Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Banjir merupakan suatu masalah yang sampai saat masih perlu adanya penanganan khusus dari berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Banjir dapat terjadi akibat naiknya permukaan air lantaran curah hujan yang diatas normal, perubahan suhu, tanggul atau bendungan yang jebol, pencairan salju yang cepat, terhambatnya aliran air di tempat lain. Sedikitnya ada lima faktor penting penyebab banjir di Indonesia yaitu faktor hujan, faktor hancurnya retensi Daerah Aliran Sungai (DAS), faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasaran (Ligal, 2008). Banjir dapat dikategorikan sebagai bencana yang paling banyak menimpa negara maju maupun negara berkembang. Total kerugian dan korban jiwa yang diakibatkan oleh bencana banjir juga tidaklah sedikit. Guha- Sapirdalam Rohman (2012:2) menyatakan bahwa bencana banjir yang terjadi pada tahun 2010 di Pakistan dipastikan telah menelan korban jiwa hampir 1985 orang dan tercatat sebagai kejadian bencana yang banyak menimbulkan kematian. Sementara untuk kerugian ekonomi, banjir yang menerpa Negara China dan Pakistan pada pertengahan tahun 2010 menyebabkan kerugian sebesar 27,5 miliar dollar Amerika. Sedangkan untuk kejadian bencana di Indonesia, banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di hampir semua wilayah Indonesia. Berdasarkan data sebaran kejadian bencana dan korban meninggal yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir menempati urutan pertama berdasarkan kategori kejadian bencana dan tercatat 4.024 kejadian sejak tahun 1815 sampai 2012. Frekuensi kejadian banjir tercatat

yang paling banyak dengan prosentase 39% dan setelahnya adalah kejadian bencana angin puting beliung dan tanah longsor. Dalam kurun waktu yang sama, kejadian bencana banjir yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan korban meninggal sebanyak 18.569 orang. Banjir sering kali menjadi masalah bagi sebagian warga masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah dataran rendah maupun di bantaran sungai. Jarak rumah warga dengan sungai yang terlalu dekat, menjadi faktor utama yang mengakibatkan terjadinya banjir di pemukiman. Banjir menyebabkan berbagai macam resiko, diantaranya yaitu :

rumah warga menjadi kotor, adanya korban jiwa, korban materi, warga terserang berbagai macam penyakit (penyakit kulit, diare, dan lain-lain), rusaknya bangunan-bangunan, macetnya kegiatan ekonomi warga, jalan berlubang, bahkan hingga trauma yang dialami oleh warga masyarakat, dan lain-lain.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja peran dokter dalam kondisi bencana alam di wilayah kerja puskesmas ?

2. Apa saja perubahan lingkungan yang terjadi akibat bencana banjir dengan gangguan kesehatan masyarakat yang terdampak ?

3. Apa saja penyakit yang dapat terjadi akibat bencana alam banjir ?

4. Apa saja rencana program untuk mengatasi masalah yang akan timbul akibat bencana yang terkait gangguan kesehatan ?

1.3 Tujuan Umum Dokter Muda mampu mengatasi bencana banjir yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat di desa Bantaran kecamatan Sungai Kuala.

1.4 Tujuan Khusus 1. Dokter Muda memahami peran dokter dalam kondisi bencana alam di wilayah kerja puskesmas.

2. Dokter Muda mampu memperkirakan perubahan lingkungan akibat bencana yang terkait dengan gangguan kesehatan di masyarakat yang terdampak.

3. Dokter Muda mampu memperkirakan penyakit yang dapat terjangkit akibat bencana alam banjir.

4. Dokter Muda mampu mempersiapkan rencana program untuk mengatasi masalah yang akan timbul akibat bencana yang terkait gangguan kesehatan.

BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1

Skenario Kecamatan Sungai Kuala memiliki wilayah kerja yang terdiri dari 10 desa, salah satu desa diantaranya terletak 15 km dari pantai yaitu desa Bantaran dan dilalui dua anak sungai yang bermuara di pantai Gading. Bila musim hujan di sertai pasang di laut selalu terjadi banjir di desa tersebut karena letaknya di daerah cekungan.Desa Bantaran penduduk desanya bermatapencaharian utama sebagai petani buah naga terdiri dari 100 KK dengan penduduk sebanyak 400 jiwa.Lingkungan desa adalah lingkungan yang padat, dengan bangunan yang semi permanen.Masyarakat memanfaatkan lahan yang ada bercocok tanam buah naga. Tingkat pendidikan masyarakat 60% penduduk berpendidikan tamat SD, 20% tamat sekolah menengah pertama, 8% tamat sekolah menengah atas, 2% sarjana dan 10% buta huruf. Kesadaran akan lingkungan yang bersih masih kurang terbukti dari masyarakat 80% masih membuang sampah di sungai, hanya 70% yang memiliki jamban sehat dan yang memanfaatkan jamban hanya 60%. Rumah- rumah penduduk tidak memiliki saluran pembuangan yang definitive sehingga air limbah masih sering meluap ke jalan desa. Saat ini desa mengalami banjir setinggi 2 meter dan penduduk mengungsi ke balai desa dan desa lainnya. Penduduk ditampung di pendopo desa dan ruang rapat yang hanya dapat menampung 200 orang, sementara terhitung 300 orang yang mengungsi ke balai desa. Sebagai dokter kepala puskesmas anda diminta bergabung dalam

pelayanan kesehatan pengungsi.Apa saja yang dapat anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan pengungsi dan pencegahan penularan penyakit yang mungkin terjadi.

