputi : orang, proses, tehnologi,

dan isi. Dari kesemua komponen ini harus berusaha keras agar

manajemen informasi dalam organisasi bisa berjalan dengan efektif.

Pengembangan manajemen informasi. Mengembangkan praktek-praktek manajemen informasi adalah kunci

yang difokuskan pada beberapa organisasi, baik oleh organisasi

pemerintah maupun organisasi swasta. Manajemen Informasi adalah

suatu payung yang mencakup semua sistem dan proses dalam suatu

33

organisasi untuk mengkreasikan dan menggunakan informasi dalam

organisasi tsb. Dalam istilah teknologi, manajemen informasi meliputi

sistem-sistem :

1. Content Management System ‘ (CMS), atau Sistem Manajemen

berdasarkan Isi. adalah Sistem manajemen yang didasarkan pada

isi informasinya. ‘Content management System ’mendukung kreasi,

manajemen, penerbitan dan penemuan didalam informasi

perusahaan, juga sering dkenal dengan nama ‘Web Content

Management’. Sistem ini difokuskan pada isi on-line (Online

content), yang ditargetkan baik untuk website perusahaan maupun

untuk intranet.

2. Enterprise Content Management system (ECMS), atau Sistem

Informasi Manajemen Perusahaan berdasarkan Isi, adalah suatu

sistem manajemen yang terdiri dari inti manajemen yang didasarkan

web, dengan penambahan kemampuan-kemampuan untuk

mengelola ruang lingkup organisasi yang lebih luas. Hal ini sering

berisi manajemen dokumen, manajemen record, manajemen asset

digital, atau keistimewaan-keistimewaan perusahaan.

3. Document Management System (DMS), atau Sistem Pengelolaan

Dokumen. DMS didesain untuk membantu organisasi untuk

mengelola kreasi dan alur dokumen melalui syarat-syarat yang

disentralkan pada ‘repository’, atau kekeyaan local, dan alur kerja

yang membuka ketentuan-ketuan businis dan metadata. Fokus pada

DMS fokusnya pada penyimpanan dan temu kembali pada sumber-

sumber elektronik, pada format orisionilnya.

4. Records Management System (RMS), atau Sistem Rekord

Manajemen. Standard Australia pada Rekord manajemen (AS4390)

mendefinisikan pemeliharaan sistem rekord sebagai sistem

informasi yang menangkap, mengutamakan dan memberikan akses

kepada record-rekord sepanjang waktu. Hal ini mencakup baik

34

pengelolaan record fisik (kertas), maupun dokumen-dokumen

elektronik.

5. Digital Asset Management (DAM) system, atau Digital Aset

Manajemen sistem, mendukung penyimpanan , penemuan kembali,

dan penggunaan kembali dari objek-objek digital dalam suatu

organisasi. DAM berbeda dengan Dokumen Manajemen dan

Manajemen Isi, karena didalamnya difokuskan pada sumber-sumber

multimedia, seperti gambar-gambar, video, dan audio. DAM

khususnya memberikan hak-hak kemampuan manajemen.

6. Brand Management System (BMN), atau Sistem Manajemen

Perusahaan, adalah aplikasi spesifik dari beberapa kategori produk

DAM pada manajemen materi-materi periklanan dan produksi.

7. Library Management System (LMS), atau Sistem Manajemen

Perpustakaan, memberikan suatu solusi lengkap untuk administrasi

semua fugnsi-fungsi perpustakaan dan layanan ke masyarakat. Hal

ini mencakup penelusuran asset-aset yang dimiliki perpustakaan,

pengelolaan peminjaman, melalui dukungan kegiatan-kegiatan

administrasi sehari-hari dari perpustakaan tsb.

8. Digital imaging system, atau Sistem Gambar Digital, meng-

automasikan kreasi versi-versi elektronik dari dokumen-dokumen

yang berupa kertas (semacam bentuk PDFs atau TIFFs) dan

digunakan sebagai masukan pada sistem record manajemen.

Dengan mengkreasikan sumber-sumber elektronik, hal tsb.dapat

dimanipulasikan langsung oleh sistem record, membatasi kebutuhan

filing fisik.

9. Learning Management System (LMS),atau Sistem Manajemen untuk

Pembelajaran, meng-automasikan administrasi dan pembelajaran-

pembelajaran lain. Hal ini mencakup pendaftaran mahasiswa,

pengelolaan sumber-sumber pelatihan, hasil-hasil record, dan

kursus-kursus umum adminstrasi. LMS didesain untuk memenuhi

35

kebutuhan-kebutuhan akhir dari trainer dan pengajar. 10. Learning Content Management system (LCMS), Sistem manajemen isi pengajaran, memadukan kemampuan dari CMS dengan LMS. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengelola kedua isi bahan- bahan training, dan adminstrasi dri training tsb. 11. Geographic information system (GIS), Sistem Informasi Geografis, adalah sistem yang digunakan untuk hal-hal khusus, berdasarkan computer untuk pengambilan, penyimpanan, analisa dan menyajikan ruang data. Demikian ruang lingkup utama Ilmu Informasi, sedangkan untuk pelengkap saya kira tidak perlu dijelaskan pada bab ini.

LATIHAN. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di ats, kerjakanlah latihan berikut :

1) Jelaskan kapan pertama kali istilah Ilmu Informasi muncul, dan oleh siapa ? 2) Kapan pertama kali isi potensial Ilmu Informasi dikembangkan secara formal, dan oleh lembaga mana? 3) Sebutkan ruang lingkup utama Ilmu Informasi. 4) Jelaskan pengertian Manajemen Informasi 5) Jelaskan definisi Rekord Manajemen Sistem.

Petunjuk jawaban latihan :

1. Istilah Ilmu Informasi muncul dimulai dari kajian tentang sistem informasi pada tahun 1948, kemudian pada tahun 1970 ketika Tefko Saracevic mengembangkan penelitian tentang Ilmu Informasi. 2. Isi potensial Ilmu Informasi berkembang pada tahun 1976, ketika Institute of Information Scientist mengembangkan kriteria ilmu Informasi.

36

3. Ruang lingkup utama Ilmu Informasi adalah : a)Pengetahuan dan

komunikasi pengetahuan tsb, b)sumber-sumber informasi, c)

organisasi informasi, d) temu kembali informasi, e) penyebarluasan

informasi, f) manajemen informasi.

4. Yang dimaksud Manajemen Informasi menurut Robertson adalah

penerapan teknologi baru untuk mengatasi masalah-masalah

semacam ‘content manajement’ atau manajemen dari isi sistem

informasi atau lembaga informasi, pengelolaan dokumen, sarana-

sarana sistem informasi atau perpustakaan, dan penerapan portal

pada lembaga tsb.

5. Definisi Rekord Manajemen Sistem adalah pemeliharaan sistem

rekord sebagai sistem informasi yang menangkap, mengutamakan

dan memberikan akses kepada record-rekord sepanjang waktu. Hal

ini mencakup baik pengelolaan record fisik (kertas), maupun

dokumen-dokumen elektronik.

RANGKUMAN

Istilah Ilmu Informasi muncul dimulai dari kajian tentang sistem informasi

pada tahun 1948, kemudian pada tahun 1970 ketika Tefko Saracevic

mengembangkan penelitiantentang Ilmu Informasi. Isi potensial Ilmu

Informasi berkembang pada tahun 1976, ketika Institute of Information

Scientist mengembangkan kriteria ilmu Informasi. Ruang lingkup utama Ilmu

Informasi adalah : a) Pengetahuan dan komunikasi pengetahuan tsb,

b)sumber-sumber informasi, c) organisasi informasi, d) temu kembali

informasi, e) penyebarluasan informasi, f) manajemen informasi.

Pengertian manajemen Informasi menurut Robertson adalah penerapan

teknologi baru untuk mengatasi masalah-masalah semacam ‘content

manajement’ atau manajemen dari isi sistem informasi atau lembaga

informasi, pengelolaan dokumen, sarana-sarana sistem informasi atau

perpustakaan, dan penerapan portal pada lembaga tsb.

37

TES FORMATIF 2. Pilihlah satu jawaban yang anda anggap paling tepat.

1. Istilah Ilmu informasi muncul pada tahun :

a. 1948

b. 1966

c. 1970

d. 1987

2. Istilah Ilmu informasi dikembangkan oleh :

a.

Ahli-ahli riset

 

b.

Ahli-ahli teknik

c.

Ahli-ahli perbukuan

 

d.

Ahli-ahli perpustakaan

3. Pada

awal

mula

dicetuskan

Ilmu

Informasi

ditekankan

pada

kemampuan praktis dalam memeberikan :

a. Layanan informasi

b. Pengetahuan informasi

c. Layanan dokumentasi

d. Layanan peminjaman informasi

4. Kemudian isi Ilmu Informasi berkembang dalam pengelolaan informasi dengan adanya bantuan :

a. Komputer

b. Telekomunikasi

c. Digitalisasi

d. Meliputi a dan b

38

5. Sumber informasi primer merupakan sumber informasi yang berasal dari :

a. Pengarang asli

b. Pengarang kedua

c. Pengarang ketiga

d. Pengarang keempat.

6. Sumber informasi sekunder, merupakan ringkasan dari :

a. Sumber tersier

b. Sumber primer

c. Sumber sekunder

d. Mencakup a dan c

7. Dalam temu kembali informasi ada dua cara yang digunakan, yaitu :

a. Secara online dan Inline

b. Secara Elektronis dan manual

c. Secara tercetak dan non-cetak

d. Secara digital dan non-digital

8. Penyebaran informasi ilmiah sering dikenal dengan nama :

a. Penyebaran informasi terpilih

b. Penyebaran informasi subjek

c. Penyebaran informasi tercetak

d. Penyebaran informasi terlatih

9. Content Management System atau Sistem manajemen berdasarkan Isi, adalah sistem manajemen yang didasarkan pada :

a. Isi buku

b. Isi perpustakaan

c. Isi buku

39

d. Isi pikiran pengarang

10. Sistem Rekord Manajemen atau Record Management System adalah pemeliharaan sistem informasi yang mengutamakan dan memberikan akses kepada rekord-rekor sepanjang waktu yang mencakup

pengelolaan

maupun dokumen-dokumen elektronik.

a. Rekord fisik

b. Rekord isi

c. Rekor waktu

d. Rekord abstrak

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Tes formatif 1

1)

A

Tes formatif 2. 1) C

2)

C

2) A.

3)

D

3) A

4)

D

4) D

5)

A

5) A

6)

B

6) B

7)

A

7) B

8)

A

8) A

9)

A

9) A

10)C

10) A

40

DAFTAR PUSTAKA Chamidi, Safrudin. 2004. Kaitan Antara Data dan Informasi Pendidikan dengan Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (48) 10. hal. 311 – 328. Davis, Gordon B. 1999. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen:

bagian I pengantar. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Pendit, Putu Laxman. 2001. Manajemen Pengetahuan dan Profesional

Informasi: Harapan, Kenyataan dan Tantangan. Makalah Kuliah Perdana Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra UI, 18 September 2001. Depok: JIP FS Universitas Indonesia. Pendit, Putu Laxman. 1992. “Makna Informasi: Lanjutan dari Sebuah Perdebatan”. dalam Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangannya. Ed. Antonius Bangun dkk. Jakarta: Kesaint-Blanc. Rivalina, Rahmi. 2004. Pola Pencarian Informasi di Internet. Jakarta: Jurnal Teknologi Pendidikan (14) VII. Hal. 199 – 216. Robertson, James, November. 2005.10 principles of effective information management. Dalam www.steptwo.com.au/category/papers/ information management Soeatminah. 1992. Perpustakaan kepustakawanan dan pustakawan, Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Sulistyo-basuki,1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia

, 2005. Pengantar dokumentasi. Bandung : Rekayasa Sains. 2011, Pengantar Ilmu Informasi dan Perpustakaan, dalam proses penerbitan. Suwanto, Sri Ati, 2009. Makalah disampaikan pada Diklat Fungsional Otomasi Pengolahan Bahan Pustaka, Provinsi Jawa Tengah, April – Mei. Semarang : Perpusda Jateng.