2.2 Ringkasan Skenario Dari data pada skenario di atas dapat di analisis permasalahan sebagai berikut:

a) Daerah rawan banjir sehingga beresiko terjadi banjir berulang

b) Pemukiman padat penduduk dan bangunan rumah semi-permanen

c) Sosial-Ekonomi yang rendah

d) Tingkat pendidikan yang rendah

e) Sanitasi lingkungan yang kurang

f) Tempat penampungan masyarakat pengungsian yang kurang memadai

g) Penanganansaat terjadi bencana banjir belum optimal

2.3 Analisis

2.3.1 Identifikasi Masalah Pada penduduk didesa Bantaran kecamatan Sungai Kuala didapatkan prioritas masalah yaitu:

a. Penanganan korban bencana banjir belum optimal Pada korban bencana banjir belum ditangani secara optimal dilihat dari tempat pengungsian yang tidak memadai; penyediaan sandang dan pangan belum tercukupi; dan kurangnya tenaga kesehatan untuk menangani korban bencana banjir yang terjangkit penyakit

b. Penanggulangan bencana banjir dan perilaku masyarakat. Tim siaga yang bekerja kurang optimal dalam menanggulangi bencana banjir yang berulang, dan masyarakat yang tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

2.3.2 Prioritas Masalah

Pada penduduk di desa Bantara kecamatan Sungai Kuala

didapatkan beberapa prioritas masalah yaitu penanganan korban

bencana banjir belum optimal, dan penanggulangan bencana banjir

termasuk perilaku masyarakat. Untuk menentukan prioritas maka

masalah tersebut ditentukan dengan scoring technique:

   

MASALAH

 

PARAMETER

Penanganan

korban

Penanggulangan bencana

bencana

banjir

yang

banjir

dan

perilaku

belum optimal

masyarakat

1. Prevalance

3

4

2. Severity

4

2

3. Rate % Increase

5

4

4. of

Degree

unmeet

3

3

need

5. Social benefit

4

3

6. Public Concern

3

3

7. Feasibility

Tehnical

5

3

Study

8. Resource

4

3

Availlability

JUMLAH

31

27

Rata-Rata

3.8

3.3

Dari hasil scoring technique yang didapatkan kami

memprioritaskan masalah penanganan korban bencana banjir yang

belum optimal.

2.3.3 Konsep Fish Bone Tingkat Method Man pendidikan yang rendah Tidak ada Peran kerjasama tim
2.3.3 Konsep Fish Bone
Tingkat
Method
Man
pendidikan
yang rendah
Tidak ada
Peran
kerjasama tim
petugas
Stress
dalam
kesehatan
Psikososia
penanganan
belum
Tidak ada
optimal
prosedur
penanganan
Kebiasaan
masyarakat yang
membuang sampah di
PHBS
bencana
rendah
banjir yang
Penanganan
tepat
dampak banjir
terhadap
lingkungan dan
Daerah rawan
Tidak ada saluran
limbah
Tidak ada
kesehatan
sistem deteksi
masyarakat belum
banjir
awal bencana
optimal
Bangunan semi
Lingkungan
permanen
Kurangnya
desa kurang
Sosial ekonomi
pemanfaatan
bersih
yang rendah
Tempat penampungan
di balai desa tidak
memadai
jamban
Korban bencana
Tingkat pendidikan
banjir belum
Anggaran untuk
yang rendah
terinventarisasi
penanganan bencana
belum tercukupi
Environment
Material
Money
Dari
konsep
fish
bone
di
atas
dapat
ditarik
kesimpulan
bahwa

penyebab terjadinya banjir pada desa Bantaran antara lain :

1. Man

7

Manpower adalah segala hal permasalahan yang terkait dengan tenaga kerja dari aspek: lemahnya pengetahuan, kurang keterampilan, pengalaman, kelelahan, kekuatan fisik, lambatnya kecepatan kerja, banyak tekanan kerja, stress, dan lain-lain. Pada kasus di atas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk berpendidikan formal sampai tingkat Sekolah Dasar. Rendahnya tingkat pendidikan di masyarakat sehingga masyarakat tidak menerapkan perilaku hidup besih sehat. Peran petugas kesehatan yang belum optimal dalam menangani korban banjir sehingga beresiko terjadi penularan penyaki. Kemudian, kondisi stress psikososial yang dialami masyarakat karena rumah yang tenggelam akibat banjir dan tempat pengungsian di balai desa yang tidak memadai.

2. Money

Tingkat pendidikan yang rendahakan berdampak pada kehidupan masyarakat karena tidak ada edukasi untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mata pencaharian hanya terbatas sebagai petani sehingga sosial ekonominya rendah. Sosial ekonomi yang rendah yang mengakibatkan kurangnya biaya untuk menjamin kesehatan.

3. Method Pada kasus di atas disimpulkan bahwa tidak ada metode dalam penanganan bencana banjir contohnya tidak ada tim siaga banjir untuk menanggulangi saat banjir berulang. Kemudian, tidak ada kerjasama timdari masyarakat desa Bantaran saat menanggulangi banjir. Dan, tidak ada prosedur yang tepat penanganan bencana sehingga warga berdesakan di tempat penampungan.

4. Material Material dalam kasus di atas disimpulkan bahwa dampak bencana banjir pada masyarakat ditinjau dari berbagai aspek yaitu: tempat penampungan korban banjir yang tidak memadai, korban bencana banjir

2.4

5.

yang belum teriventarisasi, sarana sanitasi lingkungan yang kurang, anggaran untuk penanganan bencana yang belum tercukupi dan bangunan rumah semi permanen yang tidak memenuhi kriteria rumah sehat. Bangunan semi permanen adalah sebagian bangunan dari rumah tersebut

terbuat dari bahan yang tidak kuat seperti menggunakan rangka atap dari kayu yang akan mudah lapuk dan diserang serangga atau rayap. Kriteria rumah sehat yaitu:

a. Minimum dari kelompok komponen rumah adalah langit-langit,

dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluagra, ventilasi, sarana pembuangan asap dapus, dan pencahayaan

b. Minimum dari kelompok sarana sanitasi adalah sarana air bersih, jamban, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah

c. Perilaku sanitasi rumah, usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik yang digunakan (Dinkes Jateng, 2005). Kemudian, tempat penampungan di balai desa tidak memadai

sehingga warga yang tinggal di pengungsian berdesakan dan merasa tidak nyaman.Dan tidak ada sistem deteksi awal bencana sehingga warga tidak siap untuk menghadapi bencana saat terjadi banjir.