41

, 2000. Temu kembali informasi dari sudut pandang

pendekatan berorientasi pemakai, dalam Kajian Sastra No.3 (Th. XXIV),

Juli.Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.

Vickery, Brian dan Vickery, Brian. 1987. Information science in theory and practice. London: Butterworh. Wulandari, Ratih Florentina, dkk. 2007. Dasar-dasar Informasi. Jakarta:

Universitas Terbuka. Yusup, Pawit M. 2002. Hubungan Komunikasi, Informasi, dan Perpustakaan:

pengenalan studi ilmu informasi dan perpustakaan, Jurnal Komunikasi dan Informasi. Edisi Khusus. Bandung: Fikom Unpad. Hal. 88 – 102.

, 1995. Pedoman Praktis Mencari Informasi. Cetakan

Pertama. Bandung: Remadja Rosdakarya.

, 2001. Pengantar Aplikasi Teori Ilmu Sosial Komunikasi

untuk Perpustakaan dan Informasi. Bandung: Jurusan Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad.

Zorkoczy, Peter. 1990. Information Technology : An introduction, 3rd ed. London: Pitman Publishing.

42

MODUL II:

LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN ILMU INFORMASI: SERTA

HUBUNGAN DENGAN ILMU-ILMU LAIN

PENDAHULUAN

Pendahuluan

Informasi yang diidentifikasikan di sini sebagai pesan yang merupakan

representasi simbol yang kemudian dikomunikasikan antara individu dalam

masyarakat. Dalam hal ini informasi digunakan untuk segala hal yang dapat

mengurangi ketidakpastian (reduction of uncertainty). Menurut Vickery dan

Vickery (1987: 1), jangkuan ilmu informasi mencakup proses transfer

informasi (information transfer) dalam konteks sosial masyarakat. Konsep

transfer informasi ini dikonseptualisasikan melalui beragam teknik, metode,

dan model yang kemudian melahirkan studi mengenai ilmu informasi.

Pokok bahasan ini menjelaskan mengenai perkembangan ilmu

informasi yang ditinjau berdasarkan konteks yang berkembang baik dari

dimensi ilmu komputer, ilmu komunikasi, ilmu matematika, informatika,

perpustakaan dan kearsipan.

Pokok bahasan mengenai ilmu informasi dan karakteristiknya ini

berguna bagi mahasiswa untuk memahami konsep dasar ilmu informasi

sehingga mampu membedakan dengan subjek keilmuan lain. Melalui

pemahaman tersebut, mahasiswa dapat menerapkan aplikasi teori ilmu

informasi dalam bidang perpustakaan dan dokumentasi.

Melalui pokok bahasan ilmu informasi dan karakteristiknya, maka

diharapkan mahasiswa dapat memahami konsep dan dasar-dasar keilmuwan

ilmu informasi sehingga ke depan dapat mengembangkan aplikasi

pengelolaan informasi, perpustakaan dan dokumentasi ke depan

Dengan disajikannya konsep ilmu informasi dan karakteristiknya, maka

diharapkan anda mampu mendeskripsikan berbagai komponen, jenis,

karakteristik, dan nilai dari ilmu informasi untuk menjadi landasan dalam

melayani pemakai sesuai dengan kebutuhan informasi mereka.

43

KEGIATAN BELAJAR 1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN ILMU INFORMASI Seusai perang Dunia II, kegiatan dokumentasi maupun organisasi dokumentasi di Eropa Barat tetap menunjukkan kegiatannya; hal yang terbalik terjadi pada kondisi di Amerika Serikat. Pada tahun 1971, American Documentation berubah menjadi menjadi American Society for Information

Science. Disingkat ASIS. Menurut anggaran ASIS, ilmu informasi adalah kajian mengenai pencetus, pemakai, penggunaan, karakteristik, dan distribusi rekaman grafis. Konsep ilmu informasi berdasarkan Anggaran Dasar ASIS dengan cepat diterima bekas anggota American Documentation. Istilah ilmu Informasi (Information Science) baru dikenalkan oleh Moore School of Engineering University of Philadelphia pada tahun 1959. Pendidikan untuk ilmu informasi baru dimulai pada tahun 1960-an. Menurut Sulistyo-Basuki, ilmu Informasi tumbuh dan berkembang akibat berbagai masalah:

1. Masalah Komunikasi; menyangkut masalah teknis, semantik, dan

Masalah teknis menyangkut teknis

pengiriman berita, sedangkan masalah semantik menyangkut masalah pengertian berita. Hasilnya adalah berkembangnya teori komunikasi seusai Perang Dunia II seperti Teori Informasi (Shannon dan Weaver), Sibernetika (Nobert Wiener), Ilmu Komputer (Turing dan Von Neumann), Teori Lingustik Baru (Harris, Noam Chomsky), dan Teori Sistem Umum (Von Bertalanffy). Perkembangan teori tersebut didukung dengan pengembangan teknologi informasi seperti kemajuan dalam bidang computer, telekomunikasi.

2. Masalah Literatur; lazim dikenal dengan public knowledge. Dasar pemikirannya adalah bahwa setiap karya ilmiah harus diterbitkan agar menjadi milik umum. Sehingga ilmuwan berlomba-lomba untuk menerbitkan karyanya dalam majalah ilmiah. Pada sisi lain, banyaknya terbitan menimbulkan istilah seperti revolusi informasi, ledakan informasi, maupun polusi informasi.

44

efektifitas dalam transfer berita

3. Masalah Sistem Informasi yang menyangkut literature; literature ini artinya sama dengan buku dalam arti luas. Dengan terjadinya penambahan literatur akan timbul pemasalahan. yaitu menyangkut pengadaan, pengolahan, penyimpanam, pengawetan,temu balik, serta penyebarannya. Secara teoritis masalah terjadi karena sistem temu balik informasi dapat menemukan literatur secara cepat, tepat, dan akurat. Masalah lingkungan muncul ketika konteks social dari literatur mempengaruhi sistem yang ada.

Definisi Ilmu Informasi Menurut Vickery dan Vickery (1987, dalam Putubuku 2008) ilmu informasi muncul dari persoalan komunikasi dalam masyarakat, terutama yang menyangkut transfer informasi dari sumber ke pengguna, dan terutama lagi transfer yang menggunakan sebentuk dokumen. Dalam dunia moderen, transfer dokumen ini meningkat dan menimbulkan berbagai persoalan. Fenomena tentang transfer dokumen inilah yang menurut mereka menimbulkan kegiatan pengelolaan. Menurutnya, pada awalnya kegiatan pengelolaan ini dilakukan sebagai pertukangan, berdasarkan keterampilan yang didapat lewat latihan magang. Baru belakangan ada upaya membuatnya ilmiah. Menurut Harrod’s Glossary of Library Term (Sulistyo-Basuki, 2006: 17) menyebutkan definisi ilmu informasi yang dapat kita gunakan untuk pemahaman kegunaannya, sebagai berikut :

Information science as the study of information, its source and development, usually taken to refer to the role of scientific, industrial and specified libraries and information units in the handling and dissemination of information” Artinya : ilmu informasi sebagai kajian studi dari informasi, pengembangan sumber-sumber informasi biasanya digunakan sebagai rujukan pada peran ilmiah dari unit-unit

45

informasi dan perpustakaan khusus/industry terutama dalam

penanganan dan penyebarluasan informasi.

Sedangkan menurut American Society for Information science (ASIS) dalam

(Sulistyo-Basuki, 2006:17) memberi definisi yang lebih cenderung bersifat

kajian ilmiah dari ilmu informasi serta kaitannya dengan penggunaan

teknologi informasi sebagai berikut:

Information science is concerned with the generation, collection, organization, interpretation, storage, retrieval, dissemination, transformation, and use of information, with particular emphasis on the application of modern technology in these areas. As a discipline it seeks to create and structure a body of scientific technological and systems knowledge related to the transfer of information. It has both pure science (theoretical components) which inquire into the subject without regads to application and applied science (practical component) which develops service and product

Yang artinya ilmu informasi berhubungan dengan penciptaan

informasi, pengumpulan, pengelolaan, penginterpretasian, penyimpanan,

penemuan kembali, penyebarluasan, transformasi, dan penggunaan

informasi, dengan penekanan pada penerapan teknologi modern dalam

bidang-bidang ini. As suatu disiplin ilmu, ilmu informasi berusaha

mengkreasikan dan mengatur tubuh pengetahuan tentang sistem dan

teknologi ilmiah yang berhubungan dengan transfer informasi. Hal tsb

memiliki baik ilmu-ilmu murni (komponen teoritis yang menyelidiki subjek

tanpa memandang penerapannya), dan Ilmu praktis ( komponen-komponen

praktis) yang mengembangkan layanan dan produksi.

Menurut Taylor yang dikutip Rubin dalam bukunya “Foundation of

Library and Information Science” (2004: 31) juga memberikan definisi tentang

ilmu informasi yang cenderung dekat dengan bidang keilmuan perpustakaan,

kearsipan dan dokumentasi sebagai berikut:

the science that investigates the properties and behavior of

information, the force governing the flow of information, and the means

of processing information for optimum accessibility and usability. The

46

process include the origination, dissemination, collection, organization, storage, retrieval, interpretation, and use of information.” Secara ringkas, ilmu informasi adalah disiplin ilmu yang mengkaji perilaku informasi, berbagai kekuatan yang mempengaruhi arus informasi, sarana pengolahan informasi guna memperoleh hasil semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan pemakai . Menurut Sulistyo-Basuki (2004:18),. Ilmu informasi merupakan ilmu interdisiplin yang berasal dari dan berhubungan erat dengan Matematika, Linguistik, Operation Research, Ilmu Perpustakaan, Ilmu Komunikasi, Manajemen, dan ilmu-ilmu lainnya. Maka dari beberapa definisi ilmu informasi di atas, maka definisi Ilmu informasi adalah ilmu yang mempelajari perilaku informasi, alur informasi, dan sarana-sarana pengolahan informasi secara maksimal agar dapat mudah diakses serta ditemukan kembali dan digunakan agar memperoleh hasil semaksimal mungkin. Pengolahan informasi termasuk keasliannya, penyimpanan dan penyebarannya, interpretasinya dan penggunaan informasi tsb.

Selanjutnya berdasarkan pemahaman tersebut, Rubin (2004: 35 -63) secara komprehensif membagi ilmu informasi menjadi 5 kuadran area untuk menberikan konseptualisasi terutama pemahaman akan bidang ilmu yang lain. Area tersebut meliputi:

Area 1: Bidang kebutuhan informasi (information needs), pencarian informasi (information seeking), serta penggunaan informasi (information use) dan pengguna/memakai informasi (information user) Area 2: Penyimpanan dan temu kembali informasi (information storage and retrieval) Area 3: penjelasan mengenai arti konsep Informasi dan Nilai Informasi (information Value) Area 4: Bibliometrika dan Analsis Sitiran (Bibliometric and Citation Analysis)

47

Area 5: Bidang manajemen dan administrasi dari informasi.

Sedangkan menurut Sulistyo-Basuki terdapat karakteristik dan ciri umum dari ilmu informasi sbb.:

1. Fokus ilmu informasi ialah fenomena informasi. Ilmu informasi berhubungan dengan informasi dengan tidak memandang kemasannya apakah buku atau pangkalan data.

2. Ilmu informasi membahas informasi secara keseluruhan, mulai dari pembuatan atau penciptaannya sampai penggunaannya.

3. Bidang ilmu informasi bersifat interdisipliner, mengambil dari bidang sains, ilmu sosial dan bahkan psikologi.

4. Menekankan pada ketercapaian atau keteraksesan serta penggunaan

informasi Bidang yang dikaji ilmu informasi ialah batasan sifat dan ciri informasi beserta nilainya, kajian atas kebutuhan informasi, pencarian informasi, penggunaan informasi dan pemakai informasi; simpan dan temu kembali informasi, analisis sitiran, pengindeksan, dan teori komunikasi. Tentang fokus Ilmu Informasi, menurut Vickery dan Vickery ( 1989, dalam

Putubuku 2008) ada empat hal yang menjadi fokus perhatian Ilmu Informasi, yaitu :

1.

Fenomena dan persoalan dalam komunikasi di kalangan ilmuwan dan teknologi, yang melahirkan topik khusus bernama ‘informasi ilmiah’.

2.

Penggunaan teknologi, terutama teknologi komputer dan telekomunikasi, dalam pengelolaan informasi. Tajuk untuk topik ini seringkali secara umum disebut ’teknologi informasi’.

3.

Penerapan metode ilmiah untuk mengatasi masalah-masalah praktis di bidang informasi, atau disebut juga ‘kajian sistem informasi (information systems study).

4.

Penelitian ilmiah tentang komunikasi informasi di dalam masyarakat.

48

ilmu

informasi. Mereka juga menegaskan bahwa ilmu informasi tidak hanya

berurusan dengan komunikasi informasi ilmiah, tetapi juga komunikasi

informasi tentang berbagai aspek kehidupan lainnya.

Vickery

dan

Vickery

menganggap

no.

4

adalah

pengertian

Objek Ilmu Informasi

Ilmu informasi dikatakan Sulistyo-Basuki (2006: 23 -24) mempunyai

objek material dan objek formal. Ancangan yang digunakan untuk

mendeskripsikan objek ilmu informasi adalah ancangan pemahaman

dibandingkan ancangan definisi. Ancangan definisi artinya pendekatan

terhadap sebuah ilmu berdasarkan definisi.

1. Objek material ilmu informasi

Objek material merupakan sebuah objek yang sama yang dikaji oleh

berbagai disiplin ilmu. Misalnya manusia sebagai objek material merupakan

objek yang sama. Untuk membedakan objek berbagai disiplin ilmu, maka

ditentukan objek formalnya. Misalnya menyangkut fisiknya dikaji oleh

Fisiologi, cara bergaulnya dipelajari oleh Sosiologi, kaitannya dengan hukum

menjadi kajian Ilmu Hukum, percakapannya dengan manusia lain menjadi

objek formal Bahasa. Demikian seterusnya.

Dilihat dari segi perkembangannya ilmu informasi dan perpustakaan

dapat dibuktikan bahwa objek yang selalu menjadi perhatian ialah rekaman

grafis (graphical records) yang dalam masa-masa awalnya berupa buku atau

bentuk embrio dari buku. Kini rekaman tersebut meluas menjadi informasi

terekam dengan tidak memandang medianya sehingga dapat berupa buku,

audio visual, bentuk mikro maupun elektronik.

Rekaman informasi adalah setiap maujud (entitas, entity) yang

merekam transkrip pengalaman umat manusia. Rekaman ini mencakup

rekaman gambar atau tulisan, media yang merekam kesan indera

pendengaran (audio) serta kesan indera pengelihatan (visual). Dilihat dari sisi

49

rekaman informasi maka ilmu informasi dan perpustakaan dapat dikelompokkan ke ilmu-ilmu budaya karena objek formalnya mempelajari sis budaya manusia.

2. Objek formal ilmu informasi Objek formal dari ilmu infomasi dikatakan menyangkut beberapa hal terutama yang mengkaji informasi terekam, yaitu:

a. Cara pengumpulan, pencatatan, penyimpanan, temu balik (penelusuran), penyebaran dan pendayagunaan informasi terekam; b. Unit segala tempat yang menyimpan rekaman informasi serta tempat bertemunya permintaan rekaman informasi dengan penyedianya; c. Manusia sebagai pemakai informasi terekam yang memiliki banyak kebutuhan serta beraneka ragam perilaku. Objek formal tersebutlah yang membedakan antara ilmu informasi perpustakaan dengan ilmu-ilmu lain.

LATIHAN

1. Jelaskan pengertian Ilmu Informasi

2. Sebutkan karakterisitik Ilmu Informasi

3. Jelaskan fokus perhatian Ilmu Informasi menurut Vickery.

4. Ilmu Informasi mempunyai Objek material dan objek formal. Jelaskan!

Petunjuk jawaban latihan :

1. Untuk menjawab latihan ini baca ruang lingkup Ilmu Informasi di halaman 48 .

2. Untuk menjawab latihan no. Ini baca karakterisitik Ilmu Informasi halaman 51.

3. Untuk menjawab latihan ini baca halaman 52

50

4. Untuk menjawab latihan ini baca Objek Ilmu Informasi halaman 53.

Umpan Balik

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban test formatif yang ada

pada bahasan berikut ini, hitunglah jawaban anda yang benar, kemudian

gunakan rumus ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap

materi dalam bab ini.

Rumus :

Tingkat penguasaan = jawaban yang benar x 100%

Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai adalah :

90% - 100% : baik sekali

80% - 89%

: baik

70% - 79%

: cukup

60% - 69%

: kurang

0% - 59%

: gagal

Tindak Lanjut

Jika anda mencapai tingkat kepuasan 80% keatas, maka anda dapat

meneruskan dengan kegiatan belajar bab selanjutnya, tetapi jika tingkat

penguasaan anda belum mencapai 80%, maka anda harus mengulangi

kegiatan belajar bab tersebut terutama pada bagian yang anda belum kuasai.

Untuk mencapai pemahaman tersebut anda dapat menghubungi dosen

pengampu di luar waktu kuliah.

RANGKUMAN

Ilmu informasi adalah ilmu yang mempelajari perilaku informasi alur

informasi, dan sarana-sarana pengolahan informasi secara maksimal agar

dapat mudah diakses serta ditemukan kembali. Pengolahan informasi

termasuk keasliannya, penyimpanan dan penyebarannya, interpretasinya dan

51

penggunaan informasi. Ruang lingkup utama Ilmu Informasi adalah : 1)

Pengetahuan dan Komunikasi tsb., 2) Sumber-sumber informasi, 3)

Organisasi Informasi, 4) Temu kembali informasi, 5) Penyebaran informasi, 6)

Manajemen Informasi. Disamping itu masih ada bagian pelengkap, yaitu 1)

pengelolaan data, 2) metode penelitian, 3) bibliometrik (beberapa aspek dari

matematik, statistik, 4) linguistik), 5) pengetahuan bahasa asing, 6) dan

teknologi informasi.

Karakterisitik Ilmu Informasi adalah : 1) terfokus pada fenomena

informasi dengan tidak memandang pada kemasannya, 2) Membahas

informasi secara keseluruhan mulai dari pembuatan sampai ke

penggunaannya, 3) Bidang Ilmu Informasi bersifat interdisipliner, 4)

Menekankan pada ketercapaian atau keteraksesan serta penggunaan

informasi.

Fokus perhatian Ilmu Informasi, yaitu: 1)Fenomena dan persoalan

dalam komunikasi di kalangan ilmuwan dan teknologi, yang melahirkan topik

khusus bernama ‘informasi ilmiah’. 2) Penggunaan teknologi, terutama

teknologi komputer dan telekomunikasi, dalam pengelolaan informasi. Tajuk

untuk topik ini seringkali secara umum disebut ’teknologi informasi’.

3)Penerapan metode ilmiah untuk mengatasi masalah-masalah praktis di

bidang informasi, atau disebut juga ‘kajian sistem informasi (information

systems study), Penelitian ilmiah tentang komunikasi informasi di dalam

masyarakat

Objek Ilmu informasi terdiri dari objek material dan objek formal. Objek

material merupakan sebuah objek yang sama yang dikaji oleh berbagai

disiplin ilmu. Objek formal dari ilmu infomasi dikatakan menyangkut

beberapa hal terutama yang mengkaji informasi terekam

TEST FORMATIF

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

1. Ilmu informasi pada dasarnya mengkaji mengenai konsep dasar…

52

a. Data, Informasi, dan Pengetahuan

b. Semantik, Sintaksis, dan Morfologi

c. Anatomi, Fisiologi, dan Patologi

d. Telekomunikasi, Sibernetika, dan Website

yang berguna dalam dunia pendidikan,

berdasarkan alasan utama individu merekam informasi dikategorikan

sebagai…

a. Alasan Pribadi

b. Alasan Sosial

c. Alasan Hukum

d. Alasan Simbolik

2. Jenis

informasi

terekam

3. Karakteristik utama ilmu kearsipan adalah….

a. Mengkaji informasi terekam atas alasan historis, administratif, dan hukum

b. Melayani pengguna secara terbuka dan mutakhir

c. Mendeskripsikan penggunaan sistem jaringan

d. Menggunakan jenis data digital dan audiovisual

4. Definisi Ilmu Informasi sebagian besar menyangkut kegiatan berikut,

kecuali….

a. Pengolahan informasi

b. Penyebarluasan informasi

c. Pemusnahan informasi

d. Penelusuran informasi

5. Perbedaan ilmu informasi dan ilmu perpustakaan yang paling mendasar

dan tepat terletak pada….

a. Ilmu informasi mengkaji data; ilmu perpustakaan mengkaji buku.

b. Ilmu informasi mengkaji hirarkhis data-informasi-pengetahuan; ilmu perpustakaan mengkaji informasi terekam sebagai objek hasil budaya manusia

53

c. Ilmu informasi mengkaji transfer pengetahuan; ilmu perpustakaan mengkaji komunikasi ilmiah

d. Ilmu informasi mengkaji informasi dalam pangkalan data; ilmu perpustakaan mengkaji informasi dalam catalog buku.