Environment Environment dalam kasus di atas disimpulkan bahwa dampak banjir di desa Bantaran didasari oleh letak desa Bantaran di daerah rawan banjir sehingga banjir sering terjadi.Kemudian, lingkungan desa kurang bersih karena masyarakat sering membuang sampah di sungai.

Pembahasan

2.4.1 Pengertian Banjir

Menurut UU No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologi. Banjir adalah ancaman musiman yang terjadi apabila meluapnya tubuh air darisaluran yang ada dan menggenangi wilayah sekitarnya. Banjir adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak merugikan dari segi kemanusiaan maupun ekonomi.Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa (IDEP, 2007).

2.4.2 Penyebab Banjir Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia.Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti.Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan yang diatas normal dan adanya pasang naik air laut.Disamping itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang melanda daerah-daerah rawan, pada dasarnya disebabkan tiga hal.Pertama, kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan tata ruang

dan berdampak pada perubahan alam. Kedua, peristiwa alam seperti curah hujan sangat tinggi, kenaikan permukaan air laut, badai, dan sebagainya.Ketiga, degradasi lingkungan seperti hilangnya tumbuhan penutup tanah pada catchment area, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyempitan alur sungai dan sebagainya (BNPB, 2019).

2.4.3 Dampak Negatif Banjir Pada saat bencana banjir dan pasca banjir biasanya timbul masalah kesehatan di berbagai tempat permukiman dan di tempat umum yang

terkena genangan. Masalah Kesehatan yang timbul diantaranya penyakit- penyakit sebagai berikut :

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

2. Diare

3. Penyakit kulit

4. Gastritis

5. Kecelakaan (luka, tersengat listrik, tenggelam dll)

6. Leptospirosis

7. Konjungtivitis

8. Gigitan binatang berbisa

9. Typhus abdominalis

Kasus penyakit tersebut di atas sering meningkat secara signifikan, beberapa diantaranya bahkan dapat menjadi kejadian luar biasa (KLB) yang tidak jarang disertai kematian (leptospirosis). Sebagian besar keadaan lingkungan ditempat pengungsian juga bermasalah yaitu sangat tidak memadai, terlalu padat, ventilasi udara minim, fasilitas yang ada kurang, dan keterbatasan sumber air minum bersih.Tidak hanya masalah tempat pengungsian saja, masalah banjir juga berdampak pada kesehatan. Di salah satu puskesmas kecamatan di Jakarta, kota yang sering menjadi langganan banjir, ditemukan

penyakit yang banyak diderita para korban banjir adalah 47% penyakit ISPA, 23% penyakit kulit dan 12% penyakit diare dan saluran cerna. Penyakit yang diderita balita terbanyak adalah ISPA dan diare, sedangkan lanjut usia adalah ISPA dan kulit. Sedangkan tenaga kesehatan di posko kesehatan banjir adalah dokter, dokter muda dan paramedis. Oleh karena itu, untuk mencegah semua permasalahan tersebut sangat penting di tiap-tiap daerah yang rawan banjir dilakukan manajemen banjir dimana tidak hanya dilakukan saat terjadi bencana tetapi sebelum terjadinya banjir (Kusumaratna, 2003). Di Indonesia banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun terutama pada musim hujan, sehingga ketika musim hujan telah datang walaupun belum merata dan berlangsung hanya beberapa saat, sebagian masyarakat Indonesia sudah mengalami kepanikan, khususnya masyarakat yang berada didaerah rawan banjir. Selain itu, kedalaman air pada bencana banjir juga membuat kondisi seseorang sangat rentan karena mempengaruhi kondisi fisik maupun mental seseorang. Kelelahan, stres dan kondisi yang tidak sehat menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit.Kerugian yang ditimbulkan tidak saja materi tetapi juga jiwa manusia. Ketika banjir telah datang akan timbul berbagai macam masalah salah satunya adalah timbul banyak pengungsi yang menempati barak-barak dan tempat penampungan darurat (Kusumaratna, 2003).

2.4.4 Cara Penanggulangan Banjir Menurut Bakornas BNPB, 2012, yang harus dilakukan sebelum banjir meliputi :

Di Tingkat Warga

a. Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan lingkungan sekitar Anda, terutama pada saluran air atau selokan dari timbunan sampah.

b. Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk mengungsi lengkap dengan fasilitas dapur umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui koordinasi dengan aparat terkait, bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda.

c. Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim penanggulangan banjir di tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung Jawab Posko Banjir.

d. Koordinasikan melalui RT/RW, Dewan Kelurahan setempat, dan LSM untuk pengadaan tali, tambang, perahu karet dan pelampung guna evakuasi.

e. Pastikan pula peralatan komunikasi telah siap pakai, guna memudahkan mencari informasi, meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.

Di Tingkat Keluarga

a. Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah hujan dan posisi air pada pintu air.

b. Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: radio baterai, senter, korek gas dan lilin, selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila ada.

c. Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi, gula, kopi, teh dan persediaan air bersih.

d. Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza.

e. Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air dan tangan jahil. Yang harus dilakukan saat banjir:

a. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana,

b. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.

c. Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.

d. Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir

a. Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.

b. Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.

c. Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.

d. Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.

Gambar 1 : The Disaster Management Cycle Siklus manajemen bencana adalah sebagai berikut : 1.

Gambar 1 : The Disaster Management Cycle

Siklus manajemen bencana adalah sebagai berikut :

1. Disaster/bencana Menurut UU No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,

kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Ada 3 macam bencana, yaitu :

a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor.

b. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

2.

Response Fase respon ini merupakan implementasi dari rencana kegiatan penanggulangan bencana yang meliputi tindakan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kerusakan harta benda, serta menjaga lingkungan selama keadaan bencana. Fase respon ini merupakan tindakan dari perencanaan yang telah dibuat.

3. Recovery Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi

masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi. Selain itu, recovery ini merupakan kegiatan untuk menggali komunitas/masyarakat untuk kembali pada perasaan yang normal setelah bencana.