6. Jenis informasi terekam yang banyak dan paling tepat dipelajari dalam bidang ilmu kearsipan berupa…

a. Record (rekod)

b. Bahan pustaka

c. Microfilm

d. Ensiklopedia

7. Ilmu Informasi pada dasarnya berhubungan dengan sistem informasi yang mengkaji…

a. Aliran data dalam sistem literatur ilmiah

b. Aliran data dalam komponen komunikasi dan transmisi elektronik

c. Aliran data dalam komponen input-output informasi dengan perangkat komputer

d. Aliran data dalam sistem multimedia dan audiovisual

8. Area dari ilmu informasi yang berkaitan dengan penggunaan konsep

matematika dan statistika dalam mengkaji informasi adalah…

a. Bibliometrika

b. Semantika

c. Semiotika

d. Sibernetika

9. Sifat ilmu informasi yang interdisipliner artinya bahwa ilmu informasi

cenderung….

a. Berdiri tunggal

b. Mendapat kontribusi dari jenis bidang ilmu lain

c. Termasuk disiplin ilmu yang dinamis

d. Terkait dengan fokus fenomena informasi yang beragam

54

10. Bidang ilmu yang tidak mendukung sifat interdisipliner ilmu informasi adalah…

a. Epidemiologi

b. Linguistik

c. Psikologi

d. Komputer

55

KEGIATAN BELAJAR 2:

Hubungan Ilmu Perpustakaan dengan Ilmu-ilmu lain yang mengkaji informasi.

Ilmu Informasi dan Ilmu Perpustakaan Berdasarkan pemahaman terhadap berbagai definisi Ilmu Perpustakaan, maka ilmu informasi selalu berkaitan dengan konten informasi (data) serta berbagai macam media yang digunakan untuk mengemas konten tersebut. Hawkins (dalam Pendit, 2003: 40) membuat bagan mengenai perbedaan antara subjek kepustakawanan dengan ilmu informasi. Hawkins juga menggarisbawahi betapa tidak mudah mendefinisikan ilmu informasi jika ilmu ini harus dibedakan dari konsep kepustakawanan (librarianship) dan dokumentasi:

Tabel 1 Subjek Penelitian Kepustakawan dan Ilmu Informasi

Subjek Kepustakawanan

Subjek Ilmu Informasi

Bahan langka (rare materials)

Aspek teknis dari teknologi informasi

Bahan non-cetak

Ilmu perilaku

Bahan Pustaka dan Perpustakaan

Industri informasi

Bentuk-bentuk mikro

Intelegensi buatan, sistem pakar

Eksibisi (Pameran) pustaka

Jenis literatur

Furnitur

Logika fuzzy

Jasa Peminjaman

Membaca (literacy)

Kearsipan

Pangkalan data (database)

Kepustakawanan dunia

Penelitian dasar ilmu informasi

Manajemen, pendanaan,

Pengolahan bahasa alamiah

56

keuangan

 

Mobil Perpustakaan

Professional informasi

Museum

Undang-undang dan regulasi

Organisasi perpustakaan

 

Pemindahan buku

 

Pengguna dan penggunaan perpustakaan

 

Promosi

 

Staf perpustakaan

 

Sumber: Pendit, 2003: 40

Sedangkan Putubuku (Putu Laxman Pendit, 2008) , menjelaskan

bahwa Richard E.Rubin(1998) berupaya menghilangkan perbedaan

antara “perpustakaan” dan “informasi” dengan menyatakan bahwa

‘landasan nilai dari Ilmu Informasi adalah keinginan untuk mempelajari

bagaimana agar informasi dapat diperoleh dan digunakan oleh manusia’.

Menurutnya, Ilmu Informasi dirancang sebagian besar untuk memuaskan

kebutuhan informasi perorangan. Rubin berargumen bahwa motivasi

yang mendorong kelahiran Ilmu Informasi banyak memiliki kesamaan

dengan tujuan perpustakaan dan kepustakawanan yang sudah hadir

sebelumnya. Ilmu Informasi, menurut Rubin (1998) melengkapi

pengetahuan tentang bagaimana memahami kebutuhan dan keperluan

informasi, bagaimana sistem informasi sebaiknya dirancang dan

digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi.

Hubungan Ilmu Informasi dan Ilmu Perpustakaan menurut ,Richard

Rubin, (1998 dalam Putubuku, 1998) dianggap sudah seperti dua sisi dari

mata uang yang sama. Beliau mencoba membuat pembagian topik-topik

penting dalam Ilmu Informasi dan Ilmu Perpustakaan sebagai berikut :

1. Penyelidikan tentang kebutuhan, pencarian, penggunaan, dan

pengguna informasi, terutama dalam hal:

57

a) Pencarian dan pengumpulan informasi.

b) Pengaruh konteks dalam upaya pencarian informasi.

c) Perbedaan antara sumber informasi perorangan dan institusional.

d) Peran pustakawan dalam proses pencarian informasi.

e) Dinamika dalam proses pencarian informasi.

f) Kemampuan orang perorangan dalam mencari informasi.

g) Hal-hal yang memudahkan manusia menemukan informasi.

2. Penyimpanan dan penemuan-kembali informasi, yang mengandung

beberapa sub topik seperti:

a) Evaluasi sistem temu-kembali informasi

b) Rumus Recall-Precision.

c) Model-model pencarian dan penemuan kembali informasi.

d) Pangkalan data dan struktur data.

e) Antarmuka komputer-manusia.

f) Kecerdasan buatan dan sistem pakar

3. Hakikat informasi, makna, dan nilainya, termasuk di sini persoalan

perbedaan antara data, informasi, dan pengetahuan.

4. Bibliometrika dan analsisis sitasi.

5. Manajemen dan masalah-masalah administratif dalam pengelolaan

perpustakaan, termasuk :

a) Pemilihan dan penetapan teknologi yang diperlukan perpustakaan.

b) Pengaruh teknologi pada pekerjaan dan sumberdaya manusia.

c) Pengembangan sistem informasi, manajemen sumberdaya

informasi, manajemen rekod.

d) Pengukuran dan evaluasi kinerja perpustakaan.

Definisi dan penjelasan tentang topik-topik penelitian yang diusulkan

(2008) dianggap tampak sekali

Rubin

di

atas

menurut

Putubuku

58

memperlihatkan pandangan bahwa ilmu informasi semata-mata kelanjutan

dari ilmu perpustakaan ketika komputer mulai digunakan di perpustakaan.

Pandangan seperti ini sebenarnya dianggap terlalu menyederhanakan

persoalan, walau juga memudahkan kita melihat kaitan antara ilmu

informasi dan ilmu perpustakaan. Dalam perkembangan selanjutnya, kita

dapat melihat bahwa ilmu informasi sangat dipengaruhi oleh penggunaan

komputer dalam kehidupan manusia, sehingga justru tidak hanya berkaitan

dengan perpustakaan. (Putubuku dalam Definisi Ilmu Informasi,

http://iperpin.wordpress.com/ category/definisi)

Sementara itu Saracevic (2005) mengemukakan pemasalahan

mendasar yang banyak dibahas oleh ilmu informasi pada dasarnya berfokus

pada dua hal:

1. Ledakan Informasi (Information explosion) menyangkut pertumbuhan

jumlah informasi baik secara kuantitas maupun kualitasnya

2. Ledakan Komunikasi (Communication explosion) menyangkut

bagaimana pertumbuhan jumlah konten informasi tersebut

dikomunikasikan, ditranfer dan diakses melalui berbagai macam media

komunikasi.

Sulistyo-Basuki (2006: 27 – 28) kemudian memerikan deskripsi ruang

lingkup Ilmu Informasi yang juga berkaitan dengan Ilmu Perpustakaan

sebagai berikut:

1. Teori, metode dan evaluasi temu kembali informasi (information

retrieval). Bagian ini meliputi temu kembali informasi, transformasi

informasi artinya informasi dapat berubah bentuk. Bentuk baru ini

diwakili dalam berbagai bentuk informasi lazim dikenal dengan

sebutan representasi informasi, analisis informasi

2. Bibliometrika yaitu penerapan metode matematika dan statistika

terhadap informasi terekam, umumnya terhadap majalah dan buku.

Bibliometrika

membahas

produktifitas

pengarang

berdasarkan

 

59

karyanya yang telah diterbitkan, produktifitas majalah, teori ko-sitasi,

analisis sitasi, pasangan bibliografis, teori grafik pada komunikasi

formal.

3. Komunikasi ilmiah dan transfer informasi dalam dunia pengetahuan.

Kajian ini membahas proses pencetusan, pengolahan, penyebaran,

dan penggunaan informasi terutama di kalangan ilmuwan. Sejak

informasi diciptakan maka informasi harus ditransfer kepada pemakai

setelah melalui proses pengolahan dan penyebaran. Proses transfer

informasi inilah yang dikaji. Proses penyebaran informasi ini

menggunakan dua cara yaitu melalui komunikasi formal dan informal.

Komunikasi formal adalah komunikasi melalui media formal seperti

majalah, buku, jurnal, disertasi, dan sejenisnya. Komunikasi informal

adalah komunikasi melalui saluran informal seperti melalui telepon,

percakapan disela-sela seminar, dsb.

4. Rancangbangun atau desain serta evaluasi sistem informasi. Sistem

informasi tidak saja perpustakaan, walaupun perpustakaan merupakan

unsur utama. Adanya berbagai sistem informasi menuntut syarat

pembuatan desain yang sesuai dengan keperluan lembaga induk

penaungnya serta pemakainya. Acapkali sistem informasi bila sudah

tersusun seringkali kurang dimanfaatkan. Hal ini menimbulkan usaha

untuk mengkaji ulang rancangbangun serta kinerja sistem informasi

5. Produk serta jasa informasi khusus. Informasi yang dihasilkan oleh

berbagai sistem informasi tidak saja terbatas pada penyerahan

dokumen melainkan juga berbagai produk informasi yang telah

disesuaikan dengan keperluan pemakai.

6. Komputer sebagai gawai (device) olah informasi, khususnya yang

berhubungan dengan data bibliografi.

7. Representasi informasi mencakup pengertian indeks (berbagai jenis

indeks tradisional maupun indeks berbantuan komputer), abstrak (baik

menggunakan sistem manual maupun dengan bantuan mesin) serta

60

transformasi informasi terekam kedalam berbagai bentuk

representasinya, khususnya yang menyangkut data biblografi.

8. Pemakai serta penggunaan informasi dalam kaitan ar

9. kajian terhadap permintaan dan penggunaan informasi oleh pemakai,

termasuk pendayagunaan sumber informasi untuk kepentingan

pemakai serta perilaku pemakai dalam mencari informasi.

10. Berbagai aspek informasi seperti strategi penelusuran informasi,

penerapan sistem pakar terhadap informasi.

Hubungan Ilmu Perpustakaan dengan Ilmu-ilmu lain yang mengkaji

informasi.

Berdasarkan pemahaman atas perbedaan subjek kepustakawanan

dan ilmu informasi, Sulistyo-Basuki (1991: 14) mengemukakan pendapat

bahwa ilmu informasi pada dasarnya terdiri atas 3 displin ilmu dasar yang

pada perkembangannya, persinggungan area antara sub displin ilmu tersebut

yang membangun ilmu informas. Berikut adalah 3 area dasar sub disiplin ilmu

yang membentuk ilmu informasi:

1. Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi

2. Ilmu Manajemen dan Sistem

3. Ilmu Komputer dan telekomunikasi

Ilmu perpustakaan bersama-sama dengan Ilmu Manajemen dan

Sistem serta Ilmu Komputer dan Telekomunikasi, membentuk ilmu baru, yaitu

Ilmu Informasi. Ilmu informasi adalah ilmu yang mengkaji informasi, yang

mencakup pengertian informasi dalam arti luas; yang mencakup pengertian

data numerik, tekstual, suara, maupun citra. Ada berbagai disiplin ilmu yang

mengkaji informasi dalam arti luas, yang dapat dibagi dalam 3 kelompok

besar, yaitu :Ilmu-ilmu Manajemen dan Sistem, Ilmu-ilmu Komputer dan

Telekomunikasi, dan Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi. Irisan dari tiap

bidang ilmu ini membentuk ilmu-ilmu baru. Irisan antara Ilmu Perpustakaan

dan Dokumentasi dengan Ilmu Komputer dan Telekomunikasi membentuk

61

Temu Balik Informasi; Irisan Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi dengan

Ilmu Manajemen dan Sistem membentuk Administrasi Perpustakaan, dan

irisan Ilmu Komputer dan Telekomunikasi dengan Ilmu Manajemen dan

Sistem membentuk Sistem Informasi Manajemen. Dan irisan dari ketiga

kelompok besar tersebut, membentuk Ilmu Informasi. Hubungan tersebut

dapat filihat pada gambar 2.

Gambar 3:

Posisi dan Kedudukan Ilmu Informasi

Sistem Informasi

Manajemen

dan Kedudukan Ilmu Informasi Sistem Informasi Manajemen Ilmu Informasi Administrasi Perpustakaan Sumber:
dan Kedudukan Ilmu Informasi Sistem Informasi Manajemen Ilmu Informasi Administrasi Perpustakaan Sumber:
dan Kedudukan Ilmu Informasi Sistem Informasi Manajemen Ilmu Informasi Administrasi Perpustakaan Sumber:

Ilmu Informasi

Administrasi

Perpustakaan

Sumber: Sulistyo-Basuki,1993: 15

Temu Balik Informasi Automatis

Ilmu Informasi dan Informasi Terekam

Informasi memiliki berbagai makna tergantung pada ilmu yang

membahasnya. Informasi dikatakan memiliki berbagai tolok ukur dan

ancangan keilmuan yang sangat dipengaruhi antara definisi yanga satu

dengan definisi yang lain. Menurut Sulistyo-Basuki (2003: 3) akibat terlalu

banyaknya definisi informasi, maka untuk memahami informasi sebaiknya kita

melihatnya dari segi pemahaman bukan dari segi definisi.

62

Informasi didahului oleh sebuah peristiwa. Peristiwa ini diwakili dalam bentuk simbol-simbol yang disusun menurut peraturan dan konvensi yang merupakan data. Data ini dapat berupa data numerik (angka), tekstual (berupa huruf), audio berupa suara atau bunyi, video berupa gambar, citra atau gabungan antara d$ua jenis data atau lebih. Bila data tersebut diterima manusia melalui panca inderanya maka data tersebut berubah menjadi informasi. Bila informasi tersebut disebarluaskan ke individu lain maka konsep informasi berubah menjadi pengetahuan selama informasi tersebut merupakan hal yang baru bagi penerima. Apabila si penerima memperoleh informasi baru, maka bagi si penerima informasi tersebut menjadi memperoleh pengetahuan. Informasi yang diterima manusia dapat dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu informasi terekam dan informasi tidak terekam dalam media tertentu. Misalnya, seseorang menulis surat kepada B, maka informasi yang diterima oleh B merupakan informasi terekam. Bila A berbisik kepada B, maka bisikan tersebut merupakan informasi yang tidak terekam dalam sebuah media (kertas, elektronik) tetapi tercatat di benak B. Informasi yang dibuat manusia maupun badan korporasi (perusahaan, departemen, instansi, yayasan, dan sejenisnya) dapat berupa informasi terekam dan dapat pula berupa informasi tak terekam. Informasi terekam ini dapat dibagi menurut jenis medianya seperti media grafis, media elektronik, dan audio visual. Media grafis berarti informasi direkam dalam bentuk grafis dan dicetak. Contohnya buku, majalah,, laporan, formulir. Bila direkam dalam bentuk elektronik maka untuk menyimpan dan membacanya memerlukan perlatan khusus. Contoh kaset, piringan hitam. Audio visual adalah informasi terekam yang dapat dipandang dan didengar dengan menggunakan peralatan khusus. Contoh film, video, VHS. Contoh lain adalah Globe. Globe atau bola dunia tidak dimasukkan ke kelompok media grafis karena memang tidak dicetak. Menurut Sulistyo-Basuki (2003:4) apapun bentuknya, informasi terekam merupakan dokumen.

63

Dengan kata lain, dokumen adalah informasi terekam dengan tidak

memandang medianya. Istilah dokumen sinonim dengan rekaman. Sehingga

pemahaman tentang informasi baik yang dikaji oleh disiplin ilmu

perpustakaan, dokumentasi, kearsipan adalah mengacu pada jenis informasi

terekam dalam berbagai medium. Informasi terekam inilah yang menjadi

objek formal awal paradigm ilmu informasi yang kemudian didiferensiasi

menjadi bidang keilmuan tentang dokumen.

Menurut Sulistyo-Basuki (2003: 4 – 6) berikut adalah alasan utama

mengapa manusia sebagai individu maupun bagian dari kelompok, merekam

informasi:

1. Alasan pribadi; individu cenderung memproduksi informasi yang

menyangkut kapasitas pribadi, individu, dan keluarga yang berupa

dokumen bermakna dalam kehidupan kehidupan. Manusia menulis

surat, membuat puisi, mengarang buku, membuat pidato, dan

menyusun silsilah. Dokumen yang lebih bermakna misalnya akte

kelahiran, surat nikah, dan surat kematian. Dokumen ini dapat

berupa kertas, rekaman gambar, atau rekaman suara.

2. Alasan Sosial; manusia tidak hidup sendiri, melainkan dalam sebuah

kelompok (komunitas). Manusia merupakan bagian dari organisasi

sosial yang berdasarkan minat bersama akan menghasilkan

rekaman tentang kegiatan mereka, baik sebagai perorangan maupun

bagian dari organisasi sosial. Sebagai contoh, untuk menjadi

anggota sebuah lingkungan masyarakat, seseorang perlu

mendaftarkan diri, membuat kartu tanda penduduk, dan kartu

keluarga. Kegiatan politis menghasilkan rekaman berupa keuangan

organisasi, rapat pimpinan, kampanye, pemilihan ketua umum,dsb.

3. Alasan ekonomi, individu maupun badan korporasi yang

menghasilkan uang, mengelola, dan membelanjakannya akan

menghasilkan data terekam yang berguna bagi perorangan maupun

badan

korporasi

sebagai

kepentingan

pribadi ataupun kolektif.

 

64

Rekaman informasi tersebut perlu untuk mengetahui kondisi berbagai macam aktivitas perekonomian yang telah dilakukan. Berbagai macam dokumen dibuat misal kwitansi, faktur pajak, daftar gaji, laporan keuangan, buku induk, neraca, dsb.

4. Alasan Hukum; badan pemerintah merupakan perekam informasi untuk berbagai kepentingan. Rekaman informasi ini digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk melindungi dan melayani masyarakat. Rekaman informasi untuk alasan hukum ini memperjelas fungsi hak dan kewajiban individu maupun badan korporasi. Dokumen yang menjadi contoh adalah segala rekaman tertulis yang dihasilkan atau dikumpulkan oleh pengadilan (perdata, pidana, administrasi, militer) terutama dalam konteks sistem hukum Indonesia

5. Alasan Instrumental; banyak rekaman informasi diproduksi dan dirancang untuk melaksanakan tugas tertentu. Hal ini terjadi karena dokumen tersebut sengaja dibuat atau karena ada. Misalnya gambar arsitektur dan cetak biru (blue print) ketika dibuat memang sudah ada tujuan instrumental. Jadi, sejak semula gambar arsitektur dibuat untuk tujuan instrumental walaupun kemudian hari tujuan instrumentalnya berubah.

6. Alasan Simbolik; beberapa rekaman informasi dibuat tidak selalu memiliki kepentingan praktis, ada kalanya kepentingan simbolik. Beberapa universitas di Eropa dan Amerika mengeluarkan ijazah yang ditulis dalam bahasa Latin, yang mungkin tidak dipahami si penerima. Dokumen ijazah tersebut merupakan symbol keberhasilan seseorang mencapai jenjang akademis.

7. Alasan Pengembangan Pengetahuan; ilmuwan yang melakukan penelitian akan menyebarkan hasil penelitiannya kepada orang lain dalam bentuk informasi terekam. Dengan demikian ilmu

65

pengetahuan merupakan kumulasi dari pengetahuan lainnya dan

kumulasi ini diwujudkan dalam bentuk informasi terekam

Dengan demikian, maka dapat dimengerti bahwa rekaman disimpan oleh

badan korporasi sebagai pencipta dan penerima informasi. Bila ditinjau dari

segi informasi terekam, sebenarnya terdapat berbagai badan yang

menyimpan informasi terekam. Adapun badan tersebut ialah perpustakaan,

pusat rekaman (record center), depo arsip, dan museum. Karena terdapat

berbagai jenis rekaman informasi yang dihasilkan dan tersebar di masyarakat

maka terdapat berbagai disiplin ilmu yang mengkaji informasi terekam

tersebut.

Ilmu Kearsipan dan Informasi Terekam

Informasi terekam dihasilkan oleh perorangan maupun badan.

Informasi terekam itu ada yang disengaja disebarluaskan agar masyarakat

dapat membacanya; ada pula yang penyebarannya terbatas. Informasi

terekam ada yang disimpan permanen. Informasi terekam yang disimpan

permanen disebut arsip, sementara informasi terekam yang dihasilkan atau

diterima oleh sebuah badan untuk menjalankan kegiatannya disebut rekod

(record). Adapula buku yang sengaja dibuat untuk diketahui umum.

Hal tersebut menurut Sulistyo-Basuki (2003: 7) menimbulkan ilmu

yang berlainan yang menjadikan informasi terekam sebagai objek studinya.

Ilmu perpustakaan merupakan ilmu yang mengkaji informasi terekam sebagai

hasil pengetahuan umat manusia. Informasi terekam itu berupa buku,

majalah, surat kabar, laporan, maupun informasi terekam dalam bentuk

elektronik. Kini ada kecenderungan untuk menyebut IImu perpustakaan dan

informasi

Ilmu kearsipan mengkaji informasi terekam yang disimpan permanen

karena alasan historis, administrasi, hukum, maupun ilmu pengetahuan.

Dalam bahasa Inggris, Ilmu Kearsipan ini dikenal dengan nama Archieves

Studies, atau disebut juga

66

Administrasi

Arsip

dan istilah inilah yang

digunakan biasanya berupa Manajemen Rekod atau dalam bahasa Inggris

dikenal sebagai Record Management.

Perbedaan antara kegiatan perpustakaan dan kearsipan dapat dilihat

dari table yang dikemukakan oleh Sulistyo-Basuki sebagai berikut:

Tabel 2

Perbedaan Pusat Arsip Dinamis, Depo Arsip, Perpustakaan, dan

Museum

(Sumber: Sulistyo-Basuki, 2006: 29)

 

Pusat Arsip

Depo Arsip

(Arsip Statis)

   

Uraian

Dinamis

(registrar)

Perpustakaan

Museum

Yang

Registrasi menciptakan dan mengendalikan arsip dinamis (aktif dan inaktif) yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan badan korporasi

Arsip statis yang berasal dari arsip inaktif yang diputuskan untuk disimpan permanen. Biasanya tidak ditertibkan, unik, dan berbentuk format apa pun.

Materi yang diterbitkan dalam berbagai format seperti kertas, film, mikrofis, atau kaset yang tidak bersifat unik karena diterbitkan dalam jumlah besar.