4. Mitigation

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan

kemampuan menghadapi ancaman bencana. Selain itu mitigasi adalah aktifitas untuk mengurangi kemungkinan timbulnya bahaya atau bencana.

5. Risk reduction Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan

untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Selain itu Risk reduction merupakan suatu antisipasi untuk mengukur dan kegiatan yang dapat digunakan untuk menghindari resiko lebih lanjut dari bencana.

6. Prevention

Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui

pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.

7.

Preparedness/kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Fase ini mengakhiri implementasi/operasi, sistem peringatan dini dan membangun kapasitas yang ada sehingga populasi/masyarakat akan berespon sesuai ketika peringatan dini diberikan. Dalam keadaan sehari-hari maupun bencana, penanganan pasien gawat darurat memerlukan penanganan terpadu dan pengaturan dalam system yang ditetapkan SPGDT-S dan SPGDT-B (sehari-hari dan bencana) dalam Kepres dan ketentuan pemerintah lainnya. Sistem Pelayanan gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang ada, jika bencana massal terjadi dengan korban banyak, maka pelayanan gawat darurat harian otomatis ditingkatkan fungsinya menjadi pelayanan gawat darurat dalam bencana (SPGDB). SPGDT adalah Sistem penanggulangan pasien gadar yang terdiri dari unsur, pelayanan pra RS, pelayanan di RS dan antar RS. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkanpelayananoleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayananambulansgadardan sistem komunikasi. Sistem ini juga merupakan koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gadar baik dalam keadaan bencana maupun sehari-hari.pelayanan medis sistem ini terdiri 3 subsistem yaitu pelayanan pra RS, RS dan antar RS.

Injury &

Injury & Pre Hospital Stage Hospital Stage Rehabilitation

Pre Hospital Stage

Hospital Stage

Hospital Stage

Injury & Pre Hospital Stage Hospital Stage Rehabilitation

Rehabilitation

Dissaster

First Responder

Ambulance Service 24 jam

Emergency Room

Operating Room

Intensif Care Unit

Ward Care

Fisical

Psycological

Social

1. Sistem pelayanan Medik Pra RS / Pre Hospital Stage Pelayanan pra hospital dilakukan dengan mendirikan PSC, BSB dan pelayanan ambulans dan komunikasi.

a. PSC (Public Safety Center) Merupakan pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegadaran, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat dimanapun berada.Merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, yang bertujuan untuk mendapatkan respons cepat (quick response) terutama pelayanan pra RS.PSC didirikan masyarakat untuk kepentingan masyarakat.Pengorganisasian dibawah Pemda dengan sumber daya manusia dari berbagai unsur tersebut, ditambah masyarakat yang bergiat dalam upaya pertolongan bagi masyarakat, biaya dari masyarakat.Kegiatan menggunakan perkembangan teknologi, pembinaan untuk memberdayakan potensi masyarakat, komunikasi untuk keterpaduan kegiatan.Kegiatan lintas sektor.PSC berfungsi sebagai respons cepat penangggulangan gadar.

b. BSB.

Unit khusus untuk penanganan pra RS, khususnya kesehatan dalam bencana. Pengorganisasian dijajaran kesehatan (Depkes, Dinkes, RS), petugas medis (perawat, dokter), non medis (sanitarian, gizi, farmasi dll). Pembiayaan dari instansi yang ditunjuk dan dimasukkan APBN/APBD.

c. Pelayanan Ambulans.

d.

Terpadu dalam koordinasi dengan memanfaatkan ambulans Puskesmas, klinik, RB, RS, non kesehatan. Koordinasi melalui pusat pelayanan yang disepakati bersama untuk mobilisasi ambulans terutama dalam bencana. Komunikasi. Terdiri dari jejaring informasi, koordinasi dan pelayanan gadar hingga seluruh kegiatan berlangsung dalam sistem terpadu.Pembinaan dilakukan pada berbagai pelatihan untuk meningkatan kemampuan dan keterampilan bagi dokter, perawat, masyarakat awam khusus.

Pelayanan pada bencana, terutama pada korban massal diperlukan :

1. Koordinasi, komando. Kegiatan koordinasi dan komando melibatkan unit lintas sektor. Kegiatan akan efektif dan efisien bila dalam koordinasi dan komando yang disepakati bersama.

2. Eskalasi dan mobilisasi sumber daya Dilakukan dengan mobilisasi SDM, fasilitas dan sumber daya lain sebagai pendukung pelayanan kesehatan bagi korban.

3. Simulasi Diperlukan protap, juklak, juknis yang perlu diuji melalui simulasi apakah dapat diimplementasikan pada keadaan sebenarnya.

4. Pelaporan, monitoring, evaluasi Penanganan bencana didokumentasikan dalam bentuk laporan dengan sistematika yang disepakati.Data digunakan untuk monitoring dan evaluasi keberhasilan atau kegagalan, hingga kegiatan selanjutnya lebih baik.

Komponen Pra Rumah Sakit:

1) Sub Sistem Sumber Daya Manusia Keberhasilan penanganan penderita gawat darurat sangat dipengaruhi

oleh

kecepatan

&

ketepatan

penderita

mendapatkan

pertolongan,

serta

kecepatan

minta

bantuan

tenaga

medis.Karena

biasanya

penderita

gawat

darurat

ini

ditemukan

oleh

orang

awam,

maka

sangatlah

penting

untuk

memberikan pengetahuan pada orang awam bagaimana caranya memberikan

pertolongan. Orang awam ini dibagi dibagi 2 yaitu:

a. Awam biasa :

Guru

Pelajar

Pengemudi kendaraan

Petugas hotel, restoran.

b. Awam khusus:

Anggota polisi

- Anggota pemadam kebakaran

- SATPAM

- HANSIP

- Petugas DLLAJR

- Aparat SAR

- PMR

Untuk orang awam sebaiknya mempunyai ketrampilan:

- Resusitasi Jantung Paru

- Cara meminta pertolongan

- Resusitasi Jantung Paru

- Cara memasang bidai

- Cara transportasi.

Tenaga paramedis, kemampuan yang harus dimiliki:

- Resusitasi pernafasan

- Sistem sirkulasi

- Sistem vaskuler

- Sistem saraf

- Sistem imunologi

- Sistem gastro intestinal

- Sistem skeletal

- Sistem kulit

- Sistem reproduksi

- Sistem farmakologi/toksikologi

- Sistem organisasi

Tenaga Medis / Dokter Umum - Seperti paramedis tetapi lebih mendalam

2) Subsistem transportasi Bertujuan memindahkan pasien dari tempat kejadian atau mendekatkan fasilitas pelayanan kesehatan ke penderita gawat darurat.

A. Prinsip:

- Tidak boleh memperberat keadaan umum penderita

- Dikerjakan bila keadaan umum sudah stabil

- Ke tempat pelayanan yang terdekat & tepat

B. Sarana:

Darat:

1. Tradisional: Orang

2. Tandu

3. Kereta kuda

4. Modern: Kendaraan Umum

5. Ambulans: Transport

6. Gawat Darurat

Laut :

1. Tradisional: Perahu

2. Rakit

3. Modern: Perahu motor

4. Ambulans laut

Udara :

1. Rotary wing/helikopter

2. Fixed Wing/pesawat terbang

3)

Sub sistem komunikasi

A. Tujuan:

- Memudahkan masyarakat minta pertolongan

- Mengatur, membimbing, pertolongan medis di tempat kejadian & selama perjalanan ke Rumah Sakit

- Mengkoordinir pada musibah massal

B. Jenis Komunikasi:

- Telepon, Faximile, Teleks

- Radio Komunikasi

- Komputer / internet

2. Sistem Pelayanan Medik di RS Yang perlu dilakukan dalam system pelayanan medik di rumah sakit adalah

a. Perlu sarana, prasarana, BSB, UGD, HCU, ICU, penunjang dll.

b. Perlu Hospital Disaster Plan, untuk akibat bencana dari dalam dan luar RS.

c. Transport intra RS

d. Pelatihan, simulasi

dan

koordinasi

adalah

kegiatan

yang

menjamin

peningkatan kemampuan

SDM, kontinuitas dan peningkatan pelayan medis.

e. Pembiayaan diperlukan dalam jumlah cukup.

3. Sistem Pelayanan Medik Antar RS

a. Jejaring rujukan dibuat berdasar kemampuan RS dalam kualitas dan kuantitas.

b. Evakuasi. Antar RS dan dari pra RS ke RS.

c. Sistem Informasi Manajemen (SIM) Diperlukan untuk menghadapi kompleksitas permasalahan dalam pelayanan, serta dalam audit pelayanan dan hubungannya dengan penunjang termasuk keuangan. Koordinasi dalam pelayanan terutama rujukan, diperlukan pemberian informasi keadaan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan sebelum pasien ditranportasi ke RS tujuan. 2.4.5. Kesiapsiagaan Tenaga Kesehatan Menghadapi Bencana Banjir Manajemen bencana merupakan suatu proses terencana yang dilakukan untuk mengelola bencana dengan baik dan aman melalui 3 (tiga) tahapan : (1) pra bencana, (2) saat bencana, (3) pasca bencana (Ramli, 2010). Kesiapsiagaan sebagai kegiatan pra bencana yang dilakukan di Puskesmas melakukan ketiga fungsi Puskesmas yaitu :

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan bertujuan agar semua bidang pembangunan diwilayah kerja puskesmas selalu mempertimbangkan aspek kesehatan. Pembangunan yang dilaksanakan di kecamatan, seyogyanya yang berdampak positif terhadap lingkungan sehat dan perilaku sehat, yang muaranya adalah peningkatan kesehatan masyarakat (Trihono, 2005). Puskesmas harus melaksanakan fungsi penanggulangan bencana melalui kegiatan :

a. Surveilans kesehatan Menurut WHO dalam Kemenkes RI Nomor 1116/Menkes/SK/VIII/2003, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Menurut PKKKemenkes (2011), surveilans penyakit dan faktor resiko pada umumnya merupakan suatu upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan kesehatan

dilokasi bencana dan pengungsian sebagai bahan untuk tindakan kesehatan segera. Kegiatan ini meliputi :

Melakukan analisis mengenai dampak kesehatan, dimana skala sederhananya berupa penilaian apakah tatanan diwilayah kerja Puskesmas tergolong rawan/beresiko bencana banjir (Trihono, 2005 dan Ditjen Binkesmas Depkes, 2005)

Melakukan pembuatan peta wilayah kerja yang menjadi tanggungjawab Puskesmas meliputi peta rawan bencana, peta sumber daya kesehatan diwilayah kerja, peta resiko bencana, peta elemen-elemen masyarakat yang kemungkinan menjadi korban bencana, dan peta potensi masyarakat dan lingkungan (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005 dan Sea Defence Consultants,

2009)

Mengartikan rambu-rambu bencana meliputi : • Warna :

orange untuk tempat rawan, hijau untuk tempat aman • Anak panah (kearah kanan/kiri) untuk jalur evakuasi • Lokasi pemasangan rambu adalah dilokasi rawan bencana, lokasi aman/tempat evakuasi, jalur/jalan menuju tempat aman/evakuasi