Objek dan

disimpan

artefak (benda

tiga dimensi),

diasosiasikan

dengan

dokumentasi

dapat bersifat

unik ataupun

tidak

Susunan

Sistem

Dalam susunan yang ditentukan dan digunakan oleh pencipta arsip (prinsip original order dan provenance)

Berdasarkan system klasifikasi dan deskripsi yang telah ditentukan sebelumnya. Misal ISBD untuk deskripsi dan bagan klasifikasi seperti DDC dan UDC.

Penyusunan

material

penyusunan

materi tidaklah

dan control

maknawi

yang dipilh,

(signifikan).

dikembangkan

Yang utama

dan

adalah control

dilaksanakan

material.

oleh manajer

 

arsip dinamis

(records

managers)

Pemakai

Karyawan

Tergantung

Setiap anggota

Setiap anggota

badan

pada garis

masyarakat.

masyarakat

korporasi yang

haluan (policy)

Misalnya di

67

 

memerlukan

kearsipan, misalnya peneliti, mereka yang berusia 18 tahun dan berdasarkan syarat yang ditentukan oleh depositor/donor arsip

perpustakaan sekolah hanyalah guru dan murid, di perpustakaan umum adalah setiap anggota masyarakat.

 

arsip dinamis

untuk

melaksanakan

tugas mereka

Cara

Manager arsip

Memeriksa panduan, inventerisasi dan dokumen temu balik lainnya yang tersedia untuk pamakai

Memeriksa catalog pengarang dan subjek atau merawak langsung ke rak

Hanya boleh

menemukan

dinamis

melihat apa

materi yang

membuat dan

saya yang

diinginkan

menggunakan

dipamerkan

indeks,

register, dan

sebagainya

 

untuk temu

 

balik materi

yang tepat

Cara

Berkas arsip

Di ruang baca di bawah pengawasan arsiparis

Di perpustakaan atau bila dipinjam dapat dibaca di mana saja sesuai dengan keinginan pembaca

Di galleria

memeriksa

dinamis dapat

pameran atau

materi yang

digunakan

ruang pameran

diinginkan

setelah diambil

dari rak

 

penyimpanan

Tujuan

Penyimpanan,

Perlindungan arsip statis termasuk perlindungan arsip yang memiliki nilai informasi, historis, ilmiah, dan pembuktian

Mengembangkan koleksi yang tepat dan komprehensif yang disimpan, ditemu balik, dan digunakan secara efektif

Pengumpulan

masing-

control, dan

dan

masing

temu balik

perlindungan

lembaga

yang efisien,

artefak untuk

ekonomis, dan

masyarakat

sistematik

pada arsip

dinamis yang

diperlukan

 

untuk

 

melaksanakan

tugas

Alasan

Melaksanakan

Untuk bukti

Untuk keperluan pendidikan, informasi,

Untuk keperluan pendidikan, estetika, dan

mengunjungi

tugas

transaksi dan

lembaga

aksi, belajar,

68

   

melakukan penelitian, untuk kesenangan

penelitian, dan rekreasi melalui bacaan

penelitian

Yang

Manajer arsip

Arsiparis

Pustakawan

Kurator museum (museum curator)

bertanggung

dinamis

(archivist)

(librarian)

jawab

(records

manager)

 

Contoh di

Pusat arsip

Depo arsip milik ANRI atau ANRI Wilayah

Berbagai jenis perpustakaan (umum, khusus, sekolah, perguruan tinggi, nasional, internasional, pribadi)

Berbagai jenis museum berdasarkan koleksinya (museum nasional, museum daerah, museum khusus seperti museum biologi, rokok, gula)

Indonesia

dinamis di

berbagai

instansi dan

 

lembaga;

berbagai

commercial

records centre

Perbedaan antara Kearsipan dengan Dokumentasi

Berdasarkan kemiripan antara objek fomal dan objek material antara

ilmu informasi, ilmu perpustakaan, ilmu dokumentasi dan ilmu kearsipan,

maka banyak pertanyaan muncul mengenai perbedaan antara dokumentasi

dengan Ilmu Kearsipan. Menurut Sulistyo-Basuki (2003: 28) kondisi demikian

wajar apabila ada yang menganggap bahwa dokumentasi mencakup

pengumpulan, pencatatan, dan penyebaran informasi terekam. Pendapat itu

tidak sepenuhnya kelirau apabila menggunakan ancangan supraposisi artinya

dokumentasi lebih luas daripada perpustakaan, dalam dokumentasi sudah

termasuk perpustakaan. Namun apabila menggunakan ancangan juxtaposisi,

kedudukan dokumentasi setara dengan perpustakaan. Bahkan apabila

menggunakan ancangan infraposisi, maka dokumentasi lebih sempit

daripada perpustakaan dengan kata lain perpustakaan termasuk pula

69

dokumentasi. Karena itu perlu ancangan yang jelas manakala kita ingin

membedakan antara dokumentasi dengan arsip.

Dokumentasi memiliki kegiatan yang lebih luas daripada arsip.

Menurut anggaran dasar Federation International d’Information et de

Documentation (FID) maka dokumentasi ialah penyusunan, penyimpan, temu

balik, penyebaran, dan evaluasi informasi, bagaimanapun cara merekamnya,

dalam bidang sains, teknologi, seni dan kemanusiaan. Dokumentasi lebih

luas daripada arsip karena dalam dokumentasi termasuk pula berbagai

materi yang dicakup di perpustakaan (seperti buku dan majalah),

dokumentasi juga bertugas membuat dokumen baru dari dokumen yang

sudah ada (berupa bibliografi, majalah indeks dan abstrak, sesuatu yang

tidak dilakukan oleh arsip). Secara tradisional kegiatan dokumentasi hanya

terbatas pada informasi ilmiah sedangkan jasa yang diberikannya lebih

banyak untuk ilmuwan sedangkan arsip tidak selalu terbatas pada ilmuwan

sedangkan informasi yang diberikannya tidak selalu bersifat ilmiah.

Sedangkan dari perspektif dokumentasi masih menurut Sulistyo-

Basuki (1996: 14) Ilmu Informasi yang berkaitan dengan informasi terekam

diantaranya adalah Sibernetika, Semiotika, Linguistik, Psikologi, Bibliografi,

Terbitan Buku. Sibernetika memperlajari model persepsi, pengolahan serta

penggunaan informasi pada mesin dan makhluk hidup serta gabungan antara

mesin dan makhluk hidup. Semiotika adalah ilmu tentang simbol dalam

konteks informasi terekam. Linguistik yang berkaitan erat dengan

dokumentasi ialah bagian yang membahas evolusi bahasa serta sintaksis

dan semantic yang berkaitan dengan temu kembali informasi. Psikologi yang

mempunyai hubungan erat dengan dokumentasi dan informasi terekam lazim

disebut Psikologi Rekayasa (engineering Psychology)

Ilmu perbukuan (grafika) merupakan disiplin kompleks yang

mempelajari dokumen tertulis dan tercetak, baik dari segi teori, teknik

(praktis), dan historis. Sedangkan Ilmu Informasi ialah disiplin ilmu yang

mengkaji perilaku informasi, berbagai kekuatan yang mempengaruhi arus

70

informasi serta sarana pengolahan informasi yang yang merupakan interdisiplin yang berasal dari dan berhubungan dengan Matematika, Linguistik, Operation Research, Ilmu Perpustakaan, Manajemen, dan Ilmu lainnya. Nitecki (dalam Pendit, 2003: 26-27) mengumpulkan beberapa pendapat yang menganggap ilmu informasi sekaligus adalah cabang dari kepustakawanan yang khususnya memperhatikan penggunaan teknologi informasi, dan juga merupakan landasan teoritis bagi semua lembaga informasi. Sementara Pendit mengatakan bahwa kepustakawanan menjembatani jurang (gap) antara informasi dan penggunaan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Baik ilmu perpustakaan maupun ilmu informasi dianggap sama-sama mempelajari perilaku manusia dalam kegiatan tukar- menukar informasi terekam yang bertujuan menciptakan pengetahuan dan ide, sama-sama memikirkan masalah dalam merancang dan menjalankan sistem informasi, sama-sama berorientasi layanan, sama-sama sedang berubah dengan cepat, dana sama-sama harus mencakup pula rekaman- rekaman pasca-dokumentasi yang diproduksi secara elektronik yang membutuhkan criteria organisasi berbeda dari kriteria organisasi sebelumnya. Dengan kata lain, baik ilmu perpustakaan maupun ilmu informasi mempersoalkan cara-cara memperoleh dan mengelola informasi serta menerapkan teknologi untuk itu. Saracavic (2005) menyatakan ilmu informasi dan perpustakaan merupakan dua sisi yang berbeda dari kajian interdisipliner terhadap informasi. Maka istilah ilmu informasi merupakan kajian dan praktek metode professional dalam penggunaan dan eksploitasi informasi, baik berasal dari institusi atau tidak, untuk kepentingan pemakai.

71

Transfer Informasi

Menurut Vickery dan Vickery (1987: 6) transfer informasi “is concerned

with all the process involved in transferring information from resources to

users”.Transfer informasi berhubungan dengan semua proses pemindahan

informasi dari sumber-sumber informasi ke pemakai informsi. Dalam konteks

ini transfer informasi dapat merupakan perpindahan (transfer) pada sesuatu

yang diasosiasikan pada dokumen, tetapi juga melibatkan konteks informasi

lisan (word of mouth). Dalam konteks yang lebih luas melibatkan transfer

pesan yang terjadi pada masyarakat.

GAMBAR 3

BAGAN INFORMATION TRANSFER CYCLE

Source Information generation and use Recipients Population of messages Production
Source
Information
generation and use
Recipients
Population of
messages
Production

Distributionand use Recipients Population of messages Production Retrieval S t o r a g e Analysis

Recipients Population of messages Production Distribution Retrieval S t o r a g e Analysis Sumber:

RetrievalRecipients Population of messages Production Distribution S t o r a g e Analysis Sumber: Vickery

Population of messages Production Distribution Retrieval S t o r a g e Analysis Sumber: Vickery

Storage

Production Distribution Retrieval S t o r a g e Analysis Sumber: Vickery and Vickery, 187:
Production Distribution Retrieval S t o r a g e Analysis Sumber: Vickery and Vickery, 187:
Production Distribution Retrieval S t o r a g e Analysis Sumber: Vickery and Vickery, 187:

Analysis

Sumber: Vickery and Vickery, 187: 12

llmu informasi berkembang melalui beberapa area pemahaman (Vickery dan

Vickery,1987: 12):

1. Perilaku individu sebagai pencipta, sumber, penerima, dan pengguna

informasi serta sebagai agen penghubung;

72

2. Studi kuantitatif dari populasi pesan; mencakup ukuran (size), pertumbuhan (growth), distribusi, dan pola produksi, serta

penggunaan.

3. Organisasi Semantik dari pesan dan saluran yang teridentifikasi darim peran sumber dan penerima pesan;

4. Fungsi penyimpanan, penelusuran dan analisis informasi

5. Organisasi sistem informasi dan keseluruhan proses transfernya

6. Konteks sosial transfer informasi.

Ilmu Informasi bersifat multidisipliner, karena

berkembang dari beberapa area pemahaman tsb.di atas, yaitu dari ilmu

perilaku, temu kembali informasi, dan sistem informasi.