Memperhatikan sistem peringatan dini/isyarat-isyarat dini sebagai pertanda kemungkinan bencana akan terjadi. Sistem peringatan dini adalah sistem (rangkaian proses) pengumpulan dan analisis data serta penyebaran informasi tentang keadaan darurat atau kedaruratan.Sumber informasi dini berasal dari dua instansi yaitu BMKG yang mengeluarkan potensi cuaca ekstrim dan Dinas PU yang mengeluarkan data tinggi muka air. Di tingkat masyarakat, media untuk system peringatan dini yang sesuai dengan kearifan budaya setempat misalnya

kentongan, pengumuman melalui mesjid ataupun membuat sistem peringatan dini dengan ketinggian air, mulut ke mulut/lisan, dan juga peralatan komunikasi elektronik (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005)

b. Penyuluhan kesehatan Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat

mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005 dan PROMISE, 2009)

c. Kerjasama lintas sektoral Koordinasi lintas sektoral ditingkat kecamatan bertujuan untuk menggalang kerjasama dan berbagi tugas sesuai dengan peran dari tiap sektor. Bentuk kerjasama tersebut antara lain dalam bentuk tim penanggulangan bencana ditingkat kecamatan yang ditetapkan dengan surat keputusan camat (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005). Kerjasama dapat juga dilakukan kepada LSM, tokoh masyarakat, organisasi profesi, dan dunia usaha. 2. Pusat pemberdayaan masyarakat Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat noninstruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi

setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM dan tokoh masyarakat (Trihono, 2005). Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, Puskesmas dapat melibatkan peran aktif masyarakat dalam setiap kegiatan penanggulangan bencana baik perorangan, kelompok masyarakat maupun masyarakat secara umum (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005). Fungsi pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan dilakukan dengan cara :

a. Memotivasi, memfasilitasi, menggali partisipasi aktif masyarakat dibidang kesehatan, yang antara lain ditandai dengan pengembangan berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat (Trihono, 2005). Bentuk UKBM yang didanai oleh bantuan operasional

kesehatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat menghadapi bencana adalah Poskesdes. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa (Kemenkes,2012). Bentuk UKBM lainnya dapat berupa Dasipena (Pemuda Siaga Peduli Bencana) (Kemenkes, 2012).Didalam wadah UKBM, tenaga kesehatan melatih masyarakat untuk menjadi kader terlatih dalam rangka agar kader terlatih dapat membantu petugas kesehatan dalam memberikan pertolongan awal kasus gawat darurat dan dapat melayani sesama anggota masyarakat dalam menghadapi kemungkinan munculnya bencana. Pelatihan yang diberikan mencakup : kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, promosi kesehatan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, penanganan gawat darurat untuk awam, penanganan gizi, dan penanganan kesehatan jiwa, kesehatan reproduksi (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005)

b. Kemitraan dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

c. Kemitraan dengan konkes (konsil kesehatan) atau BPKM (Badan Peduli Kesehatan Masyarakat) atau BP (Badan Penyantun Puskesmas). Konsil kesehatan atau badan peduli kesehatan masyarakat (BPKM), atau badan penyantun Puskesmas (BPP) adalah suatu organisasi masyarakat yang merupakan mitra kerja Puskesmas yang berfungsi sebagai penyantun dan pemberi masukan kepada Puskesmas. Konkes/BPKM/BPP beranggotakan tokoh masyarakat yang peduli kepada pembangunan kesehatan diwilayahnya (Trihono, 2005)

d. Puskesmas peduli keluarga Puskesmas peduli keluarga adalah puskesmas yang proaktif mendeteksi, memantau dan meningkatkan

kesehatan tiap keluarga diwilayah kerjanya dan memberlakukan keluarga sebagai mitra pembangunan kesehatan. Tujuan umum dari puskesmas peduli keluarga adalah meningkatnya jumlah keluarga sehat diwilayah kerja Puskesmas (Trihono, 2005). 3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan adalah pelayanan kesehatan dasar yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat dan sangat strategis dalam upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat secara umum (Trihono, 2005).

Pelayanan yang dilakukan sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama mencakup Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

a. Upaya Kesehatan Perorangan Pelayanan kesehatan perorangan yang lebih mengutamakan pelayanan kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu. Pengobatan merupakan wujud dari pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas (Trihono, 2005).Upaya pelayanan gawat darurat sehari-hari merupakan bentuk awal kesiapsiagaan pelayanan gawat darurat dalam bencana.Kesiapsiagaan sehari-hari mencakup penerapan protap penanganan korban gawat darurat dan rujukannya, kesiapsiagaan sarana dan prasarana pelayanan gawat darurat yang dimiliki, dan peningkatan kapasitas tenaga puskesmas dalam teknisi medis, latihan kesiapsiagaan protap penanggulangan bencana (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005).

b. Upaya Kesehatan Masyarakat Pelayanan yang bersifat publik (public good) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat minimal yang bisa dilakukan meliputi upaya kesehatan wajib, yaitu : promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, perbaikan

gizi, pemberantasan penyakit menular (Trihono, 2005). Pelayanan lain yang erat kaitannya peran tenaga kesehatan pada pasca bencana adalah pelayanan kesehatan jiwa (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005) Menurut Ditjen Binkesmas Depkes (2005) , kesiapan Puskesmas dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu Sehari-hari (SPGDT-S) disuatu wilayah akan menentukan kemampuan wilayah tersebut pada penanganan gawat darurat bencana. Puskesmas sebagai lini terdepan yang berperan pada pertolongan pertama pada korban, mempersiapkan masyarakat dalam upaya pencegahan terjadinya kasus gawat darurat maupun memberikan ketrampilan dalam memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan.Apabila Puskesmas tidak sanggup melakukan pertolongan, perlu dilakukan rujukan ke RS Kabupaten/Kota, Propinsi atau Rumah Sakit Regional maupun swasta.

Peran Puskesmas dalam penanggulangan bencana berdasarkan tahapan bencana. 1. Pra Bencana

Pemetaan Kesehatan (Geo Mapping) Merupakan kegiatan pembuatan peta wilayah kerja yang menjadi tanggungjawab Puskesmas, yang didalamnyan terdapat :

Peta rawan bencana (Hazard Map) yaitu gambaran wilayah kerja yang berisikan jenis bencana dan karakteristik ancaman bencana.

Peta Sumber Daya Kesehatan diwilayah kerjanya yaitu gambaran distribusi jenis sumber daya kesehatan (tenaga medis, perawat, sanitarian, gizi, alat kesehatan, ambulans, dan lain-lain) dan lokasinya

Peta Resiko Bencana (Risk Map) yaitu peta rawan bencana yang dilengkapi resiko yang mungkin terjadi termasuk kejadian penyakit menular diwilayah tersebut.