Dengan

demikian

Latihan

1. Jelaskan definisi ilmu informasi?

2. Jelaskan hubungan ilmu informasi dan ilmu perpustakaan!

3. Jelaskan definisi transfer informasi!

4. Mengapa Ilmu Informasi bersifat multidisipliner? Jelaskan!

Petunjuk jawaban latihan.

1. Ilmu informasi adalah disiplin ilmu yang mengkaji perilaku informasi,

berbagai kekuatan yang mempengaruhi arus informasi, sarana pengolahan informasi guna memperoleh hasil semaksimal mungkin.

2. Hubungan Ilmu informasi dengan Ilmu Perpustakaan, adalah Ilmu Informasi terbentuk dari Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi, bersama-sama dengan Ilmu Manajemen dan sistem serta Ilmu komputer dan Telekomunikasi

3. Transfer informasi adalah semua proses yang berhubungan dengan perpindahan informasi dari sumber-sumber informasi ke pemakai informasi

73

4. Ilmu Informasi bersifat multidisipliner, karena berkembang dari beberapa area pemahaman tsb.di atas, yaitu dari ilmu perilaku, temu kembali informasi, dan sistem informasi.

Umpan Balik Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban test formatif yang ada pada bahasan berikut ini, hitunglah jawaban anda yang benar, kemudian gunakan rumus ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi dalam bab ini. Rumus :

Tingkat penguasaan = jawaban yang benar x 100% Jumlah soal Arti tingkat penguasaan yang Anda capai adalah :

90% - 100% : baik sekali

80% - 89%

: baik

70% - 79%

: cukup

60% - 69%

: kurang

0% - 59%

: gagal

Tindak Lanjut

Jika anda mencapai tingkat kepuasan 80% keatas, maka anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar bab selanjutnya, tetapi jika tingkat penguasaan anda belum mencapai 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan belajar bab tersebut terutama pada bagian yang anda belum kuasai. Untuk mencapai pemahaman tersebut anda dapat menghubungi dosen pengampu di luar waktu kuliah.

74

Rangkuman

Informasi adalah kumpulan data yang disampaikan seseorang dan

bermanfaat bagi penggunanya Ilmu informasi adalah disiplin ilmu yang

mengkaji perilaku informasi, berbagai kekuatan yang mempengaruhi arus

informasi, sarana pengolahan informasi guna memperoleh hasil semaksimal

mungkin. Ilmu informasi bersifat multidisipliner. Ada berbagai disiplin ilmu

yang mengkaji informasi dalam arti luas, yang dapat dibagi dalam 3 kelompok

besar, yaitu :Ilmu-ilmu Manajemen dan Sistem, Ilmu-ilmu Komputer dan

Telekomunikasi, dan Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi

Ilmu kearsipan mengkaji informasi terekam, dan Ilmu perbukuan

merupakan disiplin yang kompleks yang mempelajari dokumen tertulis dan

tercetak.

TEST FORMATIF 2

1. Persinggungan antara bidang ilmu manajemen dengan ilmu komputer

dan telekomunikasi menghasilkan jenis bidang ilmu….

a. Sistem Informasi Manajemen

b. Ilmu Informasi

c. Ilmu Perpustakaan

d. Temu Balik informasi

2. Ilmu informasi mendapatkan dukungan utama dari bidang ilmu berikut,

kecuali:

a. Ilmu Manajemen dan Sistem

b. Ilmu Perpustakaan dan Dokumentasi

c. Ilmu Komputer dan Telekomunikasi

d. Ilmu Grafika dan Desain

3. Persinggungan

antara

ilmu

computer

telekomunikasi

dengan

ilmu

perpustakaan dan dokumentasi menghasilkan produk kajian berikut…

a. Temu balik informasi elektronik

75

b. Sistem informasi manajemen

c. Administrasi elektronik

d. Ilmu Infomatika

kepustakawanan

bidang dibawah ini kecuali….

a. Museum

b. Kearsipan

c. Literacy

d. Manajemen perpustakaan

4. Subjek

(librarianship)

menurut

Hawkins

mencakup

5. Ilmu informasi termasuk mengkaji bentuk sistem temu balik informasi

yang salah satu contoh bentuknya berupa….

a. Pangkalan data elektronik

b. Absrak dan indeks

c. Jurnal Ilmiah

d. Arsip dinamis

6. Ilmu kearsipan mengkaji :

a. Informasi terekam

b. Informasi tak terekam

c. Informasi elektronis

d. Informasi non-elektronis

7 Transfer informasi berhubungan dengan semua proses dari :

a. Perpindahan Informasi

b. Sumber-sumber informasi

c. Komunikasi Informasi

d. Mencakup A dan B

8. Ilmu Perbukuan merupakan disiplin kompleks yang mempelajari :

a. Dokumen tertulis

b. Dokumen tercetak

c. Dokumen terseleksi

d. Mencakup a dan b

76

9. Menurut Nitecki Ilmu Informasi sekaligus cabang dari sekaligus memperhatiakn penggunaan teknologi informasi.

a. Kepustakawanan

b. Perpustakaan

c. Pustakawan

d. Kepustakaan

yang

10. Menurut Saracevic, permasalahan mendasar yang banyak dibahas oleh Ilmu Informasi terfokus pada :

a. Ledakan Informasi

b. Ledakan komunikasi

c. Ledakan bumi

d. Mencakup a dan b

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF 2

Kegiatan belajar 1

1)

A

Kegiatan Belajar 2 1) A

2)

B

2) B

3)

A

3) C

4)

C

4) A

5)

B

5) A.

6)

A

6) A

7)

C

7) D

8)

A

8) D

9)

B

9) A

10)A

10)D

77

DAFTAR PUSTAKA

Chamidi, Safrudin. 2004. Kaitan Antara Data dan Informasi Pendidikan dengan Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (48) 10. hal. 311 – 328. Davis, Gordon B. 1999. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen:

bagian I pengantar. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Sulistyo-basuki,1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Sulistyo-basuki,1989. Pengantar Dokumentasi Ilmiah. Jakarta : Kesaint blanc Rubin, Richard E. (1998, dalam Putubuku, 1998), Foundations of Library and

Information Science, New York : Neal-Schuman Publishers. Putubuku 2008, Arsip untuk kategori definisi : Definisi Richard Rubin. Dalam http://iperpin.wordpress.com/category/definisi, April 24, Vickery, Brian, and Alina Vickery. 1987. Information Science in Theory and Practice. First Published. London: Butterworths Yusup, Pawit M. 2002. Hubungan Komunikasi, Informasi, dan Perpustakaan:

pengenalan studi ilmu informasi dan perpustakaan, Jurnal Komunikasi dan Informasi. Edisi Khusus. Bandung: Fikom Unpad. Hal. 88 – 102.

, 2001. Pengantar Aplikasi Teori Ilmu Sosial Komunikasi

untuk Perpustakaan dan Informasi. Bandung: Jurusan Ilmu

Perpustakaan Fikom Unpad.

Zorkoczy, Peter. 1988. Teknologi Informasi. Jakarta: Elex Media Komputindo

SENARAI Arsip (Archive): Seluruh batang tubuh arsip dinamis perorangan, instansi, dan perusahaan yang memiliki nilai bersinambungan. Kadang-kadang disebut memori korporasi. Istilah tersebut juga digunakan untuk sebuah tempat di mana arsip dinamis aktif yang memiliki nilai berkesinambungan disimpan dan dilestarikan karena alasan hukum,

78

historis dan penelitian. Arsip dapat didrikan oleh pemerintah maupun swasta. Arsip dinamis yang dinilai memiliki nilai berkesinambungan Arsiparis (Archivist): tenaga professional yang bertanggungjawab atas satu atau lembaga kegiatan berikut ini: hak, klaim, penilaian dan pemusnahan; pengadaan (accessioning); pelestarian; penyusunan; deskripsi; jasa rujukan; pameran atau publikasi. Dokumen: Unit terstruktur dari informasi terekam, diterbitkan ataupun tidak diterbitkan, dalam bentuk tekstual maupun elektronik dalam sebuah system informasi. Masyarakat teknologi informasi cenderung menggunakan istilah dokumen dalam arti arti dokumen elektronik. Korporasi: Mengacu ke organisasi sector public dan swasta. Pertanggungjawaban sebuah badan korporasi diatur oleh undang- undang. Istilah korporasi seringkali hanya sebuah organisasi. Informasi: isi komunikasi. Komunikasi di sini diberi batasan sebagai proses meneruskan berita diantara manusia atau antara manusia dan system simpan informasi. Ilmu informasi : Ilmu informasi adalah disiplin ilmu yang mengkaji perilaku informasi, berbagai kekuatan yang mempengaruhi arus informasi, sarana pengolahan informasi guna memperoleh hasil semaksimal mungkin. Ilmu Perpustakaan: adalah ilmu yang mempelajari tujuan, objek, dan fungsi perpustakaan, serta metode, penyusunan, teknik dan teori yang digunakan dalam pemberian jasa perpustakaan. Rekod (Record): Arsip dinamis, rekaman, cantuman. Informasi terekam dengan tidak memandang media atau karakterisiknya, dibuat atau diterima oleh sebuah badan korporasi yang berguna bagi kegiatan operasional badan tersebut.

79

MODUL III :

KEBUTUHAN INFORMASI, TEMU BALIK INFORMASI SERTA KOMUNIKASI INFORMASI

Kegiatan Belajar I: Kebutuhan Informasi dan Temu balik informasi

Ilmu Informasi dan Kebutuhan Informasi Nitecki (1995) dalam Pendit (2003: 24) secara ekstensif mengulas ilmu informasi dalam sebuah pemahaman tiga sisi (trilogy) yang menyimpulkan bahwa ilmu informasi dan informatika muncul dari berbagai berbagai studi

tentang linguistik dan semantic, nilai informasi, teori pengambilan keputusan, dokumentasi dan aspek-aspek fisik dokumen, teori informasi dan sibernetika, komunikasi dan ilmu-ilmu perilaku, dan disiplin komunikasi yang memfokuskan diri pada maksimalisasi akses dan pemanfaatan informasi. Selanjutnya Nitecki (1995) dalam Pendit (2003: 24 – 25) juga mengumpulkan berbagai definisi untuk meperlihatkan betapa beragamnya cara orang memandang ilmu informasi, sebagai berikut:

1. Ilmu informasi merupakan segitiga yang terdiri dari komputer (data), manajemen (hubungan data dengan teknologi) dan organisasi ;

2. Ilmu informasi adalah sub sistem dari sosiologi karena berkaitan dengan masyarakat manusia;

3. Sebuah bidang studi yang mempelajari kebutuhan informasi, dengan tujuan mengurangi ketidakpastian

4. Ilmu Informasi menyelidiki sifat dan perilaku aliran informasi serta cara- cara untuk memaksimalisasi akses dan kebergunaan dari informasi;

5. Ilmu Informasi mempelajari medium yang dapat menghasilkan, mengorganisasi, dan menyebarkan informasi;

6. Ilmu informasi merupakan upaya memahami sifat informasi dan interaksinya dengan masyarakat manusia dalam lingkungan tertentu;

80

7. Ilmu Informasi merupakan sebuah disiplin yang mencakup epistemology sosial dan teori pengetahuan objektif ; 8. Ilmu Informasi diartikan sebagai Metascience, sebagai makna, sebagai sinyal, sebagai struktur dalam tingkatan analisis dan semantic, dan sebagai pengetahuan-pemahaman-kebajikan (wisdom) 9. Ilmu Informasi harus dilihat dari sisi retorika yang berdasarkan hermeunetika sebagaimana dikembangkan oleh Heidegger dan Gadamer, bukan dari sisi yang semata-mata teknis;

Konsep Kebutuhan Informasi Menurut Wilson, (2002) bagian yang menimbulkan kesulitan berkaitan dengan konsep kebutuhan informasi terletak pada informasi. Banyak definisi telah berevolusi, berusaha untuk membedakan, misalnya, 'data' antara 'informasi' dan 'pengetahuan', dan upaya baru-baru ini ada pada satu konsep informasi dengan ilmu informasi. Informasi tidak saja tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan baik. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna, lebih berarti dan bermanfaat bagi penggunanya. Data menggambarkan kenyataan suatu kejadian dan kesatuan yang nyata. Data dapat diartikan pula sebagai representasi dunia nyata yang mewakili suatu objek tertentu seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan dan lain-lain, yang direkam kedalam bentuk angka, huruf, simbol, teks, gambar, bunyi atau kombinasinya. Sebelum menjadi informasi, data yang berkualitas, kemudian diolah melalui suatu model untuk menghasilkan informasi. Model yang digunakan untuk mengolah data tersebut disebut model pengolahan data atau dikenal dengan siklus pengolahan data (siklus informasi).