Peta elemen-elemen masyarakat yang memiliki kemungkinan mengalami/menjadi korban akibat peristiwa.

Peta potensi masyarakat dan lingkungan yaitu gambaran atau informasi lebih rinci tentang masyarakat dan lingkungan suatu area.

Melakukan koordinasi dengan lintas sektoral Koordinasi lintas sektor ditingkat kecamatan untuk menggalang kerjasama dan berbagi tugas sesuai dengan peran dari tiap sektor.

Pelayanan gawat darurat sehari-hari Kesiapsiagaan sehari-hari mencakup penerapan protap penanganan korban gawat darurat dan rujukannya, kesiapsiagaan sarana prasarana pelayanan gawat darurat yang dimiliki, dan peningkatan kapasitas tenaga puskesmas didalam teknis medis.

Pemberdayaan masyarakat Penyuluhan/pelatihan pada masyarakat merupakan upaya pemberdayaan masyarakat agar masyarakat dapat melayani sesama anggota masyarakat dalam menghadapi kemungkinan munculnya bencana. Pelatihan yang diberikan mencakup : 1) Kesehatan lingkungan, 2) Pemberantasan penyakit menular, penanggulangan DBD, 3) Promosi kesehatan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, 4) Penanganan gawat darurat bagi awam, 5) Penanganan gizi, 6) Penanganan kesehatan jiwa, kesehatan reproduksi.

Latihan kesiapsiagaan/gladi Latihan kesiapsiagaan dilakukan melalui simulasi protap-protap yang telah disusun oleh tim penanggulangan bencana maupun simulasi tim kesehatan Puskesmas agar mampu memberikan pelayanan gawat darurat.

Melakukan pemantauan (Surveilens) Pemantauan lokasi-lokasi rawan bencana, melalui kegiatan surveilens secara rutin diwilayah kerja Puskesmas. Pada kondisi tertentu bersama sektor terkait dan masyarakat perlu memperhatikan isyarat-isyarat dini sebagai pertanda kemungkinan bencana akan terjadi.

2. Saat Bencana Pada saat terjadinya bencana disuatu wilayah, Puskesmas harus segera memberi informasi awal ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kegiatan mencakup :

a. Operasi pertolongan terhadap korban berdasarkan triase Operasi pertolongan pertama dilakukan oleh tim Puskesmas bersama masyarakat yang sudah terlatih dalam penanganan gawat darurat. Pertolongan awal pada korban dilakukan dilokasi kejadian bila kondisi memungkinkan (lokasi aman, tidak ada bahaya susulan, tidak dalam komando Polri/TNI).Pertolongan ynag diberikan berupa pertolongan bantuan hidup dasar yaitu resusitasi jantung paru (RJP). Bila tidak memungkinkan dengan bantuan masyarakat, tim SAR, polisi dan aparat setempat, korban dipindahkan kearea yang dianggap aman disekitar lokasi atau langsung ke Puskesmas terdekat untuk dilakukan pertolongan pertama. Pertolongan pertama korban dilapangan didasarkan pada triase yang bertujuan seleksi korban dan jenis pertolongan yang diperlukan berdasarkan tingkat keparahan, kedaruratan dan kemugkinan korban untuk hidup. Korban akibat bencana dapat diseleksi menjadi :

Kelompok Label Merah (Gawat Darurat) Kelompok korban gawat darurat yang memerlukan pertolongan stabilisasi segera.

Kelompok Label Kuning Kelompok korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi perawatan/pengobatan dapat ditunda sementara.

Kelompok Label Hijau Kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau perawatan segera.

Kelompok Label Hitam Merupakan kelompok korban yang tidak memerlukan pertolongan medis karena sudah meninggal.

3. Paska bencana Penanganan masalah kesehatan yang terkait kegiatan paska bencana Puskesmas merupakan bagian dari Satgas Kesehatan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pasca bencana meliputi :

a. Surveilans Penyakit Potensial Kejadian Luar Biasa Lanjutan Rusaknya lingkungan akibat bencana dapat berpengaruh pada kesehatan masyarakat seperti rusaknya sarana air bersih, sarana jamban, munculnya bangkai dan vektor penyebar penyakit yang merupakan potensi menimbulkan kejadian luar biasa. Untuk mencegah terjadinya terjadinya KLB maka Puskesmas bersama Satgas Kesehatan melakukan pemantauan terhadap kejadian beberapa kasus penyakit seperti Diare, Malaria, ISPA, Kholera, keracunana makanan melalui hasil kegiatan pelayanan kesehatan, faktorfaktor resiko yang dapat menimbulkan masalah penyakit antara lain vector penyakit (nyamuk, lalat, tikus), kecukupan air bersih, sarana jamban, sarana pembuangan air limbah dan status gizi penduduk rentan (bayi, anak, balita ibu hamil, ibu bersalin) b. Pemantauan Sanitasi Lingkungan Kegiatan pemantauan sanitasi lingkungan paska bencana ditujukan terhadap kecukupan air bersih, kualitas air bersih, ketersediaan dan sanitasi sarana mandi, cuci kakus, sarana pembuangan air limbah termasuk sampah dilokasi pemukiman korban bencana. Pemantauan juga dilakukan terhadap vektor penyebab penyakit

c. Upaya Pemulihan Masalah Kesehatan Jiwa dan Masalah Gizi pada Kelompok Rentan Stress paska trauma yang banyak dialami oleh korban bencana dapat diatasi melalui konseling dan intervensi psikologis lainnya, agar tidak berkembang menjadi gangguan stress paska trauma. Masalah gizi pada kelompok rentan (Balita, ibu hamil dan ibu menyusui serta usia lanjut) memerlukan pemantauan dan pemulihan melalui pemberian makanan tambahan yang sesuai dengan kelompok umur untuk menghindari terjadinya kondisi yang lebih buruk.

d. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat paska bencana yang dilakukan oleh Puskesmas ditujukan agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong diri sendiri, keluarga dan masyarakat terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan. Upaya pemberdayaan tersebut mencakup :

Perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari dipenampungan darurat/pengungsian

Pertolongan pertama pada kecelakaan dan penyakit yang timbul paska bencana

Perbaikan kualitas air dengan penjernihan dan kaporisasi sumber daya air yang tersedia

Membantu pengendalian vector penyakit menular dalam rangka system kewaspadaan dini KLB. (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005) Dukungan tenaga kesehatan dalam penanggulangan bencana di Puskesmas mencakup penyediaan tenaga kesehatan yang kompeten dalam penanggulangan bencana melalui pelatihan-pelatihan :

a. Tenaga dokter dengan pelatihan minimal PPGD bagi dokter

b. Tenaga perawat dengan pelatihan minimal PPGD bagi perawat

c. Tenaga perawat/sanitarian dengan pelatihan surveilans

d. Tenaga bidan dengan pelatihan PPGD Bidan

e. Tenaga gizi dengan pelatihan penanganan gizi pengungsian

f. Tenaga dokter/perawat dengan kompetensi konselor kesehatan jiwa (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005) Jumlah minimal sumber daya manusia (SDM) kesehatan untuk penanganan korban bencana berdasarkan :

Untuk jumlah penduduk/pengungsi antara 10.000 20.000 orang meliputi dokter umum 4 orang, perawat 10-20 orang, bidan 8-16 orang, apoteker 2 orang, asisten apoteker 4 orang, pranata laboratorium 2 orang, epidemilogi 2 orang, entomology 2 orang, sanitarian 4 -8 orang, ahli gizi 2 -4 orang.

Untuk jumlah penduduk /pengungsi 5000 orang dibutuhkan :

a. Bagi pelayanan kesehatan 24 jam dibutuhkan dokter 2 orang, perawat 6 orang, bidan 2 orang, sanitarian 1 orang, gizi 1 orang, asisten apoteker 2 orang dan administrasi 1 orang.

b. Bagi pelayanan kesehatan 8 jam dibutuhkan dokter 1 orang, perawat 2 orang, bidan 1 orang, sanitarian 1 orang dan gizi 1 orang. (Depkes RI, 2007)

Dukungan obat dan perbekalan kesehatan dalam penanggulangan bencana di Puskesmas mencakup obat, bahan habis pakai, bahan sanitasi, MP-ASI, sediaan farmasi untuk gawat darurat dan perbekalan kesehatan lain. Dukungan obat dan perbekalan tersebut meliputi :

a. Kebutuhan untuk triase (tanda pengenal, kartu dan label triase, peralatan administrasi, tandu, alat penerangan)

b. Peralatan resusitasi jalan nafas (oksigen tabung, peralatan intubasi, peralatan trakeostomi, ambubag)

c. Peralatan resusitasi jantung (infuse set, cairan infuse RL, NaCL, Dektrose, obat-obatan penatalaksanaan syok)

d. Perlengkapan perawatan luka (kapas, verban elastik, sarung tangan, minor surgery set, antiseptik, bidai/spalk, collar neck, selimut)

e. Alat evakuasi (alat penerangan, tandu)

f. Peralatan pelayanan pengobatan (tensimeter, stetoskop, lampu senter, minor surgery set)

g. Dukungan sarana komunikasi, transportasi (radio komunikasi, ambulans), dan identitas petugas

h. Obat-obatan pelayanan pengobatan (antibiotik, analgetik, antipiretik, antasida, antialergi, antiradang, obat kulit, obat mata, oralit, obat batuk, obat-obat psikofarmaka sederhana, dan lain-lain sesuai kebutuhan)

i. Dukungan logistik untuk pemberian makanan tambahan pada sasaran rentan (ibu hamil, ibu bersalin, bayi, balita) (Ditjen Binkesmas Depkes, 2005)

BAB III

PENYUSUNAN PROGRAM

3.1 Prioritas Pemecahan Masalah Banjir di Desa Bantaran Kecamatan Sungai Kuala

Tabel 1. Prioritas Pemecahan Masalah

No.

 

Kegiatan

Efektifitas

Efesiensi

Hasil

 

M

I

V

C

  M I V C

1.

Kerjasama lintas sektoral dan tim siaga bencana secara optimal

3

3

4

4

9

2.

Sosialisasi

 

kepada

4

3

4

3

16

masyarakat

tentang

kewaspadaan

dini

bencana

banjir

3.

Perilaku PHBS terhadap dampak bencana banjir

3

3

4

3

12

4.

Penanganan

masyarakat

5

5

4

5

20

korban

banjir

di

desa

Bantaran dioptimalkan

Keterangan:

M

: Magnitude, besarnya masalah yang bisa diatasi

I

: Implementasi, kelanggengan selesainya masalah

V

: Viability, sensitifnya dalam mengatasi masalah

C

: Cost, biaya yang diperlukan

P

: Prioritas, jalan keluar

Tabel 2. Rencana Usulan Kegiatan

No.

 

Kegiatan

Efektifitas

Efesiensi

Hasil

 

M

I

V

C

  M I V C

1.

Penanganan

masyarakat

5

5

4

5

20

korban

banjir

di

desa

Bantaran dioptimalkan

2.

Sosialisasi

 

kepada

4

3

4

3

16

masyarakat

tentang

kewaspadaan

dini

bencana

banjir

3.

Perilaku PHBS terhadap dampak bencana banjir

3

3

4

3

12

4.

Kerjasama lintas sektoral dan tim siaga bencana secara optimal

3

3

4

4

9

Berdasarkan hasil diskusi kami merencanakan usulan kegiatan dengan prioritas

pertama yaitu penanganan masyarkaat korban banjir di desa Bnataran yang

dioptimalkan. Kedua, sosialisasi kepada masyarakat tentang kewaspadaan dini

bencana banjir. Ketiga, perilaku hidup bersih dan sehat terhadap dampak bencana

banjir. Keempat, kerjasama lintas sektoral dan tim siaga bencana secara optimal.