81

Namun, masalah mengenai kebutuhan informasi tampaknya terletak pada tidak adanya definisi tunggal sebagai acuan. Menurut Wilson (1981) dalam konteks penelitian kajian pemakai (user-studied research) dibidang perpustakaan dan informasi, kata ‘informasi’ dalam konteks berbagai kegiatan penelitian penelitian, yang berusaha menunjukkan suatu entitas fisik atau fenomena (seperti dalam kasus pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah buku yang dibaca dalam satu periode waktu, jumlah jurnal berlangganan, dll), saluran komunikasi melalui pesan yang dikirimkan (seperti ketika kita berbicara tentang kejadian informasi lisan atau tertulis), atau data faktual, ditentukan secara empiris (statistika) dan disajikan dalam dokumen atau ditransmisikan secara lisan. Beberapa penggunaan istilah informasi ini menyebabkan ketidak- konsistensian dalam mengkaji kebutuhan informasi karena individu kadang- kadang gagal untuk membedakan antara satu istilah informasi dengan data, apalagi ketika dirujuk dengan konsep kebutuhan informasi yang ada dalam domain psikologis individu. Kondisi demikian banyak sekali perspektif kebutuhan informasi yang berakar dari penelitian tentang pengguna (user research) Pengguna informasi adalah pihak yang menerima atau menggunakan informasi. Pengguna informasi dapat menentukan kualitas seperti apa, menyampaikan apa dan bagaimana kebutuhan informasi mereka. Penyedia informasi harus bekerjasama dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan mereka, dan bekerjasama dengan sumber informasi lain. Pengguna merupakan prioritas utama kelangsungan hidup sistem informasi. Kebutuhan informasi bagi pengguna perlu diidentifilasi dalam rangka memuaskan pengguna. Mutu dan kualitas mutu untuk menjamin kepuasan pengguna. Kepuasan pengguna akan berimplikasi kepada perbaikan terus menerus sehingga kualitas harus diperbaharui setiap saat agar pengguna tetap puas.

82

Informasi dan kebutuhan informasi merupakan suatu istilah yang sukar

untuk didefinisikan dan diukur. Kedua istilah tersebut telah menjadi

perdebatan panjang. Kebutuhan informasi, menurut Lor (dalam Suwanto,

1997: 19), didefinisikan sebagai suatu permintaan. Dengan kata lain,

permintaan dinyatakan sebagai kebutuhan yang nyata. Sejalan dengan

pendapat Lor tersebut, menurut Menzel (dalam Pannen 1990: 30) kebutuhan

informasi adalah permintaan pemakai yang disadari.

Selanjutnya Krikelas (dalam Suwanto, 1997) menyatakan masalah

yang kompleks akan timbul untuk membedakan kapan kebutuhan disadari

oleh seseorang dan bagaimana menyatakannya. Kebutuhan yang disadari

adalah suatu proses internal dalam diri manusia tersebut; sementara

bagaimana mengekspresikan kebutuhan dapat diteliti secara empiris.

Kebutuhan informasi terjadi karena keadaan tidak menentu yang

timbul akibat terjadinya kesenjangan (gap) dalam diri manusia antara

pengetahuan yang dimiliki dengan yang dibutuhkannya. Pemakai akan

mencari informasi untuk memenuhi kebutuhannya tersebut (Belkin dalam

Kulthau, 1983: 73 – 76). Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, manusia

menggunakan atau berusaha menggunakan berbagai sumber informasi

(Chen dan Chernon, dalam Pannen, 1990: 31).

Setelah diperoleh, informasi dapat digunakan untuk bermacam-macam

keperluan. Keperluan tersebut menurut Dervin (1986) antara lain:

1. Untuk mendapat ide, pengertian atau gambaran agar dapat melintasi

ruang dan wwaktu.

2. Untuk mendapatkan kemampuan dan ketrampilan (skills).

3. Agar termotivasi, dapat memulai suatu pekerjaan atau mulai belajar.

4. Agar dapat membuat situasi lebih baik, atau lebih tenang.

5. Agar dapat merasa senang, puas, dan rileks.

Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, suatu penelitian tentang

penggunaan layanan pengiriman informasi untuk dosen di Minnesota

menunjukkan bahwa alasan penggunaan layanan tersebut antara lain adalah

83

untuk mengurangi frustasi dan menghemat waktu. Ketika pemakai

dihadapkan pada masalah kebutuhan informasi, mereka cenderung

menggunakan layanan pengiriman informasi. Dengan menggunakan layanan

informasi tersebut mereka dapat menghemat tenaga dan waktu, (Suwanto,

1997: 20)

Kebutuhan informasi merupakan objek penelitian yang mulai dilakukan

secara intensif pada tahun 70-an, dengan pusat perhatian pada persoalan:

“bagaimana informasi itu bisa terasa sebagai kebutuhan”. Fokus ini dilandasi

oleh harapan agar hasil kajian tidak hanya menjawab persoalan proses

pemberian layanan, tetapi juga proses terbentuknya kebutuhan informasi di

dalam diri manusia. Dengan demikian, bentuk layanan informasi bisa lebih

antisipatif dibandingkan reaktif.

Karena fokus perhatian ini, maka wajar jika kajian kebutuhan informasi

lalu mencoba mendefinisikan informasi dalam konteks kebutuhan manusia.

Artinya, kajian-kajian informasi selalu dimulai dengan bertanya dulu ”Seperti

apakah sesuatu yang bernama informasi itu, sehingga ia dibutuhkan?”.

Pertanyaan ini telah menyebabkan masuknya berbagai sudut pandang ilmu

lain ke dalam kajian kebutuhan informasi. Pendapat Wersig (Pendit, 1992:

75) sangat dipengatuhi pendekatan psikologi. Wersig mengajukan suatu teori

yang menyatakan bahwa kebutuhan informasi didorong oleh apa yang

dinamakannya sebagai a problematic situation. Ini merupakan situasi yang

terjadi dalam diri manusia (pada “lingkungan internal”-nya), yang dirasakan

tidak memadai – oleh manusia yang bersangkutan – untuk mencapai suatu

tujuan tertentu dalam hidupnya. Ketidakmemadaian ini menyebabkan ia

merasa harus memperoleh masukan (input) dari sumber-sumber di luar

dirinya (external resources).

Sedangkan Belkin mengajukan suatu istilah anomalous state of

knowledge sebagai penyebab dari terdorongnya orang untuk mencari

informasi. Menurut Belkin, jika seseorang datang ke suatu sistem informasi

(misalnya, perpustakaan) untuk meminta informasi, maka dapat dipastikan

84

bahwa orang tersebut merasa bahwa tingkat pengetahuannya (state of

knowledge) tidak cukup untuk menghadapi suatu situasi tertentu pada saat

itu. Telah terjadi anomaly (ketidakpastian, jurang pengetahuan, ketiadaan

hubungan antar berbagai konsep) di dalam diri orang tersebut. Untuk

menghilangkan anomali ini, orang tersebut mencari informasi yang dapat

menghilangkan ketidakpastiannya, menjembatani jurang pengetahuannya,

dan menciptakan hubungan-hubungan antar berbagai kosep yang telah

dimilikinya.

Dapat kita lihat disini, bahwa baik Wersig maupun Belkin sama-sama

memperlihatkan 3 elemen penting dalam proses masuknya informasi ke

dalam diri manusia, yaitu:

a. Kebutuhan informasi merupakan suatu kebutuhan untuk mengisi

kekosongan tertentu dalam diri manusia, yaitu dalam kondisi

pengetahuannya (dan dengan demikian merupakan kondisi

pikirannya),

b. Informasi merupakan sesuatu yang berada di antara sumber eksternal

dan “tempat kosong” di dalam pikiran manusia.

c. Dengan demikian, informasi terjadi pada saat manusia memindahkan

sesuatu dari sumber eksternal ke dalam pikirannya; informasi bukan

berada di dalam sumber eksternal itu.

Ketiga elemen di atas merupakan landasan argumentasi yang paling tepat

untuk memisahkan sumber eksternal (buku, video, suratkabar, dan

sebagainya) dari informasi, dan untuk menghilangkan kerancuan antara data

dengan informasi. Sehingga beberapa ahli berpendapat, informasi bukanlah

buku, bukan video atau surat kabar.

Pengguna membutuhkan informasi yang akurat, relevan, ekonomis

cepat, tepat, serta mudah mendapatkannya. Pada saat ini pengguna

dihadapkan kepada beberapa permasalahan, seperti banjir informasi,

informasi yang disajikan tidak sesuai, kandungan informasi yang diberikan

kurang tepat, jenis informasi kurang relevan, bahkan ada juga informasi yang

85

tersedia namun tidak dapat dipercaya. Permasalahan tersebut menjadi sebuah tantangan bagi penyedia informasi. Informasi menjadi kebutuhan pokok bagi pengguna tertentu, sehingga jika kebutuhan informasinya tidak terpenuhi akan menjadi masalah bagi pengguna. Informasi dibutuhkan pengguna bertujuan untuk menambah pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan yang pada akhirnya dapat merubah sikap dan perilakunya (Sankarto dan Permana, 2008: 3). Kebutuhan informasi bagi setiap pengguna berbeda-beda antara pengguna yang satu dengan lainnya. Kebutuhan informasi bagi pengguna dapat diketahui dengan cara melakukan identifikasi kebutuhan pengguna Setiap orang mempunyai watak, kebiasaan, kemampuan, kecerdasan, dan minat yang berbeda, baik dilihat dari segi psikologi umum, sosial, maupun lainnya. Namun demikian, karena adanya tinjauan tertentu dan dari segi tertentu pula, sifat-sifat kesamaannya dari kondisi masyarakat yang beragam pun bisa tampak. Berkaitan dengan pemanfaatan informasi serta perbedaan individu, menurut Yusup (1995: 6) menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan individu masih dilihat berdasarkan perbedaan-perbedaan lain seperti tingkat pendidikannya, jenis kelaminnya, tempat tinggalnya, jenis pekerjaanya, kebiasaannya, dan lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan kecenderungan ya